[Short Story] From You

From You
Cho Kyuhyun (SJ)/Song Hyo In (OC)
NC-17. Lime. OOC

13418897_10154571261598676_5430520888336638438_n

Pagi, siang, malam.
Apa perbedaan dari mereka?
Kubilang, tidak ada. Hari-hariku akan terisi dengan jadwal dan suara-suara serupa dan disebabkan oleh dua makhluk yang sama.
Tangisan bayi. Sarang dan Joha kami.

“Popok!”
Tangisan bayi.
“Susu!”
Tangisan bayi.
“Sayang, pegangi Sarang. Aku tak bisa menggendong mereka berdua sekaligus.”
Tangisan bayi.
“Kenapa air hangatnya belum siap?”
Tangisan bayi.
“Nyonya, bedaknya kurang.”
Tangisan bayi.
“Nyonya, airnya terlalu panas.”
Tangisan bayi.
“Ya Tuhan, itu bedak untuk bokong, bukan wajah.”
Tangisan bayi.
“Aaarrrggghhh!!!”

Itu hanya segelintir teriakan-teriakan kacau setiap pagi atau saat si Kembar akan mandi, dan minum susu karena Hyo In tak bisa menyusui mereka secara bersamaan jika sendiri. Empat hari di rumah sakit semuanya terasa lebih mudah. Segala kebutuhan Sarang dan Joha dipenuhi oleh para suster. Aku dan Hyo In hanya bermain-main dengan mereka atau sekadar menenangkan mereka saat menangis di tengah malam sampai pagi buta, membantu Hyo In saat menyusui dengan memegangi salah satu dari mereka–aku bahkan tak tahu Sarang atau Joha yang kupegang karena mereka sama. Selalu diam setiap kali makan.

Namun, berbeda lagi ceritanya setelah kami pulang dari sana. Setidaknya ada Ibuku, Ibu Hyo In, dan seorang asisten rumah tangga yang kami sewa atas rekomendasi salah seorang rekan kerjaku. Berhubung bekas jahitan di perut Hyo In masih membutuhkan perawatan, dia tak bisa begitu banyak bergerak. Seluruh pekerjaan rumah diserahkan pada asisten, sementara Ibu kami lah yang membantu mengurusi si Kembar.

Lalu bagaimana denganku?

Kabar baiknya adalah sekarang aku bisa menyiapkan keperluanku sendiri. Awalnya terasa berat memang. Hyo In bahkan ngotot melakukan tugas itu tapi aku melarangnya. Hei, aku seorang pria sehat. Sebelum menikah semua keperluan pribadi bisa kukerjakan sendiri–kecuali masak.

Teriakan-teriakan di atas terjadi setidaknya selama minggu pertama di rumah. Sebenarnya kami tak pernah benar-benar mengurus Sarang dan Joha sendiri karena selalu ada dua nenek mereka. Jika beruntung kakek-kakeknya juga akan ikut serta. Hyo In hanya dibangunkan saat mereka lapar sementara aku lebih banyak terdampar di kantor sampai malam karena akhir bulan biasanya lebih banyak pekerjaan.

Kemudian pada suatu malam setelah Joha berhenti menangis dan Sarang sudah tertidur pulas sejam sebelumnya Hyo In mengatakan sesuatu padaku.

“Kurasa Ibu tidak perlu kemari lagi,” desah Hyo In seraya menimang Joha.
Kami duduk di atas ranjang kamar. Meninggalkan Sarang untuk sementara dijaga oleh asisten di kamar si Kembar agar tak terganggu suara Joha.

“Maksudmu Ibumu atau Ibuku?”

Hyo In mendengus. “Ibu kita. Apa kau merasa sudah menjadi Ayah yang sebenarnya? Kalau aku sih belum merasa jadi Ibu yang benar untuk mereka. Bayangkan! Pekerjaanku hanya mondar-mandir mengambil popok itupun jika Ibu tidak tahu. Kalau sampai ketahuan aku bisa dimarahi seperti anak SD. Hanya duduk-duduk di kasur apa enaknya.”

Dia selalu bersemangat. Istriku memang begitu. Bahkan aku harus mengingatkannya untuk tak terlalu menggebu saat berbicara karena Joha mulai merengek lagi walaupun tak sampai menangis.

“Lalu?” Tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari Joha seraya memainkan pipipnya yang berwarna merah muda. Aku terkikik ketika dia menggeliat tak senang karena kugoda.

Giliran aku yang mendesah. Hyo In memang tak pernah puas akan dirinya sendiri. Dia selalu merasa kurang dan tak terlalu baik untuk orang lain, bahkan untuk putrinya sendiri.

“Kurasa Ibu tak perlu melakukan itu lagi. Aku yakin dengan dibantu asisten pasti bisa mengatasinya.”

Aku merebahkan punggung. Capek setelah pulang lembur merayap. “Ibumu atau Ibuku?”

“Keduanya.”

“Tidak bisa. Aku bisa dipecat jadi anak dan menantu. Kautahu kan mereka bisa berubah jadi singa liar kalau dijauhkan dari Sarang dan Joha.”

Hyo In mendengus. “Kalau begitu salah satunya.”

“Ibumu atau Ibuku?”

Aku tergelak mendengar geramannya. “Terserah kau saja.” Mengasyikkan sekali menggodanya.

“Itu lebih tidak mungkin lagi. Mereka bisa menyebutku pilih kasih.”

“Pokoknya beritahu mereka jangan kemari terlalu sering. Kapan kita bisa mandiri kalau terus seperti ini.”

“Katakan saja apa maumu. Kau terlalu berbeli-belit,” ejekku seraya menyeringai. Dua tahun berkencan dan hampir satu tahun menikah bukan waktu yang singkat untuk menghapal tabiat nakalnya.

“Aku mau mengurus mereka sendiri,” katanya penuh keyakinan. dengan mata sewarna lelehan cokelat dia menjeratku. “M-maksudku aku masih perlu bantuan tentu saja. Tidak mungkin mengurus si Kembar hanya dengan dua tangan. Perutku juga masih sedikit nyeri tapi bisa ditahan.”

Aku masih menatapnya. Diam. Menaikkan kedua alis, menunggu pernyataan apa lagi yang akan keluar dari bibir menggodanya untuk memperkuat niat itu. Biasanya sih seperti itu.

“Kautahu, mereka pasti lelah seharian menjaga Sarang dan Joha. Aku saja yang hanya melihat merasa lelah sendiri.”

Benar, kan? Dasar Hyo In.

Aku bergerak miring. Menyangga kepala dengan tangan. Menggenggam tangannya yang bebas. “Kondisimu belum pulih benar. Kau—”

“Ayolaaah, Sayang. Bicara saja pada Ibu,” rengeknya. Membalas genggamanku. Rasanya begitu hangat.

“Aku juga ingin seperti itu tapi—”

“Aku mau belajar. Bekas jahitannya tidak terlalu sakit kok.”

“Bukan begitu. Aku hanya—”

“Katakan saja kita ingin belajar mandiri. Mereka pasti–,” sanggahnya dengan suara meninggi.

“Mengerti? Ya, tentu saja. Jika keadaanmu sudah membaik,” sergahku. “Dan itu berarti bukan dalam minggu ini.” Aku memperingatkannya dengan tegas.

Seketika itu Hyo In langsung tertunduk diam. Melepaskan genggamanku dengan paksa untuk membelai pipi Joha. Wajahnya berubah datar. Saat itu rasanya AC bertambah dingin dan aku merasakan kekosongan ajaib yang timbul tiba-tiba. Seperti tanah ambles tanpa peringatan dan menyeret apapun yang ada di atasnya ke dalam sana.

Aku bangun. Memeluknya dari samping, mengecup pelipisnya. Dia selalu bisa menyeretku dalam kobaran api rasa bersalah. Tapi keputusannya juga kurang tepat dan sudah menjadi tugasku untuk mencegahnya bertindak berlebihan jika tak mau dia hancur.

“Sayang, kumohon jangan keras kepala.” Itu akan membuatnya semakin marah. Akibatnya dia semakin diam. Aku hanya ingin dia berpikir lebih ke depan lagi. Mengurus seorang bayi saja bukan perkara mudah apalagi kembar.

“Sayang, dengarkan aku!”

“Aku cuma ingin belajar jadi Ibu mereka. Apa aku salah?” Dia menoleh. Memperlihatkan kedua lelehan cokelat yang basah itu.

Tidak, Sayang. Aku justru bangga padamu. “Setidaknya tunggu sampai kondisimu benar-benar pulih.”

“Ini tubuhku. Aku tahu dengan baik apakah aku baik-baik saja atau tidak.” Hyo In merengek lagi.

Kutangkup wajahnya, membawa bibirnya ke bibirku untuk menghadiahinya sekilas kecupan yang sebenarnya sangat tak cukup untukku. Aku masih menginginkan lebih. “Terkadang kau terlalu keras kepala untuk mengakui tubuhmu sedang tidak baik-baik saja.”

“Kyuhyun, aku mencintaimu. Kau percaya, kan. Aku akan menjaga tubuhku sendiri dengan baik agar bisa bersamamu dan si Kembar lebih lama.” Hyo In mengusap pipi kiriku dengan tangannya yang bebas. Hangat kembali menjalari tubuhku.

Aku tersenyum. Mengangkat tangannya kemudian mengecupnya. “Dan aku suamimu. Percayalah semua yang kukatakan hanya untuk kebaikanmu.”

“Dan aku memang baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir.”
Tapi dia selalu membuatku khawatir dengan kecerobohannya. Aku menghela napas. Perdebatan ini takkan selesai sampai besok pagi jika salah satu dari kami tak ada yang mengendurkan otot.

“Dua minggu,” usulku setelah berpikir cukup panjang. “Biarkan Ibu kita mengurus cucu-cucu mereka sampai dua minggu ke depan.”

Hyo In tersenyum kemudian mengecup kedua pipiku.

Sudah?
Hanya itu?
Tumben. Biasanya dia akan menawar mati-matian sampai ke angka terendah.

Dahiku mengernyit ketika melihat Hyo In beranjak beberapa detik kemudian, meletakkan Joha di box samping ranjang kemudian menyusul berbaring di sampingku. Dengan gerakan menggoda menyurukkan bibirnya ke leherku, mengembuskan napas hangatnya di sana dan mencium daguku. Mati-matian aku menahan aliran darah yang mengalir deras ke bawah sampai mengetatkan celana piyamaku. Tidak. Belum waktunya.
Sialan!

Sebagai gantinya aku menjauh cepat-cepat dari Hyo In.

“Sampai lusa saja.” Hyo In merengek di sela-sela kikikannya.
Dasar Iblis Penggoda!

“Tidak,” kukuhku.

Hyo In mendecak. Kemudian menyusutkan tangannya ke sepanjang perutku. mengusapnya pelan langsung dari dalam dengan merogoh dari bagian ujung.

“Kalau begitu satu minggu.” Dia menggigit kecil cuping telingaku dan meniupnya perlahan.

Aku beringsut lagi. “Berhenti menggodaku! Kenapa kau malah semakin menyebalkan setelah melahirkan?!” Gerutuku.

“Ayolaaah! Bicara dengan Ibu. Mereka pasti mengerti.” Hyo In malah mendekap lenganku. Membuatnya menekan tepat di kedua payudaranya yang membesar dan sangat kencang karena produksi ASI.

Apa dia tidak tahu aku bisa menyerangnya sekarang juga tanpa memikirkan dampak yang timbul di bekas jahitannya. Aku bisa saja membahayakan nyawanya.

Aku mengerang frustrasi. Melepaskan lenganku dengan tarikan yang lumayan kuat. “Baiklah, baiklah, satu minggu. Kau menang.”

“Yeay!” Hyo In bersorak tanpa suara. Hanya mengangkat tangan. Takut Joha terbangun.

Dua minggu kemudian. Hari ini. Tepatnya sudah seminggu ikrar ibu mandiri Hyo In jalani dan aku mulai merasa sedikit khawatir … dan bahagia, tentu saja.

Di hari pertama Hyo In benar-benar melakukan apa yang diucapkannya saat meyakinkan Ibu kami bahwa dia akan belajar mengurus Sarang dan Joha sendiri—dengan bantuan asisten saja—sedangkan aku hanya bisa membantunya saat hari Minggu dan malam hari setelah pulang dari kantor. Namun, di hari ke-tujuh dia menangis. Tersedu. Sangat keras. Di dalam kamar mandi. Sampai terisak. Pukul sebelas malam.

Awalnya aku tak tahu apa yang sedang dilakukannya di dalam kamar mandi. Karena sudah hampir setengah jam aku menghampirinya, menyerahkan si Kembar pada asisten. Aku masuk ke kamar melalui pintu penghubung antar kamar kami dan si Kembar. Setelah mendengar suara tersedu dari dalam aku semakin yakin ada yang tidak beres. Mataku terbelalak melihatnya duduk di lantai, bersandar di dinding dingin kamar mandi dengan wajah tertunduk tertutup kedua telapak tangannya.

“Hei, kau baik-baik saja.”

Hyo In menggeleng dengan cepat. Secepat gerakannya membalas pelukanku. Kami terduduk di lantai selama beberapa menit. Selama itu pula aku hanya mendengarkan tangisannya dan perlahan kemajaku mulai terasa lembap.

“A-aku lelah,” katanya dengan tersedu. “Kakiku, kakiku, ya Tuhan kenapa mereka rewel sekali.”

Aku hanya bisa menepuk punggungnya dan mengatakan kalimat-kalimat menenangkan. Juga permintaan maaf tak bisa membantunya dalam banyak hal mengurus si Kembar karena keterbatasan waktu. Aku juga harus bekerja untuk mereka. Lagipula ini juga pilihannya sendiri. Biarkan dia merasakan sendiri apapun konsekuensi dari keputusannya. Baik dan buruknya.

Masih dengan menangis Hyo In menggeleng lagi. “Tidak, aku tidak menyalahkanmu. Kau suami terbaik. Aku, ak-aku hanya lelah. Dadaku sakit, kautahu? Mereka semakin banyak tingkah.” Lalu terisak lagi sampai tak bisa berkata-kata. Hanya pelukannya padaku yang semakin menguat.

“Mereka masih bayi. Jangan menyerah,” kataku lagi.

“A-aku t-tidak percaya. Mereka sangat menyebalkan.” Hyo In mendongak. Menatapku dengan senyum tapi air matanya masih mengalir. “T-tapi saat mereka tertawa a-aku t-tak … Sayang, mereka sangat lucu tapi menyebalkan.” Dan menangis lagi sampai kemeja bagian dadaku kahirnya basah kuyup.

“Aku tidak bisa marah. Aku mencintai mereka. Kautahu kan kalau mereka sedang menggeliat, mulutnya itu seperti ikan, ya Tuhan tapi mereka rewel sekali. Berisik. Tapi—“ rengekannya terhenti. Samar-samar kudengar suara tangis bayi. Sepertinya mereka lapar. Atau mungkin ngompol. Bisa jadi buang air besar juga.

“Sarang, Joha, a-aku harus melihat mereka sekarang.” Dengan sedikit sempoyongan  Hyo In berdiri tiba-tiba. Aku membantunnya bangun kemudian menggandengnya menuju kamar si Kembar. Saat sampai di dalam kami terkejut karena hanya mendengar rengekan Sarang, itupun sudah mereda karena sekarang Joha tengah menggenggam tangan kakaknya. Mata Joha terbuka lebar. Mulutnya bergerak terbuka-tertutup seperti ikan koi, seolah ingin mengangkat kepalanya. Sarang, di lain pihak, masih merengek sambil mengisap jempol kanannya–karena tangan kirinya dipegangi Joha.

Aku mengangkat Joha. Hyo In yang menangani Sarang. Terpaksa melepaskan kaitan tangan mereka. Saat itu tangis mereka pecah. Begitu keras sampai dahiku mengernyit dan telingaku berdengung. Kurasa selain mewarisi rambut hitamku mereka juga mendapat bakat berteriak kencang dari Ibunya.

Setelah memastikan bokong mereka kering Hyo In segera duduk di atas ranjang yang dipersiapkan untuk mereka saat besar nanti (itu hadiah dari kedua mertuaku) dan cukup berguna bahkan sebelum si Kembar benar-benar bisa menggunakannya.

Aku membantu Hyo In menumpuk dua bantal di sisi kanan dan kirinya kemudian meletakkan Joha di atasnya. Dengan posisi sama, si Kembar berada di bawah kedua  lengan Hyo In dengan kepala ditopang telapak tangan Ibunya. Mereka langsung diam begitu menemukan makanannya. Dengan mata terbuka aku bisa melihat kilau di lelehan cokelat itu. Napas mereka agak tersengal sampai akhirnya Sarang sempat tersedak karena terlalu cepat menyedot. Hyo In langsung menarik dadanya sementara aku mengusap pelan dahi Sarang.

“Tenang, Sayang, ayah takkan mengambil bagianmu. Santai aja.”

Hyo In terkikik. Beberapa saat kemudian menyuapkan puting susunya pada Sarang lagi.  Aku melihat mata Joha sudah setengah tertutup dengan tangan mungilnya memegangi payudara Hyo In.

Aku iri sekali dengan mereka.

Perhatianku teralih saat tubuh Hyo In berayun pelan dan suara lembutnya mengalun. Sebenarnya lebih mirip suara gerimis. Menyejukkan.

“Sejak kapan kau bernyanyi untuk mereka?” Tanyaku berbisik.

“Kemarin lusa,” jawabnya singkat lalu bersenandung lagi. “Mereka gampang tidur hanya dengan mendengar senandung.” Dagunya mengedikkan ke arah Sarang.

Bibirku melebar begitu saja saat melihat Sarang dengan mata setengah tertutup tapi mulutnya masih mengisap kuat makanannya. Sangat lahap. Begitu pun Joha.

Lama aku mengalihkan perhatian pada hyo in. Menatapnya dengan kagum. Senyumku terkembang melihat wajahnya yang berantakan.

“Kenapa?” Tanyanya tanpa menoleh padaku. Kemudian bersenandung lagi.

“Aku tak menyangka kau bisa memberiku hal semacam ini.”

“Apa?” Kali ini dia menoleh padaku dengan raut penasaran.

Kebahagiaan. Berlipat ganda.
Tapi aku memilih diam.

Kami saling bertatapan. Sejenak terpesona dengan wajah kusam Hyo In yang dihiasi dengan helai-helai rambut menempel setelah dia menangis tadi. “Kau pasti lelah.”

Hyo In mendengus. “Jangan bilang Ibu kalau aku menangis ya,” ancamnya. “Bisa-bisa mereka tak mau pulang dari sini.”

Aku tertawa pelan. “Memangnya kenapa kau menangis?” Tanyaku sengaja meledeknya.

Seraya mengedikkan bahu dia berkata, “Hanya ingin menangis saja. Memangnya tidak boleh?!” Ketusnya. Lalu bersenandung lagi.

“Itu saja?” Jelas sekali. Hyo In sering melakukan apapun sesuai kehendaknya tanpa alasan pasti.

Hanya ingin melakukannya.

Dia mengangguk yakin dengan senyum lebar. Aku tergelak. Mengusap bekas aliran air mata di wajahnya. “Bayarannya apa kalau aku tutup mulut?” Tuntutku.

Matanya berkeliaran kesana-kemari sebelum bertemu lagi dengan mataku. “Cium aku?!”

Kami tertawa pelan. Rasanya damai saat melihat mereka bertiga. Namun, lelah seharian bekerja memang tak bisa begitu saja hilang. Biasanya Hyo In akan memijatiku sebelum menghiburku dengan cara yang jauh lebih menyenangkan meski akhirnya membuat badanku lebih remuk lagi, tapi aku tak mungkin memintanya sekarang. Ada si Kembar yang lebih membutuhkannya.

“Kau juga lelah. Tidurlah, biar aku yang mengurus mereka. Aku-sudah-terbiasa.” Hyo In berujar penuh kebanggaan.

“Yakin tidak menangis lagi?” Godaku.

Hyo In merenggut sesaat lalu senyum penuh kejahilannya kembali lagi. “Sudah tidur saja sana! Kubangunkan nanti kalau mereka sudah kenyang.”

Ya, aku tahu Hyo In tak bisa memindah mereka berdua secara bersamaan. Akhirnya, setelah mengecup bibir Hyo In sekilas aku memilih berbaring di ranjang kosong di samping mereka. Dengan kaki tertekuk karena pendeknya ranjang, aku meringkuk mengistirahatkan tubuh. Tak sadar kapan terlelap sembari mendengarkan senandung Hyo In sampai akhirnya aku terbangun lagi karena panggilan Hyo In.

Setelah memindahkan si Kembar ke dalam box kami pindah ke kamar lewat pintu penghubung yang sengaja dibuat untuk memudahkan akses kami ke kamar mereka. Dan langsung jatuh tertidur begitu kepalaku menyentuh bantal.

Namun, dua jam kemudian kami harus bangun lagi. Menahan mata terus terbuka karena si Kembar tak mau tidur. Tidak juga menangis. Hanya tak mau tidur. Sampai pagi.

 

Author’s note:
Mengobati kerinduanku pada mereka. semoga tetap menghibur ya ^^
Maaf ini judulnya gak nyambung sama isi. Bingung sih mau kasih judul apa #gubrak
Jangan lupa komen🙂

15 thoughts on “[Short Story] From You

  1. Yang membuat lucu adalah ketika Hyo In menangis karena merasa lelah mengurus si kembar, hehe.
    Rindu baca cerita di sini, berharap masih bisa membaca cerita2 lain di blog ini.🙂

  2. Adeuh HyoIn ada2 aja, tadi blang’y mau ngurus anak2 sendiri, ehh malah nangis karna capek tpi ttep aja ga mau ngaku kalah. Suka bgt…. Makasih udh update.

  3. DUH BABY BLUES SYNDROM BUKAN

    HAHA AKU AJ JD BABY SITTERNYA
    SIAPA TAU NTAR BISA SELINGKUH AMA KYUUU

    DUHHH Q MULAI GILA

  4. Haha.. lucu pas bayangin hyo in nangis krn lelah ngerawat si kembar pdhl dia yg ngrengek minta kedua ibunya untuk tdk membantu merawat dan menjaga sarang dan joha lagi😀
    Foto si kembarnya lucuuu, gemess ><
    Critanya ringan tp cukup manis n menghibur🙂

  5. Hyo In bener2 ye,,,
    ckckck
    Keras kepala banget😀
    Nangis kan ujung2’a. Karna kecape’n..
    Kyu Suami sekaligus Ayah idaman :*

  6. duh kasian juga yho in ga kebayang aku kalo jadi dia,,, mana aku mah kebo lagi bisa gila deh hehehe
    seneng deh bisa baca di blog ini lagi🙂
    btw novel terjemahan udah d apus ya??
    jadi rindu ff yang capter yang panjang udah lama banget yah authorny g buat kaya gitu lagi,,

  7. Anyeong aku pendatang baru di blog ini, oya aku mau tanya cara dpt pw gimana ya? Aku cari kok gk ada ya, pake pw nya juga gk ada?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s