[One Shot] Maldo Eobshi

Title: Maldo Eobshi (Without Word)
Author: Valuable94
Casts: Lee Donghae (SJ)/Kim Yumi (OC)
Genre: Romance, Angstfluffy, Married Life, Drama
Length: One Shot
Rate: NC
Disclaimer: I do not own those casts. This story is MINE. MATURE CONTENT. DON’T LIKE, DON’T READ AND BASH. TYPOS!

DO NOT COPY-PASTE AND RENAME THE CASTS!

maldo-eobshi1

Happy reading! ^^

Yumi POV

March, 31st 2014
5 pm

Pertama kali aku melihatnya.

Dia lebih indah dari sekedar suara yang kudengar. Lebih indah dari setiap sentuhan tangannya. Yang aku tahu darinya hanya itu. Tidak lebih.

Kedua kalinya kami bertemu.

Bukan pada saat yang begitu menyenangkan, begitupun saat ini. Hari ini, aku hanya ingin memuaskan mataku menatap pria yang hanya bisa kudengar suaranya tersebut. Karena dari sana aku bisa merasakan cintanya. Sekalipun ia tak pernah merasakan cintaku dari tatapan mataku tapi inilah kenyataannya, aku masih teramat sangat mencintai pria yang tengah menatapku ini.

Sekian lama tak pernah bersua mungkin membuatnya sedikit heran melihatku sekarang ada di sini. Duduk di depannya dengan meja yang terisi dua cangkir cappuccino latte.

“Sejak kapan kau pulang?” tanyanya dingin. Seperti menyimpan kemarahan.

Pria itu mengernyit heran saat melihatku tersenyum.

“Aku tidak pernah pulang, karena aku juga tidak pernah pergi kemanapun.”

Pria itu menghela napas panjang seraya memijat kedua pelipisnya. Apa dia benar-benar tak suka melihatku di sini? Apa karena hubungan kami yang tak lagi seharmonis dulu, meskipun tanpa cinta.

“Kita tidak bisa bicara di sini.”

“Donghae-ssi!”

Aku terpekik saat ia menarik tanganku untuk beranjak dari meja kantin di kantornya. Tas yang tadinya kupangku kini terpaksa kutenteng asal karena pria ini terus saja berjalan tanpa memedulikan aku yang kesulitan mengikuti lengkah lebarnya.

Setelah beberapa meter memasuki lobi kantor, kami masuk ke dalam lift menuju lantai 15. Pria ini terus menggandeng tanganku. Ia tak jua mengajakku berbicara, hanya semakin mengeratkan pegangan tangannya padaku, tak peduli jika telapak tanganku sudah basah, lebih karena gugup. Setelah sekian lama, debaran yang dulu selalu kurasakan saat bersamanya kini kembali hadir. Menyatu dengan debaran jantung dan bersahutan memanggil namanya. Berulang kali, hingga aku tak mampu menghitungnya.

Ting!

Bunyi lift terbuka menyadarkanku dari lamunan. Aku kembali berjalan di belakang Donghae yang masih menggenggam tanganku.

Kami sampai di ruangannya. Dengan dominasi warna cokelat dan ukiran kayu jati pada sofa yang terlihat tradisional dengan paduan warna krem pada dudukannya.

Aku duduk di sana, meletakkan tas di samping tubuhku, memerhatikan Donghae dengan langkah yang lebih santai menuju mejanya, menghubungi sekretarisnya untuk membuatkan kami 2 cangkir kopi, padahal tadi kami baru saja minum cappuccino latte.

Setelah itu, ia melepas jas hitam yang membungkus kemeja hitamnya, melepaskan kancing pada kedua pergelangan tangan kemudian melonggarkan dasinya. Ia duduk di sampingku, dengan posisi setengah membungkuk, kedua sikunya menumpu pada paha. Ia menatapku, masih tak percaya, membuatku semakin salah tingkah.

“Kemana kau selama ini?” tanyanya tak sabar.

“Aku kembali ke Mokpo.” Donghae mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Frustasi.

Aku bisa mendengar helaan napas Donghae yang dalam kemudian menghempaskan punggung tegapnya pada sandaran sofa. Sekali lihat saja semua orang tahu jika pria ini sedang bingung. Meski tak tahu apa yang membuatnya bingung, kurasa dalam hal ini aku adalah tersangka utamanya.

“Kenapa kau tidak pernah mengabariku selama ini?”

“Kupikir kau tidak akan memedulikan hal itu.”

“Apa kau bilang?” ia memekik lalu bangkit dari duduknya dan menatapku kesal. Membuatku mengkerut seketika karena melihatnya.

“Itu bukan hal yang penting—menurutku.”

“Itu menurutmu, tapi tidak denganku,” Sahutnya cepat.

Donghae mengurut keningnya pelan, mendesah kesal seraya menunduk, kemudian kembali menatapku.

“Lima tahun kau menghilang, meninggalkan surat cerai dan cicin pernikahan tiba-tiba dan pergi tanpa pamit setelah melahirkan. Suami mana yang akan biasa-biasa saja jika isterinya bertingkah seperti itu, huh?”

Aku sedikit tersipu karena ternyata ia menganggapku isteri selama ini. Namun setelah itu aku ingin sekali menyumpal mulut sok tahunya itu. Dia tidak tahu apa-apa, tidak tahu jika semua itu bukan kemauanku, bahkan luka apa yang kusimpan selama ini. Donghae tak pernah tahu.

“Berhenti menyalahkanku. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan,” Ujarku tak terima.

“Apa ini karena ibu?”

Aku diam. Harusnya dia sudah tahu jawabannya tanpa kuberitahu sekalipun.

“Cukup. Aku tidak mau membahas hal ini lagi. Aku hanya ingin bertemu dengan mereka.”

“Kita selesaikan urusan kita. Setelah itu aku akan mempertemukanmu dengan mereka.”

Satu kesulitan dalam hidupku bertambah. Setelah aku merengkuh bahagia bersamanya dan menghempaskannya dengan tanganku sendiri, sekarang aku harus menerima kenyataan jika urusanku dengan Donghae belum sepenuhnya selesai.

***

“Ibu, apa aku akan benar-benar menikah dengannya?”

“Ini kemauan ayahmu dan kakek Lee Yeong Sook.” Aku mengangguk mengerti. Yang perlu kulakukan hanyalah tidak perlu banyak tingkah dan lakukan apa yang membuat orang-orang yang kusayangi bahagia.

“Siapa nama calon suamiku?” tanyaku penasaran.

“Donghae. Lee Donghae.”

Sekelebat kalimat itu selalu terngiang di ingatanku. Di tengah kegelapan yang selalu kuhadapi, dan hitamnya duniaku. Kini aku merasa ada secercah cahaya datang bersamaan saat mendapatkan pria yang sudah dijodohkan ayah untukku. Mungkin akan sulit untuknya menerima keadaanku yang tanpa mata. Karena itu aku membentengi diriku untuk tak terlarut dalam hal ini.

Aku tak pernah bisa melihat bagaimana rupa calon suamiku dan bagaimana penampilannya. Kata ibu dan ayah dia seorang pria tampan dan perangai yang lembut.

Hanya suara lembut dan senyumnya yang terdengar dari hembusan napas halusnya di sampingku yang mampu kutangkap dari pendengaran. Suaranya saja tampan. Mungkin ibu dan ayah memang benar. Jika saja aku bisa melihatnya, mungkin aku akan langsung tergila-gila padanya.

May, 25th 2009
3 pm

Kami duduk di bangku taman belakang rumahnya. Hawa dingin yang menyapa bahu terbukaku menghangat karena jas halusnya yang menutupi bahuku. Ini adalah kunjungan terakhirku sebagai tunangannya sebelum hari pemberkatan kami lusa nanti.

“Sepertinya pernikahan kita nampak begitu indah—saat bunga-bunga bermekaran.”

Ia tengah tersenyum, aku tahu itu dari dengusan napasnya.

“Kau menertawakanku?”

Tawanya terhenti. “Ani.” Ia bergeser mendekat ke arahku. Lebih dekat dari sebelumnya.

“Aku tidak akan marah jika itu benar.”

“Sayangnya itu salah,” sahutnya seraya membenarkan rok bagian bawahku yang tersingkap angin.

Aku selalu terkesima dengan perlakuannya padaku. Sejak pertama kali bertemu tiga bulan yang lalu, ia selalu berperilaku lembut padaku. Mungkin karena latar belakang keluarganya yang terhormat tak mengijinkannya untuk berkata secara langsung jika ia tengah mengasihani seseorang. Yah, mungkin ia melakukannya karena merasa kasihan padaku. Oh, aku sudah terbiasa dikasihani orang lain.

“Aku tidak pernah keberatan jika orang mengasihaniku. Setidaknya itu salah satu cara mereka memerhatikan wanita cacat sepertiku.”

“Kenapa kau selalu berkata seperti itu?”

Aku tersenyum mendengar nada tak sukanya, “Apa?”

“Cacat,” ujarnya tegas.

“Semua orang tahu kalau aku seperti itu.”

“Berhenti mengatakan hal itu. Tidak selamanya keburukan menghampiri orang-orang sepertimu.”

“Iya, aku tahu. Karena wanita cacat sepertiku masih bisa menikah dengan lelaki sempurna sepertimu.”

“Apa maksudmu?” menjadi buta sejak lahir membuatku terlalu sensitive dengan nada-nada tertentu. Seperti seruannya sekarang. Aku tertawa dalam hati, ternyata pria lembut sepertinya pun masih bisa marah.

“Kalau saja ayahku bukan murid kakekmu, mungkin aku tak akan bisa merasakan bagaimana rasanya menikah.”

“Kau menyalahkan perjodohan ini?”

“Tidak, aku hanya merasa bersalah padamu. Harusnya kau bisa mendapatkan wanita yang sama denganmu, bukan?” aku tertawa sejenak. Menahan desakan airmata yang tiba-tiba ingin keluar mengingat betapa tidak pantasnya aku bersama Donghae. “tapi aku mengacaukan semuanya.”

Kudengar Donghae kembali menghela napasnya, lebih dalam. Seolah mengiyakan apa yang kukatakan tadi. Ini menyakitkan. Harusnya aku tahu diri dengan tidak merasa bahagia bisa bersama pria seperti Donghae. Dan bentengku tak cukup kuat untuk melindungi persaanku yang mudah terenyuh akan perlaukannya.

“Sudah sore. Kuantar kau pulang. Ayah dan ibumu pasti khawatir.”

Donghae menuntunku berdiri kemudian menggandeng tanganku. Kami berjalan pelan. Menikmati harum tanah basah di taman tersebut setelah tersiram hujan. Seandainya aku bisa melihat bunga-bunga yang tampak segar. Setidaknya itu bisa membuat pikiranku lebih tenang.

“Donghae-ya!”

Langkah kami terhenti. Suara kaki berlari itu semakin keras terdengar. Dan aku bisa mendengarkan napas tersengal seorang wanita di depan kami.

“Eomma, tumben masih sore sudah pulang,” Ujar Donghae heran. Aku membungkuk pelan saat tahu jika calon ibu mertuaku datang.

“Ani, Eomma kembali karena ada berkas yang penting tertinggal di kamar.”

“Kenapa tidak menyuruh sopir saja.”

“Tidak. Berkas itu sangat penting.”

“Biar aku ambilkan.”

“Gomawo.”

“Kau tunggu di sini bersama Eomma, ya. Aku tidak akan lama.” aku mengangguk seraya tersenyum.

Tanganku kembali terasa hampa saat hangat telapak tangan Donghae lepas, ia berjalan cepat untuk masuk kembali ke dalam rumah.

“Anakku terlalu baik untukmu.”

Kalimat bernada sinis itu tersimpan rapi dalam ingatanku.

“Kenapa diam saja?”

“Memangnya salah kalau aku diam saja?”

“Tidak. Biasanya kau selalu bercerita apapun selama perjalanan pulang.”

Kuhembuskan napas dalam, hanya memfokuskan diri mendengar instrument Moonlight Sonata dari Beethoven yang mengalun dari MP3 Player di mobil Donghae. Mataku yang sejak awal tak bisa melihat terpejam pelan. Instrument tersebut memasuki telingaku dan diproses di dalam otak, mengirimkan sinyal-sinyal kantuk yang menyuruhku untuk segera tertidur. Mengabaikan Donghae karena aku sudah terlalu lelah.

Otakku masih cukup mampu mengingat semua yang ibu Donghae katakan. Wanita itu tak benar-benar menginginkan pernikahanku dengan Donghae—puteranya. Beliau hanya terpaksa menerima keputusan kakek Donghae.

Sejujurnya, aku hanya ingin menjalani semua. Entahlah, terlalu menentang takdir bukanlah pilihan yang tepat untuk orang cacat sepertiku. Lebih baik menjalaninya, jika aku mampu aku yakin kebahagiaan akan kudapatkan, jika tidak—aku tidak mau memikirkan hal itu.

***

Kuhela napas dalam. Sekalipun aku tak bisa menatap altar yang akan kutapaki menuju Donghae, namun seorang pengantin buta sepertiku juga wajar jika merasakan gugup. Gaunku yang berat terasa semakin berat. Seolah menghalangi langkahku untuk berjalan tegap menuju calon suamiku.

Meski aku tak tahu bagaimana tatapan mereka terarah padaku. Bahagia, kagum, celaan, atau kasihan. Sebenarnya aku tak memedulikan hal itu lagi. Toh aku tak bisa melihat mereka. Donghae benar, jika menjadi cacat sepertiku tak selamanya buruk, setidaknya aku tidak akan tertipu dengan tatapan mereka.

“Lee Donghae, bersediakah engkau menerima Kim Yumi sebagai isterimu, bersama dalam suka dan duka, sedih dan bahagia, serta dalam sehat dan sakit hingga maut memisahkan kalian.”

“Saya bersedia.”

Percayalah, suara tenang nan lembut Donghae membuat jantungku yang sedari tadi berdegup kencang bisa sedikit memelan, dan ketika mendengar rentetan kalimat dari pendeta yang tengah menikahkan kami. Menanyakan kesediaanku bersama dengan Donghae seumur hidup.

Aku menjawabnya lantang, “Saya bersedia,” Ujarku mantap.

Dan riuh tepuk tangan para tamu undangan membuat kebahagiaanku membuncah begitu saja. Aku tersenyum bahagia tapi entah bagaimana dengan Donghae. Saat bibir tipisnya mendarat lembut di dahiku, kupejamkan mata pelan. Lama, ia tengah mengecup dahiku seraya mengusap kedua pipiku dengan tangan lebarnya. Mungkin yang baru merasakan cinta saat pemberkatan hanya aku saja, sejak rasa nyaman itu merambat dan memenuhi hatiku setiap kali bersamanya.

Bolehkah aku bahagia? Tentu saja.

“Hati-hati.”

Donghae mendudukkanku di atas ranjang. Perlahan kurasakan ranjang di depanku bergerak. Sejurus kemudian, ada tangan besar yang melepas hiasan kepalaku pelan dan sanggulnya. Membiarkannya tergerai.

“Tunggu di sini, aku akan mengambilkan piyamamu.”

“Tidak perlu.”

Peganganku tepat menggenggam pergelangan tangannya. Ia terduduk kembali kemudian mengusap puncak kepalaku.

“Ini bukan rumahmu, kau ingat?”

Kali ini aku mengalah. Sebenarnya aku tak begitu terbiasa dengan segala perhatian seperti ini. Sekalipun buta, aku juga bisa sekedar mengurus diri sendiri.

Ranjang di depanku yang terasa kosong beberapa saat lalu kini terisi kembali. Perlahan, Donghae menangkup kedua bahuku kemudian membawaku lebih mendekatinya. Aroma maskulinnya membuatku tak tahu harus berbuat apa, bernapas pun terasa begitu sulit. Dan sepertinya tubuh kami sekarang sudah menempel, karena aku bisa merasakan jas halus ini yang bergesekan dengan tulang selangkaku yang terbuka.

Kutahan napas dengan susah payah, saat perlahan resleting gaun di punggungku mengendur. Pelan, kemudian Donghae mengajakku berdiri, dan gaun berat ini jatuh begitu saja.

Aku malu. Ini pertama kalinya ada seorang pria yang membantuku melepas baju. Tapi dia suamiku, harusnya tidak ada masalah dengan ini.

Kutelan saliva dengan susah payah saat deru napas hangatnya menerpa wajahku. Kurasa dia juga tengah menahan napas, sama sepertiku. Dan jantungku ikut berdegup kencang.

Beberapa kali kudengar Donghae berdeham dan menghela  napas panjang. Mungkin ia begitu menyesal menikahi wanita sepertiku. Buta dan bertubuh tidak indah.

“Donghae-ssi.”

“Aku suamimu sekarang.”

Aku tertunduk malu, “Eo-eoh, maaf, Oppa.”

Tangannya yang sedari tadi diam di pergelangan tanganku kini bergerak memakaikan piyama di tubuhku.

Aku kembali mengikuti Donghae, kini ia menuntunku untuk duduk di sebuah kursi empuk.

“Tutup matamu!” Aku mengikutinya tanpa perlawanan. Kemudian benda lembut yang dingin itu menyusuri setiap inci wajahku. Donghae tengah membersihkan make up di sana.

“Setelah ini kau harus tidur.”

“Aku tahu.”

“Jangan lupa sikat gigi.”

“Sebenarnya aku ini isterimu atau anakmu.” Donghae tertawa.

“Cha, sudah selesai.”

“Gomawo.” Aku tahu ia tengah tersenyum dari hembusan napasnya.

Setelah selesai sikat gigi, aku menunggu Donghae di atas ranjang yang tengah berganti baju. Perasaan gugup yang mati-matian kututupi ternyata tidak bisa membuatku tenang. Aku tidak bisa tidur, sesekali mengganti posisi tidur yang akhirnya malah membuatku semakin frustasi. Jadi begini rasanya saat malam pertama.

“Kenapa? Tidak bisa tidur?”

Aku terhenyak dan bangkit dari rebahan. Ranjang di sampingku berderit pelan saat Donghae ikut merebahkan diri di sana. Dan jantungku juga ikut berderit, lebih keras dari suara ranjang.

Kuhembuskan napas dalam kemudian menggeleng dan menenggelamkan diri di dalam selimut. Dasar bodoh. Harusnya aku menjauhkan pikiranku yang kurang ajar. Donghae tidak mungkin mau bercinta denganku.

“Aku punya sesuatu untukmu.”

Kubuka selimut kemudian bangun dari rebahan. Sejurus kemudian, tanganku terisi dengan sebuah buku yang lumayan tebal dengan tulisan Braille pada sampulnya.

“Kata eomeonin dan abeonim kau suka membaca buku. Jadi aku membelikan buku pengetahuan umun untukmu. Itu sudah diterjemahkan dalam huruf Braille.”

“Terima kasih.” Senyumku terukir jelas di sana. Dan gugup saat malam pertamaku terlupakan karena sebuah buku dari Donghae.

***

Pelan. Kuraba daerah sekitarku saat tiba-tiba aku terbangun. Mungkin ini sudah pagi karena aku tak menemukan Donghae di sampingku lagi. Aku beranjak dari ranjang dan menemukan meja kecil di samping ranjang sebagai pegangan.

“1, 2, 3, 4, 5, 6—“

Duk.

“AW!” kupegangi lututku yang baru saja menabrak sesuatu yang keras.

“Yumi-ya!”

Aku menoleh cepat ke sumber suara. Langkah besar di belakangku terdengar semakin jelas setelah suara sebuah pintu terbuka.

“Kenapa tidak memanggilku?”

Ia baru selesai mandi, aku tahu dari bau sabun dan shampo yang berada tepat di depanku.

“Eoh, maaf. Kukira kau sudah tidak ada di kamar.”

“Eodi apa?”

Kutunjuk lutut kananku yang terantuk benda keras tadi. “Apa yang kutabrak tadi?” Donghae menghela napas, “Kursi di depan kaca rias.” Aku mengangguk mengerti.

“Kau mau kemana?”

“Ke kamar mandi.”

“Seharusnya setelah turun dari ranjang kau cukup berjalan 5 langkah, setelah itu belok kiri, dan melangkah 10 kali.” Aku tersenyum mendengarnya mengajariku.

“Benarkah? Sepertinya aku harus mulai menghapal letak benda-benda di kamar ini.”

Donghae tertawa kemudian mengusap puncak kepalaku. “Masih ada aku.”

“Kalau kau bekerja lalu siapa yang akan menuntunku, huh? Tongkatku saja ketinggalan di rumah.” Donghae tertawa lagi.

“Baiklah, terserah padamu.”

Donghae mendudukkanku di kursi yang baru saja kutabrak. Kemudian melipat celana piyamaku dan mengusap lututku pelan.

“Masih sakit?”

“Tidak. Diusap oleh suami sebaik dirimu rasanya tidak nyeri lagi,” kelakarku.

“Berhenti bersikap menggemaskan di depanku.”

Aku memekik pelan saat Donghae mencubit hidungku. Kurasa ini akan memerah, semerah pipiku yang terlalu banyak teraliri darah. Sejurus kemudian, Donghae memberikan sesuatu di tanganku. Ini karet.

“Mau menguncir rambut sendiri atau—“

“Aku saja,” sahutku cepat. Kurasa dia mulai tahu jika aku bisa jika hanya mengurus diri sendiri.

***

“Bagaimana pekerjaanmu di Hokkaido?” Tanya kakek.

“Lancar. Semuanya berjalan dengan baik.”

“Yumi-ya!”

“Ye?” aku sedikit kaget karena panggilan kakek Donghae yang tiba-tiba. Membuatku menghentikan kegiatanku menyendokkan sup ke mulut.

“Apa Donghae memperlakukanmu dengan baik?”

“Abeoji!” aku terdiam mendengar seruan ibu mertuaku. Beliau tak terima mendengar ayahnya meragukan cucunya sendiri. Itu pasti.

“Aku hanya memastikan kalau cucuku tidak akan menuruni sifat ayahnya. Meninggalkan isterinya sendiri karena alasan tidak jelas,” ujar kakek Donghae dingin. Membuat ibu mertuaku kembali terdiam. Aku tahu sejak tadi ia tak begitu menikmati makan malam ini. Bukan karena makanan yang tak enak, tapi karena kehadiranku yang sejak awal tak pernah ia inginkan.

Aku tersenyum canggung, mencoba mencairkan suasana makan malam kami yang sedikit menegang. “Donghae Oppa sangat baik padaku.” Pria ini malah terlalu baik padaku. Sekalipun ia tak mencintaiku seperti aku mencintainya.

Kurasakan usapan halus tangan Donghae di kepala belakangku. “Lanjutkan makanmu.” Aku mengangguk.

“Setelah makan malam, aku ingin bicara padamu, Yumi.”

“Ye, Eomeonim.”

“Ibu, Yumi pasti lelah.”

“Isterimu tidak akan lelah karena dia tak pernah mengerjakan apapun selain membaca, makan, dan tidur.”

“Ibu! Lee Yeon Hee!” aku tersentak karena teriakan kakek dan Donghae.

Ya Tuhan, sepertinya aku hanya menimbulkan masalah di keluarga ini.

“Gwaenchana, Oppa, Harabeoji. Gokjonghajimara,” Ujarku seraya membalas genggaman tangan Donghae. Beliau benar, aku bahkan terlalu lelah karena hanya membaca, makan, dan tidur saja. Lagipula semua pekerjaan di rumah ini sudah dikerjakan oleh pelayan.

Setelah selesai makan malam, ibu Donghae mengajakku duduk di ruang kerjanya. Mungkin ini pembicaraan yang penting.

Bukan mungkin lagi tapi memang ini penting. Semuanya menyangkut bagaimana aku dan Donghae. Bagaimana aku harus melepaskan suamiku yang kucintai, bagaimana aku hanya perlu memberi keluarga ini seorang penerus dari satu-satunya pewaris perusaah besar mereka di Seoul dan Hokkaido.

Apa yang harus dilakukan gadis buta sepertiku. Semua permintaannya tidak akan sebanding sekalipun ia memberikan donor mata padaku. Aku lebih memilih buta selamanya daripada meninggalkan pria yang teramat baik padaku.

Tapi aku tak bisa melakukan hal yang sama padanya. Aku tak bisa membalas semua kebaikannya padaku. Itu semua terlalu besar.

Aku terdiam seraya memeluk kedua lututku di atas ranjang. Mengingat bagaimana Ibu dan ayah marah karena aku diperlakukan kurang baik oleh ibu mertuaku sendiri. Namun aku bisa menahan mereka untuk tak melakukan apapun karena semua itu akan berdampak pada keadaan kakek Donghae.

Kudengarkan suara gemericik air yang tersiram dari kamar mandi. Sesaat kemudian, aku mendengar panggilan Donghae dan hanya melempar senyum padanya. Mulutku terlalu kelu untuk menanggapi panggilannya yang teramat manis. Oh, kapan pria ini tak berlaku manis padaku.

“Oppa.”

“Heum.” Ia merebahkan tubuhnya di sampingku seraya menghela napas lelah.

“Kau lelah?” pertanyaan retoris.

“Iya—begitulah.”

Kini ganti aku yang menghela napas panjang. Mungkin lebih baik memang aku tak pernah berada di sisinya. Aku hanya merepotkan pria baik ini, hidupnya yang terlalu sempurna harus rusak karena kehadiranku.

“Maaf.”

“Untuk apa?”

“Semuanya.”

“Semua? Memangnya apa yang sudah kulakukan padamu?”

Aku terdiam. Ia bangkit dari tidurnya, mendekat ke arahku kemudian menyandarkan kepalaku di atas dada bidangnya. Memberiku ijin untuk mendengarkan detak jantungnya yang keras setelah dua minggu tak bertemu dengannya.

“Mungkin aku sudah lancang menyembunyikan semua ini darimu.”

Ia menghela napas lagi dan aku bisa merasakan beban berat yang ia pikul selama bersamaku. Aku tak tega jika membiarkan ia merasakan hal ini lebih lama lagi.

“Saranghae.”

Usapan tangannya pada rambutku terhenti, membuatku mendesah kecewa. Aku tahu, aku lancang karena mencintainya. Seharusnya aku hanya menyimpan ini, tapi aku sudah tak bisa menahan semuanya. Setidaknya sebelum sesuatu tejadi pada kami, ia tahu perasaanku yang sesungguhnya.

Ia berdeham pelan kemudian membenarkan posisi kami dan kembali mengusap rambutku.

“Bagaimana kau—“

“Jangan tanyakan bagaimana aku bisa mencintaimu. Aku sudah membaca banyak buku tapi aku tak juga mendapat jawabannya.” Donghae tertawa pelan dengan masih mengelus rambutku.

“Dengar, aku tidak butuh jawabanmu. Aku hanya ingin mengeluarkan apa yang mengganggu dalam pikiranku selama ini.”

“Bagaimana kau bisa begitu yakin tak membutuhkan jawaban?” tanyanya pelan.

“Karena aku tak mau mendengar penolakan darimu,” jawabku lemah.

“aku tahu ini semua seperti lelucon untukmu. Tapi terima kasih karena kau sudah memberikan begitu banyak perhatian padaku selama ini. Sebagai isteri, seharusnya aku yang merawatmu. Menyiapkan air panas, sarapan, memasangkan dasi sebelum kau bekerja, memijitimu saat kau lelah, menjadi temanmu berbagi cerita, dan—“

Napasku tercekat saat udara di paru-paruku menipis. Dadaku terasa menyempit. Mengatakan semua ini lebih sulit dari yang kubayangkan. Persiapanku beberapa jam yang lalu tak lantas membuat semua ini lancar.

“Ssssttt—“

Ia mengakup wajahku kemudian mengusap airmata yang menetes tanpa kusadari. Aku tak tahu bagaimana ia memandangku saat ini. Mungkin ia tengah menatapku sebagai wanita rendahan yang berani menyukai seorang pria sempurna sepertinya.

“Kita suami-isteri. Apa yang tak bisa kau lakukan, selama aku mampu, aku akan melakukannya untukmu.”

“T-tapi a-aku tidak bisa membiarkanmu m-melakukan semua hal itu untukku selamanya. Kau pantas bahagia d-dan—“

“Begitupun dirimu. Bukan hanya aku yang pantas mendapatkan kebahagiaan. Semua orang berhak akan hal itu,” Aku tertunduk seraya terisak. Ini semua salahku. Harusnya aku menolak perjodohan ini.

“Kalau semua ini karena perbedaan status keluarga kita yang membuatmu mengatakan semua itu padaku, kumohon berhenti melakukan itu,” Ujarnya cepat. Sedikit menyentak hingga membuat isakanku semakin mengeras meski ia tengah memelukku sekarang.

Bukan. Bukan karena itu. Sekalipun itu semua memeng berpengaruh pada hubungan kami. Mungkin ibunya akan mengijinkan aku menikah dengannya sekalipun aku buta. Setidaknya jika aku mempunyai uang yang lebih banyak dari yang keluarga Donghae miliki, aku bisa memberikan kontribusi besar pada perusahaan mereka.

“Kau menyukaiku, bukan?” ucapnya sedikit lebih tenang. Aku mengangguk.

“Lakukan itu terus. Jangan pernah menyerah. Aku akan selalu berada di sisimu.”

Aku tidak tahu apakah itu sebuah pernyataan cinta atau bukan. Yang jelas, semua itu membuatku sedikit lebih tenang meski ketakutan tetap bersarang di pikiranku. Jika aku tidak meninggalkannya, keluargaku akan mendapatkan luka karena keegoisanku dan jika aku meninggalkannya, aku yang akan mendapat luka dari semua ini.

“Kau bisa mencari wanita lain. Jika kau mengingin—“

Kalimatku terhenti. Saat bibir tipisnya melumat kasar bibirku yang terbuka. Mendominasi situasi yang tak menguntungkanku kali ini, karena posisi Donghae yang memelukku mempermudahnya untuk mendorong tubuhku. Mengungkungku dalam pelukan dan ciumannya yang menuntut untuk dibalas. Dan aku melakukannya.

Hingga aku tak menyadari sejak kapan kami sibuk dengan pergumulan tiada akhir. Pria ini membuatku merasakan bahagia dalam ketakutan. Meskipun aku tak tahu alasannya melakukan ini padaku. Aku menerima semua darinya. Belaian, kecupan, hisapan, dan benih yang ia beriakn padaku pada akhir pergumulan kami. Karena aku mencintainya. Tanpa peduli bagaimana perasaannya padaku. Sama ataupun tidak, bagiku akan tetap sama.

Kami mendesah lega kemudian terdiam kembali. Ia merubah posisinya yang semula berada di atasku menjadi berbaring miring di belakangku, memelukku erat, membuat punggung dan dada kami yang basah kembali menempel dan merasakan setiap pergerakan dadanya yang tak begitu beraturan.

“Oppa,” panggilku pelan. Ia hanya mengeratkan pelukan kami.

“Tidurlah.”

Kupejamkan mata pelan. Meski setalah beberapa menit berlalu pikiranku tetap tak bisa. Begitupun dengan Donghae. Napasnya belum teratur dan itu menandakan jika pria ini sama halnya denganku.

***

February, 23rd 2010
7 am

“Kemana Yumi?”

“Harabeoji!” aku memekik keras dari beranda samping rumah. Kemudian memutar badan dan mengarahkan tongkat untuk menuntunku mendekati harabeoji.

Kami berencana untuk jalan-jalan pagi ini. Melakukan rutinitas kami setiap akhir pekan selain mendengarkan musik gereja, klasik dan beberapa instrument kesukaanku bersama sepasang bayi kembarku.

Bulan ini kehamilanku sudah hampir 9 bulan. Sembilan bulan pula aku mengesampingkan kenyataan jika Donghae tak pernah memperhatikan bayi kami sama sekali. Aku tetap merasa bahagia sekalipun setiap hari ia hanya menanyakan apa ‘aku baik-baik saja’ dan ‘sudah makan atau belum’. Berusaha untuk mengabaikan hal itu meski aku harus menyimpan tangis karenanya. Aku siap menerima semuanya, sikap Donghae yang teramat peduli padaku namun bukan bayi kami dan reaksi ibu mertuaku yang mengatakan jika wanita buta sepertiku terkadang memang berguna.

“Bagaimana kalau kita berkeliling di taman saja pagi ini.” Aku mengangguk senang kemudian mengikuti langkah harabeoji. Kernyitan di dahiku muncul saat aku merasakan sesuatu yang ganjil dari beliau.

“Harabeoji, kau sedang sakit?” Langkah kami terhenti. Beliau malah tertawa pelan kemudian mengajakku berjalan kembali. tanpa menjawab pertanyaanku.

Sepanjang perjalanan aku dan harabeoji tertawa bersama saat mendengar berbagai kelakarannya. Beliau bercerita banyak bagaimana ketika ayah ikut bersama harabeoji.

“Sebenarnya ayahmu itu anak yang rajin tapi sedikit bandel. Sebelum menyelesaikan pendidikannya di Universitas, dia memilih keluar dan menikahi ibumu. Dan sekarang dia hanya berakhir sebagai—“

“Penjual sayur di pasar.” Kami tertawa.

“Tapi anak itu tak pernah lupa padaku. Saat ibumu hamil, dia selalu berkunjung ke rumah dan berkeliling bersama di taman kota setiap akhir pekan,” ujarnya lebih pelan dari sebelumnya. Napas beliau terengah karena terlalu lama tertawa.

“Seperti sekarang?”

“Tentu saja.”

Kemudian kakek menghela napas, “Aku tak pernah menyalahkan pilihannya. Dia pria pekerja keras. Buktinya dia bisa membesarkanmu menjadi gadis cantik dan lembut sepertimu.” Kami tertawa lagi. Perutku terasa sedikit kram karena terlalu banyak tertawa bersama beiau. Semua hal yang kakek katakan selalu membuatku bahagia.

Langkah kami terhenti tiba-tiba. Aku bingung saat pegangan harabeoji di tanganku terlepas disusul dengan suara erangan beliau.

“Harabeoji, ada apa?”

Napas beliau terengah. Tubuhnya yang kupegangi semula membungkuk kini perlahan menegak. Perlahan napas beliau pun mulai teratur kembali.

“Gwaenchana,” ujarnya pelan.

“Sebaiknya kita pulang saja.”

“Aniya. Harabeoji masih ingin jalan-jalan bersamamu.”

“Saljunya sudah banyak yang melelah.” Aku tahu beliau hanya berusaha mengalihkan topic pembicaraan.

“Kajja!” harabeoji mengusap puncak kepalaku kemudian kembali menggandeng tanganku.

10 pm

Aku terbangun karena suara berisik di dalam kamar. Kukucek kedua mataku kemudian beranjak dari ranjang.

“Kenapa sudah bangun. Ini masih malam,” ucapnya datar.

“Aku terbangun karena suara berisikmu.”

“Maaf, aku buru-buru.”

Aku berjalan pelan, mendekat ke arahnya yang hanya berjarak beberapa langkah dariku.

“Buru-buru? Kau mau kemana? Ini masih malam,” tuturku mengulangi kata-katanya.

“Harabeoji masuk rumah sakit.”

“Aku ikut!” seruku. Dan hanya dijawab dengan usapan lembut Donghae di kepalaku.

“Istirahat saja. Aku akan pulang sangat terlambat jadi tidak usah menungguku.”

Kutahan tangan Donghae yang hendak menjauh dariku. “Shireoyo. Aku sudah terlalu sering istirahat. Tadi pagi saat jalan-jalan Harabeoji sempat—“

“Kakek jalan-jalan bersamamu lagi?” serunya tak percaya. Aku mengangguk pelan. Apa ini salahku lagi?

“Seharusnya kau menolak,” ujar Donghae tegas dan kesal yang tertahan.

Aku terdiam, tertunduk takut saat menyadari jika ini kesalaanku lagi. Memang seharsnya aku menolak mengingat udara yang masih sedikit dingin meski sudah masuk musim semi, tapi aku tak pernah bisa melakukannya untuk harabeoji yang selalu menyayangi aku dan keluargaku.

“Maaf.”

Kulepaskan peganganku padanya kemudian kembali ke ranjang. Merebahkan diri seraya memasang selimut. Dan menghela napas dalam  saat pintu kamar kami tertutup. Ia meninggalkanku tanpa berpamitan.

Rasa sesak yang kusimpan menumpuk semakin tinggi. Aku terbangun kembali, pikiranku terlalu kalut untuk tidur lagi. Beberapa saat kemudian aku meringis pelan saat perutku ikut bergejolak, mungkin karena aku terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini.

Rasanya kamar ini pun semakin lama semakin panas. Aku beranjak dari ranjang seraya mengelus perutku yang membesar, ringisan pelan beberapa kali kulontarkan seraya berjalan pelan keluar dari kamar. Perutku bergejolak semakin keras setiap beberapa menit sekali.

“Bibi!”

Ringisanku semakin mengeras. Peluh membasahi tubuhku yang terasa semakin memanas. Oh, kurasa sebentar lagi aku melahirkan.

“Bibi!”

“OMO! Nona Yumi anda baik-baik saja?”

Aku menggeleng, “Tidak. Bawa aku—ke—ru-mah sa-kit seka-rang, aahh!”

Sakit di perutku semakin melilit. Pergerakan mereka semakin membuat jantungku berdetak cepat. Kepalnya terasa menyundul kandung kemihku. Ya Tuhan! Ini sakit sekali.

Tak pernah terpikirkan olehku jika hal ini akan terjadi. Ini kebanggaan sekaligus kesakitan untukku. Karena gadis buta pun mempunyai impian layaknya seorang puteri. Menikah dengan pria yang mencintaiku, menyayangiku—meski Donghae juga melakukan hal tersebut, namun tidak dengan bayi kami. Dan aku akan dengan senang hati menukar kehidupanku yang sekarang untuk dapat bersama pria tersebut.

Ditemani seorang suami saat melahirkan mungkin akan sangat menenangkan. Tapi sayangnya aku tak pernah merasakan hal itu. Pada saat pertama kali aku mengejan dan kesakitan saat melahirkan kedua bayiku. Hingga pandanganku mengabur dan tangis haruku pecah saat mendengar tangis bayi keduaku menyahut tangis kakaknya.

Perlahan napasku teratur kembali meski desahan lelah dan keringat yang membasahi bajuku hingga membuatnya lengket di tubuh. Aku bahagia. Untuk saat ini meski tanpa Donghae di sampingku. Dan hanya berharap satu pada Tuhan.

Biarkan aku hidup untuk merawat mereka.

***

Tit tit tit tit tit tit

Bunyi alat tersebut terekam samar di telingaku. Dahiku mengernyit saat kurasakan jepitan pada salah satu jari telunjukku. Aku mencoba menggerakkan tangan dan kepala, berusaha memberitahu siapapun jika aku ingin bangun sekarang dan meminum sesuatu untuk membasahi tenggorokanku yang kering.

“Eokh!”

“Yumi-ya!”

Perlahan, kutolehkan kepala ke kiri, mengikuti sumber suara dan usapan lembut seorang wanita di sampingku.

“Ibu,” panggilku lemah.

“Iya, ibu di sini.”

“Eokh! A-ir—eokh!“

“Tunggu sebentar.”

Tubuhku terangkat pelan, sejurus kemudian gelas dingin tersebut menempel di bibirku. Mengantarkan basah yang kurindukan karena lama tak menyapa tenggorokanku. Meski pelan, aku sempat tersedak karena air tersebut, kemudian ibu mengusap punggungku pelan.

Aku mecoba tersenyum padanya. Beberapa bulan ini aku sudah lama tak bertemu beliau. Karena kakek melarangku terlalu sering keluar rumah dan hanya boleh mengabari ayah dan ibu melalui telpon.

“B-berapa lama aku tertidur?”

Ibu menghela napas seraya menyelipkan helai rambutku yang terurai ke belakang telinga, “Dua hari.” Aku mengangguk mengerti.

“D-dimana ayah?” lidahku masih terasa kaku.

“Ibu menyuruhnya pulang dan berangkat ke pasar.” Ibu masih mengusap rambutku.

“Ibu,”

“Iya.”

“A-aku ingin b-bertemu d-dengan a-anakku.”

Ibu terdiam lagi. Aku masih menunggu jawabannya sekalipun hanya helaan napasnya saja yang kudengar beberapa detik ini.

“I-ibu!” seruku.

“Kenapa d-diam s-saja?” tanyaku penasaran, kemudian aku hanya mampu mendengar helaan napas panjang Ibu dan satu kalimat yang begitu menyesakkan. “Lupakan mereka.”

“Apa maksud i-ibu?” tanyaku tak percaya.

Aku tak mengerti kenapa aku harus melupakan anak-anak yang kukandung dan kulahirkan sendiri. Apa aku benar-benar tak pantas merawat mereka?

“Ibu aku tidak mengerti apa maksudmu. Kenapa aku harus melupakan mereka. Aku tidak mau.” Aku menggeleng cepat seperti orang gila. Tak terima dengan pernyataan ibu.

Aku bergerak gusar di atas ranjang, menyingkap selimut yang membungkus tubuhku. Saat aku hendak turun dari ranjang, tubuhku terhalang oleh ibu dan infus sialan yang masih menempel di tangan kiriku.

“Lepaskan aku, ibu. Aku ingin melihat anak-anakku.”

Kuraba infus yang menancap di tanganku. Dengan susah payah melepaskannya, meski nyeri dan ngilu masih terasa di sana dan perutku, tentu saja.

“Geumanhae!”

Kutepis tangan ibu yang menghalangiku, “Akh!” dengan sekali tarik, infus itu berhasil terbuka. Ada sesuatu yang mengalir di sana. Aku tidak tahu itu apa. Bisa jadi darah karena aku bisa mencium aroma anyir dari sana.

Kuraba daerah sekitarku dan kembali terduduk di atas ranjang saat aku baru melengkah beberapa kali. Ibu memegang erat kedua bahuku, menahanku yang masih terengah karena berusaha melawan halangannya.

“Dengarkan eomma!” ujarnya keras dan tegas.

Aku menggeleng cepat. Mencoba menepis tangan ibu untuk kesekian kalinya yang tengah memegang erat tubuhku.

“Aku hanya ingin bertemu mereka. Itu saja.”

“Kau tidak perlu melakukan hal itu. Biarkan mereka bersama ayah dan neneknya.”

“Aku tidak mau. Mereka anak-anakku, kenapa kau harus memberikannya pada Donghae?”

“Itu yang terbaik untuk mereka.”

“Aku bisa merawat mereka.”

“Tidak. Kau tidak bisa merawat mereka dengan keadaanmu seperti ini.”

Seruan ibu seolah menghantamku dengan kenyataan pahit yang sempat kulupakan. Tubuhku melemas perlahan, satu hal yang kusadari saat ini. Harusnya aku menyadarinya sejak awal. Aku tidak cukup baik untuk menjadi seorang isteri ataupun ibu. Untuk mengurus diri sendiri pun kadang aku masih butuh bantuan orang lain, lalu bagaimana aku bisa mengurus anakku sendiri.

“Mereka akan lebih bahagia bersama Donghae.”

Mataku memanas dan dadaku terasa sesak. Tubuh yang masih lemas kini terasa semakin melunglai.

Kenyataan yang harus kuhadapi kali ini bukanlah hal yang sederhana. Aku sadar sejak awal ini tidak akan sederhana. Pada akhirnya aku akan tetap menginginkan, menyentuh, mencium, dan memberikan seluruh kasih sayangku pada mereka yang menemaniku selama sembilan bulan dalam suasana hati apapun. Yah, apapun yang kurasakan tentang ayah dan nenek mereka, semua hal yang menekanku, dan satu kebahagiaan yang terselip rapi yang selalu membuatku tersenyum untuk mereka dan suamiku.

“Kembalilah setelah semuanya membaik. Saat kau bisa melakukan apa yang kau inginkan. Untuk mereka dan suamimu.”

March, 31st 2014
5 pm

Itu adalah keputusan terkonyol yang pernah kupilih. Pada akhirnya, aku dan keluargaku yang tak berdaya karena uang mereka harus merelakan apa yang sudah kuperjuangkan dengan taruhan nyawa. Terkadang aku ingin menertawakan diriku sendiri ketika kenyataan keji itu juga mengarah padaku. Secara tidak langsung aku menukar mereka dengan mata.

Orang kaya memang bisa melakukan apapun. Imbalan yang tak pernah kuharapkan dari ibu mertuaku akhirnya kuterima dengan terbuka. Yang beliau inginkan hanyalah aku pergi dari kehidupan mereka yang sudah sempurna.

Seandainya saja aku bisa. Tapi aku tidak bisa melakukannya.

Apa aku licik?

Yah, kuakui. Karena menjadi orang naif pun takkan membantuku bertahan di dunia aneh ini.

Dan sekarang aku kembali. Hanya ingin melihat bagaimana anak-anakku tumbuh bersama ayah mereka. Syukur-syukur kalau mereka tahu aku ibunya.

“Kuharap kau bisa memberikan kabar baik untukku,” ujarku mencoba tetap tenang.

Kutinggalkan secarik kertas dengan nama, alamat, dan nomor telponku, kemudian beranjak dari dudukku tanpa menunggu kopi yang Donghae pesan datang.

“Mau kemana kau?”

Kuhela napasku seraya membenarkan blazer hitam yang sedikit kusut karena duduk tadi. Menoleh sebentar ke arahnya dan tersenyum. Aku selalu menginginkan ini, tersenyum di depannya. Tapi bukan dengan ekspresinya yang seperti orang bingung.

“Aku akan kembali ke sini besok. Mungkin kau mau mengijinkanku bertemu dengan anak-anakku.”

“Kau tidak boleh pergi kemanapun.”

Ia mendekat ke arahku kemudian mencengkeram pergelangan tanganku kuat. Membuatku meringis karenanya. Saat menyadari hal itu, ia langsung melepaskannya dan meminta maaf atas tindakan brutalnya padaku.

“Kubilang kita selesaikan urusan kita terlebih dahulu.”

“Apa yang harus diselesaikan? Kita sudah benar-benar selesai.”

“Tidak sebelum kau menjelaskan semuanya.”

“Apa? Terlalu banyak yang kusembunyikan darimu, aku bingung harus memulainya dari mana. Bisakah kita tidak usah membahas ini lagi?” jawabku kesal.

Lelah, aku mendecih kesal seraya melipat kedua tangan di depan dada. “Aku tidak mau membahasnya lagi.” Dan saat itu juga mulutku terkunci karenanya. Karena bungkaman bibirnya di bibirku ketika ia merengkuhku setelah menarik pinggangku cepat.

Kapan terakhir kali aku merasakannya? Aku sudah lupa. Tapi aku selalu ingat bagaimana rasanya. Dan sampai sekarang rasa bibirnya tetaplah sama. Manis dan lembut.

“Katakan semuanya,” lirihnya setelah melepas pagutan kami.

Tatapan mata sayunya yang lembut membuatku tertunduk. Wajahku memanas, kikuk dan berdebar hebat karena ini pertama kalinya aku melihat pria yang kucintai menatapku dengan tatapan seperti itu.

“I-ibumu memintaku untuk kembali ke Mokpo setelah melahirkan.”

“Uh-huh.”

Cup.

Dadaku memacu lebih keras lalgi saat ia menarik pinggangku lebih mendekatinya dan mengecup singakat bibirku.

“B-beliau memberikan d-donor mata un-untukku.”

Cup.

Lagi. Aku harus menahan napas karena satu kecupannya.

“Keluargaku akan mendapat masalah jika aku tak mau melakukan semuanya.”

Ini ancaman klasik sebenarnya. Tapi siapa yang tidak kelimpungan saat keluargamu terancam hanya karena satu orang tak berguna sepertiku, saat itu.

Cup.

“Aku salah, aku tahu harusnya—“

Ia menggeleng seraya mengusap pipi kiriku, “Skip bagian itu!” aku mengangguk canggung. Kemudian menghela napas pelan sebelum melanjutkan kalimatku.

“A-aku melakukannya. Dan aku kembali karena aku tak bisa meniggalkan mereka dan k—“ aku tercekat.

“Dan apa?”

Aku menggeleng cepat saat otakku merespon dan menyuruh bibirku untu mengatakan bahwa aku tak bisa meninggalkannya juga.

“Lupakan!”

Donghae malah tersenyum saat tanganku menahan bibirnya yang ingin menciumku lagi, kemudian membuatku terpekik keras karena cubitannya di hidungku.

“Kau semakin menggemaskan.” Donghae memelukku erat. Membuatku melayang karena kehangatannya. Beberapa menit terlena karenanya dan sejurus kemudian aku sadar. Kudorong keras tubuhnya hingga menimbulkan jarak beberapa centi di antara kami. Membuatnya mengernyit heran dan menatapku tak percaya.

“Berhenti mempermainkanku. Kau tahu pasti aku mencintaimu tapi bukan berarti kau bisa mempermainkanku,” kuhela napas dalam seraya membenarkan baju dan rambutku yang berantakan, “kita sudah selesai.”

Lagi-lagi pria ini membuatku tercekat dan salah tingkah hanya karena senyum yang tersungging di bibirnya.

“Percayalah, kita belum benar-benar selesai.”

Tatapanku terus tertuju padanya yang kini tengah berjalan menuju meja kerjanya, mengambil sesuatu, lalu kembali ke tempat kami semula dan menarik tanganku keluar dari kamar ini.

“Apa yang kau lakukan?” pekikku masih mengikuti langkah cepatnya.

Tanpa menjawab pertanyaanku ia membuka pintu ruangannya dan langsung membuat kami tersentak karena hampir saja menabrak salah satu office girl yang membawa nampan berisi dua cangkir kopi.

“Sajangnim, kopi anda,” ujarnya bingung. Wanita ini menatapku dan Donghae bergantian.

“Maaf, aku punya urusan mendadak.”

Jika urusan mendadaknya adalah membawaku kabur ke tempat yang tidak jelas, kurasa itu bukan hal yang sangat penting.

“Ko-kopinya?” tanyanya tergagap.

“Kau minum saja dengan teman-temanmu.”

Donghae kembali menarik tanganku. Tidak sakit, karena ia menariknya dengan lembut. Namun langkah kakinya memaksaku untuk mengikuti langkah besarnya. Dari mulai kami masuk ke dalam sampai dalam perjalanan ia hanya sesekali melemparkan pertanyaan padaku. Hanya menanyakan keadaan ayah dan ibu. Dan membuatku terkejut karena kabar kematian mantan ibu mertuaku karena serangan jantung.

Harusnya aku senang. Tapi tidak jika orang yang kucintai merasakan kepedihan di saat ia mengalami kesedihan itu sendirian. Sekalipun yang mati adalah orang yang paling menentang pernikahan kami, bahkan beliau adalah tersangka utama yang menyebabkan aku berpisah dengan mereka dan anak-anakku.

Lamunanku mengalun indah seiring dengan lantunan instrument Moonlight Sonata dari seorang Maestro seperti Beethoven. Satu-satunya lagu yang kusuka dari sekian banyak playlist di MP3 Player mobil Donghae, bukan hanya karena keahliannya mengaransemen musik. Kami punya satu kesamaan, dulu. Sama-sama buta. Sayangnya aku belum bisa sepertinya.

“Iya, Appa akan segera pulang.”

Aku mendengar semuanya. Dan hatiku mencelos begitu saja saat kata ‘ayah’ keluar dari bibirnya. Siapapun tahu jika pria ini tengah berbicara dengan anaknya dan itu berarti ia sedang berbicara dengan anakku juga. Ingin sekali aku merebut telponnya dan berbicara dengan mereka. Tapi tidak untuk sekarang.

Saat aku hendak membuka mata, ia menutup telponnya. Sejurus kemudian kurasakan tangan besar itu kembali mengusap pelan rambutku. Setelah sekian lama, lima tahun bukanlah waktu yang sebentar untukku. Terlebih tanpanya dan anak-anak kami.

“Yumi-ya.”

Aku bergerak gusar saat tubuhku terguncang pelan kemudian mengucek kedua mata. Sedikit tersentak karena jarak wajah Donghae yang terlalu dekat. Ia nampak kikuk, begitupun aku. Dengan sedikit perasaan gugup kubuka seatbelt-ku dan keluar bersamaan dengan Donghae.

Kubenarkan letak tas yang menyampir di bahu kananku. Seraya menatap sebuah rumah minimalis bercat putih di depanku. Dengan hiasan beberapa meter taman yang berisi tanaman kerdil. Hijau, rumah ini nampak begitu sejuk.

“Kami baru pindah setahun yang lalu.”

Aku mengangguk mengerti. Dan itu berarti rumah ini bukanlah rumah yang kutinggali saat kami masih menikah dulu.

“Ayo, masuk!”

Donghae menggandeng tanganku lagi. Membuat tanganku berkeringat karena gugup dan jantung yang berdebar dengan kuat. Lagi.

Kami sampai di depan pintu, namun Donghae justru mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

“Apa kau lupa password rumahmu sendiri?” tanyaku jengkel.

“Ssstt.”

Hanya itu yang ia katakan padaku kemudian ia kembali fokus pada ponselnya yang mungkin saja sudah terhubung dengan seseorang.

Tak lama setelah Donghae menyimpan kembali ponselnya, pintu itu terbuka. Membuat napasku tercekat dan hati yang berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Kurasa kalau setiap hari jantungku seperti ini aku bisa mati lebih cepat.

Mataku tak bisa berkedip. Saat melihat dua bocah laki-laki dengan kaos bergambar Ben 10. Mereka menatapku lama dengan mata yang sama-sama sayu, hidung mancung dan garis rahang yang belum begitu terlihat karena tertutupi lumeran lemak di kedua pipi merah mereka. Lidahku terasa kelu, tubuhku pun ikut kaku.

Hangat di mataku mulai terasa saat mereka saling berpandangan kemudian menatapku lagi.

“EOMMA!!! EOMMA!!!”

Tanganku reflek memegangi punggung mereka yang tengah memeluk pinggangku. Kedua wajah mereka tenggelam di perutku. Suara riang mereka yang menggema membuat cairan hangat di sudut mataku lolos begitu saja. Bahagia, lega, dan rasa tak percaya jika aku bisa memegang mereka terasa datang bersamaan. Mereka mengenaliku.

Aku berlutut, menyamai tinggi mereka. Menatap haru senyum yang terpatri di bibir tipis anak-anakku. Dengan rakus mengecupi kedua wajah mereka bergantian. Membuat mereka sedikit tak nyaman.

“Kenapa Eomma menangis?”

“Apa Eomma tidak suka bertemu aku dan Dongmin?”

Aku menggeleng pelan. Semakin terenyuh saat ia mengusap kedua pipiku.

“Uljimala.”

Kembaran Dongmin, oh, aku bahkan tak tahu siapa namanya. Ia mengecup pipi kananku, membuatku tertawa pelan di tengah isakan. Kemudian mereka menarikku, membawaku ke dalam rumah. Bukan, tapi langsung membawaku ke dalam kamar mereka dengan ranjang yang besar dan berbagai aksesoris Ben 10 di kamar tersebut. Termasuk wallpaper-nya yang bergambar Ben 10 juga. Ada foto mereka, Donghae, dan—fotoku, saat tertidur.

Mereka menggiringku duduk di atas ranjang dan bersandar pada headboard-nya, memelukku dari kedua sisi seraya rebahan dengan kepala yang menyandar di atas perutku. Menghujaniku dengan berbagai pertanyaan kemana aku pergi, bersama siapa, kenapa meninggalkan mereka dan Donghae. Mereka kesepian, tanpa aku. Aku memang bukan ibu yang baik dan akan kurubah semua itu mulai sekarang.

“…mereka suka mengajakku ke gereja. Aku juga suka sekali musik-musik di sana. Sangat menenangkan. Kata appa, dulu eomma juga selalu mengajak kami mendengar musik itu, saat masih berada di sini.” Aku tertawa pelan saat kembaran Dongmin yang ternyata bernama Donghyun itu menepuk perutku pelan dengan tangan mungilnya. Membuatku sedikit terkejut juga. Kukira Donghae membongar koleksi MP3-ku yang tertinggal di rumahnya.

“Tapi Eomma, aku tidak suka musik itu, membuatku cepat mengantuk. Lebih bagus lagu-lagu SNSD. Mereka cantik-cantik lagi,” tutur Dongmin semangat.

Aku terbahak saat celotehan mereka dan bercerita banyak hal. Sepertinya musik-musik itu lebih banyak didengar Donghyun dan terabaikan oleh Dongmin.

Kuhela napas panjang saat perutku terasa kram setelah beberapa. Pelan, kuusap kedua rambut cepak mereka, mengantarkan mereka ke dalam mimipi karena terlalu lelah bercerita dan menunjukkan beberapa hasil lipatan origami karya mereka seharian ini selama di sekolah. Mereka tertidur dengan kepala yang masih berada di atas perutku. Membuatku tertawa tanpa suara saat mereka bergumam ingin makan pancake jeruk dan pasta macaroni.

Pandanganku teralih ke arah pintu saat Donghae membukanya. Aku membalas senyumnya saat ia berjalan pelan mendekat ke arah kami.

“Sudah tidur?”

Aku mengangguk, “Mereka kelelahan.”

Tanpa kuminta Donghae membantuku memindahkan Dongmin dan Donghyun. Setelah menyelimuti mereka, kami keluar kamar dan menutup pintu pelan.

“Sebaiknya kau istirahat di sini. Mereka akan kaget saat bangun dan tidak melihatmu besok pagi.” Aku mengangguk mengerti.

“Kau bisa tidur di kamar mereka, atau kalau kau mau kau bisa tidur di kamarku,”tuturnya santai tanpa memedulikan aku yang terheran karenanya. Ini topik yang agak sensitive untukku.

“Kau tidak punya kamar tamu?”

“Kau bukan tamu di sini. Tapi ibu Dongmin dan Donghyun.”

Donghae berlalu begitu saja. Sementara aku lebih memilih untuk ke dapur kemudian membuat makan malam daripada memikirkan ocehan Donghae yang melebar kemana-mana.

Setelah memasang apron dan mengikat rambutku yang terurai. Beberapa menit kemudian aku mulai bekutat dengan adonan tepung yang selesai kupanggang, kusiram dengan sirup jeruk dan toping irisan jeruk segar. Kemudian beralih pada macaroni dan jagung muda yang sudah empuk dan mengembang kemudian menyiramnya dengan saos yang baru saja selesai kubuat. Aroma gurih dan manis membuat perutku ikut bernyanyi.

Napasku tercekat saat tubuhku menabrak Donghae yang berdiri tegap tepat di depannya ketika aku berbalik dari pantry dan bermaksud mengambil piring untukku sendiri. Bau sabun dan shampo yang sama seperti lima tahun lalu menyapa hidungku lagi. Membuatku memutar kembali kenangan itu.

Aku berdeham untuk mencairkan suasana, sementara Donghae menggeser tubuh besarnya, memberiku jalan menuju rak piring di samping wastafel.

“Duduklah, aku memasak banyak pasta macaroni.”

Setelah selesai menyiapkan dua piring pasta dan dua gelas jus jeruk, aku duduk di sampingnya.

“Kau memasak?” aku mengangguk seraya melahap pastaku.

“Tidak usah heran begitu. Aku sudah bisa melihat,” jawabku santai. Donghae tertawa seraya mengaduk-aduk pastanya.

“Kau meninggalkan mereka sendiri di rumah?”

“Tidak. Biasanya pengasuh mereka pulang saat aku pulang dari kantor.” Aku mengangguk.

Kami terdiam untuk beberapa saat dan memilih untuk menikmati makan malam sederhana yang kubuat.

“Aku sedikit heran mereka mengenaliku dengan cepat.”

“Yah, sejak umur dua tahu mereka selalu menanyakanmu. Aku hanya memberikan beberapa fotomu yang kupunya.” Kemudian ia mulai melahap pasta-nya.

“Mereka anak-anak yang pintar.”

“Seperti aku,” sahutnya cepat. Membuatku mendengus.

“Yah, kau mewariskan terlalu banyak gen pada mereka.”

“Itu sudah pasti. Aku yang lebih berkuasa di ranjang.”

Aku tersedak. Dengan cepat kuminum jus jeruk di depanku seraya mengusap dadaku yang seperti tersumpal sesuatu. Sesekali kulirik Donghae yang kini melahap pastanya dengan kikuk.

“P-pastanya e-enak.”

Setelah beberapa menit mengatur suhu wajahku yang meningkat, aku beranjak dari kursi untuk mengembalikan pasta yang masih setengah masuk ke dalam perut. Entah mengapa perutku terasa penuh begitu saja. Beberapa kali mendengarnya menyinggung masalah kamar dan ranjang membuatku semakin kikuk saat bersamanya. Bukan karena tak nyaman, tapi lebih pada malu.

Aku mencintainya, tentu saja aku senang jika ia menampakkan ketertarikannya padaku. Itu lebih baik daripada hanya diam seperti dulu namun memperlakukanku seperti seorang puteri mahkota. Tapi sikap frontal-nya itu membuatku sedikit takut.

Lamunanku terhenti saat kurasakan rengkuhannya di punggungku. Tanganku berhenti mengelap piring dan gelas yang baru saja kucuci. Bahu kananku terasa berat saat ia menyandarkan dagunya di sana, leherku menghangat karena hembusan napasnya, dan jantungku berdegu lebih kencang lagi, sekencang kedua tangannya yang melilit perutku.

Kali ini, menelan salivaku sendiri terasa seperti menelan gumpalan salju. Aku tertunduk dalam saat Donghae membalik tubuhku, menghadapnya. Napas hangat kami beradu, kemudian ia menempelkan dahi kami. Menarik tangan kananku dan memasukkan sebuah lingkaran emas putih kecil ke dalam jari manisku.

Aku terhenyak, mendelik heran ke arah Donghae yang tengah tersenyum seraya mengecup punggung tanganku.

“Sudah terlalu lama aku ingin mengatakan ini,” ujarnya pelan.

Kutarik napas dalam, bersiap mendengarkan hal yang tak kuduga sebelumnya. Aku siap mendengarkannya.

“Maukah kau menikah denganku—lagi?”

Dadaku masih berdegup kencang. Ini pertama kalinya aku mendengarnya mengatakan itu karena saat itu kakek dan ibunyalah yang melamarku untuknya.

Kuhela napas lagi, “Menurutmu jawaban apa yang harus kuberikan?” Donghae tertawa tak percaya. Yah, aku benar-benar tak tahu apa yang harus kukatakan untuk menjawab pertanyaannya.

“Tentu saja ‘Iya, Oppa. Aku mau menikah denganmu lagi’. Itu jawaban yang kuinginkan,” jawabnya mantap seraya menatapku lekat.

“Apa yang membuatku harus menjawab seperti itu? Aku tidak tahu apakah kau juga mencintaiku seperti aku mencintaimu.”

Kini Donghae menghela napas di depanku, melepaskan pegangan tangannya padaku emudian mengusap wajahnya frustasi.

“Aku memang tidak bisa mencintaimu seperti kau mencintaiku,” ia menangkup wajahku, “lebih dari itu. Aku membutuhkanmu, sama seperti aku membutuhkan anak-anak.”

“Sejak kapan kau merasakan hal itu?”

“Sebelum kau mengatakan kau mencintaiku.” Aku berusaha keras menutupi kekagetanku.

“Kenapa kau tidak mengatakan sejak dulu?”

“Karena kau terlalu sibuk dengan ketidaksempurnaanmu. Kupikir kau akan mengira aku hanya mengasihanimu jika aku mengatakannya saat itu.”

“Bagaimana kau—“

“Jangan tanyakan bagaimana aku bisa mencintaimu. Aku sudah membaca banyak buku tapi aku tak juga mendapat jawabannya.” Kami saling menatap lekat. Setelahnya, tertawa tanpa tahu siapa yang memulai lebih dulu.

Perlahan, aku mulai mendekatkan kembali jarak kami, memeluknya, dan ia pun membalas pelukanku. Merasakan detakan jantungnya yang menempel di dadaku. Senyumku tak bisa lepas untuk beberapa menit rengkuhan kami.

“Iya, Oppa. Aku mau menikah denganmu lagi.” kami tertawa pelan seraya melepaskan pelukan.

“Kakek pasti akan kaget mendengar ini.” Kami tergelak lagi.

“Kita bangunkan anak-anak.”

“Tidak usah, mereka pasti lelah,” tolakku.

“Aish, mereka akan bangun hanya dengan bau pancake dan pasta macaroni.”

Aku menatap senang Dongmin dan Donghyun yang langsung terbangun hanya karena Donghae membawa pancake jeruk dan pasta macaroni yang panas. Mereka makan dengan lahap. Lucunya lagi, setengah dari pancake Dongmin, ia beriakan pada Donghyun dan setengah pasta dari Donghyun, ia berikan pada Dongmin.

Donghae tersenyum seraya terbaring di samping kami. Sesekali menggelitiki Dongmin dan Donghyun hingga membuat mereka berjingkat dan hampir menjatuhkan piring ke lantai.

Aku menghela napas panjang melihat mereka. Begitu banyak hal yang kurasakan dalam beberapa tahun yang kelam untukku, hal-hal yang takkan bisa kau pelajari dari buku. Bagaimana tangan Tuhan bekerja tanpa kata.

Tanpa kata, cinta menghampiriku
Tanpa kata, aku merasakan cinta.
Tanpa kata, aku merasakan sakit.

Dan semua itu berbanding lurus pada apa yang Donghae rasakan padaku. Jangan tanyakan pula bagaimana aku bisa mencintainya. Sejak awal aku juga tak membutuhkan balasannya yang ternyata datang tak terduga. Karena perasaan itu datang begitu saja.

Tanpa kata.

END

A/N:

Hohoho. Jadinya long shot. Fict ini terinspirasi dari lagu Without Word-nya Park Shin Hye sama Scent of a Flower-nya Lim Jeong Hee. Sengaja aku fokusin di kehidupannya Donghae sama Yumi, lagian fict ini juga bukan fict dengan genre family. Wkwkwkw

Ini FF request-an temen mimin. Saya tahu ini mainstream abbeeezzzz dan tidak akan sebagus FF-FF yang lain tapi semoga bisa menghibur sekaligus memberikan pelajaran. *Waks! pelajaran apaan* -____-

DON’T FORGET TO ALWAYS LEAVE UR COMMENT!!! ^^

<photo id=”1″ />

38 thoughts on “[One Shot] Maldo Eobshi

  1. Wah wah jadi yumi nya buta, pas awal baca sih emng udh ngiranya gitu.. kerenn ff nya.. keep writting

  2. aaaaaah suka bnget sama karakter dongeeeee,,,
    tumben banget lee eomma dijadiin jahat,,,

    paling suka sama ini kata,,,
    “Yah, kau mewariskan terlalu banyak gen
    pada mereka.”
    “Itu sudah pasti. Aku yang lebih berkuasa
    di ranjang.”

    ah melted,,,

  3. aku suka ceritanya.
    tp aku agak bingung karna gak ada perbedaan spasi antara satu waktu ke yg lain. gmn y jabarinnya.
    jd aku kira paragraf yg selanjutnya masih dlm keadaan yg sama ternyata ud lain keadaan.
    yah pokoknya gitu deh.🙂

  4. Daebak!! Dua jempol utk ff ini bener” nguras emosi. Sosok donghae jg keren bgt bener” suami yg baik. Aaaa wajib sequel ini chingu😀

  5. annyeong.. aku reader baru🙂
    aku suka ceritanya, meskipun diawal aku sedikit kebingungan, tapi semakin kesini mulai ngerti maksudnya.. pas aku baca genrenya: sad, aku kira bakal sad ending tapi ternyata happy ending😀 /bener kan?/
    pokoknya aku suka sama ffnya, apalagi krakter donghae di ff ini. bener-bener suami idaman. hehe🙂

  6. kata kata nyaa thor guee sukaa bangettt !!!
    Sangat menyentuh hinga berkilo kilo meter ke relung hati #lebaaayyy
    pokonya, gak ada satupun ff auhtor yg gak gue sukaiiiiii semuaanyaaaaaaa TOP pokonya!
    Pertahankan bahasanya thorrr ituuu yg bkin gue betah ma ff author kekeke

  7. hwaaaa hwaaa donghae,. :*
    So sweet bngeettt,. keren bnget thor,. karakteristiknya donghae itu lho yg paling q ska,.😀,.
    Aaaaaaaaaaa q pngen teriak,. q mau punya suami kyk gtu,. >.<

  8. Sukaaa
    pas baca awalnya muka tegang, eh pas akhirnya sambil mesem2 sendiri, ceitanya seru
    tp kayaknya butuh sequel deh thor kekeke

  9. Brakhir dgn bahagia..senang ny liat yumi ama hae brsatu lg hdup mreka semkin smpurna dgn ada ny 2 buah hati mreka ‘dongmin dan donghyun’ smoga langgeng^^ amin amin..

  10. Aku suka jalan ceritanya. Kerasa feelnya.
    Dan kalimat yang aku suka adalah ” jangan tanyakan kenapa aku bisa mencintaimu “

  11. Ini keren loh eonnnn,donghae cintanya tulus bgtt.walaupun dimulai dari perjodohan dan yuminya buta,tapi donghae selalu ada di samping yumi.ahhh nyesel baru kenal eonnie.

  12. haiiii..
    aku new reader, nova..*senyummanis
    salam kenal..

    baru baca oneshoot sepanjang ini..
    dan feelnya dpt banget, jalan ceritany maenstream, tp ga ngebosenin..
    jadi, awalnya yumi ga bsa lihat, nikah sm donghae krna perjodohan..
    ibu donghae ga merestui, dan akhirnya yumi dikasi plhan seperti itu..?? it ibunya donghae punya hati ga sih..?? tpi untungnya endingnya happy..
    keluarga kecil it utuh lagi..
    yg bikin terharu waktu si kembar lsg ngenalin kl yumi ibu mereka..
    merinding bacanya..

    dan yg bikin geli itu waktu baca interaksi dongae sm yumi yg sdg makan..
    “Mereka anak-anak yang pintar.”
    “Seperti aku,”
    “Yah, kau mewariskan terlalu banyak gen pada mereka.”
    “Itu sudah pasti. Aku yang lebih berkuasa di ranjang.”
    astagaaaaa, donghae ga knal tempat yaa..?? dimeja makan, ngomongnya kyk gitu..
    kkkkkkkkk~, lucu..
    banyakin yaa yg kyk gini..
    hehehehehe..
    waah, komenku panjang dn ga jelas..
    sekian dan terima kasih.. ^^

  13. Ohhhh yang namanya takdir dan jodoh memang nggx kemana . Dongmin dan donghyun juga salah satu pemersatu ikatan kasih mereka . Untungnya si pemisah sudah pergi jauh kesel dan ada lah sedikit sedih.

  14. Wahhh keren nih ceritanya mengharukan banget… Kasian kan sudah tidak bisa melihat, keluarganya lebih ga punya dr suami,, dan punya mertua galak… Tp punya suami dan kakek si suami yg sayang bangt sm kita..
    Tp aq penasaran pas si Yumi gas sadar selama 2hr itu Donghae kemana?

  15. wow suka bgt mha ff’a.
    alur’a, tata bhsa’a smua’a rapi n mnarik bgt.
    sbnr’a q jrang bca ff yg cast’a bkn kyuhyun tp pas liat bgian awal’a ja dha bkn tertarik. Jd q bca ampe end.
    and Trnyta hsil’a SANGAT MEMUASKAN^^

    jempol deh buat author’a (y)

  16. kerenn bgtt..donghae suami yg sempurna banget disinj. care banget sama yumii..huaa…q sempet sakot hati waktu maminya hae nyuruh yumi pergi

  17. diawal aku sedih lihat perlakuan donghae ke yumi….manis tp nyesek….apalg cinta Yumi seperti bertepuk sebelah tangan. kpn mereka cerainya? anakny kembar…..terharu ngbyangin orang buta berjuang melahirkan..eonni ff keren beud

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s