[Chapter] At Gwanghwamun Bagian 6

At Gwanghwamun
Cho Kyuhyun/Song Hyo In
By Valuable94

11180317_949635291726786_8055858873775907172_n

Bagian 6

KYUHYUN

Awal Mula

Hyo In.

Muda. Bersemangat. Cenderung pemarah. Ceroboh. Lumayan baik. Cerewet. Cuek.

Sudah cukup. Jangan tanyakan lagi apa sifat baiknya karena aku tak bisa menemukan apapun lagi. Sejak pertama kali bertemu aku sudah diperingatkan Ayahnya sendiri, yang mana tak begitu kupercayai, tapi pada akhirnya aku tahu Paman memang tak berbohong karena deskripsi itu begitu lekat pada sosok gadis berusia dua puluh tiga tahun anak seorang rekan kerja sekaligus guru bisnisku. Beliau sudah seperti Ayahku sendiri namun bukan berarti aku menganggap Hyo In sebagai saudara.

Gadis itu … tak terduga. Mengingat apa yang Hyo In coba lakukan untukku beberapa hari ini, aku mengerti dia bermaksud membantu. Ngomong-ngomong hal itu sempat menyentuh hatiku walau kadang cukup mengganggu. Dia bersikap seolah tahu segalanya.

Menyebut nama Hyo In juga akan terus mengantarku pada kejadian luar bisa hampir seminggu yang lalu. Pertemuan pertama yang luar biasa dengan bau pesing di sekujur tubuhku. Mungkin bisa lebih mudah termaafkan jika seorang balita yang mengompoliku tapi sangat berbeda halnya jika seorang wanita yang sudah cukup dewasa untuk tidak mengompol lah yang melakukannya. Hal itu sempat membuatku geram namun beberapa hari setelah itu aku jadi sering tertawa-tawa sendiri setiap mengingat ekspresi Hyo In—yang baru kusadari detik-detik terakhir—sedang menahan pipis. Sebenarnya bukan masalah itu saja. Ada satu hal yang lebih ironis dari itu—masalah mantan kekasihku yang menurutnya cukup krusial sampai dia merasa harus memberikan bantuan. Seandainya dia tahu hal ini bukan tentang diriku melainkan hanya dirinya mungkin apa yang terjadi pada kami akan berbeda. Sayangnya, Paman Seung Hoon memintaku menyembunyikan ini sampai waktu yang tepat. Saat gadis itu sudah jinak.

Kuakui dia memang baik. Kupikir dalam lubuk hatinya memang hanya berusaha menjadi orang yang berguna untuk orang lain karena aku pun juga bergitu. Terbiasa dengan lingkungan yang menuntut membuatku merasa sangat tidak nyaman. Apalagi tekanan dari keluarga yang selalu berusaha mengatur apa dan bagaimana aku harus hidup seolah “pilihan” bukanlah kosa kata yang tepat untuk mendeskripsikan hidupku.

Ayah, sebagai kepala keluarga menjadi panutan yang sangat baik hanya saja watak kerasnya sempat membuatku membencinya. Beliau dan Ibu adalah sepasang dokter sukses yang menginginkan aku menjadi seperti mereka, persis. Hal itu membuatku merasa tak diterima keluargaku sendiri karena memiliki ketertarikan di bidang lain. Sementara itu, aku justru menemukan sosok seorang Ayah sederhana dan tegas dari Paman Seung Hoon—Ayah Hyo In. Beliau yang membawaku dari bawah ketika aku baru belajar apa arti bisnis secara harfiah. Menjadikanku seseorang yang sangat berbeda dari sebelumnya. Paman Seung Hoon membuatku nyaman dan merasa dianggap sebagai putra, memberiku contoh bagaimana cara melakukan sesuatu. Bukan hanya gambaran kesuksesan orangtua yang berhasil membawa anaknya ke jalan di mana mereka berada—terpaksa atau tidak.

Keluarga Hyo In sangat baik padaku. Meski sudah lama kenal aku lebih sering makan atau sekadar menghabiskan waktu bersama Ayah dan Ibunya saja. Aku tahu Paman dan Bibi punya seorang putri tapi tak pernah benar-benar tahu siapa dia. Bahkan selama empat tahun terakhir baru semingguan lalu aku bertemu dengan Hyo In. Biasanya aku hanya mendengar cerita masa kecil Hyo In dan sifat-sifat nyelenehnya: seperti dulu saat masih kelas satu SD dia tidak mau makan jagung goreng kalau tidak dikunyahkan Ibunya, setiap pagi akan bangun dengan sigap mengikuti Ayahnya dan setia menemaninya buang air kecil padahal dia tipe bocah yang tidak bisa bangun pagi. Dia juga sangat suka buah-buahan tropis.

Saat itu, empat tahun lalu ketika untuk pertama kalinya mereka bercerita tentang Hyo In dengan wajah cerah aku mulai penasaran dengannya, terlebih hubungan pertunanganku baru saja berakhir. Kupikir Paman bersikap seperti itu karena berniat mengenalkan putrinya denganku tapi sepertinya itu kurang tepat. Sejak awal beliau tak pernah berusaha memperlihatkan foto Hyo In atau melakukan hal-hal wajar untuk menjodohkan kami. Aku juga tidak terlalu berniat untuk mengenal lebih jauh putri anehnya jadi yang kulakukan selama ini hanya menerima dan mengumpulkan setiap potongan-potongan kecil kisah Hyo In dari Paman dan Bibi sampai akhirnya sekitar dua bulan yang lalu mereka meminta bantuan yang tak bisa kutolak dan tibalah peristiwa menjijikkan sekaligus menggelikan itu.

Hari ini Hyo In dan aku berencana akan memulai ‘misi’ kami yang kurasa sudah dirancang gadis itu semalaman. Sudah pukul delapan pagi dan aku masih belum melihat tanda-tanda kedatangannya jadi kuputuskan untuk mengecek beberapa berkas-berkas pembelian tanah di Gyeongju serta gelontoran dana yang harus perusahaanku keluarkan untuk merelokasi warga sekitar ke tempat yang sudah kami sediakan setelah melakukan kerja sama dengan pemerintah daerah, serta dokumen dari perjanjian di tempat lain. Aku hanya harus memeriksa sedikit bagian saja karena beberapa berkas-berkas itu sudah diteliti Paman Seung Hoon. Itu adalah bagian dari perjanjian kami. Beliau akan membantu menyelesaikan sebagian pekerjaanku karena sudah mengurangi waktu bekerjaku untuk melakukan ‘pendekatan’ dengan Hyo In.

Aku hanya sempat memeriksa satu map sebelum mendengar bel berbunyi. Bergegas membukanya, senyum cerah Hyo In menyambutku secerah matahari pagi Sabtu ini.

“Halo, Tuan Lemari Es. Apakah suhumu naik atau turun hari ini? Karena aku membawa dumpling hangat dan sup kimchi,” katanya penuh semangat seraya mengangkat dua rantang di kedua tangannya.

Rasanya tak mungkin mengabaikan senyum itu. Kubuka pintu lebih lebar, mempersilakannya masuk.

“Tak ada yang lebih baik dari dumpling dan sup kimchi.”

Hyo In berbalik. Tubuhnya menguarkan aroma melati saat berputar. Baunya sangat kuat sampai kepalaku pusing ketika menghirupnya dan tak sadar jika kami tengah berdiri berhadapan dengan jarak kurang dari tiga puluh sentimeter. Sekilas bisa kulihat semburat merah di pipinya.

Seketika itu juga Hyo In mundur seolah tubuhku mengandung aliran listrik. “A-aku ke dapur sekarang.”

Setelah menaruh tas di sofa ruang tamu, dia bergegas dengan percaya diri.

Bibirku berkedut ketika Hyo In berjalan bukan ke dapur, melainkan kamarku. “Ke kiri, bukan kanan!” Instruksiku sebelum dia melangkah lebih jauh dan malah jatuh pingsan karena melihat banyak ‘barang-barang pribadi’ pria.

Dia berhenti, menoleh, mendengus sambil melemparkan pandangan tajam. “Aku tahu.”

Dan aku juga tahu bagaimana gadis itu bisa menemukannya hanya dengan satu-dua kali tolehan. Dapurku lumayan luas dengan perabotan yang tidak terlalu banyak dalam keadaan selalu bersih. Selain karena jarang sekali memasak, aku juga tak suka barang-barang milikku tampak berantakan dan tidak teratur.

Aku menghampiri Hyo In. Memerhatikan punggungnya. Dia sedang sibuk mengganti wadah makanan, mondar-mandir membuka lemari, mengambil piring, dan menyiapkan sarapan. Sebagai pria sejati sudah seharusnya aku membantu Hyo In tapi peranku di sini bukan untuk itu. Aku harus tetap terlihat diam dan menyebalkan.

Dia melirikku sekilas saat aku sudah siap di meja makan—pura-pura bermain ponsel sambil bersiul—lalu melanjutkan perkerjaannya lagi setelah mendecih kesal. Tak bisa menahan senyum, aku menunduk semakin dalam dan membaca email dari asistenku yang baru saja masuk.

Begitu semuanya siap Hyo In menuangkan segelas susu dan air putih sebelum ikut duduk di sampingku.

“Kata Ibu, sarapan dengan nasi lebih sehat. Energimu yang kaudapat lebih banyak daripada makan roti.” Memberiku mangkok nasi. “Kau dan aku butuh banyak karbohidrat sebelum memulai pelajaran hari ini,” katanya dengan wajah dibuat seserius mungkin, tapi tak bertahan lama karena setelah itu cengirannya muncul.

Dahiku mengernyit melihat kegembirannya hari ini. Aku tak menyangka hanya dengan sebuah buku Nicholas Sparks bisa memengaruhi penilainnya terhadapku sedemikian drastis. Ironis sekaligus tak terduga.

Gadis macam apa dia?

“Kau yakin tidak terbentur sesuatu sebelum kesini?” Tanyaku kemudian melahap nasi dan sup kimchi.

Hyo In menggeleng semangat dengan senyum riangnya. “Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku untuk buku kemarin. Aku menyukainya dan sebagai tanda pertemanan kita lagi—“ Berhenti sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Kenapa?”

“Tidak. Hanya saja aneh sekali menyebut kau dan aku dengan ‘kita’.” Lalu menyeringai tanpa dosa.

“Memangnya kenapa?”

Hyo In mencondong padaku. Kedua alisnya berkerut ketika memandangiku seksama. Aku mundur hingga punggung menabrak sandaran kursi.

“Hentikan! Kau menakutiku.”

Hyo In mengedikkan bahu kemudian menyeletuk, “Entahlah. Kau berubah. Lebih banyak bicara. Kau yakin tidak salah makan?”

Tawaku hampir meledak mendengar pertanyaannya. Tersenyum hari ini pun terasa lebih mudah. Hampir selalu ada alasan untuk itu apalagi setelah bertemu Hyo In.

“Tidak usah ditahan. Tenang saja, aku bukan tipe wanita pemarah.”

Setelah menelan nasi dengan susah payah aku berkata, “Ini makanan pertama yang masuk ke mulutku. Sayang sekali spekulasimu salah besar, Nona Paling Tahu Segalanya.”

Hyo In mengedikkan bahu. “Aku bukan paling tahu segalanya. Hanya menebak.” Kemudian menenggak susunya. “Kalau benar kuanggap itu bonus,” lanjutnya santai.

“Baiklah, aku kalah.”

“Yeay!” Hyo In berteriak keras sambil mengangkat tangan. “Ngomong-ngomong, hari ini aku berencana memberitahumu rencana kita selanjutnya. Tentang melupakan mantan, kalau saja kau berpura-pura tidak mengingatnya. Siapa namanya? Aku lupa.”

“Shin Ah.”

“Nah itu.”

Cengiran Hyo In mengalahkan cerahnya sinar matahari yang masuk melalui celah jendela. Seperti biasa, dia memang bersemangat. Kadang aku heran bagaimana gadis ini menjaga pikirannya tetap positif di tengah gempuran tuntutan berbagai pihak: keluarga, teman, lingkungan pekerjaan. Aku juga mengalami hal sama seperti Hyo In dan kebanyakan orang dan sulit sekali melakukan hal itu. Sifat itulah yang membuatku penasaran dengannya dan ingin terus bertemu, bukan mendengar kuliahnya tentang kiat-kiat melupakan mantan. Aku tak butuh itu.

Sarapan kami selesai. Hyo In membersihkan meja sama cekatannya ketika menyiapkan sarapan. Pandanganku tak bisa teralih darinya. Kupikir apa yang dikatakan Paman dulu memang ada benarnya. Hyo In membutuhkan seorang suami. Pendamping yang lebih percaya diri darinya. Cukup dewasa untuk menanggapi argumen-argumen nyeleneh dan sikap tak terduganya. Juga seorang pemimpin yang bisa mengarahkan kelebihan energinya. Dia bisa menjadi istri yang baik. Aku percaya semua wanita memang punya potensi itu hanya saja tak semua dari mereka menemukan pasangan yang tepat. Secara pribadi, aku tak mau Hyo In mengalami hal itu. Bukan karena aku menyukainya atau apa, hanya … tidak rela.

“Memangnya apa rencanamu?” Tanyaku. Tak ingin membuatnya curiga dengan menampakkan wajah tak antusias.

Hyo In kembali duduk di sampingku. “Pelajaran kedua setelah membuang semua barang-barang kenangannya adalah ‘Jangan mengingat-ingat kebaikannya’,” katanya bangga seolah teori itu sudah teruji.

Aku diam sejenak. Pura-pura memikirkan sesuatu yang berkaitan dengan topik yang kami bicarakan. “Kurasa kita butuh kertas dan pulpen.”

Sederhananya, membuat daftar memang butuh alas tulis.

Aku bergegas menuju kamar mengambil alat yang diperlukan. Tadinya itu niat awal tapi kemudian terbang dengan sendirinya begitu melihat tumpukan berkas yang belum sempat kuperiksa. “Sial!” kemudian membawa mereka juga.

Mungkin aku terpaksa mengecewakan Hyo In lagi hari ini.

Dobel sial.

“Hyo In, kita punya masalah.” Sebenarnya ini masalahku saja.

“Aku di depan TV!” Teriaknya.

Aku langsung menyusul Hyo In. Dia duduk di atas karpet bulu berwarna krem dengan novel yang kubelikan kemarin. Terima kasih, Paman. Jika bukan karenanya aku takkan tahu apa yang disukai gadis itu.

“Pekerjaanku belum selesai. Apa bisa kita tunda pelajarannya sampai besok?” Tawarku. Merasa sangat bersalah. Biar bagaimanapun Hyo In selalu terlihat menyukai ‘pelajarannya’ sampai aku tak tega jika harus memupuskan hal itu.

Dia mendongak. Menatapku datar tapi dengan bibir kecilnya yang agak tebal mengerecut. Mungkin bibir itu juga kenyal saat digigit.

“Kau yang membuat janji jadi harus ditepati. Aku tidak mau dibohongi lagi.”

Kuhela napas. Sadar Hyo In sedang membahas masalah waktu itu, saat aku meninggalkannya ketika bertemu Shin Ah di luar gedung jjimjilbang. Alasan yang kuberikan memang kebohongan yang lain. Aku mengejarnya bukan karena masalah hati atau masa lalu. Semua murni karena kami tengah mengerjakan proyek penginapan baru di Gyeongju yang juga ditangani Paman Seung Hoon. Saat itu kami harus Shin Ah dan aku langsung ke kantor bertemu dengan staff lain yang ikut membantu kami untuk membicarakan perjanjian tersebut hingga lupa waktu dan kesalahan fatalku adalah meninggalkan Hyo In tanpa memberinya kabar. Ketika kuhubungi, ponselnya terus tak aktif, sampai dua hari berikutnya dan aku tahu dia pasti sangat marah padaku.

“Aku tak bermaksud seperti itu.” Kuberikan berkas-berkas itu di sampingnya. “Periksalah!”

Langkah terakhir. Setidaknya dia takkan menganggapku berbohong. Meski sebenarnya itulah yang kulakukan selama ini.

Dengan cemberutan yang masih belum hilang Hyo In mengambil lalu memeriksa berkas itu satu per satu. Dibolak-balik. Kadang berhenti di beberapa bagian seraya mengernyitkan dahi. Heran mungkin. Itu adalah ekspresi menggelikan dan menggemaskan jika saja kalian bisa melihatnya.

“ARGH! Aku pusing. Terserahlah. Yang jelas hari ini jadwal pelajaran kedua dan aku tak peduli mau pekerjaanmu seumpuk, segunung, atau sedunia sekalipun. Itu masalahmu, bukan aku. Intinya, kau sudah berjanji dan aku menagih itu sekarang. Aku tidak mau diam saja seperti orang bodoh di sini.”

Ini tidak berhasil. Hyo In merengek. Kalau saja rengekan itu hanya untuk menggertak aku pasti sudah meninggalkannya sebelum dia sempat mengucapkan kata kedua. Protesannya beralasan. Itulah mengapa aku memilih menyerah dan bertahan di sini mencoba memikirkan solusi. Diam, kemudian menghela napas begitu bokongku menyentuk sofa empuk dan bersandar santai.

Lama kami berdua tak ada yang berbicara. Hanya embusan napas, detak jam, dan desiran AC yang terdengar. Hyo In juga lebih memilih lanjut membaca novel daripada memerhatikanku. Aku memejamkan mata, melipat tangan di bawah kepala. Berpikir lebih enak dengan begini.

Tiba-tiba Hyo In menyeletuk tanpa peringatan. “AC-mu rusak ya? AC bagus tidak berbunyi saat menyala.”

Mataku terbuka. Melihat mata cokelatnya dari atas sini benar-enar posisi sempurna. Hyo In tampak hangat dan menyenangkan. Bibirku melebar begitu garis senyumnya terlihat. Manis sekali. Mengalihkan perhatian.

“Kaupikir begitu?”

Hyo In menggeleng pelan. “Lupakan. Aku hanya tidak tahan diam terus kalau sedang bersama seseorang.” Perhatiannya kembali pada novel sesaat, menaruh kembali penanda halamannya. “Begini saja. Bagaimana kalau kaukerjakan pekerjaanmu. Daftar itu biar aku yang urus. Tapi jangan kemana-mana. Temani aku di sini.”

Aku tak bisa menahan senyumku semakin melebar lalu berpikir sejenak. Mungkin memang harus ada semacam wawancara investigasi yang dia perlukan. Cukup masuk akal. Tapi itu berarti aku harus berpikir dua kali lipat: memeriksa berkas-berkas kantor dan menyusun skenario tentang ‘masa lalu’ kalau saja Hyo In mengajukan pertanyaan yang bisa memerangkapku.

“Ide bagus.”

Hyo In mengembalikan berkas-berkas itu kemudian mengambil kertas dan pulpen. Berbalik menghadapku. Sikapnya itu sedikit banyak membuatku kikuk. Dengan bertopang dagu di ujung sofa seraya mengamati kertas kosong dan memutar-mutar pulpen di antara jari-jarinya.

“Seperti apa Shin Ah itu?”

Well, permulaan yang bagus. Untukku.

Aku mencoba mengingat-ingat lagi bagaimana mantan tunanganku itu. “Dia cantik. Tinggi 169 senti, berat … aku tak yakin, mungkin sekitar empat puluh lima—“

Hyo In mendengus. “Maksudku sifatnya, bukan bentuk fisiknya. Apa semua pria memang hanya mementingkan fisik wanita,” gerutunya. Menjerit protes saat kutarik poninya.

“Pertanyaanmu yang ambigu. Itu bukan salahku.”

“Membela diri, eh?”

Sialan. Bibirnya itu benar-benar minta di—

“Ya, ya, kita teruskan saja,” potongku cepat. “Dia gadis yang baik.”

“Oke. Gadis yang baik,” katanya seraya membenarkan poni menutupi dahi. “Tapi kurang spesifik. Itu komentar yang sangat umum.”

Aku menghela napas. Mengatur emosi dan pikiran liar keluar begitu saja seperti tadi. “Dia jujur, penurut, lembut, dan sedikit pemalu,” jawabku spontan. Memang begitulah Shin Ah selama ini.

“Dia itu anjing atau manusia?” Anehnya raut wajah Hyo In berubah saat itu. Kupikir dia akan senang karena jawabanku tepat. Air muka yang ditujukkannya tak begitu jelas karena segera hilang secepat datangnya. Kemudian dia berdeham, “Fokus kita hari ini adalah semua sifat buruknya. Mana mungkin ada wanita sesempurna itu.”

Ngomong-ngomong nada suaranya meninggi. Seolah tak percaya dengan apa yang kukatakan dan menuntut pembenaran. Mungkin dia hanya iri. Atau tombol rasionalnya sudah menyala aktif.

Kurasa alasan kedua lebih masuk akal.

Merasa semakin kesal tapi malas membalas, aku berpikir lagi. Menopang dagu dengan mata berkeliling memerhatikan plafon kayu kemudian menghela napas setelah beberapa menit. Agak lama. Menoleh Hyo In yang tengah menatapku dengan alis terangkat sebelah, sepertinya siap melemparkan meriam tepat ke mukaku kapan saja dibutuhkan jika tak kunjung memberikan jawaban yang dia inginkan.

“Kau tidak tahu.” suaranya membelah belantara pikiranku.

Aku mengernyit. “Maksudmu—“

“Aku tahu! Kau memang tak tahu bagian negatifnya. Oh, aku tahu sejak awal ini memang sia-sia.” Wajahnya merosot, kepalanya terkulai di samping lututku di atas sofa sebelum bangkit lagi tak lama kemudian dengan kerutan jelas di dahi. “Tidak. Wanita sesempurna itu sungguh tidak masuk akal. Kyuhyun, coba pikirkan lagi. Pasti ada sesuatu yang buruk tentangnya.”

Aku masih memerhatikan wajah bingungnya. Tampak sedang mencari-cari sesuatu.

“Mungkin dia suka kentut sembarangan,” celetukannya membuat kernyitanku semakin dalam, lalu tawaku meledak.

Ya Tuhan. Gadis ini aneh.

“Kenapa, semua orang pernah melakukannya, kan? Aku juga sering seperti itu,” sungutnya.

Aku berpura-pura menatap jijik padanya. “Kapan?” Lalu beringsut menjauh seraya menutup hidung dan mulut.

“Baru saja.”

Mataku membeliak. Mengamati wajah Hyo In yang tanpa beban ketika mengatakan hal jorok seperti membicarakan cuaca buruk musim dingin. Gadis ini benar-benar sukses membuatku terperangah. Melupakan hal wajar yang seharusnya kulakukan ketika membaui kentut—walau kenyataannya memang tak ada bau apapun—aku malah semakin mendekat padanya. Mengantarkan isyarat mata apakah gadis itu benar-benar melakukannya atau tidak. Saat mata kami berpandangan agak lama—sampai rasanya sayang mengedipkan mata dan melewatkan gumpalan cokelat di mata jernihnya—Hyo In tertawa keras dan memukul hidungku dengan pulpen. Manis sekali.

“Aku bercanda. Mmm … maksudku aku melakukannya tadi waktu mencuci piring. Tidak tahan. Tapi tenang saja, dapurmu tidak akan tercemar.”

“Kaujamin?” Tanyaku sangsi. Sebenarnya hanya ingin melanjutkan diskusi ini agar Hyo In lupa tujuan sebenarnya. Aku tak tahan kalau harus terus mengarang cerita patah hati. Hyo In gadis baik meskipun ceroboh dan tak punya aturan. Dia pantas mendapatkan yang lebih dari ini.

Hyo In mengangguk yakin. “Kalau kau tidak pingsan saat masuk ke sana.” Lalu menyeringai. Tak ada sedetik pun dari sekian jam keberadaannya di sini bisa membuat orang berpikir dia seorang guru Bahasa Inggris di SMP.

Aku mendengus kemudian kembali bersandar di punggung sofa. Tanpa menoleh Hyo In kubuka berkas-berkas penting itu dan mulai memeriksanya. Kekehan Hyo In sedikit banyak menurunkan mood bekerjaku pagi ini. Kurasa dia memang tak pernah bisa serius. Persis Paman Seung Hoon. Mereka juga cenderung terlalu santai.

Embusan panjang napasnya mengalihkan perhatianku. Dia berputar, menyandarkan punggung di sofa sebelum melempar kertas dan pulpen, menggeram dengan wajah tertutup kedua tangan. “Sungguh buruk.”

Aku sendiri juga tak percaya ini akan berhasil. Lagipula aku juga yakin tidak membutuhkan konseling apapun atau trik-trik melupakan mantan ala Hyo In.

Menatap bingung antara Hyo In dan pekerjaan, rasanya melanjutkan rencana Paman Seung Hoon ini semakin menurun. Sudah cukup aku bersikap seperti pria frustrasi dan akhirnya malah benar-benar membuatku frustasi. Bahkan hampir gila karena harus mengekang karakterku yang sesungguhnya. Awalnya kupikir dengan begini aku bisa membantu meringankan beban Paman. Namun, lama kelamaan melihat kegigihan dan kesungguhan Hyo In menganggap masalah ini serius membuat pikiran itu pudar dengan sendirinya. Tapi tak mungkin juga mengatakan hal ini secara langsung padanya. Usaha Paman selama ini bisa berantakan dan tak berarti apa-apa padahal untuk mengetahui sikap diam Hyo In dan ketidaktertarikannya pada pria sudah berjalan sejauh ini. Pendekatan-pendekatan yang dilakukan Paman dan Bibi sebelumnya tidak pernah ada yang berhasil, termasuk pertemuan dengan psikolog yang malah membuat Hyo In kabur selama seminggu dari rumah—meski hanya menginap di rumah Hyukjae. Dilihat dari fisik juga gadis itu tak ada cacat sama sekali. Dia lebih
ke cacat mental sebenarnya—agak gila. Hyo In cukup cantik meskipun tak secantik Kim Tae Hee dan punya kepribadian unik … maksudku aneh. Dan hal itu cukup menarik.

“Bagaimana kalau kuselesaikan dulu pekerjaanku sementara kau … lakukan apapun kesukaanmu asal jangan buat rumahku berantakan,” usulku. Sekaligus memperingatkan.

Hyo In mendongak. Menatapku datar sebelum senyum itu mengembang sempurna hingga dua gigi tengahnya yang lebih panjang dari yang lain terlihat. Putih, bersih, dan tidak terlalu teratur. Sepeti tikus.

“Boleh aku duduk di sini saja? Aku bawa novel. Janji tidak akan mengganggumu.”

Aku mengangguk. Dia mengambil kembali senjata pamungkasnya. Novel pemberianku kemarin. Dengan sabar membuka halaman dimana bookmark-nya terletak. Wajah tenangnya membuat sesuatu dalam dadaku merasakan sejenis perasaan damai dan sejuk. Seperti tertiup angin musim semi. Tiba-tiba lebih mengasyikkan memerhatikan Hyo In daripada berkas-berkas ini. Hei, bukankah mereka bisa menunggu sampai nanti malam.

“Sampai halaman berapa?” Tanyaku tanpa menoleh. Berusaha terlihat tak terlalu antusias.

“Baru 120an.”

Dia juga tak mau repot-repot menoleh padaku. Setidaknya aku masih meliriknya. Dia? Tidak sama sekali.

“Bagaimana dengan Logan?”

Aku tidak seperti orang penasaran, kan?

“Masih merahasiakan alasannya menemui Beth. Sudah jangan tanya terus. Kau menggangguku.”

Dengusanku sudah keluar berkali-kali tanpa bisa dihitung jari setiap kali bersamanya. Aku sengaja membolak-balik kertas dengan keras agar dia tahu aku sedang kesal. Tapi pada akhirnya tak bisa juga menahan senyum saat Hyo In mendongak. Dari atas sini terlihat wajah herannya yang lucu terbalik dengan leher putih mulus yang tak terlalu panjang menggoda. Aku tahu aku pria kuat. Leher itu takkan berpengaruh apa-apa padaku.

Dan pada kenyataannya aku salah. Tenggorokan gatal dan selangkanganku mulai sesak. Sial!

“Aku suka kau mengundangku kemari dan sepertinya beberapa hari tak bertemu sudah mengubahmu,” katanya di sela cengiran.

“Maksudmu?” Berdeham pelan sebelum kembali menekuri pekerjaanku lagi. Mati-matian menahan mata melihat leher itu lagi dan berusaha tak menanggapinya dengan kalimat yang lebih panjang atau dia akan tahu perubahan suaraku.

“Kau lebih sering tersenyum. Mungkin lemari esnya sedang penuh es krim cokelat.”

“Matamu juga cokelat.”

Bukan salahku. Kalimat itu keluar begitu saja. Bahkan aku tak sadar sempat memikirkannya.

Hyo In memekik tertahan. Dia segera beringsut mendekatiku dengan kedua mata menyipit.

“Dari mana kautahu mataku cokelat?”

Aku hanya mengedikkan bahu. Sesaat kemudian bahu itu mendapat hadiah paling nikmat. Sebuah pukulan keras dari buku dengan setengah tebal buku ensiklopedia dunia. Aku memekik, melotot padanya yang justru melempariku tatapan tajam. Tak takut sama sekali.

“Aku paling tidak suka pria seperi Logan.” Dia menunjuk hidungku dengan jarinya. “Mulai bersikap sepertinya padaku lagi atau kupatahkan bolamu dengan sekali tendang.”

Refleks kututup selangkangan dengan tangan. “Apa-apan itu?!” Protesku. “Yang kaubenci Logan kenapa bolaku yang jadi sasaran. Aku pun tidak tahu apa yang sebenarnya kau permasalahkan.”

“Kau menyembunyikan sesuatu dariku. Logan juga melakukannya pada Beth.”

“Dia pasti punya alasan sendiri kenapa harus melakukan itu.” Seperti halnya aku. “Tidak semua alasan orang bisa kauketahui. Lagipula ceritanya tidak akan menarik kalau berakhir terlalu cepat begitu semuanya terbongkar dari awal. Bukankah wanita sepertimu suka dramatisasi?”

Kali ini bukan hanya tatapan tajam. Hyo In berdiri dengan lututnya. Menjulang di sampingku seraya berkacak pinggang. “Kenapa harus menyebut gender, huh? Itu namanya diskriminasi.”

“Kubilang ‘wanita sepertimu’. Bukan semua wanita.”

“Tentu saja,” sergahnya pendek kemudain membanting bokongnya di sampingku. Suaranya ketus. “Mantanmu ‘kan sempurna, tidak seperti aku.”

Baiklah, kelihatannya sekarang jadi kami yang mendramatisir keadaan. Masalah sebenarnya tidak sepelik ini.

Aku mengangkat kedua tangan, tanda menyerah. Melemparkan senyum perdamaian. Agak tidak ikhlas sebenarnya. Aku tidak suka mengalah. “Maaf.” Kemudian memegang lengannya lembut. Hyo In mendecak kesal. Menatapku tak yakin untuk beberapa saat sebelum mengibaskan tanganku lalu membungkuk mengambil novelnya yang terjatuh di bawah sofa.

“Lupakan!”

Kini aku bisa bernapas lega.

Beberapa jam berikutnya aku mulai terbiasa dengan segala kegaduhan yang dibuat Hyo In. Selama berkutat dengan berkas-berkas posisi Hyo In sudah berganti-ganti. Dia tak bisa duduk tenang sepertiku. Kadang punggungnya tegak, agak membungkuk, lalu miring. Beberapa saat setelah itu bisa saja dia bersandar di punggung sofa dan novel menutupi wajahnya. Atau mengerang tak jelas dan memaki nama-nama tertentu. Kakinya juga bergerak acak ke sana-kemari. Suasana baru bagiku mengingat hampir dua tahun ini aku tinggal sendiri. Hari ini juga pertama kalinya aku bekerja dengan seorang teman—yang tidak membantu sama sekali—dan rasanya apartemenku memang lebih hidup—berisik.

Setelah menyelesaikan hampir setengah dari pekerjaanku Hyo In ternyata sudah sibuk dengan ponselnya, bermain tetris. Terkesan melihatnya begitu menikmati permainan lawas itu. Saat kutanya apa dia menyukainya, Hyo In menjawab santai tanpa menolehku, “Aku sangat menyukainya karena selain menyenangkan permainan ini juga bersejarah. Dulu pernah ada teman sekelas mengajakku berkencan saat masih kelas 2 Sma. Sayangnya hubungan itu hanya bertahan empat hari.”

Hubungan macam apa itu!

Aku tertawa dan dia membiarkaku melakukannya dan menyuruhku menikmatinya. Perhatianku kembali teralih pada sisa berkas-berkas itu ketika Hyo In sudah beranjak dari sana sekitar tiga puluh menit yang lalu. Menyiapkan makan siang dengan sisa sup kimchi tadi pagi, dua mangkok ramen, acar lobak dari lemari esku, dan jus jeruk di meja. Semuanya tertata rapi begitu aku sampai di dapur dan ramen Hyo In tinggal setengah.

“Biasanya aku masak untuk diriku sendiri. Agak aneh rasanya kalau sekarang ada seseorang yang mau makan masakan buatanku.”

“Tidak masalah. Aku bukan pemilih makanan,” kataku sambil duduk kemudian menenggak jus jeruk dan melahap ramenku sendiri. Lumayan enak untuk perut yang kosong. “Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak menikah saja?”

“Kau saja menikah duluan,” jawabnya cuek.

“Masakanmu enak.”

“Kalau saja semua masalah pasangan bisa diselesaikan hanya dengan makanan.”

Benar juga. Masalahnya memang tak sesederhana itu.

Kucoba membelokkan sedikit pembicaraan kami. “Kurasa tidak akan ada pria yang menolakmu. Kau akan menjadi istri yang baik dan menyenangkan.” Itu jujur dari dalam hatiku.

“Maksudmu apa tiba-tiba bilang seperti itu? Pasti gara-gara Ayah. Apa dia mengeluhkan banyak hal tentangku padamu?”

Aku menggeleng. “Tidak. Hanya ingin tahu.”

Hyo In menghela napas panjang. “Kautahu, lama-lama perubahan sikapmu jadi menyebalkan. Lebih baik jadi lemari es saja seperti kemarin-kemarin. Tidak banyak omong.”

Aku hanya tersenyum. Tidak bisa, Sayang, karena itu bukan aku. Maaf mengecewakanmu. “Kalau tidak mau menjawab diam saja. Tidak perlu ketus seperti itu.”

Hyo in meletakkan sumpitnya. “Hanya belum siap.” Lalu menghela napas lagi. “Aku masih dua puluh tiga tahun. Banyak hal yang bisa kulakukan tanpa pusing mendengar aturan dari suami dan mertua cerewet.” Tidak ada kernyitan curiga lagi di dahinya. Hyo In mengedikkan bahu. Gayanya saat tak yakin dengan apa yang dia katakan. Aku tahu itu hanya dengan memerhatikannya beberapa jam terakhir. Andai kami punya lebih banyak waktu lagi kurasa aku bisa membuatnya mengatakan sesuatu yang paling rahasia yang bahkan tak mampu dia ucapkan pada Ayah dan Ibunya.

“Jadi kau berencana punya mertua dan suami cerewet dan suka mengatur.”

“Tidak juga. Lagipula teman-temanku juga banyak yang belum menikah.”

“Setidaknya mereka berkencan, bukan.”

“Memang.”

“Lalu bagaimana denganmu, kenapa tidak berkencan juga seperti mereka?”

Aku merasa sudah berhasil. Yah, berhasi menghilangkan selera makannya.

Hyo In duduk tegak dan menatapku aneh sebelum berkata, “Aku tidak tahu kenapa kau sampai menyimpulkan hal seperti itu. Banyak yang berkencan bukan berarti aku harus berkencan juga, kan.”

“Hanya menduga,” ujarku santai. Menjauhkan mangkok ramen kosong. Membalas tatapan matanya tanpa ragu.

Tanpa disangka Hyo In malah tertawa. “Membalikkan omongan, eh?”

Ya, dan jika benar kuanggap itu bonusnya. “Aku bukan pembaca pikiran. Tak punya plihan selain menduga.”

“Wow! Pantas Ayah menyukaimu. Kau benar-benar pandai bicara dan memanfaatkan situasi.“

“Dan kurasa kau mulai takut padaku sekarang.”

Tawanya terdengar lebih keras dari sebelumnya. “Aku tidak takut apapun kecuali Tuhan dan samurai Ayah. Dia bisa sangat menyeram—“

Kata-katanya terputus saat ponsel di sakunya berbunyi nyaring. Beberapa saat setelah itu raut wajahnya berubah masam kemudian semakin murung dan menggelap. Wajah yang tadinya mengembuskan angin musim semi kini seperti menyelimutiku dengan badai musim dingin.

“Kenapa?” Tanyaku penasaran.

“Ada acara makan keluarga,” jawabnya lesu seraya meletakkan ponselnya di meja sebelum mengubur wajah di antara lengannya.

“Bagus, bukan? Aku saja jarang menghadiri acara makan keluarga.” Lebih tepatnya aku memang tidak diundang.

Hyo mendongak dan menggeleng seperti anak kecil tidak mau dipaksa mandi. “Sudah pasti tidak bagus. Ini keluarga Ayah. Mereka menakutkan.”

Kupikir keluargaku saja yang begitu.

“Kaubilang hanya takut Tuhan dan samurai Ayahmu,” godaku. Itu berhasil membuat bibirnya mengerucut. Tapi wajah muramnya mengaburkan kesenanganku.

Mungkin Hyo In merasakan ketidaknyamanan saat bersama mereka seperti apa yang selama ini kualami saat bersama orangtuaku sendiri. Ekspresi itu menggambarkan keengganan dengan sangat jelas. Kurasa aku tak bisa membiarkan gadis sebaik Hyo In merasaan hal itu. Perasaan yang tidak menyenangkan saat bersama keluarga sendiri, bahkan menurutnya mereka menakutkan. Bisa jadi karena dia merasa tak punya teman di sana. Sama sepertiku.

Ya, teman. Hyo In pasti butuh teman.

“Aku ikut.”

“Apa?!!!”

“Aku ikut ke acara itu. Kabari aku jam berapa kalian berangkat dari rumah, oke.”

Aku tersenyum puas sebelum pergi meninggalkan Hyo In yang sedang menatapku dengan mulut ternganga dan mata melebar.

Sempurna.

8 thoughts on “[Chapter] At Gwanghwamun Bagian 6

  1. Ahhh,,,
    Kapan sih mereka ini mulai saling Jatuh Cinta ?!
    Cuma Kyuhyun yg diam2 terkagum sma sikap Hyoin..
    Ayo dong Kyu Gentel dikit napa ihh..
    Hyoin juga,jangan munafik klw kamu sudah mulai menaruh rasa cemburu kpd Kyuhyun,ketika membahas masalah mantan. ya walaupun cma sedikit -,-..

    Tapi tak apa lah,, semoga kedepan’a,hubungan mereka bisa mengalami kemajuan🙂

    Semangat Terus ya Kak Amalia..
    Klw bisa jangan terlalu lama share’a,takut lupa alur sebelum’a ^^
    Heheheee😀

  2. Sebenarnya apa sih yg Kyuhyun dan ayah Hyoin rencanakan, justru di sini karakter Hyoin yg nyeleh ini membuat semuanya menjadi ceria, tidak terlalu tegang dan terkesan santai.
    Jadi curiga bahwasannya itu bukan mantan Kyuhyun tapi hanya akal-akalannya saja.
    Dan penasaran juga bagaimana jadinya makan keluarga Hyoin nantinya.
    Keep writing, dinantikan kelanjutannya.

  3. Wahh,, sebener’a aph sihh rencana antara ayah hyo in n kyuhyun??
    Hemmp,, sperti’a kyuhyun sudah menaruhh hati pada hyo in nhe..
    Makin seru lahh nhe cerita, bikin penasaran

  4. Masih sedikit ambigu, walopun gak membingungkan. Munhkin karena kesannya tiba2 ada di tengah2 cerita, & banyak pemikiran kyu yg masih “rahasia”

  5. Sebenarnya ada kebenaran apa yg di sembunyikan kyuhyun dan ayahnya hyo in? Apa sikap aneh hyo in selama ini benar2 tidak wajar,sedikit sakitkah hyo in nya?

  6. kyuhyun dan ayahnya hyoin merencanakan sesuatu nih buat hyoin. btw skrn kyuhyun care bgt sama hyoin. mau nemenin hyoin pergi krna hyoin butuh teman. ciyeee kayanya lama2 kesemsem sama hyoinnya nih .. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s