[Chapter] At Gwanghwamun Bagian 9

At Gwanghwamun
By Valuable94

Cho Kyuhyun (SJ)/Song Hyo In (OC)

11160361_354931114702621_261962891_n

Bagian 8
KYUHYUN

Likey

Author’s note:
Maapin typo-nya yak. Edit sekali doang /plak

***

Sarapan tanpa Hyo In mungkin akan terasa menyebalkan, tapi pagi dengan kehadirannya rasanya juga tak terlalu menguntungkan. Terlebih untukku dan ‘adik’ku.

Harapanku sederhana sekali, bisa tenang tanpa mengingat apa yang terjadi kemarin di rumah paman Seung Hoon sehari saja. Bukan berarti aku tak menikmatinya. Ya, Hyo In cantik. Gadis itu juga menarik dan aneh, tipe yang sangat sulit tidak dilihat. Namun, mengingat-ingat hal itu juga tidak baik.

Pekerjaanku keteteran. Bagaimana bisa aku menyelesaikan dokumen perjanjian, akta tanah dan bangunan? Belum lagi detail anggaran yang harus kusetujui untuk proyek yang kukerjakan bersama ayah Hyo In. Yang bisa kuingat dan kulihat bahkan di kertas membosankan itu hanya wajah Hyo In ketika mendesah, kulitnya yang halus, dan bagian yang lembut dan hangat itu….

Oh, percuma saja. Semakin lama membahas ini aku tak yakin pada diriku sendiri bisa tahan tidak menariknya ke tempat sepi dan melakukan hal yang tak seharusnya kulakukan terhadapnya. Sudah cukup kemarin aku membuatnya begitu. Mungkin sekarang dia merasa marah atau entahlah, aku sendiri bingung harus menjabarkan perasaan gadis itu bagaimana. Dari raut mukanya dia terlihat biasa saja, seperti tak ada kejadian penting apapun semalam. Hyo In duduk dengan tenang di sampingku mengenakan kemeja putih lengan panjang berleher tinggi menutupi leher jenjangnya dan rok span hijau tua melekat pas membentuk bokongnya yang sintal … ya, Tuhan, jangan biarkan aku jadi pria mesum semakin lama.

Berdeham, aku mencoba menahan apapun yang kupikirkan tentangnya. Jadi, kuputuskan membantunya menyiapkan sarapan saja. Ada sup kimchi dan makanan pendamping lain yang dibawa Hyo In dan Bibi dari rumah. Sesekali aku melihat ekor matanya mengarah padaku dan sebelum bisa membalas tatapan itu, Hyo In sudah berpaling. Entah bermain dengan ponsel atau mengajak bibi mengobrol tentang resep masakan yang ingin dicobanya di rumah saat akhir pekan nanti. Sementara pagi ini akan kami habiskan dengan makan pagi di ruangan paman.

“Aduh, ibu lupa membawa minuman ginseng,” sesal bibi sambil memandangi makanan yang sudah tersaji di meja.

“Biar kubelikan di kantin saja,” tawar Hyo In.

“Oh, kaumau?”

“Aku akan mengantar Hyo In. Bibi bisa menunggu di sini bersama Paman.”

Meski melihat penolakan di mata Hyo In, aku tak yakin akan pernah mendengar sanggahan karena begitu dia membuka mulut paman sudah menyela, “Kalau begitu cepatlah. Kita tidak punya banyak waktu. Sebelum jam makan siang nanti kita harus sudah menyelesaikan dokumen perjanjian dan segala tetek-bengeknya.”

“Baik, Paman.”

Aku bediri lebih dulu. Mengulurkan tangan membant Hyo In bangkit dari sofa. Kami bergandengan sampai melewati pintu. Diam, tak ada yang mengeluarkan suara sama sekali.

Berdeham lagi, kucoba menarik perhatian namun Hyo In terkesan tak mau melihatku. Pandangannya mengedar ke sekitar lorong, mengamati lukisan-lukisan wayang dari Indonesia yang sengaja dibawa pulang Paman Seung Hoon setelah kunjungannya ke negara itu setahun lalu.

Hyo In sudah berkali-kali kemari, aku tahu itu, jadi kurasa dia melakukannya hanya supaya tidak perlu bicara denganku.

“B-bagaimana kabarmu?”

Hyo In menoleh padaku, tampak terkejut. “O-oh, aku–aku lumayan.” Kemudian bibirnya melebar kaku. Canggung. “Kau?”

“Tidak lebih baik daripada kemarin.”

Hyo In menunduk begitu mendengar jawabanku. Entah malu atau apa … kurasa gadis itu hanya merasa tidak enak. Aku pun begitu, sejujurnya. Namun, membiarkan hal ini menggantung terlalu lama juga tidak patut.

Kejadian kemarin bukan hal sepele. Aku ingin Hyo In tahu itu dan sadar kalau aku melakukannya bukan untuk merendahkan harga dirinya sebagai perempuan. Jika dia menuntut sesuatu dariku–karena kupikir tuntutan pernikahan tak mungkin dilayangkan–aku akan menuruti apapun itu. Asal dia tidak mendiamkanku seperti ini.

“Cuacanya bagus ya,” ujarku mengganti topik.

“Hari ini mendung.” Dia menjawab singkat.

Tak kehabisan akal, aku mencoba lagi. “Benarkah? Aku pasti tidak memerhatikannya. Apa kaubawa payung?”

“Tidak.” Sialan, perempuan ini!

“Kenapa? Aku selalu bawa apapun cuacanya.”

“Laporan cuaca mengatakan nanti siang akan semakin cerah.”

“Bisa saja nanti tiba-tiba hujan,” bantahku. Mencoba memperpanjang percakapan.

“Aku tahu kau tidak bermaksud mengatakan omong kosong itu.” Tangan Hyo In menahanku saat kami berada di depan elevator. Napasnya teralun tenang namun wajah kecilnya tampak kaku.

Kami saling berpandangan agak lama, mencoba membaca apapun yang air muka itu gambarkan saat ini tapi gagal. Kuhembuskan napas panjang sebelum mengatakan apa yang sudah kurancang sejak semalam.

Baiklah, sebagai pria harus aku yang memulai. Meski tak ada aturan pasti dalam hal itu.

“Aku tidak bisa melupakannya.”

“Apa?”

“Ayolah, Hyo In. Jangan berlagak seperti hanya aku yang menginginkannya.”

Alisnya tertaut. Bibir Hyo In mencebek. Dengan cepat dia melepas tanganku dan melipat kedua lengannya di bawah dada. “Maksudmu apa mengatakan itu?”

Seringai muncul begitu saja saat aku menyadari Hyo In yang sebenarnya mulai kembali. Si Ekspresif Hyo In. “Maksudku ya begitu.”

“Aku benar-benar tidak paham apa yang sedang kaubicarakan.

“Celana dalammu masih kusimpan!” Aku sengaja berkata agak keras.

Kling!

Pintu elevator terbuka. Hyo In langsung menyeretku tanpa ba-bi-bu dan memencet tombol menuju lantai 1. Begitu pintu tertutup lagi dia memukuli  pundakku dengan kepalan tangan kecilnya sambil berkata aku ini pria kurang ajar tidak tahu malu dan tak punya sopan santun. Tidak sakit memang. Tapi jelas terlihat dia sangat jengkel.

Hanya jengkel.

Kutangkup tangannya, merasa cukup dengan hukuman ringan yang diberikan gadis itu. Mata Hyo In terbelalak. Rambutnya masih terurai rapi tapi wajahnya sudah merah padam. Napasnya juga lebih keras dari sebelum ini.

“Hei, santai, aku tidak sedang mencampakkanmu.”

Hyo In menggeram seraya memutar mata malas. Dia juga berontak, berusaha melepaskan tangan dari genggamanku. Namun, sebelum itu terjadi aku sudah menariknya hingga tubuh kami bertabrakan. Benturan keras itu membuat kakiku sampai mundur beberapa langkah demi menyesuaikan keseimbangan dan kurasakan dinginnya dinding elevator yang sudah bergerak ke bawah menuju lantai dasar. Wajah kami hampir menempel. Kedua tangannyalah yang membuat dada kami tak saling menempel saat kutarik pinggangnya.

Meski tak bersuara aku bisa merasakan kesiapan kaget dari reaksi tubuh Hyo In yang berubah kaku sementara wajahnya memucat.

“Jangan macam-macam!” peringatnya.

Sengaja tak menghiraukan hal itu dan kurasa ini akan semakin menarik, kuusap pelan punggung bawahnya dengan ibu jari sambil tersenyum menantang.

“Kyuhyun, jangan di sini! Semua elevator ada CCTV.”

Aku tertawa rendah. sebelum Hyo In bisa lepas dariku aku sudah menarik wajahnya. Menempelkan bibir lembut itu dengan bibirku. Tak bisa lagi menahan gemas melihat Hyo In. Kali ini rasanya tidak seperti kemarin. Vanila, hm.

Tanpa kuduga–sebenarnya tidak juga, aku lebih percaya memang seharusnya ini yang terjadi–Hyo In membuka mulut, memberiku ruang hangat yang sudah sejak semalam kurindukan. Yang membuatku lebih senang lagi adalah dia melakukan yang lebih baik dari sekadar membuka mulut hangat itu. Lidahnya menyusuri bibir bawahku pelah-pelan dan gemetar. Sungguh, aku menikmati itu. Demi apapun. Tapi aku tak kuasa menggodanya lebih lama lagi.

Kudorong lembut wajahnya, memberi kecupan final di bibir ranum dan sekarang memerah agak bengkak itu. Dia menunduk dalam tak berani membalas tatapanku.

“katakan kau juga mengingatnya.”

“Tidak.” Hyo In menggeleng cepat.

“Aku akan menidurimu di sini kalau kau tidak mengatakannya.”

Hyo In langsung menjauh menyadari peganganku mulai mengendur. Dengan mata nyalang dia memberiku tatapan pembunuh berdarah panas yang seolah bisa membakarku hanya dengan pancaran indah mata kecil sewarna cokelat meleleh itu.

“Kau tidak akan melakukannya ancaman itu.”

Dia pikir aku hanya menggertak?!

Tanpa mengatakan apapun aku berjalan pelan mendekatinya dan dia semakin terpojok di salah satu sudut elevator.

“Ya, ya, baiklah. Aku ingat,” akunya terpaksa. Masih dengan posisi tangan menyilang di dada. “Aku mengatakan itu hanya karena kau membutuhkan pengakuan,” sambungnya sinis.

Dengusan tawaku keluar begitu saja seraya kembali bersandar di salah satu sisi elevator. Merasa dia mendapatkan poin. Cukup pintar. “Aku hanya mau membuat kesepakatan.”

“Kesepakatan jenis apapun itu aku takkan menyetujuinya.”

“Kau bahkan belum mendengarnya.”

“Kubilang aku tidak bisa.”

“kau bisa memmercayai ramalan cuaca kenapa tidak padaku?”

“Aku hanya tidak bisa percaya kesepakatan itu, Kyuhyun.”

“Aneh sekali.”

“Kalau sudah tahu aku aneh lebih baik tidak usah lanjutkan ini.”

“Kaumau aku bagaimana?”

“Lupakan saja kejadian kemarin. Anggap tidak pernah terjadi. Aku juga akan begitu.”

Mana bisa begitu? “Kalau aku tidak mau?”

“Aku tidak peduli.”

“Katakan yang sebenarnya.”

“Jangan bicara sembarangan. Kaupikir dari tadi aku berbohong?”

“Tidak, bukan, seharusnya kau tidak memintaku melupakannya. Itu salah.”

Ya. harusnya tidak begitu, kan? Ha-harusnya dia marah-marah, memintaku ganti rugi, atau apalah. Harusnya–

“Memangnya apa yang kauharapkan akan kukatakan, memintamu jangan meninggalkanku, atau menuntutmu dengan perasaan yang tidak pernah kaumiliki untukku?”

Ya, harusnya begitu.

“Kupikir kau menyukaiku.” Itulah hal gila yang selama beberapa hari ini kupikirkan. “Kau … membiarkanku melakukan itu padamu.” Sungguh, aku masih tak bisa percaya dia berkata seperti itu.

Pasti ada yang salah dengan otaknya.

Pandangan Hyo In seperti pohon berdaun kering yang gundul setelah daunnya terbawa angin. Aku melihat kehancuran meski mata itu tak mengeluarkan air mata sama sekali. Dia terluka di sana, atau setidaknya pernah terluka, jauh di dalam sana. Tapi kurasa ini bukan karena masalah semalam.

Entahlah, bisa saja itu benar dan salah. Semua kemungkinan bisa terjadi.

“Kau bisa melakukan itu pada siapapun. Suka ataupun tidak dengan perempuan lain. Aku cukup yakin pria bisa melakukan hal semacam itu tanpa perasaan. Jadi kenapa aku tidak bisa?”

“Dan kau bukan pria. Kurasa hukum itu tak berlaku untukmu.”

“kalaupun memang benar begitu, kuyakinkan padamu aku takkan memaksamu menyukaiku juga. Tertarik mungkin, ya, tidak ada salahnya ‘kan kalau aku tertarik dengan pria sepertimu. Tapi masih ada masa lalu yang merantaimu. Kau belum bisa melupakan wanita itu. Kaupikir aku tidak tahu itu?”

Dari sekian banyak waktu, aku paling tidak suka saat seperti ini apalagi melihat wajah tak sukanya terarah padaku seperti itu. Dia takut aku menjadikannya pelarian. Sialan!

Kurasa memang sudah saatnya mengatakan apa yang selama ini kusembunyikan mengenai hubunganku dengan Chae Yeon. Dia berhak tahu namun mengingat suasana hati Hyo In saat ini sangat tidak bijaksana bahkan untuk menyebut nama Chae Yeon saja di depannya. Tapi sungguh gadis itu membuatku gemas lagi karena secara tidak langsung dia tidak menyangkal mempunyai perasaan tertentu padaku.

Sayangnya, Hyo In terlalu blak-blakan dengan mengatakan itu hanya ketertarikan biasa. Yah, walaupun aku tak bisa menyalahannya juga. Lagipula bisa saja perasaan itu pun yang kurasakan terhadapnya sekarang. Tapi bukan itu intinya. Aku ingin dia bersamaku terus. Aku tidak bisa melepasnya. Perasaan ini datang begitu saja dan semakin menguat setiap detiknya.

“Hyo In.” Gadis itu memebiarkanku meraihnya.

“Dengar, ku tidak mau kau merasa perlu menyatakan perasaaan hanya karena kejadian semalam. Kau tidak tahu siapa aku.” Nada suaranya memaksaku percaya kata-kata itu.

“Kau putri satu-satunya Paman Seung Hoon. Sangat keras kepala dan tidak bisa diam seperti kelinci. Tidak bisa tidur malam dan mengantuk menjelang pagi seperti kelelawar.” Dia tertawa pelan, aku terseyum sebelum melanjutkan, “kau gadis yang kuat, aku tahu itu sejak kemarin. Dan kau menyebalkan.”

“Dan jorok. Ingat, aku mengompolimu saat pertemuan pertama di Plaza Gwanghwamun.”

“Ya, kau membuatku tak mungkin melupakan kejadian saat itu.” Hyo in tertawa semakin keras.

“Kyuhyun, kurasa kau hanya penasaran denganku. Kau tidak sungguh-sungguh tertarik denganku.”

“Aku sendiri tidak tahu.” Ya, kuakui itu. “Kurasa kau ada benarnya juga. Tapi bagaimana dengan perasaan tidak bisa jauh darimu, hum? Tolong jelaskan padaku.”

“A-aku … tidak begitu yakin dengan apa yang harus kukatakan. Kurasa kau hanya–“

“Aku nyaman denganmu. Itu kenyataannya. Jangan coba-coba mengingkari hal itu atau kau memang sengaja mengabaikan apa yang kaurasakan juga.”

Helaan napasnya panjang dan sedikit frustrasi. “Ini terlalu cepat. Kautahu, aku mengerti masalahmu dan sebelum ini kau membenciku. Kau bahkan melempar pigura padaku, kau–“

Kubungkam mulutnya sekali lagi dengan ciuman. Aku ingin dia merasakan kegundahan yang kualami selama ini juga. Perasaan bimbang dengan apa yang kurasakan sendiri. Bisa dikatakan apa yang dibilang Hyo In memang betul, tapi apa yang bisa kulakukan jika akhir-akhir ini perasaan itu berkembang tanpa bisa kukendalikan? Aku sendiri tak bisa mengontrol pikiranku, hanya dia yang ada di otakku, hanya Hyo In yang menjadi pusat perhatianku tak tahu sejak kapan lebih tepatnya.

Bibir kami sama-sama bergetar saat ciuman itu terlepas. Dahi saling menempel, mereguk napas yang sempat hilang. “aku menginginkanmu, Hyo In.” Bukan aku yang menentukan kapan hatiku berubah.

Kemudian Hyo In membuatku terkejut dengan mengalungkan lengan ke leher, mencuri ciuman begitu cepat. Seolah melemparkan dirinya sendiri padaku dan yang bisa kulakukan adalah menerima, menguatkan pijakan kaki, membentuk simpul kuat mengitari pinggangnya. Bibir lembutnya melumat bibirku pelan, penuh perasaan. Tubuhnya lemas dalam pelukanku, tak kaku sama sekali seperti sebelumnya. Dia terasa rileks.

Ciumanku beralih ke sekitar rahangnya, memecah desahan pelan Hyo In saat satu tanganku naik ke dadanya, mencoba menemukan apa yang kucari dan satu lagi mendarat mulus di lekukan bokongnya yang kenyal.

“Jangan! Masih pagi,” bisiknya sambil menurunkan tanganku dari dadanya. “Bajuku bisa berantakan. Aku ada kelas nanti siang.”

Aku menggeram menahan tawa. Ketika itu bibirku hampir mencapai daun telinganya tapi dia mematahkan gairahku begitu saja.

Hyo In menangkup wajahku, menatapnya agak lama seraya membersihkan daerah sekitar mulutku.

“Lipstik?” Dia mengangguk. Senyumnya mengembang selama proses itu dan aku tak bisa menahan senyumku juga. “Kau bawa lipstik lagi?”

“Ya, aku selalu menyimpan yang paling kecil di sini,” katanya sambil mengangkat dompet yang lebih seperti kotak make up. Hyo In memberikan usapan terakhir sebelum menepuk pipiku. Sangat lembut.

Aku suka dia menyentuhku seperti itu. Penuh perhatian. Sebelumnya tak ada wanita yang memiliki sentuhan semacam ini, kupastikan itu, atau mungkin aku yang tak begitu menikmati sentuhan mereka. Seolah dengan sentuhan itu Hyo In mencurahkan semuanya.

Walau begitu, aku terpaksa melepaskan pelukan kemudian membantunya merapikan diri. “Kyuhyun, tanganmu tidak membantu sama sekali. Berhenti menyentuhku seperti itu.”

“Maaf,” kataku cuek. Dengan semua lipstik yang terhapus pun gadis itu masih terlihat bersinar.

Kugandeng tangannya lagi, kali ini dia membalasnya dengan memeluk lenganku.

“Jadi?”

“Apa?”

“Apa ini?” tanyaku menggoda. Mengangkat genggaman tangan kami kemudian mengecupnya sebentar.

Respons hanya tersenyum sambil meninju pundakku lalu mengalihkan pandangan.

Mulutku yang baru saja terbuka langsung tertutup begitu dia berkata, “jangan katakan apapun. Aku sedang malu.”

Benar, kan? Anak ini menggemaskan.

Kami menunggu beberapa detik sebelum sampai lantai dasar dan berpisah beberapa meter menuju kantin karena Hyo In harus ke toilet lebih dulu. Aku duduk di bangku yang disediakan sebelum pintu masuk kantin. Bangku itu sengaja diletakkan di sana karena setiap tiba waktu istirahat tempat ini akan sangat ramai. Sebenarnya kantin sudah tak lagi mampu menampung para karyawan yang sepertinya tidak punya waktu membuat bekal di rumah. Memang sudah rencana pelebaran kantin sudah masuk sampai ke mejaku tapi aku harus menundanya sampai proyek di Taebaek dan Gyeongju selesai. Jika jadi mereka aku juga lebih memilih mengeluarkan uang daripada repot bangun lebih pagi untuk memasak.

Hari ini hampir tak ada orang kecuali para pegawai yang sedang sibuk menyiapkan makanan untuk makan siang nanti. Aku bisa melihatnya dari dinding kaca. Aroma masakan pun bisa tercium dari sini.

Ketika ponselku berbunyi, tanda sebuah email masuk, seseorang menarik perhatian dengan tiba-tiba membungkuk di depanku.

“Pagi, Bos.”

Colin. Ya, si pacar empat hari Hyo In. Mau apa lagi dia?

“Apa yang kaulakukan di sini?”

“Saya  resmi bekerja di sini mulai besok. Mohon bimbingannya.” Dia membungkuk lagi. Aku sampai tak tahu harus berkata apa selain menanggapinya dengan wajar. Aku berusaha.

“Selamat!” Kami berjabatan tangan. Genggamannya kuat seperti menyimpan energi tertentu, membuatku tidak nyaman.

Aku mencoba menyembunyikan keterkejutan tapi kesiapan Hyo In dari belakang membuatku tersadar.

“Sayang!” Aku bangkit menghampirinya. Hyo In menggandeng lenganku begitu jarak kami mengizinkan sambil menatapku bingung. “Colin diterima di sini.” Kata itu keluar begitu saja. Jangan salahkan aku!

“Oh, mmm … benarkah? Selamat kalau begitu.” Aku tahu Hyo In merasa tak nyaman. mungkin karena masih teringat ulah nakalnya semasa SMA dengan Colin. Pacaran empat hari bukan hal yang patut diingat sampai sekarang. Aku tidak suka Hyo In begitu, seolah Colin orang istimewa saja.

Sebelah lenganku melingkari pundak Hyo In. gadis itu mulai rileks saat aku menariknya semakin dekat.

“Terima kasih, Hyo In.” Dan aku yakin meski tersenyum selebar apapun dia tidak sungguh-sungguh ingin melakukan itu. Garis matanya tak tertarik sama sekali. Dia juga terus memerhatikan tanganku yang tengah mengusap pelan pundak Hyo In. Sungguh, apapun yang dia pikirkan saat ini aku takkan memedulikannya. Yang terpenting Hyo In nyaman bersamaku. Colin tidak suka mantan kekasihnya sekarang bersamaku? Itu sepenuhnya urusan dia.

“Tumben kau bisa bangun pagi.” Aku bisa melihat seringai puas Colin. Sialan!

Hyo In tertawa segan. “Aku tidak seperti dulu lagi.”

“Ya, kurasa begitu. Bagaimana dengan Hyukjae?”

Hyukjae, siapa lagi dia? Mantan kekasih Hyo In yang lain? Kenapa semakin ke sini anak menyebalkan ini terlihat semakin banyak mantan kekasihnya? Apa dia selaku itu? Mmm … ya … walaupun kurasa itu bukan hal buruk. Tapi ya sebal saja rasanya.

“Dia baik-baik saja. Kami mengajar di sekolah yang sama sekarang.”

“Oh, kurasa bos juga sudah bertemu dengannya, kan.” Tampak sekali tantangan di wajahnya.

Oppa sangat sibuk. Aku belum sempat mengenalkannya dengan Hyukjae.”

Aku tak bisa menahan senyum mendengar panggilannya untukku. Oh, meskipun itu hanya untuk membelaku sungguh tidak apa-apa. Aku senang Hyo In yang defensif seperti ini. Meskipun sebenarnya aku cukup terkejut ketika dia juga langsung menarikku pergi dari sana dan berpamitan dengan Colin sambil jalan.

Ketika kami sampai di depan konter kasir Hyo In langsung memesan empat gelas minuman ginseng. Dia hanya melepaskan tanganku agar aku bisa membayar minuman itu kemudian kembali menggandeng lenganku, kali ini lebih erat dan mesra. Aku sampai bisa merasakan berat badannya mulai membuatku berjalan agak miring.

Begitu sampai di depan lift aku berhenti, memaksanya menurutiku. Kuusap tangannya yang masih memelukku erat, membiarkannya mengendur dengan sendiri.

“Sudah, sudah, dia tidak ada di sini.”

Wajah Hyo In masih tidak tenang walaupun pegangannya sudah mengendur.

“Kenapa?”

“Hah?” Reaksi itu semakin menguatkan dugaanku tentang hubungan mereka yang tidak berakhir dengan baik.

Kutatap matanya, dia berpaling. Semakin kuperhatikan dia jadi semakin kikuk. “Kenapa kau selalu tidak tenang setiap ada Colin?”

“Aku hanya tidak menyukainya. Itu saja.”

“Dia melakukan sesuatu?”

Hyo In menggeleng cepat. “Tidak, tidak. Aku saja yang berlebihan. Maaf, apa aku membuatmu tidak nyaman?”

“Satu-satunya orang yang tidak nyaman di sini adalah kau. Dan aku tidak suka itu.”

“Peluk aku!”

Aku ingin tertawa tapi tidak bisa. Spontanitasnya membuatku heran. Sebelumnya tidak pernah ada wanita seperti dia, mengekspresikan apapun yang dia inginkan dengan gamblang. Kebanyakan dari mereka sangat suka memberi tanda yang lebih sering pula tak kupahami dan berakhir dengan kemarahan mereka padaku.

Hyo In menerima pelukanku. Embusan napas leganya membuatku tenang sekaligus yakin dia sering berada dalam keadaan tidak mengenakkan sekarang. Mungkin lebih baik aku mengatakan ini pada Paman, tapi jika Beliau tahu yang kutakutkan adalah penilaiannya pada karyawan jadi subjektif. Dan jika setelah rangkaian tes itu Colin diterima di sini aku yakin pihak HRD punya pertimbangan sendiri dan pria itu pasti punya kualitas tertentu yang tidak bisa diabaikan perusahaan.

***

Sarapan tadi berjalan lancar. Obrolan kami mengalir seperti biasa. Yah, hanya membahas kesehatan Bibi yang mulai menurun lagi, atau pekerjaan Hyo In yang tidak lagi sepadat beberapa minggu lalu karena rekan semata pelajarannnya sudah kembali ke Seoul setelah menemani istrinya melahirkan.

Setelah itu Hyo In berangkat aku pergi ke ruang rapat sendirian. Paman memutuskan untuk membiarkanku memimpin rapat kali ini. Hari ini ada beberapa tambahan personil untuk proyek di Taebaek. Sebagian anggaran yang diajukan sudah disetujui dan proses pengiriman barang lah yang menjadi kendala. Agak membuat pusing samapi kupaksa Hyo In untuk lenyap sejenak dari otak.

Bertahanlah untuk beberapa jam ke depan!

“Kita punya masalah untuk pengiriman kayu dari Indonesia. pemerintah menolak permintaan kayu jati yang sudah dipesan karena kendala sertifikat dan pemerintah di sana menganjurkan kita untuk membeli saja hasil olahan kayu ketimbang mengambil dalam bentuk gelondongan.”

“Kita bisa membelinya dari tempat lain,” usul salah satu staff.

“Tidak. Kayu jati Indonesia yang terbaik. Kokoh dan bisa dipastikan awet dengan begitu kita bisa menghemat pengeluaran yang akan datang. Presdir sendiri yang memastikan hal itu. Aku juga sudah pernah membuktikannya. Dana maintaining bagunan dan perbaikan bisa kita kurangi dan dialokasikan untuk bagian yang lebih membutuhkan perhatian, promosi misalnya. Selain itu, tempat ini akan menjadi sebuah penginapan nyaman dan indah tapi tidak mengabaikan keselamatan pengunjung dengan kualitas bahan baku yang tidak bagus. Ada usul yang lain?”

Tak ada jawaban dari rekan-rekannya karena itu aku menyela. “Aku punya satu solusi tapi kemungkinan yang paling bisa kita ambil sekarang adalah mengambil risiko membengkaknya biaya untuk bahan bangunan. Kita bisa pakai kayu mahoni untuk furnitur. Kualitas bagus juga, tapi harga lebih terjangkau.”

Terdengar bisik-bisik dari tim lain sedang mempertimbangkan solusi yang kuberikan. “Kami tidak yakin apakah langkah itu bisa berhasil mengembalikan modal perusahaan. Taebaek memang objek wisata yang sangat potensial tapi belum banyak orang yang tahu tempat ini. Ada banyak sekali biaya yang harus dikeluarkan untuk promosi.”

Salah satu staf dari bagian marketing mengangkat tangan. “Ada beberapa cara yang sudah kami pikirkan untuk melakukan promosi dengan baik. Tapi dengan cara itupun kami masih belum yakin apakah bisa menarik perhatian pengunjung sesuai target agar modal kembali dalam waktu kurang dari setahun. Kita harus bekerja keras untuk itu.”

“Ya, aku sangat paham.” Sial! ini membuatku semakin pusing. Kami masih berdebat selama beberapa jam setelahnya sampai aku menyadari tubuhku semakin melemas dan wajah anggota tim melesu meski sebagian tertutup make up tebal.

Melihat jam dinding, rapat ini sudah molor satu jam dari waktu yang ditentukan. Sementara staf lain pasti masih punya pekerjaan untuk diselesaikan. “Begini saja, aku beri waktu satu minggu untuk bagian marketing, aku mau promosi dilakukan dengan cara yang efektif. Pastikan setiap langkah yang kalian ambil tidak menghabiskan anggaran maksimal. Yang lain boleh pergi sekarang, sementara untuk bagian keuangan, sayangnya kita harus bertahan lebih lama di sini. Kalian masih harus terjebak bersamaku.”

Kami semua tertawa pedih tapi untunglah mereka masih bisa melakukannya. “Bagian yang lain bisa istirahat sekarang.” Mereka memberi semangat dengan menepuk pundak para staf keuangan. Aku tak bisa menahan senyum melihat wajah mereka yang seolah sedang memberi semangat padahal sedang menertawakan. Bercanda bagus juga untuk mereka.

Begitu semua staf keluar aku berdiri seraya membenarkan jas. “Kita pindah ke ruang sebelah,” instruksiku.

Ruangan yang berada di dalam ruang rapat ini sebenarnya lebih tepat disebut tempat santai. Jarang dibuka memang, hanya ketika ada proyek besar dan khusus ditujukan pada para staf yang mulai kehilangan tenaga untuk tetap berpikir jernih. Meskipun begitu, isi dua lemari es di sini selalu dipantau dengan baik. Ada banyak makanan kecil baik yang gurih atau manis, air putih, soda, bir, dan soju. Ada juga play station, poker, dan kartu uno. Juga beberapa majalah dan bacaan lain. Karpetnya bersih berwarna hijau seperti rumput lapangan golf. Ruangan yang sejuk ini dilengkapi meja kecil dan kasur lantai untuk istirahat sambil membicarakan pekerjaan.

Tempat ini dibangun atas permintaan Paman sendiri. Terinspirasi dari Hyo In, begitu Beliau bilang saat aku pertama kali diterima bekerja di sini empat tahun yang lalu. Hyo In tidak bisa berpikir dan mulai menangis satu jam setelah jam belajarnya berjalan. Dia akan mengamuk dan meminta ini-itu hanya untuk alasan berhenti belajar sejenak. Anak itu tidak bisa bekerja di bawah tekanan. Nilai pelajarannya malah banyak yang turun jadi Paman dan Bibi membiarkannya belajar sesuai kenginan dan tidak pernah lagi memanggil guru les privat untuknya. Bibi membimbing Hyo In di rumah dengan telaten. Gadis itu hanya akan belajar selama lima belas menit. Begitu mulai merasa pusing dia beristirahat entah mandi, makan, atau membaca majalah, setelah itu kembali belajar. Melihat Hyo In lebih bahagia dan nilai-nilainya membaik, Paman berniat melakukan metode yang sama pada karyawan-karyawannya. Dan selama ini kulihat metode itu memang membuahkan hasil lebih maksimal.

Para staf yang tersisa langsung menghambur ke tempat favorit mereka sementara aku lebih memilih mengambil bir dan duduk di atas kasur lantai di pojok ruangan dekat jendela. Setelah satu tegukan menenangkan kuambil ponsel dari saku dan menghubungi Paman. Kami membicarakan progress dan hambatan serta solusi yang bisa diambil saat rapat tadi. Paman menerimanya dengan baik dan memberiku sedikit masukan dan mengabarkan bahwa Beliau sudah kembali ke rumah beberapa menit yang lalu, mengantar Bibi pulang.

“Bagaimana dengan Hyo In, apa kau menemukan sesuatu yang baru?”

Dia punya teman bernama Colin. Hyo In selalu terlihat tak nyaman dengan pria itu. aku sendiri tidak menyukainya. dia seperti membuat Hyo In tertekan. menurut Hyo In dia tidak begitu menyukai pria itu karena pernah mengalami hal tidak baik dengan karyawan barum itu.

“Tidak ada. Aku akan terus memantaunya.”

“Baguslah. Terus awasi dia sebisamu. Aku masih punya firasat dia menyembunyikan sesuatu dariku.”

“Baik, paman.” Aku diam sebentar mendengar masukan darinya mengenai apa yang ingin Beliau ketahui dari Hyo In. Dan meski agak deg-degan aku mencoba memberanikan diri berkata, “boleh aku mengajak Hyo In makan malam?”

Kemudian paman mengiyakan.

Telpon mati dan dengan begitu beban di pundakku terasa semakin berat. Rasa bersalah pada Hyo In dan ayahnya datang karena aku tidak benar-benar menjaga gadis itu.

Aku merayunya dengan cara yang buruk sampai dia mau berkencan denganku. Aku juga membohonginya. Dan yang lebih parah lagi aku tak mau mengatakan kebenarannya meskipun ada kesempatan. aku hanya merasa dengan begitu Hyo In bisa menjauh dariku. Aku tidak hal itu.

***

Rapat berakhir tanpa keputusan. Kami hanya mendiskusikan apa-apa saja yang harus dipersiapkan jika strategi dari tim marketing tidak bisa mengatasi permasalahan.

Saat keluar dari kantor, matahari hampir berwarna jingga tapi sinarnya masih terik menyengat kulit. Perutku protes karena sejak tadi siang hanya terisi bir dan roti. Waktu makan siang pun sudah habis.

Aku langsung menghubungi Hyo In. Dia bilang ada kelas siang ini jadi kemungkinan dia sudah selesai atau malah sudah sampai rumah. Ide makan malam dengannya sepertinya bagus mengingat makan malam terakhir kami tidak berjalan dengan baik karena aku yang menyebalkan. Aku ingin menebus itu. Setidaknya, sebelum aku bisa mengatakan yang sebenarnya aku mau membenarkan hal yang dulu terasa salah bersamanya.

Hyo In menjawab telponku setelah dua kali nada sambung. “Ooppa.” Dari sini aku bisa mendengar dia terkesiap.

Diam-diam jantungku pun berpacu cepat saat mendengarnya memanggilku dengan sebutan ‘Oppa‘ sekalipun tidak ada Colin.

Jadi gadis itu serius ya. aku berdeham menyamarkan kegugupan. “sudah pulang?”

“Baru selesai beres-beres. Setelah ini ba–hei, Hyukjae! Jangan ambil pulpenku!!!”

“Hyo In?”

“Oh, maaf. Hyukjae mengambil pulpenku … lagi. Aku hanya memarahinya.”

Dia terkikik sebelum suara pria dari kejauhan menghentikannya. “Kaupunya pacar?! Yang benar saja!”

“Hyukjae, diam kau!!!”

Dahiku mengernyit. Tak suka si Hyukjae itu mengganggu Hyo In ku tapi pada akhirnya tersenyum juga membayangkan bagaimana merahnya wajahnya saat ini. “Aku jemput?” selaku tak sabar.

“Boleh. Hyukjae bisa membawa mobilku pulang.”

Hyukjae lagi! Siapa sih dia sampai harus membawakan mobilnya pulang. Sialan!

“Sekalian makan malam? Aku lapar.”

“Emmm, tidak buruk juga.”

“Bagus. Beri aku alamat sekolahmu.” Telpon kututup. Tak mau mendengar penolakan.

Lima belas menit setelah menerima pesan berisi alamat aku sudah tiba di depan sekolah Hyo In. Keadaan dari luar sini sudah tampak sepi, hanya ada beberapa siswa keluar melalui gerbang dengan seragam ekstra kulikuler yang berbeda-beda. sudah hampir lima menit aku duduk di atas kap mobil sebelum Hyo In datang bersama seorang pria yang sama tingginya denganku tapi memiliki rambut cokelat yang lebih terang dan senyum sangat lebar sampai gusinya terlihat saat mencandai Hyo In sepanjang perjalanan menuju arahku.

Aku turun, menyambut Hyo In yang langsung berdiri di sampingku dengan kecupan singkat di pipi kanan dan kiri lalu mencoba melihat reaksi si–yang kusangka–Hyukjae. Tidak ada apa-apa. Wajahnya justru menampakkan ekspresi geli pada Hyo In. Detik berikutnya dia sudah mengulurkan tangan padaku dan kami bersalaman. Pria ini terlihat jauh lebih ramah daripada Colin. Tapi tetap saja dia pria, kami sama saja dalam beberapa hal dasar, dan aku tidak suka Hyo In terlalu dekat dengannya.

Oppa, ini Hyukjae. Dia sahabatku dari kecil, rekan kerja, sekaligus tetangga. Dan Hyukjae, ini–“

“Aku tahu, aku tahu, dia kekasihmu. Tidak perlu terlalu forma–AW!” Hyo In menghadiahi Hyukjae injakan di kaki, membuat pria itu meringis sebal. Namun, bisa melupakannya dengan cepat. “Iyaaa, iyaaa.” Lalu tersenyum padaku. “Hai! Senang bertemu denganmu. Kuharap kau betah dengannya. Percayalah, sejorok apapun anak ini, dia tidak akan mengkhianatimu.”

Hyo In mendengus. “Hentikan omong kosong itu. Ini!” serunya seraya melempar kunci mobil. “Jangan sampai lecet. Angsurannya belum lunas.”

Hyukjae terbahak. “Pasti.” Dia hendak memeluk Hyo In namun terhenti di tengah jalan, memandangku sejenak, tersenyum canggung sebelum meninju ringan bahu Hyo In. “Aku pergi. Nikmati makan malamnya.”

“Dia agak urakan,” komentarku.

“Tapi baik,” bela Hyo In.

“Sebaik apa?”

“Sebaik Superman? Aku tidak begitu yakin tapi dia sering menjadi pahlawanku.”

Aku menghentikan Hyo In saat dia bermaksud masuk ke dalam mobil. “Tunggu! Kau tidak bisa memuji pria lain di depanku seperti itu.”

Hyo In memutar mata malas lalu menyeretku ke bagian samping pintu kemudi. “Aku dan kau belum saling kenal waktu itu. Sudahlah jangan mengajakku bertengkar sore-sore begini. Aku lelah!”

Lirikan tajamku tak dia hiraukan. Mata lembutnya mengatakan tak takut sama sekali ketika kami saling melempar pandang tak suka untuk beberapa saat. Dan akhirnya, aku mengalah. Hanya karena dia perempuan. Dan akutahu dia pasti senang ketika dianggap benar.

Ponselku berbunyi ketika kami baru saja masuk ke dalam mobil. Bukan dari orang yang kuinginkan karena kuyakin akan selalu ada hal yang tidak kusukai setiap nomor itu menghubungiku. Saat yang bisa kulakukan hanya menatapi layar ponsel dengan lesu, aku sadar Hyo In tengan memerhatikanku dengan saksama.

“Kenapa tidak diangkat?”

“Biarkan saja.”

Kutaruh ponsel itu di dashboard lalu menyalakan mesin mobil. Bermaksud membiarkannya tak terjawab namun Hyo In mengambilnya dengan sigap kemudian mendengus, tanpa izin memencet tombol hijau dan loudspeaker kemudian suara Ayah langsung terdengar.

Aku gelagapan, bukannya tak tahu apa yang harus kukatakan hanya saja … ya, benar, aku memang tak tahu harus bilang apa.

“Ayah?”

“Baguslah, kau masih ingat aku ayahmu.”

Hyo In menahan kekehan dengan menutupi mulut kemudian bergaya sedang memainkan ponselnya sendiri.

Dan aku hanya bisa memicing sebal padanya. “Aku sedang tidak dalam kondisi mau bertengkar denganmu.”

“Aku juga. Kalau begitu nanti malam kau harus pulang. Kita makan malam bersama.”

Dahiku mengernyit begitu sambungan terputus. Hyo In sendiri melongo tak paham dengan komunikasi yang sangat-sangat singkat itu.

Sudah kubilang kan, keluargaku itu menyebalkan.

“Sudah, begitu saja?” Hyo In terheran bukan kepalang. “Apa selama ini kalian hanya … begitu saja?

Hanya anggukan yang bisa kuberikan. Memangnya mau apa, menyangkal pun tidak bisa.

“Ya Tuha, aku mungkin sudah gila kalau hanya bicara sesingkat itu dengan ayah.”

“Setiap keluarga punya gaya yang berbeda, kurasa.” Aku mengangkat bahu, tak begitu yakin dengan jawaban itu. Tapi ketika Hyo In menggut-manggut saja, kukira itu cukup memuaskannya.

“Antar aku pulang saja. Aku bisa makan malam di rumah dengan ibu dan ayah. Tidak apa-apa.”

Alisku saling bertaut. Apa dia bilang, pulang?! Enak saja.

“Tidak. Kau ikut denganku.”

“Ini makan malam keluarga. Kau harus menikmatinya bersama mereka.”

“Aku tidak akan menikmatinya kalau kau tidak ada di sana.”

Hyo In menggeleng tak percaya. “Bagaimana bisa kau merasa tidak nyaman dengan keluargamu sendiri?”

“Kau juga bisa. Di acara barbeque itu, kalau perlu kuperjelas.”

Hyo In langsung terdiam. Tapi bicara beberapa detik setelahnya. Dengan agak tergagap. “Itu berbeda. Mereka bukan ayah dan ibuku.”

“Percayalah, itu berlaku untuk orang tuaku.”

“Aku tidak percaya,” elaknya cepat.

“Kalau begitu ikut saja.”

“Tidak mau.”

“Kalau mau percaya ikut denganku. Kau bisa membuktikannya sendiri, hm.”

Aku sendiri tak percaya kenapa bisa memancing Hyo In sejauh ini. Anak itu sangat mudah dimanipulasi karena sikapnya yang kurang mudah percaya.

Dan jawaban yang keluar dari bibir manisnya pun sempat membutaku terkejut, meski aku sudah menduganya. “Oke.”

“Oke? Ma-maksudmu kau mau?”

Dia mengangguk yakin. Entah sadar atau tidak dengan jawabannya. Biasaya orang sombong suka tidak sadar kalau dia sedang dipermainkan hanya karena merasa harga dirinya terselamatkan dengan melakukan apa yang dia kira itu benar.

“Oke,” jawabku tak mau kalah.

“Ya, oke. Akan kubuktikan perkataanmu salah.” Dia berkata dengan penuh percaya diri.

“Ya, mari kita buktikan.”

Dengan begitu mobil kulajukan dengan kecepatan standar. Tak tahu harus berkata apa tentang ini dan entah bagaimana komentar ayah dan ibu nanti aku tidak peduli. Well, aku memang terbiasa tak memedulikan kata-kata mereka. Lagipula, ide aku mengajak Hyo In kemari sepenuhnya bukan sebuah kesengajaan.

Ya, kan?

Tapi kenapa jantungku malah berdebar begini.

 

Advertisements

7 thoughts on “[Chapter] At Gwanghwamun Bagian 9

  1. Wahhhh senengnya aq akhirnya up jg, yach gue kira ketauan sama ortu hyoin ternyata di simpan kyu ya, kira2 komentar ortu kyu apa ye

  2. Aku izin baca eonn, baru ketemu ff ini link nya dari share an temen, dan ternyata ini ff yg cukup lama up nya, tapi aku suka bgt 😍😍
    Ditunggu semoga nunggu sampe end nya ga lama 😆

  3. Wow, kirain mereka bakal renggang ehh malah makin lengket Hahaha.
    Makasih udah selalu update Kak, semoga nulisnya lancar dan Kakak sehat selalu #Aamiin

  4. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan hyo in mengenai colin, pasti sesuatu yang melukai hatinya hyo in.
    Dan bagaimana tanggapan orang tua kyuhyun nanti mengenai hyo in.

  5. Ya Allah Ya Ilahi Rabb. Setelah sekian lama lumudan, akhirnya baca kisah mereka lagi. Dan well, masih menyenangkan seperti biasa. Bikin geregetan apalagi dari sudut pandang Kyuhyun.

    Typo bertebaran 😄
    Beberapa kalimat juga berasa kek sumbang kak, semacam kurang bermakna karena kurang kata.

    Tapi overall bagus. Dan selalu ditunggu💕

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s