[Chapter] Single Mom Next Door 6

Single Mom Next Door
By Valuable94

Starring:
Cho Kyuhyun (SJ)/Song Hyo In (OC)
and
Song Sarang (OC)

Young Adult

10477885_529726777153971_6048083022103699359_n

MY SONG WOULD CARRY ON

Biarkan Mama meng-handle semuanya.

Pagi-pagi sekali sekitar pukul empat Hyo In sengaja bangun. Kembali ke rumah, menyiapkan sarapan untuk mereka semua dan baju seragam serta perlengkapan sekolah Sarang. Membiarkan bocah itu melakukan pekerjaan sendiri dirasa mustahil setidaknya untuk hari ini karena kehadiran Kakek-Nenek yang akan selalu membelanya dan Kyuhyun yang bisa menjadi tempat mengadu Sarang kapanpun dia mau, jadi Hyo In memutuskan melakukan semua itu sendiri meski banyak sekali yang harus dibereskan dalam waktu kurang dari tiga jam. Lagipula pekerjaan semacam itu bukan hal baru untuknya semenjak punya anak. Selain membuat waktu berlalu lebih cepat Hyo In juga bisa menjadikan ajang pekerjaan rumah sebagai sarana mengalihkan pikiran yang mulai kacau. Kebanyakan karena Sarang, tapi bukan Kecebong itu yang menjadi penyebabnya sekarang.

Sebenarnya Hyo In tidak bisa tidur sejak semalam. Apalagi dengan kedatangan–tak sopan–kedua orangtuanya ke rumah Kyuhyun. Kalau boleh jujur, hanya tidur di rumah Kyuhyun saja sudah cukup membuatnya kelimpungan meskipun hal itu terjadi karena Kyuhyun memintanya menemani Sarang tapi tetap saja rasanya … berbeda. Yah, pria itu memang berbeda sejak awal. Mata kecil Sarang lebih dulu melihatnya dan Kyuhyun membuktikan bahwa dia tidak sama dengan pria lain. Dia memang bukan Ayah Sarang, Hyo In tak bisa mengubah itu, tapi satu hal membuatnya merasa tidak perlu melakukan sesuatu yang sia-sia seperti memisahkan mereka–misalnya–adalah bocah itu sekarang sudah berbaring di atas perut Kyuhyun dengan kepala terkulai lemas di dada pria itu. Mereka tidur di sofa, mata sama-sama tertutup. Hyo In yakin sekali sebenarnya Kyuhyun sudah bangun dilihat dari otot lengan yang mengencang memeluk Sarang agar tidak jatuh. Sarang, dipastikan masih bermimpi. Bisa jadi dia sedang membayangkan rasanya berlayar di atas pesawat. Napas bocah itu teratur.  Tubuhnya ikut naik-turun seiring dengan napas berat Kyuhyun menahan berat badan Sarang.

Hyo In tersenyum dari ambang pintu kemudian mendekati mereka. Pelan-pelan mengusap lengan Kyuhyun sampai mata pria itu terbuka. Kyuhyun membalas senyumnya bersama ucapan selamat pagi yang diucapkan tanpa suara. Kaki Kyuhyun pindah menempel di sandaran sofa agar Hyo In bisa duduk di sampingnya. Dengan Sarang yang masih dalam pelukannya, Kyuhyun bangun, dan beralih ke posisi duduk. Sarang merengek sebentar sambil mengusapkan wajah kusutnya yang sebagian tertutup rambut beberapa kali ke dada Kyuhyun sebelum tertidur lagi dan semakin mengeratkan pelukannya pada Kyuhyun. Tangan pendek dan kecil itu bahkan tak bisa mencapai punggung besar Paman Tua. Sarang seperti seekor kucing dalam pelukan singa jantan dewasa.

“Tadi dia bangun dan mencarimu. Katanya mimpi dikejar tikus.”

“Dia menangis?”

“Hampir, karena tak bisa menemukanmu. Jadi kubilang saja kau sedang memburu tikus yang mengejarnya di mimpi tadi.”

Hyo In mendengus keras mendengar kelakaran Kyuhyun. “Berikan dia padaku. Sarang harus mandi sekarang.” Kyuhyun mengerti dengan baik lalu pria itu menepuk punggung Sarang pelan agar bocah itu bangun tapi tak ada reaksi apapun.

“Bukan begitu cara membangunkannya,” sergah Hyo In kemudian mengangkat  Sarang paksa. Sedikit mengerang karena bobot Kecebong itu yang bertambah kemudian memencet hidung Sarang beberapa detik sampai bocah itu tak bisa bernapas dan mulutnya terbuka kesulitan bernapas. Hyo In terkikik keras mendengar teriakan protes Sarang. Setelah itu jari-jari kecil sang Mama mulai menggelitiki pinggang Sarang. Hanya mengusap sebenarnya, tapi karena terlalu halus usapan itu hampir sama dengan gelitikan.

Sarang sudah gelisah dari tadi hanya saja bocah itu lebih memilih mengerang dan masih malas membuka mata.

Wake up, tadpole, you won’t miss your bath,” katanya sambil terkikik.

“Mamaaa!!!” Teriak Sarang akhirnya karena Hyo in memaksanya membuka mata dengan menciumi seluruh wajahnya dan menggigiti kecil lengan kecil Sarang. Gigitan itu membuatnya geli setangah mati.

Hyo In tahu Sarang paling tidak tahan geli  karena itu dia terus melakukannya sampai Sarang memberikan respon lebih sambil menendanginya.

“Ayolah, hari ini kau harus sekolah.” Hyo In menciumi wajah Sarang lagi.

“Mamaaa!!! Stop it!!!”

Waaaake uuup!!!” Teriak Hyo In lebih keras dari Sarang tapi sambil tertawa.

Sekarang Kyuhyun paham dari mana suara ribut itu bisa begitu kencang setiap pagi. Jika begini cara membangunkan si Kecebong maka tidak heran lagi dua perempuan yang sedang bergelung di depannya itu memang-sangat-ramai. Anehnya, bukan kernyitan terganggu yang muncul di wajah Kyuhyun melainkan senyum cerah nan lebar bersama embusan napas tenang yang dia tampilkan seperti mendengar sebuah serenade pagi hari di hutan. Bedanya, rumah Kyuhyun sekarang lebih mirip penangkaran burung daripada hutan. Penuh kicauan–yang mengalun indah.

“Baikah, baiklah, aku bangun.” Sarang berseru sambil memaksa mata cokelatnya terbuka dengan ibu jari dan telunjuk menyingkap kelopak matanya yang masih lengket. “You Happy now?!”

“Oh, I am.” Hyo In terbahak dan Kyuhyun menikmati suara merdu itu bergema memenuhi ruang tamu. Dia suka suara tawa Hyo In. “Kalau begitu sekarang kita pulang,” kata Hyo In sambil mengangkat Sarang lalu menggendongnya.

“Tapi Mama–“

Hyo In mengangkat jari memperingatkan. Air mukanya berubah dari menyenangkan menjadi datar. “Not a word, tadpole!”

Sarang sudah berjanji hanya tidur di sini. Kecebong itu mengingatnya dengan baik dan langsung cemberut tapi terdiam saat itu juga. Wajahnya menekuk, bibirnya mencebek dan kepalanya jatuh terkulai di pundak Mamanya. Hyo In mengusap rambut Sarang pelan menenangkan. “Kita bangunkan Kakek dan Nenek saja, bagaimana?”

Kepala Sarang terangkat kembali. Senyum dengan cepat mengembalikan rona di pipi gembulnya. “Sarang yang bangunkan!” Serunya penuh semangat. Bocah itu menggeliat turun, begitu kakinya menyentuh lantai dan diberitahu Kyuhyun dimana Kakek-Neneknya tidur dia melesat, seperti Kecebong. “Kakek, Nenek!!! Selamat pagi!!!”

BRAK!

Kernyitan Kyuhyun dan Hyo In penuh humor mendengar pintu kamar tamu terbanting dengan keras. Tak lama kemudian suara tawa kedua orang tua Hyo In terdengar. Mereka selalu bahagia dan tak pernah keberatan semengganggu apapun Sarang. Hyo In tahu hal itulah yang seharusnya dia syukuri, tapi jauh dalam hatinya wanita juga tak mau menambah beban mereka lebih banyak lagi.

Hyo In berpaling dari pintu lalu menatap Kyuhyun yang ternyata juga sedang menatapnya, bukan, pria itu memerhatikannya. Gugup menyergap begitu saja. Kyuhyun terlihat semakin tampan dengan rambut berantakan dan piyama yang tak lagi rapi. Wajahnya lembut tertimpa sinar matahari yang menembus kaca jendela setelah kordennya dibuka Hyo In sebelum pulang tadi. Dan berdeham nyatanya tidak bisa mengurangi kegugupan Hyo In, apalagi debaran jantung yang semakin mengeras.

“K-kami harus pulang. Terima kasih, kurasa?!”

Kabar baiknya adalah Kyuhyun tak menggodanya seperti biasa. Pria tampan itu hanya mengangguk seolah menerobos rumah–bujangan tua atau bukan–sepertinya bukan termasuk masalah kesopanan yang patut dipertanyakan jadi Hyo In memutuskan duduk kembali sembari menunggu orang tua dan anaknya keluar.

“Emm, aku minta maaf atas nama Ayah dan Ibu.” Hyo In mengeluarkan napas keras dan pendek sambil mengamati wajah Kyuhyun. Dia takut pria itu marah dan malah berubah pikiran soal membiarkannya tetap dekat dengan sarang.

Kenapa aku harus berpikir begitu? Kyuhyun pria yang baik.

“Tidak usah dipikirkan,” jawab Kyuhyun pendek sambil meregangkan pinggang.

Lalu Hyo In bersiap mengatakan apa yang sedang dipikirkan. “Tapi aku tahu kau tidak suka dengan tindakan orangtuaku semalam.” Bahunya turun karena semakin merasa bersalah.

“Ya, sedikit.”

Hyo In mendelik.

“Aku hanya kaget. Mereka seperti jin yang tiba-tiba muncul setelah asap menghilang. Tapi sungguh, Hyo In, kau tidak perlu melakukan itu” Kyuhyun tertawa lalu berteriak karena cubitan Hyo In di perutnya.

“Aku serius. Kenapa kau tidak bisa serius sama sekali.” Hyo In berseru kesal. Wajahnya yang merah jadi semakin mirip daging sapi segar. Dan Kyuhyun ingin melahapnya di sini, di sofa di ruang tamu, di depan orang tua wanita itu. Di setiap sudut rumahnya..

“Kyuhyun, kau melamun!”

Sengutan Hyo In menyadarkan Kyuhyun dari bayangan erotis apapun yang mulai hinggap di otaknya seperti Hyo In berbaring di ranjangnya, tanpa kaos putih longgar ataupun legging hitam menutupi tubuhnya selain tubuh Kyuhyun yang juga sama telanjangnya. Dan rambut hitam itu harusnya diurai, bukan digelung berantakan dan semakin membuatnya ingin melepas gelungan itu secepat mungkin.

“Maaf.” Entah itu untuk melamun atau untuk melamunkan tubuh manis Hyo In di bawahnya.

“Kau tidak mendengarkanku.”  Hyo In menggeleng tak percaya.

Kyuhyun tersenyum ketika menyadari wajah wanita itu berubah dari merona malu menjadi merah kesal dengan bibir mencebek. Reaksinya dan Sarang ketika mengalami perubahan mood sama persis. Kyuhyun sudah sering menangkap kemiripan itu. Dan semakin sering lagi dia melihat, semakin jatuh pula Kyuhyun dalam pesona si Mama Muda.

Sengaja atau tidak, itulah yang dilakukan Hyo In padanya sementara wanita itu sendiri masih begitu bodoh hingga tak menyadari perubahan sedikit saja dari dirinya bisa memengaruhi seorang pria. Dia lebih berpikir bagaimana caranya meminta maaf pada Kyuhyun.

“Maaf, aku sudah jadi pria menyebalkan sepagi ini.”

“Kau memang menyebalkan,” sembur Hyo In kesal.

“Ayolah, Mama. Kautahu aku tidak mendengarkan, kenapa tidak mengulanginya saja,” tawar Kyuhyun sambil mengangkat sebelah alis.

Hyo In tahu pria itu sedang menggodanya kalau memanggilnya dengan ‘Mama’–menirukan Sarang. Dan dia tahu bahwa dirinya tak lagi bisa tahan dengan godaan semacam itu terlebih setelah melihat betapa putrinya tak bisa jauh dari Bujangan Tua itu. Dia membutuhkan Kyuhyun. Ya, kalau bukan untuk egonya yang merindukan kehadiran seorang pria, maka pasti kebahagiaan Sarang lah yang menjadi alasan utama kenapa dia membiarkan pria itu terus berada di sisinya dan Sarang.

Ya, pasti alasan kedua yang lebih masuk akal untuk situasi saat ini.

“Sudahlah, pokoknya nanti kau harus sarapan di rumahku,” perintah Hyo In. Kyuhyun hanya melongo melihat Hyo In bangkit dari kursi. Wanita itu berbalik dan berkata, “aku akan mengatakannya lagi kalau kau ke sana.” Kemudian bergegas pergi.

Yang lebih tak bisa dimengerti lagi Kyuhyun menikmati suara memerintah Hyo In.

Ya. Dan perlu digarisbawahi bahwa seorang bocah yang baru berusia dua puluh tiga tahun memerintahnya sarapan. Itu … menggemaskan.


Kedua orangtua Hyo In sengaja diberi kunci agar bisa pulang terlebih dahulu. Di lain pihak, Hyo In harus berjibaku saat terjadi drama yang membuatnya muak–untuk kesekian kalinya–akan sikap manja Sarang. Bocah itu berhenti setiap beberapa meter sekali kemudian berlari memeluk Kyuhyun lagi karena masih tidak mau pulang. Hyo In bahkan harus mendorong Kyuhyun masuk ke dalam rumah dan menutup pintu paksa. Bagian yang paling menyebalkan adalah Kyuhyun meladeni Sarang dengan berlagak berat hati berpisah dengan Kecebong itu hanya untuk membuat Hyo In kesal. Dan Hyo In semakin marah karena dia tahu itu.

Hyo In dibantu Ibunya meletakkan piring-piring kosong di meja sembari mencuri pandang ke arah Sarang yang sudah siap dengan seragam sekolah dan headset di telinga; di pangkuan sang Kakek. Beliau sedang mengajari Sarang menyanyikan lagu latar kartun Pororo. Meski terbata-bata Sarang terlihat sangat senang dan bernyanyi dengan sangat keras berasa Kakeknya.

“Sarang dan Kyuhyun terlihat sangat dekat.” Ibunya memulai. “Jadi, kau dan Kyuhyun itu–” Beliau sengaja menggantung kalimat menunggu Hyo In menyela.

“Kami hanya berteman, Bu. Dan Sarang menyukai pria itu.”

“Tapi kau tidur di rumahnya.”

“Aku tidak tidur dengannya.” Jawaban singkat Hyo In membuat ibunya kesal.

“Ibu tidak suka kau berbuat seperti itu. Bukan contoh yang baik untuk Sarang.”

“Aku juga bukan orang baik, Bu. Ibu tahu persis bagaimana aku sejak kecil. Lagipula Sarang sendiri yang minta tidur di sana. Kalau tidak dituruti malah aku yang tidak bisa tidur. Anak itu sangat berisik,” ujarnya sambil melirik Sarang lagi yang masih menyanyi. Diam-diam bangga.

“Kau melahirkan Sarang. Setidaknya kau menambah satu kebahagiaan lagi untukku dengan melakukan itu.” Hyo In tersenyum mendengar selaan Ayahnya. Pria yang sudah dua puluh tahun lebih merawatnya itu selalu menjadi pendingin saat dia dan ibunya mulai berdebat.

“Terima kasih, Ayah.”

“Yah, Ayahmu benar. Tapi bukan berarti aku memaafkanmu atas tindakan ceroboh itu.”

Hyo In menghela napas panjang. Tangannya terkepal menggenggam gagang spatula agar kemarahan yang sudah lama dipendam tak memuncak sambil terus memindahkan kue beras ke dalam mangkuk. “Bagaimana caranya Ayah dan Ibu tahu aku ada di sana?” Tanyanya sengaja mengalihkan topik Hyo In-Kyuhyun.

Sang Ibu hanya mengedikkan bahu sambil menyiapkan makanan lain sebelum duduk di samping suaminya. “Kami mengikutimu pulang kemarin. Melihat mobilmu berhenti di depan rumah Kyuhyun. Kami masuk  ke sana dan menemukanmu. The end.”

“Kalian menerobos rumah Kyuhyun. Jangan lupakan itu,” kata Hyo in, menekan pada kata tertentu.

“Cucuku ada di sana.”

“Cucumu baik-baik saja. Dia tidak akan terluka hanya karena tidur di rumah seorang tetangga yang jelas-jelas bukan pembunuh berantai atau seorang psikopat. Aku juga ada di sana.” Hyo in mulai kesal.

“Dari mana kautahu dia bukan orang seperti itu? Memang kau bisa membela diri sendirian, huh?” Ibunya lebih kesal lagi.

Ketukan pintu rumah menahan argumen Hyo In. “Bagus. Kalau Ibu ingin tahu, Ibu bisa langsung menanyakannya,” Tanpa menoleh ke belakang dia langsung bergegas membuka pintu.

Seorang pria yang diam-diam sudah ditunggu sedari tadi muncul dengan wajah yang lebih segar dan baju yang lebih rapi. Santai tapi saat dipakai Kyuhyun kaos polos berwarna biru laut dan celana putih panjangnya terlihat begitu pas. Pria itu tambah memesona dengan rambut cokelat gelapnya yang dibiarkan berantakan dan dua cekungan di sudut bibirnya yang begitu … menggoda?

“Ayo masuk!”

Saat membiarkan Kyuhyun melewatinya, aroma lemon segar menyapa hidung Hyo In. Aroma itu seperti menyita kesadarannya untuk sesaat. Bahkan sampai pria itu sudah beberapa meter di depannya, Hyo In masih tertegun melihat punggung Kyuhyun, mengingat-ingat harumnya, terpaku–

“Hyo In, sekarang kau yang melamun.”

“Oh!”

Kyuhyun menahan tawa dengan susah payah melihat tingkah kikuk wanita yang sempat dikenalnya dengan temperamen seperti bocah dan sangat pemarah jika menyangkut Sarang. Hyo In menutup pintu dengan segera dan mengikuti Kyuhyun. Refleks menggandeng lengan pria itu. Dia sendiri tak tahu makhluk apa yang merasukinya sampai punya dorongan sedemikian kuat untuk melakukan hal itu. Syukurlah Kyuhyun tak membahas apapun tentang keberanian Hyo In yang terbilang nekad itu.

Mereka berjalan bersama menuju meja makan. Sarang sudah duduk di antara Kakek-Neneknya, Hyo In duduk berseberangan dengan Ibunya, dan Kyuhyun mendapat kursi berhadapan dengan Ayah Hyo In. Orangtuanya tersenyum lebar menyambut bungkukan hormat Kyuhyun sebelum mempersilakan pria itu duduk di samping Hyo In. Walau terlihat tak begitu suka, Ibu Hyo In tetap menanyakan kabar Kyuhyun dan mendoakannya mendapat kemurahan hati Tuhan agar diberi hari yang lancar. Sarang memberikan roti lapis berisi daging asap dengan sayur berantakan keluar dari sisi dalam roti sebagai bentuk kemurahan hati Tuhan yang diberikan melalui tangan kecil Sarang–setidaknya begitu kata si Kecebong. Roti lapis buatan Sarang sendiri diterima Kyuhyun dengan langsung melahapnya dalam dua gigitan.

“Kami minta maaf sudah membuat keributan di rumahmu semalam.”

Kyuhyun tersenyum santai. “Tidak apa-apa, Tuan.”

“Paman saja. Aku tidak seterhormat itu.” Ayah Hyo In tertawa keras.

“Ya, Paman.” Kyuhyun mengangguk, menerima gelas berisi jus jeruk yang baru saja dituangkan oleh Ayah Hyo In.

“Maaf, karena ada Sarang kita tidak bisa minum soju.”

Hyo In menarik napas cepat, Kyuhyun tersedak jus jeruknya. Wajah mereka memucat.

“Sarang pernah lihat Mama–“

“Ah, sayang, apa pelajaranmu hari ini?” Potong Hyo In segera, mengalihkan perhatian Sarang. Bisa gawat kalau sampai orangtuanya tahu mereka pernah minum di depan anak itu.

Mata Sarang mengedar kemana-mana, kepalanya bergerak ke kanan-kiri meengingat-ingat kata Bu Guru kemarin kemudian setelah beberapa saat melakukan hal yang sama dia hanya mengedikkan bahu sambil mengangkat roti lapisnya. “Pokoknya nanti Sarang dan Bu guru mau menulis hangul,” katanya cuek.

“Hhh, ya, hangul. Kau benar,” sambung Hyo In tak begitu peduli seraya mengambilkan sup kecambah untuk Kyuhyun dan langsung dilahap oleh pria itu. Mata mereka bertukar pandang lega.

Mereka selamat. Setidaknya untuk sekarang.

Ibu Hyo In sadar otot wajah Kyuhyun dan putrinya melemas seperti baru saja terlepas dari cekikan pembunuh namun Beliau memilih mengabaikan kecurigaannya. “Jadi, apa pekerjaanmu, Nak?” tanyanya.

Kyuhyun berusaha cepat-cepat menelan makanannya sebelum menjawab, “Saya pemahat.”

“Batu, kayu, lilin?” Tanya Ibu Hyo In lagi.

“Kayu.”

“Sendiri atau ikut orang?”

“Saya bekerja untuk galeri sendiri tiga tahun terakhir ini.”

Ayah Hyo In menerka, “Jadi sebelumnya kau bekerja di galeri mana?”

“Ayah, biarkan Kyuhyun sarapan dulu.” Hyo In menyela karena sungkan tapi malah mendapat tatapan tajam dari kedua orangtuangnya.

Kyuhyun hanya tersenyum, mengangkat tangan mengisyaratkan jika hal itu bukanlah hal yang patut diperdebatkan. Di sisi lain, Hyo In sudah tak tahu lagi harus berbuat apa. Kejadian semalam benar-benar memalukan.

“Saya sempat bekerja di salah satu galeri di London milik seorang teman baik.”

Mendengar kata London tanpa sadar tangan Hyo In bergetar. Tatapannya mulai tak fokus antara sarapan dan Sarang. Entah mengapa hanya karena nama kota itu selalu bisa membuatnya merasa seperti sedang dikuliti hidup-hidup.

I wanna go to London!” Seru Sarang dengan terlalu bersemangat.

“Nanti, sayang, kalau Sarang sudah besar,” jawab Ibu Hyo In sambil mengusap lembut rambut hitam Sarang yang terurai panjang.

But Mama won’t ever let me go there.”

“Di London tidak ada apa-apa, sayang. Kaumau melihat London’s Eye? Bianglala ada banyak juga di Seoul. Ke Hyde Park? Ada banyak taman indah juga di sini. Mau ke Buckingham Palace? Di sini ada peninggalan kompleks kerajaan yang bagus. Sarang tidak perlu ke sana hanya untuk melihat hal semacam itu.”

Mereka sampah!!!

“Tapi di sini tidak ada Big Ben, Mama. Sarang mau lihat itu.”

Tanpa sadar Hyo In melepar sendok supnya kemudian bediri cepat hingga membuat Kyuhyun kaget. “Akan kubuatkan apapun untukmu selama kau tidak pergi ke London.” Kemudian meninggalkan meja makan tanpa menoleh sekali pun.

Kalimat Hyo In sudah final. Suara tegas dan keras Mamanya membuat Sarang terdiam. Bocah itu meluncur mengikuti Hyo In yang sudah hampir setengah jalan. Sempat berhenti sejenak melihat ke belakang, tidak tahu siapa yang sedang ditatap, Sarang kembali mengejar Hyo In. Sarang tahu persis Mama tidak marah. Entah bagaimana caranya Kecebong itu tahu cara membedakan ekspresi marah dan sedih Hyo In. Mereka seperti punya satu hati. Begitulah sejak dulu, bahkan ketika Hyo In masih mengandungnya, saat Sarang masih berupa janin, dia sangat kooperatif dengan perasaan Mamanya. Tidak pernah rewel di saat Hyo In sedih. Sangat jarang membuatnya muntah dari trimester pertama. Oh, kehamilan dan kelahiran Sarang terasa begitu mudah. Tapi merawatnya jauh dari kata itu.

“Maaf, Paman, Nyonya, tapi saya harus menyusul mereka.” Kyuhyun sudah bangkit dari kursinya namun tertahan oleh Ayah Hyo In.

“Bukankah lebih baik membiarkan mereka berdua saja?”

“Ini salah saya,” kata Kyuhyun tegas. Merasa punya andil atas insiden kecil ini.

“Pergilah! Sarang membutuhkanmu.” Ibu Hyo In menyergah. Wajah sayu berkerutnya yang sedari tadi kaku kini melayu. “Maaf, sarapannya jadi tidak enak.”

Kyuhyun hanya tersenyum kemudian membungkuk pamit, bergegas mengikuti Sarang menaiki tangga. Sampai di lantai dua dia melihat kepala Kecebong itu tenggelam di antara kusen dan daun pintu. Kyuhyun menghampirinya, berlutut di belakang Sarang agar tinggi mereka sejajar. Sarang masih tak menyadari keberadaan Kyuhyun sampai pria itu menepuk pelan punggung kecil Sarang. Mata bocah itu terbelalak kaget sambil menutup mulutnya agar tidak berteriak.

I made her sad,” bisik Sarang. suaranya sangat pelan.

Why don’t you come in and say sorry?”

Sarang menengok ke belakang melihat sekilas punggung Mamanya yang sedang membereskan kamar. ” Sarang tiba-tiba ragu. Biasanya tidak begitu.”

Kyuhyun menggendong Sarang. Bocah itu mengalungkan lengan ke leher Kyuhyun. “Bagaimana kalau kutemani, hum?”

“Mama tidak akan marah?” Sarang masih sedikit takut.

“Apa dia marah padamu?” Tanya Kyuhyun. Sengaja mengernyitkan dahi.

“Mama sedih. Sarang merasakannya tapi tidak tahu perasaan itu darimana, tiba-tiba saja datang. Tidak mungkin kan Santa yang membawanya? Sekarang masih musim semi. Apa Paman bisa menjelaskannya?”

“Nanti, sayang, kita bicara dengan Mama dulu.”

Sarang mengangguk patuh. Mereka masuk ke dalam. Hyo In sebenarnya sudah tahu mereka ada di depan kamar sejak tadi. Wanita itu hanya sedang tak mau diganggu. Dia bermaksud menenangkan perasaan sebelum bertemu dengan Sarang. Percakapan tadi sangat mengejutkan. Sudah lama sekali mereka tidak mendiskusikan London, kecuali soal Liam yang diganti dengan sebutan ‘Bocah Inggris’ oleh kedua orangtuanya. Mungkin bagi orang lain topik mereka masih sangat normal tapi tidak dengan Hyo In. Dari luar dia bisa terlihat biasa saja namun hatinya tetap tak bisa berbohong karena awal kehidupannya yang hancur dimulai dari sana.

“Masuk saja mama tidak menggigit,” katanya tanpa menoleh Kyuhyun dan Sarang. Masih menyibukkan diri membereskan kamar yang sebenarnya sudah rapi.

Kyuhyun dan Sarang berdiri di belakangnya. Ketika melewati mereka untuk memindahkan buku dari atas kasur pun Hyo In berlagak seolah mereka hanya patung. Barulah ketika Sarang memanggilnya dengan suara pelan untuk kedua kalinya dia berhenti.

“Mama!” Panggil Sarang lagi setelah beberapa detik mengamati Mamanya hanya berdiri diam sambil menunduk.

Saat itulah Hyo In tidak bisa berpura-pura seolah tak melihat mereka. Tidak ada air mata yang mengalir, tapi wajahnya jelas memancarkan segala hal yang bisa membuat siapapun yang melihat tak tahu kesedihan yang dipendam Hyo In. Dia sudah menahannya begitu lama. Dia tahu harusnya bisa menahan hal itu lebih lama lagi atau paling tidak jangan memperlihatkan hal semacam itu pada Sarang, putri kecilnya yang pintar. Dia tahu bahwa meski sudah berusaha keras, benteng yang selama ini dibangun bisa retak dan hancur.

Wajah Hyo In tak berekspresi. Dia hanya menerima uluran tangan Sarang dan menggendong bocah itu. Kyuhyun duduk di ujung ranjang, menepuk tempat di sebelahnya.

Hyo In duduk di sana dan Sarang mulai bicara. “Sarang tidak akan ke London kalau Mama jadi sedih seperti ini.”

“Tidak, sayang, Mama yang salah. Kau bisa pergi kemana pun, termasuk London. Atau mau mendaki Gunung Everest, Mama takkan melarangmu.”

“Gunung yang paling tinggi itu? Benarkah? Tapi Sarang takut jatuh.” Ada antusiasme tertahan dari nada bicara Sarang. Kecebong itu setenang Mamanya.

“Ya, tentu saja.”

“Begitu lebih baik.” Kyuhyun mengusap lembut rambut Sarang sebelum menggenggam tangan Hyo In. “Kau bisa mengatakan apapun padaku. Kita berteman, kan.”

“Paman benar. Sarang juga akan mendengarkan apapun yang Mama katakan meskipun sekarang Sarang tidak mengerti apa yang sedang kalian bicarakan.”

Hyo In dan Kyuhyun tertawa pelan. Sarang tersenyum bangga bisa membuat Mamanya tidak sedih lagi. Yah, setidaknya tidak sedih menurut ukuran Sarang adalah bisa tersenyum. Dan dia senang melihat senyum Mamanya. Menurunkan Sarang, dia meminta putrinya menyelesaikan sarapan. Dia mencoba mengatur napas begitu Sarang menghilang. Wanita itu bahkan sudah duduk lebih santai dengan melipat kaki di atas ranjang. Kedua tangannya saling mengait di pangkuan.

Kyuhyun menyadari kegugupan Hyo In. Sekali lagi mengambil tangan itu, melingkupinya dengan tangan besar nan hangat itu. Hyo In tak bisa menghindari perasaan nyaman itu jadi dia membiarkan Kyuhyun melakukannya.

“Dia meninggalkanku dan Sarang sendirian,” ujar Hyo In pada akhirnya.

“Siapa yang meninggalkanmu?” Balas Kyuhyun dengan suara berat dan lembut. Sangat lembut sampai Hyo In ingin sekali berselimut suara itu setiap hari.

“Papa Sarang.” Hyo In tercekat. Cepat-cepat dia menelan salivanya. Suaranya bergetar. Kyuhyun sampai bisa merasakan dinginnya telapak tangan halus itu.

“Kenapa dia meninggalkanmu?”

Oh, betapa Kyuhyun sudah menahan lidahnya membahas ini sejak lama.

Hyo In mengedikkan bahu. membuat Kyuhyun mengernyit. “Percayalah, aku benar-benar tidak tahu apa alasannya meninggalkanku. Kami saling mencintai dulu, atau setidaknya kupikir begitu.” Hyo In tersenyum masam. Alis Kyuhyun menyatu, semakin penasaran tapi yang ditangkap Hyo In adalah pria itu tak memercayainya. “Jangan menatapku seperti itu.” Tangan yang lain melayang. Mendorong pipi Kyuhyun dengan lembut sampai wajah tampan itu tak lagi menghadapnya, dan mata indah sehitam jelaga itu tak lagi menatapnya dan membuat Hyo In  merasa semakin tak berdaya.

Kyuhyun menangkap tangan Hyo In, menahan jari-jari kecil itu tetap menempel di pipinya. “Siapa nama si Brengsek itu?”

Hyo In mendengus. “Si Brengsek itu Papa Sarang.”

“Siapa dia?” Sungguh Kyuhyun tidak peduli siapa pria itu. Baginya dia adalah si Brengsek yang menghancurkan hidup Hyo In, wanita yang sudah mencuri perhatiannya sejak pertama kali mendengar makian wanita itu.

“Namanya Liam.”

Kyuhyun mengembuskan napas keras kemudian menurunkan tangan Hyo In dari pipinya dengan berat hati. “Apa masih ada cukup waktu?”

Hyo In melihat jam dinding. Masih kurang tiga puluh menit sebelum waktunya mengantar Sarang ke sekolah. “Kalau kau mau mendengarkan. Selalu ada waktu.”

Kyuhyun mendengarkan setiap detail kisah Hyo In dan Liam dengan penuh perhatian meski rasanya seperti ada panah berujung besi beracun menghujam hati. Kisah itu menceritakan dimana mereka bertemu; di estat pedesaan orang tua Liam yang bersebelahan dengan rumah yang di sewa orang tua Hyo In di Yorkshire. Kemudian Hyo In remaja yang penuh semangat dan penuh rasa penasaran mengikuti kemana pun Liam, si pria dewasa tampan, anak seorang Duke kaya raya ke London.

“Kami seperti burung merpati yang sedang jatuh cinta. Sebenarnya aku yang tergila-gila dengannya. Bayangkan saja rambut cokelat terang hampir pirang, mata biru. Dia tidak setinggi dirimu tapi cukup membuatku mendongak hanya untuk melihat matanya.”

“Kau masih mencintainya?” Hanya itu yang bisa disimpulkan Kyuhyun setelah mendengar betapa wanita itu masih mengingat ciri fisik Liam dengan baik. Dia tidak suka itu.

Dengan cepat Hyo In menggeleng. Hal itu membuat Kyuhyun lega secara nyata.

“Bagaimana kau bisa hamil?” Kyuhyun mendengus melihat pipi Hyo In merona, “Kuyakinkan kau aku tahu ebnar cara melakukannya tapi pasti kau paham bukan itu yang kumaksud.”

Hyo In menahan senyumnya, berdeham. “Kami berkencan selama aku melanjutkan SMA di London dan … Kyuhyun, kautahu apa yang kulakukan dengannya sampai ada Sarang setahun kemudian.”

“Kedengarannya menyenangkan.” Kyuhyun menahan napas. Cemburu.

“Tentu saja, em, maksudku, tidak juga. Ya, kupikir awalnya begitu.” Wajah Hyo In memerah lagi. Wanita itu jadi tambah menggemaskan dengan tingkah kikuknya. “Dia yang meminta Ayah untuk menyekolahkanku di London. Dia mau menjagaku. Sejujurnya, aku sudah menyukainya sejak awal.

Dia sangat baik dan pernah mengajakku makan malam dengan Duke dan Duchess of York. Mereka menyenangkan tapi sangat formal. Liam salah satu pengajar pembantu di sana. Setiap bulan memang selalu ada anggota kerajaan yang ikut mengajar tapi Liam terlihat sengat menyukainya. Aku suka cara dia mengajar. Sangat menyenangkan. Ketika kupikir dia hanya menikmati itu, tapi sepertinya kami punya ketertarikan yang sama di bidang lain.”

“Uang?” Hyo In mencubit perut Kyuhyun hingga pria itu berjengit sambil tertawa.

“Kami suka cerita anak,” ujarnya kesal bercampur geli.

Alis Kyuhyun terangkat sebelah. “Wow! Kupikir kau seorang akuntan.”

“Aku suka menghitung uang tapi cerita anak juga menyita perhatianku, lebih dari menghitung uang kalau perlu kutambahkan.”

Itu sebabnya dia suka membacakan dongeng untuk Sarang. Batin Kyuhyun.

“Jadi kalian menjadi semacam partner?”

Hyo In mengangguk. “Setiap hari Minggu bersama dengan relawan lain kami pergi ke taman kanak-kanak di desa. Kami bercerita, membuat pertunjukan, dan semakin dekat. Aku bahkan tidak mengatakan pada Ayah dan Ibu kalau aku pindah ke salah satu rumah Liam. Kami tinggal bersama. Aku mencintainya, sangat, dan karena kupikir dia juga begitu aku memberikan semuanya untuk Liam. Sampai hampir ujian akhir aku sadar kalau sudah terlambat datang bulan hampir delapan minggu. Sungguh, rasanya tidak seperti orang hamil.

Aku pingsan pada suatu pagi karena padatnya jadwal belajar ditambah les dan semacamnya. Saat kutanyakan apa mungkin dia menikahiku … dia hanya diam. Setelah itu dia tidak pernah pulang. Lalu aku pulang lagi ke rumah yang disewa Ayah untukku di London. Aku tidak mengatakan apapun tentang kondisiku. Hanya saja, tiba-tiba mereka berkunjung tanpa pemberitahuan dan tahu kalau perutku sudah besar. Mereka bertambah marah setelah tahu kalau kesehatanku menurun dan kondisi kehamilanku tidak begitu stabil. Aku masih tujuh belas tahun saat itu. Kupikir karena Sarang tidak rewel itu berarti kami baik-baik saja. Lagipula aku tidak bisa setiap bulan ke dokter. Biayanya sangat mahal.”

“Kau bekerja,” tebak Kyuhyun. Perutnya melilit membayangkan seorang gadis muda hamil harus membanting tulang.

“Aku harus bekerja. Kalau tidak aku tidak punya tabungan untuk melahirkan. Bukan perkerjaan berat tentu saja. Aku membantu beberapa siswa yang lebih suka bermain mengerjakan makalah atau karya tulis ilmiah. Aku sering lembur. Uangku cukup banyak saat itu dengan tambahan kiriman Ayah setiap bulannya. Tapi tetap saja harus irit makan.” Hyo In tertawa dalam tundukannya. Lebih ke menertawakan diri sendiri sebenarnya.

“Kau tidak berencana mengatakannya pada orang tuamu?”

“Aku malu,” sergah Hyo In.

Kyuhyun paham besarnya beban moral yang ditanggung Hyo In sendirian semacam itu. Dia masih sangat muda, tujuh belas tahun. Sedang hamil dan sendirian. Pria macam apa yang tega berbuat seperti itu? Bahkan jika hal yang sama terjadi pada wanita yang tak dicintainya sekalipun Kyuhyun dipastikan mau mengucap janji setia untuk melindungi anak yang sedang dikandung.

“Dia tidak pantas untukmu.”

“Aku tahu, karena itu aku tak mau lagi memikirkannya.”

Hyo In memang tak lagi memikirkan Liam. Tapi dia sendiri tak habis pikir kenapa bisa dengan mudah menceritakan kisah kelam masa lalunya pada pria itu. Kisah yang sudah lama dia coba kubur dan bersumpah takkan dia katakan pada orang lain. Sejak dalam perjalanan mengantar Sarang ke sekolah sampai sekarang dia harus mencurahkan pikiran ke pembukuan butik mengingat sekarang sudah akhir bulan, hingga akhirnya dia menemukan alasan untuk menyerah sekarang. Membiarkan pikiran itu menguap begitu saja seiring dengan semakin banyaknya dokumen yang harus segera dia selesaikan. Tiga jam kemudian sekitar pukul sebelas pagi Hyo In mulai gusar karena pembukuannya belum selesai tapi harus segera menjemput Sarang. Maka, dia putuskan untuk keluar sejenak mencari sang Kakak di ruangannya.

Hye Kyo sedang duduk manis di meja, berbincang dengan salah satu staff mengenai komplain cacat barang dari pelanggan. Hyo In tak ingin menginterupsi mereka. Wanita itu tertahan di ambang pintu, ragu saat mau masuk tapi memutuskan kembali ke ruangannya sendiri. Akhirnya, dia duduk di kursinya lagi, menatap lama telpon di meja sebelum menghubungi pihak sekolah Sarang.

Wali kelas Sarang mengangkat telpon. Hyo In sengaja menghubungi nomor pribadinya karena dirasa lebih aman jika memerlukan bantuan terkait Sarang di sekolah karena Beliaulah yang paling tahu apa kebutuhan anak itu di sana.

“Saya belum bisa menjemput Sarang. Sebenarnya saya berniat meminta tolong Bu Guru untuk menemaninya di sana sebentar lagi. Saya perlu waktu membereskan pekerjaan dulu.”

“Ya, tentu saja, Nyonya. Lagipula Sarang sedang ada pelajaran tambahan mengeja hangul dengan guru Bahasa. Pelajaran utamanya selesai sepuluh menit yang lalu.”

“Bagaimana makan siangnya?”

“Dia makan nasi dan karinya dengan lahap.”

“Tumben anak itu mau makan nasi,” batin Hyo In heran.

“Apa Sarang sendirian?”

“Sayangnya begitu. Sarang satu-satunya siswa yang tidak bisa mengeja hangul karena dia terbiasa dengan huruf latin. Untuk saat ini kami hanya mengajari apa yang biasa ditemui di tempat umum karena seharusnya Sarang belum boleh belajar tata bahasa sebelum setidaknya tingkat empat sekolah dasar. Tapi jika simbol-simbol umum belum bisa dihapal, itu juga akan menyulitkan Sarang mempelajari pokok-pokok pelajaran di masyarakat. Dan lusa kami berencana melakukan darma wisata ke stasiun kereta api. Hari ini Sarang menerobos antrean dua kali.”

“Ya Tuhan. Anak itu sangat tidak sabaran. Saya minta maaf.”

“Ya, benar. Sarang juga paling banyak bicara. Tapi kadang juga jadi sangat pendiam.”

“Kalau diam sebenarnya dia memperhatikan, hanya tak terlalu peduli.”

“Saya rasa juga begitu, Nyonya. Saya senang karena Sarang tidak menerobos antrean untuk ketiga kalinya.” Bu Guru terkikik.

Hyo In tertawa. Hatinya menghangat dan tiba-tiba merasakan sengatan ingin segera menemui putri kecilnya, si Kecebong. Persetan dengan pekerjaan. Lagipula dia bisa membawanya ke rumah seperti beberapa hari yang lalu. Dia bisa melakukan pekerjaan sekaligus mengawasi Sarang bermain di rumah. Atau kemungkinan yang lain … sepertinya bisa didiskusikan dengan Kecebong itu nanti.

“Maaf, Bu Guru, apa pelajarannya bisa lebih dari lima belas menit?”

Wanita itu bisa dipastikan sedang tersenyum saat bicara. “Saya kira bisa. Dia sangat aktif sampai-sampai duduk diam lebih dari itu mustahil.”

Hyo In tertawa mengiyakan. “Kuharap Sarang tidak membuat Bu guru jengkel setiap hari.”

“Oh, semua anak di sini membuat saya jengkel. Tapi mereka sangat lucu.”

Telpon ditutup. Hyo In membereskan pekerjaannya secepat yang dibisa. Walaupun harus membawa banyak sekali map dengan total kertas hampir dua rim, dia merasa langkahnya begitu ringan saat keluar dari ruangan. Hyo In mengetuk pintu ruangan Hye Kyo sebelum membukanya, menyelipkan kepala dia antara daun dan rangka pintu.

“Aku harus menjemput Sarang, tapi kurasa aku juga akan langsung pulang. Laporan keuangan bulan ini akan kukukirim nanti malam ke email butik.”

Kakaknya mengangguk dan tersenyum lebar. “Jangan lupa makan. Oh, iya, sampaikan salamku untuk Sarang. Aku merindukannya.”

“Tentu saja.”

“Satu lagi–” Hyo In tertahan saat akan menutup pintu. “Apa kau sudah dapat nomor telpon tetangga tampanmu itu?” Alis Hye Kyo bergerak-gerak menggoda. Hyo In menggerm kesal dan langsung membanting pintu, tak memedulikan decihan gurau kakaknya dari balik meja.

Ya, Kyuhyun memang tetangga yang tampan–sangat. Hyo In tahu itu. Dan sesungguhnya pagi tadi mereka memang bertukar nomor ponsel agar bisa berhubungan lebih mudah. Meskipun Hyo In sendiri tak tahu untuk apa dia menghubungi Kyuhyun dan harus membahas apa, dia mengiyakan permintaan pria itu karena tak punya alasan untuk menolak. Menolak, mereka teman, kan? Teman sudah seharusnya punya nomor ponsel masing-masing karena itulah yang mereka lakukan. Berkomunikasi.

Memikirkan itu saja membuat pipi Hyo In kembali merona. Selain karena malu dia juga mengingat betapa tak sopannya dia saat pertama kali bertemu dengan Bujangan Tua itu. Hyo In menggelengkan kepala begitu sampai di mobil berusaha membuang semua bayangan yang berhubungan dengan Kyuhyun dan segera melaju ke sekolah Sarang.

Dua puluh menit kemudian Hyo In sampai. Ditemani wali kelasnya, Sarang sedang makan es krim ditemani wali kelas duduk di gazebo depan kelas. Sekolah sudah sangat sepi karena jam belajar-mengajar sudah berakhir.

“Mama, I got an ice cream!!!” Teriak Sarang saat melihat Hyo In berjalan dari kejauhan. Begitu Hyo In duduk di sampingnya, Sarang sengaja mencium pipi sang Mama karena bibirnya sudah belepotan vanila. Melihat Hyo In cemberut, Sarang menjulurkan lidah. Tanpa disuruh anak itu mengambil tisu yang diberikan wali kelasnya dan membersihkan noda di pipi Mamanya. Hyo In terkikik-kikik karena Sarang hanya menepuk-nepuk pipi, bukan membersihkan.

“Biar Mama saja,” kata Hyo In, berusaha mengambil tisu dari Sarang tapi Kecebong itu menolak.

No, no, I have to clean you up.” Sarang mengeyel. Dengan sangat yakin.

Hyo In menghela napas pasrah dan membiarkan Sarang melakukan hal yang sama. yang penting anak itu diam, pikir Hyo In.

“Terima kasih sudah menjaga Sarang. Saya tidak tahu harus bilang apa lagi.”

“Sudah tugas saya, Nyonya. Anda tidak perlu khawatir.”

“Terima kasih banyak. Apa saya bisa mengantar Anda pulang?”

“Saya biasa naik bus.”

“Bu Guru ikut saja. Nanti Mama sedih kalau Bu Guru menolak.”

Hyo In tertawa ringan sambil mengusap rambut Sarang yang sudah berantakan. Kecebong itu sekarang sudah sibuk menjilati es krimnya lagi.


Mereka dalam perjalanan pulang sekarang setelah mengantar wali kelas Sarang yang rumahnya tak begitu jauh dari sekolah. Hanya butuh waktu sepuluh menit dan kini Sarang sudah tertidur di sebelah Hyo In. Hampir pukul dua belas siang memang dan sekarang adalah waktu tidur siangnya. Hyo In melihat Sarang prihatin. Tidak tega melihat putrinya kelelahan tapi kalau tidak begini dia tidak akan bisa belajar banyak selain di dalam rumah. Hyo In tak mau Sarang menjadi seperti sapi yang baru dilepas setelah diikat bertahun-tahun. Menjadi berlebihan, menabraki pagar tetangga saking antusiasnya. Dia ingin Sarang familiar dengan dunia luar. Jika suatu saat nanti dia ingin pergi ke london, mencari Papanya atau apapun itu selama tidak menyakitinya, Hyo In pasti akan mendukung Sarang. Sama seperti orangtuanya yang selalu mendukung apapun keinginan Hyo In sejak dulu. Meski hal itu berujung pada peristiwa menyakitkan, selalu ada hal yang patut disyukuri dari kejadian buruk sekalipun. Salah satunya si Kecebong itu.

Begitu tiba di rumah Hyo In berlari membuka pintu terlebih dulu sebelum kembali lagi memindahkan Sarang ke kamarnya dan terpaksa mengganti baju Sarang saat bocah itu tertidur. Berapa kali Sarang merengek, kadang menendang karena merasa terganggu. Setelah mengganti bajunya sendiri, urusan laundry menjadi perhatian Hyo In: memisahkan baju-baju putih dan mudah luntur, mengangkat jemuran yang sudah kering kemudian menyeterika mereka semua. Dan yang terakhir sebelum Sarang bangun adalah membuat camilan. Hyo In tak begitu pintar membuat makanan-makanan manis atau semacam dessert jadi dia hanya membuat agar-agar untuk Sarang dan menggoreng kentang untuk camilannya sendiri. Stok susu strawberry Sarang sudah hampir habis dan sepertinya nanti malam atau paling lambat besok pagi mereka harus belanja beberapa dan juga bahan-bahan dapur yang hampir habis.

Hyo In duduk di meja makan sambil membuat daftar belanjaan. Mengingat kemarin dia menginap di rumah orangtuanya, ada beberapa makanan yang sudah tidak layak konsumsi dan sayuran layu di kulkas. Ketika masih sibuk menafsir biaya yang harus dikeluarkan, ponselnya berdering. Hyo In selalu mengantongi benda itu, jaga-jaga kalau Hye Kyo atau keluarga lain membutuhkannya setiap saat. Namun, saat itu bukanlah keluarganyaa yang mengirim pesan melainkan seorang Bujangan Tua yang tinggal hanya beberapa meter dari rumah. Dengan hati berdebar yang tidak tahu sejak kapan mulai membuatnya kesulitan bernapas akhirnya Hyo In membuka pesan itu.

“Hai, tetangga! Aku sedang di Myeongdong. Mau sesuatu?”

Tanpa berpikir panjang Hyo In membalas:

“Hai. Sedang apa kau di sana?” Kemudian sebelum mengirimnya dia menghapus pesan itu dan mengetik kembali:

“Hai. Terima kasih banyak tapi tidak perlu. Aku akan keluar nanti sore.”

Balasan berikutnya datang lebih cepat:

“Sebentar lagi aku pulang, kau bisa titip sesuatu padaku. Aku tetangga yang baik, kan?”

Hyo In mendecih namun tetap membalas:

“Sebenarnya aku butuh beberapa botol susu strawberry untuk satu minggu.”

“Itu saja?” Balas Kyuhyun.

Kalau boleh jujur, Hyo In butuh lebih dari itu tapi yang paling mendesak adalah susu Sarang. Anak itu bisa mengomel seharian kalau hanya diberi jus atau susu dengan rasa lain. Meski tetap meminumnya sampai habis, Hyo In hanya tidak suka mendengar gerutuan Sarang yang muncul setiap beberapa menit sekali. Anak itu sudah menjengkelkan meski dalam mood bagus. Mood jelek Sarang hanya akan menghancurkan dunia Hyo In.

“Itu saja. Hati-hati.”


Satu jam kemudian Hyo In sudah ada di beranda depan rumah dengan laptop dan berkas keuangan butik. Di meja tersebut juga ada kentang goreng yang sudah dingin dan agar-agar bersiram susu kental cokelat yang tersisa setengah. Sarang sedang berkebun di halaman yang masih ditumbuhi rumput-rumpur liar. Tidak begitu tinggi ataupun lebat tapi cukup membuat Sarang sibuk dan kesulitan mencabutnya. Sesekali Hyo In mengamati Sarang dari tempatnya bekerja. Setiap kali Kecebong itu berteriak karena berhasil mencabut rumput–daunnya saja yang lepas atau ketika bokongnya terantuk tanah lembab setelah terguyur hujan sebentar tadi. Sebal dengan susahnya pekerjaan, akhirnya Sarang hanya bermain tanah dengan sekopnya dan membuat telapak tangan mungilnya kotor, begitu pun kaos hijau bergambar bunga matahari yang dipakainya.

“Bagaimana berkebunnya, sayang?” Tanya Hyo In.

“Rumputnya nakal. Tidak mau dicabut,” jawab Sarang sambil asyik mencincang tanah basah. Hyo In terhenyak ketika bocah itu menemukan cacing. Untungnya, Kecebong itu memutuskan untuk mengembalikan cacing ke dalam tanah setelah mengangkatnya tinggi-tinggi dengan bangga, menunggu pujian dari Mama.

Hyo In menatap bimbang pekerjaan dan Sarang sebelum akhirnya mendengus keras, menggeleng tak percaya akan keputusannya sendiri mematikan laptop dan membereskan semua pekerjaan meski belum selesai. Biarlah lembur nanti. Membiarkan anak itu berkebun sendiri sama saja melepasnya ke alam liar tanpa bekal. Setelah menggulung lengan baju dan celana panjangnya Hyo In berjongkok di belakang Sarang. Menuntun tangan Sarang, mengajarinya cara mencabut rumput dengan benar.

“Pegang pangkalnya, bagian yang paling dekat dengan tanah. Genggam dengan kuat seperti ini dan–“

“Tariiik!!!” Seru Sarang semangat.

“Yeeeay!!!” Hyo In ikut berseru. Sarang menari-nari seperti orang Indian dengan rumput di genggaman. Mengitari Mamanya sambil berjingkrak-jingkrak.

Dua jam berikutnya mereka habiskan untuk membersihkan area berkebun sekitar dua kali setengah meter dan membuat galangan. Walau tak tahu apa yang diinginkan Sarang Hyo In menurutinya saja. “Tadi kata Bu Guru Sarang menerobos antrean dua kali,” mulainya.

Sarang mengangguk cuek, masih sibuk dengan sekop dan membuat tanahnya melayang kemana-mana.

“Sarang tahu apa yang dilakukan di sekolah tadi?” Tanya Hyo In, menghela napas sabar.

“Kata Bu Guru itu namanya mengantre.”

“Sarang tahu mengantre itu apa?”

Sarang mengangguk tapi tetap diam, mendongak kemudian berkata, “Mama, Sarang mau menanam bunga poppy di sini boleh tidak?”

Dulu di rumah pedesaan yang disewa orangtuanya ada sebidang kebun bunga poppy tumbuh liar. Bunganya berwana merah berkelopak sekitar empat buah dan dengan warna hitam di tengahnya. Setiap batang hanya punya satu bunga. Sarang suka mencabuti bunga itu saat baru bisa merangkak dan membuat Mama dan Kakek-Nenek kesulitan mencarinya padahal baru sebentar ditinggal mengambil popok atau membuat susu..

Sejak kecil Sarang pintar mengalihkan perhatian dan itulah yang dilakukan bocah itu sekarang. Hyo In mengangguk seraya tersenyum. Sarang menampakkan kegembiraannya dengan tersenyums giginya yang seukuran biji-biji mentimun terlihat.

“Lain kali tidak boleh menerobos antrean lagi ya. Sarang dengar mama?”

“Tapi mereka lama sekali, Mama,” gerutu Sarang, melempar sekopnya.

“Memangnya tadi Bu Guru membagikan apa?”

“Susu kedelai. Tapi rasa strawberry.”

Hyo In menahan tawa dengan susah payah. “Apapun itu jika memang bagianmu kau akan mendapatkannya meski bukan sekarang. Bisa jadi lain waktu.”

“Kenapa Sarang tidak boleh menerobos antrean?”

“Yang namanya mengatre itu berderet memanjang seperti ular, Sarang tahu hewan itu?” Sarang mengangguk paham. Perhatiannya terpusat penuh pada Mamanya. “Kita harus menunggu giliran untuk mengambil sesuatu, susu kedelai misalnya. Kalau datang terlambat Sarang harus bisa menunggu di barisan belakang sampai mendapat giliran seperti teman yang lain,” jelas Hyo In. Mengamati Sarang yang hanya diam. Berharap anak itu paham.

“Benar-benar tidak boleh diterobos?”

Masih mencoba mencari celah.

“Tidak boleh!” Kata Hyo In tegas. “Itu sama saja merebut mainan milik temanmu.”

“Kalau mainanku direbut orang lain Sarang pasti sedih.” Hyo In tersenyum lembut mendengar pemahaman putrinya. Dalam hatinya penuh dengan bunga kebanggaan untuk Kecebong itu.

“Nah, karena sekarang sudah sore bagaimana kalau kita habiskan agar-agar dan kentang gorengnya sebelum mandi, hum?”

What about my poppies?” Sarang masih terlihat berat meninggalkan proyeknya. “Galangannya sudah jadi, Mama.”

“Besok, kan, hari Minggu. Kita belanja sekalian beli bibit poppy.”

Kyuhyun datang saat matahari bersinar hangat dari ujung barat. Dunia masih terang tapi udara musim semi menjadikan sore ini begitu hangat. Sehangat hatinya ketika turun dari mobil, memarkirnya di halaman depan rumah, dan bergegas ke rumah Hyo In dengan kantong plastik berisi susu pesanan Hyo In. Dia berhenti sejenak melihat sekop-sekop berwarna cerah tergeletak di pinggir halaman dan tumpukan rumput yang baru dicabuti di sekitarnya. Mereka baru saja bersenang-senang, batin Kyuhyun setengah senang, setengahnya lagi kecewa karena melewatkan kesenangan itu.

Cacing, hum.

Setelah ketukan beberapa kali Kyuhyun disambut dengan pelukan hangat Sarang yang sudah segar dengan baju terusan ungu bergambar Sofia the First. Rambut Sarang terurai rapi, masih basah sehingga membuat celana bagian pahanya lembap.

“Paman bawa apa?”

Sebelum Kyuhyun menjawab Hyo In sudah berlari ke ruang tamu entah dari mana hanya dengan piyama handuk berwarna putih dan rambut terurai, sama basahnya dengan Sarang, bedanya hanya lebih berantakan dan wanita itu terlihat lebih menggoda. Hyo In langsung merebut tas belanjaan itu. Mengangkat benda itu tinggi-tinggi agar Sarang tak bisa mengambilnya.

“Mama, itu apa?!” Sarang mengulurkan tangan ke atas sambil berjinjit mencoba meraih belanjaan tapi tidak bisa.

“Bukan apa-apa. Sana main sama Paman.” Hyo In langsung meluncur ke dapur. Sarang hendak berlari mengejar Mamanya tapi tertahan oleh Kyuhyun. Kakinya mengentak-entak sebal. Ingin segera pergi dari situ.

“Paman punya sesuatu untukmu.”

Kyuhyun mengeluarkan patung poni kecil dari kayu yang sudah dijanjikannya untuk Sarang seminggu yang lalu. Senyumnya terkembang melihat Sarang tertawa riang sambil memeluk poninya, bahkan menciuminya tanpa jeda.

It’s beautiful. Thank you.” Secantik mata Sarang yang kini berbinar. Kyuhyun membawa Kecebong itu duduk di kursi.

“Sarang senang?”

“Tentu saja. Mama harus lihat.”

Mengikuti Sarang ke dapur, Kyuhyun tak memenukan Hyo In. Mereka saling bertatapan bingung. “Mungkin di kamar,” kata Sarang dan langsung meluncur meninggalkan Kyuhyun di belakang.

Kyuhyun mengikutinya lagi dengan lebih santai. saat Sarang sampai di pertengahan tangga sementara Kyuhyun masih di dasar tangga, dia menangkap keberadaan Hyo In yang sedag duduk di sana. Kyuhyun menyusulnya. Susah payah menyembunyikan rasa malu karena pujian Sarang tentang betapa bagusnya poni kayu itu, terlebih Hyo In yang juga tengah tersenyum padanya. Dia duduk satu anak tangga di bawah Hyo In dan Sarang. Begitu saja masih membuat tinggi mereka sejajar.

“Terima kasih banyak. Kau selalu membuatnya senang.”

“Sama-sama. Aku senang membuat orang lain senang.”

“Oh ya, berapa yang harus kuganti untuk belanjaan tadi?”

Wajah Kyuhyun mengaku. “Tidak perlu. Anggap saja hadiah.”

“Kau sudah memberi kami terlalu banyak,” bantah Hyo In merasa tak enak. Dia merasa hutangnya pada Kyuhyun bertambah banyak.

“Terima saja kalau kita benar-benar berteman.” Hyo In tergagap merasakan besarnya tangan Kyuhyun menangkup tangannya lagi. Bayangan tadi pagi dan malam sebelumnya kembali datang. Hangat.

“Kalau kau memaksa,” jawab Hyo In akhirnya. Tak bisa membantah.

“Ya, aku memang memaksa.”

“Apa yang kaulakukan di myeongdong?” Tanya Hyo In membuat suasana tidak canggung lagi..

“Mencari makanan. Beberapa temanku dari luar negri akan datang. Aku bermaksud memberi mereka makanan tradisional Korea.”

“Ada acara tertentu?”

Kyuhyun mengangguk. “Ya. Harusnya aku menyembunyikan ini sampai hari-H tapi sepertinya aku tidak bisa kalau melihat kalian seperti ini.” Hyo In melihat dirinya sendiri dan Sarang, merasa tak ada yang berbeda dengan mereka. Kyuhyun tertawa pelan sebelum melanjutkan, “minggu ini aku akan lebih sering berada di Busan. Galeriku ada di sana. Ada banyak yang harus kupersiapkan sebelum pameran seni rupa digelar.”

Wajah Hyo In merona, matanya terbelalak senang. “Pameran solo? Woah! Bagus sekali!” Hyo In berseru sambil memeluk Sarang di sampingnya. “Kaudengar itu, sayang? Paman akan mengadakan pameran.”

“Pameran itu apa, Mama?”

“Pameran itu … ah, sudahlah.” Hyo In mendengus malas, mengabaikan Sarang. Anak itu lebih sibuk dengan poninya lagi sekarang seolah yang dibicarakan Mamanya itu tidak sama bagusnya seperti poni barunya dari Paman Tua.

Kyuhyun tak lagi bisa menahan apa yang dia pendam selama beberapa hari terakhir. Dia ingin mengatakan ini hanya saja keberanian untuk memikirkannya saja tidak ada.

“Aku ingin kita jalan-jalan sebelum berangkat ke Busan dan tidak terlalu bisa dihubungi.”

Hyo In terdiam sejenak. Tubuhnya seperti penuh lem yang sudah mengering–kaku. Hanya matanya yang berkedip. Tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

“Kaubilang apa tadi?!”

“Paman mau jalan-jalan, Mama,” sergah Sarang tanpa melihat Hyo In ataupun Kyuhyun.

“Ya. Kaumau. Kita jalan-jalan. Kemana pun.”

Hyo In berdeham setelah sadar. Dia menatap Sarang sekali lagi sebelum bertanya, “Sarang mau?”

“Kalau ada es krim dan bunga poppy.”

“Apapun.”

“Kalau begitu ayo!!!” Tiba-tiba Hyo In berkata keras sambil mengentakkan kaki seperti Sarang. Matanya berbinar membayangkan jalan-jalan yang sudah lama tidak dia nikmati bersama Sarang. Kalau ada Kyuhyun kan dia bisa agak bersantai.

Ya, ada Kyuhyun. Itu penting. Batin Hyo In, tapi sisi hatinya yang lain merujuk pada hal yang tidak ada hubungannya dengan menenangkan Sarang.

Persetujuan Hyo In membuat Kyuhyun senang. Bagaimana tidak, dia sudah mempersiapkan ini sejak kemarin. Takut menanyakannya karena bayang-bayang penolakan dari wanita itulah yang sangat jelas bukan penerimaan penuh semangat semacam ini. Harapannya hanya Sarang yang merasa senang sampai Hyo In tak bisa menolak keinginan Kecebong itu. Tapi ini … luar biasa. Di luar perkiraan.

“Besok, kalau begitu.”

“Ya. Besok.”

Author’s note:

Sorry ya kalo banyak typo. Edit sekali doang. Wkwkwkw
Jangan lupa kritik dan saran 😀

Advertisements

37 thoughts on “[Chapter] Single Mom Next Door 6

  1. akhirnya publish juga !!!!!suka banget part ini,aduuchh,,,,,,,cinta banget sama karakter kyuhyun di sini,,,,dan surprise sekali pas hyo in mengiyakan ajakan jalan2 kyuhyun,sampai semangat begitu,padahal sarang aja biasa saja,,,,

  2. Lama bgt nunggu updatenya
    Sarang dan hyoin kompak bgt,walau suka berantem tp hyo in sgt menyayangi sarang.
    Apa kyu hyoin akn jd pasangn,berharap mrk akn bersama dan nunggu acara mrk jln2 jgn lm2 ya

  3. akhirnyaaa terima kasih tuhan part ke 6 sudah keluar , pendekatannya tambah gencar nih … apalagi sudah kenal camer hyo in juga sudah mulai membuka hati mudah – mudah an tambah lancar.

  4. Kyaknya udh terditeksi tanda2 suka Hyo In sama Kyuhyun kkk
    Dan Kyuhyun nya juga gak berani2 nih nyatain perasaannya hihihi
    Kyuhyun pernah di London? Kok takut2 tiba2 Liam muncul trus ternyata kenal sama Kyuhyun lol xD *abaikan

  5. Aigoo senang bisa membaca kelanjutan kecebong ini lagi..hihi
    Sarang mah gitu yah khas bocah tidak terlalu minat dengan pembicaraan orang tua tapi kadang bikin kesel,gemes pula..

  6. Slalu exited sama ni ff gemes bgt sama sarang dan semua kenakalanya tp lebih gemas sama hubungan kyu dan hyoin makin bnyk kemajuan next chapter jangan kelamaan y authormim karna penasaran bgt

  7. Baca cerita ini serasa menemukan karakter baru Hyo In dan Kyuhyun… ya ampun cerita menarik banget sehingga sayang untuk dilewatkan. Ditunggu kelanjutannya 🙂

  8. Wuihh akhirnya update juga.. lama bingit thor…

    Kok aku takut papa sarang itu temenya kyuhyun ya? Semoga bukan, jadi gk bakal rumit lagi ceritanya.

    Authornim update lanjutannya jangan lama lama yaaaa… semangat!!

  9. Hyoin selalu Merona dan Berdebar kalau mengingat atau membayangkan Kyuhyun 🙂
    Mungkin Hyoin udah mulai merasa tertarik sama Kyuhyun. Hanya saja,Hyoin masih belum menyadari’a. Dan takut kejadian dimasa lalu terulang lagi mungkin. Dan Kyuhyun juga udah mulai Cinta sama Hyoin dan Sarang.
    Semoga mereka berdua bisa menjadi Keluarga kecil yg Bahagia ^_^
    Next Part aku tunggu banget ya Kakak 😉

  10. Ya allah bahagianya ngeliat sarang yang makin deket sama kyuhyun 🙂 dan hyo in yang selalu berdebar2 bila didekat kyuhyun kkk sudah seperti keluarga saja mereka _< ditunggu next chapternya semangat 🙂

  11. Halo aku pembaca baru,dan sangat tertarik dengan karya2 authornya ini 😀
    kayaknya bang kyu sudah mulai memberikan,kode2 cinta nih ama mamah muda,ea…. 😀

  12. Pertama kali nemu blog ini dan baca ff ini rasanya seneng bgt..akhirnya nemu jalan crita yg kek gini,author-nim please jngan munculin si liam cowo bule itu lagi. Buat kyuhyun bahagia sma kecebong dan mama nya 😁

  13. suka banget hyoin n kyuhyun makin deket, semoga aja hubungan mereka bisa berlanjut ke tahap selanjutnya…
    ditunggu lanjutannya 🙂
    semangat 😀

  14. Ciee benih2 cinta mulai tumbuh MaMud dan bujangan tua, plus Kecebong juga 😀 yg mau jalan2 plus ngadain pameran cieee #Lagii

  15. akhirnya hyoin percaya juga sama kyuhyun. tinggal nunggu jadiannya mereka deh kalo bisa nikah deng wkwk.
    dan semoga mama hyoin merestui lah ya. ditunggu selalu next part ya kak. semangat^^

  16. duhh ff yg d tunggu2 muncul jg..kecebong makin akrab aja sm kyu,hyo in jg sdh ga judes2 lg sm kyu smga pertanda baik yaa senang kalo lia kyu sarang sm hyo in sm2..

  17. Uuuuuh si kecebong nakalll yang ngegemesin sekaligus cerdas 😊 dan hyo in yang udah bisa buka hatinya buat kyuhyun rasanya debar2 sendiri. Nunggu next nya. Au kok dapet fell kalo liam itu bakal jadi salah satu orang yang dikenal kyuhyun ya kkkkk 😀😀

  18. Pagiii saeng~~^^ saeng kapan nih part 7nya mau dipublish? ko udah hampir 3 bulan gak dilanjut 😦 ditunggu banget ya semangat ❤

  19. Kakak cntik lnjut lg dong sarang nyaa, udh kngen bnget ni sm sm kecebong itu trimksih klau seger ngepos nya hehehehe

  20. akhirnya hyo in bisa lebih terbuka sama kyuhyun da menceritakan masa lalunya kemajuan pesat nih, kyuhyun udah ngasih kode tinggal hyo in ngerti kodenya wkwk…. nextt kapanpun di tunggu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s