[Novella] My Thoughts, Your Memories

My Thoughts, Your Memories
Cho Kyuhyun (SJ)/Song Hyo In (OC)

Happy reading!!! ^^

13418722_1540847119556336_4761437322263143927_n

BAB 1

Rasa takut adalah bagian dari setiap manusia, pria maupun wanita. Tak terkecuali bagi Cho Kyuhyun dan Song Hyo In. Setiap langkah baru yang mereka ambil dalam hidup merupakan tantangan untuk dihadapi dan harus ditaklukkan. Kyuhyun percaya setiap keberuntungan yang didapatnya bukanlah sebuah kebetulan melainkan kesempatan. Untuk membuat dia dan orang yang dicintainya bahagia. Sementara Hyo In mendapatkan kekuatan untuk keluar dari lingkaran ketakutan itu karena Kyuhyun.

Hari ini Kyuhyun berdiri di antara para jemaat kebaktian di gereja. Berada di baris paling depan, mengeluarkan suara terindahnya melantunkan rangkaian lagu-lagu rohani. Hal baru untuknya. Tantangan yang harus dia selesaikan dan semua itu takkan terwujud jika tak ada gadis yang selalu menyemangatinya, duduk di bangku paling depan dengan senyum paling cerah yang pernah dilihatnya sejak mereka bertemu.

Setiap hari merupakan hadiah dari Tuhan dan seolah sengaja mengantarnya langsung tiga minggu lalu, Kyuhyun datang tanpa terduga. Merusak kendali diri Hyo In. Dulu pria yang sedang bernyanyi di depannya itu nampak begitu asing. Tapi betapa tangan Tuhan bekerja dengan indahnya sampai menyulap tiga minggu itu menjadi begitu berarti dengan kehadiaran Kyuhyun. Mereka melihat satu sama lain dengan cara yang berbeda sejak pertama kali bertemu sampai hari ini. Baik saat Kyuhyun masuk ke toko bunga Nenek Hyo In atau ketika Kyuhyun membuat takut gadis itu ketakutan. Lagipula siapa yang tahu jika ternyata pria itulah keberuntungan dan kesempatan Hyo In.

“Kyuhyun, kemarilah!”

“Ya, Ibu.”

“Tolong urusi pembayaran di kasir. Ibu akan mengambil beberapa tangkai delphinium dan tanyakan juga berapa harga rangkaiannya.”

Hyo In tak lagi bisa mengalihkan pandangan begitu melihat siapa pria yang dipanggil seorang wanita setengah baya di depan konternya. Saat itu seolah bunga mengelilingi dunianya—karena begitulah keadaan toko Neneknya. Pria itu masuk dengan anggun. Dua puluh sentimeter lebih tinggi dari Hyo In, kulit putihnya tersamar warna cokelat karena terlalu lama terpapar matahari musim panas Gyeongju sebagian tertutupi kemeja merah muda dan celana putih bersih. Kedua lengan sweater yang sewarna celananya terkalung rapi di leher.

Kyuhyun mengernyit begitu ibunya beranjak, praktis dia sekarang berada tepat di depan Hyo In. Hanya terhalang meja kasir. Menatap Hyo In yang sedang tertunduk menutup bibirnya karena tak bisa menahan tawa. Dia berdeham karena panggilannya tak dihiraukan sama sekali.

“Hei, Nona!”

“Ya.” Hyo In mendongak setelah meredam hangat di wajahnya dan melipat bibirnya ke dalam agar tak terlihat jika sedang menahan tawa. “Ada yang bisa saya bantu?” Lanjutnya seraya menatap kernyitan yang masih belum hilang dari dahi Kyuhyun kemudian menunduk karena merasa terintimidasi tatapannya.

“Kau tertawa,” tuduhnya.

“Apa?” Hyo In bertanya seolah tak mengerti apa maksud Kyuhyun. Itu adalah kemampuan yang sudah dia kuasai sejak kecil. Penyangkalan selalu datang tepat waktu.

Kyuhyun mendengus tanpa kehilangan kendali diri. “Kau,” katanya tenang seraya menunjuk Hyo In.

Mata mereka bertemu. Antara kanget dan penuh tanya. Jantung Hyo In berdebar semakin kencang dari sebelumnya. Jika hanya dengan melihat Kyuhyun berjalan dengan anggun layaknya adegan slow motion Kapten Yoo Si Jin1 keluar dari helikopter, maka kali ini cukup dengan senyum yang mengembang dari wajah datar pria itu akan membuat satu-satunya alat pemompa darahnya melompat keluar dari dada.

Dia menawan dengan cara yang berbeda. Pikir Hyo In.

Dia tak yakin apa itu karena yang ada di pikirannya saat ini hanya gerak bibir penuh Kyuhyun. Seperti mengejek atau mempermainkannya, dia bahkan tak peduli akan hal itu karena suara rendah sedikit serak itu memenuhi seluruh telinga dan otaknya tanpa benar-benar menyerap makna kata-kata itu. Hyo In hanya bisa menelan salivanya yang tertahan lama di tenggorokan begitu bibir itu berhenti bergerak.

“Hei, kau mendengarkanku ‘kan?”

Tidak. dia terpesona padamu. Batin Kyuhyun.

Kali ini kedua alisnya bertaut. Tak habis pikir dengan gadis ini. Caranya memandang seperti seorang fans yang baru pertama kali bertemu idolanya. dia sudah sering mendapat tatapan semacam ini namun yang diberikan gadis kasir itu berbeda. Warna matanya seperti lelehan cokelat, lembut. Dan wajah gadis itu yang seukuran tangkupan kedua telapak tangannya menegang. Membuat pipi tembamnya yang memerah terkesan semakin mengecil. Dia gugup tapi mengaguminya. Kyuhyun tahu itu.

“Kau menyukaiku, ya?” goda Kyuhyun, kemudian menyeringai.

Hyo In mundur satu langkah. Kaget. “A-apa maksudmu?”

Pura-pura tidak tahu lagi. Batin Kyuhyun. Kedua tangannya tertumpu pada meja sementara tubuhnya semakin condong ke depan—memperpendek jaraknya dengan Hyo In—tapi gadis itu justru semakin menjauh. Sampai pada titik bokong Hyo In menabrak lemari kaca berisi pot-pot baru, dia berhenti dan tahu apa yang akan terjadi jika saja dia memilih untuk menaiki meja kasir dan mendesaknya maka bisa jadi gadis itu akan…

“Nenek!”

Lari terbirit-birit. Sedikit di luar ekspektasi. Dia menginginkan aksi yang lebih berani.

Tawa Kyuhyun menyembur begitu saja melihat gadis itu sudah lari terbirit memasuki ruangan di sebelah rak vas kaca dan keramik yang sebelumnya tertutup. Tepat saat ibunya menepuk bahunya, tawa itu meredam, kemudian sesosok wanita cantik keluar dari tempat gadis itu bersembunyi. Berwajah manis meski kulitnya telah termakan usia.

“Kau menakut-nakuti cucuku?!”

Bukan amarah yang didapati Kyuhyun dari pertanyaan itu, justru nada geli lebih kentara. Kyuhyun tahu lebih baik mencari jalan aman dalam percakapan bersama orang yang jauh lebih tua darinya.

“Aku tak bermaksud begitu.” Kemudian membungkuk minta maaf.

Kyuhyun meringis mendapat sikutan di perut dari ibunya yang tiba-tiba sudah ada ada di sampingnya. “Sudah kubilang jangan membuat masalah.” Namun setelah itu ibunya menggeleng tak kuasa mempertahankan kekesalan melihat senyum lebar Kyuhyun dan satu kecupan ringan mendarat di pipi kanannya begitu putranya itu meminta maaf.

“Kautahu, Nek, cara ini selalu berhasil membuatnya luluh.”

Nenek Hyo In langsung menyukai Kyuhyun saat itu juga. Mungkin termasuk penilaian yang terburu-buru namun insting seseorang yang sudah hidup lebih lama dari perusahaan elektronik terkemuka di Korea Selatan itu selalu benar. Hampir tak pernah meleset.

“Jaga bocah nakal ini baik-baik, Nak.”

Nenek berkata langsung pada ibu Kyuhyun dan langsung medapatkan jawaban penuh keyakinan seraya mengusap puncak kepala Kyuhyun hingga berantakan. Seketika mendapatkan protesan dari pemiliknya yang dengan cepat membenarkan kembali mahkota kusutnya.

“Jadi, apa yang kaudapatkan, Sayang?”

“Delphinium. Suamiku menyukainya.” jawab Ibu Kyuhyun seraya menyerahkan sepuluh tangkai dalam berbagai warna pada nenek Hyo In.

“Bunga yang indah. Aku juga suka delphinium,” katanya seraya menyambut bunga tersebut untuk dirangkai.

“Kurasa kau menyukai semua bunga di sini. Mereka merekah seperti dirimu.”

“Ya Tuhan, Nak, berapa usiamu? Sampai setua ini suamiku tak pernah mengatakan itu padaku,” kata Nenek Hyo In terheran.

Kyuhyun tersenyum semakin lebar, menampakkan cekungan memesona di kedua sudut bibirnya pada siapapun wanita dengan jarak tak kurang dari seratus meter, termasuk mata Hyo In yang tertutup sebagian pintu. Sudah beberapa menit ini dia terus mendengus dan mengumpat dalam hati mendengar Neneknya bahkan tak bisa memarahinya karena membuat Hyo In—setidaknya malu—karena kelakuan nakal pelanggan barunya itu.

“Untuk siapa bunga ini? Kalau aku boleh bertanya.”

“Mendiang suamiku.”

Tak ada yang tersentak di ruangan itu selain Nenek Hyo In dan dirinya sendiri yang masih bertahan di balik pintu. Kedua orang baru itu malah melihat dengan heran saat mata Nenek menatap lekat mereka dan melupakan bunga-bunga di mejanya. Kemudian dehaman Kyuhyun mengembalikan Nenek ke dunia nyata dan menyadari perkerjaannya belum selesai.

“M-maaf. Aku turut berduka cita,” kata nenek dengan nada lebih lirih kemudian melanjutkan rangkaian bunganya.

“Terima kasih. Itu sudah lama berlalu. Kami kemari untuk mengunjungi makamnya.”

Nenek Hyo In terenyum seraya melilitkan tali pada pangkal bunga yang sudah terbungkus rapi. “Tidak ada yang terlalu lama atau cepat, Sayang. Tapi aku senang kalian baik-baik saja sampai sekarang.”

“Kami sangat baik, Nek.” Kyuhyun menyahut seraya menepuk tangan Ibunya yang sedari tadi melingkat di lengannya. “Boleh aku berkeliling? Tempat ini terlalu sayang untuk dilewatkan,” lanjutnya.

“Kau terlalu memuji toko kecilku, Nak. Dan tentu saja kau boleh berkeliling,” jawab Nenek.

“Kalau begitu aku juga,” sahut Ibu Kyuhyun. “Bunga-bunganya cantik dan terawat dengan baik.”

Nenek Hyo In mengangguk mempersilahkan kemudian memanggil Hyo In—yang segera keluar dari balik pintu—menghampiri Neneknya begitu tahu Kyuhyun dan Ibunya tak lagi berada di sana.

“Bisa kau rangkaikan lili dan krisan untukku, Sayang?”

Hyo In menatap heran Neneknya. “Kenapa tiba-tiba memilih bunga itu?” Keduanya membawa kenangan buruk terhadap orangtuanya, tapi tetap pergi mengambil bunga-bunga itu yang berada di sebelah kiri toko dan membawanya untuk di rangkai di meja yang biasa dia gunakan saat ada pesanan.

Mejanya berada di samping jendela sehingga sinar matahari bisa menerangi tanpa bantuan lampu. Perhatiannya tak terganggu sama sekali sebelum lonceng di atas pintu toko berbunyi, tanda seseorang—atau sekarang dua orang—masuk. Seringaian itu membuatnya menunduk lagi kemudian beranjak mendekati Neneknya, memberikan sebucket kecil bunga yang sudah terangkai.

“Bisa pakai kartu debet?”

“Oh, tidak perlu. Itu untuk kalian.”

“Nenek!” Seru Hyo In.

Itu bukan tindakan yang benar menurutnya. Mereka kemari untuk membeli, bukan meminta.

“Kami tidak bisa menerimanya, Nek.” Kyuhyun menyahut. Segera memberikan beberapa lembar ribuan won.

Nenek kembali menggeleng, menatap Ibu Kyuhyun dengan senyum paling lembut. “Aku memaksa.”

“Tapi—“

“Dan ini.” Nenek mengambil rangkaian lili dan krisan itu kemudian memberikannya bersama rangkaian delphinium setelah mengembalikan uang Kyuhyun. Hyo In mendelik.

Ibu Kyuhyun menggeleng lemah. “Ini terlalu banyak, Nyonya. Aku-aku—“

“Ambil saja, Bibi. Nenek tidak akan menyerah sebelum kau menerimanya.”

Hyo In menghela napas panjang. Sebagian karena kesal dengan neneknya dan sebagian lagi karena Kyuhyun yang dari tadi terus menatapnya. Dia hanya bisa menghindari tatapan itu karena pilihan lain sangat tidak membantu. Yang terbaik adalah mengalihkan perhatiannya dengan mengusap kaca lemari pot yang sebenarnya sudah bersih. Tanpa sepengetahuan Hyo In, Kyuhyun tak bisa mengalihkan pandangannya dari gerakan kikuk gadis itu. Sekilas senyumnya mengembang begitu melihat pantulan wajah gadis itu. manis sekaligus lucu dengan bentuk yang tertekuk. Gadis itu pasti sedang kesal. Hanya itu keyakinan Kyuhyun.

Sangat manis.

“Kami terima. Asal Nenek mengijinkanku kemari lagi besok.” Kali ini Kyuhyun menyeringai, sadar akan pekerjaan Hyo In yang terhenti sejenak. Mungkin gadis itu sudah mengumpat dalam hati karena ulahnya.

Kyuhyun bahkan tak mengabaikan protesan Ibunya. Dia lebih memilih fokus pada Nenek Hyo In. Sebenarnya tak perlu memohon pun Nenek akan mengijinkannya karena memang tak ada yang salah dengan Kyuhyun. Penjual takkan pernah menolak pembeli untuk berkunjung kembali. Oleh karena itu, ijin itu bisa didapatnya dengan mudah dan ditanggapi dengan dengusan keras Hyo In dari bagian belakang kasir.

Hingga keesokan paginya, tidak ada alasan bagi Kyuhyun untuk berada di tempat lain kecuali toko bunga ini. Mengejutkan gadis itu dirasa bukanlah ide yang buruk. Memang begitulah yang terjadi. Padahal yang dilakukannya selama beberapa menit ini hanya memandangi deretan anggrek putih dan ungu yang tergantung di teras toko dan kaktus yang berjejer rapi di bawahnya dan sudah bisa membuat seorang gadis memekik pada jam delapan. Pekikan yang sangat keras dibarengi dengan beberapa sekop tanah dan gembor air jatuh di tanah.

Hyo In tak mempercayai matanya sendiri. Apa yang dilakukan pria menyebalkan itu di sini sekarang pastilah bukan hal yang mendesak melihat raut wajahnya yang tenang dan lembut. Kemudian dia tersadar jantungnya berpacu kembali saat pria itu memberinya senyuman seperti kemarin tapi lebih lembut. Matanya sipitnya ikut tertarik. Sangat manis.

“Hai!” Sapa Kyuhyun.

“H-hai!”

Hyo In bergegas membereskan barang-barangnya. Terlalu sibuk sampai tak menyadari Kyuhyun sudah berada di depannya. Genggamannya pada gembor dan sekop hampir terlepas jika saja Kyuhyun tak membantu mengangkat barang-barang itu.

Pria itu kembali tersenyum dan Hyo In membalasnya, kali ini lebih pada spontanitas dan sopan santun. Kyuhyun mempersilahkannya berjalan lebih dulu ke dalam toko dan masuk ke gudang tempat penyimpanan. Setelah selesai, Hyo In meminta Kyuhyun duduk di tempat favoritnya di samping jendela, menunggunya sementara dia membuat teh.

“Terima kasih.” Kyuhyun menerima tehnya.

Hyo In duduk di seberang Kyuhyun seraya memangku nampan tanpa mengatakan apapun. Memerhatikan pria itu menghirup aroma teh, mengusir asapnya dengan tiupan pelan kemudian menyesapnya pelan. Lalu dia tersenyum lagi. Lebih lebar dari sebelumnya namun tak menakutkan seperti seringaiannya kemarin.

Sebenarnya Hyo In bukan takut dengan senyum itu, dia hanya menganggap sesuatu berbahaya jika sampai hal itu membuatnya hilang kendali. Dan senyum itu melakukan hal yang sama persis.

“Tehnya enak.”

“Terima kasih.”

Kemudian hening lagi.

“Kau terlihat takut denganku. Memangnya kenapa?”

Hyo In menggeleng. “Tidak.”

Jujur sekali dia. Batin Hyo In.

“Iya. Dari kemarin seperti itu.” Kyuhyun menyanggah penuh selidik. Kaki kanannya diangkat hingga menyilang di atas paha kirinya. Tangan tergenggam  di atas pangkuan. Terlihat mengintimidasi namun tetap tenang dan lembut.

Hyo in menggigit bibir bawahnya. Mungkin itu pertanda dia kehabisan kata, pikir Kyuhyun. Dia menghela napas selama jeda beberapa detik tanpa seorang pun di antara mereka yang memancing obrolan. Sampai pada menit kedua yang Kyuhyun lakukan hanya memutar-mutar cangkir tehnya seraya mencuri pandang wajah tertunduk Hyo In. Gadis itu melakukan hal yang sama berulang-ulang. Mulai dari mengusap nampan bersih itu, mencengkeram pinggiran nampan begitu kuat—lebih terkesan mencakar, kemudian menggigit bibirnya lagi.

Rasa penasaran akan hal apa yang sedang dipikirakan gadis itu memaksa Kyuhyun angkat bicara. “Aku Cho Kyuhyun. Siapa namamu?”

Wajah Hyo In terangkat dengan keterkejutan. “Hyo In. Song Hyo In.”

Wajahnya memang masih merona tapi setidaknya dia memberikan tanggapan yang wajar. Itu awal yang bagus, batin Kyuhyun.

“Aku kemari untuk mengunjungi makam ayahku. Kau?”

“Aku memang tinggal di sini. Bersama Kakek dan Nenek.”

“Ayah dan Ibumu?” Kyuhyun menatapnya lebih lekat.

“Mereka pergi. Jauh.”

Ada kenyamanan yang Hyo In rasakan ketika melihat tatapan itu. Jauh lebih manusiawi. Dia ingin menjelaskan perihal orangtuanya lebih jauh tapi menahannya karena hal itu dirasa tidak penting. Kyuhyun hanya orang baru.

Sebenarnya bagi Hyo In, tidak ada kata selain menyeramkan dan menakutkan untuk menggambarkan Kyuhyun karena kesalahan kecilnya. Dia menertawakan pria luar biasa yang baru masuk ke tokonya karena pakaian yang dikenakannya sangat tidak cocok dengan musim yang sedang berjalan. Siang itu matahari bersinar lebih terang dan suhunya sedang berada di puncak. Hyo In tak menemukan alasan bagus untuk memakai sweater saat udara sepanas itu. Well, sekalipun pakaian hangat itu hanya dikalungkan di leher. Tapi kemeja dan celana lengan panjangnya juga tidak membantu memperbaiki alasan tersebut.

Tiba-tiba dia ingat belum minta maaf pada Kyuhyun. “Maaf, aku menertawakanmu kemarin.”

Nah, dia mengakuinya. Pekik kyuhyun dalam hati.

Dia sedikit terhenyak mendengar pernyataan itu. Kalau diingat-ingat tujuan sebenarnya dia kemari adalah ingin mempermainkan Hyo In karena terlalu pendiam. Gadis itu menarik perhatiannya tanpa melakukan apapun. Justru sikap diam itu membuatnya ingin tahu lebih dalam tentang apa yang dia pikirkan sebenarnya. Sedikit nakal. Tapi tak ada salahnya mencoba. Dan bukan salahnya juga jika tiba-tiba gadis itu mengungkapkan sendiri sesuatu yang membuatnya hampir mati penasaran semalaman karena memikirkannya. Selain tak suka ditertawakan orang lain, dia lebih tak suka lagi jika tak mengetahui alasan apa yang membuat orang itu tertawa. Jelas itu karena dirinya, tapi bagian mana dari dirinya yang bisa membuat gadis itu tertawa kemudian ketakutan melihatnya.

Hyo In menatapnya dengan pandangan lain. Lebih ke penasaran. Kyuhyun tak kunjung menanggapi permintaannya. Itu membuatnya sedikit banyak merasa was-was. Apalagi melihat reaksi pria itu yang hanya tersenyum ringan tanpa suara tapi tidak menatapnya padahal dia sempat merasa menjadi pusat perhatian pria itu beberapa saat itu sampai-sampai tak berani mendongak ataupun bicara.

“K-kau marah?”

Lalu Kyuhyun mendongak. Menggeleng seraya tersenyum lembut padanya.

Pria ini terlalu banyak tersenyum, batin Hyo In. Tapi dia juga lega karena Kyuhyun tak marah padanya.

“Aku hanya pensaran dengan alasanmu menertawakanku,” kata Kyuhyun santai, sebelum menyesap tehnya lagi.

Hyo In meneguk salivanya dengan keras. Sedikit takut mengutarakan jawaban sebenarnya. Namun, percuma juga berbohong. Dia cukup memperhalus kata-katanya.

“Karena sekarang musim panas, kurasa pakaianmu kemarin hanya akan membuat tubuhmu semakin mudah berkeringat. Dan rasanya pasti tidak nyaman,” jawabnya malu-malu, kemudian menyesap tehnya sendiri yang masih utuh.

Kyuhyun mengangguk paham seraya meneliti pakaiannya saat ini. Kaos katun berwarna putih polos dan celana pantai hijau gelap. Sepertinya tidak terlalu buruk.

“Aku sudah kelihatan normal ‘kan sekarang? Untuk ukuran anak pantai,” kelakarnya. Kemudian untuk pertama kali, dia terpesona dengan senyum lebar gadis itu. Sesekali suara kikikannya menyelip keluar. Merdu.

“Maksudku, bajumu yang kemarin. Apalagi sweater itu. Kau seperti tamu salah kostum.” Seketika itu Hyo In menutup mulutnya sendiri. Gagal sudah rencananya memperhalus kata karena pada akhirnya dia tetap mengatakan hal paling tidak sopan—menurut kamusnya—pada tamu yang baru dia kenal. “M-maaf, aku tidak bermaksud menghina atau—“

Suara kikuk Hyo In membuat Kyuhyun tak mampu menahan tawa. Tangannya melambai saking tak bisa bicara saat itu.

“Sudahlah. Tidak perlu gugup seperti itu. Kau membuatku terkesan seperti pem-bully tak tahu diri.”

Alis Hyo In bertaut. “Apa maksudmu? Aku tidak merasa di-bully sama sekali.”

“Memang. Tapi kau membuatku merasa seperti itu. Aku bukan hiu putih yang akan memakanmu. Tenang saja.” Kemudian Kyuhyun menandaskan minumannya. Melihat tatapan menyelidik Hyo In, Dia kembali angkat bicara. “Aku hanya berusaha memancingmu bicara karena kau terlalu pendiam dan sering gugup setiap melihatku. Tapi itu sangat manis, kautahu.”

Pipi Hyo In yang tadinya normal kini memerah lagi. Jadi sebelum gadis itu kembali diam karena terlalu gugup, Kyuhyun memutuskan untuk melempar pertanyaan.

“Kemana nenekmu? Aku tak melihatnya dari tadi.”

“Nenek sedang mengambil pupuk dengan kakek di luar kota. Kautahu, di daerah dekat pesisir sangat sulit mendapatkan pupuk organik untuk bunga-bunga kami.”

Bagus. Hyo In mulai terbiasa. Pikir Kyuhyun.

“Di mana kalian menanamnya? Aku hanya melihat sedikit di sini. tapi cukup banyak untuk ukuran sample.”

“Kebunnya ada di belakang rumah. Semua bunga kami tanam di sana.”

“Wah, sepertinya menyenangkan.”

“Memang. Apalagi jika kau benar-benar menyukai bunga,” sahut Hyo In penuh semangat.

Dan kau teramat menyukai mereka, pikir Kyuhyun.

Dia cukup yakin melihat wajah Hyo In yang berseri dengan kegembiraan. Wajahnya merona. Bukan rona malu, tapi karena kehangatan dan kebahagiaan.

“Mungkin kau bisa menunjukkannya padaku kapan-kapan,” cetus Kyuhyun tanpa berpikir panjang.

Hyo In terhenyak mendengarnya. “Kau mau melihat kebun kami?” Tanyanya setengah memekik. Pria ini memang berwajah romantis, tapi dia tak yakin Kyuhyun itu tipe perayu yang sering menggunakan bunga sebagai gambaran kecantikan. Kemudian dia teringat pujian yang diberikannya pada nenek cukup memberinya nilai plus dalam hal memanfaatan keadaan untuk meluluhkan wanita.

Kyuhyun menunggu jawabannya tanpa bicara. Sampai pada titik di mana keputusannya sudah bulat Hyo In menghela napas sebelum berkata, “Akan kutunjukkan padamu. Jika kau punya waktu luang.”

Senyum Kyuhyun melebar. Cekungan di kedua sudut bibirnya nampak sangat jelas, menambah kesan manis di wajah lembutnya. Itu membuat Hyo In gugup selama beberapa saat sampai akhirnya Kyuhyun menjawab, “Sempurna. Aku akan kemari nanti sore setelah mengantar ibu belanja ikan, bagaimana?” Dengan semangat namun tak kelewat girang.

Hyo in tidak pernah berharap kesempatan itu akan datang lebih cepat.

“Jangan sore ini. Ada pesanan dua puluh lima bucket mawar yang harus kuselesaikan. Bagaimana kalau besok siang saja?” Tawar Hyo In.

Tentu saja itu bohong. Dia hanya berusaha mengulur waktu.

Tanpa perlawanan Kyuhyun menyetujuinya. 

 ***

BAB 2

Keesokan pagi—bahkan bisa dibilang sangat pagi—sekitar pukul enam Hyo In baru saja membuka toko saat melihat Kyuhyun sudah berdiri di depan pintu toko. Pria itu tersenyum lebar, menyapa Hyo In penuh semangat kemudian membantu mengangkat dan memasang bunga-bunga yang harus dipajang di depan toko.

“Jadi, bagaimana?”

“Apa?” Hyo In tak lagi menghindari tatapan Kyuhyun. Percakapan mereka kemarin berdampak cukup besar terhadap mentalnya. Dia mulai tahu cara meminimalisir hilangnya kendali diri.

Jangan terlalu lama melihat mata, apalagi senyumnya. Begitu teori Hyo In. Tapi tetap saja debaran jantungnya masih tak beraturan.

“Kebunmu. Kaubilang akan menunjukkannya padaku.”

Hyo In tersenyum dari balik punggung Kyuhyun. Pria itu begitu serius menata deretan kaktus kecil. Mengukur jarak antara satu pot dengan pot lain.

“Mau melihatnya sekarang? Kebetulan aku juga mau memeriksa beberapa bunga yang baru kutanam kemarin.”

Kyuhyun langsung berbalik menggandeng tangan Hyo In dan menyeretnya menuju jalan di samping toko tempat Hyo In kemarin muncul dengan peralatannya. “Lewat sini kan?”

Hyo In mengangguk namun tak memerhatikan luapan semangat Kyuhyun. Lebih terpaku pada lengannya yang tergamit tangan Kyuhyun dengan erat. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak. Tanahnya kering karena tak tersentuh hujan selama satu bulan terakhir. Debu-debu tipis mengepul seperti asap kopi yang baru terseduh dari bekas jejak kaki mereka saat berlari menuju kebun. Begitu sampai di sana, napas Hyo In sesak bukan hanya karena mengikuti langkah cepat Kyuhyun tapi juga melihat rasa takjub di wajah pria itu begitu memandang hamparan bunga berbagai jenis dan warna. Ada yang sudah berbunga dan ada yang berhenti berbunga mengingat musim semi telah lewat.

“Wow! Indah sekali.” Kyuhyun terkagum. “Aku tak pernah melihat yang seperti ini di Seoul dan kau bisa memandang keajaiban ini setiap hari.” Kyuhyun mengikut lengan Hyo In. “Aku iri padamu.” Kemudian menyengir.

“Tapi di Seoul pasti lebih indah. Kau bisa mendapatkan apapun di sana dengan indah. Untuk ukuran desa di dekat pesisir pantai, mempunyai taman seperti ini merupakan anugrah. Aku tidak heran jika kau iri padaku.”

Perkembangan yang bagus. Hyo In mulai bisa berkelakar dengannya. Batin kyuhyun.

“Dan kau akan iri padaku melihat apa yang bisa kudapatkan di Seoul.”

“Misalnya?”

Kyuhyun sedikit tertegun menyadari kenyataan Hyo In belum pernah ke ibukota. Dia menggeleng. “Tidak sekarang. Bukan waktu yang tepat. Aku ingin kau menjelaskan semua bunga yang ada di sini.”

Hyo In ternganga. Matanya terbelalak menampakkan lelehan cokelatnya yang menawan Kyuhyun untuk beberapa saat. Bibirnya terbuka dan tertutup seperti ikan kekuarangan air.

“Kenapa, kau tidak mau?” Kyuhyun mendelik.

“T-tidak.” Hyo In menggeleng cepat. Bergegas pergi dari sana, masuk ke dalam kebun mendahului Kyuhyun.

Kyuhyun mengikutinya dari belakang. Mereka melewati jalan kecil antara lajur bunga melati dan mawar. Semuanya tertata rapi. Terdapat beberapa cabang-cabang yang menjalar sampai jalan kecil yang mereka lewat. Sepatu menyelamatan kaki mereka dari tajamnya duri.

Hyo In kebingungan saat melihat hamparan bunga-bunga. Itu terlalu banyak. Sehari saja tidak akan cukup.

“Semua yang ditanam di sini adalah bunga kesukaan Nenek dan Kakek. Kalau lili yang ada di greenhouse dan krisan itu kesukaan ayah dan ibuku. Setidaknya begitulah kata Nenek.”

“Kau terdengar tidak yakin.” Kyuhyun mengikuti Hyo In menuju barisan dahlia dan bunga yang lain.

“Aku tidak pernah mengenal mereka. Sejak kecil yang kulihat hanya Nenek dan Kakek di sini.” Hyo In mengangkat bahu seolah tak pernah ambil pusing dengan masalah yang dianggap Kyuhyun cukup serius itu.

Gadis ini rapuh tapi begitu kuat secara bersamaan. Mungkin karena keadaan yang menempanya sehingga suasana seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari dan membuatnya terbiasa. Yang jelas Kyuhyun merasa gadis ini sedang tidak baik-baik saja selama hidupnya. Mengerikan sekali tak mengenal kedua orangtuanya.

Dia berdeham sebelum siap melontarkan pertanyaan pengalihan dari topik yang sensitif ini. “Kalau ini?”

“Itu bunga sepatu. Kami semua menyukainya.”

“Sepertinya semua anggota keluargamu pecinta bunga.”

Hyo In tertawa pelan sebelum menjelaskan seraya memandangi keseluruhan taman. “Memang. Awalnya tanaman bunga hanya ada di pot-pot depan rumah pantai kami. Lalu sepuluh tahun yang lalu kami memutuskan pindah ke tempat yang lebih jauh dari pesisir agar bisa membuat kebun ini. Tabungan kakek sampai habis untuk membeli rumah, tanah, dan bibit.”

Mereka berdua tertawa tanpa saling memandang. Hanya merasakan kehadiran masing-masing lewat aliran angin yang membawa getar tawa. Kemudian begitu tatapan Kyuhyun jatuh pada senyum manis Hyo In yang tersamar sinar matahari pagi, dia tersadar. Tidak cukup untuknya hanya mendengar suara gadis itu. Dia butuh melihat wajahnya, senyumnya, dan setiap gerakan di wajahnya yang mengindikasikan perasaan apapun. Dengan latar belakang kebun bunga ini, semuanya terasa lengkap. Gadis ini menakjubkan dengan kesederhanaan dan kerumitan yang dia sembunyikan.

“Indah.”

“Apa?”

Baru kali ini Kyuhyun tersedak salivanya sendiri. Inilah pertama kalinya dia merasa gugup ketika mata seorang gadis memandangnya dengan maksud bertanya. “B-bunganya. Mereka indah.” Lalu berdeham, menyamarkan kegugupannya begitu Hyo In mengangguk seraya tersenyum bangga akan kerja kerasanya bersama kakek dan nenek selama ini.

“Terima kasih.”

Kyuhyun mengedarkan pandangan bermaksud mencari topik lain sekaligus menghindari matanya melihat Hyo In. “Yang itu. Apa saja yang ada di greenhouse sana?” Tunjuknya ke arah pojok kiri kebun yang tertutupi rimbunnya daun pohon ek di atasnya sehingga cahaya matahari hanya bisa masuk dari celah-celah kecilnya.

“Akan kutunjukkan sesuatu padamu.”

Wajah Hyo In lebih berseri dari sebelumnya. Begitu mereka masuk, kegembiraannya benar-benar tak terelakkan. Terlihat begitu jelas meski hanya sedikit lirikan di ujung mata Kyuhyun. Yang membuat heran, ekspresi itu membuat dada Kyuhyun seolah dipenuhi bunga-bunga yang ada di dalam greenhouse.

“Aku sengaja mengumpulkan bunga-bunga mediterania di sini. Kapan-kapan akan kutunjukkan katalog yang sengaja kubuat sendiri.”

Hyo In tertegun mendengar kalimatnya sendiri. Apa dia baru saja mengundang Kyuhyun datang lagi kemari?

Kyuhyun tersenyum puas tanpa suara. “Dari mana kau tahu ini bunga mediterania.” Tanya Kyuhyun penuh kekaguman.

“Aku membaca buku,” jawab Hyo In bangga, berusaha melupakan kelalaiannya tadi kemudian mendengus seolah telah mengalahkan Kyuhyun satu poin. “Anak desa sepertiku juga bisa membaca.”

“Jangan meremehkan dirimu sendiri.”

“Tidak juga. Justru aku menyadarkan anak kota sepertimu kalau kami di sini bukan sekedar pelengkap dunia.”

“Wah. Filosofis sekali,” sindir Kyuhyun. Sengaja memancing kejengkelan Hyo In karena menurutnya gadis itu terlihat lebih menarik saat gugup, marah, dan kesal.

“Aku cukup suka filsafat.” Hyo In menyahut cepat. “Dan sastra,” tambahnya.

Kyuhyun menepuk sebelah bahu Hyo In. Merangkulnya dengan santai. Sesaat bisa merasakan ketegangan otot-otot lengan atas Hyo In, namun begitu dia melempar pertanyaan bersahabat semuanya kembali normal secepat munculnya reaksi kaget itu.

“Beri aku satu kutipan kesukaanmu.”

Hyo In mendelik. “Kalau kau tidak bisa menjawab?”

Kyuhyun berpikir sejenak. Ini jebakan, tapi bisa berarti kesempatan untuknya. “Akan kulakukan apapun yang kau inginkan.”

“Aku mau makan banyak kepiting.”

Well, berkorban sedikit tidak ada salahnya. Kyuhyun mengangguk. “Tapi kalau tebakanku benar, kau harus menuruti permintaanku. Sederhana kok. Kujamin itu takkan melukai harga dirimu dan—“

“Cukup. Satu saja,” gerutu Hyo In. Bibirnya maju beberapa sentimeter karena kesal dengan permintaan Kyuhyun. Membuatnya ingin melakukan sesuatu yang lebih padanya. Menarik bibir itu lebih panjang, misalnya.

“Kalau begitu dua pertanyaan dan akan kuturuti semua persyaratanmu jika benar semua. Kalau gagal satu pertanyaan saja, aku mau kepitingku di antar ke rumah besok.” Hyo In terlihat sangat percaya diri.

Kyuhyun hanya mengedikkan bahu. Tak mau menghentikan itu meski permainan kali ini kurang adil untuknya.

Hyo In sangat yakin bahwa Kyuhyun pasti kesulitan menjawab pertanyaannya. Dialah yang akan menang karena pria itu pasti tak mempunyai pengetahuan apapun tentang filsafat. Lebih sering kelayapan menurutnya. Sementara Kyuhyun tertawa keras dalam hati mengetahui fakta bahwa dia pasti menang. Filsafat memang bidangnya dan dia menyukai pengetahuan itu sama dengan menyukai pekerjaannya.

“Baiklah kita mulai. Ini yang pertama. ‘Cara mudah menghilangkan rasa lapar adalah dengan menggosok perut yang kosong.’”

Kyuhyun tertunduk, mencoba mengingat salah satu filsuf Yunani itu. Ya, dia ingat itu. “Bukan Plato,” gumamnya. “Pasti seseorang yang dekat dengannya.”

“Tik tok. Tik tok.”

Dia mendengus melihat seriangain Hyo In. Tiba-tiba menemukan gagasan tak semua bagian dari diri gadis itu disukainya. Sayangnya, dia memang sudah menyukai gadis itu jadi setidaksukanya Kyuhyun pada senyum jahat itu, Hyo In tetap menjadi favoritnya.

“Jammu tidak berhenti, Kyuhyun,” goda Hyo In seraya menepuk pelan tangan Kyuhyun yang masih bertengger di bahu kanannya.”

Kyuhyun menghela napas. Memastikan otaknya tenang sebelum mengucapkan jawabannya. “Bagaimana dengan Diogenes, hum?” Dia tak begitu yakin sebenarnya tapi jawabannya itu terlintas begitu saja. Salah satu petunjuk kuatnya adalah dia ingat filsuf itu merupakan salah satu murid Plato yang menjelaskan perbedaan kompleksitas manusia dan hewan dengan membawa ayam di dalam kelas.

Hyo In mendengus. Bahunya melemas. “Kau benar.”

Kyuhyun menjentik hidung Hyo In pelan. Sekedar mempermainkan gadis itu agar bisa melihat wajah kesalnya untuk kesekian kali pagi ini. “Yang kedua. Jangan mempersulitku, Nona Kecil.”

Hyo In mendesah pasrah. Sekarang dia jadi curiga dengan kemampuan tersembunyi Kyuhyun. Lagipula masih dua hari yang lalu dia mengenal pria itu. Sangat banyak hal yang belum terungkap darinya.

“Oke. Kurasa ini jelas paling mudah. ‘Jangan kaukira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta takkan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad.’”

Kyuhyun tertegun. Dia tak tahu alasan mengapa Hyo In menyebutkan filosofi cinta itu dengan tiba-tiba. Seolah memanggil hatinya yang masih bersembunyi.

Hyo In menatapnya lekat. Ini pertama kalinya dia melihat wajah pucat Kyuhyun penuh tanda tanya. Kali ini pun dia berani menatap mata Kyuhyun karena tahu dari sanalah pria itu mencari jawaban.

Atas keyakinannya itu Hyo In berusaha menutup tabir yang hanya bisa mereka berdua rasakan. Inilah yang ditakutkannya sejak kemarin. Dia takut berharap, dikecewakan, dan akhirnya putus asa. Apapun bisa dilakukan orang putus asa. Pertanyaannya adalah apakah dia bisa memakai logika di saat rentan seperti itu atau justru melarikan diri dengan melakukan hal yang bahkan tak ingin dipikirkannya sekarang.

Kyuhyun terguncang. Sesuatu dalam dirinya meronta ingin keluar. Memaksanya menahan keinginan untuk menarik kepala Hyo In, menempelkan bibir mereka, dan menenggelamkan Hyo In dalam genangan perasaannya yang meluap. Tahu akan menjadi pemenang untuk permainan kali ini. Tapi dia juga tak ingin menyembunyikan dirinya. Kyuhyun ingin Hyo In tahu siapa dirinya.

Ya, dia tahu persis tak memerlukan waktu bertahun-tahun atau berabad-abad untuk merasa terikat dengan Hyo In. Kecocokan itu sudah ada hanya saja belum berkembang. Perasaan nyaman itu memang sudah ada. Waktu dua hari hanya akan dianggap terlalu dini bagi orang yang tak lagi mencinta karena saat itu logika mereka sedang memimpin. Insan yang mencinta lemah akan hal itu. Dan itu tidak berlaku untuk Kyuhyun karena sekarang bukan masalah mencinta dan mendapatkan Hyo In tapi bagaimana dia bisa memenangkan hatinya dengan sekali serang dan membuat gadis itu terus mendambakan dirinya saat dia melawan takdir dan memilih egonya sendiri untuk pergi.

Jadi, dia sudah mendapatkan jawabannya. Itu terlalu mudah.

“Kahlil Gibran.” Kyuhyun menyeringai puas.

Hyo In menghembuskan napas. Perkiraannya salah. Tidak semua pria membenci filosofi cinta. Diam-diam dia kecewa dengan jawaban Kyuhyun. Dia ingin pria itu kalah agar bisa lebih mengenalnya dengan menghabiskan waktu makan kepiting. Dia ingin memahami Kyuhyun secara tertutup, hanya untuk dirinya sendiri lalu menikmatinya tanpa ada seorang pun yang tahu. Dan sekarang semuanya hancur. Kyuhyun pasti ingin segera pergi darinya.

“Ya. Kahlil Gibran,” jawab Hyo In lemah. “Kau cukup hebat.” Kemudian memaksakan senyum untuk Kyuhyun.

“Anak kota sepertiku juga membaca, Hyo In.”

Kyuhyun tersenyum puas. Berbagai rencana yang ini dia lakukan bersama Hyo In berjubelan di kepalanya. Tidak mau antri, semuanya menginginkan untuk jadi yang pertama. Tapi dari kesemuanya hanya ada satu inti. Dia ingin terus bersama Hyo In, menghabiskan waktu bersama gadis itu, dan memberikannya kenangan indah selama musim panas ini.

Hyo In berdeham, mengalihkan pemikirannya sendiri yang sekarang berubah tak karuan. Kecewa dan merasa tak masuk akal. “Kalau begitu apa keinginanmu?” Dia mencoba tabah dengan mendongak memberanikan diri melihat wajah Kyuhyun. Tapi pria itu menyeringai lagi dan akhirnya lebih memilih melihat daun-daun bunga yang belum mekar.

Kyuhyun menginginkan ini. Kesempatan itu telah didapatnya dan tidak akan berakhir sia-sia. Terlebih Hyo In takkan punya alasan untuk menolak. “Aku mau kita makan kepiting di rumahku hari minggu nanti. Setelah kebaktian di gereja.”

Dorongan itu tak mungkin ditolak Hyo In lagi. Dia langsung menoleh, mendapati senyum lebar Kyuhyun yang meluluhkannya terpampang tepat di depannya begitu mata mereka bertemu. Hangat tatapan itu melelehkan cokelat di matanya. Memperlancar laju aliran darah ke setiap ujung syaraf dan wajahnya, menaikkan adrenalin, memacu jantungnya lebih cepat dan membua ototnya melemas.

Aku memang bodoh. Mengira saja selalu salah. Batinnya.

Sejenak keyakinan Kyuhyun hampir memudar, tapi begitu melihat anggukan pelan Hyo In dan senyum menakjubkan itu, dia tahu Hyo In juga menginginkan ini.

***

BAB 3

Ketika jam terus berdetak mengantarkannya menjadi hari, yang bisa dipikirkan Kyuhyun selama itu hanya bagaimana cara mengejutkan Hyo In. Gadis itu tak kunjung mengakui perasaan kalau dia juga menginginkan Kyuhyun. Gadis itu sudah tidak begitu tertutup selama tiga hari mereka menghabiskan waktu disana.

Mereka sudah menikmati waktu siang sampai sore membicarakan hal-hal umum seperti menunjukkan katalog bunga, apa saja yang bisa Hyo In daptkan di Seoul dan tidak ada di Gyeongju, dan banyak hal menyenangkan yang bisa mereka dapatkan di pedesaan seperti ini. Hyo In selalu menyambut tangan Kyuhyun tapi tiba-tiba menjaga jarak tanpa alasan. Selama kebersamaan mereka itu Kyuhyun menyimpulkan Hyo In hanya bermain dengan takdir. Layaknya judi roulette, menaruh bola di antara banyak angka dan menebak angka yang tepat di mana bola itu akan berhenti berputar lalu tersenyum saat tebakannya benar dan ketika prediksinya salah dia hanya akan pergi dengan pasrah dan kehilangan taruhannya.

Jadi, apakah Kyuhyun lebih baik langsung pada intinya atau memberi pancingan sedikit demi sedikit tentu belum jelas karena semuanya membawa konsekuensi masing-masing. Bisa jadi Hyo In akan langsung menerimanya—jika beruntung—atau malah akan semakin menjauh darinya karena malu mengakui perasaanya sendiri.

“Argh! Kenapa dia pendiam sekali sih,” gerutu Kyuhyun. Mengusap wajahnya dengan kasar. Frustrasi menghadapi satu gadis itu saja yang tak pernah melakukan apapun—kecuali memesonanya—sejak pertama kali bertemu.

Senyumnya timbul beberapa detik sekali setiap mengingat wajah merona Hyo In. Hal terbaik. Kyuhyun tahu itu salah satu cara membuat wajah gadis Hyo In lebih berwarna. Ya, dia tahu apa yang harus dilakukan.

Keesokan harinya setelah mengantar belanja kepiting, Kyuhyun sudah sampai di depan pintu toko bunga Nenek Hyo In. Mendapat sambutan hangat sang pemilik, dia masuk dengan begitu percaya diri dan yakin hari ini keberhasilan akan menyertai. Nenek memberinya secangkir es lemon sembari menunggu Hyo In pulang dari membeli ikan di pelelangan. Setelah menghabiskan waktu selama kurang lebih bersama nenek, membicarakan begitu banyak hal—termasuk Hyo In—dan interupsi dari beberapa pelanggan akhirnya gadis itu sampai di rumah.

Kyuhyun selalu suka melihat ekspresi terkejut Hyo In. Untung saja ikan itu dipegang Kakeknya karena jika sampai Hyo In menjatuhkannya mungkin dia akan mendapat teguran dari nenek. Kyuhyun juga menyapa Kakek Hyo In. Beliau adalah sosok pria tua penuh semangat, periang, dan murah senyum.

Sementara itu, sampai saat ini Hyo In belum menemukan alasan untuk tersenyum atas kehadiran Kyuhyun. Dia bahagia. Sangat. Tapi semakin sering bertemu dengan pria itu justru akan semakin membuatnya susah melupakan. Hyo In tak menginginkan hal itu karena dia tahu dan sadar tempat mereka berbeda. Kebanyakan orang kota kemari hanya untuk menghabiskan musim panas di kampung halaman atau sekedar menikmati liburan di pantai Gyeongju. Jika pria itu sampai memasuki hati dan pikirannya—dan sebenarnya memang sudah seperti itu—maka ketakutakannya hanya akan bertambah semakin besar.

“Selamat siang!” Sapa Kyuhyun penuh semangat.

Hyo In membalas lambaian tangannya. “Rajin sekali. Mau pesan bunga lagi?” Dia mencoba berbasa-basi. Hal itu dipelajarinya dari Kyuhyun tiga hari belakangan yang selalu mengutarakan alasan aneh hanya untuk mampir ke toko.

Kyuhyun merengut melihat Hyo In mengalihkan pandangan darinya dan menyibukkan diri di balik meja kasir, entah mengerjakan apa. “Kau terlihat tidak senang aku kemari.”

“T-tidak juga. Hanya tidak menangka akan bertemu hari ini. Perjanjiannya kita makan kepiting hari minggu, kan? Dan aku yakin sekali sekarang masih hari Sabtu.” Dia melempar senyum manis namun nampak terlalu canggung di mata Kyuhyun.

“Sepertinya kau menganggapa kunjunganku dari kemarin hanya mimpi.” Kyuhyun mendengus. Hyo in tertawa diam-diam.

“Lagipula aku suka tempat ini,” sambung Kyuhyun.

“Terima kasih,” jawab Hyo In singkat kemudian pergi ke belakang tanpa berpamitan.

Selang dua menit kemudian, Kyuhyun hampir saja meledak karena sikap tak acuh Hyo In, tapi saat melihat gadis itu kembali dengan segelas es susu bibir Kyuhyun terkembang sempurna. Posisi duduknya yang terlalu tegang dari tadi merileks.

“Maaf, aku kehausan.”

Kyuhyun melambaikan tangan remeh. “Tidak usah dipikirkan. Aku tahu kau takkan bisa menghindar dariku lebih dari dua menit.”

Hyo In mendecak. Mengernyit aneh melihat wajah penuh permainan Kyuhyun dan akhirnya dia tak tahan menyembunyikan tawanya lebih lama lagi. “Kau benar, Tuan Filsuf.”

“Aaah, aku tahu. Kau pasti masih marah padaku karena tebakanku benar semua. Ya, kan?”

“Kenapa harus marah?”

Ya, tentu saja aku marah kalau saja kau tidak mengajakku makan kepiting besok. Batin Hyo In nakal. Tapi dia memilih diam.

Kyuhyun mendengus seraya mencondongkan tubuhnya ke meja hingga Hyo In tersentak ke belakang karena kaget dan gugup. Dia memerhatikan air muka Hyo In yang sekarang kembali merona. Tertawa dalam hati mengingat betapa mudahnya gadis itu tersipu dan gugup karena tatapan seorang pria. Tiba-tiba pemikiran akan semua pria yang menatapnya dengan pandangan sama seperti yang dia berikan pada Hyo In mengusiknya. Dia tak mau ada pria lain yang melihat Hyo In dengan cara seperti itu karena dia yakin tatapan yang diberikannya bermaksud untuk menguji gadis itu.

“Aku mau berjalan-jalan di pantai nanti malam. Denganmu, kalau boleh kutambahkan. Itu pun jika kau tak keberatan.”

Hyo In mendongak. Matanya memancarkan ketidakpercayaan pada Kyuhyun. Sebenarnya dia juga tak yakin apakah yang didengarnya sungguh-sungguh berasal dari mulut Kyuhyun. Sabtu malam. Pria ini mengajaknya berjalan-jalan di pantai. Kenapa terdengar seperti kencan?

“K-kau yakin?” tanyanya ragu.

“Kenapa tidak.” Kyuhyun mengedikkan bahu. Tatapannya semakin dalam pada Hyo In.

“Maksudmu ini semacam kencan a-atau hanya jalan-jalan biasa?”

Bukan tawa yang menyembur yang keluar tapi justru bibir itu mengulas senyum paling lembut. Bukan untuk mengintimidasi memang. Dan kenyataannya senyum itu berhasil membuat Hyo In merasa nyaman. Meskipun kekhawatiran tetap ada namun perasaan itu berkadar sangat sedikit dari pada perasaan hangat yang ditimbulkan dari senyum.

Kemudian tanpa peringatan sang pemilik senyum itu berdiri. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku depan jins biru pendeknya dan berkata dengan santai, “Aku sih lebih suka menganggapnya kencan, tapi terserah kau mau mengartikannya apa.” Kyuhyun membungkuk. Bibirnya berada tepat di depan telinga Hyo In. “Aku bukan pria pemaksa,” lanjutnya.

Bisikan itu membangunkan bulu-bulu halus di tengkuk dan lengan Hyo In. Begitu meresahkan tapi membuatnya mendamba sesuatu yang lebih. Wajahnya memanas lagi namun dia tak bisa mengalihkan perhatian dari gerakan Kyuhyun saat pria itu berdiri tegak dengan wajah sumringah. Hyo In sampai harus menelan salivanya karena tenggorokannya mendadak gersang.

“Nanti malam pukul tujuh. Aku akan menjemputmu.”

Lalu Kyuhyun berbalik, meninggalkan aroma citrus di bekas tempatnya duduk dan berdiri tadi. Membiarkan jiwa Hyo In melonjak tanpa sepengetahuan orang lain.

Ketika momen itu benar-benar datang, Hyo In baru sadar jika yang dikatakan Kyuhyun tadi siang bukan hanya bualan. Embusan yang menerbangkan helai-helai rambut hitamnya yang terurau lembut memukul-mukul wajah mengembalikannya dari lamunan tentang Kyuhyun. bintang bersinar, begitu ramai. Pria itu berada di sampingnya, menggunakan kemeja abu-abu berlengan pendek dan celana katun hitam selutut. Angin memperlakukan ikal cokelat kyuhyun dengan lebih lembut. Matanya tertutup. Tak mengatakan apapun sejak beberapa menit lalu mereka sampai di sini.

“Kau pasti suka memakai kemeja,” tebak Hyo In.

Kyuhyun membuka mata. Sengaja menunggu Hyo In memulai perbincangan terlebih dulu dengan berdiam diri seraya memikirkan topik apa yang akan dibicarakan gadis itu dengannya. Membahas kemeja. Terdengar biasa saja. Tapi dia suka.

“Lumayan. Kulihat kau tidak begitu suka memakai gaun. Biasanya saat kencan wanita  lebih sering menggunakan gaun.”

Hyo In menunduk mengamati kaos oblong putihnya dan celana jins setengah lutut yang sengaja dipilihnya untuk mengurangi hawa panas. Kemudian mencebekkan bibir mendengar tawa pelan Kyuhyun. Pria itu sedang mengamatinya.

“Aku tidak seperti kebanyakan gadis,” sanggahnya cepat.

Kyuhyun mengangguk tapi tak bisa menghilangkan senyumnya atas reaksi Hyo In. DIA tahu gadis itu berbeda, karena itulah dia menyukainya.

“Berhenti menertawakanku.”

“Aku tidak melakukannya.”

“Apa?”

“Menertawakanmu.” Kyuhyun mengerling.

Hyo In mendecak kemudian menendang telapak kaki Kyuhyun. Tidak sakit tapi berhasil membangkitkan adrenalin Kyuhyun. Terlalu berani untuk ukuran gadis pendiam sepertinya.

Di lain pihak, Hyo In sendiri juga tertegun melihat keberaniannya melakukan skinship—jika bisa dikatakan begitu. Semuanya tak terkendali semenjak Kyuhyun datang. Dia tak lagi bisa menahan rona merah di pipinya, mengunci mulutnya rapat seperti biasa karena setiap kali pria itu mengatakan sesuatu mulutnya seolah tak mau tertutup untuk membalas apapun yang keluar dari bibir Kyuhyun. Terlebih lagi detak jantungnya selalu berusaha merusak semua ketenangan yang selama ini selalu dia jaga. Kehilangan orangtua sejak kecil, kekecewaan dengan beberapa pria yang mencampakkannya membuat Hyo In untuk tak ingin mengharapkan sesuatu yang lebih dari orang lain. Jika kedua orangtuanya sendiri bersedia meninggalkannya begitu saja tanpa alasan, dan beberapa pria yang mengaku tertarik padanya itu tiba-tiba menghilang—juga tanpa alasan—maka tak ada lagi yang bisa diharapkan kecuali dirinya sendiri, dan sejauh ini Kakek-Neneknya masih menjadi orang istimewa untuk hal itu.

Dia takut Kyuhyun juga akan begitu.

“Kenapa? Wajahmu berubah pucat.” Kyuhyun mendekat padanya hingga bahu mereka saling menempel.

Hyo In menggeleng kemudian melempar senyum samar pada Kyuhyun. “Tidak apa-apa.”

“Kau kedinginan?”

Dia menggeleng lagi.

Kyuhyun tak lagi sanggup menahan kekeselannya akan aksi diam Hyo In. Sudah hampir tiga hari mereka kenal. Dia juga tak berusaha memaksa Hyo In melakukan sesuatu yang tidak disukainya. Dia selalu memberi pilihan untuk menerima atau menolak. Atau setidaknya meminta kesediaannya terlebih dahulu, bukan asal menyeret gadis itu kesana-kemari. Itu dilakukannya karena dia ingin membuat Hyo In nyaman di sampingnya. Mungkin untuk mengharapkan hasilnya terlihat malam ini tidak akan ada gunanya, tapi dia mau gadis itu mau sedikit terbuka padanya agar dia tahu bagaimana menangani gadis ini saat dia membangun benteng dirinya lebih tinggi lagi.

“Apa aku menakutkan bagimu?” Suara Kyuhyun berubah kaku dan dingin.

Hyo In terhenyak, tiba-tiba tak menyukai suara Kyuhyun yang seperti itu. Matanya juga berubah kaku. “A-aku—“

“Dengar, aku tak mau memaksamu dalam hal ini tapi aku sudah melakukan hal yang kubisa untuk—“ kalimatnya tergantung, berganti tawa rendah tapi masih sama dinginnya dengan suara yang dia keluarkan tadi. “Kurasa sebaiknya kita pulang. Aku merasa kau tidak terlalu nyaman berada di dekatku.”

Brengsek. Kenapa dia baru menyadari itu sekarang. Dan dia sudah membuat Hyo In ketakutan.

Kyuhyun beranjak. Tanpa basa-basi menjauhi Hyo In menuju sepeda yang mereka sandarkan di bawah pohon kelapa sekitar seratus meter dari tempat mereka duduk semula. Dengan perasaan tak karuan Hyo In berlari mengkuti Kyuhyun. Setelah yakin Hyo In siap, Kyuhyun mengayuh sepedanya seperti saat mereka berangkat setengah jam lalu. Tenang, meski seluruh kepalanya ramai dengan umpatan atas kebodohannya sendiri, sementara Hyo In hanya bisa terdiam. Tangannya mencengkeram kedua sisi kemeja Kyuhyun. menahan bibirnya terkatup lebih lama dan tak mengatakan sesuatu yang terus berputar di otaknya.

Berhenti. Jangan pergi. Aku masih ingin bersamamu lebih lama lagi.

Itu pasti terdengar memalukan. Hyo In yang biasanya tidak akan pernah mengatakan hal semacam itu. Dia merasa tak terlalu pantas mengatakan hal semacam itu pada pria sebaik Kyuhyun karena sejak awal memang tak seharusnya pria itu di sini bersamanya. Lagipula sebentar lagi dia akan pergi dari sini. Kapan itu? Mungkin tiga minggu lagi atau bisa saja lebih cepat. Dan Hyo In tak mau hatinya terluka sendirian begitu saat itu tiba.

Sayangnya, bayangan Kyuhyun pergi sebentar lagi itu juga tak memperbaiki suasana hatinya. Terlebih Kyuhyun sendiri. Setibanya di depan toko Kyuhyun hanya mengatakan padanya untuk mengajak Kakek dan Nenek makan siang karena dia sudah menyiapkan banyak kepiting.

“Sampai jumpa.”

Hanya itu yang Kyuhyun katakana selanjutny. Tanpa senyum. Lalu mengayuh sepedanya lagi. Pulang ke rumah, menurut Hyo In. Dan itu membuatnya semakin merasa bersalah. Mungkin dia memang terlalu pendiam, tapi pemikiran itu juga belum bisa membangkitkan keberaniannya mengutarakan keinginan yang beberapa hari ini terpendam. Dia menyukai Kyuhyun karena pria itu berbeda. Cara mereka dekat bukan karena dia merasa harus membalas kebaikan Kyuhyun seperti yang selama ini dia lakukan pada beberapa pria di masa lalunya. Hyo In diam-diam mengikuti kemauan Kyuhyun karena merasa nyaman. Entah datang dari mana karena dia tak pernah mendapatkannya dari pria lain. Hanya saja perasaan nyaman berada di dekat pria itu selalu memperburuk kendali diri yang selalu dibanggakannya. Dia harus mengingat lagi bahwa bukan di sini tempat Kyuhyun dan setiap kali pikiran itu datang hanya sakit yang dia rasakan saat menarik napas.

Kyuhyun berada cukup jauh dari rumah Hyo In sebelum akhirnya berbalik dan kembali lagi. Tidak sampai di depan pintu, hanya berdiri di samping sepedanya yang berjarak sekitar tiga puluh meter dari rumah Hyo In. Melihat gadis itu terdiam di depan pintu, hanya memegangi gagang pintu tanpa melakukan apapun. Kemudian saat bahu Hyo In bergetar dia sadar jika kesalahan besar telah dibuatnya malam ini. Dia menyakiti Hyo In. Sungguh perbuatan yang tidak bisa dimaafkan sampai dia menghukum dirinya sendiri sesampainya di rumah. Saat itu setelah merenung selama berjam-jam di kursi depan rumah pantainya, alih-alih menikmati bintang Kyuhyun merutuki dirinya sendiri. Sesulit itukah memenangkan hati seorang gadis padahal di Seoul dia mendapatkan perhatian mereka tanpa berusaha sama sekali. Mungkinkah dia hanya merasa tertantang saat melihat gadis itu terbirit meninggalkannya.

***

BAB 4

Seharusnya Kyuhyun tahu dan segera pergi begitu tahu Hyo In takut padanya. Tapi tidak, dia tidak akan menyerah begitu saja karena yakin Hyo In juga menginginkannya. Dia pasti bisa membuka mata dan hati gadis itu untuk menyerah dan berlari padanya. Menerima uluran tangannya. Kyuhyun akan membuatnya bahagia. Namun kenyataan malam ini kembali menyetaknya. Justru sikap itu yang membuat Hyo In tak nyaman. Padahal setelah bersama-sama beberapa hari ini gadis itu tak sependiam saat pertama kali mereka bertemu.

Tak tahu apa yang harus dilakukannya, pada jam sebelas malam Kyuhyun nekat menyiapkan segala keperluan makan siang besok bersama keluarga Hyo In. Mengikat dua sisi kain ke pohon kelapa di depan rumahnya dan mendirikan dua tiang untuk mengikat sisi yang lain kemudian menyiapkan pemanggang. Mengangkati dua bangku kayu dan mengalami kesulitan saat mengangkat meja kayu panjang yang lumayan berat dari gudang samping rumahnya ke halaman. Dia kembali ke dalam rumah untuk mengambil sebotol air mineral dingin, sebuah bantal, dan selimut. Awalnya Kyuhyun berniat hanya akan beristirahat tanpa tidur namun pada akhirnya dia malah berakhir terbaring di atas meja dan terlelap dengan pikiran terakhir tentang bagaimana dia harus bersikap saat bertemu dengan Hyo In besok.

Keesokan harinya pada pukul sepuluh pagi saat kebaktian masih berlangsung pikiran Hyo In tak pernah lari dari Kyuhyun. Tentang betapa buruk dia memperlakukan pria itu semalam dan bagaimana harus bersikap saat mereka bertemu makan siang nanti. Hyo In selalu menoleh setiap kali terdengar suara langkah kaki dari pintu dan hanya mendapati Ibu Kyuhyun di sana. Injilnya terbuka, tapi tak ada satu kata pun yang dibaca. Ceramah dari pastur tak begitu dia perhatikan bahkan ketika Kakeknya berdiri dan bernyanyi kembali bersama kelompok paduan suaranya Hyo In justru terdiam di tengah para jemaat.

Hal ini berlangsung sampai acara kebaktian selesai. Hyo In memilih berjalan pulang lebih dulu, mengabaikan gerutuan Kakeknya tentang kelompok paduan suara mereka yang kekurangan penyanyi solo karena sakit dan Neneknya hanya menanggapi dengan kalimat pendek menenangkan.

Setibanya di rumah, mereka bersiap-siap menuju rumah Kyuhyun. Setelah mendapat instruksi sinngkat dari Ibu Kyuhyun tadi, Kakek dan Neneknya terlihat lebih bersemangat. Kakeknya bahkan sudah memesan tiga ekor ikan berukuran besar sementara Nenek membawa sedikitnya dua rantang yang entah berisi makanan apa karena Hyo In tak bisa memedulikannya. Dia bingung bagaimana harus bersikap ketika bertemu Kyuhyun. Apakah harus tersenyum seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka atau justru semakin diam dan membiarakan masalah itu larut dengan sendirinya.

Sepuluh menit kemudian mereka sampai di bagian pesisir timur pantai, di sana hanya ada dua rumah yaitu rumah bercat putih berbentuk seperti sangkar burung dara dengan teras yang penuh hiasan berbagai macam kaktus kemudian sebuah bangunan kosong yang masih terawat baik, kemungkinan pemiliknya masih berada di kota. Mereka belum sampai masuk ke rumah tapi teriakan Kyuhyun membawa mereka langsung ke halaman yang sudah dipersiapkan dengan rapi untuk acara makan siang. Saling berpelukan seolah satu keluarga yang baru saja bertemu kembali setelah lama terpisah. Namun saat berada di depan Kyuhyun, Hyo In hanya membungkuk memberi salam, begitu pun dengan pria itu. Suasana kikuk itu tak ayal membuat para orang tua terkikik sementara mereka segera mengambil tugas masing-masing.

Kakeknya dengan semangat menghampiri Kyuhyun yang sedang memanggang kepiting seraya menenteng ikannya. Ibu Kyuhyun menyiapkan piring dan peralatan makan yang diperlukan, Nenek mengeluarkan kimchi buatannya sendiri dan ramyun kuah dingin, sementara Hyo In menyibukkan diri menyiapkan jagung rebus dan menumbuk kentang. Sesekali mencuri pandang ke arah Kyuhyun yang sedang asyik bercengkerama dengan kakeknya. Angin sibuk mengobrak-abrik rambut cokelat yang sekarang semakin panjang itu kemudian melanjutkan pekerjaannya sebelum pria itu memergokinya.

Kyuhyun juga melakukan hal yang sama ketika berbalik untuk memindahlan kepiting dan ikan yang sudah matang di wadah yang sudah disediakan tanpa sepengetahuan Hyo In. Dia selalu tersenyum melihat wajah serius Hyo In saat menumbuk kentang sementara angin memainkan helaian rambutnya yang keluar dari ikatan.

Dua peristiwa itu terjadi secara bergantian tanpa ada yang tahu, termasuk mereka berdua.

Begitu semua sudah siap, Hyo In duduk di antara Ibu Kyuhyun dan neneknya sementara para pria duduk di hadapan mereka. Terkadang lebih sibuk mengobrol sampai makanan mereka terabaikan.

“Apa yang kaulakukan di Seoul, nak?”

“Aku mengambil alih usaha properti keluarga setelah memutuskan keluar dari universitas begitu Ayah meninggal. Cukup menyibukkan tapi untung Ibu banyak membantu,” ucap Kyuhyun bangga kemudian melahap kentangnya.

Tidak ada yang bereaksi berlebihan kali ini. sekarang mereka bisa menerimanya sebagai kejadian yang memang harus dilalui di masa lalu.

“Jadi, kau sempat berkuliah,” tebak Kakek Hyo In.

“Ya. Aku lulus saat Ayah mulai sakit-sakitan dan menjadi asisten dosen selama lima tahun di tempatku kuliah dulu.”

“Di mana?” Tanya Nenek semangat.

“Kyunghee.”

Nenek Hyo In tiba-tiba memekik senang. “Bukankah Hyo In kita akan ke sana juga tahun depan?”

“Nenek, itu belum pasti.”

Neneknya malah mendengus. “Diam kau!” kemudian menoleh pada Kyuhyun. “Jurusan apa?”

“Sastra, tapi aku mengambil konsentrasi filsafat.”

Neneknya memekik lagi sampai-sampai ibu kyuhyun tertawa melihatnya.

“Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal, hum? Cucuku juga akan ke sana. Benarkan, Sayang?”

Hyo In tak bisa menjawab kecuali dengan anggukan kemudian langsung mendongak menatap Kyuhyun yang ternyata sudah memerhatikannya lebih dulu. Tidak tahu siapa yang memulai, mereka hanya tersenyum satu sama lain tanpa suara dan melanjutkan makan siang itu sampai habis.

“Oh ya, kenapa kau tidak ke gereja tadi pagi? Kautau, kami kekurangan anggota. Bagaimana kalau kau bergabung dengan kami. Latihannya hanya hari Senin dan Rabu saja. Kupastikan tidak akan mengganggu liburanmu. Daripada terus merecoki cucuku di kebun setiap hari. Lebih baik lakukan sesuatu yang lebih berguna. Kaumau, kan?” Kata kakek pada Kyuhyun tanpa jeda.

Kyuhyun terhenyak, mengalihkan perhatiannya dari gadis di depannya. Hyo In melihat itu dan menahan tawa begitu Kyuhyun tergagap tak bisa menolak.

Dua jam kemudian semuanya sudah beres. Piring dan gelas bersih, meja dan kursi tertata rapi, dan para orang tua menghabiskan waktu mendengar music tahun ‘60-an dari koleksi piringan hitam koleksi mendiang Ayah Kyuhyun. Sementara itu Kyuhyun dan Hyo In sekarang sudah duduk di atas selimut piknik di bawah pohon seratus meter dari rumahnya. Menikmati suara ombak yang tak terlalu kerasa seperti biasanya karena sedang surut. Tanpa ada satu pun yang mengucapkan kata. Sepertinya ini mulai menjadi kebiasaan mereka.

Mungkin memang alasan tersendiri untuk menciptakan keheningan itu. Kyuhyun lebih menyukai suasana ini karena ingin menikmati kehadiran Hyo In, menunggunya sampai gadis itu benar-benar siap menerimanya kembali. Sudah cukup kejadian semalam. Dia tak mau melihat Hyo In menangis lagi karena merasa ditekan olehnya. Lagipula dia tak mau menyalahartikan senyum Hyo In di meja makan tadi sebagai sesuatu yang baik, meskipun dia yakin itu bukan pertanda buruk.

Hyo In sendiri berpikir bahwa berada di sini terasa lebih menyenangkan daripada semalam. Bukan berarti semalam dia tidak menikmatinya. Kyuhyun terlihat lebih memesona daripada sebelumnya. Dia hanya ingin menikmati kelegaan yang merasukinya sejak makan siang berlangsung. Sebelumnya Kakek dan Nenek belum pernah berkata dengan begitu yakin tentang keberangkatannya ke Seoul untuk meneruskan sekolah. Dia pernah kecewa pada orangtuanya sendiri sampai-sampai mempercayai orang yang sudah merawatnya sejak kecil pun terasa sulit karena itu Hyo In tak ingin berharap banyak mengenai kemungkinan itu. Dia hanya akan berusaha sebisanya—yang terbaik darinya—jika memang hal itu sudah pasti.

“Aku suka bunga hyacinth.”

Kyuhyun mengernyit. Menoleh pada Hyo In, menatapnya dengan heran saat menyadari itu memang suara Hyo In dan bukan angan-angannya semata. Gadis itu bahkan tersenyum padanya. Sangat manis.

“Bunganya sangat cantik. Berwarna-warni. Sayang mereka mekar di musim semi saja. Aku tahu bunga itu setelah membaca sebuah novel. Tokoh utamanya diberi nama Hyacinth karena Ayahnya menyukai bunga itu. Setelah tahu ternyata bunga itu sangat indah, aku memutuskan untuk menyukainya juga.”

Gadis itu begitu menawan meski rambutnya berantakan. Kyuhyun tertawa pelan seraya mencoba memahami maksud Hyo In mengatakan hal pribadi padanya. Baru kali ini dia mendengar Hyo In menceritakan kesukaannya.

“Jadi, apa maksudmu mengatakan semua ini padaku?” goda Kyuhyun.

Hyo In mendengus kesal. Kyuhyun menyeringai.

“Tentu saja aku ingin tahu alasanmu kenapa kau menyembunyikan itu.”

“Apa?” Tanyanya meniru gaya Hyo In saat pura-pura tidak tahu.

Hyo In meninju pelan lutut Kyuhyun. “Kau menjebakku dengan tebakan konyol itu.” Wajahnya semakin merona.

Kyuhyun tertawa mendengar keterusterangan Hyo In. “Aku tidak melakukannya.”

“Ya, kau menjebakku,” katanya seraya mengipasi wajahnya sendiri. “Ya Tuhan, aku pasti terlihat seperti orang bodoh.” Kemudian mengubur wajah ke lututnya seolah itu bisa membawanya pergi jauh dari Kyuhyun agar tak harus menahan malu lebih lama lagi.

Kuhyun terbahak. Suaranya terdengar begitu puas. Tangannya refleks mengelus puncak kepala Hyo In kemudian menariknya pelan, membenamkan wajah Hyo In dalam pelukannya.

Seperti dugaannya, Hyo In tidak menolak sama sekali. Gadis itu bahkan melingkarkan lengannya ke sekeliling pinggang Kyuhyun, mencari posisi ternyaman. Matanya tertutup menikmati kecupan-kecupan Kyuhyun di puncak kepalanya. Mendengarkan debar jantung mereka yang seirama. Merasa nyaman dengan usapan lembut tangan besar Kyuhyun di lengan atasnya.

“Maafkan,” kata Hyo In lirih. Lalu semakin membenamkan wajah ke dada Kyuhyun. Menghirup aroma yang membuatnya hangat dan nyaman.

“Aku ingin bersamamu.” Kyuhyun berkata di sela kecupannya. Kemudian mengeratkan pelukannya.

Hyo In mengangguk. Dia juga menginginkan Kyuhyun.

Kyuhyun bahagia. Dia tidak menyangka gadis ini bisa menyerah padanya. Semalam terasa sangat berat dan sepertinya mustahil untuk memasuki hatinya. Tapi diam-diam dia memang sudah berada di dalam hati dan pikiran Hyo In, hanya saja gadis itu belum mau mengakuinya.

“Aku pernah sakit hati. Bukan olehmu, tapi orangtuaku sendiri.”

Suara Hyo In menyimpan kepedihan yang teramat dalam.

Kyuhyun melepas pelukannya. menangkup wajahnya dan menatap Hyo In penuh harap. Menghapus air mata yang mengalir begitu saja di pipinya. “Aku takkan menyakitimu lagi.”

“Mereka meninggalkanku tanpa alasan. Mereka pergi begitu saja.” Air matanya mengalir semakin deras. “Mereka tidak menginginkanku.”

“Dan kautakut aku akan meninggalkanmu dengan cara yang sama?” Tebak Kyuhyun.

Hyo In mengangguk.

“Itu tidak akan pernah terjadi. Aku bukan mereka dan aku menginginkanmu. Percaya padaku.”

Hyo In tersenyum seraya mengusap tangan Kyuhyun yang berada di wajahnya. “Jangan katakan itu. Aku tahu bagaimana hati seseorang bisa mudah berubah.”

Aku sendiri contohnya. Batin Hyo In.

Ya, Kyuhyun memang sudah melunakkan hatinya dalam waktu yang sangat singkat.

“Kau takkan pernah bisa menghentikanku melakukan apapun untukmu.” Suara Kyuhyun bergetar. Matanya menatap Hyo In tajam. Mengaskan kata-katanya. “Bersama atau tidak, percayalah padaku. Katakan apapun yang ingin kaukatakan. Aku akan selalu mendengarnya. Asal jangan menangis lagi. Jangan pergi dariku lagi. Kumohon.”

Kyuhyun sadar betul ketertarikannya pada Hyo In berawal hanya karena penasaran. Tapi perkembangannya benar-benar di luar dugaan. Dia menginginkan gadis itu. Hatinya sakit melihat Hyo In menangis. Dia sangat ingin membahagiakan gadis itu. karena dia mencintainya.

Hyo In tertunduk sebelum membalas tatapan Kyuhyun lagi. pria itu tak mau menerima jawabannya. Dia tertawa pelan. “Kau memang keras kepala.”

Kyuhyun medesah lega. “Aku hampir menyerah melihat penolakanmu, Nona Kecil. Kaupikir mudah mendapatkanmu, huh?” Kemudian memeluk Hyo In lagi. “Kau menyebalkan.”

Mereka tertawa. Setetes air mata keluar lagi dari ujung mata Hyo In. Dia tak pernah merasakan dekapan seposesif ini kecuali dari Kakek-Neneknya. Dan sekarang Kyuhyun memberikan apa yang menjadi harapannya pada orang lain.

“Kau akan kembali ke Seoul. Aku tahu di sana pasti—“

“Tidak. Kau tidak tahu apa-apa. Aku pun begitu. Kita nikmati saja semuanya.” Kyuhyun memaksa. Kali ini dia benar-benar memaksa. Anehnya, Hyo In tak merasa tertekan dengan itu. Dia malah menyukainya.

“Dengar, aku mau kau selalu bersamaku. Jangan mendiamkanku lagi. Makan siang keluarga di rumahku setiap hari minggu setelah kebaktian. Dan aku mau kau menemaniku latihan paduan suara. Kau bisa berangkat bersama Kakek dan kita bisa berkencan setelahnya. Bagaimana?”

Hyo In mendongak. Mencebekkan bibir mendengar permintaan Kyuhyun yang begitu banyak. Namun akhirnya menyerah saat melihat senyum Kyuhyun. Wajahnya tak mengindikasikan permintaan itu bisa ditawar lagi. Jadi Hyo In pun mengiyakan semua keinginan Kyuhyun karena dia juga tak ingin pergi dari pria itu.

***

BAB 5

Maka, dengan begitulah hari-hari berjalan. Seperti yang diinginkan Kyuhyun. Setiap hari dia akan ke toko atau kebun melakukan apapun yang diinginkannya. Atau setiap hari Senin dan Rabu Hyo In selalu menemani Kyuhyun berlatih paduan suara di gereja bersama Kakek dan teman-temannya. Sebenarnya Kyuhyun lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menggoda Hyo In sampai gadis itu kebal dengan selorohan dan kelakarannya. Wajah gadis itu masih merona tapi bukan karena kejahilan Kyuhyun seperti menatapi Hyo In terus menerus atau dengan alasan diajari merangkai bunga tapi jam-jam itu dihabiskan hanya dengan memegangi tangan Hyo In, melainkan karena dia bahagia. Baru kali ini ada pria yang tidak menginginkan sesuatu, keculai dirinya. Dan Hyo In menyanggupi itu.

Hyo In hanya akan duduk di kursi jemaat, memerhatikannya melantunkan lagu-lagu rohani menyejukkan hati kemudian mereka akan pergi ke pantai tak jauh dari rumah Kyuhyun. Sekedar menghabiskan waktu berdua, kadang hanya tertidur sampai sore, bermain uno, dan melakukan permainan-permainan semasa kecil mereka, dan saat hari Minggu Kyuhyun akan menunggunya di kursi kelompok paduan suara. Hyo in tak lagi malas-malasan karena sejak Kyuhyun bergabung dia akan selalu berada di barisan depan. Mengagumi pria itu dan keagungan Tuhan. Berterima kasih pada-Nya karena telah mengirimkan Kyuhyun dalam kehidupannya yang sangat biasa.

Latihan Kyuhyun selama tiga minggu memang terbilang singkat. Hal ini dikarenakan waktu yang tersedia memang tidak cukup. Pada minggu pertama latihan dia hanya menjadi anggota, namun saat ini, di hari terakhirnya di Gyeongju dia menjadi penyanyi solo. Berdiri di sisi kiri paling depan grup, wajahnya terlihat lebih pucat, kontras sekali dengan kulitnya yang mulai kecokelatan akibat paparan sinar matahari musim panas.

Dia bernyanyi dengan cukup bagus untuk ukuran penyanyi amatir yang hanya berlatih selama tiga minggu. Semua jemaat menikmati alunan indah suara Kyuhyun, begitu pun Hyo In. Gadis itu tertegun selama Kyuhyun bernyanyi. Mata Kyuhyun terus tertutup sejak dia mulai menyanyi. Sampai pada akhir bagiannya, semua suara anggota berpadu dalam harmoni mendamaikan hati.

Kebaktian berakhir dengan ocehan-ocehan membosankan Kyuhyun yang menyatakan dirinya sangat buruk saat bernyanyi.

“Suaraku pasti aneh.”

“Kau dengar, kan? Kakek sepertinya menertawakanku. Dan semua orang di sana.”

“Argh! Ini semua karena Kakekmu yang memaksaku.”

“Kalau dia tidak mengancam akan melarangku menemuimu aku tidak akan mau jadi penyanyi solo. Lagipula gereja baik-baik saja tanpa penyanyi solo dua minggu ini.”

Hyo In tertawa sepanjang jalan mendengar gerutuan tanpa henti itu. Menurutnya Kyuhyun menjadi sangat manis saat kesal dan tidak percaya diri. Mengingat betapa bersemangatnya pria itu mendekatinya setelah hari pertama mereka bertemu di toko. Sesekali dia hanya akan menepuk pelan bahu Kyuhyun dan dibalas dengan rengekan panjang pria itu. Rambut Kyuhyun sudah berantakan karena diacak-acak sendiri.

“Suaramu bagus. Itu suara terindah yang pernah kudengar.”

Hyo In merasa perlu mengatakan itu. bukan karena sekedar memuji tapi memang dia sangat menyukai suara Kyuhyun.

Kyuhyun tertegun sesaat kemudian menyeringai seraya menyentik dagu Hyo In. “Kautahu, ini pertama kalinya kau memujiku selama kita berkencan.”

“Benarkah?” nada tak acuhnya kembali.

Kyuhyun mendecak kesal. “Ya, kau selalu memanggilku dengan sebutan aneh. Penggerutu, manja, cerewet—“

“Kenyataannya memang seperti itu,” sergah Hyo In.

“Hei!!!”

Hyo In tertawa sebelum memegang tangan Kyuhyun yang berada di atas setir sepeda kemudian maju untuk mengecup pipi kiri Kyuhyun.

“Pulanglah. Kami akan sampai di rumahmu setengah jam lagi.”

Kali ini Kyuhyun hanya bisa terdiam memandangi Hyo In yang menjauhinya sampai gadis itu berbalik dan tersenyum padanya sebelum masuk ke dalam rumah. Dia tersadar beberapa menit setelahnya seraya memegangi bekas ciuman Hyo In kemudian menampar pipinya sendiri dan memekik kesakitan.

Dia tidak bermimpi.

Gadis itu benar-benar menciumnya.

Tiga puluh menit—yang terasa tiga puluh tahun—penantian Kyuhyun dihabiskan hanya melamun di meja tempat mereka biasa menghabiskan makan siang keluarga. Tersenyum-senyum seperti orang gila sampai tak mendengar panggilan Ibunya. Dia begitu bahagia. Seperti mendapat lotre seratus juta won, bahkan lebih. Rasanya takkan ada nominal yang bisa menggantikan nilai kebersamaannya bersama Hyo In. Gadisnya.

Akhirnya pada pukul setengah dua belas siang mereka berkumpul. Ini adalah makan siang ketiga mereka duduk sebagai pasangan kekasih. Kadang Kyuhyun tak segan menyuapi Hyo In meskipun pada awalnya selalu ditolak tapi untuk hari ini Hyo In menjadi kucing manis yang sangat ingin Kyuhyun cium dan dia bawa pulang ke Seoul. Dia pasti akan menjaganya dengan sangat baik.

“Jadi kapan keberangkatan kalian?” tanya Nenek.

“Besok. Pekerjaan kami sudah menumpuk. Aku sangat yakin Kyuhyun harus bekerja keras begitu musim liburan selesai.” Kemudian menoleh ke arah Kyuhyun yang sedang memaksa Hyo In memakan kentang tumbuk sementara gadis itu berkeras tidak menyukainya dan memenuhi mulutnya sendiri dengan jagung. “Sepertinya mereka belum siap untuk itu. Kyuhyun butuh banyak pengalihan begitu sampai di sana atau akan terus merengek kembali ke sini,” lanjut Ibunya setengah tertawa setengah hati. Merasa berat meninggalkan kampung halaman suaminya dan memisahkan Kyuhyun dari kekasihnya.

Kakek dan Nenek juga nampak tak begitu bersemangat padahal biasanya saat seperti ini adalah saat yang paling menyenangkan. Keluarga mereka menjadi begitu dekat dengan mudah. Rasa kesepian mereka akan anak terobati oleh kehadiran Ibu Kyuhyun dan mereka juga bisa melihat perubahan sikap Hyo In setelah bertemu Kyuhyun. Semuanya menjadi lebih baik.

“Kami juga belum bisa mengirim Hyo In tahun ini. Masih butuh banyak persiapan secara finansial.”

Hyo In yang mendengarnya tercekat sesaat. “Tidak apa-apa, Kek. Aku masih bisa belajar lagi untuk ujian tahun depan. Tidak perlu terburu-buru. Iya ‘kan, Kyuhyun?”

Kyuhyun mengangguk setuju. “Aku masih bisa menelpon kalian semauku. Dan kalian juga masih bisa mengobrol dengan kami. Satu tahun bukan waktu yang lama.”

“Hei, Nak, aku ini juga seorang pria. Pernah muda. Aku tahu apa yang ada dipikiran pria seumuranmu saat jauh dari kekasihnya dan apa saja yang mungkin bisa terjadi dalam rentang waktu dua belas bulan.” Kakek memprotes.

Kyuhyun malah tertawa dan terdiam begitu mendapat cubitan di perut dari Hyo In. Dia berdeham sebelum berkata, “Aku sudah berjanji, Kek. Janji seorang pria.” Sambil mengangkat tangan seolah sedang mengambil sumpah.

“Kalau kau punya wanita lain sebaiknya segera kabari aku supaya waktuku tidak terbuang sia-sia untuk pria manja sepertimu.” Hyo In menyela dengan anda datar lalu melahap kimchi-nya.

“Apa kaubilang?!” Pekik Kyuhyun, melotot pada kekasihnya.

“Kakek, dia memelototiku,” adu Hyo In.

Mereka semua tertawa. Kecuali Kyuhyun.

“Kemari! Kita perlu bicara.”

Kyuhyun membungkuk sebelum menyeret Hyo In ke tempat mereka biasa menghabiskan waktu.

“Kau mau mengajakku bertengkar di hari terakhirku di sini.”

“Apa?” Tampang andalan Hyo In muncul lagi. Dia selalu pura-pura tidak tahu.

Kyuhyun mendengus. Kedua tangannya sudah terlipat di bawah dada. Dia tidak marah, hanya ingin menggoda. “Kau mengataiku pria manja.”

“Aku sudah sering mengatakan itu padamu.”

“Tapi jangan di depan Ibuku dan Kakek-Nenekmu,” rengek Kyuhyun.

“Benarkan. Kau pria manja, cerewet, dan suka merengek.” Hyo In mendecak kemudian menghela napas seolah terlalu lelah menghadapi sifat kekanakan Kyuhyun. Namun setelah itu tersenyum lebar.

Pada kenyataannya, mereka memang hanya saling menggoda. Pertengaran mereka yang sebenarnya justru lebih lengang dan dingin. Terjadi dua minggu lalu.

“Kemari!” perintah Kyuhyun.

Dengan senang hati Hyo In merangsek dalam pelukan Kyuhyun. menikmati debaran jantung mereka yang mengalahkan debur ombak dan kencangnya angin tak menggoyahkan pelukan itu sama sekali. Aroma asin dari laut semakin melekatkan ingatan akan tentang kebersamaan selama tiga minggu ini. Musim panas hampir berakhir. Udara mendingin menyusul kedatangan musim gugur namun di daerah pesisir seperti ini masih terasa lebih hangat.

“Aku tidak bisa mendapatkan wanita sepertimu di Seoul.”

Hyo In tertawa pelan. “Jangan begitu. Akan ada banyak hal yang terjadi sebelum aku bisa menyusulmu ke sana. Lagipula aku juga tidak yakin bisa masuk Kyunghee. Kualifikasinya kelihatan begitu sulit.” Suaranya merendah seiring kecupan hangat Kyuhyun di puncak kepalanya.

“Aku ingin melihat bunga kesukaanmu mekar.”

“Kau bisa mancarinya di Google. Sangat banyak,” kelakar Hyo In.

Namun tetap tak ada tawa. Hanya hembusan napas mereka yang mengisi keheningan. “Kau takkan bisa menghentikanku melakukan apapun untukmu.” Suara Kyuhyun mantap dan yakin. Pelukannya mengerat dari sebelumnya.

Hyo In mengangguk. Dia sangat paham akan hal itu.

“Aku hanya meminta dua hal darimu, setidaknya untuk saat ini dan jika bisa untuk beberapa bulan ke depan.”

“Apapun.”

“Hubungi aku saat kaubisa, kapanpun. Aku tidak akan berusaha menganggumu. Dan usahakan jangan memikirkan wanita lain selain aku.”

Kyuhyun tertawa lalu melepas pelukannya. Menarik kepala Hyo In dan menekan bibirnya di atas bibir gadis itu. Lama, seolah tak ingin dipisahan oleh waktu sekalipun. Mata Hyo In tertutup, menikmati kecupan pertama di bibirnya yang diberikan oleh pria pertama yang berhasil mengisi hatinya secara penuh. Bukankah ini keinginan semua wanita di dunia. Memang bukan tipe ciuman yang penuh napsu dan gairah tapi Hyo In lebih menyukai kecupan-kecupan ringan Kyuhyun. Terasa lebih manis dan lembut. Kyuhyun mengecupi bibirnya terlalu cepat sampai Hyo In meronta ingin dilepaskan.

“Tidak. Aku tidak mau berhenti.” Dan terus menciumi Hyo In sampai sebuah cubitan mendarat di perutnya—lagi.

Mereka tertawa lepas. Berpelukan lagi.

“Aku tidak mau mengantarmu besok.” Hyo In memecah keheningan. Kyuhyun mengiyakan tanpa berpikir panjang. Dia tahu apa yang akan terjadi jika Hyo In sampai melihatnya pergi. Sudah cukup dia melihat Hyo In menangis saat itu dan Kyuhyun tak mau membawa gadisnya dalam keadaan seperti itu lagi. Terlalu menyakitkan.

“Pasti. Jaga dirimu baik-baik. Jangan menoleh penyanyi solo yang lain di gereja.”

Hyo In terbahak. “Satu-satunya penyanyi solo gereja selain dirimu itu seorang kakek tua yang sudah punya delapan cucu.”

“Ya. Bisa dipastikan aku memang tak tergantikan.” Kyuhyun berucap bangga.

***

EPILOG

Pada akhirnya, Kyuhyun memang menepati semua janji itu pada Hyo In. Mereka terus berhubungan melalui telpon dan saling berkirim pesan saat keadaan tak memungkinkan untuk melakukan obrolan. Menumbuhkan kepercayaan gadis itu sedikit demi sedikit. Hyo In sadar apa yang dikatakan Kyuhyun memang benar. Jalani saja semuanya karena tak ada satu pun manusia yang tahu apa saja yang akan terjadi di masa depan. Dia ataupun Kyuhyun hanya bisa memberikan yang terbaik untuk satu sama lain.

Empat bulan setelah kepulangan Kyuhyun ke Seoul merupakan natal terindah. Hyo In dikejutkan dengan kehadiran Kyuhyun bersama Ibunya saat malam misa. Meski mereka hanya satu minggu berada di Gyeongju, Hyo In dan keluarganya merasa sangat bahagia. Rumahnya penuh dengan hiasan, kue jahe, dan alunan musik natal, dan malam itu begitu hangat meski badai salju melanda.

Pagi harinya Hyo In merajuk pada Kyuhyun untuk pertama kali. “Kau tidak membawa apapun untukku dari Seoul? Kejam sekali,” gerutunya.

Gadisnya berubah. Menjadi semakin nakal dan manis. Lagipula pria selalu punya banyak alasan untuk membuat wanitanya luluh. Kyuhyun tahu dirinya punya kemampuan lebih dalam hal itu. “Aku hanya memikirkanmu sebelum berangkat ke sini, Sayang. Tidak ada yang lain.”

Itu lebih baik daripada menjawab yang sebenarnya bahwa dia memang lupa. Hanya permainan kata. Lalu tidak ada satu menit kemudian, bisa dipastikan Hyo In luluh begitu saja.

Tiga bulan kemudian Kyuhyun datang lagi dengan alasan ingin melihat bunga hyacinth mekar. Membuat Hyo In marah besar karena pria itu harus mengorbankan jam kerjanya hanya untuk melihat bunga mekar. Ibu Kyuhyun juga menelpon Hyo In karena kehilangan kontak dengan Kyuhyun hampir sepuluh jam.

“Ponselku kehabisan baterai.” Itu alasan Kyuhyun.

Hyo In mendiamkannya hampir seharian penuh meski Kyuhyun berkeras akan menginap di rumahnya atau akan tidur di dalam greenhouse jika dia tak memperbolehkannya masuk. Mengabaikan Kyuhyun yang hanya duduk di kursi teras. Terkadang berbicara dengan kaktus di depannya mengenai betapa kolotnya Hyo In. Sesekali Kakek atau Nenek Hyo In menghampirinya hanya untuk mengobrol ringan atau mengantar makanan dan minuman sementara Hyo In benar-benar bersikap seolah mereka tak saling mengenal.

Malamnya, Hyo In tak bisa tidur karena memikirkan Kyuhyun. Pria itu pergi dari toko sore tadi. Meskipun berusaha tak acuh akan kehadirannya, sekarang dia malah berpikir bahwa sikapnya pada Kyuhyun terlalu keras.

Dia hanya ingin melihat hyacinth mekar bersamanya. Kyuhyun ingin melihat sesuatu yang disukainya menjadi cantik.

Pikiran-pikiran itu terus berputar di otaknya hingga pukul dua pagi Hyo In baru tertidur dan begitu bangun tiga jam kemudian yang diingatnya hanya hyacinth. Setelah bangun dan mempersiapkan peralatan untuk memindah bunga itu ke pot-pot kecil kemudian bergegas menuju greenhouse dan terbelalak tak percaya melihat Kyuhyun sudah ada di sana. Duduk di atas tanah tanpa alas. Kemeja dan celananya kusut tak beraturan. Kyuhyun duduk tepat di depan barisan bunga hyacinth. Tatapannya lurus dan berbinar saat melihat bunga itu.

Saat menyadari kehadiran orang lain di sana, Kyuhyun menoleh. Sesaat terperangah melihat Hyo In berdiri di ambang pintu. Wajahnya masih datar sekalipun saat dia tersenyum ketika menyapanya, “Hai, Cantik.” Napasnya kembali lesu saat Hyo In justru berbalik meninggalkannya dan Kyuhyun termenung lagi menikmati keindahan bunga itu.

Beberapa menit kemudian Hyo In kembali. Membawa selimut, dua bungkus roti dan sebotol air mineral. Kyuhyun pasrah menerima perlakuan Hyo In. Gadis itu menyelimutinya, kemudian duduk di depannya tanpa kata. Kyuhyun membuka kakinya tanpa diperintah sehingga Hyo In bisa melesak masuk, menempelkan punggungnya dengan dada Kyuhyun. refleks Kyuhyun menangkupkan tangannya lagi hingga Hyo In berada dalam pelukannya. Lalu menerima suapan demi suapan roti dengan hati berbunga.

“Kau benar. Aku memang kolot.”

Kyuhyun tertawa. Mengecup pelipis Hyo In seraya mengunyah rotinya.

“Kautahu, aku sangat mencintaimu.”

Hyo In mengangguk kemudian mengangsurkan air mineral. Setelah perutnya penuh, mereka hanya terdiam selama beberapa menit di sana sambil memandangi hamparan bunga.

“Kapan ujiannya?” Tiba-tiba Kyuhyun memecah keheningan.

“Musim gugur nanti.”

“Kalau begitu, musim panas nanti aku akan menjemputmu.”

“Untuk apa?”

“Ke Seoul, tentu saja.”

“Kubilang ujianku masih musim gugur nanti,” gerutu Hyo In.

“Kalau begitu habiskan musim panas di sana. Kau bisa tinggal di rumah Ibuku. Aku tidak akan memaksamu tinggal bersama di rumahku.”

Hyo In mendengus. Tawa Kyuhyun menyembur begitu saja. “Kakek dan Nenek bagaimana?”

“Aku sudah meminta ijin dan mereka mengiyakan.”

Hyo In mendongak. Mencebekkan bibir saat melihat senyum puas Kyuhyun. Ya, perkataannya memang benar. Hyo in takkan bisa menghentikan keinginan Kyuhyun untuknya. Apapun itu.

“Kau pemaksa sekali.”

“Karena aku tak bisa jauh darimu terlalu lama.” Kyuhyun menyeringai.

 

~END~

1: Tokoh utama pria drama Korea Descendants of the Sun

 

NB: Mohon kritik dan saran yang membangun ya dari readers. Semoga berkenan dengan ceritanya ^^

 

18 thoughts on “[Novella] My Thoughts, Your Memories

  1. Huwa.. Kyuhyun lumayan agak romantisan nih disini.. aku suka :”v
    Hyo In baru ditinggal beberapa bulan aja sikap nya udah beda.. makin manja -maybe…

    Ha~ akhirnya pasangan Kyu-In post juga.. Aku masih penasaran.. Ortu Hyo In ninggalin Hyo In dgn cara kyk apaan sih? kok Hyo In berasa trauma banget gtu?

    semangat kak^^

  2. first mau k0men kalo ffmu slalu manis , dan kyuhyun sgt manis , jd bkin iri sama hyo in karena slalu d bkin melty , klimat2nya jg udah bgus , y iyalah ka amalia kan sering bc bku eak. . . Btw, wkt crita yg d kasir kyaknya ka amalia terinspirasi sama iklan coca cola yah ;-D aku bngung mau komen apa ,udah bgus. . . Ka , coba dh buat karakter kyu yg jahat dan garang gtu, kan slama ini kaka buatnya kyuhyun yg manis terus ;-D btw. . Smangat ya ka ,d tnggu next story. . .

    • Coba baca Snow White and the Evilman ya. Aku coba bikim karakter Kyu beda di situ. Semoga berhasil. Wkwkw. Betewe makasih banyak ya buat masukannya. Semoga ke depan tulisanku makin baik. Amin ^^

  3. entah knapa critamu slalu manis, pngen dh kaka buat crita yg kyuhyunya jahat dan garang gt hehe pasti asik , btw ka critanya terlalu manis dan bkin aku iri sama hyo in , aku slalu suka critamu ka amalia, slalu apik ajah. . .smangat ya ka,d tnggu next story.,

  4. g tau mau kritik tentang apa, tapi ceritanya bagus romantis banget. konfliknya juga terlalu berat… suka banget ceritanya, bikin senyum terus walau agak nyesek dikit waktu baca bagian akhir2 bab 3…
    ditunggu cerita2 yang lain🙂
    semangat😀

  5. wah keren banget kak, aku suka karakter kyuhyun🙂
    mereka romantis so sweet:D
    oh ya kaka ditunggu next part snow white nya:)fighting

  6. Kenapa Mereka (Kyuhyun-Hyoin) selalu Manis ?? :*

    Ahhh,,,
    Jadi iri -,-

    Eonni,Lanjut lagi dong sampe mereka nikah terus hamil dan melahirkan😀
    Mungkin Oneshoot lagi gitu :v

  7. bagus banget,daebak…suka sama karakter kyu disini,dewasa tapi gay pacarannya kaya remaja.malu2 ,tapi malah asyik. emang berasa baca novel sih,bukan baca ff. lebih gimana y? susah mo diungkapin lewat kata2,yg jelas keren…

  8. Asli ikut baper lohhh🙂
    Romantis banget kyuhyun 😍
    Pingin ada lanjutannya yg ada konflik serius nya kayanya seruuu ☺☺
    Di tungggu ya😉
    Udh lama ga mampir ke blog ini 😘

  9. Manis manis manis.. Seperti permen kapas yang lembut dan manis… Wkkw *apaan sih* haha. Tapi beneran Kyu di sini.. Astaga.. Bikin meleleh.

  10. huwwaaa.. kerenn bangett… ngga ada kritikannya, cma Ada bbrapa typo, tp jg ngga ngaruh koo… kata2.nya indah, enak d.baca juga… baru kali ini baca ff per bab tapi puas bgt baca.nya… alurnya cepet tp ngga ngerasa cepet klo pas lg d.baca… suka sma cara kyuhyun deketin hyo in… suka sma stiap tahap kedeketan mereka… ngga buru2 tp bner2 smpe sadar sama perasaan mrek masing2… pkoknya indah bgt author.nim 😍😍 suka bangett…
    bener2 udah end kah?? smoga ada next story mreka… cerita mreka pas hyo in udh k.seoul, konflik2 mereka nanti kya apa.. waaa penasaran…
    fighting trus authornim… d.tunggu next story.nya 😉😀😀😉

  11. Reset masih tak tergantikan🙂
    Kali ini ceritanya terlalu biasa. Baik tema, alur atau penokohannya. Tapi diksinya lumayan bagus. Cukup indah tapi tetap ‘easy reading’. Tak sabar menunggu karyamu yang lain🙂

  12. Bagus kak >< mereka disini manis banget, suka dgn tiap moment nya❤
    Dilanjut dong ini kak, ini menarik🙂 penulisan n penjabaran tiap moment nya bagus, seperti novel novelnovel🙂

  13. Beruntungnya hyo in. Jadi baper bacanya. Baru kenal udah menemukan pria yg setia dalam waktu singkat. Ahh kyuhyun terlalu manis. Membuat saya envy melihat hyo in. 😝😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s