[Chapter] If … Someday Part 1

Title : If … Someday
Genre : Sad romance, Frienship
Rate : PG-17
Lenght : Chapter
Cast : Ahn Yeosin (OC), Choi Siwon (SJ), Kim Ryeowook (SJ)

Disclaimer       : FF ini adaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama karya Sifa Mermeida. Buat yang udah pernah baca tuh novel pasti tau ceritanya gimana. Mungkin FF nya gak akan sebagus novelnya, aku cuma pengen bikin versi FF-nya dan pasti akan banyak kekurangan di sini. Mohon komennya yang membangun dari readers.

A novel by Sifa Mermeida
A fanfiction version by Valuable94

1535502_698297310193920_1918689096_n

Prolog

Yang patut dilakukan saat kenyataan tak pernah menyambut angan adalah belajar merelakannya.

Hari ini suasana begitu cerah. Orang-orang ramai mengunjungi taman meskipun hanya sekedar membaca, berbincang, atau bermain dengan keluarga mereka. Tak ayal dengan seorang gadis yang tengah duduk berhadapan dengan laptop di depannya. Tanpa merasa terganggu sedikit pun dengan keadaan sekitar, gadis itu melanjutkan acara mengetiknya di bangku taman kota ini. Ia tampak sangat serius hingga tak menyadari kedatangan seorang lelaki yang tengah berjalan mengendap di belakangnya.

Apa gadis itu akan terlonjak karena kaget?
Jawabannya ya.

“CHOI SIWON-SSI!” amuk gadis itu.

Siwon tersenyum mengejek melihat itu kesal karena ulahnya. Rasanya seperti mendapat lotere satu milyar won saat ia berhasil membuat sahabat dari kecilnya.

“Ew, ew, Nona Ahn Yeosin yang manis ternyata sangat galak.”
Seketika geraman yang ia pendam hilang sudah. Yeosin tersenyum dalam hati meski wajahnya masih tertekuk dan masam. Sejujurnya ia tak pernah benar-benar marah pada Siwon. Ia selalu menyukainya meskipun Siwon membuatnya kesal seharian.

Hah … cerita yang sangat klasik bukan? Dua orang yang bersahabat dari kecil, selalu bersama dan menghabiskan waktu berdua tak mungkin jika tak di bumbui perasaan cinta. Oh, mungkin cinta di sini akan terasa sakit saat diceritakan karena pasti salah satu dari mereka akan memendam mati-matian perasaan itu.
Alasan yang klasik pula karena mereka tak ingin persahabatan hancur.

Ya Tuhan! Apakah mereka sedang dipermainkan takdir?

Yeosin mengalihkan perhatianya pada Siwon setelah mematikan laptop-nya—masih berpura-pura marah. “Kau masih ingat padaku, Tuan Muda?” ia mengerutkan dahi seraya memerhatikan ekpresi cengengesan milik Siwon yang sudah duduk di sampingnya, “mau apa kau kemari? Dua hari ini tidak pernah menghubungiku dan sekarang kau memintaku bertemu di taman,” ungapnya curiga.
Siwon tertawa pelan. Menampakkan pesonanya kembali dengan kedua lesung pipit di pipinya. “Maaf, aku ada urusan penting beberapa hari ini.”

Yeosin mendengus. “Sepenting apa sampai kau melupakanku?”
“Sangat penting. Ini menyangkut masa depanku.”

Yeosin memutar mata—malas—dengan pernyataan Siwon yang membosankan. “Aku sedang malas mendengar ocehanmu. Lebih baik sekarang katakan apa tujuanmu mengajakku ke sini?”

“Aku mau minta tolong.”

“Apa?”

“Maukah kau menemaniku membeli kado hari ini?” tanya Siwon tersebut dengan nada memohon yang dibuat-buat.

“Untuk siapa?” Yeosin mulai penasaran. Ulang tahunnya masih 6 bulan lagi.

“Kau ingat Park Hyori, kan?” Yeosin terdiam. Tenggorokannya nyeri bahkan hanya untuk menelan salivanya sendiri.

Hyori. Seharusnya dia sudah terbiasa mendengar Siwon mengucapkan nama itu dengan rona merah di wajah tampannya. Ia perempuan yang beruntung karena akan segera bertunangan dengan Siwon sementara Yeosin hanyalah sahabat yang merasa beruntung untuk bisa sekedar memberi rasa yang lebih pada Siwon.

“K-kenapa dengan Hyori?”

Siwon masih setia dengan senyumnya. “Dia sudahpulang dari Toronto seminggu yang lalu dan akan masuk ke sekolah kita. Hebat, kan?”

Adakah yang lebih menyakitkan dari ini?

Rasa takut itu kembali menyergap Yeosin. Bukan sebuah kesalahan dimana ia meletakkan cintanya pada seorang sahabat masa kecil hingga sekarang. Masalahnya adalah waktu yang selalu tak berpihak padanya.

Bisakah ia merelakan Siwon?

***

Part 1

Yeosin tak tahu ekspresi apa yang harus ia tunjukkan pada Siwon. Bodohnya lagi kenapa ia harus tersenyum jika hatinya sedang diiris pisau tumpul. Sudah ia duga memang akan selalu seperti ini. Ia tidak menyangkal pesona Hyori. Dia cantik, kaya, dan selalu ramah pada teman-temannya dan pasti sangat cocok dengan Siwon.
Pasangan yang serasi, bukan? Seperti Ashton Kutcer dan Mila Kunis. Sempurna. Dan hatinya semakin terluka.

Yeosin menunduk sesaat kemudian tersenyum kecut saat melihat raut bahagia Siwon. “Sepertinya kau bahagia sekali.”

“Yaa, tentu saja aku bahagia. Seorang calon tunangan yang sudah terpisah sejak lama. Kau tahu? Ini seperti dongeng.”

“Tapi perasaanku nyata dan bukan hanya dongeng. Bisakah kau tak menyebutkan nama gadis itu dengan wajah yang seperti itu, huh?!” teriak Yeosin dalam hati. Tapi ia kembali menjadi bodoh saat dihadapkan pada kenyataan yang tak mampu ia lawan.

“Jam berapa kita pergi?”

Disinilah mereka saat ini. Berkeliling di salah satu pusat perbelanjaan milik orang tua Siwon. Sudah hampir satu setengah jam namun mereka tak kunjung mendapatkan apa yang mereka cari. Lebih tepatnya adalah apa yang Siwon cari karena dari tadi Yeosin hanya mengekor malas di belakangnya. Terus menggerutu dalam hati karena Siwon terlalu bersemangat memilih kado.

“Baju?” tanya Siwon lagi.

Yeosin menggeleng untuk kesekian kalinya. Melipat kedua tangannya di bawah dada seraya memperhatikan baju yang Siwon tunjukkan padanya dengan geli. “Dia anak orang kaya. Bajunya pasti sudah lebih dari tiga lemari besar.”

Siwon memberengut, mengembalikan baju yang tidak murah itu ke tempat semula. Lalu mereka berpindah lagi ke tempat aksesoris. Siwon memilih sebuah gantungan kunci berbentuk hati dengan hiasan permata swarovski merah maroon di sekelilingnya. Terlihat sederhana namun elegan.

“Bagaimana?”

Yeosin mengambil benda itu kemudian menggantungnya di depan wajahnya sendiri, memperhatikannya lekat seakan ia tak pernah melihat barang semahal itu.

“Bungkus yang ini dengan kertas kado yang berwarna merah maroon juga!” Ia mengembalikan lagi benda itu di atas etalase kaca tanpa ekspresi. Lalu seorang shopkeeper membawanya untuk segera dibungkus. Garis bibir Siwon tertarik karena akhirnya ia menemukan benda yang berharga untuk diberikan pada Park Hyori—calon tunangannya.

Selesai membayar, mereka beranjak ke salah satu tempat makan di pusat perbelanjaan tersebut. Mengambil duduk di satu-satunya meja yang kosong. Lampu berwarna kuning menghangatkan suasana di sekitar mereka dan obrolan-obrolan dari para pengunjung. Sangat ramai karena sudah masuk waktu makan siang.

Seorang pelayan datang ke meja mereka setelah dipanggil oleh Siwon. “Aku pesan dua porsi deobokki, yang satu pedas tapi jangan di beri lada, harus pakai cabai. Dan satunya lagi deobokki yang biasa saja. Dan dua gelas jus apel tidak usah diberi susu semua lalu dessert-nya puding cokelat tanpa susu. Tolong digarnis dengan nanas dan strawberry. Pakai gula rendah lemak saja.”

Siwon menunjukkan jurus lesung pipitnya hingga pelayan tersebut terus menunduk seraya mencatat pesanan mereka dengan tangan gemetar.

Yeosin menghela napas panjang melihat tingkah Siwon. Namun ia tengah diliputi rasa bahagia sekarang. Bahagia pada setiap harapan hampa yang ia dapatkan dari Siwon. Hatinya bergemuruh, setidaknya setelah menjatuhkannya kedasar bumi yang paling dalam kali ini Siwon mengangkatnya kembali ke langit biru yang indah.

Entah lelaki itu sengaja membuatnya terbang atau Yeosin sendiri yang menerbangkan dirinya melampaui kemampua Siwon. Seharusnya hapal dengan yang Yeosin suka dan tak sukai merupakan hal wajar untuk sahabat masa kecil yang selalu bersama seperti mereka.

“Kau mau membuatku bertambah gendut dengan semua makanan berlemak yang kau pesan itu, huh?”

“Aku memesan yang low fat, tenang saja. Lagipula segendut apapun dirimu aku tetap menyukaimu.”

Rona merah menyergap pipi Yeosin secepat cahaya kilat. Siwon terkikik menahan tawa sedangkan Yeosin hanya mendengus sebal—menahan malu—seraya memukulkan tasnya pada bahu Siwon.

Keesokan harinya saat jam istirahat, Yeosin diam menatap orange float-nya seorang diri. Pipinya mengembung dan membutat birbirnya mengerucut. Sudah cukup lama ia menunggu Siwon yang tak kunjung datang.

Yeosin menghela napas panjang lagi. “Mungkin sebentar lagi.” Kesalahan yang berada di ururtan nomor satu dan sayangnya selalu ia lakukan, menunggu Siwon meski ia tahu tak seharusnya ia melakukan itu.

Mungkin hari ini bukanlah harinya. Bukan, terhitung sejak seminggu yang lalu seharusnya Yeosin akan tahu jika ini mungkin saja terjadi. Kemungkinan besar. Namun ia terus mengabaikan itu. Ia tahu segala kondisi yang berpotensi membuatnya sakit hati ketika nama wanita yang disebut Siwon muncul kembali setelah tenggelam dalam benua biru.

“Tidak. Aku tidak boleh menangis.”

Yeosin menegakkan punggungnya. Menghirup napas dalam kemudian menghembuskannya pelan. Namun sesak di dadanya saat mengingat bagaimana lebarnya senyum Siwon saat menceritakan Hyori selalu mengganggung jalannya oksigen mengisi paru-parunya.

“Tidak bisa.” Yeosin menggenggam tangannya membentuk tinju dan menggeram dalam. Ia benci dirinya yang seperti ini. Selalu rela sakit meski ia tahu ia bisa keluar dari sini. Tapi ia tak mau. Itu pilihan yang selalu ia percayai kebenarannya.

Bel masuk kelas menyadarkannya dari pahitnya senyum Siwon yang ia bayangkan. Yeosin mendongak, melihat jengah ke sekeliling kantin dan semua siswa mulai beranjak dari tempatnya. Menghembuskan napas kesal, ia menyambar jus nanas di depannya kemudian membuangnya ke tempat sampah saat pejalanan menuju kelas.

“Mati kau!” Yeosin menggumam kesal, “dasar tidak tahu diri. Aku membencimu.”

Kenyataannya? Yeosin masih berdiri di depan tong sampah. Melihat jus jeruk malang teronggok mengenaskan di sana.

“Seharusnya itu untuk Siwon, tapi aku tidak akan memarahimu jika kau menghabiskannya. Kurasa kalian tidak punya perbedaan.” Yeosin mengusap wajahnya kemudian meninggalkan teman yang baru saja mendengar segala cacian untuk Siwon.

Yeosin berjalan santai menyusuri koridor menuju kelasnya. Saat ia masuk, keadaan di kelas cukup ramai karena guru yang seharusnya mengajar belum datang. ia berhenti di tengah pintu memperhatikan bangkunya dan Siwon yang masih kosong.

“Kemana dia?” batin Yeosin.

Ia berjalan pelan menuju bangkunya. Sedikit merunduk takut karena beberapa sekelasnya bertingkah seperti Power Ranger tengah berperang melawan monster raksasa. Keriuhan itu terhenti tiba-tiba saat bokongnya baru saja menempel di kursi. Guru sejarahnya baru saja masuk diikuti Siwon yang berjalan santai di belakangnya.

Sesekali Yeosin menoleh kea rah Siwon seraya mengeluarkan buku dari tasnya. Siwon melakukan hal yang sama dengannya, namun tarikan di bibirnya yang tak pernah lepas.

“Aku juga bisa membuatnya tersenyum setiap hari. Memangnya apa yang istimewa dari gadis itu?” Mungkin yeosin lebih memilih minum racun tikus daripada mengatakan itu langsung pada Siwon.

“Bagaimana kencanmu, Tuan Choi Siwon Yang Sedang Jatuh Cinta?”

Dahi Siwon mengkerut saat mendengar pertanyaan Yeosin. “Kenapa? Suaramu aneh sekali.”

“Jawab saja pertanyaanku,” ketus Yeosin.

“Kau marah padaku karena aku berkencan dengan calon tunanganku?”

Yeosin menelan salivanya susah payah. Skak mat.
“Tidak.”

Siwon tertawa. Yeosin menampik tangan Siwon saat laki-laki itu menggodanya dengan mencolek pipi kirinya.

“Hentikan, Siwon-ah!”

“Sebenarnya ada apa denganmu?”

“Aku menyukaimu dan aku tidak suka kau berdekatan dengan Hyori.” Dan sekali lagi, Yeosin hanya bisa menahan kalimat itu di tenggorokannya.

“Aku hanya tidak suka kau melanggar janji. Biasanya kau tidak seperti ini,” lirih Yeosin. Tanpa menoleh Siwon.

“Janji? Aku … apa aku pernah mengatakan sesuatu padamu?”
Yeosin menghela napas panjang. “Lupakan! Lagipula aku bisa makan siang sendiri,” ia menoleh pada Siwon yang masih tertegun, “kantin bukanlah tempat yang menyeramkan. Tapi setidaknya itu adalah tempat yang menyenangkan untuk makan siang bersama sahabatku. Dan sayangnya dia melupakan itu.” Sebuah senyum paksaan ia berikan pada Siwon.

Pukulan penghapus di papan mengembalikan perhatian Yeosin pada gurunya di depan. Ia tak lagi mau melihat bagaimana raut wajah Siwon. Sejurus kemudian matanya memanas dan memaksa cairan hangat dari sana keluar.

“Maaf, aku benar-benar tidak mengingat itu,” lirih Siwon. Yeosin tersenyum di balik rambutnya. Setetes air itu jatuh dan membasahi buku pelajarannya.

Itu wajar, bukan? Manusia memang tempat lupa dan salah. Namun momen ini sangat tidak tepat.

Mengapa ini terjadi setelah kehadiran Hyori?
Sebelum ini Siwon tak pernah melupakannya.
Kenapa harus gadis itu?
Kenapa Siwon begitu?

Pemikiran itu terus memenuhi otak Yeosin sampai bel pulang berbunyi. Ia bergegas membereskan buku-bukunya secepat yang ia bisa. Beranjak dari bangkunya dan langsung berlari ke luar kelas. Ia masuk ke toilet perempuan untuk kembali merenung. Mengasihani dirinya sendiri di depan cermin. Mengatakan betapa bodohnya ia rela mengeluarkan air mata untuk seseorang yang bahkan tak pernah peduli akan perasaannya—yang lebih.

“Bodoh, bodoh, bodoh.” Ia memukuli kepalanya sendiri. frustrasi.
Suara ponsel Yeosin menginterupsi kegiatannya. Mengeluarkan ponselnya dari tas seraya menggerutu.

Telpon dari ayahnya.

Yeosin menghirup napas dalam kemudian menghelanya pelan sebelum menjawab telpon.

“Ayah.”

Yeosin keluar dari toilet seraya mengobrol dengan ayahnya. Berjalan pelan menyusuri koridor menuju parkiran sepeda, mengabaikan beberapa murid lain yang mendahulinya sambil berlari dan berteriak. Di tengah obrolan mereka, Yeosin terus menerus memanggil ayahnya karena suara beliau tiba-tiba menghilang.

“Ayah! Ayah! Halo ayah! Kau mendengarku?”

Tidak ada jawaban. Yeosin memperhatikan ponselnya lalu menggeram dalam. “Dasar ponsel sialan. Kenapa bateraimu harus habis di saat seperti ini?” geramnya.

Yeosin menatap kesal ponselnya yang mati. Menggenggam dan menggeram padanya kesal lalu tanpa adanya ketidaksengajaan ia menbanting ponselnya di lantai koridor.

“Arrggghh!!! Mati kau!”

Yeosin berteriak histeris seraya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Menghentak-hentakkan kaki seperti bocah umur lima tahun yang kehilangan permen. Kemudian bunyi ‘prek’ pelan mengalihkan perhatiannya.

“Oh, maaf, aku tidak tahu ponselmu ada di sini.”

Yeosin tertegun. Masih terdiam dengan mata terbelalak dan mulut menganga melihat seorang murid laki-laki merunduk di depannya, membereskan ponselnya yang retak dan body berantakan.
“P-ponsel-ku.” Yeosin tergagap. Ia menatap ponsel dan laki-laki yang membawanya bergantian.

“Ya Tuhan. Tidak mungkin.” Yeosin menggeleng tak percaya. Merebut ponselnya yang hancur di tangan laki-laki itu.

Laki-laki itu semakin panik. Ia berkata dengan cepat. “Maaf, aku tidak tahu kalau ponselmu ada di bawah. Tadi aku buru-buru ingin ke ruang Kepala Sekolah dan …”

“KAU MENGINJAK PONSELKU?!”

Laki-laki di depan Yeosin terhenyak. Ia membenarkan letak kacamata persegi panjangnya kemudian membungkuk. “Maaf, aku pasti akan menggantinya tapi tidak sekarang. aku ada urusan dengan Kepala Sekolah.”

Napas Yeosin menggebu. Namun saat melihat wajah lembut dan tulus saat laki-laki itu meminta maaf, emosinya menurun. Ia menghela napas panjang. Membenarkan letak jas almamaternya dan rambut yang berantakan.

“S-siapa kau? Sepertinya aku belum pernah melihatmu.”

Laki-laki itu tersenyum dan membungkuk sekali lagi. “Aku murid baru di sini. Baru saja pindah dari Beijing. Kim Ryeowook.”

Pelan, Yeosin menyambut tangan Ryeowook untuk saling menjabat. “Ahn Yeosin. Siswa tingkat ke dua.”

“Sepertinya kita seumuran. Aku juga di tingkat dua sekarang.”

Perlahan Yeosin mulai bisa relaks bersama Ryeowook. “Kukira aku tadi mendengar kau sedang buru-buru.”

Ryeowook menepuk dahinya. “Kau benar. Aku harus menemui Kepala Sekolah segera. Pesawatku delay empat jam.”

Yeosin mengangguk paham. “Bagaimana jika aku mengantarmu ke ruang Kepala Sekolah?”

Ryeowook melebarkan mata. “Benarkah?” ungkapnya tak percaya.
Yeosin mengangguk pasti. “Tapi kau harus mengganti ponselku!”

Untuk sesaat Ryeowook tertegun, lalu menerima ponsel rusak Yeosin dan memasukkannya ke dalam tas. “Pasti.”

Mereka berjalan santai menuju ruang Kepala Sekolah. Saat mereka berbelok dari depan UKS, obrolan mereka terhenti saat Siwon berteriak memanggil nama Yeosin. Mereka semua menoleh. Hanya ada raut bertanya dari wajah Ryeowooh, namun ekspresi Yeosin menyimpan begitu banyak prasangka.

Itu Hyori. Berlari bersama Siwon menuju arahnya. Dan ia benar-benar menghentikan waktu dan pergi dari sini sebelum Siwon dan Yeosin sampai di depannya. Tapi semua itu tetap saja di luar kendalinya. Waktu terus berjalan dan akhirnya mereka sampai di depannya. Dengan tangan saling menggenggam dan napas terengah.

“Yeosin-ah!” sapa Hyori.

Yeosin menunduk, begitu pun Ryeowook—meski ia tak mengenal mereka berdua. “Hyori-ya!” sapanya lebih pelan.

“Oh ya, siapa dia?” Yeosin menoleh ke sampingnya. Tepat dagu Siwon mengarah.

“O-oh, kenalkan namanya Kim Ryeowook. Dia siswa baru di sini.” Mungkin hanya Yeosin saja yang merasa canggung di sini.
Mereka bertiga saling berkenalan. “Aku Choi Siwon dan ini Lee Hyori, calon tunanganku.” Dan begitulah kenyataan menyadarkan Yeosin kembali akan siapa dirinya dan siapa Hyori bagi Siwon. Ia takkan pernah bisa menyangkal kebenaran yang seolah dibuat mutlak ini.

“Kenapa kau mencariku?” Tanya Yeosin setelah mereka dengan sesi berkenalan.

Siwon tersenyum lagi dan menempatkan rangkulannya di pundak kiri Hyori. “Aku akan pulang bersama Hyori. Kau bisa ‘kan pulang sendiri?”

Dadanya seperti dipukul palu besi. Kenapa ini bisa begitu menyesakkan.

“Hari ini saja. Besok kita akan pulang bersama lagi, bagaimana?”

“Siwon benar. Aku hanya ingin bersama Siwon seharian ini. Kau tidak keberatan, kan?”

Itu bukan pertanyaan. Tapi sebuah permintaan yang tidak mempunyai pilihan untuk ditolak.

Yeosin tersenyum pelan pada Siwon dan Hyori. “Ya, tidak apa-apa. Aku akan pulang bersama Ryeowook. Benar, kan?”

Ryeowook tertegun saat lengan kanan Yeosin melingkari lengannya. Ia menatap Yeosin dan Siwon bergantian kemudian berdeham pelan dan mengangguk. Mengusap tangan Yeosin yang memeluknya.

“Ya, Yeosin akan pulang bersamaku.”

TBC

Mohon kritik dn sarannya ya ^^

9 thoughts on “[Chapter] If … Someday Part 1

  1. haduh sakitnya tuh disini #nunjukmata
    gk kebayang dah klo jadi yeosin…
    persahabatan yg jadi cinta bertepuk sebelah tangan -_-

  2. ceritanya bener2 klasik.
    persahabatan yang di bumbui cinta.
    beda nya,karna ada ryeowook.
    jarang ryeowook jadi cast di ff..
    gak sabar pengen liat sejauh mana author ngembangin(?) karakter nya wookie..
    fighting aothor nim🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s