[Chapter] At Gwanghwamun Bagian 5

At Gwanghwamun
Cho Kyuhyun (SJ)/Song Hyo In (OC)

Happy reading!!! ^^

11180317_949635291726786_8055858873775907172_n

Bagian 5

HYO IN

Drag Me Up and Down

Ada sesuatu yang aneh dalam diriku. Bukan untuk kali pertama sebenarnya. Sesak, merinding karena takut, dan sangat dingin. Jantungku berdetak lebih cepat dari jarum jam sampai napas ini terengah dan harus beberapa kali menarik udara pelan dan dalam kemudian menembuskannya keluar perlahan sekedar untuk menenangkan sesuatu yang meresahkan sementara menyelidiki apa yang tengah kurasakan.

“Ada apa denganku?” Pertanyaan ini sudah berputar di otak selama hampir seharian. Satu-satunya hal yang bisa membuatku lupa dengan perasaan itu adalah ketika masuk ke kelas dan memberi materi pada siswa-siswaku. Namun, semua kembali seperti sejak aku berangkat tidur atau ketika terbangun. Perasaan sama dan tak pernah kuharapkan datang lebih dari satu kali. Atau mungkin jangan pernah sama sekali.

“Kopi.”

Ruang guru sangat sepi. Hanya tinggal kami berdua karena yang lain pergi makan siang. Hyukjae membuyarkan lamunanku begitu dasar cangkir panas itu mendarat di punggung tanganku. Meski merengut aku tetap menyambut cangkir darinya. Kopi tidak terlalu buruk.

“Sedang memikirkan aku ya?”

Aku mendengus. Hyukjae jarang bisa memulai percakapan tanpa membuat orang kesal atau mengernyit aneh padanya. Dia sangat buruk dalam hal itu sejak kecil. Dan aku senang kali ini otaknya bekerja lebih baik dari sebelumnya. Mungkin karena perutnya sudah terisi penuh dengan menu makan siang.

“Andai saja kau seindah bayangkanku.” Kuhela napas panjang kemudian menyandarkan punggung di sandaran kursi setelah menaruh cangkir ke meja. Mendongak dan mengusap wajahku dengan telapak tangan.

“Aku pria yang ‘indah’. Banyak murid perempuan memuja ketampanan dan kecerdasanku.”

Bibirku tertarik ke atas dari balik telapan tangan. Teringat cacian bocah labil di beberapa akun SNS-ku. Mereka semua meneriakkan hal yang sama, “Jauhi Lee Songsaeng!!!”. Dasar anak-anak.

“Kalau saja mereka tahu seperti apa dirimu sebenarnya, aku yakin mereka akan lebih memilih menutup akun dan menghilang dari dunia maya selamanya lalu berlutut di kakiku sambil menjilat ludah mereka sendiri.”

Hyukjae tertawa terlalu keras. “Ayolah, Kelinci. Mereka hanya anak kecil. Tidak perlu menyimpan dendam.”

Dia memanggilku seperti itu hanya untuk membuatku kesal. Dimulai sejak kejadian lima belas tahun lalu ketika kami masih kelas lima SD saat bermain drama di kelas dan aku tidak bisa berjalan karena kostum kelinciku yang kebesaran. `

Wajahku terangkat lagi hanya untuk memberinya senyum masam. “Sedikit pun tak pernah terlintas dalam pikiranku,” kemudian menyesap kopi, “dan jangan pernah memanggilku Kelinci. Memalukan.”

“Ouch! Aku masih melihat telingamu sering menjuntai terlalu panjang. Sampai dada, mungkin?” Hyukjae merunduk. Matanya bahkan sampai menyipit saat memerhatikan bagian depan tubuhku yang lebih paling menonjol—bukan perut—dan hal itu sukses melayangkan tiga buah novel Jane Austen mendarat di kepalanya. Kurasa anjing pun akan pingsan seketika saat menerima pukulan itu.

“Kau masih bernafsu melihatku, huh?!!! Dasar mesum. Aku akan melaporkanmu ke polisi!!!” Teriakku hingga terengah.

“Ya Tuhan, aku akan mati. Selamatkan aku dari neraka,” rintihnya seraya memegangi kepala.

“Tuhan tidak akan pernah mau menolong pria kurang ajar sepertimu,” sanggahku cepat. Masih dengan emosi melonjak-lonjak.

Kepala Hyukjae mendongak dan sekarang gantian wajahnya yang berubah masam saat menatapku. “Tuhan itu baik. Tidak sepertimu. Dasar monster telinga panjang.”

“Karena aku memang bukan Tuhan. Dan terkutukah dirimu jika aku seperti itu. Jangan pernah berharap pintu surga terbuka untukmu,” ancamku keras.

Air muka Hyukjae semakin tidak enak dilihat. Antara cemberut kekanakan dan manja ingin dibelai tapi sayangnya wajah itu tak menunjukkan keimutan sama sekali. Cenderung menjijikkan.

“Tapi aku ke gereja setiap minggu.” Masih kuat membela diri rupanya.

“Seingatku kemarin kau tidak ke sana.”

“Itu karena kau.”

“Kenapa jadi aku? Oh, jangan lupa kalau kau suka sekali bercinta dengan kekasihmu padahal kalian belum menikah. Ya Tuhan, berkatilah gadis malang itu.”

“Seperti kau belum pernah bercinta saja dengan kekasihmu.”

“Kenyataannya memang belum,” aku merunduk. Wajahku berhenti tepat di depan wajahnya hingga hidung kami hampir menempel. “Dan jangan pernah berharap aku akan melakukannya sebelum mendapat berkat dari gereja.”

Hyukjae mendecak kemudian memencet hidungku lebih keras dari yang biasanya dia lakukan. “Kolot sekali. Persis Ayahmu. Aku bertaruh kau akan membelikanku makan siang selama satu tahun jika kau sampai bercinta sebelum gereja memberkati kalian. Siapa nama kekasihmu kemarin, Kyuhyun ‘kan?”

Aku mundur. Tiba-tiba merasakan sesuatu mencelos dari dalam sana. Tepatnya di mana aku merasakan sakit selama beberapa jam terakhir.

“Dia bukan kekasihku dan kami tidak-akan-pernah-bercinta,” kataku pelan dan dingin. Berusaha menahan getaran yang timbul jika aku berkata dengan keras dan cepat seperti sebelumnya. “Selamanya.”

Lalu hening sampai beberapa detik.

“Kau diam. Kenapa dengan Kyuhyun itu?”

Nama itu terdengar begitu … salah. Tidak tepat mungkin.

Oh, Hyukjae memang konyol. Tapi dia selalu tahu apa yang sedang kurasakan. Sial!

Napasku berembus kasar begitu saja tanpa bisa dikendalikan seperti ombak yang hanya pasrah ke mana pun angin membawanya. Semakin kencang, semakin besar, dan menyapu apapun yang menghalangi jalan mereka. Andai aku bisa mengamuk seperti ombak itu. Beruntungnya, harga diriku begitu kuat menahanku melakukan tindakan gila yang sebenarnya tidak perlu.

“Bukan apa-apa,” jawabku lemah.

“Wajah dan tindakanmu dari tadi mengatakan yang sebaliknya.”

Hanya hembusan napas yang kuberikan padanya. Bukan kehabisan kata. Aku hanya tidak tahu bahasa yang tepat untuk menggambarkan apa yang kurasakan sekarang. Kemudian tanpa kusadari setetes air hangat jatuh dari mataku begitu saja saat Hyukjae memelukku dari samping.

“Katakan padaku, apa perlu dia merasakan kepalan tanganku yang keras? Aku bisa saja melakukannya sekarang jika kau mau.” Sebelah tangannya mengusap pelan punggungku seperti belaian bulu angsa yang kelewat ringan. Anehnya aku menggeleng meskipun sangat menginginkan hal itu dan terisak semakin keras. Suaraku sedikit teredam karena aku sengaja membungkam mulutku sendiri.

Hyukjae mendecak kesal. “Ya Tuhan, si Kyuhyun itu. Sebenarnya apa yang dia lakukan padamu?”

“D-Dia meninggalkanku sendirian.” Tangisku pecah lagi. Kenyataannya memang hal itulah yang membebaniku. Bukan bermaksud menyalahkan Kyuhyun, tapi setidaknya jangan meninggalkanku dengan cara seperti itu. Dia membuatku terlihat seperti orang bodoh kemarin.

“A-aku tidak tahu a-apa k-ke-kesalahanku. Seharusnya bilang saja k-kalau … Hyukjaeee aku benci pria itu!!!” Lalu napasku tercekat dan terisak lagi. Kurasa lelehannya sudah memenuhi wajahku dan melunturkan bedak yang menempel. Aku menyerah. Tidak sanggup lagi melanjutkan kalimat itu. Semuanya terasa semakin menyakitkan ketika terucap.

Hyukjae menepuk puncak kepalaku beberapa kali sebelum meregangkan pelukannya dan mengangkat wajahku. Menghapus jejak air mata yang belum sempat mengering. “Kau ada jam mengajar setelah ini?” Tanyanya pelan.

“T-tidak.” Kemudian terisak lagi. Ketika mengingat Kyuhyun aku mengerang karena marah dan merasa seperti orang bodoh berkali-kali saat berpikir jika saja kemarin aku tidak menunggunya selama itu dan percaya dia akan kembali.

Sebenarnya apa yang ada di otakku kemarin?

“Aku benci Kyuhyun. Dia jahat. Dia pembohong. Ya Tuhan, kenapa ada pria seperti itu?” Kalimat ini keluar lebih lancar dari sebelumnya. Aku merengut saat melihat Hyukjae malah tersenyum. “Kau senang aku disakiti pria lagi, huh?!” Ketusku.

Hyukjae hanya mengedikkan bahu. “Jadi benar dia kekasihmu dan kalian sedang bertengkar?” Alisnya terangkat sebelah, menggoda.

“Argh!!! Kau menyebalkan. Sama saja dengan kyu—“

“Waaah, teringat Kyuhyun lagi.” Hyukjae mendecak. Menatapku lekat. Kepalanya menggeleng heran seolah baru saja mengetahui duduk permasalahanku dengan pria lemari es itu, kemudian tawanya mengeras. Terdengar puas dan bangga karena berhasil membuatku malu. Ya, kuakui pipiku memanas. Lebih panas daripada mataku yang sejak tadi mengeluarkan tetesan-tetesan hangat.

Aku lebih membenci Kyuhyun dari sebelumnya. Dia seperti kumpulan setan-setan kecil yang bersatu membentuk tubuh baru, memiliki kekuatan lebih dahsyat, kemudian menghancurkan segala sesuatunya dalam sekejab. Penampakannya yang tanpa tanduk benar-benar menipu. Tapi mengingat dia cenderung berwajah malaikat sehingga penggambaran dirinya sebagai setan juga kurasa kurang tepat, aku jadi tak tahu lagi harus menyebutnya apa. Yang jelas dia sudah berhasil membuatku merasa seperti orang bodoh. Tidak akan ada jalan terbuka lagi untuknya.

Kuhapus sisa-sisa air mata kemudian menegakkan bahu seraya membenarkan pakaian. Mengangkat wajah dan hatiku menghangat begitu melihat senyum Hyukjae.

“Pulanglah! Biar aku yang urus pekerjaanmu.”

Aku menggeleng seraya tersenyum meski samar. Lagipula aku tak yakin jika itu benar-benar senyuman. “Aku akan pulang setelah bertemu dengan bagian kurikulum. Ada beberapa hal yang harus kami bahas mengenai evaluasi belajar anak-anak setelah ujian kemarin.”

Hyukjae mengangguk paham lalu mendesah lega. “Jaga dirimu. Lebih baik ijin saja kalau sedang butuh ketenangan.”

“Kurasa aku hanya butuh nasi goreng buatan Bibi Lee.”

“Aish!” Dia menatapku dengan pandangan jijik sebelum pergi ke kursinya sambil bersiul.

Bel masuk kelas berbunyi hanya beberapa menit setelahnya dan ruang guru kembali penuh. Dengan lebih bersemangat kusimpan semua buku pelajaran ke dalam laci dan mengambil berkas-berkas penting yang diperlukan untuk pertemuan sebentar lagi. Untungnya tidak ada jam mengajar setelah makan siang ini jadi pikiranku sedikit lebih dingin dari biasanya meski harus bekerja ekstra saat membahas beberapa hal yang perlu diperbaiki saat ada sebagian kecil siswa yang nilainya tidak memenuhi standar. Walaupun nilai bukan satu-satunya tolak ukur keberhasilan sebuah proses belajar, aku dituntut agar bisa memberikan pendidikan yang efisien, bermutu, dan tepat sasaran agar apa yang siawa-siswaku pelajari tidak sia-sia. Tidak bisa dipungkiri hal itu membuatku sangat lelah. Bekerja bukan hanya siang hari. Malam pun harus mempersiapkan berbagai hal yang akan diajarkan keesokan paginya. Sampai pada titik ini aku pun sadar bahwa tidak ada hal yang bisa lebih membuatku menguras tenaga dari ini. Entah itu masalah protesan-protesan Ayah karena aku tak kunjung menikah atau Kyuhyun sekalipun.

Tiba-tiba aku merasa mual mengingat beberapa menit sebelumnya aku menangis karena bajingan itu.

Pertemuan dengan bagian kurikulum berjalan lancar dan aku sangat bersyukur karena hal itu. Biasanya yang terjadi malah sebaliknya. Saat ada satu hal yang merusak mood-ku di pagi hari, maka itu akan diikuti dengan serentetan masalah di tempat kerja, di jalan, rekan-rekan, atau keluarga. Mungkin hari ini Tuhan memberiku sedikit keberuntungan. Setidaknya Dia tidak membiarkan hariku hancur hanya karena seorang pria yang tidak pantas mendapatkan penghargaan itu sama sekali. Menghancurkan hatiku, huh?

Tidak akan pernah.

Begitu semua urusan di sekolah selesai aku bergegas pulang ke apartemen untuk mengambil beberapa baju tambahan. Aku berniat menginap lebih lama lagi di rumah Ayah. Mungkin dua minggu atau bisa lebih aku juga belum yakin. Rasanya dalam keadaan yang sedikit tidak enak ini memang lebih menyenangkan saat bisa bersama orangtua. Setidaknya aku bisa melihat wajah mereka setiap pagi dan sebelum tidur. Makan masakan ibu dan sesekali mendengar ocehan Ayah. Rasanya sudah cukup lama aku tidak merasakan hal itu. Dulu setelah resmi diterima menjadi tenaga pengajar di sekolah yang sama dengan Hyukjae aku berniat untuk segera memiliki apartemen yang lebih dekat dengan sekolah. Setelah beberapa bulan bekerja sebagai tenaga honorer, hasil sebagian gaji yang kukumpulkan masih jauh dari yang kubutuhkan untuk membayar uang sewa. Pada akhirnya, semenyebalkan apapun Ayah, dia tetaplah orangtuaku. Meski aku sudah bekerja dia selalu bersedia ikut campur untuk membantu. Pada enam bulan pertama semua uang sewa apartemen Ayah yang menanggung. Pada tahun kedua, setelah aku lulus ujian penerimaan pegawai negri dan mendapat kenaikan gaji, aku bisa membiayai setidaknya kebutuhanku sendiri. Sampai pada titik ini, saat aku benar-benar bisa meyakinkannya bahwa aku mampu mengembalikan uang sewa waktu itu Ayah tetap menolaknya dan jika aku ingin dia menerima jumlah yang sebenarnya tidak seberapa jika dibandingkan penghasilan meubelnya selama setahun aku harus mau belajar berbisnis dan … dari situlah semua pangkal masalah ini terjadi.

Waktu itu di Plaza Gwanghwamun, peristiwa menjijikkan itu, perasaan Kyuhyun. “Aaarrrggghhh!!!” Teriakku frustrasi. Di tengah keadaan macet seperti ini kenapa harus Kyuhyun lagi yang muncul. Dasar Lemari Es gila, tidak berperasaan, menyebalkan, tukang hina.

“Aku akan membunuhmu. Lihat saja nanti!!!”

***

Sesampainya di rumah hanya ada Ibu yang menyambutku. Menurutnya, Ayah pergi tadi pagi-pagi sekali ke daerah Gyeongju mengawasi salah satu cabang di sana karena sebentar lagi akan ada pembangunan penginapan dan perusahaannya mendapatkan kehormatan mengisi berbagai furniturnya karena itulah aku tidak melihatnya di rumah hari ini.

“Sudah makan siang?” Tanya Ibu seraya mengusap kepalaku yang sedang bersandar di bahu kirinya.

Aku menjawab sambil memejamkan mata. “Belum.”

“Ahhh, tentu saja. Kau meninggalkan kotak bekalmu.”

Aku beranjak karena kaget sekaligus heran. “Bekal? Ibu membuat bekal untukku?”

Ibu menggagguk seraya mengganti saluran TV. Terlihat tidak terganggu sama sekali dengan kernyitanku saat menatapnya. Terang saja, karena kebiasaan itu mulai kutinggalkan begitu pindah ke apartemen sendiri. Bukannya malas. Memang tak ada waktu saja.

“Kenapa tidak bilang tadi?” Sungutku.

“Aku sudah bilang. Kau saja yang tidak mendengar.” Ibu mematikan TV kemudian perhatiannya teralih padaku. “Kubilang bekalmu ada di atas meja makan. Kau bahkan tak menolehku sama sekali,” dengusnya sambil memencet hidungku.

“Oh, aku melewatkan makanan gratis. Kenapa tiba-tiba begitu?”

“Apa?” Tanya ibu tanpa menolehku. Membereskan berbagai bentuk pencetak kue dan loyang.

“Membuatkanku bekal.”

“Kupikir kau kehabisan uang lagi sampai wajahmu kusut dari pagi.”

“Ibu!”

“Kau juga membawa banyak baju sekarang.” Sambil menunjuk tasku di lantai. “Sudah pasti uangmu habis.”

“Ibuuu!” Rengekku setengah marah.

Ibu terbahak sambil membawa semua peralatan kotor itu ke dapur. Aku mengejarnya, menuntut pembalasan karena mengolok-olokku, tapi saat sampai di dapur semua tuntutan yang akan kuajukan padanya hilang semua begitu bau kue memenuhi hidungku.

“Harum sekaliii!” Aku langsung berlari menuju oven. Dari kaca transparannya aku bisa melihat cookies nikmat itu mulai berkembang dan membuat mulutku berair. “Aku mau ini.”

“Tidak boleh.”

“Kenapa?!” Protesku.

“Itu masih belum matang dan panas. Ada puding semangka di lemari es.”

“Baru kali ini aku melihat seorang malaikat mencuci loyang.” Mataku berbinar menatap Ibu kemudian langsung mengambil piring dan sendok kecil, meletakkannya di meja makan dan mengambil puding semangka, memotongnya menjadi beberapa bagian, melahapnya dengan cepat. Aku merasakan kedamaian begitu benda dingin nan manis itu menuruni tenggorokan dan mendinginkan perut hanya dengan gigitan pertama. Selanjutnya, aku bahkan tidak ingat di luar sana terlalu panas untuk siang di musim semi. Ibu duduk di sampingku dan hanya menatapku. Senyumnya terus tersungging melihat setiap gerak-gerikku.

“Ibu, kau membuatku canggung.”

“Aku senang melihat wajahmu merah lagi.”

“Benarkah? Padahal aku baru saja menelan puding dingin.”

“Kau membuatku khawatir tadi pagi. Wajahmu pucat sekali.”

Aku memutar mata. “Ini semua karena Kyuhyun sialan itu.”

Ibu mengernyit. Aliran dingin puding yang baru saja kutelan mengalir terlalu lancar. Gawat! Aku keceplosan.

“A-aku … aku mau ke kamar.”

Begitu mulut Ibu terbuka aku bangkit begitu saja. Mengabaikan sisa-sisa puding lezat itu. Kusempatkan mencuri ciuman di pipi Ibu sebelum berlari kencang mengambil tas di ruang keluarga kemudian melesat secepat yang kubisa ke kamar.

Aku memang bodoh!

Tanpa pikir panjang pintu kamar langsung kukunci rapat. Menghela napas panjang sebelum melempar tas dan masuk kamar mandi. Ya, aku butuh mandi. Mandi air dingin, kurasa. Aku butuh air yang sangat-sangat-dingin.

Setelah hampir setengah jam di dalam kamar mandi—tidak biasanya aku selama itu, sekarang tubuhku sudah mengambil posisi paling nyaman sepanjang sejarah pertiduranku di atas ranjang. Terlentang dengan kedua tangan di atas kepala, kaki melanglang buana ke setiap sudut kasur. Ah, surga. Selesai menikmati air dingin cukup lama dan merebahkan diri seperti ini benar-benar nikmat yang tak boleh dilewatkan.

Kuhirup udara dengan pelan. Terasa segar sekali begitu masuk ke hidung dan mengisi paru-paru setelah setengah hari yang menyebalkan. Pada dasarnya aku memang bukan tipe orang yang bisa menanggung beban terlalu berat atau sebenarnya aku tak pernah membiarkan hal itu terjadi padaku. Lebih baik memikulnya sedikit demi sedikit sampai akhirnya terselesaikan dengan baik.

Sejujurnya, perasaan seperti ini pernah kurasakan sebelumnya. Saat itu aku baru saja merasakan bahagianya dicintai seseorang lalu tiba-tiba dia meninggalkanku dengan alasan konyol yang pada awalnya tak pernah mau dia ungkapkan padaku. Rasanya hampir sama seperti sekarang. Aku merasa sangat … kecewa –pada Kyuhyun—yang ternyata di luar ekspektasiku dan padaku sendiri karena tak bisa menahan perasaan itu. Berkali-kali aku memperingatkan diri untuk mengharapkan sesuatu yang paling kecil dari orang lain, atau bahkan jangan pernah mengharapkan apapun kecuali pada diri sendiri. Banyak orang yang bisa kita percaya dan tak sedikit pula dari mereka yang menyia-nyiakan kepercayaan itu.

Sejak awal, entah apa yang ada di pikiranku, setiap kali melihat Kyuhyun aku tak bisa tak memercayainya. Di balik kebencianku pada pria itu, dia sosok yang bisa dipegang omongannya begitu aku mendengar gayanya berbicara. Sesuatu yang baru kusadari. Ternyata feeling tak selamanya benar dan penting bagiku untuk memegang prinsip lebih erat lagi.

“Kecewa, ya?” Aku bertanya lirih pada diriku sendiri. Meyakinkan apa yang sebenarnya sedang kurasakan. Aku bangun dan terduduk memikirkan hal itu. Bagaimana bisa aku kecewa pada Kyuhyun jika aku tak pernah mengharapkan apapun darinya? Atau sebenarnya aku benar-benar berharap?

Ya, saat itu aku memang berharap dia akan kembali menjemputku. Satu janji kecil, kata-kata sederhana yang biasa diabaikan orang lain. Aku memerhatikan itu, mengingatnya, memahaminya, dan mengerti bahwa itu berarti dia akan kembali dan PASTI kembali. Kemudian begitu dia melupakan hal itu, semuanya terasa begitu menyakitkan. Sejak dulu aku sadar jika dari sekian banyak wanita baik, maka aku bukanlah pilihan utama. Awalnya kupikir ini bukan masalah besar, tapi menemukan kemungkinan bahwa dia menyadari aku bukanlah hal yang penting untuk diingat perlahan itu mengiris hatiku dan menjadi begitu menyakitkan dan sulit untuk meninggalkannya dari pikiran. Kenyataannya aku memang tak suka menjadi orang yang bisa diabaikan dan di sisi lain dan bisa menerima hal itu.

Kuhirup dan mengembuskan napas panjang. Kali ini bukan untuk menikmati segarnya udara musim semi, tapi lebih untuk menenangkan diri dan pikiran. Meskipun tidak begitu membantu, kurasa bisa sedikit meredakan detak jantungku yang mulai melaju lebih cepat lagi. Aneh sekali. Perasaanku yang biasanya tidak pernah membingungkan seperti ini. Selalu jelas dan mudah diselesaikan. Kali ini sepertinya aku sedang bermain petak umpet di labirin bersama diriku sendiri kemudian tersesat dan taka da yang bisa menolong.

“Arghhh! Aku bisa gila!!!”

“Sejak awal kau sudah gila.”

Ayah sudah ada di ambang pintuku. “Sejak kapan Ayah pulang?” Aku berlari dan melompat dalam pelukannya. Entah mengapa aku begitu rindu padanya padahal baru tadi pagi kami tidak bertemu.

Dia tertawa seraya mengacak rambutku yang masih setengah basah. “Kau merindukanku—“

Aku mengangguk cepat.

“—atau uangku?” Lanjutnya.

Diam, aku berpikir sejenak kemudian mendongak. “Yang kedua terdengar lebih bagus. Tapi sayangnya aku lebih merindukanmu.”

Matanya terbelalak heran, menatapku lama, sepertinya memerhatikan cengiranku. “Tumben. Aku hanya pergi ke Gyeongju setengah hari,” kemudian menyeringai, “tapi tidak apa-apa. Kedengarannya menyenangkan dirindukan puteriku.”

“Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

Ayah mengernyit sebelum melepaskan pelukanku. “Apa? Kaumau bilang kehabisan uang lagi?”

“Tentu saja bukan,” dengusku. “Ini tentang Kyuhyun.”

“Kenapa dengan bocah itu? Aku tak bisa menghubunginya sejak kemarin malam. Kau—“

“Aku tidak tahu. Nomornya sudah ku-blacklist dan aku bukan mau membahas di mana dia sekarang,” terangku tanpa basa-basi.

Ayah mengernyit. “Aneh sekali. Biasanya anak itu paling gampang dihubungi. Kau—“ Kemudian menatapku lagi, kali ini sebelah alisnya melengkung seperti tangan besi Kapten Hook. “Tunggu! Kenapa—“

“Itu bukan urusanmu. Yang jelas aku mau Ayah berhenti menjodohkanku dengan Kyuhyun.”

“Dia anak baik.”

“Dia jahat.”

“Tidak mungkin.”

“Dia terlalu pendiam.”

“Kau bilang tadi jahat.”

“Maksudku dia jahat dan terlalu pendiam.”

“Sebenarnya yang kau permasalahkan karena dia jahat atau terlalu pendiam?”

Aku menggeram kesal. “Dia pembohong, Ayah! Kau mau aku dibohongi pria seumur hidup?”

Wajah Ayah mengeras. Sepertinya mulai kesal. “aku benar-benar tidak paham dengan apa yang ingin kaukatakan padaku,” katanya seraya melipat tangan di bawah dada. Kedua mata lebarnya mulai mengintimidasi. “Kyuhyun tidak pernah mengajukan keberatan atau apapun meskipun kau menyebalkan, bahkan setelah kau mengompolinya.”

“Ayah pikir aku menyebalkan?!”

“Tentu saja. Kau selalu melantur. Seperti sekarang.”

“Arrrgghhh! Percuma saja aku bicara denganmu.”

Ayah terpaksa minggir memberiku celah agar bisa keluar dari kamar. Aku langsung mencari ibu ke dapur tapi tak ada tanda-tanda kehidupan di sana, di halaman belakang juga tidak ada. Bergerak ke sayap kiri rumah, aku juga tak menemukan Ibu di kamarnya. Kuputuskan untuk keluar rumah dan mendapatinya tengah menyiram segerombolan bunga Hyacinth yang berada di ujung taman kecil rumah kami. Mereka satu-satunya bunga yang berhasil kutanam dengan tanganku sendiri dan tumbuh begitu indah dua tahun terakhir ini. Alasan kenapa bisa begitu adalah karena Ibu yang merawatnya.

“Kalian bertengkar lagi.”

“Ayah menyebalkan.”

“Kalian berdua menyebalkan.”

Aku mendengus. Ibu tersenyum.

“Tidak usah murung begitu. Setidaknya aku bahagia punya suami dan anak yang menyebalkan.”

“Kau terdengar mengasihani dirimu sendiri, Ibu.”

“Benarkah?”

“Dan bahagia—“ lalu sesuatu terlintas di pikiranku. Bisakah seseorang merasakan bermacam-macam perasaan bahkan yang berlawanan dalam satu waktu?

“Aku selalu bahagia jika kalian ada di rumah.”

Aku mengedikkan bahu. Tidak tahu apa yang sebenarnya ingin kukatakan mengingat ada banyak hal yang berputar di kepalaku dari tadi.

“Setidaknya beberapa hal membaik saat ada Ayahmu dan segalanya menjadi begitu menyenangkan begitu kau lahir.” Ibu melanjutkan.

“Oh ya?” Dahiku mengernyit. “Sepertinya itu cerita yang bahagia.” Aku masih berdiri di sampingnya. Memegangi selang seperti orang dungu. Lagipula aku suka melakukannya. Selangnya sering melintir tidak karuan dan menghambat aliran air.

Ibu mengangguk kemudian menoleh padaku sebentar. “Memang benar. Kau penyelamat bagiku dan juga Ayahmu.”

“Aku pasti seperti Wonder Woman sekarang. Atau Cat Woman?” Kelakarku.

“Bukan. Kau Song Hyo In. Puteriku dan Ayahmu.”

Hatiku menghangat begitu saja. Kebingungan itu melebur sedikit demi sedikit tertutupi perasaan bahagia ketika melihat mata sayu dan wajah lembut Ibu menatapku. Begitu teduh. Seperti oase di tengah gurun. Aku memeluknya dari belakang, mencium kedua pipinya yang tirus namun tetap lembut dan wangi. Bunga melati. Satu hal lagi dari Ibu yang menurun padaku selain wajahnya. Kami sama-sama menyukai melati.

“Kautahu ‘kan aku sangat mencintaimu, Ibu? Dan ayah.”

Ibu mengangguk lagi. “Dulu sangat menyakitkan. Mengingatnya pun rasanya masih sakit. Tapi begitu kau datang semuanya membaik.”

Aku memeluknya semakin erat. Cerita itu pernah kudengar darinya sebelum ini. Masa lalu Ibu dan Ayah yang tidak terlalu baik, bahkan cenderung menyedihkan. Mereka pasangan yang tidak direstui karena Ayah anak orang kaya dan Ibu hanya anak seorang janda miskin. Mereka bertemu di sekolah yang sama. Ayah jatuh cinta dengan Ibu saat pertama kali bertemu kemudian mereka berpisah saat Ayah sekolah di luar negri sementara Ibu tak bisa melanjutkan sekolah menengahnya karena harus membantu Nenek bekerja di lading jagung. Sampai ketika Ayah pulang dan mencarinya lagi, saat itu mereka berkencan tanpa restu. Hubungan mereka ditentang habis-habisan oleh keluarga Ayah sampai pernah dipindah ke pedalaman Inggris agar mereka tidak berhubungan lagi, tapi saat itu Ayah memutuskan untuk mempertahankan Ibu. Sampai akhirnya mereka diijinkan menikah, tanpa warisan, dan aku lahir.

Perlakuan buruk dari keluarga Ayah masih diterima Ibu sampai aku lahir. Sejak kecil aku merasakan rasa benci mereka bahkan sampai aku sebesar ini hubunganku dengan keluarga Ayah tidak terlalu baik meski tak seburuk dulu. Rasanya sangat mengagumkan melihat bagaimana Ayah membangun keluarganya sendiri dengan ketiadaan dan menjadi seperti sekarang.

“Aku tahu. Ibu sudah menceritakannya ribuan kali.”

“Benarkah? Ya Tuhan, kenapa aku jadi seperti ember bocor?”

“Bukan. Kau malaikatku.”

Kami tertawa. Mengingat hal menyakitkan itu sampai bisa menjadikannya bahan lelucon bukanlah hal yang mudah. Kami merasakan sakit dan kecewa sampai akhirnya bisa berbahagia di atas kaki kami sendiri. Yah, sepertinya kecewa bukan hal yang asing buatku. Tapi saat merasakannya lagi, aku menemukan fakta bahwa aku semakin tidak menyukainya.

“Aku bangga punya orangtua seperti kalian. Tidak semua anak bisa punya Ibu yang begitu cantik dan lembut tapi Ayahnya sangat menyebalkan, kan?”

“Apa kaubilang?”

Kami menoleh ke belakang. Ayah sudah berlari dari teras. Wajahnya campuran antara cerah dan sebal yang dibuat-buat. Sepertinya dia mendengar apa yang kukatakan.

“Gawat! Aku bisa dibunuh!”

Refleks kuputar Ibu sampai menghadap ayah dan air dari selang yang masih mengalir deras itu mengguyurnya.

“Ya Tuhan!” Pekikku dan Ibu berbarengan. Ayah berdiri di tempat seketika. Hanya satu meter dari kami. Ibu langsung menjatuhkan selangnya dan menghampirinya. “Aku tidak sengaja. Sayang, kau tidak apa-apa?” Ibu meraba seluruh tubuh basah Ayah dengan panik.

“Ini kemeja baru.” Ayah menggeram. Tidak marah pada Ibu karena matanya menatapku dengan tajam. Aku tak bisa menghentikan tawa.

Semuanya sia-sia. Tangannya sudah terlipat di bawah dada. “Kemari!”

“Tapi Ibu yang menyiram Ayah.”

“Kau memanfaatkan Ibumu.” Ibu tertawa di samping Ayah.

Aku merunduk tak berani menatap matanya selama berjalan ke sana. “Maafkan aku.”

“Oh, manis sekali. Biasanya kau selalu berapi-api,” sindirnya.

“Aku yang salah,” jawabku pelan sambil membungkuk meminta pengampunan.

Ayah berdeham sebelum mengangguk. “Berlutut!”

“Apa?”

“Skot jump!”

“Iya, iya, iya.” Aku segera berlutut tanpa pertanyaan.

“Angkat kedua tanganmu!”

“Ayah,” rengekku, “bagaimana kalau ada siswaku yang melihat?”

“Pagar rumahku lebih tinggi daripada tinggi anak SMP.”

“Tapi—“

“Paman!”

Kami semua menoleh dan mendapati seseorang yang paling tak ingin kutemui berlari mendekat. Ke mana mobilnya?

Ah, masa bodoh!

“Kyuhyun!” Wajah Ayah berubah drastis. Dari kesal menjadi berseri.

Kyuhyun memperhatikan Ayah yang basah kuyub. “Bibi, kenapa Paman—“ kemudian melihatku dengan sebelah alis terangkat.

“Anakku yang sangat tampan,” sela Ayah—tak ingin membahas lebih jauh penyebab kenapa tubuhnya bisa seperti itu. Aku mendecih. Kyuhyun tersenyum pelan. Mereka berpelukan seperti sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Menjijikkan! Seperti opera sabun saja.

“Eh, apa yang kaulakukan? Angkat tanganmu!”

“Iya, iya, aku tahu.”

Kuangkat kedua tanganku ke atas. Mungkin begini rasanya menjadi siswa yang biasa kuhukum karena selalu bolos kelas.

“Aku tak bisa menghubungimu sejak semalam. Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan denganmu tentang proyek di Gyeongju. Aku baru saja pulang dari sana.”

“Tentu saja. Tapi apa aku boleh bicara dengan Hyo In sebentar?”

“Begitu, ya. Baiklah.”

“Aku tidak mau bicara dengannya,” sergahku tanpa berpikir panjang. Memangnya siapa dia? Enak saja. Pasti mau minta maaf. Tidak akan kuberi kesempatan.

“Kau sedang tidak berada dalam posisi bisa membantah. Ayo, Sayang. Sepertinya aku membutuhkan pakaian hangat dan teh panas. Segera.”

Ayah menggandeng tangan Ibu dan membawanya masuk ke rumah. Ibu menoleh ke arahku sesekali dengan raut wajah kasihan tapi tidak bisa berbuat apa-apa sementara Ayah terus saja mengoceh tentang betapa cerahnya hari ini sampai-sampai matahari menyilaukan mata tuanya. Dan aku ditinggal sendirian dalam keadaan terhukum seperti anak SMP.

Kyuhyun berdeham. Aku menunduk tak ingin melihatnya, tanganku mulai terasa nyeri setelah beberapa menit terangkat. Tiba-tiba rumput di sebelahku bergemerisik. Aku menahan diri untuk tak menolehnya karena bisa dipastikan itu Kyuhyun. Dan benar saja. Belum sempat pikiran itu lenyap dia sudah berdeham lagi. Bahkan dengan sengaja dia menyentuhkan bahunya dengan bahuku.

Aku langsung beringsut ke samping kanan, menjaga jarak agar kami tak bersentuhan tanpa bersuara. Hal itu terjadi beberapa kali sampai akhirnya Kyuhyun menyerah dan langsung berkata, “Aku bersalah. Maafkan aku. Seharusnya aku tidak meninggalkanmu dengan cara seperti itu.”

“Cara seperti itu”? Oh, kurasa memang ada cara yang lebih sadis lagi.

Aku masih diam, berniat tak menjawabnya sama sekali dengan wajah tertutupi lengan yang menjerit ingin segera diturunkan. Hanya hembusan napas Kyuhyun dan desiran angin yang mengisi kekosongan di antara kami.

Dia berdeham sekali lagi. “Sampai kapan kau akan diam terus?”

Kepalaku gatal dan aku mulai bingung bagaimana cara menggaruknya.

“Ayolah, Hyo In. Kita bukan anak kecil lagi.”

Dan sekarang kakiku kram.

“Hei, tongkat pramuka!”

“Sudah kubilang aku tidak mau bicara denganmu.”

Kyuhyun mendengus kemudian bergerak cepat dan tiba-tiba membuatku tersentak karena dia sudah berada tepat di depanku. Kepalanya merunduk memerhatikan wajahku dari bawah.

“Setidaknya hormati orang yang lebih tua darimu dan sedang minta maaf.”

Aku beringsut lagi. Dia menangkap kedua tanganku dengan satu tangannya sementara tangannya yang bebas mengangkat daguku hingga wajah kami mendongak sejajar.

Kuhela napas panjang sebelum menjawab, “Sudah kumaafkan. Sekarang pergilah! Aku masih harus menjalani hukumanku.”

Kyuhyun menahan lenganku lebih erat. “Dengar, aku tidak bermaksud—“

Kau harus menjelaskan alasanmu karena aku ingin mendengarnya, karena aku tidak mau seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.

“Kau tidak berhutang penjelasan apapun padaku, oke. Itu masalahmu dan aku tidak ada urusan dengan itu.”

“Dengarkan aku dulu.”

“Aku mendengarmu dari tadi.”

“Kau belum memaafkanku.”

“Apa itu jadi masalah?”

“Tentu saja.” Dia berkeras.

“Kupikir kau tidak akan mempermasalahkannya.”

“Bagaimana mungkin tidak?!” Kyuhyun hampir berteriak.

Aku terkesiap sampai berjengit darinya. “Seharusnya aku yang marah. Kenapa kau malah meneriakiku?!”

Kyuhyun mendengus kemudian melepaskan tanganku yang masih digenggam olehnya. Mengusap wajah dengan telapak tangan kemudian menatapku lagi dengan tatapan aku-tidak-tahu-harus-bagaimana-lagi.

Aku sangat tahu dia kesal padaku, tapi itu tidak seberapa dengan apa yang kurasakan kemarin. Tiba-tiba meninggalkanku seperti itu, apa maksudnya?

Dia menghela napas lagi kemudian menangkup wajahku dengan kedua tangannya. Tak membiarkanku menunduk menghindari tatapannya yang lembut dan hanya ditujukan padaku. Kedua ibu jari besarnya bahkan mengusap pelan pipiku. Kemudian dunia terasa berputar begitu cepat, jantungku berdebar tak karuan, dan aku ingin pingsan dalam rengkuhan dada lebar dan lengan kuat itu serta menghirup wangi lemonnya.

“Kau benar.” Dahiku mengernyit, mulutku terbuka hendak melempar pertanyaan namun seketika tertahan karena Kyuhyun melanjutkan. “Jika kau ingin marah padaku silahkan. Aku tahu itu pantas kudapatkan. Aku kemari bukan hanya ingin meminta maaf tapi juga berterima kasih.” Dia menghela napas lagi, memberi jeda.

“Aku melihat Shin Ah kemarin. Saat itu benar-benar tidak ada dirimu dalam otakku, aku minta maaf untuk itu. Kuhabiskan waktu dua jam untuk mengikutinya dan mendapati kenyataan dia bersama seorang pria … maksudku calon suaminya, aku … aku merasa seperti orang bodoh.”

“Kau juga membuatku seperti orang bodoh,” sergahku.

Kami menghela napas bersama. Aku tidak tahu siapa yang memulainya tapi tiba-tiba angin dingin itu berubah menjadi hangat setelah beberapa saat kami terdiam. Mengalirkan tawa begitu saja. Sepertinya kami sama-sama menertawai diri sendiri.

“Kautau, tadinya aku berniat membunuhmu.”

“Benarkah?” Alisnya terangkat sebelah tapi kedua cekungan di ujung-ujung bibirnya Nampak semakin jelas. Dia tersenyum lebar.

Aku mengangguk. “Bagaimana kautahu kalau dia calon suaminya?” Tanyaku.

“Aku menanyainya. Mereka berhenti di kantor catatan sipil dan aku sengaja menemui mereka.”

“Wow!” Itu tindakan yang sangat berani.

Kyuhyun mendecak. Sok bijaksana. “Aku sudah tidak mau terbebani lagi dengan banyak pertanyaan tanpa jawaban karena aku tak berani menanyakannya.”

“Kau yakin tidak sedang stres sekarang?” tanyaku heran.

Dia mengangguk tapi wajahnya diliputi senyuman sekarang. Melihat itu aku jadi ikut bahagia.

“Awalnya iya. Tapi semalaman ini … aku memikirkanmu.”

“Uwooo, kaumau merayuku sekarang? Aish, aku tidak siap. Kau ‘kan baru saja membuatku marah. Kalau aku tersipu harga diriku bisa rontok.”

Kyuhyun tergelak. “Setelah mendengar dia akan menikah tentu saja aku bingung, tapi satu hal kusadari saat itu adalah dia bahkan tidak tahu bahwa aku masih mencintainya dan tak keberatan sama sekali memperkenalkan calon suaminya padaku sementara aku hanya dia anggap ‘teman lama’. Wajahnya terlihat begitu bersinar dan aku merasa—“

“Seperti orang bodoh,” sahutku dengan senyum penuh kebanggaan.

“Tepat.”

“Karena masih memikirkannya sementara dia sudah bersama orang lain dan kau tertingga di belakangnya tanpa melakukan apapun.”

“Tepat lagi. Dan aku tidak suka merasakan hal seperti itu. Jadi aku sadar bahwa apapun yang kulakukan beberapa bulan ini tidaklah berguna. Pekerjaanku keteteran sampai Ayahmu harus membantuku. Proyek Gyeongju itu seharusnya aku yang meng-handle tapi ada banyak pekerjaan lain yang belum kuselesaikan. Terlalu banyak waktu yang kubuang. Seperti yang kaukatakan beberapa waktu lalu.”

“Beberapa bulan, kaubilang?” tanyaku heran. “Sepertinya aku melihatmu frustrasi hanya beberapa hari yang lalu.”

Kyuhyun menggeleng. “Kejadiannya jauh lebih lama sebelum kita bertemu.”

“Oh, hebat sekali! Apa ini alasan Ayah menjodohkan kita? Aish, orang tua itu benar-benar menyebalkan. Aku tahu sejak awal pasti ada yang tidak beres.” Kyuhyun tidak membenarkan tapi juga tidak menyangkal. Dia hanya mengedikkan bahu. Ya, Ayah memang memanfaatkanku.

Kulepaskan tangan Kyuhyun yang kini berada di bahuku kemudian bangkit, mengempaskan beberapa helai daun yang menempel di kakiku.

“Mau ke mana kau?”

“Menghukum Ayahku.”

Kyuhyun menahan tanganku begitu aku beranjak. “Tunggu. Kau belum menjawabku.”

“Apa lagi?” aku menggeram kesal.

“Permintaan maafku?”

“Ah, lupakan. Aku sudah tidak marah.”

“Semudah itu?” Dahinya berkerut.

“Kau sudah menjelaskannya dan aku paham. Harusnya kau senang aku bukan tipe orang pendendam. Sekarang lepaskan aku Atau—“

“Aku ikut masuk.”

Kemudian kami berdua masuk ke rumah. Kyuhyun terus memegangi tanganku, sesekali menariknya jika aku kehilangan kendali dan hampir menabrak guci besar dari Cina di bawah tangga atau ujung meja yang bisa saja melukai pahaku. Kurasa tanpa bilang pun dia tahu aku berterima kasih untuk itu. Kami mengitari seisi rumah tapi tak menemukan Ayah dan ibu di mana pun lalu bergegas menuju halaman belakang.

“Ayah!!! Ayah!!!”

“Tidak perlu berteriak seperti itu. Berlebihan sekali,” gerutunya seraya memakan cookies.

Mereka sedang minum teh di beranda belakang dengan sepiring cookies yang Ibu buat tadi. Kemeja dan celana basahnya sudah berganti dengan celana olahraga pendek dan kaos oblong hitam yang sejak dulu mejadi favoritnya. “Ayo, ayo, ke sini! Minum teh sore hari benar-benar yang terbaik.”

Aku menatap Kyuhyun masih dengan wajah kesal karena Ayah sementara Kyuhyun hanya mengedikkan bahu kemudian menyeretku duduk di dua kursi yang tersisa di depan mereka.

“Ini teh melati kesukaan keluarga kami. Aku yang membuatnya. Kuharap kau akan suka.”

Kyuhyun mengangguk seraya tersenyum lembut menyambut cangkir teh yang diberikan Ibu padanya. “Tentu saja. Terima kasih, Bibi.” Kemudian menyesap tehnya.

Sayangnya, ketika mulutku sudah terbuka Ayah berhasil menyelaku terlebih dulu dengan membahas masalah perkerjaan dengan Kyuhyun dan aku hanya berakhir dengan memutar-mutar cangkir teh kosong. Ibu memaksaku merasakan teh buatannya tapi aku menolak dan berkeras akan membahas masalah ‘pengeksploitasian anak’ setelah perbincangan mereka selesai. Namun, bukannya semakin mengerucut, obrolan itu semakin lama melebar ke mana-mana. Lebih buruk lagi, aku tidak tahu istilah-istilah bisnis yang sedang mereka bicarakan dan mulai bosan di sini. Deretan pendapat dan protesan yang siap kulontarkan pada Ayah pun hampir enam puluh lima persen memudar. Kurasa memang tidak ada gunanya menunggu mereka selesai. Bisa-bisa aku harus menunggu mereka sampai hari Kamis.

“Mau ke mana?” Tanya Ibu saat aku beranjak.

“Tidur,” kataku, kemudian melenggang pergi. Berlari terlalu cepat sampai hampir menabrak guci di bawah tangga lagi dan ketika sampai kamar aku langsung tertidur begitu kepalaku mencium bantal.

***

Gelap. Aku takkan bisa melihat apapun jika saja jendelaku tak terbuka dan membiarkan sinar bulan menerangi beberapa sudut kamarku. Terlalu lama tidur membuat punggungku menjerit kesakitan dan tengkukku seperti diberi beban lima puluh kilogram. Setelah memutar tubuh ke kanan dan ke kiri—sekedar melemaskan otot yang tegang—kemudian bergegas turun ke dapur karena perutku juga ikut menjerit seperti punggungku.

“Aku lapaaarrr!!!” Teriakku begitu mencium bau samgyetang. Oh, begitu banyak surga kutemukan hari ini. Terima kasih, Tuhan!

Begitu sampai di dapur aku langsung duduk di meja makan, memotong paha dan menuangkan banyak kuah ke mangkukku sendiri tanpa memedulikan orang yang ada di sini bersamaku. Aku tahu mereka semua melihatku dengan pandangan aneh tapi perutku takkan pernah kubiarkan kelaparan lebih lama lagi.

“Sudah mandi?” Tanya Ayah.

Aku menggeleng, tidak bisa menjawab karena mulutku penuh daging. Ibu mengelus punggung atasku seraya menyuruhku mengunyahnya pelan-pelan.

“Aku lapar sekali,” kataku setelah berhasil menelan makanan.

Ayah menghela napas panjang sebelum berkata, “Ada titipan dari Kyuhyun.”

“Ulang tahunku masih empat bulan lagi,” jawabku kemudian melahap kuah hangat samgyetang.

Ayah hanya mengedikkan bahu kemudian memberiku sebuah paperbag kecil berwarna cokelat polos. Kuambil bungkusan itu dan mengeluarkan sesuatu yang terbungkus kertas kado warna cokelat polos lagi. Ya Tuhan.

“Apa isinya?” Tanya Ayah dan Ibu bersamaan. Aku mengedikkan bahu.

“Kelihatannya dia tidak tahu warna kesukaanku.”

“Itulah yang dilakukan pria jika tak tahu warna kesukaan seorang wanita.” Ayah membela Kyuhyun—seperti biasa.

“Cokelat warna netral, kan? Setidaknya lebih berwarna daripada putih,” sambung Ibu.

Kuputar mata malas melihat antusias mereka, menungguku membuka bungkusan itu.

Senyumku langsung mengembang begitu melihat sebuah novel berjudul The Lucky One dengan sampul bergambar kincir ria besar dan langit biru cerah. “Nicholas Sparks!” Jeritku senang. Langsung membuka segel dan mencium bau wangi buku baru itu. Lumayan tebal, sekitar 300 halaman lebih.

“Yah, setidaknya dia tahu apa kesukaanmu,” kata Ayah tak acuh. Tapi aku bisa melihat senyum samarnya.

“Sepertinya ada yang baru berbaikan,” sindir Ibu seraya tersenyum menggoda.

“Jadi, apa dia masih pria jahat, tukang bohong, dan terlalu pendiam?” Ayah menimpali.

Aku berpikir sejenak. Sebenarnya semua kata-kata itu tak lagi berlaku begitu dia menjelaskan alasan itu padaku. Kurasa juga bukan hal yang tepat jika terus-terusan marah padanya padahal dia sudah minta maaf. Lalu dengan semangat aku menggeleng. Senyumku melebar saat melihat novel itu lagi.

Ayah mendengus. “Ya Tuhan, murah sekali hargamu.”

Tak kupedulikan lagi Ayah dan Ibu, begitu juga dengan makanan itu. Perutku langsung penuh begitu melihat novel. Aku beranjak dari kursi menuju beranda di sayap kanan rumah. Sudah ada sofa panjang tanpa lengan dan lampu baca tepat di ujung kanan sofa, di samping lampu ada telpon rumah, dan beberapa meter dariku terdapat air terjun kecil buatan yang sengaja di pasang ayah untuk mempernyaman suasana saat membaca serta sekelompok bunga lavender di sepanjang pagar. Mereka pengusir nyamuk alami.

Beberapa menit kemudian aku sudah terbenam dalam kisah mereka. Masih bab-bab awal memang dan menceritakan bagaimana dua tokoh itu bertemu dan seperti apa masa lalu mereka kemudian aku mendengar suara keras Ibu berteriak dari dalam rumah. “Hyo In, angkat telponnya. Kyuhyun ingin bicara denganmu!!!”

Kuletakkan pembatas bukunya di halaman terakhir yang kubaca sebelum mengangkat telpon.

“Kau tidak menyimpan nomor ponselku ya?” Sungutku.

“Sepertinya nomorku masih diblokir. Bagaimana aku bisa menghubungimu?”

Jawaban santainya membuatku terdiam karena tak tahu harus mengatakan apa. Aku tidak bisa memikirkan alasan jika mendadak seperti ini. Keadaan menjadi sedikit canggung, namun sebelum hal itu muncul Kyuhyun tertawa terlebih dahulu dan mau tak mau aku ikut tertawa—meski terdengar aneh. Yah … menertawaan diriku sendiri sebenarnya.

“Tenang saja. Aku tidak akan marah.”

Kuhela napas lega tanpa malu sampai dia tertawa lagi. “Kukira kau akan memarahiku.”

“Tidak. Sedang apa kau?”

Aku melirik novel itu dengan hati berbunga. “Aku sedang berkencan dengan mantan tentara Angkatan Laut Amerika Serikat. Dia sangat tampan dan bermata biru.”

“Aku penasaran ke mana saja mantan tentara itu membawamu.”

“Oh, ke banyak tempat. Kau tidak akan mempercayainya.”

“Boleh kudengar omong kosongmu itu?”

“Tentu saja. Pria itu membawaku ke Colorado, tempat dia dilahirkan. Lalu ke kota Hampton, di Carolina Utara dan beberapa kali dia mengajakku melihatnya berperang di Irak. Terakhir kali dia mengajakku berkencan ke tempat penitipan anjing,” jawabku dengan semangat. Merasa senang karena ada yang mendengarkan.

“Wow! Sepertinya dia sangat hebat.”

“Memang. Tapi tiba-tiba kau datang mengganggu kencan kami, dasar Lemari Es.”

Kami tertawa.

“Kau suka?”

“Tidak ada alasan untuk tak menyukainya. Bagaimana kau bisa tahu aku suka novel Nicholas Sparks?” Pertanyaan itu sudah bersarang sejak aku melihat buku itu pertama kali.

“Hanya menebak. Kemarin saat mengikutimu ke toko buku kau hanya berputar-putar di depan rak yang penuh dengan penulis itu dan aku tak melihat buku itu ada di keranjangmu. Jadi kurasa, sebenarnya kau menginginkannya tapi—“

“Aku kehabisan uang,” dengusku.

“Benarkah?” Dia berpura-pura kanget kemudian tertawa pelan. Aku tahu dia tak mau menyinggunggu jadi lebih baik aku sendiri yang mengatakannya.

“Terima kasih. Sebenarnya kau tidak perlu melakukan ini tapi … terima kasih. Aku suka bukunya.”

Aku sangat menyukai bukunya.

“Jadi kau memaafkanku.”

“Ya. aku sudah bilang begitu tadi sore.”

“Jadi kita bisa berteman lagi?”

Jika aku tersipu dia tidak akan melihat, kan?

“Aku akan menceritakan kisah mereka padamu begitu selesai kubaca.”

Hanya itu jawabanku.

“Dan aku juga penasaran apakah bantuanmu waktu itu masih berlaku?”

Aku terhenyak. Gawat! Dia masih mengingatnya.

“B-bantuan, yang m-mana?”

Kyuhyun mendecak tak percaya. “Tidak usah malu. Kau pasti masih mengingatnya. Oh ya, aku sudah melenyapkan semua barang-barang yang berhubungan dengannya. Jadi apa yang harus kulakukan selanjutkannya?”

“Ah, yang itu ya?” tanyaku ragu. Bingung harus menjawab apa.

Meski masih tak begitu yakin, diam-diam aku merasa lega. Kyuhyun mulai mampu membuka diri dan sepertinya kesempatan ini tidak akan kusia-siakan. Aku akan membantunya lepas dari bayang-bayang wanita itu dan mendapatkan wanita yang lebih baik untuknya. Dia pria yang baik meskipun jahat.

Dan pembohong.

Juga terlalu pendiam.

“Aku akan memberitahumu akhir pekan nanti.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

16 thoughts on “[Chapter] At Gwanghwamun Bagian 5

  1. akhir ny ff ini fublish jga,brharap bgt si hyo in nya lma mrahan ama kyu tp gpp deh dg bgtu mreka tmbah deket,,,dtnggu next chap nya ya eonni

  2. setuju sama pendapat ayah hyoin, murah sekali hargamu? wkwkwk… lucuuu~~ jadi jadi skrg hyoin mau ngajak kyuhyun kencan gitu?? sip sipp lemari es siap diubah jadi kompor😄

  3. hyo in udah kayak bunglon aja hatinya mudah berubah ubah sesih seneng sebel baikan
    tipe gadis plin plan sich menurutku
    kyuhyun udah bener” bisa move on nich

  4. Aaaaaa,,,,
    Akhirnya dipost juga ini FF yg paling manis ^^

    Penasaran sama kisah cinta mereka kedepan’a😀

  5. Ha~ apa kakak tahu.. aku udah nunggu ini ff ber minggu-minggu -.-
    tapi akhirnya…………

    yeayy :v
    di share juga ><

    semangat kak^^

  6. Yey akhir’y publish juga, ahh ga sabar liat mereka tambh dket,😉 perbanyak dong Kyu Hyo-in moment’y. D tnggu kelanjutn’y, selalu…. Semngaatt

  7. Akhir’a di publis jga .. hyo in luchu yahh kalo udah di hadapa kyuhyun langsung berubah bgitu .. tadi’a udah mao maki2 ajh + mao bunuh kyuhyun lagi ehh pas ketemu sama kyuhyun hilang dah tuhh ..
    Wahh cerita ayah n ibu’a hyo in kerenn .. mereka tetap besama walau masih gak di restuin sama keluarga’a ayah hyo in ..
    Kerenn bangedd lahh nhe cerita .

  8. Ini Hyo In meskipun guru SMP, tapi kocak beneran deh keluarganya juga sangat fleksibel. Kisahnya ringan tapi sangat menarik.

  9. Gampang sekali kyu minta maaf setelah wanita masa lalu tau mau nikah seharusnya hyo in jgn kasih maaf gitu saja biarkan saja dlu biar tau rasa

  10. Mereka udah keliatan manisnya,emmm hyo in bener2 lucu yah,kalau lagi di godain sama keluarga nya,keluarga yang benar2 hangat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s