[Orifict] Hashi wo Kakeru (Build the bridge)

Title: Hashi wo Kakeru
Genre: Family
Casts: Hideyashu Rubiko, Hideyoshi Runako
Length: Drabble
Rate: K+

An original fiction by Valuable94

1175387_820214521374623_4526737979607026532_n
Aku berdiri di sini. Menapaki setiap anak tangga yang membawaku menuju satu hal yang paling menakjubkan dalam hidupku. Satu hal yang sangat aku rindukan.

Impian yang terwujud.

“Jangan menangis!” Ia mengatakannya lagi. Tersenyum di depanku begitu cemerlang dan membawa ketenangan.
Aku melingkarkan tangan pada lengan kanannya yang kuat kemudian berjalan bersamanya di antara sekian deret tamu undangan yang berdiri menyambut kami.

Tuxedo ini membuatnya bertambah gagah. Sosok pahlawan kecil yang selaku datang padaku. Sekalipun ia tengah kelaparan, maka kotak bekalnya takkan berarti dan memberikannya padaku. Bahkan tubuh kecilnya dulu yang selalu mengangkatku saat kakiku menyentuh air kolam ketika musim dingin.

“Runa-nii, airnya dingin!!!” Aku berteriak riang dengan mengecipakkan kaki di dalam kolam di belakang rumah.

“Berhenti bermain air! Kakimu bisa jadi balok es!”

Teriakannya sekuat tenaganya membawaku menjauh dari bahaya–setidaknya yang dikiranya itu berbahaya untukku.

Tangan itu pula yang selalu menggandengku saat menyeberang jembatan ketika berangkat dan pulang sekolah. Dengan peluit yang selalu tergantung di lehernya, ia melindungiku layaknya seorang instruktur keamanan.

Kemudian di antara deru napas panas ayah dan ibu di malam harinya, aku meringkuk dalam pelukan Runa-nii. Pelukan kecilnya yang hangat meski tak mampu melawan hembusan membekukan di antara kami. Teriakan murka ayah dan ibu karena hal yang tak pernah kupahami membuat tubuhku bergetar.

Aku takut mendengar teriakan-teriakan mereka.

“Aku di sini. Kau tidak perlu takut.”

Itu hanya kalimat sederhana. Sesederhana caranya menenangkanku. Kata-kata itulah yang selalu menghilangkan getaran di tubuhku.

Lalu saat selimut yang baru saja ia berikan padaku tersingkap paksa, aku melihat betapa tak berdayanya tangan-tangan kecil itu dari tarikan paksa tangan lembut ibu. Beliau membawaku, menjauhkan pandangan mata kami.

“RUNA-NII!” teriakku di tengah isakan.

“NII-SAN*, TOLONG AKU!” aku memukul tangan ibu yang memelukku erat–membawaku keluar dari kamar, “ibu aku tidak mau per-gi. Lepaskan aku!”

Meski itu semua tak berarti

Dan aku tak pernah membencinya meski ia hanya bisa diam dalam dekapan ayah. Tertunduk diam dan masih mengenakan piyama doraemon-nya.

Setelah malam itu aku selalu merasa sendiri dan kedinginan. Tidak ada lagi matanya yang meneduhkan, tangan-tangan kecil itu pergi begitu cepat pergi.

Sekarang saat aku berada di atas jembatan–diam dan sendiri. Di pinggir sungai Seine, melihat kerlip Eiffel yang membutakan mata dan orang-orang tertawa menyeberang di atas jembatan trampolin. Melompat–bergandengan tangan–sampai mereka tiba di seberang sungai. Dan aku sendiri lagi. Selalu sendiri.

Menatap fotoku bersama seorang pria dalam sebuah undangan pernikahan. Dadaku menyesak lagi dan air mata yang hangat meleleh begitu saja melawan terpaan angin musim dingin.

Kuhembusakan napas pelan. “Apa kau tahu aku ada di sini?” itu yang selalu aku gumamkan saat mengingat matanya yang ikut tersenyum saat menatapku.

Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam saku mantel. Sedikit menghangatkan. Berjalan pelan di trotoar dan berbelok sedikit ke dalam gang di pusat kota Paris. Aku menunduk melihat bangunan kokoh di depanku. Melangkah pelan dan berhenti sebelum aku mencapai pintu.

Tanganku tergantung di depan pintu yang baru saja terbuka. Di depanku, ada mata yang tersenyum dan bibir yang menggumamkan namaku.

“Rubi-chan,” ujarnya. Lebih seperti bisikan.

Aku tidak tahu ini nyata atau bukan. Dan yang lebih tak kumengerti lagi adalah tangan mungil yang dulu memelukku bertambah panjang dan lebar. Semakin hangat dan tetap menenangkan.

“Nii-san?” tanyaku masih tak percaya.

Ia melepaskan pelukanku. Menunjukkan padaku hidungnya yang memerah entah karena dingin atau terlalu banyak menangis.

“Aku di sini. Kau masih ingat aku.”

Kugenggam kedua tangannya. Menempelkannya di pipiku–lama–kemudian mendekapnya.

Paru-paruku menyempit dipenuhi kebahagiaan yang bercampur ketidakpercayaan.

Apa ini?
Berkah Tuhan?

“K-kupikir k-kita ti-dak akan bert-temu lagi.” ia memelukku lagi dan aku tenggelam dalam isakannya.

Ia menggiringku duduk di sofa. Dan mulai dibuat terkejut saat Damian duduk di samping ibu seraya mengusap bahunya yang bergetar.

“Damian?” ia tersenyum lembut di seberang meja.

“Aku mencarimu bersama ayah selama 12 tahun. Lalu aku bertemu tunanganmu beberapa bulan lalu di Jepang saat perusahaannya mengadakan kerja sama dengan perusahaan keluarga kita.”

Aku masih diam. Mendengarkannya melanjutkan segala hal yang sangat ingin kudengar.

“Dia yang membawaku kemari. Aku memutuskan berangkat ke Paris setelah dia menunjukkan undangan pernikahan kalian dan fotomu,” ia menghela napas dalam seraya tertunduk, “aku sangat putus asa. Bahkan saat ayah meninggal aku tak bisa mengabari kalian sama sekali.”

Aku terhenyak lalu isakan ibu semakin.keras.

“Satu tahun yang lalu. Serangan jantung. Dan … beliau merindukan kalian.” ibu jatuh dalam pelukan Damian yang hanya bisa terdiam. Meraung keras.

Ia memelukku lagi saat aku tertunduk dalam menahan hantaman palu di dadaku. “A-ayah,” gumamku.

“Sssttt, aku yang akan membawamu ke altar besok. Aku yang aku menggantikan ayah untukmu dan Damian. A-aku …”

Kalimatnya berhenti sampai di situ sampai satu isakan kecil keluar dari mulutnya. Aku membalas pelukannya dengan mengusap punggungnya naik-turun.

Lalu hari ini, aku terlempar kembali pada refleksi nyata seseorang yang tak pernah berhenti memikirkanku dan ibu. Dia selalu di sampingku dalam nyata dan pikiranku. Menempati ruang istimewa yang berdampingan rapi dengan tempat Damian.

Damianku yang menunggu di depan pendeta dengan senyumnya. Jembatan hidup yang Tuhan berikan pada Runako untuk kembali merengkuhku.

Sekuat genggaman tangannya padaku. Membawaku pada masa depanku.

Sekeras ia membangun jembatan untuk memutus hamparan air yang memisahkan kami.

END

Ket:
Nii-san: Kakak Laki-laki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s