[One Shot] Still You

1146592_734735853216732_1302648768_n

Title: Still You
Author: Valuable94
Casts: Jung Jekyo (OC)/Lee Donghae (SJ)
Genre: Romance, Family (little bit)
Length: One Shot
Rate: PG-17
Disclaimer: I do not own those casts. They belong to themselves. THIS STORY IS MINE. DO NOT COPY-PASTE AND RENAME THE CASTS. TYPOS.

Happy reading! ^^

Jekyo POV

February, 13th 2010
At S. M. Entertaiment Building
8 am

 

Bekerja di Korea Selatan. Eum, kurasa itu pilihan yang tidak terlalu buruk, terlebih jika kau benar-benar punya kemampuan di bidangmu. Seperti aku. Aku?

Ya. Aku.

Salah satu contoh yang mungkin bisa ditiru. Muda, cantik, percaya diri, dan kompeten. Semua aku miliki tapi ada satu hal yang selama ini aku coba untuk lakukan. Meski dengan hasil yang tak begitu memuaskan dan selalu berakhir dengan kegagalan. Aku selalu mencoba untuk dekat dengan seorang PRI-A.

Ya, itu salah satu kelemahanku. Teman-temanku bilang, aku wanita sempurna yang tak begitu sempurna. Bisa kalian bayangkan bagaimana bingungnya aku mencerna kalimat itu?

Intinya, semua itu terasa kurang tanpa adanya seorang PRIA. Mempunyai wajah yang cantik dan otak yang cerdas akan terlihat sia-sia tanpa seorang kali-laki di sampingmu. Dan aku selalu berusaha untuk berdekatan dengan makhluk yang menurutku paling susah dimengerti bernama PRIA. Oh, lihatlah betapa malangnya hidupku ditengah segala kemujuran yang Tuhan berikan.

Tapi percayalah padaku. Menemukan seorang pria idaman itu sama susahnya seperti mencari perempuan alim di sarang penyamun. Kau perlu mendekatinya satu per satu lalu lakukan pendekatan dan wawancara dengannya. Yah, kupikir itu hampir sama dengan semacam penelitian kepribadian. Oh, lupakan!

Dan di tengah kesibukanku mencari seorang pria idaman, aku tetaplah seorang wanita karier yang disibukkan dengan berbagai urusan di kantor. Sebenarnya bukan hal yang menyusahkan karena aku menyukai pekerjaanku. Menjadi seorang Song Director di sebuah Agency nomor satu di Korea Selatan membuatku sedikit banyak mengenal beberapa penyanyi yang sering bekerja sama denganku. Dan sedikit banyak mempengaruhi caraku memilih pria. Yang bisa menyanyi dan menulis lagu. Kurasa pria dengan kemampuan seperti itu yang akan menjadi incaran utamaku.

Aku berjalan cepat di antara kerumunan para pegawai di kantor. Pagi ini kami mulai di sibukkan dengan urusan masing-masing. Sesekali aku melemparkan senyum pada beberapa atasanku yang berjalan berlawanan arah. Huh, orang-orang kaya, kapan aku bisa jadi seperti mereka? Hanya datang ke kantor, terlambat pun tak masalah, duduk di kursi, membaca berkas, tanda tangan, lalu saldo di rekeningku akan bertambah setiap bulannya.

Beberapa menit kemudian aku bergegas menuju ruang loker di samping lobi. Berjalan cepat seraya memasang kembali high heels yang sempat kulepas tadi kemudian beranjak masuk mengambil beberapa berkas untuk second album salah seorang penyanyi solo yang sengaja kutinggal.

Kuhela napas panjang seraya membenarkan letak cardigan hitam-ku. Merapikan rambutku yang terurai sedikit berantakan kemudian berjalan pelan menuju lokerku seraya merogoh kunci yang tak pernah kukeluarkan dari tas Hermes kebanggaanku.

Sedikit terlonjak, aku mengamati kehadiran seorang pria yang tengah sibuk mengotak-atik salah satu loker di sana. Pria itu nampak kesusahan membuka loker tersebut, terlihat dari caranya memasukkan kunci berulang kali, yang jelas-jelas kunci itu memang tidak cocok.

YA! Apa yang kau lakukan di sini, orang asing?” hardikku.

Pria tersebut sentak berbalik ke arahku. Menampakkan pahatan sempurna wajah dewa Poseidon di hadapanku. Tampan.

Ia menatap heran ke arahku yang masih menampakkan sungutan tajam serata menyelipkan helaian rambut yang sedikit menghalangi wajahku. Hey, dasar pencuri kelewat nekad.

“Maaf Nona, apa kau bisa membantuku membuka loker ini?”

Kuhembuskan napas kasar melihat wajah santainya. Lalu mulai mendekat ke arah pria tersebut. Wajahnya sentak memerah saat aku mulai memperhatikan setiap detail mimik mukanya. Aneh, tidak ada sedikit pun rasa gugup di sana.

“Minggir!” perintahku.

Pria itu minggir dengan teratur ke belakangku. Memberiku jalan untuk memasukkan kunci yang ada di tanganku dan well—loker itu terbuka dengan begitu mudah.

“Whoa! Agashi, kau hebat sekali!” seru pria tersebut dengan mata membulat kagum.

“Tentu saja.” Jawabku, angkuh—seraya mendelik ke arahnya.

“Bagaimana bisa kau melakukannya? Aku bahkan sudah mengotak-atik loker itu lebih dari 10 menit.” Ujarnya, antusias.

“Itu sangat mudah, Tuan pencuri.”

“Apa maksudmu?” nada suaranya berubah tak nyaman. Kenapa? Marah aku memanggilmu pencuri, huh? Dasar.

“Karena ini LO-KER-KU, Tuan pencuri.” Sentakku. Membuatnya membelalakkan mata tak percaya. Oh, ternyata pencuri jaman sekarang pintar berakting juga.

Pria tersebut mulai menatapku dan loker itu secara bergantian.

“Tidak mungkin Nona, petugas itu mengatakan loker no.6 adalah milikku.” Bantahnya.

Aku mendecih sebal, “Ya! Kau pegawai baru di sini? Atau—kau salah satu suruhan Agency lain yang ingin mencuri lagu dariku?”

“Nona, apa kau sedang mabuk? Lelaki tampan sepertiku mana mungkin mau mencuri—“ gantian pria itu yang kini menatapku tak percaya seraya mendecih.

“tsk, dan kau bilang apa tadi? Mencuri lagu? Oh my! That’s not my style, you know? I can do it by myself. Easily and perfectly.” Jawabnya mantab seraya menujuk ke arahku dengan tidak sopan. Sialan! Dasar pencuri kurang ajar.

“Tidak usah berpura-pura Tuan pencuri. Pria tampan sepertimu itu justru ahlinya mencuri,” hati wanita.

“Dasar pencuri!”

YA! Aku bukan pencuri!”

“PENCURI!” teriakku.

Ya! Berhenti meneriakiku pencuri!” bantahnya dengan suara yang sama keras.

“PENCURI! TOLONG ADA PENCURI DI SINI!”

Aku berteriak sekeras yang aku bisa. Tiba-tiba aku tersentak kaget, mataku terbelalak lebar saat pria itu dengan cepat membungkam mulutku. Aku meronta seraya terus memukulinya dengan tas mahalku. Maafkan ibu, sayang.

“AKH!”

Pria itu memekik keras saat telapak tangannya berhasil kugigit.

“SIAPA SAJA TOLONG AKU! ADA PENCURI DI SINI!”

YA! BERHENTI ME—“

Bantahannya terabaikan karena pada detik berikutnya beberapa staff datang lalu mulai membekuknya setelah sempat memukuli beberapa bagian wajahnya. Ia terus saja meronta seraya menahan beberpa pukulan yang terarah bagian tubuh lainnya.

Ribut. Sebenarnya aku tak begitu suka keributan karena itu sangat mengganggu telingaku. Tapi kali ini menyenangkan. Rasakan kau, pencuri.

“Ada apa ini?”

Kami semua yang ada di ruangan tersebut menoleh ke arah pintu masuk kemudian menunduk serempak saat pria paruh baya ber-jas hitam tersebut masuk ke dalam ruangan dengan kedua asistennya. Beliau menatap kami seksama satu per satu, membuat kami terdiam menunggu beliau mengeluarkan sepatah kata.

“Ke ruanganku. Sekarang!”

***

            “Ssshh—AW!”

“Masih sakit?”

Aku ikut meringis ngeri seraya mengompres lebam bekas pukulan di pipi kirinya. Pria itu—maksudku Lee Donghae, hanya mendengus sebal seraya menatapku tajam. Meski sedikit kikuk, namun aku mencoba untuk tetap bersikap tenang.

“Kau harus mengganti rugi atas semua ini!”

“Aku ‘kan sudah minta maaf.” Bantahku.

“Tapi lebam di pipiku.”

Donghae mendekatkan pipi kirinya tepat di depan wajahku, membuatku tergagap, tak mampu mengatakan apapun selain mencoba memeriksa luka lebamnya yang tak begitu parah, kurasa.

“Ini hanya lebam biasa, Donghae-ssi. Setalah dikompres, 2-3 hari juga sembuh.”

Donghae mendecih kesal, “Tapi ketampananku akan berkurang selama 2-3 hari ke depan. Apa kau bisa mengganti hari-hari tanpa ketampananku itu?” ck, percaya diri sekali pria ini.

“Terserah padamu. Yang penting aku sudah minta maaf.”

Setelah melempar kain kompresnya, aku pergi meninggalkan Donghae yang masih terdiam di sofa ruangan tersebut. Tanpa menghiraukan panggilannya yang terus saja memprotesku untuk bertanggung jawab karena ketampanannya akan hilang untuk beberapa hari ke depan. Aish, rasanya kau ingin sekali menyumpal mulut seksinya itu dengan meja.

Keesokan harinya

At recording room
9 am

Kuhembuskan napas kasar untuk kesekian kalinya, lalu melihat ke arah jam dinding untuk kesekian kalinya pula. Huft, apakah orang yang katanya sudah bekerja di London untuk beberapa tahun itu begitu tidak bisa menghargai waktu. Aku juga punya urusan lagi selain ini.

Ceklek.

Beberapa menit kemudian bunyi pintu terbuka menyadarkanku dari lamunan dan gerutuan karena menunggu seseorang di sana. Aku berdiri dengan cepat untuk menyambut kedatangan calon partner-ku tersebut. Namun sesuatu yang mengejutkan membuatku membelalakkan lebar saat kembali kulihat pria dengan ketampanan yang berkurang karena lebam di pipi kirinya itu masuk bersama atasanku.

Aku masih terpaku di hadapannya yang kini tengah menampakkan senyum malaikat di depanku dan direktur.

“Jekyo-ya, perkenalkan pria ini adalah Song Writer dari London yang akan bekerja sama denganmu untuk project single solo Kyuhyun nanti.”

Annyeonghasimnikka, Jekyo-ssi. Joneun Lee Donghae Imnida. Bangapseumnida.”

Aku membalas uluran tangannya sedikit ragu, “Annyeonghasimnikka. Jung Jekyo imnida. Manaseo bangaweo.”

“Kuharap kalian bisa menjadi partner yang kompak selama project ini berlangsung. Untuk beberapa minggu ini, aku akan memberi kalian waktu untuk mengolah lagu. Dan—kurasa sebentar lagi Kyuhyun-ssi akan sampai kemari. Bersantailah sejenak.”

Kami mengangguk, kemudian sama-sama menghembuskan napas lesu saat pintu ruangan ini tertutup. “Kau lagi.” Gerutuku. Sementara ia hanya tersenyum masam seraya menatap malas ke arahku.

5 pm

Gerutuanku tak pernah berhenti sejak tadi. Berdiri di depan gedung SM dengan kedua tangan memeluk tas di depan dada dan percikan air hujan yang sedikit banyak berkontribusi untuk membuat basah baju bagian depanku. Sial.

“Butuh tumpangan, nona Jung Jekyo?”

Kupertajam kedua mataku saat mobil Hyundai berwarna silver itu berhenti tepat di depanku, dengan kaca terbuka dan menampakkan wajah tampan berhiaskan luka lebam di sana. Lee Donghae.

“Kau bicara padaku?” ujarku, dingin.

Donghae mendecih sebal kemudian menutup kembali kaca pintu mobilnya. Tsk, dasar pria tidak sensitive.

Beberapa saat kemudian, aku sedikit tersentak dengan apa yang dia lakukan. Kupikir dia akan meninggalkanku begitu saja setelah penolakan halusku yang sedikit kasar tadi tapi ternyata pria ini masih punya kebaikan hati. Ia membuka payung berukuran sedang dengan warna biru setelah keluar dari mobil, membuat kemeja putihnya menjadi transparan karena terkena air hujan. Dan itu terlihat jelas di depan mataku. Mencetak jelas setiap lekuk tubuhnya yang padat karena keenam otot di bagian perutnya. Membuatku terhipnotis hingga tak menyadari jika pria ini sudah berdiri di depanku, kemudian tanpa aba-aba menggeret pergelangan tanganku.

Ya!” teriakku, kaget—saat Donghae menarik pinggangku cepat untuk berlari bersamanya menerjang derasnya guyuran hujan di bawah payung. Setelah sampai di mobil, ia membukakan pintu bagian kanan, menginstruksiku untuk segera masuk tanpa bantahan lalu ia menyusul masuk ke dalam mobil melalui pintu kiri. Duduk di belakang kemudi lalu melajukan mobil Hyundai tersebut.

***

            “OMO!”

Aku memekik kaget saat wajah Donghae berada tepat di hadapanku. Kemudian dengan cepat ia menjauhkan wajahnya dariku saat aku mendudukkan diri setelah sempat tertidur selama perjalanan pulang.

“S-sudah s-sampai?”

Donghae mengangguk pelan, “Sekitar 5 menit yang lalu.”

Jantungku berdegup kencang saat mendengar pernyataannya. 5 menit yang lalu? Berarti dia—      “Kau—“

“Aku tidak tega membangunkanmu. Kau tidur terlalu lelap.”

Eoeoh, jeoseonghaeyo.” Aku menunduk sesaat.

Gwaenchana. Cepatlah mandi dan ganti bajumu yang basah, kau bisa masuk angin kalau terlalu lama begini.”

Pandanganku terarah ke bawah mengikuti arah pandangan Donghae, memeriksa blouse krem-ku yang kusut dan basah di bagian depan. Membuatku semakin kikuk bukan hanya karena nasehatnya tapi juga karena malu melihat penampilanku.

Gamsahamnida.”

Aku bergegas berbalik dan keluar dari mobil Donghae.

Chakamanyo.”

Aku menoleh lagi ke arah Donghae. Merasakan perasaan yang aneh tatkala degupan jantungku mengeras saat kulihat tangan kekarnya yang hangat menahan pergelangan tanganku yang masih dingin.

“Boleh kupinjam ponselmu? Eoh—ponselku kehabisan baterai dan aku harus menghubungi teman satu apartment-ku kalau aku akan segera pulang.”

Aku mengangguk paham kemudian memberikan ponselku padanya. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya aku benar-benar keluar dari mobilnya.

Hal yang sebenarnya tak begitu kusukai adalah saat aku merasakan hal aneh, seperti sekarang. Entahlah, aku juga tak tahu persis apa yang kurasakan, terlebih saat melihat senyumnya seraya melambaikan tangan padaku.

February, 1st 2010

Aku melenguh panjang saat ketukan pintu kamarku menggema. Suara teriakan ibu menghiasi jumat pagi yang begitu indah ini. Dengan malas kubuka mata perlahan, sedikit merenggangkan tubuh kemudian beranjak dari ranjang menuju jendela. Mataku menyipit sempurna saat terang sinar matahari menyapaku tiba-tiba.

OMONA! AKU TERLAMBAT!!!

Dengan langkah tergesa aku menyusuri lantai lobi di kantor, sedikit membenahi letak tas di bahu kiriku dengan susah payah karena kedua tanganku tengah membawa junk food dan soda yang baru saja kubeli di restoran fast food dekat kantor.

Dengan napas terengah, aku bergegas menuju ruangan Donghae di lantai tiga. Setelah sampai, tanpa mengetuk pintu aku masuk begitu saja ke ruangan tersebut kemudian duduk di sofa hitam di tengah ruangan. Menurunkan makanan dan minumanku ke atas meja lalu menaruh tas di sampingku.

Aku bersandar di punggung sofa seraya mengatur napas yang masih tak beraturan karena terburu-buru sejak dari rumah.

“Kau terlambat 15 menit.”

Aku menggerutu pelan saat melihat Donghae berjalan santai dengan membawa piring dan segelas susu kemudian duduk di depanku seraya melipat kedua tangannya di depan dada.

Sorry, over slept.” Jawabku, santai.

Kuubah posisiku menjadi duduk dengan posisi punggung tegak, kemudian mengulurkan tangan mengambil sarapanku namun dengan cepat Donghae menjauhkan mereka dari jangkauanku. membuatku menatapnya garang.

“Berikan sarapanku, Donghae-ya. Aku lapar.”

Donghae menggeleng pelan, “Harus berapa kali kubilang padamu untuk tidak makan fast food dan soda. Itu tidak sehat. Terlalu banyak kolesterol.” Aku mendengus kesal. Dua minggu mengenal pria ini membuat hidupku menjadi lebih banyak aturan meski di lain sisi kami merupakan partner yang baik dalam hal pekerjaan.

Junk food lebih baik daripada ramyun yang seperti cacing. Tsk, menjijikkan.”

Donghae mendengus kemudian menyodorkan 4 potong sandwitch lengkap dengan segelas susu vanilla di depanku.

Mokgo jja!”

Aku mendelik ke arahnya. Menatap Donghae dan sarapan darinya secara bergantian. Ini bukan hal yang aneh memang. Pria ini terlalu memikirkan kesehatannya. Bisa dibilang dia termasuk pria yang anti makanan instan. Namun perhatiannya terasa sedikit berlebihan padaku. Atau ini hanya perasaanku saja.

Tanpa berpikir panjang, aku mulai melahap sandwitch tersebut seraya menatap Donghae kesal saat ia berjalan menuju tempat sampah dan membuang makanan yang kubeli tadi. Sialan.

“Aku membeli makanan itu dengan uang, Donghae-ya.”

“Aku tahu. Siapa bilang kau membelinya dengan daun.”

“Setidaknya berikan saja pada ikan-ikanmu itu. Kenapa harus dibuang. Mencari uang itu susah.” Gerutuku.

Donghae mendecih seraya menatapku masam, “Aku tidak akan membiarkan ikan-ikanku makan makanan berkolesterol tinggi. Itu bisa membunuh mereka.”

Aku menatapnya tak percaya. Ya Tuhan, pria ini benar-benar cocok menjadi ayah ikan.

Selesai sarapan, aku langsung membuka berkas yang kubawa dari rumah. File yang berisi 12 lagu hasil aransemen Donghae dan aku—beberapa, menjadi bahan diskusi kami selama 2 jam ini, lalu kami mulai memperbincangkan hal-hal yang kadang tidak penting saat bosan mulai melanda. Itu yang kami lakukan selama 2 minggu ini. Dan membuat kami mulai dekat satu sama lain, sebagai partner kerja lebih tepatnya.

“Jekyo-ya?”

“Heum.”

Aku menoleh ke arah Donghae yang tengah menatapku lembut. Lama. Hanya saling berpandangan saat tak ada satu pun dari kami yang berniat memulai perbincangan.

Dan perlahan, rasa yang selama ini tak kuketahui dan sengaja kuabaikan merambat begitu saja. Pelan memang bahkan terkesan tak bersuara hingga aku tak mampu mendefinisikannya.

“Ekhem.”

Aku tersentak dari lamunan. Kemudian berlagak membereskan berkas yang berceceran di meja sementara Donghae sibuk melonggarkan dasi yang terikat di kerah teratas kemejanya.

“Jekyo-ya,”

Ye?” aku menjawab tanpa menolehnya. Takut jika aku terlalu asyik memandangi wajahnya lagi.

“Aku ingin bertanya sesuatu padamu.”

“Katakan.”

Donghae terdiam sejenak. Aku merubah posisi menjadi duduk di sampingnya kemudian menunggu Donghae menyelesaikan rangkaian katanya. “A-apa k-kau percaya cinta pandangan pertama?”

Aku sedikit kaget dengan pertanyaannya. Kami jarang sekali mengangkat tema ini sebagai bahan pembicaraan. Cinta? Pandangan pertama? Apa itu?

Kemudian aku menggeleng. “Ani.” Jawabku, yakin. “Lagipula aku belum pernah merasakannya.” Donghae menghela napas pelan, seperti kecewa. Benarkah? Kecewa pada siapa?

“K-kau sedang jatuh cinta?” tanyaku, hati-hati.

Hal itu membuat Donghae sedikit tersentak dari lamuanannya. Kemudian ia mulai menatapku dalam, memerangkap kedua retinaku untuk terus dan hanya menatapnya. Hingga debaran itu kembali muncul, membuatku merasa bingung dan—bahagia.

“Kurasa iya,” ia menghela napas. Kemudian menunduk seraya tertawa janggal.

“Siapa?” Donghae menatap sayu ke arahku. Lama, membuatku pikiranku melayang dan berpikir jika gadis beruntung yang mendapatkan hati seorang penulis lagu tampan di depanku ini adalah aku sendiri. Dan beribu bunga di hatiku terasa bermekaran seperti saat di musim semi.

Donghae tertawa lagi seraya mulai mengalihkan perhatiannya, menerawang jauh ke luar jendela, menatap salju yang mulai meleleh dari dahan pohon yang kini mulai menampakkan pupus-pupus hijaunya.

“Kau tidak tahu ya?” tentu saja tidak. Kau bahkan belum mengatakan apapun padaku sebelumnya.

“Dia gadis yang cantik, cerdas, dan—“ itu aku.

“dan lembut. Untuk ukuranku.” Kuhela napas panjang seraya menunduk dalam. Itu jelas-jelas bukan aku.

“Lalu?”

Donghae menghela napas lagi seraya tersenyum lembut, “Haah—terlalu banyak hal yang akau sukai darinya. Dari mulai kami pertama bertemu, itu sangat aneh sekali. Bagaimana dia berkata-kata, dan—“ aku terpaku menatap binar indah di sekeliling wajahnya. Sepertinya gadis itu benar-benar istimewa, bagi Donghae.

“ah, sudahlah. Jangan dibahas lagi.” Ungkapnya malu-malu.

Aku mengangguk mengerti. Mencoba membalas senyumnya meskipun terpaksa.

Eoh, aku harus segera menemui Kyuhyun-ssi di gedung SBS sekarang.”

Aku bergegas beranjak dari sofa seraya menggantungkan tas di bahuku kemudian bermaksud melangkah keluar dari ruangan tersebut namun langkahku terhenti saat Donghae menahan pergelangan tanganku. Lagi, perasaan yang tak kusukai hadir begitu saja setiap kali kulit kami bersentuhan.

“Aku antar, bagaimana?”

Kulepaskan genggaman tangannya perlahan, meski sedikit memaksa akhirnya ia mau melepaskan tangannya dariku.

“Tidak perlu. Aku bisa—“

“Tidak usah membantah.”

***

Inilah yang selama ini tak begitu kumengerti dari seorang pria. Mereka sering dekat denganku, lalu menceritakan kedekatan mereka bersama wanita lain atau bahkan keinginan dan sakit hati mereka dengan wanita yang bahkan tak kuketahui siapa. Lalu membiarkanku pergi bersama pemikiran konyolku sendiri tentang mereka yang merasa nyaman padaku. Ya, nyaman. Sebagai teman.

Kami berjalan beriringan saat menuju parkiran mobil di depan kantor. Aku masih terdiam seraya sibuk mengatur napas karena lelah mengikuti langkah lebar Donghae dan juga genggaman tangannya yang sedari tadi menuntunku untuk mau tak mau mengikutinya.

Langkah kami terhenti saat suara seorang gadis memanggil Donghae. Kami menoleh ke arah kanan bersamaan. Kejadian tersebut terjadi begitu cepat. Gadis itu berlari, dengan senyum merekah di wajah imutnya lalu memeluk Donghae. Memaksa jalinan jemari kami terputus karena Donghae reflek memegangi tubuh gadis itu.

Aku tidak rela melihat mereka seperti itu.

Oppa. Kapan kau sampai di Korea?” tanya gadis itu, girang.

“Dua minggu yang lalu.” Donghae menjawab tak kalah antusias.

Karena merasa diabaikan, akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan mereka. Kurasa tanpa berpamitan akan lebih baik.

Aku bermaksud keluar gedung untuk mencegat sebuah taksi, namun di sebelah pelataran parkir aku tak sengaja bertemu dengan Kyuhyun yang baru saja pulang syuting. Kami terlibat perbincangan mengenai tempat dimana kami akan membahas masalah albumnya nanti kemudian ia mengajakku masuk ke dalam mobil, dan membawa kami menuju Kona Bean untuk membicarakan beberapa lagu yang akan segera ia bawakan untuk second album solo-nya 3 minggu lagi.

February, 3rd 2010
5 am

Aku menatap malas layar ponsel yang sedari tadi menyala. Mengusik ketenangn tidurku selama beberapa menit sekali.

Dengan mata yang susah payah kubuka, kuambil ponsel yang bergetar di atas kasurku kemudian mulai membaca caller ID di sana. Menghembuskan napas malas untuk kesekian kalinya pagi ini.

Aish. Donghae-ssi bisakah kau tak menghubungi beberapa hari ini. Aku benar-benar malas bahkan hanya sekedar membaca namamu di layar ponselku.

Tanpa berniat untuk mengangkat telpon ataupun membaca tumpukan pesannya selama beberapa hari ini. Kubuka ponselku kemudian mengeluarkan baterrainya. Mematikan dering ponsel yang memekakkan telinga.

Lagipula untuk apa dia menghubungiku lagi. Kerjasamaku dengannya juga sudah berakhir. Bagian finishing untuk lagu-lagunya baru saja kuselesaikan jam 3 pagi tadi, dan sekarang aku benar-benar ingin istirahat. Istirahat dari pekerjaan dan penat karena pemikiran anehku tentang Donghae yang tak pernah mau hilang.

Cukup. Aku wanita muda, cantik, percaya diri, dan kompeten. Tidak akan begitu saja patah hati karena seorang pria yang memberi harapan palsu. Mungkin lebih tepatnya karena aku yang terlalu berharap padanya yang memberikan harapan padaku.

Oh, sepertinya aku mulai gila.

February, 6th 2010
9 am

“Jekyo-ssi!”

Aku tersentak karena tepukan pelan di bahuku dan panggilan Kyuhyun. Dua hari ini pekerjaan benar-benar menyita perhatian dan tenagaku. Membuatku sedikit kelelahan dan sering melamun, memaksaku untuk tetap fokus dan mengabaikan Donghae untuk beberapa saat. Bukan terpaksa karena keadaan tapi lebih pada keinginanku sendiri yang  ingin membenarkan pemikiranku tentangnya yang banyak keliru.

“Kalau sudah selesai, apa aku boleh pergi sekarang?”

Aku mengangguk seraya mengecek kembali beberapa data lagu yang akan segera kami rekam lusa nanti.

Eoh, geuraeyo. Kau bisa pergi sekarang.”

Kyuhyun mengangguk kemudian beranjak dari sofa setelah sebelumnya berjabatan tangan denganku. “Senang bekerja sama denganmu.” Aku tersenyum kemudian mengantarkan Kyuhyun sampai di depan pintu ruanganku.

Beberapa saat kemudian, perhatianku kembali teralih karena panggilan Kyuhyun. Niatku untuk menutup pintu terhalangi Kyuhyun yang kini kembali berlari ke arahku.

Wae geurae?”

“Aku melupakan sesuatu,” Kyuhyun mengeluarkan sesuatu dari tas kecil di pinggangnya kemudian memberikan sebuah CD padaku.

“Itu titipan dari Donghae-ssi. Dia memintamu untuk mendengarkannya.”

“Kenapa tidak memberikannya langsung padaku?”

“Dua hari yang lalu kau tidak bisa dihubungi dan hari ini ia tidak bisa menemuimu karena harus berkemas untuk kembali ke London, makanya dia menitipkannya padaku.”

London? Apa dia akan kembali ke sana selamanya?
Yah, kurasa itu akan lebiah baik untukku.

“Terima kasih.”

Setelah Kyuhyun pergi dari ruanganku, aku bergegas menghidupkan DVD kemudian memasukkan CD tersebut. Agak lama, namun beberapa saat kemudian terdengar alunan musin dengan barisan-barisan lirik yang membuatku merasakan kembali bunga yang sempat mekar dan layu. Lama, lagu itu mengalun, menghipnotisku untuk terus dan terus mendengarnya hingga perasaan yang ingin kukubur dalam-dalam mencuat tanpa permisi.

Neoui geurinja doeyo maeil ttaradanigo
To become your shadow and follow you around everywhere
jichin eokkael gamsamyeo
Put an arm around your tired shoulders
hanbaldeo dagaganyeom dubaldeo domangganeun
Taking a step then you go away two more steps
Neoreul barabeol subakke eomneun na
I can only look at you

Hajiman nan ajikdo you you you mot ijeottanabwa
But I’m still you you you haven’t forgotten
Ajikdo you you you geudaeroingabwa
Still you you you still the same
Apeungeoni
Am I sick
Apeungabwa I don’t know
I think I’m sick I don’t know
Cause baby I say
Ajikdo nan geudaero neol
I’m still, still you
Ajikdo nan neol
I’m still you

 

Airmataku mengalir begitu saja. Aku tidak tahu apa maksud Donghae menulis lagu ini tapi yang aku sadari saat ini, perasaanku selama ini tidaklah salah, justru salahku jika aku ingin membelokkan pemikiranku tentangnya yang sebenarnya sudah benar.

Aku sadar dia juga menyukaiku. Bukan gadis yang kemarin memeluknya. Lalu dimana dia sekarang? Ya Tuhan, jangan biarkan aku melakukan adegan nista seperti di drama yang sering ibu lihat. Mengejar pria yang mencintaimu sampai ke bandara. Tsk.

Kuhapus airmataku dengan punggung tangan kemudian mengambil ponselku di atas meja. Menekan speed dial nomor 1 dan segera terhubung dengan nomor ponsel Donghae.

Kugigit bibir bawahku sekedar untuk menurunkan kadar khawatirku. Beberapa detik kemudian suara sambungan telpon berhenti lalu memperdengarkan suara seorang pria yang selama dua hari ini kuhindari.

“J-jekyo?”

“Kau dimana?”

“A-aku di—“

“Kau masih di rumah atau sudah di bandara?” tanyaku, tak sabar.

“Di rumah.”

Kumatikan sambungan telpon tersebut kemudian menyambar tas di atas meja. Berlari dari gedung SM menuju jalanan, dengan tak sabar menunggu taksi.

10 menit berlalu di jalan membuat jantungku tak berhenti berdetak cepat, semakin dekat semakin cepat. Bahkan hingga kini aku sudah sampai di depan apartment-nya. Aku bergegas masuk ke sana, berhenti sesaat di meja resepsionis untuk menanyakan nomor kamar Donghae.

Sesampainya di lantai 4, aku bergegas mencari kamar nomor 15. Di sini, aku berhenti sejenak lalu segera menekan bel di samping pintu.

Aku lupa bagaimana caranya mengatur napas saat pintu itu terbuka. Saat menampakkan seorang pria tampan dengan wajah tegas nan berwibawa layaknya dewa Poseidon. Mata sendu itu menatapku lekat dan aku pun melakukan hal yang sama. Hingga buncahan bunga yang mekar itu tak tertahan, aku membuang semua harga diriku sebagai perempuan cantik, percaya diri, dan berkompeten untuk memeluk pria tersebut. Membelenggunya ke dalam dekapan kecilku, sekedar untuk menyalurkan kata hati bahwa aku tak ingin ia pergi.

Dan itu berbalas manis. Pelukanku mengerat seiring dengan dekapannya yang menyusuri setiap inci tubuhku, membuat suasana menghangat saat musim semi ini.

Kajima.”

Aniya.” Lirihnya.

March, 6th 2014

Mengerti bukanlah hal yang mudah. Menyadari sesuatu yang sudah terjadi itu lebih gampang, asal tidak terlambat. Dan aku bisa melakukan hal yang kedua. Menyadari yang aku butuhkan adalah bukan siapa pria yang harus aku dapatkan tapi bagaimana pria itu bisa mendapatkan hatiku.

Ttansaram chae tago
You ride on someone else’s car
pyeonhage paljjangkkigo utneun neoran geol
Being comfortable linking arms and smile
Nan ije gwaenchantago amureohji anhdago
A said I’m fine, nothing is wrong
Saenggakaettdeon nainde
Thought to myself

Hajiman nan ajikdo you you you mot ijeottanabwa
But I’m still you you you haven’t forgotten
Ajikdo you you you geudaeroingabwa
Still you you you still the same
Apeungeoni
Am I sick
Apeungabwa I don’t know
I think I’m sick I don’t know
Cause baby I say
Ajikdo nan geudaero neol
I’m still, still you
Ajikdo nan neol
I’m still you

 

Ya! Ya! Geumanhae, Oppa!”

Protesku seraya berusaha merebut gitar yang berada dalam pelukan Donghae meski gagal dan ia tetap meneruskan bernyanyi dan bermain gitarnya di sampingku.

Oppa, berhenti menyanyikan lagu itu. Kau membuatku geli.”

Petikan gitar Donghae terhenti. Menaruh gitarnya di bawah bangku yang kai duduku kemudian mendekatkan wajahnya padaku hingga hanya berjarak 2 cm. Sedikit saja bergerak, bisa dipastikan hidung kami akan bertemu sapa.

Perlahan, tangan yang tadinya membawa gitar itu kini menarik pingangku. Menempelkan tubuh bagian depan kami hingga hidung kami pun akhirnya benar-benar bersenggolan, membuatku memalingkan wajah karena tak kuat mendapat serbuan tajam dari matanya yang seakan melucuti seluruh pori di wajahku. Dan memaksaku untuk menampilakan rona merah yang mati-matian kusembunyikan.

“Kenapa? Itu lagu yang bagus, bukan?”

Aku sedikit mengedikkan bahu karena geli yang disebabkan terpaan napas hangatnya di sekitar leherku.

“H-harusnya k-kau menyanyikan lagu ‘Happy Birthday’ untukku. Kenapa setiap ulang tahunku kau selalu menyanyikan lagu itu.”

Gerutuanku membuat Donghae menghela napas panjang kemudian melepaskan kaitan tangannya dari pinggangku. Merubah posisi kami menjadi duduk bersandingan dengan tangan kanannya memeluk bahuku dan tangan kirinya memeluk perutku. Kepalanya bersandar lemah di bahu kiriku.

“Lagu itu ‘kan sangat bersejarah untuk kita.”

Arraseo. Tapi itu menggelikan Oppa. Kau mengingatkanku dengan adegan menjijikkan itu.”

“Aku hanya berusaha untuk selalu mengingatkanmu tentang bagaimana kau dan aku dulu. Bagaimana kita mulai bertemu, lalu aku jatuh cinta padamu saat melihatmu menyelipkan rambut dan menatapku tajam, saat kau cemburu dan menganggap sepupuku—Luna sebagai kekasihku, lalu bagaimana sakit hatinya aku saat melihatmu pulang bersama Kyuhyun dan—“ Donghae berhenti sejenak.

“Apa?” tanyaku penasaran.

Dongahe mendongak, menatapku dari bawah seraya tersenyum jahil. “Aku masih begitu ingat bagaimana kau datang ke apartment-ku dengan tampilan yang jauh di luar kata standard dan menangis sambil memelukku, kemudian berkata “Kajima.” Ooouucch—itu mengharukan sekali, Yeobeo.” ujar Donghae seraya memeluk perutku lagi.

Aku mendecih kesal menatap wajahnya yang menyebalkan. Selalu saja seperti ini.

“Bisa tidak sekali saja tidak mengingatkanku dengan adegan menjijikkan itu.”

Wae? Lagipula itu tidak begitu menjijikkan daripada kau harus mengejarku sampai bandara, kan?” Donghae mendengus sebal seraya mengeratkan pelukannya di tubuhku. Membuat detakan jantungku kembali tak normal.

“Kau puas?” ketusku.

“Eum.” Donghae mengangguk pasti. Membuatku semakin ingin melemparnya kembali ke London.

“Aku selalu ingin tertawa saat mengingatmu menyangka aku akan kembali bekerja di London padahal aku ke sana hanya 2 hari. Itu pun untuk mengurusi kepindahanku ke Korea.“

Ya! Oppa, geumanharago.” Gerutuku. Memrotesnya untuk kesekian kali.

Donghae tertawa lagi kemudian bangkit dari posisinya yang semula memelukku menjadi duduk berdampingan.

“Kau tahu, lagu itu sangat berperan penting untuk kita. Kalau saja aku tidak menulis lagu itu, mungkin Dongji tidak akan lahir di dunia ini.”

Aku tertawa pelan saat Donghae mengatakannya seraya memelukku kembali dari samping dengan pipi kanannya yang menempel pipi kiriku. Aku menghela napas pelan, meresapi setiap kebahagiaan saat melihat putera sulung kami—Dongji tengah bermain pasir di taman belakang rumah tak jauh dari bangku yang kami duduki saat ini.

“Dan ini.”

Tangan Donghae bergerak pelan mengusap perutku yang menggembung seraya mengecup pelan bibirku. Membuatku kembali merasakan hangat dan bahagia yang Donghae berikan padaku selama ini.

Kami masih saling menatap, meresapi kehadiran masing-masing, menyimpan segala indah wajah masing-masing ke dalam mata kami yang hanya dan akan terus menatap satu sama lain. Hingga perlahan, kami sama-sama mengecap dan mulai menggali manis bibir bersama. Kedua tanganku menggenggam tangan Donghae yang masih setia mengusap lembut perutku, mengakibatkan gejolak di dalam sana yang membuat kami terkesiap hingga mau tak mau melepas tautan manis kami.

Kami saling melempar senyum kebahagiaan saat merasakan pergerakan janin kami di dalam perutku..

Saengil Chukaeyo.”

Bisik Donghae kemudian mengecup bibirku sekilas. “Gomawo.” Bisikku pelan kemudian membalas kecupannya. Lalu kami saling menatap lagi.

EOMMA! APPA!”

Pandangan kami teralih saat Dongji berlari mendekati kami dengan kedua tangannya yang tersembunyi di balik punggung mungilnya.

“Aku punya sesuatu untuk Eomma.”

Mwoya?” tanyaku, penasaran.

Aku mendekat ke arah Dongji saat ia mulai mengeluarkan genggaman tangannya dari balik punggung. Dan detik berikutnya, mataku terbelalak karena melihat dua hewan panjang berwarna merah itu menggeliat di atas permukaan tangan anakku.

“AAKKHH! DONGJI-YA JAUHKAN CACING ITU DARI EOMMA!!!”

END

 

A/N:
Jadi ‘kan akhirnya? \(^0^)/
Aneh gak sih. Yah biar aneh yang pentingkan gue bikinin. Kekeke
Ini FF saya persembahkan khusus untuk Author ter-kece kita si mbak Arnie mariyani Yuuki Evanthi *eh* yang punya kue donat. Hahaha
Berterima kasihlah pada EunHae yang memberikan wangsit padaku. Sebenernya nih, bukan karena lagu Still You FF ini jadi, tapi karena lagu Kimi ga Naitara mereka yang begitu mengharukan. Huhuhuhu*nangis imut*😀


Semoga suka ya. Kalo gak suka aku gak maksa juga kok.

Kalo abis baca HARUS KOMEN *maksa*.

28 thoughts on “[One Shot] Still You

  1. Aaaaahhh romantis bangett !!! Suka banget sama genre yg beginian. ,, aaahhh terpesona bgt sama donghae . Eonn, bikin sequel nya dongggsss , pas jekyo nya ngelahirin.🙂

  2. Jaekyo bilang ‘mengejar pria yg mencintaimu sampai kebandara’ itu adalah hal nista ??
    Itu kata Jaekyo atau Autornya ya ?? :p *ditabok Autor*
    Aigoo,,parah banget nih Jaekyo.
    Padahalkan aku paling suka sma scane yg kek g2.
    Romantis Romantis gmna g2 *senyum manis*

    Ahh,,,saya suka dgn Couple ini (y)..
    Gumawo untuk FF’a Eonn.
    Lain kali bikin lagi yg Sweet2 kek gni.
    Jangan Sad trs.
    Capek saya nangisnya *manyun imut*

  3. Aaaakkk… Sweettttt.
    Trllu banyak hal yg mnurut jekyo itu menjijikan haha
    Jekyo gapeka ni ya hihi.
    Gooddddd

  4. Woah…gk nyangka bakalan ending yg romantis banget hihihi klu lihat sifatnya jekyo,gk nyangka deh klu sekarang romantis habis ma donghae…

  5. ahh so sweet itu udah ciri khas onge’ oppa. Ak jd ngebayangin misal onge’ brubah krakter jd badboy sprti krakter kyuhyun di ff kbanyakan.ahh bnyk skli ini itu yg seliweran di otak xD

  6. ffny kereen….

    apalgi saat haepa ngungkit dmana jekyo ngejar haepa d apartemenny…..

    lucu n romantis….

  7. Aaaaaah cerita nya romantis bgt…tp diakhir bkin ngakak lg😀 baca bbrp postingan ff eon pasti brakhir dgn ketawa haha
    Cerita nya bagus ,jekyo si wanita cantik cerdas dan berkompeten akhir nya bisa takluk sm seorang lee donghae kkk

  8. kyaaaa so sweet bnget,. ^_^
    q mauuu,. #Peluk Kyu :*
    Aiigooo dongji kau nakal sekali eoh???😀
    yaakkk donghae, knpa kau so sweet skli, q jad iri bnget nih,. hwaa hwaaa,. >.<

  9. Excellent post. I used to be checking constantly this blog and I’m inspired!
    Extremely useful info specially the last part :
    ) I care for such info a lot. I used to be seeking this particular info for
    a very long time. Thanks and good luck.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s