[Short Story] I’m the Man

“I’m the Man”
Cho Kyuhyun/Song Hyo In
NC Rated
By: Valuable94

tumblr_mo8kw9VXCu1s8ndaqo1_500

Wanita hamil punya segala hal yang berlebihan, terutama untuk Hyo In—istriku. Pertama, bagian tubuh yang berlebih seperti pipi bertambah chubby, dada semakin besar—aku suka bagian ini, kaki bengkak, dan tentu saja perutnya. Perut besar membuatnya berubah banyak, terutama gaya tidur. Jika dulu Hyo In tidur seperti jarum jam, sekarang dia seperti jarum kompas. Hanya menunjuk utara. Tidak terlalu banyak berputar. Which is good for me.

Untuk tambahan informasi saja, kesenanganku pada dadanya terpaksa berkurang karena satu, bengkak—berarti sakit, dan sakit tanda tidak boleh dipegang.

Apa aku tidak memegangnya sama sekali? Tentu saja tidak. Setiap hari aku melihatnya. Dengan atau pun tanpa penutup. Bayangkan betapa susahnya menahan itu. Maksudku, Hyo In sendiri yang memintaku dan tentu saja dengan sangat senang hati aku melakukannya.

Ini dia inti dari apa yang ingin kubicarakan. Sesuatu yang berlebihan dari seorang ibu hamil yang membawa kebahagiaan sekaligus kesengsaraan.

Hormon.

Jika kalian ingat, sekitar dua bulan yang lalu aku membuat kesalahan. Membuatnya pendarahan dan itu berarti tidak ada sex sampai beberapa bulan ke depan. Untungnya istriku yang pengertian tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia juga menginginkan itu dengan sedikit improvisasi dan intensitas yang banyak berkurang.

Berkurang lebih baik daripada tidak sama sekali.

Bagian buruknya adalah jatah makan bertambah, tenaga bertambah, dan itu berarti teriakannya semakin keras.

“Aku tidak mau warna pink!!!”

Ckck. Kasihan sekali kurir properti itu.
Aku menghampiri mereka di depan calon kamar si kembar. Memberikan uang tip pada kurir itu kemudian menangkup kedua bahu Hyo In setelah lelaki itu pergi, dan memutar tubuhnya sampai dia bisa melihatku.

“Baru sarapan?” tanyaku pelan.

“Pasti kau yang membelinya!” tapi dia membalasku dengan bentakan.
Ingat?
Kelebihan hormon.

Aku mengangguk pelan. Menghela napas seraya mengusap kedua lengan atasnya. “Itu untuk Sarang dan Joha.” Sepertinya aku tersenyum pun tidak akan meredakan amarahnya. Jadi bicara pelan adalah satu-satunya pilihan.

Hyo In menghela napas. Menyingkirkan kedua tanganku dari lengannya kemudian memeluk perut buncitnya. “Kubilang ambil meja yang biru saja. Warna pink terlalu perempuan.” Suaranya lebih pelan dari sebelumnya. Benar, kan?

“Mereka perempuan, Sayang. Aku hanya berusaha memberikan apa yang seharusnya mereka terima.”

“Kita baru akan mengetahuinya nanti. Aku memintamu mengambil meja biru karena itu lebih netral.”

Ok. Bagian ini aku memang selalu memaksa. Itu keyakinanku.

“Tapi aku yakin mereka perempuan,” kataku, pelan seraya mengelus perutnya dengan satu tangan sementara tangan yang lain menarik punggung bawahnya kemudian mendekatkan tubuh kami hingga menempel. Menatapnya dalam.

Perlahan Hyo In mengalungkan kedua tangannya di leherku. Membuat tengkukku berdiri. “Begitu?”

“Uh-huh.” Kepalaku mendongak. Aku menutup mata, menikmati usapan lembutnya di rambutku. Tanpa bisa menahan senyum.

“Heum, aku tahu kau ayah yang baik untuk mereka.”

“Yup.” Aku mengangguk mantab.

“Kau memberikan lebih dari apa yang mereka butuhkan.”

“Tepat.” Mataku tertutup semakin dalam karena usapan lembut Hyo In. sungguh nikmat.

“Kau sangat-sangat menyayangi mereka,” ucapnya, penuh penekanan.

“Benar sekali.”

“Tapi berhentilah berspekulasi sebelum ada bukti!!!”

“AAARRRGGGHH!” Jeritanku memenuhi kamar berukuran setengah lebih kecil dari kamar kami. Kupegangi kepalaku yang panas setelah rambutku ditarik Hyo In dengan keras. Mataku menyala padanya. Sementara Hyo In sudah melipat tangan di bawah dada, menatapku menantang.

“Mau lagi?”

Senyumku hilang berganti lirikan tajam. Dosa apa aku di masa lalu mendapatkan istri sepertinya?
“Kau mau bukti?” tanyaku, dengan meninggikan suara.

“Baik. Kita berangkat sekarang.”

Hyo In pergi dari calon kamar si kembar setelah menarik hidungku.

“Hei! Mau ke mana kau?”

“Ganti baju,” Hyo In berbalik sebelum sampai di depan pintu kamar kami, “kau! Cepat pakai celana. Boxermu terlihat menjijikkan.”

See? Jika wanita kelebihan energi, kemarahannya bisa melebar ke mana-mana, dan sekarang sudah sampai ke boxer-ku.

“Pakai kaos itu saja!” teriakannya teredam karena pintu kamar sudah dia tutup. Aku menghela napas seraya mengusap dada, kemudian memperhatikan boxer-ku. Ben 10 yang malang.

Duapuluh menit kemudian kami sampai di klinik bersalin milik Bibi Kang. Tangan Hyo In melingkar rapat di lengan kiriku. Ajaib, kan? Duapuluh menit yang lalu kami saling berteriak, sepuluh menit kemudian dia merengek memintaku menutup resleting belakang gaunnya, dan walaaa! Sekarang dia sudah gelendotan di lenganku seolah tak terjadi apa pun sebelumnya.

Kami masuk dan duduk di ruang tunggu. Hanya ada kami. Tidak mengherankan karena sekarang masih jam sembilan pagi. Kurasa klinik ini baru buka.

Aku memainkan ponsel. Memeriksa email dari kantor sementara aku mengambil libur untuk menata kamar si kembar. “Sayang.”

“Heum.” Aku menoleh pada Hyo In setelah mematikan ponsel.

“Menurumu bagaimana kalau si kembar bukan perempuan?”

Aku berpikir sejenak. Kemudian menghela napas sebelum menjawab, “Mau apa kau?” jangan heran. Sekedar informasi saja, istriku jadi sedikit aneh setelah hamil. Contohnya saat dia memintaku membawa underwear-nya saat pertemuan bisnis di Jeju, kalian ingat? Dan kurasa sekarang pun akan sama anehnya, tapi aku tak pernah bisa tidak menurutinya.

Senyumnya melebar. “Bagaimana kalau kita taruhan?” tawarnya.

Benar, kan? Dan biasanya akulah pihak yang paling dirugikan.

Aku bergeser semakin menempel padanya. “Kalau begitu aku yang menentukan taruhannya.” Hanya untuk jaga-jaga.

Ajaibnya lagi, kali ini dia mengangguk. Tumben. “Kalau aku menang, kau harus cuti mengajar besok. Plus, senam kegel setelah melahirkan.”

Hyo In selalu menganggap senam kegel itu menjijikkan—entah bagaimana caranya dia berpikir seperti itu. Kurasa, sekaranglah waktu yang tepat untuk memaksanya. Lagipula itu baik untuknya. Untukku juga—jika kalian tahu apa yang kumaksud.

Dahi Hyo In berkerut sesaat. Matanya menatap senyumku dengan lekat untuk beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. “Baiklah. Tapi jika aku yang menang,” aku tersenyum puas. Melupakan kemungkinan terburuk yang akan keluar dari bibir mungilnya yang tajam, “kau harus membuang meja pink di kamar si kembar.” Well, itu tujuan Hyo In yang sebenarnya, tapi dia membuat ini menjadi lebih menarik. God, I love this crazy girl.

“Satu lagi,” sergahnya, setelah aku mengangguk mantab.

“Aku akan mencukur bulu pubismu sampai si kembar berusia enam bulan.”

O-ow, aku mulai tidak menyukai ini.

“K-KENAPA HARUS BULU PU…”

Hyo In menutup mulutku dengan cepat saat teriakanku mengagetkan sepasang suami-istri yang baru saja keluar dari ruang periksa. Hyo In tersenyum sementara tangannya masih menutup mulutku. Tanpa memperhatikan pasangan itu, aku melepas tangan Hyo In dengan cepat, “Kau gila?” kutangkup wajah Hyo In kemudian meletakkan punggung tanganku di dahinya. Tidak panas. Itu berarti dia memang sedang gila.

Hyo In menggeleng. “Tidak, Sayang.” Senyumnya melebar. Aku menghela napas lagi, kali ini lebih panjang. Mendongakkan kepalaku seraya memijat bagian antara alis. Ini lebih dari sekedar memusingkan.

Aku-sangat-benci-waxing.

“Hyo-ya!” suara Bibi Kang membuyarkan kepeninganku.

“Kyu-ya!” Hyo In berdiri. Mengulurkan tangan padaku dengan senyum puas.

“Mau ikut?” itu bukan senyum, tapi seringaian.

Aku menggeleng lesu. Menatapnya malas.

“Sayang, jawabannya ada di dalam,” rayunya. Hyo In membungkuk dan mengecup bibirku sekilas.

Ok. Aku menyerah. Semudah itu. Hanya karena wanita gila ini.

Aku duduk di samping Hyo In. Menggenggam tangannya sementara dia berbaring di depanku. Gaun yang dia pakai terbuka menampakkan perutnya yang menggembung. Sebenarnya aku sangat suka melihat perut itu. Sedikit banyak itulah yang membuatku sangat ingin bercinta dengannya. Hyo In terlihat semakin seksi. Terkadang, aku juga ingin menangis melihatnya menggendong si kembar setiap hari dan masih mengajar. Jika kularang Hyo In hanya akan bilang “Aku akan berhenti mengajar kalau sudah tidak bisa berjalan.”

Keras kepala.

Gel sudah diratakan di atas perutnya. Genggaman tangan Hyo In semakin erat dan aku membalas sekaligus mencium buku-buku jarinya. Kurasa kami sama-sama berdebar tak sabar.

Antara kegel atau waxing.

“Aku ingin dengar detak jantung mereka,” pintaku.

Bibi Kang tersenyum kemudian mengeraskan speaker di sampingnya. Detak jantung mereka yang keras membuat senyumku melebar, begitu pun Hyo In. lalu tanpa kusadari, telunjuknya menghapus setetes air mata di sudut mataku. Kali ini aku membalasnya dengan ciuman di dahi, hidung, dan bibir.

“Bagaimana si kembar?” Tanya Hyo In.

“Mereka baik-baik saja. Sangat sehat,” Bibi Kang menghentikan alat USG pada satu titik di perut Hyo In.

“Mereka laki-laki atau … perempuan?” Suaraku sedikit tersedak. Kali ini genggaman tanganku yang mengetat pada Hyo In.

“Kalian yakin ingin tahu?” Bibi Kang mengangkat sebelah alisnya pada kami. Aku dan Hyo In mengangguk, “kebanyakan pasangan ingin ini menjadi kejutan setelah kelahiran.”

Sayangnya kami tidak seperti kebanyakan pasangan.

Aku mengangguk, begitu pun Hyo In.

Detak jantung si kembar hampir seirama denganku. Cepat, terdengar saling balap. Sementara Bibi Kang memperhatikan layar USG sebelum akhirnya menoleh pada kami.

Ayolah! Jangan sampai kegel kalah dengan waxing.

“Perempuan semua.”

And walaaaa!!! Kegel memang tiada duanya.

Aku terhenyak. Namun, tak bisa juga menahan senyum karena waxing akan benar-benar jauh dari hidupku. Terima kasih Tuhan. Aku akan lebih sering datang ke gereja lagi.

“Aku mau pulang,” ketus Hyo In tiba-tiba. Tanpa menolehku.

Selama perjalanan Hyo In tak mau menjawab pertanyaanku sekali pun. Mungkin dia sedang berpikir kalau ini tidak adil. Hei! Taruhan memang tak pernah adil. Selalu akan ada yang rugi. Sayangnya, istriku menggali lubang kuburnya sendiri. Pintar.

Tak mau mengambil resiko, aku memarkirkan mobil di pinggir jalan. Mematikan mesin kemudian memusatkan perhatian padanya.

“Sayang!”

Tidak ada jawaban.

“Kau marah?”

Definitely, YES. Harusnya aku tidak menanyakan itu.

Tanganku meluncur pelan mengusap rambutnya yang terurai. Hyo In masih tak mau menatapku. Pandangannya lurus ke depan dengan napas yang lebih tenang dari sebelumnya.

“Mau milkshake?” biasanya ini mempan.

Hyo In menggeleng. “Aku tidak mau senam kegel.” Suaranya tegas dan ketus.

Aku menghela napas. “Puding semangka?” ini yang terbaik.

Dia menolehku. Menatapku tajam kemudian menurunkan tanganku yang masih mengusap rambutnya. “Aku akan membuat surat ijin cuti malam ini, tapi tidak dengan kegel.”

Ckckck, maaf, Sayang. Kau tidak boleh lari karena aku tak akan membiarkannya.

Aku melihat arloji. Masih cukup pagi, tapi cukup panas. “Kita ke rumah ibumu,” aku mengambil ponsel, “aku akan menelpon ibumu untuk membuatkan puding semangka, heum?” itu penawaran pamungkas.

Kabar baiknya sebelum panggilanku diangkat ibu mertua, Hyo In berkata dengan mantap seraya mengangkat kedua tangan—menyerah. “Baiklah. Tapi aku hanya mau instruktur perempuan. Privat,” ucapnya penuh penekanan.

Aku mengecup dahinya lama.

Hyo In menyandarkan kepalanya di bahu kananku kemudian merebut ponsel dariku. “Kau menyetir saja. Aku yang akan bilang pada ibu.”

Cengiran sudah muncul di wajahnya. Itu berarti pertanda baik.

“Good.”

Kemudian mobil kami kembali melaju dengan kencang membelah jalanan dengan tenang.

a/n: hanya untuk mengobati kerinduanku untuk menulis short story ini. Nggak kerasa udah hampir dua bulan nggak nulis dan itu menyiksa sekali. Akhirnya lahirlah ini. Semoga yang kangen sama tulisanku terobati ya rindunya. Wkwkw *kePDan*

maaf ya belum bisa sering nulis lagi. Aku masih ada KKN+prakter ngajar di sekolah. Update sebulan sekali aja udah bagus. Hehe

semoga kalian menikmati ini dan tidak muntah ^^

62 thoughts on “[Short Story] I’m the Man

  1. ckck,, hyo in kalo hamil berubah 18000 derajat yah, jadi tambah garang.
    tapi aku suka!!! pokoknya masih setia menunggu kog eonny.

  2. hyo in kalau ngasi hukuman emng gk prnh beres dan selalu mengerikan. kyuhyun bisa apa kalau itu udh hormon dr ibu hamil. demi anak2 ya juga deh kyuhyun panjang sabar wkwk…
    ayah sebaik ini dan perhatian kyk kyuhyun gini yg susah di cari. dari hyo in hamil awal bulan sampai kini udh hampir mau melahirkan ,perhatian kyuhyun itu yg patut di puji.

  3. Ya ampun ni mah kocak abis. Hyoin lg hamil sifatny menggila. Pke mau gundulin rambut pubis kyuhyun segala. Kenapa juga kegel menjijikkan. Hahaha

  4. Aaaaa kangen! Hehehe sweet sekaliiiiiiii >< awww, haahaha sebenernya nungguin novel terjemahan dan reset juga sih hihihihi but, fighting unnie! ^^

  5. Untuk tambahan informasi saja, kesenanganku pada dadanya terpaksa berkurang karena satu, bengkak—berarti sakit, dan sakit tanda tidak boleh dipegang. —– APA INI??? wkakaka

    assemm, mesti tahan banting klo punya istri macem Hyo In mah, yg sabar mas kyu..:p

    aku sukkaaaaaaaaaa…:* aku kira dialog soal Grey kemarin bkalan dimasukkin, kekeke^^

    lanjutkan nak! jgn lupa ama Reset nya yeee..;)

  6. Kyuhyun harus extra sabar ngadepin hyo in,, demi si buah hati xD

    ngakak sendiri pas bagian boxer,,
    gambarnya ben 10, kyuhyun kekanakkan banget :v

  7. Good~ q jg ikt seneng keinginan cho kyuhyun yg mesum tercapai kkkk
    Hyo in semangat latihan kegel y kkkk
    Bwt authornya semangat bwt kkn + ngajarnya…good luck ^^

  8. memang sih katanya kalau orang hamil itu aneh
    tapi baru tau kalau yang satu ini lebih and super duper parah
    sabar ya kyuppa

    huum eonnie RESET kapan di next?

  9. hyo in hamil mau nya bnyk kali
    hahahha rasain tu kyu
    kpn lagi merasakan pendrtaan kan biasanya dia yg ngerjai org
    skrg org ngerjain dia
    hehehe
    saeng, btw reset kpn back ni??
    kangen ma ff yg atu itu
    hehehe

  10. ga kebayang kyu pake boxer ben 10,,,
    yg dikamar di kembar meja warna pink kan,,,???
    tapi tadi perasaan aq bacanya hyoin minta meja biru yg dibuang,,,
    kan hyoinnya mau warna biru,,,

  11. Akhirnyaaaaa ketemu sama couple ini ^_^😀
    mau tanya donk Eonni…
    Bulu Pubis itu apa ?
    Dan senam Kegel itu apa ?

  12. Sudah mw jadi ayah masih make boxer ben 10 hahahaha xD
    hormon ibu hamil memang menyeramkan kkkkkk yg sabar ya kyupa🙂

    tetap semangat ya , dan semoga semua kegiatan dan keinginan mu di lancarkan , amin ^^

  13. Woaaa akhirnya muncul juga keluarga ini ekekke.. yaahh kirain dri awal mereka udah tau kalo si kembar perempuan wkwkkw. Hyo in terima kekalahan dehh.. ahh ditunggu shorr story yg lainn. Sampe si kembar lahir

  14. couple yg aneh.kyuhyun harus ekstra sabar ngadepin hyo in.
    hyo in kok bisa kalah taruhan?biasanya kan feeling ibu lebih kuat.
    resetnya ditunggu

  15. eonni knpa nggak cwo aja???
    aku mau liat kyuhyun tersiksa!!!
    iya eon,gpp koq..yg pnting msh update dan aku nungguin trus🙂

  16. Wkwk
    Begini yaa ntar kalo kita kita para wanita hamil? Hehe
    Kasian suami, kalo di FF bisa lucu! Tp dlm kenyataanya who’s know?
    Selalu ada ide yang fresh kak! Pdhal cm beginian tp bs dibuat cerita yang lucu ringan so sweet dan ngegemesin {}

  17. Comeback homee
    Setelah nunggu 3x puasa 3x lebaran *hahalebaykayakbangtoyibaja akhirnyaa kyuhyun hyoin muncul
    Kangen banget sama couple ini
    Hormon ibu hamil emang bener2 ngerriii
    Untung aja kyuhyun sabar pake banget
    Coba kalo nggak bakal di cincang sampe halus deh si hyoin itu haha bercanda
    Nggak sabarr ngeliat anak mereka lahiirrr

  18. yee ~ kyuhyun yg menang dan jauh dari pencukuran menyakitkan itu.. hahaha bener-bener disini mereka pasangan aneh…mungkin karna hormon bumil makanya berubah ubah begitu cepatnya..hihihi

    Aku pengen baca reset part 14… aku udah fllow tweet mu chingu tp nyampe detik ini belum di fllwback juga.. hadehhh padahal penasaran bangetttt

  19. ciyeeeee yang bakal punyaa putri~ dua lagi wkwwk
    wkwk bingung mau komen apa lagi

    ittu apaa ? taruhannya konyol wkwk
    mencukur bulu pubis trus senam kegel ?? ckck pasangan omes hahaha

    kyu~ berdoa aja yaaa anak”mu ntar engga aneh kayak ibunya wkwk
    semangat yaa sayyy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s