[Ficlet] Together

Together
Kirito Shien, Yuri Kazeyuki
Fluff romance

Disclaimer: Kirito belongs to himself. Yuri and this story are mine. Do not copy-paste and rename the casts. Cerita ini hanyalah fiktif belaka. ^^

Original fiction by Valuable94

10660165_1537228083174212_1567734334746583213_n

Happy reading!!! \(^0^)/

Pergi untuk memeluk mimpi dan menanti dari balik resah hati.
Aku di sini.
Memercayakan segalanya padamu dan menjaga hatimu agar tetap di sisiku.
Selamanya, untukku.

“Pergilah!”

Yuri terdiam di ambang kehampaan udara. Betisnya yang tak begitu proporsional menggantung di ketinggian 15 meter dari tanah. Rambut panjang lurusnya terurai dan terhempas angin, meyakinkan keheningan di sini bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Menelan saliva dengan susah payah, ia hanya menunduk seraya mengusap air mata di pipi dengan punggung tangannya. Sesaat matanya mengintip sepasang sepatu hitam dengan tali putih yang terpasang di kaki seseorang di sampingnya.

Ia mendongak. Menatap kerasnya napas yang ditarik Kirito. Kembang kempis dada bidangnya mengungkap segala amarah dan resah yang ia pendam. Pasti.

“Jika kau tak mengijinkan aku pergi, aku akan bertahan di sini.” Kirito berujar datar. Ia bergeming, merapatkan jas almamater sekolah kemudian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku depan celana.

“Percuma.”

Tangan Yuri bertumpu pada palang besi di depan dadanya kemudian ia berdiri di samping Kirito. Menghela napas panjang berkali-kali kemudian memeluk lengan kanan Kirito. Begitu erat hingga Kirito mampu merasakan kebingungan dari pelukan itu.

Perlahan, rambut halus Yuri disapa halus telapak tangan Kirito yang bebas. Memberikan sedikit kabar bahagia pada Yuri untuk tak terlalu memikirkan kepindahannya ke Tokyo. Mereka akan berpisah—tentu saja. Tanpa bertemu pandang, genggaman tangan yang hilang, dan hempasan angin di samping mereka saat berjalan, duduk, ataupun berdiri di tempat yang berlainan. Semua itu juga membuat Kirito resah dan marah.

Namun semarah apapun Kirito, adalah hal yang kurang tepat jika ia melampiaskannya pada Yuri yang tengah terisak di lengannya dan kini mulai lembab akibat tetesan-tetesan air mata Yuri.

“Heish, sudahlah … tidak usah menangis. Kalau ada orang lain yang melihat, mereka akan mengira aku melakukan sesuatu padamu,” gerutu Kirito di sela usapannya pada rambut Yuri.

Yuri mendongak. Menampakkan wajah memerah dengan sisa lelehan air mata di pipi putihnya. Sebagian wajahnya tertutup helaian rambut yang diterbangkan angin di rooftop sekolah. Angin dingin yang akan menerbangkan beberapa helai daun momiji* di minggu awal musim gugur. Begitu pula dengan seluruh angan dan kebersamaan mereka yang terhempas karena mimpinya.

Terlalu egois.
Mungkin.

“Aku akan sering-sering menelponmu.”

Yuri mendengus kemudian melepas pelukannya pada lengan Kirito. “Tidak usah menjanjikan sesuatu yang tak bisa kaupenuhi.”

“Kalau begitu aku tidak akan menelponmu sama sekali.”

“Kenapa berkata seperti itu padaku? Hari ini aku sedang sensitif.” Yuri meninggikan suaranya dan memukul bahu kanan Kirito beberapa kali. Membuat pemuda itu terpaksa menukikkan pandangan pada tersangka pemukulan di sampingnya.

Bibir Yuri yang mengerucut dan wajah memerah dengan beberapa helai rambut menempel di sisi wajahnya tak pelak membuat Kirito melipat bibir ke dalam menahan tawa meski dengusan konyol sedikit demi sedikit lepas dari celah-celah kecil bibirnya. Dan tentu saja Yuri si gadis yang sedang sensitif hari ini menyadarinya.

“Kau menertawakanku, huh?” ketus Yuri seraya menyentakkan kedua kakinya semakin kesal.

“Jangan memukulku lagi!” Kedua tangan Kirito dengan sigap menghalau kepalan tangan Yuri yang sudah menggantung di udara kemudian dengan sigap menangkap dan menarik tangan tersebut. Memeluk gadis itu erat hingga kungkungannya benar-benar membuat tubuh Yuri kaku. Kirito sendiri lebih memilih menenggelamkan wajahnya di rambut Yuri. Mengusap pelan punggung gadis itu naik-turun hingga perlahan tubuh Yuri melemas, tak sekaku sebelumnya.

Yuri membalas pelukan Kirito. Melingkarkan kedua lengannya pada tubuh Kirito dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang kekasihnya. Pening setelah menangis membuatnya mengantuk dan dada Kirito bukanlah tempat yang buruk untuk sekedar memejamkan mata lelahnya.

“Pulanglah setiap minggu! Aku akan menjemputmu di stasiun.” Kirito mendorong Yuri cepat dan menatap tajam dengan mata sipitnya.

“Kenapa?” Tanya Yuri, heran. Kirito mempererat pegangan tangannya di kedua lengan Yuri.

“Kau mau membunuhku?”

“Bagaimana bisa tiga setengah jam naik Shinkansen* kau bilang membunuh?”

“Bukan begitu. Bagaimana kalau aku tidak bisa pulang rutin seminggu sekali?” sanggah Kirito.

Yuri mendengus. Seperti mencium aroma niatan berkhianat dari kekasihnya yang bahkan belum bernapas dengan udara dingin Tokyo.

“Kalau begitu tidak usah pulang sekalian,” ketus Yuri. Ia melepaskan genggaman Kirito kemudian berbalik meninggalkan pemuda itu. Nampak kesal dan membuat Kirito kebingungan.

“Yuri-chan!”

Kirito berlari mengejar Yuri dan menarik tangan gadis itu sebelum berhasil mencapai tangga hingga tubuh Yuri menghadap padanya. Ia menelan saliva dengan keras seraya menatap khawatir wajah Yuri yang mengeras. Terlebih saat Yuri melipat kedua tangannya di bawah dada seraya menatapnya datar. Yah, ia tahu kekasihnya tersebut mulai malas menanggapinya.

“Baiklah, aku pulang seminggu sekali,” ucap Kirito lirih di bawah tatapan datar Yuri yang mengintimdasinya.

Perlahan bibir tipis Yuri mulai terarik membentuk simpul senyum setipis kulit ari. “Good boy.”

“Tapi kau harus menelponku setiap hari, bagaimana?”

“Setiap hari?” Tanya Yuri tak percaya.

Kirito mengangguk yakin. “Itu perjanjiannya.”

“Tapi aku harus membantu Otou-san* di kedai Okonomiyaki,” protes Yuri.

“Aku juga harus mengerjakan tugas dari dosen setiap hari dan pulang seminggu sekali. Bagaimana? Cukup adil, bukan?”

Yuri terdiam, menatap Kirito seksama seraya menimbang perjanjian pra-LDR mereka. Selang beberapa detik, ia menghela napas dalam kemudian mengangguk. “Baiklah. Kau pulang setiap minggu dan aku menelponmu setiap hari.”

“Good girl.” Kirito tertawa pelan kemudian menggandeng lengan Yuri dan menuruni tangga bersama.

“Kau yakin akan tetap di Hiroshima?” Tanya Kirito.

Yuri mengangguk. “Aku harus membantu Otou-san di kedai.”

“Tak ingin sekolah lagi?”

“Mungkin kursus memasak. Special Okonomiyaki.” Senyum Yuri terkembang sempurna untuk Kirito.

“Apa setelah menikah nanti kau hanya akan memasak Okonomiyaki untukku?”

“Apa kau yakin akan menikah denganku?”

“Tergantung.”

“Apa?”

“Jika kau sudah berhenti berteman dengan sifat curigamu itu.”

Yuri berhenti, memaksa Kirito menatapnya heran.

“Apa?” Tanya Kirito.

“Tidak.” Yuri menggeleng kemudian mempererat pelukannya pada lengan Kirito, mengajaknya kembali berjalan menyusuri koridor sekolah yang masih sedikit ramai setelah acara wisuda. Ia hanya diam seraya menyandarkan kepalanya di bahu Kirito.

“Berikan aku waktu aku untuk terbiasa.”

“Kau akan terbiasa. Percayalah.”

Yuri menghela napas dalam. “Sehari tanpamu … apa aku bisa?”

Kirito berhenti di salah satu ujung tangga menuju lantai dasar. Ia menangkup kedua wajah Yuri seraya mengusap kedua pipi Yuri dengan ibu jarinya. “Bersama tidak harus selalu berdampingan. Bahkan saat aku tak bersamamu, kita masih bisa bersama jika perasaanmu setahun yang lalu sampai saat ini tetap sama untukku.”

Yuri tertunduk lesu saat tangan Kirito lepas dari wajahnya.

“Ini untukmu.”

Yuri mendongak. Menatap kaget satu buah kancing baju di telapak tangan Kirito—untuknya.

“Kancing baju keduaku. Satu benda yang paling dekat dengan hatiku, untukmu.”

Perlahan, senyum Yuri terkembang manis. Menggenggam kancing baju Kirito dengan lembut.
Dalam diam menangis saat pilu hati yang teriris sembilu tumpul meninggalkan perih meski tak patah. Ia hanya harus menjaga benda itu seperti halnya ia menjaga hati Kirito.

“Arigatou.”

Fin

Ket:
Momiji*: Japanese Maple
Shinkansen*: Kereta super cepat
Otou-san*: Ayah

 

Note: sebenarnya ini udah setaun lalu kuposting di FB. Buat ultahnya temen. Hehehehe. Semoga suka ^^

One thought on “[Ficlet] Together

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s