[Chaper] Snow White and the Evilman Part 2

Snow White and the Evilman
Cho Kyuhyun (SJ)/Song Hyo In (OC)
Teo Shin (Lunafly), Cho Ahra
NC RATED

Disclaimer:
I do not own Kyuhyun, Ahra and Teo. Plot belong to Grimm Brothers. THIS STORY AND OC ARE MINE. Mature content. CHILDREN DO NOT ALLOW TO READ THIS. DO NOT COPY-PASTE AND RENAME THE CASTS.

1493102_187492944779773_1795413249_n

PART 2

Saat ini aku mulai berpikir bahwa tak ada semenit lagi hidupku akan segera berakhir di tangan seorang pria yang tidak kukenali sama sekali. Harapan-harapan yang selama ini berada dalam anganku berkelebat. Jika aku diijinkan hidup lebih lama lagi, maka kematian ayah kupastikan takkan pernah sia-sia. Tapi jika ajal benar-benar menginginkanku hari ini melalui tangan pria dingin itu, maka tak ada satu hal pun yang bisa menghalangiku untuk melihat senyum kedua orangtuaku di surga saat berkumpul lagi dengan mereka.

Ketika pistol itu akhirnya meletus mataku refleks terpejam. Ironis memang, bagaimana keserakahan seseorang membuat mereka nekat membunuh manusia lain. Kupikir suara gedebuk itu berasal dari tubuhku yang akhirnya limbung, namun sampai detik ini aku masih tidak mengerti mengapa tubuhku hanya merasakan nyeri di beberapa tempat karena pukulan berandalan-berandalan beberapa waktu lalu. Bukankah seharusnya aku sudah tak merasakan apapun, mengapa saat mati pun manusia masih bisa merasakan sakit?

Tarikan kasar di lengan kiriku menyentakku kembali ke dunia nyata. Dunia yang baru kutahu belum pernah kutinggalkan. Anehnya, aku merasa kecewa karena kepalaku masih utuh dan tak ada setetes pun darah yang mengalir karena tertembus timah panas. Namun, kemudian aku sadar bahwa ada seseorang yang tergeletak di belakang pembunuh ini.

“Aku tidak suka dicurigai rekan sendiri.” Suaranya datar dan begitu dingin—tanpa menatapku.

Aku menatap mayat itu dan pembunuh di depanku dengan bingung. “S-siapa kau?” tanyaku setelah berhasil menemukan suaraku lagi. Di istana kalian tidak akan pernah mendengarku berbicara setinggi ini, dan berhubung tempat ini bukan istana seperti yang kalian tahu itu berarti aku bebas melakukan hal yang tidak pantas bagi seorang puteri mahkota.

“Lepaskan aku, Bajingan! Kau tidak punya hak menyentuhku seperti ini.”

Aku berusaha mengatakannya dengan tegas dan tajam seperti yang biasa kupelajari di kelas kepribadian sebagai seorang calon ratu—tanpa kata bajingan. Membalas tatapan tajam matanya yang menghunusku seperti sebilah katana yang bisa membunuh beberapa orang dengan sekali tebasan.

Dia mendecih. Mataku terbelalak karena dia meludah tepat di bawah kakiku yang tanpa alas. “Karena aku bajingan, kau tidak perlu kaget melihat itu. Anggap saja itu ucapan selamat datang.” Kemudian menyeringai dan menarik lenganku yang sedari tadi dia pegang terlalu erat.

Dengan terpaksa aku mengikuti langkah-langkah besarnya meski sangat kesusahan karena gaun panjang ini.

“Hei, lepaskan aku!”

“Jika aku melepaskanmu maka kau akan benar-benar mati.” Dia bahkan tidak repot-repot menatapku.

Berani sekali!

“Setidaknya tatap mata lawan bicaramu saat bicara. Itu tidak sopan.”

Dahiku membentur punggung lebarnya yang keras dengan kasar karena dia berhenti tiba-tiba. Aku terpaksa harus mendongak untuk menatapnya karena tinggiku yang hanya sebatas dadanya. Ketika itu aku mengetahui sesuatu yang lebih mengerikan daripada pistol penuh peluru, bahwa hal itu bahkan lebih tajam dari katana besar milik seorang samurai.

Tatapannya. Mata itu penuh dengan kebencian, rasa muak, dan pemberontakan yang terjebak di dalam—memerangkapku. Salivaku menuruni tenggorokan dengan susah payah. Dagunya mengencang seperti menahan kesal. Membuatku terperangah dan lemas hanya karena melihat luapan emosi itu.

“Aku memang tidak sopan dan seorang bajingan jadi kenapa kau harus meributkan hal itu?” Pria ini menantangku.

Sebagai seorang calon ratu, takut pada rakyatnya bukanlah hal yang kupelajari selama ini. Jadi, dengan keberanian yang tersisa aku bertanya padanya sekali lagi. “Siapa kau?”

Dia mengumpat keras sebelum mengagetkanku karena tiba-tiba menangkup wajahku dengan satu tangannya dan mengeratkan genggamannya di daguku, melarikan ibu jarinya ke sepanjang bibir bawahku dan menekan luka yang belum sempet mengering di sana. Rasanya luka ini seperti terbuka kembali. Dan dia-sudah-sangat-tidak-sopan-terhadapku.

“Kuharap kau mau menutup mulut manis ini sebelum aku merobeknya dengan tanganku sendiri.” Dia semakin mengeratkan genggamannya di daguku. “Kau belum pernah lihat ‘kan hal terburuk yang pernah dilakukan seorang bajingan?” Kemudian menyeringai penuh kepuasan setelah membanting wajahku ke sisi kiri seperti kotoran.

Dia tidak memberiku pilihan sama sekali selain menurutinya.

Kemudian dia menarikku lenganku lagi—masih sama kasarnya seperti beberapa waktu lagi. Membawaku terus melesak ke sebuah lorong gelap yang hanya mendapatkan penerangan dari lampu kecil tempatku disekap sebelumnya dan aku bisa melihat ada banyak perabotan-perabotan dari kayu yang sudah rusak parah. Tanganku yang bebas menjijing rok lebar sehingga kakiku bisa lebih mudah mengikuti langkah-langkahnya yang lebar. Sialnya, dia memang benar-benar bajingan karena tak peduli sedikit pun saat aku memekik karena rokku sobek cukup parah di bagian kelimannya setelah tersangkut salah satu perabotan rusak itu.

Aku tercekat dengan dada berdebar kencang saat tiba-tiba dia menarikku ke sisi kiri lorong. Kali ini lebih gelap dari sebelumnya karena tidak mendapatkan cahaya dari manapun. Langkahnya memelan dan sekali lagi aku menabrak punggungnya karena berhenti mendadak.

“Sial!” umpatnya dengan suara tertahan.

Jika saja genggamannya hilang dariku mungkin aku akan kebingungan karena tak ada seberkas sinar pun yang membantuku melihat keadaan sekitar, tapi yang jelas tempat ini lembab, dingin, dan berbau sangat busuk. Aku melepas genggaman di rok, membiarkannya kembali terburai menyapu lantai untuk menutupi hidung dan mulut. Tempat ini seperti sarang kecoa.

Tak lama kemudian ada banyak suara langkah kaki bergema di lorong yang kurasa sempat kami lewati tadi. Mereka berteriak, salah satu di antara mereka bahkan berkata dengan suara tinggi untuk menemukanku dan Kyuhyun dalam keadaan hidup atau mati.

Kyuhyun, mungkinkah itu nama pria ini?

Siapa dia? Bukankah sebelumnya dia yang membawaku kemari? Seharusnya dialah dewa kematianku tapi kenapa sekarang dia membawaku ke mari, lari dari orang-orang itu dan ….

Apakah dia berusaha menyelamatanku?

“Jangan berteriak,” desaknya. Aku memekik dengan mulut masih tertutupi tangan saat dia menarik pinggangku. Tubuh kami menempel. Aku bahkan bisa merasakan napas cepatnya berhembus hangat di puncak kepalaku. Wajahku terbenam di dadanya yang keras. Ikut naik turun seiring dengan napasnya yang mengeras.

Dia merunduk hingga bibirnya menempel di telingaku kemudian berbisik, “Naikkan kakimu di atas kakiku. Jangan mengatakan apapun yang bisa membuatku marah dan meninggalkanmu di tempat menjijikkan ini.”

Aku mengangguk cepat. Menelan saliva dengan susah payah karena jantungku berdetak semakin cepat saat suara orang-orang itu semakin mendekat kemudian kaki telanjangku naik di atas sebuah bahan kulit halus sepatu Kyuhyun. Mereka berteriak marah, kadang ada suara tembakan terlepas sebelum mereka melontarkan ancaman pembunuhan pada kami jika tak kunjung menampakkan diri.

Rokkku terangkat hingga sebatas lutut. Semuanya terkumpul di bokongku karena tangan kyuhyun menahannya di sana. Dia benar-benar kurang ajar. Andai sekarang bukan keadaan darurat, dia pasti sudah mendapatkan hukuman berat karena melakukan pelecehan seksual terhadap puteri mahkota.

Dengan pelan Kyuhyun membawaku semakin dalam dari ruangan lembab dan dingin ini, menciptakan suara seminim mungkin. Setelah itu kami berhenti ketika punggung Kyuhyun menabrak sesuatu. Dia hanya menggeram sedikit menahan sakit kemudian melepaskan rokku dan tangannya dari bokongku. Dia mengumpat—lagi—dan aku tak suka itu tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakan sopan santun jadi lebih baik aku tutup mulut karena kalau tidak … yah, bisa dibilang itu bukan hal menyenangkan yang patut dibahas di saat genting seperti ini.

Kyuhyun mendorong bahuku pelan hingga kakiku tak lagi berada di atas kakinya. Kemudian dengan satu tangan yang masih menggenggam salah satu lenganku, dia berlutut. Suasana ruangan yang sangat sunyi membuatku bisa mendengar sekelebat suara klik kemudian ada sedikit cahaya redup masuk dari sela-sela pintu—kurasa—yang bergeser hanya berjarak beberapa senti dari kaki Kyuhyun.

Dengan cepat dia menarikku lagi sebelum membuka pintu tersebut, memberinya celah seukuran tubuh kami agar bisa masuk. Dia turun terlebih dahulu kemudian menuntunku menuruni tangga kayu yang berderak setiap kami melangkah.

“Tutup pintunya!” Perintah Kyuhyun dengan suara berbisik.

Aku menurutinya. Ternyata menggeser pintu ini sampai tertutup kembali tak semudah yang terlihat saat Kyuhyun membukanya tadi. Pintu kayunya sangat berat. Kyuhyun mendengus seraya memutar mata setelah aku selesai menutup pintunya. Dia mengulurkan tangan lagi dan kali ini aku memutuskan untuk menjaga harga diriku tetap berada di atasnya dengan menolak pertolongan seorang bajingan.

Dia hanya mengedikkan bahu tanda tak peduli kemudian turun dengan cepat. Meninggalkanku yang berpegangan pinggiran tangga karena langkah cepatnya membuat tangga ini seperti memantul dan akan meremukkan tulang ekorku jika aku berakhir mendarat di lantai dengan bokong terlebih dahulu.

Tangan kiriku memegangi dada, mencoba mengontrol detakannya yang semakin cepat sementara tangan kanan masih berpegangan. Aku turun dengan pelan, kadang kakiku seperti meraba karena takut kayu ini patah kapan saja.

“Kau tidak akan mematahkannya dengan tubuh sekecil itu.”

Kyuhyun sudah berada di lantai. Menungguku dengan tangan terlipat di bawah dada seraya bersandar di salah satu rak berisi botol-botol anggur dengan ukuran yang sama. Tatapannya mengarah pada wajahku, kemudian ke bibir, sedikit turun sampai dada, lalu melaju kencang saat melihat pinggang sampai kakiku yang tertutup gaun. Aku tahu pandangan jenis apa itu dan bisa kupastikan itu bukan sesuatu yang menyenangkan untuk ukuran gadis terhormat sepertiku.

“Kurasa tubuhmu terlalu kecil untuk ukuran seorang puteri mahkota.” Dia mengeringai. Tatapannya menawarkan tantangan padaku dengan jelas sebelum dia berbalik dan berjalan biasa.

Susah payah aku menahan kata-kata kotor yang sudah tersusun di dalam otak khusus untuknya, tapi aku memutuskan untuk menahannya saat ini. Tidak ada gunanya meladeni bajingan seperti dia. Hanya akan membuatku tua semakin cepat. Aku berdeham sebelum menjawabnya dengan tenang seraya menuruni tangga dengan takut.

“Terima kasih. Kuanggap itu pujian atas keberhasilan dietku selama ini.”

Kyuhyun berhenti di tengah ruangan. Saat aku sampai di dasar tangga, dia berbalik. Memberiku seringain dan tatapan tajam itu lagi. Sungguh menakjubkan melihat betapa beraninya pria ini melihat seorang puteri mahkota dengan tatapan yang terkesan merendahkan seperti itu. Seharusnya aku marah, tapi pelajaran etika selalu mengingatkanku bahwa bangsawan harus bisa menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.

“Kau terlalu berani untuk ukuran penculik amatir. Menatapku seperti itu—berkali-kali—bukanlah tindakan yang akan dilakukan semua orang.”

“Faktanya aku memang bukan seperti orang kebanyakan,” jawabnya tak acuh kemudian berjalan kembali mendekatiku. Tak ada jarak sesenti pun di antara kami. Bahkan hidung kami sudah bersentuhan. “Dan aku bukan penculik amatiran.”

Sekarang gantian aku yang menyeringai padanya. “Ow, maaf. Tapi kau terlihat sangat tidak profesional.”

Aku memang sengaja menggoda Kyuhyun secara halus. Menginginkan amarahnya bangkit lagi sehingga bisa membuktikan bahwa dia hanyalah bajingan tengik pengeruk harta orang kaya yang serakah seperti ibu dan paman tiriku. Tapi reaksinya benar-benar berbeda dari yang kuharapkan. Dia malah tersenyum. Sedikit lebih lembut tapi masih menakutkan. Tangannya terangkat, mengelus pelan pipi kiriku. “Hei, Bocah! Kau tidak akan mendapatkan apa yang kauinginkan dariku.”

Kemudian aku memekik keras saat jarinya menyentil dahiku. Sakit fisik bisa sembuh beberapa menit, tapi tawa mengejeknya benar-benar menggores hatiku cukup dalam. Mungkin aku tidak bisa membalasnya sekarang tapi lain waktu akan kupastikan Kyuhyun menerima apa yang berhak dia dapatkan.

Lain waktu? Oh tidak, kuharap ini adalah kali pertama dan terakhir aku bertemu dengannya.

“Ayo pergi! Kita harus segera keluar dari sini.”

Dia hendak menarikku lagi. Tapi tanganku bergerak lebih cepat darinya hingga aku bisa menghindari tarikannya. “Tidak sebelum kau katakan siapa kau sebenarnya dan ke mana kita akan pergi,” kataku mantab dan tegas dengan dagu terangkat.

Kyuhyun mendecih kemudian mengusap wajah dengan kedua tangan, nampak frustrasi. “Yang jelas aku bukan orang baik dan percayalah bahwa orang tidak baik sepertiku akan membawamu ke tempat yang lebih aman dari gudang anggur ini, bagaimana?”

Aku memilih mundur, menghindari uluran tangannya daripada menampiknya. Memandangnya penuh curiga.

Dahinya mengerut. “Aku tidak berada di kubu mana pun, Tuan Puteri Hyo In. Yah, setidaknya aku tidak lagi berada di pihak ibu tirimu.”

“Kau berniat membunuhku,” sergahku dengan yakin.

Dia tertawa pelan. “Ya, tadinya begitu.”

“Tadinya?!” Aku tidak terkejut dengan fakta itu. Tapi lebih pada kejujurannya mengakui kejahatannya. Biasanya manusia bersikap lebih rumit daripada binatang. Binatang akan langsung menyerang targetnya tanpa basa-basi, tapi manusia akan berpura-pura menjadi sahabat sebelum membunuh musuhnya. Rupanya, hal itu tak berlaku untuk Kyuhyun.

Aku berdeham lagi seraya melipat tangan di bawah dada, memerhatikan kesungguhannya. Dia masih menatapku dengan tenang. Menghembuskan napas keras, wajahnya terlihat lebih kesal dari sebelumnya, kemudian menghampiriku. Merunduk membenarkan gaunku yang sudah tidak karu-karuan lalu ….

Srak!!!

Aku memekik lagi. Mataku terbelalak melihat rok gaunku robek hingga lututku terlihat karena ulah Kyuhyun.

“APA YANG KAULAKUKAN?!”

Kemudian Kyuhyun membekap mulutku dengan satu tangan—dan aku masih menjerit memintanya melepaskanku, sementara tangannya yang lain menahan lenganku tetap berada di kedua sisi tubuhku. Berusaha meronta, mataku melotot padanya tapi dengan seenaknya dia malah melihat ke arah atas. Ke tempat dari mana kami masuk tadi.

Saat itu juga aku memutuskan untuk berhenti meronta dalam dekapannya dan kembali tenang tanpa diminta. Dari sini kami bisa mendengar langkah-langkah yang berada di lantai atas. Semakin banyak, semakin keras. Mereka masih berteriak mengancam seperti sebelumnya. Yang jelas mereka ingin membunuhku dan pria yang sedang membekapku sekaligus berusaha menyelamatkanku ini bukanlah teman.

Perhatian Kyuhyun kembali padaku. Dengan tenang dan santai dia berkata, “Dengar, mau tidak mau kau harus ikut pergi dari sini denganku. Kalau tidak maka aku akan menggendongmu. Atau jika kau bersedia ditemukan mati di sini silahkan, tapi jangan libatkan aku, mengerti?” aku mengangguk cepat.

“Bagus, Gadis Pintar.”

Dengan situasi yang kembali menegang dan terancamnya nyawaku untuk ke-sekian kali mana mungkin aku menolak tawaran kabur dari sini. Ada banyak pertimbangan yang harus kupikirkan. Aku memang bodoh tadinya. Saat Kyuhyun menodongkan pistolnya, aku menjadi pasrah dan lemah karena merindukan ayah dan ibu saat itu juga. Namun, mengingat usahanya menyelamatkanku—sekalipun dia kurang ajar padaku—aku mulai berpikir bahwa menyelamatkan diri seharusnya sudah kulakukan sejak tadi. Ayahku sudah tidak ada, maka secara otomatis tampuk kepemimpinan jatuh di tanganku. Rakyat Korea membutuhkanku. Sebagai rekan dari presiden, pihak kerajaan mempunyai andil cukup besar dalam memberikan ijin terbentuknya kebijakan-kebijakan yang kami usahakan untuk memberikan pelayanan dan kenyamanan bagi seluruh rakyat. Dan aku harus hidup untuk itu.

“Ke-kemana kita akan pergi?” Aku bertanya setelah Kyuhyun melepaskanku.

Dia menarikku tanganku—lagi. Kali ini lebih lembut dari sebelumnya, membawaku menyusuri lorong di antara banyaknya rak-rak kayu yang penuh dengan anggur. Sebenarnya aku tertarik mengambil satu botol yang berusia paling tua tapi sebelum aku bisa mengatakannya Kyuhyun sudah melakukannya. Dengan seringaian yang biasa dia tunjukkan padaku, dia mengangkat botol itu dengan bangga kemudian berkata, “Aku tidak mau melewatkan malam bersama puteri mahkota tanpa anggur yang lezat.” Sebelah matanya mengedip menggoda.

Aku hanya bisa menggelengkan kepala heran dan menghembuskan napas panjang karena itu lebih baik daripada mendengus ataupun mengumpat.

Lama kelamaan aku mulai merasakan dampak yang menyenangkan atas tindakan kurang ajar Kyuhyun. Setidaknya dengan gaun robek seperti ini aku cukup bisa mengimbangi langkah lebarnya menyusuri padang ilalang yang tingginya bahkan melebihi kami. Ruang bawah tanah itu menyambung ke sebuah pintu kayu lain di atas tanah setelah berbelok ke kanan, menyusuri lorong yang hanya diterangi lampu kecil berwarna kuning beberapa meter dan kami harus menaiki tangga kayu lapuk lagi untuk mencapai permukaan tanah di balik pintu itu. Jauh dari tempat aku disekap beberapa waktu lalu.

Setelah kami berhasil keluar, Kyuhyun menutupi pintu itu kembali dengan tanah. Awalnya daerah ini terlihat lebih suram karena cahaya bulan terhalang mendung namun setelah beberapa menit kami berjalan tanpa bicara dan fokus pada perjalanan, ada banyak sekali pertanyaan yang mengganggu pikiranku. Tentang siapa diri sebenarnya, apa tujuan sesungguhnya jika ‘tadi’ dia berniat membunuhku, dan mengapa dia menyelamatkanku. Tentang ke mana dia akan membawaku pergi dari orang-orang yang ‘masih’ berniat membunuhku. Kemudian semua itu lenyap begitu saja saat aku mendengar sirine meski samar-samar. Itu pasti pasukan kepolisian.

Saat aku hendak berbelok arah mengikuti suara sirine, Kyuhyun menahanku. Dengan wajahnya yang datar dan dingin dia berkata, “Pergi ke sana dan kau akan mati besok.”

Aku menggigit bibir bagian dalamku untuk meradam kekesalan karena sifat sok memerintahnya yang sedari tadi tak kunjung hilang. “Kurasa beberapa jam terakhir ini kau sangat menyukai kegiatan barumu. Me-me-rin-tah-ku, huh? Kau menikmatinya, kan?”

Kyuhyun berdeham. Menggosok-gosok hidungnya seperti orang pilek. “Kau yang memaksaku bertindak seperti itu. Jangan menjadi gadis rumit. Lama-lama aku bisa muak dan meninggalkanmu di sini.”

“Itu lebih bagus,” sergahku dengan percaya diri.

Ya, sangat bagus.

Kyuhyun mendecih tak percaya. “Baiklah, baiklah.” Dia mengangkat kedua tangannya seperti menyerah kemudian saat aku hendak meninggalkannya, dengan gerakan yang sangat cepat—bahkan aku tidak yakin bisa melihat tangan itu bergerak—moncong pistolnya kembali mengarah ke pelipisku, membuatku terdiam seketika itu juga dan aku bisa melihat seringaian puasnya untuk yang ke-banyak kali. “Selangkah lagi, maka hidupku akan benar-benar berakhir sekarang.”

Sial! Tidak bisa. Aku belum boleh mati sekarang.

Aku menggeram menahan amarah dan Kyuhyun tertawa puas untuk itu. Sialan! Benar-benar sialan.

“Ow, lalu ada apa dengan kata ‘tidak lagi’ ingin membunuhku? Sudah lupa, huh?”

“Tidak sama sekali. Sayangnya, aku memang bajingan seperti yang kaukatakan sejak awal dan bajingan,” aku tersentak ketika mocongnya benar-benar menempel di kepalaku, “tidak pernah menepati kata-katanya.” Dia berkata dengan pelan, yakin, dan tegas.

Aku menelan saliva lagi. Ini adalah satu-satunya cara yang paling memungkinkan untukku segera melarikan diri dan menemui Teo Oppa. Dia adalah penyelamatku, dia yang selalu melindungiku, dan aku yakin kali ini pun akan sama seperti waktu-waktu sebelumnya.

Aku beralih menghadapnya. Membiarkan moncong dingin itu menempel di dahiku. Dengan tekad penuh tidak akan menyerah begitu saja dengan hidupku. Memangnya siapa dia bisa memerintah calon ratu sepertiku?

“Seharusnya aku tidak memercayaimu sejak awal,” ucapku dingin.

Dia menyeringai. “Ow, seharusnya. Tapi itu sudah tidak berlaku. Sekarang cepat jalan dan ikuti perintahku.”

Aku menolak permintaannya dengan berjalan mundur beberapa langkah, tapi itu malah membuat guratan marah di wajahnya tercetak semakin jelas dan membuatnya semakin yakin untuk memutar peluru yang masih tersisa di antara palu dan larasnya, siap untuk menarik pelatuk kapan saja.

Sekarang aku yakin dia benar-benar akan membunuhku.

Aku berdeham untuk menjernihkan suara yang sudah cukup lama tertahan. “Yah, aku selalu percaya selalu ada hal baik di hati orang jahat sekalipun.”

Kyuhyun mendecih lebih keras.

“Kau menyelamatkanku tadi,” selaku.

“Kau tidak tahu siapa aku.”

“Aku tahu namamu Kyuhyun dan kau bukan orang baik yang tidak berada di pihak manapun.”

Kali ini dia tertawa—cenderung terbahak. Seluruh aspek pada dirinya selalu terlihat menakutkan, bahkan tawanya pun sangat mengerikan. Beruntungnya, wajah tampan yang dia miliki sangat membantu mengkamuflase tabiat yang tidak baik itu. Jas terbuka dan kemeja putih kusam yang sebagian ujungnya keluar dari celana. Dengan rambut berantakan dengan wajah yang penuh kotoran dan keringat, aku masih bisa melihat matanya yang ternyata terlihat lebih sayu saat dia tidak serius. Hidungnya yang mancung, rahang yang tidak begitu tegas memperlembut tampilan wajahnya, bibir penuh dengan cekungan kecil di kedua ujungnya. Dia benar-benar iblis berwajah malaikat.

“Seperti biasa, orang seperti kalian selalu merasa paling tahu dan paling benar.”

Nada suaranya penuh dengan ejekan. Namun, setelah itu hal yang paling melegakan adalah dia memutar palu peluru dan menurunkan pistolnya kemudian memasukkannya kembali ke kantong kecil di sisi kiri pinggangnya yang tertutupi jas. Aku bisa bernapas lega untuk itu. Setidaknya kematianku bisa ditunda lebih lama lagi.

“Aku tidak mengerti dengan apa yang kaubicarakan.”

“Kau terlalu percaya diri, Tuan Puteri. Mungkin jika kau mengetahui siapa aku sebenarnya, kau akan menuruti apapun permintaanku tanpa banyak bicara.”

Kyuhyun, dia adalah satu-satunya pria yang paling sering menyeringai dan berlaku kurang ajar padaku sejak petermuan kami yang pertama hingga detik ini. Dia mendekatiku hanya dengan satu langkah kecilnya saja. Dia membuatku tertegun dengan tatapan tajam sekaligus melumpuhkannya sampai aku tidak bisa bergerak saat hidung kami menempel. Ketika kemudian dia beralih ke sisi wajahku, hembusan napasnya menerpa telingaku dan saat itu juga bulu kudukku berdiri. Mataku terpejam merasakan kedutan intens di antara kedua pahaku saat merasakan miliknya yang mengeras berada di atas perutku.

Ya Tuhan, apa ini? Aku belum pernah bertemu pria sebajingan Kyuhyun yang dengan berani dan lantang menunjukkan gairahnya padaku.

Aku menelan saliva dengan kesusahan saat lidah panasnya menyapu cuping telingaku kemudian mengirimkan sensasi yang menyejukkan dengan meniup telingaku—pelan.

Kyuhyun memegang kedua bahuku, semakin menempelkan tubuh kami hingga sesuatu yang seharusnya tidak kurasakan terhadapnya membuat kedutan di pangkal pahaku semakin cepat dan lama kelamaan semakin lembab.

“Kurasa aku harus sedikit memaksa otakmu kembali beberapa tahun ke belakang.” Kyuhyun meniup telingaku lagi sebelum menyusurkan lidahnya turun melalui leherku dan bersarang di lekukan yang mempertemukan bahu dan leherku. Aku ingin mendesah, tapi semua itu tertahan karena harga diri tak memperbolehkanku melakukan hal itu.

“Jika kau ingat siapa pria yang mati di tiang gantungan beberapa tahun lalu, maka kau harus tahu bahwa dia meninggalkan seorang isteri dan putera yang terluka karena kehilangannya.” Suaranya tajam dan penuh penekanan di setiap kata.

“Mmmh.” Dia mendesah pelan saat menghisap tulang selangkaku kemudian tertawa sama pelannya, sementara aku menggigit bibir untuk menahan desakan itu.

Kyuhyun menggodaku.

Sebelah tangannya berpindah menangkup pipiku. Mengusapnya lembut sebelum mendaratkan kecupan singkat di sana dan berkata dengan pelan, “Cho Younghwan. Dia ayahku.” Kemudian menggesek miliknya yang sekeras batu beberapa kali di perutku. Mengirimkan sengatan yang membuatku melemas hingga aku jatuh berlutut saat Kyuhyun meninggalkanku. Menjauhkanku dari sensasi menggetarkan itu begitu saja dengan mata terbelalak tak percaya. Aku hanya mampu melihat punggungnya beberapa meter di depan tanpa mampu mengatakan apapun.

Darahku yang memanas kemudian mendingin dengan cepat. Terhenyak karena mengetahui kenyataan bahwa sekarang aku sedang bersama putera dari pria yang telah membunuh Ayah.

 

TBC~

37 thoughts on “[Chaper] Snow White and the Evilman Part 2

  1. Ya Allah,,,
    Sampe lupa sama jaln cerita awal’a kek gmna😦

    Saking lamanye nih FF kaga dilanjut2.
    Ude berapa tahun ya kira2 #mikiranggung

    Semoga next part gak sampe bertahun2 dilanjut’a😀 #kodekeras

  2. Ya Allah,,,
    Sampe lupa sama jaln cerita awal’a kek gmna😦

    Saking lamanye nih FF kaga dilanjut2.
    Ude berapa tahun ya kira2 #mikiranggung

    Semoga next part gak sampe bertahun2 dilanjut’a😀 #kodekeras :p

    cepet dilanjut ya Eonni

  3. Aku emang udah suka pas part 1 tapi nunggunya lama minta ampun.
    Dan sekarang gak sia sia deh nunggu nya cocok sama karakter kyuhyun yg kayak gitu.
    Pokoknya eonny jangan lama lama ok.

  4. Baca part ini awalnya bingung karena blm baca part 1 jadi langsung cus cari part 1 ternyta udah diposting lama, maaf komentarnya langsung di part 2.
    Selalu suka dgn FF yg ada di sini, karena aku salah satu menggemar FF, apalagi bahasa dan karakter yg digunakan juga bagus. Jadi, makin penasaran dgn kelanjutan kisahnya🙂 keep writing 😃

  5. mungkin kyuhyun juga ingin balas dendam lewat hyo in tapi dengan cara yang berbeda tentunya
    ini dah lama banget baru dilanjut lagi chapter 3 ditunggu baaget

  6. Huwaaaa ntah dibagian manapun aku suka
    njiiir aku suka gaya Kyu disini
    kyaaaaaaaa ><
    demi benda mati kecintaan Kyuhyun ini part bener2 wah wah wah
    ya ampun ya ampun
    apa Kyuhyun bermaksud balas dendam ?
    wow apa Cho Ahra disini bukan Noona-nya Kyu ?
    wow wow wow
    bagian Kyuhyun yg dengan sengaja menyentuh ehem ehem ke perut Hyo in bener-bener minta ditabok ni orang
    tapi tapi ntah ntah ntah
    dia tetap juara huhuhu
    mau lusuh kek mau dalam keadaan segar kek Kyuhyun tetap tampan njiiir
    maksud kyuhyun nyelamatin Hyo in apa ? ckckck penasaran akuuu

    huwaaah ditunggu buat part selanjutnya ya ^^~
    keep writing and fighting !!!

  7. Aph benar ayah’a kyuhyun yg membunuh ayah’a hyo in ??
    Kok feeling aqu kayak’a bukan yahh ??
    Feeling aqu yg bunuh ayah’a hyo in yahh ibu tiri n paman tiri’a ituu .. karna mereka ingin menguasai kerajaan .
    N yg jadi kambing hitam’a yahh ayah’a kyuhyun ??
    Aph benar yahh dugaanku ..
    Makinn penasaran ajhh sama nhe cerita .

  8. Apa? Anak yg membunuh ayahnya. Musuh? Aduuuh ribet bakal jadinya. Woah kyuhyun kok gitu bgt bikin merinding sssttt!
    Oh iya aku nemu ada typo satu min, haha tapi bener2 rapi bgt kok suer deh, jln ceritanya jga bagus bikin penasaran gitu. Author fighting!!

  9. Perkenalkn reader baru..Keren, apa bener appanya kyu ng ngebunuh ayhnya hyo in, emmm, kyknye ada keslah pahaman ini. Kkkk. Ada teasernya kah author?

  10. ffnya menarikk banget hihi^^, jadi yang bunuh ayahnya hyo in itu ayahnya kyuhyun? gimana reaksi hyo in kalau sekarang ia bersama anak dr yang membunuh ayahnya? next baca

  11. Owh itukah alasan kyu yg pada awalnya ingin membunuh hyo in, tapi kenapa ia malah membatalkan niatnya, apa ia punya maksud tersembunyi

  12. Hahaha kyu parahhh,,, apkh mgkn kyu bls dendam pd ibu tiriny hyo in,, dgn cra kyu mmbwa hyo in kbur,,, smg aja gtu, kan nnti biar kyu ama hyo brsatu mlwan ibu tirinya…

  13. kenapa makin sini makin pendek >.< belum ketebak ini sebenarnya siapa kyuhyun, siapa hyo in. ada hubungan apa mereka ? kenapa kyu sampe nyelamatin puteri ??

  14. Akhirnya. Setelah lama menanti. Ff ini dilanjut juga. Kereeeeeeeeen. Ditunggu dengan sangat kelanjutan ceritanya. :)))))

  15. Kyu kurang ajar banget di sini.. Tapi ada bagian yg lucu juga… Ada menegangkannya juga, ada seremnya juga…

    Dan kenyataan lain ternyata ayah kyu yg bunuh ayah hyoin, gitu??
    Rumit lagi dah dan tambah penasaran sama identitas sebenarnya kyu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s