[Chapter] Single Mom Next Door 3

Single Mom Next Door
By Valuable94

Starring:
Cho Kyuhyun (SJ)/Song Hyo In (OC)
and
Song Sarang (OC)

Young Adult

10477885_529726777153971_6048083022103699359_n

BROKEN FLOWER

Malam ini aneh sekali. Sebenarnya seharian ini memang aneh. Pertama kali dalam hidupnya Kyuhyun merasakan sebuah perasaan yang lebih dari sekadar kesenangan. Hyo In membuat dirinya bangkit, lebih pada sisi bebas dan menyebalkan. Selama ini dia mencintai pekerjaannya tapi belum menemukan hal yang lebih menarik seperti ini. Seekor pudel berjiwa herder dan kecebong gesit. Kyuhyun juga sadar dia bukan tipe pria yang suka keributan tapi kenyataannya dia malah merasa perlu meladeni sikap Hyo In yang terang-terangan begitu menjengkelkan.

Kyuhyun melihat Hyo In seolah sedang berkaca pada karakternya sepuluh tahun yang lalu. Muda, bebas, keras kepala, merasa apa yang dilakukannya paling benar, dan sangat sulit mengakui kesalahan yang sudah dilakukan. Dia tahu ada sesuatu yang membentuk sifat Hyo In menjadi begitu defensif terhadap ancaman sedikit apapun dan berujung terlalu mencurigai. Namun, apapun itu Kyuhyun masih belum berani meruncingkan dugaannya pada hal-hal tertentu dan berpikir lebih baik membiarkannya berjalan secara alami.

Alami memang, sampai-sampai dia tak yakin apakah ini benar-benar kehendak Tuhan karena sejak beberapa jam yang lalu Kyuhyun masih belum bisa memejamkan mata. Dengan posisi miring di atas ranjangnya sendiri dia bisa melihat dengan jelas bayang-bayang Sarang yang terbangun saat Hyo In baru saja menidurkannya di atas kasur. Bibirnya tertarik melebar dengan mudah mendengar rengekan Sarang yang ingin makan daging lagi sementara Hyo In memarahinya dengan suara yang terlalu lembut. Kalau Kyuhyun yang jadi Sarang, dia akan berteriak semakin keras, bisa sampai membangunkan semua tetangga. Teguran Hyo In tidak menakutkan sama sekali.

“Hmmm, dasar gila!” gumam Kyuhyun pada diri sendiri. Kemudian berbaring terlentang, menutup mata dengan lengan kirinya. Mengembuskan napas perlahan, cukup lama sampai akhirnya dia terlelap dengan iringan suara Hyo In membacakan cerita anak yang pernah Kyuhyun baca saat masih SD.

“Gulliver’s Travel,” gumamnya sambil tersenyum.

Saat matanya terbuka pagi telah menampakkan sinar matahari dengan pongah. Bulan ini memang masih musim semi tapi sepertinya setelah tertutup mendung selama tiga bulan matahari itu tak mau sembunyi lebih lama lagi. Dan Kyuhyun memutuskan untuk melakukan hal yang berguna.Setelah mandi dan membuat sarapan dua lembar roti panggang dengan selai nanas dia bergegas keluar rumah dengan setelan celana training putih panjang dan kaos oblong hitam berbahan katun bermotif Rolling Stone yang sangat disukainya. Saat menuruni tangga beranda matanya tak bisa berhenti menoleh kembali ke sana begitu menangkap gerakan kecil.

“Sarang, apa yang … Ya Tuhan, bungaku!”

Kyuhyun berlari kembali menaiki undakan, segera menghampiri Sarang dan langsung menyambar bocah itu. Mengabaikan pekikan girang Sarang saat dia mengangkatnya sampai pinggang dengan tangan penuh bunga geranium berwarna merah muda.

“Sarang suka bunga. Wangi!”

Dengan perasaan hancur melihat bunga yang telah ditanam lama sejak Kyuhyun masih tinggal bersama orangtuanya dia menatap Sarang sambil menahan geraman karena tak bisa mengeluarkan umpatan-umpatan yang sudah berada di ujung lidah.

“Kenapa dihancurkan, Sarang? Itu bunga kesayangan Paman.”

Mendengar nada miris dan kerutan di wajah Kyuhyun malah membuat cengiran Sarang melebar. “Ini bukan menghancurkan, tapi memetik. Bagus, kan?!” Serunya seraya melompat-lompat dalam gendongan Kyuhyun.

“K-kau … arghhh aku bisa gila!”

Dasar kecebong.

Dan dia memang benar-benar gila. Sedari tadi hanya mondar-mandir karena bingung harus melakukan apa melihat kondisi bunganya yang mengenaskan. Sangat mengenaskan.

“Sarang! Kau dimana? Ayo berangkat, Mama sudah siap!”

Sarang menggeliat meminta turun. “Sepertinya Mama membutuhkanku. Paman tidak marah, kan, kalau kutinggal?”

Justru aku akan sangat bahagia. Geram Kyuhyun dalam hati.

“Tentu saja.” Kemudian menurunkan Sarang dan menatap kecebong itu berlari begitu cepat sampai ranselnya memantul dari punggunya dengan keras. Sarang keluar pagar depan lalu berbelok ke rumahnya sendiri. Menaiki undakan kecil dengan riang sambil memutar-mutar bunga di genggamannya yang sebenarnya sudah hancur dan berteriak jika dia baru saja mendapatkan bunga wangi dari rumah Paman Kyuhyun.

Sejenak Kyuhyun merasa emosinya mereda meski belum menghilang sepenuhnya saat melihat kebahagiaan terpancar di wajah Sarang. Dengan seragam sekolahnya bocah itu terlihat sangat bersinar, terlebih lagi ketika bersama seorang wanita dewasa yang dengan telaten membersihkan tangan mungilnya dari bunga-bunga hancur itu.

“Kau sudah bilang terima kasih pada Paman?”

Sarang menggeleng dengan bibir cemberut, “Aku lupa.”

“Kalau begitu kita harus kembali untuk berterima kasih padanya.”

Merasa dirinya menjadi topik pembicaraan Kyuhyun tak lagi mau menahan diri sebagai penonton saja. Dia punya inisiatif. Berdeham keras seraya melambaikan tangan untuk mendapatkan perhatian mereka.

“Sebenarnya kalian tidak perlu melakukan itu,” katanya santai sambil menunjuk beberapa pot geranium yang sudah bergelimpangan.

Bibir Hyo In terbuka lebar melihat bunga-bunga remuk itu. Seperti baru diinjak-injak kawanan banteng. Hanya menyisakan batang dan beberapa helai daun. Sisanya berguguran semua di sekitar pot miring dengan tanah tumpah dimana-mana. Terlihat jika itu bukan disebabkan daun yang sudah menguning dan berguguran tapi pasti ada tangan yang mematahkan.

Senyum Kyuhyun muncul begitu saja ketika memerhatikan Hyo In memarahi Sarang.

“Kenapa kau menghancurkan bunga Paman?” geram Hyo In.

“Kalian salah. Aku memetik, bukan menghancurkan.” Sarang menjawabnya dengan nada tak kalah kesal.

Dalam hati Kyuhyun tak bermaksud mengadu anak dan Ibu itu tapi perbuatan Sarang memang tidak benar. Pertama, dia tak meminta ijin sebelum memetik bunganya. Kedua, bocah itu—entah sengaja atau tidak—telah menghancurkannya. Kedua poin itu pula yang dipermasalahkan Hyo In hingga dia merasa perlu memarahi Sarang, sementara bocah kecil itu terus berteriak membela diri merasa tak melakukan kesalahan apapun.

“Kau harus minta maaf!” Perintah Hyo In.

Wajah Sarang semakin memerah. Dia menggeleng keras. Memeluk tas ranselnya seolah benda itu bisa menghalanginya dari tuduhan yang dilontarkan Mamanya. “Aku tidak salah, Mama!”

“Sarang!” Hyo In ikut berteriak. Lebih keras daripada Sarang hingga bocah itu berjingkat, mundur selangkah saking kagetnya melihat Mamanya langsung berdiri dengan mata menatap tajam langsung ke arahnya. Sangat mengintimidasi.

Mata Sarang nyalang sekaligus berair. Dengan sentakan kaki mungilnya dia berlari ke dalam rumah sambil berteriak, “Mama nakal!!! Jangan sentuh aku! Sarang tidak mau sekolah! Mama jahat!”

Blah blah blah. Sampai suara itu menghilang karena jarak yang semakin jauh.

Kyuhyun bergegas melompati pagar, segera menghampiri Hyo In saat wanita itu mendengus keras. Dia mendongak seraya menutup mata, terlihat sangat lelah dengan sikap anaknya yang begitu menguras emosi.

“Halo, Tetangga! Apa kau baik-baik saja?” Sapa Kyuhyun dengan senyum seramah mungkin demi meredam kekesalan Hyo In. Dia juga tahu rasanya merawat anak kecil berumur lima tahun—anak kakaknya. Itu memang bukan hal yang mudah tapi bukan tidak mungkin juga untuk dilakukan.

Hyo In menatap Kyuhyun lesu seraya membalas senyumnya dengan lemah.

Begitu saja sudah cantik.

“Maafkan Sarang. Aku tidak tahu kalau—“

“Sudahlah tidak usah dipikirkan. Aku bisa menanamnya lagi. Aku memberitahumu tanpa ada maksud agar kau memarahinya dan membuat kalian bertengkar.”

Hyo In menggeleng. “Bukan masalah itu. Sarang memang bersalah. Dia bahkan tidak meminta ijin. Hanya karena dia menyukainya bukan berarti dia juga harus mendapatkannya.”

“Aku tahu. Tapi dia masih sangat kecil dan belum mengerti itu.”

“Cukup besar untuk mengingat nasehatku,” sergah Hyo In tak mau disalahkan.

Alis Kyuhyun terangkat sebelah dengan seringai yang membuat wajahnya terlihat menyebalkan hingga Hyo In mengernyit saat menatap ekspresi itu. “Dia keras kepala. Seperti dirimu.”

Bibir hyo in mencebek, tanda tak setuju. “Sampai kapan kau akan terus jadi tetangga penilai?”

Kyuhyun mengedikkan bahu cuek. “Kupikir kebanyakan tetangga seperti itu.”

Hyo In menatapnya penuh perhatian sampai Kyuhyun mulai berasumsi bahwa sebenarnya wanita itu mulai tertarik padanya. Ketika dengusan itu keluar lagi dari mulut manisnya semua bayangan indah itu hancur. “Sebenarnya dia juga pintar berkelit.” Seperti Papanya. Namun, Hyo In menahan pernyataan itu sebelum menyelinap keluar dengan mengigit ujung lidahnya sendiri.

Kyuhyun mengernyit. Hyo In hanya mengangkat bahu seolah tak peduli.

“Kurasa hari ini bukan waktu yang tepat mengantarnya ke sekolah. Dia tidak akan mau bicara padaku sampai setidaknya—“ Hyo In mengangkat lengan kiri melihat arlojinya, “tiba jam makan siang. Dan itu masih lama.” Kemudian mengempaskan bokongnya di kursi beranda, menyandarkan punggung lelahnya di sandaran kursi rotan itu seolah merasakan pijatan dari tangan profesional.

“Duduklah! Akan kubuatkan minum untukmu.”

Kyuhyun menurut. Hyo In beranjak masuk kembali ke rumah dan keluar beberapa menit kemudian membawa dua gelas jus jeruk yang kelihatannya sangat segar.

“Wow! Bergizi sekali,” Ungkapnya begitu melihat dua potong sandwitch isi daging dan selada juga ada di sana. Saat itu perutnya terasa kosong kembali, seperti ketika dia bangun tidur beberapa jam lalu. “Untukku, kan?”

Hyo In mengangguk kemudian meneguk jusnya sendiri. Mendesah panjang dan puas seolah minuman itu memiliki rasa terbaik di dunia. “Aku benar-benar minta maaf. Ini di luar dugaanku. Kupikir tadi Sarang sedang melihat kartun di ruang TV jadi aku sengaja agak berlama-lama di kamar mandi. Biasanya dia tidak suka keluar rumah seperti itu.”

“Tidak perlu dipikirkan. Anak kecil memang susah diprediksi dan itu menyebalkan,” jawab Kyuhyun spontan

Hyo In mendecak melihat betapa lahapnya Kyuhyun memakan sandwitch-nya. “Aku tidak tahu kalau kau membenci anak-anak. Jangan-jangan setelah ini kau berencana membunuh anakku,” tuduh Hyo In dengan nada humor sekaligus agak kesal.

Kyuhyun mulai merasa nyaman dengan wanita itu. Perlahan Hyo In mulai menampakkan sisi lembut di balik sikapnya yang sangat blak-blakkan dan cenderung sesuka hati. Sayangnya, semua sifat buruk itu dia turunkan pada Sarang. Kecebong yang malang.

“Jangan terlalu keras padanya.”

Hyo In memutar mata malas. “Sudah dua kali kau mengatakan itu padaku. Jika tidak keras akan seperti apa dia nanti?”

“Jangan terlalu dibiarkan juga.”

“Kau berkata seolah merawat Setan Kecil itu hal yang sangat mudah. Kautahu, mendidiknya itu seperti membalik telur. Jika terlalu cepat akan hancur dan berantakan, jika terlalu lambat lama-lama bisa gosong. Aku bahkan tak yakin apa yang kulakukan selama lima tahun ini memang benar.”

Kyuhyun tersenyum lebar mendengar gerutuan panjang lebar Hyo In itu. Sepertinya wanita ini memang butuh teman. Mungkin dia terlalu lama hidup sendiri.

“Kalau sudah tahu begitu kenapa mau punya anak?”

Itu pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.

Dulu aku tidak tahu akan sesulit ini. Lagipula dia tidak direncanakan. Mmm … kautahu, semacam—“ Hyo In terlihat agak ragu untuk melanjutkan.

“Tidak direncanakan,” sergah Kyuhyun meyakinkan bahwa dia cukup paham dengan apa yang dikatakan Hyo In. Namun, apapun arti dari ‘tidak direncanakan’ itu dia takkan memaksa Hyo In untuk membahasnya karena sepertinya wanita itu juga terlihat malas membicarakan hal itu.

“Itu dia. Yang terpenting sekarang dia bersamaku. Aku mencintainya meskipun dia sangat menyebalkan dan aku benar-benar tak bisa membayangkan jika harus hidup tanpa Sarang. Dia sangat manis, di saat-saat tertentu.”

“Aku paham. Keponakanku juga seperti itu dulu tapi lebih banyak tingkah lagi. Mungkin karena dia laki-laki. Aku hanya sempat melihatnya sampai berusia tiga tahunan sebelum kakakku pindah.”

Senyum Hyo In mengembang begitu saja dan Kyuhyun bersumpah dia baru saja menyaksikan sinar yang paling bisa mengalahkan cerahnya matahari.

“Pasti menyenangkan,” cicit Hyo In setelah meminum jusnya.

Kyuhyun mendengus, ikut menenggak jusnya hingga tandas. Mengakhirinya dengan sendawa puas kemudian menepuk perut penuhnya. Hyo In tersenyum lagi, kali ini hampir tertawa.

“Kautahu, dia hampir mirip Sarang sebenarnya tapi yah … Sarang lebih cantik dan lebih bisa dikendalikan.”

Hyo In menggeleng tak percaya. “Tunggu sampai waktunya tidur. Dia akan ribut masalah ini-itu. ‘Mama, Sarang mau susu’, ‘Mama, Sarang mau pipis’, ‘Mama, Sarang lapar’. Lalu berlari kesana-kemari dan menyeretku duduk di lantai menemaninya bermain ular-tangga, kadang menggambar, padahal matanya sudah setengah tertutup. Tubuhnya bergoyang ke depan dan ke belakang tak bisa menyangga kepala besarnya. Pokoknya dia akan melakukan apapun supaya tidak tidur. Ya Tuhan!” Hyo In mendongak dan senyumnya bertambah lebar. Menampakkan kekesalan yang terselimuti kebanggaan.

Kyuhyun menduga mungkin saja mata Hyo In sudah berair sekarang. Wanita itu menceritakan putrinya dengan wajah bersemu merah. Pasti menyenangkan seandainya dia juga bisa membuat Hyo In merona dengan kelakaran ataupun hal lain yang bisa saja terdengar tidak sopan. Kyuhyun mengumpat dalam hati karena hanya bisa membayangkannya mengingat waktu mereka kenal juga masih terbilang sangat awal, akan sangat tidak sopan jika hal itu benar-benar terjadi. Dia menghela napas menahan getaran yang tiba-tiba muncul merambati seluruh tubuhnya mulai dari kaki sampai ujung rambut.

“Semalam menunjukkan hal yang sebaliknya.”

Tangan Hyo In melambai, menyangkal. “Dia kelelahan. Paling parah hanya minta dibacakan cerita.”

“Dia suka membaca?”

Aku suka membaca. Anak itu hanya suka mendengarkan orang bertutur.”

“Mama yang baik.”

Hyo In mengedikkan bahu seolah pujian itu tak menembus hatinya sama sekali dan sudah biasa mendengar hal itu padahal Kyuhyun benar-benar serius mengatakannya meskipun dia sengaja tak terlalu memperlihatkan itu dengan menyeringai jahil.

“Kau harus memberikan piala nobel dan menjadikan namaku sebagai nama penghargaan bagi para ibu tunggal berprestasi sepertiku.”

“Sepertinya kau sangat menikmati hidup.”

“Kau juga tidak ada bedanya. Kebanyakan pria-bujangan-seumuranmu lebih banyak bersembunyi di balik meja kerja. Memerhatikan harga saham seperti melihat Kim Kadarshian bugil di tengah jalanan Seoul.”

Kyuhyun terbahak sampai kepalanya terlempar ke belakang. Perumpamaan yang digunakan Hyo In terdengar sangat vulgar tapi dia juga bisa menangkap unsur sindiran di sana. Pandai menggoyang lidah, huh? Menarik.

“Sudah kubilang aku melakukan apapun yang ingin kulakukan,” katanya bangga seraya merentangkan tangan. “Kau, apa yang kaulakukan untuk menghasilkan uang.”

“Ow, aku membantu kakakku di butik mulai besok. Sebenarnya butik itu milik Ibu … diwariskan untukku tapi aku belum punya pengalaman mengurus apapun kecuali anak perempuan. Sebelumnya aku bekerja sebagai akuntan di Firma orangtua temanku di Inggris.”

“Kakakmu, wanita cantik itu, si pembuat puding?” terka Kyuhyun.

Hyo In tertawa kecut dengan pancaran penuh canda di mata cokelatnya. “Dia memang cantik. Semua orang tahu itu.” Cebekan di bibirnya membuat Kyuhyun merasa perlu memberikan sedikit sapuan manis dengan bibirnya di sana. “Tapi dia sangaaat cerewet apalagi pada Oppa-ku.”

Oppa?!” seru Kyuhyun terkejut.

“Namanya Song Joong Ki. Sekarang kuliah S2 di Amerika tapi tidak pernah pulang ke sini.” Setelah aku kabur dari rumah.

Kyuhyun merasakan hawa dingin dari suara Hyo In, seolah hal itu pulalah yang bisa membuat punggungnya kaku dan merasa kehilangan sesuatu. Kehangatan. Kyuhyun membutuhkan itu dari suara dan senyum Hyo In. Dia tak ingin kehilangan itu.

“Aku suka puding kakakmu. Kau bisa membuat yang seperti itu?”

Hyo In sepertinya sadar dengan pengalihan topik yang berusaha Kyuhyun bawa. Matanya langsung bersinar lagi. Setelah itu Kyuhyun bisa bernapas lega ketika dengan cerewet gadis itu menjelaskan bagaimana buruknya dia membuat segala jenis dessert tapi sangat suka membuat makanan utama. Wajahnya merona lagi ketika Sarang selalu memuji semur daging atau daging panggang buatannya kemudian berubah kecut saat menceritakan betapa susahnya Sarang makan sayur dan nasi. Gadis kecil itu terbiasa dengan roti selama mereka masih tinggal di Inggris. Nasi memang bukan makanan utama di sana dan Hyo In selalu kebingungan membuat Kecebong itu lebih ketimuran dengan memakan karbohidrat yang lebih berat dari sekedar roti atau paling tidak ramyun Korea. Hyo In sangat suka ramyun buatan Ibunya tapi Sarang selalu berteriak histeris seperti melihat arwah The Flying Dutchman, si Bajak Laut Jahat, setiap kali Hyo In mencoba menyuapinya.

Kyuhyun sungguh menikmati cerita Hyo In dari awal sampai akhir. Tentang bagaimana dulu mereka hidup di sana bersama Ayah dan Ibunya yang sedang mengurus pabrik wol sementara dirinya sendiri hidup tak terkendali begitu tahu betapa bebasnya hidup di Inggris. Kyuhyun juga mulai tertawa dan menanggapi dengan semangat setiap cerita lucu Hyo In. Saat kakaknya, Joong Ki, marah besar karena tidak dibawa serta ke sana sampai mogok tidak mau kuliah selama sebulan dan berakhir dengan gagalnya beberapa mata kuliah dan malah dimarahi Ayah mereka habis-habisan atau bagaimana dia kesulitan memahami aksen Inggris masyarakat sana ataupun sebaliknya.

Tawa Kyuhyun meledak ketika dia membayangkan apa yang sedang dideskripsikan Hyo In. Memikirkan wanita itu dengan semangat bertanya jalan mana yang harus dia lalui untuk sampai ke rumah pedesaan yang disewa Ayahnya selama beberapa tahun ke depan tapi orang Inggris itu hanya mengernyit dan malah balik bertanya, “What do you mean?” berkali-kali setiap kali Hyo In selesai bicara dan memasang tampang bodoh, menunggu jawaban, dan selalu berakhir dengan umpatan dalam bahasa Korea ketika orang yang dia tanyai menyerah dengan kegilaannya.

“Aku sudah seperti monyet gila bergerak-gerak tidak jelas dengan harapan mereka tahu satu atau dua kata yang kubicarakan.”

Kyuhyun tergelak lagi setelah itu menghela napas panjang, mencoba meredam tawanya yang tak mau berhenti. “Kau sangat bodoh.”

Hyo In menyetujuinya tanpa merasa keberatan sama sekali. “Memang. Aku baru enam belas tahun waktu itu. Selalu tidur atau pergi ke UKS setiap kali perlajaran bahasa Inggris.”

“Sakit kepala bahkan sebelum pelajaran dimulai,” sergah Kyuhyun.

You got that point, dude.”

“Woah! Bukan main. Dasar sombong.” Kyuhyun mendecak. Mengolok-olok Hyo In tanpa sedikitpun dari mereka yang merasa tersinggung.

Ketika Hyo In hendak membalas ejekan Kyuhyun, perhatian mereka langsung teralih begitu suara telapak kaki kecil menuruni tangga terdengar. Makhluk itu berjalan agak cepat, lebih seperti berlari kemudian suara pintu kulkas terbuka dan beberapa benda diambil dari sana, pintu kulkas tertutup lagi, ada suara sandal dilepas dan gesekan kaki kursi dengan lantai kemudian air mengalir dari kran meski hanya sebentar, menandakan gadis kecil pemarah itu sudah mencuci tangan lalu suara sendok dan piring mulai berdentang setelah sendawa Sarang menggema hingga keluar rumah. Sarang selalu menghabiskan susunya sebelum makan.

“Tepat seperti yang kukatakan. Waktunya makan siang. Mau masuk? Aku masih punya kimchi dan ramyun instan kalau kau suka. Maaf, belum sempat berbelanja.”

Sedikit terhenyak Kyuhyun ikut bangkit, baru menyadari betapa cepatnya waktu berlalu yang dihabiskan bersama Hyo In karena dia tak merasa percakapan itu membuang-buang waktu. Justru Kyuhyun menginginkan waktu berlaku lebih istimewa padanya, membiarkan Hyo In bercengkerama dengannya lebih lama lagi sebelum wanita itu kembali pada kewajibannya, begitu pun dia. Dengan tanpa ragu Kyuhyun mengekor Hyo In masuk ke dalam rumah. Melewati ruang tamu, ruang keluarga dan celah di pinggir jendela yang sengaja dipasangi semacan kasur kecil berseprai putih dengan motif bunga matahari dan bantal-bantal dengan bentuk buah-buahan, salah satunya strawberry yang mungkin saja itu pilihan Sarang—duganya—kemudian di kedua sisi kasur kecil itu ada dua lemari buku berukuran sedang. Di samping kanan berisi buku-buku anak dan sebelah kiri berisi novel-novel roman dan ensiklopedia. Kyuhyun terkagum dengan kekuatan keinginannya bertemu Hyo In semalam sampai tak menyadari tempat ini. Sangat indah dengan matahari yang menyinari tempat itu
.

“Hei! Kau bisa membaca di situ lain kali tapi kau harus melihat ini lebih dulu,” ujar Hyo In semangat. Membangkitkan kembali kesadaran Kyuhyun saat dia baru tahu sempat tertegun di tempat yang sama beberapa waktu.

Dia kembali mengikuti Hyo In, kali ini langsung menuju dapur dan menghampiri Sarang yang dengan tenang memakan painya dengan toping sirup berwarna merah kental. Meskipun gadis kecil itu bukan hanya menuang sirup di atas pai tapi juga di atas meja dan pinggiran mulutnya.

Hello, smart girl! Sepertinya kau kelaparan.”

Dengan riang dan seolah sudah melupakan kemarahannya beberapa jam lalu Sarang berujar semangat, “Aku membuat paiku sendiri.” Sambil tersenyum bangga ke arah Mamanya.

Senyumnya sangat mirip dengan Hyo In. Gadis kecil itu duplikat Ibunya. Dan Kyuhyun terpukau pada keakraban tetangga-tetangga barunya itu.

I see.” Hyo In duduk di samping Sarang, mencium pelipisnya kemudian membersihkan sirup di wajah putrinya dengan ibu jari. “Kau terlihat cantik dengan sirup ini tapi akan lebih cantik lagi jika pipi dan mulutmu bersih.” Lalu memerhatikan seragam Sarang yang kotor bukan hanya karena sirup tapi juga noda cat warna di beberapa tempat. Hyo In menghela napas menahan geraman yang Kyuhyun rasa akan meledak saat dia mencuci baju itu.

Nodanya begitu mengerikan.

Kyuhyun berdeham sebelum duduk di depan Sarang. Sarang langsung menoleh dan memberinya cengiran seperti saat pertemuan pertama mereka kemarin. “Halo, Paman Kyuhyun!”

“Hai, Cantik. Paimu terlihat sangat lezat.”

“Aku membuatnya sendiri. Iya, kan, Mama?”

Hyo In mengangguk mengiyakan saja seraya membersihkan meja dari lelehan sirup. “Mau sesuatu lagi?”

Kyuhyun menggeleng. “Tidak. Aku sudah melewatkan jogging pagi ini jadi harus segera ke gym. Aku butuh keringat.”

Wajah Hyo In menekuk penuh penyesalan namun saat hendak mengatakan maaf Sarang sudah menyelanya. “Aku punya sesuatu untukmu. Wait a second!”

Tanpa peringatan Sarang langsung merosot dari kursi. Dengan kaki telanjang berlari menaiki tangga sambil bernyanyi riang dengan suara cemprengnya. Kyuhyun dan Hyo In saling berpandangan dengan dahi berkerut.

“Jangan memandangku seperti itu! Aku juga tidak tahu apa yang akan dilakukan bocah itu.”

“Kau Ibunya.”

“Tapi aku bukan pembaca pikiran.” Hyo In mendengus dan mendapat seringaian dari Kyuhyun.

Tepat setelah itu Sarang datang masih dengan ekspresi yang sama sambil memegang selembar kertas bahkan suara nyanyiannya lebih keras dari sebelumnya.

“Apa itu?”

“Sofia the First,” jawab Hyo In merujuk pada lagu yang dinyanyikan Sarang. Kemudian sedikit mencondong hingga bisikannya hanya bisa didengar oleh Kyuhyun. “Dia ingin jadi Putri Sofia.”

Kyuhyun dengan senang hati menghirup aroma melati Hyo In saat tubuh mereka berada dalam jarak yang cukup dekat meski terhalang meja makan yang lebar. Seandainya mereka sudah mengenal lebih lama Kyuhyun mungkin cukup berani untuk meminta satu pelukan dari Hyo In agar bisa terus mencium wangi itu untuk dirinya sendiri.

Perhatian mereka teralih lagi begitu Sarang naik kembali ke kursinya seraya memberikan kertas yang dibawanya dari kamar tadi. “Ini untuk Paman Kyuhyun. Aku melukis bungamu karena aku tak bisa menghidupkan mereka lagi. Aku tak mau minta maaf. Sarang ‘kan tidak salah.”

Hyo In tersenyum senang, mengusap sayang kepala Sarang, bangga dengan apa yang dilakukan putrinya meskipun masih enggan meminta maaf dan bersikukuh tetap tak bersalah. Dia juga yakin bahwa Kyuhyun tahu maksud Sarang dengan baik melalui ekspresi pria itu. Kyuhyun tengah tersenyum. Senyum yang lebar. Lebih lebar dari yang pernah Hyo In lihat sebelumnya. Senyum itu mencapai matanya.

Mungkin dia benar-benar tulus. Batin Hyo In.

“Terima kasih. Bunga yang sangat cantik.” Kyuhyun memandangi lukisan Sarang yang lebih mirip coretan tak berpola daripada bunga geranium. Menempelkannya di dada dan menggapai pipi Sarang. “Kautahu, sebenarnya kita bisa membuat bunga yang lain hidup. Kuanggap kau tidak punya kesalahan sama sekali jika Sarang yang cantik mau menemani Paman Tua ini menanam bunga besok.”

Sarang memandang Hyo In penuh permohonan. Dia ingin sekali menemani Paman baik hati bernama Kyuhyun itu menanam bunga yang sudah dipetiknya.

Hyo In sengaja berpura-pura tak mengijinkan Sarang dengan memasang wajah datar. Namun, dia benar-benar tak tahan lagi ketika melihat mata bulat Sarang memohon lalu tersenyum seketika itu juga. “Setelah tidur siang,” jawabnya menyetujui.

“Tentu saja.” Sarang bersorak riang kemudian kembali ke sisa painya yang baru termakan setengah.

“Baiklah kalau begitu. Besok sore setelah Sarang tidur siang.”

Kyuhyun juga setuju lalu berpamitan pulang. Dengan masih memegang lukisan Sarang, dia mulai berpikir apa-apa saja yang harus dipersiapkan untuk menanam bunga bersama Sarang dan sedikit tambahan untuk menarik perhatian Mama si Kecebong.

24 thoughts on “[Chapter] Single Mom Next Door 3

  1. Kecebong?haha lucu lucu,ciyeee yang lagi merasa bergetar,deketin anaknya biar bisa dpet perhatian dr ibunya,pintar sekali kamu paman berhati baik.sarang bner2 ngegemesin,dan tetep kekeh kalau dia gak bersalah.ayo jangan lama3 yah kak buat dilanjutinnya,penasaran sama perkembangan hubungan mereka,

  2. pudel berjiwa herder & kecebong gesit???ya ampun aku ngakak bacanya.hyo in sudah mulai terbuka dg kyuhyun,meskipun belum sepenuhnya.sarang lucu banget,iya memang keras kepala kaya emaknya. awal yg baik untuk mereka. tp aku masih penasaran sama ayahnya sarang.cepet di lanjut ya??

  3. Ya ampun.. Mama-nya kecebong.
    Segitunya Kyuhyun nganggep Sarang. Nanti, kalau Sarang sudah jadi anaknya si Kyuhyun gimana? Masih tetap nganggep dia kecebong? Wkwkwk..

    Celah dinding hati Hyo In mulai merekah.. Di tunggu konflik-nya ><

    Semangat kak Hyonie😀

  4. Semalem udh koment tapi gak masuk😦

    Sarang bener2 duplikat’a Hyoin😀
    Kya’a,diam2 ada yg mulai timbul benih benih asmara nih #senggolKiyu

  5. Menarik perhatian mama kecebong?? Haha fighting “Paman tua baik hati kyuhyun” 😁😂😂
    Smoga sukses menaklukkan hati si mama kecebong yg sedingin es 😁😁😀😂

  6. Wow,,,,udah mulai nyusun siasat buat narik perhatian si mommy kayanya nih, fighting kyu!!! Lo sekedar ngedekatin mungkin g terlalu sulit, secara sarang juga udah “kecantol” ma kyu. Tapi lo mo berkomitmen lebih jau yg sulit,setelah kegagalannya sama appanya sarang padti sulit buat hyoin percaya & membuka hatinya untuk pria lagi

  7. hai reader baruuu….
    sudah baca borongan part 1-3 maaf yaa langsung dikomen disini…. gak tau sih ini ceritanya nyenengin aja dibacanya… bahasa2 nya juga serasa baca novel terjemahan… seneng banget sama interaksi sarang-kyuhun-hyoin.. walaupun di awal2 hyoin rada nyebelin… heheh… banyak kata2 lucu kayak paman tua baik hati sama kecebong gesit. yang bikin penasaran sih bapak nya si sarang siapa. semangat ya kyu… keknya sudah mulai ada benih2 cinta haah.. ditunggu kelanjutan ceritanya.. semangaat

  8. mungkin nanti hyo in sedikit2 akan terbuka pada Kyuhyu mengenai masa lalunya, karena sepertinya dia nyaman dengan kyuhyun dan mulai percaya padanya. ah beneran kejadian2 yang mereka bertiga alami hari ini beneran sweet banget, kaya keluarga kecil. ditunggu lanjutannya..^_^

  9. ya ampun ga bs bayangin gimana wajah kyu wktu liat bunga geranium’y hancur krna sarang si kecebong, hihihii lucu juga liat kyu frustasi sm kelakuan sarang yaa.. duhh si kyu udh terpesona aja sm mama kecebong smga pdkt’y sukses yaa..

  10. Kyaaaa i like this so much
    uh huh si Paman Kyuhyun yg seksi kyaaaa
    aduuuuuh Kyuuuuu
    pen nyium kau haha
    Sarang Sarang
    ampun deeeh
    sikap nyaaaa
    bener2 bikin Kyu geram tapi mau ndak mau ya ditahan
    aish si Kyuhyun pikirannyaaaaaa
    dasar hahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s