[Mini Seri] Oppa Nappa – 1

Title: Oppa Nappa

Author: Valuable94

Casts: Song Hyo In (OC), Cho Kyuhyun (SJ), Song Joong Ki (Actor)

Rate: PG-17

Length: Chapter

Disclaimer: This story and OC are mine. Kyuhyun and Joong Ki belong to themselves.

image

1. Aku Mencintaimu

Sebagai seorang gadis yang tengah beranjak dewasa, Song Hyo In sudah sangat tahu masalah-masalah apa yang akan ia hadapi. Dari dirinya sendiri maupun orang lain. Ia menyukai banyak hal dan sadar bahwa apa yang disukainya juga belum tentu disukai orang lain. Misal, kebiasaannya membeli buku online yang setiap hari semakin menggila hingga kakaknya terpaksa membongkar kamar masa kecilnya demi menampung harta karun Hyo In, menjadi gadis imajinatif konyol–itu panggilan dari kakakanya–, dan Cho Kyuhyun.

Poin terakhir menjadi pengubah mood paling manjur bagi Song Joong Ki. Semua orang tahu ia begitu menyayangi adiknya–yang selalu ia anggap masih kecil–meski gadis itu lebih sering membuatnya khawatir daripada membiarkannya duduk tenang mengerjakan proyek-proyek pekerjaannya di meja. Baginya, Cho Kyuhyun adalah contoh nyata perusak kestabilan emosinya. Bukan benci, ia hanya tidak suka pada rekan kerja satu divisinya itu apalagi jika sedang berdekatan dengan Hyo In–adik kecilnya yang lucu–apalagi sampai berpacaran. Sayangnya, sebagai kakak ia tak akan pernah mampu melarang mereka saling berdekatan karena itu bisa melukai hati Hyo In.

Seperti kebanyakan pagi di hari Sabtu atau pun hari-hari yang lain. Hyo In bertugas memasak sarapan sementara Joong Ki membereskan meja. Namun, ada yang membedakan pagi ini dengan yang lain. Seorang pria jangkung dengan badan yang kurang kurus tapi singset berdiri di samping tubuh ramping Hyo In yang sedang memasukkan sup labu ke dalam mangkok besar. Pria itu sedikit membungkuk, matanya mencermati letupan-letupan kecil dari sup yang baru mendidih di panci.

“Kau yakin ini enak?” dahi Kyuhyun mengerut.

“Tentu saja,” sungut Hyo In. Alih-alih berteriak marah karena keraguan kekasihnya sendiri atas rasa masakannya. Hyo In percaya marah di pagi hari akan membuat harinya memburuk.

“Mau coba?” tawar Hyo In.

Senyum jail muncul seketika dari Kyuhyun. Itulah tujuannya. Ia meraih sendok di rak dan cepat-cepat menyendok sup langsung dari panci, meniup-niup pelan kemudian memakan setengah sendok sementara setengahnya lagi ia suapkan pada Hyo In.

Lidah Kyuhyun mendecap beberapa kali sebelum berkata, “Kurasa lain kali ditambah sedikit garam sup ini akan semakin lezat.”

Hyo In mengangguk setuju. Wajahnya merona karena pujian Kyuhyun. Ia tahu pria itu tak menyukai labu, tapi melihat Kyuhyun mau datang ke rumahnya setiap Sabtu dan menyicipi supnya sudah membuatnya bahagia.

Rona merah di pipinya semakin kentara ketika Kyuhyun mengecup bibirnya kilat sebelum mengedikkan sebelah matanya dan tersenyum miring. Atmosfer kebahagiaan terlihat jelas dari sana. Sangat kontras dengan Joong Ki yang memutar mata malas dan menggerutu di depan kulkas yang baru saja ia buka. Mengambil beberapa buah apel merah, jeruk, dan anggur hijau kemudian membanting pintu kulkas hingga tertutup. Mengagetkan Kyuhyun dan membuat Hyo In tersentak.

“Kelebihan tenaga pagi ini, Oppa?” goda Hyo In. Ia tahu Joong Ki melakukan itu karena kesal dengan tingkahnya.

Oh, andai saja Boo Young ada di sini. Hyo In tidak akan kesulitan mengendalikan kakaknya itu.

“Ya, mungkin saja. Rasanya menyebalkan sekali tidak ada pelampiasan.” Joong Ki menjawab datar seraya meletakkan piring buah di tengah meja kemudian duduk. “Mana supnya? Aku sudah lapar.” Sekali lagi ia berucap dengan datar.

Kyuhyun mendengus. “Kurasa kau hanya kesepian, Kawan.” lalu ia mengambil mangkok penuh sup dan membawanya ke meja makan. Ia duduk tepat di depan Joong Ki. Dari sana Kyuhyun bisa melihat dengan jelas wajah kaku Joong Ki. Mata sendunya menajam ketika mereka saling bertatapan.

Hyo In menghela napas. Mengangkat jus jeruk dan tiga gelas ke meja lalu duduk di samping Kyuhyun. “Aku tidak mau ada adu mulut di sini.”

“Tidak janji.”

Hyo In mendengus seraya menggelengkan kepala heran mendengar jawaban itu keluar dari mulut kakak dan kekasihnya.

“Aku heran bagaimana bisa kalian berada dalam satu divisi tapi selalu bersikap seperti itu.”

“Kami berbeda tim.” Itu menjelaskan semuanya. 

Kyuhyun mengedikkan bahu. “Dia benar.”

“Kurasa perusahaan yang memperkerjakan kalian akan segera bangkrut.”

“Terakhir kali kudengar nilai saham Hyundai meningkat 2,7 persen pagi ini,” jawab Joong Ki acuh. Mulutnya sudah penuh dengan jus sekarang.

Hyo In mengalihkan pandangan bergantian antara Joong Ki dan Kyuhyun. Pagi ini, hanya dalam waktu tiga jam helaan napasnya semakin panjang setiap menitnya. Kyuhyun sudah menyibukkan diri dengan roti panggang margarinnya, melahap dengan kecepatan turbo dan Joong Ki dengan kecepatan tangannya menyiduk sup ke mangkoknya sendiri kemudian melahapnya dengan pelan dan santai. Terlihat begitu menikmati. Hanya terlihay, tidak benar-benar menikamati. Hyo In tahu itu dari mata malas Joong Ki.

Dua pria ini. Hyo In rasa akan sangat sulit membuat mereka saling menerima padahal ia mencintai keduanya. Sangat.

“Aku harus belanja keperluan dapur hari ini,” cetus Hyo In. Mengalihkan topik.

“Naik mobilku saja.”

Lucu sekali. Mereka bermusuhan tapi sangat kompak, batin Hyo In. Tapi dia memilih menyembunyikan senyumnya di balik gelas jusnya. Menenggak minuman itu sampai habis.

“Aku bisa berangkat sendiri.”

“Hari ini aku ada acara makan siang dengan keluarga Boo Young. Setelah itu aku akan mengantarmu,” tawar Joong Ki. Kemudian menyuap supnya lagi.

“Aku tidak ada acara apapun,” sahut Kyuhyun.

“Kau yakin?” Joong Ki mendengus–menantang.

Kyuhyun mengangguk cepat. “Tentu saja.” ia menjawab dengan penuh percaya diri. Menunjukkan bahwa dirinyalah yang lebih berhak pergi bersama Hyo In.

“Seingatku timmu akan ada rapat mengenai grand launching mobil terbaru. Besok.” kata terakhir Joong Ki ucapkan penuh penekanan dengan seringai yang justru semakin menunjukkan keelokan rupanya.

Kyuhyun menggeram tertahan. Tangannya terkepal. Joong Ki benar. Dia hampir melupakan meeting penting itu. Oh, ia memang sering melupakan segalanya jika sedang bersama Hyo In. Andai Kyuhyun mau mengakui itu.

Selera makan Hyo In sudah menghilang sejak tadi. Dengan malas ia menjawab, “Aku berangkat denganmu, Oppa.” Joong Ki menyeringai lagi sementara Kyuhyun manatap malas pada Hyo In kemudian melahap lembar roti terakhir di piring.

Kemenangan telak. Proyek itu bisa jatuh ke tangan Kyuhyun, tapi tidak dengan Hyo In karena Sabtu-Minggu adalah waktu keluarga. Bahkan sebelum Kyuhyun berpacaran dengan Hyo In dan memotong waktu keluarga mereka menjadi hari Minggu saja.

“Sudah ditentukan,” kata Kyuhun datar.

“Hei, ke mana rotinya?!” pekik Joong Ki.

“Habis,” sahut Kyuhyun cepat. Tak ada rasa penyesalan sedikit pun dari wajah tampannya.

“Kau lihat?” pandangan kesal Joong Ki terarah lurus pada Hyo In. 

“Apa?” Hyo In menyahut malas. Ia baru saja menyendok supnya dan sudah ada bibit keributan dengan topik baru lagi.

“Dia menghabiskan rotiku.” Joong Ki menggeram kesal.

“Biarkan saja. Dia tidak suka sup labu.” Hyo In menjawab.

Sejenak timbul senyum miring di bibir penuh Kyuhyun kemudian memyenderkan punggungnya seraya menepuk perutnya pelan. “Dia benar. Lagipula tidak sopan membiarkan tamu kelaparan.”

“Tapi aku yang memanggangnya.”

“Oppa, di kulkas masih banyak roti. Kau bisa memanggangnya lagi.”

“Kautahu, Sayang. Aku mencintaimu.”

Hyo In tersenyum dengan wajah merona sedangkan Joong Ki mendesah tak percaya dan berlagak hendak memuntahkan isi perutnya.

“Aku tidak percaya kau memilih pria sepertinya. Kau membuatku hampir jantungan.” Joong Ki mendengus.

“Aku juga tidak percaya. Tapi aku mencintainya.”

Kali ini Kyuhyun terbahak. Ia memang penahan tawa terburuk. Dengan cepat mencondongkan tubuhnya kemudian mengecup pelipis kanan Hyo In.

Mata Joong Ki terbelalak. Geramannya tertahan karena Kyuhyun dan Hyo In malah cekikikan. Ia menutup mata manahan amarahnya.

“Kau benar-benar buta. Kujamin kau akan mati kelelahan setelah menikah dengan si Tukang Makan ini.”

“Itu lebih baik daripada menyukai pria kolot sepertimu.” Kyuhyun membela diri. Masih dengan seringaian di wajahnya.

“Setidaknya aku tidak menyerobot makanan orang.”

“Katakan, Sayang. Kau lebih suka si Tukang Makan atau si Kolot?”

Mereka berdua memandangi Hyo In serius. Setelah cukup lama menimbang jawabannya ia berkata, “Aku lebih suka David Gandy dan Ben Barnes.” itu jawaban teraman. 

“ARGHHH! Mereka lagi!” gerutu Joong Ki dan Kyuhyun. Menyisir kasar rambut mereka dengan jari.

“Mereka lebih seksi daripada kalian. Kalau aku boleh jujur.”

“Kau terlalu jujur,” sahut Joong Ki malas. Kemudian ia beranjak dari duduknya dan mengambil jaket yang tersampir di sandaran kursinya sejak tadi.

Hyo In mendongak. Terus memerhatikan gerak-gerik Joong Ki. “Mau ke mana?” Ia bertanya bukan karena merasa bersalah karena terlalu jujur, melainkan penasaran. Sarapan Joong Ki bahkan belum habis.

“Lebih baik aku mau ke rumah Boo Young.”

Setelah menyambar setangkai anggur, Joong Ki mengacak puncak kepala Hyo In lalu mengecupnya singkat. 

“Aku berangkat.”

“Hum.” Hyo In mengangguk. Matanya terus menatap Joong Ki hingga pria itu menghilang di balik tembok yang memisahkan ruang makan dan ruang keluarga.

Kemudian perhatiannya teralih pada Kyuhyun yang cemberut seraya menyobek-nyobek kulit roti panggang yang ia sisakan di piring.

“Kenapa?”

Kyuhyun tak bergeming. Ia hanya melihat Hyo In dari ujung matanya kemudian melakukan hal yang sama. Kali ini ditambah dengan membuang kulit roti di lantai.

Hyo In mendengus kesal. Mencubit pinggang Kyuhyun hingga kekasihnya itu menjerit minta dibebaskan. 

“Kaupikir membersihkan lantai tidak melelahkan?” sungut Hyo In. Lalu melepas cubitannya.

Kyuhyun mengaduh seraya mengusap pelan bekas cubitan Hyo In. “Setidaknya bukan hal yang sulit untuk dilakukan,” bantahnya.

“Pergi sana! Kau sama menyebalkannya dengan kakakku.”

“Kenapa kau jadi marah? Harusnya aku yang begitu. Kau selalu memilih bule-bule itu daripada aku.”

“Aku hanya bercanda. Harusnya kautahu itu.” Hyo In mendengus lagi. Tak paham mengapa hari ini dua pria menyebalkan itu membuat sarapannya benar-benar berantakan–karena biasanya tak seberantakan ini.

“Tetap saja aku sakit hati,” bantah Kyuhyun.

“Huh, terserah saja. Sekarang lebih baik kau pulang dan selesaikan pekerjaanmu. Aku tidak mau kencan akhir minggu kita malah menghancurkan karirmu.” 

“Aku bisa berkencan sambil bekerja,” kata Kyuhyun sebelum meminum jusnya.

Hyo In berpura-pura tak mendengar dan menyibukkan diri mengangkuti piring dan gelas kotor ke wastafel dan membasuhnya.

Kyuhyun terpekur memandangi wajah datar Hyo In. Kemudian saat panggilannya tak dihiraukan lagi, ia beranjak mendekati Hyo In kemudian melingkarkan tangannya ke perut Hyo In. Mengecup bahu gadis itu beberapa kali. Saat Hyo In tak menunjukkan reaksi apapun, bibir Kyuhyun merembet ke sepanjang sisi kanan leher Hyo In. Saat itulah tangan Hyo In berhenti dari aktifitasnya.

“Sayang,” panggil Hyo In. Menghela napas pelan kemudian menoleh pada Kyuhyun. Sedikit tercekat karena Kyuhyun menyambutnya dengan kecupan hangat di bibir. Sedikit menekan sebelum melepaskannya.

“Aku tidak benar-benar marah. Hanya bercanda.” Bibir penuh Kyuhyun maju seperti bebek seraya mengacungkan dua jarinya tanda bahwa ia tidak berbohong.

Hyo In memerhatikan wajah Kyuhyun. Menatapnya lekat seraya mempelajari kontur wajah Kyuhyun. Hatinya meluluh. Semudah itu. Saat melihat dua cekungan masing-masing di ujung bibir Kyuhyun nampak jelas. Ia membalas senyuman manis itu seraya mengangguk. “Aku tahu.”

Senyum Kyuhyun melebar. “Dan aku bersungguh-sungguh saat mengatakan bisa berkencan sambil bekerja.”

Dahi Hyo In mengerut kemudian kepalanya menggeleng. “Tidak. Lebih baik kau pulang dan selesaikan saja pekerjaanmu.”

“Kalau kubilang bisa berarti memang bisa.” Kyuhyun memutar tubuh Hyo In hingga mereka berhadapan sekarang. “Aku akan mengambil berkas-berkas yang kubutuhkan dan kau … tugasmu hanya menemaniku saja. Bagaimana?” tawa Kyuhyun riang.

“Apa tidak akan mengganggumu?” tanya Hyo In ragu.

Kyuhyun menggeleng yakin. Seyakin tekadnya. Ia hanya butuh Hyo In. Sekedar melihatnya juga tidak apa-apa. Lagipula sangat jarang gadis itu bisa menemaninya bekerja mengingat tugas akhir kuliahnya yang sangat menyita waktu hingga mereka terpaksa berkencan pada hari Sabtu saja. 

Hyo In menghela napas kemudian tersenyum seraya mengangguk. Kyuhyun membalasnya dengan tepukan pelan di pipi kiri Hyo In sebelum ia berpamitan.

“Aku akan kembali secepatnya.” dengan cepat Kyuhyun beralih. Mengambil kunci di meja dan jaketnya yang ia taruh di atas kulkas tadi saat ia baru sampai rumah Hyo In kemudian menyambar satu kecupan singkat di pelipis Hyo In.

“Akan kubuatkan kue kering untukmu.”

“Bagus.” Suara Kyuhyun melengking saat ia hampir sampai di ruang tamu.

“Bagaimana dengan minuman penambah energi?!” teriak Hyo In. Tubuhnya mencondong ke samping untuk melihat punggung Kyuhyun sampai menghilang.

“Itu lebih baik.” Suara Kyuhyun hampir hilang tapi Hyo In masih bisa mendengarnya. 

Dengan penuh semangat Hyo In berbalik lagi membereskan sisa makanan dan memasukkan pring dan gelas kotor ke dalam dishwasher. Saat ia membuka lemari untuk mengambil tepung dan telur, suara histeris Kyuhyun dari halaman depan mengagetkannya.

Hyo In berjengit. Ia langsung berlari tunggang langgang menghampiri Kyuhyun. “Ada apa?” Ia terengah setelah berlari lalu menatap heran Kyuhyun yang berdiri mematung dengan wajah mengeras, tangan mengepal, dan tatapan berfokus pada satu titik. Kap mobilnya. 

Mata Hyo In membelalak tak percaya. Cat mobil hitam Kyuhyun terkelupas. Membentuk sebuah kalimat ‘Good Luck’ di sana.

“K-Kyu …” Hyo In bingung harus mengatakan apa. Tanpa ditanya pun mereka sudah tahu siapa pelakunya.

“Sayang …” Kyuhyun menggeram dalam.

“Ya,” jawab Hyo In pelan. Bahkan terdengar seperti hanya helaan napas saja.

“Kuharap ada pisau yang cukup tajam untuk memenggal kepala kakakmu.”

“Ya … kuharap begitu,” sahut Hyo In pasrah.

***

Note: Karena lepu lagi pingsan, jadi aku terpaksa pending lama ff sama novel terjemahan. Sebagai gantinya aku kasih cerita ini. Maaf pendek karena cuma ngetik di hape. Enjoy reading! Hope u like this one ^^

Valuable94

8 thoughts on “[Mini Seri] Oppa Nappa – 1

  1. jongki & kyu,2 cowo paling didamkan dgn pesona yg brbeda tp senyumnya sama2 bikin cwe melting. yg 1 imut & manis bnget ky angel, yg 1 menggoda ky evil. g ngbayangin ky pa rasanya dicintai & direbutin sama mereka,untung aja posisinya beda : kakak & pacar. wlopun susah lo mesti akur & briringan tp msih bisa diatur lah,hyoin bner2 bruntung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s