[Chapter] At Gwanghwamun Bagian 2

At Gwanghwamun
Cho Kyuhyun/Song Hyo In
By Valuable94

11180317_949635291726786_8055858873775907172_n

Bagian 2

HYO IN

Deokbokki dan Steak

***

Mengubah presepsi orang memang butuh waktu. Tapi bukan juga hal mustahil. Yang kaubutuhkan untuk mengubah presepsi orang terhadap sesuatu adalah berani, tekun dan sabar. Di sisi lain, untuk masalahku dengan Kyuhyun butuh lebih dari itu. Aku juga harus menahan rasa malu. Dan sayangnya, aku tak punya semua kategori itu.

“Sial, sial, sial, sialll!” Aku terus-terusan menggeram di dalam mobil. Berharap dengan semakin kerasnya benturan antara dahiku dan setir mobil bisa membuatku sedikit gila dan berani keluar menemui Kyuhyun tanpa perlu menutup wajah dengan sepuluh jari tertutup rapat.

Pagi ini dalam keadaan siap dengan pakaian kerja dan mental yang amat down aku pergi ke tempat laundry mengambicelana dan kemeja Kyuhyun lalu bergegas ke apartemennya yang berada sangat jauh dari rumah ayahku. Semalaman aku tertahan di sana karena tak berani pulang setelah di ancam ayah. Jika ada penghargaan untuk ayah terkejam se-Korea, kurasa ayahku akan masuk nominasi dan menang tanpa bersusah payah meminta dukungan dari warga Korea.

“Tenang saja. Aku memang salah jadi memang seharusnya minta maaf.”

Sesekali kutatap nanar bungkusan tas kertas berwarna cokelat polos di sampingku. Ada rasa kehilangan yang sangat amat dan membuatku tiba-tiba teringat bahwa aku tidak akan bisa makan siang nanti jika tidak segera mengambil uang di ATM karena semua lembaran won di dompetku habis hanya untuk laundry celana dan kemeja armani Kyuhyun.

Aku menghembuskan napas sekali lagi. Panjang, lalu menghembuskannya dengan pelan. Huft, biasanya orang kaya itu hanya sombong. Bukan merepotkan.

Kuraih tas kecil dan bungkusan cokelat tadi kemudian keluar mobil. Keadaan tempat parkir apartemen Kyuhyun masih cukup sepi. Selain aku, hanya ada beberapa orang yang terlalu rajin berangkat ke kantor dan cukup pintar karena semakin siang mereka berangkat maka lalu lintas di kota Seoul akan membunuhmu dengan polusi dan kemacetannya.

Setelah merapikan celana dan kardigan yang menutupi kemeja putih tanpa lenganku, aku melangkah masuk ke gedung berlantai banyak ini—terlalu banyak—sampai aku tak punya waktu untuk menghitungnya. Setelah menaiki lift dan sampai di lantai 10, jalanku memelan seraya menoleh ke kanan kiri dan memerhatikan nomor-nomor yang tertera di setiap sisi pintu kayu tebal berwarna putih di sekelilingku. Bibirku tertarik cukup lebar setelah menemukan angka 21—tepat di sampingku.

Tanpa menunggu apapun lagi aku menekan bel yang berada di bawah tulisan angka itu. Sekali, dua kali. Masih tidak ada jawaban. Aku mulai berdiri gelisah dengan hak sepatu tujuh senti yang menyiksa kaki.

Kutekan bel dua kali lagi dengan cepat dan masih belum ada jawaban juga. “Ah, mungkin Kyuhyun belum bangun.”

Entah apa yang merasuki pikiranku, hal pertama yang terlintas di otakku adalah mengambil kartu namanya dan menghubungi nomor ponsel yang ada. Cukup lama dan akhirnya hanya menghasilkan umpatan.

“Sialan. Ke mana sebenarnya orang ini?” Aku menggerutu seraya memasukkan kembali ponselku. Kutekan bel beberapa kali lagi—kali ini dengan sangat tidak sabar karena kakiku sudah sangat nyeri berdiri limabelas menit di sini.

Lalu saat tekanan yang entah ke-berapa kali, pintu tersebut berderak dan terbuka dengan cepat. Secepat detakan jantungku meloncat dari kungkungan tulang rusuk. Ya, Tuhan. Berani-beraninya kau memberikanku makanan haram pagi-pagi begini.

“Hei! Pakai baju sana!” teriakku, seraya menunduk dan langsung menyodorkan bungkusan baju dan celananya yang kubawa. Aku mendengarnya mendengus dan wajahku semakin panas hanya karena melihat sebagian handuknya dari bawah.

Lalu pintu itu tertutup lagi. Dengan napas lega aku bisa mendongak dan berdiri tegap meski wajahku masih panas. Pemandangan tadi benar-benar tidak sepatutnya kulihat. Apalagi itu milik Kyuhyun. Kulitnya yang putih masih basah dengan tetesan-tetesan air dingin, bau sabun dan shamponya. Ya tuhan, tidak seharusnya aku memikirkan itu.

Aku tersentak lagi saat tiba-tiba pintu kamar terbuka dan menampakkan Kyuhyun yang sudah lebih sopan dari sebelumnya. Wajah masamnya membuatku lupa dengan apa yang baru saja membuat wajahku memanas.

“Masuk!”

Ya, ya, aku tahu dia tuan rumahnya. Tapi tidak perlu sesinis itu hanya untuk menyuruhku masuk.

Kyuhyun berdiri di samping pintu, mempersilahkanku masuk. Bau sabunnya yang tercium saat aku melewatinya kembali mengaktifkan ingatan beberapa menit lalu. Ah, tidak. jangan pikirkan itu lagi. aku duduk setelah Kyuhyun mempersilahkanku. Seraya menggosk rambutnya yang basah dengan handuk kecil, dia menawariku minuman.

“Mau kopi?”

Aku menggeleng. “Tidak perlu.”

“Jus?” tawarnya lagi.

“Sebenarnya kau tidak perlu repot-repot seperti itu. Aku hanya ingin bicara sesuatu denganmu.”

Dahi Kyuhyun mengkerut. Setelah menatap wajahku beberapa saat dia akhirnya duduk di seberangku. Kami duduk berhadapan dengan sebuah meja dan asbak di atasnya berada di antara kami. Aku tahu dia masih sangat tidak menyukaiku karena kejadian kemarin di Plaza Gwanghwamun. Kyuhyun juga terlihat tak tahan berada dalam jarak sedekat ini denganku. Itu terlihat dari betapa tidak nyamannya dia duduk. Jadi, daripada aku membuat mood orang memburuk sepagi ini lebih baik aku mulai permintaan maafku sekarang juga.

“Aku minta maaf.”

“Hm.” Hanya itu jawaban Kyuhyun. Ck, dasar Lemari Es.

“Ayah bilang aku sendiri yang harus mengatakan ini padamu. Ya, aku tahu itu. tanpa disuruh pun memang sudah seharusnya aku kemari, mengantarkan baju dan celanamu dalam keadaan bersih dan wangi, sekaligus meminta maaf.” Aku mengambil jeda untuk bernapas dan sesekali membeku melihat wajah datar Kyuhyun sebelum melanjutkan lagi. “Dan kuharap kau memaafkanku. Kautahu? Ayah semalam memarahiku habis-habisan. Tapi itu juga bukan murni kesalahanku. Lebih tepatnya ketidaksengajaan. Bagaimana? Kau sependapat denganku ‘kan, Kyuhyun-ssi?”

“Aku tahu.”

Aku mendengus mendengar jawaban dinginnya lagi. Mungkin pria ini memang bukan manusia. Melainkan semua gugus tubuhnya terbuat dari balok es yang dibentuk menyerupai manusia dan diberi organ dan bagian-bagian tubuh. Dan kurasa bagian tubuh yang tidak berfungsi benar adalah mulutnya. Atau jangan-jangan tidak ada otot di wajahnya hanya untuk membentuk sebuah ekspresi.

Sudah cukup. Aku tahu aku memang salah. Tapi aku juga berhak mendapat sambutan yang lebih hangat dari ini.

“Hanya itu?!” tanyaku, tak percaya.

Kyuhyun mengangguk kemudian beranjak dari sofa. “Pulanglah!” katanya tanpa menolehku.

Argh! Manusia macam apa dia?!

Amarah yang sudah kutekan sejak kata pertama keluar dari mulut tak bisa lagi ditahan. Lagipula sudah kubilang ‘kan kalau aku bukan orang penyabar. Aku sudah berbaik hati dengan menahan diri untuk tak membuat mood-nya rusak sejak pagi dan Kyuhyun dengan seenaknya tidak mengacuhkanku dengan begitu menyebalkan.

Aku berdiri cepat. Tanpa mengacuhkan tasku yang masih teronggok di sofa, aku mengejar Kyuhyun. Dia menoleh dan melihat tanganku yang menahan pergelangan tangannya. Karena kupikir dia tersinggung jadi aku buru-buru melepaskannya dan menunduk meminta maaf lagi.

Tanpa berkata-kata dia meninggalkanku lagi di ruangan ini—yang mungkin saja itu kamarnya. Semua warna di dinding dan perabotan yang nampak putih, bersih, dan semua tertata rapi membuatku merasa sangat menyesal telah menginjakkan kaki di sini..

“Sebenarnya apa masalahmu denganku?” pertanyaanku menghentikannya.

Kyuhyun nampak malas dengan hembusan napas panjangnya. Dia masih berdiri di ambang pintu seraya melipat kedua tangan di bawah dada. Mengintimidasiku lagi dengan pandangannya yang datar.

“Kau mau tahu apa masalahku denganmu? Tidak ada.”

Aku tidak tahu  apa yang sedang dia pikirkan. Tidak punya ekspresi dan pendek kata membuatku kesuliatan menilai kepribadiannya yang aneh. Maka, kusimpulkan bahwa tidak seharusnya aku meladeni orang aneh sepertinya setelah selesai meminta maaf. Tapi satu hal yang selalu membuatku penasaran terhadap orang-orang misterius sepertinya, yaitu tentang apa yang mereka rasa dan pikirkan sebenarnya pada satu kondisi tertentu. Dan rasa penasaran itulah yang membuatku tak bisa pergi dari sini begitu saja.

Sekarang hal mengenai apa yang dia pikirkannya tentangku mulai mengusik otakku. Dia masih jijik padaku? Itu sangat mungkin. Aku tidak akan terkejut jika jawaban itu yang dia katakan tapi jika dia tidak merasa punya masalah apapun denganku, respons yang seperti tadi hanya akan menggantungkan jawaban yang tidak benar-benar kupahami.

“Ada banyak hal aneh tentangmu. Well, tapi aku tak akan membahas ini sekarang. Yang aku butuhkan hanya jawaban apa kau memaafkanku atau tidak.”

Pandangan Kyuhyun semakin serius padaku. “Kurasa bukan itu yang kaubutuhkan, Bocah.”

“Tahu apa kau tentang apa yang tidak dan yang kubutuhkan?”

Kyuhyun tertawa mengejek. “Cukup melihat dari bagaimana caramu bicara. Yang kaubutuhkan hanya meminta maaf. Itu ‘kan yang kaupikirkan? Seharusnya perihal aku memaafkanmu atau tidak bukanlah masalah yang bisa menahanmu di sini.” Dia mendekatiku yang masih terdiam dan berhenti tepat di depanku. Menatapku lagi dengan tatapan benci yang kubenci.

Mata kami bertemu lagi untuk pertama kali hari ini. Ada berbagai macam perasaan yang mungkin takkan bisa dia katakan. Tapi aku tidak yakin apa itu. namun salah satu yang paling kurasakan dan langsung melemahkanku adalah rasa mengintimidasi. Kyuhyun membuatku tak bisa bergerak dan tetap menahan mata kami yang melakukan obrolan. Dan sebagai pihak yang terintimidasi, ini tidak menguntungkanku sama sekali.

“Yah, kau tidak salah sama sekali dan memang sudah seharusnya aku pulang dari tadi.”

“Lalu untuk apa kau masih di sini?”

“Aku … ak-aku tidak tahu.” Aku menunduk karena tak tahu alasan apa yang menahanku masih berada di sini.

Menginginkan jawaban Kyuhyun atas permintaan maafku? Kurasa tidak. kyuhyun benar. Aku bahkan tidak benar-benar peduli apa dia memaafkanmu karena itu sudah bukan urusanku.

“Kau benar. Sebaiknya aku pergi dari sini.”

Kyuhyun berbalik setelah menyeringai, terkesan sama sekali tak memedulikan apapun yang ingin kulakukan selanjutnya. Maka, dengan langkah terburu aku menuju sofa di ruang tamu dan menyambar tas. Tak ada gunanya lagi berada di sini dengan lemari es seperti dia. Kecuali aku ingin mendinginkan pikiran dengan orang yang salah.

Karena terlalu jengkel, aku mengayunkan tas terlalu keras hingga menabrak sesuatu yang pastinya berkaca karena saat jatuh benda itu menimbulkan suara benda pecah yang menggema ke seluruh ruang tamu. Aku terpaku. Secara refleks berbalik dan tak bisa menahan mulut dan mataku tertutup. Tidak! Ini pertanda buruk.

“Dasar bodoh!” Gumamku, lebih pada diriku sendiri. Aku langsung mendekati sebuah pigura terbalik dengan beberapa pecahan kaca menyembul dari bawah.

Saat tanganku masih sibuk mengangkat bingkai kayunya, tatapanku tersita pada gambar di sana. Kyuhyun dan seorang wanita—yang kulihat kemarin. Mereka tersenyum bersama dengan perlengkaan ski lengkap dan latar gunung bersalju. Lalu aku tersentak karena tarikan tangan dari Kyuhyun memaksaku berdiri. Wajahnya tak lagi datar, tapi menakutkan. Berbeda dari sebelumnya, aura di ruangan ini memanas saat guratan kesal dan marah milik Kyuhyun semakin terlihat di wajahnya.

“Pergi!” bentaknya, seraya merebut bingkai kayu dariku. Kasar sekali sampai aku tersentak untuk kedua kalinya.

Tidak. Kyuhyun tidak sekedar membentak. Dia juga menyemburkan semua amarah yang dia tahan—mungkin padaku. Dan aku merasa seperti bocah kecil yang ketahuan mencur permen dari toko. Dia menakutkan. Napasnya yang panas mendorongku untuk segera menjauh. Suara kerasnya pun melakukan hal yang sama padaku sekaligus membuat jiwaku terangkat dari raga. Bulu kudukku meremang. Jantungku berdetak semakin cepat setiap detiknya dan tanpa kusadari pipiku sudah basah. Aliran kecil itu sudah sampai di rahangku saat aku ingin menyekanya.

Segera pergi atau kau akan mati di sini. Itulah tatapan Kyuhyun yang mampu kubaca dengan jelas.

“M-ma-af.” Aku terisak karena takut. Ini kali pertama aku dibentak seseorang yang bukan keluarga. Begitu keras.

Dada Kyuhyun naik-turun karena napasnya tersengal. Lalu menunduk seraya menyisir rambutnya dengan  kelima jari yang merenggang. Aku langsung berlari dan membiarkan Kyuhyun tertunduk di sana. Sebelum menutup pintu, aku sempat ingin mengurungkan niat untuk pergi saat melihatnya duduk bersimpuh di lantai dengan wajah yang etrtutup rambut.

“Arghhh!” Kyuhyun mengerang frustrasi kemudian melempar bingkai kayu itu hingg hampir mengenai kakiku jika saja pintu ini tak kututup dengan cepat.

***

Tak bisa dipungkiri, apa yang aku alami pagi ini benar-benar membuatku terguncang. Hingga sampai siang ini pun jika bukan karena pertanyaan dari sala satu muridku aku tidak akan sadar jika sudah melamun di dalam kelas. Mungkin cukup lama karena raut wajahnya sudah masam.

“Bu Guru, kenapa pertanyaanku tidak dijawab?” Aku tersenyum sambil minta maaf karena tak mendengarkan pertanyaannya.

Sepuluh menit berlalu, kelas akhirnya selesai. Setelah menutup kelas aku bergegas menuju kantor guru. Secara logis harusnya aku bisa menghela napas lega karena pekerjaanku sudah berakhir, tapi sekali lagi kejadian tadi pagi di apartemen Kyuhyun masih membuatku takut dengannya. Dan hal itu  semakin menegaskan jika lemari es itu memang tak seharusnya kudekati dan kenal.

“Hei!!!”

Aku terhenyak seraya memegangi dada. Kaget karena tiba-tiba wajah salah satu rekan kerjaku  menampakkan wajah tepat di hadapanku.

“Hyukjae-ya, apa yang kau lakukan?” Geramku.

Aku memalingkan wajah darinya dan berpura-pura membereskan buku-buku berantakan di meja.

“Ada masalah? Dari tadi aku melihatmu melamun terus.”

Aku melirik padanya sesekali. Dengan santai dia menempatkan setengah bokongnya di ujung mejaku seraya melahap camilan nori. Sebuah kesalahan jika aku tak segera menjawabnya dan menghindar. Mulut lebarnya itu akan semakin membentang selebar lapangan sepak bola sekolah. Aku mendongak menatapnya setelah mejaku rapi dan memberinya sedikit senyum jengkel karena sifatnya yang selalu ingin tahu.

Kuembuskan napas sebelum bertanya, “Apa pria selalu marah-marah setelah putus cinta?”

“Tergantung. Sama halnya dengan wanita. Kurasa tidak semua wanita menangis setelah putus cinta.” Aku mengangguk. Yah, kurasa dia memang ada benarnya. “Kecuali jika masih teralu cinta,” sambungnya, kemudian melahap selembar nori lagi.

Hyukjae benar lagi. kalau dilihat dari reaksi Kyuhyun dengan wanita kemarin itu sepertinya itu bisa menjadi alasan mengapa dia bisa berlaku seperti itu padaku tadi pagi.

“Tapi bukankah lebih baik menerimanya saja. Kurasa itu cara terbaik.”

“Uh-huh. Terbaik juga bukan berarti teraman, Sayang.”

“Jangan panggil aku sayang. Aku tidak mau jadi sasaran cyber bullying murid-murid perempuanmu lagi karena mereka menganggap aku merayumu.” Aku memperingatkan hyukjae. “Untuk kesekian kalinya,” sambungku. Lebih tegas seraya mengacungkan jari padanya.

Aku benar-benar tidak mau semua lagi akun social mediaku menjadi sasaran caci-maki bocah-bocah labil seperti mereka. Apalagi komentar-komentar pedas itu. Ah, menjijikkan. Lagipula jika kutanggapi lebih lama hanya akan membuang waktuku saja. Tapi tetap saja itu mengganggu privasi dan aku tidak suka itu.

“Ya, ya, maaf. Kata sayang selalu keluar begitu saja setiap kali melihatmu.” Hyukjae tertawa sendiri karena kelakarannya. Dia berdiri kemudian menarik sebuah kursi dari bawah mejanya yang berada tepat di sampingku kemudian duduk di sampingku lalu memutar kursiku agar kami saling berhadapan. “Kau baru putus lagi? apa kau membuat pria itu menyesal saat kau memutuskannya? Katakan bagaimana kau melakukannya.”

Aku tertawa seraya memuluk bahunya beberapa kali karena deretan pertanyaannya yang terlalu bersemangat. Hyukjae memang begitu sejak kecil.

“Bukan aku,” jawabku setelah hyukjae menghentikan tawaku dengan menendang kakiku.

“Tsk. Mengaku saja kau baru putus cinta lagi.”

Itu salah. Sangat salah. Kenyataannya Hyukjae selalu tahu dengan siapa saja aku dekat. Hanya dekat dan bukan berarti pacaran dan dia selalu menganggap itu putus cinta.

Aku menggeleng pelan kemudian beranjak meninggalkan Hyukjae yang masih cemberut. Matanya masih mengikutiku sampai aku berbalik di tengah pintu ruang guru.

“Rahasia.”

Hyukjae mendecak dengan bibir mencebek tak percaya. “Kita lihat saja sampai kapan kau bisa merahasiakan sesuatu dariku,” tantangnya penuh percaya diri.

“Tidak masalah.” Aku tak mau kalah.

Hyukjae melambai padaku sebelum aku benar-benar menghilang dari ruang guru.

***

Aku memilih pulan ke rumah daripada apartemen. Suasana hati yang hancur sedari pagi dan jalanan panas—meski aku di dalam mobil—membawa hawa malas begitu mudah. Pikiran-pikiran seperti menjadi vampire dan bisa terbang tanpa takut jatuh pun bercampur dengan bayangan marah Kyuhyun.

Lagi. Lemari Es itu menyita sebagian otakku untuk memikirkannya. Wajah datar saja sudah terasa memuakkan apalagi ekspresinya yang menyeramkan seprti tadi pagi.

“Argh! Berhenti memikirkan Lemari Es itu, Hyo In.” aku menggelengka kepala berusaha menghalau Kyuhyun masuk ke dalam otakku lagi. sayangnya semua itu hanya berakhir dengan ingatan akan teriakan dan lemparan pigura darinya.

“Menyeramkan sekali orang itu,” gumamku. Dengan masih bergidik aku mengarahkan setir ke kanan. Berbelok menuju halaman rumah karena gerbang tidak tertutup. Tumben.

Saat turun dari mobil, dahiku mengernyit ketika suara tawa ayah yang menggelegar terdengar sampai teras. Lalu setelah masuk rumah, ada pemandangan yang bisa dibilang sangat-sangat-tidak-menyenangkan. Seperti saat kau memakan permen tapi rasanya tidak seperti permen. Muntahan mungkin. Dan kuputuskan untuk tidak melihatnya.

“Sudah pulang?”

“Hm.” Aku menjawab sapaan ayah dengan singkat. “Ke mana ibu? Aku tidak melihatnya sama sekali.”

“Ibumu ke rumah nenek mengantar kimchi.”

Aku mengangguk paham. Setelah mencium pipi ayah, aku menunduk di depan Kyuhyun sebentar. Berusaha tak mengeluarkan mantra Avada Kedavra dan mengacungkan tongkat sihir tepat di depan hidung sombongnya.

“Hei, kau mau ke mana?” sela ayah. Langkahku tertahan di tengah jalan.

“Aku harus ganti baju, Ayah. Mengobrolnya nanti saja,” jawabku malas. Kemudian berjalan gontai menaiki tangga menuju kamarku di lantai 2.

“Kembali lagi ke sini setelah ganti baju.”

“Aku tidak dengar!” Teriakku.

“KEMBALI KE SINI ATAU KUBAKAR SEMUA KOLEKSI NOVELMU!”

“TERSERAH!”

Kenyataannya, mana mungkin aku membiarkan itu terjadi. Aku bisa gila hanya dengan melihat salah satu dari mereka terkena kotoran cicak, apalagi sampai dibakar. Oh, itu mimpi buruk. Pada akhirnya, aku tetap kalah dengan ayah jika ancaman yang keluar seperti itu dan berakhir dengan duduk di dalam mobil dengan kap terbuka bersama si Lemari Es. Aku sudah menunggu Kyuhyun selama sekitar tiga menit di dalam mobil. Tahu apa yang dia lakukan?

Dia mengobrol dengan ayah di teras setelah menyuruhku masuk ke mobil.

Aku melambaikan tangan berharap salah satu dari mereka sadar ada seorang gadis malang di dalma mobil. “Halooo! Siapapun yang di sana. Kakiku sudah berakar di sini. Mungkin sebentar lagi aku akan berbuah.”

Mereka menoleh saat mendengar teriakanku. Ayah tertawa, begitu pun Kyuhyun. Rasanya cukup aneh saat mendengar tawa Kyuhyun dari sini. Kupikir mendengar sura itu dari Kyuhyun seperti mengharapkan para minion berhasil mencuri bulan sementara mereka tak punya uang sama sekali untuk mewujudkannya. Lalu tak sampai satu menit kemudian ayah mengijinkannya pergi.

“Haaah … akhirnya.” Aku menghela napas. Tepat saat Kyuhyun masuk ke dalam mobil dan melempar senyum padaku, tapi tetap saja terkesan masih kaku.

“Siap?” Tanya Kyuhyun seraya meyalakan mobil dan mulai menekan kopling.

“Kapan pun.”

Kyuhyun mendengus mendengar jawaban singkatku yang sengaja kuucapkan dengan nad asedatar mungkin agar dia tak tahu aku masih menyimpan rasa takut padanya. Aku mendengarnya menghela napas sebelum berkata, “Aku minta maaf.” Dengan tegas.

Tatapan heranku padanya mendapat balasan senyuman. Aneh sekali.

“K-kenapa kau tersenyum padaku?”

“Bukan jawaban itu yang kuinginkan.”

“Oh.” Aku terhenyak melihatnya berkata begitu dengan tenang dan tanpa menolehku. Pandangannya terus terpaku pada jalanan di depan kami. “Tidak usah dipikirkan. Aku bisa mengerti itu. Suasana hatimu pasti sedang buruk-buruknya sekarang.”

“Tsk, sok tahu sekali. Seperti biasa.”

Karena aku tahu berdebat dengannya tidak akan membantu memperbaiki situasi ini, jadi aku putuskan untuk diam saja. Sebagai gantinya aku menghela napas panjang. Sangat panjang sampai bisa menampar Kyuhyun.

“Kau tidak perlu melakukan ini jika hanya minta maaf denganku.”

Kyuhyun tertawa lebih keras. “Aku tahu kau masih marah denganku. Jadi biarkan saja aku melakukan ini untukmu.”

Benar, kan? Kyuhyun aneh sekali.

Dia menoleh ke arahku beberapa kali. Mungkin menyadari tatapanku padanya dan itu membuatnya tidak nyaman. “Kenapa? Aku tidak akan melemparmu dengan bingkai foto lagi.”

Aku mendengus seraya melipat tangan di dada. “Justru karena kau tersenyum. Itu yang membuatku semakin takut.” Aku mencondongkan wajah padanya. Membuat Kyuhyun agak menjauh dariku dengan konsentrasi penuh di jalanan. “Kau tidak berusaha menculik dan membunuhku, kan?”

“Tentu saja tidak. Lagipula tidak ada untung yang kudapat dengan menculikmu.” Kyuhyun memberikan tatapan masam padaku. “Kasihan paman Seung Hoon. Bagaimana bisa pria baik sepertinya punya anak sepertimu.”

Aku terbahak seraya memukul-mukul bahunya. Kyuhyun hanya mendengus lagi tanpa memrotes pukulan-pukulanku padanya.

“Coba jelaskan padaku bagian mana yang lucu. Aku tidak sedang berkelakar.”

Napasku tersengal karena terlalu keras tertawa. “Karena kau bilang ayahku pria baik. Asal kautahu saja, dia tidak sebaik yang kaubayangkan.”

“Aku tidak percaya padamu.”

“Hei, aku tahu ayahku sejak lahir. Jadi pikirkan siapa yang lebih mengenalnya. Aku atau kau?”

“Ya, ya, kau menang.”

“Kau tidak tahu dia itu suka memaksa. Mulai dari ke mana aku harus sekolah, jurusan apa yang harus kuambil, dan akan jadi apa aku nanti. Itu semua sudah diurus ayah. Hah, aku merasa seperti boneka setiap kali mengingatnya.”

“Curhat?”

“Ya.”

Kyuhyun mengangguk paham. “Jadi, apa kau menyesal.”

“Tidak. Kuanggap itu balas budiku untuknya.”

“Lalu?”

“Oh, jangan lupakan masalah suami. Kautahu kenapa ayah memintaku bertemu denganmu kemarin?”

“Ya, aku tahu. Ayahmu sendiri yang bilang padaku. Karena itu juga aku tidak begitu menyukaimu.”

“Tsk, kau tahu tapi tidak mau menolak? Aku hampir mempertaruhkan leherku di bawah samurai ayah.”

“Percuma membangkang ayahmu.” Nada suaranya masih datar.

“Kau benar. Bayangkan jika aku harus menikah secepatnya. Apa yang bisa kulakukan? Memasak pasir? Tidak, tidak, aku tidak mungkin memberikan makanan seperti itu pada suamiku.”

“Memasak masih bisa dipelajari. Yang terpenting adalah bagaimana caramu bersikap. Lebih baik perbaiki itu dulu.”

“Kau menasehatiku seperti hidupmu sudah benar saja.”

“Itu hanya pendapat seorang pria. Kenapa jadi emosi begitu?

“Lupakan. Sekarang giliranmu. Kenapa kau bisa seperti itu tadi pagi? Pasti bukan karena aku.”

“Maaf, tidak seharusnya aku bersikap seperti itu padahal bukan kau sumber masalahku. Dan lagi, aku merasa tak ada hal penting tentangku yang harus kukatakan padamu”

“Lalu?” Kyuhyun hanya diam. Cukup lama hingga aku berkesimpulan bahwa dia tak menyukai topik ini. “Oh, lupakan.”

“Lebih baik begitu.” Kemudian mobilnya berhenti di parkiran salah satu restoran Perancis.

“Kau … benar-benar merasa baik? karena sejujurnya aku tidak yakin kau begitu dan … mengenai foto itu aku,”

Mungkin telingaku yang salah dengar atau memang sekarang aku melihat Kyuhyun tertawa pelan. Namun wajahnya tak menagtakan dia tertawa akan hal yang lucu.

“Yah, harus bagaimana lagi. Kau sudah menemukan alasan kuat kenapa kau bisa berpikir aku sedang tidak baik-baik saja.” Lalu dia menghela napas panjang.

“Aku suka mendengarmu bicara sedikit lebih panjang dari biasanya.” Dan akhirnya kami tertawa bersama. Wajahnya Nampak lebih rileks dari beberapa jam sebelumnya. Kemudian sebuah ide timbul begitu saja saat aku melihat senyum Kyuhyun. mungkin ini bukan yang terbaik, tapi tidak ada salahnya dicoba. “Kau tahu apa yang kupikirkan saat ini?”

Alis kyuhyun terangkat sebelah. “Apa?”

“Aku bisa membantumu keluar dari masalah ini,” kataku semangat.

Kyuhyun memelankan laju mobilnya kemudian menatapku selama beberapa saat. Seolah mencari kebohongan dari wajahku dan akhirnya dia menyerah begitu saja karena yang mungkin dia tak menemukan apa yang tengah dicarinya.

Karena aku benar-benar punya berniat ingin membantu agar dia bisa terus tersenyum. Kau tahu, senyumnya sangat menggemaskan.

Eh?! Anggap aku tak pernah mengatakan kalimat itu.

Kami berjalan dari area parkir menuju restoran dengan santai. Mengobrolkan hal-hal yang kukira itu sangat mustahil bisa dikatakan si Lemari Es, misalkan kebiasannya bermimpi mencium kura-kura dan ketertarikannya membahas pekerjaanku. Ada banyak perbedaan di antara kami. Selain aku terlalu ramai—kata Kyuhyun—dan aneh, aku tidak suka binatang bertempurung sementara Kyuhyun sangat menyukai mereka, dia sangat suka daging, samgyetang, dan jajangmyun sementara aku lebih menyukai makanan sejenis dumpling dan dimsum dengan isian sayur.

Kebiasaan dan pekerjaan kami bertolak belakang tapi sejauh ini semua perbedaan itu berdampingan dengan damai tanpa saling menyenggol salah satunya. Sejauh ini aku merasa cukup menyukainya. Dan satu hal yang baru saja kusadari adalah Kyuhyun bisa mengubah presepsiku tentangnya dalam waktu tiga puluh menit selama perjalanan menuju restoran.

“Siang ini aku yang traktir.”

“Lagi,” koreksiku. Karena pada kenyataannya sekarang adalah kali kedua Kyuhyun menraktirku.

Kyuhyun tertawa. “Pesan apapun yang kaumau.”

Well, karena hari ini kau yang traktir … LAGI. Jadi, aku akan pesan makanan mahal.”

“Pastikan kau tidak menyesalinya.”

Aku memilih makanan bukan karena rasa atau pun ukuran karena percayalah, makanan orang eropa hanya akan mengganjal satu sudut perutku saja jadi aku memilihnya karena makanan itu mudah dieja. “Escargot.”

Matanya memicing tajam dengan seringaian yang cekungan di kedua sudut bibirnya terlihat begitu … memukau.

“Kau yakin?” tanyanya.

“Memangnya kenapa? Jangan coba-coba menyembunyikan sesuatu dariku.”

“Tidak. Itu makanan sehat dan mengandung banyak asam amino. Cukup pintar.”

“Bisakah kau mengakui aku memang pintar, Tuan Sombong.” Aku melempar daftar menu dan dia hanya tertawa. “Cepat pilih makananmu. Aku sudah lapar.”

“Hm, tidak perlu. Aku pesan steak dan satu botol wine merah.”

Sementara pelayan menulis pesanan kami, aku iseng membuka google dan mencari tahu seperti apa Escargot yang kaya asam amino. Perasaanku tidak enak.

Aku sangat bersyukur dengan anugerah tinggal di Negara dengan koneksi internet tercepat pertama di dunia. Terima kasih, Google. Kau penyelamatku dalam segala kebuntuan informasi.

“Tunggu. Apa aku bisa mengubah pesanan?”

“Tentu saja, Mam.”

“Miss, please. Aku belum menikah.” Oh, topik ini benar-benar sensitif. “Apa di sini menjual makanan Korea?” tanyaku lagi.

“Ya.”

“Tolong ganti Escargot dengan deokbokki satu porsi saja.”

“Baik. Satu porsi deokbokki dan steak dengan sebotol wine merah.”

“Kau memesan deokbokki di restoran Perancis?” Nada kesalnya meninggi.

“Haaah, harusnya aku pesan dua porsi.”

“Kau gila?”

Aku senang mengacaukan pikirannya.

“Aku lapar. Bukan gila.”

Tangannya mengepl menahan amarah. “Dasar aneh.”

“Kalau begitu selamaaattt. Sudah berapa kali kau mengajak makan orang aneh?”

“Ini akan jadi yang pertama dan terakhir.”

“Kurasa semua mantan-mantanmu selama ini adalah wanita yang membosankan.”

“Setidaknya mereka tidak memesan deokbokki di restoran Perancis.”

Tanpa mengacuhkan Kyuhyun lagi aku menoleh pada pelayan yang masih setia menunggu kami. “Beri aku wine merah yang dingin, oke.” Saat pelayan itu pergi aku langsung melempar ponselku di atas meja hingga mengenai ujung jempolnya.

“Terima kasih untuk asam aminonya.”

Dahi Kyuhyun mengernyit kemudian membuka ponselku. Lalu tawa yang awalnya kusenangi menjadi tawa yang kubenci lagi. “Sama-sama,” ucapnya santai seraya mengembalikan ponselku.

“Harusnya kaubilang hewan itu punya tempurung. Dasar tukang bohong.” Sekarang giliran nada suaraku yang meninggi.

“Tapi fakta bekicot punya banyak asam amino itu bukan kebohongan.”

“Intinya kau tetap berbohong.” aku menyangkal pembelaannya.

“Tidak bisa.”

“Kalau begitu perjanjian kita batal.”

“Hei, tunggu. Kau tidak boleh seenaknya begitu.”

Respons Kyuhyun yang di luar dugaan itu mengejutkanku untuk sesaat. “Aku bisa.”

“Kalau begitu bayar makananmu sendiri.”

“Tentu saja.”

Aku meraba saku celana. O-ow, hari ini aku memakai dress selutut, bukan celana. Dan kabar buruk datang. Aku tidak membawa dompet.

Kyuhyun menyeringai seraya meminum air putih yang baru saja dibawakan pelayan sebelum pesanan kami datang. “See? Sekarang katakan padaku apa saja yang harus kulakukan agar bisa melupakannya.”

Aku benci ini, tapi aku tetap harus mengakuinya. Aku kalah.

“Mudah. Pertama, jauhkan semua ingatan tentang wanita itu, misalnya semua barang-barang dan tempat yang mengingatkanmu tentangnya. Singkatnya hindari nostalgia. Kedua, jangan mengingat kebaikannya. Ketiga, jangan membanding-bandingkannya. Nah poin tiga jika kau sudah punya atau dekat dengan wanita lain.”

Dengar, kan? Aku sudah seperti guru yang mengajar berpuluh-puluh tahun.

Kyuhyun mengangguk paham. “Lalu?”

“Keempat, hiduplah sekarang dan bukan di masa lalu. Memikirkannya setiap hari setelah putus? Itu normal. Tapi coba pikir lagi. Apa dia juga memikirkanmu?

“Kau terdengar seperti guru.”

Well, I am.”

“Cukup bagus. Lanjutkan!”

“Baiklah, ini yang terakhir.” Entah mengapa aku bisa merasakan perasaan yang penuh adrenalin saat ini. Padahal aku tidak senang menaiki wahana ekstrim. “Mungkin ini sedikit sulit untuk pria dengan harga diri terlalu tinggi sepertimu,” sambungku.

“Jangan mulai!”

Aku mengangkat tangan—menyerah—sambil nyengir. “Akuilah bahwa kau memang terluka. Kemudian lebih berpikir positif dan sering berkumpul dengan teman-temanmu. Itu akan sangat membantu. Tapi ada satu hal terpenting dari sekian poin yang sudah kusebutkan tadi.”

“Apa?”

“Pertanyaannya sederhana. Bukan apakah kau bisa melupakannya tapi apa-kau-mau-melupakannya?”

Dan hanya Kyuhyun sendiri yang tahu jawabannya.

“Aku … aku tidak tahu.”

Lalu satu kalimat tersisip begitu saja dan menguat sedikit demi sedikit. Aku menginginkan sesuatu. Sesuatu yang sebenarnya bukanlah masalah yang patut kupikirkan. Karena aku tahu dia pria yang tidak terlalu buruk dan pantas untuk menyesali kepergian seorang wanita yang dicintainya. Lagipula wanita itu tidak cukup berharga untuk mendapat perasaan sebesar itu dari Kyuhyun—setidaknya menurutku—hingga pria itu harus kehilangan senyumnya.

Lamunanku terhenti saat Kyuhyun melambaikan tangan tepat di depan wajahku. Lau tangannya mengarah pada pesanan kami yang sudah ada di atas meja.

Huuummm. Perutku pasti akan berteriak girang jika saja bisa bicara. Dengan cepat aku mengambil sumpit dan melahap deokbokki-ku. Satu suap lagi, lagi, lagi, lagi. Oh, aku benar-benar lapar sampai rasanya tidak bisa berhenti makan.

“Apa itu benar-benar enak?”

“Apa?” mulutku masih penuh deokbokki.

“Deokbokki.”

“Oh, ini.” Sebenarnya aku tidak terlalu bisa membedakan mana masakan enak, lebih enak, dan yang paling enak. Asal tidak terlalu asin kurasa mereka sangat layak mengisi setiap pojok perutku. “Lumayan. Kau mau?” tawarku.

“Boleh.” Kyuhyun menerima satu suapan dariku.

“Bagaimana?”

“Lumayan, tapi tidak seenak di stand Plaza Gwanghwamun kemarin.”

“Kau benar. Ah, sudahlah. Lebih baik cepat habiskan makananmu dan kita bisa segera pulang.”

“Hum, baiklah. bagaimana kalau nanti kita kembali ke stand kemarin. Aku ingin membawakan deokbokki untuk Paman Seung Hoon.”

“Ide yang bagus. Kau yang beli ya. uangku sudah habis hanya untuk mencuci celana dan kemejamu kemarin.”

Kyuhyun hanya tersenyum. Sangat manis.

Kuakui aku memang suka melihat senyumnya. dan ya, akan kupastikan Kyuhyun selalu tersenyum.

36 thoughts on “[Chapter] At Gwanghwamun Bagian 2

  1. hyo in pasti shock bgt pas di bentak kyuhyun. syukurlah hubungn mereka mulai membaik, penasaran sma hbungn masa lalu kyuhyun sma cwe di gwanghwamun

  2. bisa senyum juga akhirnya. Ahaha kyuhyun yg manis. Akur juga mereka😀
    cewe yg mana sih emang? Aku lupa yg chapter 1-nya~

  3. Ahhh dapet apdetan di twitter tadi pagi.
    Baru skrg bisa baca.

    Ya ampun aa kiyu jangan galak2 sama perempuan. Apalagi di lempar pake bingkai foto. Tapi mood kyuhyun langsung baguis lagi di siang harinya.
    Dan bukan cuma hyo in yg suka sma senyumnya aa kiyu.
    Aku juga suka suka banget banget banget banget. Akku terpesona sama segala bentuk senyumannya dan perut buncitnya tentu saja.
    Semoga part selanjutnya ga terlalu lama.

  4. Ohalah,,,y ampun jd ceritanya kemaren itu hyo in pesen escargot dan dia g tau i2 makanan apa!!!hahaha dia kan benci hewan yg bertempurung,,emang bnr kata kyu Aneh!!!
    Knp kebiasaany kyu jd kyk yesung oppa y???wkwk suka kura2,,,
    Aduh Mg kyu mau move on y!!!!

  5. Jdi kyu mau blajar move on sma hyo in yah🙂
    Tpi penasaran deh sma kyunya ke hyo in dia ktmu hyo in ats kmauannya sndri atau krn dia ngk enk hati sma appanya hyo in ??
    Jdi mntannya kyu kira2 spa yah, jdi pnsaran jga? Kira2 dia mncul lgi ngk yah sbgai penggoyah hati kyu nnt?

  6. Jd skrg mereka berdua brteman? Ciyeeeee… Ada kemajuan dong yaaa.. Semoga kyuhyun bs melupakan mantan tunanganya itu.. Dan bs mmbuka diri. hehee

  7. Haaaaai AYK :-p
    Komenan gw udah nangkring niiih..😀
    Ada beberapa yg mau gw koment.
    Pertama, tampilan blognya tolong di perhatikan… liat kolom komentarnya kok gini banget yaaa kalo buka di hp, masa gitu manjaaang ke bawah -_- #abaikan.
    Masih ada typo, but yaa tetep kalah sama Hyokyu momentnya (Ngomong2 apa nama copelnya?) #maklumreaderbaru. Kkkk
    Dan gw ketagihan bacaa… kayanya Hyo in menggambarkan sosok AYK sekaliii yaaah… kkkk
    Ngakk itu pas bahas malah suaminya nanti mau di masakin pasir, yg bener ajaaah Hyooo… masa iya kyu mau di kasih makan pasir. Lol
    Btw ada bau2 hyo berharap kyu bisa buka hati buat dia…ihiir… ngiri tuh diaa…mantanya ajah bisa bikin kyu lupa senyum gitu…
    Ayo hyooo bikin kyu lupa sama mantannya… buat dia klepek2 bila perlu…
    Okeh.. sekian dululaaah… gw tunggu…next part jangan lama2 yaaaaah #kecupbasah. #buatkyuhyun :-p

  8. Masih banyak bgt yg bikin penasaran… Apa alasan kyu mau ketemu hyo in wkt t d gwanghwamun pdhl dia ud tau niat ayah ny hyo in… Trus hubungan kyu d masa lalu jg..siapa mantannya trus knapa mereka putus…aah penasaran… Menarik bgt liat mereka yg uda mulai akrab..suka sm karakter hyo in dsni…hahaa.. Next ny ditunggu..fighting ^^

  9. Hyo in pasti shock bangedd tuhh di bentak sama kyuhyun ..
    Hyo in kasih saran kayak dya pernah pacaran ajh .. tapi emang bener sihh saran’a ..

  10. Kyu putus cnt sm segitunya ….. Tp q penasaran alasan bapanya hyo in deketin kyu sm hyo in ?? Smg mrk bs bersama akhirnya ,,,,,,ska q hbngan mrk berjalan apaadanya eon 🙂 fighting neeext

  11. siapa sih mantan pacarnya kyu? kau pasti akn menyesal telah memutuskn kyuhyun.
    hyo in fighting, kyu juga🙂

  12. Kyuhyun lagi patah hati dan hyo in kena imbasnya.pasti hyo in sangat ketakutan waktu di bentak,sampai dia nangis gitu.untungnya hyo in sedikit”aneh” jdi tidak terlalu sakit hati sama si lemari es.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s