The Ex Games Bagian II (Chapter 3)

The Ex Games
Bagian II
J. S. Cooper and Helen Cooper

Copyright © 2013

20404687

Bab 3

Konnichiwa.”
Konnichiwa.”
Aku berdiri dan tersenyum pada para pengusaha Jepang dan istri mereka yang ditemui Brandon untuk makan malam. Sepertinya aku mengenakan gaun yang salah karena mereka semua berpakaian sangat konservatif. Istri mereka menatapku dengan senyum sopan, tapi aku bisa melihat pertanyaan di mata mereka. Apa dia seorang pelacur? Aku merasa malu selama dua menit ini sebelum menyadari sesuatu pada akhirnya, aku membuat Brandon terlihat seperti lelucon.
“Mereka menyukaimu.” Dia tersenyum padaku saat kami berjalan ke meja. Dia menjadi orang baik lagi, tapi aku tidak tahu apa itu pura-pura atau bukan.
“Sepertinya aku mengenakan pakaian yang salah untuk jamuan bisnis.” Wajahku mengerut. “Maaf.”
“Kenapa kau meminta maaf?” Dia meremas tanganku. “Kau tampak seksi dan aku tidak mengeluhkan hal itu. Aku suka makan dengan wanita cantik di sampingku.”
“Oh.” Aku tersipu mendengarnya. “Terima kasih.”
“Tidak perlu berterima kasih untuk mengatakan yang sebenarnya.” Dia menarik kursi untukku setelah kami mencapai meja kemudian duduk di sebelahku. “Ini bagus.” Dia melihat ke sekeliling restoran dan tersenyum. “Rasanya sudah lama kita tidak makan malam bersama.”
“Ya.”
“Kali ini kau bahkan bisa memesan alkohol jika kaumau.”
“Lucu.” Aku berpaling darinya dan dia tertawa.
“Jangan bilang aku tidak bisa membuat lelucon tentang usiamu. Tidak setelah semua tawamu karenaku.”
“Apa yang kaubicarakan?” Aku memelototinya. “Tawa apa?”
“Semua tawamu dan yang teman-temanmu miliki ketika kau memberitahu mereka betapa bodohnya aku karena memercayai semua kebohonganmu.”
“Aku tidak pernah berpikir kau bodoh.”
“Aku bodoh.” Dia menghela napas. “Aku tidak tahu bagaimana bisa aku tidak menyadari kau masih 18 tahun.”
“Kurasa aku seorang aktris yang berbakat.”
“Itulah masalahnya, kau bukan aktris yang berbakat.” Dia tertawa. “Ketika aku memikirkan itu sekarang, semua terlihat sangat jelas. Bagaimana bersemangat dan senangnya kau sepanjang waktu saat bertemu denganku dan bagaimana mudahnya kau menunjukkan perasaanmu. Kenyataan bahwa kau masih perawan, selalu bersedia dan bersemangat untuk melakukan apa pun yang ingin kulakukan secara seksual.”
“Tidak semuanya.” Aku menggeleng.
“Itu benar.” Dia menjilat bibirnya saat menatapku. “Kau tidak pernah mau melakukan anal.”
“Apa Anda ingin melihat menu wine?” Seorang pelayan muncul di samping kami dan aku menatapnya dengan senyum kecil, sementara batinku tersiksa.
“Terima kasih.” Brandon mengambil menu dan membukanya sehingga kami bisa sama-sama melihat.
“Mr. Kai, apa Anda ingin saya pesankan wine?” Brandon berbicara pada satu-satunya orang yang bisa berbicara Bahasa Inggris.
“Terima kasih, Mr. Hastings. Kami mau.” Mr. Kai mengangguk kemudian berbicara dengan yang lainnya dengan Bahasa Jepang yang cepat.
“Kurasa aku tidak banyak membantumu.” Bisikku ke Brandon. “Aku tidak bisa bicara Bahasa Jepang.”
“Kehadiranmu saja sudah cukup.” Dia meremas lututku dan tersenyum. Aku mencoba untuk tidak menjauh darinya, tapi setiap kali dia menyentuhku, aku merasa seperti terbang dan sulit turun lagi ke bumi.
“Kurasa kita semua akan mendapat steak tanpa lemak malam ini dan semuanya akan memilih filet mignon. Benar, kan?”

Brandon berbicara keras saat dia mengamati menu wine. “Jadi saya rasa saya akan memilih wine yang memiliki sedikit tannin.”
“Bagaimana kau tahu?” Tanyaku, merasa tertarik.
“Aku belajar menjadi sommelier saat berusia dua puluhan.” Dia menatapku. “Dan aku pernah bekerja di beberapa perkebunan anggur di Napa dan Sonoma.”
“Aku tidak pernah tahu itu sebelumnya.”
“Ada banyak hal yang tak kau ketahui tentangku, Katie.”
“Apa Anda sudah memilih wine-nya?” Pelayan datang lagi dan aku duduk kembali sementara menunggu Brandon memesan.
“Aku pesan Cabernet Sauvignon.” Dia memerhatikan buku menu lalu menatap pelayan.
“Apa Anda punya Abreu cabernet sauvignon 2.002 dari Thorevilos Vineyard Napa Valley?”
“Harga wine di ruang bawah tanah mulai dari 500 dolar, Tuan.”
“Tidak masalah.” Brandon mengangkat bahu. “Itu anggur yang kami inginkan, jika Anda memilikinya. Dua botol lebih baik.”
“Aku akan memeriksanya sekarang, Tuan.” Mata apatis pelayan itu menyala saat dia meninggalkan meja dengan cepat.
“Itu terlalu mahal.” Bisikku padanya. “Kau tidak bisa menghabiskan 500 dolar hanya untuk membeli wine.”
“Sebenarnya, jika mereka hanya punya satu botol, itu bisa berharga sekitar 850 dolar.” Dia tersenyum padaku dan matanya berkerut. “Aku punya banyak uang, Katie. tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Anggap saja itu air.”
“Ya, tapi kita sudah tidak berkencan lagi.”
“Salah siapa itu?” Jari-jarinya menangkap tanganku lalu meremas mereka sampai aku menatapnya. “Jangan mengatakan apa yang harus kulakukan, Katie.”
“Aku tidak mengatakannya.”
“Kau membuatku hilang kendali sekali dalam hidupku dan aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu lagi padaku.”
“Apa?” Aku mengerutkan kening, tapi kemudian Mr. Kai mulai berbicara tentang bisnis, jadi aku hanya kembali duduk dan tersenyum pada para istri. Mereka tersenyum padaku dan aku membalas senyum sopan mereka, tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Pelayan bergegas kembali ke meja dengan senyum lebar. “Tuan, kami punya dua botol untuk Anda. Apa Anda ingin mencicipinya?”
“Ya,” Brandon mengangguk dan mengangkat gelasnya, kemudian pelayan membuka gabus dan menuangkan sampel ke gelas.
Brandon mengendus cepat, memutar-mutar gelas dan menyesapnya. Dia membiarkan wine itu di dalam mulutnya untuk beberapa saat kemudian menelannya. “Lezat.” Dia mengangguk pada pelayan. “Aku sangat menyukainya. Anggurnya sangat terasa, seimbang dan kompleks.”
Dia menatapku. “Sama seperti aku menyukai istriku.”
“Jadi kalian berdua sudah menikah, ya?” Salah satu wanita di sisi lain meja mencondongkan tubuh ke depan. “Pasangan yang berbahagia?”
“Ya.” Brandon mengangguk dan aku duduk dengan senyum palsu di wajahku.
“Apa dia lebih muda dari Anda?” Mr. Kai bertanya dan menatap bolak-balik pada kami. Aku terkejut melihat keterusterangan pertanyaannya.
“Ya, cukup jauh.” Brandon mengangguk. “Tapi apa arti usia saat bicara tentang cinta?”
Mr. Kai tidak menjawab, melainkan—sepertinya—menjelaskan percakapan kami pada yang lain. mata mereka berubah sopan—menerimaku—dan saat aku tahu mereka mengira aku istri Brandon, kurasa semuanya akan baik-baik saja.
“Makan malam bisnis macam apa ini?” Aku berbisik pada Brandon. “Hanya ada satu orang yang berbicara Bahasa Inggris dan aku tidak bisa membayangkan ini dibuat untuk melakukan transaksi bisnis.”
“Budaya Jepang berbeda dengan kita, Katie.” Brandon mencium pipiku seraya berbisik. “Ini mungkin tampak seperti makan malam informal untukmu, tapi ini sekaligus proses penilaian. Sebuah proses di mana mereka akan menilai apakah aku seseorang yang bisa mereka percaya atau tidak.”
“Saat makan malam?” Aku mengangkat alis.
“Ya, saat makan malam.” Dia menarik diri dariku dan mengangkat gelasnya. “Kanpai.”
Kanpai.” Mereka mengangkat gelas dan tersenyum kembali.
Aku mengangkat gelas dan mengulangi kata “Kanpai.” Meneguk wine dan segera merasa
tenang. Ini memang segelas wine yang enak.
“Enak?” Brandon menatapku dan aku mengangguk sambil terus meneguknya. “Ini anggur yang sangat halus. Blueberry, selai boysenberry, vanili, permen, cokelat, truffle, tanah dan asap keluar dari kaca. Begitu, kan?”
“Aku, eh, ya.” Aku tertawa. “Maksudku aku merasakan rasa blueberry, kurasa.”
“Aku harus mengajarkanmu tentang anggur ini mulai sekarang.” Matanya menari-nari saat aku meneguknya lagi. “Ada kebun anggur di Napa milik beberapa kerabat, yang kucintai. Mereka punya sebuah kastil dan aku selalu berpikir itu akan menjadi perjalanan yang romantis.”
“Kedengarannya begitu.” Aku tersenyum ke arahnya, tapi aku ingin menanyainya. Apakah dia mengatakan itu karena benar-benar ingin membawaku ke sana, atau hanya sandiwara?
“Berapa lama kalian saling jatuh cinta?” Seorang wanita yang tampaknya tahu sedikit Bahasa Inggris bertanya. Aku merasa lidah dan sarafku kelu karena pertanyaannya. Aku takut hal ini akan membuat Brandon tahu bahwa aku masih mencintainya jika aku menjawabnya.
“Saya rasa saya sudah mencintai Katie sejak pertama bertemu dengannya.” Brandon menanggapi. “Jantungku mulai berdebar saat bertemu dengannya.” Dia menatapku dengan cinta di matanya dan jari-jarinya menyentuh helai rambut di wajahku. “Dia adalah malaikatku. Dia menemukanku saat aku berada dalam situasi emosional yang buruk. Dia menyelamatkanku dari diriku sendiri. Cintanya, kecantikkannya, kebaikan, cinta di hidupnya, mereka menyelamatkanku.”
“Oh, Brandon.” Hatiku mencair mendengar kata-katanya lalu kuulurkan tanganku dan meraih tangannya. “Aku merasakan hal yang sama.” Aku tidak bisa menghentikan kata-kata itu keluar dari mulutku. “Aku merasa seperti tercipta untuk mencintaimu, bahwa sebagian dari dirimu selalu berada dalam diriku, dan hanya menunggu kita untuk dipertemukan.”
Pasangan di seberang meja menatap kami, tidak benar-benar memahami apa yang kami katakan, tetapi merasakan cinta mengalir di antara kami.
“Aku tahu kaulah orang yang tepat untukku sejak awal,” Brandon melanjutkan dengan nada yang lembut, tapi kemudian matanya mengeras saat matanya menatapku. “kurasa sebagian besar dari itu adalah kejujuran. Aku selalu tahu bahwa apa pun yang terjadi, kita akan selalu memiliki kejujuran. Dan aku tahu bahwa tidak ada yang bisa memisahkan pasangan yang memiliki kejujuran.” Dia menarik diri dariku, masih tersenyum, dan aku merasakan sakit yang mendalam di hatiku saat dia menancapkan paku ke dalamnya. Dia tidak akan pernah memaafkanku. Tidak peduli setelah tujuh tahun sejak kebohongan itu. Tujuh tahun untuk melupakan apa yang sudah kulakukan. Dia bertekad untuk terus membuatku membayar atas apa yang telah kulakukan. Mengambil pekerjaan ini memang sebuah kesalahan. Semuanya menjadi kesalahan besar. Aku menguliahi diri sendiri untuk berhenti berusaha atau pun memberinya kesempatan kedua dan berhenti mengharapkan hal mustahil. Berapa kali lagi dia harus memberi tahuku atau memintaku menerima kenyataan bahwa kami sudah berpisah untuk selamanya? Yang harus kulakukan adalah membuatnya menyesal atas apa yang pernah dia lakukan terhadapku. Aku akan bercinta dengannya kemudian meninggalkannya seolah-olah dia tak berarti apa-apa bagiku. Aku tahu itu mungkin tidak akan mematahkan hatinya, tapi itu pasti akan melukai harga dirinya, dan hanya itu yang bisa kuharapkan sekarang.
***
“Apa kau menikmati makan malamnya?” Brandon bersikap sopan dan kami berjalan berjauhan saat keluar restoran. Makan malam berjalan dengan baik, para tamu sudah pulang menggunakan taksi dan tampak cukup senang. Meskipun aku tidak yakin apakah itu karena anggur atau perusahaan. Dua botol wine berubah menjadi lima botol dan kami semua menjadi lebih gembira pada akhir makan malam.
“Aku menikmatinya. Mereka ramah.” Aku berjalan perlahan, mencoba untuk tidak tersandung. Dia menempatkan lengannya di depanku, tapi aku menolaknya.
“Biarkan aku membantumu, Katie. Aku tidak ingin kau jatuh.”
“Tidak, terima kasih.” Aku menggeleng. “Aku baik-baik sajaaa.” Kata-kataku sedikit melantur dan aku tertawa.
“Kau mabuk.”
“Tidak, aku tidak mabuk.” Aku cegukan.
“Katie.” Dia menghela napas dan menarikku ke arahnya. “Pegangan.”
Aku melingarkan tangan ke sekeilingnya dan mendorong payudaraku menempel tubuhnya, membiarkan tangan kiriku turun dan menikmati mengusap celana depannya. Kejantanannya menegang saat dia memegangku dan aku mencium lehernya.
“Ayo menari.” Aku berbisik di telinganya, membiarkan lidahku menjilat telinga bagian dalam sebelum menggigiti daun telinganya.
“Kau harus segera pulang.” Dia menggeleng, tapi aku bisa melihat gairah dari setiap pori-porinya.
“Aku tidak mau pulang.” Aku cegukan lagi. “Ayo menari, aku tahu tempatnya.”
“Bagaimana bisa kau tahu tempatnya?”
“Aku melihatnya kemarin.” Aku meraih tangannya. “Kumohon.” Kami berdiri di tengah jalan, dia menutup mata dan menghirup napas dalam-dalam.
“Baik, satu jam saja.”
“Aku hanya butuh satu jam.” Bisikku padanya saat kegembiraan memenuhiku. Satu jam sudah lebih dari cukup.
“Selamat datang di klub.” Seorang wanita berpakaian minim mengantar kami ke The X Room’ dan aku berpura-pura tidak melihat Brandon yang terkejut saat kami berjalan ke dalam klub yang gelap.
“Katie,” desisnya saat aku menyeretnya ke arah musik yang bergema. “Klub macam apa ini?”
“Aku tidak tahu.” Aku berbohong. “Aku hanya ingin menari.”
“Katie.” Dia meraih tanganku mencoba menarikku kembali, tapi aku hanya tertawa dan menjauh darinya. Aku berjalan melalui kerumunan sampai menemukan sebuah bilik kosong di sisi ruangan dan duduk. “Katie.” Matanya menyipit saat dia duduk di sebelahku. “Ini klub striptis. Kita tidak bisa menari di sini.”
“Ya, kita bisa.” Aku mendekatinya. “Aku bisa menari untukmu.”
“Apa maksudmu?”
“Maksudku, aku ingin menari untukmu.”
“Menari untukku?”
“Atau kau lebih suka aku mengatakannya tarian striptis?”
“Katie, aku tidak mengerti.” Dia melihat sekeliling kemudian kembali padaku. “Aku tidak berencana datang kemari malam ini.”
“Hanya karena kau tidak merencanakan itu bukan berarti itu tidak bisa terjadi.” Saat aku berbicara, aku memikirkan kembali semua hal tentang Brandon yang kutahu, dan aku sadar bahwa beberapa hal mulai berubah. “Kau ingin memegang kendali, kan, Brandon?” Aku berdiri dan mengangkanginya.
“Pria mana yang tidak menginginkannya?” Dia mengangkat bahu.
“Tidak, maksudku, kau yang harus berada dalam kontrol. Segalanya tentang jeritanmu.” Aku menggeleng heran. “Aku tidak tahu kenapa aku tidak pernah menyadari ini sebelumnya.”
“Aku tidak tahu apa yang kaubicarakan.”
“Apa hidupmu masih sama seperti sebelum kita bertemu?” Aku menarik bajuku ke samping hingga bisa menggesekkan tubuh kami dengan mudah. “Aku tahu kau punya banyak teman kencan dan tetap fokus pada pekerjaanmu, tapi aku tidak benar-benar mengenalmu.” Mataku menatapnya saat menciumnya ringan sementara dia menatap ke arahku dengan ekspresi waspada.
“Itu tidak penting ‘kan sekarang?”
“Memang tidak penting, tapi aku ingin tahu.” Aku mulai membuka kancing kemejanya dan mencium lehernya turun sampai ke dada. Tersentak saat tangannya menyusuri gaunku dan meraih pantatku.
“Hei, Guys.” Seorang gadis topless lucu berjalan ke arah kami. “Kalian bebas melakukan apa pun yang kalian inginkan, tapi jika kalian ingin tetap di sini, kalian harus memesan sebotol.”
“Sebotol apa?” Tanyaku.
“Sampanye, Katie.” Dan Brandon tertawa. “Kami pesan satu botol Dom.”
“Segera datang.” Gadis itu menggoyangkan payudaranya pada Brandon dan dia tersenyum senang.
“Aku tidak percaya kau menatap payudaranya.”
“Apa?” Dia menatapku dengan ekspresi bingung. “Kau tidak bisa seserius ini. Kau yang membawaku ke klub ini dan sekarang kau cemburu karena aku menatap payudara wanita lain.”
“Aku tidak cemburu.” Aku menundukkan kepala dan menggigit bahunya. Tidak ingin menganalisa perasaanku lebih dalam karena dia memang benar. Aku kesal pada gadis itu karena menggodanya dan bahkan marah padanya karena tampak menikmati pemandangan itu. Batinku berteriak: Wanita itu bukan urusanmu, Katie. Brandon sudah punya tunangan. “Itu bukan masalah untukku.”
“Tentu.” Dia tertawa dan ekspresinya tampak lebih santai. “Kenapa tidak kau lanjutkan saja tarianmu?” Tangannya mendorong pantatku dan membawaku lebih dekat dengannya. “Menarilah untukku dan aku akan melihat berapa banyak single yang kumiliki.”
“Apa?” Aku mengerutkan kening saat menyadari suasana telah berubah. Aku tidak berada dalam kendalinya dan memiliki punya kekuatan untuk menjadi mainan pribadinya. Aku tahu jika terus melanjutkan rencanaku untuk merayunya di klub ini, aku akan menjadi orang yang akhirnya tersakiti malam ini. Aku masih menggesekkan tubuh kami hingga dia mengulurkan tangan dan menurunkan bagian atas gaunku sampai payudaraku bergesekkan dengan dadanya.
“Lebih cepat sedikit.” Dia mengerang saat jari-jarinya menyusuri dan mengusap bagian dalam celanaku. “Itu saja.” Suaranya bergetar saat dia menyelipkan jari-jarinya ke dalamku. Aku terus bergerak, tapi juga merasakan kehancuran di hatiku. Aku sangat menginginkannya, tapi tidak seperti ini. Tidak setelah apa yang kulakukan. Aku menjauh dengan cepat dan mengusap kepalaku. “Aku tidak enak badan.” lirihku. “Aku akan kembali.” Lalu bergegas mencari kamar mandi dan cepat-cepat mencuci muka dengan air dan minum untuk menjernihkan pikiran. Tidak tahu apa yang akan kulakukan. Rencanaku hanya berpura-pura mabuk berat, membawanya ke klub striptis, lalu bercinta dan meninggalkannya. Tapi itu akan bekerja hanya jika dia tidak memegang kendali. Sekarang Brandon adalah orang yang mengendalikanku. Dia satu-satunya pria yang membuatku bergairah. Jika kami bercinta di bilik itu, maka brandonlah yang akan meninggalkanku dan membuatku merasa bersalah. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Air mata jatuh dari mataku saat melihat bayanganku di cermin. Apa yang sudah coba kulakukan? Akulah yang merencanakan ini saat berpikir dia masih sendiri, tapi sekarang aku tahu dia punya tunangan dan aku masih ingin melanjutkannya. Bagaimana bisa aku melakukan ini pada wanita lain? Aku meneguk air dan berjalan kembali di bawah lampu yang berkedip, musik keras dan wanita telanjang. Sadar bahwa aku telah membuat kesalahan.
“Apa kau baik-baik saja?” Brandon melompat segera setelah aku sampai di bilik, menatapku khawatir. “Apa yang terjadi?”
“Tidak ada.” Aku menggelengkan kepala dan menghindari kontak mata dengannya.
“Apa yang terjadi, Katie-ku?” Dia menarikku ke arahnya, jari-jarinya mengangkat daguku hingga aku menatapnya.
“Tidak ada.” Aku mengalihkan pandangan.
“Hei, Guys, ini Dom-nya.” Pelayan setengah telanjang datang lagi dan seketika aku ingin mengeluh.
“Taruh di atas meja, terima kasih.” Mata Brandon tidak pernah lepas dariku. “Katie,” lanjutnya. “Aku tahu sesuatu terjadi terjadi. Aku bisa melihat itu dari matamu. Katakan padaku!”
“Aku ingin pulang.” Gumamku, jantungku terasa runtuh saat dia memelukku.
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke mana pun kecuali kau memberi tahuku apa yang terjadi.” Dia mennarikku ke arahnya di atas sofa. “Katie,” jari-jarinya membelai pipiku. “Kumohon katakan padaku.”
“Hanya tidak enak badan.”
“Perlu kuantar ke dokter?” Matanya tampak khawatir dan aku menggeleng. Kenapa dia begitu baik?
Brandon membuat ini jauh lebih sulit untukku. Aku tidak ingin mengingat bagaimana dia merawatku. “Kaumau aku berperan jadi dokter?”
Dia menyeringai. Aku menggelengkan kepala saat dia menunjukkan ekspresi lucu. “Karena aku bisa berperan menjadi dokter, kau tahu, kan?”
“Hmm, kurasa aku ingat kau berperan cukup bagus waktu itu.”

“Aku tahu. Waktu itu, kau merawatku dan menjadikanku orang paling beruntung di dunia.” Dan kami hanya saling menatap untuk sejenak. Pada saat itu aku merasa kejadian tujuh tahun itu tidak pernah terjadi.
“Aku sangat beruntung malam itu.” Bisikku saat dia mencium pipiku.
“Malam itu aku ingin melamarmu.”
“Apa?” Aku menatapnya kaget.
“Itu akan menjadi hadiah Natalku.” Dia memutar matanya. “Aku akan melakukannya di rumah orang tuaku saat malam natal. Aku sudah merencanakan semuanya.”
“Aku tidak mengerti.” Jantungku berdebar kencang saat menatapnya. “Kau tidak pernah mengatakannya padaku.”
“Itu tidak akan menjadi kejutan natal jika aku mengatakannya.”
“Maaf aku berbohong.” Aku menunduk. “Kurasa aku tidak pernah berniat mengatakan itu sebelumnya. Tapi, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud menipumu.”
“Shh.” Dia menggeleng dan meraih tanganku. “Ayo pergi.”
“Tapi bagaimana Dom-nya?”
“Dom?” Dia tertawa dan meraih botol sebelum menulis catatan ‘kami membawanya’ di atas meja.
“Kita akan ke mana?”
“Pulang ke apartemenku.”
“Oh.”
“Jika kau tidak keberatan?” Tanyanya lembut, sebuah pertanyaan yang muncul dari matanya.
“Ya.” Aku mengangguk pelan. Hanya satu malam, pikirku. Aku hanya perlu satu malam untuk menghapusnya dari kepalaku.
***
Apartemennya mengingatkanku dengan tempat tinggal kami di New York. Sama-sama hangat, maskulin, dan aku langsung merasa nyaman. Kami berjalan ke apartemen dengan bibir saling menyatu segera setelah pintu tertutup. Dia mengangkatku dan menempatkan Dom di bawah lengannya saat mengangkat tubuhku.
“Kita akan ke mana?” Aku menatapnya saat berjalan melewati sesuatu yang tampak seperti pintu kamarnya.
“Ke kamar mandi tamu. Ukuran baknya lebih besar daripada di kamarku.”
“Oh, kenapa?”
“Salah satu kenangan terbaik yang kumiliki adalah saat kita bercinta di kamar mandi.” Dia tersenyum padaku. “Aku sering memikirkannya dan ingin membuat kenangan di bak mandi sekarang.”
“Oh.” Aku tersipu saat dia mengingatkanku di malam kami bercinta di kamar mandi. Sudah banyak tempat dan sex toy yang kami coba selama ini.

“Kemarilah.” Dia menarikku dan menciumku dengan keras. Aku mengangkat tangan dan dia menarik bajuku sebelum mengagumi payudara telanjangku. “Sial, kau seksi.”
“Kau sendiri tidak begitu buruk.” Aku melepas kemeja, kemudian celananya. “Kau tidak mengenakan celana dalam?”
“Aku berharap bisa bersenang-senang malam ini.”
“Kau?” Aku mengerutkan kening padanya. “Tapi sebelumnya kau bilang aku akan kecewa. Kau bilang kau tidak punya rencana bercinta denganku?”
“Aku berbohong.” Dia tertawa dan matanya meredup. “Aku juga bisa melakukannya, kau tahu.”
Aku membungkuk dan menciumnya dengan keras, menginginkannya menutup mulut agar tidak merusak suasana. Jari-jarinya bermain di rambutku kemudian perlahan-lahan menarik diri. “Jangan cemberut, aku hanya ingin mandi.” Dia menyalakan keran kemudian menuangkan sabun cair ke dalam bak mandi. Aku sangat bersemangat saat airnya mulai berbusa.
“Apa kau yakin kita akan cocok?”
“Ya.”
Brandon mengulurkan tangan dan menyelipkannya ke celana dalamku kemudian masuk ke bak mandi. “Mau bergabung denganku?” Dia tersenyum dan mengulurkan tangan dan aku langsung menyambutnya dengan senang hati, masuk ke dalam bak mandi dan berdiri di sana, tidak tahu di mana harus duduk. “Duduk di pangkuanku.” Dia menarikku ke arahnya dan mendudukkanku dengan punggung menempel dadanya. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh sesuatu lalu semua lampu padam. Kami duduk di sana dalam keheningan selama beberapa detik saat gelembung mengisi bak mandi. Brandon meraih kain lap dan mulai memandikanku. Tangannya mengusap leher dan bahuku, kemudian jatuh ke payudara dan perutku. “Lebarkan kakimu, biarkan aku membersihkannya.” Dia berbisik di telingaku dan menggunakan kain lap untuk membersihkan area pribadiku. Aku meleleh lagi menikmati nuansa tangannya yang kuat saat mereka mengusapkan kain lap bersabun dan hangat di sepanjang tubuhku. Aku memejamkan mata dan mengusap kakinya selama dia memandikanku. Mengerang saat jari-jarinya menggantikan lap untuk bereksplorasi. Mereka bergerak ke payudaraku dan meremasnya kemudian menangkup mereka dengan telapak tangannya lalu mencubit putingku dan mulai menciumi leherku. Jari-jarinya menyelinap di antara kakiku dan membelai klitku di dalam air. Ini lebih menggirahkan dan sedikit berbeda. Beberapa menit kemudian aku bergeser di dalam bak mandi dan mengangkanginya. Dia memasukkan payudaraku ke dalam mulutnya, aku mengulurkan tangan dan memegang kejantanannya hingga aku bisa menaikinya. Kami berdua mengerang saat aku memasukkan kejantanannya yang mengeras ke dalamku dan mulai berputar-putar. Gerakanku terbatas di tempat yang kecil, tapi dia menggunakan tangannya untuk menahan pantatku dan menuntunku naik-turun di atas kejantanannya. Napas kami terengah di tengah percintaan di dalam bak mandi hingga air memercik ke luar saat kami orgasme bersama-sama. Aku berbaring di atasnya dan dia memelukku selama beberapa menit saat tubuh kami masih gemetar.
“Kurasa kau harus mandi lagi.” katanya lembut dan mencium pipiku saat tangannya meraih kain lap lagi. Aku menggelengkan kepala dan merebutnya.
“Tidak, sekarang giliran aku yang memandikanku.” Aku menyeringai dan menurunkan kain lap ke kejantanannya.
Kami meninggalkan bak mandi sekitar tiga puluh menit kemudian dan bercinta sekali lagi sebelum berbaring di ranjang. Aku merasa lelah dan bingung. Hatiku bermain-main dengan logika dan aku tidak tahu mana yang akan menang.
“Aku sangat merindukanmu, Katie.” Brandon bergumam seraya bermain dengan payudaraku. “Aku memikirkan bercinta denganmu sepanjang waktu.”
Kata-katanya memicu sesuatu dalam diriku. Aku bangun dari tempat tidur dan Brandon terduduk. “Mau ke mana kau?” Gumamnya, seraya meraihku.
“Pulang.” Aku berdiri telanjang di depannya, merasa kuat dan puas.
“Apa?” Matanya menyipit dan dia mengusap rambut sebelum menggosok dagunya. “Ke mana kau akan pulang?”
“Ke hotel.” Aku memberinya senyum lebar kemudian membungkuk, menciumnya untuk terakhir kali. Saat aku menarik diri, aku membiarkan payudaraku menggesek lengannya dan menghindar secepat mungkin saat tangannya hendak memegang payudara kiriku.
“Kau tidak boleh pulang sekarang.” Dia mengerang. “Kau mabuk. Itu berbahaya.”
“Aku bukan gadis 18 tahun lagi, Brandon. Aku bisa mengatasinya.” Aku tertawa dan memakai bajuku. “Kurasa aku akan pulang dengan aman.”
“Tidak” Dia melompat dan mendekatiku. “Aku tidak akan membiarkanmu pergi.”
“Kau tidak akan bisa melakukannya, Brandon.” Aku memakai sepatuku. “Aku bukan gadis yang berada dalam kesulitan, dan aku tidak membutuhkanmu. Tapi terima kasih sudah bercinta denganku. Kau mengajariku beberapa trik baru.” Aku tersenyum padanya seraya meraih tasku. “Kurasa Matt akan menyukai semua trik yang kau ajarkan padaku.”
Wajahnya berubah layaknya pembunuh setelah mendengar ucapanku lalu aku melewatinya, berharap keluar dari apartemennya dengan kata terakhir. Aku merasa puas saat bergegas ke pintu. aku berhasil, aku sudah bercinta dengannya dan sekarang meninggalkannya tanpa memberikan petunjuk mengenai apa yang sedang terjadi. Aku mendapatkan apa yang kuinginkan dan sekarang aku yang memegang kendali. Aku menunjukkan padanya bahwa dia tak berarti sedikit pun layaknya aku untukknya. Tanganku meraih kenop pintu dan tersenyum pada diriku sendiri dalam kegembiraan, ini adalah inti permainannya dan aku akan menang. Aku berhasil. Sedetik kemudian, aku merasakan tangannya di pundakku.
“Apa yang kaulakukan?” Aku tersentak saat dia mendorongku ke pintu dan menempelkan tubuhnya padaku. Mengangkat tangannya ke atas bahuku dan bersandar padaku, menekanku ke pintu. Tubuhnya memerangkapku.
“Aku baru saja mengatakannya, Katie. Aku tidak akan membiarkanmu pergi.” Matanya berkilat ke arahku dan Brandon menyelipkan tangannya ke paha melalui celah bajuku. Jari-jarinya membuka pahaku dan mencapai vaginaku yang basah, menggosok klitku sebelum perlahan-lahan memasukiku. Tubuhku menyerah dalam sentuhannya dan kakiku bergerak tanpa sadar saat dia mengacaukanku dengan jari-jarinya. “Dan kurasa kau tidak ingin pergi sekarang, kan?” bisiknya di depan bibirku dan aku merintih seraya menutup mata saat klimaksku yang tiba-tiba dan cepat menjawabnya. Dan sekali lagi dia yang memegang kendali.
***

“Selamat pagi, Tukang tidur.” Wajah Brandon yang tersenyum menatap ke arahku saat aku terbangun. Aku menggeliat di tempat tidur dan menguap.
“Masih terlalu gelap untuk disebut pagi.” Aku mengerang dan menutup mata lagi.
“Tapi tidak terlalu dini untuk morning sex sekalipun.” Tangannya merayap dari perut ke payudara kananku dan aku mengerang saat dia mencubit putingku.
“Brandon.” Aku berguling ke arahnya. “Jangan sekarang.”
“Kurasa aku akan memberimu istirahat.” Dia tertawa dan menarikku ke arahnya. “Kurasa kita tidak berpakaian semalaman.”
“Ya.” Aku tersenyum kembali dan menciumnya lembut sebelum tertegun. Ini bukan mimpi. Ini nyata. Aku masih berada di tempat tidur dengan Brandon. Kilas balik dari malam sebelumnya kembali, aku berusaha meninggalkannya, dia menghentikanku dan merabaku hingga mencapai orgasme paling intens yang pernah kurasakan, kembali ke tempat tidur dan bercinta lagi sampai tertidur.
“Aku senang kau memutuskan untuk bermalam.” Matanya berkilat menatapku.
“Aku tidak punya banyak pilihan, kan?” Aku menjauh darinya.
“Kau selalu punya pilihan.”
“Aku ingin pergi tadi malam.”
“Pulang dan menelpon Matt?” Matanya menyipit. “Apa kau akan menceritakan padanya bagaimana kita bercinta lagi, tapi semua itu bukan masalah karena kau akan membiarkannya bercinta denganmu, seperti yang baru saja kita lakukan?”
“Berani-beraninya kau?” Aku menampar keras wajahnya dan terkejut saat melihat bekas tangan berwarna merah terang di wajahnya. “Ya Tuhan, aku minta maaf.”
“Tidak. Aku pantas mendapatkannya.” Dia berbaring dan mendesah. “Aku yang harusnya minta maaf.”
“Tidak, tidak apa-apa.” Aku menggelengkan kepala dan berbaring juga. “Itu kesalahanku. Aku ingin pergi dari semalam. Kurasa aku mencoba memainkan permainan dan tidak melakukan apa yang sudah kurencanakan.”
“Jadi kau tidak ingin benar-benar pergi?”
“Entahlah.” Aku mengangkat bahu dan memalingkan wajah.
“Maria dan aku tidak pernah bercinta,” Brandon berkata tanpa berpikir, dia berbalik ke arahku dengan tatapan intens.
“Apa?” Aku berbalik ke arahnya.
“Kami belum pernah bercinta.” Dia tertawa. “Aku tahu itu sulit dipercaya.”
“Tapi kalian bertunangan?” Aku menatapnya bingung. “Aku tidak mengerti.”
“Aku melakukan itu untuk membantunya.” Dia mengangkat bahu. “Aku tidak bisa mengatakannya padamu.”
“Apa kau mencintainya?” Bisikku, berteriak pada diriku sendiri untuk mengajukan pertanyaan yang melanda hatiku.
“Aku tidak mencintainya.” Dia menggeleng.
“Oh.” Aku menatapnya dengan mata lebar. Ke mana arah pembicaraan ini? Apa mungkin kami bisa kembali lagi?
“Aku merindukanmu, Katie.” Dia membungkuk ke arahku, jari-jarinya membelai sepanjang rambutku dan turun ke wajahku.
“Aku merindukanmu juga.” Aku mengulurkan tangan dan mengusapkan jari-jariku di sepanjang bibirnya. “Aku selalu membayangkan wajahmu. Aku tidak percaya aku di sini denganmu sekarang.”
“Aku harus memilikimu lagi. Aku ingin merasakan tubuhku di dalammu.” Dia meraih dan menarik tubuhku ke arahnya. “Biarkan aku mencintaimu, Katie.”
Aku mengangguk dan dia menarik dan menekuk lututku sebelum berpindah di belakangku.
“Aku ingat kau selalu suka doggy style.” Dia tertawa seraya memposisikan kejantanannya yang sudah keras di mulut vaginaku yang basah. “Aku bisa memasukimu lebih dalam dari belakang. Rasanya seperti kita menjadi satu.”
“Aku tahu.” Aku mengerang saat dia memasukiku. “Oh, Brandon. Jangan berhenti.” Dan mengerang lagi saat dia meluncur masuk dan keluar perlahan-lahan. “Kumohon, lebih cepat.”
“Apa kau percaya padaku, Katie?” Tangannya, mencengkeram pinggulku seraya meningkatkan sedikit kecepatannya.
“Ya.” Aku mengerang dan menutup mata saat jatuh ke depan perlahan.
“Biarkan aku membawamu dengan caraku yang berbeda.” Dia mendengus dan aku menjerit saat kejantanannya keluar dariku.
“Apa yang kaulakukan?” Aku mengerang, ingin merasakannya dalam diriku.
“Aku mengambil satu cherry2-mu dan biarkan aku mengambil cherry yang lain.”
“Apa?” Rahangku ternganga dan aku membeku.
“Biarkan aku mencintaimu, Katie.” Ibu jarinya menyerempet lubang pantatku dan aku melompat.
“Entahlah.” Aku menggelengkan kepala, menoleh ke belakang untuk melihat wajahnya. Aku melihat bagaimana dia memasukkan ibu jarinya ke dalam mulut dan mengisapnya. Lalu menurunkannya ke lubang pantatku dan mengusapnya lembut kemudian turun ke klitku dan naik lagi. Kakiku lemas setiap kali dia menyentuh klitku dan sarafku berada dalam siaga tinggi karena ibu jarinya yang memasukiku bolak-balik. Aku tidak mengatakan apa pun saat dia terus menggodaku. Kemudian jari-jarinya mencapai area di antara kakiku dan bermain dengan klitku sebelum memasukiku. Aku mengerang saat merasakan orgasme kecil mengguncang tubuh. Dia menarik jari-jarinya dan membalut kejantanannya dengan cairanku. Mendorongku maju dan menggosok ujung kejantanannya di sepanjang celah lubang pantatku. Aku mengerang lagi saat kejantanannya menggosok klitku dan mendorongku kembali padanya, berharap dia akan memasuki.
“Tunggu, Sayang.” Dia terus menggodaku kemudian aku merasakan ujungnya masuk ke lubang yang lain. Aku membeku saat dia memasukiku perlahan-lahan. Rasanya aneh dan berbeda. Aku terangsang oleh nuansanya di tempat yang belum pernah dimasuki siapa pun sebelumnya. Dan aku mengerang saat dia meluncur ke dalam perlahan-lahan.
“Sial, ini sangat ketat.” Dia bergumam dan aku merasa diriku kembali basah saat mendengar erangannya. “Oh, Katie. Sial. Aku akan klimaks.” Dia bergerak lebih cepat dan lebih cepat lagi. aku mencengkeram seprei saat dia mengambil alih lubang analku.
“Oh, Katie.” Brandon meneriakkan namaku sambil keluar-masuk vaginaku lagi. “Oh, sial.” Dia mengerang ketika memasukiku, jari-jarinya memegang pinggulku erat-erat saat bercinta denganku. “Oh, ya.” Tubuhnya menggigil saat klimaks dengan keras dan cepat, menarik kejantanannya dariku dan menumpahkan spermanya di pantat dan kakiku. Aku ambruk di tempat tidur lalu dia menarikku ke dalam pelukannya dari belakang. Aku tertidur dengan senyum kecil di wajah, merasa sakit dan bahagia. Dia tidak pernah bercinta dengan Maria, aku bernyanyi dalam hati, dia tidak mungkin mencintai Maria jika mereka tidak pernah bercinta. Kemudian aku tertidur.
Telepon berdering dan membangunkanku, tapi aku tidak membuka mata. Aku merasa puas dan bahagia ketika berbaring di tempat tidurnya, berharap untuk sebuah masa depan sekarang. Mungkin kita benar-benar memiliki kesempatan. Aku memberikan diriku padanya dan membiarkannya melakukan apa pun yang tidak akan pernah kuberikan pada siapapun yang tidak kupercaya. Jauh di dalam hati, aku tahu semuanya akan baik-baik saja.
Semuanya berjalan dengan lancar dan sesuai rencana.
“Maria, apa yang terjadi?” Dia berbisik di telpon. Aku mengintipnya melalui bulu mataku. “Tidak, aku tidak sibuk.” Kata-katannya menyakitiku, tapi aku mencoba untuk tidak cemburu. Dia tidak mencintainya, dia bahkan tidak pernah tidur dengannya. Aku baru saja memberikan diriku padanya, percaya padanya, dan dia akan melakukan hal yang benar.
“Apa yang terjadi dengan Harry?” Suaranya tajam. “Ya Tuhan.” Dia tersentak. “Tidak, tidak apa-apa. Aku bos dan bisa menjelaskannya. Aku akan pulang menggunakan penerbangan pertama. Katakan saja ayah masih di jalan. Sampaikan salamku padanya.” Kemudian dia menutup
telponnya dan duduk. Jantungku berdebar dan kepalaku berdenyut.
“Apa yang terjadi?” Aku bertanya dan dia menatapku heran.
“Aku harus pergi. Anakku di rumah sakit.”
“Anakmu?” Wajahku memucat saat menatapnya.
“Ya, anakku.” Dia berpaling dariku dan mulai memakai pakaian.
“Aku tidak mengerti.” Aku berbicara dengan lembut, tapi ingin berteriak, kupikir kaubilang padaku tidak pernah bercinta dengannya.
“Apa yang tidak kaumengerti?” Suaranya terdengar kesal. “Aku bukan seorang biksu. Aku bercinta, tidak memakai kondom, spermaku masuk, dan sekarang aku punya anak. ”
“Tapi kaubilang …” Kata-kata terhenti saat dia melempar bajuku padaku.
“Bersiap-siaplah. Kita harus pergi.” Dia keluar dari kamar dan aku berdiri pelan-pelan. Hatiku hancur dan bajinganku mengingatkanku bagaimana dia mengacaukanku sekali lagi. Aku memakai baju dan sepatuku perlahan-lahan. Merasa mati rasa luar dan dalam. Ini lebih buruk dari sebelumnya. Kali ini aku merasa seperti tidak akan pernah melupakan rasa sakit ini. Aku akan hancur selamanya karena orang ini, Brandon yang kucinta sekaligus kubenci.
“Ayo, Katie.” Ia berseru padaku dari pintu depan. “Ayo kita pergi.”

Dia membawaku kembali ke hotel dalam diam dan aku keluar dari mobil terburu-buru, merasa dunia ini akan berakhir.

“Terima kasih untuk semalam, Katie.” Dia berseru padaku ketika aku berjalan meninggalkannya. “Ini sangat berarti untukku.” Aku berjalan semakin, bergegas ke hotel dan butuh usaha keras untuk tak berbalik dan mengatakan terima kasih karena sudah menghabiskan malam denganku ketika dia bilang akan meneleponku.

26 thoughts on “The Ex Games Bagian II (Chapter 3)

  1. Wow terulang kembali rasa sakit katie di tinggalin sama pria masa lalunya..terlebih katie mengetahui jika brandon sudah memiliki anak dari maria..

    apakah tujuan brandon mendekati katie ?? apakah ia benar-benar mencintai katie ? atau ia hanya ingin menuntut balas rasa sakit hati telah di bohongi di masa lalunya?

    chingu ~ kapan reset part 14 nya di post ???

  2. Aku agak kesel sama brandon, pengen nampar mukanya sebenarnya niatan dia mendekati katie apa mending katie menjauh aja biar brandon tau rasanya sakit hati

  3. ya ampunnnnnnn…
    aku bingung sam brandon, sebenernya itu cinta enggak sih ma katie dan sebenernya giman hubunganya sama maria??

  4. Hoho.. Sbenarnya aku udah baca sampai tamat buku 3..
    Tp, ttep aja baca yg disini.. Krn klw terjemahin sndiri.. Bhasanya berantakan..
    Untung udah baca jdi, udah tau klw brandon nggak jahat…
    Hahaha.. Semangat trus buat nerjemahinnya yah eonn…
    Himnera….

  5. Waaa,,,di tunggu next part nya eon,,,jangan patah semangat ya eon,,teruslah menerjemahkan novel,,,wkwkwkwkwk

  6. WTF???
    Brando punya anak???
    Patah hati deh..bkn cma katie tp q jg ㅠㅠㅠㅠ
    Brandon mbingungi, sbnrnya maunya apa sih??
    Bnr2 g bisa d mengerti😦

  7. Sialann!!! Bencii benci bangett sama brandon,, apaa sih yang dia mau???

    Kenapa tadi dia ngalangin kattie?? Padhal sebntar lagi kattie itu bisa pergi buat permainkan brandon,, ishh setelahh gitu terus dia ngomong ke kattie gitu??
    Punyaa perasaan gak sih sebenernnya??
    Dan anaknya?? Anaknya dari siapaa coba??

  8. Aduuuh apa yg sbnernya terjdfi?? Katie kembali tersakiti karena brandon,, tapi apakah kali ini katie bner2 akan pergi menjauh…isshh gregetaan bener deeehh ayoo d lanjut saeng..

  9. ya ampun,brandon tega bgt…abs dy bkin katie melayang,pst lgsg di banting lg pe remuk perasaannya…bnr2 gk ngrti sm brandon…anak???sbnrnya rahasia apa aja sh yg dy punya???cz dy tertutup bgt…..

  10. woww brandon punya anak
    baguslah makin bodoh aja katie masih mengalah ama perasaannya terhadap brandon
    kalo gk mau mencoba lepas ya gk akan bisa bersama matt kan

  11. Katie terlalu lemah jadi cewek slalu nrrima lgy -_-
    jadi kesel sendiri am Katie -,-
    hah Brandon juga labil kata” nya berubah” trus , dasar gg tau malu -_-
    mau nya apa seh tuh cowok -_-
    Katie juga gg tegas am perasaan nya -,-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s