[Vignette] Feels Like I’m Yours


Feels Like I’m Yours
Valuable94

FeelsLikeI'mYours

Author’s note:

Hei, hei, hei, I’m back. I come back /halah

Mau mengucapkan maaf sekaligus terima kasih karena masih ada aja yang like fanpage atau komen-komen di postingan blog ini meskipun lagi ditinggalin empunya entah kemana wkwkwk

Aku bawa cerita baru. Sebenarnya ini request-an temen, tapi gak papa lah sekalian buat ngaktifin blog ini lagi.

Fyi, ff yang belum kelar bakal terus dilanjut sampai end. Nggak bakal kugantung. MARK MY WORDS! :*

Karena aku sayang kalian. Karena kalian salah satu kekuatanku. Aku akan mencoba terus takkan mengecewakan kalian. ^^

HAPPY READING!!!

Hyo In menatap Kyuhyun dengan jengah. Dalam ruang lab kampus mereka yang sepi, perhatian pria itu terfokus pada tabung yang berasap dan catatan di meja. Bolak-balik hanya itu saja yang Kyuhyun perhatikan sementara Hyo In yang jelas-jelas punya tubuh lebih berlekuk daripada tabung diabaikan begitu saja. Seperti tidak penting. Seperti tak ada.

“Seperti aku ini hantu saja.”

Terkuak mulut Hyo In mengajukan protes. Barulah saat itu mata tajam Kyuhyun yang terbalut kacamata lab mau sejenak berdiam menatap kekasihnya.

“Kenapa?” Bibir penuhnya tertarik. Lagi-lagi membuat Hyo In tersipu sendiri. Tapi masih kesal.

“Kau mengabaikanku lagi. Aku hanya tidak suka.”

Mendenguskan tawa pelan, kepala Kyuhyun menggeleng tak percaya. “Dasar perajuk,” batinnya. Tapi dia sangat suka si Perajuk itu. Manis soalnya, begitu perasaan Kyuhyun membela.

“Biasanya lebih parah dari ini tapi kau diam saja.”

Melipat kedua tangan di depan dada, kesal tak terhingga datang lagi. “Biasanya itu berbeda.” Hyo In mengelak dengan suara keras. “Nanti kau akan tahu rasanya,” lanjutnya dengan suara lebih pelan. Ditambah sedikit penyesalan. Dia hanya tak bisa lebih lama menahan. Dia mau Kyuhyun hanya untuknya meski untuk hari ini saja. Tanpa menghitung berapa banyak jam yang mereka habiskan beberapa bulan ke belakang.

Hyo In menunduk. Takut Kyuhyun marah ketika senyum lembut yang tadi dia lihat berubah menjadi kernyitan. Tapi nyatanya tidak.

Hanya embusan napas yang keluar. Kemudian usapan lembut tangan besar Kyuhyun menyapa rambutnya yang dikuncir kuda. “Maaf ya, sebentar lagi selesai. Jangan marah, nanti cantikmu kalah sama pipimu yang menggembung.”

Tawa renyah Kyuhyun diakhiri napas lelah. Napas yang sama seperti miliknya. Hanya saja Hyo In memilih cara lain untuk menunjukkannya. Jadi lebih manja boleh, kan?

Tanpa membuang waktu dia mengangguk lalu duduk di sudut terbaik ruangan itu agar bisa melihat pria yang dia sayangi dengan jelas tanpa terhalang meja atau sejenisnya. Hyo In diam di sana, agak lama, sesekali mengembangkan senyum tak jelas, kemudian menatap datar pada objek yang sama.

Kyuhyun prianya. Miliknya.

Iya, kan?

“Pasti lah,” jawab Hyo In dalam hati. Namun dengan ragu.

Satu jam berlalu. Lampu laboratorium mati, pintu terkunci, dan koridor sudah lengang. Sampai langkah kaki mereka mungkin bisa didengar semut mati. Berjalan sambil bergandengan tangan, Hyo In tak malu menyandarkan kepala di pundak kiri Kyuhyun. Dan sekarang gandengan itu berubah menjadi pelukan erat yang tak mau dia lepas. Hyo In mau begini seterusnya. Andai bisa.

Sampai di halte yang lumayan sepi–karena memang sudah malam sekali–mereka langsung naik ke dalam bus yang berhenti tak lama setelah mereka tiba. Di dalam bus suasana juga tak terlalu ramai, cenderung tenang dan hangat. Entah mengapa hari ini dunia seolah memberi mereka ruang nyaman untuk menghabiskan detak jam sebelum berganti hari. Tidak ada percakapan yang berarti memang. Topik mereka membosankan. Tapi sekarang, yang membosankan pun terasa sangat sayang dilewatkan. Tak peduli pula posisi mereka sekarang membuat beberapa wanita paruh baya melihat dengan mata dan senyum menggoda.

Apa? Padahal Hyo In hanya bersandar di dada Kyuhyun dengan tangan melingkar di perut kekasihnya itu. Kyuhyun pun membalas dan mendaratkan kecupan-kecupan ringan di puncak kepala tanpa butuh alasan kenapa harus melakukannya. Lengan panjangnya juga merengkuh Hyo In dengan protektif tapi nyaman. Naik bus kali ini terasa seperti melakukan perjalanan udara dengan jet pribadi. Batin Hyo In sambil terkikik.

“Tadi aku sarapan roti panggang dengan selai nanas dan dua gelas susu cokelat hangat.”

“Ah, jadi bekal untukku tadi pagi itu sisamu?”

Hyo In mencubit perut Kyuhyun. Tidak keras. Tapi cukup membuatnya kaget sampai tertawa.

“Bukan. Itu sisa kucingku.” Kelakaran Hyo In membuat perut Kyuhyun sakit.

“Pantas kucingmu gemuk,” komentar Kyuhyun setelah selesai tertawa.

“Kenapa?” tanggap Hyo In agak tak peduli, tapi tetap mau mendengar jawabannya.

“Terlalu banyak konsumsi glukosa.”

Mendecih sebal, Hyo In menyempatkan diri mendongak. Kyuhyun refleks menunduk. Dan bibir mereka bertemu dalam kecupan ringan yang hangat.

Kiranya itu akan jadi momen romantis. Nyatanya, Hyo In malah menjulurkan lidah, mengejek. “Biarin.”

Jawaban ringan tanpa dosa itu membuat Kyuhyun tersenyum. Hendak mengeratkan pelukan lagi tapi ada sebuah panggilan datang di ponselnya.

Ibu. Pasti khawatir anak lelakinya belum pulang padahal sudah hampir tengah malam. Dan bukan kebiasaannya pulang malam tanpa kabar.

Ketika pembicaraan di telpon selesai, Hyo In baru berani membuka suara. “Mau mampir? Atau menginap juga tidak apa-apa,” tawarnya masih dalam posisi bersandar. Merasa bersalah pula sebenarnya. Harusnya dia tidak mengajukan itu. Tidak boleh.

“Maaf, aku harus pulang. Besok ada acara.” Kyuhyun cukup menjawab begitu meski dengan pelan. Tapi terdengar tegas dan final.

Setelahnya, hanya ada dekapan dan degupan jantung mereka yang saling beradu. Seolah sama-sama melempar kata yang tak terbaca meski ditulis di kertas baru dengan bulpoin terbaik sekalipun. Detakan kerasnya seperti berteriak. Tapi hanya mereka yang bisa mendengar. Dan hanya mereka yang mengerti bahwa jauh di dalam sana ada banyak lebam yang tertutup senyum baik-baik saja.

Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di rumah yang Hyo In sewa bersama beberapa temannya. Mereka tidak masuk. Tak mau juga beranjak barang sejengkal dari bangku di teras. Lampu kuningnya menyala menghangatkan suasana akhir musim dingin. Dan membuat malam ini semakin sendu. Mereka saling mendekap. Tak mau lepas. Tapi nanti harus dilepas.

“Sayang,” bisik Kyuhyun. Tak kuasa pula menjadi pihak yang merenggangkan pelukan lebih dulu.

Dijawab gumaman pelan Hyo In, Kyuhyun melanjutkan, “Aku mencintaimu.”

“Ya.”

“Kautahu memangnya?”

Mengatur napas, Hyo In mengangguk pasti. “Tentu saja. Aku juga mencintaimu.”

Kyuhyun mengembuskan napas lega. “Itu lebih baik.”

“Apa aku boleh ikut ke acaramu besok?”

“Tidak, tentu saja. Apa kau gila?” Kyuhyun agak kaget dengan pertanyaan Hyo In. Tapi pada akhirnya dia tertawa. Miris.

Hyo In melepas pelukan Kyuhyun. Sambil cemberut dia membela diri. “Aku tidak akan membawamu kabur.”

Tangan besar Kyuhyun menangkup wajah Hyo In. Dia menatap gadis itu lembut, memperhatikan setiap lekukan yang entah mengapa jadi makin indah hari ini. “Iya, aku yakin itu. Tapi aku tak yakin kalau aku takkan membawamu lari dari sana. Dan ibu–“

“Ibumu akan sedih.” Hyo In tersenyum. Memutuskan menjadi manja saat ini bukan keputusan yang baik.

Dia mengangkat wajah Kyuhyun yang tadinya tegar kini menjadi datar dan lesu. “Kalau aku bukan Hyo In, apa kau juga akan bertunangan dengan wanita itu?”

Kyuhyun hanya menggeleng. Tak tahu harus bilang apa lagi. Kalau dia menangis, Hyo In pasti akan menangis. Kalau dia diam, Hyo In juga tidak akan mengungkap apa yang dia rasakan. Dan itu pasti lebih menyakitkan.

“Dadaku sakit,” lirih Kyuhyun sembari menahan perih dari luka yang tak berdarah. Dia memeluk Hyo In lagi. Lebih erat dari sebelumnya. Lebih ketat sampai tak bisa bernapas.

Biar. Kalau perlu biar sampai mati saja agar dia tak perlu melalui hari esok.

“Aku juga sakit. Aku tidak mau begini. Aku mau bersamamu. Tapi tidak boleh.” Hyo In seperti merengek. Tapi siapapun bisa tahu kalau rengekan itu berdasar, bukan sekadar cuap-cuap egois bernada manja.

Awalnya hanya ada diam tapi tak lama kemudian muncul isakan dari Hyo in, lalu Kyuhyun, dan mungkin Tuhan saja yang tahu kapan tepatnya isakan mereka mengeras. Tiba-tiba ada banyak air mata keluar dari keduanya..

“Maaf.”

“Jangan minta maaf.” Susah payah Hyo In menjawab. Sesak sekali.

Pelukan merenggang. Dahi mereka menyatu. Tangan saling menggenggam kuat. Tangisan mereda menyisakan isakan lagi, yang justru akan lebih membuat orang meringis ketika mendengarnya.

“Pu-pulanglah,” kata Hyo In setelah mendengar dering telpon Kyuhyun berbunyi berkali-kali. Terabaikan dengan sengaja.

“Tidak. Kumohon, beberapa menit lagi.” Kyuhyun menggeleng. Sikapnya beberapa menit ini berbanding terbalik dengan sikapnya tadi pagi. Bahkan saat di laboratorium tadi. Hilang sudah Kyuhyun yang tenang dan utuh. Dia sama hancurnya seperti Hyo In.

Sesungguhnya dia sudah merasakan ketidakbiasaan yang dibicarakan Hyo In tadi sejak awal. Dan itu tidak nyaman sekali.

“Tapi kau harus pulang.”

Tidak, benar. Di sinilah lebih lama. Beberapa detik pun tak apa.

“Sebentar lagi ya.” Kyuhyun meminta dengan nada memaksa. Lalu dipeluk lagi Hyo In dengan tangan gemetar. Hyo In menurut saja. Sesungguhnya dia pun tak tahu mau bagaimana. Ingin protes pun tak tahu pada siapa.

“Setelah ini aku takkan bisa memelukmu lagi.”

“Kenapa terdengar menyakitkan?” Masih terisak, tapi Hyo In tertawa juga.

“Lidahku pun sakit mengatakannya,” sahut Kyuhyun. Lebih tenang dari sebelumnya. Tapi tak henti menciumi puncak kepala Hyo In dan menghirup aroma rambut kekasihnya. Lavender. Kesukaan Kyuhyun.

“Jangan lupa diobati kalau sakit,” kelakar Hyo In dengan suara sengau sehabis menangis.

“Kalau kupotong saja bagaimana, hm?”

“Jangan. Nanti kau tidak bisa mengajar lagi. Lalu kau tidak akan punya penghasilan. Tidak akan ada wanita yang mau dengan pria cacat tak beruang.”

Mereka tertawa. Seolah itu bukan apa-apa.

Hanya seolah.

“Tapi kau pasti mau denganku. Iya, kan?”

Percaya diri sekali Kyuhyun ini. Tapi itu memang benar. Dan Hyo In memang bodoh.

“Tentu saja. Tapi kan tidak boleh.” Hyo In menjawab lesu. Kemudian dia tersenyum lagi kala Kyuhyun mengecup dahi dan pipinya.

“Kenapa harus kita?” Protesan lemah. Tak punya kekuatan sama sekali.

“Karena kau Kyuhyun dan aku Hyo In. Karena kau pria baik dan aku gadis yang biasa-biasa saja. Karena semua orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Karena aku … tidak cukup untuk itu.”

“Tapi kau yang terbaik dan aku memilihmu.”

“Pilihanmu salah.”

“Tidak. Harusnya kita tak bertemu setahun lalu. Harusnya aku tidak membuatmu jatuh hati. Harusnya kau tak perlu merasakan sakit seperti ini–” Kyuhyun masih ingin melanjutkan, tapi sadar itu tak berguna. “Maaf.”

“Aku juga minta maaf.”

“Kenapa?”

“Tidak cukup baik untukmu. Iya, ‘kan?”

Kyuhyun menggeleng tegas. “Kau yang terbaik. Aku sudah mengatakannya tadi. Jangan pernah lupakan itu. Ya, bisa ‘kan?”

Hyo In hanya mengedikkan bahu kemudian melepas segala kontak tubuh mereka dan duduk layaknya orang-orang biasa. Bukan seperti sepasang kekasih.

Rasanya percuma saja menjadi terbaik jika tetap berakhir tanpa Kyuhyun.

Hyo In meringkuk dalam pelukan Kyuhyun lagi saat pria itu memintanya. Kemudian, lama mereka termenung, sibuk dengan pikiran sendiri. Berlomba melempar protes pada dunia dalam kediaman. Seolah meminta jawaban pada langit, angin, hingga tumpukan salju di ranting pohon yang mulai meleleh.

Tapi tak ada apa-apa.

Karena sudah jelas pula mereka berakhir menjadi bukan apa-apa, untuk satu sama lain. Walau cinta sempat menyatukan.

“Aku mencintaimu. Jangan lupakan itu,” bisik Kyuhyun.

“Aku juga.”

 

Advertisements

11 thoughts on “[Vignette] Feels Like I’m Yours

  1. Untung buka blog
    Kwl ga bs ketinggalan aku

    Jdinya aku follow deh blogmu

    Sedih amat
    Percakapan ringan
    Tp kita tahu ad emosi di dlm nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s