[Short Story] An Unstoppable River

An Unstoppable River
Cho Kyuhyun/Song Hyo In
By: Valuable94

(Lanjutan “A Day”)

Image

7.30 am

At Kyuhyun-Hyo In’s Apartment

“Berhenti mengeluh, oppa. Dan cepat habiskan sarapanmu.”

Kyuhyun mendengus, meletakkan sedoknya di samping sup kemudian memangku dagu dengan tangan kiri. Menatap malas Hyo In yang kini tengah sibuk dengan kertas-kertas di atas meja makan dan roti panggang yang baru digigit satu kali.

“Habiskan dulu sarapanmu,” gerutu Kyuhyun.

“Sebentar lagi selesai. Tenang saja.”

Kyuhyun mendengus. Ia beranjak dari duduknya kemudian menutup kertas di depan Hyo In. Ia berlalu begitu saja tanpa meliha Hyo In yang tengah menatapnya kesal seraya mencebekkan bibirnya.

“Ya! Oppa!”

“Aku berangkat.”

Hyo In mendengus. Ia kembali fokus pada pekerjaannya. Mengabaikan Kyuhyun yang tengah memerhatikannya dari ruang tamu, menggelengkan kepala heran saat melihat Hyo In yang ia rasa mulai terlalu sibuk dengan urusan di sekolah tempat isterinya bekerja. Ia maklum akan hal itu, setidaknya untuk beberapa hari. Namun pada kenyataannya, ia memang harus menahan rasa geramnya terhadap Hyo In yang mulai mengesampingkan rumah tangga mereka. Masalah sepele seperti menu sarapan yang sebenarnya bukan masalah besar, kini menjadi hal yang patut mereka perdebatkan setiap paginya. Mungkin ini memang normal untuk setiap orang yang sudah berkeluarga.

Kyuhyun menghela napas panjang, membenahi letak jasnya kemudian beranjak dari rumah mereka menuju kantor.

7 pm

Nada panggilan tak terjawab yang sudah beberapa kali Kyuhyun dengar tetap tak membuat ia berhenti mencoba menghubungi ponsel Hyo In. Menggigiti bibir bawahnya sebagai salah satu ekspresi khawatirnya pada Hyo In yang tak kunjung pulang. Terlebih di kilat dan gemuruh petir yang menyambar datang bersamaan dengan hujan yang deras.

Kyuhyun berdecak kesal, membanting ponselnya di atas sofa kemudian menyandarkan punggung letihnya pada sandaran sofa seraya mengusap wajah tampannya, frustrasi. 15 menit berlalu selama 15 tahun, bagi Kyuhyun yang menyiksa batinnya dengan pemikiran-pemikiran tak wajarnya mengenai Hyo In.

Ia berjalan malas menuju lemari di atas wastafel di dapur. Mengambil ramyun instan yang menjadi makan malammya seminggu ini. Mendesah malas lagi saat ia hanya mendapati ramyun-nya tertinggal 1 bungkus. Ia mulai menggulung lengan pangjang kemeja kerjanya kemudian mengisi panci dengan air lalu menaruhnya di atas kompor yang sudah ia nyalakan.

“Aku pulang.”

Kyuhyun menoleh cepat seraya membuka bungkus ramyun. Setelah melihat Hyo In masuk ke dalam rumah, ia mendesah lega dengan senyum yang tersembunyi lalu ia kembali berkutat dengan ramyun-nya lagi.

“Wasseo,” sahut Kyuhyun seraya menoleh ke arah Hyo In. Sedikit tertegun saat melihat isteri-nya pulang dalam keadaan basah kuyup.

Darah Kyuhyun terasa mendidih karen Hyo In namun ia hanya mampu meredamnya lagi, tak tahu kapan gunung amarah itu akan memuntahkan lava-nya. Ia terlalu lelah hari ini. Bahkan untuk sekedar berbasa-basi.

“Cepat mandi,” ujar Kyuhyun tanpa menoleh Hyo In. Membuat gadis itu kembali mengunci mulutnya sekedar untuk menanyakan kabar Kyuhyun hari ini.

Sepuluh menit kemudian Hyo In duduk di samping Kyuhyun yang tengah menikmati ramyun panasnya.

Hyo In mengernyit heran melihat tampilan berantakan Kyuhyun dengan kemeja kerjanya yang belum ia ganti.

“Harusnya ganti bajumu dulu sebelum makan,” ujar Hyo In seraya menggosok rambut basahnya dengan handuk kecil. Sementar Kyuhyun hanya melirik Hyo In sesaat dengan mie yang masih memenuhi mulutnya.

Hyo In menghela napas kecewa saat Kyuhyun terlihat tak begitu mengacuhkannya.

“Kenapa, oppa?”

“Ani,” jawaban Kyuhyun yang terlalu singkat membuat Hyo In berdecak sebal.

“Kenapa kau diam saja?” tanya Hyo In lagi.

“Diamlah! Kau tidak lihat aku sedang makan?”

Pandangan Kyuhyun menukik tajam pada Hyo In yang tengah menahan sumpitnya.

“Apalagi?” tanya Kyuhyun tak suka.

“Apa sekarang ramyun terasa lebih nikmat daripada isterimu sendiri?”

“Iya. Itu benar. Lalu kau mau apa?”

Hyo In menahan sesak di dadanya saat Kyuhyun membanting sumpit dan memilih beranjak meninggalkannya dengan raut wajah malas. Panas dikedua mata Hyo In semakin menjalar. Ini bahkan baru 2 minggu pernikaha mereka. Secepat itukah Kyuhyun bosan padanya?

“Oppa, ada apa denganmu?” Hyo In bangkit. Menahan langkah Kyuhyun dengan menggenggam pergelangan tangan kirinya.

Kyuhyun menoleh ke arah Hyo In. Membuat gadis itu sedikit merinding dengan pandangan datarnya yang tajam.

“Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Sebenarnya ada apa denganmu?”

“Aku? Aku baik-baik saja.”

“Benarkah?”

“Tentu saja. Kau yang berubah, oppa.”

“Iya. Aku berubah karena kau yang mengubahku.”

Hyo In mengernyit tak mengerti, “Oppa, bicaramu melantur.”

“Tidak,” sergah Kyuhyun menggebu. Kyuhyun menampik tangan Hyo In yang berusaha menggapai tangannya lagi.

“Hajima! Urusi saja murid-muridmu itu. Aku masih bisa menjaga diriku sendiri.

“Oppa,” pekik Hyo In tak percaya.

***

“Aku minta maaf jika ini menyangkut panggilanmu yang…”

“Lupakan,” sergah Kyuhyun.

“Lalu apa? Masalah sarapan lagi? Atau makan makan malam, huh?”

Kyuhyun menoleh Hyo In sesaat, “Kubilang lupakan,” ujar Kyuhyun kemudian melanjutkan langkahnya yang tertunda.

Dan lagi, Hyo In memaksa Kyuhyun menoleh ke arahnya, geram dengan sikap Kyuhyun yang tak mau menyelesaikan perdebatan mereka. Mata tajam Kyuhyun beradu dengan pancaran lembut iris cokelat Hyo In. Sama-sama menatap dalam, “Aku lelah, oppa. Jangan membuat semuanya jadi semakin rumit.”

Kyuhyun tersenyum miring, menatap konyol tatapan sendu Hyo In seraya melepaskan genggaman tangan gadis itu.

“Aku lebih lelah lagi. Kau pikir bagaimana perasaan suami yang menunggu isterinya pulang di tengah hujan badai, setiap malam. Aku bahkan menahan rasa mual diperutku setiap malam. Berharap aku pulang dan menemukan masakanmu di meja makan sekalipun itu hanya sup labu dan bukan ramyun instan.”

Hyo In terperangah, “Oppa,” lirihnya seraya menghapus airmata yang menetes di kedua pipinya.

Hati Kyuhyun ikut bergetar, nyeri. Airmata itu, harusnya ia yang menghapusnya tapi ia juga harus memberitahu dimana letak kesalahan Hyo In, sebagai seorang isteri.

“Harusnya kau sadar posisimu sekarang. Bukan hanya seorang guru, kau juga seorang isteri sekarang. Tugasmu bukan hanya memerhatikan murid-muridmu, tapi aku juga, suamimu.”

Nada suara Kyuhyun yang dalam dan tajam membuat Hyo In terluka. Padahal ia melakukan ini atas dasar alasan yang kuat.

“Tapi aku sudah meminta ijin padamu dan kau…”

“Aku memang mengijinkan melakukan apapun sekalipun kita sudah menikah tapi bukan berarti kau bisa mengabaikan suamimu.”

Hyo In tertunduk dalam, “Mereka tanggung jawabku, oppa.”

“Dan rumah ini juga tanggung jawabmu, termasuk mengurus suamimu. Kau lupa itu?” geram Kyuhyun. Hyo In semakin menunduk dalam. Dadanya berdetak cepat, takut.

Kyuhyun mengatur napas. Mengatur kembali luapan emosinya yang telah membuat Hyo In menangis.

“Jika kau tak sanggup melakukan keduanya maka kau harus memilih salah satu dari mereka.”

Hyo In mendongak cepat, menatap Kyuhyun dengan kernyitan heran.

“Oppa, aku tidak mungkin melepaskanmu,” lirih Hyo In tak percaya.

“Kalau begitu lepaskan pekerjaanmu dan jadilah isteri yang seharusnya.”

Jawaban enteng Kyuhyun membuat Hyo In menggeleng tak percaya. Airmatanya kembali mengalir.

“Aku masih cukup mampu untuk menghidupimu dan keluarga kitadengan layak.”

“OPPA!” sentak Hyo In, marah.

“Kau berani berteriak pada suamimu?”

Telunjuk Kyuhyun yang mengarah padanya membuktikan jika pria itu tak main-main sekarang. Ia benar-benar marah padanya. Hyo In mulai mundur teratur, percuma saja membantah Kyuhyun. Meski apa yang Kyuhyun pikirkan tentangnya tak benar, ia tak pernah memikirkan masalah finansial dalam hal ini. Ia hanya menyukai apa yang ia lakukan saat ini. Namun satu kesalahan fatal itu benar-benar membuatnya terpojok.

Ia bersalah. Iya, itu benar.

“Mianhae.” Pelan, Hyo In mulai berbalik badan. Dengan tubuh yang bergetar dan melemas ia berjalan pelan meninggalkan Kyuhyun. Pada siapa ia akan bersandar jika bukan ayah dan ibunya.

“Na kha,” lirih Hyo In. Masih berjalan pelan menuju pintu depan.

“Sejengkal saja kakimu keluar dari pintu itu, jangan pernah berharap kau bisa kembali kemari.”

Sederet kalimat dingin itu membuat isakan Hyo In semakin keras. Ia masih tetap berjalan pelan. Hingga ia sampai di depan pintu apartment, tubuhnya meluruh sebelum tangannya sempat meraih knop pintu bersamaan dengan langkah kaki Kyuhyun yang menaiki tangga menuju kamar mereka.
***

“Ye. Kalau bisa mulai besok.”

“…”

“Jeoseonghamnida, harusnya aku memberitahu ini beberapa hari sebelumnya,” ujar Hyo In lemah.

“…”

“Aniyo. Aku tetap mengajar, hanya mengurangi kegiatan di luar itu.

“…”

Hyo In tersenyum canggung, “Ye, aku juga harus mengurus rumah.”

“…”

“Ye, gamsahamnida.”

Hyo In menutup telpon rumahnya seraya menghela napas. Merebahkan tubuh yang terasa lemah dan kepala yang seperti tertindih batu besar, di atas kasur lantai di depan TV.

Rintik hujan dan tubuh lelah Hyo In mempermudahnya untuk terlelap meski dengan Kyuhyun yang masih menjadi pusat pemikirannya sekalipun dalam alam bawah sadar. Suara tajam Kyuhyun yang dalam masih menjadi momok yang membuat keringatnya mengucur deras.

“Mian.”

Kyuhyun tertegun saat ia mendengar gumaman Hyo In ‘meminta maaf’ ketika turun dari kamar menuju dapur melangkah pelan mendekati Hyo In. Ia menghela napas mendapati Hyo In tengah meringkuk di depan TV. Perlahan bersimpuh di samping Hyo In, menyelipkan kedua tangannya di bawah tengkuk dan lutut isterinya. Ia mengangkat tubuh Hyo In pelan, membuat gadis itu menggeliat pelan seraya menggumamkan nama Kyuhyun dan meminta maaf berkali-kali. Menggeleng heran seraya tersenyum pelan saat Hyo In semakin merapatkan tubuhnya.

Tak lama kemudian mereka sampai di dalam kamar. Kyuhyun meletakkan Hyo In di atas ranjang pelan kemudian ikut berbaring dan menarik selimut.

Kyuhyun memiringkan tubuhnya, menyangga kepala dengan tangan kanan sementara tangan kirinya sibuk mengusap lembut pipi Hyo In. Menatap wajah manis yang kusut itu seksama lalu mengecup bibir Hyo In singkat.

“Maaf,” lirih Kyuhyun masih dengan jarak wajah mereka yang teramat dekat.

“Apa aku terlalu kasar padamu?” Kyuhyun menggesekkan hidung mereka beberapa kali kemudian mengecupi bibir Hyo In lagi. Kali ini lebih dalam, menekan bibir lembut mereka dan sedikit melumatnya.

Hyo In melenguh panjang, geliatan tubuhnya membuat ciuman lembut Kyuhyun terlepas. Ia tertegun saat mata cokelatnya menangkap iris hitam tajam milik Kyuhyun.

“Opp…eeuummpphh,” Hyo In memejamkan mata cepat, mencengkeram sweater Kyuhyun saat pria itu mengisap dan melumat bibirnya. Ia mengerang saat Kyuhyun menggigit kecil bibir bawahnya kemudian memaksa lidahnya menyambut Kyuhyun.

“Hhhhh… Oppaahhh.” Hyo In mendorong keras dada Kyuhyun.

Engahan napas mereka mengakhiri pergumulan panas itu. Tatapan Kyuhyun melembut. Detak jantung mereka yang cepat beriringan dengan menit jam yang terus berputar. Tangan besar itu membelai lembut pelipis Hyo In yang basah karena peluh.

“Oppa, aku…”

Kecupan singkat Kyuhyun menghentikan Hyo In. Membuat detak jantungnya semakin mengeras. Tangan gadis itu bergetar memegangi dada Kyuhyun.

“Mulai besok jangan biarkan aku makan ramyun instan lagi.”

Tawa Hyo In menyambut senyum lembut Kyuhyun. Sejurus kemudian bibir mereka kembali bertemu. Tangan mereka tak puas hanya berdiam di satu tempat. Saling merengkuh, memberi kehangatan, dan manis malam pertama yang baru mereka rasakan setelah 2 minggu pernikahan.

Membiarkan aliran sungai cinta yang sempat tersumbat itu terus melaju melalui celah-celah kecil hingga muara, menuju laut luas untuk kembali menguap dan akan terus kembali sebagai hujan yang akan terus menyegarkan romansa mereka.

END

22 thoughts on “[Short Story] An Unstoppable River

  1. Ah… Suka!!
    Suka bnget pas adegan Kyuhyun yg marah…. Berasa nyata bget gitu!! Bgus eonni.. Sekali2 emng bgus bkin FF yg marahannya serius kyk gini… Tp, bukan kyu yg salah…
    Keep wriring eonni…

  2. Sabarnya kyuhyun di ujung batas dan meledak saat itu juga.
    Ini adalah bumbu rmh tangga yg harus di hadapi. hal sekecil apa pun kalau tidak cpt di perbaiki akan merusak rmh tangga.
    Kyuhyun hanya ingin istrinya ada di saat dia plng dr kantor sudah ada di rmh.
    gk salah si kyu menegur istrinya. agar kelak hal kecil seperti ini tak terulang lg..

    Ya biar ribut ini 2 org pasti menyelesaikan dengan cara yg kyk gini wkwkwk

  3. aku sebenernya salut dg penulis yg blm menikah tp bisa membuat konflik dlm kehidupan pernikahan. nikah itu gak cm konflik soal cemburu atau kurangnya perhatian. (ky ud pernah nikah aj🙂 )

  4. Woaa keren ff yg ini tor.. konfliknya bagus… byk pembelajaran.. hyo in mmg hrus di kerasin klo kyk gtu. Kyu jjang!

  5. astagaaa ini baru MP..?stlh 2 minggu..?ckckck..lama amat..kshn kyu udh ga tahan ky’y..hyo in lbh pentingkan suami mu yaa kasihan si kyu ga ada yg ngurus kalo hyo in sbuk kerja..

  6. marah’y kyuhyun serem jg.
    tp kyu bnr si,emg udh tugas seorang istri mengurus suami’y.
    mana ada suami yg tahan di cuekin tiap hari.

  7. uwoooooo otthoke? Manis banget huhu… Iya ya, ujian cinta akan selalu ada meski sudah menikah, aw aw aw atulaaaah itu Cho Kyunya manis bangeeet hohoho… Ciyee akhirnya malam pertamanya jadi juga hohoho

  8. Masalahnya Hyo In gk bisa bagi waktu, Kyuhyun kalau udah marah serem ye aura syaitonnya keluar gtu wkwkwk
    Akhirnya mereka membuat sarang juga ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s