[Chapter] At Gwanghwamun Bag. 1

At Gwanghwamun
Cho Kyuhyun/Song Hyo In
By Valuable94

11180317_949635291726786_8055858873775907172_n

Bagian 1

HYO IN

Balada Banjir di Pertemuan Pertama

“Siapa dia?”

“Dia teman ayahku.”

“Bagaimana menurutmu?”

“Dia menyebalkan.”


***

Musim semi yang indah akan terasa sama dengan musim dingin yang membekukan tulang. Hari ini harusnya menjadi hari yang hangat dan cerah. Bau bunga di mana-mana dan pohon-pohon yang hijau bisa jadi faktor peningkat mood setiap hari. Kecuali jika kalian punya ayah yang menyebalkan dan sangat suka mengatur. Mood bisa hancur kapan pun tanpa mengenal musim.

Mood hancur masih terlalu bagus, tapi hari yang hancur benar-benar sempurna. Selain menyebalkan, ayah juga penuh dengan kejutan. Tadi pagi aku diminta melakukan pertemuan bisnis dengan salah satu temannya. Bayangan perut buncit, tua dan rambut beruban langsung mucul dalam otakku, namun kenyatannya bukanlah itu yang kutemui. Aku heran kenapa pria semuda itu mau berteman dengan ayah yang sudah-kubilang-dia-menyebalkan.

“Bagaimana tadi siang?” Tanya ayah di tengan makan malam.

Seperti yang sudah kuduga, ayahlah yang merancangnya. Pertemuan tadi siang ditujukan bukan untuk pertemuan bisnis yang sesungguhnya tapi untuk mengenalkanku pada Kyuhyun—temannya. Namun, meski aku memaksanya bicara, ayah tidak akan pernah mengaku.

Ayah tidak tahu seleraku sudah berubah. Mungkin dulu aku menyukai body member boyband, tapi sekarang aku merasa telah menyia-nyiakan mata dengan berpaling dari makhluk barat bermata biru dengan perut seperti papan cucian.

Lihatlah tom cruise, Jamie dornan, model inggris seperti david gandy. Mereka tiada duanya, tapi sayang kebanyakan dari mereka sudah punya anak. Itu membuat penyesalanku bertambah berkali-kali lipat.

“Dia putih. Sangat putih, hampir seperti mayat hidup,” ungkapku, kemudian melahap sup ayam buatan ibu.

“Maksudku pertemuannya, bukan teman ayah.” Dengar, kan. Itu hanya alibi.

“Ayah, aku sudah duapuluh empat tahun dan sangat bisa memutuskan siapa yang baik untuk kunikahi nanti,” ujarku malas. Lalu melanjutkan makan lagi.

“Kau mengatur pertemuan Kyuhyun dan Hyo In?” aku melihat dahi ibu berkerut sementara ayah hanya menghela napas panjang sebelum meneguk sojunya, “tapi dia ‘kan—”

“Aku tidak mau Hyo In salah pilih.” Ibu mendengus. Kedengarannya rencana itu memang hanya diketahui ayah saja.

“Mana mungkin aku salah pilih jika semua keputusan ayah yang mengambilnya,” begitulah kenyataannya, “aku hanya pintar membual di depan anak-anak. Jika bukan sekarang lalu kapan lagi aku bisa belajar menjadi ‘orang’, begitu ‘kan kata ayah,” lanjutku.

Definisi ‘orang’ menurut ayah adalah sukses, sementara aku sendiri tidak tahu sukses itu diukur dari mana. Jadi aku memulai semua hal dalam hidupku dengan modal ‘menurut ayah’. Jika menurut ayah itu baik, kulakukan. Tidak baik berarti tidak boleh dilakukan. Dan itu membuatnya semakin terkesan mengatur. Segalanya, apalagi yang menyangkut kehidupanku.

“Kalau yang ayah inginkan hanya cucu, secara biologis aku sudah sangat siap menerima sperma pria mana pun. Tapi menikah, aku belum yakin bisa melaluinya.”

Ayah menahan geraman karena ibu yang menenangkannya sementara aku lebih memilih menghabiskan semangkuk nori. Beliau menghela napas panjang sebelum bertanya, “Jadi bagaimana tadi siang?” kami kembali makan dalam damai. Sesekali aku nyengir saat melihat ibu tersenyum seraya menggeleng padaku.

“Ya, begitulah. Semuanya lancar kecuali bagian celana basah.”

Ayah meletakkan sumpit di meja dengan keras—termasuk ibu. Mereka berdua menatapku dengan tatapan setajam samurai. Mata ayah yang sudah lebar kini melotot seperti monster padaku. “Apa yang kau lakukan padanya?” geramannya tak terelakkan lagi.

Kutelan saliva dengan susah payah. “Tidak ada.” Aku mengelak.

“Kau menumpahkan air di celananya?” sangka ibu. Aku menggeleng lagi. Semakin mengkerut karena mata ayah menajam saat menatapku.

“Tentu saja tidak. Ta-tadi itu hanya kecelakaan. Lagipula itu juga karena teman ayah.” Kali ini aku tak mau kalah. Sudah cukup beliau mengatur kehidupanku, bahkan meski aku sudah mengikuti semua keinginannya, beliau masih saja menuntut apa yang sebenarnya berada di luar kendalinya.

“Katakan pada ayah!”

Ibu terkesiap. Aku mengkerut di balik meja makan saat melihatnya mengangkat garpu.

“Ayah, kau sangat berlebihan!” teriakku dari balik meja.

“Katakan apa yang sudah kau lakukan pada Kyuhyun sebelum garpu ini mengenai kepalamu, dasar Pembuat Masalah.”

“Sudah tahu aku pembuat masalah kenapa masih menyuruhku melakakukan pertemuan bisnis.” Aku masih berada di balik meja, menggerutu tanpa henti. Mendengar napas ayah masih memburu, aku tak berani mengorbankan kepala terkena garpu hanya untuk mengintip bagaimana reaksinya.

“Katakan saja, apa yang sudah kau lakukan padanya?” sekarang ayah berteriak. Tak memedulikan kata-kata menenangkan ibu yang lebih terkesan membelaku dan menyuruhnya mendengar penjelasan dariku.

Dadaku berdegup semakin kencang. Ancaman garpu dan suara petir ayah benar-benar menakutkan. Lagipula aku tidak yakin bisa mengatakannya di sini. Siang tadi benar-benar bencana dan melukai harga diri dan dompetku karena celana mahal itu rusak gara-gara aku.

***

Gwanghwamun, 14 April

“Baiklah, aku sudah di jalan.”

“Aku tidak akan tersesat, Ayah. Aku punya GPS.”

“Ya, ya, tutup saja telponnya sekarang.”

“Aku sedang menyetir. Kau hanya mengganggu konsentrasiku.”

Kututup telpon lalu melempar ponsel di jok belakang mobil sebelum berbelok ke kiri. Berputar arah menuju sebuah gedung perunjukan tempat seharusnya ayah bertemu dengan salah satu temannya. Hanya karena alasan hari ini hari Minggu dan itu berarti aku tidak mungkin ada jadwal mengajar lalu beliau memaksaku melakukan pertemuan bisnis dengan temannya.

Setelah cukup lama berkutat dengan pikiran betapa menyebalkannya ayah, aku sampai di persimpangan di ujung utara jalan Sejong-no, daerah Plaza Gwanghwamun. Menurunkan kecepatan mobil sebelum akhirnya menemukan tempat parkir tidak jauh dari gedung pertunjukan. Kurasa ini lebih cocok disebut kencan daripada pertemuan bisnis. Ayah benar-benar melakukannya dengan baik. Seolah ini kencan buta tapi bedanya aku hanya diberi ciri baju yang dia pakai tanpa melihat wajahnya. Jika apa yang kupikirkan memang benar, maka kunobatkan ayah sebagai orangtua paling jahat sedunia karena menjodohkanku dengan pria tua.

Meski masih pagi Plaza Gwanghwamun sudah cukup ramai saat hari minggu. Aku celingukan di antara banyaknya kepala yang berseliweran di sini mencari seorang pria tua dengan sweater abu-abu dan celana kain krem. Atau mungkin aku saja yang salah arah karena sedari tadi tak menemukan pria yang cukup tua untuk masuk kategori teman ayah. Badannya tinggi, perutnya tidak langsing tapi cukup rata dan berisi. Hanya saja body-nya masih seperti member boyband. Dia berpakaian seperti yang dideskripsikan ayah dan sedang bersama seorang wanita cantik. Tidak mungkin mereka, teman ayah pastilah pria tua berperut buncit, dan beruban.

Daripada terlalu banyak berspekulasi, aku memilih mendekati mereka. Sedikit tidak sopan memang tapi niatku hanya bertanya, bukan menganggu kencan mereka jadi aku masih sopan. Dari samping pu aku bisa melihat senyum lebar pria itu tapi yang membuatku heran adalah senyuman tadi menghilang begitu wanita itu pergi tepat sebelum aku sampai ke sana.

“Permisi, tuan …” pria itu menoleh padaku. Kulit putihnya bersinar terkena sinar matahari.

Seperti vampir.

“Apa?” pria itu mengernyit padaku. Aku tergagap. Kupikir tadi aku hanya bergumam saja.

“Oh, maaf, maksudku kau sangat putih. Eh, bukan maksudku …” aku memilih berhenti karena jika tidak seluruh pikiran konyol di otakku akan keluar semua.

Seperti vampir. Kulitnya sangat putih. Dia bersinar. Pasti bisa terbang.

Aku mememilih mengulurkan tangan, bermaksud mengenalkan diri. “Aku Song Hyo In. Maaf, sebenarnya aku kemari karena mencari teman ayahku. Kami ada janji pertemuan bisnis di sini tapi …” aku tertawa canggung lalu menarik tanganku karena dia tak kunjung menjabatnya. Dasar sombong. Menyebalkan, “ya, sepertinya aku salah orang. Permisi.” Kuhembuskan napas panjang lalu bergegas meninggalkannya. Malu bercampur marah benar-benar kombinasi sempurna.

Masih beberapa langkah aku berbalik dan menunduk meminta maaf pada lemari es berpintu-pintu di sana. Masih tidak ada ekspresi. Pria macam apa dia itu. Kemudian sedikit berlari karena perasaan takut dia akan melaporkanku sebagai orang gila.

“Ayah, awas kau!” batinku, mengancam.

“Tunggu!” aku berhenti karena tepukan di bahuku terasa seperti pukulan tongkat bisbol.  Aku terhenyak setelah sadar bahwa lemari es berpintu-pintu tadi sekarang berada tepat di depanku. Ya Tuhan, dia mengejarku.

“A-ada apa?”

“Siapa nama ayahmu?” suaranya masih cukup tenang sekalipun napasnya panjang-panjang.

“A-ayahku? Emmm Song …” sial, aku lupa nama lengkapnya, “Song …” ayo berpikir.

“Song Seung Hoon?” Dia memotong. Aku langsung mengacungkan jempol padanya.

“Ah iya, itu namanya. Maaf aku lupa. Biasanya aku hanya memanggil ayah, bukan ayah Song Seung Hoon.” Cengiranku langsung hilang saat melihatnya mendecak lalu melengos. Tak memedulikanku.

“Siapa namamu? Bagaimana kau bisa tahu nama ayahku?” tanyaku, bermaksud menarik perhatiannya lagi padaku—dan berhasil.

“Aku teman ayahmu yang kau cari.”

Tawaku langsung keluar tak bisa ditahan lagi. Bahkan air mataku sampai menetes dan kantung kemihku seperti ditekan. Lemari es ini bisa bercanda rupanya. “Kau bercanda?”

Aku tertawa semakin keras. Dia hanya menatapku dengan tangan terlipat di bawah dada. Pandangannya datar, tanpa senyum, dan itu berhasil menghilangkan selera humorku. Sialan. Dia mengamatiku seperti robot pemindai. Dari atas sampai bawah, kepala sampai kaki, kembali lagi ke bawah leher, lalu semakin ke bawah. Hal itu membuatku refleks menutup kancing mantel. Menutupi blus putih dan miniskirt biru-ku. Dia berdeham lalu menatap mataku lagi tanpa rasa bersalah.

Dasar mesum.

“Apa kau bilang?” sepertinya kali ini aku memang tidak bergumam. Setelah berusaha menahan marah dan malu karenanya, sekarang aku tidak bisa lagi mengunci mulut. Dia sudah keterlaluan.

“Apa maksudmu melihatku seperti itu?”

Dia mendecak lagi. “Anak kecil tidak sopan.”

“Lemari es tua mesum.” Dia mendelik padaku. Aku sengaja menantangnya. Memangnya dia pikir siapa dia.

“Kurasa usiaku tidak jauh beda denganmu jadi berhenti memanggilku tua,” katanya, dingin. Rasanya aku bisa hipotermia hanya dengan mendengar suara itu.

Dahiku mengernyit tak percaya. Aku bisa menerima itu, wajahnya memang masih terlalu muda untuk dikatakan tua, tapi bagaimana pun dia teman ayahku. Paling tidak usianya lima atau tujuh tahun di atasku. Aku mengangkat tangan. Tak mau ambil pusing dan memperpanjang masalah konyol ini. Lagipula aku masih punya urusan lain yang harus segera kuselesaikan daripada membuang waktu dengan lemari es mesum ini.

“Maaf, Tuan Lemari Es, aku tidak ada waktu menanggapi orang sepertimu.”

“Memangnya kau pikir siapa kau?” dahinya mengkerut. Aku merasa terintimidasi hanya karena suara rendah dan tatapan tajamnya. Namun itu tak membuatku takut sama sekali.

“Sudah kubilang namaku Song Hyo In. Dan kau! Lemari es tak bernama, terima kasih untuk hinaannya hari ini. Aku pergi.” Persetan dengan pertemuan bisnis itu. Cukup katakan aku tidak bertemu dengannya. Beres.

“Hei, pendek!” Ya Tuhan, dia menghinaku lagi.

Aku berbalik lagi—menatapnya malas. “Apalagi?!” Oh ya, secara tidak langsung aku mengaku memang pendek. Hei, lagipula banyak wanita tinggi karena high heels, dan aku tidak cukup bangga dengan itu. Bukan masalah jika kakiku pendek. Kenyamananku tidak akan terusik hanya karena dikatakan tidak cantik.

Dia berjalan ke arahku hanya dalam beberapa langkah. “Maaf,” katanya dengan wajah datar.

Sekarang gantian aku yang berdecak dan melipat tangan di bawah dada. “Kau tahu, baru kali ini aku melihat orang minta maaf sedatar itu. Tapi baiklah, tidak masalah. Masalah kita selesai.”

Dia mendengus. “Kau melupakan tujuan utamamu.”

Kuhela napas panjang seraya menutup mata. “Ya, kau benar tapi aku masih ada urusan yang lebih penting. Bisakah kau memberiku waktu beberapa menit?” tangannya menahan lenganku sebelum aku berhasil melangkah.

“Tidak. sekarang ikut aku.”

“Sebentar saja, kumohon.” Aku setengah memaksa. Ini benar-benar keadaan darurat.

“Tidak, pendek.” Dia menarikku sampai kepalaku terantuk dadanya, “Ups, maaf.” Dia tertawa dingin saat aku mendorongnya. Aku ingin sekali mengulitinya.

“Ya, ya, aku ikut denganmu. Tapi berhenti memanggilku pendek.” Dia memukul tanganku yang tengah menunjuknya kemudian berbalik seraya memasukkan tangan ke saku celana. Sambil bersiul. Aku berlari mengejarnya dengan gaya singa kelaparan. Menerkam bahunya hingga dia  berbalik dan dengan berani mengacungkan jari lagi di depan dadanya.

“Dengar, aku tidak pendek. Kau saja yang terlalu tinggi.” Kuakui itu kata-kata yang terlalu percaya diri. Yah, tapi setidaknya itulah yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan harga diriku dari pria tinggi sombong sepertinya.

Dasar lemari

“… es tua mesum. Sekarang apalagi? Tiang listrik sombong, huh? Terserah kau mau memanggilku apa yang jelas aku ingin urusan bisnisku dan ayahmu cepat selesai. Sekarang ayo masuk, Tongkat Pramuka!”

“Hei!” protesku. Nada dinginnya sama sekali tak menggetarkanku. Darahku malah semakin mendidih. Setelah bilang aku pendek sekarang mengataiku tongkat pramuka. Enak saja. Badanku lebih seksi daripada itu.Yah, tapi dia ada benarnya juga. Lebih baik segera menyelesaikan urusan ayah dengannya daripada mengurusi nama panggilan yang tidak akan ada habisnya.

Kuhembuskan napas panjang, berusaha menenangkan hati dan menjernihan pikiran. Hanya dua jam, oke. Bertahanlah dan aku bisa menyelesaikan bisnisku sendiri.

Pertemuan bisnis bernuansa kencan, mungkin itu yang diharapkan ayah. Sayangnya, pria ini tak begitu menarik perhatianku sejak awal karena dia sudah mengataiku aneh-aneh. Acara yang biasanya dilakukan di kantor sekarang berganti gedung pertunjukan. Opera, aku membencinya. Terlalu melankolis. Kutebak pria ini melakukan operasi plastik dan membuat wajahnya terlihat lebih kencang daripada yang seharusnya. Seleranya sama dengan ayah.

“Ayahmu yang memilih tempat ini. Aku hanya menurutinya di mana pun beliau inginkan.”

Kami duduk di bangku tengah. Gedung pertunjukkan pagi ini tidak terlalu ramai. Mungkin hanya beberapa puluh orang.

“Mau minum?” aku langsung menggeleng.

“Tidak. segera selesaikan ini saja.” Dan sejujurnya aku sangat ingin keluar gedung ini jika situasi memang memungkinkan. Selalu ada situasi memungkinkan memang, sayangnya itu akan terlihat tidak sopan dan aku tak mau mempertaruhkan nama ayah hari ini.

“Sangat tidak sabaran. Berbeda sekali dengan paman Seung Hoon,” aku hanya mendengus,

“Cho Kyuhyun,” kami berjabat tangan. Tangan besarnya sangat hangat. Ah, baru kali ini aku merasakannya, “ini pertama kalinya aku membahas bisnis dengan anak kecil.” Aku mendengus saat Kyuhyun melepaskan tangannya lalu bersikap dingin lagi. melihat reaksinya kurasa dia sudah tahu akan bertemu denganku—bukan ayah.

“Anggap saja begitu. Asal kau tahu, usiaku sudah cukup dikatakan matang.”

Kyuhyun menyeringai tanpa menolehku. Dia membuka tabletnya sebelum memulai perbincangan kami mengenai proyek pembelian properti dari pabrik keluargaku dan perjanjian-perjanjian yang sebenarnya sudah pernah mereka bahas sebelum pertemuan ini. Aku hanya perlu mencatat beberapa poin baru untuk diajukan pada ayah, memberi sedikit argumen jika kurasa ada yang terlalu memberatkan pabrik kami.  Lalu sisa-sisa perbincangan kami berjalan membosankan dan membuatku tak tahan. Semuanya tentang investasi dan nilai saham, serta keuntungan yang akan didapat baik dari pihak perusahaan Kyuhyun dan pabrik keluargaku.

Aku ingin segera keluar dari sini, menyelesaikan bisnisku sendiri atau akan terjadi sesuatu yang tak diinginkan jadi dengan buru-buru aku menutup tablet dan berpamitan pada Kyuhyun. Namun saat kami baru saja keluar gedung pertunjukan Kyuhyun menarikku menuju salah satu stan jajanan di salah satu pojok halamn plaza.

“Kuharap kau lapar. Mau makan apa?” terpaksa kulepaskan cengkeraman di perutku, berusaha tak mengecewakannya. Kata ibu, tidak sopan mengecewakan orang yang menawarkan kebaikan pada kita. Jadi meski terpaksa aku tetap mengikutinya. Ya tuhan. Jangan di sini. Sebentar lagi. Hanya makan sedikit setelah itu aku bisa pergi.

“Kue beras satu porsi dan dua botol soju. Kau mau apa? Aku yang bayar.” Jika boleh jujur menurutku Kyuhyun tidaklah sekaku wajahnya. Setidaknya dia masih bisa menawari orang makan meski tetap saja pilihan katanya kurang tepat. Kurasa bicara biasa pun pria ini memang sudah sombong.

“Kue beras pedas. Terima kasih.”

Aku bergerak-gerak gelisah saat menunggu pesanan datang tanpa memeduli dengan kerutan di dahi Kyuhyun. Mungkin dia tidak suka, tapi sejauh dia tidak bertanya itu bukanlah masalah.

“Eeemmm … aku, aku ingin …”

“Ah, pesanan kita sudah datang,” kata Kyuhyun.

Rasanya ingin sekali berteriak ‘AKU INGIN KE TOILET SEBENTAAAARRRR SAJA’ tapi lagi-lagi Kyuhyun mencegahku dengan alasan yang tidak kumengerti selalu tak bisa kutolak. Dia menuangkan soju di gelasku lalu ke gelasnya. Kami bersulang, menenggak soju yang langsung menghangatkan tenggorokan, dan kantung kemihku semakin penuh dan terasa seperti ditendang lagi. Kali ini lebih keras.

“Kenapa diam saja? Ayo dimakan.” Bahkan saat makan kue beras pun tampang sombongnya tidak hilang. Nada suaranya sangat memerintah.

Aku mengangguk kemudian mengambil sesuap kue beras. Kyuhyun tersenyum miring dengan mulut penuh.

“Masih kuliah atau sudah kerja?”

“Kerja. Aku mengajar Bahasa Inggris di SMP.” Aku menjawab cepat.

“Wow!” Kyuhyun menyendok suapan kedua dan melahapnya dengan cepat. “kukira masih kuliah.” Setidaknya kali ini Kyuhyun bisa menunjukkan perhatiannya padaku. Kenapa tidak begitu saja dari tadi.

“Kenapa? Karena aku pendek seperti tongkat pramuka?” ketusku, seraya menekan paha kuat dan bergerak-gerak tak nyaman.

Kyuhyun mendengus. Tertawa pelan tapi kemudian lenyap. Raut wajahnya yang sedikit memerah karena soju kembali memucat. Sekarang hanya ada senyuman canggung dan pandangan terpusat di belakangku. Aku menoleh, seraya mengunyah kue beras yang baru saja kumasukkan ke mulut. Wanita itu lagi. Aku pernah melihatnya beberapa jam lalu bersama Kyuhyun. mereka saling melambaikan tangan lalu aku berbalik saat wanita itu pergi. Aku berdeham saat kyuhyun masih tak henti melihat ke belakang.

“Pacarmu? Kenapa tidak diajak ke sini saja?” tawarku. Ingin menenggak soju tapi khawatir panggilan alamku datang lagi.

Perhatian Kyuhyun kembali padaku lalu senyum di wajahnya memudar lagi. Bagaimana mungkin senyumnya bisa berbeda-beda hari ini. Hingga saat dia menggeleng, aku mulai memahami situasinya. Mungkin wanita itu bukan pacarnya. “Maaf, aku tidak tahu. Apa … kau … menyukainya?” tanyaku ragu. Aku benar-benar penasaran. Siapa tahu Kyuhyun mau menjawab.

“Bagaimana bisa kau menyimpukan itu?” tanyanya, lalu menenggak soju cepat hingga mata dan dahinya berkerut.

Aku mengdikkan bahu, tak yakin. “Kau selalu tersenyum padanya. Pertama, saat kalian di depan gedung pertunjukan dan baru saja aku melihatnya. Tapi …” aku menoleh sebentar ke belakang lagi. Tepat. Wanita itu sudah tidak ada di sana, “sekarang senyummu hilang saat wanita itu pergi.”

Kyuhyun tertawa dingin lalu menenggak soju lagi. Mungkin dia sedang patah hati. Kebanyakan pria di film selalu banyak minum saat mereka patah hati.

“Cukup pintar. Sekarang aku percaya kalau kau putri paman Seung Hoon.”

Aku mendengus. Lagi-lagi meremehkanku. Sekarang aku benar-benar ingin menerkamnya. “Kuanggap itu pujian. Ah, iya, aku harus pergi sekarang. Terima kasih untuk makanan dan minumannya.”

“Dia mantan pacarku.” Kata-katanya menghentikanku lagi, “ah bukan, maksudku tunangan.” aku duduk lagi tanpa mengatakan apapun. Kepalanya tertunduk, dan saat Kyuhyun mengangkat wajah aku melihat ada banyak luka di sana meski wajahnya begitu datar. Tanpa emosi—lebih terlihat pasrah.

Aku juga pernah ditinggalkan, tapi saat itu bahkan kami baru berpacaran satu bulan. Tidak seperti Kyuhyun, dan mungkin rasanya akan lebih sakit jika orang itu sudah sangat dekat dengan kita secara emosional. Rasanya seperti ada yang mengganjal di tenggorokan, salivaku terasa seperti batu saat tertelan. Aku berdeham, bergerak-gerak gelisah karena tak tahu apa yang harus kukatakan. Tidak apa-apa, Kyuhyun hanya sedang butuh teman bicara. Aku bisa menemaninya jika itu bisa membantu meringankan beban.

“Mungkin kau hanya butuh refreshing. Dengar, saat semua ini berlalu akan ada banyak wanita yang terlihat menggiurkan.” Bertanya ‘kenapa’ akan semakin menyakiti hatinya jadi hanya itu yang bisa kukatakan. Setidaknya itu yang kurasakan setelah enam bulan menangis setiap hari karena dicampakkan pria yang kucintai.

Kyuhyun mengedikkan bahu seolah itu bukanlah masalah besar, tapi luka di matanya tak pernah bisa berbohong. Dia menghela napas sebelum menatapku dan berkata, “Selalu ada banyak wanita. Sayangnya, tidak pernah sebaik dia.”

Aku tertawa spontan. Membiarkan Kyuhyun memenuhi pikirannya dengan menganggap tawaku sebuah cemoohan meski aku tak bermaksud begitu. “Teruslah berpikir seperti itu. Jam akan tetap berdetik dan kehidupan tetap berjalan. Lalu setelah wanita itu menemukan seseorang yang baru, kau hanya akan berdiri sendiri dengan pemahaman yang sama.”

“Kusebut itu kesetiaan.” Bantahnya—penuh keyakinan, “aku mencintainya dan itu takkan berubah.” Tawaku tertahan saat melihat wajahnya mengeras dan mata memerah. Aku terdiam seketika kemudian membuang napas malas. Aku tidak tahu harus bicara apa dan kuharap apa yang akan keluar dari mulutku tidak akan menyakiti hatinya.

“Kita punya pemahaman yang berbeda. Dari sudut pandangku, kesetiaan hanya berlaku saat kalian masih bersama. Sekarang lihat! Dia tidur dengan pria lain pun kau tidak punya hak melarangnya.” Aku tahu itu tidak sopan tapi semoga saja itu bisa menamparnya tanpa perlu meminta bantuan tangan.

Seperti yang kuduga sebelumnya, wajah Kyuhyun langsung mengeras. Seperti ingin mengatakan sesuatu tapi dia menahannya. Tangannya terkepal di atas meja. Mata kami masih saling mengunci satu sama lain. Luka di sana membuatku tak ingin lama-lama duduk di depannya. Aku beranjak lagi. Membenarkan tali tas kemudian segera bergegas meninggalkan Kyuhyun setelah membungkuk—tanda perpisahan.

Saat itu panggilan alamku kembali muncul setelah terlupakan beberapa menit karena Kyuhyun. Setengah berlari menuju toilet tanpa memerhatikan keadaan plaza yang semakin ramai. Setelah sampai di toilet, tiba-tiba kepalaku terasa berputar saat melihat antrian super panjang. Di antara para gadis yang sedang berkaca dengan kaca bedak ada seorang anak kecil sedang meraung karena penuhnya antrian. Aku bersandar di dinding dan menekan kedua pahaku semakin kuat. Jika dilihat-lihat akan butuh waktu lebih dari duapuluh menit sampai tiba giliranku. Akhirnya, aku memutuskan kembali ke tempat parkir, mengambil mobil, dan pulang ke apartemenku sendiri.

Tekanan di pahaku semakin kuat dari sebelumnya—untuk mencegah kebocoran. Aku benar-benar sudah tidak tahan. Kalau memang ada semak-semak aku memilih melepaskannya di sana daripada kembali ke apartemenku yang berjarak lima menit dari sini, ditambah mencari mobil—karena aku lupa menaruhnya di mana—akan jadi perjalanan limabelas menit yang panjang dan menyiksa. Hari ini benar-benar padat.

Di tengah usaha kerasku menahan pipis, suara Kyuhyun kembali bergema di belakangku. Aku melihat wajah dinginnya itu semakin mendekat. Kenapa, kenapa dia mengejarku? Ya Tuhan, apa karena kata-kataku tadi.

“Oh, tidak. Dasar mulut pembawa masalah!” gerutuku seraya memukul mulutku sendiri. Aku segera berlari meski dengan gerakan aneh. Kedua pahaku tertekan menahan pipis sementara kaki kupaksa berjalan cepat menghindari Kyuhyun.

“Hei, Song Hyo In, tunggu!!!”

Sesekali aku menoleh ke belakang. Kyuhyun semakin dekat. Larinya juga semakin kencang sementara aku sudah tidak bisa menambah kecepatan lagi.  Kunci mobil sudah kutekan berkali-kali sedari tadi tapi aku hanya bisa mendengar suara alarm tanpa bisa menemukan di mana lokasinya dengan tepat. Di mana mobil itu saat aku membutuhkannya? Sial.

“Auw, auw,” basah sedikit. Oh Tuhan, ini memalukan. Aku tidak tahan.

“SONG HYO IN, BERHENTIII!”

“MAAFKAN AKUUU!!!” aku menunduk sesaat. Menekan kedua pahaku lagi semakin kuat. Hanya sedikit, belum semuanya. Tidak apa-apa, aku hanya harus berlari lagi.

“SONG HYO IN, AKU TIDAK AKAN MEMUKULMU!” suara Kyuhyun semakin dekat.

“Tapi kau akan memakanku,” gumamku pada diri sendiri.

Aku tahu, karena itulah aku harus segera pergi dari sini—dari Kyuhyun. Ke toilet. Yah, aku hanya butuh toilet sekarang. Aku terus berlari meski sedikit demi sedikit mulai keluar lagi. Tekanannya setiap detik semakin kuat.

Ketika langkahku semakin cepat, lingkaran lengan seseorang di perutku mengetat. “Dapat.”

“Lepaskan aku!!!” aku memukulinya. Saat sadar itu suara Kyuhyun, pukulanku di bahunya semakin keras. Berharap dia akan melepasanku karena kupukuli. Aku meronta dengan keras, namun karena Kyuhyun tak siap akhirnya pelukannya terlepas. Aku jatuh dan meraih apapun yang bisa kujadikan pegangan karena takut punggungku mencium aspal parkiran.

“AAAAWWW!!!” yang ini bukan suaraku.

“Aaaahhhh!” anehnya setelah jatuh aku malah merasa begitu lega. Tak ada tekanan lagi di perutu. Ginjalku juga tidak sakit lagi karena menahan pipis.

Untuk beberapa saat aku mengabaikan bagaimana posisi kami karena yang kutahu sesuatu yang kutarik tadi pastilah salah satu bagian baju Kyuhyun. Namun sebelum aku menyadarinya, Kyuhyun sudah berteriak lagi.

“AAARRRGGGHH! MENJIJIKKAN!!!”

Kyuhyun ada di bawahku dan celananya basah.

Karena aku.

***

“Kau mengompoli Kyuhyun???!!!”

“Aku tidak sengaja, Ayaaahhh.”

Sebelum ayah bisa menangkapku, aku segera berlari ke kamar lalu menutup pintunya. Jantungku berdetak semakin kencang saat ayah menggedor-gedor pintuku.

“Memalukan! Cepat buka pintunya!”

“Kalau garpumu sekarang berubah jadi samurai aku tidak akan membukanya.”

Gedorannya lebih keras lagi. “Kalau perlu akan kubawakan tank kemari jika kau tak mau membuka pintu.”

Tidak akan ada lagi yang bisa menyelamatkanku. Ibuku? Jangan harap. Beliau akan lebih memilih diam. Sederhana, karena aku memang salah.

“Ayah, gajiku satu bulan hampir habis hanya untuk mencucikan celana mahalnya. Kumohon jangan menambah masalahku lagi,” rengekku dari balik pintu.

Kutempelkan telinga ke pintu dan tak mendengar apapun lagi selain napas memburu ayah. Kumohon setelah ini jangan ada bagian rumah yang meledak.

Tubuhku melorot karena sampai hampir satu menit tak ada apapun yang terjadi.

“Ayah?” panggilku pelan. Lalu gedoran pintu membuatku tersentak dan menjauhkan punggung dari sana. Menghindari getaran pintu.

“Kau sudah minta maaf padanya?” aku hampir terlonjak sampai berdiri dengan segera. Namun kemudian, ayah mengetuk pintu pelan. Ragu, antara membukanya atau tidak tapi suara pelan ayah meyakinkanku bahwa takkan ada samurai melayang di leherku setelah ini.

Beliau mengetuk pintu lagi. Dengan pelan dan tangan sedikit gemetar aku membuka pintu dan bersembunyi di baliknya. Hanya untuk jaga-jaga jika ayah kalap sewaktu-waktu.

“Sudah. Aku juga sudah mengirim celananya ke laundry.”

Aku terhenyak saat ayah tiba-tiba tertawa meski pelan.

“Ke-kenapa ayah tertawa?”

“Karena kau menyebalkan. Sekarang rasakan akibatnya.”

Aku juga tak bisa menahan tawa mengingat tingkah konyolku tadi pagi. Sialnya, dompetku yang sudah tipis sekarang jadi kosong hanya untuk laundry celana mahalnya.

Plus bonus kartu nama. Aku tidak tahu itu sebuah kesialan juga atau bukan yang jelas pagi tadi benar-benar memalukan.

74 thoughts on “[Chapter] At Gwanghwamun Bag. 1

  1. Tadinya aku kira celana basah gra2 apa, ternyata di luar dugaan, sumpah ini bikin ngakak seru bgt ceritanya😀 suka suka ♡

  2. ya ampunnn malem2 ngakak sm couple ini..aku pikir celana kyuhyun basah karna di siram air ga tau nya di ompolin sm baby giant song hyoin wkwk

  3. Wkwkwkwk, bisa bisanya lu lupa sm nama ayah sendiri, dasara anak durhaka, stidaknya segrogi groginya gw,gw kagak lupa nama orang tua hahaha
    Sumpah gw ngakak, kyuhyun ternodai dgn ompol muuuuu… 😆, malunya 7 turunan

  4. Astagaa ga kebayang aku klo hal begitu kejadian sm aku mungkin bakal mengasingkan diri kepulau tak berpenghuni…baru ketemu cerita kyk gni pertemuan pertama nya kyuhyun di ompolin…td ngira nya celana kyu basah gr2 disiram sm hyo in eh tau nya di ompolin ga terduga banget…adu ini Kocak…lucu…mereka ngegemesin ih… Dpt ide dari mana sih author… Menarik ceritanya nih..Lanjut baca…^^

  5. astaga ada” aja hyo in bisa bisanya ngompolin kyuhyun
    lagian salah kyu juga sich orang udah kebelet begitu ditahan-tahan mulu kan akhirnya keluar juga
    hahahahahahaha

  6. Agagagagaga hyo in itu aungguh memalukan ,
    Seorang gadis dewasa yang umurnya 2. Tahun kali nggak salah ngompol di dpn seorang lelaki dewasa luculucu deg

  7. Hai eon q reader baru slm kenal … Kocak bgt kelakuan hyo in hahahahaa …parah” g bs byngin gmn muka kyuhyun kekeke~ keren ff nya eon fighting

  8. haha ngakak banget bacanya apalagi pas hyo in nahan pipis ups!^^
    oh jadi wanita itu mantan tunangan kyu, udh lupain aja kyu
    fighting

  9. halo author nim aku readers barumu, salam kenal ya ^^
    aku suka sama ff mu yg ini lucu, beda dari yg lain
    the best lah
    jadi penasaran sama kelanjutan ceritanya kkkkk semoga update an ff nya juga cepat ya hehehe semangat author!!! ^^

  10. Hahaha,ini bener2 lucu baru kali ini baca yang kayk gini.hyo ini knpa ga bilang ke kyuhyun sih kalo dia butuh toilet,dan lagi dia pake lari segala yah pastinya semakin gak bisa di tahan,ga bisa bayangin klo jadi hyo in bisa ngompolin orang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s