[Chapter] At Gwanghwamun Bagian 3

At Gwanghwamun
Cho Kyuhyun (SJ)/Song Hyo In (OC)
Happy reading! ^^
11180317_949635291726786_8055858873775907172_n
Bagian 3

HYO IN

Tidak Mungkin

Apa kalian tahu alasan posisi otak ada di atas mulut? Itu tandanya berpikirlah dulu sebelum bicara. Hyukjae selalu mengatakan itu padaku karena seringkali otakku berada di bawah mulut. Kupikir itu tidak terlalu penting. Lagipula Hyukjae memang lebih sering bicara omong kosong daripada sesuatu yang serius jadi bukan salahku juga jika tidak memercayai kata-katanya. Biasanya, aku tak terlalu memikirkan hal itu tapi pagi ini tiba-tiba suara itu memenuhi kepalaku setelah mendengar teriakannya.

“Hyo In, aku bawakan sesuatu untukmu!”

Hyukjae sedang berteriak di depan pintu. Itu sudah pasti karena beberapa detik berikutnya teriakan Ayah yang menyusul. “Taruh di teras saja dan cepat pergi dari rumahku!”

“Paman, Ibuku membuat sup kimchi.” Kemudian derak pintu dan langkah-langkah lincah Ayah dan Hyukjae membuat pagiku semakin berisik. Suara keributan Ibu dari dapur juga sangat membantu menghancurkan awal musim panas yang indah ini.

Dengan menyeret kaki aku keluar dari kamar. Pertama, karena punggungku sudah nyeri setelah tidur lebih dari delapan jam terhitung sejak pulang dari restoran Perancis dengan Kyuhyun kemarin. Kedua, ngomong-ngomong tentang Kyuhyun, kabar baiknya adalah kami sudah berbaikan. Dia menraktirku seporsi deokbeokki dan sebotol wine merah. Kabar buruknya adalah karena aku peminum yang buruk, minuman itu bekerja sangat cepat hanya dengan satu atau dua sesapan saja. Ketiga, karena aku tidak bisa tidur meskipun kepalaku masih terasa berputar jadi kuputuskan untuk mencuci muka dan menyikat gigi kemudian pergi ke dapur menyusul Ayah, Ibu, dan Hyukjae.

“Pagi,” sapaku lemas sebelum menjatuhkan bokong di kursi samping Hyukjae.

Ayah masih sibuk memindah sup kimchi ke dalam panci kemudian memasukkan rantang kotor milik Ibu Hyukjae ke dalam dishwasher lalu meletakkan sup yang masih berasap itu di atas meja.

“Hummm, wangi sekali!” seruku seraya menyendoknya.

“Ya Tuhan, anak ini benar-benar.” Ayah menggerutu karena tanganku lebih cepat menghindari pukulan darinya. Hyukjae menahan tawa seraya menyodorkan segelas air putih padaku.

“Lain kali bawa lebih banyak ya.”

“Akan kukatakan pada Ibu,” jawab Hyukjae riang seraya menerima mangkok nasi dari Ibu. “Terima kasih, Bibi.”

Benar-benar anak yang sopan.

Ibu tersenyum seraya mengacak puncak kepala Hyukjae. “Makan yang banyak.” Kemudian menuangkan susu di gelas.

Aku mendengus. Perhatian Ayah sudah sepenuhnya teralihkan pada sup kimchi sementara ibu dan Hyukjae membicarakan banyak hal tentang pekerjaan kami di sekolah. Jadi memang lebih baik menyibukkan diri dengan pikiranku sendiri. Dan mengenai itu, hari ini aku merasa begitu bodoh setelah mengatakan hal ‘itu’—membantu Kyuhyun melupakan mantan kekasihnya. Kedengarannya gila. Ya, aku memang gila. Selain itu, kalau dipikir-pikir lagi untuk membalas kebaikan hatinya bukan hanya dengan membantu menyelesaikan masalahnya yang baru kusadari terlalu pribadi itu, kan?

Ck, dasar sok tahu. Secara tidak langsung aku benar-benar menempatkan diriku sendiri pada masalah. Rasanya aku sudah terlalu jauh melangkah padahal kita baru kenal selama dua hari dan berbaikan selama enam belas jam terakhir. Jika kubilang ini karena senyumnya … ah, tidak mungkin. Lagipula kenapa harus senyum pria lemari es sepertinya. Aku memang suka melihat orang tersenyum dan jika itu tak kudapatkan dari Ayah, Ibu, atau Hyukjae aku bisa mendapatkannya dari orang lain. Tidak harus Kyuhyun.

“Kenapa menghela napas seperti itu, apa yang kau pikirkan?” tanya Hyukjae setelah meneguk susunya.

“Bukan urusanmu,” jawabku, lalu mengambil sup.

“Biarkan saja dia. Sebentar lagi juga kembali normal.” Ibu menyahut cuek.

Aku menunggu Ayah mengatakan sesuatu dan diam-diam mendesah lega karena tak ada komentar apapun darinya. Kurasa sebaiknya aku meminta sup kimchi dari Bibi Lee setiap pagi jika kedamaian seperti ini yang akan kudapatkan. Oh, indahnya.

Hyukjae mendelik ke arahku. Matanya menyipit, dengan jelas mengatakan jika bukan itu jawaban yang dia inginkan dariku. Saat aku balas menatapnya, kepalanya mengedik meminta konfirmasi dan kubalas dengan mengangkat bahu. Ini benar-benar bukan urusannya. Jika kukatakan apa yang kulakukan kemarin dengan Kyuhyun pasti dia akan berteriak tidak jelas dan bilang aku tidak punya otak.

Aku punya otak. Hanya saja sering tidak kugunakan.

Bunyi dering telpon rumah menengahi percakapan isyarat kami. Ibu beranjak dari meja makan, mengangkat telpon. Dari sini seluruh isi rumah bisa mendengar kalau si penelpon itu pasti bernama Kyuhyun dan sedang mencariku.

Korea Selatan adalah negara dengan populasi penduduk yang cukup banyak. Kurasa akan sangat mudah menemukan orang-orang bernama Kyuhyun. Tidak harus teman Ayah itu, yang dua hari lalu menguras gaji sebulan guru honorer hanya untuk laundry celana, dan bukan juga si Lemari Es yang membuat jantungku berdebar ketakutan hanya karena memikirkannya sekarang. Tanganku gemetar, kakiku tiba-tiba melemas dan aku tak mau meninggalkan meja makan ini barang selangkah pun.

Ibu kembali ke meja makan dan berkata Kyuhyun sedang menungguku di telpon sebelum duduk lagi di samping Ayah.

“Tunggu apa lagi? Cepat angkat!” akhirnya Ayah mengatakan sesuatu. Dan langsung kedengaran menyebalkan di telingaku.

“Siapa Kyuhyun?” Hyukjae bertanya dengan mata melebar dan wajah seperti balita mendengar percakapan orang dewasa.

“Teman Ayah,” jawabku pelan sebelum beranjak dari kursi dan meninggalkan meja makan.

“Sejak kapan kau berteman dengan orang tu … a aw! Paman, aku sudah besar. Jangan memukul kepalaku lagi!!!”

“Lanjutkan sarapanmu, dasar cerewet!”

Suara ribut mereka perlahan merendah saat aku semakin menjauh dari dapur dan berdiri di samping telpon di ruang tamu, meremas telapak tanganku sendiri karena bingung. Kakiku terasa dingin dan tiba-tiba AC di rumah membekukanku padahal sekarang baru awal musim panas. Telpon itu terlihat seperti buah tropis yang penuh duri dan akan membuat tanganku berdarah saat memegangnya. Ya Tuhan, kenapa aku jadi ketakutan begini? Kyuhyun ada di rumahnya, aku ada di rumahku sendiri maka bisa disimpulkan bahwa sangat tidak mungkin dia bisa membekukanku begitu saja.

Lalu aku mulai sadar jika memang tak ada hal yang patut kutakutkan darinya. Kemarin aku hanya berniat membantunya dan Kyuhyun kelihatan tak keberatan sama sekali dengan itu, jadi kenapa aku harus takut?!

“Ya?” sapaku setelah duduk di sofa karena tak kuat menahan berat tubuhku sendiri.

“Hyo In?”

“Iya. Memangnya siapa lagi.”

“Kalau begitu itu memang kau.” Kemudian aku mendengar dengusannya.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Kenapa kau menelponku dengan telpon rumah?”

“Karena aku ingin bicara denganmu.”

“Kenapa tidak pakai ponsel saja?”

“Aku tidak punya nomor ponselmu.” Kalau begitu dia benar.

“Oh. Lalu?” kumohon jangan tanyakan tentang tawaranku kemarin. Jangan, jangan, kumohon.

“Kaumau ke rumahku? Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

MATI AKU!

Aku berdeham. Sudah salah tingkah padahal belum bertemu orangnya secara langsung. Mungkin jika Kyuhyun menanyakan hal itu di depanku aku bisa kencing berdiri. Berpikirlah, Hyo In. Kau pasti punya alasan yang lebih baik dari sekedar sibuk.

“Aku sibuk hari ini. Maaf.”

Dasar bodoh!

Helaan napas Kyuhyun terdengar panjang dan dalam. “Begitu? Kukira kau bukan tipe wanita yang suka mengingkari janji.”

“Aku tidak punya janji apapun denganmu,” sergahku—agak tersinggung.

“Aku masih ingat betul apa yang kaukatakan kemarin.”

“Tidak harus hari ini juga ‘kan.”

Kyuhyun mendengus lagi. “Terlalu cepat menyerah.”

Aduh! Salah lagi.

“Aku benar-benar banyak urusan hari ini.”

“Seingatku sekarang hari Minggu.”

“HYO IN, SUP KIMCHI-NYA MASIH BANYAK. ANTARKAN KE RUMAH KYUHYUN!”

Itu suara Ayah. Pasti sengaja karena tahu aku sedang menerima telpon dari teman kesayangannya.

“Masalah selesai. Aku menunggu kimchi-nya.” Kemudian suara ‘tut tut tut’ yang menyambutku sebelum sempat mengatakan penyangkalan.

Kyuhyun dan Ayah sama-sama menyebalkan.

Aku segera kembali ke dapur, menghampiri Ayah dengan wajah memanas. Jika saja bisa terlihat mungkin dari lubang telinga dan hidungku sudah keluar asap karena otakku terbakar hanya dengan melihat wajah santainya memukuli kepala Hyukjae karena berlaku kurang sopan saat sarapan.

“Kalau mau mengantar kimchi berangkat saja sendiri.”

“Aku sedang sibuk,” jawab Ayah. Kemudian menyumpit irisan sawi putih.

“Begitu pun aku.” Lalu tiba-tiba Ibu sampai di belakangku. Mengelus kedua bahuku kemudian menuntunku untuk duduk. Napasku masih tersengal karena amarah yang belum mereda. Ayah selalu seenaknya sendiri mengambil tindakan tanpa memikirkan apa aku suka atau tidak.

“Aku bisa mengantarmu.” Hyukjae tersenyum padaku hingga bola matanya tak terlihat saat tatapan tajamku mengarah padanya. “Jangan berpikir macam-macam. Aku hanya tidak tahu harus melakukan apa di akhir pekan. Lagipula semua tugas dari sekolah dan nilai ulangan murid-murid sudah selesai kukerjakan.”

“Kau bisa ke rumah Sun Ae. Ajak dia kencan atau kalau perlu tiduri dia sekalian. Jangan menggangguku.”

UGH! Bahkan temanku sendiri jadi menyebalkan hari ini.

Raut wajahnya berubah seolah baru saja ada pisau tumpul menembus jantungnya. “Hyo-ya, kau menyakiti hatiku.” Sambil meringis. “Andai saja aku bisa melakukan itu. Dia sedang ada study banding di Hawai.” Kemudian meletakkan kepalanya di atas meja. Tapi tak lama kemudian bangkit cepat dengan senyum lebar hingga gusinya terlihat. Dia menggenggam kedua tanganku erat hingga membuatku kaget dan hampir berteriak. “Ijinkan aku mengantarmu ke mana pun. Aku bisa mati di rumah karena terlalu memikirkan Sun Ae. Aku bahkan akan menunggumu sekalipun kau mau bercinta dengan Kyuhyun itu.”

“Siapa yang mau bercinta dengan Lemari Es itu?” Aku langsung mengibaskan tangan hingga genggaman Hyukjae terlepas dan dia langsung merengut begitu aku tak mau mendengar rengekannya.

“Mmm … benar-benar tidak  ada sensor sama sekali,” gumam Ayah sebelum menghirup asap teh hijaunya dengan mata tertutup.

“Karena di sini tidak ada anak kecil aku tidak melarang perkataan kurang sopan apapun,” komentar Ibu.

“Paman! Bibi!” Dan sekarang Hyukjae memohon pada orangtuaku. Pintar sekali.

Ayah menghela napas, menatap Hyukjae penuh arti, dan tersenyum puas sebelum berkata, “Tentu saja. Kalau perlu pastikan dia sampai di rumah Kyuhyun dengan selamat dan jangan kembali sebelum sore. Sekarang ‘kan hari Minggu. Biarkan Hyo In menikmati waktunya bersama seorang pria. Aku sudah bosan melihat wajahnya setiap akhir pekan hanya bergulingan di depan TV.”

“Ayah mengusirku?” tanyaku, kaget.

Napsu makanku benar-benar hilang sekarang. Aku meletakkan sumpit di meja dengAn keras dan langsung keluar dari dapur tanpa memedulikan siapapun. Masuk ke dalam kamar dengan hati hancur tak karuan. Kesal dengan Ayah dan Hyukjae. Mereka benar-benar penghancur mood alami dan paling hebat yang pernah ada dalam hidupku. Terima kasih, Tuhan. Hadiah yang benar-benar indah pagi ini. Sialan!

Saking marahnya aku sampai tidak ingat apa yang ingin kulakukan di kamar. Hanya diam saja perutku jadi lapar lagi. Lalu kuputuskan untuk duduk di ujung ranjang. Hanya berdiam diri tanpa guna beberapa menit dan setelah itu, dengan ajaib otakku berpikir bahwa memang lebih baik pergi ke rumah Kyuhyun saja daripada hanya diam saja di rumah.

Aku bersiap-siap mandi dan segera pergi dari rumah. Lagipula untuk apa terlalu lama di sini. Aku punya apartemen sendiri. Pulang dari rumah Kyuhyun nanti aku bisa bersantai di sana tanpa ada gangguan Ayah, Kyuhyun, atau Hyukjae yang merengek ditemani sekali pun. Ya, rencana yang sangat sempurna. Setelah selesai bersiap-siap aku bergegas keluar kamar dan pergi ke dapur. Di sana masih ada Ibu yang sedang memasukkan peralatan makan kotor ke dalam dishwasher.

“Mana kimchinya? Biar aku yang antar.”

Alis Ibu terangkat. “Katanya tidak mau. Padahal aku sudah menyiapkan banyak lobak jadi ibu tidak perlu membuat acar sendirian.”

Benar ‘kan dugaanku. Memang lebih baik aku segera keluar rumah. “Mmm … yah, aku berubah pikiran. Di mana Hyukjae?”

“Sepertinya ada di teras bersama Ayahmu. Oh ya, ini kimchi-nya. Hati-hati ya.”

Ibu memberikan sebuah kotak makanan berukuran sedang. Aku bergegas keluar dapur seraya berlari kemudian menyambar kunci mobil Ayah di gantungan mantel dekat pintu masuk dan menemukan Hyukjae sedang memegang raket. Bersiap-siap menangkis serving Ayah yang berada beberapa meter di seberangnya. Kulambaikan tangan padanya seraya menunjukkan kunci mobil, seketika itu juga Hyukjae langsung melempar raket dan merebut kunci mobil dariku. Wajahnya bersinar bahagia. Dia bahkan berlari menuju garasi yang sudah terbuka. “Ayo cepat!!!” katanya girang.

Ayah hanya menunduk seraya melengkungkan bibir ke bawah, pasrah karena kesenangannya berakhir begitu cepat bahkan sebelum dimulai.

“Aku pergi,” pamitku. Ayah melambaikan tangan sebelum memungut raket san shuttlecock yang tak dihiraukan Hyukjae tadi kemudian aku menyusul Hyukjae yang sudah berada di depan gerbang dengan mobil Ayah.

Kami bergegas menuju rumah Kyuhyun. Hyukjae menyetir dengan kecepatan cukup gila hingga kami sampai di rumah Kyuhyun dalam waktu sepuluh menit saja. Jika aku yang menyetir bisa membutuhkan waktu dua kali lipat.

“Aku langsung pulang saja atau menunggumu sampai kalian selesai bercinta?”

“Tidak lucu,” ketusku seraya memukul kepalanya.

Aku keluar dari mobil dan mengingatkan Hyukjae untuk pergi ke mana pun dia mau dan kembali ke mari saat aku sudah menghubunginya. Terlalu beresiko jika aku langsung pulang setelah memberikan supnya. Paling tidak menghabiskan waktu di sini sampai beberapa jam kemudian berjalan-jalan dengan Hyukjae seharian merupakan pilihan terbaik.

Hyukjae bergegas pergi. Meski aku harus merelakan credit card-ku lagi karena dia lupa membawa dompet. Seratus ribu won tidak akan cukup untuknya seharian dan itu berarti tabunganku harus menjadi korban. Dan karena Hyukjae sudah berjanji akan menggantinya dengan bentuk lain, itu berarti aku tak mempunyai beban apapun saat masuk ke dalam apartemen Kyuhyun.

Cukup lama aku menunggunya di depan pintu—mungkin sekitar lima belas menit. Entah apa yang dia lakukan di dalam sana. Kurasa dia malu karena rumahnya sangat berantakan jadi harus membersihkannya sebelum aku masuk. Saat pintu terbuka aku berharap akan ada sesuatu yang menyegarkan di depanku, misalnya saja dia baru keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk terlilit di pinggang, kemudian rambutnya basah setelah keramas, bau harum sabun dan shampoo maskulinnya memelukku, perut kotak seperti cetakan es batu, lalu apalagi ya?

“Hei! Sedang berpikir mesum ya?”

“APA?”

“Kau!” Kyuhyun menunjuk tepat di hidungku. “Sedang-berpikir-mesum-tentangku!”

Itu tuduhan yang benar. Benar-benar …

“Kejam! Aku sudah menunggumu di sini selama lima belas menit dan setelah selama itu kau malah menuduhku berpikir yang tidak-tidak. Dasar tidak punya hati!” sungutku.

Alisku mengerut karena wajahnya berada sangat dekat denganku sekarang. Hanya sekitar dua inci. Jika aku bergerak begitu saja pasti hidung kami sudah menempel. Matanya memicing, dahinya mengernyit seraya mengamati seolah aku soal Matematika yang sulit dipecahkan.

“Ke-kenapa kau melihatku sampai seperti itu?” suaraku tiba-tiba menjadi gagap.

“Wajahmu merah. Pasti dugaanku tidak salah,” katanya dengan wajah datar.

“Jangan asal bicara. Aku hanya mau mengantar sup kimchi ini untukmu atas permintaan Ayah. Bukan karena kemauanku sendiri, mengerti?”

Kyuhyun mendengus seraya membuka daun pintu lebih lebar agar aku bisa masuk. Pintu langsung tertutup begitu aku duduk di sofa setelah meletakkan kotak makanan di meja. Aku kembali memerhatikan ruangan yang tak ada perubahan semenjak terakhir kali aku kemari. Masih sama bersih dan rapinya seperti kemarin hanya saja tidak ada foto yang dia lemparkan padaku waktu itu.

“Mau minum apa?” tanya Kyuhyun seraya berjalan menuju dapur setelah mengambil kotak makanan.

“Tidak perlu. Aku hanya sebentar, setelah ini—“

Kata-kataku terpotong karena bunyi pesan masuk. Kuambil ponsel dari dalam tas kemudian mengernyit melihat nomor Ayah.

Kupikir sebaiknya minggu ini kita menghabiskan waktu bersama keluarga. Bagaimana dengan pemandian air panas? Dan tempat yang paling sempurna adalah Gwangju. Hanya beberapa blok dari apartemen Kyuhyun.

Aku sudah berada di sini setengah jam yang lalu bersama ibumu. Ajak Kyuhyun. Aku memaksa!!!

Se-ka-rang!

Tiba-tiba ruang tamu Kyuhyun seperti berputar. Barang-barangnya pecah, lantai marmernya retak. Hancur—seperti duniaku. Dan Ayah adalah penyebab semua kekacauan ini.

Tidak bisakah aku istirahat saja hari ini? Besok sudah hari Senin dan nanti malam aku harus menyiapkan meteri untuk mengajar di dua kelas. Tapi Ayah seenaknya menjadikanku tukang antar makanan dan sekarang memaksaku menjalani perjodohan yang tidak penting. Padahal sudah kubilang sejak awal bahwa aku bisa mencari suami sendiri. Memangnya kenapa dengan umur dua puluh tiga dan masih belum punya kekasih? Jika Ayah tahu banyak seniorku yang sudah kepala tiga dan belum menikah pasti dia akan terkena serangan jantung. Pikirannya akan tertuju padaku, membayangkan aku akan mengalami hal yang sama seperti mereka. Ujung-ujungnya aku akan dipaksa keluar dari sekolah atau minimal tidak berteman lagi dengan mereka karena Ayah selalu percaya bahwa jodoh merupakan sebuah keberuntungan. Dan teman memiliki andil atas hal semacam itu.

Ya, dan dia berpikir Kyuhyunlah keberuntungan yang selama ini kubutuhkan.

Kulepar kembali ponsel ke dalam tas kemudian menyusul Kyuhyun ke dapur. Melihatnya masih sibuk mencuci kotak makanan bekas sup. Aku berdiri di sampingnya, membantu mengelap kotak makanan yang sudah bersih kemudian meletakkannya di rak. Dia menoleh sebentar ke samping menyadari kedatanganku.

“Ada apa?”

“Ada berita buruk.”

Kyuhyun tertawa pelan. “Kenapa?” kemudian membilas tutup kotak makan yang penuh busa dan memberikannya padaku.

Dengan malas aku berkata, “Ayah mengajakku ke Pemandian Air Panas Gwangju.”

“Bukannya itu bagus? Setidaknya bisa meredakan ketegangan di antara kalian.”

Aku mendengus seraya memukul sebelah bahunya dengan tutup kotak makanan yang masih basah. “Itu sudah kebiasaan kami dari dulu. Pada akhirnya aku akan tetap pulang ke rumah semarah apapun aku padanya.”

Kyuhyun tersenyum, menghadapku. “Aku tahu sebenarnya kalian saling menyayangi.”

Bahuku mengedik. “Itu masalahnya. Dia terlalu sayang padaku sampai seekor serangga pun takkan berani menggigitku.”

“Kecuali nyamuk,” sergahnya. Mata Kyuhyun menatap tepat padaku. Mengirimkan perasaan damai dengan suara besarnya yang dalam. Tinggi tubuhnya tak mengintimidasiku sama sekali saat matanya ikut tersenyum seperti ini.

“Kami punya banyak obat nyamuk di rumah,” jawabku bangga.

Dan aku baru sadar bahwa cekungan di kedua ujung bibirnya itu membuatnya semakin manis. Hmmm, selera Ayah lumayan juga ternyata.

Tidak seperti beberapa waktu lalu. Hari ini wajahnya memang masih kaku dan lesu tapi lebih berwarna dari sebelumnya. Kurasa dia mulai bisa menerima diri sendiri. Mungkin aku memang tidak perlu membantunya melupakan mantan kekasihnya itu. Dia terlihat baik-baik saja.

Terkadang aku merasa heran dengan kecepatan seorang pria mendapatkan wanita pengganti hanya selang beberapa minggu setelah putus. Mereka terlihat tak memiliki beban sama sekali. Jika dipikir-pikir ada terlalu banyak hal yang sudah mereka korbankan selama masa pendekatan dan menjalin hubungan. Waktu, pikiran, materi. Menurutku itu semua menambah nilai plus mereka karena bisa menerima begitu saja apa yang sudah hilang. Membiarkannya berlalu begitu saja jika hal itu bukanlah hal yang sepantasnya menjadi milik mereka. Salah satu sifat rasional yang sangat kukagumi dari anak-cucu Adam.

Sementara aku dan mungkin kebanyakan wanita rasakan, sangat sulit berpindah haluan saat kami benar-benar mencintai seorang pria. Merelakan sesuatu yang sempat menjadi milik kami adalah hal yang sangat menyakitkan dan susah. Itu karena saat mencintai seseorang, wanita memberikan seluruh hatinya, meninggalkan logika, dan gila karenanya. Lalu menghancurkan dunia yang selama ini kami nikmati.

Sepertinya hari ini aku menjadi wanita yang terlalu filosofis.

Kyuhyun menepuk puncak kepalaku beberapa kali. “Turuti saja. Dia bukan tipe orang yang bisa dibantah.”

“Asal kautahu saja, dia juga memaksaku mengajakmu.”

Wajah Kyuhyun berubah datar, kemudian dahinya mengernyit seolah mencari huruf kapital bertuliskan “AKU BERBOHONG” di keningku.

“Serius?” Tanyanya, masih tak percaya.

Aku mengangguk seraya menyeringai. Matanya mengarah acak ke berbagai sudut ruangan. Tangannya mengusap wajah rambut lebat hitamnya ke belangkang seperti orang frustrasi. Dalam hati aku tertawa puas. Sekarang rasakan akibat terlalu menuruti permintaan Ayahku.

Memang sampai kapan kau betah mengiyakan semua kata-katanya? Tapi paling tidak, kali ini aku mempunyai teman. Jika harus mati, sekarang Kyuhyun harus ikut denganku pergi ke neraka. Salah sendiri kenapa tidak mau menolak usaha Ayah menjodohkan kami padahal dia sudah tahu sejak awal peristiwa di plaza Gwanghwamun kemarin lusa.

“Dan hari ini aku benar-benar memohon padamu untuk menolaknya. Ayah tidak akan bereaksi jika aku yang mengatakannya.” Aku memohon dengan sungguh.

Sayangnya, hanya wajah lesu yang Kyuhyun berikan padaku. Kuembuskan napas panjang, ikut tertunduk memikirkan apa yang harus kami lakukan agar bisa menghentikan ini.

Beberapa saat kemudian suara Kyuhyun memecah kesunyian. “Baiklah, ini yang terakhir.”

Aku mendongak menatapnya. “Maksudmu?”

Kyuhyun menangkup kedua bahuku. “Aku akan bicara dengan Ayahmu setelah ini. Mungkin pemandian air panas memang tempat yang sangat tepat.”

Kutampik tangannya dari bahu dan menatapnya sebal. “Kalau mau bicara datang saja ke rumah atau kantor Ayah. Kenapa harus ke sana? Dia bisa semakin berharap hubungan kita akan berhasil.”

Kyuhyun menggeleng tak setuju. “Tidak. Aku sudah pernah bekerja sama dan mengenal Ayahmu bertahun-tahun. Membicarakan hal serius seperti ini harus dalam keadaan rileks. Seingatku, kami tidak pernah mengadakan meeting di kantor saat membahas beberapa kendala di proyek.”

Aku berpikir sejenak. Dan kurasa kata-katanya itu ada benarnya juga. Mungkin reaksi Ayah bisa sedikit lebih normal.

“Bagaimana?” Kyuhyun memandangku, penasaran.

Akhirnya setelah melihat kesungguhan di mata itu, aku mengangguk.

Kami berangkat setelah beberapa menit menunggu Kyuhyun bersiap dan aku mengirim pesan pada Hyukjae untuk tak menjemputku dan menikmati akhir pekannya sendiri selama kekasihnya pergi. Dengan Range Rover Evoque hitam yang sangat nyaman, sebenarnya aku bisa tidur di sini dalam keadaan duduk sekalipun. Bagian luar sama mulusnya dengan bagian dalam. Joknya juga empuk sekali. Aku tidak bisa berhenti tersenyum apalagi melihat banyak fitur canggih di dalam sini. Desain elegan, maskulin, dan mobil ini wangi sekali untuk ukuran milik seorang pria. Bisa disimpulkan setelah ‘mengenal’ Kyuhyun dua hari ini, dia buka tipe lelaki pesolek. Hanya maniak kerapian dan kebersihan.

Well, sangat berbeda denganku.

Lagu Live Forever milik The Band Perry membuat semangatku bertambah setiap detiknya padahal jalan sudah cukup padat. Bahkan sesekali aku ikut menyanyikan bagian reff-nya sementara Kyuhyun melajukan mobil dengan kecepatan sedang.

“Jadi, kenapa kau masih sendiri?”

Aku menoleh. Memastikan pertanyaan yang baru saja kudengar tadi benar-benar dari Kyuhyun. Alisnya mengerut, menunggu jawabanku sebelum kembali memerhatikan jalan lagi.

“O-oh, kurasa itu pertanyaan yang—“

“Ow, maaf. Jika itu menyinggungmu.”

“Tidak apa-apa. Aku sudah sering mendengar pertanyaan itu sampai-sampai Ayahku bingung mencarikan calon suami karena omongan rekan-rekan kerjanya,” kataku seraya menggeleng dan tersenyum. Meyakinkannya bahwa itu bukanlah hal yang patut membuatku tersinggung.

Kyuhyun mengangguk pelan tanpa menolehku, memilih lebih fokus pada jalan raya. “Jadi kau mulai terbiasa.”

Aku tertawa seraya menyenderkan kepala di sandaran kursi saat lagu Leaving on a Jet Plane memasuki intro. Perasaanku selalu lebih damai saat mendengar lagu ini. “Cukup mengherankan memang. Tapi kau tidak perlu khawatir. Mungkin karena aku saja yang terlalu pemilih.”

Kyuhyun mengangguk lagi. Kali ini dengan senyuman dia bertanya, “Apa kau punya pria yang kausukai?”

“Tentu saja!” Seruku cepat, kemudian membuka ponsel. Membuka galeri, mencari foto seorang model pria Inggris berbadan sangat menggiurkan dengan six pack, kulit cokelat eksotis dan bulu dada yang mengundang rabaan. Kemudian menunjukkan foto David Gandy pada Kyuhyun sebentar karena aku tidak mau mati sekarang dengan membuatnya kehilangan konsentrasi saat menyetir.

Harapanku adalah mendengar Kyuhyun berkata “Wah, tampan sekali!” atau sekedar “Seleramu sangat bagus.” Tapi bukan itu yang dia katakan, melainkan. “Kau yakin dia menyukai wanita?”

“Sialan!” Teriakku sambil mencubit pinggang Kyuhyun hingga dia memekik kesakitan dan setirnya hampir oleng. Jariku menunjuk tepak di hidungnya dengan kekesalan yang memuncak. “Dia normal,” ketusku.

Tangan kirinya terangkat seperti prajurit kalah perang. “Ya, ya, tidak perlu berlebihan seperti itu,” dengusnya dengan tawa tertahan. “Pantas saja kau tidak punya kekasih. Mimpimu terlalu tinggi. Aku hanya takut kau akan mati saat jatuh nanti.”

“Ow, manis sekali lemari es ini. Aku sangat tersanjung,” balasku tak kalah ketus. “Jadi apa kabar dengan hatimu sendiri? Sayang sekali aku tak bisa melihatnya dari sini.” Aku mendecak seraya memegangi dadaku sendiri, berpura-pura iba.

“Aku baik-baik saja,” kata Kyuhyun datar, “kurasa,” kemudian mengedikkan bahu sebelum berbelok ke kiri—masuk ke parkiran Gwangju. Aku menatapnya tak percaya. Wajahnya menunjukkan hal yang berlawanan dengan yang dia katakan. Well, tadi pagi dia sangat pandai menyembunyikan raut wajah itu. Mungkin dia sudah lelah berpura-pura.

“Kau masih mencintainya,” ujarku lirih. Kata-kata itu keluar begitu saja tanpa terencana.

Saat itu mobil berhenti dan Kyuhyun mematikan mesinnya. Mengembuskan napas panjang sebelum membalas tatapanku dengan mata itu lagi. Terluka, penuh harap, dan kecewa. Aku tidak yakin mana yang lebih dominan. Ketiganya bercampur aduk menjadi satu menciptakan warna baru yang kelam dan berantakan. Mata kami masih mengunci satu sama lain seolah dengan begini dia bisa mengatakan sesuatu yang tak bisa dikeluarkan dari mulutnya yang manis. Dan kurasa aku mulai bisa menangkap tatapan itu.

Hari ini ada beberapa hal yang kuyakini pasti akan terjadi. Aku harus bicara langsung dengan Ayah dan memberitahunya bahwa dia salah jika menganggap Kyuhyun adalah keberuntunganku. Kyuhyun hanya orang lain, pria biasa yang masih sangat mencintai masa lalunya, dan kami takkan pernah bisa berjalan bersamanya. Sebagai wanita aku juga tahu diri, sangat sulit memasuki hati seorang pria yang masih mencintai mantan kekasihnya. Selain itu, Kyuhyun juga terlihat tidak mau membuka hati. Ditambah aku belum begitu mengenalnya. Lebih sulit lagi menikah dengan seseorang yang belum kita kenal. Bahkan yang sudah menjalin hubungan bertahun-tahun pun belum tentu bisa mempertahankan pernikahan mereka.

“Aku paham,” kataku pelan. Menanggapi tatapan itu.

TBC~

13 thoughts on “[Chapter] At Gwanghwamun Bagian 3

  1. Netas jga nih part 3’a😀

    Next part dipercept ya Eonni.
    Saking lama’a,udh hampir lupa sama jalan cerita’a😀

  2. Ayahnya jyo in paling bisa bikin dia mati kutu depan kyuhyun.
    Updatenya lama tapi gpp juga sih soalnya sekali keluar ga garing dan keren.

  3. gk ada habisnya ya perdebatan mereka
    keluarga hyo in juga aneh bin ajaib terutama ayahnya hahahaha
    semangat banget ngedeketin anaknya ama kyuhyun
    sampai bertingkah konyol pun
    makin seru

  4. Ya ampunn .. ayah’a hyo in kayak’a semangat bangedd buat jodohin hyo in sama kyuhyun ..
    Hemmp .. apakah kyuhyun akan bicara dengan ayah’a hyo in tuk tdak menjodohkan mereka ber2 lagi ???

  5. Oh ya ampun… hubungan mereka makin sulit ditebak deh mau dibawa kemana, hehe
    awalnya sempat lupa bagaimana cerita ini, akhirnya review dlu dan baru ngeh bagaimana ceritanya. ketinggalan deh, tau2 udah rilis sampai part 5.

  6. hoho aku kecewa karna kyuhyun masih cinta sama mantan kekasihnya,tapi mudah*an itu gk berlangsung lama amin
    fighting kyu dn hyo in

  7. Enggak bisa nangkep suasana hati mereka… Nyebelin…. Jadi penasaran sama perasaan mereka masing2 terhadap satu sama lain…

    Ayah hyoin selalu bikin ngakak setiap partnya…

  8. Mereka benar2 dijodohkan,tapi knpa kyuhyun menerima perjodohan itu klo faktanya dia belum bisa move on ?penasaran dengan apa yg bakal kyuhyun omongin ke ayah nya hyo in? Apa mau dibatalkan itu perjodohan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s