[Chapter] Snow White and the Evilman Part 3

Snow White and the Evilman
Cho Kyuhyun (SJ)/Song Hyo In (OC)
NC RATED

1493102_187492944779773_1795413249_n

Disclaimer:
Mature content. Don’t read this if you’re under 21 years old. OOC.

Part 3

Banyak hal kulalui seharian penuh ini, terutama yang mengerikan. Mengetahui ibu tiriku ingin membunuhku saja sudah membuatku lemas tak berdaya kemudian disusul dengan penculikan, suara tembakan-tembakan itu, lalu datang kejadian paling menakutkan dan belum pernah kubayangkan sebelumnya.

Dulu aku suka bermain petak umpet dengan anak-anak bawahan Ayah. Orang-orang yang paling dipercaya di istana memberiku teman dan kebahagian seorang puteri mahkota kecil yang sempat hidup sederhana bersama kedua orangtuanya dengan pekerjaan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sekolahku, dan hanya itu. Kami hidup damai. Sampai pada suatu hari seorang utusan dari parlemen mengatakan pada kami rencana restorasi kerajaan Korea. Saat itu pula aku baru tahu ternyata Ayah adalah seorang putera mahkota dan akan menyandang status raja begitu rencana itu benar-benar terwujud.

Saat semuanya menjadi kenyataan, aku berbahagia atas kehidupan baru yang diberikan keluargaku. Kami, para penghuni istana yang sempat tersingkir dari parlemen kembali memiliki apa yang leluhur kami wariskan. Istana beserta seluruh isinya dan warisan-warisan yang tidak bisa kuhitung berapa jumlahnya.

Sekarang setelah apa yang mereka lakukan pada keluargaku, rasa menyakitkan ini terasa tidak ada apa-apanya. Luka pukulan di wajah atau pun nyeri di bagian lain yang Kyuhyun tinggalkan setelah melakukan hal tidak beradab padaku menjadi hal yang biasa saja. Aku bangkit, mengikutinya menyusuri padang ilalang tinggi. Kami berjalan beberapa jam dan entah sampai berapa kilometer karena pada saat cakrawala mulai menunjukkan senyumnya, aku melihat sekilas sebuah rumah—layaknya rumah petani kebanyakan—dan berhenti di sana. Tempat ini penuh jerami kering bekas panen. Kurasa ini halaman belakangnya. Aku melihat sekeliling dan tak menemukan apapun selain padang ilalang di belakang dan hamparan padi luas di samping kanan-kiri rumah.

“Di mana ini?”

“Tempat yang aman,” kata Kyuhyun seraya membuka gembok yang hampir berkarat dengan kunci yang baru saja dia keluarkan dari saku celana.

Naluriku tak memercayai itu sementara kenyataan pun tak bisa berkata sebaliknya. Pria di depanku ini bisa berubah kapan saja. Setelah menyiksaku sedemikian rupa dia masih bisa berlagak menyelamatkanku. Sekarang memercayainya atau tidak aku bahkan tak yakin apakah nyawaku bisa tetap berada dalam raga sampai besok dengan catatan selama masih ada Kyuhyun.

Dengan geraman Kyuhyun dan sedikit paksaan akhirnya kunci gembok itu bisa berputar. Pintu terbuka meninggalkan debu hingga membuatku terbatuk. Aku sedikit risih mendengar dengusan Kyuhyun. Dia bahkan menarikku paksa sebelum menutup pintu itu lagi dan menggeretku menuju sebuah ruangan. Seperti sebuah dapur sederhana, namun dilantainya ternyata ada sebuah pintu rahasia yang bisa dibuka. Hampir sama seperti yang ada di tempat penculikanku sebelumnya. Jika bukan pemilik rumah ini kurasa tidak akan ada seorang pun yang bisa menemukan pintu itu karena warnanya benar-benar menyatu dengan lantai.

Aku meronta hingga tangan Kyuhyun terlepas sebelum dia bisa membawaku ke ruang bawah tanah lagi.

“Apa yang kaumaksud tempat aman ini selalu jauh dari matahari? Tempat apa ini sebenarnya?”

Kyuhyun memutar mata malas dan berkata, “Jawabannya ada di dalam sana, Yang Mulia.” Dengan penekanan di dua kata akhir kemudian mengulurkan tangan. Setengah tubuhnya seolah sudah tertelan lantai.

Dia menatapku dengan serius. Napasnya berhembus cepat seperti menahan kesal terlalu lama. Aku tidak tahu apa sesungguhnya kesalahanku, tapi jika menurutnya menuntut jawaban itu sebuah kesalahan seperti yang selama ini guru tata kramaku ajarkan maka aku memang pantas mendapat tatapan itu.

Dengan ragu aku mendekat kemudian mengulurkan tangan. Bibirnya sedikit terangkat saat menangkap tanganku kemudian dengan pelan kami menuruni tangga besi yang kokoh. Tanpa perintah aku ingat apa yang harus dilakukan setelah seluruh tubuhku benar-benar ada di dalam ruang bawah tanah. Aku menggeser pintu berat itu hingga kembali ke tempat semula dan tertutuplah akses kami dengan dunia atas. Sebelum menuruni tangga lagi Kyuhyun memintaku untuk mengunci pintu kecil itu dengan mendorong grendel besinya. Setelah yakin pintunya benar-benar terkunci, dia menarik sedikit tanganku memberi instruksi bahwa dia akan segera membawaku turun.

Keadaan di sini lebih terang dari ruang bawah tanah sebelumnya. Layaknya rumah dengan perabotan normal berubin seperti kebanyakan rumah-rumah modern. Ada beberapa ruangan yang tertangkap mataku sejauh ini. Di ruang tamu ada dua sofa panjang dan dua sofa berukuran single berwarna cokelat dengan bulu lembut mengelilingi sebuah meja kaca. Tak ada ornamen atau foto-foto yang digantung di dinding. Bahkan suhu di sini cenderung lembab sampai aku harus mengusap lenganku yang tak tertutup karena dingin.

“Changmin sialan,” gerutu Kyuhyun.

Siapa lagi Changmin?

Dahiku mengernyit saat mendengar nama baru itu. Kyuhyun menyadari itu saat kami masuk semakin dalam dan menoleh sebentar padaku. Seringaian menyebalkan itu muncul lagi di antara wajah tampan dan kakunya yang kotor.

“Kau akan segera bertemu dengannya.”

“Kedengarannya seperti bukan hal yang bagus.” Aku mendengus dan hanya dibalas tawa pelan namun puas dari Kyuhyun.

Dia masih menggandengku sampai kami berbelok ke kanan setelah melewati ruangan seperti dapur dan tempat laundry tak terpakai dan menemukan seorang pria jangkung berpinggang kecil sedang membelakangi kami seraya mengamati berlembar-lembar kertas penuh pita merah menyambung dari sisi satu ke sisi lain. Tak ada hal memalukan dari apa yang dia lakukan tapi ketika Kyuhyun berhenti tepat di pintu ruangan itu aku terpaksa menunduk dalam dan mengalihkan pandangan dari pria yang hanya mengenakan celana hitam panjang menggantung di pinggul, tanpa kemeja.

“Kaulupa menyalakan pemanas di ruang tamu.”

Kyuhyun mengatakannya seraya melempar sesuatu—kurasa. Karena setelah itu dia berkata padaku agar tidak perlu malu lagi. Dengan sedikit canggung dan jantung berdebar keras karena baru pertama kali ini melihat pria setengah telanjang di depanku, aku mendongak kemudian menemukan pria tadi sudah tersenyum manis dan sempat menunduk seraya berkata, “Yang Mulia.” dengan lembut.

Aku tersentak melihatnya berlaku seperti itu padaku. Pria itu memiliki wajah yang lebih muda, bibir dan hidung yang lebih kecil, pipi lebih tirus, dan kulit yang lebih gelap dari Kyuhyun. Secara singkat dia memiliki air muka kekanakan namun perilakunya jauh lebih sopan terhadapku. Tidak seperti ….

“Kau membawa permata berbalut lumpur ke mari, Sobat.”

Kutarik kata-kataku tadi. Dia sama tidak sopannya dengan Kyuhyun.

Aku berusaha tetap menegakkan dagu layaknya puteri mahkota yang harus tetap bisa menyangga beratnya harga diri meski mendapat olokan dari orang lain. “Terima kasih. Kuanggap itu pujian yang kauucapkan dengan malu-malu, Tuan Changmin, kalau boleh kutebak. Maaf, aku belum mengetahui nama keluargamu.”

“Shim, Yang Mulia. Shim Changmin,”

“Senang bertemu denganmu, Tuan Shim. Aku sering mendengar marga keluargamu di istana.”

Kyuhyun mendecak sementara Changmin tertawa keras sampai suaranya terkesan melengking.

“Aku suka wanita sepertimu. Tidak mudah tersinggung,” kata Changmin setelah tawanya mereda.

“Harga dirinya terlalu tinggi untuk bisa kaulukai dengan pujian semacam itu.” Kyuhyun menambahkan seraya menarik pinggangku tiba-tiba dan aku tak bisa menghindar. Tubuh kami menempel. Dia sengaja melakukan itu agar aku bisa melihat senyuman setan itu.

Changmin masih tertawa meski lebih pelan sambil duduk di pinggiran meja. Menatapku dan Kyuhyun bergantian dengan pandangan tak percaya, kemudian menggeleng seperti orang keheranan.

“Sopanlah sedikit dengan Tuan Puteri. Kau bisa kena penggal karena sembarangan menyentuhnya.” Changmin memperingatkan.

Entah mengapa aku diam-diam menyetujui pernyataan pria kurang ajar itu dengan tersenyum miring pada Kyuhyun. Tapi sayangnya itu masih kurang untuk membuatnya gentar. Kyuhyun malah semakin mendekatkan wajahnya padaku. Mata tajam nan hitam itu hanya berjarak tiga senti dari mataku. Hidung kami bersentuhan dan napas hangat yang keluar dari bibirnya membuat bulu kudukku kembali berdiri saat berkata, “Aku sudah pernah lebih dari menyentuhnya, kalau kau ingin tahu.” Kemudian menyeringai dan menggesekkan ujung hidungnya dengan hidungku.

Perlakuan kecil seperti itu mampu membuatku melemas. Jika saja Kyuhyun tak menggenggam pinggangku, mungkin aku lebih memilih pingsan dan tak sadar sampai keesokan harinya karena terduduk lemas hanya karena mengingat hal kurang ajar apa saja yang pernah dia lakukan padaku.

Kebencianku padanya berlevel sama dengan kebencianku pada ibu tiriku. Dia membuatku ketakutan sekaligus mendamba sesuatu yang tak kuyakini apa itu sebenarnya. Kyuhyun mengirimkan sejumlah energi menakutkan hingga sering kali aku kesulitan menelan salivaku sendiri untuk membasahi tenggorokan yang mengering karena ancaman dan tatapan itu. Dia pria pertama yang berani memegangku dengan tidak pantas, menciumku, bahkan mengikutsertakan bagian paling pribadinya.

Aku berdeham saat menyadari tatapannya beralih dariku ke rekannya. Dia melempar sebuah kertas pada Changmin. Wajah Changmin terfokus pada kertas kuning yang kutahu itu mencacat perjanjian penting raja terdahulu.

“Aku mendapat manuskrip penting dari dalam istana. Kurasa itu bisa bernilai ratusan juta. Lanjutkan pekerjaanmu. Apa sudah ada kabar dari Jonghyun dan Minho?”

Kyuhyun benar, jika dijual di pasar gelap sekalipun manuskrip itu bisa bernilai ratusan juta apalagi di museum. Dan kurasa kedua pria kurang ajar ini cukup cerdik untuk tidak bunuh diri dengan menjual itu ke Museum Nasional atau bukan. Mereka pasti tahu tempat manuskrip itu seharusnya ada di istana. Aman bersama sederet barang peninggalan pendahuluku di sepanjang lorong istana yang disediakan khusus untuk kunjungan wisata.

“Belum ada kabar apapun dari kedua bocah itu. Kita tunggu sampai keadaan memungkinkan,” jelas Changmin kemudian melipat manuskrip itu lagi. “Sementara ini kau bisa bersenang-senang dengan Tuan Puteri kesayangan kita.”

“Dia milikku,” sergah Kyuhyun penuh ketegasan dan tatapan tajam pada Changmin sebelum menyeretku untuk kesekian kalinya menelusuri lorong terang.

Aku semakin membencinya setiap detik. Dia membawaku kesana-kemari seenak hati.

“Berhenti memperlakukanku seperti kerbau. Kaupikir dengan siapa kau berurusan?”

“Kerbau, heh? Terlalu bagus untukmu, Yang Mulia. Kau lebih mirip kambing kurang rumput.”

Aku meronta tapi cengkeraman Kyuhyun mengerat lebih kuat dari sebelumnya. Bahkan terkesan kasar. Air mataku mengalir begitu saja. Bukan hanya sakit karena cengkeramannya tapi juga perasaan takut bercampur benci teraduk menjadi satu membuatku mual, sesak, dan ingin mati saja. Namun bayangan wajah kecewa Ayah dan Ibu saat melihatku menyerah juga tak kusukai sama sekali. Jadi, saat pria bejat ini tak melihatku dan lebih sibuk membuka kunci pintu sebuah ruangan aku menyeka setetes air mata yang mengalir di pipi.

Pintunya terbuka lebih mudah. Ruangan—ah, bukan. Kamar ini sama saja dengan keadaan ruang bawah tanah yang kutemukan sejak memasuki ruang bawah tanah ini. Ranjang besar cukup untuk dua orang bergulingan dengan empat tiang terpancang di tiap sudutnya dan tirai putih seperti yang ada di kamarku. Bedanya wangi tempat ini begitu maskulin. Lebih hangat, rapi, dan tidak begitu ada perabotan. Hanya ada sebuah night stand di sebelah kiri, lemari pakaian cukup besar, satu sofa panjang dan sebuah meja di bawah ranjang. Ada sebuah pintu yang sedikit terbuka di sayap kanan. Kelihatan seperti kamar mandi. Sisanya tak memberiku satu petunjuk pun mengenai kepribadian Kyuhyun.

“Kenapa diam saja? Biasanya mulut kecilmu itu terus bicara.”

Rupanya, sikap diamku memang lebih ampuh menarik perhatiannya. “Bertanya pun percuma. Kau takkan mau menjawabnya,” sungutku.

Kyuhyun tertawa singkat, lebih seperti dengusan yang biasa dia keluarkan. “Jangan mengharapkan yang lebih dari ini. Sudah bagus aku punya kamar untukmu dan bukan kandang kambing atau istal kuda seperti di istanamu, Yang Mulia.”

Ck. Nada itu lagi. Dasar pria menyebalkan!

“Aku tidak tahu dari mana kau menuruni sikap kurang ajar itu.”

“Yang pasti bukan dari kedua orangtuaku.” Kyuhyun menjawab seraya melepas jas kotornya dan melemparnya begitu saja ke sofa.

“Oh ya? Lucu sekali.”

“Jangan pernah menertawakan orangtuaku atau—“

“Atau apa? Sayangnya kenyataan mengatakan lain. Kau! Dengan perilakumu seperti itu menunjukkan darah menjijikkan dalam tubuhmu dan—“

“Diam!!!”

“Anak pembunuh!!!” Darahku naik lebih cepat. Napasku sampai tersengal.

“Brengsek!!!”

Aku tercekat begitu pistol itu kembali mengarah padaku. Kali ini lengkap dengan geraman dan tatapan membunuh Kyuhyun. Wajahnya memerah. Tubuhku langsung mendingin. Aliran darahku berhenti saat itu juga dan tak bisa mengatakan apapun selain memekik takut. Terduduk karena kaki tak kuat lagi menahan beban tubuhku sendiri akibat getaran hebat dari suara menggelegar itu. Dia seperti singa … bukan, tapi monster. Monster hidup di bawah tanah dan sekarang aku sedang bersamanya.

“Tenang saja, Yang Mulia, jika kau sudah tidak berguna lagi pistol ini tidak hanya akan mengacung padamu. Kau akan merasakan timah panasnya sebagai bonus. Sekarang cepat mandi. Bersihkan badan kotormu itu. Aku akan kembali sepuluh menit lagi.”

Pintu tertutup dengan benturan keras, saat itu pula darahku kembali berdesir dan menghangatkan tubuhku lagi. Sedikit lega karena akhirnya bajingan itu menjauh dariku. Dadaku masih berdetak tak karuan, kakiku masih lemas dan sejauh ini hanya bernapas pelan yang bisa kulakukan dengan sempurna. Setan itu benar-benar menakutkan. Dugaanku memang tak begitu meleset. Setidaknya dengan begini aku tahu tabiat aslinya yang lebih mengerikan.

Beberapa menit kemudian aku baru bisa bangun dengan berpegangan salah satu sudut sofa kemudian berjalan menuju kamar mandi.

Hal pertama yang kulakukan adalah berkaca. Kemudian mendadak ingin muntah melihat wajahku sendiri yang penuh debu dan kotoran sementara gaunku hancur di beberapa tempat. Rok yang seharusnya menjuntai indah menutupi kaki kini hilang separuh karena ulah Kyuhyun—lagi-lagi. Aku mencuci wajah lebih lama dari biasanya karena kotoran ini kelihatan memandel seperti arang menempel di bokong panci. Lalu mulai bingung melihat ada dua kran di ujung bath up. Biasanya mandi merupakan ritual paling menyenangkan untukku karena tidak perlu bingung menentukan berapa banyak kombinasi air panas dan air dingin untuk menghasilkan air hangat yang sempurna. Beberapa saat kuhabiskan hanya untuk mengukur air-air itu lalu memasukkan sebelah kaki. Aku tak bisa menahan pekikan saat merasakan air panas itu menyentuh ujung kaki. Setelah menambah beberapa liter air dingin, kubuka seluruh gaun hingga benar-benar telanjang dan masuk ke dalam bath up yang sudah kutambahi sabun sebelumnya. Mencoba tak memrotes suhu airnya yang sedikit terlalu dingin.

Kuhela napas panjang dan pelan seraya menyandarkan kepala. Menikmati air bersih yang sudah lama tak kurasakan sejak dua puluh empat jam terakhir. Mataku terpejam. Meresapi perih di beberapa bagian tubuhku yang sempat terkena pukulan. Terlalu lelah untuk menangisi itu aku lebih memilih mendinginkan pikiran. Tapi yang kudapati malah bagaimana otakku memutar kembali kejadian sebelum ini. Apa yang terjadi dengan Teo Oppa dan Ahra Eonni, apakah mereka baik-baik saja atau mendapat perlakukan lebih buruk saat aku tidak di sana. Semua itu membuatku kembali khawatir. Sayangnya keadaan dan situasiku sekarang ini bahkan lebih mengenaskan.

Kyuhyun benar-benar sebuah bencana.

Beberapa menit setelah itu tubuhku mulai kedingingan. Sepertinya karena terlalu lama berendam. Aku langsung membasuh tubuh di bawah shower, menyambar satu-satunya handuk yang ada di gantungan dan melilitkannya di sekitar tubuh. Panjangnya cukup untuk menutupi dada sampai lutut.

Saat kembali ke kamar, kukira aku akan menemukan Kyuhyun dan mengancamku lagi untuk sesuatu yang dia inginkan dariku tapi ternyata hanya hembusan napasku sendiri dan detak jam kecil di atas night stand yang meramaikan ruangan ini.

Alisku tertaut saat melihat dua helai pakaian ditumpuk di sisi kiri ranjang. Sebuah kaos polos hitam dan celana olahraga pendek. Seandainya pun kupakai celana ini tidak akan begitu berguna karena terlalu besar dan satu-satunya masalahku di sini hanyalah pakaian dalam. Sialnya gaun yang kupakai menyediakan cup untuk menyangga payudara saja dan aku tidak mungkin memakai lagi celana dalam yang sudah kubiarkan teronggok dan basah di lantai kamar mandi.

“Mencari sesuatu, Yang Mulia?”

Aku berjingkat terlalu berlebihan hingga terduduk di atas ranjang dan pakaian itu terlempar begitu saja karena hembusan napas hangat Kyuhyun menyapu telingaku lagi. Dia berada tepat di belakangku. Bibirnya begitu dekat hingga hampir menempel.

Tubuhku sedikit memantul karena aku bergerak mundur dengan cepat. Menghindarinya melakukan hal yang tidak pantas lagi. Mungkin dia melihatku seperti nyamuk sekarat yang baru saja kena tepukan. Dia bahkan tak terlihat punya niatan pergi dari sini saat menerima penolakanku.

Dia malah menarik pinggangku lagi, memutar tubuhku hingga tanganku mendarat dan berpegangan erat di kedua bahunya. Dada kami beradu, hanya terhalang kemeja putihnya dan selembar handuk yang kupakai. Mata itu kembali mengirim sengatan berbahaya yang menggetarkan, melemahkan setiap sendi hingga aku bisa terkulai kapan pun.

Dengan jarak sedekat ini aku bisa melihat cekungan—yang anehnya terlihat menawan—di kedua sudut bibir penuhnya. Tanpa peringatan tengkukku mendapat dorongan kuat hingga yang kurasakan kini hanya lembut bibir yang ternyata diam-diam kukagumi itu. Kedua tangannya bekerja sama dengan baik mengungkung dan menahanku tetap dalam dekapannya. Lidah panas itu membelai dan memisahkan bibirku yang berusaha tetap terkatup rapat-rapat. Dengan belaian selembut itu aku menyerah. Menyerah begitu mudah dalam sapuan lidahnya yang mulai merasuk ke dalam mulutku, bermain-main di sana sementara tangannya kini turun membelai sisi-sisi leherku, ke bahu, semakin ke bawah lagi hingga menyentakku karena terpaan hawa dingin menembus kulit dan menegangkan puncak payudaraku.

Refleks, aku langsung mundur beberapa senti dari Kyuhyun. Tertegun melihat handuk yang tadinya melilit tubuhku ini menumpuk seperti onggokan kain lap di seputar perut.

Kyuhyun tidak melakukan apapun. Dia hanya menatapku, bukan … dia menatap payudaraku, lagi- lagi dengan seringain mengerikan itu. Tangannya terulur. Tubuhku tiba-tiba bergetar karena harga diriku luluh lantak hanya dalam waktu sehari bersama bajingan ini. Air mataku keluar lagi tanpa bisa kutahan. Rasanya inilah hal yang paling menyakitkan dari apa yang sudah pernah dia lakukan padaku. Pastinya ini pun tak akan jauh beda dengan sebelumnya. Tangannya semakin mendekat. Isakanku semakin kuat.

Aku beringsut ke salah satu pojok ranjang. Mata Kyuhyun masih melihat dadaku yang tak tertutup. Dia merangkak mengikutiku seperti macan melihat rusa muda berdaging renyah.

“J-jangan!”

Kuucapkan dua kata itu dengan susah payah. Bodohnya, hal itu malah semakin berdampak buruk. Bukannya melepasku Kyuhyun malah mengungkungku lagi. Tangannya bergerak menangkup sebelah payudaraku kemudian meremasnya pelan hingga aku harus mati-matian menahan desahan yang mendesak ingin segera keluar dengan menggigit bibir dan aliran hangat membasahi pangkal pahaku karena gerakan itu dan hembusan napas memburunya.

Aku takut melihat mata itu. Tanganku melemas seperti tanpa tulang, menahan bobot tubuhku sendiri saja tidak mungkin apalagi mendorongnya menjauh. Tapi kakiku masih bisa, dan saat aku melakukannya keadan bisa bertambah buruk karena handukku akan tersingkap dan menampakkan sesuatu yang tidak pantas diperlihatkan pada orang lain.

“J-jangan!!! A-ku tidak mau!!!”

Mulai histeris, aku beringsut darinya meski itu pun tak membantu. Teriakan itu datang berbarengan dengan isakan, lalu tangisku pecah begitu saja. Rasanya seperti berada di bawah ancaman seekor singa jantan kelaparan yang siap menggigit nadi, menghentikan napas mangsanya, kemudian mengoyak dagingnya.

“Ahhh.” Rintihan pun tak bisa kutahan saat remasan tangannya di payudaraku semakin mengencang disusul belaian lidah panas Kyuhyun di atas puncaknya. Sakit bercampur perasaan aneh yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku menggigil di bawah tatapannya ketika mata itu berada tepat di atasku. Tak bisa berkata apa-apa lagi, suaraku tercekat. Tenggorokanku tersumbat karena saliva menggumpal di sana dan hangat itu semakin menganak sungai di bagian pangkal pahaku. Panas, gatal, membuatku menginginkan sesuatu yang aku sendiri tak tahu apa itu. Namun, begitu Kyuhyun memperkuat hisapannya. Kedua mataku langsung tertutup. Aku harus menahan malu karena mendapati kedua tanganku mengalung di lehernya, bergelayut, takut jatuh kembali ke dunia nyata yang mengerikan.

Yah. Aku masih berharap ini hanyalah mimpi. Segala kenikmatan ini tidaklah nyata dan Kyuhyun hanya mimpi buruk yang harusnya menghilang saat aku membuka mata. Dalam pikiranku masih berusaha menjalin kisah-kisah indah untuk seorang puteri mahkota seperti itu. Menikah dengan Teo Oppa, memimpin kerajaan yang diwariskan ayah untukku. Mempunyai keluarga seperti kebanyakan orang pasti terasa menyenangkan tanpa memikirkan intrik-intri menjijikkan seperti ini.

Sentakan tangan Kyuhyun menyadarkanku. Dia menggenggam kedua pergelangan tanganku dengan satu tangannya, mengangkatnya hingga berada di atas kepala. Mataku terbeliak saat nyeri di kedua kakiku karena ditindih oleh kaki Kyuhyun hingga tak bisa berontak. Sekalipun berteriak tidak akan berguna Kyuhyun tetap melakukan pencegahan itu dengan membungkam mulutku. Bukan dengan kain atau lakban, dia menggunakan mulutnya sendiri. Menghisapnya kuat hingga aku kebingungan bernapas karena hidungku tertutupi pipinya. Dan saat itu juga terasa sesuatu yang tajam menembus pahaku. Sakitnya seperti digigit semut. Hanya sebentar memang karena setelah itu yang kurasakan hanyalah kantuk yang amat sangat, pandangan mulai mengabur, pendengaran mulai terganggu. Namun, sayup-sayup aku masih bisa mendengar Kyuhyun berbisik, “Mimpi indah.”

***

Aku tahu ini konyol. Kyuhyun jelas-jelas mempermainkanku. Bayangkan apa yang sebenarnya dia pikirkan sampai bisa membuatku pingsan dua kali dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam dan terbangun dalam keadaan yang yah … bisa dibilang masih lebih baik daripada sebelumnya. Badanku sudah tertutup kaos dan celana olahraganya beberapa menit lalu.

Rumah ini menjadi sangat sepi dari pertama kali aku masuk jadi kuputuskan untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan karena jujur saja sejak semalam perutku belum terisi apapun kecuali mimosa dingin saat peseta kemarin malam. Keluar menyusuri lorong dan menemukan dapur di depan ruang laundry tak terpakai, aku menemukan peralatan memasak dan sebuah kompor gas dan sebuah lemari es kemudian membukanya namun tak menemukan apapun di sana. Hanya ada sisa sayur, beberapa kaleng ikan kaleng, air putih, sepotong daging merah, dan es batu.

Aku menghelas napas sebelum menutup pintu kulkas dan berjingkat sekaligus menjerit di detik selanjutnya ketika mendapati Kyuhyun sudah berdiri di sampingku dengan seringan itu lagi.

“Kelaparan, Yang Mulia?”

“Kurasa kau punya kelainan. Bisa tidak bersikap normal saja? Kau seperti hantu. Tiba-tiba datang, tiba-tiba hilang. Jantungku cuma satu. Kalau sampai aku mati di sini bagaimana?” Sungutku seraya memegangi dadaku.

“Itu kalimat terpanjang yang pernah kudengar mulut manismu, Yang Mulia,” kata Kyuhyun seraya menyentil daguku, “selain perintah dan protesan, tentu saja.” Senyumnya melebar saat kutampik tangan besarnya dari wajahku.

Dasar orang gila!

“Hyo In. Panggil aku Hyo In saja,” ujarku. Kemudian segera pergi dari hadapannya.

“Hyo In!” Aku berhenti di depan ruangan Changmin dan berbalik menatap Kyuhyun. Dia berdiri di tengah jalan, wajahnya terlihat lebih tampan dan segar dengan muka yang lebih bersih dari terakhir kali aku melihatnya saat menindih tubuhku di atas ranjang dan itu membuat puncak payudaraku mengencang lagi hanya dengan memikirkan apa saja yang pernah bibir penuh dan lembut itu lakukan pada tubuhku. Bagaimana tangan kekar yang terlipat di bawah dada itu membelai tubuhku dan seolah teramat peduli pada bagian-bagian tertentu terlepas dari masalah tindakan itu hanya sebagai pengalih perhatian sebelum membiusku. Kemudian aku tertunduk karena pipiku memanas begitu saja.

“Makan siangmu ada di ruang tamu.”

Wajahku terangkat lagi. Kali ini Kyuhyun mundur dan menyandarkan punggungnya di lemari es, memberiku jalan. Matanya masih menatapku dengan tatapan yang lebih lembut dari sebelumnya. Mencoba membuat luluh, huh? Tapi jujur saja, itu tatapan paling tulus yang pernah kulihat. Sama seperti yang diberikan Teo Oppa dan Ahra Eonni selama ini padaku.

Aku mengangguk sebagai jawaban kemudian berjalan melewatinya menuju ruang tamu. Kyuhyun menyejajarkan langkahnya denganku beberapa saat kemudian. Lalu dia membuatku terkesiap lagi saat telapak tangannya mendarat tepat di bokongku. Sekilas aku bisa melihat seringaian itu kembali terpasang di bibirnya, menampakkan cekungan di tiap sudutnya.

“Jangan menatapku seperti itu. Setidaknya aku tidak menyeretmu seperti kerbau lagi.”

Oh, pria ini selain gila ternyata pandai memanfaatkan situasi.

Hanya ada satu porsi besar bimbimbap, daging sapi panggang yang cukup banyak, lima botol soju ukuran kecil dan tiga gelas air putih. Kukira ini semua tidak mungkin habis jika cuma kami bertiga yang memakannya tapi ternyata pikiranku salah. Salah besar.

Kedua pria menyebalkan ini makan seperti kereta yang tidak punya stasiun. Lahap dan cepat. Sampai-sampai aku tak yakin apakah mereka benar-benar mengunyah makanannya. Well, tidak buruk memang karena pada akhirnya tak ada makanan yang tersisa. Aku hanya sempat menghabiskan beberapa suap bimbimbap dan tiga potong daging sapi. Sisanya dihabiskan Kyuhyun dan Changmin. Mereka tidak berbicara saat makan. Hanya berkata, “Untukku saja.” dengan mulut penuh dan hanya tersisa sebotol soju saja untukku.

Baru pertama kali ini aku melihat orang makan selahap dan sebebas itu. Jika ingin melakukan ini aku harus berpura-pura kurang enak badan dan makan sendirian di kamar. Di istana semuanya penuh aturan. Bagaimana caranya duduk di meja makan, sendok mana yang harus dipakai lebih dulu, makanan apa yang disajikan sebelum menu inti dan topik apa saja yang boleh dibahas di meja makan. Tapi di sini aku hanya melihat keakraban mereka saat berebut potongan terakhir daging panggang dan hatiku menghangat begitu saja sampai tidak bisa menahan senyum.

“Ambil saja milikku. Berikan itu untuk Kyuhyun.”

Whoa! Yang mulia, kau bukan hanya cantik tapi juga sangat baik,” kata Changmin sambil mengedipkan sebelah matanya. Dia bersorak sebelum menendang kaki Kyuhyun karena berhasil menang dengan senyum puas di bibirnya.

Jika sekali melihat, mungkin orang-orang tidak akan percaya bahwa Kyuhyun yang berwajah lembut ini mempunyai darah sedingin es dan berani membunuh beberapa orang hanya dalam satu hari, sementara Changmin yang terlihat lebih kekanakan sangat tidak menunjukkan pertanda bahwa dia seorang ahli strategi. Sekarang kami bertiga duduk di ruangan Changmin. Menatap peta istana dan beberapa tambahan detil yang dibuat sendiri sampai jenis pengamanan apa saja dan berapa banyak penjaga yang disediakan istana untuk berjaga di setiap penjuru gerbang dan ruangan-ruangan penting lainnya.

“Gila! Dari mana kalian mendapat peta ini?” Aku tertegun sesaat sebelum akhirnya dengusan tawa Changmin mengalihkan perhatianku lagi.

“Aku pernah berkunjung ke istana beberapa kali. Tidak sering memang. Kurasa semua pengunjung memang mendapatkan ini secara cuma-cuma.”

“Dan detil-detil keamanannya?”

“Changmin seorang mantan anggota keamanan saat di militer dulu. Kurasa bukan hal yang sulit untuknya mengetahui jenis alat keamanan apa di sana hanya dengan beberapa kali kunjungan.” Kyuhyun berkata santai seraya membalik buku Nat Geo di tangannya.

Aku menggeleng tak percaya. Dahiku mengernyit melihat betapa mudahnya pengamanan itu ditembus jika saja mereka mau. Dan itu bisa terjadi kapanpun. “Siapa lagi yang punya rahasia ini selain kalian dan anggota keamanan kerajaan? Dan untuk apa kalian memberitahukan ini padaku?”

Untuk sebuah rahasia. Satu bayaran bisa menebus segalanya. Entah bayaran macam apa itu, yang jelas bukan sesuatu yang menyenangkan.

Kyuhyun menutup bukunya kemudian menopangkan siku di atas kedua paha dan menatapku tajam dari posisi yang lebih rendah. “Kami membutuhkan bantuanmu.”

Kedua alisku tertaut. Apa-apaan mereka ini? Setelah melakukan banyak hal yang tidak menyenangkan sekarang berani-beraninya meminta bantuanku. “Dan alasan apa yang membuatmu yakin aku pasti akan membantumu? Hanya karena peta itu? Kaumau mengancamku akan menghancurkan istana jika aku tak menuruti keinginan kalian.”

Kyuhyun mendengus. “Sejujurnya ya … bisa dibilang begitu. Kami hanya ingin bekerja sama denganmu.”

Changmin menginterupsi, “Selain itu, kau juga akan mendapatkan keuntungan dari kerjasama ini.” dengan suara teramat yakin.

“Maksudmu?”

“Pikirkan lagi bagaimana nasib istana itu jika sampai jatuh ke tangan ibu tirimu. Aku sangat yakin keadaan istana sekarang sangat kacau. Puteri mahkota menghilang, tidak ada pewaris lain dan dialah satu-satunya orang yang paling berpotensi menggantikan kedudukan ayahmu karena bahkan kau tidak punya sepupu jauh yang bisa menggantikan posisimu untuk sementara.”

Salivaku mengeras mendengar penuturan masuk akal Kyuhyun. Aku terlalu sibuk memikirkan diriku sendiri agar bisa selamat dari sini dan tak menyadari hal apa saja yang bisa terjadi selama aku tidak ada.

Kyuhyun menggeser duduknya hingga paha kami menempel. Tatapan matanya tak lagi tajam, namun berubah menjadi sesuatu yang sebelumnya kusebut tulus.

“Aku dan Changmin hanya ingin kau melakukan satu hal dan sisanya serahkan pada kami.”

“A-apa?”

“Jangan menyerah.”

Jantungku masih berdegup kencang ketika tahu apa yang harus kukatakan pada Kyuhyun setelah ini. Aku tidak tahu tindakan ini benar atau salah, tapi aku akan melakukan apapun demi menyelamatkan rakyatku dan kedudukan Ayah agar tidak jatuh ke tangan yang salah. Membayangkan bagaimana ibu tiriku bisa memanipulasi siapapun dengan kekuasaan sebagai ratu bukanlah hal yang bagus. Korea bisa hancur hanya untuk memenuhi keinginan dan kepentingannya sendiri.

Dengan suara bergetar aku mencoba mengeluarkan suara. “K-kenapa?”

“Karena yang akan kita lakukan bukan sekedar permainan bocah. Ini tidak akan mudah seperti yang sudah aku dan Changmin rencanakan tapi dengan bantuanmu kurasa ini tidak akan sesulit sebelum kau terlibat. Aku butuh semua informasi yang lebih valid terkait istana darimu dan sebagai gantinya aku akan membantumu mendapatkan tahta itu kembali.”

“Bonus menghancurkan ibu tirimu juga terdengar bagus,” celetuk Changmin.

“Ta-tapi untuk apa kalian membutuhkan informasi itu?”

Jika aku salah mengambil tindakan, maka ini sama saja disebut bunuh diri.

Kyuhyun menghela napas panjang sebelum menangkup kedua bahuku dan memberikan tatapan tulus itu lagi. Namun kali ini bercampur dengan amarah dan ketergesaan. Aku sampai tidak bisa melawan tatapan itu karena mata itu melemahkanku.

“Aku harus menyelamatkan kakakku dari sana.”

“Siapa?” tanyaku lirih seraya mencari jawaban dan kejujuran dari mata Kyuhyun.

“Ahra. Cho ahra.”

Mataku terpejam. Jantungku seperti dihujam batu runcing tajam. Bagaimana bisa wanita baik sepertinya terdampar di sana sellau membuatku penasaran dan setiap kali menanyakannya dia tidak pernah menjawab itu. mungkin ini salah satu kesempatanku untuk menyelamatkan seseorang yang kusayangi sekaligus menyelamatkan kerajaan.

Kuhela napas panjang sebelum membalas tatapan Kyuhyun dan menjawab tawarannya dengan yakin. “Ingatkan aku untuk menghapus anggaran peta gratis bagi pengunjung di istana saat aku kembali ke sana.”

29 thoughts on “[Chapter] Snow White and the Evilman Part 3

  1. Wahh .. udah ada lanjutan’a ..
    Hemmp ,, tapi knapa yahh kok ahra bisa tinggal di istana ??
    Wahh .. semoga rencana kyuhyun , changmin n hyo in bisa berjalan dengan lancar ..

  2. itu gimana ceritanya kyuhyun dan ara bisa terpisah?…
    penasaran…ditunggu part selanjutnya,
    fighting thor…

  3. Oh jdi mau nyelamatin noona to, yakin cuma itu. Trus kyuh ada perasaan nggak si sama hye in, kok gitu bgt kan kasian hye in’nya.
    Kyuhyun MENGERIKAN!
    Buat misinya mending disepakatin aja, ikutlah bergabung nanti kalo udh sukses kembali ke yg seharusnya jadi deh hye in nikah sm kyuhyun, trus happyending hahaha

  4. ayeeee
    Ahra eonni memang noona Kyuhyun
    kyaaaaaaaaaaa
    si Kyuhyun mesum
    bahahahaha
    lawak tapi mengangkan juga
    mereka bakal sama2 menghancurkan ibu tiri Hyo In
    waaaaaaah ><
    uwoooooh
    Kyu-Line selalu berpartisipasi di ff Kyuhyun
    hap hap hap semangat Cho Kyuhyun

  5. Owh, kyuhyun keren sekali.
    Kesemsem sama kyuhyun yg jago kayak gitu.
    Tapi ini semua misterinya belum terungkap. Masih belum paham aja aku ama jalan ceritanya.

  6. Harapanny sih mereka cinlok

    Gak sabar mau liat actionn kyu dlm berkelahi

    Masa iya kyu gak suka/ tertariik gitu

    Penasaran bget POV kyu

  7. kyuhyun… kamu nakal ya~~ eh tp dy sama hyoin ga smp ‘itu’kan tadi? *bingung* smoga rencananya ga merugikan hyoin…

  8. Akhirnya publis juga…
    Semakin penasaran🙂.

    Semoga rencana mereka berhasil.

    Dan,,

    Semoga, nunggu FF ini publish tidak selama nunggu Reset😀

  9. oh jadi itu kyuhyun butuh bantuan hyo in buat nyelametin kakaknya tapi gimana mereka bisa pisah dan penyebabnya? penasaran banget sama lanjutannya^^

  10. Misterius dan mesum selalu si Cho Kyu. Dan ah ternyata Kyu melakukan semua juga buat menyelamatkan Ahra. Eh tapi kenapa ahra eonni bisa di istana ya? Sedangkan Kyu enggak ?

  11. owww jd alasannya krna ingin membebaskan nunanya…
    yyy aq tau skrg..
    ayo kyuhyun.hyo in,changmin kerja sma yg kompak y…
    next part dtggu y thor.
    fighting dan gomawo..

  12. JAdi kyuhyun mau nyelamatin ahra. Btw gumna keadaan istana terutama Teo dan ahra yg tahu putri mahkota menghilang. Semoga rencana mereka ber3 berhasil.

  13. Merasa Semangat 45 nih si hyo in,begitu tau ada yang mau membantunya merebut kembali kerajaannya,apalagi yang mau bantuin orangnya ganteng gitu😀
    tapi bang kyu jangan cari kesempatan dalam kesempitan gitu dong…😀

  14. Bener tebakanku klo ahra bukan hanya kaka di dunia nyata, tapi disini pun .. Trus apa dia terjebak di istana ? Di suruh kerja secara paksa sama ibu tiri tuan putri ? Dan kenapa yah aku punya firsat buruk sama teo wkwkwk
    Jujur saja aku nemu blog ini karna keinget sama ff yang judulnya reset, aku belum sampe end baca ff itu, dan setelah dapet eh aku malah kepincut baca ff ini hahaha seruuuuu, cerita nya menarik buat di tungguin kelanjutannya, dan adegan dewasanya bikin degdegan wkwkwkwk
    Ayoooo post selanjutnyaaaa .. Aku tungguu authoorrr😀 keknya aku bakal bolak balik berkunjung buat update part baru kekekekek ~

  15. Woaaaah…emang sulit ditebak.
    Ternyta tujuan kyu mw nyelametin kakaknya…tapi begimana ceritanya ahra bisa terdmpar di istana…

  16. Knp kakakny kyu bsa kjebak d istana hyo ya,, jd yg d ingnkn kyu adlh bsa krjsma dgn hyo,, n bkln bntu hyo tuk naik tahta..
    Tp kyu brani bgt y pgang2 hyo,, kan itu namany pelecehan,, atau dy sngja nglkuin itu biar hyo ingt kyu trussss hehehe

  17. berasa pendek atau karena keasikan baca ? hehehhe kenapa di setiap part selalu aja bikin penasaran kelanjutannya kaya apa.
    di part ini aku ngerasa kaya ga ada point utamanya… berasa ada yg kurang gt.

  18. Appa kyu bunuh appa hyo in kah? Alasannya? Dan sbnrnya kyu tuh suka gk sma hyo in? Dr cara dia blg ke changmin “dia milikku” udh kyk dia gk rela hyo in sma org lain.. hwaaa pasti menegangkan mesti lawan ibu tiri nya yg kejam? Smoga mereka brhasil yahh bibit cinta tumbuh hehehe

  19. Udara panas banget tadi, tapi langsung berubah dingin… Wkwkwk, ada niat terselubung kyu dan chang bawa hyoin ke situ.. Hahaha ayo, tambah penasaran apa lagi yg akan kyu lakuin…
    Cekidot ke part selanjutnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s