[Short Story] I Put a Spell on You

I Put a Spell on You
Cho Kyuhyun (SJ)/Song Hyo In (OC)
Rate: PG-17
By: Valuable94

Happy reading!!! ^^

11800081_995830153773966_8552721165294983061_n

Lampu di atasku belum menyala. Dengan tubuh hanya berbalut selimut hijau, Hyo In berbaring di sebuah meja operasi tepat di depanku. Sebuah tirai menutupi bagian tubuh bawah Hyo In mulai atas perut untuk mencegah kami melihat proses pembedahan. Andai ini bukan anakku yang lahir, aku takkan mau berada di sampingnya. Aku melakukan ini bukan karena keharusan seorang suami atau apa, tapi  semata-mata karena dia adalah Hyo In. Ibu dari calon putri-putri cantikku dan wanita yang sangat kucintai.

Kuharap Ibu takkan cemburu saat aku mengatakannya. Tuhan memberkati!

Dokter bahkan belum masuk ke dalam ruang operasi tapi pegangan tangan Hyo In di telapak tanganku semakin menguat. Aku tahu dia takut meskipun sedang tersenyum. Sebenarnya aku juga tidak ada bedanya dengan dia, tapi biar bagaimana pun aku bertanggungjawab untuk membuatnya tenang. Jadi, daripada ribut sendiri dengan pemikiranku, aku memilih mengusap keringat dingin di pelipisnya sambil berkata, “Aku di sini.”

Tiga kata itu memang tak bisa menjamin segelanya akan baik-baik saja. Aku hanya berharap dengan dia tahu aku akan selalu bersamanya, sedikit banyak hal itu bisa meningkatkan rasa percaya dirinya. Paling tidak hanya itu yang bisa dan sedang kulakukan. Aku takkan pernah membuatnya merasa sendirian. Itu janjiku pada diri sendiri saat pertama kali melihat dia berjalan di altar bersama Ayah mertuaku. Tudung kepalanya yang transparan menutupi senyum gugup sekaligus manis di sana waktu itu. Wanita ini benar-benar tiada duanya. Menyebalkan, baik, menjengkelkan, humoris, aneh, kadang berubah menjadi perayu saat membutuhkan sesuatu. Yah, kurasa kebanyakan wanita memang punya kecenderungan yang lebih pada poin terakhir. Dan saat itu juga aku merasa begitu, lengkap.

Jantungku berdegup semakin kencang saat tanganku terangkat lalu punggungnya menyentuh bibir Hyo In halus namun sedikit kering.

“Tarik napas!” Perintahku.

“Kau gugup?” Hyo In mendecak.

“Tarik napas!”

“Aku baik-baik saja.” Dia mengelak. Seperti biasa. Wanita yang tidak mudah menyerah. Dan keras kepala.

“Taaariiikkk napasss!” Kataku sekali lagi seraya menirukan gaya bernapas orang dengan sedikit berlebihan.

“Dasar aneh.”

“Kubilang tarik napas!” Aku mendengus saat melihatnya menatapku seolah aku ini lumba-lumba sirkus yang kekurangan oksigen.

“Aku bisa bernapas tanpa kau suruh!!!”

O-ow, dia mulai berteriak. Pertanda buruk.

“Tidak perlu emosi seperti itu. Aku ini suamimu.”

“Sebentar lagi aku operasi dan kau masih tega memukul kepalaku?!”

Padahal aku hanya menyentilnya pelan dan kujamin sentilan itu takkan membunuh semut merah sekalipun. Dia berlebihan. Ya, aku tahu. Jika tidak maka dia bukan isteriku.

“Iya, iya, maaf.”

“Tunggu saja di luar. Kau membuatku semakin gugup dengan berada di sini dan terus mengoceh tidak jelas.”

Aku langsung menggeleng tak setuju. Enak saja mau mengusirku. “Tidak mau. Mereka anakku juga. Kaupikir kau bisa hamil tanpa aku, eh?”

“Mereka juga anakku.”

Wajahnya semakin menjengkelkan tapi tetap cantik. Ah, bicara apa aku ini. Dia seperti itu karena gugup menjelang operasi saja.

“Anak kita. Kau, Song Hyo In dan aku Cho Kyuhyun. Sarang dan Joha adalah hasil yang sangat memuaskan.” Rasa bangga memenuhi dadaku begitu membayangkan seperti apa Sarang dan Joha yang sebentar lagi bisa kami lihat, bahkan dipeluk, dan dicium.

“Kau terlalu percaya diri. Mereka bahkan masih berputar-putar di dalam perutku.”

“Diam!” Sial! Hyo In semakin menyebalkan setiap detiknya.

“Kau memukul kepalaku lagi?!!!”

Kali ini aku benar- benar melakukan apa yang dia katakan. Enak saja meremehkan aku. Keturunan Cho Kyuhyun pastilah akan menjadi hasil yang bagus. Mengingat kerja keras dan kucuran keringatku malam itu—walau sesungguhnya aku tak tahu kapan mereka membelah dan benar-benar akan menjadi bayi seperti sekarang.

“Sudah kubilang diam saja.” Aku mulai jengkel.

“Kau yang seharusnya diam.”

Sesaat aku menurutinya. Setelah sekitar satu menit melihat pintu ruang operasi masih tertutup rapat. Seorang suster mengatakan bahwa Bibi Kang akan datang sepuluh menit lagi sebelum keluar dari ruangan dua puluh menit yang lalu. Jadi, aku mulai bertanya-tanya sebenarnya ke mana mereka pergi. Namun, sangat disayangkan bila orang terakhir yang bisa kutanyai sendiri adalah Hyo In. Dan aku paham betul bagaimana reaksinya jika menanyakan hal-hal yang sudah pasti tidak dia ketahui.

Ya Tuhan, semakin lama tempat ini lebih mirip ruangan penuh gas beracun.

Akhirnya pertanyaan yang selama ini kusimpan rapi tak bisa kutahan. “Ke mana Bibi Kang? Sial!”

Hyo In tertawa. Itu suatu keajaiban setelah mendengar aku mengumpat. Biasanya dia akan menutupi perutnya dan gantian memakiku karena berkata tidak sopan.

“Kurasa sebentar lagi juga datang.”

Aku menatapnya—lagi, memerhatikan pipinya yang biasa berwarna merah muda semakin memucat. Kuusap setetes peluh yang jatuh dari pelipisnya. Aku sangat yakin dia lebih gugup daripada aku hanya saja tidak mau mengatakannya. Mengkhawatirkanku—seperti biasanya—dan sekarang ditambah dengan Sarang dan Joha setelah tahu hasil tes terakhir sebelum memutuskan mengambil langkah operasi caesar adalah karena salah satu dari mereka terlilit tali pusar. Kami tahu itu berisiko dan tidak akan pernah memaksa kelahiran normal sekalipun keadaan Hyo In benar-benar siap untuk prosesnya.

“Di sini saja temani aku. Jangan lepas tanganku!”

Kugenggam tangan Hyo In dengan erat. Dia takut. Aku pun begitu. Kami berdua terlalu bahagia dan takkan pernah merelakan kebahagiaan itu lenyap begitu saja hanya karena keegoisan memilih satu pijakan sebelum melangkah ke depan. Semuanya untuk Sarang dan Joha kami. Untuk keluarga kecil kita yang baru saja dimulai. Aku ingin mereka bahagia dan kami semua akan mewujudkan itu apapun halangannya.

Tak lama kemudian Bibi Kang datang dengan dua orang asistennya. Beliau tersenyum padaku dan Hyo In. Mengajak mengobrol, membahas hal-hal yang sebenarnya hanya untuk mengalihkan perhatian Hyo In sambil menyuntik obat bius—kurasa—karena setelah itu pandangan Hyo In jadi semakin tidak fokus. Kepalanya menggeleng ke sana ke mari, kemudian mulai meracau dan merintih karena kepalanya terasa berat.

“Hyo In, kau mendengarku?” Itu suara Bibi Kang. “Proses pembedahan akan segera dilakukan. Apa kau bisa merasakan pukulan di sini?”

Hyo In menggleng.

“Di sini?” Tanya Bibi Kang lagi, kemudian memberi jeda.

Hyo In menggeleng lemas seraya mengeluh pusing dan melihat ke berbagai arah seolah mencari sesuatu—yang mungkin dia lupa sekarang masih duduk di sampingnya dan menggenggam tangannya.

“Baiklah. Mari kita mulai. Tidak perlu gugup.”

Kemudian lampu operasi menyala menyilaukan mata dan Bibi Kang bersama dua asistennya melakukan apa yang menjadi tugas mereka.

“Aku tidak akan ke mana-mana,” kataku, meyakinkannya.

“Prosesnya mungkin akan memakan waktu lebih lama dari biasanya karena tali pusar yang melilit salah satunya. Nyamankan dirimu, Sayang. Semuanya akan berjalan cepat. Bahkan lebih cepat dari naiknya saldo rekeningmu.”

Sekilas bibirnya terangkat sebelum menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Kurasa jika Hyo In benar-benar mendengarnya, ini akan menjadi pembahasan yang menarik. Sayangnya, itu tidak terjadi. Matanya terpejam sesaat merasakan usapan pelan tanganku di rambutnya. Bahkan saat tertutup pun mata indah itu tak pernah bisa berbohong, mereka bergerak gelisah dengan kerutan di dahi yang nampak jelas.

Sambil mengusap kepalanya, aku memanggil Hyo In dengan pelan seraya mendekat ke telinganya. “Tidak apa-apa. Semuanya pasti baik-baik saja.”

Entah itu sudah kalimat yang ke-berapa kali. Rasanya sebanyak apapun aku mengatakan itu masih saja belum cukup membuatnya benar-benar nyaman.

Hyo In mengganguk pelan. Dengan suara yang sangat pelan dia menjawab, “Aku tahu.” kemudian bibirnya melebar perlahan hingga menampilkan sebuah lesung pipit samar di pipi kirinya. Tangannya semakin melemas dalam genggamanku yang mengetat. Aku ingin dia tahu bahwa di sini masih ada aku yang akan selalu menggenggamnya, tak kan pernah membiarkannya lepas dalam artian yang lebih romantis maupun yang sebenarnya.

“Hei, kau mau mendengar sesuatu dariku?”

“Kumohon jangan menyanyi!”

Aku tertawa melihat wajahnya yang seperti orang mabuk tapi masih bisa merespon omonganku. “Bukan. Aku punya sebuah mantra untukmu.”

Alohomora?!”

Hyo In pernah bilang padaku bahwa itu adalah mantra pertama yang dia hafal saat menonton filem Harry Potter ketika masih kelas enam SD. Tapi sayangnya bukan itu yang kumaksud.

“Bukan. Bukan mantra pembuka kunci. Tapi mantra keberuntungan.” Aku merunduk, mendekati telingnya sekali lagi sampai bibirku dan telinganya hampir menempel sekarang. “Hakuna matata,” kataku dengan pelan sebelum mengecup pelipisnya. Menyandarkan kepalaku tepat di sampingnya.

Sejurus kemudian tangannya yang lemas mengusap pipi kananku. Tangan halusnya yang biasa hangat kini menjadi lebih dingin dan sedikit lembab karena keringat. Dia gugup. Ya, sama seperti aku. Meskipun aku tidak ikut dioperasi, menemaninya saja sudah cukup membuat ketar-ketir. Seperti yang sudah kudengar dari Bibi Kang sebelum kami memutuskan untuk melakukan operasi demi keselamatan si kembar, proses penyembuhan dan rasa sakitnya akan lebih lama dengan kelahiran caesar daripada normal.

Sekitar lima menit kemudian, atau entah berapa detik—aku pun tak mau ambil pusing dengan menghitungnya, seorang bayi mungil bergerak-gerak kecil dan kelihatan gelisah dalam gendongan salah satu asisten Bibi Kang namun masih belum bersuara. Kepalaku terangkat, secara refleks ingin melihat bayi kecilku lebih dekat. Melihat matanya yang bahkan belum terbuka.  Debaran jantungku meningkat seketika itu juga. Rasanya seperti ada berjuta-juta kilo bubuk mesiu yang diledakkan di dalam perut. Hanya dengan beberapa tepukan yang menurutku agak terlalu keras untuk ukuran bayi yang masih berwarna merah kemudian …

Dia menangis. Sangat-sangat keras. Memekakkan telinga. Mengguncang dunia—duniaku.

Perhatianku teralih kembali pada Hyo In. Pandangnnya memang masih belum fokus, tapi aku bisa melihat setetes air mata bening mengalir keluar dari ujung mata dengan senyum lebar yang tersungging begitu manis di bibirnya. Genggaman tanganku mengetat di tangannya. Tanganku yang bebas menangkup sebelah pipinya, mengarahkan pandangannya hanya padaku. Aku sendiri tak tahu tatapan macam apa yang kuberikan pada Hyo In sampai membuatnya sebahagia itu karena yang kurasakan sekarang hanya lemas, sekujur tubuhku bergetar, wajahku memanas, telapak tanganku rasanya basah.

“Itu Sarang?” tanya Hyo In, lirih.

Napasku tercekat sampai aku tidak bisa menjawabnya dan terpaksa hanya mengangguk dan menelan saliva yang terasa seperti kerikil-kerikil pengganggu tapi kurasa Hyo In bisa cukup mengerti dengan maksudku.

“Jangan menangis.”

Saat itu aku baru sadar pipiku basah. Aneh sekali rasanya mengapa di saat yang membahagiakan seperti ini air mataku bisa jatuh. Seharusnya aku tersenyum, tertawa, kalau perlu berteriak sampai semua orang yang ada di rumah sakit ini mendengar bahwa aku adalah seorang ayah.

Ayah.

Oh, kupikir pada awalnya kehidupanku sudah cukup menyenangkan dengan memiliki Hyo In di sisiku. Menjadis suaminya, melihatnya setiap hari sebelum tidur dan saat bangun di pagi hari. Namun, hari ini aku sadar bahwa Tuhan benar-benar memberikan apa yang selama ini bahkan hanya ada di angan-anganku saja.

Tepukan di pundakku mengalihkan perhatianku. Salah satu asisten dokter berdiri di belakangku bersama sarang yang berada di dalam selimut merah muda. Aku langsung berdiri. Dengan jantung yang berdetak cepat aku menggendong Sarang. Ini yang pertama kali dan rasanya aku tak ingin melepaskan si mungil cantik yang sekarang berada dalam dekapanku.

“Selamat datang, Sarang.”

Ya Tuhan, kakiku rasanya lemas seperti baru dipukuli bandit-bandit dengan tongkat bisbol, tapi ajaibnya aku tidak jatuh dan kurasa semua ini karena bayi kecil yang sedang menggeliat di dalam selimutnya. Kupikir bayi yang baru lahir itu akan berlumuran darah, tapi ternyata tidak. Dan aku sedikit lega mengetahui fakta itu. Rambut Sarang berwarna hitam sedikit kemerahan dan lebat. Matanya juga terbuka sedikit. Dari sana aku hampir tak bisa mengenali apakah dia memiliki mata cokelat seperti anggota keluarga Song atau mata hitamku. Masa bodoh dengan itu. Yang paling penting sekarang adalah Sarang ada di sini bersama kami.

“Perempuan dan sangat sehat,” ujar asisten itu.

Tanganku mengusap lembut pipi gembulnya yang hangat. Kulitnya begitu lembut dan tubuhnya terasa sangat lunak dan rentan. Aku menciumnya sebelum merunduk memperlihatkan Sarang pada Hyo In. Dia tertawa sambil menangis saat melihat Sarang menguap dan menggeliat di dalam selimutnya.

“Kaulihat? Dia cantik, kan?”

Hyo In mengangguk pelan. “Pasti. Seperti aku.”

Aku mendengus bukan karena kesal, tapi menyadari bagaimana isteriku ini tetaplah isteriku.  Bahkan dalam keadaan lemas karena anestesi epiduralnya dia masih bisa berkelakar.

“Kulitnya merah dan sangat lembut.”

“Aku tidak bisa menyentuhnya. Tanganku rasanya seperti jeli,” gerutu Hyo In.

Tiba-tiba asisten yang sebelumnya membawa Sarang sudah berada di sampingku. “Mari saya bantu melakukan inisiasi menyusui dini,” katanya ramah kemudian mengambil Sarang dari gendonganku. Sebenarnya tidak rela, tapi jika itu memang prosedurnya aku bisa apa?!

Aku terdiam melihatnya dengan cekatan membuka selimut Hyo In, kemudian meletakkan sarang di atas dada kanan Hyo In yang telanjang dengan masih dipegangi asisten tadi.

“Oh, anakku. Kulitnya lembut sekali.” Suara Hyo In lirih tapi tak bisa menyembunyikan maksud ketakjuban dari sana.

Awalnya Sarang hanya diam saja. Tangannya yang terkepal kini terbuka, meraih-raih payudara Hyo In. Lalu saat ada tangisan yang lain bergema, Sarang mengeluarkan suara seperti merengek. Aku tahu matanya melihat tak tentu arah layaknya orang tersesat sebelum berbalik dan melihat asisten yang lain membawa buntalan biru padaku.

Tanpa ba-bi-bu aku langsung menggendongnya. Merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan saat menggendong Sarang. Kali ini aku dikejutkan dengan betapa miripnya mereka. Oh, menurutku semua bayi memang mirip saat baru lahir. Tapi ini anakku. Sekarang ada keyakinan yang lebih bahwa mereka memang pasangan kembar identik dengan rambut hitam sedikit kemerahan lebat mirip seperti Hyo In dan saat menatap matanya aku tahu dia memiliki mata yang lebih gelap daripada Sarang.

“Joha, ini ayah.” Kuusap pelan lengan dan rambut basahnya kemudian mencium pipinya.

Dia menggeliat, suaranya yang tadi hanya seperti rengekan kini berubah menjadi teriakan. Sejurus kemudian Sarang seperti menyahutinya. Dalam waktu sepuluh menit ruangan ini menjadi ramai dengan tangisan mereka—yang kukira sedang kedinginan—tapi saat Joha diminta kembali oleh asisten kemudian ditengkurapkan di dada sebelah kiri Hyo In, mereka diam.

Saat itu aku benar-benar merasakan kedamaian. Melihat senyum Hyo In dan tubuh si kembar yang naik-turun karena napas Hyo In, hanya ada satu yang terlintas dipiranku. Aku harus hidup lebih baik lagi demi mereka. Tidak ada alkohol, makanan penuh kolesterol. Kalau perlu aku akan belajar makan sayur. Untuk si kembar.

Tangisan mereka mereda begitu saja dengan ajaib, menyisakan tersisa sedu sedan kecil yang kadang terdengar, kadang tidak. Kepala kecil mereka terangkat-angkat—mereka terlihat sangat bekerja keras—mencari puting susu ibunya. Aku harus membantu Sarang dan Joha kecil agar cepat bisa mendapatkannya. Salah seorang asisten itu menggeleng padaku seraya tersenyum ramah. “Biarkan saja. Mereka sudah bisa mengenali bau ibunya.”

Aku mengangguk patuh kemudian melihat ke sisi lain dan menemukan Bibi Kang sedang menaruh perhatian penuh pada perut Hyo In. Mungkin sedang menjahitnya kembali? Aku tidak yakin, karena aku takkan mau melihat apapun yang berhubungan dengan benda tajam dan darah.

Perhatianku teralih lagi pada Sarang dan Joha yang sedang mencari sumber makanan mereka seperti bayi tikus. Menggapai-gapai dengan tangan dan mulut kecil mereka yang terbuka lebar—tampak putus asa, lalu tak lama setelah itu aku terkesiap sekaligus bahagia saat mendengar Hyo In mendesis sakit dan Joha yang sudah berhasil mendapatkan puting ibunya.

“Sakit?” tanyaku seraya mengusap pelipis Hyo In.

Dia mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya. Wajahnya penuh dengan ekspresi kesakitan. “Lidahnya masih kasar.” Kemudian desisannya berubah menjadi teriakan kecil saat Sarang juga mendapatkan bagiannya.

Tanpa sadar aku ikut mengernyit dan meringis karena melihat Hyo In berkali-kali menutup mata dan menggigit bibirnya semakin kuat karena perih.

Pasti desisannya akan berbeda jika aku yang … ah, tidak. Kenapa aku malah berpikir seperti itu.

Beberapa menit kemudian Hyo In bisa bernapas sedikit lega. Kernyitan di dahi dan desisannya menghilang perlahan saat kedua asisten itu mengangkat Sarang dan Joha untuk dibersihkan. Aku kembali mendekati Hyo In, menutupi dada telanjangnya dengan selimut sebelum mengecupi seluruh wajahnya. “Terima kasih. Terima kasih banyak. Kau memberikan dunia yang begitu indah padaku. Aku mencintaimu. Dan mereka. Sangat. Jangan lupakan itu,” bisikku tepat di telinganya. Tidak tahu persis apa yang ingin kukatakan saking tak terlupakannya momen ini.

Dia mendengus dengan wajah yang masih pucat dan keringat mengalir dari pangkal-pangkal rambut depannya mengalir turun melalui pelipis. “Aku tidak akan mati sekarang. Jangan bicara seperti itu!”

Sialan! Bahkan dengan tubuh lemasnya dia masih bisa membuatku malu sampai ditertawakan Bibi Kang.

Meskipun begitu, rasa khawatir selama tiga puluh menit terakhir ini masih juga belum hilang. Ya, kukaui aku berusaha menyembunyikannya. Walaupun Hyo In tidak sampai berteriak-teriak seperti halnya wanita yang melahirkan normal, tetap saja wajahnya yang pucat itu membuatku memikirkan hal-hal aneh. Dia bahkan belum makan sejak semalam karena harus berpuasa menjelang operasi. Senyum lemahnya juga tak bisa mengurangi kekhawatiranku.

Hei, memangnya apa yang bisa kulakukan selain menenangkannya dan berusaha tidak terlihat gugup juga. Lagipula aku tidak berpikir bahwa dia akan percaya begitu saja saat kukatakan “tidak apa-apa” tapi aku sendiri malah ketakutan.

“Di mana mereka?” tanyanya pelan.

“Mereka sedang dibersihkan. Kau bisa istirahat sekarang.”

Hyo In mengangguk. “Ayah dan Ibu bagaimana?”

Aku menyentil hidungnya hingga dia tertawa. “Jangan pikirkan itu. Setelah ini selesai aku akan menghubungi mereka.”

Hyo In menghela napas pelan. Pandangannya lurus menatap langit-langit ruang operasi sebelum menutup mata. Perlahan tangannya terangkat—meski masih lemas—dan menggenggam tanganku yang berada di pipinya.

Hakuna matata,” katanya dengan mata tertutup sebelum tertidur.

Aku mengangguk seraya tersenyum padanya. “Hakuna matata.” Balasku kemudian mengecup pelipisnya sedikit lama dari biasanya. Merasa bahagia saat tahu dia selalu mengingat mantra yang kuberikan sejak pertama kali kami tahu dia sedang mengandung.

Cukup lama aku tertegun melihat wajah damainya yang pucat dan napasnya yang berhembus teratur. Tak sadar berapa lama waktu yang kuhabiskan hanya untuk menatapnya dan memastikan dada itu masih bergerak naik-turun dan hidung itu masih menghembuskan napas hangat sebelum Bibi Kang menyandarkanku dengan panggilannya dan sudah ada di belakangku sebelum aku beranjak mendekatinya.

“Aku sudah memberinya bius dosis ringan agar dia bisa beristirahat. Berikan makanan padat setelah dua puluh empat jam atau jika sudah bisa buang gas. Itu tandanya organ pencernaannya sudah bisa bekerja kembali.”

Aku mengangguk paham kemudian berdiri dan menjawab tangan Bibi Kang. “Terima kasih, Bibi.”

Bibi Kang menepuk pundakku seraya tersenyum. “Hyo In baik-baik saja. Dia hanya butuh istirahat.”

Aku menatapnya lagi. Memastikan semuanya memang baik-baik saja, dan memang … ya, dia pasti baik-baik saja. Jika tidak pun, akulah yang akan mencegah hal itu terjadi padanya, pada Sarang dan Joha, dan keluarga kami.

 

Author’s note:

Aduh, maaf ya jadi lebay begini. Agak baper nih gara2 banyak temen yang mulai naik pelaminan dan pamer foto si baby #eeeaaa padahal skripsi aja belon kelar. #gubrak ><

Semoga suka ya. jangan lupa komen ^^

 

 

 

 

 

 

22 thoughts on “[Short Story] I Put a Spell on You

  1. Ah….
    Rindu mereka…
    Ud lama gg denger kluarga baru, apa lg dgn hadirny Sarang dan Joha…
    AAAA….
    Kyuhyun seneng banget itu, dapet bonus dua…

  2. Jgnn kan kyu
    Aku aja sneng bnget
    Sarang joha lahir
    Smuanya selamat
    Hyoin juga

    Ayo kyuhyo kpn kasih adiik buaat sarang joha

  3. aku ktwa liat jdulnya,haha,grey * btw, aku terharu,udah mau d operasi aja msh berantem * and. . .welc0me sarang n joha * slamat datang d dunia author yg kejam itu * * *wkwk

  4. Akhirnya sarang n joha lahir ><
    Ciee,,, yg skrg resmi jd ayah :3
    Jaga anak n istri mu dgn baik kyu🙂
    Terharu waktu sarang n joha udah lahir😦 seneng krn mereka lahir dgn sehat

  5. waaa keren banget… kren semua… dr kata2nya, alur.nya… feel.nya dpet bgt… kkk
    sequel donk thor… kkk pgen tau repotnya mreka ngrus baby baru…😀
    fighting author.nim ^^

  6. Huuuuaaaa … Akhirnya sarang dan joha muncul di bumi :v welcome to world baby :*
    Sama author aku juga di bikin baper ama part ini campur aduk rasanya, very good thor. Di tunggu short story berikutnya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s