[Chapter] Single Mom Next Door 4

Single Mom Next Door
By Valuable94

Starring:
Cho Kyuhyun (SJ)/Song Hyo In (OC)
and
Song Sarang (OC)

Young Adult

10477885_529726777153971_6048083022103699359_n

MAMA TADPOLE

Pagi yang sangat cerah dan indah. Hari pertama di Seoul yang membuat Hyo In bersemangat hanya karena melihat sebuah jendela rumah sebelah. Jendela tetangga barunya, si Bujangan Tua bernama Kyuhyun. Dari sini dia bisa melihat apa saja yang dilakukannya. Pria itu baru saja bangun, begitu pun Hyo In.

Masih pukul lima pagi, itu berarti ada waktu satu jam lagi sebelum Sarang bangun dan membuat kegaduhan. Dengan helaan napas penuh sesal mengabaikan Kyuhyun yang tengah memakai kaos, Hyo In bergegas ke dapur setelah meletakkan buku cerita di meja. Menyiapkan sarapan Sarang: sereal dan susu strawberry dan membersihkan rumah adalah agenda rutin selain merawat diri.

“Merawat diri, eh?” Oloknya pada diri sendiri.

Hyo In bahkan sudah lupa kapan dia benar-benar bisa melakukan hal tersebut setelah kelahiran Sarang. Rambutnya tidak pernah tersentuh creambath, badannya tak pernah lagi merasakan spa menyenangkan, apalagi perawatan kuku. Makanan macam apa itu? Ah, rasanya hal tersebut bisa dipikir belakangan setelah kebutuhan Sarang terpenuhi, dimana hal itu belum bisa dia lakukan. Atau setidaknya begitulah pikiran Hyo In selama ini. Apapun yang dilakukannya masih belum cukup. Terlebih menyangkut Sarang.

“Mama, I can’t find my shoes!”

Hyo In berlari ke kamar Sarang secepat yang dia bisa dengan blus biru laut dan celana hitam panjang tanpa sandal rumah. Mendengus kesal atas ekspresi letih yang dia rasakan. Seperti biasa, melihat kekacauan dimana-mana bukanlah hal aneh. Membiarkan gadis cilik itu mengurus keperluannya sendiri memang baik karena menurutnya memanjakan anak itu bukan tindakan yang benar, meski itu juga berarti menghancurkan kamar kecil nan indah yang sudah susah payah dia bersihkan setiap hari. Sarang harus belajar mandiri sedini mungkin. Jangan sampai sepertiku.

Hyo In harus melompati beberapa mainan, boneka, buku, pensil dan cat warna, kaus kaki, dan benda-benda kecintaan Sarang lainnya sebelum sampai ke tengah ruangan kemudian memeriksa setiap sudut yang kemungkinan menjadi tempat bersemayamnya sepatu itu. “Your shoes are on the rack, honey.” Gerutuan Hyo In tertahan seraya mengambil sepatu Sarang dari rak. “Right under your poor towel.”

“Ups! Aku pasti melempar handuk itu lagi,” katanya tanpa rasa bersalah sama sekali. Setelah mendapat tatapan tajam dari Mamanya Sarang langsung duduk di atas kasur sambil menyengir sambil mengangkat tangan. “Aku takkan melakukannya lagi. Promise!” Hyo In tertawa begitu melihat mata hitam bersinar Sarang. Dia memang takkan percaya bocah itu bisa menepati janji tapi mengatakan hal itu hanya akan membuatnya kecewa dan menghancurkan pagi indah ini.

Selesai menalikan sepatu dan memeriksa kesiapan dan kerapian Sarang, Hyo In memastikan kecebong itu menunggunya di luar kamar kemudian mengembalikan beberapa barang yang berada tidak pada tempatnya. Mereka turun sambil bergandengan tangan ke dapur, tempat sarapan yang lezat menunggu.

“Makan serealmu. Hari pertama sekolah pasti menyenangkan.”

Sarang mengangguk. Melahap sarapannya dengan penuh semangat. Hyo In selalu bahagia setiap kali Sarang mematuhi perintahnya tanpa banyak protes, terlebih sarapan bukan salah satu kegiatan favorit bocah itu.

“Mama, aku tidak sabar menanam bunga dengan Paman Kyuhyun. Jadi hari ini aku akan menjadi anak baik, pergi ke sekolah, pulang, tidur, dan pergi dengan Paman Tua itu.”

Alis Hyo In terangkat sebelah. Setengah hati tersenyum mendengar alasan Sarang. Tangannya terlipat di depan dada. “Uh-huh. Kalau begitu cepat habiskan sarapanmu.”

Kyuhyun, ya? Bujangan Tua itu. Mengejutkan sekali.

“Kautahu, Sayang, mungkin Paman Kyuhyun akan sedikit kerepotan dengan tanahnya.”

Bibir Sarang mencebek sebelum melempar sendoknya ke dalam mangkok. “Aku tidak peduli. Dia sudah bilang padaku dan begitulah rencananya.” Merasa napsu makannya hancur Sarang langsung turun dari kursi, menghampiri Hyo In. Bergelayut manja di lengannya. “Mama harus janji akan membangunkan aku siang nanti.”

Hyo In hanya bisa menghela napas. Pasrah.

“Baiklah.” Mungkin ini termasuk karma untuknya. Hyo In masih ingat dengan jelas bagaimana dia bersikap terhadap Ibunya saat seumuran Sarang. Hampir sama hanya saja Sarang lebih menyebalkan.

Setelah membereskan meja mereka keluar rumah sekitar pukul setengah delapan. Dengan langkah santai keluar pagar, untuk sesaat Hyo In sempat menoleh ke arah rumah Kyuhyun dan mendesah kecewa kala tak menemukan tanda-tanda kehidupan di sana.

Padahal tadi pagi aku masih melihatnya. Batin Hyo In lesu.

Mereka berangkat ke sekolah menggunakan mobil yang sudah disiapkan Hye Kyo sejak kemarin. Mobil itu sebenarnya milik Joong Ki, namun berpindah kepemilikan begitu yang bersangkutan berangkat ke Amerika dan kini diserahkan sepenuhnya pada Hyo In. Awalnya dia menolak. Oh, Hyo In memang selalu menolak apapun yang coba diberikan orangtuanya sejak kehamilan Sarang. Masa-masa buruk itu membuatnya berlajar menjadi pribadi mandiri tapi tetap saja keluarganya tak berpendapat sama. Setidaknya ada beberapa prinsip yang berbeda.

Bagi Hyo In, keteledorannya membuat dia tak pantas menerima belas kasih apapun dari mereka. Sementara keluarganya sendiri memiliki pendapat berlawanan. Hyo In tetaplah bagian dari keluarga itu apapun yang terjadi dan terlepas dari banyaknya hal buruk yang sudah dilakukan gadis itu di masa lalu. Tapi Hyo In takkan pernah menghiraukan hal itu. Paling tidak sampai saat ini. Dia hanya bersedia mengambil bagiannya di butik keluarga dan sebuah mobil bekas milik kakaknya—dengan catatan bisa diambil kembali begitu Joong Ki pulang—karena dia juga butuh uang untuk membesarkan Sarang.

Sarang lahir tepat sebelum ujian masuk universitasnya dimulai. Tiga tahun pertama Hyo In dan Sarang tinggal bersama orangtuanya. Setelah lulus kuliah Hyo In ingin tinggal sendiri dan bekerja membantu orangtua temannya yang membutuhkan akuntan di firma yang baru saja mereka bangun. Ide Hyo In menitipkan sarang di penitipan anak selama bekerja langsung ditolak keras kedua orangtuanya. Kesepakatan pun diambil, Sarang dirawat oleh mereka dan Hyo In boleh menjemputnya setelah pulang bekerja. Tahun-tahun itu berjalan lancar dengan halangan yang tidak terlalu berarti, hanya saja omelan tentang mengajak Hyo In pulang ke Korea bersama dan mengurus butik bersama Hye Kyo menjadi bahan perbincangan yang sangat dia hindari. Terutama ibunya, selalu membicarakan hal itu begitu sempat. Seolah di dahi Hyo In tertulis topiknya dengan jelas. Selama itu pula Hyo In menolak dan memilih bertahan di Inggris. Dia meminta waktu setidaknya sampai Sarang berusia lima tahun. Alasannya picisan sekali. Dia masih mencintai Papa Sarang kala itu.

Hyo In mengembuskan napas panjang begitu mobil mereka berhenti tepat di depan sekolah Sarang. “Kiss Me!”

Dengan semangat Sarang mencium kedua pipi Hyo In sambil bergumam, “I love you, Mama.” Lalu meluncur turun dari mobil. Hyo In menggandengnya dan menyerahkan Sarang pada seorang guru wanita yang sudah menunggunya di depan kelas.

Begitu pintu kelas ditutup, Hyo In tak langsung pergi. Tidak, dia tidak bisa melakukannya. Seberani apapun bocah itu nalurinya sebagai Ibu tetap tak tega meninggalkan Sarang di hari pertama sekolah. Dari balik kaca jendela senyum Hyo In terus terkembang sempurna, dadanya menyesak tatkala Sarang dengan penuh percaya diri menyebutkan nama dan dari mana dia berasal, bersama siapa dia tinggal, dan siapa saja orang-orang yang dia sayangi dimana—anehnya—nama Kyuhyun tersebut sebagai Paman Tua dengan bunga geranium yang baru dikenalnya.

Seperti biasa, Sarang sangat bangga menyebut arti namanya. “Kata Mama aku ada karena cinta. Itulah kenapa aku dinamakan Sarang. Senang berkenalan dengan kalian.” Sarang membungkuk, disambut tepuk tangan riuh dari teman sekelasnya. Sinar wajahnya memancar. Sarang bocah yang pintar. Dia mengingat semua yang dikatakan Hyo In dengan baik. Begitu pula dengan nasehatnya di malam-malam sebelum hari bersejarah ini tiba—untuk tak berbicara dengan bahasa Inggris saat berkenalan dengan teman-teman.

Tangis Hyo In hampir meledak karena bangga sebelum salah seorang temannya bertanya, “Kenapa hanya dengan Mama, dimana Papamu?”

Ledakan itu bukan berasal dari mata melainkan jantungnya. Tangan Hyo In gemetar dalam usaha menahan luapan emosi agar tak menghambur masuk dan segera membawa Sarang pergi dari kelas itu. Mereka memang pernah mendiskusikan hal ini beberapa kali dan Sarang tampak tak begitu paham ataupun peduli dengan penjelasan mengenai kepergian sang Papa. Saat semua perhatian tertuju pada Sarang, debaran jantung Hyo In semakin tak karuan. Mata Sarang mengedar kemana-mana, beberapa saat mata jernih itu bahkan tampak kebingungan. Dia sempat menunduk lesu. Namun, begitu menangkap keberadaan Hyo In yang tengah mengangguk meyakinkannya dengan gerakan bibir mengatakan, “I’m proud of you.” dari balik kaca, raut wajah Sarang berubah semakin cerah dan dengan percaya diri menghadap teman-temannya lagi. Dia bahkan menolak ajakan gurunya segera duduk di bangku dan mengabaikan pertanyaan itu.

“Mama bilang Papaku ada di suatu tempat tapi tidak di sini. Lagipula aku tidak membutuhkannya selama ada Mama,” katanya tak acuh. Riuh suara terkejut dari guru dan teman-temannya membuat Hyo In ingin tertawa sekaligus khawatir. “Kata Mama, seseorang berhak untuk tidak menyukaiku. Tapi aku tak perlu khawatir. Ada Mama, Nenek dan Kakek, Bibi, dan Paman Tua baik yang baru kukenal kemarin. Kami bahkan berencana menanam bunga nanti siang.”

Sarang membungkuk. Senyumnya menampakkan lesung pipit di kedua pipinya. Salah satu ciri fisik yang diturunkan Papanya. Pria itu juga memberikan sebagian kepercayaan dirinya pada Sarang dalam takaran yang sangat banyak. Setidaknya Hyo In patut bersyukur untuk bagian itu terlepas dari apapun yang pria itu lakukan padanya dan Sarang. Keluarga mereka memang tidak normal dan Hyo In sadar kesalahan itu miliknya sepenuhnya karena membiarkan Sarang kecil tumbuh dalam lingkungan seperti ini tapi melihat betapa tegaknya kepala kecil itu berdiri dia merasa semua memang akan baik-baik saja. Jika tidak seperti itu, apapun akan dia lakukan demi menjaga semuanya tetap baik.

Setelah memastikan Sarang duduk di sebelah seorang teman perempuan yang awalnya terlihat malu-malu saat diajak berkenalan Hyo In pergi dari sekolah dengan hati lebih tenang, bahkan pikiran harus mempersiapkan diri untuk panggilan dari guru wali yang bisa datang kapan saja setelah kejadian ini tak membuatnya gentar sama sekali. Sesak di dadanya perlahan menghilang begitu mobilnya turun ke jalan utama. Pagi ini dia bermaksud menjalankan tugas sebagai manager keuangan sekaligus coowner, mendampingi Hye Kyo di butik mereka.

Begitu sampai di butik Hyo In langsung masuk melewati beberapa pegawai yang sedang melayani pelanggan menuju ruangan yang sudah disampaikan Hye Kyo dalam pesan singkatnya di perjalanan tadi. Sesampainya di ruangan Hye Kyo dia tertegun sekaligus terkejut begitu melihat kedua orangtuanya duduk manis di sofa bersama Hye Kyo, menikmati teh hangat.

“Selamat pagi,” sapa Hyo In seraya membungkuk.

Sang Ibu langsung berdiri dan segera menghampirinya. “Sayang, ibu senang kau tiba dengan selamat,” katanya seraya memeluk Hyo In erat. “Berani sekali kau merencanakan semua ini tanpa memberitahu kami.”

Hyo In hanya tersenyum kemudian mengecup pipi Ibunya sebelum berganti memeluk Ayahnya seraya mendelik ke arah Hye Kyo.

Dasar ember bocor. Batinnya kesal.

“Aku senang kau baik-baik saja,” kata Ayahnya. Hyo In memejamkan mata menikmati tepukan lembut di punggung. Hatinya mencelos membayangkan Sarang takkan pernah merasakan sentuhan semacam ini dari Papanya sendiri.

Mereka duduk bersama. Hye Kyo menuangkan teh ke cangkir Hyo In.

Setelah menyesap tehnya Hyo In mulai mau berbicara. “Aku berencana mengunjungi kalian besok bersama Sarang.”

Ibunya mendengus. “Akhirnya kau membawa pulang cucuku. Sudah sadar rupanya.”

Hye Kyo dan Ayahnya tertawa sementara Hyo In cemberut dengan tatapan masam. Ibunya memang selalu seperti itu, menuntut segala sesuatu berlaku sesuai kehendaknya. Sifat itu tak bisa hilang sampai sekarang meski dia tahu Hyo In selalu menang. Karena dia lebih keras kepala daripada Ibunya.

“Tidak perlu mendramatisir seperti itu,” gerutu Hyo In.

“Ibumu semakin tak terkendali tiga bulan terakhir ini.” Ayah Hyo In berkomentar dengan nada penuh canda sambil memainkan i-padnya.

Dengan bantingan cangkir di meja Ibunya memprotes. “Anak itu sudah membohongi kita. Bagaimana mungkin dia tega memisahkan kita dengan Sarang. Dari kecil dia sudah bersama kita. Bisa kaubayangkan itu?”

It’s just fucking three months, Mom, for heaven’s sake!” Hyo In memekik tak percaya. Hye Kyo memutar mata malas. Ayah mereka menggelang tak percaya tanpa mengalihkan mata dari i-pad.

Stop acting like an English woman!” Balas Ibunya tak kalah keras.

Hyo In menggerang. “I am not!!!”

Yes, you are!!!”

Then stop freaking out!”

Oh, so are you!”

Bloody hell!” Geram Hyo In.

Selalu seperti itu setiap kali Ibu mereka mulai bersikap tak masuk akal. Pasti memancing emosi Hyo In.

“Sudahlah, Sayang, lagipula masih ada Gi Beom di rumah. Dia juga cucu kita.” Ayahnya berkata dengan tenang, mengambil kendali.

“Ayah benar,” sahut Hye Kyo sebelum menggenggam tangan adiknya, menenangkan. “Sudah, sudah, duduk sini.”

“Tentu saja dia cucu kita juga. Aku menyayangi mereka semua. Tapi Sarang masih sangat kecil.” Gerakan tangannya menunjukkan seolah Sarang masih seukuran semut. “Berbeda dengan Gi Beom yang orangtuanya masih lengkap. Hye Kyo dan Kang Jun selalu ada, sementara bocah itu?” Matanya nyalang pada Hyo In. Hyo In hanya mengedikkan bahu seraya menyesap tehnya. Tak menganggap kata-kata itu pernah ada hingga membuat kesal Ibunya lagi. “Oh, ya Tuhan. Anak ini benar-benar menyebalkan.”

“Sudahlah, Bu, yang terpenting aku ada di sini bersama Sarang. Masih utuh. Tak perlu menyinggung statusku,” timpal Hyo In seolah tanpa beban.

“Kaudengar yang dikatakan anakmu, Sayang?” Dia menoleh pada suaminya. “Semua ini gara-gara kau terlalu dibutakan bocah Inggris itu.”

Hyo In mengerang lagi. Namun dengan humor mengisi dengusan kesalnya. Di lain pihak Ibunya justru semakin marah. “Berhenti meremehkan sesuatu yang menurutmu tidak penting. Kadang sampahmu terasa seperti harta untuk orang lain.”

“Jangan menyebut anakku sampah,” jawab Hyo In. Dia tahu bukan itu maksud yang sebenarnya.

“Itu hanya perumpamaan,” dengus Ayahnya.

“Tetap saja Ibu mengatai anakku sampah. Dia itu cucumu,” sahutnya lagi dengan lebih ketus.

“Maksud Ibumu hal yang kauanggap bukan apa-apa justru bisa menjadi sesuatu yang sangat serius bagi orang lain. Intinya jangan egois,” sela Ayahnya lagi. Membalas senyum Hyo In dan mengangguk memastikan tak ada luka di mata cokelat indah itu dengan begitu dia tahu jika yang Hyo In lakukan hanya mempermainkan istrinya.

“Tapi Ibu bilang—“

“Ya Tuhan!” Hye Kyo mendengus. Menahan tawa dari balik cangkirnya. “Kalian baru bertemu sebentar saja sudah akan merobohkan gedung ini. Aku pasti segera jatuh miskin.”

“Aku tidak begitu,” sahut Hyo In dan Ibunya bersamaan, lalu saling menatap, menuduh satu sama lain sebelum berpaling. “Kalau kau bangkrut kupastikan uangku akan mengurus perbaikan gedung ini dengan baik,” lanjut Ibunya penuh tantangan.

“Aku bisa membantumu memastikan uangnya cukup untuk restorasi,” racau Hyo In tak acuh. Dia pintar berhitung.

Ibunya mendengus. Hye Kyo tertawa keras. Ayahnya mengangkat tangan dan perhatian mereka semua teralih padanya. “Jadi, bisakah kaupastikan besok membawa Sarang ke rumah?” Tanyanya pada Hyo In dan dijawab anggukan. Lalu perhatiannya beralih pada Hye Kyo. “Dan kau juga. Terakhir kali kau pulang sudah sebulan yang lalu.”

Hye Kyo menyenggol lengan adiknya meminta bantuan. Hyo In mendecak kesal. “Kami semua akan ke sana besok.”

“Benar. Aku akan ke sana bersama Kang Jun dan Gi Beom dan—kita akan menginap.” Hye Kyo menepuk bahu Hyo In. Tak menyadari kesiapan kaget dari adiknya.

“Menginap, kau bercanda?!”

Hye Kyo menggeleng senang. Menahan bahu Hyo In agar dia tetap berada di dekatnya kemudian berbisik, “Turuti saja. Jangan banyak bicara kalau tidak dia tidak akan pergi dari sini.”

Hyo In mengernyit. Mengamati ekspresi kakaknya dan mulai paham beberapa saat kemudian. Dia mengangguk. Kata ‘dia’ pasti merujuk pada Ibu mereka dan itu berarti Hye Kyo sedang mencoba menyelamatkannya.

“Ah—ummm—kurasa itu ide bagus,” celetuknya.

Tanpa curiga dan seolah teriakan-teriakan mereka tak pernah terjadi Ibunya berdiri diikuti sang Ayah. “Baguslah kalau begitu. Aku bisa sedikit bernapas.”

Hyo In dan kakaknya menyambut pelukan Ayah mereka. “Aku selalu merindukan saat-saat seperti ini.“ Lalu menatap kedua putrinya. “Jangan terlalu sering mempermainkan Ibu kalian,” bisiknya dengan kedipan jahil.

Mereka tertawa tapi langsung berhenti saat Ibu mereka mendekat dan melakukan hal yang sama. “Jaga diri. Aku selalu mencintai kalian meski kalian menyebalkan.” Lalu mencium kening kedua putrinya.

Ya, mereka saling mencintai. Hal yang tak bisa diragukan lagi.

Sepeninggal kedua orangtua mereka Hyo In langsung menatap Hye Kyo tajam dengan kedua tangan di pinggang. “Ember bocor!”

Hye kyo membalas, “Kepala batu!” dengan nada penuh canda kemudian menggeret Hyo In keluar ruangan. Menjelaskan apa-apa saja tugasnya di butik.

Mengingat butik ini tidak bisa disebut kecil atau terlalu besar, maka Hyo In juga sudah mempersiapkan diri untuk pekerjaan yang tertumpuk dan mungkin akan sedikit merepotkan. Tiga jam berlalu Hyo In memulai pekerjaannya hari ini berkenalan dengan para staff dan karyawan kemudian mengumpulkan laporan-laporan keuangan butik untuk diperiksa selama beberapa hari ke depan. Pada pukul sebelas siang dia sengaja meminta ijin keluar untuk menjemput Sarang dari sekolah.

Dalam perjalanan kembali menuju butik, Sarang terus berceloteh tentang teman-teman barunya yang menyenangkan dan nakal.

“Aku benci Jung Shin. Dia bilang aku tidak punya Papa,” katanya seraya melipat tangan di depan dada dengan wajah tertekuk. Pipi gembulnya semakin menggembung dan itu membuat selera humor Hyo In meningkat. Seraya mengusap rambut Sarang dia berkata lembut, “Kauingat siapa nama Papa?”

“Tentu saja. Aku hanya tidak mau menyebutnya.”

Mama tahu bukan itu yang ingin kaulakukan, Sayang.

Hyo In tersenyum pelan. “Kurasa dia menyayangimu. Hanya saja—“

“Hanya saja aku tidak secantik Putri Sofia,” sergah Sarang lalu menatap Mamanya dengan muka masam.

“Tentu saja kau secantik Putri Sofia. Bahkan Putri Amber, si pirang itu, tidak bisa menandingi kecantikanmu. Cantik tidak ada urusannya dengan ini.”

Sama sekali tidak.

“Benarkah?” Wajah Sarang berubah cerah. Bocah itu begitu mudah dihibur seperti anak seumurannya. Hyo In mengangguk yakin. Sesekali menangkap putih barisan gigi Sarang.

“Kaumau tahu bagaimana dia?” Tanya Hyo In. Ini topik baru untuk Sarang.  Sebelumnya Hyo In hanya berusaha memberi pengertian pada Sarang bahwa dia berbeda dengan teman-temannya dengan mengatakan yang sebenarnya dan selama ini cukup berjalan lancar meskipun bocah itu lebih sering terlihat bingung dan tak mau tahu. Tapi Hyo In harus telaten melakukannya dengan harapan hal itu takkan mengguncang kejiwaan Sarang terlalu keras.

Dahi Sarang mengernyit. “Aku tidak tahu apa aku mau mendengarnya. Papa ‘kan tidak menyukaiku. Lagipula aku punya PR menghapal lagu kebangsaan Korea Selatan.”

Hyo In hanya bisa mengembukan napas panjang. Sabar bukanlah keahliannya tapi bersikap emosional juga tidak membantu sama sekali. Sarang tampak sibuk melihat jalanan sekitar saat dia hendak menegurnya. Bagaimana pun juga tanpa pria itu Sarang tidak akan pernah ada. Hyo In juga pernah mencintainya.

“Namanya Liam.”

“Aku tahu, Mama,” dengus Sarang kemudian memerhatikan jalan lagi. Kali ini kakinya berayun-ayun. Bocah ini memang tak bisa diam.

“Hanya mengingatkanmu saja. Kau masih ingat wajahnya?”

Setahun lalu Hyo In pernah memberinya foto Liam dan yang dilakukan Sarang hanya menyimpannya di bawah bantal sebelum meminta dipeluk Hyo In dan menangis semalaman memanggil-manggil ‘Papa’ sampai tertidur. Semakin rewel selama seminggu berikutnya dan terus merengek ingin bertemu Papa. Bocah itu terus menunggu di depan pintu, berharap Papanya datang. Tahu hal itu tak mungkin terjadi Hyo In dengan setia menemani sarang sambil bermain dan membaca cerita di depan pintu. Bahkan mereka membuat tenda di dalam rumah. Hari-hari itu adalah titik puncak kebenciannya pada Liam karena membuat Sarang begitu tersiksa. Dia juga tak bisa berbuat apa-apa selain memberi pengertian. Memangnya kemana mereka harus pergi? Liam sangat sulit ditemui sejak tahu Hyo In sedang mengandung Sarang.

Air matanya mengalir begitu saja. Hyo In menghapus dengan cepat begitu perhatiannya tertuju pada Sarang kembali. Masih tak ada tanggapan sama sekali. Itu berarti Sarang mendengarnya hanya saja berlagak seolah itu bukan hal penting.

“Dia pria baik dan lembut.” Paling tidak begitulah awalnya. Dia tidak sedang berbohong. Hanya tak mengatakan semua kebenarannya. Pikir Hyo In, menenangkan batinnya yang tak karuan. “Kakek-Nenekmu juga sangat baik pada Mama. Mereka keluarga yang menyenangkan. Papamu juga selalu membuat Mama senang dan kadang marah—“

“Apa Papa seperti Paman Kyuhyun?”

Hyo In sedikit merasa aneh kenapa harus Kyuhyun yang menjadi pembanding. Mengabaikan detil kecil itu Hyo In tersenyum melihat kepedulian Sarang, meski tak menoleh Mamanya bocah itu memang mulai tertarik. “Bagaimana ya … Mama sudah lama sekali tidak bertemu dengan Papa. Mungkin tingginya sama tapi badan Papa lebih kecil.”

“Papa kurus ya?”

Hyo In menggeleng. “I don’t think so. Tapi tidak gemuk juga.”

Sarang mengernyit mendengar penuturan Mamanya sebelum bertanya kembali. “Aku ingat rambutnya tidak sama denganku.” Suaranya melemah. Dia selalu merasa kecewa saat menemukan perbedaan dengan Liam.

Ini salah satu dari sekian banyak kesalahannya, menurunkan rambut hitam untuk Sarang. Sesal Hyo In.

“Lesung pipitmu itu dari Papa,” kata Hyo In sambil mencubit pipi Sarang. Sarang segera mengambil dompet kecilnya dan mengarahkan pipinya ke kaca yang terselip di sana. “Aku tidak lihat ada satu pun lesung pipit. Mama pasti bohong.”

Hyo In berhenti di parkiran butik. Mengambil bedak dari tas dan mengarahkan cerminnya yang lebih besar pada Sarang. “Sekarang tersenyumlah.”

Sarang melakukannya dan seketika wajahnya bersemu merah. Dia bahkan merebut bedak Hyo In dan terus tersenyum sambil menatap pipinya kemudian mengangkat wajah. “Aku mirip Papa, kan?”

“Tentu saja.”

Should I smile all the time? Bibirku mulai pegal.”

Hyo In terbahak sebelum membuka seatbelt Sarang. “Tidak perlu, Sayang, apapun ekspresi yang kautunjukkan kau tetap anak Mama dan Papa dan itu tidak akan pernah berubah sekalipun Papa tidak bersama kita.”

Sarang merangkul leher Hyo In dan mengecup pipi Mamanya. “Aku tidak terlalu paham apa maksudnya tapi—terima kasih banyak, Mama.” Hyo In membalasnya dengan pelukan hangat.

Setelah mengambil beberapa berkas yang diperlukan Hyo In segera turun bersama Sarang. Mereka menghabiskan waktu dalam perjalanan pulang dengan belajar menyanyikan lagu kebangsaan Korea Selatan. Sarang tetap berusaha dengan keras meski salah dalam beberapa nada. Kadang tawa menyelip saat bocah itu melafalkan kata yang salah. Tak jarang pula mengerang kesal dan beralasan selama ini Mamanya mengajari bahasa Korea dengan alphabet biasa. Dia bersikeras lebih mudah menyanyikan lagu kebangsaan Inggris di depan Queen Elizabeth II daripada mengucapkan lirik bahasa Korea. Padahal bernyanyi di depan Ratu pun belum pernah dia lakukan.

“Ayolah, kau pasti bisa,” bujuk Hyo In sekali lagi.

Sarang malah membanting kertas liriknya. “It’s hangul all the way and I don’t know what I’m going to do with it,” gerutunya seraya melihat kertas itu dengan putus asa. “It’s hard, Mama.”

“Jangan menyerah. Kita masih punya waktu tiga hari lagi untuk belajar.”

“Tapi ‘kan nanti aku mau menanam bunga dengan Paman Kyuhyun,” protes Sarang lagi.

Kyuhyun. Yah, bagaimana bisa dia melupakan Bujangan Tua itu.

“Menanam bunga tidak akan memakan waktu lama, Sayang. Tidak perlu berlebihan.”

“Tapi aku ingin bersama Paman Tua itu. Sarang suka Paman Kyuhyun.”

Ya, Mama tahu, dan itu sangat aneh.

Hyo In tak berani menanggapi. Dia hanya melempar senyum pada Sarang sebelum bocah itu kembali bernyanyi dengan terbata-bata, kemudian mengeluh lagi. Lima menit berlalu ketika akhirnya mereka sampai di rumah. Sarang langsung berlari begitu turun dari mobil.

“Pelan-pelan!” Hyo In mengikutinya tergopoh-gopoh sambil membawa banyak laporan keuangan. Takut Sarang tersandung tangga.

Kaki Sarang mengentak-entak semangat sambil meneriaki Mamanya agar cepat membuka pintu saking. Begitu pintu terbuka, tanpa mengindahkan peringatan Hyo In dia langsung duduk di meja makan dan melahap bola-bola daging dengan saus kacang yang mereka beli dalam perjalanan pulang tadi. Hyo In duduk di sampingnya setelah mengambilkan susu strawberry untuk Sarang dan air mineral dingin. Makannya begitu lahap bahkan terkesan terburu-buru. Belum sempat Hyo In memperingatkannya Sarang sudah tersedak dan mulai menangis karena tenggorokannya penuh dan dadanya sesak. Terpaksa beberapa suap daging yang memenuhi mulutnya harus dimuntahan kembali. Sarang terus menangis meski sudah minum air dan tak lagi mengalami sakit di tenggorokan. Dia pindah ke pangkuan Hyo In yang terus mengelus punggungnya pelan.

There, there, you’ll be fine. Take a deep breath!”

Sarang melakukannya disela senggukan tangis. Semakin bergelung dalam pelukan Hyo In yang dengan sabar mengusap peluh di sekitar wajahnya sambil mengayun-ayunkan tubuh kecil bocah itu. Beberapa menit kemudian Sarang sudah bernapas teratur dan tidur. Bocah itu selalu membuat masalah setiap kali mengantuk.

Setelah meletakkan Sarang di ranjang kamarnya mata Hyo In menangkap kilas isi kamar kosong Kyuhyun melalui jendela. Tidak terlalu jelas memang karena tertutup tirai. Sebagian pikirannya ingin sekali tahu apa yang sedang dilakukan Bujangan Tua itu sekarang tapi sisi lain dirinya yang lebih kuat menahannya seperti magnet yang menarik benda apapun yang terbuat dari besi.

Ada apa dengan dirinya?  Bukan. Tapi ada apa dengan Kyuhyun, apa yang membuat dirinya terasa berbeda bagi Sarang dan—dirinya?

Hyo In menggeleng berusaha menghilangkan bayangan Kyuhyun menggendong Sarang seraya mengusap lembut punggung kecilnya. Atau bayangan saat pria itu membacakan cerita sebelum Sarang tidur. Hyo In tahu benar dia tak boleh memikirkan itu apalagi berharap hal tersebut menjadi kenyataan. Memangnya siapa dia? Berani sekali memimpikan seorang pria berbaik hati padanya dan Sarang dengan menjadi bagian dari hidup kacau mereka.

Merasa aneh dengan dirinya sendiri Hyo In memilih untuk mengalihkan perhatian dengan mencuci muka, berganti pakaian, kemudian memeriksa kembali laporan keuangan butik yang dibawanya pulang karena jelas nanti malam dia akan sangat sibuk. Mengajari Sarang bernyanyi berarti dia harus siap menggali kesabaran sampai batas maksimal, bahkan yang belum pernah dia bayangkan. Sarang bukan tipe anak yang mau mempelajari hal yang tak dia sukai. Menyanyi adalah salah satunya selain sarapan.

Dua jam kemudian rengekan Sarang terdengar kemudian disusul langkah-langkah kecil menuruni tangga dengan pelan lalu semakin keras dan tiba-tiba saja tubuh Sarang meluncur dengan sendirinya dalam pelukan Hyo In tanpa menghiraukan apa yang sedang Mamanya kerjakan.

“Sarang!” Protes Hyo In seraya membenarkan posisi Sarang. Gumaman malasnya membuat Hyo In terkekeh. Kepala Sarang masih terkulai lemas di pangkuannya dengan mata setengah tertutup dan bibir bergoyang seolah sedang mengunyah sesuatu. Oh, betapa Hyo In sangat menyayangi anak manja ini. Wajah mungilnya yang lucu itu menghapus kepenatan Hyo In seperti penghapus karet membersihkan coretan pensil.

“Ayo bangun! Hari ini kita akan menanam bunga.”

Hyo In mendudukkan Sarang. Senyumnya terkembang melihat wajah malas anaknya dengan bibir mungil berwarna merah muda terbuka seperti ikan koi saat menguap. Ketika mata jernih itu terbuka seketika tak ada hal yang lebih indah lagi dari ini. Hidupnya yang kacau benar-benar sempurna.

Kepala Sarang meneleng kemudian menatap Mamanya. “Benarkah, dimana?”

Hyo In mendengus. “Di rumah Paman Kyuhyun.”

Seketika mata Sarang terbuka lebar. “Ayo ganti baju, Mama. Sarang mau pakai baju yang dibelikan nenek!” Pekiknya girang.

Mereka berganti pakaian setelah mencuci wajah Sarang. Memakai kaos seragam berwarna pink bergambar strawberry dan celana jeans setengah lutut dan topi jerami dengan hiasan mawar merah dari plastic untuk Sarang sementara Hyo In hanya mengikat ekor kuda rambutnya, mereka keluar menuju rumah Kyuhyun. Baru saja sampai di depan pagar Sarang berteriak memanggil nama Kyuhyun. Ternyata pria itu sudah siap menyambut mereka di depan pintu seraya melambaikan tangan dengan senyum lebar di bibir penuhnya.

Apakah bibir itu merah mengilap atau Hyo In saja yang menganggap senyum itu—menggoda?

Merasa kikuk karena wajahnya menghangat Hyo In menggandeng Sarang yang berjalan riang di sisinya. Sedikit ragu ingin benar-benar masuk atau segera pergi dari sini sebelum Kyuhyun menyadari rona merah itu.

“Halo, beautiful ladies! Sudah siap berkebun hari ini?”

“SANGAT SIAP!”

Kyuhyun pura-pura kaget sambil memegangi dadanya melihat antusiasme Sarang. Menatap Hyo In dengan pandangan acak memerhatikan sekitar. Dia sendiri tak paham dengan sikap Hyo In, yang Kyuhyun tahu saat ini hanyalah Hyo In wanita sederhana yang memesona. Bukan karena baju dan celana ketat yang dipakainya sekarang hingga membuat aliran darahnya mengalir turun dengan sangat cepat ke bagian yang paling terasa menyesakkan di bawah perutnya tapi wanita itu juga terlihat sangat segar dan muda, penuh semangat, juga aroma melati yang sekarang berganti lavender membuat tak seekor nyamuk pun mau repot-repot mendaratkan gigitan di sana dan melukai kulit mulus bersinar itu. Yah, Hyo In memang masih muda dan tidak seharusnya dia merasa seperti itu. Usia sering kali menjadi masalah pelik.

“Kau siap, Mama?” Canda Kyuhyun menutupi kegugupannya.

Hyo In terkesiap hingga tergagap, “Y-ya. Kurasa begitu.”

Mereka semua masuk. Sarang mendahului sambil berlarian begitu sampai ke dalam rumah. Hyo In tak begitu heran saat beberapa perabotan rumah dan bekas-bekas makanan instan atau mangkok dari delivery order masih berserakan di atas meja. Menyadari tatapan Hyo In, Kyuhyun meminta maaf tanpa ada rasa malu sedikitpun.

Setidaknya tak ada botol bir di sini. Batin Hyo In.

Sambil sesekali melihat kemana arah Sarang melaju Hyo In mengikuti Kyuhyun lagi setelah berhasil menangkap tangan Sarang agar tidak memecahkan sesuatu.

Terlalu banyak pecah belah berharga di sini.

Rumah Kyuhyun berbentuk sama dengan miliknya hanya saja yang membedakan adalah tata ruang dan motif-motif furniturnya. Ada banyak lukisan abstrak juga sofa dengan motif yang tak Hyo In ketahui dimana letak keindahannya karena hanya ada warna-warna yang kelihatan sekadar dituangkan begitu saja tanpa ada niat mempercantik tampilannya. Seperti yang dilakukan Sarang. Hanya menuang cat.

“Nah, kita sudah sampai.” Kyuhyun berseru bangga.

Pekikan senang Sarang menggema melihat kebun belakang rumah Kyuhyun dari beranda. Tangan mungil itu tak bisa lagi ditahan Hyo In apalagi dia tengah terpaku melihat tempat itu. Halaman belakang Kyuhyun menakjubkan meski ukurannya kecil. Di bagian beranda terdapat banyak sekali kayu gelondongan ataupun yang sudah terpotong-potong dalam berbagai ukuran dan berbagai set alat pahat berjejer tak karuan, sebagian di rak dan sebagian lagi ada di meja kerja. Juga limbah kayu tebal menutupi lantai.

“Seniman, ya,” gumam Hyo In seraya mengamati beberapa patung kayu yang sudah setengah jadi. Ada yang berbentuk hewan: kuda, sapi, rusa. Beberapa dari mereka adalah pahatan profil seseorang sebatas dada dan wajahnya belum terbentuk jelas.

“Aku suka ini,” kata Sarang. Menendangi serpihan kayu yang sudah berantakan ke berbagai arah, kadang sampai lantainya terlihat. Warnanya hitam. “Woops!”

“Tidak, Sayang, kita kemari untuk berkebun bukan menghancurkan rumah Paman Kyuhyun.” Sarang berteriak protes ketika Hyo In mengangkatnya dan segera pergi dari sana sebelum semuanya jadi semakin kacau.

“Ya, cukup bungaku saja yang hancur,” gumam Kyuhyun menyetujui dan membawa mereka keluar beranda ke kebun kecilnya.

Hyo In tersipu menangkap kilasan senyum jahil Kyuhyun namun langsung tersadar begitu Sarang menggeliat begitu kuat, turun dari gendongannya dan berlari sambil memekik ke suatu tempat tak jauh dari sana.

“Paman, ini apa?”

Mereka menghampiri Sarang yang sedang memegangi seekor hewan panjang berwarna cokelat kemerahan seperti mie pendek yang terlalu lama terendam dalam kuah, menjepitnya di antara jempol dan telunjuk. Sementara tangan kirinya memegang teman-teman mereka dalam wadah.

Menyadari gerakan ragu Hyo In di belakangnya, seringai muncul di wajah Kyuhyun. “Itu namanya cacing.” Lalu melakukan hal yang sama dengan Sarang. Kali ini Kyuhyun sengaja membawanya mendekati Hyo In. “Benar ‘kan, Mama?”

Hyo In melotot kesal pada Kyuhyun seraya melangkah mundur. Menjauh dari jangkauan si Bujangan tua dan hewan menjijikkan itu. “Y-ya. Untuk menyuburkan tanah.”

“Kenapa tanahnya harus subur?” Tanya Sarang, masih bermain dengan cacingnya.

Dari wajahnya Hyo In tahu Sarang mungkin menganggap binatang itu sama saja dengan potongan jeli. Asal tidak dimakan dia tak perlu mengkhawatirkan keselamatan bocah itu. Justru yang harus lebih dia pikirkan sekarang adalah hidupnya sendiri. Masih untung Sarang tidak tiba-tiba berlari ke arahnya dan dengan atau tanpa sengaja semakin memperbesar kesempatannya bersentuhan dengan hewan licin itu.

“S-supaya bunganya tumbuh d-dengan b-baik,” jawab Hyo In terbata sambil tetap memerhatikan tangan Kyuhyun. Berjaga-jaga siapa tahu Kyuhyun melemparkan cacing itu padanya tanpa peringatan.

“Wow! Cacingnya hebat sekali!” Seru Sarang penuh kekaguman. Matanya tertuju pada Hyo In. Dahinya mengernyit aneh melihat ekspresi ketakutan sang Mama. “Bisa tidak aku tumbuh dengan baik kalau cacing ini kutanam di dalam sepatu?”

NOOO!”

No fucking way! What the devil is she thinking about?!

Kyuhyun terbahak melihat wajah pucat Hyo In dan bibir cemberut Sarang. Merasa cukup melihat wajah lucu Hyo In dia mengembalikan cacing ke wadah yang masih dipegang Sarang sebelum mendekati Hyo In namun terhenti di tengah jalan karena pekikan Hyo In. Kyuhyun berdiri kaku, menatap wanita itu bingung seraya mengangkat kedua tangan seperti tersangka kejahatan.

“Cuci tanganmu dulu!!!”

Sudut bibir Kyuhyun tertarik sebelah. Sepertinya wanita itu benar-benar ketakutan. “Aku tidak akan memegangmu. Kalau mau kaubisa melakukan sesuatu selain menanam bunga bersama kami.” Tidak ada nada kesal dalam suaranya meskipun rencana bersenang-senang bersama Mama Kecebong tak berjalan seperti yang diharapkan karena kesalahannya sendiri. Yah, setidaknya dia sudah mencoba.

Cacing sialan! Umpat Kyuhyun dalam hati.

Hyo In berpikir sebentar sebelum menatap ngeri pada Kyuhyun lagi. “K-kurasa aku bisa membuat sesuatu.” Kemudian langsung meluncur ke dalam rumah lagi. Belari panik sebelum bertemu dapur tepat di sisi kiri pintu belakang.

Are you not coming with us?”

“Tidak, Sayang, Have fun!” Teriak Hyo In. Jantungnya masih berdetak cepat dengan bulu kuduk berdiri tegak.

Cacing?! Yang benar saja!

Setelah merasa tenang Hyo In mulai mencari bahan-bahan yang bisa dia temukan dalam lemari es Kyuhyun. Berpikir agak keras dengan apa yang dia temukan akhirnya Hyo In memutuskan membuat hidangan kecil. Makaroni saus pedas-manis, milkshake untuk Sarang, jus semangka, dan beberapa bungkus snack. Dia sengaja berlama-lama dengan kegiatannya, berharap Sarang dan Kyuhyun sudah tidak berurusan dengan hewan menjijikkan itu lagi. Satu jam Hyo In habiskan dengan menonton TV sambil sesekali menengok ke belakang karena teriakan riang Sarang dan geraman frustrasi Kyuhyun melihat tingkah kecebong itu yang tanpa keberatan menghambur-hamburkan tanah saat seharusnya dia memasukkan itu ke dalam pot. Tanah basah menempel di baju, wajah, dan tangan mereka tapi sepertinya tak satupun dari Kyuhyun atau Sarang memikirkannya. Sarang terus saja bercerita tentang mimpinya tadi saat tidur siang tentang menunggang kuda poni berwarna pink dengan surai pirang. Kyuhyun menanggapinya seolah mimpi itu memang penting. Padahal orang dewasa mana pun tahu bocah itu hanya sedang meracaukan khayalan-khayalannya. Hyo In tak bisa berhenti memerhatikan mereka. Terlihat begitu bahagia seperti sahabat dan Ayah-anak?

“Ah, tidak mungkin! Bujangan Tua itu hanya bersikap baik,” gumam Hyo In sambil memukul kepalanya sendiri sebelum kembali ke dapur.

Sepuluh menit terakhir ini Hyo In mulai habis kesabaran menunggu keju meleleh di atas makaroni dalam microwave. Setelah semua selesai dia tak menemukan keramaian seperti beberapa menit tadi. Ketika kembali ke halaman depan seraya membawa nampan berisi makanan dan minuman dia tertegun melihat Sarang duduk di atas paha Kyuhyun. Diam, dengan saksama memerhatikan Bujangan Tua itu menarikan pensilnya di atas sekotak kayu kecil, menggambar pola. Wajah dan tangan mereka sudah bersih. Dagu Kyuhyun menempel di atas puncak kepala Sarang. Matanya tetap fokus pada kayu sambil sesekali menggumamkan jawaban asal yang tidak berhubungan sama sekali saat Sarang mengajukan pertanyaan yang sama berkali-kali. Sarang juga lebih tenang. Punggung kecilnya bersandar ringan di dada bidang Kyuhyun.

Sesaat terbersit perasaan nyaman dan tenang melihat Sarang seperti itu bersama orang lain. Sebelumnya, dia hanya mau berdekatan dengan keluarga. Satu-satunya pria muda yang pernah memangku Sarang hanya Joong Ki. Itu pun saat bocah itu masih berusia dua tahunan dan bukan setiap hari karena kakaknya sangat jarang pulang—masih sangat marah atas keteledoran Hyo In. Pemikiran itu tergantikan dengan bayangan-bayangan Sarang berada dalam dekapan Liam, mereka tertawa bersama, Liam menggodanya, Sarang menggerutu kesal.

Hyo In terkesiap. Berdeham memecah perhatian mereka. “Sepertinya kalian sedang sibuk.” Senyumnya melebar ketika mata bulat bening Sarang menatapnya dan senyum di bibir bocah itu mengembang. Kyuhyun ikut tersenyum. Napasnya melega.

Sadarlah! Dia Kyuhyun bukan Liam.

“Paman sedang membuatkanku ukiran kuda seperti milik Putri Sofia,” jawab Sarang seraya menunjuk ukiran belum jadi itu dengan jari mungilnya. Di meja Hyo In melihat ponsel kyuhyun menampilkan gambar contoh kuda yang dimaksud Sarang.

“Sepertinya menyenangkan.” Hyo In menatap Kyuhyun. Kyuhyun membalasnya dengan anggukan serius seolah pekerjaan itu merupakan titah dari Putri Sofia sendiri.

“Kuda ini akan terlihat lebih bagus dari milik Putri Sylvia,” goda Kyuhyun.

Sarang bertepuk tangan dalam pelukan Kyuhyun sambil memrotes, “Sofia, Paman!”

Kyuhyun tak acuh. Sarang menggembungkan pipi.

 “Aku bawa banyak makanan. Kalau saja kalian mau membantuku menghabiskannya—“ Hyo In menarik napas lemas seperti orang yang sedang diabaikan. Dia duduk di samping Kyuhyun dan Sarang, menatap mereka bergantian sambil cemberut yang dilebih-lebihkan. “Baiklah, akan kuhabiskan sendiri makaroni ini.”

“Makaroni?!” Sarang langsung turun dari pangkuan Kyuhyun. “Aku suka makaroni.” Kemudian duduk di antara Kyuhyun dan Hyo In, mengambil milkshake, kemudian menepuk-nepuk paha menunggu mangkok makaroninya.

“Katanya tadi kau suka kudaku,” gerutu Kyuhyun pura-pura kesal sebelum menenggak jusnya.

“Sarang juga suka kuda.”

“Bagaimana denganku?” Dengan senyum lebar yang dibuat-buat Kyuhyun berhasil membuat Sarang kebingungan. Hyo In terkikik di samping mereka sambil menyiapkan makaroni untuk Sarang dan Kyuhyun. Wajah Sarang semakin kacau. Bibirnya mengerucut, ujung hidungnya memerah seraya melihat makanan, calon kudanya, dan Kyuhyun bergantian.

“Aku suka kalian semua.” Lalu melahap makaroni yang baru diberikan padanya tanpa beban.

Kyuhyun tertawa puas setelah mengerjai Sarang. Kecebong itu sangat lucu saat kebingungan.

Seperti Mamanya. Batin Kyuhyun geli.

“Bagaimana bunganya?” Tanya Hyo In seraya menatap miris baju penuh noda Sarang.

“Sudah selesai. Sarang melakukannya dengan baik.” Kyuhyun berujar seraya mengusap puncak kepala Sarang.

“Aku memberi dua cacing untuk setiap pot. Sarang baik, kan?” Sahutnya riang. Kakinya mengayun-ayun tak bisa tenang.

“Sangat,” jawab Hyo In dan Kyuhyun bersamaan.

Hyo In beralih pada Kyuhyun. “Maaf, aku sembarangan membuka kulkasmu.”

Kyuhyun menggeleng. “Santai saja. Gantinya lebih lezat.”

Wanita itu mendapati hatinya menghangat kembali melihat Kyuhyun menggoda Sarang lagi dengan mengambil sesendok makaroni dari mangkok Sarang. Membuat bocah itu memekik kesal, menyembunyikan mangkoknya di balik punggung dengan wajah bersungut-sungut. Kemudian sekali lagi dia mengingatkan diri sendiri untuk tak terlalu memperhatikan Kyuhyun. Tidak, dia tidak boleh terjatuh ke lubang yang sama apalagi terpesona dengan pria yang bisa—dengan ajaibnya—dekat begitu cepat dengan Sarang. Baginya pria adalah penipu ulung. Mereka bisa menjadi kawan atau kekasih sekali waktu dan tiba-tiba menjadi musuh paling kejam yang sangat tidak ingin dia temui. Pengalaman mengajarinya, jadi saat pesona itu datang dari senyum dan sikap lembut Kyuhyun pada Sarang dia tak mungkin terperdaya lagi.

“Kapan kudaku selesai?” Pertanyaan Sarang melenyapkan isi pikirannya.

“Mungkin lusa. Ini kuda yang kecil. Kurasa tidak butuh waktu lama menyelesaikannya.”

Apalagi untuk kecebong gesit itu. Dia akan membuatnya sebagus dan secepat mungkin. Pikir Kyuhyun.

“Kalau begitu aku akan kemari lagi lusa.”

Hyo In menyergah, “Tidak bisa, Sayang, besok kita akan menginap di rumah Kakek-Nenek. Mama takut kita akan menginap lebih lama di sana.”

“Tapi bagaimana dengan kudaku?” Sarang bertanya lemah. Wajahnya menggelap.

“Kakek dan Nenek merindukanmu. Akan ada Gi Beom Oppa juga di sana,” rayunya.

Sarang merengek semakin keras. Dia bahkan menolak menghabiskan susu dan makaroninya. Meminta acara menginap itu ditunda saja sampai kudanya selesai. Dia ingin menemani Kyuhyun menyelesaikan ukiran itu. Susah payah Hyo In membantah argumen Sarang. Semakin ditentang kecebong itu semakin rapat memeluk Kyuhyun yang hanya bisa tersenyum samar dan—apa ekspresi itu bisa dinamakan murung?

Ya, sejelas batu di dasar sungai jernih. Wajah Kyuhyun berubah seperti langit mendung. Tak secerah beberapa menit lalu.

“Tidak apa-apa. Kita bisa bertemu saat kau pulang. Ketika itu kupastikan kudamu sudah lebih cantik daripada milik Putri Sofia.” Nada halus Kyuhyun terdengar getir di telinga Hyo In.

Sarang menggeleng keras. Wajahnya tersembunyi di dada Kyuhyun. Bahunya bergetar kemudian isakan itu berubah menjadi tangisan panjang dan keras. Sekeras tongkat baseball menghantam kepalanya. Membawa Hyo In kembali pada pemikiran normal yang biasanya hilang saat dekat dengan Kyuhyun. Perasaan nyaman dengan seorang pria. Perasaan bahagia melihat Sarang memiliki seseorang yang mendukung selain dirinya saat bocah itu tak mampu berdiri sendiri. Perasaan membutuhkan dan terlengkapi bersama dengan pria asing yang baru beberapa hari dia kenal.

Ini salah.

Ada sengatan rasa sakit pula saat dengan terpaksa Hyo In mengangkat Sarang. Menjauhkannya dari pelukan lembut Kyuhyun.

“Tetap di sini. Sarang belum mau pulang.” Genggaman Kyuhyun tak menyakitinya sama sekali. Seolah tetap membiarkannya pergi tapi suara pelan nan dalam itu menariknya seperti gravitasi bumi.

“Maaf, tidak seharusnya aku kemari.” Tangan Kyuhyun terempas begitu Hyo In menarik tangannya dengan keras. Wanita itu tak berani menatapnya.

Kyuhyun tak merasa melakukan sesuatu yang salah. Jika pun ada, dia benar-benar tak tahu. Dan karena itu dia membutuhkan jawaban Hyo In. “Hyo In, tunggu—“

“Berhenti!”

Wanita itu berbalik. Kedua matanya basah. Wajah cantiknya memerah. Kepedihan tertumpah dari tatapannya, membuat Kyuhyun tertegun saat itu juga. Berdiri terpaku tanpa bisa mengalihan perhatiannya dari wajah cerah Hyo In yang kini tertutup awan gelap.

“Aku—“

“Kau bukan Ayah Sarang,”

Dahi Kyuhyun mengernyit. “A-aku tak mengerti—“

“Kau bukan Ayah Sarang!!! Kau dengar itu!!! Kau bukan siapa-siapa!!!” Teriakan Hyo In mengagetkan Sarang. Tangisan bocah itu semakin keras. Dia terus memanggil-manggil nama Kyuhyun, mengingatkan Mamanya ukiran kuda itu belum selesai, dan dia ingin menemani Kyuhyun menyelesaikannya.

Meski harus menahan pukulan-pukulan kecil Sarang, kadang jambakan di rambutnya, Hyo In tetap harus membawa Sarang pergi dari sana secepatnya. Sebelum hal yang lebih berbahaya terjadi.

Seperti membiarkan Kyuhyun dan Sarang semakin dekat, misalnya.

30 thoughts on “[Chapter] Single Mom Next Door 4

  1. Akhirx yang ditunggu2 nongol juga
    Suka liat si kecebong selalu bareng si paman tua kayak anak sama bapaknya aja ,,, part selanjutx semoga ada mment mereka bertiga lebih manis lagi

  2. Oh….
    Kyuhyun dan Sarang semakin dekat. Tapi, ketakutan Hyo In.. atau seperti sebuah trauma itu menghalangi semuanya.. T^T
    Aku benar-benar penasaran, kenapa Liam bersikap tak acuh pada ‘keluarga kecil’ nya? Bukankah Sarang juga anaknya?

    Aku tunggu next-nya, juga ‘At Gwanghwamun’ nya, kak Hyonie🙂

    Semangat^^

  3. Aku bener2 ngebayangin sarang itu kyak kecebong,gesit lincah,belum lagi geol2nya itu lucu bener.hyo in sebenernya takut dngan perasaan nyaman dia bersama kyuhyun takut bakalan kalau dia salah langkah lagi ,mungkin?ayo kyuhyun bergerak dengan cepat buat bsa dapatin “mama kecebong”‘

  4. wah hyoin pasti sakit hati banget gara2 liam itu, berarti hyoin hamil pas SMA ya, g nyangka….
    oh iya aku bingung kang jun itu siapa, typo kah tau emang ada cast yg namanya kang jun tapi aku gtw… terus kata2 “Kadang sampahmu terasa seperti harta untuk orang lain” kya’nya aku pernah baca tapi aku lupa..

  5. Finally di post juga part 4 nya. Ngebayangin mereka bertiga kaya keluarga bahagia bgt ya. Papanya ga tanggung jwb masa -.- penasaran sm liam dan hyo in hub nya gimana dulu. Ceritain lah kak d next chapter nya😀
    Pengen cepet2 hyo in sm kyuhyun tuh deket gitu kak. yg hyo in tuh bisa ngerelain gitu sarang dititipin k mama sama papanya cuma pengen hyo in ngedate brg kyuhyun xD
    Next chapter jgn lama2 kak🙂😀

  6. Demi menutupi kenyaman hati pd kyuhyun knp hrs bersikap seperti itu kasian sayang dan kyuhyun jg tak salah mkin hyo in takut kyuhyun tdk akan menyukainya dan mmbuat sarang makin ketergantungan disaat kyuhyun punya wanita lain

  7. Ahh finally Kecebong nakal muncul juga yang semakin dekat dengan paman tuanya :v tingkah Sarang benar-benar ngegemesin juga menyebalkan…
    Oh eh Hyo In kenapa kalut gitu dengan kedekatan Kyu sama Sarang? Apalagi nyangkutin ayah Sarang😦

  8. Sebenar’a,sikap Hyoin seperti itu tuh. Karna dia Trauma aja dengan masa lalu.
    Kasihan sama Sarang😦
    Kya’a dia mulai menyukai Kyuhyun🙂.
    Semoga Hyoin dan Kyuhyun bisa saling terbuka dan mencintai ^^

  9. Kayanya hyo in trauma bgt yah sm masa laluny itu,, makany dia gx mau deket2 sm cwo lain.. Ampe anaknya pun jg di gituin… -,-

  10. Kayanya hyo in bukannya takut sarang akan jadi semakin dekat & ketergantungan ma sarang, dia sendiri yg takut akan jatuh sama pesona kyu,,,,, poor her,,,,,, agak susah emang single mom yg masih kelewat muda, disaat seharusnya hyoin masih menikmati kebebasannya justru harus ” terjebak” sama bayi yg g terencana…..
    Eommanya hyoin serem,,,bisa perang dunia lo terus2n berdebat tanpa ada yg mau ngalah….,

  11. akhirnya part 4 muncul!!!!aku paham knp hyo in begitu ama kyuhyun,tapi sarang kan jadinya kasihan,kyuhyun keknya sayang banget ama kecebong itu.hyo in trauma ama masa lalunya. papanya sarang di mana sih???

  12. hyo in reaktif bgt ya.. klw suka atw tdk suka nampak bgt digesture/tindakannya… hm.. nurun bgt ke si kecebong.. btw si old uncle ada feeling ga ya ke mm kecebong.?

  13. Hyoin tak seharusnya bersikap seperti itu kan Kyuhyun gk berbuat apa-apa, mungkin karena trauma masa lalunya yg membuat Hyoin bersikap kya gitu

  14. hyo in kayaknya mulai suka sama kyu tapi dia menyangkalnya karena ia pikir ia merindukan atau masih cinta sama liam.
    sarang menggemaskan!
    hyo in kenapa marah sama kyu?
    fighting ka^^
    ^^^^

  15. disaat Hyo In udh mulai ada rasa nyaman sama Kyuhyun, trauma merusak segalanya..
    mungkin dia takut kalau Kyuhyun bakal sama kyak Liam,awalnya aja baik tp ujung2 nya ninggalin >.<
    Ahh seneng deh liat moment Kyuhyun-Sarang ugh mereka menggemaskan :*

  16. Yaampuun aku ikutan mewek bacanyaa, baper bener sumpah haha
    Aku malah seneng kyu bisa deket banget sama sarang, cuma sayang hyo in masih sulit beradaptasi sama yg namanya cowo, sayang banget kan..
    Aku penasaran banget sama kelanjutannya, jangan lama2 yaaah hehe

  17. Kyu dan sarang klop kaya anak dan ayah sifat mereka mirip hyo in jga mulai merasa tertarik dgn kyu tp rasa trauma masih ada jd hyoin terkesan menghindar

  18. Ughhhh Hyo In
    Kyuhyun bukan Liam
    dan Kyuhyun tidak seperti Liam
    astagaaaa
    itu menyakiti hatiku
    Kyuhyun tiba2 ditinggalkan begitu saja ckckck
    kasian kan bebeb aku #pelukKyu
    aduuuuuh
    si Hyo In iniiiii
    Kyuhyun memang bukan Ayahnya Sarang –”
    astagaaaaa
    tapi anakmu menyukai orang yg kau sebut asing itu

    wohoooo Kyuhyun seniman
    ondeeeeh hahaaha

    semangat terus ya ^^~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s