[Chapter] Single Mom Next Door 5

Single Mom Next Door
By Valuable94

Starring:
Cho Kyuhyun (SJ)/Song Hyo In (OC)
and
Song Sarang (OC)

Young Adult

10477885_529726777153971_6048083022103699359_n

A KIND OLD MAN

KYUHYUN tak pernah bisa mengerti mengapa perasaan nyaman itu ada, sejak kapan mereka bersarang di hatinya, dan kenapa dia harus kebingungan setengah mati hanya karena melihat rumah Hyo In dan si Kecebong itu begitu sepi, tak berpenghuni, seperti manusia tanpa nyawa. Setelah malam itu—

Apa salahku?

Rengekan Sarang merobek hatinya. Kata “bukan Ayah Sarang” lebih menyakitkan daripada “bukan siapa-siapa”. Beberapa kali dia juga mendapati diri sendiri mengumpat dalam hati.

Mendecak kesal, menyesap dalam rokoknya dan mengembuskan asap ke udara dengan lemas sebelum melemparnya asal. Setiap menit hanya membuatnya semakin hilang akal. Bahkan rokok yang biasa menyembuhkan sedikit stress-nya tiba-tiba tak berfungsi sama sekali.

Akhir-akhir ini pun Kyuhyun seperti tak mengenal dirinya sendiri. Kemana pembawaan santai yang selama ini dia pertahankan. Dunia yang kadang berlaku tak adil padanya bisa dengan mudah ditaklukkan. Tapi ketika berhadapan dengan seorang Mama Muda memesona itu semua kendali dirinya hilang. Dia jadi sering ingin tahu urusan orang lain, terutama tentang apa yang dilakukan Hyo In dan Sarang saat tak bertemu mereka.

Diam-diam Kyuhyun selalu berpikir apa yang sedang dia lakukan di sini malam-malam begini selama seminggu terakhir. Tangannya menggenggam sebuah patung poni yang sudah jadi. Cukup kecil tapi sangat indah dan imut.

Seperti si Kecebong. Kyuhyun tertawa dalam hati. Sarang sangat merepotkan, Mamanya apalagi. Sebenarnya wanita itu hanya merepotkan hati dan otaknya. Mereka terus bekerja dengan cara yang berbeda. Kyuhyun selalu menganggap kedekatannya dengan Sarang hanya karena dia merindukan anak Ahra—kakaknya—yang mungkin sekarang sudah kelas 2 SD. Sementara bersama Hyo In, belum ada penjelasan sama sekali. Dia menyukai wanita itu begitu saja. Dia mengobrak-abrik kehidupan Kyuhyun yang tenang. Tidak ada tanda-tanda, tidak ada persiapan. Wanita itu juga datang secara tiba-tiba seperti kelinci putih yang muncul dari topi pesulap. Boom! Jadilah Mama Muda menawan. Hyo In terasa berbeda. Entah karena apa tapi sepertinya wanita itu bisa meng-handle segalanya dengan baik. Merawat Sarang jelas bukan masalah sepele tapi untuk ukuran wanita muda seumuran Hyo In, hamil di usia dini, psikologinya bahkan nampak tak mengalami gangguan berat.

Dia benar-benar bocah kuat.

Itulah pikiran pertama Kyuhyun yang dia hindari. Selalu menolak mengakui bahwa ketertarikannya berawal dari sana. Berdalih dia hanya ingin bermain-main dengan wanita itu padahal yang sebenarnya Kyuhyun merasa nyaman. Kelembutan sentuhan Hyo In pada Sarang. Dia menyukainya. Sepasang mata cokelat serta rambut hitam lurus yang tebal menjuntai dan wajahnya yang ekspresif. Kyuhyun merindukannya. Hanya butuh empat hari untuk membalik hati si Penyendiri.

Sekarang rasanya seperti berada di hutan belantara. Mirisnya di sana masih ada jangkrik atau bunyi-bunyi hewan yang lain sementara di sini benar-benar sepi. Dia memang hidup sendiri di galeri yang di bangun sendiri tapi selalu punya hiburan saat dia membutuhkannya. Kyuhyun percaya hubungan layaknya kekasih atau suami-istri tak pernah pas untuknya. Dia pria yang mandiri. Tidak perlu wanita untuk makan karena sudah banyak katering sehat sekarang-sekarang ini. Tinggal pergi ke rumah sakit kalau sedang tidak enak badan. Atau kebutuhan biologis pria yang tidak bisa dihindari, dia bisa pergi ke klub, mencari gadis, tidur dengannya, dan hubungan berakhir begitu kondom dilepas. Sangat mudah. Sangat simple.

Tapi tidak dengan Hyo In dan Sarang. Mereka membuat gairah hidup masa lalunya tak lagi menarik.

Matanya menyipit ketika sorot lampu mobil menyinari rumahnya dan bagian depan rumah Hyo In. Mobil itu berhenti tepat di depan pagarnya. Setelah mengantongi poni Sarang, Kyuhyun bergegas menghampiri mobil itu.

 “Ibu!”

Kyuhyun menyambut wanita anggun itu dengan pelukan hangat. Sampai sedewasa ini pun dia masih merasa seperti anak TK setiap kali bersama Ibunya. Pelukannya sengatan matahari pagi.

“Ya Tuhan, aku merindukanmu sekali.”

Pelukan erat mereka terlepas. Kyuhyun membantu Ibunya mengangkat kardus-kardus ke dalam rumah. “Ibu mau pindah kemari, kenapa tidak bilang padaku? Lagipula menyetir sendirian malam-malam begini, apa-apaan itu? Ayah kemana, kenapa dia tidak ikut?”

“Siapa juga yang mau pindah denganmu.” Ibunya mendecak remeh. “Pasti akan merepotkan mengurusi pria sepertimu. Ada sedikit masalah di Akademi di Thailand jadi Ayahmu kesana sejak dua hari lalu.”

Dahi Kyuhyun mengernyit. Tak terlihat lelah sama sekali setelah mengangkat sekitar delapan kardus yang beratnya hampir sama. Menatap mereka dan Ibunya bergantian. “Jangan bilang Ibu mengangkat semua ini sendiri.”

Ibunya hanya tersenyum malu melihat mata Kyuhyun mendelik tajam padanya. “Tentu saja tidak. Awalnya aku mau menelpon petugas pengangkutan barang tapi seorang anak tetangga membantuku. Kautahu, dia sangat kuat dan menyenangkan. Tidak seharusnya seorang wanita bisa begitu kuat dan cantik di saat yang bersamaan. Kurasa aku harus mengenalkanmu dengannya.”

Ah, itu lagi. Kenapa tidak pernah bisa hilang dari ingatan Ibunya. Sesal Kyuhyun.

Kyuhyun hanya mengedikkan bahu seraya berjalan ke dapur mengambil dua botol air mineral. Lebih baik memang tidak usah dihiraukan. Bahasan semacam itu sudah basi.

“Kau tidak bisa selamanya hidup seperti ini, Sayang. Ibu dan Ayah khawatir.”

“Aku sudah dewasa, Bu. Mengurus diri sendiri bukan masalah seserius itu.”

“Jika yang kaumaksud dengan ini.” Pandangan mereka memindai seluruh ruangan yang berantakan. Bantal sofa tak beraturan. Koran, kaleng bir, dan bekas kotak makanan yang belum terbuang. “Kurasa itu memang masalah serius,” sambung Ibunya sambil terkikik. Kyuhyun kalah telak.

Kepala Kyuhyun ambruk di pangkuan Ibunya. Kedua tangan menutupi wajah. Dia tertawa dengan wajah memerah. Malu. “Kautahu, Bu, aku hanya lupa belum membersihkannya hari ini.”

Ibunya mendengus. “Tidak usah banyak alasan.” Kemudian mengangkat kepala Kyuhyun, bangkit dari kursi dan memeriksa sekeliling. “Aku lelah. Mau tidur.”

“Ke lantai dua saja. Ibu tidur di kamarku biar aku tidur di kamar tamu,” jawabnya malas sambil tiduran di sofa.

Di tengah tangga Ibunya berhenti dan berteriak. “Bereskan kardus-kardus itu. Semuanya ucapan terima kasih untukmu yang dialamatkan ke rumahku. Lagipula ibu heran kenapa kau tidak mau menerima itu. Padahal kelihatannya bagus-bagus.” Ibunya terus bergumam dengan sikap cuek Kyuhyun sambil menaiki tangga.

“Jangan tertipu bungkus, Bu.” Kyuhyun bangun dengan lemas. Memerhatikan kardus-kardus itu tanpa minat.

Hadiah, untuk apa?

Akhirnya kardus-kardus itu hanya ditumpuk menempel dinding agar tidak menghalangi jalan. Sarang bisa tiba-tiba berlari ke rumahnya kapan saja. Kemudian langsung melupakan alasan konyol itu.

“Dengar, Kyuhyun, kau bukan Ayahnya. Seperti kata wanita itu. Berhenti bersikap seperti Paman Tua kurang bahagia,” katanya pada diri sendiri sebelum pergi ke kamar tamu. Namun, begitu masuk ruangan itu dia hanya memerhatikan sekeliling dan mendengus keras. Hawanya sangat dingin. Memang belum pernah ditempati. Akhirnya dia hanya mengambil selimut di lemari dan menyeret satu bantal dari atas kasur.

Sofa lebih baik.

KEESOKAN paginya Kyuhyun terbangun karena aroma masakan. Dia tidak pernah memasak. Tubuhnya terempas kembali setelah ingat Ibunya semalam menginap di sini. Bau itu menyemaikan hidungnya yang lama gersang.

Tidak bisa konsentrasi kembali ke tidurnya yang nyaman Kyuhyun memilih bangun lagi. Matanya langsung terbelalak melihat rumahnya rapi sekali. Tidak ada bekas makanan dan kaleng-kaleng bir berserakan seperti biasa, bersih, dan wangi. Dia bahkan tak ingat kapan terakhir kali karpet di rumahnya tak tertutup bungkus makanan instan.

Seperti bukan rumahku. Batinnya.

Panggilan Ibunya dari dapur membuyarkan khayalan Kyuhyun. Tanpa menjawab dia bangun dengan malas dan langsung duduk di meja makan. Meneguk susu segar yang baru dituang.

“Kau bisa masak?”

Kyuhyun mengernyit. “Ibu tahu tanganku lebih bisa diandalkan saat memegang pisau dan kayu daripada wajan dan spatula.”

“Tadi pagi aku melihat bekas makaroni di meja teras belakang. Sampai busuk begitu. Menjijikkan.” Kyuhyun terhenyak, melupakan sesendok sup labu panas yang masih setengah jalan ke mulutnya. Kalimat terakhir Ibunya tak terdengar sama sekali karena sejak Hyo In keluar dari rumahnya begitu segala macam kata yang berbau makaroni, bunga, kuda, dan cacing akan langsung mengarah padanya dan Sarang.

“… aku lebih senang kau menyembunyikan perempuan di rumah ini daripada makan makanan instan tiap hari.”

“Mama Kecebong.” Kyuhyun sendiri terperangah dengan kalimat yang keluar dari mulutnya lebih cepat dari kedipan mata.

Ibunya mengernyit penuh tanya. Memerhatikan wajah datar Kyuhyun yang tidak biasa. “Kecebong?”

“Iya,” sahut Kyuhyun cepat. Tak tahu harus mengeluarkan kata macam apa. Lagipula dijawab atau tidak Ibunya akan tetap bertingkah seperti wartawan kekurangan berita.

“Maksudmu Kecebong makan makaroni atau apa?”

“Mamanya.”

“Oh, kau memberi makan Mama Kecebong makaroni?” Ibunya bertanya tanpa tahu apa maksud perkataan Kyuhyun.

Senyum Kyuhyun terkembang begitu saja. Meski pikiran rasionalnya belum bisa menghilangkan perasaan sakit tapi hatinya meleleh begitu mengingat betapa lezat masakan Hyo In dan wajah cantik itu saat menuangkan makaroni ke mangkoknya. Keibuan, tapi masih sangat muda. Gabungan mie kenyal dan kuah dingin yang begitu nikmat. Membuatnya senang.

Ibunya juga ikut tersenyum meski tak paham apa yang membuat Kyuhyun terlihat berbeda dari beberapa menit lalu. Memutuskan tak mau merusak momen ini Beliau lebih suka bergulat dengan supnya sendiri sambil memandangi Kyuhyun yang makan dengan lahap.

Selesai sarapan Kyuhyun bersama Ibunya membongkar kardus-kardus hadiah dari kliennya. Kebanyakan sepatu atau pin yang di pasang di dasi dan jas. Ada juga kemeja Armani berbahan dingin yang sangat lembut.

“Kalau jadi kau aku takkan mengabaikan semua hadiah bagus ini.”

“Selalu ada kompensasi yang mereka inginkan, Bu.”

“Setidaknya hadiah ini bagus-bagus.”

“Aku bisa membeli semuanya tanpa bantuan mereka.”

Ibu Kyuhyun mendengus. Matanya menyipit melihat bungkus berwarna biru safir mengilap. “Coba buka ini!” Titahnya pada Kyuhyun.

Dengan patuh Kyuhyun membuka kotak itu. Sudut bibirnya tertarik mendapati dua set celana dalam. “Calvin Klein.”

“Wow! Dari siapa?” Ibunya bertanya dengan semangat. “Kuharap bukan pria,” celotehnya seraya membuka kardus yang lain.

Tak acuh, Kyuhyun mengambil secarik kertas berwarna pink terlipat dari sana. Gurat bahagia karena celotehan Ibunya menghilang.

Tulisan tangan itu. Kyuhyun mengingatnya dengan baik sebagai sapuan pena paling lembut dan halus yang pernah dia kenal. Tangan itu yang dulu menyambutnya ketika lelah mendera. Menariknya dari keputusasaan. Tangan itu pula yang dulu dengan pasti akan digenggam kemanapun dia pergi. Tak membiarkannya hilang. Tapi tangan itu luput kala genggamannya masih begitu erat. Tangan itu memaksa lepas seolah genggamannya merupakan rangakaian duri mawar yang menyakitkan.

Anehnya, bukan tangan itu yang terluka, melainkan duri itu sendiri yang terbakar hingga gosong. Bahkan saat seseorang berusaha menyentuhnya maka akan lebur menjadi abu hitam pekat.

“Buang saja, Bu,” katanya singkat seraya melempar kardus itu di atas tumpukan kardus yang sudah terbuka.

Paginya hancur.

Ibunya menunduk melihat kertas itu kemudian terdiam. Menatap lekat wajah datar Kyuhyun. Air muka tanpa luka. Mungkin saja masih berbekas, tapi luka itu tak lagi terasa perih. Memang butuh usaha lebih keras untuk menghilangkan bekas daripada meredakan nyerinya. Tersenyum lembut, menepuk bahu anaknya sebelum beranjak membuang paket pakaian dalam mahal itu.

“Kautahu, aku takkan membuangnya kalau saja ini Victoria Secret.”

Tawa keras meluncur keluar dari bibir penuh Kyuhyun. “Pasti Ayah senang sekali.”

Mengedikkan bahu, Ibunya membalas tak acuh. “Ayahmu bodoh kalau tidak senang.”

Kyuhyun mendongak. Tawa dan senyumnya menghilang secepat datangnya ketika melihat sebuah plester bergambar kartun di tungkai belakang Ibunya. “Jangan bilang kakimu terantuk meja.”

Ibunya berhenti. Menoleh ke belakang seraya mengangkat kaki kirinya, memberi akses lebih bebas agar Kyuhyun tahu luka itu tak separah yang dia sangka apalagi penyebabnya hanya terantuk meja. “Oh, cuma terserempet troli di supermarket kemarin.”

Bodoh sekali sampai aku tak menyadarinya. Batin Kyuhyun menyalahkan diri sendiri. Setan pun tahu Ibunya tipe orang yang cukup ceroboh.

“Jangan melihatku seolah luka ini parah sampai kakiku harus amputasi.”

“Bagaimana dengan infeksi?”

Ibunya mendengus tak percaya. “Lihatlah dirimu! Tidak usah mencerewetiku kalau kau sendiri tak peduli dengan kebersihanmu.”

“Tapi aku peduli padamu,” sanggah Kyuhyun kesal sambil bangkit berdiri.

Ibunya menjauh dua langkah setiap kali Kyuhyun mendekatinya. “Hei! Mau apa kau?!”

“Biar kuperiksa kakimu.” Kyuhyun menyahut sedikit terlalu ngeyel.

“Terakhir kali kuingat anak bungsuku itu pemahat, bukan petugas kesehatan.”

“Ayolah, Ibu, biarkan aku melihat kakimu. Mungkin saja ada sesuatu yang terlewat.”

Ibunya mundur lagi. Kali ini lebih waspada. Bahkan tangannya sudah terangkat, siap memukul kepala Kyuhyun dengan dua set celana dalam. “Tidak perlu. Seseorang sudah membersihkan lukanya kemarin. Tadi pagi plesternya juga sudah kuganti jadi kau tidak perlu berlebihan seperti aku akan bisa mati saja hanya karena luka gores.”

Kyuhyun mundur. Matanya memicing, memerhatikan gestur dan ekspresi Ibunya sebelum dengan santai berkata, “Ya, kau benar. Kurasa orang sekarat tidak mungkin kuat mengangkat kotak celana dalam.” Kemudian melenggang keluar rumah. Meninggalkan Ibunya dalam perasaan kesal sekaligus senang karena selalu berhasil menang setiap kali berdebat dengan anak-anaknya.

Pada akhirnya Kyuhyun hanya terdiam sendiri di kursi beranda depan rumah Hyo In—lagi—setelah hampir dua puluh menit berdiri di depan pintu, tak bermaksud mengetuknya sama sekali. Bahkan ketika kenangan itu muncul dia masih tak yakin kenapa kakinya melangkahi pagar kayu yang memisahkan rumah mereka dengan mudah tanpa berpikir dua kali. Pagi itu dari jendela rumahnya Kyuhyun ingin sekali menghampiri Hyo In, menarik tangannya, menekan kedua bahu kecilnya sampai sadar, memarahinya ketika melihat Sarang dibawa saat masih tertidur.

Kenapa juga aku harus memikirkan wanita yang tidak memikirkanku sama sekali? Rutuknya dalam hati. Mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan kemudian berlari kembali ke rumahnya seperti orang kesetanan.

Ingin marah tapi pada siapa?

Atas kesalahan apa?

Dia tidak tahu.

Kyuhyun lebih baik mengerjakan desain paling rumit seperti sapi kerdil dengan penyakit cacar atau anjing tua berusia 100 tahun yang wajahnya tertutup keriput berjerawat. Sayangnya, di dunia nyata tidak ada hewan seperti itu. Dalam imajinasi para klien pun tak pernah terlintas hal semacam itu.

Dengan langkah cepat dia bergegas masuk ke kamar. Duduk di mejanya, memindahkan ukiran poni Putri Sofia dari saku ke lacinya. Kuda itu memiliku bulu pink dan rambut kuning bersinar seperti tumpukan emas batangan tertimpa sinar matahari, bermata cokelat—seperti mata Sarang dan tersenyum dengan dua deret gigi seukuran biji ketimun.

Cantik. Gumam Kyuhyun tanpa sadar. Mengingat Sarang berarti mengingat Mamanya juga. Bocah cilik gesit itu mencuri hatinya sejak pertama kali mereka bertemu. Begitu bertemu dengan Hyo In, Kyuhyun paham dari mana pesona itu didapatkan. Kenyataan bahwa wanita itu sudah tidak bersama Ayah Sarang sempat membuatnya merasa memiliki kesempatan lebih banyak mengenalnya.

Dia ingin tahu bagaimana hubungan Hyo In dengan ayah Sarang. Apakah sudah bercerai atau masih proses.

Bisa juga mereka hanya pisah ranjang. Kyuhyun membatin. Tenggelam dalam pikirannya sendiri memperkirakan hubungan kedua orangtua Sarang sampai tak sadar Ibunya sudah berada di ambang pintu kamarnya. Memerhatikan Kyuhyun dengan mata penasaran.

“Kurasa kau sedang menganggur.” Kyuhyun langsung menoleh. Bibirnya maju seperti paruh bebek terlalu banyak makan makanan pedas. “Bisa tolong ibu mengangkat sayuran dari mobil? Aku lupa memasukkannya ke rumah semalam.”

Sedikit mendesah Kyuhyun melakukan apa yang diminta Ibunya. Dalam keadaan hati bagaimanapun dia tak mungin bisa menolak permintaan wanita yang sudah melahirkannya tersebut. Dia teramat mencintai Ibu dan kakak perempuannya. Mungkin perhatiannya akan sama persis jika saja Ayahnya juga seorang wanita—untungnya bukan.

Rupanya tugas Kyuhyun tak berakhir sampai di situ. Membuat kimchi biasanya jadi ajang kumpul-kumpul keluarga tapi kali ini hanya ada dia dan Ibunya. Lagipula porsi yang dibuat tidak sebanyak biasanya. Lima kilo sawinya layu karena disimpan di dalam mobil semalaman.

“Ini semua salahmu.”

“Padahal bukan aku yang menaruh sayur di mobil,” gerutu Kyuhyun sambil meniriskan sawi yang sudah semakin layu setelah dilumuri garam.

“Kalau saja aku tidak terlalu fokus membawa hadiah-hadiahmu itu perhatianku pasti tidak akan teralih.”

“Bu, berapa umurmu?” Tanya Kyuhyun tanpa memedulikan protesan Ibunya.

“Eh, kenapa?”

Kyuhyun menggeleng, mengisyaratkan itu bukan pertanyaan penting kemudian tersenyum jahil. “Kurasa Ibu belum masuk waktu dimensia.”

“DASAR ANAK KURANG AJAR!”

SIANG sampai sore Kyuhyun habiskan membantu Ibunya memenuhi isi kulkas dengan berbagai macam makanan yang awet setelah insiden pemukulan kepala dengan wortel kemudian membersihakan halaman belakang dan terpamtanya bekerja di beranda belakang. Selesai makan malam Kyuhyun mengantar Ibunya sampai ke depan gerbang saja karena Beliau ngotot pulang sendiri. Dia senang Ibunya segera pulang karena itu berarti takkan ada yang merecoki hidupnya lagi—sebenarnya dia lebih suka hidupnya ramai oleh teriakan Sarang kehilangan sepatu setiap pagi atau rengekannya saat ingin dibacakan cerita menjelang tidur karena dengan begitu Kyuhyun bisa mendengar suara kesal Hyo In menghadapi anak nakalnya itu. Namun, dia juga merasa berat hati saat melihat wajah sedih Ibunya setiap kali mereka berpisah. Meskipun sebenarnya Dia bisa kapan saja pulang ke rumah mengingat jarak yang tidak terlalu jauh.

Kimchi-nya ada di lemari es. Cukup untuk tiga minggu. Kalau kurang pulang saja. Ada beberapa snack sehat dari kedelai, aku sengaja membeli itu untukmu jadi jangan dibuang. Saus jjajangmyun dan acar lobak juga sudah ada, kau tinggal merebus mie nya saja. Buah juga sudah siap. Jangan terlalu sering makan di luar. Kurangi begadang. Ya Tuhan, kantong matamu bahkan lebih besar dari kantong ajaib Doraemon.”

Kyuhyun tertawa seraya memeluk Ibunya. “Pulanglah, Bu, aku mencintaimu.”

“Ya, aku tahu. Segeralah menikah dan berikan aku cucu,” balas Ibunya seraya menepuk punggung Kyuhyun pelan.

Mereka sama-sama menyeringai.

Baru lima menit Kyuhyun masuk ke rumahnya yang kembali sepi, suara ketukan di pintu membuatnya kedua alisnya menyatu. Seingatnya tidak ada satu pun barang Ibunya yang tertinggal.

Ketukan itu semakin keras di setiap langkah Kyuhyun menuju pintu.

“Ada ap—“

Begitu pintu terbuka seekor Kecebong melompat memeluk perutnya. “OLD MAN!”

Dunia seolah berputar. Bukan karena tak kuat menyangga berat Kecebong itu, melainkan bahu kecil Hyo In tertutup sweater krem kebesaran dan legging hitam, berdiri dengan cantik dan wajah kaku di depannya. Rambutnya digelung asal, beberapa helai yang lebih pendek lolos dari ikatan membingkai wajah kecilnya. Pipi yang agak chubby itu memerah.

“Halo, Tadpole, bagaimana kabarmu?” Tanyanya seraya menggendong Sarang.

Bocah itu cemberut. Hidungnya masih bersemu merah. Pipinya pun jadi bertambah bulat. Semakin diteliti Kyuhyun bisa melihat bekas lelehan air mata di sana. “Kecebong tidak pernah menangis, kautahu.”

“Mama jahat,” keluhnya.

“Husss.”

Kyuhyun menepuk pelan rambut Sarang yang sudah memeluk leher dan menyembunyikan wajah di bahunya. Melihat Hyo In masih berdiri kaku tanpa mengatakan apapun membuat hasratnya yang ingin segera menyentuh wanita itu meningkat. Sisi humor Kyuhyun muncul ketika Hyo In tak mau repot-repot menatapnya.

“Ayo masuk. Di luar dingin.”

Perasaan seorang Ibu sangat mudah ditebak. Sekesal apapun Hyo In pada anaknya Kyuhyun sangat yakin wanita itu takkan pernah mau meninggalkan Sarang dalam keadaan seperti ini. Jadi ketika Hyo In menyambut tangannya senyum kemenangan terkembang dengan gagah.

Mereka duduk di sofa ruang tamu dengan Sarang yang masih berada di pangkuan Kyuhyun. Sejenak suasana begitu dingin meski ada banyak orang di sini. Apalagi sepi sangat tidak sesuai jika ada Sarang dan Hyo In. Pandangannya bergantian memerhatikan mereka.

Sarang diam, Hyo In diam. Sarang menjulurkan lidah, Hyo In mendengus memalingkan muka. Mereka lebih terlihat seperti kakak-adik yang sedang bertengkar daripada anak yang sedang marah dengan Mamanya.

“Aku punya banyak snack kedelai, ada yang mau?”

I told her I wanted to see you.”

You know my answer was no.”

“Mama, don’t be rude to me,” protes Sarang.

You are being noisy these days.” Hyo In berkata dingin.

“Apa aku masih berguna di sini?” Sela Kyuhyun.

You stay here!”

“Oke.” Kyuhyun langsung mengangguk, diam mendengar jawaban Ibu dan anak itu.

“Kita buat perhitungan setelah ini,” sambung Hyo In berapi-api.

I just wanted to see him, Mama?!” Kukuh Sarang. Mempererat pelukannya di leher Kyuhyun.

Kyuhyun menatap Hyo In yang terdiam kala melihat mata Sarang berkaca-kaca. Mata bulat yang sudah sering mengalahkan egonya. Mulut Hyo In tertutup seketika mendengar suara senggukan Sarang. Bocah itu mencebek. Ukuran bibirnya melebar dua kali lipat. Wajahnya memerah. Dan saat itu juga Kyuhyun yakin sanggahan apapun yang hendak wanita itu lontarkan luruh seperti lumpur terkena semprotan air bertekanan tinggi.

Hyo In mengembuskan napas panjang. Membuka tangan. Sarang langsung menghambur ke pelukannya. Tangis Hyo In pecah begitu saja. “No, sweetling, I am sorry.” Melepas pelukannya, Hyo In menangkup wajah Sarang, mengelusnya dengan lembut seolah wajah mungil itu adonan pecah belah yang baru saja dibentuk dan bisa rusak jika terkena gerakan mendadak. “Jangan menangis lagi. Nanti matamu bengkak,” katanya sambil menciumi seluruh wajah Sarang.

Bocah itu mengangguk patuh. “SaSarangeun eoeommareul saranghanda,” ujar Sarang sesenggukan.

Eommaneun Sarangeul Saranghae.”

Kyuhyun bukan tipe pria melankoli. Drama juga bukan tontonan favoritnya. Namun, ketika menyaksikan pernyataan cinta paling konyol yang ajaibnya terasa begitu tulus ini setetes air mata lolos dari kelopak kanannya.

Ibu pernah bilang, jika tetes pertama air matamu jatuh dari mata kanan itu tandanya air mata bahagia.

Mungkin memang begitulah perasaannya sekarang. Ya, bahkan hanya dengan melihat Hyo In dan Sarang tak lagi bersitegang seperti yang terakhir kali dia lihat membuat beban di dadanya terangkat.

Sambil menyerot ingus Sarang mencoba peruntungannya. “Kalau begitu malam ini Sarang boleh ‘kan tidak belajar?!”

Senyum Hyo In langsung hilang. Garis bibirnya mendatar. “Tidak. Besok ada praktek menulis hangul jadi kau harus belajar malam ini,” katanya mantap, tanpa keraguan sedikitpun.

Sarang melemas. Matanya membulat saat menoleh Kyuhyun. “Paman—“

Dia bisa saja mengiyakan, tapi tidak untuk sekarang.

“Dengarkan Mama.” Kyuhyun bisa melihat otot wajah Hyo In melemas. Sepertinya dia sudah terlalu sering menolerir Sarang dan lega ketika Kyuhyun memilih tak berada di pihak anak itu. “Aku punya banyak snack kedelai,” tawarnya lagi, mengalihkan perhatian. “Rasanya manis, tapi sehat. Begitu kata Ibuku.”

Sarang melihat Kyuhyun dan Mamanya bergantian dengan wajah menekuk. “Tambah susu strawberry, kalau begitu.”

Menyesal sekali rasanya dia tak punya minuman kesukaan Sarang. Tapi bocah itu sekarang sudah duduk di atas karpet bulu bermotif kulit zebra di depan TV. Sibuk melarikan pensil di atas kertas,menirukan contoh huruf hangul yang sudah ditulis Kyuhyun sebelumnya di atas meja lipat kecil. Di bawahnya sudah berhamburan bungkus snack kedelai. Fokus pria itu teralih ketika Hyo In mengikuti mereka setelah mengambil tiga botol susu untuk Sarang dan dua botol jus jambu untuk mereka. Jantungnya berpacu semakin cepat ketika Hyo In duduk di sampingnya. Bahu mereka hampir menempel kalau saja Sarang tidak duduk di antara keduanya.

Senyum menutupi kegugupannya begitu menerima botol jusnya. Sarang langsung menyambar susunya tanpa suara.

“Aku minta maaf.”

Pernyataan Hyo In membuatnya terhenyak. Wanita itu tak mau membiarkan sejenak saja waktu canggung menyelip.

“Termaafkan,” sahut Kyuhyun, membalas senyum lembut Hyo In.

“Dia sangat rewel seminggu ini. Aku sampai tidak tahu harus bagaimana.” Suara lemah Hyo In menyita perhatiannya semakin banyak. Wanita itu bicara tanpa menatapnya tapi memandangi Sarang dari belakang sembari mengusap rambut lurus bocah itu yang tergerai berantakan. “Terakhir kali anak ini tidak bisa dikendalikan adalah saat yang paling mengerikan dalam hidupku. Sarang terus memanggil nama Papanya. Beberapa hari ini juga begitu. Tapi dia terus memanggil namamu.”

Memangnya kemana Papa Sarang, apa yang sudah dia lakukan pada kalian?

“Aku tak pernah berharap hal itu terjadi,” balas Kyuhyun menyesal.

Hyo In menatap Kyuhyun lagi. “Aku tahu. Lagipula sikapku juga sudah keterlaluan.”

“Kau hanya mencoba melindunginya.”

“Dia hartaku yang paling berharga.”

“Pasti menyenangkan punya anak seperti Sarang.”

“Tidak.” Kyuhyun mengernyit. “Sangat menyenangkan,” sambung Hyo In sambil tertawa.

Kyuhyun ikut tertawa. Beberapa detik mereka hanya meneguk minuman. Kemudian Sarang bingung cara menyalin salah satu huruf yang menurutnya salah lalu melempar pensil dan kertasnya karena tidak bisa melakukannya. Jika saja ada Sarang pasti jadi satu-satunya kecebong yang punya tanduk, bukannya ekor.

Hyo In memeriksa arloji. Penyebab rewel Sarang sudah jelas. “Jam delapan. Ayo, Sayang, kita pulang. Waktunya tidur.”

“Sarang tidur di sini saja.” Mata Hyo In melebar. Memelototi Sarang yang tidak tahu takut sama sekali. Bocah itu malah dengan santai rebahan di atas karpet tanpa bantal. “Di sini hangat.”

“Ya Tuhan, aku bisa gila.” Gumaman Hyo In membuat Kyuhyun terkikik.

“Tidak apa-apa. Tapi lebih baik tidur di atas saja. Kalau malam di sini banyak tikus.” Kyuhyun mencoba menakut-nakuti Sarang.

“Sarang tidak takut. Mama ‘kan bisa jadi kucing, kalau ada tikus pasti langsung dicakar.”

Salah strategi.

Hyo In mendengus. Tak mengacuhkan celotehan anaknya sambil melipat meja kecil dan memberekan peralatan belajar Sarang. “Malam ini mama mau jadi hamster saja.”

Sarang bangkit memegangi lengan Hyo In. “Kenapa? Mama janji mau jadi kucing kalau ada tikus yang mendekatiku.”

Mata Hyo In memicing, berlagak tidak peduli padahal senyum di wajahnya hampir tak bisa disembunyikan. Kyuhyun sendiri menikmati pemandangan itu. Mereka begitu berisik, tapi tidak menganggu. Justru membuatnya nyaman. Rumah ini juga terasa semakin hangat. Seperti diselimuti mantel bulu beruang kutub saat musim dingin.

“Mama cuma bilang bisa jadi apapun dan kapanpun. Kebetulan malam ini mama tidak mau jadi kucing jadi kalau Sarang mau tidur di sini, tidur saja sendiri. Mama mau pulang.”

“Mama nakal! Mama jahat!” Entakan kaki kecil Sarang teredam bulu karpet. Akhirnya Kyuhyun merasa saat inilah perannya dibutuhkan karena teriakan protes Sarang semakin lama semakin kencang. Apalagi ketika melihat Hyo In sudah membawa tas ranselnya dan melenggang dari ruang TV tanpa memedulikannya. Tentu saja Hyo In tak benar-benar sejahat itu. Dia hanya sedang nakal. Terlihat dari bahunya yang bergetar.

Sambil menggendong Sarang Kyuhyun mengikuti Hyo In dari belakang. Begitu sampai di depan pintu wanita itu berbalik.

“Jadi?”

“Mau tidur di sini! Pokoknya di sini!!!”

Untuk pertama kalinya Kyuhyun mencubit pipi Sarang. Bukan karena gemas, tapi sebagai hukuman. “Minta maaf sekarang, Sarang. Paman tidak akan membiarkan anak yang berani berteriak pada Mamanya menginap di sini.” Kemudian menurunkan Sarang. “Minta maaf dengan benar. Dengan cara orang Korea.”

Sarang melirik Kyuhyun dengan sebal tapi tatapan serius Kyuhyun membuatnya patuh begitu saja. “Membungkuk! Ya, benar begitu,” arahnya. “Ucapkan permintaan maaf setulusnya.”

Jeoseonghamnida.”

“Ulangi dua kali lagi!”

Senyum Hyo In semakin lebar. Dia bahkan berlagak seperti orang yang baru saja menang lotre selama melihat Sarang menjinak.

Setelah selesai minta maaf bocah itu menggenggam tangan Mamanya seraya berujar dengan lirih. “Malam ini saja, Mama, aku mau Paman Kyuhyun membacakan cerita untukku.”

Mata bulat bersinar itu tak mungkin bisa diabaikan. Maka setelah mengambil sikat gigi dan buku cerita dari rumah, Sarang terlelap di balik selimut Kyuhyun. Pria itu turun dari ranjang dengan sangat hati-hati mengingat sulitnya menidurkan Sarang. Keluar dari kamar seperti berjalan di ladang ranjau karena gerakan sedikit saja membuat Sarang bergerak gusar.

Berhasil keluar dari ladang mengerikan itu bukan berarti akhir yang baik karena Hyo In sudah menunggunya di depan kamar. Bahunya menempel di dinding, menatap lekat Kyuhyun dari ujung kaki sampai kepala. Tadinya dia berpikir ini akan jadi urusan yang panjang tapi begitu Hyo In tersenyum lembut seraya menghampirinya dengan langkah anggun apa yang mungkin saja berakhir buruk tak lagi ada dalam pikirannya, seperti daun rimbun yang rontok tertiup angin musim gugur.

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

Kepala Hyo In mengedik ke arah kamar yang pintunya tertutup. “Tidak semua orang bisa menolerir sikapnya.”

“Dia hanya merindukanku.”

“Sepertinya begitu.”

Helaan napas Hyo In membuatnya penasaran. “Kupikir kita sudah berbaikan,” kata Kyuhyun sambil menggiring Hyo In turun ke ruang tamu. “Cerita saja kalau kaumau. Aku di sini untuk mendengarkan.” Senyumnya melebar menerima sikutan pelan Hyo In di perut.

“Kautahu aku takkan mudah dirayu hanya karena kau bersikap baik.”

“Aku tahu.” Kyuhyun tersenyum getir.

“Aku sudah memikirkannya. Kurasa—“ Hyo In nampak gusar dan ragu sebelum menghela napas panjang lagi dan melanjutkan, “Sarang menaruh harapan terlalu banyak padamu.

Kau bersikap lunak, kadang tegas di saat yang tepat. Itu membuatmu sempurna bagi Sarang. Batin Hyo In pedih.

Dengar, Kyuhyun, kau punya kehidupan sendiri yang nyaman. Aku berusaha untuk tak merusaknya. Ini semua demi kebaikanmu. Jangan terlalu dekat dengannya.”

“Apa menurutmu dengan menjauhkanku darinya bisa menghilangkan harapan Sarang?” Karena sejujurnya aku tak keberatan Kecebong itu berpikir demikian terhadapku. Kyuhyun menggenggam lembut tangan Hyo In. Tatapan mereka bertemu. Wajah manis wanita itu berubah khawatir. Usapan Kyuhyun di punggung tangannya masih tak bisa meredakan apapun yang bergejolak dalam hatinya. “Look, this is my choice. Aku tahu apa yang kulakukan. Baik dan buruknya sudah kupikirkan. Aku senang bersama anakmu. Kami berteman baik. Dia gadis kecil yang pintar dan baik. Yah, sedikit manja dan menyebalkan juga—“

Hyo In tersenyum meskipun dahinya masih mengerut ragu, berusaha tak menyetujui apapun sangkalan Kyuhyun nanti.

“Jika kau menyayanginya maka biarkan Sarang mendapat apa yang belum dia dapatkan, sejauh itu tak menyakitinya. Kalau sampai dia memintamu untuk menikah denganku—“

“Ya Tuhan, kau tidak akan pernah menikah denganku,” sembur Hyo In sambil tertawa.

Ditolak! Padahal belum apa-apa.

Kyuhyun tersenyum getir. Menyembunyikan getar nyeri yang menyelip hatinya tiba-tiba. “Itu ‘kan hanya kemungkinan.”

“Ya, aku tahu. Tapi kuyakinkan padamu, kau lebih baik menikah dengan wanita lain. Masih banyak yang lebih baik dariku tentu saja.”

Tapi aku menginginkanmu.

“Kurasa kau cukup baik.”

Hyo In terhenyak. Membuat Kyuhyun menjerit karena cubitannya hingga lengan Kyuhyun memerah. “Berhenti merayuku, Paman Tua. Tidak lucu.”

“Ya, ya,” Kyuhyun tertawa. “Tapi aku tidak janji akan menikah dengan orang lain.

“Oh, lupakan. Dasar.” Hyo In memutar mata malas. Menarik tangannya dari genggaman Kyuhyun kemudian berdiri. “Aku mau pulang. Sarang tidak akan bangun sebelum jam lima besok.”

“Tidur di sini saja.”

“Sarang mau tidur denganmu, bukan denganku. Kupikir aku terlalu mencintainya sampai rela kau mengambilnya meski hanya semalam. Aku sudah gila.”

Langkah Hyo In terhenti, berbalik kaget melihat tangannya ditahan Kyuhyun.

“Aku yang akan gila kalau kau pulang.”

Suara itu menusuk hatinya lagi. Sengatan kecewa ketika sadar kalimat itu ditujukan padanya bukan dengan maksud lebih intim. Sarang anak yang berisik, Kyuhyun pasti terganggu. Setidaknya begitulah yang ingin Hyo In percayai. Tangannya melemas, membiarkan Kyuhyun menahannya.

“Kau temani Sarang. Biar aku tidur di kamar tamu.”

“Tidak. Sarang ingin tidur denganmu. Biar aku yang tidur di kamar tamu.” Sanggah Hyo In.

“Kamar tamunya agak kotor.”

“Tidak apa-apa. Apa kaumau kita tidur seranjang, huh?!”

Ide terbaik yang pernah kudengar. Seringai muncul begitu saja di wajah Kyuhyun. “Jangan, kalau begitu?!” Godanya sambil mengedipkan sebelah mata.

“Kyuhyun!” Gerutu Hyo In.

Manis sekali. Persis Sarang yang sedang merajuk. Tapi versi lebih seksi.

“Ya, ya, aku tidur di—“

Ketukan di pintu Kyuhyun menghentikan perdebatan mereka. Kyuhyun dan Hyo In langsung bergegas membuka pintu. Mata Kyuhyun menyipit penasaran sementara Hyo In terbelalak dengan mulut terbuka lebar.

“Apa yang kalian lakukan di sini malam-malam?!” Sembur Hyo In begitu melihat kedua orangtuanya berdiri tanpa dosa di depan pintu.

“Seharusnya aku yang bertanya ‘Apa yang kaulakukan di sini malam-malam?’.” Kemudian melempar pandangan pada Kyuhyun yang tersenyum canggung, masih tak paham dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi. “Di rumah seorang pria lajang, kalau perlu kutambahkan,” sengit Ibunya.

“Aku tidak sendirian. Sarang sedang tidur di atas.” Hyo In membela diri. Suaranya direndahkan tapi kekesalannya sangat terlihat. Wajahnya menekuk.

“Cucuku di sini?” Tanpa menunggu jawaban Ibu Hyo In langsung menerjang masuk. Hyo In mengikutinya sambil berteriak tak terima dengan sikap tidak sopan Ibunya.

Begitu sadar Kyuhyun langsung membungkuk melihat Ayah Hyo In masih berdiri di depan pintu mengamati istri dan anaknya masuk ke rumah itu. “Selamat malam, Paman.”

Ayah Hyo In tersenyum pelan. Pembawaannya yang santai dan perawakan tinggi besarnya sedikit-banyak membuat Kyuhyun gugup. “Malam. Boleh aku masuk?”

“Tentu saja.”

“Apa masih ada kamar kosong di sini?” Tanyanya sambil melihat sekeliling rumah Kyuhyun.

Meski agak bingung kenapa ayah Hyo In menanyakan itu tapi Kyuhyun masih bisa menjawab, “Ada kamar tamu.”

Ayah Hyo In tersenyum senang kemudian menepuk pelan bahu Kyuhyun. “Terima kasih. Kurasa satu kamar saja cukup.”

“Maaf, Paman?”

Ayah Hyo In menjawab dengan santai. “Apa yang akan kaulakukan kalau tahu anak perempuanmu tidur di rumah seorang pria lajang?” Jeda sebentar memerhatikkan ekspresi bingung Kyuhyun. “Kami akan menemaninya, tentu saja.”

Kyuhyun melongo melihat Ayah Hyo In langsung melenggang menaiki tangga menuju kamarnya—menyusul istri dan anaknya yang sudah masuk lebih dulu. Pikiran Kyuhyun melayang kemana-mana mulai dari “Keluarga macam apa yang dimiliki Hyo In?”, “Bagaimana bisa ada orangtua yang lebih menyebalkan selain Ibunya sendiri?”, dan sepertinya sudah diputuskan dimana dia akan tidur malam ini.

Sofa yang terbaik.

Advertisements

35 thoughts on “[Chapter] Single Mom Next Door 5

  1. Haha, orang tuanya hyo in kok bisa tau kalo putrinya menginap dirumah bujang tua 😀
    Harusnya ibu nya kyuhyun masih disitu biar makin seru, wkwk~
    Sarang bener2 kecebong yg ngegemesin ❤

  2. Sebenernya menurutku ada yg janggal kak pas bagian (aku lupa paragraf berapa) “melarikan kertas di atas pensil”, mungkin koreksinya itu aja hehehe

    Truuus aku suka pas bagian kyuhyun ngutarain secara tersirat harapan kalo mereka nikah tapi si hyo in keburu nyanggah wkwkwk. Duh sedih bener bujangan tua hahahaha

    Kecebooong, gemes banget huhu. Aku suka kaaak, semangat terus yaa hehehehe😂

  3. kirain yg ketuk pintu ibunya kyuhyun, eh ternyata malah orang tuanya hyoin… terusknpa orang tuanya hyoin ko’ bisa disana, mereka mau ngapain??
    ditunggu lanutannya 🙂
    semangat 😀

  4. akhirnya post setelah sekian lama nunggu,,,akhirnya mereka berbaikan,,,itu orang tuanya hyo in ajaib banget,apalagi ayahnya.seandainya ibunya kyuhyun tiba2 balik lg ke rumah kyuhyun,pasti tambah seru dan rame rumahnya kyuhyun

  5. Ya ampun 1 kelga pindah nginep drmh kyu kkkkkk lucu sarang ternyata tdk bisa jauh dr kyuhyun ya mkin lama kelamaan nganggap kyu sbg ayahnya

  6. yeayyyy sudah ada lanjutannya, kenapa patung kuda poninya belum di berikan ke sarang ? kasihan belum apa2 sudah di tolak ayo berusaha lagi, apalagi udah ketemu calon camer jangan lupa beri kesan yang baik biar tambah lancarrr mungkin hyo in masih belum mau membuka hati tapi kalo orang tua hyo in setuju di tambah sarang pastinya tinggal tunggu waktu saja

  7. Hahaha sarang dia bener2 kecebong anyut suka bgt bikin orang2 pusing dgn tingkahnya tp itu membuat jiwa ke-ayahan (?) kyuhyun keluar dia bijak bgt lembut dan tegas di saat yg tepat tp sayang ditolak hyoin bahkan sebelum berjuang :v dan jga para orang tua yg ajaib bgt

  8. hyo in bilang ahjushi tua gw jd inget “Om tolelet om”

    haa haa ngakak sama klkuan cast di part lima, kenapa pula orang tui hyoin dateng ?? kkk

    kyuhyun gagal berdua-duan lah #guling-Guling

  9. Ini keluarga koplak semua y dr org tua ampe cucunya asal aj klo bertindak,tp kyu kyny suka2 aj ama tindakn mrk
    Kpn nih momnt kyu hyoin ,pengin liat mrk bersama

  10. Ceritanya makin menarik, anak kecebongnya rindu sama old man apa mama kecebong nya nggak? Hehe
    Suka deh sama scene Kyuhyun ungkapin secara ga langsung harapan dia buat nikah sama sama Hyo In ,tp udh ditolak duluan, u,u
    Berarti usaha mu harus lebih giat lagi Kyu? Hehe
    Jd itu satu keluarga kecebong nginep dirumah old man gitu,haha
    Tp ngomong-ngomong siapa gerangan wanita yg dimaksud ibu Kyuhyun,kuharap itu Hyo In :3 hehehe telolet

  11. Waduhhhhh,,,
    Kya’a Kyuhyun udah memberi sinyal sinyal kode buat Hyoin nih.
    Tapi sayang’a,seperti’a Hyoin masih belum bisa Move On tuh 😀
    Dan sayang’a, Sarang malah makin lengket sma Kyuhyun 😀
    Semoga mereka bisa Dipersatukan dengan Cinta deh :*

  12. Yuhuuu akhirnya update.. udh nunggu banget ini..

    Si kecebong udh apet banget sama Si om telolet wkwkwk😁 moga ibunya juga cepet apet yaaa

    Ayo dong ceritain masa lalu hyo in, penasaran banget sama ayahnya sarang.

    Aku kira yg ngetuk pintu ibu kyuhyun, pasti bakal girang tuh klo tau ada cwe di rumah si om. Lah itu ortu hyo in kok bisa tau klo anaknya ada di rumah si kyu?

    Lanjutannya jangn lama2 yaaa…

  13. Hahaha aku fikir kyuhyun bakalan punya kesempetan bisa berdua sma hyo in,setelah anak kecebong tidur.tapi malahan keluarga hyo in ikut minep juga.yg sabar yah kyuhyun klo ank kecebong aja dah mo nempel trus,besar kemungkinan mamanya kecebong juga pasti ngikutin.

  14. Aduuuh si Hyo In iniii
    gak peka kali dia
    Kyuhyun itu mulai menaruh harapan padamu
    ouwh Sarang kkkkk
    mulai ketergantungan sama Kyuhyun
    bisalah tu jadi Appa barunya
    ahahahaha
    Ibunya Kyuhyun kocak disini
    eiiih siapa tuh masa lalu Kyuhyun yg ngirim celana dalam wkwkwk
    aiiiih
    orang tua Hyo In pun melawak
    bisa2nya malah ikutan menginap di rumah Kyuhyun
    padahal rumah Hyo In disebelah wkwkwk
    dasar keluarga aneh sprti yg dibilang Kyuhyun hihihi

    waaaaah aku menunggu part selanjutnya
    semangat ya ^^

  15. Duhhhhh sarang makim cute aja ya

    Belajar yg rajin sarang
    Lah ini gmn ceritanya tiba2 aj ortu hyoin dtg gitu
    Untung mereka ga terlalu atau gak suka am gyu

    Pupus sudah
    MaLh tidur di sofa

  16. Kecebong manis yg bikin mamah nya sllu deket sama paman tua, sarang kayanya gak bisa pisah deh sama kyuhyun , semoga kedekatan itu bisa bikin hari hyo in lulur buat berima kyuhyun

  17. Baru nemu ffini langsung baca part inni.. Hua… Ffnya bagus. Keren suka sama istila mamakecebong. Jd klo kyuhyun jd ama hyo in dia bakalan jd papakecebong :v kkkk sarang juga.. Ihh lucu bgt.. Kecebong bertanduk.. Kkkk 😀

  18. aduh itu gimana ceritanya kok tiba* aja ada oranv tua hyo in? ah kyuhyun ternyata bisa manja juga sama mama nya kkk
    hyo in kyu itu serius haha..
    ah aku harap hyo in menerima kyuhyun dengan baik amin..
    oh jadi kyu pernah disakita sama cinta masalalunya? aku harap masalalu kyu tidak datang lagi di kehidupan kyu sekarang ya ka fighting ditunggu nextnya 🙂 🙂

  19. aduh itu gimana ceritanya kok tiba* aja ada oranv tua hyo in? ah kyuhyun ternyata bisa manja juga sama mama nya kkk
    hyo in kyu itu serius haha..
    ah aku harap hyo in menerima kyuhyun dengan baik amin..
    oh jadi kyu pernah disakita sama cinta masalalunya? aku harap masalalu kyu tidak datang lagi di kehidupan kyu sekarang ya ka fighting ditunggu nextnya 🙂 🙂 🙂

  20. Hahaha ceritanya makin seru…
    Hyoin bukalah hatimu untuk pria lain.. kalo menurutmu Kyuhyun sempurna dimata Sarang brarti Kyuhyun juga sempurna di matamu. Right?? Hohoho

  21. Wakakkakakkkakkkkkkk….udah ketauan kan sifat ” ajaib” sarang turunan dari mana? Buah jatuh g jauh dari pohonnya,dari kakek neneknya – hyojin – sarang….sempurna…

  22. Baru baca sekarang T.T

    Aku suka pas kakek Sarang bilang,”Apa yang kaulakukan kalau tahu anak perempuanmu tidur di rumah seorang pria lajang?”

    Dorr.

    Skak mat.

    And.

    “Tidak mungkin,” ditolak sebelum melakukan apa-apa.

    Entah apa yang dirasakan Kyuhyun saat itu juga.. wkwk.

    Good job Hyonie eonnie^^

  23. yang bikin heran sih gimana bapak ibu nya hyo in bisa tau anaknya ada dirumah kyuhyun… hahah

    blm apa2 udah ditolak… sabar ya kyu…

    suka semua interaksi antar tokohnya… berasa baca novel terjemahan… hahha…

    semangat buat next chapt nya yaaa….

  24. aaaa… keluarga ini benar2 membuat gregeten deh dan kangen abis deh. Kasihan Kyuhyun masa belum apa2 udah ditolak, ayoo… berjuang demi mama kecebong dan kecebong kecilnya

  25. Andwae kenapa harus tbc? Huwaa lagi seru2nya ini 😥 saeng jebal ditunggu kelanjutannya ❤ sarang oh sarang udah mulai lengket sama paman tua ya kkk mama nya juga udah mulai ada rasa 😉 ecie 😀 waah ortu hyo in udah tau nih kyu dan hyo in lagi dekat 🙂 semoga berjalan lancar deh^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s