[Ficlet] Aniya

Title: Aniya
Author: Valuable94
Casts: Lee Jonghyun (CNBLUE), Han Heeyeon (OC)
Genre: Hurt romance
Rate: PG-17
Lenght: Ficlet
Disclaimer: I do not own those casts. Story is mine. OOC. Do not copy-paste and rename the casts.

image

Aku segalanya bagimu.
Aku duniamu.
Aku milikmu.

“Jangan pernah pergi lagi!”

Suara lirih Jonghyun begitu menekan, mendominasi, dan penuh perintah. Aku menahan remasan tangannya di rambutku dari balik pelukan eratnya.

Dia tidak pernah tahu selalu ada airmata di setiap kebersamaan kami karena aku tak berniat untuk memberitahunya. Bodoh memang, tapi aku tak ingin keadaan kami semakin buruk hanya karena aku menangis di depannya.

“Jonghyun-ah,” kataku pelan. Mengusap punggungnya naik-turun dengan pelan.

Ia melepaskan pelukan kami. Menangkup wajahku, membakarku dengan tatapan matanya yang panas. “Jangan pergi!” Ia menekan kedua pipiku hingga terasa panas.

Aku mengangguk. Lemah seperti plastik yang meleleh karena tatapan panasnya, namun tetap menempel padanya.

Aku bodoh.

“Sakit.”

Aku mencoba melepas cengkeraman tangannya dari wajahku. Dia menggeleng, membuatku frustrasi karena wajahku semakin terasa sakit. Jika saja bisa, akan kukeluarkan raungan kesakitan untuk menghentikan tekanan kedua tangan besarnya. Tapi tidak, wajah putus asa Jonghyun membuatku kembali bodoh dengan membiarkan cengkeraman itu hingga mataku memanas dan airmataku membentuk aliran, menuruni pipi, membasahi jari Jonghyun.

Jonghyun melepaskan kedua tangannya. Membiarkanku bernapas lega, setidaknya untuk sesaat sebelum ia menyeretku paksa. Mengikuti langkah besarnya menaiki tangga. Napas tersengalnya menderu keras. Pergelangan tanganku panas, tapi aku hanya bisa diam tanpa berani mengeluh. Tidak, hatiku lebih sakit dari ini.

Katakan aku bodoh!

Pintu kamar kami dibanting. Aku berjingkat di belakangnya sebelum akhirnya ia melepaskan pegangan tangannya padaku, membuat efek seperti melemparku. Aku masih berdiri, namun tak cukup mampu untuk menatapnya.

“Ah!” aku meringis merasakan tekanan tangannya yang kuat di daguku.

“Apa kau tak bahagia bersamaku?” aku tertekan lagi hanya karena suaranya. Wajah keras itu menutupi topeng kelembutan yang ia berikan padaku pertama kali, 3 bulan yang lalu, saat kami baru saja menyatakan perasaan masing-masing.

Aku menggeleng dan ia tersenyum miring. Bibir penuhnya menyeringai. Detak jantungku semakin cepat dan kakiku berkeringat, dingin. Aku takut.

“Geotjimal (bohong)!”

Perih dan anyir menyatu di sudut bibirku. Kuhapus airmataku yang tak mau berhenti, memegangi pipi kiriku yang mungkin sudah memerah, mencetak bekas telapak tangannya yang menempel dengan keras, baru saja.

“Kau menangis. Kenapa?” suaranya sekeras karang. Tak ada kelembutan di sana.

Tanganku terhempas dari pipinya. Hatiku kembali dilempar dan diinjak. Jonghyun menarik napas dalam. Seperti baru saja lari cepat 100 meter. Matanya masih merah, tajam, dan panas. Aku tidak tahu apakah ia juga menangis sebelum menemukanku di stasiun kereta 30 menit yang lalu kemudian menyeretku pulang.

“Kau ingin meninggalkanku seperti Ibu dan dia.” ia mendorongku hingga tubuhku jatuh terduduk di atas ranjang. Takut dan terintimidasi di bawah kuasanya.

“Aku sangat mencintaimu, kau tahu itu?” aku mengangguk paham. Sangat paham. Jonghyun membuatku merasa paling dibutuhkan. Merasakan bahagia menjadi ‘dunia’ seorang Lee Jonghyun. Menikmati bagaimana ia melindungiku, tak ingin kehilanganku. Lalu semua itu berbalik menyakitiku. Secara fisik dan batin.

Aku bodoh!

“Lalu berhentilah menyakitiku,” mohonku. Berusaha menyembunyikan isakan. Ia semakin menekanku hingga punggungku menyentuh kasur. Napas panasnya berhembus kasar menerpa wajahku.

Mata tajam dan tangan mengungkung tubuhku. Feromonnya tak lagi semenggoda dulu. Ia berubah menjadi mengerikan. “Kau yang membuatku menyakitimu, Yeon-ie,” ia menekan wajahku lagi. Gigiku terasa ingin patah karenanya. “kau sama saja dengan Ibu dan wanita itu. Kalian sama saja.” Gigi-giginya bergemeretak.

Aku menggeleng tak terima. Dia selalu meluapkan kemarahan karena kepergian mereka padaku. Menyamakan semua wanita. Dan melimpahkan semua kesalahan pada wanita.

Kedua tanganku bertumpu di dadanya. Aku ingin mendorongnya sekuat tenaga namun terlalu lemah untuk itu dan yang kulakukan akhirnya hanya mengalungkan mereka di leher Jonghyun kemudian menariknya perlahan. Menempelkan dahi kami, menutup mata, meresapi setiap sapuan napas panas Jonghyun di wajahku. Aku terisak. “Maaf.”

Ia menempelkan bibir penuhnya di atas bibirku. Mengecupnya sekilas dan hatiku melega, sesak karena takut meluruh saat Jonghyun tersenyum di atas bibirku. Cengkeraman di wajahku meregang berganti usapan lembut.

“Jangan lakukan itu lagi. Aku tak mau merasakan kehilangan lagi.”

Aku tersenyum dan mengangguk. Jonghyun bangkit, masih menatapku lekat kemudian menempatkan kedua tangannya di bawah tengkuk dan lututku. Mengangkat tubuhku layaknya kapas kering. Dan aku lemah karena tatapannya.

Tanganku masih menggantung di lehernya sampai ia berhasil membuatku terbaring dan Jonghyun memantapkan posisi miringnya, memelukku. Membelengguku dalam pelukannya, membuatku bisa merasakan dentuman keras di dada bidangnya.

Panas. Pelukan eratnya membuatku berkeringat. Ini terlalu erat.

“Tidurlah,” kuusap pelan dadanya. “aku di sini.”

Jonghyun mengangguk. Mengusap punggungku pelan seraya menghembuskan napasy panjang di atas rambutku. Tidak sampai 30 menit napasnya berubah teratur, wajah kerasnya kembali melembut. Kulepas pelukannya yang melemah. Sedikit memberi jarak pada tubuh kami. Aku masih bertahan menatanya meski tubuh kami tak menempel.

Hembusan napas kami membelah sunyi di kamar ini. Aku berkelana bersama pemikiranku sendiri.

Kasihan padanya dan diriku sendiri.

Bertahan beberapa jam dengan posisi yang sama. Pikiranku kemana-mana. Jika tetap di sini semuanya akan terulang kembali dan berakhir dengan lebih parah. Jonghyun takkan membiarkanku keluar rumah barang sejengkal. Semakin menggenggamku.

Hingga fajar menjerit memberitahukan kedatangannya, mataku masih bertahan dengan keindahan mawar di wajah Jonghyun. Indah tapi menyakiti. Sejauh apa aku bisa bertahan dengan mawar ini benar-benar seperti teka-teki yang membingungkan.

Aku bangkit. Turun dari ranjang kemudian berjalan menuju kamar mandi. Menatap lesu refleksi wajah menyedihkanku. Lebam di sudut kiri bibir. Kunyalakan kran dan membasuh wajahku. Menyegarkan sekaligus perih. Tanganku tertumpu pada pinggiran wastafel. Tertunduk, merasakan perih yang lebih sakit di dalam jiwa.
Menghirup napas dalam meresapi ketenangan yang jarang kurasakan saat berada di rumah ini.

Lamunanku buyar. Pikiranku terpusat pada getar di saku kanan celana jeans-ku. Kuambil ponsel tersebut dan saat itu juga satu harapan setipis tisu terselip dalam hidupku.

From: Minhyuk

Masih ada waktu untuk membuat dirimu bahagia. Temui aku di stasiun.

Kesulitan menelan saliva, aku menggosok cepat rambutku yang terurai. Gusar.

Satu sentilan perih menyadarkanku. Saat kepala ini mendongak, lebam dan nyeri di tubuh yang lain membuatku tersadar.

Masih lebam, untuk hari ini, batinku. Tapi aku bisa saja terbunuh karena tekanan gila yang ia berikan padaku.

Kuputuskan untuk keluar dari kamar mandi. Menatap Jonghyun lekat dari jarak 3 meter. Tidak ada sesal. Aku ingin keluar dari sini. Kalian pikir cinta itu gila? Ya, itu benar. Tapi aku bukan wanita yang gila cinta tanpa rasional.

Aku bahagia menjadi segala baginya. Bahagia menjadi dunianya. Tapi menjadi miliknya begitu menyiksa.

Bukan tekanan yang kuinginkan. Bukan rasa takut, bukan juga proteksi berlebihan. Jonghyun terlalu mengangap semua hal yang mendekatiku akan membuatku pergi darinya. Menganggapku sama seperti Ibu dan kekasihnya yang pergi karena seorang pria asing.

Tidak.
Bukan seperti itu.

Aku berjalan pelan, berusaha tak menimbulkan suara dari tapak kakiku. Melihat wajah tenang Jonghyun dari celah pintu kamar untuk beberapa detik. Jonghyun menggenggam pasir terlalu erat hingga tak menyadari pasir itu keluar sedikit demi sedikit dari sela-sela jarinya.

“Maaf,” lirihku. Segera kututup pintu kamar pelan, sadar jika aku terlalu takut mengakui semuanya berakhir seperti yang ia takutkan selama ini.

Kubuka ponsel kembali, membalas pesan.

To: Minhyuk

Aku ingin bahagia. Tunggu aku!

END

18 thoughts on “[Ficlet] Aniya

  1. ahhhhh jgn end duluuu dongggg….akuvmau tau nasib jonghyun gimama kayanya jonghyun itu kena penyakit phobia gtuuu..ahhh.. Heeyon jgn d tnggal jonghyun..

  2. JONGHYUN!!!! TIDAAAAK!!!! Jong gamungkin kasar sama perempuaaan ;( *terlalu terbawa suasana😄
    Ga akan minta sequel karena sequelnya pasti Yeon sama Minyuk😄
    Minta kelanjutan kisah hidup Jong aja😄
    Anw Jong keluar tiba2 inget Reset lolol xixixiixix heheheh :3

  3. itu jonghyun udah kaya’ psikopat,,,
    minggat ama minhyuk end.na,,,
    butuh sequel ini itu gimna nasib jonghyun pas bangun tidur,,,,

  4. aigoo aww jonghyun kasar! karna saking takut nya kehilangan jd bgtu ahh~ kasian sih
    suka sama kata2 nya ” Jonghyun menggenggam pasir terlalu erat hingga tak menyadari pasir itu keluar sedikit demi sedikit dari sela-sela jarinya.” kata2 yg bagus hehehe

  5. Annyeong authornim..
    Reader baru ceritanya.. Tau blog ini dari rekomen ff Stelah browsing bbrapa kali, dan mlih ff ini buat yg prtma kali dibaca karna sngaja plih ff oneshot biar cpet slesai bacanya dan lagi karna nmu pict Mr.John 1 inii 😊😊 aiigoo Im the one of Boice familyy 😂😂hihihihihi
    Aah iya blik ke komen..
    Ceritanya bkin nagihh, msih pnasaran sama detile background traumanya jonghyun. Juga pnsaran sma yg dialami jonghyun sbnrnya.
    Tapi ya gamungkin saya mnta sequel yaa.. Iyakali stlah hampir 2 th bru mnta sequel 😁😁hiihihi
    Okelah, gaada yg mau dikritak-kritik dari ceritanya. Cuma mau baca lagi ajaaa.. Annyeong ijin baca ff2mu yaaa.. Gomawooo, mianhae h acak2😊😊😊😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s