[Chapter] At Gwanghwamun Bagian 4

At Gwanghwamun
Cho Kyuhyun (SJ)/Song Hyo In (OC)

Happy reading!!! ^^

11180317_949635291726786_8055858873775907172_n

Bagian 4

HYO IN

Nobody Knows Every Single Thing

Aku akan melakukan hal yang kusuka dan jangan pernah mengharapkan hal itu juga akan disukai orang lain. Pada dasarnya aku tahu semua manusia memiliki keberagaman hal yang disukai. Jika aku lebih suka mendekam di kamar sendiri bersama laptop, mencoba menjadi guru sekaligus penulis yang baik—meskipun belum berhasil—maka aku tidak boleh menyalahkan Kyuhyun yang masih suka mengingat mantan tunangannya.

Logikanya sesederhana itu.

Tapi tahukan kalian menggunakan logika itu tak semudah yang dibayangkan? Sebagai manusia biasa, secuek apapun aku tetaplah punya perasaan yang sering tiba-tiba bangun ketika logika datang begitu cepat. Cara kerjanya adalah dengan memperlambat otakku memproses logika itu sendiri. Dan itu lebih mematikan daripada ocehan tidak penting para tetangga lansia.

Mencoba memahami alasan Kyuhyun belum bisa melupakan mantannya ternyata lebih mudah daripada mencari alasan mengapa aku bisa begitu saja mengerti alasan itu sebagai sesuatu yang wajar.

Kyuhyun berdeham. Aku baru sadar kalau sudah beberapa menit ini terus memandanginya. Mata hitam itu semakin kelam dan bercampur dengan segala macam warna kelabu. Kacau.

“A-ayo masuk!” Gerakanku terhitung kikuk sampai membuka safety belt saja harus dibantu Kyuhyun.

Samar-samar aku mendengar kikikannya setelah selesai membuka belt-nya sendiri. Sialan!

Rasa ibaku menguap begitu saja.

“Hei!”

“Hum?” Kyuhyun menolehku sebentar sebelum keluar dari mobil.

Aku menyusulnya. Berjalan sedikit tergopoh karena kesalahan memakai high heels dua belas senti padahal belum terbiasa dengan hak setinggi ini. Dia hanya berjalan biasa, tapi cukup membuatku kelelahan karena harus mengikuti langkah-langkah lebarnya menuju pintu masuk jjimjilbang (pemandian air panas).

“Hei!” Panggilku sekali lagi dengan suara lebih keras.

“Namaku Kyuhyun, bukan Hei.”

Aku mendengus mendengar jawaban datarnya. Benar-benar Lemari Es yang membingungkan. Setidaknya tunjukkan ekspresi tertentu agar aku bisa menilai apakah dia sedang marah, sekedar kesal, atau bercanda.

“Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Ini agak serius. Kita bertemu di restoran jjiljimbang setelah ayah dan ibuku pulang, bagaimana?”

Kami berhenti di bawah tangga sebelum pintu masuk. Kyuhyun mendelik padaku antara curiga dan tidak yakin dengan ajakan yang kuberikan. Apa yang dia pikirkan sekarang, kenapa harus melihatku seperti itu? Lagipula aku hanya mengajaknya makan dan bicara, bukan berkencan ataupun bermalam di sini.

“Ayahmu bisa curiga.”

“Karena itu bicaralah saat kau bersama Ayah. Setelah itu serahkan semuanya padaku.”

Kyuhyun mendecak remeh. “Terakhir kali diserahi sesuatu kau malah mengompoliku.”

Aku berjingkat untuk menutupi mulutnya. “Jangan keras-keras!!!”

“Jauhkan tanganmu dariku!” Perintahnya dengan mulut tertutup telapak tanganku.

Dia tidak meronta sama sekali. Hanya mundur selangkah dan otomatis aku juga mengikutinya agar tanganku tetap bisa menutup mulut besarnya. “Asal kau berhenti membahas hal memalukan itu.” Lalu dia mundur lagi dua langkah dan aku mengikutinya lagi. Terus seperti itu sampai ekspresi datar Kyuhyun berubah. Alisnya menyatu, dahinya mengerut, dan jangan lupakan geraman itu. Kedua tangan yang tadinya berada di kedua saku celananya kini terlipat di bawah dada.

Kusarankan jangan lihat matanya.

Dia-sangat-mengerikan.

Aku berjingkat mundur setelah melepas tangan dari mulutnya. Setidaknya aku tahu dia sedang marah dari ekspresi itu. Apa aku takut? Sejujurnya … ya, bisa dikatakan begitu tapi tidak terlalu juga. Dia memang menakutkan dengan mata setajam itu. Menatapku tanpa berkedip dan sepertinya suhu Lemari Es ini semakin menurun. Sialan! Dia benar-benar membuat kakiku lemas.

“A-em-aku-itu—“

“Kau apa?”

Suaranya masih datar. Kini aku yang harus melangkah mundur perlahan sampai bokongku menabrak ujung pegangan tangga. Detakan jantungku meningkat dengan pasti seperti memukuli dadaku dari dalam, meronta ingin keluar. Hembusan napasnya hangat, berbeda sekali dengan air muka yang dia tunjukkan. Tinggi tubuh Kyuhyun yang sebelumnya belum pernah mengintimidasi sekarang ikut mengambil peran menciutkan nyaliku.

Kalau kubilang dia menakutkan, maka itulah kebenarannya. Mungkin jika kalian berdiri di belakang Kyuhyun, hanya akan terlihat punggung lebarnya saja tanpa tahu ada wanita lembut yang sedang ketakutan di depannya.

“Jangan menatapku seperti itu!”

Itu hanya gertakan untuk mempertahankan harga diri.

“Kenapa?”

“Karena aku tidak pernah melihatmu dengan cara seperti itu.”

“Ini mataku.”

“Kaupikir hanya karena itu matamu kau merasa bebas melakukan apapun?”

“Ya. Termasuk menatapmu seperti ini.”

“Dasar egois!” Aku mendengus.

Ada helaan napas kesal bercampur marah yang tertahan darinya. Namun, sekesal apapun dia tidak akan bisa memukulku. Bukan karena malu dilihat orang, tapi karena aku tahu dia benar-benar seorang ‘pria’ dan pria sejati tidak akan pernah melukai seorang wanita. Aku cukup yakin dengan itu meskipun kenyataan menunjukkan beberapa hal justru terjadi sebaliknya. Dan mereka bukanlah pria sejati.

Kyuhyun menghembuskan napas panjang sebelum menarik poniku hingga daguku terantuk dada. Tidak sakit, tapi dia membuatku kesal karena memperlakukanku seperti mainannya. “Katakan kenapa kau tidak pernah mau memanggilku dengan benar, Nona Hyo In?”

“Karena kau memang seperti itu,” semburku. “Wajahmu dingin dan datar seperti lemari es. Ucapanmu juga sering sekali membuatku kesal, menyebalkan, semaunya sendiri—“

Rapi dan tampan.

“Kenapa diam?”

Aku terhenyak kembali ke dunia nyata karena gertakan Kyuhyun. “Ah, lupakan! Pokoknya kau pria paling menyebalkan yang pernah kutemui,” ucapku sedingin mungkin—menirukan gayanya kemudian menaiki tangga dan berbalik sebelum sampai di pintu masuk. “Jangan mengejarku untuk minta maaf karena aku tidak akan pernah memaafkanmu.”

Mata Kyuhyun terbelalak melihatku menunjuknya dengan jari tengah lalu berbalik dan hampir menabrak pintu karena lupa mendorongnya. Kekehan Kyuhyun terdengar dari sini dan itu membuatku semakin kesal. Dengan sedikit kasar kudorong pintunya dan sekali lagi hampir menabrak seorang pria paruh baya bersama istrinya. Aku menunduk penuh penyesalan sambil meminta maaf setelah itu langsung menuju resepsionis untuk membayar dan mengambil nomor loker. Saat itu pula aku melihat sisa tawa resepsionis itu. Kurasa dia sudah melihat kesialan-kesialanku tadi.

Ugh! Ini semua karena Kyuhyun. Pokoknya dia menyebalkan. Aku menyesal pernah menawarkan bantuan padanya. Lagipula, kenapa aku bisa salah tingkah begini? Dia tidak melakukan hal romantis padaku sama sekali selain … menatapku.

Sesampainya di ruang loker, aku langsung memasukkan tas yang menampung dompet dan ponsel. Namun, sebelum menutup pintunya kupikir akan lebih baik jika mengingatkan Lemari Es itu untuk segera membicarakan prospek perjodohan kami yang tidak memiliki harapan sama sekali pada Ayah.

Setelah berhasil mengirim pesan padanya aku mengembalikan ponsel ke dalam tas, mengunci loker kemudian bergegas mengambil seragam jjimjilbang dan menemui ibu di kolam.

Satu jam pertama kuhabiskan untuk mendengarkan protesan Ibu karena terlambat datang dan menjelaskan alasannya—tidak termasuk pertengkaranku dengan Kyuhyun dan berakhir memalukan tadi. Satu jam selanjutnya berlalu begitu cepat dengan tercurahkannya seluruh perasaanku tentang pekerjaan dan sikap Ayah. Ibu memang tidak selalu memberikan solusi. Itu bukan masalah sebenarnya karena dengan melihatnya antusias mendengarkanku, tersenyum, kadang mengusap bahu dan memelukku sudah membuatku senang. Tiga puluh menit terakhir ini pikiranku melayang pada Kyuhyun. Kuharap dia benar-benar mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di antara kami. Bahwa harapan yang selama ini Ayah pikirkan tidak pernah ada.

Aku tidak mau mengganggu Kyuhyun karena dia juga terlihat tidak mau diganggu. Sejak kecil aku sudah hidup di Korea. Tekanan menjadi makanan sehari-hari. Tuntutan dari berbagai pihak menjadikanku dan mungkin juga orang lain cukup toleran akan kepentingan orang lain karena sama-sama tahu tidak ada pihak yang lebih diuntungkan atau dirugikan dalam hidup ini. Mungkin Kyuhyun seperti itu karena dia terlalu mencintai wanita itu. Dulu aku juga seperti itu setelah putus dengan seorang pria yang sempat sangat kucintai. Jadi tidak ada alasan untuk menambah bebannya apalagi dariku yang baru beberapa hari ini mengenalnya.

Selesai membilas tubuh aku memberitahu Ibu untuk pulang lebih dulu dengan Ayah karena masih ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan Kyuhyun. Ibu menyetujuinya kemudian aku bergegas memakai baju seragam dan langsung menuju ruang loker, mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Kyuhyun untuk menemuiku di restoran jjimjilbang. Akan ada sedikit sesi interogasi dan yang lain. Aku juga tidak tahu pasti tapi yang jelas kita berdua harus membahas ini sampai selesai karena aku tidak mau hari-hariku berubah menjadi semakin aneh dengan perjodohan dari Ayah ini.

Suasana di restoran sangat ramai tapi tidak terlalu padat. Tempat ini seperti danau manusia berwarna pink karena warna seragam para pengunjung. Meja-meja dipenuhi orang dari berbagai usia. Mereka bercengkerama bersama keluarga, teman, dan mungkin juga kekasih. Ketika berada di ambang pintu, mataku menangkap sesosok wanita yang sangat familiar dari meja paling ujung di pinggir jendela. Mataku memicing curiga. Itu ‘kan Ibu. Kenapa bisa ada di sini, bukankah seharusnya dia pulang bersama Ayah?

Aku menghampiri Ibu dan duduk di sampingnya. “Kenapa Ibu bisa ada di sini?”

Dia hanya mengangkat bahu sambil tersenyum. “Ayahmu yang meminta. Aku hanya menurutinya.”

“Apa Ibu mengatakan rencanaku pada Ayah?” tanyaku curiga.

“Tentu saja. Lagipula aku tidak bisa menyetir. Kalau ayahmu memaksa ingin menemani kalian apa aku harus pulang dengan merangkak?”

“Bis masih banyak. Berhenti saja di bus stop.”

Ibu mendecak setelah menyesap es lemonnya. “Mungkin aku mau mempertimbangkan opsi itu jika saja usiaku lebih muda dan lebih sehat, tentunya.”

Aku menghela napas panjang seraya menunduk, menyesali apa yang sudah kukatakan. Fisik Ibu memang tidak memperbolehkannya kelelahan karena jantung lemah. Jika harus pulang dengan bis, maka dia harus berjalan cukup jauh dari bus stop ke perumahan. Hal itu jusru akan baik untuk kesehatannya saat dilakukan pagi dan bukan siang hari bolong di awal musim panas begini.

“Maaf. Aku lupa lagi,” sesalku sambil menutup muka dengan kedua tangan.

Ibu memelukku sebentar kemudian memberiku es lemonnya. “Minumlah! Kau bisa dehidrasi karena mengeluarkan banyak keringat tadi.”

Senyuman itu meskipun lemah akan selalu kurindukan.

“Untuk Ibu saja. Aku akan memesan sendiri.”

Saat aku sibuk memilih makanan dan minuman Ibu melambaikan tangan lagi sambil berkata, “Di sini.” Tak lama kemudian Ayah dan Kyuhyun sudah duduk di seberang kami.

Aku melihat Ayah langsung larut dalam percakapan bersama Ibu begitu sampai di meja kami sementara Kyuhyun kembali seperti semula. Wajahnya datar tapi kali ini sedikit ada tambahan warna pink. Mungkin karena terlalu lama berendam. Setidaknya wajah itu terlihat lebih manusiawi dari sebelumnya. Ugh! Sejak kapan Lemari Es bisa manusiawi. Mungkin aku harus menunggu sampai jamur tumbuh di kutub utara.

“Mau pesan apa?” tanyaku datar seraya mendorong buku menu padanya. “Aku sudah memesan tiga gelas minuman ber-ion dan dua porsi daging sapi panggang.”

“Kalau begitu kenapa harus bertanya padaku?” dengus Kyuhyun.

Aku hanya mengangkat bahu tanpa menatapnya kemudian melambaikan tangan pada pelayan. Dia datang, mencatat, kemudian pergi, dan sepuluh menit kemudian membawa pesananku. Pelayan itu pergi sesaat setelah menyalakan pemanggang yang ada di meja kami. Kyuhyun bergegas memotong-motongi daging tanpa disuruh sementara aku mendapat bagian memanggang.

Keadaan di sini semakin lama semakin ramai meskipun aku dan Kyuhyun saling diam. Hanya fokus pada pekerjaan masing-masing. Lalu saat daging sapi hampir matang Ayah tiba-tiba berseru, “Kenapa pesan daging banyak sekali?!” dengan mata melirik tajam padaku.

Aku menjawab setelah menyesap minuman seraya membalik daging, “Uangmu sangat banyak. Sayang sekali kalau tidak ada yang menghabiskan.” Ya, saat membayar di resepsionis tadi aku baru ingat kartu debet dari Ayah masih kupegang.

Ayah hanya mendengus kemudian kembali menghilang bersama Ibu dalam obrolan mereka sendiri. Kelihatannya sangat asyik padahal yang mereka bicarakan hanya betapa berbedanya cara hidup masa sekarang dengan masa mereka saat masih muda, persaingan hidup yang semakin ketat, tuntutan dari orang-orang sekitar dan target yang kita buat sendiri. Hidup kadang memang membutuhkan tuntutan agar manusia tetap bergerak maju, bukan hanya diam di tempat tanpa menghasilkan apapun.

Lalu apa yang membuatku terdampar sampai di sini bersama Kyuhyun dengan melibatkan diriku sendiri dalam masalahnya yang sebenarnya tidak bisa selesai. Bukan karena aku menyerah, tapi Kyuhyunlah yang sudah menyerah lebih awal. Dan aku harus minta maaf karena sudah bersikap sok tahu dengan menilai apa yang hanya terlihat di permukaan saja.

“Aku minta maaf.”

“Padaku?”

Aku mengangguk.

“Untuk apa?”

Pria selalu begitu. Atau aku saja yang terlalu terbawa perasaan? Tapi itu wajar ‘kan. Aku seorang wanita dan sangat sensitif dengan hal-hal seperti ini. Kalau Kyuhyun … entahlah!

“Untuk ini,” kataku seraya mengangkat jari tengah lagi.

“Hyo In!!!” Teriak Ayah dan Ibu bersamaan lalu disusul getokan sendok di dahiku. Aku hanya berani menunduk sambil mengusap-usap dahiku yang panas.

Kyuhyun memang sempat mencegah Ayah dengan mengatakan bahwa aku hanya bermaksud meminta maaf dan menjelaskan alasan apa yang membuatku harus meminta maaf padanya. Sayang sekali tangan Ibu lebih cepat daripada penjelasannya.

“Itulah mengapa aku tidak setuju kau tinggal di Inggris ataupun Amerika. Tempat itu membawa pengaruh buruk untuknya.” Suara ibu sangat tenang dan lembut meskipun dalam keadaan marah.

Semua tempat selalu membawa pengaruh baik dan buruk. Itu hal yang biasa.

“Kenyataannya aku memang tidak benar-benar tinggal di sana ‘kan?”

“Aku tidak pernah mengajarimu menggerutu seperti itu.”

“Maaf, Ibu.”

Ayah menghela napas sebelum berkata, “Itulah hasil tiga bulan tinggal di sana.”

Dia sedang membicarakanku tapi matanya menatap Kyuhyun seolah mengadukanku seperti guru melaporkan kenakalan anak sekolah pada wali muridnya.

“Aku hanya jalan-jalan.”

“Kabur,” sembur Ibu—masih dengan suara tenang kemudian menyesap es lemonnya lagi.

Kyuhyun terlihat bingung menanggapi. Itu terlihat dari bagaimana dia tersenyum pada Ayah dan Ibuku.

“Ya, dia kabur hanya karena ingin bertemu dengan si Raksasa itu.”

“Ayah, namanya David Gandy. Bukan raksasa.”

“Badannya terlalu besar untuk ukuran orang Asia.”

“Dia kandidat calon suami yang sempurna.”

“Pokoknya aku tidak mau kau menikah dengan orang bule.”

“Kenapa???!!!” Teriakku frustrasi sampai lupa mengangkat daging yang sudah matang. Saat ingin mengangkatnya, Kyuhyun memberiku instruksi untuk melanjutkan perdebatan dengan Ayah seraya mencapit daging-daging harum itu.

“Karena aku tidak yakin para bule itu mau menikah denganmu.”

Lalu meledaklah tawa Kyuhyun dan Ibu. Ayah menyeringai puas. Sementara aku mengumpat tanpa henti dalam hati. Hal itu berselang cukup lama sampai mereka semua bisa mengatur napas seperti semula. Saat itu pula aku menatap mereka dengan serius. Tak ada lagi rengekan dan candaan. Ini bukan kai pertama aku diperlakukan seperti ini. Awalnya kuanggap ini hanya candaan dan membiarkan itu berlalu begitu saja. Namun, lama kelamaan aku sadar jika candaan itu semakin hari berubah menjadi sikap meremahkan.

Kenapa orang-orang selalu menanggapi ambisiku dengan cara yang sama?

Mereka menganggap itu tidak mungkin dan hanya bayangan semu.

Kenapa orang lain bisa seenaknya saja pergi ke luar negri atau menikah dengan orang bule sementara aku selalu dicemooh oleh keluargaku sendiri. Aku pergi ke sana bukan hanya untuk bertemu dengan model idolaku—meskipun pada akhirnya itu gagal. Aku juga tidak benar-benar berniat menikah dengan model terkenal itu karena cukup tahu diri. Kulakukan semua itu karena aku ingin dan bisa. Lagipula tidak ada pihak yang kurugikan selain diriku sendiri yang harus menguras tabungan selama kuliah untuk pergi ke dua benua itu walaupun hanya bisa bertahan tiga bulan di Inggris dan tiga bulan lainnya di New York.

Aku bahkan tidak tahu alasan tepat yang bisa menjelaskan kenapa bisa sebahagia itu karena ketika itu pun aku pulang hanya dengan uang pas-pasan. Dan aku bahagia untuk itu.

“Terima kasih,” kataku dingin. Kemudian pergi begitu saja.

Aku tidak mengharapkan mereka mencegahku atau bahkan sampai menyusulku. Entah mengapa tiba-tiba perasaan kecewa dan tidak dihargai itu muncul lagi. Mungkin ini sepele bagi sebagian orang. Tapi sekali lagi kujelaskan pada kalian, manusia tidak pernah benar-benar tahu apa yang terbaik untuk orang lain. Mereka hanya menilai dari apa yang mereka ‘kira’ itu baik. Karena apa?

Karena setiap manusia hidup dengan cara yang berbeda.

Air mataku menetes begitu saja. Tanpa berusaha menghapusnya aku berlari menuju loker, mengganti baju, menyerahkan kunci loker dan membayar tagihan tambahan lalu pergi dari sini. Bodohnya adalah aku selalu menempatkan otak di bawah mulut dan sekarang harus bersusah payah berjalan sepanjang satu kilometer sebelum menemukan bus stop. Aku duduk di sana sendirian di tengah cuaca tengah hari yang cerah sambil menunggu bis datang. Debu berterbangan terbawa angin yang juga menggerakkan beberapa helai daun kering di bawah kaki. Tiba-tiba aku tertawa dalam hati mengingat suasana ini mirip seperti yang tergambar di novel-novel koleksiku.

Perpustakaan atau ke taman Bunga Hyacinth?

Ke mana pun asal aku mendapatkan kedamaian.

***

Sepuluh menit kemudian aku malah mendarat di toko buku. Tempatnya agak jauh dari taman maupun perpustakaan. Alasanku terdampar di sini sebenarnya tidak terlalu penting karena yang lebih utama dari semua itu adalah aku mendapat beberapa buku yang sudah kuincar sebulan lalu. Kuhela napas saat duduk tepat di pinggir rak novel terjemahan dan membuka satu buku yang sudah terbuka kemudian membaca paragraf awal. Kupikir hal ini sudah cukup membuatku tenang tapi ternyata semuanya jauh dari bayangan yang kurangkai sejak tertidur di dalam bis tadi.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mulai tidak suka mendengar seseorang berdeham.

Kuangkat wajahku dan menoleh ke sebelah kanan lalu menemukan Kyuhyun di sana. Menunduk di atas sebuah buku yang tebalnya seperti bantal.

“Apa yang kaulakukan di sini?” Sungutku.

“Membaca. Seperti dirimu.”

Aku semakin benci dengan suara datar itu setiap detiknya.

“Kau mengikutiku. Iya, kan?”

Dia bahkan tak merasa perlu menjawab pertanyaanku. Dasar menyebalkan!

Aku berdiri kemudian mengembalikan buku ke rak asalnya lalu mengambil empat buah buku yang belum sempat kubayar. Kyuhyun mengikutiku dengan tenang mengantri di kasir sampai selesai dan keluar dari toko buku. Membiarkannya adalah jalan terbaik tapi bukan Kyuhyun namanya jika tidak suka memaksa orang menuruti keinginannya. Seperti yang terjadi dua hari lalu, dia menahan pergelangan tanganku dan memaksaku berhenti untuk sesuatu yang tidak kupahami. Bedanya hanya aku sedang tidak ingin pipis.

Kami masih terdiam di halaman depan toko sampai suara klakson di belakangku menyadarkan kami.

“Ke mobilku. Sekarang!”

Kyuhyun menggeretku tanpa meminta persetujuan. Karena aku merasa ada yang perlu dibicarakan jadi aku tidak mau memberontak.

“Kenapa kau mengikutiku?” tanyaku setelah sampai di dalam mobil.

“Aku ingin minta maaf.”

Kali ini dia menatapku. Dengan wajahnya yang sama seperti biasa membuatku berpikir dia tidak bersungguh-sungguh mengatakan itu. Lagipula, sejujurnya aku sudah lupa dengan sakit hatiku tadi karena musibah ketiduran di bis membawaku ke toko buku, itu berarti surga tingkat kedua setelah taman Bunga Hyacinth dan perpustakaan.

“Tidak perlu dipikirkan. Aku hanya lebih sensitif saja akhir-akhir ini.”

Aku berbohong. Rasanya tidak penting juga mengatakan perasaanku yang sebenarnya pada Kyuhyun. Dia tidak tahu apa-apa mengenai aku begitu pun aku terhadapnya. Kami hanya orang asing yang saling mengenal.

“Dengar, aku tidak pernah begini sebelumnya. Tapi melihat bagaimana reaksimu tadi kurasa aku dan orangtuamu sudah keterlaluan.”

“Aku sudah terbiasa diremehkan seperti itu. Santai saja,” dengusku. “Ngomong-ngomong, aku juga ingin minta maaf padamu. Untuk jari tengah—“ aku menunjukkan jariku lagi padanya hanya karena ingin mengumpat di depannya, “dan karena sudah menjadi orang sok tahu. Tidak akan ada bantuan melupakan mantan tunanganmu. Aku tidak yakin kenapa tapi yang jelas aku hanya merasa bahwa yang kulakukan itu bertentangan dengan keinginanmu. Hidup bebas itu menyenangkan dan aku ingin semua orang bisa merasakan hal yang sama sepertiku.

“Jadi kuputuskan untuk membatalkan apa yang sudah kujanjikan padamu. Kelihatannya memang tidak sopan. Aku hanya tidak mau memaksa orang lain hidup dengan cara berpikir yang sama sepertiku karena aku juga tidak mau dipaksa untuk hidup seperti itu.”

Kuulurkan tanganku pada Kyuhyun. Sesaat dia hanya melihatnya saja tapi kemudian bibirnya tertarik sedikit dan membalas jabatan tanganku.

“Baru pertama kali ini aku bertemu wanita seblak-blakkan dirimu. Kukira semua wanita suka menyembunyikan perasaannya.”

Aku mendengus mendengar komentarnya. “Sudah kubilang aku hidup dengan caraku sendiri. Lagipula aku tidak seblak-blakkan yang kaupikir. Berhati-hatilah memberi penilaian pada orang yang baru kaukenali, Tuan Lemari Es. Itu sangat berbahaya. Banyak orang yang memiliki muka lebih dari satu.”

“Ow, ow, Tongkat Pramuka sekarang sudah dewasa.”

“Hei!!!” protesku. Kyuhyun berhasil mengindari cubitan yang akan kuarahkan di pinggangnya. “Aku calon istri David Gandy. Tubuhku seperti model Victoria Secret.”

Kyuhyun mendecak. “Sayangnya aku bahkan tidak penasaran melihat bentuk tubuhmu. A-pink lebih baik.”

“Hei, dadaku lebih besar daripada milik mereka,” protesku. Dia tertawa seraya melepaskan tanganku yang tertahan dalam genggamannya.

“Kau terlalu percaya diri, Nona Hyo In. Kurasa kau akan berakhir hanya dengan pria Korea yang tidak pernah kau duga-duga sebelumnya.”

“Asal tidak denganmu saja. Tidak akan jadi masalah.”

Kyuhyun menggeleng tak percaya. “Sayang sekali kau melewatkan kandidat paling memenuhi syarat sepertiku.”

“Hanya menurut ayahku,” ralatku.

“Setidaknya aku yang paling potensial dari sekian ratus ribu pria di Korea bahkan David Gandy-mu itu kalah banyak poin dariku. Dan kau menolaknya.”

“Begitu juga dengan mantan tunanganmu. Iya, kan?”

Wajahnya yang sudah agak memerah tadi kini berubah pucat lagi. Aku berdeham karena susana kikuk mulai menyelimuti kami kemudian memutar lagu dari player di dalam mobilnya dan langsung di sambut lagu Dorawa (kembali) milik Infinite. Sungguh, aku tidak berniat melakukannya. Itu terjadi begitu saja.

Setelah memencet tombol next beberapa kali dan tidak kunjung menemukan lagu bertema bahagia jadi kuputuskan untuk mematikannya saja.

“Em … sepertinya aku harus pulang. Jaga dirimu baik-baik.”

Aku langsung turun dari mobil tapi Kyuhyun menyusulku lagi. “Kita pulang bersama,” katanya setelah berjalan sejajar denganku.

“Kenapa? Aku mau naik bis saja. Lebih menyenangkan.”

“Aku sudah berjanji pada Paman Song akan membawamu pulang. Jika tidak aku bisa—“

Kutepuk pundaknya pelan. “Kau terlalu baik Ayahku. Sekali-kali kau juga perlu membangkangnya.”

Kyuhyun tersenyum sebelum menjawab, “Aku bertemu dengannya empat tahun yang lalu saat masih menjadi manager baru di perusahaan properti milik ayahku sendiri. Dia yang membimbingku sejauh ini sampai aku bisa mencapai posisi direktur sekarang tanpa bantuan ayahku sama sekali dan selalu menguatkanku saat semua orang berkata jika jabatan ini kudapatkan hanya karena aku putera pemilik perusahaan. Itu sangat bernilai untukku.”

Dugaanku kali ini benar. Kyuhyun memang pria yang baik.

“Kurasa kau sangat menyayangi Ayahku lebih dari aku menyayanginya. Bagaimana kalau kita bertukar tempat?”

“Aku bukan orang sabar. Bisa-bisa murid-muridmu ketakutan melihatku.”

Kami tertawa. Kyuhyun menggamit lenganku, mengajakku kembali ke mobilnya. namun, tangannya tertahan saat melihat sebuah mobil SUV silver melewati kami kemudian dengan cepat menutup pintu yang sempat terbuka sedikit dan mengatakan padaku untuk menunggunya di sini sebentar. Aku bahkan belum sempat menjawabnya tapi mobil Kyuhyun sudah melaju kencang hanya dalam beberapa kali kedipan mata. Masih tertegun, aku mencoba untuk mengumpulkan kesadaran kembali saat mobil Kyuhyun sudah tak terlihat.

Apa itu tadi?

Akhirnya aku memutuskan untuk menunggunya di depan toko buku. Sekitar  satu jam kuhabiskan mengobrol dengan Hyukjae di LINE hingga baterai ponselku habis. Karena tidak tahan sendirian sejam kemudian dan tidak ada tanda-tanda Kyuhyun datang aku berjalan keluar dan mencari siapapun yang kira-kira bisa kuajak mengobrol. Aku menemukan seorang security sedang berjaga di posnya. Kami berbincang sangat lama. Membahas berbagai hal. Tentang bagaimana pria paruh baya ini bisa bekerja di sini, apa pekerjaannku, siapa saja anggota keluarganya, dan sedang apa aku di sini tanpa melakukan apapun dan malah mengajaknya mengobrol. Aku mengatakan yang sebenarnya, menunggu Kyuhyun menjemputku yang ‘katanya’ hanya pergi sebentar dengan tergesa. Namun, tanpa alasan pasti aku hanya merasa perlu menungguny sedikit lebih lama lagi karena aku mau dia menepati janjinya untuk menjemputku.

Sampai empat jam kemudian, security berganti dan aku mulai lelah menunggu Kyuhyun sementara tak ada tanda-tanda apapun darinya. Saat itu pula aku semakin yakin dia tidak akan kembali. Langit pun semakin menggelap. Aku berpamitan dan berterima kasih pada security itu karena sudah mau mendengar ocehanku selama beberapa jam terakhir. Aku memutuskan untuk pulang dengan bis daripada harus berjalan dua kali lipat ke telpon umum lalu masih harus menunggu jemputan Hyukjae.

Sepuluh menit kemudian begitu sampai di gerbang rumah aku menemukan mobilku dan mobil ayah sudah terparkir di halaman tepat di depan pintu garasi yang tertutup dan langsung disambut pertanyaan Ayah tentang keberadaan Kyuhyun saat menutup pintu.

“Aku menyuruhnya pulang lebih dulu. Sepertinya dia sangat sibuk,” kataku kemudian masuk ke kamar. Melempar tas begitu saja tanpa peduli mendarat di mana pun dan langsung mandi, berganti baju kemudian tidur.

Jika ini benar-benar aku, maka akan kukatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Ayah. Namun, sekali lagi aku merasa itu bukanlah hal yang seharusnya kukatakan padanya. Ayah sangat menyukai Kyuhyun dan akan kubiarkan hal itu tetap berlangsung. Aku hanya tidak mau rasa kecewaku terhadap Kyuhyun mengubah pandangan Ayah terhadapnya juga.

Aku pernah berjanji padanya dan karena sadar itu tidak mampu kulakukan maka kukatakan alasanku yang sesungguhnya, tapi kenapa dia bisa dengan mudah mengingkari janjinya tanpa berusaha menjelaskan apapun padaku. Parahnya aku membiarkan hal itu terjadi tanpa menuntut sesuatu darinya. Sebenarnya aku sangat ingin tahu apa yang dilakukan Kyuhyun dan hal apa yang membuatnya bisa melupakanku begitu saja.

Dan ketidakmampuanku mengetahui itu membuatku merasa bodoh.

22 thoughts on “[Chapter] At Gwanghwamun Bagian 4

  1. Kasian hyo in yg nunggu in kyuhyun empat jam tp kyuhyunnya tak kunjung kembali -_- mungkinkah yg didlm mobil suv yg dikejar kyuhyun td mantan tunangannya? Penasaran dgn mantan tunangan kyuhyun ._. Siapa sih dia? Next part selalu ditunggu, semangat ^^

  2. Guantung…….. Lum brasa baca tau2 udah tbc aja,lo baca ff bagus emang baaannya suka gini. G prnah puas,pengennya terus-terus g da selesainya… Mobil lewat itu sapa? Smpe bikin kyu amnesia (lupa janji) sementara,mantanya y?

  3. Pasti da itu mntanya kyu yg d dlam mobil smpai2 dy kya orng bdoh liatin orng yg d dlam mobil alhasil lupa kan janjinya dg hyo in 😒 pasti kyu masih cnta sm pcarnya mknya dy smpai kya gtu .. duh hyoin trnyata doyan jg sma lki2 bule tbuhnya yg kekar hihi

  4. Kyuuu kapan lu bisa mup on..???
    Kalo gw jadi hyo in.. bakal diem deeh.. keterlaluan..empat jam gilaa.. lama itu.. boring dah tu pasti..
    Lirik dikit si Hyo in napa kyuu… ntar nyesel loooh.. keburu si Hyo in kawin beneran sama si david gandy… mana tauuu ada keajaiban…wkwkwk #meskipungwyakinituenggakakanpernahterjadi…wkwkwwk
    mana katanya si Hyo in type2 model victoria secret lagiii kaaan… yakiiin g terpesona sama diaaa???
    Udaah lupain tuh mbak mantan..
    Atooo lirik gw juga g pa2… #eyaaaa
    Eonn… di tunggu yaaa next partnyaaa… semoga makin uuuulalaaaaaa cetar membahanaaaaa baaaadaiii…Jedeeeerrrrrr….kkkkk

  5. agak niat gk niat sich kyuhyun deketin hyo in masih belum move on ama mantan tunangannya
    bagus tuh hyo in mau jujur dan blak blakan soal dirinya dan keinginannya
    lagian kalopun belum terlalu serius ama kyuhyun kan hatinya gk bakal terlalu terluka

  6. Ya ampunn .. kasian bangedd hyo in di tinggal sama kyuhyun yg kata’a cuma sebentar tapi berjam jam lama’a ..
    Pasti yg dya liat ntuh mantan’a , sampe dye lupa sama hyo in bgitu saja ..
    Makin seru n makin penasaran ajh sama cerita slanjut’a .

  7. kayakny hyo udah mulai ada rasa ma kyu….. ku fikir persaingan yg paling sulit itu adalah ketika kita bersaing dg masa lalu pasangan kita…..

  8. Mngkin yg lewat itu mantan kekasih kyu makanya dia buruh” smpai melupakan hyo in -_-
    Hyo in udh jatuh cinta yah sm kyu🙂
    kira” apa yah yg di bicarakn kyu sm appa hyo in ??

  9. Eeiiish sumpaaah kyuhyun disini bedaa sama yg biasa di bikin. lebih dingin lbh tertutup. aaaah makin penasaraaan. kereeen kaaa ceritanya 😍 #keepwriting 👏👍

  10. Ha~
    Hyo In nunggu Kyu Hyun ampe lama beth :3 ..
    si Kyuhyun kmane??? ke jamban?? -_- ..

    Ha~
    Hi^^
    Aku readers baru kak^^

    Semangat^^

  11. Mungkinkah yg lewat adalah mobil mantan kekasihnya sehingga mengabaikan Hyo In begitu lama, Bikin gregeten deh kalau kaya gini. hehe.
    Karakter mereka di sini berbeda banget.

  12. Kyuhyun jahat bgt biarin ank org nunggu smp 4 jam tnp kepastian ,,,, ugh kshn hyo in malah msh blg sm ayah nya kl kyu sibuk ,bkn ninggalin dy djln … Skt ht hyo in kynya kekeke~ wlw cm djodohin bapaknya tetap aja baper kan🙂 … Dtunggu eon neeext

  13. Dengan seenaknya kyuhyun membiarkann hyo in menunggu tega banget apa yg penting hyo in kau biarkan begitu saja tdk punya perasaan

  14. Aduh, kok hatiku jadi ikutan apa yg dirasakan hyoin tadi/?? Sesakk…
    Kyu kemana dia? Kenapa kagak balik lagi?? Hyoin nunggu tau!! Tadi aja nahan2, tapi selanjutnya malah ninggalin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s