[Resensi] Love in Marrakech by Irene Dyah

*Pertama-tama aku mau ngucapin makasih banyak buat Mbak Irene Dyah yang sudah menulis cerita menyenangkan ini dan kakak-kakak admin dari FP ATWWL karena sudah memberiku kesempatan memenangkan salah satu buku kece ini. Nggak rugi deh baca. TOP BGT😀

IMG_20160607_094317-tile

Identitas buku

Judul                     : Love in Marrakech (Seri Around the World with Love Batch #1)

Penulis                  : Irene Dyah

Genre                    : Roman; Inspiratif; Religi

Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama

Kota Terbit          : Jakarta

Tahun Terbit       : 2015

Cetakan                : Ke-1

Deskripsi Fisik     : 210 hlm.

ISBN                      : 978-602-03-2526-2

 

Sinopsis  

The camel never sees his own hump, but that of his brother is always in his eyes.

—Peribahasa Maroko—

Marakesh hanyalah sebuah kota yang menyediakan sebuah latar dan waktu untuk Nada dan Haykal menjalani sebuah dari Tuhan. Dengan bekal kenekatan di tengah prahara dalam hati (aseeek) Nada berangkat ke Negara itu sendirian. Di sisi lain, Haykal memainkan ‘peranan’ penting akan pengalaman dan pelajaran dalam pelariannya.

Kisah hidupnya selama beberapa hari di sana memberi warna baru kota itu. Gejolak perasaan mereka baru saja dimulai di sini. Dengan membawa misi masing-masing mereka saling mengisi dan melengkapi. Dengan sifat masing-masing mereka membuat atmosfer baru di kota Marakesh dan tempat manapun di sana yang mereka kunjungi.

Maka, dari sinilah cerita mereka dimulai.

Marakesh.

 

Review

Sebuah awal adalah kalimat yang tepat menggambarkan cerita keseluruhan buku ini. Kalian yang menginginkan kisah cinta penuh prahara takkan menemukannya di sini di mana (biasanya) aku menyukai hal itu. Lalu apa aku kecewa? Tentu saja TIDAK. Aku menemukan diriku begitu tenggelam dalam cerita manis dan menggemaskan mereka. Ya, benar. Mereka berdua memang menggemaskan. Maka, tak berlebihan rasanya jika aku berkata begitu.

Novel ini lebih berfokus pada kisah Nada dan Haykal. Tidak begitu menyorot kota Marrakesh, tapi cukup dengan mengantarkan pembaca ke beberapa tujuan wisata, makanan khas, serta beberapa hal menyenangkan yang bisa kita lakukan di sana (seandainya ke sono).

Nada adalah seorang gadis berkepribadian kontradiktif yang berada dalam satu tubuh, setidaknya begitulah kata Haykal. Dia seperti marshmallow rasa cabai. Lembut tapi pedas. Sewaktu-waktu dia bisa berubah menjadi wanita spekulatif yang berbahaya.

BBUUUUKK!! Aku menghantam keras-keras manusia mencurigakan itu!

“Ouugh!” dia melenguh kesakitan. Rasakan!

“Aduh! Tolooong!! Copeeettt!!!” pekikku mencari bantuan.

“Ssshhh…ssshhh…. Bukan, aku bukan copet!”

Lho, copetnya orang Indonesia? –Nada- (halaman vii)

Hal itulah yang membuat Haykal merasakan sesuatu pada Nada. Menurutnya, hal aneh itu begitu menarik, by her very name. Nada, berdenting seperti do re mi fa so la si do meskipun sebenarnya berarti lain. Nada yang berarti Embun dalam bahasa Arab membawa kekontrasan sifat antara pemarah, egoistics, ketidaktegaan, serta kemurahan hati menjadi kombinasi yang unik. Bertubuh mungil dan berwajah imut (pada waktunya). Di lain pihak, gadis berkerudung ini bisa menjadi brutal dan sesaat kemudian menjadi gadis imut maniak warna biru (sampai terlihat persis Smurf, kecuali topinya). Dia juga labil dan tipe gadis kaku. Selalu menurut pada jalur aman hidupnya karena dia terlampau nyaman berada di sana sampai suatu ketika jalur itu dirusak (menurutnya) karena kedatangan Haykal dan seseorang antara hidupnya dan Tristan. Terlihat dari motifnya ‘pergi’ ke Maroko dengan alasan yang menurutnya sangat krusial hingga membawanya pada pertemuan anik (aneh-unik) dengan Haykal di satu pasar di kota Marrakesh.

Sayangnya, dia juga tipe gadis yang suka membatasi diri. Sering merasa tidak percaya diri dengan kemampuannya dan merasa hanya perlu menutup mulut saat tak puas dengan apa yang didapatnya. Pasrah gitu.

Baztar alias Haykal. Si Nastar ganteng, fotografer sekaligus travel writer dengan akun instagram ber-follower tiga gudang cewek-cewek centil ini justru kebalikan dari Nada. Mereka sangaaat berbeda. Tipe cowok santai, menikmati hidup, bebas, aneh, jail, nakal, tapi juga bijak (kadang-kadang sih). Gentleman juga.

Suasana juga masih baik-baik saja ketika Haykal menekuri daftar menu minuman, lalu menyebut satu menu kopi panas. Barista mengulang meneriakkan pesanan itu pesanan itu dengan suara ceria.

Tapi, semua jadi berantakan dengan kalimat berikutnya: “Yes, that one. Tapi bisa kan, rasa dan takarannya dibuat sama persis dengan yang di Starbucks?” –Nada- (halaman 6)

Aku hanya sempat memanggil namanya untuk mencegah, sekali. Jelas tidak menimbulkan dampak berarti. Dia tahu-tahu bangkit, dan berderap pergi. Sedangkan aku? Cuma bisa melongo. Seperti pecundang.

Sayang, pecundang pun kadang dikaruniai nasib baik.

Tas keramat yang tadi hampir membuatku benjol itu, masih tergeletak di bekas kursinya.

Ha-ha-ha. –Haykal- (halaman 27)

Perhatian kecilnya itu, membuatku ketagihan.

Jadi, kira-kira dia mau nggak ya, jadi istriku?

Ha-ha-ha-ha. –Haykal- (halaman 69)

Dan masih banyak lagi narasi yang menunjukkan karakter si Haykal ini yang bisa kukatakan too easy to be loved. Aku pun begitu. Sejak awal dia sudah menarik perhatianku dengan gayanya yang apa adanya, cool tapi kadang bikin illfeel.

Dia datang ke Marrakesh dengan sebuah misi rahasia. Menjaga Nada adalah salah satunya. Dan dia melakukannya dengan baik tanpa membuat gadis itu tertekan. Seperti yang kubilang tadi, biar agak begajulan selebtagram ini gentleman juga lho. Dia selalu bisa memaksa Nada melakukan keinginannya dengan sukarela. itu juga salah satu keanehan Haykal menurut penuturan Nada.

Masih ada Tristan. Sosok pria yang begitu mencintai Nada dan peduli padanya. Dia sosok pelindung dan a hero since forever-nya Nada. Namun, dia pulalah yang menjadi alasan nada pergi menjauh dari Jakarta.

Kemudian ada satu cewek, si BFF-nya Nada, Rania. Di balik keceplas-ceplosannya, dialah salah satu orang yang paling dekat dan bisa memaklumi bagaimana pun kerasnya sikap Nada.

Alurnya maju, meski ada beberapa kali flashback ke cerita-cerita tertentu (sekedar pengingat), yaitu bagaimana pertama kalinya Nada dan Haykal bertemu di  pasar di kota Marrakesh kemudian berlanjut dengan jalan-jalan selama di sana dan gejolak awal perasaan mereka, cerita-cerita lucu, juga tentang pokok permasalahan yang mereka hadapi.

Menggunakan sudut pandang orang pertama. Aku suka dengan cara bertutur penulis ini. Awalnya memang sedikit ragu saat akan mulai membaca buku ini tapi ternyata … BOOM! Aku dikejutkan dengan kenyamanan membaca ceritanya dan menikmati setiap rangkaian scene-nya. Mengalir begitu saja seperti Kali Ciliwung tanpa sumbatan sampah.  Ada juga dialog yang membuatku terpesona. Simple memang, tapi sarat makna.

“Ada kebahagiaan istimewa yanga hanya bisa kita dapatkan dari pasangan hidup, Nada. Dari orang yang kita cintai dan mencintai kita. Kebahagiaan itu tidak bia digantikan oleh orang lain, baik orangtua, saudara, kawan yang paling dekat sekalipun.” (halaman 152)

Dan beberapa pelajaran yang bisa kita dapat dari buku menggemaskan ini, di antaranya:

  1. Berprasangka baiklah pada dirimu sendiri dan orang lain karena prasangka buruk akan menggiringmu pada opini yang salah pula. Berhatii-hati dengan orang baru memang perlu tapi bukan berarti menutup segala kemungkinan untuk mengenal mereka.
  2. Semua orang butuh bersosialisai. Nyaman dengan satu atau dua orang bukanlah alasan untukmu menutup pintu silaturahmi dengan orang di luar keluarga dan sahabat dekat.
  3. Berpikir dengan kepala dingin adalah jalan terbaik untuk meredam amarah, kadang memang butuh menyendiri, tapi bukan berarti benar-benar sendiri. Membaginya dengan orang lain akan lebih meringankannya karena dengan begitu kamu akan mendapat sudut pandang yang berbeda tentang masalahmu dan bisa memutuskan tindakan terbaik dan tepat.
  4. Percaya diri adalah kunci menghargai diri sendiri (tapi jangan berlebihan juga). Menikmati hidup itu juga perlu. Dunia ini indah. Sayang sekali jika hanya dilihat sambil lalu. At least, syukurilah apa yang sudah Tuhan berikan untuk kita.
  5. Ketahuilah bahwa kasih sayang dari keluarga takkan pernah lekang dengan atau ketidakhadiran orang baru. Mereka hanya mencintaimu. Dan tak membutuhkan alasan untuk memulai atau menghentikannya.
  6. Cerita ini bukan tentang siapa Nada atau Haykal. Tapi tentang siapa mereka saat bersama.

Keunggulan novel ini adalah ada pada kesederhanaan cerita yang manis namun cukup mendalam. Pesan-pesannya tersampaikan secara lugas langsung dari penuturan tokohnya. Sudut pandang yang dipakai juga membuat pembaca merasa lebih dekat dengan mereka. Beberapa kali aku sampai terkikik mendengar narasi yang para tokoh tuturkan dan pikiran mereka. Hal itu membuat karakternya terasa semakin kuat. Cukup menambah informasi juga mengenai Maroko. Terutama tentang hal-hal positif yang bisa kita lakukan di sana (karena sebelumnya yang kutahu cuma judinya di sono #gubrak).

Sayangnya, aku merasa niat Nada yang menggebu-gebu (dengan motif yang dianggapnya sangat krusial) kurang ngena. Menurutku kalau niat pergi diam-diam ya nggak usah ngomong ke siapa-siapa, sekalipun itu BFF-mu. Apalagi dia tahu betul bagaimana sifat Rania yang sering keceplosan. DAN akhir yang nggantung. I hate this.

Kesimpulannya adalah novel ini T.O.P (bukan nama member Big Bang ya. Hihihi). Kalian akan merasa geregetan saat membaca setiap babnya karena dirangkai dengan begitu menyenangkan. Harus punya buku keduanya juga (Sweet Lucifer, I already bought it last week ><) berjudul Love in Blue City (inget Smurf lagi) karena di sanalah ‘cerita mereka’ yang benar-benar mereka akan dimulai. Karena seperti yang kukatakan tadi, buku ini hanyalah sebuah awal. Awal yang sangat anik (aneh-unik). Wkwkwkwk

This is the sequel

IMG_20160602_123430

Star: 4 out of 5 stars

Seri around the world by Irene Dyah:

  1. Love in Marrakech (batch #1)
  2. Love in Blue City (batch #2)

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s