[Vignette] Failed Party

Failed Party
Kyuhyun-Hyoin And Support cast.
PG-17

A fanfiction by Moka

984281_1609727022590984_4833083117615262090_n

Annyeong~~ Lama tidak berjumpa, kekeke. Kali ini Moka kembali hadir dengan menyeret Kyuhyun dan Hyoin sebagai castnya, meski mereka tidak muncul dalam scene utama. Tentu dengan Kyuhyun yang milik Tuhan dan Hyoin sebagai kamu, (yang ini milik Tante Lia) :p aku tidak bisa bercakap lagi, mending langsung aelah.
Maaf kalau mengecewakan, aku butuh pencerahan ternyata. Butu Kritikus yang ulet.

**

Gadis itu tidak berhenti menari walaupun musik yang dimainkan Dj telah berhenti, bibir merahnya terus mengulum senyum yang menggoda dengan mata yang mengerling nakal. Rambut panjangnya dibiarkan terurai, jatuh ke bahu.

Namanya Mira, jika aku tidak salah ingat ketika mendengar seorang bartender mengucapkan namanya keras-keras saat gadis itu datang setiap jum’at malam seperti malam ini. Gadis itu selalu mengenakan pakaian berwarna hitam bergaris putih di sisinya, atau sekadar syarat warna lain di gaun seksinya. Kakinya mulus, putih cemerlang seperti wajahnya yang sangat cantik.

Bisa dikatakan jika ia adalah bintang yang paling ditunggu-tunggu para pujangga ngenes yang datang ke club malam untuk sekadar mencari hiburan. Bersorak riang, membawa uang dan kartu banyak-banyak dengan harapan bisa membawa Mira masuk ke dunia yang lain, yang lebih menyenangkan. Semua orang menyukainya.

Begitupun aku…

“Kuderngar ia baru saja berusia 17 tahun,” kata seorang pemuda berambut ikal yang duduk tidak jauh dariku, bersama seorang teman yang menyimak. Tangannya menggenggam sloki yang masih berisi penuh cocktail.

“Benarkah? Dia tidak terlihat seperti itu,” kata temannya menyahut, antusias.
Ada banyak yang mengatakan jika gadis misterius itu masih berusia 17 tahun, tapi di mataku ia sudah dewasa dengan segala hal yang ada di dirinya. Sekitar 20 tahunan. Bayangkan, ia tidak pantas menjabat gelar anak remaja dengan buah dada besar, tinggi sekitar 175-an, dan badan yang seksi dengan lingkar pinggang yang kecil. Seperti boneka barbie.

Aku menggerutu ketika seorang pria berambut cokelat mendekati Mira, yang spontan mendapat senyuman tipis dari gadis itu, wajahnya riang dengan bibir yang suka mengulum senyum dan mata yang ikut melengkung ketika ia menarik sudut bibirnya. Aku sedikit iri dengan pria yang bisa menari dengannya, sedangkan aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan tanpa bisa mengenalnya dengan baik. Jangankan mengenal, menyapanya saja aku tidak pernah.

Seorang bartender menuangkan kembali wine ke dalam gelasku, mengisinya penuh. Aku hanya menoleh sedikit dan kembali meneguk minuman itu. Teringat saat aku melihatnya di sini 3 bulan yang lalu. Ia setengah mabuk saat itu, rambutnya digulung tinggi-tinggi dengan jepit berbentuk mahkota berkilau. Sangat cantik. Berbeda dengan wanita yang mungkin sedang menungguku di rumah.

Jangan salahkan jika aku masih menyukai gadis lain, aku terkekeh. Sedikit tidak menghiraukan orang-orang di dekatku yang mendengar kekehanku menoleh, menatapku bingung. Tapi haruskah aku merespon?

Tidak. Itu tidak penting. Aku bukan orang yang suka mencari masalah setelah aku dinikahkan dengan gadis muda bernama Hyojin di pertengahan musim semi tahun lalu. Tanpa persetujuan dariku terlebih dahulu, orang tuaku langsung menjodohkan aku dengan gadis cantik berbibir tipis itu ketika aku pulang dari club malam, dengan keadaan sedikit mabuk aku seolah ditampar dengan perkataan Ayahku yang sudah berusia setengah abad jika besok aku akan menikah tanpa tahu seperti apa wajah calon istriku.

Dan esoknya, kami menikah.

Brengsek. Sepertinya, efek dari minuman keras sudah mulai meracuni otakku. Aku tidak sudi menceritakan kisah itu padamu walau kau mencekokiku dengan minuman paling keras di dunia. Tidak peduli itu akan membuatku mengiris telingaku sendiri seperti Van Gogh. Aku tidak mau menceritakan kisah tentang istriku yang hanya seperti pajangan dan cocok untuk dibawa ke pesta.

Karena aku sedang jatuh cinta dengan seorang gadis bernama Mira.

Orang-orang di sini bilang, Mira tidak membutuhkan apapun dalam hidupnya selain hiburan. Hiburan seperti apa maksudmu? Seks? Party? Uang? Atau apa? aku tidak pernah diberi penjelasan tentang itu meski aku bertanya. Pasalnya, gadis itu selalu membungkam mulutnya, hanya terbuka ketika tersenyum lebar dan menunjuk minuman yang ingin ia minum. Selebihnya, ia tetap diam.

Kemudian kembali menari.

Menari dan menari…

Hidup Mira adalah menari.

Menari adalah hidupnya.

Tiga puluh menit berlalu, jam dinding di sudut ruangan bergema. Jarumnya menunjuk ke arah angka 12 malam, banyak orang mengeluh, meninggalkan tempat mereka dan beringsut pergi. Begitupun dengan Mira yang berjalan menjauhi panggung tari. Ia menyibak rambut cokelatnya dan menghampiri counter minuman, menunjuk botol red wine dan tersenyum tipis pada bartender muda berambut sepanjang leher, diikat.

Aku menatapnya lamat-lamat, agak iri ketika bibirnya menyentuh bibir sloki di tangannya ketika meneguk red wine itu, meski ia sendirian, pada malam ini tidak ada yang mendekatinya karena para lelaki sibuk dengan urusan mereka, sedangkan aku mulai menarik nafas. Bangkit dari dudukku dan menghampirinya.

“Kau sendirian?” tanyaku.

Gadis itu mengangkat kepalanya untuk melihatku.

“Aku akan duduk, jika kau tidak keberatan.” Aku menujuk ke arah kursi di sampingnya dengan menggerakkan bola mataku. Ia tersenyum lebar dan mengangguk. Akupun duduk si sampingnya, memesan minuman yang sama. “Eng…”

“Apa kau pernah mengalami sebuah masalah?” tanyanya sebelum aku menyusun kalimatku untuk mengusir rasa canggung. Aku menoleh padanya, menatap dadanya sekilas yang kembang kempis. Aku menelan ludah. Sialan. “Apa kau pernah mengalami sebuah masalah?” tanyanya mengulangi.

“Masalah seperti apa, dulu?” tanyaku.

Mira memiringkan tangannya yang masih memegang sloki dan berdesis. Bola matanya berputar mengelilingi ruangan.

“Masalah seperti, ketika kau merasa lebih baik lenyap dari dunia ini.”
Aku sedikit tersentak ketika mendengarnya.

“Aku kembali bertemu dengan seseorang yang kucintai, tapi dia tidak mau menerimaku lagi sebagai kekasihnya.”

“Kenapa?” …dia menolak gadis cantik seperti Mira? Mira memiringkan kepalanya dan menopangnya dengan tangan.

“Karena dulu aku meninggalkannya dan kabur dengan pria lain.”
Aku meneliti setiap inci wajahnya, turun ke bawah dan melihat ia mengusap peluhnya yang jatuh ke leher. Bayanganku pergi menuju Hyojin yang mungkin masih menunggu seperti biasa, tapi aku malah mendekatkan wajahku ke arah Mira dan mencoba mendapatkan bibir merah maroon yang menggodaku sedari tadi.

Nafasku tersendat, tidak berniat melepaskan tautanku yang diterima baik olehnya. Sekejab dunia terasa hanya milik kami.

Akhirnya…

Akhirnya…

Akhirnya aku bisa menyentuhnya…

Mira mendorong tubuhku, menarik nafas dan kembali menarik leherku. Sejenak aku bisa merasa jika ia menyeringai dalam ciuman kami. Ia menarikku masuk ke dalam … dan dingin.

**

**

**

Kyuhyun mencodongkan wajahnya ke laptop Hyoin, dari sisi kiri leher wanita itu, membaca bait-bait kalimat yang baru saja di tulis istrinya beberapa saat yang lalu sebelum ia sampai di rumah.

“Berkhayal lagi?” tanya Kyuhyun pada Hyoin yang langsung cemberut, “Sehari tidak dengan mereka, memangnya kau mati?” lagi-lagi Kyuhyun bertanya.

“Kenapa? kau cemburu?” tanya Hyoin.

“Tidak.”

Lelaki itu menarik dasinya, menggantungkannya dan melirik lagi ke arah Hyoin yang sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Kyuhyun mendesis, berfikir tentang untuk apa ia mau menikahi si tukang khayal seperti gadis itu. Kyuhyun meregangkan otot-ototnya dan bergerak, berjalan pelan-pelan menuju Hyoin dan mendekap gadis itu.

“Hei. Aku merindukanmu,” bisik Kyuhyun ke telinga Hyoin. Gadis itu terkekeh. Menyikut perut Kyuhyun pelan.

“Pergilah mandi, atau aku tidak mau tidur denganmu!” kata Hyoin membuat Kyuhyun malah menyeringai.

“Kau yakin?” tanya Kyuhyun langsung menggendong tubuh mungil Hyoin, membawanya ke atas ranjang walau Hyoin menolak mentah-mentah ajakan suami tidak tahu diri yang ia cintai itu. Di atas ranjang, Kyuhyun mencium pipi Hyoin.

“Geli… sudahlah, aku tidak mau tidur denganmu.”

“Heh, tapi kau mau tidur dengan kekasih gelapmu itu? dasar!” Kyuhyun menghardik. Kembali menciumi setiap jengkal wajah gadis itu hingga tangannya turun ke perut Hyoin. “Ayo buat baby.”

“Aku sudah punya, satu.” Hyoin berucap di sela gelinya karena sentuhan Kyuhyun di perutnya. “Hm, lagipula, mereka lebih seksi darimu. Tidak dengan perut buncitmu yang melebihi aku ketika mengandung Sarang.” Hyoin tertawa, mengejek.

Wajah Kyuhyun langsung memerah, tidak menghiraukan perkataan Hyoin dan kembali menciumi bibir mungil gadis cantik itu, menelusup ke baju Hyoin dan….

“Mamaa!!! Mama!! Mama!!” teriak suara seorang anak kecil terdengar di balik pintu. Kyuhyun yang berada di atas tubuh Hyoin langsung berbalik, ketika melihat bocah ingusan itu sudah berhasil membuka pintu sambil menangis, sedangkan Hyoin tertawa dan menutupi tubuh setengah telanjang Kyuhyun dengan selimut.

Acara pesta malam ini, gagal.

Kyuhyun menggerutu. Sialan. Mengutuk bocah ingusan yang sedang berada di gendongan Hyoin.

FIN

17 thoughts on “[Vignette] Failed Party

  1. selalu manis. Suka dh.asem dh gue ktipu ama crita awalnya , huh,awalnya kukira kyu mau selingkuh dr hyoin.ternyata. . Ka amalia pnter bo.ong jg.

  2. Di awal dikira Kyuhyun, tapi ternyta hanya sepenggal cerita yg dibuan Hyoin. hehe. Kasihan deh acara malamnya terganggu oleh Sarang. Sukses deh di bagian awal yg mengelabuhi pembaca🙂

  3. Hahahaha 😄😄 poor kyu.. Yang sabar yah.. Aku kira ceritanya beneran.. Ternyata hanya ff yang dibuat hyoin..😑😑

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s