[Vignette/Orifict] Changeling

Changeling
Fantasy

By Valuable94

510c0cb8d50bffcc593113dcadc4cf35

Sejak awal Caley selalu merasa dirinya berbeda. Bukan, bukan karena kedua matanya yang berbeda warna atau salah satu tangannya yang berjari genap. Hal ini lebih pada kalimat–tepatnya jeritan–mengerikan yang selalu berputar ulang dalam kepalanya.

“Kau adalah kompensasi dari dosa-dosaku. Menjijikkan!”

Apa yang salah dengan dirinya?

“Banyak, dasar bodoh!” Umpat Caley dalam hati.

Dia tidak cantik. Bukan juga anak yang populer. Matanya aneh, begitu kata para tetangga. Dan wajahnya sepucat mayat.

Aku bukan mayat.

Sejak awal tak ada yang terasa benar bagi Caley. Dia manusia juga, kan, tapi kenapa tak satu pun orang di rumahnya memperlakukan dia layaknya manusia. Tidak juga bagi Ayah dan Ibunya sendiri. Menurut mereka Caley itu monster, pembawa sial, dan tidak berguna.

Tidak, Caley  tak pernah marah mendengar hinaan semacam itu.

Lalu apa masalahnya?

“Aku sendiri tak tahu.” Dia menggumam bingung. Dia hanya merasa ini bukan tempatnya tapi tak tahu dari mana pikiran itu berasal. Di bumi. Bersama manusia tanpa kemanusiaan sama sekali. Caley berbeda. Lebih baik, tidak. Lebih buruk, mungkin saja.

Jadi apa bedanya?

Aku lebih buruk daripada mereka.

Ya, memang. Setidaknya begitulah selama ini Caley mencap dirinya sendiri. Mengiyakan seluruh tuduhan itu. Membiarkan orang-orang puas dengan anggapan tersebut. Anggapan yang mereka kira benar dan menurut Caley pun rasanya tak patut disalahkan. Setiap ada musibah di lingkungannya, Caley selalu berada di sana. Ketika seorang anak tercebur ke dalam sumur, misalnya.

“Alistair mati karenamu!!!”

Teriakan itu menggema lagi. Tuduhan sebagai pembunuh yang dilontarkan orang-orang membuatnya semakin meringkuk menghadap tembok di pojok kamar seolah dengan begitu punggung rapuhnya bisa menghalangi telunjuk-telunjuk mereka yang sering disebut manusia mengarah padanya. Seolah teriakan, makian, dan hinaan itu akan menghilang dari otak kecilnya yang malang.

Gadis itu masih berumur lima belas tahun. Beruntung sekali dia masih hidup karena setidaknya hanya mulut mereka yang tajam. Pikiran-pikiran tumpul itu takkan bisa menyakitinya dengan lebih buruk selain lemparan-lemparan batu yang bahkan tak sesakit cacian.

Bisakah lebih buruk dari ini? Bisa. Pasti bisa, pikir Caley. Hanya saja belum tiba waktunya. Dan ketika waktu itu tiba dia tak mau menjadi anak yang hanya bisa diam saja. Dalam pikirannya sudah tersusun bermacam-macam kejadian yang dia pikir akan berhasil membuat mereka bungkam. Kalau perlu selamanya.

Ada banyak hal yang bisa dia lakukan. Lagipula selama ini mereka selalu berkata, “kau pembuat bencana.” Bahkan meski mata mereka terlalu bersih untuk menatap manik hitam dan hijaunya yang sekotor lumut di tengah hutan, Caley tahu setiap kata buruk memang hanya untuknya. Ada atau tidak ada orang lain di sekitar gadis itu.

Kenapa tidak membuat bencana sungguhan kalau begitu?

Seringai muncul dari balik tirai rambut gimbalnya yang sudah berminggu-minggu tak dicuci. Badan Caley mulai menguarkan bau tanah lembap bercampur bangkai serangga karena sudah lama dikurung dalam kamar yang cukup luas ini sendiri. Tak lagi dibiarkan keluar. Keluarganya malu.

“Aku merepotkan,” gumam Caley pada diri sendiri.

Percayalah, tak satupun dari kejadian dan semua prasangka buruk yang ditujukan padanya itu dia mengerti sepenuhnya. Dia hanya tahu sejak kecil sudah berada di Wales, di daerah yang seharusnya dibilang beradab meski Caley selalu mendapat hal yang sebaliknya.

Mata gadis itu yang sedari tadi tertutup akhirnya terbuka. Kedua lengan yang memeluk tubuh kurusnya mengendur. Jari-jari kurus itu menampakkan urat-urat berwarna hijau pucat ketika menahan berat tubuhnya yang tidak seberapa untuk berdiri. Gemetar dan bergetar. Sudah berapa hari dia tak memakan roti basi yang diberikan orangtuanya tapi tubuhnya tak terasa lemas sama sekali. Anehnya, dia memang tak pernah merasakan kepuasan apapun meski perutnya terisi penuh dengan makanan manusia. Dia tak tahu mengapa.

Caley hanya bisa merasakan kepuasan secara penuh ketika melihat Aron–salah seorang anak tetangganya–duduk di pinggir jendela sambil menangis selepas dimarahi orangtuanya. Rumah mereka tepat berada di seberang jalan sehingga Caley bisa melihatnya dengan begitu jelas seolah kaca jendela kamarnya yang kotor itu tak ada.

Seringaiannya melebar. Dia menyukai suara tangis. Setiap tetes air mata Aron mengantar energi yang anehnya membuat Caley merasa lebih hidup. Kesedihan Aron terasa manis baginya. Asa-asa yang terbuang kembali seperti terembus angin musim dingin. Menguburnya dalam kepuasaan tak bermoral seperti serpihat-serpihan salju yang menumpuk menutupi apapun yang ada di bawahnya.

Kenapa denganku? Hanya itu yang bisa Caley tanyakan. Sebuah pertanyaan yang tak mendapat jawaban apapun. Bahkan Ibunya sendiri–yang pada awalnya–selalu berada di sisi Caley hanya akan menangis lalu pergi begitu saja setiap kali pertanyaan itu terlontar.

Kali ini Caley melihat anak itu lagi. Dengan seorang pria yang lebih tua. Ayahnya, pikir Caley, mengayunkan ikat pinggang ke tubuh anak itu. Setiap jeritannya membuat tubuh Caley terisi tenaga lagi.

“Lebih keras lagi,” gumam Caley. Matanya hampir keluar ketika jeritan anak itu menjadi tak terkendali seiring dengan semakin kerasnya pecutan itu.

“Lagi!” Serunya lebih keras, masih dari dalam kamar.

Tubuh Caley kini berdiri tegap. Tak persis seperti terlahir kembali tapi kakinya sudah cukup kuat menopang tubuhnya sendiri, dengan tertatih berjalan menuju kaca. Jeritan kesakitan dari seberang jalan lebih keras dari sebelumnya. Suara itu mengirim semacam kekuatan untuk tangannya mengepal. Memberinya dorongan hingga berhasil memecah cermin di depannya.

Tanpa amarah, tiada rasa kesal. Caley mengambil potongan terbesar. Tak mengacuhkan tetesan darahnya yang mengalir di sepanjang sisi pecahan kaca yang tajam, dia melemparnya. Kekuatan itu entah datang dari mana tapi pecahan itu berhasil menembus kaca jendelanya yang buram. Anehnya, benak Caley tak merasa heran sama sekali dengan hal itu. Seperti semua memang sudah sepatutnya berjalan seperti ini.

Seringai itu berkembang menjadi tawa lirih yang serak. Penuh kebahagiaan dan rasa puas tatkala jeritan Aron semakin menjadi. Bisa dikatakan ini adalah jeritan yang paling menyakitkan daripada sebelum-sebelumnya.

Caley bahagia. Beberapa tulang yang diramalkan patah akibat pukulan Ayahnya beberapa hari lalu sedikit demi sedikit tersambung kembali.

“Terus, jangan berhenti menangis, Sayang!”

Dalam pikirannya kaca itu mendarat tepat di betis Aron. Dalam pikirannya pula Caley merasa perlu memutar pecahan itu. Namun, jerit kesakitan Aron bukan hanya ada dalam pikirannya. Anak itu sungguh menjerit sambil memegangi kakinya. Kedua mata aneh Caley bisa melihat dengan jelas bagaimana pecahannya tak mau berhenti beputar meski Aron dan sang Ayah berusaha menghentikan pergerakannya hanya karena Caley tak mengizinkan kaca itu berhenti berputar mengoyak daging dan tulang.

jeritan Aron semakin tak terkendali, membuat warga sekitar panik. Seruan khawatir dan bingung dari orang-orang memancarkan energi yang terasa seperti selimut hangat hadiah Santa bagi Caley.

Gadis itu menyukainya. Caley bahkan tak menyadari betapa segar dan kuatnya dia kini sampai kaki telanjangnya yang kurus menginjak rumput basah. Samar-samar mendengar liputan langsung pengejaran mobil oleh polisi yang dikendarai oleh dua pengendara mabuk tak jauh dari pemukiman tempatnya tinggal. Suara itu berasal dari TV di dalam rumahnya. Namun, kedua mata aneh Caley malah terpaku ke rumah seberang jalan yang kini penuh dengan orang-orang. Termasuk kedua orangtuanya.

“Panggil ambulans! Segera!”

“Lihat betapa pedulinya mereka pada orang lain,” gumam Caley sinis.

Senyum miringnya terkembang lebar mengetahui ambulans takkan membantu sama sekali. Atau setidaknya Caley tak mau membiarkan hal itu terjadi. Dia akan menyelesaikannya sekarang.

Caley terus berjalan. Sosoknya yang seperti gembel tertangkap dengan mudah oleh mata salah satu tetangga yang dengan penasaran menunggu di bawah di mana Aron yang sedang menjerit kesakitan itu dibawa turun dari kamar.

“DIA PANTAS MENDAPATKANNYA!”

Kali ini semua mata tertuju pada Caley. Tak terkecuali seorang Ayah yang sedang kebingungan itu melihat anaknya kesakitan. Wajah gadis itu masih datar. Tiada empati sama sekali. Bahkan mengernyit ngeri melihat betapa dalamnya luka dari pecahan itu pun tidak.

Ya, dia memang pantas kehilangan kaki itu.

Lalu pecahan itu berputar lagi di kaki Aron. Anak itu menjerit lagi, mengirimkan semakin banyak kekuatan untuk Caley.

Kaki itu yang sudah menendang Alistair jatuh ke dalam sumur hanya karena Aron menginginkan mobil mainan adiknya. Caley masih ingat saat sore beberapa bulan yang lalu. Kaki itu pula yang tanpa beban melangkah pergi ketika adik kecilnya merengek, tergagap, dan kehabisan napas sebelum akhirnya tenggelam.

Caley yang menemukannya. Gadis itu baru saja kembali setelah mencari tali sebelum akhirnya orang-orang menemukannya; hanya menatapi Alistair dari atas menikmati penderitaan bocah kecil itu. Rasa ketika paru-paru Alistair penub air juga sangat manis. Dia tertegun lama di sana dan orang-orang mulai datang kemudian menuduhnya mendorong Alistair karena ingin memiliki tali bagus itu padahal dia hanya bermaksud menolong.

Sayangnya, tali itu memang masih bagus. Dia mendapatkannya dari gudang tempat kakaknya menyimpan peralatan pramuka saat masih sekolah dulu.

“Pergi kau makhluk aneh pembawa sial!!!” Si Ayah berujar tegas.

Caley menatap kedua orangtuanya. Tak ada pembelaan, seperti biasa. Senyumnya melebar. Dia tidak heran sama sekali.

Maka, ketika pecahan itu merobek sisa daging dan mematahkan tulang yang tersisa, gadis itu maju tanpa beban. Melihat darah membanjiri lantai depan dan mata-mata melebar serta suara kesiapan takut orang-orang membuatnya sungguh bahagia dan segar.

“Seseorang, hentikan anak itu!”

“Pergi, Caley! Kau mengantar nyawa dengan datang kemari!” Seru Ibunya mencoba melindungi.

Terlambat! Bahkan ketika Ayahnya sendiri berkata, “kau adalah kompensasi dari dosa-dosaku. Menjijikkan!” Mulut itu sejak dulu hanya diam dan menangis.

Caley adalah dosa itu sendiri. Dosa yang tampak.

Matanya menyipit ketika sorot lampu mobil dari ujung jalan membuatnya buta sesaat. Mobil itu melaju begitu kencang berbarengan dengan sirine di belakangnya yang agak jauh, ramal Caley. Gadis itu masih berada di tengah jalan. Sangat mungkin jika mobil itu menabraknya.

Tidak! Dia tidak mau itu terjadi. Dia ingin mobil itu melaju ke arah lain.

Ketika deru mesin mobil itu mendekat, tubuh Caley berubah kaku. Matanya melotot melihat semakin dekatnya jarak tubuh ringkihnya dengan bagian depan mobil.

“Pergi!!!” Caley berteriak penuh kemarahan seolah jijik dengan kendaraan yang disetir ugal-ugalan itu. Dan benar saja, seperti sama jijiknya dengan Caley, setirnya berputar arah ke kerumunan orang-orang yang berkumpul di depan rumah Aron.

Lepas kendali. Mobil itu bagaikan bola bowling yang mengarah tepat ke pin-pin manusia yang berdiri mematung di sana. Tembok yang awalnya berwarna putih menjadi merah. Pin-pin itu bergelimpangan tanpa gerak dan tanpa napas.

Malam itu angin menjanjikan dingin. Membawa jiwa-jiwa kotor mereka ke dalam tubuh Caley. Memerangkap, memberikan energi yang lebih untuk gadis itu. Termasuk jiwa kedua orangtuanya. Kemudian semua gambaran menjadi sangat jelas.

Caley melihat ada seorang bayi bermata hitam dan hijau dan jari tak lengkap menangis setelah keluar dari perut Ibunya. Tak lama kemudian seorang wanita yang awalnya terengah lelah itu berdiri layaknya tak terjadi apapun sebelumnya. Dengan berbalut pakaian halus berwarna hijau transparan dia mengernyit kala melihat bayi itu sebelum sayapnya yang terang dan indah membawanya terbang bersama si Bayi, menembus kabut pelangi, dan keluar dari akar pohon besar yang terkuak.

Caley sering melihat pohon tumbang itu. Pohon yang hanya bisa dirobohkan tapi tak mau dipindahkan. Dia suka bermain di sana atau menggunakan akar itu sebagai penghalang agar orang-orang tak perlu mengotori mata mereka kala melewati rumahnya sementara dia bermain boneka.

Bayangan itu terbang melewati Caley dan masuk ke dalam bangunan yang selama ini dia kenali sebagai rumahnya. Caley tak tahu persis apa yang terjadi di sana tapi yang paling bisa disimpulkannya saat itu adalah dia memang bukan manusia setelah melihat wanita bersayap yang cantik itu keluar dari rumah tersebut menembus jendela dan mendarat tepat di samping Caley.

“Bayi yang cantik,” bisik Caley pada diri sendiri.

“Kau akan menjadi budakku, anak manis, karena Ayahmu telah merusak rumahku.” Begitu kata si Wanita Cantik Bersayap sebelum kembali masuk ke dalam akar yang terkuak di depannya. Seolah tak melihat Caley sama sekali.

Dan masa lalu memang tak pernah bisa melihat masa depan.

Sirine itu mendekat, cepat seperti yang Caley duga tapi tak secepat kakinya melayang menuju pohon tumbang di depan rumahnya. Akarnya terkuak, seperti yang sudah dia duga. Ya, Caley sudah sering melongok ke dalam tanah yang berlubang itu tapi baru kali ini mendapati pemandangan menakjubkan dari dalam sana. Tepatnya di balik kabut pelangi dan awan kelabu. Sebuah tempat yang rimbun, ramai dengan makhluk berterbangan nan cantik dan bertelinga panjang. Dari dalam sana Caley mencium aroma seperti bunga yang baru saja mekar di musim semi keluar menyapa hidungnya.

Senyumnya melebar. Wajah pucatnya memang masih tak berwarna tapi siapa pun tahu senyum itu adalah jenis senyum kebahagiaan. Seperti manisnya sebuah rindu yang terobati.

“Aku pulang.”

 

END

 

Advertisements

6 thoughts on “[Vignette/Orifict] Changeling

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s