[One Shot] When I was Your Man

1922074_1424127387833034_1261989949_n

Title: When I was Your Man
Author: Valuable94
Casts: Kim Jong Woon (SJ), Seo Jung Han (OC), Park Jung Soo (SJ)
Genre: Romance, Sad
Lenght: One Shot
Rate: PG-17
Disclaimer: Alternate Universe. SJ members belong to themselves. OOC. Story and OC are MINE. Do not copy-paste and rename the casts.

Backsound: B1A4 – Lonely

Happy reading!

Jika dua kata bisa menjadi satu baris kalimat bermakna.
Mengapa dua manusia seperti kita tak bisa bersama dan menciptakan hidup yang bermakna.

Normal POV

February, 10th 2014
7.30 pm

Seharusnya ia sudah mulai terbiasa.

Terbiasa untuk tak lagi bergantung pada sosok yang telah lama menghilang.

Pria itu mulai membentuk simpul dasi di lehernya.

Terbiasa untuk tak lagi mencium aroma harum sup dan nasi goreng untuk sarapannya.

Lagi, ia mendengus saat terduduk di depan meja makan rumahnya. Tak ada apapun. Sejurus kemudian ia beranjak mengambil 2 potong roti dari kulkas lalu memasukkannya ke dalam pemanggang dan memakannya dengan balutan selai nanas favoritnya.

Terbiasa untuk memulai hari sendiri, tanpa sapaan hangat dari seseorang. Yang telah menghilang seiring dengan hangat rumah tersebut yang terbawa oleh gadisnya.

Sojunghan saram.(orang yang berharga)


8 pm

Mobil SUV hitam elegan tersebut melaju kencang, membelah jalanan Seoul yang masih ramai dengan kendaraan roda empat dan beberapa pedestrian yang mengantri di zebracross. Ingatannya terus saja berputar pada sosok yang selama ini ia cari, sosok yang ia biarkan pergi, dan membuatnya terjebak dalam sepi.

Dua jam perjalanan tak membuat tenaga pria tersebut terkuras. Ia menatap dalam bangunan rumah yang cukup besar dan luas dengan hamparan taman yang berisikan tanaman kerdil yang indah dan lucu. Harusnya hamparan hijau rumput itu bisa membuat hatinya tenang, namun sayang semua itu tak terjadi padanya.

Langkah beratnya menuntun pemuda tampan bermata sipit dengan manik segelap mutiara hitam itu semakin mendekat pada tujuannya. Perlahan menekan tombol bel yang menempel di sisi kiri pintu.

Dadanya kembali bergemuruh. Saat mata yang sama kelam dengan miliknya bertemu pandang. Menampakkan pancaran yang berbeda dari dulu yang sering ia lihat. Dulu, mata itu begitu sendu tapi kini sendu itu berganti dengan pancaran yang berbeda. Pancaran bening yang merefleksikan sebuah kegembiraan.

Hembusan angin malam yang tenang membekukan keduanya. Seorang wanita dan pria, mereka terdiam menunduk tanpa ada yang berani memulai kata, sekedar berbasa-basi. Mungkin tidak, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk itu. Adakalanya berbasa-basi memang harus dihilangkan dalam kamus perbincangan. To the point akan lebih cepat menyelesaikan masalah.

Duduk di bangku beranda rumah di malam hari sebenarnya bukanlah hal yang seharusnya mereka lakukan saat ini. Tidur di ranjang yang empuk mungkin adalah pilihan yang terbaik, mengingat angin membawa pekatnya awan malam menutupi satelit bumi nan mungil di sana.

Pria tersebut mulai habis kesabaran karena sedari tadi ia menunggu wanita tersebut untuk menjelaskan semuanya.

“Sampai kapan kau akan diam terus?”

Wanita tersebut mendongak. Menatap mata seorang pria yang baru saja membuka mulut, mengatakan sebaris kalimat yang menuntut untuk dijawab. Itu kali pertamanya ia mendengar pria tersebut memulai pembicaraan dengannya.

August, 23rd 2013
Jong Woon’s House

7.30 am

Mungkin senyum memang bukanlah segalanya, karena kau tidak akan pernah tahu apa yang tersimpan di balik senyum itu, seperti kesakitan mungkin. Sakit saat kau merasa tak dihargai atas apa yang kau lakukan untuk orang yang kau cintai, untuk orang yang begitu berharga untukmu meskipun kau bukanlah salah satu yang berharga baginya.

“Selesai!” seru Jung Han, riang.

Dengan telaten gadis tersebut merapikan kembali hasil ikatan dasi di leher kekasihnya. Detik berikutnya ia terhenyak. Hanya dengan dehaman dingin pria tersebut mampu membuat ia menunduk kemudian memundurkan tubuhnya. Memilih memberikan jarak tubuh bagian depan mereka yang sempat menempel.

Tanpa kata, gumaman pun tak ada. Ia lebih sibuk dengan segala urusannya serta gadget di tangan. Jung Han bergegas mengekorinya, membawakan jas biru dan tas kerja pria tersebut. Mereka bergegas menuju pintu depan. Dengan cekatan dan senyum yang kembali mengembang, ia memasangkan jas kemudian memberikan tas tersebut pada kekasihnya.

Na kha (aku pergi).” suara dinginnya berlalu begitu saja. Menghapus senyum Jung Han dengan sekali hembusan angin yang berkibar menguarkan aroma kepedihan.

“Jong Woon Oppa!” panggilannya membuat pria tersebut berhenti sebelum mencapai mobil yang terparkir di halaman rumah.

Jong Woon berbalik tatkala langkah gadis itu terdengar mendekatinya.

“Mau kubuatkan makan siang apa?”

“Tidak perlu.”

Satu kecupan mendarat di dahi Jung Han. Meninggalkan bekas yang menyakitkan sekaligus menyenangkan di sana. Selalu seperti itu. Tanpa alasan.

Gadis itu memilih kembali ke dalam rumah. Berjalan pelan ke meja makan, duduk di sana dengan lemas seraya memandangi hidangan sarapan yang masih  utuh. Menghela napas panjang kemudian mulai mengambil satu piring nasi goreng, melahapnya pelan dan malas. Sarapannya tak pernah terasa hangat dan menyenangkan lagi tanpa Jong Woon dan itu membuat nafsu makannya sering hilang.

Seoul Hospital
12.00 pm

Jung Han menghela napas panjang saat bel tanda jam istirahat berbunyi. Menyeka peluh di dahinya yang akhir-akhir ini sering keluar dengan volume yang lebih banyak. Ia merentangkan kedua tangan kemudian memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Sekedar untuk meregangkan otot punggungnya yang kaku.

Ia berjalan pelan di sepanjang koridor rumah sakit tempatnya bekerja. Sesekali melemparkan senyum pada rombongan dokter, beberapa perawat dan suster yang berpapasan dengannya. Kemudian bergegas menuju ruangan salah satu dokter atasannya.

Saat tiba di sana, ia mengetuk pintu pelan kemudian masuk ke dalamnya. Mengedarkan pandangan saat ruangan tersebut terasa lengang, hanya jas putih yang tersampir rapi di punggung kursi.

Setelah meletakkan berkas hasil pemeriksaan ke atas meja, Jung Han bergegas keluar ruangan tersebut.

“Jung Han-ah!”

“Jang Mi-ya!” Gadis itu tersenyum seraya melambaikan tangan saat melihat rekan sesama susternya. Ia bergegas mendekat ke arah gadis itu yang kini tengah menenteng satu kotak makan siang di tangan kanannya.

“Aku bawa makan siang cukup banyak hari ini. Ayo, makan bersamaku!”

Kajja!” seru Jung Han, semangat. Ia selalu lupa dengan tubuhnya yang lelah saat bersama sahabatnya tersebut.

Mereka berdua bergegas menuju kantin rumah sakit. Setelah mencari-cari bangku yang masih kosong akhirnya mereka memutuskan untuk duduk di salah satu bangku di samping pintu darurat. Tempat favorit mereka, di pojok ruangan yang pasti akan tertutupi kerumunan orang karena ramainya kantin saat istirahat makan siang.

“Makan yang banyak. Kulihat tubuhmu semakin kurus,” Jung Han hanya tersenyum samar seraya mendengar celotehan Jang Mi. Ia lebih memilih melahap jeruk daripada mengambil satu potong kimbab milik Jang Mi.

“Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Jong Woon-ssi?” tanya Jang Mi disela kegiatan makan siangnya.

So so,” jawab Jung Han, cuek. Jang Mi mendengus kemudian melempar kulit jeruk ke arah Jung Han.

“Kenapa begitu ekspresinya. Harusnya kau bahagia mendapatkan kekasih seperti Kim Jong Woon. Dia pria tampan dan pekerja keras.”

Jung Han mengangguk menyetujui. Itu seratus persen benar.

“Tapi dalam sebuah hubungan tidak hanya butuh uang saja, kan?” bantah Jung Han.

“Kau benar—“  Jang Mi mendelik ke arah Jung Han yang masih asyik dengan jeruknya. “jangan-jangan kau tidak pernah disentuh Jong Woon-ssi.”

YA!” Jang Mi terbahak saat melihat muka merah Jung Han. Dugaannya selama ini mungkin saja benar. Temannya itu mungkin kekurangan sentuhan dari kekasihnya.

Hanya beberapa menit mereka membahas masalah Jung Han dan detik berikutnya selalu ada topik lain yang lebih menarik untuk dibahas, seperti topik ‘dokter tampan’ yang ada di rumah sakit itu. Mereka kembali tenggelam dalam obrolan tanpa mempedulikan daerah sekitar yang semakin ramai. Termasuk sebuah langkah besar yang tengah mendekati meja mereka.

Chogiyo,”

Jang Mi dan Jung Han terdiam kemudian menoleh ke arah sumber suara yang tak asing bagi mereka. Seorang pria dengan lesung pipit yang menawan, dia salah satu dokter anak di rumah sakit ini yang mendapat julukan tangan malaikat.

Eo eoh, Jung Soo Sunbae.” Jung Han tergagap sementara Jang Mi tersenyum riang seraya memandanginya tanpa henti.

“Boleh aku duduk di sini?” tanya Jung Soo. Kedua gadis tersebut mengangguk canggung.

Sejurus kemudian dokter muda tersebut duduk di samping Jung Han. Sementara Jung Han yang sedari tadi tak begitu nafsu makan menjadi semakin tak ingin makan. Bahkan menelan sisa jeruk di dalam mulutnya pun terasa sulit.

“Kau mau?” Jung Han terhenyak begitu saja saat Jung Soo menawarinya sebuah dumpling. Mungkin lebih gamblang lagi pria itu bermaksud menyuapinya. Ia melihat dumpling dan atasannya tersebut bergantian, menatap keduanya bingung, dan akhirnya ia tetap membuka mulutnya, lebih merasa karena ia sungkan untuk menolak.

Jung Soo tersenyum bahagia saat Jung Han mulai mengunyah makanan tersebut. Wajahnya memerah malu karena di sini bukan hanya ada mereka. Ada Jang Mi melihat kejadian tersebut dengan begitu jelas.

“Akhir-akhir ini kulihat wajahmu sering pucat,” ujar Jung Soo, santai—seraya melahap dumpling-nya.

“I itu—aku  hanya sedikit kelelahan saja, Sunbae.” jawab Jung Han, tergagap.

“Kau mau aku memberimu libur beberapa hari?” Jung Soo mengatakannya tanpa menoleh Jung Han yang tengah menelan saliva dengan susah payah. Tawaran yang menggiurkan memang. Tapi itu semacam tawaran yang membutuhkan bayaran. Menurutnya.

“Tidak perlu, Sunbae. Lagipula aku masih bisa meng-handle pekerjaanku.”

Jung Han semakin salah tingkah saat Jung Soo menatapnya. Memperhatikan wajahnya yang sudah memerah karena atasan yang selama ini memendam perasaan untuknya berlaku layaknya mereka sepasang kekasih.

“Eh, sepertinya aku harus segera kembali ke ruanganku. Aku permisi.” Jang Mi segera beranjak dari duduknya. Meninggalkan Jung Han yang masih mendelik tajam menatapnya menjauh dari meja mereka. Gadis itu cukup tahu diri untuk tak menganggu romansa atasannya yang menyukai temannya sendiri.

Jung Han semakin salah tingkah saat Jung Soo mulai membelai rambutnya pelan, menyingsingkannya ke belakang telinga kanan kemudian mengusap peluh dingin di pelipis Jung Han.

S sunbae, d-di sini b-banyak o-orang.”

Jung Soo tersenyum tipis menyadari kegugupan Jung Han. Menatap ke sekelilingnya yang tengah memperhatikan gerak-gerik mereka berdua. “Maaf.” Ujarnya santai kemudian beranjak dari duduknya seraya menggandeng tangan Jung Han.

“Kita pergi dari sini. Terlalu banyak yang menganggu.”

Jung Han terbelalak. Bukan begitu arah pembicaraannya. Dia sama sekali tak bermaksud untuk mengajak Jung Soo ke tempat yang lebih nyaman supaya pria itu bisa membelai rambutnya leluasa tanpa diperhatikan orang lain.

Sunbae, tunggu!” sergah Jung Han sebelum mereka melangkah lebih jauh meninggalkan kantin rumah sakit. Perlahan ia melepas genggaman tangan Jung Soo. Menghembuskan napas lega seraya merapikan seragamnya yang cukup kusut. Mengusap dadanya sesaat untuk meredakan detakan jantung yang beberapa hari ini sering berdetak tak beraturan. Membuat Jung Soo tersenyum geli.

“Aku harus menyelesaikan beberapa laporan kesehatan pasien, Sunbae. Maaf.”

Jung Soo hanya menghela napas, menatap Jung Han yang masih terdiam dan tertunduk sembari meremas ujung seragamnya. Nampak gugup. Jung Han berbohong. Ia tahu jika gadis itu tengah menghindarinya. Terlalu lama bersama gadis itu mau tak mau membuat Jung Soo hapal dengan bahasa tubuhnya.

Ia menghela napas, “Baiklah.” kemudian melepaskan pegangan tangannya pada Jung Han dengan enggan.

Langkah Jung Han membawanya menjauh dari Jung Soo. Secepat kilat, tanpa memedulikan pria yang kini menatapnya dalam hingga tubuh itu menghilang di balik tembok pemisah antara kantin dan koridor rumah sakit.

***

Jung Han menghela napas saat ia berhasil menyelesaikan data salah satu pasien di ruang ICU hari ini kemudian mendengus pasrah saat melihat arloji di pergelangan tangan kirinya. Sudah jam 5 sore, jam berjaganya juga sudah selesai, tapi ia belum menyelesaikan tugasnya untuk mengecek beberapa pasien.

Yah, hanya tinggal beberapa. Batin Jung Han pasrah.

Mata Jung Han kembali menelisik ke dalam map berwarna biru di tangan kirinya. Membuka beberapa data pasien yang belum sempat ia recheck perkembangannya.

Berkali-kali ia mengelap peluh yang mulai membanjiri pelipis hingga mengalir ke sekitar dagu. Berjalan keluar dari ruang ICU kemudian menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang perawatan yang mulai sepi.

Hening. Jung Han sesekali menoleh ke belakang saat terdengar suara langkah kaki di sana. Menghela napas, lagi, dan lagi saat apa yang ia duga memang tak ada. Hey, ini gedung rumah sakit yang sudah cukup tua. Banyak orang yang mati di sini pastinya. Dan hal itu membuat segala pikiran negative Jung Han membangkitkan bulu romanya.

Puk.

“AARRGGHHHH!!!”

“Ssssttttt!!!”

Mata Jung Han yang semula tertutup rapat kini terbuka lebar tanpa memedulikan beberapa berkas yang terlucuti dari dekapannya. Pekikan itu berhenti seketika saat tangan seorang pria terarah menutupi bibirnya. Deru napasnya memelan, dadanya masih terlihat naik turun dengan detakan yang tak bisa dibilang pelan.

“Ssstttt! Pelankan suaramu. Kau bisa membuatnya terbangun.” bisik pria tersebut, pelan. Sesekali tangannya bergerak mengusap kepala seorang bocah laki-laki yang tertidur dalam gendongannya.

Seketika Jung Han menghempaskan tubuhnya ke dinding. Menghela napas sedalam yang ia bisa saat menyadari jika pria yang baru saja menepuk pundak dan menutup bibirnya itu adalah atasannya.

Sunbaenim, kau membuatku kaget.” dengus Jung Han—dengan tangan yang memegangi dadanya.

Jung Soo terkikik pelan melihat ekspresi asistennya tersebut kemudian ia mulai mendekat ke arah Jung Han, “Kenapa belum pulang?” tanya Jung Soo, pelan.

“Masih ada beberapa pasien yang belum kuperiksa.” sahut Jung Han seraya bangkit dari tempatnya kemudian memunguti dokumen yang tercecer di lantai. Sejurus kemudian, keadaan di sekitar mereka terasa membeku. Bukan karena ada hantu lewat, melainkan kedua manik mata mereka bertemu dalam jarak yang cukup dekat. Jung Soo berdiri tepat di hadapan Jung Han saat gadis itu hendak berbalik ke arahnya. Membuat getaran yang tak Jung Han kenali menyusup begitu saja, menggetarkan seluruh tubuhnya dalam diam.

Mata hitam Jung Soo menelisik dalam ke arah Jung Han. Meneliti setiap detail ukiran wajah ayu gadis pujaannya yang telah memiliki laki-laki yang ia puja sendiri.

“Wajahmu pucat sekali. Apa kau begitu takut padaku?” Jung Han mendengus kesal saat atasannya itu terkikik seraya kembali mengusap kepala bocah laki-laki itu. Bocah tersebut nampak menggosok hidungnya cepat dengan mata yang masih tertutup dan kepala yang bersandar pada pundak Jung Soo.

Sekilas, kilatan hitam itu meredup seiring dengan air mukanya yang berubah datar. Jung Han mundur beberapa langkah kemudian menunduk seraya merapikan seragamnya.

Jeoseonghamnida, Sunbaenim.” Jung Han membungkuk sesaat kemudian berjalan pelan menjauh dari Jung Soo. Langkah pelannya semakin melemah saat pandangannya semakin mengabur seiring dengan pening di kepalanya yang semakin mencengkeram. Ia berhenti sejenak, berpegangan pada tembok di sampingnya hingga ia tak lagi mampu merasakan beban tubuhnya.

Keesokan harinya

7.30 am
Jong Woon’s House

Tak ada yang berbeda dari rumah tersebut. Tetap ramai saat pagi hari ketika Jung Han mempersiapkan sarapan untuk Jong Woon. Beberapa kali gadis itu menatap ke arah tangga, berharap Jong woon tidak turun terlebih dahulu sebelum sup kimchi buatannya matang.

Setelah merasai sup tersebut, Jung Han mengangkat kemudian memindahkannya pada mangkuk yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Sup tersebut tersaji di atas meja bersamaan dengan Jong Woon yang duduk di meja makan. Dengan kemeja putih dan dasi hitam yang membuat pria tersebut terlihat sederhana namun tetap elegan.

Jung Han selalu senang melihat Jong Woon dengan baju apapun, meskipun sebenarnya ia lebih senang melihat kekasihnya tersebut tak mengenakan apapun tapi sumpah demi Tuhan, pria itu selalu mempesonanya sekalipun tak banyak bicara.

Dengan semangat Jung Han menyendokkan sup ke dalam mangkuk kemudian memberikannya pada Jong Woon. Ia menatap Jong Woon dengan senyum yang tak pernah lari dari bibirnya. Membuat Jong Woon menghentikan makanannya sejenak kemudian menatapnya heran.

Wae?” Jung Han menggeleng. Masih tersenyum.

“Mau tambah supnya lagi, Oppa?”

Jong woon menggeleng heran kemudian kembali melanjutkan sarapannya. Tak lagi mengindahkan Jung Han yang masih setia menungguinya di meja makan.

“Aku selesai.”

Langkah Jong Woon tertahan sebentar, ia menoleh ke arah Jung Han dengan malas. Jam kerjanya sudah menunggu untuk segera disambut.

Oppa, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

Setelah menghela napas pelan, Jong Woon duduk kembali di kursinya semula. “10 menit saja.” Jung Han mengangguk patuh. Ia rasa persiapannya dari semalam akan sedikit mempersingkat waktu.

Jung Han menghela napas, kemudian menggenggam kedua telapak tangan Jong Woon, “Oppa, aku hamil.”

Untuk Jung Han, dua kata tersebut mampu membuat desiran angin pantai nun jauh di sana menghampiri sanubarinya. Membuat semacam gelombang kebahagiaan tak terdefinisi bergulung dengan cepat. Senyum yang terkembang begitu manis itu meluruhkan segala gejolak dari dalam diri Jong Woon. Pria tersebut mengembangkan senyumnya meski tak penuh, setelah menatap kaget ke arah Jung Han. Perlahan ia menghela napas lagi, memalingkan wajah dari tatapan bahagia Jung Han kemudian melepaskan genggaman tangan halus itu atas dirinya.

Jong Woon kembali menelisik arloji di tangan kirinya. “Aku berangkat.”

Dan ombak itu menghilang dengan sendirinya. Menyisakan buih yang terseret kembali ke laut. Jung Han mengikuti langkah Jong Woon, menampakkan raut muka yang biasa saja sekalipun dadanya terasa diikat dengan tali tambang yang menyesakkan. Dengan telaten ia memakaikan jas hitam Jong Woon kemudian memberikan tas jinjingnya. Ia tak pernah merasa setakut ini. Entah ketakutan akan hal apa, Jung Han sendiri juga tak tahu, dan ia lebih memilih untuk menguburnya.

Singkat, namun selalu membuat Jung Han melupakan segala rasa sakitnya. Kecupan itu mendarat pelan di keningnya. Terlepas untuk sesaat, kemudian buaian dari telapak tangan Jong Woon saat mengusap pelan pipi kirinya membuat ia bisa tersenyum kembali.

Oppa,”

“Kita bicarakan masalah itu nanti malam.”

Jung Han mengangguk paham. Ia tahu, Jong Woon tidak mungkin menolak kehadiran buah cinta mereka. Dia tahu Jong Woon memang pria dingin namun ia kenal pria itu bukanlah orang yang tak bertanggung jawab.

Hingga sejurus kemudian, pria itu berlalu tanpa senyum. Yah, seperti biasa.

Seoul Hospital
1 pm

Chukae!!!”

Jung Han membelalakkan mata saat pelukan Jang Mi mengerat di tubuhnya. Gadis itu dengan gemas mencubit kedua pipinya hingga memerah.

“Hentikan, Han Jang Mi! Kau bisa membuat pipiku kempes.”

“Aarrgghh! Aku tidak bisa berhenti, aku sudah menahannya dari tadi pagi.” seru Jang Mi, girang. Jung Han mendengus keras.

“Kenapa kau tidak mengatakan padaku kabar gembira itu?” tanya Jang Mi, kesal. Ia melepaskan cubitannya pada pipi Jung Han yang kini terlihat merengut ke arahnya.

“Kabar apa?”

Aigoo, aku benar-benar tidak percaya. Ternyata dugaanku selama ini tentang Jong Woon-ssi yang tidak pernah menyentuhmu itu salah,”

Yya! Apa maksudmu mengatakan itu?” tanya Jung Han, gagap.

“Kau sedang hamil ‘kan?” tangan Jung Han dengan cepat menutup mulut Jang Mi yang berseru lantang. Ia menoleh ke segala arah di koridor ruang isolasi.

“Pelankan suaramu, bodoh.”

Aish.” Jang Mi melepaskan tangan Jung Han dengan kasar.

“Kau benar-benar tega padaku, kenapa aku harus tahu dari orang lain dan bukan dari sahabatku sendiri.” dengus Jang Mi.

“Orang lain? Siapa?”

“Jung Soo Sun—“ Jang Mi menutup mulutnya dengan cepat kemudian berlari meninggalkan Jung Han yang menatapnya heran.

“Anggap saja aku tidak mengatakan apapun.” Jung Han menghela napas pelan.

Jung Soo.

Nama itu yang berkali-kali coba ia abaikan untuk beberapa tahun ini.

***

Sunbaenim!”

Pandangan dari mata sipit Jung Soo teralih. Senyum halusnya terkembang saat ia melihat gadis pujaannya juga tersenyum padanya. Dengan sedikit berlari, Jung Han mendekat ke arah Jung Soo dan seorang bocah laki-laki di pangkuannya.

Annyeong, Tae In-ah!”

Tae In tersenyum senang kemudian berpindah dari pangkuan Jung Soo, menyambut uluran tangan Jung Han dengan senang hati. Jung Soo menggeser sedikit duduknya hingga Jung Han bisa duduk di sampingnya.

“Suster Jung Han, uri aegi eotteohkaji?” Jung Han menatap ke arah Jung Soo heran, sementara pria itu hanya mengedikkan bahu berpura tidak tahu.

“Dasar ember bocor.” dengus Jung Han seraya mendelik ke arah Jung Soo. Ia bahkan hanya berpikir jika keberanian Jung Soo mengatakan hal itu pada Jang Mi karena gadis itu adalah sahabatnya. Ternyata itu tidak benar.

“Anak itu terus saja bertanya, lalu apa yang harus kulakukan selain menjawabnya.” bantah Jung Soo, tak mau disalahkan.

Jinjja?” Jung Soo mengangguk.

“Aku yang menunggu suster semalaman saat kau pingsan.” Jung Han terkejut saat Tae In tiba-tiba memeluknya.

“Aku ingin melihat adik kecil lahir.” kata Tae In, pelan—seraya mengeratkan pelukannya pada Jung Han. Membuat dada Jung Han berdetak cepat, kemudian memandang seksama wajah gembul Tae In di pangkuannya.

“Kau pasti bisa melihatnya,” ujar Jung Han, lembut—seraya mengusap kedua pipi pasiennya tersebut.

Tae In mengangguk yakin, “Aku pasti sembuh ‘kan, suster?” Jung Han menatap ke arah Jung Soo yang nampak tak memedulikan percakapannya bersama Tae In. Pria itu sibuk memalingkan wajahnya karena kedua matanya yang memerah.

“Kau pasti sembuh dan kau harus sembuh.” ucapan Jung Han sedikit tertahan karena isakannya, meski tanpa airmata.

Appa juga selalu bilang begitu. Iya ‘kan, Appa?” Jung Soo mengangguk pelan seraya tersenyum ke arah Tae In.

Wajah sumringah Tae In membuat senyum Jung Han terkembang kembali. Bocah kecil yang selalu kuat dengan beban kanker hati di tubuh mungilnya. Jung Han mengecup pelan dahi Tae In kemudian membenarkan letak kupluk abu-abu yang menutupi kepala gundulnya.

“Ayo, kembali ke kamar! Kau harus banyak istirahat sebelum operasi besok.” Tae In menurut, ia bergegas turun dari pangkuan Jung Han kemudian mengulurkan tangan pada Jung Soo, meminta digendong.

Jung Han berjalan sejajar di samping Jung Soo. Sesekali mereka tertawa karena kelakaran Tae In yang tak berhenti sampai mereka sampai di ruang perawatannya.

Setelah mengantar Tae In, mereka kembali berjalan menyusuri koridor menuju ruangan Jung Soo. Sesekali Jung Han menoleh ke arah Jung Soo yang sedari tadi hanya diam dan menatap lurus jalanan sepanjang koridor seraya memasukkan kedua tangannya di saku jas.

“Aku jadi berpikir bagaimana bisa orang tua Tae In meninggalkannya begitu saja.”

Jung Soo tersenyum pelan seraya menatap Jung Han sesaat, “Kurasa Tuhan terlalu menyayangi Noona dan Hyung-ku.” Gadis itu tertawa pelan karena kelakarannya.

Beberapa saat kemudian mereka sampai di depan ruangan Jung Soo. Mereka berhenti di depan pintu, berdiri berhadapan dengan Jung Han yang terlihat kembali gugup, membuat Jung Soo menahan tawa.

“Mau mengatakan sesuatu?” itu semacam pancingan, karena jika tak dipancing Jung Han tak akan segera memulai kalimatnya.

“T-terima kasih, Sunbaenim.” Jung Han menggaruk tengkuknya, salah tingkah.

“Tidak usah dipikirkan. Yang penting mulai sekarang kau harus menjaganya dengan baik.” Jung Han terhenyak saat Jung Soo mengusap perutnya pelan.

“Apa kekasihmu sudah tahu?” anggukan Jung Han membuat Jung Soo terpaksa menahan perih lagi.

Bodoh! Harusnya ia tak menanyakan hal itu jika pada akhirnya akan semakin menyakitinya. Ia tahu dan sadar betul akan hal itu. Hati yang ia berikan pada Jung Han tak pernah sekalipun ditanggapi. Mungkin memang sekarang adalah saat yang tepat untuk melepaskan gadis itu.

“Kau berhak untuk bahagia bersama orang yang kau cintai. Hiduplah dengan baik bersamanya.” udara di sekitar Jung Soo terasa menipis saat rengkuhan Jung Han membelit tubuh tegapnya. Hangat, membuatnya tak mampu berpaling barang sedetik pun.

“Maafkan aku Sunbaenim.” Ia tak tahu jika Jung Han akan menganggapnya serendah ini. Ia baik-baik saja, setidaknya ia masih mencoba untuk saat ini. Hey, mungkin ia memang harus merelakan sesuatu yang dari dulu bukan untuknya.

Perlahan, Jung Soo melepaskan pelukan Jung Han. Ia mengusap pelan kedua pipi gadis itu kemudian menepuk-nepuk pelan puncak kepalanya.

“Jam istirahat sudah habis. Kembalilah bekerja.” dan senyuman mereka sedikit banyak mencairkan suasana.

8 pm
Jong Woon’s House

“Bagaimana?” tanya Jung Han, pelan—seraya meletakkan secangkir cokelat hangat di meja kerja Jong Woon. Pria tersebut mulai menutup map berwarna merah di hadapannya. Menghela napas dalam kemudian mengusap wajahnya. Terlihat sedikit frustasi.

“Maafkan aku.” ujar Jong Woon, pelan. Tanpa adanya penekanan.

“Maksudmu?” sekuat tenaga mengeluarkan suara membuat Jung Han sedikit kehabisan napas karena menahan marah, mendengar kata ‘maafkan aku’ dari Jong Woon yang terdengar seperti sebuah ultimatum baginya untuk segera mengakhiri semua ini.

“Bukan, aku tidak bermaksud untuk tak bertanggung jawab. Tapi—“ itu kalimat terpanjang yang pernah Jong Woon katakan padanya semenjak beberapa bulan ini.

“Banyak yang harus kuurus di perusahaan. Aku tidak bisa menikahimu sekarang, apalagi mengurus wanita hamil. Aku—“

“Kesimpulannya?” sergah Jung Han, tak sabar. Seolah kata apapun yang akan dilontarkan Jong Woon nanti bisa saja sangat tak terduga. Atau mungkin, diluar ekspektasinya.

“Gugurkan! dan tetap berada di sisiku.”

Pegangan tangan Jung Han mengerat, membuat kukunya penyingkap lapisan cat pada nampan yang tengah ia pangku sekarang.

Menggugurkan. Itu sama saja membunuh.

Logikanya berperang dengan perasaan cintanya pada Jong Woon. Ini seperti memakan buah simalakama. Dan ia harus bisa memilih salah satu di antara mereka. Dua hal yang sama-sama ia cintai.

Jung Han beranjak dari duduknya. Tanpa mengindahkan Jong Woon yang kini sama-sama terdiam sepertinya. Pandangannya kembali mengabur, bukan karena pening di kepala kali ini. Lebih pada lelah hati dan fisik yang dating secara beruntun. Merobohkan segala benteng pertahanannya. Memaksanya keluar dari zona nyaman yang selama ini ia bangun saat bersama Jong Woon. Ia berjalan menuju kamar. Sedikit limbung, dengan pandangan mata yang tak fokus kemudian dengan gontai membuka lemari dan memasukkan sebagian bajunya ke dalam koper berukuran sedang.

***

At bus stop

Hoodie biru yang menutupi rambut hitam panjangnya tertiup angin yang sedikit kencang. Gadis itu terdiam seraya memandangi foto sepasang kekasih di layar ponselnya—fotonya bersama Jong Woon saat mereka baru saja bangun tidur. Kemudian jarinya tergerak menekan layar bergambar tempat sampah di sana.

Perlahan, kupluk hoodie itu tersingkap angin malam yang terbawa oleh beberapa mobil yang melintas cepat di depannya. Ia mengusap pelan perutnya setelah menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku, menatapnya dengan senyuman bahagia. “Jangan khawatir sayang, Eomma akan selalu menjagamu.”

“Jung Han-ah!” pandangan Jung Han teralih, kemudian matanya menatap kaget ke arah pria yang biasa ia temui di tempat ia berkerja. Atasannya.

“Jung Soo Sunbae.” Jung Han membungkuk sesaat kemudian kembali duduk saat Jung Soo keluar dari dalam mobil dan menghampirinya, duduk di sampingnya.

“Sedang apa kau di sini?”

“Tentu saja menunggu bus, memangnya apalagi?” Jung Soo berdecak sebal.

“Kau mau kemana? Bagaimana kalau aku antar saja. Udara malam tidak begitu bagus untuk ibu hamil.”

Jung Han menggeleng pelan seraya tersenyum, “Tidak perlu, Sunbae. Aku hanya ingin pulang.”

Jung Soo mengernyit heran, “Pulang? B-bukankah—“

“Gwangmyeong. Aku merindukan ayah dan ibu.” lanjut Jung Han, menjelaskan.

“Kenapa baru pulang?” Jung Han menatap seksama tubuh Jung Soo yang masih berbalut jas dokternya. Pria itu tersenyum ringan, “Persiapan untuk operasi Tae In besok.” Jung Han mengangguk paham.

Untuk beberapa menit mereka kembali terdiam. Suasana canggung itu lama kelamaan membuat Jung Soo tak nyaman. Hey, ini bukanlah pertemuan pertama mereka. Harusnya ada begitu banyak topik pembicaraan kali ini. Ia menatap Jung Han seksama yang tengah menggenggam erat ujung hoodie-nya, dengan bibir atas yang mengunci bibir bawahnya. Ia tahu, ada sesuatu yang disembunyikan Jung Han darinya.

“Tidak mau mengatakan sesuatu?” Jung Han menoleh cepat ke arah Jung Soo.

Pandangan tak fokus dari gadis itu semakin menguatkan asumsinya akan suatu hal yang memang sengaja disembunyikan hoobae sekaligus gadis pujannya tersebut. Oh, shit! Sampai kapan ia akan menganggap Jung Han adalah gadis puajaannya, mengingat kenyataan yang mengharuskan ia melepaskan gadis itu.

“Apa menurutmu kami pasangan yang serasi? M-maksudku— aku dan Jong Woon Oppa,”

Jung Soo berpikir sejenak. Mendapatkan pertanyaan seperti itu harusnya menjadi kesempatan baginya untuk menjatuhkan mental Jung Han di tengah keraguannya. Tapi itu bukanlah Jung Soo.

“Aku tidak tahu, tapi aku banyak mendengar cerita dari teman-temanmu yang mengatakan jika kalian pasangan yang serasi,” Jung Han tersenyum samar. Tak bisa dipungkiri jika memang ia selalu senang mendengarkan pujian teman-temannya karena hubungannya bersama Jong Woon yang sudah terjalin cukup lama.

“Begitu ya?” lirihnya. Jung Soo kemudian mengangguk.

“Iya. Pasangan suster dan eksekutif muda yang sukses.” Mereka tertawa.

“Apa seorang suster sepertiku memang benar-benar pantas untuknya?” tawa Jung Soo terhenti. Ia menatap seksama air muka Jung Han yang berubah muram.

“Hey, kau ada masalah?” Jung Han menggeleng seraya tertunduk, menyembunyikan lelehan cairan hangat dan bening dari kedua matanya.

Hal itu membuat rasa penasaran Jung Soo semakin menjadi, ia kemudian tergerak untuk sekedar mengusap puncak kepala gadis itu—berharap bisa menenangkan gadis itu, namun reaksi Jung Han kembali membuat ia terkejut. Gadis itu memeluknya lagi, kali ini lebih erat dari pelukannya tadi siang dengan sedikit hiasan isakan kecil.

“Aku tidak mau membunuh anakku. Aku menyayanginya sama seperti aku mencintai Jong Woon. Apa yang harus kulakukan?”

Belati berkarat itu tertancap semakin dalam di hatinya. Mengapa ia harus selalu mendengarkan kata ‘cinta’ dari Jung Han untuk Jong Woon, dan  bukan untuk dirinya.

Jung Soo melepas pelukan Jung Han kemudian menghapus sungai kecil di wajah gadis itu. Memaksakan senyum yang seharusnya tak mampu ia tampakkan, namun gadis itu selalu berhasil membuatnya menjadi pria kuat dan lemah di saat yang bersamaan.

“Lakukan sesuai kata hatimu. Aku tidak bermaksud untuk memprovokasimu untuk meninggalkan Jong Woon-ssi tapi—“

Jung Soo menghela napas pelan, “pertahankan apa yang memang seharusnya kau pertahankan. Bukan karena ‘kata orang’ tapi lihatlah pada kenyataan. Mungkin banyak orang yang mengatakan satu pasangan itu nampak begitu bahagia dan serasi, tapi bukan mereka yang menentukan adanya keserasian dan kebahagiaan itu.” Jung Han menatap Jung Soo dalam.

“Itu semua tergantung bagaimana kau menjalaninya bersama Jong Woon-ssi. Kalianlah yang menentukan layak tidaknya sebuah hubungan, setidaknya untuk dipertahankan.”

Tak ada yang memaksa Jung Han untuk pergi atau pun menahannya untuk bertahan. Jung Han sadar penuh akan hal itu dan ia memutuskan untuk mempertahankan apa yang benar-benar ia cintai dan memang pantas untuk dipertahankan. Dia bukan gadis desa yang tak pernah sekolah, gadis itu cukup pintar untuk menentukan langkah. Untuk hidup dan bahagianya sendiri.

February, 10th 2014
10 pm

“Chagi-ya!” Jung Han mendongak. Tersadar dari keterdiamannya selama beberapa menit bersama pria yang pernah ia cintai dan menghiasi hidup mereka bersama, Jong Woon.

Tubuh anggunnya yang terbalut piyama tidur bermotif garis vertical bitu dan putih itu beranjak, mendekat ke arah pria yang berdiri di ambang pintu dengan seorang bayi mungil berumur 2 bulan yang tengah menangis keras dalam gendongannya. Dengan pelan Jung Han mengambil bayi tersebut kemudian menimangnya.

“Sepertinya dia haus.” Jung Soo memberikan botol susu pada Jung Han kemudian mengalihkan pandangan seraya tersenyum ke arah Jong Woon—yang kini terduduk diam di kursi, menatap pasangan tersebut dengan perih yang menjalar perlahan dan semakin menguat dalam dirinya.

Harusnya aku yang berada di posisi lelaki itu. Batin Jong Woon.

“Kalian belum selesai?” Jung Han menggeleng—seraya menimang puteranya yang mulai tenang.

“Baiklah, sepertinya Jong Jin memang ingin bersamamu malam ini. Kalau begitu aku yang akan menemani Tae In tidur.” Jung Han mengangguk seraya tersenyum saat kecupan manis itu mendarat sempurna di bibirnya. Bukan bermaksud untuk memanas-manasi Jong Woon tapi itu sudah jadi kebiasaannya satu tahun belakangan.

Jung Han kembali duduk di samping Jong Woon saat suaminya kembali masuk ke dalam rumah.

“Kau mau menggendongnya?”

Dada Jong Woon bergemuruh. Saat menatap bayi laki-laki mungil itu menggeliat pelan di dalam gendongan Jung Han. Wanita itu tersenyum pelan saat gurat bahagia Jong Woon terselip di antara dingin ekspresi wajahnya.

Ragu, Jong Woon menatap Jung Han dan Jong Jin bergantian. “Gendong saja, anakmu tidak akan menggigit karena dia belum punya gigi.”

Senyum Jong Woon tersimpul saat bayi itu sudah berada dalam gendongannya. Dahi, hidung, bibir, dan rambut. Bayi itu seperti hasil scan darinya. Jong Woon menatap Jung Han bingung saat rengekan Jong Jin terdengar semakin keras. Dan senyum Jung Han mengembang saat refleks tubuh Jong Woon menimang Jong Jin pelan, kemudian ia mulai memasukkan dot ke dalam mulut Jong Jin yang disambut dengan hisapan semangatnya.

“Apa kau kemari karena ingin menjemput Jong Jin?”

“Tidak.” Jong Woon menghela napas dalam seraya menatap Jong Jin lekat.

“Lalu?”

“Aku ingin menjemput kalian—kalau aku bisa.” tatapan lekat mereka bertemu. Manik mutiara hitam mereka bersirobok dengan kenyataan pilu yang berada di hadapan mereka. Jung Han tahu batas, setidaknya ia hanya berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan ayah biologis Jong Jin.

“Dan bagaimana jika kau tidak bisa melakukannya?”

“Bagaimana kau tahu aku tak bisa melakukannya?” Jong Woon bertanya kembali. Wibawa pria itu tak pernah tertinggal barang sedetik pun.

Jung Han menghela napas dalam, seolah bersiap mengeluarkan batu besar dari dalam mulutnya, “Karena aku tidak mau—“ ia menahan napas sesaat, “karena aku mencintai suamiku. Dan aku tidak akan pernah meninggalkannya” lanjut Jung Han, tegas.

Jong Woon tertawa pelan seraya mengusap pipi Jong Jin.

“Aku tahu kau akan mengatakannya.” Jung Han menatap pria itu tak percaya. Apapun yang ada di pikiran Jong Woon kali ini, sepertinya ia tak lagi bisa menerkanya. Tidak, dari awal Jung Han memang tak pernah bisa tahu bagaimana cara berpikir Jong Woon.

“Maafkan aku.” Jung Han menunduk dalam.

“Aku tahu kau kecewa padaku.”

“Kau menyesal?” sergah Jung Han.

“Haruskah aku katakan itu? Dan mengakui segala kelemahanku tanpamu selama satu tahun ini?” mereka kembali menatap satu sama lain. Jung Han tahu, Jong Woon dengan segala harga dirinya tak akan mampu mengucapkan hal menjijjikkan seperti mengakui penyesalannya.

“Pernahkah kau berpikir kenapa aku lebih memilih pergi darimu?”

Jong Woon teridam sesaat, menunduk seraya menatap Jong Jin lekat dan penuh perhatian, “Itu memang kesalahanku. Kau pantas mempertahankan anak ini, bukan aku.” Dan mereka kembali terdiam. Hanya gemerisik daun-daun yang bersinggungan satu sama lain yang mengisi kekosongan rasa di antara mereka.

“Aku mencintaimu.”

“Aku tahu. Tapi kata itu tak cukup mampu untuk membuatku bahagia.” ujar Jung Han.

Jong Woon mengangguk mengerti, kemudian memberikan Jong Jin yang sudah tertidur kembali pada Jung Han, “Apa aku masih boleh menemuinya?” tanya Jong Woon, lemah. Namun penuh pengharapan.

“Tentu saja. Apapun yang terjadi di antara kita, aku tidak akan bisa menghindari kenyataan bahwa kau ayahnya.”

Jung Han mengikuti Jong Woon yang kembali berdiri. Pria tersebut menciumi seluruh wajah Jong Jin kemudian mengecup pelan pelipisnya.

“Terima kasih.”

Senyum Jong Woon tersembunyi dari balik dinding kokoh tulang belakangnya. Langkah kakinya membawa ia menjauh dari rumah besar tersebut. Membawanya semakin jauh dari mereka—yang begitu ia cintai dan sia-siakan. Satu hal yang ia sadari saat ini.

‘aku mencintaimu’

Bagi Jung Han kata itu tak bermakna apapun saat bersamanya. Tapi bisa bermakna segalanya saat gadis itu bersama pria yang benar-benar menerimanya. Dan pria itu bukan Jong Woon.

Annyeong, nae sojunghan saram.

END

27 thoughts on “[One Shot] When I was Your Man

  1. Errrrrrr ini bagus. Aku paling suka sama dialog “pertahnakan apa yg memang harus kau pertahankan”

    Tapi kenapa mesti oppaku yg polos jadi castnya. Aku ga fokus malah mikirin wajahnya. Ya alloh ibuk ini hahhaha

  2. kata-kata cinta yg sudah tidak berarti apa-apa…

    Kenapa bukan dari dulu nyatain cintanya???baru nyadar seseorang itu berharga saat orang itu sudah pergi -_-

    Jungsoo emng pantas dapetin cinta jung han..

  3. uuuu bgus bnget gk lebaii kesedihan ny pas ajaa jongwoon oppa gk tlalu dibuat kaya mau nyiksa atau apa tp emang gk perlu bnyk aksi wkwkw tp udh meyayat hatii ,,

  4. Ada undang2 untuk menghukum orang dgn cara dijambak smpe botak atau dicakar smpe wajahnya berubah mnjd seperti alien, gak sih ??

    Soal’a aku pengen hukum si Kim Jong Woon itu.
    Berani2nya dia bilang ‘Gugurkan’ setelah dia menyimpan benihnya.
    Ughh,,,paling benci sma namja yg seperti itu… *emosi saya*

  5. wuihhh kerend,,gak kbayang kl jd jung han,,harus mmilih slh 1 dr 2 hal yg sngt b’hrga,,untng ad jung soo yg tls nerima jung han ap adnya huwaaaa tp keknya lbh ccok kl bang kihyun yg mmerankn ini drpd bang encung heehee ##pisss

  6. hwaaaaa hwaaaaa nyesek bnget thor,.😥
    jong woon knpa egois ya??
    ksihan jung han,,. pasti htinya sngat” hncur ktika jong woon menyuruh utk menggugurkan janinnya,.😦
    tpii q ska akhirnya,. jong woon menyesal n jung han bahagia bersama orng yg bnar” mncintainya jung soo,.🙂

  7. Ya ampuun saeng,sukaaa bgt sm ini story.. Ini bnr” realita yg sesungguhnya,dsaat orang yg kta cintai tak mengharapkan buah cinta yg ada ,knpa harus trpaku sm it orang.. Lbh baik melihat ke arah laen,dmana cinta yg tulus bnar” ada & nyata..

  8. Baguuuusss! Ceritanya menyentuh, nyaris nangis kalo baca nya ga di kelas =D Jung Soo oppa, aku kangen dia jadinya:( keep writing Kaa!

  9. aku baru baca ff yang ini. terharu sama ketegaran Jung Han. aku merasa bimbang diposisinya untuk mempertahankan apa yang dicintainya. salut sama ceritanya. memberikan inspirasi buat aku dalam mencari teman. nangis dan kakak berhasil membawa aku hanyut dalam cerita ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s