[Chapter] If … Someday Part 2

Title: If … Someday
Genre: Sad romance, Friendship
Rate: PG-17
Length: Chapter
Casts: Ahn Yeosin (OC), Choi Siwon (SJ), Kim Ryeowook (SJ)

Disclaimer: FF ini adaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama karya Sifa Mermeida.

A novel by Sifa Mermeida
A fanfiction version by Valuable94

 10733980_1570632086500478_254014987513492336_n

“ Ya, Yeosin akan pulang bersamaku.” Ryeowook menggenggam tangan Yeosin erat. Ia melihat ada sesuatu yang membuat tangan Yeosin gemetar dan lembab. Gadis ini sedang tidak baik-baik saja kemudian mengalihkan pandangan pada Siwon yang nampak biasa saja.

Tidak ada keberatan sama sekali sementara Yeosin mati-matian menyembunyikan apa saja yang kemungkinan bisa Siwon curigai. Ryeowook berpikir aka nada yang menangis setelah ini. Dan kemungkinan besar adalah Yeosin.

“Kalau begitu kami pulang dulu, ya.”

Mereka melambai pada satu sama lain. Selepas kepergian Siwon dan Hyori, Yeosin menyentak tangan Ryewook yang masih menggenggamnya. “Aku bisa pulang sendiri.”

Sakit hati adalah bagian kecil dari kehidupan.

Part 2

Yeosin berbalik meninggalkan Ryeowook yang tersenyum miring di belakangnya. Menyadari Ryeowook tak lagi mengikutinya, Yeosin berbalik dan melemparkan tatapan sebal padanya. “Ayo! Kau bilang ingin ke ruang Kepala Sekolah.”

“Ya,” jawab Ryeowook. Sedikit berlari menyamai langkah cepat kaki kecil Yeosin.

Selama perjalanan menuju ruang Kepala Sekolah Yesin tak mengatakan apapun seperti sebelumnya. Mungkin suasana hatinya sedang buruk. Batin Ryeowook. Namun pemikirannya akan ‘sesuatu’ yang mungkin saja terjadi di antara Yeosin dan Siwon membuatnya tak bisa begitu saja melupakan betapa tersiksanya Yeosin beberapa menit lalu.

“Sampai.”

Ryeowook berhenti tepat di depan punggung Yeosin. Setelah gadis itu berbalik, ia baru menyadari betapa cantiknya Yeosin meski sedang kesal.

“Kenapa diam saja?” Yeosin memperhatikan raut gugup Ryeowook.

“O-OH, aku—aku—“

“Kau tidak mau berterima kasih padaku?”

Ryeowook tertawa, membenarkan letak ransel di punggungnya kemudian membungkuk. “Terima kasih, Nona Ahn Yeosin.”

Yeosin tersenyum puas dan menepuk kepala Ryeowook. “Bagus.” Ryeowook mendengus kemudian menegakkan punggungnya.

“Apa kau akan menungguku pulang.”

Yeosin menaikkan alisnya. “Untuk apa? Aku biasa pulang bersama Siwon.”

“Tapi Siwon sudah pulang dengan kekasihnya.” Ryeowook tersenyum miring sementara Yeosin Nampak kehilangan kata-kata dan hanya menatap Ryeowook karena berusaha menutupi kegugupannya dengan membenarkan letak rambutnya yang sebnearnya masih rapi.

“Dia bukan kekasihnya,” bantah Yeosin. Ia melipat tangannya di bawah dada.

“Lalu?”

“Dia calon tunangannya, Bodoh!” entah itu untuk Ryeowook atau dirinya sendiri, Yeosin hanya ingin meneriakkan kalimat itu—andai ia bisa melakukannya. Menghembuskan napas panjang seraya menunduk. Menyadari betapa bodohnya ia masuk ke dalam jebakannya sendiri. Sudah ada Hyori, itu artinya ia harus segera mundur—cepat.

“Aku pulang.”

“H-hei!”

“Tolong perbaiki ponselku.” Ryeowook memandang datar punggung Yeosin dari depan ruang Kepala Sekolah. Gadis itu menjauh perlahan hingga menghilang di balik tembok koridor menuju UKS.

***

Saat siang, kantin masih sama ramainya seperti hari-hari biasa. Ryeowook melihat ke sekeliling dan tersenyum ketika Yeosin melambai padanya. Ia bergegas menghampiri Yeosin dan duduk di hadapannya.

“Bagaimana hari pertama sekolah di sini?”

“Cukup menyenangkan. Saying sekali kita tidak satu kelas.” Yeosin mendengus kemudian melempari Ryeowook dengan tisu.

“Mau minum apa?”

“Tidak usah. Aku hanya ingin menyampaikan, ponselmu belum selesai diperbaiki.”

Yeosin mengangguk mengerti. “Tidak apa-apa.”

“Aku pergi, ya. Masih ada tugas yang belum kukerjakan.”

“Dasar sok rajin.”

Ryeowook hanya tertawa kemudian beranjak meninggalkan Yeosin sendiri. Saat sampai di depan pintu kantin ia dicegat teman-teman sekelasnya dan memaksanya untuk makan siang bersama mereka. Ia tak bisa menolaknya dan tanpa sepengetahuan Yeosin, Ryeowook terus saja memperhatikannya dari jarak jauh. Bahkan ia harus rela memiringkan kepalanya beberapa kali karena terhalang lalu lalang siswa-siswi lain.

“Hei! Apa yang kau lakukan?” salah satu teman Ryeowook menepuk pundaknya. Ia menggeleng.

“Ayo makan!”

Ia menoleh sekali lagi ke arah Yeosin dan perasaannya mulai tidak nyaman saat mendapati gadis itu tak lagi sendiri. Siwon sedang bertengkar dengannya. Terlihat saat mereka berebut segelas Orange Flute dan berakhir dengan jitakan keras di kepala Siwon. Yeosin tertawa bahagia setelah berhasil melukai Siwon. Dan Ryeowook bahagia karena melihat Yeosin bahagia.

Namun semua itu hilang ketika Hyori datang dari belakangnya. Ryeowook memperhatikan langkah girang Hyori yang segera mendekat ke meja Siwon dan Yeosin. Ia sudah memprediksi sebentar lagi tidak akan ada senyum Yeosin yang bisa menghangatkan hatinya.

Dan itu semua benar-benar terjadi. Hangat di hatinya perlahan menghilang bersama senyum Yeosin yang memudar.

Akan bertambah rumitkah ini?
Hanya mereka yang bisa memutuskan sampai di mana runtutan kenyataan yang mulai disadari Ryeowook akan berujung.

Ryeowook sadar ia mulai menyukai Yeosin. Dia gadis baik, teman pertamanya di sekolah ini. Gadis itu pula yang berani menepuk kepalanya seperti seekor anak anjing yang patuh. Poin paling pentingnya adalah ia menyukai semua itu.

Sepulang sekolah, Ryeowook menemukan Yeosin berjalan sendirian di halaman. Berjalan pelan di belakangnya kemudian saat sampai tepat di belakang Yeosin ia menepuk bahunya pelan namun bisa membuat gadis itu berjingkat.

“Ryeowook-ssi!” Yeosin mengelus dadanya pelan, “kenapa mengagetkanku?” ketusnya.

“Maaf, tapi aku tidak bermaksud seperti itu.”

“Lalu apa?”

“Mau pulang bersamaku?”

“Kau bawa mobil?”

Ryeowook menggeleng. “Naik kaki, bagaimana?”

Yeosin mendengus. “Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri.”

“Ke mana Siwon-ssi?” sebenarnya hanya ini yang ingin ia tanyakan dari tadi, tapi membuka pembicaraan dengan Yeosin memang sangat perlu. Mereka masih dua hari kenal satu sama lain.

Tanpa mengacuhkan Ryeowook, Yeosin berbalik dan meninggalkan Ryeowook di belakangnya.

Ryeowook berlari mengejarnya. “Kenapa kau tidak mau pulang denganku?”

“Karena aku tidak mau.”

“Kau hanya ingin pulang dengan Siwon, kan?”

“Bukan urusanmu.”

“Kalau begitu, ayo pulang denganku.”

“Tidak mau.”

“Kenapa? Lagipula kau tidak sedang bersama Siwon sekarang?”

Yeosin berbalik. Menatap tajam Ryeowook yang tersenyum miring di depannya. “Cukup. Aku memang tidak bersama Siwon sekarang dan aku-tidak-mau-pulang-denganmu, mengerti?”

Tangan Yeosin tertahan genggaman Ryeowook. “Siwon pulang dengan Hyori lagi?”

Wajah Yeosin memerah padam, napasnya terengah. Ia bersikeras melepaskan genggaman Ryeowook namun gagal. “Lepas!”

“Kau cemburu?” Ryewook tahu tak seharusnya ia seperti ini. Ia bisa saja membuat Yeosin tak mau lagi berbicara dengannya.

Terlalu dini untuk menyimpulakn ‘pengamatan laki-laki’nya dua hari ini. Yeosin menyembunyikan sesuatu dari Siwon.

Itulah yang ia yakini.

TBC

7 thoughts on “[Chapter] If … Someday Part 2

  1. aku juga udah baca versi novelnya dan emang itu cerita deep banget Aura, Farrel, dan Evan. Disini Evan jadi ryeowook kan?? berharap Yeosin berkhir manis dengan Ryeowook :*
    dilanjut eonni ffnya^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s