[FF Pemenang Quiz] Me, My Love, and Him

Me, My Love, and Him
Cho Kyuhyun (SJ)/Song Hyo In (OC)
By Santi Santia

my_love_heart_10785

Banyak yang mengatakan bahwa persahabatan antara pria dan wanita tidak pernah berjalan mulus. Selalu ada perasaan yang terlibat didalamnya. Dulu aku tidak pernah percaya tentang hal itu. Sahabat tetap sahabat, tidak akan pernah menjadi kekasih atau selebihnya. Aku menilai bahwa perasaan nyaman tidak akan pernah menjadi perasaan suka. Bagaimana sebuah hubungan yang sebegitu dekat tanpa sekat akan menjadi sangat canggung bila sepasang sahabat menjadi kekasih.

Dan sayangnya sekarang aku mengalaminya. Tanpa disadari.

Aku pikir kenyamanan kami dalam berdiskusi dan berbagi cerita tidak akan menumbuhkan sesuatu yang lebih. Maksudku disini adalah terkait perasaan. Dulu kami berbagi cerita, sering bahkan. Dan tidak ada hal yang sekarang aku rasakan. Entah ini pengaruh keadaan, usia, cara berpikir kami, atau lamanya kami berpisaha untuk kemudian dipertemukan kembali. Jujur aku tidak tahu. Aku tidak pernah menyadari kapan tepatnya aku jatuh cinta kepadanya.

Namanya Cho Kyu Hyun. Kami pertama kali bertemu saat aku menjadi murid baru kelas tiga di sekolah dasar tempatnya saat itu. Tidak ada yang spesial darinya. Dia tinggi, kurus, pendiam, tidak terlalu pintar, bahkan tidak terlalu menonjol di kelasnya.

Kedekatan kami dimulai setahun setelahnya. Satu kelompok belajar yang tidak sengaja dibentuk oleh beberapa teman-teman baruku. Semakin lama mengenalnya semakin membuatku tahu bahwa dia ternyata tak sependiam yang kukira. Dia hiperaktif dan sangat berisik terutama jika mengenai pekerjaan rumah yang selalu disalinnya dari milikku.

Kami tumbuh bersama sampai sekolah menengah pertama dan dia masih sering meminjam pekerjaan rumahku, berangkat dan pulang bersamaku.

Sampai kemudian kami berpisah di sekolah menengah atas. Meski begitu kami masih saling berkomunikasi dan bertemu setiap hari minggu, kecuali saat kami ada kegiatan di sekolah.

Lalu selepas sekolah menengah atas kami berpisah. Benar-benar berpisah tanpa kabar. Aku melanjutkan kuliah ke Queensland, Australia dan dia tetap berada di Seoul. Dan tidak tahu kenapa saat pulang berlibur ke Seoul aku tidak pernah menjumpainya sama sekali selama empat tahun.

Setelah mendapatkan kelulusanku di Australia, salah seorang teman  sekolah dasarku mengadakan pesta ulang tahun dan disanalah kami bertemu kembali.

“Song Hyo In?” sapanya waktu itu dengan suara khasnya yang tebal.

Untuk sesaat aku dibuat kagum dengan penampilannya. Dia semakin tinggi, berpostur selayaknya lelaki dewasa. Semakin tampan dengan kulit putih pucatnya, berambut coklat tua dengan memamerkan dahi indah yang dulu sering diejek teman-teman sekelas kami—yang menurut mereka itu terlalu lebar.

“Cho Kyu Hyun. Kau banyak berubah” dia tersenyum kikuk. Antara malu—efek  terlalu lama berpisah dan juga heran.

Pertemuan selanjutnya mengalir tanpa diduga. Sekolah tempatku mengajar ternyata berdekatan dengan kantor tempatnya bekerja. Sering kali setiap jam makan siang kami akan bertemu hanya untuk berkeluh kesah tentang pekerjaan masing-masing atau hanya sekedar minum.

Dan tentu saja keluarga Cho Kyu Hyun mengetahui perihal kedekatan kami. Bibi Hanna—ibunya, yang sedari dulu menginginkan hubungan kami lebih dari sekedar sahabat begitu antusias menjodohkan kami.

Meski begitu sejujurnya aku tidak mengetahui apakah Kyu Hyun menyukaiku atau tidak. Dia memang baik dan perhatiaan. Hanya saja apakah dia melakukannya seperti seorang sahabat atau tidak aku tidak tahu.

Hal yang paling aku suka dari perubahaanya adalah sikap berisik dan hiperaktifnya sudah tidak nampak lagi. Dia benar-benar menjadi pria dewasa sepertinya. Dan saat hal itu dikomfirmasikan dengan keluarganya mereka kompak mengatakan bahwa seorang Cho Kyu Hyun dari dulu memang pendiam. Sesuatu yang berbeda jika bersamaku mungkin karena sedari dulu dia memang mencari perhatianku. Tidak tahu benar atau tidak dugaan keluarganya yang jelas aku menyukainya Cho Kyu Hyun yang sekarang ini.

-*-

Karena setiap hari kami makan siang bersama maka hari itu aku yang kebetulan pulang lebih awal langsung menuju kantornya. Membayangkan bagaimana ekspresi terkejutnya dengan makan siang buatanku membuatku menahan senyum sepanjang perjalanan.

Didepan kantornya aku menarik napas panjang. Tak urung ini membuatku merasa tegang. Seperti saat kau pertama kali pergi berkencan. Banyak hal berlarian didalam pikiran dan itu semakin membuat segalanya tampak semakin membuatku penasaran—tapi juga antusias berlebihan.

Aku datang sedikit awal dari jam makan siang dikantornya. Duduk disamping gedung dengan tangan meneteng kotak makan siang. Banyak skenario yang dibuat otakku untuk bertemu dengannya yang tak jarang membuatku semakin tidak sabar untuk bertemu.

Melirik jam ditangan kiriku pandanganku beralih pada suara langkah kaki didepan pintu masuk gedung itu. Beberapa karyawan sudah mulai berhamburan keluar untuk makan siang.

Aku melihat satu persatu wajah-wajah asing mencoba mencari sosok tinggi dengan rambut coklat tua yang kukenal. Sampai lima belas menit aku menunggu tetap tidak ada. Pintu masuk sudah sepi hanya ada dua petugas keamanan.

Kyu Hyun tidak memberi tahu hari ini dia tidak masuk atau ada pertemuan diluar kantor. Pesan tadi pagi yang aku terima hanya sapaan pagi seperti hari-hari sebelumnya.

Apa hari ini dia mendapat pekerjaan lebih dan melupakan makan siangnya?

Dengan sedikit kecewa aku bangkit dari kursi beton disamping gedung kantornya. Mulai berjalan sampai kemudian—

“Cho Kyu Hyun..” panggilku tanpa suara.

Dia berjalan dengan tangan menarik rambutnya kedepan. Wajahnya tampak tidak bersahabat dan dengan cepat menoleh ke belakangnya. Baru aku sadari ada seorang wanita muda mengekorinya dengan air mata memenuhi wajahnya.

Ada apa?

“Seul Bi-ah tidak bisakah kau pikirkan kembali keputusanmu?” suara Kyu Hyun terdengar frustasi menatap wanita muda yang menundukan wajahnya itu.

“Oppa..”

“Haruskah kita mengakhiri hubungan ini?” wanita muda itu tidak menjawab.

“Kita bisa membicarakan masalah ini dengan kedua orang tuamu. Aku akan menjelaskan kepada mereka tentang keseriusanku denganmu tanpa menuntutmu menikah denganku. Lupakan permintaan orang tuaku tentang pernikahan. Aku akan menjelaskannya”

“Oppa, aku tetap tidak bisa meneruskan hubungan kita” Kyu Hyun menatapnya tajam membuat wanita muda terkejut untuk sesaat kemudian melanjutkan ucapannya,”ayah dan ibuku ingin aku fokus dengan kuliahku saja tidak dengan yang lain”

Kyu Hyun diam memerhatikan wajah didepannya. Cara dia menatap wanita muda itu entah kenapa membuat hatiku sesak seketika. Terlihat jelas bagaimana Kyu Hyun begitu mencintainya. Tatapan memohon bercampur meyakinkan. Dia tidak pernah menatapku dengan cara seperti itu. Begitu memujanya.

“Oppa, maaf,” wanita muda itu terisak, membekap mulutnya dengan satu tangannya. Menahan suara paraunya. “Kita harus berpisah” dan setelahnya dia pergi, berjalan tanpa berbalik dengan Kyu Hyun yang mematung tepat didepan pintu masuk.

“Yoon Seul Bi..” suara lirihnya mau tak mau membuatku ikut merasakan sakit yang dirasakannya.

Cintaku bertepuk sebelah tangan.

-*-

Dua minggu setelah itu aku tidak menemui Kyu Hyun sama sekali. Libur sekolah membuatku tidak mempunyai alasan untuk bertemu dengannya. Terlebih kilasan kejadian didepan kantornya itu terus membuatku tidak nyaman bahkan hanya untuk sekedar menatap wajahnya.

Selama itu pula tidak ada kabar dari Kyu Hyun. Jika selama ini ponselku selalu berdering diwaktu-waktu tertentu dengan sapaannya di akun chat kami. Sekarang satu pun bahkan tidal ada.

Apa dia sedang patah hati?

Memikirkan itu membuat perutku mual. Ingin menangis tapi air mata tidak bisa keluar membuat dada terasa diikat, sesak sekali. Beberapa bulan kedekatan kami tak sekali pun dia menyebutkan tentang kekasihnya atau hanya sekedar memberitahuku bahwa dia memiliki kekasih. Membuatku berharap kebaikannya mungkin sedang mencoba meraih hatiku. Nyatanya, aku terlalu berharap.

Mungkin kebaikannya selama ini hanya sebatas seorang sahabat. Hanya berusaha temannya nyaman yang sialnya disikapi olehku sebagai bentuk perhatian pria terhadap wanitanya.

Aku bodoh. Iya, aku tahu. Tapi jatuh cinta kepadanya bukanlah hal yang bisa aku prediksi.

Ditengah air mata yang menggantung dipelupuk mata suara ponsel menghantamku kembali kepada kenyataan.

Bibi Hanna is calling…

“Hallo, Hyo In-ah”

Mengehela napas dalam kemudian aku menjawabnya,”iya bi?”

“Apa hari ini kau sibuk?”

“Tidak, kenapa bi?” tanyaku penasaran.

“Bisa datang untuk makan malam?”

Keningku berkerut, makan malam? Di rumah keluarga Cho? Yang itu berarti bertemu dengan Cho Kyu Hyun?

“Bisa, bi” jawabku akhirnya setelah berpikir untuk menemui Kyu Hyun dan mungkin bisa mengorek informasi lebih jelas tentang siapa wanita muda didepan gedung kantornya itu.

“Baiklah, bibi tunggu malam ini, Hyo In-ah. Selamat bersiap-siap” serunya diujung telepon dengan sangat antusias kemudian sambungan telepon pun terputus dan membuatku terheran dengan nada suara bibi Hanna.

-*-

Acara makan malam kali itu begitu hangat dengan obrolan dari kedua orang tua Cho Kyu Hyun beserta adiknya Cho Ji No. Hanya saja yang membuatku sedikit mengangguku adalah sikap Kyu Hyun yang begitu pendiam dan seolah asik dengan pikirannya sendiri.

Masih patah hati kah?

Setelah selesai makan kami mengobrol di ruang tamu dengan pertanyaan seputar dua minggu liburanku dan beberapa pekerjaanku tentunya. Sesekali bibi Hanna atau Ji No mengajak Kyu Hyun bergabung dengan obrolan kami meski ditanggapinya dengan setengah hati.

Dia mencintai wanita muda itu sebegitu dalam?

“Hyo In-ah, keberatan kah jika kami memintamu untuk bertunangan dengan Kyu Hyun?”

Aku hampir saja tersendak teh yang berada didalam mulutku. Apa aku tidak salah dengar? Maksudku apakah pertanyaan itu tidak cukup frontal diucapkan? Meski aku sudah sangat dekat dengan keluarga mereka tetapi tetap saja. Bagaimana dengan Kyu Hyun?

Pria itu hanya diam menatap kaca jendela yang menampilkan tanaman hias milik ibunya didepan rumah mereka. Tidak ada ekspresi tergambar di raut wajatnya. Apakah dia sudah mengetahui hal ini?

“Bibi..”

“Bibi tahu kau pasti terkejut. Melihat kalian begitu dekat dari dulu membuat bibi berangan-angan menjadikanmu sebagai menantu. Apalagi kalian tidak memiliki kekasih”

Ucapan bibi Hanna sontak membuatku menatap ke arah Kyu Hyun, berharap ada reaksi apapun dari ucapan ibunya. Tapi dia tetap tidak bergeming, seolah tanaman hias yang bergantung didepannya lebih menarik dari pada obrolan ini.

“Kalian bisa mendiskusikannya dulu. Kami akan memberi waktu” ujar paman Young Hwan dengan senyum penuh pengertian.

-*-

“Kyu Hyun-ah”

“Mereka ingin pertunangannya dilakukan bulan depan” dia berkata tanpa memandangku, tanpa ekspresi. Dan terlihat kosong.

“Bukan itu yang ingin aku tahu” sedikit menahan kesal aku mencoba sedikit mengatur suaraku agar tidal terdengar marah,”kau..bagaimana denganmu”

“Tidak ada pilihan” jawabannya menyakiti perasaanku.

“Apakah itu tentang Yoon Seul Bi?” dia menatapku heran tapi kemudian mengembalikan mimik muka tanpa ekspresinya kembali.

“Oh, kau sudah tahu rupanya. Jadi aku tidak perlu menjelaskannya.” Dia menoleh dan aku menatapnya dengan penuh pertanyaan. “Baiklah, sepertinya kau ingin tahu tentang aku dan Seul Bi”

“Kami menjalin hubungan selama dua tahun belakang ini. Aku sangat mencintainya begitu pula sebaliknya. Hanya saja kedua orang tua kami tidak merestuinya. Dengan alasan dia masih terlalu muda untukku. Usia kami memang terpaut 8 tahun, tapi aku tidak pernah memersalahkan itu “

“Orang tua Seul Bi tidak ingin nilai kuliah anak mereka turun karena berhubungan denganku diawal-awal masa kuliahnya sementara orang tuaku ingin aku segera menikah. Pertentangan itu yang akhirnya menggoyahkan pertahanan Seul Bi dan mengakhiri hubungan kami”

Air mataku mendesak keluar tapi sebisa mungkin kutahan. Tidak. Tidak boleh menangisi pria yang mencintai wanita lain. Aku mengatakan itu berulang kali didalam hati, bagai mantra.

“Aku tidak punya pilihan selain menikah denganmu” Kyu Hyun menatapku dalam. Ada kesakitan dan rasa putus asa yang berusaha dia sampaikan tanpa kata-kata.

Semakin lama mataku tidal bisa membendung lesakan air mata. Sorot mata coklat yang memandangku begitu tanpa henti penyebab segalanya. Di menit berikutnya aku menangis, tanpa suara—dan itu membuatku semakin sesak.

Pilihan berat.

Satu sisi aku begitu mencintainya, berharap kami bisa berjodoh. Tapi disisi lain aku tidak ingin bahagia diatas penderitaannya. Karena bagaimana pun aku masih menghargainya sebagai sahabatku. Orang yang selalu ada untukku selama ini.

“Bisakah suatu hari nanti kau belajar menerimaku sebagai wanita, Kyu Hyun-ah?” kalimat itu terucap begitu saja dan begitu aku sadar aku tahu aku telah melukainya.

Dia memandangku tidak percaya. Lalu berbalik memunggungiku tapi  aku masih bisa melihat sorot kemarahannya sesaat sebelum dia berbalik.

Seharusnya aku meminta maaf dan menarik kembali ucapanku. Menghiburnya yang sedang bersedih. Tetapi ada sisi lain didalam hatiku untuk diam, tetap seperti ini.

Dia hanya sedang bersedih biarkan saja dia menikmati kesedihannya. Lambat laun dia pasti akan kembali menjadi Cho Kyu Hyun lagi seperti dulu. Semua orang seperti itu berkata tidak bisa menggantikan posisi orang berharga didalam hatinya namun kenyataannya dengan berjalannya waktu dia bahkan lupa rasanya terluka karena kehadiran orang baru didalam hatinya. Semua orang seperti itu.

Kalimat itu berdengung ditelingaku dengan begitu meyakinkan. Tiba-tiba merasa semua itu benar. Banyak orang yang akhirnya bisa menjalin kasih kembali setelah mereka bosan menikmati kesedihannya. Melupakan luka akan sakitnya patah hati.

Aku hanya tinggal berusaha meyakinkan Kyu Hyun bahwa aku memiliki perasaan yang tulus kepadanya. Memberikan hatiku untuk menyembuhkan lukanya. Iya, seperti itu.

Mengenai hasil tentu serahkan kembali pada sang pemilik takdir. Aku hanya mengusahakannya, bukan?

-The End-

5 thoughts on “[FF Pemenang Quiz] Me, My Love, and Him

  1. I Need Sequelllllll ……. !!!!

    Asli,ini gantung…
    Untuk keseluruhan’a sih bagus banget (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s