[Chapter] Single Mom Next Door 2

Single Mom Next Door
By Valuable94

Starring:
Cho Kyuhyun (SJ)/Song Hyo In (OC)
and
Song Sarang (OC)

Young Adult

10477885_529726777153971_6048083022103699359_n

PUDDING TRUCE

Dosa apa yang Hyo In perbuat selama ini?

Dia tidak tahu. Lebih tepatnya tidak tahu cara menghitung mereka sampai mungkin jika dosa menimbulkan benjolan maka seluruh tubuhnya akan penuh dengan itu dan menjadikannya manusia benjolan. Sangat menyebalkan memang.

Setelah apa yang dia lalui, kini dia juga harus menerima banyak protesan atas apa yang dilakukannya untuk Sarang. Keluarga mungkin masih tak jadi masalah.

Si tetangga baru?
Pria itu benar-benar tak tahu apa yang sebenarnya dia bicarakan.

Layaknya seorang Mama pada umumnya, Hyo In mencurahkan seluruh kasih sayang hanya untuk Sarang. Bahkan sikap protektifnya selama ini semata-mata karena alasan yang sama. Berjuang sebagai seorang single parent bukan hal yang mudah apalagi mengingat usianya yang masih cukup muda walau tak bisa dikategorikan belia. Hal itu terasa sulit meski bukan berarti tak bisa dilakukan juga.

“Jangan biarkan Sarang berkeliaran lagi,” batinnya terus menerus seraya melanjutkan kegiatannya membereskan rumah baru.

Ketakutannya mungkin berlebihan bagi orang lain. Namun, apa yang dia lakukan sepertinya masih sangat kurang. Buktinya lengah sedikit saja Sarang sudah berada di gendongan si Bujangan Tua itu. Mengerikan sekali.

“Semua ini gara-gara Eonni.”

Hye Kyo mengernyit dari balik sendoknya saat mencicipi sup kimchi yang baru saja mendidih. “Aku tidak paham dengan yang kaubicarakan,” jawabnya cuek.

Hyo In memberengut seraya mengelap meja baru. Dinding-dinding dapurnya bahkan masih menguarkan bau cat dan itu semakin memperburuk suasana hatinya karena dia terus-menerus bersin setiap beberapa menit sekali.

“Harusnya Eonni menjaga Sarang saja. Biar aku yang membersihkan rumah.”

Hye Kyo paham benar apa yang ingin dibicarakan Hyo In. Membantunya membersihkan rumah berarti tidak menjaga Sarang. Tidak menjaga Sarang berarti membiarkannya berkeliaran. Membiarkan Sarang berkeliaran sebenarnya cukup bagus. Lingkungan rumah ini cukup ramah. Insiden dengan tetangga baru itu? Mungkin hanya salah paham. “Aku tidak menemukan alasan masuk akal kenapa kau begitu membenci pria itu.”

“Terus terang saja dia menakutkan. Berani-beraninya menggendong Sarang.”

“Kurasa karena dia tahu Sarang kesepian. Dia hanya butuh teman.”

Eonni yang membuat Sarang kesepian. Harusnya kau menemaninya.”

“Kurasa dia merindukan Ayahnya.”

“Sarang tidak punya Ayah,” sergah Hyo In sambil membanting lap.

Hye Kyo mendengus, berkacak pinggang dengan celemek yang masih menempel, menatap adiknya penuh kekesalan. “Lihat dirimu! Menyangkal kebutuhan putrimu sendiri hanya karena membenci Ayah Sarang dan malah menambah daftar pria brengsek dalam hidupmu dengan menganggap tetangga baru itu  mengerikan. Aku juga punya kewajiban di rumah. Anak dan suamiku juga perlu diurus. Sekarang lihatlah dimana aku berakhir, terpaksa meninggalkan mereka sementara waktu karena apa, karena kau adikku, aku menyayangimu, dan karena itu pula aku mengkhawatirkanmu.” Mengambil napas sejenak, Hye Kyo melanjutkan, “Lagipula kenapa tidak tinggal bersama Ayah dan Ibu saja. Mereka pasti akan sangat senang ditemani Sarang. Selain itu aku juga takkan diprotes Ibu lagi karena jarang membawa Gi Beom ke sana. Semuanya untung, kan.”

Tangan Hyo In berhenti di atas meja, masih dengan lap setengah basah di tangan. Terdiam cukup lama sebelum menyangkal kebenaran yang selalu berusaha dihindarinya. “Kita sudah membicarakan ini berulang kali. Tidak ada Ayah Sarang dan tidak mungkin tinggal bersama Ayah dan Ibu.”

Hye Kyo menghela napas. Sikapnya mungkin sudah keterlaluan tapi Hyo In juga tak bisa terus-menerus hidup seperti ini. Dia butuh teman. Teman hidup dan Ayah untuk Sarang sementara hal itu tak bisa dipenuhi oleh pria yang selama ini dia cintai. Dengan tatapan sayu Hye Kyo meletakkan sendoknya, mematikan kompor lalu mendekati Hyo In, memeluknya dari belakang.

Hyo In tahu kakaknya selalu mengerti apa yang dia rasakan. Emosi apa yang sedang berkecamuk dalam hatinya meskipun hal itu tak pernah keluar sebagai keluhan atau sebuah curahan hati. Lagipula dia sudah tak memiliki hati, setidaknya untuk hal yang berbau romantisme. Semuanya menghambar. Rasa itu menghilang bersamaan dengan perginya seorang pria yang menjadi tambatan hatinya. Pria yang membuatnya rela memberikan segalanya termasuk membangkang pada orangtua. Oh, dia dulu memang bodoh.

“Aku harus melihat Sarang.”

Melepas pelukan Hye Kyo, Hyo In berbalik setelah menghapus sedikit lelehan hangat di pipinya dan tersenyum saat melihat wajah cantik kakaknya yang lembut. “Kautahu, sepertinya aku merindukan Joong Ki Oppa.”

Hye Kyo mendecak kesal. “Aish, aku diabaikan lagi. Mungkin dia masih sibuk dengan pacar-pacarnya di Amerika. Kurasa dia juga masih marah denganmu. Kautahu bocah sialan itu selalu uring-uringan selama kau pergi dari rumah waktu itu. Sudah lupakan saja.”

Hyo In tertawa pelan mengingat betapa kompaknya mereka bertiga dulu sebelum semuanya hancur saat dia beranjak dewasa. “Aku juga menyayangimu.” Kemudian bergegas menuju lantai dua setelah mendaratkan pelukan singkat pada Hye Kyo dan langsung melesat ke kamar Sarang.

“Makan malam siap sebentar lagi!” Teriak Hye Kyo dari dapur. Suaranya yang menggelegar bahkan sampai di lantai dua.

Setelah mengecek keadaan Sarang yang ternyata sudah terbangun, Hyo In mengangkat dan segera menggendongnya. Dengan suara dan tubuh lemah karena baru saja bangun dia bergumam, “Mama, aku lapar.”

Hyo In mengusap rambut halus Sarang seraya menimangnya. “Kita turun sekarang. Bibi memasak sup kimchi untuk kita,” katanya riang.

Sesampainya di dapur semua makanan sudah tersaji di atas meja. Salad sayur, nasi, sup, semur daging, air putih, dan segelas susu strawberry untuk Sarang.

“Mama, aku mau daging dan roti,” rengek Sarang. Wajahnya tertekuk dari balik tirai rambut yang menutupi sebagian wajah kecilnya.

“Tidak ada roti, Sayang, makan nasi saja dulu. Besok pagi kita belanja setelah pulang sekolah,” tawar Hyo In sambil mengikat rambut Sarang.

Bibir Sarang mencebek agak lama kemudian kerutan muncul di dahinya. Pipi putihnya kini memerah. “Tapi aku tidak suka nasi,” katanya seraya mengentak-entakkan kaki yang tergantung di kursi, tidak sampai menyentuh lantai.

Hyo In menutup mata dan menghela napas panjang, menahan geraman. Jika sudah begitu tandanya Sarang tidak mau makan selain daging. “Tambah sayur ya, Sayang.”

Nooo!!! I don’t like it. It’s gross.” Dan Sarang mulai menggelengkan kepala secara brutal. Hyo In melirik Hye Kyo yang hanya tertawa menikmati kebingungan adik bungsunya menangani si kecil Sarang. Bocah pintar, batin Hye Kyo puas. Dari dulu dia selalu menunggu masa dimana Hyo In berhenti jadi bocah menyebalkan dan penurut dan masa itu segera datang begitu keponakannya lahir. Hyo In tak bisa berkutik.

“Oke, oke, daging saja. Untuk malam ini.” Akhirnya Hyo In mengalah.

“Yeayyy!”

Hyo In mendengus melihat kegirangan Sarang. Sedikit malas dan kesal namun semuanya memang tak pernah bertahan lama. Lagipula siapa yang akan tahan terus marah saat melihat mulut mungil Sarang penuh dengan semur daging sapi kesukaannya. Serta senyum bahagia gadis kecil itu. Sekalipun hal itu mengingatkannya tentang kenangan-kenangan yang pernah Papa Sarang berikan untuknya dan selalu membuatnya meringis menahan perih di hati. Semua terasa sepadan. Demi senyum Sarang.

Omo,” gumam Hyo In kemudian melahap salad sayurnya.

Sarang memerhatikan Hyo In sejenak sebelum bertanya, “What isOmo’?”

Hye Kyo mendesis. “Aigoo, dasar bocah Inggris.”

What isaigoo’, Mama?” tanya Sarang lagi, masih dengan mengunyah daging.

Dengan setengah tertawa dan menggeram Hye Kyo menatap kesal pada Hyo In seraya berbisik, “Kautahu, anakmu sangat menyebalkan. Untung kalian cepat-cepat pulang ke Korea. Lebih lama sedikit saja di Inggris dia pasti tak tahu siapa nenek moyangnya.”

Hyo In  tertawa sampai hampir tersedak makanannya sendiri lalu beralih pada Sarang. “Omo meansOh my god’,” jawabnya seraya memerhatikan ekspresi serius Sarang yang ditujukan padanya.

Untuk sesaat Sarang terdiam. Memandang Mama dan Bibinya dengan penasaran namun wajahnya lebih terlihat datar dan dengan cepat melupakan apa yang dia tanyakan begitu Hyo In memberikan segelas susu strawberry lagi. “Aku mencintaimu.”

Kali ini Hye Kyo tertawa keras, membuka tangan seperti orang berdoa. “Ya Tuhan. Sekarang dia pintar berbahasa Korea. Terima kasih,” ujarnya dramatis.

“Jangan berlebihan,” dengus Hyo In seraya menggerakkan sumpitnya seperti ingin mencubit bibir cerewet Hye Kyo kemudian beralih pada Sarang lagi, mengelus rambut dan menatapnya penuh sayang, “Makan yang banyak ya.”

Tanpa mengalihkan pandangan dari makanannya Sarang mengangguk. Dada Hyo In selalu menghangat setiap kali melihat Sarang makan dengan lahap. Seperti dunia ini hanya miliknya seorang. Hal itu sudah lama dia rasakan begitu tangisan pertama Sarang menggema, mengisi setiap sudut ruang bersalin, dan menggantikan jerit kesakitannya saat mendorong keluar kepala bayi Sarang. Dimanapun dia berada selama ada Sarang Hyo In takkan memikirkannya asal mereka bisa hidup bahagia.

Selama beberapa detik Hyo In lupa dengan makanannya sendiri sampai dehaman Hye Kyo mengembalikan ingatannya ke masa sekarang dimana dia sedang makan bersama kakak perempuannya juga.

“Aku sudah membuat puding cokelat. Bawakan untuk Kyuhyun sebagai permintaan maaf.”

Hyo In mendelik dari kursinya. Mengikuti gerakan Hye Kyo saat kakaknya itu berjalan menuju kulkas dan mengeluarkan sebuah puding yang sepertinya sangat segar saat meluncur melewati tenggorokan. Dia sudah pernah merasakan nikmatnya puding cokelat itu sejak masih SMP dan takkan melewatkan kesempatan menghabiskan yang itu jika diperlukan. Dalam hal ini keuntungannya berlipat ganda, selain perutnya kenyang dia juga tidak perlu meminta maaf pada tetangga barunya, si Bujangan Tua itu.

“Aku suka paman Kyuhyun,” sahut Sarang dengan senyumnya yang mengembang. Bekas susu menempel di seputar bibir mungilnya.

“Tidak perlu minta maaf. Dia sendiri yang mencari masalah,” sergah Hyo In. Tak merasa terbebani sama sekali.

Hye Kyo meliriknya tajam. “Kau yang salah. Pergi dan minta maaf lah. Bagaimanapun juga jika sesuatu terjadi padamu dan Sarang dialah orang pertama yang bisa kaumintai tolong jika aku tak ada di sini.”

“Mama, dia pria perayu yang baik.” Sarang menimpali.

“Kaudengar itu? Anak kecil tidak mungkin bohong.”

Sarang mengangguk cepat. “Dia juga tidak marah saat Sarang memanggilnya Paman Tua.”

Hyo In mendengus dengan senyum mengembang. “Itu karena dia memang sudah tua, Sayang,” bantahnya seraya mengelap sisa susu di wajah Sarang.

“Aku mau mengantarnya untuk Bibi.”

Seruan Sarang membuat Hyo In terhenyak. Dia menatap Sarang  tak setuju. Dia yang sudah meminta Kyuhyun menjauh dari putrinya bagaimana bisa membiarkan putrinya sendiri yang melempar diri pada Kyuhyun. Tidak masuk akal.

“Dengan Mama.” Hyo In menyergah. Kalimatnya tak terbantahkan.

Sarang sendiri merasa tak keberatan karena dia memang menyukai Kyuhyun. Pasti menyenangkan bisa bertemu Paman Tua itu lagi, pikirnya. Dia masih berpikir bahwa pria yang tidak marah saat dipanggil Paman Tua itu memang sangat baik. Dia bahkan menggendong Sarang dan itu membuatnya bahagia. Dalam hatinya Sarang juga bertanya-tanya kenapa wajah Mama selalu berubah merah seperti tomat setiap kali nama Paman Baik itu disebut. Sarang benci kerumitan. Itu membuatnya pusing setengah mati.

Tepat pukul enam malam, setelah memandikan Sarang dan membantu membersihkan sisa-sisa perabotan Hye Kyo pulang beberapa menit yang lalu meninggalkan mobil Joong Ki yang tak terpakai untuk Hyo In. Dan di sinilah Hyo In sekarang. Berdiri di depan rumah Kyuhyun dengan puding di tangan sementara Sarang duduk santai di kursi di beranda rumah Kyuhyun sambil memandangi bunga geranium di tepi-tepi beranda. Setelah memencet bel beberapa kali akhirnya pintu terbuka. Saat itu mata Hyo In langsung bertemu dengan wajah Kyuhyun yang hampir bulat tapi garis rahangnya masih terlihat. Kulit Kyuhyun yang begitu mulus membuatnya sempat merasa gagal menjadi wanita karena sangat sulit mempertahankan kulit wajahnya sendiri seperti itu. Tinggi tubuhnya yang hanya sedagu Kyuhyun memaksanya untuk mendongak sementara Kyuhyun harus menunduk agar lebih mudah melihat Hyo In saat berbicara.

Kyuhyun menatap Hyo In dan pudingnya bergantian, sekilas menangkap gerakan kecil Sarang di kursinya. Bocah kecil itu tengah menatapi bunga-bunganya dengan tangan terlipat rapi di pangkuan dan kaki bergoyang karena tak bisa mencapai lantai.

Tumben dia agak tenang.

“Masuklah!” ajaknya namun langsung mendapat penolakan dari Hyo In.

“Kurasa tidak perlu. Aku kemari hanya mengantar ini.”

Hyo In menyerahkan puding itu pada Kyuhyun dengan sedikit kasar. Entah gugup atau malu karena harus merendahkan harga dirinya. “A-aku minta maaf. Kakakku yang menyuruhku melakukan ini.”

Dahi Kyuhyun mengernyit. “Untuk?” Tanyanya menggoda. Dia tahu untuk apa ini dan hanya ingin tetangga monsternya itu mengakui kesalahan. Oh, ini menjadi semakin menyenangkan. Batin Kyuhyun semangat.

Hyo In memberengut. Wajahnya memerah, darah mengalir cepat hingga membuatnya tersentak, dan keringat dingin muncul karena harus menekan rasa malu ke titik paling rendah sampai benar-benar hilang. Selama beberapa detik Hyo In hanya bergerak-gerak tidak jelas, tak tahu harus mengatakan apa. Dia tidak terbiasa meminta maaf setelah melakukan sesuatu yang terlalu percaya diri; seperti tadi pagi.

Sampai akhirnya dia menyerah pada detik ke lima puluh.

“Aku tahu kau tahu apa yang ingin kukatakan,” tegasnya.

Ini benar-benar tidak mudah dan Hyo In tak suka melihat Kyuhyun dengan puas tersenyum di depannya tanpa suara. Wajah tampannya menunjukkan segalanya. Bujangan Tua itu mempermainkannya.

“Aku benar-benar tidak tahu apa maksudmu.”

Melihat seringaian puas Kyuhyun benar-benar membuat Hyo In muak. Mungkin jika tak ada Sarang Hyo In sudah melempar puding lezat itu ke wajah Kyuhyun. Namun, sepertinya keberuntungan kali ini berpihak pada Bujangan Tua itu. Dia menghela napas panjang dan dalam berusaha menghalau kejengkelan yang sudah mencapai ubun-ubun. “U-untuk tadi pagi karena bertindak tidak sopan. Maafkan aku,” katanya dengan cepat hingga sedikit tergagap.

Kyuhyun mengangguk pelan seolah membutuhkan waktu lama serta otak ekstra cerdas untuk mencerna dan mengerti apa yang baru saja didengarnya.

“Dengar, aku tidak akan memaksamu untuk memaafkanku karena sesungguhnya aku juga belum memaafkanmu setelah menggendong Sarang tanpa ijinku jadi kurasa … kita impas.”

Alis Kyuhyun terangkat sebelah. Masih berusaha mempertahankan harga diri, heh? Batinnya heran sekaligus takjub akan kegigihan tetangga monsternya itu. Dia berdeham dan menganggukkan kepala lagi seraya mengamati wajah Hyo In yang sarat akan ketidaknyamanan.

Wanita ini tak terbiasa melakukan permintaan maaf, pikir Kyuhyun.

Tak mau lama-lama menyiksa tetangga baru yang galak itu akhirnya dia menjawab, “Jadi ini semacam genjatan senjata?!”

Kyuhyun memang tak tega melihat Hyo In terus merasa gelisah di depannya tapi permainan baru saja dimulai. Dia takkan mengalah meski dengan iming-iming Mama muda secantik dan semolek Hyo In. Kalau boleh jujur sebenarnya dia lebih memilih mengencani wanita itu daripada bersenang-senang dengan cara yang lebih menyebalkan—bagi lawannya.

“Terserah apa maumu. Lagipula itu bukan buatanku. Selamat malam,” jawab Hyo In seraya mengedikkan bahu kemudian menggendong Sarang dan segera berbalik. Melenggang penuh percaya diri dengan umpatan terlontar keras dalam hati.

Good night, old man!” seru Sarang dengan riang sebelum berbalik pada Mamanya. “Mama, aku mau Putri Sofia dan susu strawberry lagi,” pintanya seraya menatap Hyo In penuh harap.

“Tentu saja, Sayang.”

Senyum terus terkembang di bibir Sarang dan Hyo In. Untuk Sarang susu strawberry lah alasannya sementara bagi Hyo In Sarang lah alasannya terus tersenyum meski hari berlalu seperti apapun. Seharian ini juga sama saja. Pun tak bisa dibilang sangat buruk atau tak terlalu baik. Setelah kelelahan menata rumah bersama kakaknya karena uang untuk membayar tukang rasanya lebih baik digunakan belanja bulanan, dia juga harus menghadapi serentetan kejadian tak terduga dengan tetangga barunya si Bujangan Tua itu.

Sambil menonton DVD Sofia the First, Sarang menyeruput susunya begitu lahap sampai tak sadar isinya tinggal setengah. Di tengah keramaian ruang TV yang hanya diisi dengan suara tawa Hyo In dan Sarang bel rumah berbunyi. Tanpa melihat intercom Hyo In langsung membuka pintu, tertegun sekaligus terkejut ketika menemukan Kyuhyun dengan senyum lebarnya sudah berdiri di depan rumah sambil mengangkat dua botol soju dan puding yang Hyo In bawa tadi di kedua tangannya.

“Ya Tuhan!” pekik Hyo In.

“Aku mengagetkanmu, ya?”

“Untuk apa kau ke sini?” Alis Hyo In bertautan. Mundur selangkah seolah Kyuhyun ini badut menyebalkan yang sangat dia benci sejak kecil.

“Kurasa aku juga perlu melakukan gencatan senjata. Supaya kita … impas?!” Katanya seolah tak yakin.

Komentar Kyuhyun membuat minatnya akan masalah mereka yang sebenarnya tidak terlalu penting tapi tidak boleh diabaikan juga semakin bertambah. Ini menarik—sebenarnya menyebalkan. Kyuhyun juga menarik—dan menyebalkan. Hyo In menggelengkan kepala menghalau pemikiran tidak masuk akal itu.

“A-aku, aku—“

“Tidak perlu gugup seperti itu karena memang beginilah aturannya. Kedua belah pihak yang sedang berselisih sama-sama melakukan gencatan senjata sebelum perjanjian perdamaian ditandatangani.”

Hyo In mendengus, menahan tawa dengan melipat kedua bibirnya ke dalam. Sebelumnya dia tak pernah mendengar peraturan konyol semacam itu. Mungkin memang hanya akal-akalan Kyuhyun saja.

Pria ini memang perayuPintar mencari alasan.

“Kau membawa soju, yang benar saja? Di sini ada anak di bawah umur,” protesnya seraya menunjuk ke arah dalam rumah di mana Sarang sedang duduk tenang menikmati hidupnya yang hanya berkutat seputar susu strawberry dan Putri Sofia.

Kyuhyun sebaliknya, bukannya merasa bersalah tapi dia malah merasa ini adalah kesempatan bagus. “Memangnya kenapa?”

Hyo In menatap Kyuhyun saksama. Tak begitu percaya dengan apa yang didengarnya serta tak mampu memberikan respons yang sesuai. Jadi, beberapa detik kemudian mereka bertiga sudah duduk di atas karpet lantai di depan TV dengan dua botol soju, sepiring puding cokelat yang sudah diiris menjadi beberapa bagian, dua gelas kosong berukuran kecil, dan sebotol susu strawberry serta snack pocky Sarang di atas meja kopi.

“Biar aku saja.” Kyuhyun menahan Hyo In saat ingin menuang soju untuk mereka.

Sebelum sempat meminumnya, Sarang memecah keheningan dengan suara cemprengnya.

“Mama, itu apa?”

“Ini soju. Arak dari beras.”

“Maksud Mama beras yang dimasak untuk nasi?”

“Ya, kurang lebih.”

I might not like rise so much but can I try a shot?”

Wajah Hyo In dengan cepat tertekuk. Menakuti Sarang. “That’s a no-no, sweety. You have to wait until you reach twenty.”

Kyuhyun bersiul. “Wow! Itu waktu yang sangat lama.”

How long?” Tanya Sarang antusias. Melupakan susunya.

Kyuhyun bergaya seperti orang yang sedang berpikir keras. “It’s about 7300 days.”

Mata Sarang terbelalak. “Mama, it’s a huuuge number, isn’t it?” katanya seraya melebarkan tangan membentuk lingkaran besar.

Hyo In melempar Kyuhyun tatapan penuh peringatan. Bujangan Tua itu memang menyebalkan.

It is. Just forget it. Minum susumu saja. Besok kita belanja lebih banyak lagi, setuju?”

“Apa rasanya enak?” Sarang terlihat masih penasaran dengan beras yang bisa berubah menjadi minuman. Dia bahkan tak menghiraukan Mamanya dan jika sampai bocah itu memaksa mencoba soju, Kyuhyun lah orang pertama yang harus Hyo In kuliti.

“Sudah pasti. Lihat aku!” Sergah Kyuhyun kemudian menenggak soju-nya sendiri. Bahkan bergaya seperti bintang iklan minuman di TV, mengernyit saat soju itu mengaliri tenggorokannya.

Hyo In mendesah pasrah ketika memerhatikan kedua mata Sarang berbinar kagum. Bujangan Tua itu tak bisa dihalangi.

“Rasanya sedikit pahit. Mama yakin susumu lebih manis.” Hyo In mencoba mengalihkan fokus Sarang.

“Kalau ada dua Mama pilih mana, soju atau susu?”

“Tentu saja Mama akan memilih susu.” Hyo In mendelik tajam mendengar dengusan Kyuhyun. “Sayangnya kita hanya punya sedikit susu. Habiskan saja. Biar Mama minum soju.

“Mama benar,” kata Sarang setelah berpikir agak lama. “I’ll be waiting. Sampai Sarang sebesar Mama dan bisa minum soju pahit.” Tanpa ba-bi-bu lagi Sarang mengangkat gelas susu dengan kedua tangannya meminumnya dengan bahagia.

Bagus, batin Hyo In lega. Satu lagi trik bocah itu berhasil dia lewati. Sarang bisa menjadi salah satu gangguan kecil yang sangat menyebalkan. Pertanyaan-pertanyaannya selalu tak terduga. Hal itu juga sering membuat Hyo In kelimpungan. Kadang dia tak tahu lagi harus menjawab atau berbuat apa saat mendengar ocehan Sarang setiap harinya namun ketika Sarang dibawa orangtuanya ke rumah dia akan langsung kesepian.

Hyo In menenggak sojunya sendiri, mengalami hal yang sama seperti Kyuhyun tapi dengan versi yang tidak dilebih-lebihkan.

Kyuhyun menuangkan soju lagi di kedua gelas mereka lalu melahap pudingnya. “Mmhhh, enak sekali,” katanya dengan mulut penuh.

“Aku mau! Aku mau!” Seru Sarang.

Dengan pelan Hyo In mengambil sesendok kecil puding di piring Sarang dan menyuapkannya. Bibirnya yang kecil berubah seperti moncong rubah karena penuh puding.

“Ngomong-ngomong, aku pindah dari Cheomdangdong kemari sekitar seminggu yang lalu.”

Merasa pernyataan itu membutuhkan tanggapan Hyo In menjawab dengan santai, “Aku pindah dari Leicestershire dua bulan yang lalu dan tinggal di rumah orangtuaku di Taebaek. Baru pindah hari ini, officially.” Kemudian memerhatikan Kyuhyun yang masih sibuk dengan pudingnya sambil sesekali menyuapi Sarang saat gadis kecil itu memintanya. “Tapi kenapa aku tidak melihatmu dari kemarin?” tanyanya lagi lebih dalam.

“Oh, itu, aku baru pulang dari luar kota semalam dan menemukan peri kecil ini,” kata Kyuhyun seraya mengacak puncak kepala Sarang meski bocah itu menggerutu takut rambutnya kusut.

“Bekerja?”

“Yah, kurang lebih seperti itu. Hei, kau tidak mau pudingnya? Aku bisa menghabiskannya kalau—“

Kyuhyun menyeringai begitu Hyo In menarik mundur piring pudingnya. “Kautahu, aku masih sulit percaya padamu. Jangan terlalu percaya diri hanya karena aku mengijinkanmu minum di sini.”

“Hei, bukankah ini gencatan senjata. Judes sekali,” goda Kyuhyun.

“Kau yang bilang begitu. Aku tidak. Kalau tidak nyaman punya tetangga judes sepertiku kau bisa pergi dari rumahku sekarang juga.”

Hyo In selalu beropini tanpa filter. Itulah sifat yang paling disukai teman-temannya tapi kadang sikap yang menurut Hyo In apa adanya itu malah lebih sering menyakiti orang lain dengan perasaan yang lebih lembut darinya. Namun, mengubah jati diri hanya karena perkataan orang lain justru bukanlah Hyo In yang sebenarnya. Jadi, Hyo In lebih memilih menyakiti orang lain dengan sifat aslinya daripada menjadi manusia palsu. Seperti Papa Sarang.

Kyuhyun tertawa pelan seraya melambaikan tangan, tak merasa tersinggung sama sekali. “Aku paham. Dulu Ibuku juga seperti itu.” Kemudian mengeluarkan dompet dan menunjukkan foto keluarganya. “Yang berkacamata ini Ayahku dan yang berambut pendek di sampingnya Ibuku. Sekarang mereka ada di Thailand mengurus sekolah bahasa Korea. Yang cantik ini kakak perempuanku, sekarang sudah pindah ke Australia karena suaminya bekerja di keduataan besar Korea.”

Hyo In sebenarnya tak begitu paham apa tujuan Kyuhyun menunjukkan foto keluarganya. Keluarga Kyuhyun bukan urusannya. Tapi sepertinya ada sesuatu yang masih ingin dia ketahui mengenai pria ini. Bukan berarti Hyo In menyukainya sekarang. Dia harus memastikan Bujangan Tua ini tak berbahaya bagi Sarang.

“Dan kau?”

Alis Kyuhyun terangkat sebelah. Dengan santai dia menyandarkan punggung di sandaran kursi seraya merentangkan kedua tangan. “Aku di sini.” Terlihat begitu bangga akan dirinya sendiri. Wajahnya menyiratkan kebebasan yang anehnya membuat Hyo In merasakan sekelebat rasa kagum pada Bujangan Tua itu.

“Maksudku pekerjaanmu.”

“Aku mengerjakan apapun yang ingin kukerjakan,” jawab Kyuhyun dengan terus tersenyum bahagia.

Hyo In menggeleng heran. Terus terang saja baru kali ini dia menemukan jenis manusia seperti Kyuhyun. Kebanyakan pria yang sudah sangat cukup umur untuk menikah sepertinya memiliki perangai kaku dan cenderung lebih serius. Bervisi-misi sangat jelas dengan ekspektasi calon istri yang hampir sama tingginya dengan penghasilan mereka.

Sepertinya memang benar apa yang dikatakan Sarang. Dia berbeda.

Mencoba rileks, Hyo In berdeham. “Kenapa pindah ke sini?”

Raut wajah Kyuhyun menyuram dan berubah serius. Hyo In memerhatikannya lebih saksama dari sebelumnya seolah mengantisipasi jawaban apapun mengenai kisah hidupnya yang menegangkan dan miris, walaupun dari foto yang ditunjukkannya tadi tidak memperlihatkan indikasi akan hidupnya yang susah. Kemudian dengan wajah tegang dan bibir mencebek Kyuhyun mencondongkan tubuh diikuti Hyo In hingga siku mereka bertumpu di atas meja.

Dengan lirih Kyuhyun berkata dengan mata lurus menatap mata cokelat Hyo In. “Aku dipaksa menikah,” kata Kyuhyun dengan nada paling memelas yang pernah dikerluarkannya.

Tidak ada reaksi dari Hyo In. Wanita itu hanya terus menatap wajah merana Kyuhyun. Terlihat sekali pria itu tak menyukai pemaksaan dalam bentuk apapun dan ketika dia memutuskan untuk lari, itu berarti pemaksaannya sudah mencapai level tertinggi. Namun, tiba-tiba rasanya Hyo In tak lagi mampu menahan kedutan bibirnya.

Seharusnya aku iba.

Darahnya naik ke wajah semua. Desakan dari tenggorokan tak bisa ditahan sampai menggetarkan bahunya. Hyo In membekap mulutnya sendiri dan menunduk di atas meja. Berusaha menyembunyikan tawa yang seharusnya keluar menggelegar kini hanya menjadi cicitan-cicitan pelan.

Kyuhyun mengernyit selama beberapa menit. Saling berpandangan dengan Sarang yang tak mengerti apapun mengenai topik pembicaraan Mamanya dan pria baik yang tidak marah dipanggil Paman Tua itu. Kyuhyun mengedikkan dagu seolah bertanya pada Sarang tapi bocah itu hanya menunjukkan cengiran lagi seperti kemarin, tanda dia tak tahu apa lagi yang harus dikatakan lalu melahap susunya yang tinggal sedikit. Kyuhyun masih menunggu dan terus menunggu sampai ahirnya getaran di punggung Hyo In berhenti.

Ketika Hyo In mengangkat wajah, yang bisa dilakukan Kyuhyun hanya tersenyum seraya mengulurkan tisu. Wajah Hyo In lebih terlihat seperti orang terpuruk daripada bahagia. Mukanya memerah, apalagi di bagian ujung hidung. Mata berair dan suaranya berubah menjadi sengau. Dia bahkan berkali-kali mencoba menguasai diri agar tak tertawa lagi sampai tersedak.

“Mama selalu begitu kalau tertawa.”

“Ssttt, biarkan saja.”

Sarang memutar mata saat menemukan gelas susunya kosong. Hendak memrotes, namun terhalang Kyuhyun yang sudah siap menyuapinya dengan sesendok puding.

Hyo In menghirup napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya dengan pelan. Beberapa kali mengusap wajahnya yang berkeringat dengan tisu serta menyingkirkan helaian rambutnya yang menempel di pelipis.

“Maaf, aku tak bermaksud menertawakanmu.”

Kyuhyun melambaikan tangan lagi. Bersikap seolah itu memang bukan hal yang menyinggung perasaannya. Dan memang begitulah adanya. Dia justru senang melihat Hyo In terlihat seperti manusia normal. Setidaknya kali ini Hyo In tidak menatapnya tajam atau pun melemparinya dengan kata-kata bernada ketus.

Dia juga cantik dan cukup menyenangkan, batin Kyuhyun.

Setelah bisa menguasai dirinya sendiri Hyo In berkata, “Sebenarnya aku pindah ke sini juga karena hal yang sama.”

Kyuhyun mendelik. Hyo In mengedikkan bahu tak peduli. Dia hanya merasa perlu mengatakan ini sekadar untuk memperbaiki suasana hati Kyuhyun, jika mungkin pria itu sakit hati karena ditertawakan dan tak mau repot-repot menunjukkan itu pada Hyo In.

“Maksudmu kau juga dipaksa menikah?” terka Kyuhyun.

“Tidak seperti itu. Situasinya mungkin lebih kompleks. Mereka mau aku dan Sarang tetap tinggal di Taebaek sementara aku merasa malu kalau harus merepotkan mereka. Aku sudah pernah tinggal sendiri dalam waktu yang relatif lama di Inggris, hanya dibantu teman-temanku. Aku kembali ke sini hanya karena Ibu dan Ayah mengancam tidak akan menganggapku anak lagi. Aku tak bisa membayangkannya. Meskipun cerewet mereka tetap orangtuaku. Tapi tetap saja aku tak suka dipaksa.” Hyo In bergidik ngeri seperti habis melihat barang menjijikkan.

Kyuhyun mengangguk dan diam mendengar pernyataan Hyo In tersebut, bingung harus memberikan tanggapan apa lagi. Lalu perhatiannya tertuju pada wanita itu yang dengan cekatan memangku seraya mengayun-ayunkan Sarang dengan pelan saat bocah itu menggerutu dan mengucek matanya terus-menerus. Tanda mengantuk, pikir Kyuhyun. Dan benar saja, karena beberapa menit kemudian Sarang sudah terlelap dalam pelukan Mamanya. Kepalanya terkulai di bahu Hyo In dengan bibir sedikit terbuka.

“Kau sangat menyayanginya, kan.” Ucap Kyuhyun pelan, memecah keheningan. Tanpa mengalihkan perhatian dari pemandangan indah di depannya.

Hyo In yang tadinya tak begitu memerhatikan Kyuhyun kini sudah mendongak dan tersenyum lembut padanya. Senyuman yang menjawab satu pertanyaan sederhananya. Hal manis pertama yang Hyo In lakukan pada Kyuhyun setelah satu hari bertetangga. Kemajuan yang cukup bagus.

Kyuhyun mulai berpikir sekali lagi bahwa Hyo In memang cantik.

Kyuhyun berdeham, mengalihkan pikirannya yang berjalan kemana-mana kemudian bangkit. Saat melihat Hyo In kesulitan berdiri, dia bergegas berjalan ke belakang Hyo In dan membantunya bangun dengan memegangi punggung kecil wanita itu.

“Kurasa aku harus pulang.”

Hyo In mengangguk paham. “Ya, kurasa juga begitu.”

Hyo In berjalan lebih dulu di depan Kyuhyun, karena tak bisa membuka pintu dengan kedua tangan menggendong Sarang akhirnya Kyuhyun mendahuluinya dan membukakan pintu untuk dirinya sendiri. Hyo In menunggu di ambang pintu, sesaat kemudian Kyuhyun menoleh lalu berjalan beberapa langkah hanya untuk mengusap rambut Sarang.

Melihat itu hati Hyo In menghangat sesaat. Namun, kembali mendingin begitu dia tersadar.

Tidak, aku tidak boleh terperdaya lagi. Hyo In membatin. Meyakinkan diri agar lebih bisa menjaga hatinya sendiri. Pengalaman masa lalu mengajarinya hal yang sangat berharga. Dia sempat terperosok dalam pelukan pria yang salah. Pria itu telah memberinya bencana dan berkah secara bersamaan. Pengkhianatan dan seorang putri kecil yang selalu mengerti bagaimana suasana hatinya, memberinya kekuatan. Itu semua takkan Hyo In sia-siakan hanya karena sentuhan lembut Kyuhyun pada Sarang ataupun perasaannya sebagai seorang Ibu dan wanita. Dia tahu yang Sarang butuhkan hanya saja hatinya sendiri belum siap.

Perasaan egois itu selalu menghantui Hyo In selama lima tahun terakhir. Itulah mengapa rasanya kasih sayang sebesar apapun yang Sarang terima darinya terasa belum cukup untuk menebus keegoisannya.

Lagipula Kyuhyun itu orang asing. Pikir Hyo In lagi dalam diam.

Dengan napas tercekat Hyo In membalas senyum hangat Kyuhyun dan mengucapkan selamat malam.

17 thoughts on “[Chapter] Single Mom Next Door 2

  1. Kyuhyun nya udah tertarik sma hyo in nya,tapi sepertinya bakalan sulit buat bsa lebih dekat lagi dengan hyo in,masa lalu nya bner2 sangat memprihatinkan,dihianati trus di tinggalkan,berarti suaminya yg dulu selingkuh kah?

  2. Waw.. Kemajuan pesat antara Kyuhyun & Hyo In.😀

    Penasaran dengan kejadian yang dialami Hyo In, sampai ia trauma begitu…

    Semangat^^

  3. Kemajuan yg sangat pesat!! Coba dr awal kaya gitu ga balal ada ketegangan2 tak berarti😁 midah2an makin baik ya hubungannya. Ga sabar pengen liat mereka bertiga jln brg gitu kemana hihi

  4. Akan agak sulit bagi kyuhyun untuk menaklukkan hati hyo in
    Krna di sempat terluka dan sempat mengalami hal yang menyakitkan
    Bersma pria
    Tpi, kyu ngak boleh nyerah
    Ambil hati sarang
    Dngan perlhan hati hyo in akan di ddapatlan😉
    Semangat nulisnya saeng😉

  5. waw… tidak menyangka sama sekali Kyuhyun bisa mendekati Hyo In seperti itu, ah tapi Hyo In nasih merasa takut dgn masa lalunya. Sebenarnya masa laku seperti apa? Dan siapa ayah Sarang? penasaran banget.

  6. wah kayaknya kyuhyun mulai tertarik sama hyo in,pasti nanti nanti hyo in akn lebih terbuka lagi sama kyu apalagi diantara mereka ada sarang🙂
    fighting hyo in eomma hihi

  7. mereka mulai ada gencatan senjata, semoga kedepannya hubungan ber-tetangga mereka lebih membaik lagi hihihi
    dan Hyo In juga mau buka lagi hati nya buat nerima seseorang emm calon bapak nya Sarang

  8. Penasaran banget ma “latar belakang” sarang, kemana appanya? Lo udah mati sih g p2, lo masih hidup bisa merepotkan . Jadi batu sandungan buat hubungan kyu & hyo in kedepannya,,,,

  9. nah gitu dong damai, yah mungkin hyo in masih ada rasa takut untuk mempercayai seorang pria tapi sepertinya dia ga bisa menolak pesona kyuhyun ^_^ kalo kyuhyun kayanya udah jelas deh, dalam hatinya ia selalu memuji hyo in

  10. Seru seru aku suka ceritanyaa..
    Kyuhyun udah tertarik aja tuh sama hyo in, tapi keliatannya hyo in susah dideketin tuh karena pengalaman masa lalunyaa.. Kesian jugaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s