[Chapter] Snow White and The Evilman Part 1

1493102_187492944779773_1795413249_nTitle: Snow White and The Evilman
Author: Valuable94
Casts: Song Hyo In (OC), Cho Kyuhyun (SJ), Teo Shin (Lunafly), Cho Ahra
Genre: Romance, Sad, Suspense (later)
Length: Chapter
Rate: NC
Disclaimer: I do not own Kyuhyun, Ahra and Teo. Plot belong to Grimm Brothers. THIS STORY AND OC ARE MINE. Mature content. CHILDREN DO NOT ALLOW TO READ THIS. DO NOT COPY-PASTE AND RENAME THE CASTS.

Happy reading! ^^

Hyo In POV

August, 20th 2014

“Besok malam?”

Ini adalah pertama kalinya aku mencoba mencuri dengar perbincangan ibu dan paman. Meski sebenarnya tujuanku ke ruang kerja yang dulu milik ayah ini bukan karena ingin menguping, tapi teh hangat yang ibu minta sudah memanggil-manggil untuk segera diantarkan.

“Ya. Harus besok malam.”

“Tapi terlalu banyak tamu, kau tahu? Semuanya akan sangat mudah terbongkar jika kita membunuhnya malam itu. Kau mau cari mati, huh?”

Siapapun tahu jika kata ‘membunuh’ itu bisa mewakili prasangka yang kurang baik. Termasuk aku. Sekalipun selama 20 tahun ini aku hanya tumbuh dan belajar di dalam istana, aku bukanlah seorang puteri raja kutu buku yang hanya tahu makan, berdandan, belajar, dan pada akhirnya akan menerima dengan lapang pernikahanku bersama dengan pangeran tampan.

“Percayalah Noona, semua akan baik-baik saja. Aku sudah mempersiapkan ini jauh hari sebelumnya. Minggu depan adalah ulang tahun Hyo In ke-20. Dan kau tahu persis apa yang akan terjadi malam itu.”

Penobatanku sebagai ratu? Apa itu masalahnya?

Mataku terpejam erat. Genggaman pada nampan yang kubawa pun ikut mengerat hingga membuat tehnya sedikit tumpah. Saat aku mulai paham kemana arah pembicaraan mereka. Ini bukan hal yang bagus. Aku tahu itu dengan baik. Tapi ini terlalu mendadak.

Ya Tuhan. Kenapa kau selalu membawaku ke dalam hidup yang tak pernah tenang barang satu menit pun. Mungkin menjadi tawanan di rumahku sendiri masih tak cukup menyengsarakan.

“Tidak. Aku tidak akan membiarkan semua usahaku setelah restorasi kerajaan Korea sampai saat ini sia-sia begitu saja.” Kata wanita itu, keras.

Kupegang dadaku cepat saat sentakkan pada mejanya berhasil menimbulkan bunyi yang keras, menumpahkan wine merah hingga mengotori taplak meja berwarna putih di depannya. Hal itu sukses mengagetkanku yang masih mencoba mendengarkan rencana mereka. Membunuhku.

Oh, dasar bodoh!

“Lakukan secepatnya,”

Airmataku lolos begitu saja saat kulihat paman mengangguk patuh pada ibu.

Siapapun. Tak adakah seorang malaikat yang katanya baik hati itu yang akan membawaku lari dari gedung megah yang tak pernah memberikanku keamanan ini.

“Lakukan dengan cepat dan—bersih. Aku tidak ingin ada satu noda darah pun tertinggal di istana ini.”

Halkaeyo.”

Aku berlari cepat dari kamar tersebut. Mencoba mencari perlindungan yang sebenarnya tak pernah ada di sini, tidak sebelum ayah dan ibu pergi untuk selamanya. Harusnya aku tahu itu, tapi dengan bodohnya otakku mengistruksi kakiku untuk melangkah ke dalam kamar dan selanjutnya terduduk lemas di bawah ranjang, dengan airmata berderai dan perasaan takut. Takut akan kesendirian yang selama ini menemaniku di dalam istana yang ramai ini. Akan segala hal yang selalu mengancam jiwaku. Bukan dari para teroris yang ingin membunuh satu-satunya keturunan raja Korea terakhir sepertiku, melainkan keluargaku sendiri. Meski mereka bukan keluarga yang sesungguhnya.

Harusnya aku bisa menduganya. Sejak ibu meninggal dan wanita itu menikah dengan ayah 3 tahun setelah presiden Korea menyetujui restorasi kerajaan 10 tahun yang lalu.

“Ayah—Ibu—“

Aku hanya mampu menggumam lemah. Dadaku terasa begitu sesak dan sakit. Seolah terhimpit tembok-tembok istana yang tinggi. Meringkuk sendiri dengan segala angan untuk bahagia yang harus kukubur dalam.

Haruskah aku merelakan nyawaku saat aku belum pernah melakukan sesuatu yang berguna. Setidaknya untuk membahagiakan ayah dan ibu yang belum sempat kubuat tersenyum selama hidup mereka.

August, 21st 2014

At Hyo In’s Room
8 pm

AigooUri  Hyo In-ie neomu yeppeuji.”

Aku terkikik pelan saat Ahra Eonni selesai memoles wajahku dengan bedak. Dengan sedikit eye-shadow, blush on, dan lipstick yang berhasil membuat wajahku sedikit lebih berwarna, aku memandang pantulan wajah pucatku yang tersamar make up sederhana namun elegan tersebut. Hasil polesan wanita yang selama ini menemaniku di dalam istana yang tak bersahabat ini.

Kemudian aku berdiri pelan, memandangi seorang puteri mahkota yang sekarang terlihat benar-benar seperti seorang puteri. Kuhela napas pelan. Sengaja kusembunyikan gurat muramku dengan menata ulang bagian bawah gaun putih dengan gradasi pink cerah yang menjuntai menutupi sampai mata kakiku. Semua percakapan yang kudengar semalam tak pernah bisa membuatku lupa barang sedetik pun.

Eottaeyo?”

Senyumku mengembang sempurna saat dua jempol Ahra Eonni mengarah padaku.

“Teo-ssi sangat beruntung mendapatkanmu.” Ungkapnya. Aku tersenyum pelan.

“Kalian sedang membicarakan aku?”

Kami menoleh ke ambang pintu saat suara lembut itu menggema di kamarku. Pria bermata cokelat dengan wajah asia yang dipadu sedikit wajah eropa. Dia, calon tunanganku. Pria tampan yang meninggalkanku selama 10 tahun karena mengikuti kedua orang tuanya, sekarang kembali dengan sosok yang lebih dewasa dan lebih tinggi untuk melamarku. Di telpon.

Oppa!”

Pria itu tersenyum lembut, berjalan ke arahku dengan kedua tangan yang tersembunyi di balik tubuh tinggi kurusnya yang terbalut tuxedo putih dengan rambut hitam setengah cokelat terang. Dasar bule setengah pribumi.

Ia menghela napas saat sampai di sampingku kemudian merangkulkan tangan kanannya di bahuku, “Kau benar, Noona. Aku memang sangat beruntung mendapatkannya.”

Teo Oppa memekik pelan saat cubitanku berhasil mengenai pinganggnya. Membuat Ahra Eonni tertawa seraya memegangi perutnya. Sementara aku, sibuk mengatur suhu wajahku yang meningkat drastis.

“Lebih baik aku keluar sekarang.”

Aku mengangguk seraya tersenyum dan melambaikan tangan pada Ahra Eonni yang kini berjalan menjauh dari kamarku.

Pandanganku teralih saat kurasakan usapan lembut pada rambut ikalku yang terurai. Senyumku ikut terkembang menyambut senyumnya.

Ia menghela napas pelan lagi, “Aku menyesal karena memilih menghabiskan waktuku selama 10 tahun di Amsterdam,” ujarnya seraya membenahi hiasan kepalaku.

Wae?”

“Melihat wajahmu terasa lebih menyejukkan daripada melihat sungai-sungai di sana.”

Jinjaro?” tanyaku tak percaya.

Kulipat kedua tanganku di depan dada seraya menatapnya yang tengah terkikik pelan.

“Tentu saja. Aku tidak menyangka kalau ayam yang dulu suka bermain lumpur sepertimu bisa menjadi angsa yang cantik.” Ia mencubit hidungku pelan.

“Apa kau baru saja mengataiku jelek?”

Ani.” Sanggahnya cepat.

Aku berdecak kesal, “Eoh, geuraseo—lalu apa alasanmu mau melamar ayam sepertiku, huh!”

Eohgeugae—“

“Apa, huh?” tantangku.

Aish, berhenti memojokkanku, bocah.”

Pletak.

YA! Sebenarnya apa yang kau lakukan di Belanda. Kenapa kebiasaanmu memukul kepalaku tak bisa hilang.” Gerutuku seraya mengelus kepalaku yang baru saja terkena jitakannya.

Neo! Jinjj—“

“Tuan, Nona, acaranya akan segera dimulai.”

Adu mulut kami terhenti sejenak karena panggilan salah satu pelayan istana. Bahkan tangan Teo Oppa yang hendak memukulku lagi terpaksa hanya melayang di udara dan akhirnya turun dengan sendirinya.

Palli ttarawa!”

Ya!”

Aku mengikuti langkah besarnya keluar dari kamarku menuju aula istana. Pria itu terus saja menggenggam tanganku dan berjalan tanpa menoleh ke belakang, tak mengindahkan gerutuanku sama sekali.

Tinggal beberapa langkah lagi kami sampai di aula. Namun dengan cepat aku menarik tangannya untuk segera berhenti. Ada sedikit keraguan yang tiba-tiba melintas di otakku. Bagaimana mungkin orang yang akan dibunuh sepertiku dengan bahagianya melakukan pertunangan.

Waeyo?” Entah mengapa hanya gelengan dan senyuman yang malah kuperlihatkan pada Teo Oppa.

Aku sedikit takut melihat kernyitan di dahinya. “Aku harap kau bisa mengatakannya setelah acara ini selesai—“

Aku meringkuk darinya saat ia mendekatkan wajahnya ke telinga kananku, “jangan pernah menyembunyikan hal sekecil apapun dariku, ayam.” Bisiknya pelan kemudian menggenggam tanganku yang sempat terlepas darinya.

Kucoba untuk mengatur setiap detakan jantungku yang timbul tak karuan. Kali ini, entah mengapa ketakutan yang sempat terlupakan beberapa waktu lalu karena pertengkaran kami kini kembali timbul. Terlebih saat kami sampai di aula istana. Saat aku melihat terlalu banyak kemewahan yang terpancar dari setiap dekorasi yang menutupi tembok putih aula ini. Dengan warna putih, pink, dan keemasan yang sama-sama mendominasi.

Aku sedikit kesulitan menelan saliva karena menatap wajah-wajah yang menghadiri pesta ini. Salah satu yang paling kukenali adalah wajah Presiden Korea yang nampak berbincang hangat bersama dengan isteri dan seorang wanita yang ingin membunuhku.

Ia tersenyum lebar. Begitu bahagia kah ia hari ini? Aku yakin iya. Bukan karena pertunanganku dengan putera salah satu teman ayah tapi karena malam ini aku akan benar-benar mati di tangannya, meskipun tidak secara langsung.

Kalau saja bibir tipisku mampu mengungkapkan kenyataan tragis yang baru saja kudengar semalam. Sayangnya itu semua tanpa bukti. Dan itu berarti aku tak bisa mengatakan apapun kecuali mengunci mulutku rapat dan membiarkan apa yang memang seharusnya terjadi untuk terlaksana.

Aku menyerah. Iya. Aku sudah lelah.

Kuhela napas panjang, berbalik ke arah para tamu yang tengah bertepuk tangan saat cincin emas putih dengan hiasan batu rubi di atasnya melingkar di jari manis kami. Namun keindahan itu takkan pernah bisa menghapus skenario seseorang yang akan membunuhku malam ini. Entah mengapa aku bisa begitu yakin, seolah aku adalah Tuhan untuk diriku sendiri yang mengetahui hal apa yang akan terjadi setelah pesta ini selesai.

“Hyo In-ah,”

Aku berbalik. Untuk kesekian kalinya dadaku berdetak cepat, kali ini dengan deru napas yang memburu karena ketakutan melihat pria yang berencana membunuhku kini berada tepat di depanku.

Mwohae?” Tanya Teo Oppa.

Kupeluk lengan Teo Oppa erat. Seolah tahu ketakutan yang kini melandaku, ia mengusap pergelangan tanganku dengan tangan kanannya yang bebas.

“Nyonya Hyuna ingin bertemu dengan anda, sekarang.”

Keringat dingin perlahan membasahi dahiku. Pita suaraku seolah tak bisa bergetar untuk mengeluarkan jawaban. Dan akhirnya hanya gelengan yang aku tunjukkan. Percayalah, apapun yang tengah kucoba untuk tunjukkan pada Teo Oppa, pria ini selalu tahu jika aku butuh perlindungan.

Geureom, aku akan menemaninya ke sana.”

Teo Oppa merangkulku kemudian mengajakku untuk segera menemui ibu.

Andwae.” Langkah kami terhenti karena hadangan paman.

“Anda tidak bisa ikut, Tuan.”

“Kenapa? Kau lupa kalau aku baru saja bertunangan dengan calon ratumu?” nada Teo Oppa meninggi.

“Ini masalah intern kerajaan, anda tidak bisa melakukannya karena belum menikah dengan Nona muda.“ kilat matanya terlihat mengerikan bersamaan dengan seringaiannya.

Aku mulai kelabakan saat Teo Oppa mulai melepaskan rangkulannya dariku, dengan terpaksa. Tatapan matanya yang mengatakan ‘tak apa-apa’ itu tak mampu membuatku tenang. Rasanya aku ingin menangis dan berlutut di depanya untuk tak melepaskan pegangan kami.

Kalau saja aku bisa. Mungkin sekarang aku masih berada aman dalam pelukannya dan menikmati pesta itu hingga selesai. Sayangnya, menangis pun sudah tak bisa kulakukan. Saat tubuh tinggi nan anggun dengan gaun hitam dan keemasan yang menambah kesan glamour itu berdiri di depanku.

Tatapan matanya yang terbingkai eye-liner tebal menghempaskan seluruh harapan hidupku bersama angin malam di musim panas. Taman belakang istana ini nampak semakin gelap karena tatapan matanya. Dengan simpul mengerikan yang tertera jelas di bibir merah darahnya.

Parahnya, aku hanya bisa menunduk untuk waktu yang lama.

“Kau tahu kenapa aku memanggilmu kemari?”

Aku hanya bisa menghela napas panjang seraya menahan isakanku. Tak ingin terlihat semakin lemah saat kenyataan mengatakan jika aku memang sudah benar-benar tertindas hanya dengan tatapan tajamnya.

“Gadis yang tidak berguna sepertimu lebih baik mati daripada mengotori kerajaan ini dengan tingkah innocent-mu itu.”

Aku tersentak saat nada suaranya meninggi. Bahkan hembusan napas panasnya terasa menerpa wajahku.

“Kau benar-benar ingin membunuhku?”

Ibu tertawa sinis di depanku, “Kau! Gadis tidak berguna yang hanya menyusahkanku saja. Seharusnya aku membunuhmu dari dulu.”

Mataku terpejam menahan nyeri saat daguku dicengkeram kuat olehnya. Tanganku yang bergetar mencoba untuk menggapai apapun yang bisa menolongkku untuk lepas darinya.

“Kau tidak berguna. BAHKAN SAMPAI AYAH DAN IBUMU MATI PUN KAU TIDAK PERNAH ADA GUNANYA!”

Crash.

“AAKKHH!”

Napasku tersengal saat bros pemberian ibu berhasil melukai pergelangan tangan mulusnya. Wanita itu benar, aku memang tak pernah berguna. dan saat itu juga aku sadar. Sebagai calon pemimpin kerajaan, tak seharusnya aku menunjukkan sisi lemahku dengan hanya pasrah menerima takdir.

Tidak. Apa yang dikatakan wanita itu tidak benar.

Tanpa memedulikan berbagai umpatannya lagi aku mengangkat juntaian gaunku kemudian berlari di antara tanaman-tanaman kerdil yang dulu di tanam ayah sendiri.

Otakku terus memerintah kakiku untuk berlari semakin cepat saat beberapa pria tegap berjas hitam itu berada di belakangku dengan senjata api di tangan mereka. Masuk ke dalam pagar tanaman yang berada pada lapisan terluar daerah taman belakang kerajaan, aku menunduk berkali-kali saat bunyi letusan senjata api itu seolah terhempas dalam ruang kosong di udara.

Aku terus berlari. Mengabaikan napas pendekku yang terasa mencekik tenggorokan dan memaksaku untuk segera berhenti dan menyerah. Tidak. Aku tidak akan menyerah untuk hidup yang tak pernah memberiku kebahagiaan sekalipun.

Hingga akhirnya langkahku terhenti di depan hutan pinus yang cukup luas di belakang istana. Sedikit ragu aku menatap gelap dan berkabutnya tempat itu. Senakal apapun saat masih kecil, aku tak pernah sekalipun melanggar perintah ayah untuk tak bermain di hutan belakang istana. Tapi suara langkah kaki yang bergerombol itu membulatkan tekadku untuk masuk ke dalam hutan mengerikan itu.

Baiklah. Tidak ada pilihan lain.

Setelah sempat mengatur napas. Aku kembali mengangkat gaunku dan masuk ke dalam hutan tersebut. Mungkin baru beberapa meter, saat perasaan takut yang berhasil kutekan beberapa waktu lalu akhirnya muncul kembali. Aku berhenti dan bersandar pada salah satu pohon di sana. Terduduk lemas dengan napas terengah.

Jika saja menangis bisa mengembalikanku ke istana dan bertemu dengan Teo Oppa dan Ahra Eonni, aku pasti akan melakukannya sekarang juga.

Tuhan, kumohon jangan kau biarkan seekor harimau datang kemari.

Srakk.

Baiklah, harusnya aku tahu Tuhan tak pernah mengabulkan doaku. Aku menoleh cepat ke arah semak yang berada di belakangku. Kakiku yang sedari tadi kuperintah untuk melarikan diri, kini merespon dengancepat saat ada tanda-tanda bahaya yang mungkin saja mengancam.

Aku beranjak dan mengangkat kembali gaunku. Kembali berlari meski lelah dan  panas tubuhku karena keringat yang deras mencoba menyuruhku untuk segera berhenti dan istirahat, lagi. Berkali-kali aku menoleh ke belakang. Untuk kemudian memperlambat langkahku dan menunduk sejenak. Menghela napas panjang saat tak ada satu pun tanda bahaya yang mengikutiku. Tubuhku lemas. Aku kembali terduduk seraya memeluk kedua lututku.

Gelap sekali. Hanya cahaya pucat bulan yang sedikit memberiku penerangan. Cahaya bulan itu pula yang membuatku sadar. Ada seseorang yang berjalan pelan mendekatiku.

Napas yang tadinya sedikit memelan kini kembali memburu. Pelan, aku mencoba bangkit kembali, menatap tubuh tinggi tegap pria berkulit putih susu tersebut. Hidung mancung dan bibir penuh yang menampakkan cekungan di kedua sisinya. Semilir angin yang harusnya menyejukkanku itu terasa semakin mencekikku karena poni yang menutupi dahinya itu terbuka. Menampakkan wajah tegasnya dengan penuh.

Kakiku terasa kaku. Tak bisa maju ataupun mundur. Saat mata hitam nan tajam itu menatapku penuh minat hingga akhirnya aku bisa mencium aroma citrus dari balik kemeja dan jas hitamnya.

Tak ada yang memberitahuku darimana aku mendapat keberanian menatap matanya.

“Selamat malam, Tuan puteri.”

Dan seringaian itu muncul. Disusul rona gelap yang memenuhi mataku.

Pikiranku kosong, aku tak bisa mengingat semuanya hingga rasa nyeri pada pergelangan tanganku membuatku terpaksa membuka mata. Aku tak tahu ini dimana. Yang jelas, bau jerami dan debu itu begitu mengganggu hidungku dan hanya di terangi dengan bohlam bertegangan 5 watt.

“AKH!”

Kakiku terikat kuat dengan tali tambang. Aku meringis pelan saat berhasil duduk dari rebahanku di lantai tanah dengan kedua tangan dan kaki yang terikat. Dan sakit di bagian tengkukku masih terasa mencengkeram.

Brakk.

Aku tersentak saat empat orang pria masuk ke dalam ruangan tersebut. Hanya dengan sekali lihat, aku bisa mengenali orang-orang ini adalah bodyguard ibu yang semalam mengejarku. Semalam? Aku bahkan tak tahu apakan ini masih malam atau sudah pagi.

Senyum mengerikan terkembang di wajah mereka. Mendekat ke arahku kemudian mengelilingiku dengan tatapan merendahkan. Well, aku tak pernah memedulikan hal itu. Yang kuinginkan hanya satu. Yah, kurasa yang diinginkan seorang tawanan di dunia ini sama. Bebas.

“Tidur nyenyak, Tuan puteri?” Mereka terbahak.

“Apa yang kalian inginkan?” tanyaku mencoba tenang. Meski nyatanya aku tak tenang.

Mereka tertawa lagi, “Yang kami inginkan—“ aku meringkuk pelan karena wajah salah satu di antara mereka mendekat ke arahku. Yang aku ingat darinya hanyalah kulit kecokelatan dan bibir tipisnya yang menyunggingkan seringaian mengerikan, lagi.

“Ini.”

Plak.

“AKH!” aku meringis perih.

Saat asin di sudut bibirku bercampur dengan bau amis. Bibirku robek.

Aish, kenapa kita harus melakukan ini.”

Pandanganku teralih saat seorang dari mereka yang berdiri paling jauh dariku menggerutu seraya mengacak rambutnya frustasi.

Brakk.

Aku tersentak lagi saat pria itu menendang satu drum kosong hingga terbalik dan mengenai tumpukan jerami di sampingnya.

YA! Apa yang kau lakukan?” sahut seorang lagi.

“Kalau saja bukan karena wanita haus harta itu, aku tidak akan melakukan ini. Menyekap, memukul, dan membunuh wanita. AISH, JINJJA!”

“Tsk, ini perintah. Jadi jaga mulutmu dan cepat habisi wanita ini.”

Ceklek.

Mataku tertutup dengan cepat saat pistol itu menempel tepat di pelipisku. Dadaku bergemuruh, rasanya suhu tubuhku tutrun drastis. Haruskah? Haruskah hidupku berakhir seperti ini?

Srakk. Bugh.

“AW!”

Mungkin tendangan kedua kaki wanita yang terikat hanya terasa seperti sentilan bocah 5 tahun di kakinya. Pria itu mendecih sebal. Menatap mataku dengan pandangan yang semakin merendahkan.

“Kurang ajar.”

Napasku tercekat saat tangan kiri pria itu mencekik leherku. Wajahku memanas karena darah yang tertahan di sana. Berusaha menggeleng cepat, mencoba melonggarkan cekikannya untuk memperoleh udara dan bernapas, namun tetap saja sia-sia.

PABONIKKA!!!”

Hingga saat aku benar-benar menyerah. Teriakan di belakang kami mampu mengalihkan perhatiannya dan melepaskan cekikan di leherku. Tubuhku limbung seraya terbatuk karena napasku yang tercekat kini mulai mendapat aliran udara kembali.

“Kyuhyun hyung!”

Pandanganku mengabur, namun aku masih bisa melihat dan mendengar perdebatan mereka. Pria yang baru saja masuk tersebut berjalan ke arah kami. Pria yang baru saja dipanggil Kyuhyun itu, dengan mata hitam tajam dan tubuh tegapnya yang seolah takkan rubuh diterjang badai Katrina sekalipun.

Mworago?” Tanya pria itu pada Kyuhyun.

Neon pabonikka—“ jawab Kyuhyun tenang.

Kyuhyun semakin mendekat ke arahnya. Membuat wajah mereka nyaris menempel. Mata hitam itu mengancam pria yang baru saja mencekikku. Saling melempar tatapan mengintimidasi. Dan seringaian itu muncul dari wajah tampan Kyuhyun. Membuat tubuhku sedikit gemetar.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Kyuhyun dengan suara bass yang tenang.

Pandangan datarnya tak menciutkan nyali pria yang ada di depannya.

Pria itu mendecih, “Membunuhnya, tentu saja.” jawab pria itu keras.

Kyuhyun tertawa sinis, “Membunuh katamu?”

“Kau meninggalkan sidik jarimu di leher wanita itu. Dasar bodoh!”

Tubuh pria itu mundur beberapa langkah karena pukulan pelan Kyuhyun di pundak kirinya.

“Menghalangi wanita ini kabur saja kau tidak bisa—SEKARANG BERANI-BERANINYA KAU MAU MEMBUNUH WANITA ITU!”

Bentakan Kyuhyun membuatnya tertunduk, begitupun  tiga pria di belakang mereka. Pistol di tangan kanannya pun luruh. Sial! Kalau saja tanganku tidak terikat.

Kyuhyun menghela napas dalam, terlihat sekali ia mencoba mengatur emosi yang sempat meluap. “Pergilah! Aku yang akan menghabisi wanita ini.”

Aku melihat kilatan tajam dari matanya menatap lurus ke arahku yang terduduk di bawahnya. Mengantarkan sengatan tak bernama yang terpancar dari balik kilatan mengerikan itu.

Tanpa kata, ketiga pria itu berlalu meninggalkan kami.

Kemudian Kyuhyun berjalan pelan ke arahku, dengan mata yang tak pernah lepas dariku. Ia mengangkat satu tanganku dengan kasar. Membuatku memekik kesakitan karena ia memaksa tubuh lemahku untuk berdiri di depannya.

Berkali-kali aku mencoba berdiri namun gagal karena tali yang masih membelit kedua kakiku.

Setelah menyadarinya, Kyuhyun dengan malas melepaskan ikatan di sana dan akhirnya aku bisa berdiri lebih normal.

“Kenapa kau melepaskannya?”

Aku lupa. Masih ada satu orang yang berdiri di belakang kami.

Kyuhyun mendecih malas, “Sudah kubilang pergi kenapa kau masih ada di sini?” ujarnya malas.

“Aku akan tetap di sini sampai wanita itu benar-benar mati.” Kukuh pria tersebut.

“Sudah kubilang aku yang akan menghabisinya. Pergilah! Dan kau akan segera mendapat kabar kematiannya.”

Mungkin pria itu adalah suruhan ibu untuk mengawasi bagaimana pekerjaan Kyuhyun dan teman-temannya untuk segera menghabisiku.

PALLI KHA!” gertak Kyuhyun seraya mengarahkan senjata api padanya.

Dengan langkah pelan dan wajah tak percayanya yang tertinggal, pria itu berbalik dan melangkah pergi menjauhi kami. Dan seketika dingin mulai menyergap tubuhku kembali. saat tatapan tajam Kyuhyun seperti menelisik setiap inci kulitku. Mata itu begitu menakutkan, menatap wajahku seksama.

Pelan, moncong benda hitam yang siap mengeluarkan timah panasnya itu menyusuri pelipis, pipi, dagu, dan kini berhenti di leherku. Mata Kyuhyun pun tak pernah lepas menyusuri setiap lekukan yang terlewati benda mengerikan itu.

Bibirku semakin bergetar saat jemari panjang nan dingin milik Kyuhyun menyusurinya dengan tatapan yang seolah ingin memakanku. Dasar bejat.

“Kulitmu bagus.” Ujarnya pelan.

Aku tak tahu harus mengeluarkan ekspresi seperti apa di saat seperti ini. Saat tangan itu kembali menyusuri wajahku, menyingkirkan helaian rambut tak beraturan yang terjuntai karena keringat. Tangan itu terus menyusuri wajahku pelan seolah ingin merasai hawa dingin di sana hingga akhirnya bermuara pada sudut bibirku yang robek karena pukulan temannya beberapa saat lalu.

Appo?”

“AKH!”

Aku meringis pelan saat jempol Kyuhyun menekan memar di sana kemudian mengusap bekas darah yang tersisa.

“Perlu obat, Nona muda?”

Aku mendelik ke arahnya yang kini tengah menyeringai penuh kemenangan dengan tatapan tajamnya. Bahkan kini hidung kami sudah menempel, tak ada jarak sama sekali. Membuatku bisa mencium aroma citrusnya.

Saat ini, aku tidak tahu apa yang sebenarnya Kyuhyun pikirkan tentangku. Semuanya membuatku bingung. Bingung bagaimana aku harus bersikap saat pria yang akan membunuhku ini melumat habis bibirku dengan begitu ganas, tiba-tiba. Bukan menyesap bibirku, Kyuhyun menjilati luka robek di sudutnya, membuatku meringis kesakitan seraya mencengkeram tanganku sendiri yang masih terikat. Pistol itu tak lagi terarah di leherku, kedua tangannya menangkup kepalaku. Menarik rambutku kasar hingga aku terpaksa mendongak dan merintih lagi karena lidah panas Kyuhyun yang kini menyapu leherku, menjilatinya hingga perih karena mungkin cekikan temannya itu meninggalkan bekas di sana.

Napasku tercekat. Bagaimana pun juga aku seorang wanita. Dan reaksi normal seperti lenguhan dan rintihan yang kutunjukkan saat mendapatkan perlakuan itu membuat Kyuhyun semakin ganas.

Tak lama kemudian, lumatan dan hisapannya di leherku berhenti. Genggaman tangannya yang menarik rambutku pun ia lepas. Kembali menatapku, dengan tatapan yang lebih sayu dan lembut. Mungkin itu salah satu manner pembunuh bayaran yang ia tunjukkan padaku. Bersikap lebih manis di detik-detik terakhir.

Sengatan dari matanya yang tadi sempat ia alirkan padaku kini kembali terasa. Aku memang berani membalas tatapannya, namun di saat yang bersamaan, gambar senyuman ayah dan ibu yang lama tak kulihat kembali melintas di pikiranku. Membuat beberapa tetes cairan bening di mataku mengalir dengan sendirinya.

Aku tidak peduli jika memang aku terlihat lemah sekarang. Nyatanya memang seperti itu. Semangatku yang tadinya membara untuk tetap hidup terasa diguyur air dingin yang keluar dari pancaran mata Kyuhyun.

Kyuhyun mendecih lagi, “Airmatamu tidak akan membuatku berubah pikiran, Nona.” Ujarnya dingin.

Aku maklum. Itu memang pekerjaannya. Menghilangkan nyawa seseorang.

Dan untuk pertama kalinya, ketakutan yang selama ini kurasakan lenyap tak berbekas, berganti dengan perasaan rindu pada ayah dan ibu yang susah untuk kubendung lagi.

Aku menghela napas panjang. Mungkin ini keputusan tergila yang pernah kuambil dalam hidupku, “Bunuh aku! Dan aku akan berterima kasih padamu di kehidupan mendatang karena telah mempersatukanku dengan ayah dan ibu lagi.”

Ada bulatan tak percaya timbul dari mata tajamnya. Itu adalah hal terakhir yang aku lihat sebelum aku menutup mata. Pasrah akan lebih baik. Karena aku sudah terlalu lelah untuk melawan.

Ceklek.

Bunyi mengenaskan dari pistol itu kembali terdengar. Setelah hening yang cukup lama, aku mendengar Kyuhyun menghela napas dalam dan panjang, kemudian moncong dingin pistol itu kembali mengarah di pelipisku.

Setakut apapun aku saat ini, hal itu takkan mengalahkan keinginanku untuk berkumpul kembali dengan kedua orang tuaku.

“Selamat tinggal.”

TBC

A/N:

Secara garis besar, plot cerita ini akan mengikuti cerita aslinya tapi ceritanya aku bikin versi lain.. Karena FF ini merupakan reboot (versi lain) dari film Snow White and The Huntsman. Nah, berhubung Author gak ada budget buat bikin film akhirnya jadilah FF ini. Kekeke

Semoga tetep suka ya.

Don’t forget to always leave your comment. *mumpung gak aku protect nih* wkwkwkwk

107 thoughts on “[Chapter] Snow White and The Evilman Part 1

  1. Wahh aku gak nyangka kalo kyuhyun disini jadi pembunuh bayaran dan gak bisa ngebayangin wajah super dinginnya kyuhyun.
    Aku berharap hyo-in gak dibunuh sama kyuhyun
    .makin penasaran sama ceritanya jadi aku tunggu next chapnya eon.

  2. whahahahaha…si evill jd pembunuh byarannn….
    ituu mksuddnyaa apa cobaaa…low mw bunuh kok make kisu2 sgalaaa…ckckckcckck
    lanjutt thorr critanyaa menarikkk…..^^

  3. yah! ini ffnya keren seriusan😀 walaupun temanya kerajan gitu tapi keliatan modern dan… terinspirasi dari film ya? tapi ttep aja kamu bisa menyampaikan pake bahasamu sendiri eon(?) hehe emang kyu setega itu ya mau bunuh orang, nggak kan ya? jadi.. ditunggu deh kelanjutannya🙂

  4. berhubung aku gak pernah suka sama karakter yg berhubungan dgn snow white cinderella dkk dalam versi aslinya, jadi aku gak pernah nonton. tapi berhubung karena di sini main castnya kyuhyun, dan kyknya seru, ya pasti aku baca hahaha
    well, pertanyaan pertama, apa di sini kyuhyun dan cho ahra dibuat sesuai aslinya? maksudnya mereka bersaudara? hehe itu aja sih
    selamat menulis! sukses buat kedepannya😀

  5. diawal” cerita nggak jelas thor . aku bingung syp yg ngomong itu-,- tp pas bagian” akhir malah nyambung wkwkwk
    tp aku suka jalan certanya*-*

  6. No No No,.. Ojo dibunuh kyu… >.<
    Annyeong kk..😀 aku new reader disini
    ijin baca semua cerita yg ada dsini yaaa..
    dan penjelajahan ku dimulai dari ff kakak yg ini,. aku penasaran karna judulnya evilman gitu,.
    dari judul ajja aku da bisa banyangi watakny kyu yang Bengis -_-
    pertama baca sih agak bingung juga,. koq ibunya punya rencana bunuh anaknya sendri,.trnyata hanya ibu tiri toh
    critanya seru nih pasti kak,. tapi koq blum da lnjutanya kk..??😀
    di'tunggu loh untuk part selanjutnya..
    Fighting kak🙂

    • Annyeong! welcome to my blog ^^

      Happy readingyaa. mian di sini masih banyak ff chapter yg belum aku selesaiin soalnya masih banyak tugas d kampus

      enjoy ma stories and thx for leaving ur comment🙂

  7. busyet baru ketemu kyuhyun langsung nyosor aje…..apa kyuhyun bener mo nembak????tapi kok rasanya kyuhyun punya rasa special ya sama hyo in apa kyuhyun sebenarnya udah jatuh cinta sejak lama pada hyo in????

    hai salam kenal aq pembaca baru disini….mo minta ijin buat baca….

  8. Hai author-nim
    salam kenal
    reader baru disini
    wow wow wow
    aku gak pernah nnton film snow white and bla bla itu jadi gak tau cerita aslinya
    tapi kalau udah kyuhyun.castnya jadi apapun pasti keren huhu
    gilaa
    kyuhyun pembunuh bayaran ? jinjja?
    waaaaah daebak daebak
    ibu tiri dicerita selalu antagonis ckckck
    pasrah si Hyo In
    huh

  9. Wow!!! Storynya keren nih thor, menarik bgt! Bener2 bikin aku jdi berfantasi gajelas haha
    Authornim salam kenal dari saya si ridears baru yaaaa. Bangapsemnida haha😀

  10. Eonnieee aku rindu sama karyamuuu , hehe
    Dulu pernah baca ff reset yang pernah di share di fb , udahhh lamaa eh nggak baca karyamu yang lainnn , aku baru nemu blog pribadimu eonnieeonnie ,
    Izin baca ya eonnie

  11. Yakin kyu mau nembah nona muda, ga ada desirah hati gitu kyu. Semoga kyu selamatkab nona muda.

    Aku lupa nama cewenya. Hehehe

  12. Owhh….
    Seru nih cerita..
    Kyu jd pembunuh bayaran…yg mesum.
    Hihihi…
    Kira2 kyu tega ngebunuh tuan putri g ya?
    Trs mksd e selamt tinggl tu apa?
    Selmt tinggl krn mati ato kyu pergi.
    Aq suka…aq suka…

  13. Ibu tiri hyo in sadis bgt,, tega mau bnuh anak tiriny sndri dmi harta dan tahta,,, jd kyu adalah pmbnuh byran ibu tirinya hyo in,,
    iiih kyu mesuuuummm, tgsny mmbnuh eh mlh ini mah si kyu nyiumin hyo in,, ap kyu suka ya???

  14. woaaah seru bgt !!! jadi kyuhyun jadi pembunuh bayar lan disini ??
    agak bingung sebenernya sama latar belakang si ceweknya kenapa dia sampe mau dibunuh. mungkin di part kedepan bakal dijelasin hehehe

  15. woaaaa,,,,,keren ih ceritanya.penasaran ama kyuhyun aku,dia sebenarnya orang baik/jahat….tetap ya pesona kyuhyun tak terelakkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s