[One Shot] Hello (Songfict)

Title: Hello
casts: Cho Kyuhyun (SJ)/Song Hyo In (OC)
Genre: Romance
Length: One Shot
rate: PG
Disclaimer: I do not own Kyuhyu. OC and this story are mine. OOC. Do not copy-paste and rename the casts.

An original songfict by Valuable94
Teen top – Hello

10427996_870718826324192_8572735274765275680_n


I can only look at you but you are gone somewhere and not here

Bisakah kukatakan tanpamu lebih buruk daripada tanpa udara?
Dan sayangnya aku harus mengakui bahwa tanpa keduanya aku tidak akan bisa hidup. Selalu kesulitan bernapas tanpa adanya mereka. Kyuhyun adalah udaraku, yang memberiku kehidupan dan pergi tanpa bisa kutahan.
Betapa pun aku merindukannya, bisakah ini kusimpan saja tanpa harus repot-repot mengatakannya?

Udara dingin berhembus pelan saat jendela terbuka. Aku bisa melihat segalanya dari sini. Jendela kamar Kyuhyun yang tertutup dan gelap. Aku duduk termenung di kursi yang selalu menjadi tempat paling nyaman untukku. Menatap seksama telpon dari kaleng bekas botol susu kental manis yang Kyuhyun buat untuk kami. Benangnya sudah menguning karena termakan waktu meski sudah kami ganti berkali-kali. Kutarik-tarik kecil benang telpon kemudian menempelkan mulut kaleng ke telinga. Biasanya tak butuh waktu lama untuk bisa mendengar kata “Halo” dari Kyuhyun, namun kenyatannya butuh waktu yang tak sebentar untukku menyadari bahwa yang kudengar selama beberapa menit terakhir hanya helaan napasku sendiri.

“Halo!” kata itu sebenarnya tak pernah bisa kuucapkan—sekali pun.

Entah sudah berapa helaan yang kuambil paksa. Berusaha menahan isakan pun percuma karena itu tidak akan pernah mengembalikan apa yang sudah pernah terjadi dan tidak bisa diputar ulang kembali. Kesempatan yang sudah kubuang dan kuabaikan dengan memilih menyembunyikan semuanya. Mataku terlalu malas untuk terbuka dan menghadapi kenyataan bahwa Kyuhyun tak lagi di sini, bahwa aku … begitu bodoh hanya karena memendam tiga kata untuknya.

I love you.
Dan ternyata memaki Kyuhyun sepanjang sungai Nil lebih mudah daripada mengucapkan ketiga kata itu.

Dasar payah.

“Kau memang payah.” Kujauhkan telingaku dari mulut kaleng. Menatapnya geram sebagaimana aku menatap Kyuhyun dengan lidah kecilnya yang tajam minta ampun.

“Bisakah kau tak bicara sekasar itu pada perempuan?” protesku, tak terima.

“Tidak bisa.” Aku bisa mendengar kekehannya merambat dari benang dan masuk ke telingaku dengan sempurna dan tanpa cacat.

Eeeuuuggghhh!!! Aku ingin sekali mencekiknya. “Aku ini sedang patah hati dan mestinya kau menghiburku.” Harus kuakui sekarang rasanya aku ingin menangis saja. Tapi tidak, tidak saat berbicara dengan Kyuhyun atau aku akan semakin meringis perih karena olok-olokannya. Akhirnya aku memutuskan diam sebentar—menenangkan diri—sebelum membalas Kyuhyun yang bahkan sebenarnya aku tidak tahu harus mengatakan apa untuk membalasnya.

Ini memang salahku. Tidak seharusnya aku melakukan ini hanya untuk memanas-manasi Kyuhyun dengan menyatakan cinta pada seorang temannya yang tidak cukup waras untuk menyukai perempuan. Maksudku dia benar-benar seorang herbivour man yang tidak mungkin menyukai seorang gadis. Parahnya aku tidak tahu itu dan Kyuhyun tidak pernah mengatakan padaku bahwa dia mengetahuinya. Damn!

Gelegar tawa Kyuhyun semakin lama semakin keras. Bisakah mulut itu kusumpal saja dengan mulutku? Oh, tidak! Kenapa aku bisa berpikiran menjijikkan seperti itu.

“Hahaha pe-perut-ku hahaha aduh hahaha hahaha …”

“DIAM!!!” kulempar telpon kalengnya kemudian berdiri cepat dan jendelaku terbuka lebar dengan suara bantingan yang tidak pelan. Ngomong-ngomong cukup untuk membangunkan koala yang doyan tidur. Napasku belum bisa teratur apalagi saat melihat Kyuhyun yang sudah duduk di kusen jendelanya memegangi perut dan telpon kalengnya. Dia tidak mengiraukan wajahku yang memerah terpanggang amarah—sebenarnya lebih ke malu. Ya Tuhan, bisa ganti wajahku sekarang juga?

“KYUHYUUUNNN-AH, KUBILANG BERHENTI TERTAWA!!!”

“HYO-YA, ANAK GADIS TIDAK BAIK TERIAK PAGI-PAGI!”

Ya, aku lupa masih ada ayah dan ibu di rumah dengan segudang ‘aturan anak gadis’ yang tidak boleh dilanggar. Kyuhyun menyeringai padaku dengan gerakan tangan menutup mulut seperti menutup resleting celana kemudian memanggilku “anak gadis” tanpa suara dengan mata menyipit dan gelengan seolah dia orangtua yang heran melihat kelakuan nakal anaknya.

“Kau!” geramku, dan itu malah membuat kyuhyun semakin menjengkelkan dan tampan untuk ukuran anak SMP. Dengan cepat aku mengambil gunting di meja belajarku kemudian kembali ke jendela. Kyuhyun masih diam memerhatikanku seraya melipat tangan di bawah dada. Matanya membelalak seketika saat aku mengangkat benang dan gunting dengan mata terbuka, siap memotong benang sekali ‘kres’. Ia menggeleng seraya mengancam akan memenggal kepalaku.

Aku menyeringai sebelum berkata, “O-ver.” lalu benang putih yang sedikit kusam itu terkulai tanpa daya—jadi dua bagian.

“HYO-YA, MATI KAAAUUU!!!”

Kututup jendela kamar sebelum mendengar sumpah serapah Kyuhyun yang tak terkendali dengan kekuatan berpuluh-puluh desibel. Terima kasih, aku masih terlalu sayang pada telingaku jika hanya untuk mendengar kata-kata kotor darinya.

(Hello hello) don’t say those words to me
(Hello hello) words saying that you will leave me—please

Hal pertama yang kulakukan setelah membuka mata adalah tertawa. Aku saja tidak tahu alasan mengapa harus menertawakan kenangan itu. Mungkin karena tingkah menggemaskan Kyuhyun yang datang ke rumahku membawa benang baru dan memaksaku mengganti benang yang sudah kupotong.

“Jangan pernah memotong benang ini lagi!” ketusnya, setelah melempar telpon kalengnya sendiri dari jendela kamarku. Dengan jarak hanya sepuluh meter dari kamarku, seharusnya memang tidak membutuhkan telpon kaleng hanya untuk mengobrol. Lagipula rumah Kyuhyun berada tepat di samping kanan rumahku.

“Manfaatkan ilmu pengetahuan yang ada.” Meski aku sudah membantah lebih baik menggunakan ponsel, tapi Kyuhyun tetaplah Kyuhyun yang tidak ingin dibantah.

“Kalau begitu ini adalah salah satu cara menghargai penemu-penemu terdahulu.” Dan meski alasan itu terkesan dibuat-buat, aku tetap menurutinya.

Sampai sekarang pun aku tetap menurutinya untuk tetap menggunakan telpon kaleng buatannya. Hanya untuk mendengarkan suara kehampaan di dalam kamarnya yang gelap, hanya untuk membiarkan diriku menuruti setiap kata hati yang kurasa benar. Menyukainya semenjak ia menjadi tetangga baruku. Percayalah, Kyuhyun kecil adalah anak manis yang tidak begitu banyak tingkah. Tapi anak manis itu berubah menjadi anak setan setelah kami masuk SMP dan semakin menjadi saat kami masuk SMA.

Kyuhyun adalah anak band dengan segudang prestasi akademik yang sedikit terabaikan karena kenakalannya. Ia juga siswa dengan banyak wanita yang menyukainya namun hanya beberapa dari mereka yang bisa menaklukkan Kyuhyun dan bertahan beberapa bulan.

Sementara aku?
Lupakan! Sampai kapan pun aku hanya tetangga yang tak begitu ingin dekat dengannya di sekolah. Kyuhyun milik semua orang di sekolah dan dia adaah milikku seorang saat di rumah. Aku cukup terima dengan keadaan itu. Eeemmm sebenarnya tidak begitu. Sudah lama aku ingin berteriak “HEY, KYUHYUH! LIHAT AKU! AKU MENYUKAIMU.” setiap kali aku menatap jendela kamarnya. Sayangnya, nyaliku tidak lebih besar dari rentetan huruf-huruf itu.

Aku takut dan malu.
Bagaimana jika Kyuhyun melihatku dengan aneh?
Bagaiman jika Kyuhyun menolakku?
Bagaimana jika Kyuhyun menjauhiku? dan
Bagaimana jika bla bla bla …

Jendela itu dulu selalu terbuka. Pagi, siang, dan sore akan selalu terbuka untukku. Senyum yang ia tebar di sekolah aku dapatkan secara special di rumah. Mendengarkannya bermain gitar di kusen jendela sampai diteriaki tetangga. Tapi sekarang semua itu pergi bersamanya. Berubah gelap dan senyap. Aku tidak sanggup melihatnya lebih lama lagi. Kututup wajahku dengan kedua tangan kemudian menguburnya ke dalam lutut yang tertekuk dan menarik benang telponnya beberapa kali. Berharap Kyuhyun akan datang dan menyelamatkanku dari kegelapan itu.

“Hey, lampunya mati. Kau baik-baik saja?”

“Ku-kurasa begitu,” jawabku, tak begitu yakin karena aku sendiri tak begitu nyaman dengan gelap. Membuatku tak bisa bernapas karena tidak ada yang bisa kulihat. Dan itu seakan terus menghimpitku.

“Kurasa kau tidak baik-baik saja. Boleh aku ke sana?”

Tidak. Ini bencana. “Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Percayalah!”

Kyuhyun mendengus dari seberang kemudian samar aku mendengar jendela kamarnya terbuka. Aku berdiri dan melakukan hal yang sama. Ia berkacak pinggang di sana dan memicingkan mata padaku. “You, stay there, okay?”

Heh, dasar sok inggris, batinku sebelum mengangguk dan menunjukkan jempolku padanya. Tak sampai lima menit Kyuhyun sampai di rumahku dan mencoba membuka pintu. Sepertinya itu tak berhasil karena kemudian ia mengetuk-ngetuk pintu sambil meneriakiku. Ya Tuhan, aku lupa menaruh kuncinya. Tunggu, ini bukan masalah bisa mencari atau tidak, tapi di sini gelap—sangat gelap. Bukannya aku tidak mau pergi keluar kamar, tapi aku benar-benar tak bisa melangkah dan kakiku sudah lemas terlebih dulu karena melihat sekitar kamarku saja yang tidak terlihat. Ini lebih mengerikan dari sekedar melihat film Anabelle dan aku merasa keringatku tak cukup hanya mengalir di wajah karena sekarang punggungku pun sudah basah. Kyuhyun benar. Aku memang tidak baik-baik saja.

Pikiranku teralihkan karena cahaya putih yang menyinari halaman sempit di luar kamarku. Aku menengok ke bawah dan melihat Kyuhyun berjalan pelan dengan senter di tangannya.

“Hey!” mataku refleks tertutup karena cahaya senter menyorot langsung ke wajahku.

“Buka pintumu sekarang!” teriaknya, setengah menggerutu.

“Aku tidak tahu kuncinya di mana,” balasku, tak kalah kesal.

“Kalau begitu cari.” Kyuhyun kembali menyorotkan senternya ke wajahku dan andai aku bisa turun sekarang, bisa dipastikan Kyuhyun mati tercekik.

“Kubilang tidak tahu.” Napasku memburu karena terlalu kesal. Dari sini aku sedikit bisa melihat seringaian di bibirnya, “kenapa tersenyum se-seperti itu?”

Kyuhyun menghela napas panjang dan tertunduk sebelum mendongak kembali padaku. Tangannya yang bebas masuk di saku celana piyama. “Aku tahu kau takut.” Ia menyeringai lagi.

“Aku tidak takut.” Tapi sangat takut. Sial, kenapa Kyuhyun tidak cepat cari tangga saja dan segera naik kemari. Ia menggeleng tak percaya kemudian menyenteri sekeliling halaman samping.

“Apa yang kaucari?” kumohon bertanyalah tentang tangga. Kumohon.

“Apa paman punya tangga?” bagus.

“Tangganya di halaman belakang di samping teras.” Kataku, cepat. Kyuhyun mengangguk dan bergegas ke sana. Pelan tapi pasti ia menempatkan tangga di kusen jendelaku kemudian menggigit santernya dan naik dengan cepat. Setelah sampai di depanku, ia berhenti lalu menatapku seksama. Dahiku mengerut melihatnya terlalu memperhatikanku.

Kenapa?
Wajahku aneh, ya?

Kyuhyun mendesis dan menggeleng. Kujauhkan wajahku saat Kyuhyun semakin mendekat padaku dan matanya memperhatikan sesuatu. “bibirmu kering sekali. Kau pasti sangat ketakutan.”

Aku menggeleng. “Ce-cepat naik!” perhatiannya teralih. Ia menyambut uluran tanganku yang membantunya masuk melalui jendela. Kyuhyun terlihat sibuk mencari sesuatu di saku piyamanya kemudian mengeluarkan sebatang lilin—patah. Wajahnya cemberut dan itu membuatku bisa melupakan ketakutanku sejenak.

Kyuhyun mendongak, memicingkan mata padaku. “Aku mendengar cekikikanmu,” geramnya. Ia mengambil satu benda lagi dari sakunya. Benda itu menghasilkan cahaya kuning lalu menyalakan lilinnya. Meneteskan beberapa lelehan di meja belajarku, mendirikan lilinnya meski sedikit miring karena patahannya tidak rata. Aku masih bertahan di dekat jendela sementara ia mencari-cari sesuatu di kamarku. Langkah lebarnya menuju nakas di samping ranjang lalu kembali padaku membawa segelas air yang selalu tersedia di sana. “Minumlah!” aku menurutinya sampai air itu habis tak bersisa. Dan aku mulai merasa lega. Namun perasaan itu tak bertahan lama karena Kyuhyun sudah membuatku jantungku berdetak cepat lagi setelah membersihkan keringat di pelipisku.

Ia menghela napas panjang—masih merangkum wajahku dengan kedua telapak tangannya. Memperhatikan wajahku seksama dengan wajah datar sebelum akhirnya ia tersenyum tipis. “K-kenapa?”

“Ayo tidur!” Kyuhyun sudah menggiringku naik ke atas ranjang sebelum aku bisa mengatakan apapun. Kami duduk berdampingan bersandar di heardboard ranjang. Lidahku masih kelu saat melihat kyuhyun sibuk menata bantal di belakang kami. Setelah itu ia membawa kepalaku bersandar di dadanya lalu mengusap lengan atasku.

“A-aku …”

“Sudahlah, tidur saja. Besok kita harus berangkat ujian pagi.” Aku mendongak dan melikat Kyuhyun menunduk, tersenyum tepat di atas wajahku di tengah remang malam dengan cahaya lilin saja. Bagaimana ini bisa terjadi? Aku tidak bisa memikirkannya. Otakku terlalu sibuk mencerna berbagai sikap Kyuhyun beberapa menit lalu hingga sekarang. Jantungku tak lagi berdetak. Mungkin aku tak lagi bisa merasakannya karena teralu cepat berdetak. Tubuhku terasa … melayang.

“Kau tidak takut dimarahi bibi?”

Kyuhyun mendesis seraya menarik poniku hingga kepalaku terantuk dadanya. Dan aku tidak bisa marah padanya karena sangat menyukai ini. “Aku anak laki-laki. Tidur di mana pun tidak masalah. Yang harus dipertanyakan adalah dirimu, Anak Gadis.” Suaranya begitu mantap menekan kata ‘anak gadis’.

“Ayah dan ibu ke rumah nenek, makanya aku mengunci rumah dari tadi,” ujarku, malu-malu.

“Kalau begitu tidak akan ada yang memarahi kita,” sahutnya enteng, lalu memelukku dari samping. Semakin erat dan wajahku terkubur kembali di dadanya. Di sini hangat dan nyaman. Terakhir kali kami melakukan ini dengannya adalah ketika kelas tiga SD. Saat kami belum punya malu bahkan untuk mandi bersama dan saling menggosok punggung.

Dan tidak ada yang memarahi kami.

Again today, I wait
Not being able to forget a single thing
Singing my heart out for you
Through this song and when it reaches you
If you can hear it, please hug me again

“Aku tidak mau merayakan apapun hari ini.”

“Tapi kau baru saja berhasil ujian masuk universitas. Kita harus …”

“Aku tidak peduli.” Dan benar-benar tak mau peduli tentang perayaan apapun. menatap Kyuhyun pun terasa sulit. Hari ini, untuk pertama kalinya wajah Kyuhyun berubah mengerikan. Ia menjadi laki-laki paling jahat yang tidak bisa kubenci dan aku sangat membenci diriku sendiri karena tak bisa membencinya saja. Mungkin tidak akan sesakit ini jika aku tidak menyukainya dan lebih mudah membiarkannya pergi tanpa terluka sama sekali.

Kyuhyun menghela napas panjang di sampingku. Entah dia berniat mengatakan apa, aku juga tidak mau tahu dan hanya ingin sendiri sekarang. Aku beranjak sebelum Kyuhyun berhasil meraih tanganku. Berjalan tanpa menghiraukan angin lembab malam ini. Seharusnya kami bersenang-senang hari ini, tapi ia merusaknya.

“Aku bisa pulang sendiri,” kataku datar.

Langkah Kyuhyun semakin cepat. Dari yang awalnya hanya mengikutiku dari belakang, sekarang langkah kami sudah sejajar. Aku berhenti mendadak dan mengikutiku meski ia berada satu langkah di depanku. Kyuhyun berbalik menatapku dan mendengus. Matanya memancarkan kekesalan tingkat tiga dan itu berarti … dia juga marah padaku. Hey, dia tidak punya hak atas itu.

“Berhenti bersikap kekanakan!” Suara Kyuhyun dingin dan tak bernada.

“Apa yang kauinginkan?” tanpa melihat wajahnya, tatapanku tertuju pada tangan Kyuhyun yang menggenggam pergelangan tanganku erat. Ia mendesah panjang sebelum melepas genggamannya dariku lalu tanpa peringatan meraih pinggangku dan menyimpan tubuhku dalam pelukannya. Ia sama sekali tak membiarkan ada rongga di antara kami hingga tak ada celah untukku memberontak. Suara pun tak bisa kukeluarkan karena air mataku sudah jatuh lebih dulu. Tidak, aku tidak mau Kyuhyun melihatku menangisinya.

“Aku bisa pulang enam bulan sekali,” katanya, pelan. Suara bariton-nya melemaskan tubuhku dan membuat bulu kudukku berdiri.

“Pe-pergi saja. A-aku t-tidak peduli.” Hanya itu yang bisa kukatakan, meskipun itu bukanlah kebenaran. Nyatanya aku sangat peduli. Bagaimana aku bisa terbiasa tidak melihatnya. Namun saat teringat apa yang sebenarnya paling kutakutkan bukanlah itu, aku kembali membenci betapa payahnya gadis sepertiku terhadap pria seperti Kyuhyun.

“Kumohon jangan marah padaku. Aku harus berangkat ke Amsterdam besok dan aku,” Kyuhyun melepas pelukannya lalu menangkup wajahku. Menghapus air mata di pipiku, “aku tidak bisa pergi jika kau seperti ini padaku.”

“KALAU BEGITU JANGAN PERGI, BODOH!” Tapi aku kembali menelan kata-kata itu sebelum bisa mengucapkannya. “Pergilah! Aku baik-baik saja.” Kuraih tangan Kyuhyun dari pipiku dan memberinya senyuman yang paling lebar. Hanya itu yang bisa kuberikan padanya. Dan saat mengingat Amsterdam, yang langsung kupikirkan adalah betapa banyaknya gadis Belanda yang menawan mata. Yang paling membuatku ketakutan hanyalah Kyuhyun akan melihat gadis lain dan tidak bisa marah karena aku tidak punya hak apapun atas itu. Bahkan jika mau Kyuhyun bisa pacaran dengan siapa pun tanpa perlu mempertimbangkan perasaanku.

Kyuhyun menghembuskan napas panjang sebelum ia menunduk dan menekan bibirku dengan bibirnya. Entah berapa detik atau menit, aku tidak bisa menghitungnya atau pun menyadari itu sebuah ciuman darinya sebelum bisa merasakan sakit karena hisapannya di bibir bawahku. Napas kami terengah setelah Kyuhyun melepas ciumannya.

Salah tingkah dan tak tahu apa yang harus kulakukan, aku berjalan melaluinya sebelum pingsan di depannya. Dadaku bergemuruh lagi. Ini lebih keras daripada saat ia memelukku di atas ranjang setahun lalu atau pun beberapa menit sebelum ini. Kyuhyun selalu berhasil mengobrak-abrik jalan napasku. Dia selalu bisa mengambil udara di sekelilingku. Hanya ia yang bisa melakukan itu.

“Kau tidak mau mengatakan sesuatu padaku?” aku berhenti tanpa berani menoleh.

“I love you. I really really love you, you idiot! Bagaimana mungkin kau tidak bisa melihat kekaguman dan keinginanku selama ini?” dan sekali lagi akal sehatku menciptakan garis merah di mana aku harus berhenti dan diam. Membiarkannya kembali tersimpan rapat tanpa seorang pun bisa mengetahuinya. Sejak dulu dan …

Sampai sekarang. Sampai kepalaku terangkat dari tempat persembunyian sementaranya dan kembali menatap ruangan gelap melalu jendela yang selalu memberikan kenangan indah bersama Kyuhyun. Saat ia marah, tertawa, bernyanyi, dan meneriakiku karena berulang kali memotong benang telpon kaleng setiap kali ia mengolok-olokku. Kutarik kembali benang telpon kemudian menempelkan mulut kaleng hingga beberapa saat dan tetap tak ada jawaban.

Ya, aku tahu bukan Kyuhyun yang idiot, tapi aku. Sudah enam bulan setelah ia pergi dan sekarang aku benar-benar menjadi idiot karena memercayai kata-kata ‘bisa pulang’ darinya malam itu hanya bullshit. Aku tahu persis bahwa kata “bisa” punya arti yang sangat berbeda dengan “pasti”.

“Dasar payah,” desahku, kemudian membanting telpon kalengnya ke lantai. Aku menutup mata dan menarik napas panjang setelah berbaring di ranjang. Suara rintik gerimis mengisi malam ini. Dan yang kuinginkan hanya tidur meringkuk sekarang. Bukan, maksudku tidur meringkuk di dalam pelukan Kyuhyun. Suara gerimis perlahan menghilang seiring dengan separuh kesadaranku. Lamat-lamat suara kaleng membentur dinding meningkatkan kadar kesadaranku dari dua puluh persen menjadi dua puluh satu persen. Pikiranku terlalu lelah seharian ini. Harapan yang kubawa sejak bangun tadi pagi melambung di ketinggian beratus-ratus kilometer di udara lalu terjun bebas ke bumi dan hancur berkeping-keping.

Aku ingin merasakan pelukannya lagi. Seperti ini, ya, seperti ini. Begitu erat dan menghangatkan dan mengatakan “I love you” berkali-kali padanya. Agar ia tahu hanya kata itulah yang selalu memenuhi kepalaku setiap kali aku bersamanya. Menerima setiap usapannya yang terasa begitu nyata kali ini.

“I love you. I love you.” Kepalaku menggesek dadanya yang semakin bidang dan nyaman. Mencari kehangatan dari sini dan menikmati alunan detak jantungnya yang mengeras setiap detiknya.

“I love you, too, sexy girl.” Bulu kudukku meremang. Tubuhku tak bisa bergerak bebas karena ada tangan besar yang melingkupiku. Mataku masih tak begitu jelas saat melihat seringaian samar di depanku. Itu seringaian Kyuhyun. Ya, benar, itu Kyuhyun.

“KYUHYUN-AH?!”

“Halo, Sweetheart. I love you too.” Mataku tak bisa berkedip saat Kyuhyun mendaratkan ciuman kilatnya di bibirku. Seringaiannya berubah cengiran dan itu tak pernah mengurangi segala kelebihan yang ada padanya.

“Kenapa bingung seperti itu?” dahinya mengerut dengan bibir mencebek seperti anak bebek. Sementara aku masih sibuk meraba pipinya yang semakin berisi dan matanya yang sayu seperti orang kurang tidur. Satu yang membuaku tak bisa lagi mengingkari bahwa dia benar-benar Kyuhyun. Cekungan di kedua sudut bibirnya saat ia tersenyum.

Ya Tuhan, dia-benar-benar-Kyuhyun.

“Kyuhyun-ah?” kataku lagi—masih tak ingin percaya. Ia mengangguk pasti. Oh, tidak. Apa yang sudah kukatakan tadi padanya?

Kupukul-pukul kepalaku berharap segera terbangun dari mimpi. Tapi rasanya semakin lama kepalaku semakin nyeri. “Tidak tidak tidak, itu hanya mimpi. Itu pasti mimpi. Apa yang sudah kukatakan tadi? Dasar payah.” Gumamku tanpa henti.

“Bukan. Itu nyata,” Kyuhyun menggenggam tanganku, menghentikan pukulan di kepalaku lalu menempelkannya di dadanya hingga aku bisa merasakan detak jantungnya yang mengeras, “kau bilang ‘I love you’ dan aku sudah menjawab ‘I love you too’ jadi sekarang kita pacaran.”

Kyuhyun menutup mata sebentar seraya menghela napas panjang lalu menatapku lekat dan mengunci pandanganku padanya. “Tahu tidak, aku sudah menunggumu mengatakan itu sejak SMP. Sejak kau menyatakan cinta pada herbivour man itu, saat matamu memerah karena meninggalkanmu pulang sendiri sementara aku mengencani siswi lain, saat kau ketakutan, saat kau bahagia, dan saat kau … membiarkanku pergi enam bulan lalu.” Kyuhyun mengakhiri penjelasan panjang itu dengan senyuman dan aku tahu itu berefek tidak baik padaku. Perutku dipenuhi roket yang siap meluncur membawaku ke ruang angkasa.

“Be-benarkah?” hanya itu yang bisa kukatakan dan mataku masih tak mau pergi darinya. Ia mengangguk lalu memelukku lagi. Menempelkan kepalaku di dadanya. Mataku tertutup menikmati detakan jantung kami yang bisa didengar tanpa menggunakan stetoskop.

“Kapan kau pulang?” akhirnya kau bisa memikirkan kata-kata lain selain “I love you”.

“Tadi siang saat kau masih ada kelas.”

“Kenapa kamarmu masih gelap?”

Kyuhyun mengecup puncak kepalaku sebelun berkata, “Jetlag,” Lalu kekehan keluar dari bibirnya, “aku lupa menyalakan lampu dan baru bangun saat telpon kalengnya berbunyi beberapa kali.”

“Itu aku, Bodoh.” Kupukul pelan dadanya.

“Aku tahu, Payah.” Kyuhyun tertawa seraya mengacak puncak kepalaku.

“Bagaimana kau bisa masuk kemari?”

“Jendelanya terbuka, jadi aku mengambil tangga di belakang rumah dan …”

“Dan kau memanjatnya?!” seruku, lalu mendorong dadanya menjauh dariku. Kyuhyun nyengir lagi tanpa ada raut bersalah sama sekali di wajahnya.

“NEKAT! Bagaimana kalau aku dimarahi ayah dan ibu, huh?” geramku.

“Memangnya di mana ayah dan ibumu?” kulirik jam di dinding.

“Kurasa mereka sudah tidur.” Senyum Kyuhyun melebar lalu ia kembali menarikku ke dalam pelukannya dan menaikkan kakinya di atas kakiku hingga aku mirip guling hidup.

“Kalau begitu tidak akan ada yang memarahi kita.”
END

40 thoughts on “[One Shot] Hello (Songfict)

  1. Eiyyy Hyo In ngegalauin si Kiyuu 😝 , tadinya aku ngira ini cerita sedih/? Eh trnyata bkan, hehe mana ending nya so sweet bnget lagi kkk ~
    Keren bnget ff nya eonni 👍 oh iyaa ff Reset apa kabarnya eonn?? Hehe

  2. Ya elah… Ini endingnya bkin greget.. Msih pngen tahu bgaimna selanjutnya..
    Tumben eonni bkn FF yg lumayan panjang lagi… Biasanyakn slalu klw bkn short story yah vigette..
    Tp, ini bgs eonni.. Berharap ada squel sih… Smangat eonni..

  3. kereeen bangeeeeeet . feel awalnya bener bener kerasa nyesek, nyesel, kangen, kehilangan.
    terus semua itu langsung hilang begitu ada kyuhyun di depan mana😉
    haaaak ;’) terharuuuu sukaaaa

  4. sumpahh baru baca lagi FF ini sejak hp kema format jdi mesti acak” lgi blog ini dan nemuin FF ini huahahahaha….sumpahh awalnya sedihh kirain Kyu g bakal balikk tp emg dasarnya evil..tiba” udah muncul d sebelah Hyo In ajj..
    😉

  5. Ampun sweet banget ini. Awalnya aku kirain kyuhyun punya cewek lain malah lebih parahnta aku oirain mati eh gak taunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s