[Chapter] At Gwanghwamun Bagian 7

At Gwanghwamun
Cho Kyuhyun/Song Hyo In
By Valuable94

WARNING: 21+

11180317_949635291726786_8055858873775907172_n

Bagian 7

KYUHYUN

Bad Blood

Kedipan mata Hyo In akan lebih memesona jika dia tidak melongo seperti ini.

Dia terlalu lama melongo.

“Hentikan!” Kukatupkan mulut kecilnya. Seketika bergetar saat merasakan kekenyalannya di antara jariku.

Matanya mengedip lagi lebih cepat seraya menggelengkan kepala seolah apa yang baru saja terjadi hanyalah mimpi.

“Tolong bicara sesuatu. Kau mulai membuatku takut.”

“Tidak. Mmm … maksudku tidak. Ya, tidak. Begini—“

“Bicara yang jelas!”

Dia menggeleng lagi. “Kurasa ini bukan mimpi. Tapi kau baru saja mengatakan sesuatu yang tidak mungkin kudengar darimu seumur hidup.”

Aku mendengus dan lebih memilih membereskan berkas-berkas yang baru selesai kuperiksa. Nanti malam masih ada waktu memperbaikinya. Aku juga sudah menandai beberapa bagian penting yang memerlukan revisi jadi kurasa tidak akan berat.

Hyo In beringsut ke sampingku, menggenggam lenganku sampai terasa kaku. Tangannya juga sedingin es. “Kau tidak bisa ikut denganku,” tegasnya.

Aku mengernyit. “Kenapa, hanya acara makan biasa, kan?”

“Tentu saja bukan!” Pekiknya berlebihan. Wajahnya yang semula pucat kini memerah. “Ini acara makan di rumah keluarga Ayah. Kau tidak bisa datang begitu saja.”

“Kubilang aku ikut denganmu.”

“Ya, tapi ini—oh, tidak! Bisa-bisa kau disangka kekasihku. Tidak, jangan. Kenapa kau tidak di rumah saja atau di kantor? Bukankah pekerjaanmu masih banyak.“

Hyo In mulai tak masuk akal.

“Memangnya kaumau mengajar di hari Minggu, tidak, kan?” Dia menggeleng. “Aku juga begitu. Cukup bilang saja yang sebenarnya. Mereka tidak akan mengusirku hanya karena aku teman Ayahmu. Tradisi melarangnya. Sangat tidak sopan mengusir tamu saat mereka makan.”

“Bukan masalah itu. Kau jelas tak mengenal mereka. Sangat menyebalkan.” Suaranya berubah dramatis. Dasar wanita.

“Menyebalkan sepertimu maksudnya? Aku bisa meng-handle itu sendiri.” Godaku dan langsung mendapat tatapan ‘sialan’ darinya.

“Lebih dari aku ataupun Ayah,” gerutunya. Hyo In berbalik seraya melipat tangan di bawah dada. Bibirnya yang merah mengerucut lagi. Dia menoleh padaku secara tiba-tiba. “Kau benar-benar menyebalkan sekarang. Jadi lemari es saja dan jangan pedulikan aku. Itu lebih baik.” Suaranya merendah dengan wajah tertunduk, mengamati gerakan kakinya di lantai.

Kuhela napas kemudian berdiri. “Kurasa kau tidak terlalu suka saat aku begini. Padahal kau pernah bilang padaku harus lebih bisa menerima kenyataan. Jalani kehidupan. Sekarang lihatlah! Aku mencoba jadi diriku yang baru, yang lebih peduli pada orang lain dan bukan memerhatikan penderitaanku sendiri, dan meninggalkan masa lalu di belakang.”

Kalimat itu menyentuh sekali jika kalian tak tahu kalau semua itu hanya kebohongan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Konyol sekali. Sekarang malah jadi aku yang semakin tenggelam dalam sandiwara itu dengan menarik kembali topik sialan ke dalam percakapan kami. Jelas sudah, hal ini bukannya semakin membaik tapi memburuk, menggelemkanku dalam pusaran kebohongan tak berkesudahan. Setiap keping cerita itu akan terus bertambah untuk melengkapi kepingan lain yang sudah kutata dan pada akhirnya akan membentuk puzzle lengkap berbentuk skenario.

Kedua alis Hyo In bertaut. Dengusan kerasnya membuatku bingung harus memberi reaksi macam apa. “Pokoknya kau tidak boleh ikut.”

“Coba tanya Ayahmu,” usulku.

Terang saja Hyo In langsung tak menyetujuinya. Mereka selalu berbeda pendapat.

Dia menghela napas lega begitu punggungnya menyentuh sandaran sofa. Matanya tertutup seolah dengan begitu semua beban yang ada di pikirannya terangkat. Aku duduk lagi di sampingnya. Memikirkan apa yang seharusnya kukatakan. Apakah harus menyerah sekarang melihat dia begitu tak menginginkanku ikut dengannya atau bertahan demi sesuatu yang sebenarnya sedang dia butuhkan. Lagipula sehari tak bertemu Hyo In sepertinya kurang menyenangkan sekarang. Aku ingin terus melihat wajahnya yang sering berubah-ubah. Juga cengiran itu. Jarang sekali aku menemui wanita amburadul seperti dia. Hyo In terasa berbeda dari kebanyakan kaumnya.

Maka, jawaban kedua lah yang lebih masuk akal. Jadi kuputuskan untuk mengatakan alasanku yang sebenarnya, kurasa itu akan mempermudah jalanku. “Dengar, aku hanya ingin menemanimu. Kurasa akan ada banyak hal yang bisa kita bicarakan di sana, kalau kau bersedia mengobrol denganku tentu saja. Aku bisa bertemu dengan banyak orang yang belum kukenal. Kau juga tak perlu mengenalkanku sebagai apapun yang berkaitan denganmu. Aku hanya akan mengekor Ayahmu.”

Dan benar saja. Mata Hyo In terbuka dengan binary menghiasi mata cokelatnya yang jernih. Sayangnya, pemandangan indah itu agak rusak karena kerutan di dahinya. “Kau serius?”

Aku hanya mengedikkan bahu. Merasa tak pelu mengatakan apapun lagi untuk memperkuat argumentasiku. Jadi kubiarkan Hyo In yang menilai dan mengambil apapun keputusannya. Kurasa memaksa pun takkan menghasilkan sesuatu sesuai keinginanku bahkan mungkin saja membuat Hyo In semakin menolak.

Pada akhirnya—entah terpaksa atau tidak—Hyo In mengiyakan. Mata cokelatnya menatapku penuh tantangan. “Baiklah. Tapi jangan dekat-dekat aku.”

***

Keesokan paginya aku sengaja bangun lebih awal mempersiapkan setelan yang akan kupakai untuk acara makan bersama keluarga besar Hyo In nanti. Semalam Hyo In menghubungiku lagi untuk mengatakan kapan tepatnya kami akan berangkat. Aku sudah merasa sangat bersemangat sejak kepulangan Hyo In. Pikiranku terus tersita pada apa yang akan kulakukan di sana nanti. Wajah itu takkan bisa kulupakan begitu saja. Hyo In gadis yang ceria sehingga perubahan sedikit apapun akan langsung terlihat. Di samping itu, dia juga tak terlalu pintar menyembunyikannya dariku. Semua yang dia pikirkan dan rasakan tergambar dari sana.

Tiga puluh menit perjalanan ke rumah Paman Seung Hoon kutempuh dalam waktu sekitar lima belas menit saja. Penting memang bangun lebih pagi dari biasanya saat weekend sepert ini. Selain menghindari macet, aku masih bisa menikmati udara segar dan pemandangan selama perjalanan—meskipun hanya itu-itu saja. Cukup bisa disyukuri.

Pintu gerbang terbuka otomatis begitu memasuki perumahan kemudian memberikan kartu identitas pada petugas keamanan. Setelah memarkir mobil aku berjalan beberapa meter menuju rumah Paman. Jalanannya menanjak, lewat beberapa menit saja sudah bisa membuatmu berkeringat. Tidak perlu olahraga pagi.

Sampai di sebuah rumah berpagar cokelat tinggi dan pintu berwarna putih aku masuk dengan mudah karena tidak dikunci. Melihat-lihat pemandangan hijau di halaman depan dan menikmati aroma tanah yang baru disiram, sangat menenangkan. Bunga dan rumputnya pun masih basah. Bibi pasti sudah bekerja keras. Pikiranku melayang mengingat Hyo In berlutut seraya mengangkat kedua tangan di sini. Dan cebekan bibir itu … ah, sialan!

Aku harus berhenti tersenyum.

“Selamat pagi!”

Suara Paman mengalihkan perhatianku. Aku membungkuk hormat, menerima pelukan singkat dan tepukan ringan di bahu—seperti biasa. Begitu berada di dalam rumah aku tertegun melihat Hyo In sedang berdebat dengan Ibunya tentang sepatu mana yang seharusnya dia pakai. Sebenarnya ini bukan tentang pembicaraan mereka melainkan Hyo In sendiri.

“Yang merah atau putih?”

“Sudah kubilang pakai apapun yang nyaman,” kata Bibi seraya menalikan pita panjang yang menjutai di kedua sisi dress bunga-bunga Hyo In di belakang punggung. Dress itu melekat sempurna di tubuh kecilnya, menggantung sampai lutut dengan lembut.

“Yang putih lebih cocok.” Bibirku tak bisa dihentikan.

“Terima kasih ba—argh!!!” Hyo In berjingkat. Menatapku dengan mata terbelalak seperti melihat hantu.

Tanpa menghiraukannya Bibi tersenyum padaku dan kubalas dengan bungkukan hormat. “Selamat pagi, Bibi, Hyo In.”

“Sudah datang rupanya. Kau tampan seperti biasa.”

Menahan hangat di wajah, aku berpaling pada Hyo In. “Bibi juga. Cantik seperti biasa.”

Hyo In terhenyak dengan wajah memerah, sadar dengan kerlingan yang sengaja kuarahkan padanya. Aku hanya tak bisa menahan itu. Rasanya menyenangkan bisa membuatnya salah tingkah.

“Baiklah. Kita berangkat sekarang.”

Aku masih setia berdiri di depan Hyo In sementara Paman dan Bibi keluar lebih dulu menyiapkan mobil—mereka menolak memakai mobilku. Di sisi lain Hyo In berdiri kikuk di tempatnya semula. Berpura-pura sibuk dengan tali sepatu yang sudah rapi atau membenarkan rambut ponytail-nya yang tidak berantakan sama sekali. Ha!

“Kau juga cantik.”

Itu ungkapan dari hatiku yang paling dalam karena sungguh pagi ini dia terlihat seperti kebun bunga yang bermekaran. Mengembuskan kembali angin musim semi itu.

“Aku tahu. Terima kasih,” ucapnya cuek. Tapi aku jelas tahu dia sedang tersipu begitu melihat tingkahnya. Tanpa ba-bi-bu dia menggandeng tanganku. Menyambar tas kecil merahnya di sofa dan langsung keluar rumah.

Aku yang menyetir. Hyo In duduk di sampingku, mendadak jadi pendiam seperti murid pemalu yang baru masuk sekolah dan belum mengenal siapapun. Hanya sesekali menggerutu saat Paman dan Bibi mencertakan kebiasaan buruknya: tidak bisa bangun pagi—seperti yang kutahu, napsu makan berlebih, dan tidak bisa tidur malam. Persis kelelawar. Dan peminum yang buruk. Itu semua menyebabkannya kesiangan dan menjadi orang terakhir yang siap ke acara makan hari ini.

“Kurasa Hyo In akan jadi satu-satunya kelelawar yang tidak tidur siang dan memakai dress. Dia pasti yang paling berisik,” timpalku. Paman dan Bibi setuju. Kami tertawa, kecuali Hyo In.

“Aku-tidak-berisik,” bantahnya sebelum mengalihkan perhatian ke jalan lagi.

Paman bersiul menggoda. “Harusnya kau berhati-hati, Nak. Pujianmu hampir menyentuh sisi sensitifku.”

Bibi dan aku terkikik mengingat kata ‘Paman’ dan ‘sensitif’ bukanlah kombinasi yang pas.

“Dia tidak memujiku, Ayah. Lemari Es ini menggodaku,” dengus Hyo In seraya membenarkan make up-nya.

“Kurasa lemari esnya sudah menghangat,” balasku.

“Oh ya? Cepat sekali. Menakjubkan.”

Aku tak bisa lagi menahan tawa. Dasar Tongkat Pramuka.

“Tentu saja. Kau bisa membuktikannya sendiri. Aku pria yang yah, lumayan fleksibel.”

“Jangan macam-macam.”

“Aku cuma satu macam.”

“Berhenti menggodaku, Kyuhyun.”

“Aku tidak menggodamu. Yang kukatakan benar adanya.”

“Dia memujimu, Sayang.”

“Argh! Ibu sama saja.”

“Oh, setelah belokan di depan kita akan sampai.” Seruan Paman mengentikan godaan kami pada Hyo In.

Beberapa meter ke depan aku mengambil arah ke satu-satunya belokan yang ada. Sebelum sampai ke rumah salah satu paman Hyo In kami harus ekstra hati-hati menjalankan mobil melalui jalanan yang lumayan sempit. Lima menit kemudian kami sampai. Di rumah yang terbilang megah untuk ukuran kawasan yang terlihat biasa-biasa saja dari luar. Rumah ini berlantai tiga dengan luas dua kali rumah Paman. Seukuran rumah Ayah, kurasa. Bercat abu-abu dan putih dengan taman depan luas yang memiliki jalan setapak lumayan panjang sebelum kami benar-benar sampai di beranda rumah. Ketika pintu itu terbuka kami disambut dengan hangat. Paman dan Bibi masuk lebih dulu.

Aku terhenyak ketika tiba-tiba merasakan tarikan lembut di tanganku. Hyo In menahanku. “Kenapa?” tanyaku penasaran begitu melihat wajah pucat Hyo In. Dahinya mengernyit seraya menggigit bibir bawahnya. “Kau baik-baik saja?” Kutangkup wajah mungilnya dalam usaha menahan diri untuk tak ikut menggigit bibir kenyal itu.

Katakan tidak supaya aku bisa terus memegangmu.

“Tetap bersamaku.”

Tak bisa kupungkiri ada semacam perasaan lega mendengar kalimat singkatnya. Aku mengangguk. Dia tersenyum sebelum mengikuti langkahku. Tangan kami terpaut. Hyo In menggenggamnya sangat erat sampai aku bisa merasakan tangan dingin nan lembab itu bergetar. Sesuatu yang hangat pun menjalar halus melingkupi genggaman kami. Entah sejak kapan hal itu timbul tapi yang jelas sekarang Hyo In membutuhkanku. Bukan nanti.

Aku tidak akan melepaskanmu. Janji.

Perhatian kami teralih begitu beberapa anggota keluarganya memerhatikan kami yang masih tertahan di depan pintu, termasuk Paman dan Bibi. Kami masuk begitu aku merangkul bahu Hyo In, tak menghiraukan asumsi apapun yang sedang berlarian di pikiran mereka. Aku berusaha tersenyum ramah mendukung sandiwara Hyo In yang tengah tersenyum manis padahal tangannya sedingin es.

Aku tak yakin apa yang sebenarnya membuat Hyo In tak nyaman sejak kemarin karena kenyataannya apa yang dia bicarakan tidak terjadi sama sekali. Maksudku seperti halnya mereka menganggap aku sebagai kekasihnya. Jelas sekali Hyo In tak keberatan aku terus menempel padanya, bahkan kami duduk bersebelahan saat acara minum teh. Paman juga memperkenalkanku sebagai rekan bisnisnya pada waktu yang sama. Mereka menyambut kami dengan baik meskipun aura dingin di sekitar kerumunan banyak orang ini bisa membuatku menggigil. Dan jika Hyo In merasakan hal yang sama denganku, maka dia menyembunyikannya dengan sangat baik—tapi tidak untukku. Mungkin ada beberapa dari mereka yang menyebalkan karena melihatku seperti bukan orang Korea saja. Aku pun merasakan ketidaknyamanan Bibi namun itu tertutup begitu rapi hingga siapapun yang tak memerhatikannya dengan saksama takkan menyadarinya. Dan Paman tahu itu. Di sisi lain Hyo In menikmati tehnya seolah tak terjadi apa-apa padahal pahanya yang menempel padaku menjadi lebih kaku. Sesekali dia juga melirikku sambil tersenyum. Senyum yang mengatakan “Nikmati tehmu. Aku baik-baik saja.” Padahal aku tahu yang sebaliknya.

Selesai acara minum teh kami semua menuju halaman depan mempersiapkan makanan untuk acara inti nanti. Sebenarnya para pelayan yang melakukannya karena kami hanya menikmati pemandangan itu. Halaman sudah ditata untuk acara makan keluarga besar sekaligus bersantai. Tak jauh dari tempat panggangan sudah berdiri meja panjang dan besar dikelilingi kursi-kursi yang tertutup kain merah yang berkibar lembut oleh embusan angin.

Paman sedang bercengkerama dengan seorang pria berambut setengah hitam dan perak. Gayanya parlente dan suaranya sangat lantang. Mereka bersama dua orang pria lain yang terlihat tak berbeda umur terlalu jauh. Mereka bertiga adalah saudara tertua Paman. Itu yang kutahu, atau setidaknya begitulah kata Bibi yang sedang memijat kakiku di atas pangkuannya.

Kalian tahu, sangat sulit menolak permintaan wanita selembut Ibu Hyo In apalagi beliau sedang membutuhkan pengalih perhatian karena ditinggal suami tercintanya.

“Yang di pojok samping beranda itu kakak perempuan keempat Ayah Hyo In. Menikah dengan petani sukses, pemasaran beras mereka sudah sampai Eropa. Dia yang selalu membantu saudara-saudara lain saat sedang kesusahan. Sayang sekali putra satu-satunya meninggal karena kecelakaan kerja.”

Aku melihat ke arah wanita yang sedang mengenakan dress hitam polos dan kalung emas besar menggantung di leher. Wanita yang anggun. Lipstick merahnya menegaskan kebengisan perangai tapi sepertinya tampilan tak memiliki hubungan sama sekali dengan karakter.

“Kalau yang sedang berbicara dengannya itu, kaulihat wanita yang lebih kecil, dia adik termuda Ayah Hyo In. Janda kaya. Pernah menikah dengan seorang Baroness Inggris. Aku sangat menyukainya. Dia supel dan cerdas.”

“Lalu bagaimana dengan wanita cantik di depanku ini?” Godaku seraya menyesap wine.

Pipi Bibi merona. Aku berpura-pura meringis saat mendapat pukulan di kaki yang sebenarnya tidak sakit sama sekali.

“Aku terjebak di sini bersama seorang pria muda tampan. Apalagi yang kuharapkan.”

Kami tertawa terbahak. Lepas dan menyenangkan. Bagiku kedua orangtua Hyo In sudah seperti orangtuaku sendiri karena aku tak mendapat hal itu di rumah yang seharusnya menawarkan segala macam cinta dan kehangatan yang kubutuhkan sejak kecil. Bagiku rumah hanya sekumpulan bangunan yang diisi dengan manusia penuh tanggungjawab dan ambisi. Aku ingin sekali mempunyai hubungan seperti Paman dan Bibi. Mereka orangtua yang menyenangkan. Kalau saja bisa bertukar tempat aku ingin sekali berada di posisi Hyo In.

“Tapi sepertinya putrimu sangat membenciku.”

Bibi mendecak. “Dia hanya kesal denganmu. Anak itu takkan bisa membenci orang dalam waktu lama karena saat dia benar-benar membencimu, kau takkan pernah bisa mendengar apapun tentangnya.”

Alisku bertaut karena penasaran.

Bibi mengedikkan bahu. “Dia hanya akan menghilang.”

Meski kalimat itu diakhiri dengan senyuman, aku masih tak menangkap maksud sebenarnya dari itu. Pikiranku melayang. Pandanganku terpaku pada sosok kecil Hyo In. Dia terlihat paling tinggi di antara tiga bocah kecil yang sedang berlarian dengannya sambil memegang balon. Kembali menjadi Hyo In yang ceria. Tidak ada ketegangan di sana. Sangat santai. Tak bisa kubayangkan hal apa lagi yang bisa dilakukan si Tongkat Pramuka itu.

Menghilang, ya? Bagaimana bisa.

Sekitar sepuluh menit kemudian bel tanda makanan siap berbunyi. Kami semua berkumpul di meja yang sudah terisi penuh dengan makanan laut panggang dan botol-botol wine juga jus tersebar di atas taplak putih. Kami semua bercengkerama dan suasananya sangat ramai. Sebenarnya ini juga gara-gara Hyo In sedang memarahi keponakannya yang menumpahkan jus di celananya sendiri. Bocah itu marah dan meneriaki Hyo In. Mereka saling berteriak yang malah membuat pemandangan itu sangat menyenangkan karena Hyo In suka sekali menggoda si kecil. Kami semua tertawa melihat reaksi bocah itu setiap kali diejek Hyo In. Pesta ini sangat meriah. Dihadiri lima saudara Paman, Hyo In dan orangtuanya, aku, dan sekitar sepuluh sepupu juga tiga keponakan. Yah, kurasa ini angka yang banyak dan memang keluarga besar.

Aku sendiri tak begitu terbiasa dengan adanya keluarga sebanyak ini. Orangtuaku sama-sama anak tunggal, begitu pun denganku. Tapi rasanya cukup sama. Ada semacam jarak di antara mereka. Paman terlihat lebih menikmati kebersamaan dengan Bibi atau kakak perempuannya. Hyo In sendiri memang tak lagi menempel padaku sepanjang waktunya bersama sepupu-sepupu perempuan. Dia kembali penuh percaya diri berada di sekitar bocah-bocah dan para Ibu mereka. Kadang tanpa sungkan dia memangku salah satu dari mereka lalu menyuapkan udang hingga menyebabkan keriuhan lagi karena dua bocah lain merasa iri dan sebal Hyo In hanya memeluk satu dari mereka bertiga. Lalu mereka menangis lagi. Dan tawa pun pecah.

“Hyo In, berhenti bertingkah seperti anak kecil!”

Seketika keramain itu berakhir. Aku mendecak. Semua orang menatap ke kepala meja tempat paman tertua Hyo In duduk. Wajahnya datar. Tanpa memedulikan orang-orang yang memerhatikannya dia melanjutkan makan seolah apa yang baru saja dia lakukan tak berefek sama sekali.

Hal itu terang saja berbeda dengan yang kami rasakan. Terutama Hyo In. “Maaf.” Dia membungkuk kaku. Terduduk tegang sebelum memberikan keponakannya pada sang Ibu. Wajahnya muram lagi. Paman dan Bibi saling berpandangan.

Kakak perempuan Paman mendengus. “Kau mengacaukan kesenanganku, Oppa.” Aku tak bisa menahan senyum mendengar nada sarkasmenya penuh penekanan.

Pria tua itu mendecih.

“Masakannya enak. Iya, kan?!” Seru salah satu sepupu Hyo In. Kemudian keadaan berubah kembali ramai seperti semula tapi terasa semakin janggal.

“Sayang, minum limunmu.” Bibi menimpali sambil menggenggam tangan putrinya.

Eomma, aku mau dipangku Bibi Hyo In lagi.”

“Tidak, Sayang, nanti saja setelah makan. Kakek tidak suka kegaduhan di meja makan.”

Kegaduhan yang menyenangkan. Terbukti bisa menghibur semua orang kecuali kakekmu yang kolot, bocah manis.

“Makanannya akan segera dingin. Cepat habiskan,” kata saudara termuda Paman.

Selama beberapa menit kami makan dalam diam. Suasana tak sehangat sebelumnya. Bahkan cenderung membosankan. Hyo In menjadi seorang yang pediam lagi. Sementara bocah-bocah itu kembali merecokinya begitu acara makan selesai. Anehnya otot wajah murung itu masih bisa menarik bibirnya ke atas. Aku tak yakin apakah dia benar-benar bisa tersenyum. Yang kuingat dia cukup terguncang tadi.

Sementara aku tertahan bersama seorang pria tua yang berbicara dengan Paman tadi. Menikmati wine. Lagi.

“Jadi kalian berkencan?”

Aku menggeleng. “Kami berteman baik.” Beberapa hari ini.

Meski tatapannya sedang menilaiku dari ujung kaki sampai kepala aku berusaha tak langsung terbirit meninggalkannya. Pria ini membuatku muak. Tawanya ternyata lebih lantang dari caranya bicara. Dan memang terkesan jadi sombong.

“Tidak perlu malu, Anak Muda. Berapa usiamu?”

“Dua puluh delapan seingatku.”

Paman itu menganggu-angguk kemudian menepuk punggungku lumayan keras sampai aku harus menahan batuk atau akan menumpahkan wine mahal itu. Tawanya menggelegar lagi. Jarak kami yang dekat membuatku bisa mencium bau napasnya. Mungkin akan berbeda jika yang di sampingku Hyo In—karena mengharap Kim Tae Hee atau Song Hye Kyo pun tak mungkin.

“Saat seusiamu dulu aku sudah punya Hae Ran.” Dia menunjuk wanita yang tadi duduk di samping Hyo In. Sekarang pun sama. Mereka bercengkerama santai bersama putri Hae Ran di ujung beranda. “Dan itu,” dia mengarah ke seorang pria muda. “Kemarilah, Nak!” Teriaknya, kemudian satu-satunya pria yang berdiri sendiri tanpa melakukan apapun selain mengamati taman muncul di hadapanku. Senyum singkat mengawali perjumpannya dengan sang Ayah. Kami saling membungkuk sebelum bersalaman.

“Namanya Gong Shin. Harapanku untuk meneruskan bisnis keluarga yang diturunkan dari kakeknya. Mengingat semua adik-adikku lebih memilih jalannya sendiri,” katanya, terseyum kecut sebelum beralih pada putranya. “Kautahu, dia kekasih Hyo In.”

Dahinya mengerut. “Kekasih? Kukira dia hanya—“

“Teman? Ah, tidak mungkin. Meskipun Seung Hoon memperkenalkannya sebagai rekan bisnis aku tahu pasti ada sesuatu di antara mereka yang lebih.”

Dasar sok tahu.
Oke. Aku mulai terusik sekarang. Seseorang tolong lempar sarang lebah penyengat padanya.

Paman itu mendecak. “Kurasa kau bisa meredakan sifat liar bocah itu. Seung Hoon terlalu memanjakannya.”

“Maaf, Paman, bukannya bersikap lancang. Aku rasa kalaupun ada sesuatu yang lebih antara aku dan keluarga Paman Seung Hoon atau bagaimana cara beliau memperlakukan putrinya itu bukanlah urusanmu.”

Gong Shin masih setia dengan wajah datarnya. Tak tertarik dengan topik ini.

Paman tua it tertawa remeh. “Anak itu, heh? Tidak ada bedanya dengan Ibunya. Wanita miskin pengeruk harta. Apa dia menjual diri padamu atau Seung Hoon yang menawarkan gadis dungu itu?”

“Paman!”

“Ayah!”

Kami berseru bersamaan. Tak penting apa itu hanya protesan kecil Gong Shin atas mulut kurang ajar Ayah bangkotannya, tapi yang jelas orang tua ini sudah menghina dua orang yang sangat kuhormati di atas orangtuaku sendiri. Dan seorang gadis dungu yang melakukan hal menyenangkan dan takkan pernah dia tahu karena apapun yang dilakukan orang lain akan terlihat bodoh dan mengangguku untuk mata dan pikiran kolotnya.

Geramanku tertahan begitu Gong Shin menahan kedua tanganku yang sudah terkepal. Wajahnya kembali datar tapi mata sendu itu mengatakan segalanya. Melakukan tindakan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah apalagi memperbaiki otak rusak Ayahnya.

“Kurasa perbincangan kita sudah selesai.”

Kulempar gelas di atas rumput. Menghampiri Paman dan Bibi, mengajak mereka pergi dari ini setelah perdebatan panjang mengenai alasanku buru-buru pulang. Setelah mengatakan akan memberitahunya begitu kami sampai di rumah akhirnya mereka setuju. Hyo In, hanya butuh perintah dari Ayahnya dia langsung menurut tanpa bantahan sedikit pun.

Suasana hening menyelimuti perjalanan pulang kami begitu mobil keluar dari gerbang. Bahkan sampai rumah Paman pun hanya helaan napas kami yang terdengar lebih keras daripada deru AC mobil. Bibi tertidur selama perjalanan. Fisiknya yang lebih lemah dari kebanyakan orang membuatnya cepat lelah. Hyo In menghabiskan waktu di mobil dengan membaca sesuatu di ponselnya. Sementara aku dan Paman hanya saling pandang melalui spion depan sesekali. Rasa penasaran terlihat sangat jelas dari balik kerutan di wajah itu.

Begitu sampai di rumah Hyo In langsung membawa Bibi ke kamar. Aku dan Paman segera masuk ke ruang kerjanya yang jujur saja baru pertama kali ini kudatangi setelah empat tahun pertemanan kami. Kami lebih sering mengadakan meeting di tempat-tempat wisata untuk mengurangis stress.

Aku duduk di sofa di depannya begitu dipersilahkan.

“Katakan sesuatu.”

Ini bukan hanya sesuatu.

“Sebelumnya aku tak bermaksud masuk dalam masalah intern keluarga Paman tapi sepertinya ada sesuatu yang pernah … atau mungkin sedang terjadi sampai aku mendengar perkataan yang cukup tidak mengenakkan dari saudaramu.”

Dahi Paman mengernyit. “Siapa?”

“Yang tertua.”

Bahu Paman tersandar lesu. Kepalanya terdongak dengan mata terpejam. Napasnya terhela panjang dan dalam. Tak pernah kulihat beliau begitu terpuruk seperti ini bahkan ketika penjualan properti kami mengalami penurunan yang cukup signifikan. Kurasa tanpa mengatakannya pun Paman tahu persis apa yang kumaksud karena setelah itu dia hanya berkata, “Terima kasih, Kyuhyun.”

Yang tak kumengerti adalah kenapa Paman bersikap seperti ini. Tak mau membahasnya. “Tidak. Belum.”

Matanya terbuka kembali. “Akan kuselesaikan sendiri. Maaf sudah melibatkanmu di sini.”

“Paman harus mengatakannya padaku karena Hyo In jelas terlihat sangat gelisah sejak kemarin.” Mungkin aku terdengar memaksa. Tapi siapa peduli.

“Apa karena itu kalian terus menempel satu sama lain?”

Kenapa topiknya jadi berubah? “Tidak. Kita sedang membahas keluargamu, bukan aku dan Hyo In.”

Paman mendengus sambil mengibaskan tangannya. “Pergilah. Anak itu pasti sudah menunggu di luar pintu menuntut penjelasanmu.”

“Tapi, Paman—“

“Sudah, pergi sana!”

Paman mengusirku. Meski aku masih ingin menuntut penjelasan darinya tapi itu percuma saja. Beliau pasti akan bungkam dan langsung mengalihkan pembicaraan. Tak peduli jika perubahan itu jelas terlihat. Paman hanya akan terus melakukannya sampai aku lelah mencoba mengorek informasi apapun darinya.

Dan benar saja. Aku hampir mengumpat karena kaget melihat Hyo In sudah berdiri di depan pintu begitu keluar dari ruang kerja Paman. Wajahnya penuh pertanyaan. Dia sudah berganti baju dengan kaos oblong putih dan celana setengah paha berwarna hitam.

“Ikut aku!”

Hyo In menarikku tanpa memberi aba-aba. Langkah cepatnya membuatku hampir tersandung tapi karena dia tak menyadari itu jadi aku diam saja. Dia membawaku ke sayap kanan rumah, ke sebuah beranda teduh dengan satu set sofa super empuk dan dua rak buku di beberapa sudut. Penuh dengan novel. Beraroma lavender dan suara percikan air terjun buatan menciptakan nuansa tenang. Aku duduk di samping Hyo In agak berjauhan. Melihatnya dengan alis terangkat sebelah sedang meneguk cepat segelas air mineral sampai habis.

“Oke. Sekarang katakan kenapa kau mengajak kami pulang begitu cepat.”

“Bagaimana bisa—“

“Ayolah, aku bukan gadis dungu sampai tak tahu kalau kau sempat ribut dengan orangtuaku sebelum Ayah mengajakku pulang. Aku memperhatikan.”

Mendengar kata itu terasa mengganggu sekali.

“Kau-memang-bukan-gadis-dungu.”

Hyo In mengernyit seraya melipat tangan di dada. “Aku tahu. Tidak perlu berteriak seperti itu.”

Kenapa aku berteriak?

“Aku tidak berteriak.”

“Jangan mengalihkan perhatian. Sekarang katakan padaku alasannya.”

Hyo In menatapku saksama tanpa berkedip. Darahku mengalir begitu cepat seolah tatapan Hyo In seperti sinar X yang sedang memindai seluruh informasi dari setiap inci bagian tubuhku.

Aku berdeham. Membenarkan posisi menutupi bagian yang kaku di antara paha. Sial! Padahal dia hanya menatapku. “Kau takkan menyukainya.”

Entah mengapa dengusannya saja terdengar begitu manis sampai membuatku merinding. “Tak ada yang kusukai dari keluarga Ayah, kecuali keponakan-keponakanku.” Dia menyengir. Cengiran pertama yang kulihat hari ini. Hal yang sangat kunantikan sepertinya.

Ya Tuhan, ada denganku.
Posisiku berubah lagi. Sial! Kenapa harus sekarang. Sayangnya, tanpa bisa kuhentikan Hyo In sudah berada di dekatku. Paha mulusnya menempel di pahaku.

Tanganku terangkat otomatis. “Jangan sentuh aku!”

Jangan sentuh aku, dasar penggoda!

“Kyuhyun, ada apa denganmu?”

Aku beringsut ke ujung sofa, menjauhinya. “Tidak. Berhenti di situ atau aku takkan menjelaskan apapun padamu.”

Hyo In mematung begitu saja lalu mengangguk. Duduk agak jauh kemudian menenggak segelas air mineral lagi yang seharusnya itu untukku. Mungkin tak tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai membuatku histeris. Jika dia tetap keras kepala aku pasti langsung angkat kaki dari sini.

Kulepas dasi dan membuka beberapa kancing kemeja. Sialan! Aku butuh mandi air dingin.

“Jadi?”

Ini harus segera berakhir. “Pamanmu mengatakan sesuatu yang buruk tentang kau dan Ibumu,” kataku tanpa melihatnya. “Dia mengatakannya tepat di depan mukaku.”

“Yang tertua?”

Aku mengangguk.

“Dasar Kepiting Tua sialan!” geram Hyo In.

“Ada apa sebenarnya?”

Dia menatapku ragu sesaat. “Tidak ada apa-apa.”

Hyo In pasti menyembunyikan sesuatu karena saat aku menatapnya dia langsung mengalihkan pandangan. “Aku bukan anak kemarin sore. Katakan yang sejujurnya atau aku akan mati penasaran karena kau dan Ayahmu tak memberitahu apapun padaku padahal aku sudah terlibat sekarang.” Aku mulai frustrasi.

Hyo In menggigit bibir bawahnya lagi. Menatapku sesekali sebelum berkata, “Aku tak yakin kau perlu tahu masalah—“

“Aku takkan mengatakannya pada siapapun. Janji,” sergahku. Tak ada ekspresi apapun selain keingintahuan yang dalam.

Dengan begitu Hyo In mulai menceritakannya dengan lancar. “Paman pernah melamar Ibu saat Ayah dipaksa pergi ke pedesaan Inggris mengurus pabrik kayu Kakek. Hubungan mereka sejak awal tidak direstui keluarga Ayah karena Ibuku hanya anak janda miskin. Melihat peluang itu Paman yang sebenarnya menyukai Ibu diam-diam memanfaatkan keadaan. Ibu menolak, tentu saja, dan Kepiting Tua itu marah besar. Membuat hidup keluarga Ibu semakin sulit. Beberapa bulan kemudian Ayah diam-diam pulang ke Korea. Dia lebih memilih Ibu daripada keluarganya. Ibu mengatakan semuanya. Ayah marah besar. Mereka lari. Lalu Ibu hamil dan Ayah pulang untuk kembali meminta restu. Meski terpaksa mereka menerimanya karena sudah ada aku.” Dia menghela napas panjang sebelum melanjutkan. “Aku selalu menolak datang ke acara keluarga setelah tahu alasan sebenarnya kenapa paman-paman dan bibi-bibi tidak pernah menyukaiku. Ayah dan Ibu selalu berkeras untuk mengabaikannya. Mereka bilang keluarga tetaplah keluarga apapun kondisinya, tapi aku tidak bisa.”

Sesuatu yang menegang itu lemas dengan sendirinya setelah mendengar penuturan Hyo In. Aku tak bisa berkata apa-apa . Tak menyangka kisahnya akan setragis itu.

Hyo In mengerang frustrasi seperti baru saja melakukan dosa paling besar. “Aku pasti sudah gila! Kenapa aku harus mengatakan semua padamu.” Kakinya menyentak-nyentak tak karuan.

Selama beberapa saat aku tertegun, tak bisa berpikir, tanpa mengabaikan kegaduhan yang Hyo In buat.

Suasana tenang lah yang membuat pandanganku teralih padanya. Dia tengah meringkuk memunggungiku. Leherku memanjang agar bisa melihat ekspresinya. Dia hanya sedang memejamkan mata sambil menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Aku tak mengerti apa yang sedang dia coba lakukan tapi biasanya akan berakhir dengan aneh. Kurasa bukan pemanasan sambil membungkuk.

“Apa yang kaulakukan?”

“Sedang membayangkan surga. Aku butuh ketenangan. Aku sudah gila,” erangnya seraya memegangi kepala.

Tawaku menyembur. Singkat. Tapi Hyo In pasti bisa mendengarnya. Terbukti dari lirikannya padaku, seperti pisau baru diasah.

“Tidak, tidak, jangan hiraukan aku.”

Hyo In mendengus sebelum kembali meringkuk dan membayangkan surganya. “Pergi sana!”

Melihat punggungnya melengkung seperti itu membuatku berpikir bagaimana rasanya jika dia berada di atasku, melakukan hal yang sama sementara aku memberikan surga yang diinginkannya.

Dia mengeras lagi.

Jangan macam-macam, Kyuhyun.

“Hyo In!”

Tanpa bisa kutahan tanganku sudah memegang sebelah bahunya sampai wajah frustrasinya kembali menatapku. Matanya melembut ketika bertemu denganku. Aku sendiri tak tahu apa yang terjadi padanya tapi rasanya aku hanya ingin berada di dekat Hyo In, terus memegangnya. Tak melepaskannya. “Aku bisa memberikannya untukmu.” Suaraku sangat sulit dikeluarkan, tenggorokan jadi gatal, dan sesuatu yang kaku tadi lebih mengeras begitu hangat dan lembut kulit Hyo In terasa di tanganku. Sangat halus.

“Apa?” Suaranya berubah serak. Aku tak bisa mengalihkan mataku darinya barang sedetikpun.

“Surga.”

“Bagaimana caranya—“

Aku tak tahu, Hyo In. Aku tak paham. Yang kuinginkan hanya merasakan bibirnya dan itulah yang kulakukan sekarang. Aku mengecupnya. Ketika tak kurasakan perlawanan apapun, aku menggigitnya pelan. Hyo In mengerang. Bibir itu memenuhi mulutku begitu tangan kecilnya mencengkeram rambut di tengkukku. Dan aku mengisapnya dalam.

Bibirnya terasa seperti kue beras.

“Kyuhyun.” Dia mendorongku. Napas kami sama-sama memburu. Bibirnya memerah dan mengilap karena aku. “Apa surga terasa seperti wine dan seafood panggang?” tanyanya dengan napas terengah.

Aku menyeringai mendengar pertanyaan aneh itu. “Aku tidak yakin. Kau boleh mencobanya lagi. Sekadar memastikan.”

Melihat wajah dan kulit lehernya memerah karena hal yang sama denganku membuatku semakin bersemangat. Tanganku melingkari tubuhnya, menariknya ke atas pangkuan. Hyo In terhenyak, aku juga, saat pahanya menekan adikku yang sudah seperti batu, berusaha memberontak keluar. Tapi Hyo In tetap duduk di atas pahaku tanpa menyentuhnya lagi. Itu siksaan. Aku ingin dia menyentuh milikku dengan bagian tubuhnya yang mana pun.

Hyo In menunduk begitu kutarik pelan wajahnya. Aku tak bisa menghentikan ini. Tubuhku menginginkannya dan Hyo In tak menolak sama sekali. Genggamannya di kemejaku memperjelas keyakinan itu. Bibir kami kembali terpaut. Saling memagut. Bibirnya terbuka mempersilahkan lidahku menyelinap masuk merasakan kehangatan rongga mulutnya yang … ya Tuhan. Ini memang surga.

Rasanya seperti air mineral.

Dan seafood panggang.

16 thoughts on “[Chapter] At Gwanghwamun Bagian 7

  1. Cho.. Cho.. Otakmu rada sengklek maning , yak -_-
    Oh ayolah, kau mulai terjebak dalam lubang pesona seorang Song Hyo In, Cho.

    Ih, cukup tragis juga itu latar belakang keluarga kecil Hyo In. Keluarga besarnya kayak gitu…
    Dia ngehina, padahal dulu dia sempat suka. Ya ampun…
    Tebas tidak, ya? Tebas tidak, ya? :3

    Semangat kak Hyonie😀

    First comment, kah?

  2. Yaahhhhh,,,,
    Disaat lagi hangat2’a malah TBC😥..

    Besok dilanjut lagi ya Kak adegan yg itu tuh (?) iya itu😀
    wahahahaaaa

    Asli,aku penasaran ^^

    Itu paman’a Hyoin bilang kek g2. Karna cemburu,ditolak sma ibu’a Hyoin.
    Jadi dendam sma Hyoin dan Ibu’a.
    Isshhh,,,
    ada g2 ya paman yg kya g2.

    Ahhhh,,,,
    Pokok’a aku MENUNTUT KELANJUTAN SURGA YG KYU-IN AKAN BUAT.
    Hahahaaa😀
    Ok saya mulai gesrek :v Ayo Kiyu perjuangkan Cintamu dan Hyona..
    Bagaimanapun cara’a kamu harus menggagalkan perjodohan itu !
    Dan semoga aja Ahyoung nolak juga perjodohan itu.
    Ahh,,
    Sangat berharap ini Happy Ending🙂

  3. Ya. Ampunnn
    Kellluargannya jahat bget ya gitu
    Udh nnikah juga ama orrg lain

    Paman tertua yg. Dituakan sialan

    Cieeeee
    Awas ntar kepergok

  4. Jgn buat Kyu&Hyoin melakukan adegan teh celup? Tar aja klw udh nikah takutnya klw ada konflik yg membuat hubungan mereka merenggang

  5. So much dirty talk, which is good (or bad, i am not sure but i love it). Pas liat ratenys diatas :nc21 kirain bakal ada “ehem”2 , ternyata gak. Tapi emang dari pemikiran kyu aja udah “membangun” suasana intim sih,walopun tanpa scene dewasa yg vulgar tetep bisa bikin jantung deg2n. Keren lho, berasa baca novel erotis. Paling suka bagian : surga,,surga dunia,,,,, 😆😈

  6. cho kyuhyun kau sudah benar2 terjerat pesona hyo in. ingin terus berada didekatnya, memilikinya. sata rasa udh timbul benih2 cinta diantara keduanya walaupun belum ada yg menyadari.. haha. semoga masalah keluarga hyo in cpt terselesaikan yah.

  7. pntas aja ya hyo in rada malas ga mau ikut acara klrga trnyta gitu kisah klrga mrka.. ahh cho hyo in gitu aja udh tergoda gimana kalo hyo in bnr2 sngaja menggoda yaa.. duhh tbc’y kok udh kluar yaa nanggung bgt itu..

  8. Wahhhhh akhirnya kyu bnr” tergoda oleh hyo in ternyata semua rencan ayah hyo in ya agar kyu berdikao menybalkan gmn selanjutnya ya apakah mereka akan melakukannya penasaran

  9. hoho baru sempat baca.
    Kyuhyn ma… ya ampun di saat serius pun pikirannya tetap merajelala.
    ah, tenyata kisah keluarga Hyo In memang rumit. Ah, tapi mereka ini segala tingkahnya justru membuat penasaran.

  10. ternyata kyuhyun itu bukan si lemari es seperti yg hyoin pikirkan.. wahh makin seruu jalan ceritanya dan pastinya bikin penasaran. ternyata hyoin kurang bgtu dekat dgn keluarga ayahnya krna alasan itu toh… kyuhyun emg beneran udh kecantol sama hyoin tanpa disadar wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s