[One Shot] The Alpha and I

The Alpha and I
Cho Kyuhyun (SJ)/ Song Hyo In (OC)
by Valuable94

Young Adult

untitled-1

Hyo In sangat siap menjadi terkenal karena dengan begitu apapun usaha yang dia kerjakan pasti akan diperhatikan banyak orang dan keuntungan bisa datang lebih cepat. Dia siap menyambut apapun tantangan yang disajikan dunia. Percaya diri, bisa, dan mampu melakukannya. Gagal satu-dua kali bukan apa-apa. Yang akan dia lakukan tetaplah sama. Berjuang, tak patah arang, dan selalu optimis pada apa yang menjadi impiannya.

Gadis itu sangat suka uang, makan, dan buku. Baginya, tak ada hal yang lebih penting kecuali tiga hal tersebut—tapi tolong pisahkan sahabat dan keluarga dari daftar itu, yang membuatnya bahagia menjalani hidup sebagai seorang wanita bernama Hyo In di dunia ini adalah mereka yang tak ternilai harganya. Sesederhana apapun keluarga mereka atau seburuk apapun rupa dan bentuk tubuhnya—meskipun dia tidak seburuk itu—bukanlah soal yang bisa menempatkan impian kecilnya ke dalam lubang terdalam bumi yang hanya bisa dijangkau Superman. Hyo In sangat yakin akan hal itu, seyakin kepercayaannya bahwa impian yang terlihat mustahil bukan berarti tak bisa terwujud. Yang paling penting dari semua itu adalah kegigihan. Dia akan melakukan apapun demi mendapatkan apa yang dia inginkan.

Termasuk menjadi wanita menggoda. Meski dia harus bekerja keras dan membatalkannya di lima detik setelah pikiran itu terlintas.

Bodoh sekali berpakaian seksi di musim dingin seperti ini. Sama saja dengan bunuh diri. Pikir Hyo In seraya merapatkan mantel. Dengan sekuat hati menahan godaan teman-temannya ke toko buku dia berdiri tegak walau kaki merintih tetap ingin duduk di sini.

“Aku harus mengejar impianku,” katanya penuh semangat menutupi keluh sesal dalam hati.

Teman-temannya mendengus kesal, ada yang tak senang, menggerutu, ada pula yang hanya menyuruhnya segera pergi dari taman kampus sebelum merantai Hyo In dan memasukkannya ke dalam karung goni.

Hyo In bergegas menuju gedung tempat kuliah umum dilaksanakan. Dengan sumringah memijak tanah dalam langkah penuh tekad pergi menyongsong masa depannya.

Cho Kyuhyun. Si Pintar terkenal berkacamata dengan tampilan rapi: ikal rambut cokelatnya jatuh dengan indah menutupi dahi, sweater merah tua dan celana berbahan kain jatuh dengan lembut menutupi tubuh tinggi tegapnya yang besar. Bukan besar seperti pemain-pemain sumo. Putih, wajah kurang ajar yang menawan, dan keseksian memancar setiap kali sudut bibirnya terangkat hingga cekungan di atasnya menarik setiap mata tetap menempel pada mereka. Tak terkecuali mata cokelat Hyo In. Jika kalian pernah melihat member Super Junior dengan nama yang sama, maka seperti itulah deskripsi impian Hyo In. Yah, setidaknya jika dia bisa mendekati pria itu maka impiannya akan terwujud lebih cepat.

Dia masuk ke dalam kelas sambil berlari. Namun, langkah kecilnya dikalahkan segerombolan gadis yang melewatinya sambil berteriak, tanpa sadar bahwa sepatu-sepatu berpangkal lancip itu hampir saja menembus telapak kakinya. Lebih parah lagi mereka menginjak kaki Hyo In—untungnya dengan flat shoes—dan tak menoleh barang sedetik pun sekadar apa dia baik-baik saja.

Bitches!” gumamnya seraya tertatih-tatih memasuki ruangan.

Hyo In sadar benar semua rencana yang disusunnya dengan rapi tidak berarti akan berjalan tanpa hambatan. Sama sekali berbeda dengan prediksinya bahwa dia akan duduk di samping Kyuhyun sambil mengangkat kaki kanan di atas kaki kiri, rok span hitamnya tersingkap dan akan memanjakan mata tajam Kyuhyun. Dia sangat yakin karena semua bulunya sudah tercukur rapi tadi pagi. Andai tubuhnya pernah tersentuh perawatan salon dia pasti akan melakukan hal itu. Tapi nyatanya dia malah berakhir di bangku paling belakang. Sepuluh kursi di belakang Kyuhyun mengenakan baju lapis empat. Hanya bisa melihat lengkungan punggung lebar nan kuat itu Hyo In bisa saja meneteskan air liur.

Sayangnya, pemandangan indah itu terhalang kepala gadis-gadis yang sudah seperti anak anjing menunggu tuannya pulang di depan pintu.

“Menjijikkan,” decih Hyo In.

Kuliah umum itu dihadiri banyak sekali mahasiswa dari beberapa departemen di fakultasnya. Dipimpin oleh seorang dosen sekaligus penulis novel favoritnya. Hyo In masih tak mampu mengalihkan mata dari sikap dingin Kyuhyun atas kegaduhan yang disebabkan oleh pria itu sendiri. Sudah berkali-kali pula panitia meminta anak-anak anjing itu diam tapi tetap tak ada hasil.

Perhatian Hyo In kembali tertuju ke sekeliling Kyuhyun. Baru sepuluh menit kuliah dimulai salah satu panitia mengajak Kyuhyun keluar ruangan. Hyo In terus memerhatikan mereka sampai pintu kelas tertutup. Para gadis itu berseru tak suka. Hyo In mendengus sambil berpangku tangan. Protesan mereka takkan berguna sama sekali. Lagipula Kyuhyun sampai dikeluarkan dari kelas itu juga karena mereka.

Dasar tidak tahu diri.

Padahal kenyataanya, Hyo In lebih tak tahu diri dari mereka. Selama berbulan-bulan ini mengerahkan seluruh tenaga dan teman-temannya mencari tahu tentang Kyuhyun. Hal yang belum pernah dia lakukan selama ini. Sikapnya sangat bertentangan dengan kebanyakan gadis di kampusnya. Dia bahkan harus memberikan banyak imbalan atas informasi berharga yang diberikan fangirlfangirl mengerikan itu dengan berpura-pura juga menyukai Kyuhyun. Bagaimana pun juga kemampuan spionase mereka benar-benar menakjubkan. Hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Daftar latar belakang Kyuhyun lengkap termasuk silsilah keluarganya sampai detil apapun yang berhubungan pribadi si Pintar itu tertera di sana, termasuk celana dalam favorit Kyuhyun—Hyo In tertawa saat membacanya. Membuat keraguan tak mungkin menghinggapinya lagi dan yakin Kyuhyun memang sasaran tepat.

Setelah kelas selesai Hyo In buru-buru keluar kelas. Kali ini tanpa halangan anak-anak anjing menyebalkan. Kakinya masih terasa sakit seperti terjepit di antara kusen dan daun pintu, mencegahnya tertutup. Agak pincang Hyo In menyusuri koridor menuju parkiran sepeda.

Sambil menerima panggilan dari sang Ibu menyuruh Hyo In segera pulang dan membantu membuat kimchi, matanya terpaku ketika menangkap gambaran seorang pria yang selalu dia perhatikan akhir-akhir ini. Lengan sweater-nya tertaut rapi menutupi leher mulus kemerahan. Badan tegapnya kini hanya berbalut kaos tebal berwarna putih polos. Warnanya seperti menyatu dengan salju yang sedang turun, melayang ringan memenuhi udara sebelum jatuh di permukaan caramel rambut Kyuhyun. Di depannya ada seorang gadis dengan luwes meliukkan badan sintalnya yang hanya berbalut kemeja berlengan pendek dan celana jins super ketat memeluk paha seksi gadis itu—salah satu mahasiswi dari departemennya. Terkenal genit tapi punya banyak penggemar—murid-murid pria hidung belang yang mudah dimanfaatkan hanya dengan melihat dua bukit menyembul di permukaan kemeja.

Dengan alasan ada urusan penting sebelum pulang Hyo In menutup telpon, mengambil duduk di gazebo dekat koridor sambil memerhatikan dua burung merpati  itu bertukar pandang. Kyuhyun dengan mata tajam dan wajah datar sementara gadis itu memandanginya penuh kekaguman. Hyo In sadar bukan kebiasaannya memerhatikan Kyuhyun dan para pengagumnya. Membaca novel lebih menyenangkan. Tapi dua bulan mencari tahu tentang pria itu membuatnya semakin tertarik mengetahui sifatnya lebih dalam demi bisa mendekati pria itu.

“Terimalah. Aku membuatnya sendiri setelah tahu kau suka red velvet.”

“Hum,” jawab Kyuhyun singkat seraya menerima bingkisan itu. Memerhatikannya tanpa minat namun tetap mengucapakan, “Terima kasih.”

Gadis itu punya harapan besar dalam sekotak red velvet. Seperti halnya Hyo In yang punya harapan besar dalam diri Kyuhyun yang semanis kue berwarna merah itu. Hyo In masih memerhatikan mereka penuh minat bahkan sampai gadis itu membungkuk sebelum pergi dan Kyuhyun berbalik, dengan langkah santai berjalan kembali ke jalan setapak yang mengarah ke kantin.

Hyo In tersenyum remeh. Dia pasti akan langsung memakannya. Ternyata Kyuhyun sama saja seperti pria kebanyakan, tak tahan terhadap godaan wanita seksi dan red velvet lezat. Dia pasti akan—

Hyo In terkesiap melihat kardus pink itu meluncur ke dalam tempat sampah.

What a dick!

Hyo In percaya dia bukan wanita suci tanpa dosa. Bahkan dengan niatan dalam dirinya berbulan-bulan ini menjadikannya semakin buruk. Dia juga tak menyukai gadis tadi tapi tetap saja sebagai sesama perempuan nalurinya menyingkirkan seluruh harga diri yang berusaha dia jaga.

Pergi mengambil kardus itu, Hyo In berlari sambil memanggil Kyuhyun. Sekali, dua kali, si Arogan itu tak menoleh. Melihat sepatu yang dia pakai tak memberi pertolongan sedikitpun mempercepat laju larinya Hyo In mencopot mereka kemudian ide itu datang begitu saja seperti kilat yang tiba-tiba datang menyambar tanpa peringatan.

Pluk!

Kyuhyun menunduk sambil memegangi kepalanya. Mengambil sebelah sepatu Hyo In sebelum berbalik. Bahkan setelah pukulan itu tak ada tanda-tanda kesakitan di wajah tampan itu. Dia hanya membuat Kyuhyun terlihat lebih manusiawi dengan mata tajam dan kedua pipinya yang memerah.

“Aku tahu kau mendengarku, Kyuhyun-ssi, jangan pura-pura tuli.” Suara Hyo In tak menyengat hati Kyuhyun sedikit pun.

“Kembalikan sepatuku!” Perintah Hyo In. Pria itu melihatnya skeptis dari ujung rambut sampai kaki kemudian memerhatikan sepatu pantofel di tangannya dan memasukkannya ke dalam tas.

Hyo In melongo. Sebelum menyampaikan umpatan-umpatan di ujung lidahnya Kyuhyun menyergah, “Aku tahu siapa kau tapi aku juga tahu kita tak punya urusan sama sekali.”

Mendengus keras Hyo In melempar sebelah sepatunya lagi. Kali ini Kyuhyun menghindar dengan mudah tanpa mau repot-repot mengambil pasangan sepatu yang dia tawan.

“Aku yakin sekarang kita punya urusan yang harus diselesaikan.”

“Kalau semua ini tentang panggilan tadi aku tidak akan minta maaf. Namaku bukan ‘Hei’ atau ‘Kau’. Dan soal sepatu, akan kusimpan sebagai bukti pelanggaran hak asasi manusia karena merusak ketenangan hidupku. Kurasa kita sudah selesai sekarang.” Kyuhyun berbalik. Tak acuh melihat pelototan Hyo In lima meter di belakangnya.

Untuk kesekian kali Hyo In salah menilai orang. Dia selalu berpikir seburuk apapun sifat seseorang pasti punya kebaikan walaupun tidak dominan. Tapi dia lupa bahwa sebaik-baiknya manusia pasti punya sisi buruk. Dan begitulah Kyuhyun di matanya saat ini.

“Kau—menjatuhkan sesuatu, Tuan Muda,” geram Hyo In. Dia tahu Kyuhyun benci panggilan itu dari laporan teman-temannya. Dia hanya tak peduli.

Jika pria itu marah, biar saja. Hyo In juga tak peduli.

Kyuhyun berbalik. Bukan wajah datar lagi yang dia perlihatkan melainkan seringai tipis di sudut bibir. “Aku membuangnya.”

“Tidak. Kau menjatuhkannya—di tempat sampah.”

Tanpa gentar Hyo In membalas tatapan itu. Wajah malaikat kurang ajar Kyuhyun tak dipungkiri memang membuat bulu kuduknya berdiri, terlebih dengan semakin menipisnya jarak mereka. Sweater itu tertutup keping-keping salju begitupun rambut pria itu. Kyuhyun terlihat seperti brownies bertabur gula halus.

Napas Hyo In tercekat begitu aroma kayu manis memenuhi hidungnya, mewangikan udara dingin di sekitar mereka. Seringai itu bukannya menghilang tapi malah melebar. Kaki Hyo In sudah seperti rumput laut yang belum dipanen. Bergoyang lembut terempas ombak.

Kyuhyun melipat tangan di depan dada. Menatap tajam Hyo In yang hanya setinggi dagunya. “Apa kau semacam pemulung atau pengemis? Mengais makanan di tempat sampah.”

Hilang sudah perasaan gadis belia jatuh cinta pada pandangan pertama. Mulut seksi itu benar-benar sekotor tong sampah.

“Kurasa kue ini tidak seharusnya berada di tempat sampah,” sungutnya. “Aku tahu ini bukan pertama kalinya kau menerima hadiah dari seorang gadis cantik, mengingat reputasimu sebagai anak orang kaya dan punya otak terlalu encer bahkan cairannya sampai meleleh keluar dan menyumbat telinga. Tapi aku percaya apapun motif gadis itu kau tidak seharusnya membuang makanan ini. Paling tidak hargai perasaan tulus menyukaimu.”

Kyuhyun mendengus, melihat sekeliling dengan senyum remeh. Senyum yang anehnya masih bisa melelehkan hati Hyo In yang seperti cokelat padahal dia sedang mencoba membenci si Arogan. Wajahnya bahkan menghangat. Ketika pandangan Kyuhyun kembali tertuju padanya, lebih tajam dan menggoda, Hyo In terdiam dan mulai berpikir mungkin kata-kata yang dia ucapkan tadi terlalu menyakitkan.

Tapi Kyuhyun pantas mendapatkannya.

Pikiran itu hilang begitu tangan besar Kyuhyun menyentuh bahu kecil Hyo In. Gadis itu bahkan hampir terjungkal ke belakang jika saja pria itu tak langsung menangkup sebelah bahunya lagi. Kemudian dengan pelan memutar kardus pink itu. Menunjukkan sisi kardus yang lain.

“Kaulihat? Gadis itu berbohong. Dia tidak membuatnya sendiri.”

Saliva Hyo In tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdegup kencang begitu melihat harga yang tertempal di kardus itu. Bukan masalah nominal, tapi kebenaran yang baru saja dia dapati lebih menyita perhatian. Hyo In mendongak ketika tangan-tangan Kyuhyun tak lagi berada di bahunya, mereka menangkup wajah Hyo In, bahkan mengempaskan kepingan salju dari pipinya.

“Lain kali pikir dulu sebelum menilai orang.”

Dan kecupan lembut di bibirnya menghancurkan pikiran rasional Hyo In, bahkan dia merasa dialah anak anjing yang tengah menunggu majikan pulang di depan pintu, dengan mata melebar penuh permohonan. Kerlingan mata Kyuhyun mengembalikan sosok gadis belia jatuh cinta pada pandangan pertama dan kaki rumput lautnya yang belum dipanen.

Sabtu-minggu yang pernah dilewatinya selama hampir tiga tahun ini selalu sama. Bisanya Hyo In menghabisan weekend dengan melakukan kegiatan di luar kampus. Bersama orangtua dan keempat temannya mereka selalu datang ke panti asuhan pinggir kota sambil membawa makanan dan buku-buku baru maupun bekas hasil sumbangan yang mereka kumpulkan melalui website dan fanpage. Hasilnya ternyata lebih banyak daripada berdiri di pinggir jalan sambil membawa kardus.

“Kita menyalurkan bantuan, bukan mengemis bantuan.” Begitulah kata Hyo In setelah satu hari penuh selama satu bulan tak mendapatkan apapun kecuali sikap tak peduli dari para pejalan kaki maupun pengendara. Sejak saat itu Hyo In berkeras akan mengumpulkan dana ataupun buku dengan cara yang lebih elegan—setidaknya begitulah yang dia katakan.

Membangun perpustakaan untuk anak panti di pinggir kota itu adalah impiannya. Dia suka membaca. Dia menemukan kebahagiaan dengan melakukannya dan Hyo In tak mau kebahagiaan itu tersimpan untuk dirinya sendiri. Itulah keuntungan yang selalu dinantikan. Tak mendapat penolakan apapun dari kedua orangtuanya atas obsesi yang tak berhubungan sama sekali dengan jurusan kuliah yang dia ambil, Hyo In bergerak cepat dengan mengerahkan sahabat-sahabat baiknya. Mereka mendapat bagian masing-masing dan usaha itu membuahkan hasil meski belum maksimal.

Hyo In masih butuh penyandang dana dan pemasok buku. Atas dasar itulah dia berusaha mendekati Kyuhyun. Pria itu tak pernah mendapat pandangan buruk dari teman maupun staff di fakultas mereka. Selalu berprestasi. Tuan Muda yang baik. Melakukan semua yang diharapkan banyak orang dengan sempurna. Kyuhyun memikul beban berat itu layaknya mengangkat selembar kertas di atas telapak tangan jadi ketika Kyuhyun berbuat seperti itu dua hari yang lalu Hyo in tak pernah menyangka sama sekali.

Menciumnya? Di tengah buaian salju.

Oh, andaikan itu drama seri pasti terlihat sangat romantis. Tapi baginya itu adalah bencana. Pikiran itu terus menggiringnya ke kesimpulan bahwa Kyuhyun hanya penggoda tak bermoral yang jauh dari gambaran Tuan Muda Baik seperti kata kebanyakan orang.

“Harusnya dia hanya tau belajar. Bukan menggoda wanita seperti itu,” gerutunya di sepanjang perjalanan menuju kelas. Matanya sesekali memerhatikan sekitar. Selama beberapa saat tertahan di tempat pertama dan terakhir kali mereka saling berhadapan, bertatap muka, berciuman—

Hyo In menggeleng keras. “Itu bukan ciuman. Itu godaan,” batinnya berulang-ulang. Tak memerhatikan ketika dia berbalik.

Pandangan Kyuhyun lurus ke depan. Berada di antara banyak pasang mata menatapnya seperti sudah menjadi makanan sehari-hari. Bahkan mungkin jika yang dikenakan pria itu hanya selembar baju rombeng penuh noda daripada mantel cokelat panjang Kyuhyun akan tetap terlihat seperti Tuan Muda Baik. Hanya lebih tidak terawat.

Yang paling menyebalkan adalah si Arogan itu tak membalas tatapannya sama sekali namun Hyo In terlalu pintar untuk menyadari hal tersebut sementara dirinya tertegun seperti monyet melihat bertandan-tandan pisang matang. Kyuhyun pisang yang berkualitas. Ketika jarak terpangkas, pria itu sudah berdiri terlalu dekat, mungkin lengannya akan menyenggol bahu Hyo In salah langkah sedikit saja. Kyuhyun menolehnya tanpa peringatan, sebelah mata tajam itu mengerling lagi dan salah satu sudut bibir penuh itu terangkat.

Sialan! Benar-benar bencana.

Hyo In merutuki diri sendiri sepanjang dua sesi kelasnya hari ini. Sampai-sampai ketika berkumpul di basecamp mereka—sudut taman dengan payung besar penghalau panas yang berlubang di beberapa tempat—Hyo In tak begitu memerhatikan penjelasan temannya mengenai donasi beberapa buku dari luar kota yang baru sampai tadi siang. Yang dia pahami hanya ‘bawa pulang buku-buku ini, kita akan membagikannya minggu depan’.

Dalam perjalanan pulang, seperti kemarin, dia melewati koridor yang sama. Koridor yang sudah ratusan kali Hyo In lewati dan tak terasa berbeda sama sekali sampai hari ini dimana dari tempatnya berdiri sekarang dia bisa dengan jelas taman itu, yang susah payah dia hindari dan jangan sampai melihatnya lagi. Menundukkan kepala sampai helaian rambut hitam panjangnya menjuntai seperti tirai, menutupi pandangan, menghalanginya mengingat kejadian kemarin. Tapi semakin menghindar dia semakin mengingat apa yang benar-benar ingin dia lupakan.

Sial!

Dan dobel sial begitu Hyo In berada di ujung koridor, meratapi pelataran parkir. Hujan saljunya kian deras. Sore ini kampus juga sudah sepi karena banyak kelas yang dibatalkan setelah peringatan akan datang badai sejam lagi. Jarak rumahnya dengan kampus memang tidak terlalu jauh tapi sekarang dia yakin roda sepedanya sudah terbenam tumpukan salju beberapa senti dan itu membuat semangatnya menurun.

Mengembuskan napas panjang dan lesu Hyo In mendongak merasakan kepingan-kepingan salju mendarat di wajahnya sebelum menunduk lagi melihat dua paket berwarna cokelat polos dalam dekapannya. Sekarang paket itu terasa berat, seberat jantungnya berusaha tetap memompa darah. Bagaimana mungkin dia tak menyadari banyaknya salju di sekitarnya sedari tadi.

Karena hati dan pipinya selalu menghangat setiap kali mengingat segala sesuatu tentang Kyuhyun.

“Mati aku,” desah Hyo In pasrah.

“Kau tidak akan mati hanya karena hujan salju.”

Hyo In terhenyak, mendongak. Mata sipitnya melebar sempurna melihat bayangan gelap dan besar mengungkung punggungnya. Mantel cokelat Kyuhyun terhampar di atas, menghalau salju. Dengan tinggi sekian senti di atas kepala Hyo In pria itu seperti payung manusia dengan bentuk paling indah. Mantel yang dia pakai sekarang masih bisa membuatnya menggigil tapi Hyo In menghangat lagi dengan cepat cuma karena pikiran itu.

“Sejam lagi ada badai, Tuan Muda.” Hyo In berusaha menutupi kegugupannya dengan menggembungkan pipi. Berlagak seperti gadis kuat yang sedang berusaha menghangatkan diri sendiri. Padahal berada di dekat Kyuhyun dengan jarak sedekat ini sudah bisa membuat darahnya mendidih.

“Ayo masuk!”

“Jika kau benar-benar pintar harusnya segera pulanglah jawabannya, bukan bertahan di sini.”

 “Peringatan dari kampus sudah empat puluh lima menit yang lalu. Rumahku jauh, jadi bertahan di sini adalah pilihan terbaik.” Hyo In melengos, memeriksa arloji. Wajahnya menghangat melihat jarum panjang itu sudah melewati angka sembilan. Dengan perasaan malu menoleh Kyuhyun lagi. Desah malas pria itu membuat Hyo In sebal. “Kalau rumahmu jauh kau bisa ikut denganku. Aku takkan menghitung berapa waktu yang kuhabiskan bersama gadis menyebalkan sepertimu. Itu sikap Tuan Muda Baikku yang tidak semua orang ketahui.”

Kaupikir hanya aku yang menyebalkan di sini?!

Bersungut semangat, Hyo In menjawab, “Rumahku—tidak—terlalu—jauh. Terima kasih.”

Seringai Kyuhyun tak bisa lepas sekeras apapun dia mencoba menghapusnya. Duduk di kursi perpustakaan menikmati teh hangat yang diberikan petugas perpustakaan dan penghangat ruangan yang bekerja dengan sangat baik—untungnya. Mereka sangat beruntung berada di tempat senyaman ini saat badai berkecamuk di luar sana. Menimbun apapun yang hanya setinggi beberapa inci.

Mungkin sesuatu juga sedang berkecamuk di pikirannya. Batin Kyuhyun, memerhatikan Hyo In duduk di kursi seberangnya. Wajah kecil gadis itu tertekuk, pipinya sudah tidak seputih tadi tapi dia terlalu merah.

Kyuhyun tersenyum lagi membayangkan Hyo In, si ketua klub baca tidak terlalu banyak peminat yang sangat optimis itu sedang malu. Dia juga menikmati gerakan canggung Hyo In menyesap tehnya.

“Kurasa tadi kaubilang rumahmu tidak terlalu jauh.” Kyuhyun menahan desakan tawanya lagi. Lebih mudah mengabaikan tatapan penuh kekaguman atau sikap penuh hormat orang-orang saat bertemu dengannya daripada gaya malu menggemaskan itu.

Ya, Kyuhyun pikir Hyo In sangat menggemaskan. Apalagi setelah sepatu pantofelnya mendarat di kepala. Ukurannya hanya tiga puluh delapan.

“Kubilang tidak terlalu jauh, bukan berarti terlalu dekat juga.”

Kyuhyun mengangguk. “Jadi kupikir—“

“Hentikan pikiran apapun yang sedang kaupikirkan sekarang, Kyuhyun-ssi, aku takkan peduli,” sengat Hyo In. Kali ini senyum Kyuhyun berhasil tersembunyi dalam wajah datarnya.

Mereka membiarkan kekosongan mengisi perpustakaan tanpa saling bertanya lagi. Hanya menatap keluar jendela, embusan angin kencang menerobos melalu celah-celah gedung, menyalurkan hawa dingin. Badai itu seperti memberitahu kekuatannya pada Kyuhyun dan Hyo In. Dengan begitu pikiran Hyo In segera keluar dari sini terhapus cepat sementara Kyuhyun menikmati setiap detik bergelung dalam selimutnya sendiri dan secangkir teh hangat yang mulai mendingin. Juga tatapan Hyo In yang sama dinginnya dengan badai salju musim ini.

“Kenapa kau melakukan ini?”

“Kenapa kau mengambil kardus yang kubuang kemarin?”

“Itu tidak menjawab pertanyaanku.”

“Kau juga tidak menjawab pertanyaanku,” balas Kyuhyun tanpa beban.

Hyo In mendecih. “Aku hanya mau kau menghargai usaha orang lain.”

“Dia tidak berusaha. Apa yang harus kuhargai?”

“Dia berusaha mendekatimu. Gadis itu berbohong karena menyukaimu.”

“Aku tidak suka membenarkan tindakan salah untuk alasan yang benar. Apalagi berbohong demi diriku. Kita sudah dua puluh tahun lebih. Jadi dewasa bukan lagi pilihan. Itu adalah diri kita.”

Diam, Hyo In membalas tatapan dalam Kyuhyun. Saling mempelajari profil satu sama lain. Hyo In menganggapnya perang sementara Kyuhyun menikmati setiap tembakan jitu yang dilontarkan mata Hyo In padanya.

Mana ada orang benci seperti itu? Wajahnya memerah lagi. Batin Kyuhyun geli.

Tak kuat menerima tatapan Kyuhyun gadis itu lebih memilih menunduk, menandaskan tehnya.

Kyuhyun menahan gerakan Hyo In dengan suaranya. “Aku seorang pria.” Hyo In duduk kembali. Mengurungkan niat mengambil teh di ujung ruangan. Memerhatikan pria itu dengan wajah lebih ekspresif dari biasanya. “Ada tanggung jawab besar bagi manusia berkelamin sepertiku, salah satunya memastikan seorang gadis tidak terkubur dalam badai yang bisa kupastikan akan membuatmu beku sebelum sampai rumah,” lanjut Kyuhyun tanpa menoleh.

Hyo In mendengus. Nada suara itu datar. Pilihan katanya kasar.

Pria macam apa dia?!

Well, terima kasih. Sebagai pria kau melakukan tugasmu dengan baik.”

“sama-sama.”

Mereka kembali terdiam tiga puluh menit kemudian. Bergelung dengan pikiran masing-masing sementara badai mereda perlahan. Kyuhyun sendiri bukan orang sabaran. Dia tak suka menyembunyikan kebenaran yang diketahuinya terlalu lama. Oleh karena itu, ketika Hyo In nampak lengah Kyuhyun memutuskan untuk meminta penjelasan akan hal yang sudah memenuhi pikirannya beberapa bulan ini. Tentang gadis itu.

“Jadi, untuk apa kau mendekatiku?”

Suara Kyuhyun menggema. Memenuhi ruangan dan tiap senti telinga Hyo In. Masuk ke otak dan diproses dengan sangat lambat. Dia bahkan tak begitu yakin apa yang didengarnya itu benar-benar keluar dari mulut kejam Kyuhyun.

Kyuhyun tahu. Tidak, dia belum tahu.

Kesulitan menelan saliva Hyo In menyembunyikan wajah dari Kyuhyun. Memainkan ujung selimutnya sambil memikirkan apapun kecuali Kyuhyun. Telur rebus, daging panggang, sup sapi, kimchi, acar lobak, jajangmyun, kue—red velvet, ciuman itu lagi.

Dia gagal mengendalikan diri. Hyo In kembali mendongak, sedikit terhenyak dengan tatapan Kyuhyun padanya, mata itu seolah mengatakan bahwa mengistirahatkan pandangan padanya merupakan cara paling ampuh menghibur diri. Hyo In sadar akan hal itu, Kyuhyun hanya menganggapnya sebagai lelucon. Pria itu—yang selama ini dikagumi banyak gadis—tak sebaik yang Hyo In bayangkan. Lidahnya bergerak penuh intrik.

“Aku tidak me-mendekatimu.”

“Gugup. Kuanggap itu kebohongan dan jika aku jadi dirimu lebih baik jujur sekarang karena aku sudah memerhatikan gerakanmu beberapa bulan ini. Follow semua akun SNS ku, masuk fans club Cho Kyuhyun, menyuruh orang mencari tahu tentang diriku—” Kyuhyun membungkuk, menumpukan siku di atas meja, menatap lekat Hyo In dengan seringai mengerikan yang melelehkan hati cokelat gadis itu dan membuat kakinya seperti rumput laut lagi, “kau melupakan sesuatu, Sayang. Bagian yang sangat penting, kurasa.” Hyo In mundur mendadak hingga punggungnya menempel keras di sandaran kursi.

“Tuan Muda selalu punya pelayan. Yang—sangat—setia.” Kyuhyun membungkuk gagah di depannya. Menutupi tubuh kecil Hyo In dari pandangan siapapun. Matanya menajam tapi sangat lembut jika dilihat lebih dalam lagi. Tanpa tahu bagaimana hal itu bisa terjadi Hyo In merasakan dengan benar kelembutan yang dipancarkan dari mata itu.

Suaranya tercekat. Banyak koleksi kosa kata yang hilang. “A-aku—em—“

Kyuhyun bukan lagi membungkuk tapi sudah duduk menjulang di atas meja. Hyo In tak menyadari gerakan cepat pria itu. Alhasil sekarang dirinya terlihat seperti seekor tikus di depan singa jantan. Terancam.

“A-aku punya alasan.” Napas Hyo In memburu. “Alasan yang bagus, tentu saja,” tambahnya cepat ketika melihat kernyitan di dahi Kyuhyun.

“Katakan!”

“Tidak. Kurasa tidak perlu. Aku sudah memutuskan untuk membatalkan urusan apapun yang berhubungan dengamu.”

Hyo In bangkit dengan cepat sampai puncak kepalanya menyundul dagu Kyuhyun. Anehnya, pria itu tak bergerak sama sekali. Lebih menikmati aroma shampo Hyo In ketimbang merasakan sakit di dagunya. Berbanding terbalik dengan gadis di depannya. Membungkuk grogi, minta maaf berkali-kali sebelum keluar dari perpustakaan.

Kyuhyun masih tak bisa membiarkan matanya berpisah dengan gambaran punggung kecil itu. Sampai jarak menghapus pandangan dari balik kaca, Kyuhyun menunduk mengembuskan napas pendek, tertawa kecil sambil mendengus. Menertawakan diri sendiri karena mengagumi gadis itu.

Kegigihan. Siapa yang tidak tahu betapa keras usaha gadis itu mempertahankan klub baca kecilnya. Promosi bersama teman-teman. Bukan cuma sekali-dua kali dia melihat Hyo In berdiri di pinggir jalan mengumpulkan sumbangan baik uang maupun buku. Tapi lebih sering lagi Kyuhyun melihat gadis itu pergi ke toko buku yang sedang mengadakan obralan tiap akhir pekan dan pulang dengan kedua tangan mengangkat kantong pastik berisi buku penuh bahkan setelah hari-hari yang melelahkan tanpa hasil. Tubuh kecilnya bergerak lincah di sepanjang jalan yang mereka lalui. Kyuhyun tak tahu apa yang sedang dikerjakan gadis itu. Dia ingin sekali mendekatinya dan menanyakan hal tersebut tapi para pengikut tak diinginkan itu membatasi ruang geraknya. Dia juga tak ingin Hyo In mendapat cacian atau teror karena kedekatan mereka. Hal itu otomatis membuatnya tak punya alasan menemui Hyo In. Jika pun ada Kyuhyun harus menghapusnya cepat-cepat.

Demi Tuhan, dia bukan selebriti. Hanya karena memiliki fisik tanpa cacat dan otak encer bisa membuat orang melupakan siapa Kyuhyun sebenarnya padahal dia sama seperti mahasiswa lain. Murid yang sedang belajar. Sama-sama menuntut ilmu.

Kyuhyun beranjak dari meja. Pandangannya terfokus pada satu benda di bawah kakinya yang tak sengaja terinjak. Ransel kecil berwarna merah jambu dengan pin Micky Mouse di bagian atas salah satu selempangnya.

Senyum Kyuhyun merekah seperti bunga sakura di musim semi. Lebih lebar dari biasanya. Hal yang sangat langka. Selangka alasan dan kesempatannya bertemu dengan Hyo In. Tapi kini dia punya semuanya dan tak berniat menghapusnya sama sekali.

Mau sampai kapan aku diam dan menunggu?!

Kyuhyun tahu apa yang dilakukannya memang jauh dari kata terhormt seperti apa yang seharusnya dia lakukan. Sebagai pewaris perusahaan penerbit buku terbesar di Korea Selatan sekaligus putra politisi dia harusnya belajar dengan giat untuk persiapan mengambil alih usaha rintisan keluarga itu bukannya bermain-main dengan masalah hati.

Matanya berhenti di atas meja. Hatinya selalu menghangat setiap kali melihat tumpukan brosur yang disebar Hyo In setiap bulan. Memerhatikan alamat yang tertera di sana. Bukan tanpa alasan pula Kyuhyun tak pernah mengirim salah satu anak buahnya ke sana demi memberi laporan tentang gadis itu. Hyo In tak pernah menganggu hidupnya. Dia satu-satunya gadis yang lebih menyukai alpha male di novel daripada di kehidupan nyata. Hyo In bahkan membenci dirinya.

Kyuhyun sudah sangat bersabar untuk tak menyentuh kehidupan pribadi gadis itu sampai akhirnya dua bulan yang lalu Hyo In mulai bersikap seperti para gadis kebanyakan.

Little stalker. Sebut Kyuhyun dalam senyum.

Pandanganya bergeser ke benda yang berada tak jauh dari tumpukan brosur itu. Ransel dan sepatu Hyo In. Pikirannya kembali pada pertemuan tak terencana mereka. Ciuman itu? Untungnya bukan kesengajaan—yang sangat disyukuri Kyuhyun karena dia hanya bermaksud menggoda. Dan baru tahu bahwa mulut kecil itu sangat lembut. Seperti krim susu. Membuatnya ketagihan ingin merasakannya lagi.

Keesokan paginya Kyuhyun sengaja bangun lebih pagi. Memerintah sopirnya menuju kawasan Gimpo, tempat tinggal Hyo In. Berjarak sekitar lima belas menit dari rumahnya menggunakan mobil dengan kecepatan sedang tanpa kemacetan.

“Berhenti di sini!” Perintah Kyuhyun.

Pria itu memilih keluar dan berjalan kaki menuju rumah Hyo In sambil membawa paperbag. Pagar rumahnya hanya setinggi pinggang Kyuhyun, sengaja dijalari dengan tanaman merambat yang rajin dipotong. Pintunya tidak dikunci hingga Kyuhyun bisa masuk dengan mudah. Rumah itu sedehana. Berbeda dengan rumahnya yang punya halaman luas, tiga lantai, terlalu lebar jika saja hanya dihuni dia dan kedua orangtuanya tanpa pelayan. Saat hendak menaiki undakan beranda Kyuhyun berhenti ketika Hyo In keluar dengan membawa dua rantang tertutup kain polos biru langit dan hijau.

Pandangan mereka bertemu. Hyo In tertegun. Kyuhyun tersenyum.

“Selamat pagi,” sapanya.

Hyo In menjerit, “Apa yang kaulakukan di sini?!”

Untung rantangnya tidak jatuh. Batin Kyuhyun lega.

“Aku—“

“Pergi!” Dia bencana.

“Tidak mau.” Enak saja mengusirku tiba-tiba. Aku baru sampai.

“Ini rumahku.”

“Rumah ayahmu.”

“Ya Tuhan.” Hyo In meletakkan rantang di atas meja yang berada di beranda. Menyeret Kyuhyun sampai mereka ada di luar pagar. Mencegah orangtuanya tahu ada “Tuan Muda Baik” ke rumah mereka. Takut orangtuanya pingsan. Apalagi Ayahnya sangat membenci partai Ayah Kyuhyun.

“Mau apa kau?”

Kyuhyun tak menjawab, hanya memberikan paperbag bergambar Micky Mouse pada Hyo In.

Alis Hyo In saling bertaut. Seraya menatap Kyuhyun curiga dia mengambil tas itu, mengintip dari atas dan langsung memeluknya. Besorak girang mendapati barang kesayangannya kembali dengan selamat tanpa cacat.

“Terima kasih,” ucapnya seraya membungkuk.

Kyuhyun tersenyum tipis sambil mengangguk. “Ketinggalan di perpustakaan dan itu—” kehilangan kata-kata untuk pertama kalinya hanya karena sebuah sepatu.

Hyo In mengangguk paham. “Ya, aku ingat.”

“Kenapa tidak menghubungiku?”

Hyo In langsung terdiam. Tak mendapat jawaban apapun yang tepat. Memutar otak mencari topik lain. “Bagaimana bisa kautahu rumahku?”

Tidak mau menjawab lagi, eh. “Aku—“

“Aaa, ya, ya, aku paham, pasti pelayanmu yang mencari tahu.”

“Bukan,” sergah Kyuhyun.

“Tidak usah malu. Kau biasa ‘kan melakukannya,” canda Hyo In. Yakin sekali dengan ucapannya.

Namun Kyuhyun menandaskan pendapat itu begitu saja seperti kapal layar menabrak karang. “Aku yang mencari tahu sendiri. Aku yang kemari sendiri. Pertama kali keluar rumah tanpa pengawalan. Sendiri kalau perlu kutambahkan,” katanya penuh penekanan sambil mengangkat masker hitam dari saku mantel.

Hyo In terhenyak. Membalas dengan gugup tatapan tajam Kyuhyun dan seringaian itu membuatnya gemetar sampai tak berani mengeluarkan suara.

“Ada yang aneh?”

“Y-ya. Untuk apa kau melakukannya—tiba-tiba?” Hyo In bersungut curiga. Menutupi kegugupannya berada sedekat ini dengan Kyuhyun. Dia bahkan baru sadar bagian depan mantel mereka sudah menempel. Hyo In hendak mundur tapi tangan panjang Kyuhyun sudah terulur hingga pinggangnya, menahan punggung bawahnya dengan telapak tangan lebar dan kuat tertutup mantel kulit. Semakin merapatkan tubuh mereka. Lapisan kain itu tak bisa menghalangi hangat yang disalurkan dari tangan Kyuhyun ke tubuhnya.

“Seperti dirimu, kenapa kau mendekatiku—tiba-tiba? Aku tahu sejak dulu kau tidak menyukaiku.”

Napas dingin Kyuhyun menerpa wajahnya. Baunya seperti permen mint. Sejuk. Apa dia bilang, Kyuhyun memang bencana. Dia membuat Hyo In menginginkan pria itu. padahal rencana awal dia hanya ingin mendekatinya tanpa maksud intim sedikitpun.

Tercekat, Hyo In menggeleng cepat sebagai reaksi otomatis. “TIDAK. aku memang tidak menyukaimu dan kau pun begitu.” Jawaban itu lebih terdengar untuk dirinya sendiri ketimbang Kyuhyun.

Pria itu mendengus, menundukkan wajah. Sebelah tangannya menangkup pipi tebal Hyo In, sedikit menekan untuk merasakan kekenyalannya. Hidung mereka bersentuhan, bibir mereka hanya berjarak sekian senti. “Jawab atau aku akan menciummu di sini.”

“Tadinya aku ingin minta bantuanmu. Aku mau mendekatimu. Kupikir dengan begitu kau pasti mau membantu usahaku dengan teman-teman,” kata Hyo In cepat tanpa jeda. Berharap Kyuhyun mengurungkan niatnya padahal dia tahu bagian lain dalam otaknya sangat menantikan hal itu.

Tertegun, Kyuhyun tetap berusaha tak menunjukkan ekspresi apapun padahal dalam perutnya terasa seperti ada kembang api yang meledak. Anehnya, dia tidak marah. Lebih aneh lagi dia malah bahagia. “Kau beruntung karena Tuhan mengirimkan aku padamu. Sekarang sebutkan bantuan apa yang kaubutuhkan.”

Hyo In menggeleng cepat. Menelan salivanya seperti menelan buah penuh duri. “Aku mengurungkannya. Sebaiknya aku mencari orang lain.”

Dan membiarkan Hyo In mendekati alpha selain dirinya. Oh, tidak. Seorang alpha tak pernah mau berbagi dengan siapapun bahkan bayangannya sendiri.

Tanpa peringatan semakin menarik pinggang Hyo In dan agak memiringkan kepalanya. Bibir mereka bertemu. Awalnya begitu lembut. Hyo In bahkan sampai menutup mata. Tanpa perlawanan membiarkan lidah Kyuhyun menjelajahi ruang mulutnya yang hangat dan lembut.

Selembut red velvet. Pikir Hyo In.

Semanis krim susu. Batin Kyuhyun.

Tersenyum lebar dalam ciumannya. Menenggelamkan Hyo In ke dasar samudra. Mendorong lembut bahu Hyo In, Kyuhyun melepas tautan bibir mereka setelah beberapa saat. Meski tak rela, dia menyeringai puas melihat bibir Hyo In memerah dan membengkak. Itu belum seberapa karena akan ada tanda di tempat lain yang menunjukkan kepemilikannya atas gadis itu.

Kyuhyun menarik wajah Hyo In, menyatukan dahi mereka, menghirup dan menghela napas bersama. “Jadi , apa yang kaubutuhkan dariku?”

“Buku.”

“Salah.” Kyuhyun menariknya lagi. Menyatukan bibir mereka, menekannya dengan lembut sebelum melepasnya. “Apa—yang kaubutuhkan?” Tanyanya sekali lagi sambil terengah.

Mata bertemu. Saling mengikat. Tak membiarkan salah satunya lari barang sedetikpun. Memaknai kedalaman jiwa dan pesan dari setiap kedipan atau bahkan kerlingan. Napas beradu. Senyum tertaut.

Dan Hyo In mulai paham apa yang sebenarnya diinginkan si Pintar di depannya ini. “Harusnya kau bertanya siapa—“

“Jadi?”

Hyo In mengerang. Bersandar pasrah di dada Kyuhyun saat pria itu menariknya dengan lembut. Menikmati usapan pelan di atas untaian rambutnya dan aroma kayu manis Kyuhyun. Hyo In menyukainya.

“Aku menginginkanmu. Membutuhkanmu. Jangan siksa aku lagi dengan tatapan itu, kumohon. Kau membuat kakiku lemas.”

Bahu mereka bergetar karena tawa. Kyuhyun memeluknya semakin erat. Tak ingin dingin menyelinap barang sesaat. Hyo In membenamkan wajahnya di dada Kyuhyun semakin dalam, malu setengah mati. Mereka sama-sama menyukai itu. Kyuhyun ingin sekali Hyo In mendengar detak jantungnya yang selalu tak karuan saat melihatnya, kadang hanya memikirkan itu saja membuatnya kehabisan napas.

Kyuhyun menunduk lalu berkata, “Kukabulkan. Semuanya,” mengecup daun telinga yang terhalang tirai rambut halus Hyo In.

“Dan kau milikku,” bisik Kyuhyun penuh janji.

Janji untuk menjaga Hyo In. Tak melepas gadis itu. Dengan atau tanpa alasan.

-FIN-

 

 

20 thoughts on “[One Shot] The Alpha and I

  1. hyo in itu emang ajaib ya karakternya,dan menggemaskan kayak yg kyuhyun bilang.ternyata diam2 mereka saling memperhatikan,hanya saja dg cara yg berbeda.suka pokoknya ama mereka

  2. ciyeee..eonni mah bikin mesam mesem pas bacanya…jadi temanya gengsi nih ye..bahasa penulisannya juga enak di pahami…langsung ngena sasaran..hehe
    ditunggu karya lainnya FIGHTING!!!!

  3. Sweet.. And benar-benar membuat aku meleleh.. haha
    Diam-diam saling perhatian.. dan akhirnya jadi..
    Aku tunggu sesi-sesi keindahan cinta dari dua sejoli ini.. hihi
    Semangat^^

  4. Asik asik ff baru. Bikin baper lagi. Jadi pengen jadi Hyo In.
    Ada sequel ga kak? Ada lahhh, aku sukaaa bangettt
    Ah, ak reader lama yang baru punya wp belum lama. Maaf ya kalo jadi siders. tp ak suka banget tiap karya kakak, kayak Reset itu. Berkat ff itu, ak berhasil nularin virus kpop ke temenku *curhat
    Pokoknya mau sequel ya kak, yang lbh gregettt. Semangadd

  5. Sambil menyelam minum air hyo in mah,deket buat bisa dapat bantuan ,dan buat bisa dapatin orang nya juga.kyuhyun juga sama jadi stalker buat hyo in.sama2 terbalas ini mah,ngegemesin deh pokoknya.

  6. hyoin niatnya mau minta bantuan doiang eh malah jatuh cinta sama kyuhyun…
    kirain kyuhyun tertarik sama hyoin gara2 di lempar sepatu, eh ternyata kyuhyun tertarik sama hyoin udah lama… dan ga mau deketin karena kyuhyun takut hyoin diapa-apain sama penggemarnya…
    kyuhyun manis banget kaya’ brownies yang ditaburi gula halus diatasnya😀
    ditunggu cerita lainnya🙂
    semangat😀

  7. Kya,,,,,so sweet,,,,,,,diabet akut nih!!!! G rela lo cuma jadi oneshot aja deh, mesti ada lanjutannya. Kisah mereka manis banget, semanis krim keju😙😙😙😙

  8. ah bagus banget ka ceritanya,ternyata kyu suka sama hyo in tapi takut buat pendekatannya karena ada fans nya yg amazing banget kkk
    bikin sequelnya dong ka🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s