[One Shot] Une Année

10066_715965611760423_1582966106_n

Title: Une Année
Author: Valuable94
Casts: Cho Kyuhyun (SJ)/Song Hyo In (OC)
Genre: Romance, Fluff
Rate: NC
Length: One Shot
Disclaimer: I don’t own Kyuhyun. OOC. LIME. Story and OC are MINE. Plagiat? NO EXCUSE.

Inspired song: A Pink – Step

Happy reading!

Hyo In POV

 Paris, French
February, 3rd 2014
7 am

Aku… masih bisa mendengarnya.
Langkah demi langkah. Rekaman suara benturan antara sol sepatumu dan lantai. Perlahan mendekat ke arahku. Hingga aku mulai bisa merasakan kehadiranmu di sekitarku.

Tap

Tap

Apakah itu benar kau?

Tinggi, tampan, suara besar yang dalam. Lalu apa lagi?
Harum dan seringaian tajam yang menawan. Memelukku di pagi hari, dengan sinar matahari yang hangat, harum cappucino, dan segarnya muffin jeruk yang baru kubuat.

Oh, kenapa aku selalu memikirkanmu?
10 kali atau… kurasa 100 kali aku memikirkanmu dalam sehari, kau tahu itu?
Oh, tidak. Kalau kau sampai tahu hal itu, mungkin aku akan mati di hadapanmu, menahan malu karena godaanmu yang tak bisa berhenti.

Tahukah kau? Aku masih suka menutup mataku. Seperti katamu, memintaku untuk selalu merasakan hangat genggaman tanganmu dan membisikkan kalimat ‘kau takkan meninggalkanku’.

Mata itu, sempurna.
Menatapku dengan tajam sekaligus lembut. Membuatku merasakan hangat dan tekanan di saat yang bersamaan. Bisakah kau hentikan itu, Tuan pencuri hatiku?

***

Aku membuka mata cepat. Membiarkan lamunanku terbang memenuhi setiap sudut dapur. Melepaskan apron yang sedari tadi melindungi baju bagian depanku dari adonan muffin yang kuaduk terlalu lama. Aish, mengganggu saja.

Tanpa melihat intercom terlebih dahulu, aku bergegas menekan kenop pintu, menariknya dengan tenaga sedang namun hasilnya begitu luar biasa. Di depanku, setelah pintu terbuka, aku melihatnya… yah, pemuda yang baru saja menari-nari dalam pikiranku, sekarang dia ada di depanku.

“K Kyuhyun Oppa.” ujarku, tergagap.

Dan detik berikutnya, pria di depanku itu membuatku sulit bernapas, sulit mengedipkan mata, dan sulit menggerekkan badanku. Dia mendekapku terlalu erat.

Bogosipeosojeongmal (aku merindukan… sangat).”

Aku mengangguk cepat, tahu maksud dari perkataannya tapi terlalu cepat untukku mencerna keadaan ini. Jadi, kubiarkan pria ini menangkup wajahku kemudian menatapnya tak percaya karena berani-beraninya dia mengecupi seluruh wajahku. Ya Tuhan, aku tidak mau mati muda hanya karena tertegun. Itu tidak elit sekali.

“Bau kopi.”

Mwo!” seruku, tak percaya.

Kulepaskan kedua tangannya dari wajahku. Membuat tatapan heran kami bertemu. Saling mengamati dari ujung kaki hingga kepala. Ya Tuhan, dia benar-benar pria yang ada dalam bayanganku tadi. Kutepuk kedua pipiku pelan, mengucek mataku, berharap ini hanya mimpi di pagi hariku yang sedikit mengejutku. Oh, ok. Sebenarnya sangat mengejutkan.

Ya! Apa yang kau lakukan?”

Aku menatapnya lagi. Mataku masih terasa berat untuk berkedip. Dan ketika iris hitam itu berhadapan lagi denganku yang mulai sadar sepenuhnya, aku merasa… jantungku berdetak seperti aku baru saja berlari mengelilingi menara Eiffel 100 kali.

“Hyo-ya, annyeong!”

Kekagetanku bertambah. Kali ini bukan hanya wajah tampan pria itu yang membuatku terhenyak tak percaya.

A appa.” lirihku seraya menatap bergantian dua pria yang berada di depanku. Yang satu tampan, tapi yang kedua sangat tampan.

“B bagaiman bi bisa ka…”

Aigoo, kau tidak mau mempersilahkan kami masuk, nona Song Hyo In?”

Sialan. Pria itu memanfaatkan kebingunganku untuk mendaratkan bibir penuhnya di atas bibirku. Singkat, tapi membuat jantungku semakin bertalu keras. Hingga detik berikutnya kesadaranku terkumpul kembali saat Appa memelukku sementara pria itu berlalu meninggalkanku. Dasar mesum.

Appa merindukanmu.” kubalas pelukan hangat Appa. Meski aku masih cukup terkejut, setidaknya tidak separah beberapa menit yang lalu.

Beberapa saat kemudian, Appa melepaskan pelukan kami, memegang kedua bahuku lembut kemudian mengecup puncak kepalaku.

“Bagaimana keadaanmu?”

“Aku baik. Bagaimana dengan Appa?” beliau mengangguk seraya tersenyum padaku.

“Duduk dulu, Appa.” instruksiku.

Aku mendengus pelan seraya memanggang adonan muffin yang baru saja kumasukkan ke dalam beberapa loyang kecil. Melihat pria muda tersebut yang masih sibuk mengelilingi ruang dapur di apartmen-ku dengan pandangan menilai seolah dia seorang penilai yang baik. Tsk, pria itu benar-benar keren dan memuakkan di saat bersamaan.

“Duduk saja, Oppa. Dan nikmati kopimu. Kurasa cat di dinding rumahku akan mengelupas karena kau pandangin terus.” ujarku, santai.

Kyuhyun mendesis tak suka. Ia berhenti memandangi rumahku kemudian berjalan mendekat ke meja makan, duduk di samping Appa yang masih sibuk dengan koran dan kopinya.

“Jam berapa kau berangkat kerja?”

Aku menoleh ke arahnya sesaat, kemudian kembali fokus pada oven, menunggu muffin-ku matang. “Aku ada jadwal mengajar jam 8.50 sampai jam 6 sore. Wae (kenapa)?”

Ani. Apa kau tidak berniat mengambil cuti beberapa hari selama kami di sini?” aku mendelik ke arahnya yang tengah tersenyum padaku.

Shireo (tidak mau)! Salah kalian sendiri, kenapa datang kemari mendadak sekali. Bahkan terkesan tidak ada pemberitahuan,” gerutuku, kesal. Kubuka oven yang baru saja berbunyi kemudian mengeluarkan adonan muffin-ku.

“Cho seobang* benar, harusnya kau meluangkan waktumu selama kami ada di sini,”

“Akan kuurus nanti.” putusku. Kemudian membawa beberapa buah muffin yang baru saja selesai kuhias dengan potongan-potongan jeruk segar.

Aku duduk di samping Kyuhyun yang tengah menatapku dari balik cangkir kopinya kemudian mengambil muffin dari piring. Ish, apa mereka pikir yayasan di sini milikku, huh? Seenaknya saja mengambil cuti.

“Enak?” tanyaku saat Kyuhyun mulai mengunyah muffin-nya. Ia diam. Antara berpikir dan menikmati.

“Whoaa! Ini muffin terlezat yang pernah kumakan. Cha, Mokgo (ayo, makan)!” dengan wajah merona dan hati berdebar aku menerima suapannya. Mengecap rasa manis sekaligus asam dari jeruk segarnya. Oh, kau benar-benar calon isteri yang baik Hyo In-ssi.

Abeonim kau harus mencobanya juga,” dengan senang hati Appa meninggalkan korannya. Menerima satu muffin hangat dari Kyuhyun yang baru saja diambil dari piring kemudian memakannya pelan.

Mashinde (enak)?” tanyaku, penasaran. Tak sabar mendengar pujian dari Appa.

Eoh, masiseoyeo (enak)!” serunya semangat. Benarkan, Appa selalu tahu bagaimana caranya membuatku senang.

Kulihat sekilas jam di dinding rumah kemudian beranjak dari meja makan, meninggalkan Appa dan Kyuhyun yang masih sibuk dengan muffin dan kopi mereka.

Satu jam kemudian, aku selesai dengan seluruh persiapanku menuju tempat kerja. Keluar dari kamar dan melihat Kyuhyun masih bersantai di depan TV sendirian.

Appa eodiga?”

“Keluar sebentar, katanya ada sedikit urusan…” Kyuhyun memperhatikanku seksama, “kau mau berangkat kerja?” aku mengangguk. Sejurus kemudian, Kyuhyun berdiri cepat setelah mematikan TV-nya lalu menggandeng tanganku, menggiringku keluar dari apartment.

“Kau mau mengantarku?” tanyaku sangsi.

“Tentu saja, sayangku.” jawabnya mantap dengan seringaian yang… harus kubilang berapa kali kalau pria ini tampan sekali. Ia terbahak saat aku menampik kasar tangannya yang hendak menyentil daguku, menggoda.

Di dalam lift, Kyuhyun dengan senang hati memelukku dari belakang saat penggunanya begitu padat. Alasannya untuk meminimalisir resiko aku terjatuh karena berdesak-desakkan dengan banyak orang. Kuakui aku begitu senang merasakan pelukannya, hangat dan menenangkan, meskipun keadaan di dalam lift begitu panas dan sesak tapi aku merasa di sini begitu sejuk. Di dalam pelukannya.

Setelah berperang selama beberapa jam akhirnya kami sampai di tempat kerjaku. Dan kemacetan mungkin salah satu kendala saat hari senin seperti ini.

“Tidak usah menjemputku, aku akan pulang sendiri,” ujarku cepat sebelum ia melontarkan tawarannya. Raut wajahnya berubah seketika, terdiam seraya menghela napas. Sepertinya dia kecewa.

“Aku hanya takut kau tersesat saat menjemputku. Lagipula tidak ada navigator sebaik diriku, bukan?”

Ya!” aku memekik pelan saat Kyuhyun menarik poniku hingga dahiku terantuk dadanya. Dia memelukku lagi, mengusap punggungku yang tertutupi blazer cream pelan kemudian mengecup puncak kepalaku.

“Jaga dirimu.” aku mengangguk patuh saat Kyuhyun menepuk-nepuk pelan puncak kepalaku. Sebelum turun dari mobil, kusempatkan untuk menulis beberapa digit angka password apartmen-ku kemudian menyapa bibir penuhnya beberapa saat. Membuatnya terkesiap dan kemudian meninggalkannya begitu saja.

Aku juga bisa menggodanya, kan?

 

6.30 pm

Kupandangi meja makanku yang penuh dengan masakan Korea. Kyuhyun dan Appa nampak terlalu bersemangat menata makanan tersebut hingga tak menyadari kepulanganku.

Aku berjalan pelan ke arah mereka dan saat melihatku menaruh tas di atas kursi, mereka baru sadar jika aku baru saja pulang.

Eoh, wasseo (sudah datang).” seru Kyuhyun kemudian mendekat ke arahku. Mengarahkan ciumannya di dahiku kemudian menuntunku untuk duduk diam menikmati hidangan yang tersaji di sana, dan memandanginya heran.

“Kami baru saja memesan masakan Korea dari restoran,”

“Ada apa ini?” tanyaku, heran. Kalau dipikir-pikir, seharusnya sebagai tuan rumah akulah yang menyiapkan semua ini, bukannya tamu.

“Kau melupakan hari special-ku?” tanya Kyuhyun dengan nada mencibir. Aku menatapnya seksama yang nampak tak percaya mengetahui kenyataan jika aku memang melupakan sesuatu.

Ya Tuhan. Tanggal berapa sekarang? Apa aku benar-benar melupakan sesuatu tentang tunanganku tersayang yang sangat manja ini?

“Ck, untung aku segera kemari. Tahun kemarin kau hanya mengirimkan ucapan selamat saja padaku, dan sekarang kau malah melupakannya.” Kyuhyun terus menggerutu seraya memasukkan nasi ke dalam mangkoknya. Aku masih terdiam. Sebenarnya aku terlalu takut untuk membantah kenyataan. Itu memang yang terjadi sebenarnya. Aigoo, apa yang harus kulakukan?

“Sudah, sudah. Jangan bertengkar di hari bahagia seperti ini,” ayah duduk menyusul kami setelah sebelumnya meletakkkan satu buah black forest dengan hiasan lilin berbentuk angka 27 di atasnya.  Huft, setua itukah calon suamiku?

Kyuhyun menutup mata sejenak kemudian mulai meniup lilin-lilin tersebut hingga padam semua. Appa memeluk Kyuhyun setelah mengucapkan ‘selamat ulang tahun’ padanya. Aku… entah mengapa lidahku terasa kelu, menatap senyum bahagianya jantungku berdebar begitu cepat. Aku bahagia dan kecewa di saat bersamaan. Bahagia karena cintaku berbahagia, kecewa karena aku tak mengingat hari bahagianya. Aku tidak dosa, kan?

“Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan. Mungkin kau terlalu lelah,” ucapannya membuatku semakin sulit untuk menelan suapan black forest darinya. Sejurus kemudian Kyuhyun mengecup bibirku singkat setelah menyuapiku.

“Kapan rencana kalian akan menikah? Appa sudah menunggu terlalu lama,” kuteguk saliva dengan susah payah. Appa berhasil membuat aku dan Kyuhyun terdiam dan hanya saling berpandangan. Menikah? Sepertinya itu masih lama.

“Secepatnya,” jawab Kyuhyun singkat kemudian dengan semangat melahap sup rumput lautnya lagi. Aku hanya mengangguk, mengiyakan pernyataan Kyuhyun. Tsk, kenapa tidak bertanya padaku dulu. Dasar.

“Cepatlah menikah, setidaknya sebelum Hyo In hamil,” kami tersedak, tentu saja.

Ya! Appa! Kenapa bicara seperti itu, kami bahkan jarang bertemu, mana mungkin Kyuhyun ada waktu untuk menghamiliku,” protesku.

Appa malah tertawa keras sementara Kyuhyun masih asyik membersihkan sisa sup di sekitar daguku. Kegiatannya terhenti saat aku mengatakan kalimat tersebut. Ia menatapku tak percaya, wajahnya juga memerah. Aku yakin bukan karena soju. Mungkin sama sepertiku. Malu.

Appa memegangi perutnya karena terlalu lama tertawa. Kyuhyun hanya tertawa janggal melihat Appa yang terus saja menertawakan kami. Tidak lama kemudian tawa Appa memelan. Napasnya terengah setelahnya, kemudian beliau mulai meminum secawan soju yang baru dituangkan Kyuhyun.

“Cho seobang, aku benar-benar bangga padamu.” Gumam Appa.

Setelah cegukannya mulai reda, beliau mulai menghela napas lagi, terdiam seraya menunduk “Hm, kau benar. Terkadang aku juga merasa bersyukur karena kalian terpisah jauh seperti ini. Setidaknya itu mengurangi resiko kau hamil sebelum hari pemberkatan.” Appa tertawa lagi, kali ini lebih untuk dirinya sendiri. Aku dan Kyuhyun saling berpandangan tak percaya. “Ayahmu mabuk.” bisik Kyuhyun padaku. Aku mengangguk. Terlihat sekali dari hidung dan pipi Appa yang memerah.

“Tapi Appa tidak bisa menunggu terlalu lama lagi.” beliau menghela napas panjang setelahnya. Kemudian kami melanjutkan makan dalam diam dan kecanggungan.

Sejujurnya, akulah yang lebih sering diam, karena kenyataannya Kyuhyun masih semangat menanggapi perkataan Appa, membicarakan pernikahan kami. mungkin mereka sudah sama-sam mabuk sekarang.

Aku hanya mengangguk beberapa kali, itupun saat mereka meminta pendapatku. Sesekali Kyuhyun mengusap punggung tanganku yang berada di atas meja, seolah memberitahuku jika pembicaraan mereka hanya basa-basi saja. Tapi ini pernikahan, bukan sesuatu yang bisa ditanggapi dengan bercanda, bukan.

Mendadak hatiku terasa begitu berebar. Aku takut.

Setelah selesai membereskan meja makan, aku mengajak Kyuhyun keluar apartmen. Sekedar menikmati ramainya malam di kota Paris dan menghilangkan penat setelah bekerja seharian.

Kami duduk di salah satu bangku taman, terdiam di depan menara yang sering dijadikan lambang cinta. Menara Eiffel yang begitu terang dengan segala kegagahan bangunannya.

“Chagi-ya,”

“Hm,” Kyuhyun mendengus mendengar jawabanku. Aku tertawa melihatnya yang malah memelukku dari samping, menyandarkan dagunya di atas bahu kiriku, kemudian membuatku memekik geli karena kecupan singkatnya di leherku.

Oppa, di sini banyak orang,”

“Mereka bahkan lebih parah daripada kita.” Mataku mengikuti arah telunjuk Kyuhyun yang menunjuk ke arah beberapa pasangan di sekitar kami. Asyik berciuman panas seolah mereka ada di dalam kamar, bukan di tempat umum.

Kyuhyun malah semakin mengeratkan pelukannya saat cubitanku mengenai hidung mancungnya. “Kita bukan orang Eropa,” sanggahku.

“Kenapa?” protesnya seraya menatapku manja.

“Aku malu, Oppa. Dasar tidak sensitif,” Kyuhyun terbahak. Namun pelukannya tak pernah lepas dariku.

Saengil chukaeyo,” tawa Kyuhyun terhenti seketika. Saat kecupanku mendarat di pipi kanannya, dia menatapku tak percaya, tanpa berkedip. Dan demi Yesung Super Junior yang sangat imut. Pria ini begitu menggemaskan dengan pipinya yang memerah.

Beberapa saat kemudian Kyuhyun berdeham, seperti melepaskan kegugupannya lalu mulai melepaskan pelukannya. Tak lagi menatapku dan menyibukkan matanya melihat beberapa orang yang berlalu lalang di depan kami. Ck, dasar laki-laki.

“Sudah malam, ayo kita pulang,”  titahnya seraya menggenggam pergelangan tanganku. Ada kesenangan tersendiri saat aku berhasil membuat pria ini salah tingkah.

Kami berjalan sejajar di jalanan besar tepat di depan menara. jalanan yang di apit dengan deretan pepohonan tinggi dengan beberapa gundukkan es yang mulai mencair di setiap dahan dan rantingnya. Bersama para pengunjung lain, menikmati akhir musim dingin yang mulai menghangat.

Kubiarkan tanganku melingkari lengan kirinya. Kyuhyun memindahkan telapak tangannya yang semula berada di dalam saku celananya berpindah di depan perutnya. Aku semakin tergelak karena Kyuhyun menegakkan tubuhnya, menunjukkan wibawa seorang laki-laki, dan menatap lurus ke depan.

“1, 2, 3,…” ujarnya sembari mengiringi setiap langkah kami.

Dan detik berikutnya terdengar lantunan instrument yang biasa kudengar di upacara pernikahan. Tapi kali ini Kyuhyun mendendangkannya menggunakan suaranya sendiri. Aku tergelak melihat tingkah konyolnya. Pria ini pendiam tapi terkadang bisa jadi sangat lucu.

“Perhatikan jalanmu, nona Song Hyo In, kau bisa tersandung tangga,” aku hanya menggeleng.

Aku masih bertahan menatap parasnya dalam balutan senyum menawan. Senyum yang begitu kusukai. Sejak bertemu dengannya 3 tahun yang lalu hingga detik ini. Seberapa sering pun aku melihatnya, aku akan selalu merindukan senyum pria ini.

Lalu membayangkan bagaimana pria ini akan menggandeng tanganku seperti yang kami lakukan sekarang, membawaku ke depan pendeta, mengucapkan janji sehidup semati. Menjadikan setiap langkah kami sebuah ketukan untuk setiap nada pernikahan kami.

Pemandangan ini terlalu indah untuk dilewatkan, sekalipun dengan menara Eiffel. Aku ingin malam ini tak berlalu begitu saja. Meski bukan malam ulang tahunnya, rasanya akan tetap saja sama. Setiap detik, menit, jam, bahkan hari akan berlalu sangat cepat jika aku bersama Kyuhyun.

“Akh!” aku memekik keras saat Kyuhyun menggendongku. Dadanya menjadi sasaran empuk pukulanku yang tubi-tubi.

Ya! Ya! Geumahaeyo (hentikan)!” protesnya. Masih dengan posisi membopongku.

Oppa, turunkan aku!” Kyuhyun menggeleng cepat. Pelan, tapi aku masih bisa merasakannya. Pria ini membawaku menaiki tiga anak tangga di depan kami kemudian menurunkanku perlahan setelah kami sampai di undakan terakhir.

 

February, 4th 2014
01.00 am

Kami sampai di apartmen-ku sekitar 10 menit pejalanan. Aku sedikit terkesiap saat melihat Kyuhyun sudah duduk di atas ranjang-ku, memperhatikan selembar kertas putih dengan kacamata persegi panjangnya. Pria itu sudah melepas hem kotak berwarna cokelat yang sedari tadi melapisi kaos Vneck putih polosnya. Serta celana jeans panjang tadi, kini sudah berganti dengan celana piyama berwarna cream.

“Apa yang kau lakukan di kamarku?” tanyaku heran seraya melempar handuk kecil ke atas kursi belajar.

“Aku lelah, mau tidur.” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas yang ia pegang sejak tadi.

“Kenapa tidur di sini?”

“Kau hanya punya dua kamar, bukan? Kamar sebelah sudah dikunci Abeonim, lalu aku harus tidur dimana? Hanya kamar ini yang tersisa. Lagipula aku tidak mau tidur di sofa, aku ‘kan tamu,” kata Kyuhyun panjang lebar. Sekali lagi tanpa menolehku.

Sejurus kemudian Kyuhyun melepas kacamata-nya, meletakkan benda persegi panjang tersebut di smaping lampu tidur, menghela napas pelan kemudian menatapku yang masih berdiri di sampingnya dengan pandangan menantang.

“Kemarilah! Tidak perlu secanggung itu dengan calon suami sendiri,” Kyuhyun membuka tangan sebelah kanannya, menginstruksiku untuk bersandar di sana. Sebenarnya itu bukan instruksi, tapi lebih pada ancaman secara diam-diam. Seperti gerakan underground, mungkin.

Akhirnya kuputuskan untuk menurutinya karena tidak tahan melihat smirk itu. Haish, aku tidak suka melihatnya. Smirk itu berkali-kali lebih mengerikan daripada amukan Appa.

Aku bersandar pada lengan kanannya yang terbuka, mengikuti arah pandangannya yang menelisik kertas yang masih ia pegang.

“Kau mendesain undangan ini?” aku mengangguk.

“Bagus. Sejak kapan kau membuatnya?”

“Sebulan yang lalu,” Kyuhyun manggut-manggut paham.

“Bagaimana kalau digunakan untuk pernikahan kita nanti?”

“Boleh,” jawabku ringan kemudian Kyuhyun meletakkan kertas tersebut.

Eoh, Oppa. Kau mau kado apa dariku?” Kyuhyun menoleh ke arahku cepat kemudian menatapku seksama.

“Katakan saja, aku pasti akan memberikannya untukmu,” ia nampak berpikir seraya memiringkan tubuhnya menghadapku. Memelukku hangat dari samping.

“Apa kau bisa mengabulkannya sekarang juga?” tanyanya.

“Kurasa iya, asal jangan yang aneh-aneh,”

“Hum, apa ya? Kira-kira sesuatu yang belum pernah kau berikan padaku,” aku ikut berpikir.

Sesuatu yang belum pernah kuberikan padanya. Apa? Tapi aku sudah memberikan semua yang kumiliki untuknya. Termasuk hal yang hanya diketahui orang dewasa.

Kutolehkan pandanganku ke setiap penjuru kamar. Hanya ada buku, beberapa fotoku dengan Kyuhyun dan Appa, lampu tidur, lemari baju, kursi, sofa, meja, bunga anggrek di dekat kusen jendela. Kurasa tidak ada yang berharga.

Aku bangkit sebentar, memaksa Kyuhyun untuk melepaskan pelukannya kemudian berbalik. Meneliti beberapa boneka yang baru saja tertindih punggungku. Beruang, Babi, Lumba-Lumba, Naruto, Sasuke, Doraemon, dan yang terakhir Penguin.

Penguin? Sepertinya tidak terlalu buruk.

Dahi Kyuhyun mengernyit sempurna saat aku memberikannya boneka Penguin yang mengenakan dasi kupu-kupu berwarna merah dengan ukuran 30 cm padanya.

“Penguin? Jadi ini hadiah darimu untukku?” aku mengangguk.

“Anggap saja itu tanda cintaku untukmu,” ujarku semangat.

“Tapi ini hanya boneka… bekas,” ucapnya penuh penekanan di akhir kaliamt. Mungkin sedikit tak terima dengan hadiahnya.

“Aish, jangan dilihat barangnya, tapi lihat filosofinya,” bantahku.

“Apa?” tanya Kyuhyun seraya mendelik ke arahku.

“Penguin itu adalah burung yang sangat setia pada pasangannya. Bukan hanya saat pendekatan saja, jantan Penguin juga akan menjaga betinanya sampai melahirkan anak-anak mereka. Dan anak-anak penguin itu akan tetap menjadi tanggung jawab pejantan. Bagaimana? Romantis sekali, kan?” bibirku mengerucut sempurna saat Kyuhyun hanya mendengus menanggapi penjelasanku. Kupikir matanya akan berbinar seperti seekor puppy. Harusnya dia bangga karena aku memberinya boneka Penguin, bukan kambing.

“Kemari kau!” Kyuhyun menarikku lagi ke dalam pelukannya, membawa tubuhku berbaring bersamanya kemudian menyelipkan boneka Penguin itu di antara tubuh kami yang berhadapan.

“Kau lihat ini?” Kyuhyun mengangkat telapak tangan kiriku.

“Kenapa?”

“Kau lihat cincin ini?” Kyuhyun menunjuk cincin tunangan kami di jari manisku.

“Tentu saja, aku tidak buta.”

Kyuhyun berdecak kesal, “Apa kau tidak bosan melihat ini?” mataku membelalak karenanya. Kenapa? Cincin ini sangat berharga untukku. Apa Kyuhyun mau memutuskan pertunangan kami hanya karena aku memberinya boneka Penguin… bekas.

Mendadak dadaku terasa sakit dan mataku terasa panas saat Kyuhyun mengatakan bosan pada cincin pertunangan kami, “K kenapa memangnya?” tanyaku tergagap karena isakan yang hampir keluar. Membuat tenggorokanku nyeri karena menahannya.

Perlahan, tapi mampu membuatku terlonjak karena perbuatannya. Mata Kyuhyun tertutup saat ia tengah mengecupi ujung-ujung jariku. Detik berikutnya mata elang itu kembali terbuka kemudian menatapku tajam.

“Sudah satu tahun, kau ingat?” lirihnya. Aku hanya terdiam saat mata tajam itu menatapku seksama. Menelusuri setiap lekukan di sana dengan manik hitamnya.

“Aku tidak butuh burung bersayap tapi tak bisa terbang seperti itu, yang kubutuhkan hanya dirimu…” aku terkesiap lagi saat Kyuhyun melepaskan cincinku kemudian meletakkannya di jari manis tangan kananku. “kita pulang dan menikah secepatnya.”

Kulepaskan genggaman tangannya perlahan kemudian menunduk dalam. Takut melihat raut kecewanya setelah mendengarkan apa yang akan kukatakan.

“A aku tidak bisa,”

Kyuhyun mengangkat daguku. Memaksa wajah kami bertemu lagi kemudian menatapku dengan pandangan yang sulit dideskripsikan. Antara marah dan tak percaya, mungkin. Aku hanya menerka saja.

“Aku tidak bisa… meninggalkan pekerjaanku di sini. Setidaknya tunggu sampai kontrak kerjaku selesai tahun depan, lalu kita menikah.” Kyuhyun menggeleng pelan. Sekeras apapun usahaku untuk meyakinkannya, pria ini tidak akan mau menyetujuinya. Dasar keras kepala.

“Aku tidak bisa menunggu lagi,”

“Tapi sebelum bertunangan kau bilang padaku mau menunggu sampai kontrak mengajarku di Paris selesai,” bantahku.

“Tapi aku tidak mengatakan mau menunggumu lebih dari satu tahun. Jadi selesai tidak selesai kau harus ikut denganku pulang ke Seoul.”

Dasar muka dua. Bagaimana bisa wajah menyedihkannya tiba-tiba berganti dengan seringaian mengerikan itu? Ternyata lelaki pendiam jauh lebih berbahaya daripada singa betina yang kehilangan anaknya.

“Aku tidak bisa meninggalkan murid-muridku,”

“Masih ada guru-guru yang lain,”

“Tapi aku mulai suka mengajar anak-anak berkebutuhan khusus seperti mereka, ini panggilan hati,” bantahku sekali lagi, namun jawabannya tetap gelengan kepala dari Kyuhyun.

“Di Korea juga banyak SLB, kau masih bisa mengajar di sana sambil mengurus rumah. Kalau kau merasa kewalahan aku masih bisa menyewa seorang asisten rumah tangga,”

Berpikir. Ayo berpikir, Song Hyo In! Cari alasan yang lain lagi.

“Tapi dendanya akan sangat besar kalau aku keluar sebelum masa kontrakku habis,”

“Aw!” aku memekik keras karena Kyuhyun mencubit kedua pipiku lama. Sampai pipiku terasa panas dan berdenyut nyeri. Setelah aku berteriak kesakitan Kyuhyun mulai melepasnya, mengusapnya pelan kemudian mengecup keduanya. Membuat denyutan di kedua pipiku berganti menyerang jantungku. Apa ada dokter yang bisa membuat obat sehebat ini?

Ibayo (lihat aku)!” kami saling berpandangan lagi kemudian Kyuhyun mulai mengeratkan pelukan kami. Membuang boneka penguin-ku yang malang, menghapus satu-satunya jarak yang memisahan tubuh bagian depan kami.

Kuteguk salivaku yang mengeras di tengah tenggorokan. Mencoba menormalkan setiap aliran darah di tubuh, berusaha menahan bengkakan pembuluh darah di kedua pipiku namun jantungku tetap tak bisa berbohong. Dia berdetak semakin cepat karena kinerja otakku yang semakin tak karuan. Seperti hilang kendali saat dahi kami bertemu, membuatku mau tak mau memejamkan mata karena hangat hembusan napasnya di wajahku.

Chu.

Aku diam, saat bibirnya menyapa bibirku singkat dan lembut. Membuat sesuatu di bawah sana berdenyut keras.

“Kau mencintaiku?” sudah bisa dipastikan aku langsung mengangguk.

“Aku merindukanmu,” bisikannya membuat mataku terpejam semakin dalam. Setiap gerakan dan ucapannya seperti hipnotis bagi tubuhku untuk mengikuti setiap perlakuannya terhadapku.

Kyuhyun mengeratkan pelukannya padaku. Membelai punggungku yang masih terlindungi tank top abu-abu, kaki kirinya mengunci kedua kakiku, dan bibirnya menyapa bibirku dengan begitu manis. Mengajakku bermain di sana kemudian merengkuh kembali madu yang setahun ini tak lagi kami rasakan. Bukan yang pertama kali memang, tapi rasanya tetap mendebarkan. Membawa kami ke dalam mimpi yang sama. Melangkah bersama, mendaki setiap puncak yang begitu indah. Aku… tidak ingin berpisah darinya.

 

7 am

Aku mengernyit saat melihat Appa dengan dua kantung hitam di bawah matanya duduk termenung di meja makan. Memangku dagu seraya melihat ke arahku yang masih menata sandwitch untuk sarapan.

“Kau baru saja mencuci rambutmu?” tanya Appa dengan nada curiga.

“Iya. Memangnya kenapa?” jawabku santai.

Eoh, aniyeo. Amudeo ani tidak. Tidak ada apa-apa).” Aku mengernyit heran saat Appa dengan cepat kembali fokus pada kopi di depannya.

Annyeong!”

Annyeong!” sahutku seraya menoleh sekilas ke arah Kyuhyun yang baru saja selesai mandi.

Aku masih memperhatikan sekilas yang memandangi Kyuhyun saat ia tengah menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil.

Setelah selesai dengan sandwitch-ku, kubawa dua piring sandwitch yang baru saja kupotong. Kyuhyun langsung mengambilkan satu potong dan meletakkannya di atas piring Appa. Biasanya melihat kelakuan Kyuhyun seperti itu Appa akan langsung memujinya. “Cho seobang, aku benar-benar bangga padamu.” Begitu kata Appa.

Tapi sekarang Appa begitu berbeda. Beliau langsung melahapnya tanpa mengatakan apapun. Kurasa jurus ‘pendekatan calon mertua’nya harus gagal kali ini.

Appa sakit?” Appa hanya menggeleng pelan kemudian menggigit sandwitch-nya lagi.

“Sepertinya Abeonim kurang sehat,” aku dan Kyuhyun sama-sama memandang Appa khawatir. Biasanya beliau begitu bersemangat saat pagi hari.

Aniyeo (tidak). Appa hanya kurang tidur saja semalam,” tutur Appa. Kemudian menyeruput kopinya lagi.

Wae (kenapa)?” tanyaku, penasaran. Setauku Appa tidak punya riwayat Insomnia.

“Haaah, semalam ada suara-suara aneh dari kamar sebelah. Aish, sangat gaduh sekali, sampai-sampai Appa tidak bisa tidur karena mendengarnya.”

O, ow! Mungkin lebih baik Kyuhyun dan aku diam untuk saat ini.

Kami memutuskan untuk tak membahasnya lagi dan meneruskan sarapan meski dengan keadaan canggung.

Beberapa menit kemudian suara bel apartmen-ku berbunyi. Aku beranjak dari meja makan. Menuju intercom yang menunjukkan gambar seorang porter membawa beberapa berkas tengah berdiri di depan pintu menunggu seseorang membukakan pintu.

Kubuka pintu pelan kemudian menemui porter tersebut. Setelah berbincang dan menandatangani surat pernyataan penerimaan barang. Aku berangsur menutup pintu kemudian duduk di sofa ruang tamu, membuka amplop tersebut dan membaca isinya. Surat dari kepala yayasan tempatku bekerja yang isinya sukses membuatku… sangat terkejut.

“CHO KYUHYUN!!!”

***

“Sudahlah, jangan menagis lagi.”

Kyuhyun terus saja memaksa mengelap airmataku dengan handuk yang baru saja ia pakai untuk mengeringkan rambutnya meski aku menolak berkali-kali.

“Pergi kau Cho seobang menyebalkan,” Appa masih memelukku di sofa ruang tamu sementara Kyuhyun berlutut di depanku. Aku tak bisa menyembunyikan airmataku saat tahu jika kepala yayasan menerima surat pengunduran diriku sekaligus pernyataan kesanggupanku membayar denda atas keluarnya aku sebagai salah satu staff pengajar sebelum masa kontrakku habis.

Aku tidak pernah melakukannya. Aku mencintai pekerjaanku. Sangat.

“Kau lihat, Appa? Cho seobang kebanggaanmu itu sudah membuat puterimu menjadi pengangguran di negeri orang,” aku mengadu lagi. Biarkan saja, dasar Cho Kyuhyun menyebalkan.

“Tunggu di sini sebentar!” tak lagi kuhiraukan titahnya. Aku terus terisak di dalam pelukan Appa. Kalau sudah begini aku harus bagaimana. Apa dia pikir mencari pekerjaan itu mudah.

Beberapa saat kemudian Kyuhyun kembali ke ruang tamu. Memberiku sebuah amplop dengan warna putih. Aku bangkit dari pelukan Appa kemudian mengusap airmata di wajahku dengan punggung tanganku. Mengambil amplop itu cepat seraya mendelik ke arah Kyuhyun lalu membuka amplop tersebut cepat. Haish, aku benar-benar ingin membunuh pria yang merenggut pekerjaanku ini.

Kutatap amplop dan Kyuhyun bergantian. Pria yang merenggut pekerjaanku itu tersenyum lembut di depanku. Pria ini membuatku jantungan berkali-kali dalam satu hari ini saja. Appa menepuk pundakku pelan kemudian meninggalkan kami berdua di ruang tamu.

Mungkin karena lelah bersimpuh di lantai ubin, Kyuhyun akhirnya memilih bersila di depanku kemudian menggenggam kedua tanganku yang masih memegang amplop.

“Aku takkan membiarkan apa yang disenangi gadis-ku hilang dari hidupnya. Aish, aku tidak setega itu. Sebelum mengirim surat pengunduran dirimu ke pusat yayasan di Perancis, aku sudah mendaftarkanmu di salah satu SLB dekat rumahku. Kau bisa mengajar di sana,”

Airmataku meleleh lagi. Bukan karena Kyuhyun mengecup tanganku tapi karena aku merasa tak mampu memberikan sesuatu yang berharga untuknya. Dia memberiku kebahagiaan tapi aku…

“Aku kemari karena ingin mengambil milikku. Milikku yang sangat berharga. Hadiahku untuk tahun ini hingga seribu tahun lagi.”

Kyuhyun bangkit. Duduk di sebelah kananku kemudian merengkuh tubuhku dalam lingkupan tangan besarnya yang hangat. “Jadilah hadiah terindahku.” lirihnya seraya mengeratkan pelukan kami.

I do.”

Aku membalas pelukannya erat. Takkan kubiarkan dia pergi dariku. Takkan pernah. Aku tidak tahu jika Kyuhyun hanya menginginkanku. Dan aku hanya menginginkanmu.

Cho Kyuhyun.

Saengil chukaeyo.

Saranghamnida, Kyuhyun Oppa.

 

END

KET:

Seobang* : menantu

A/N: Dasar gak bakat bikih Fluff tapi tetep maksa jadinya ya kayak begini ini. Semoga gak gaje ya ceritanya dan kalia bisa masuk ke dalam imajinasi saya yang malah terkesan seperti obsesi. Hahaha

Ini hadiah khusus buat ultah papa-nya anak-anak (red: Kyuhyun).😀

Comment is needed

43 thoughts on “[One Shot] Une Année

  1. Aishhhh…..di semua tempat si hyo in selalu keras kepalanya dipake….appanya jadi 9enguping yang baik…hahahaaaa

  2. woooaa keren toor, kyu sweet bgt masa.. pantesan hyo in smpe meleleh gtu hahah. torr buat sequel nya dongg… keren niih.. kyu saengil chukkaaeeee

  3. kyuhyun yaampun… aku jadi ikut seneng deh. dia tu memikirkan segalanya buat ke depan. nggak cuma pengen hyoin keluar dr kerjaannya gitu aja, tp nyari gantinya. omo omo itu ayah hyoin pasti shock bget xD awalnya dia pasti cuma menggoda, ternyata malah kejadian. suka suka suka.
    buat kyuhyun, happy birthday lover

  4. papa-nya anak anak ??? -_,-
    Gila ini yg berdua. kamar sebelahan sama appa ya hyoin tidur tp masih nekat main gituan.
    kasihan appanya jd harus naha sesuatu wkwk…
    ampun kan anak dan menantu mu appa hahaha…

  5. Bagus kog eonnie,🙂
    Gk nyangka si evil bsa jd angel.. Hihi😀
    Nmu typo dikit di atas, tp gk masalah
    gk ada sequel khh?? Penasaran ama lnjutannya (nikah) ama kmana perginya hyo in eomma kog cuma nyritain appa nya aja..

  6. ngakak guling-guling ngebayangin ekspresi appanya hyo in waktu bangun tidur!!!

    Ini manis banget, aku kira kyuhyun mau kado yang aneh-aneh ahhh ternyata ><
    Fighting untuk karya selanjutnya..

  7. y ampunn…. sumpah so sweet bgt kyu na…..
    bner2 bkin aqu bca na smbil nngis, snyum, dan deg2an…..
    bhagia bgt klo punya calon suami yg kyak bgithu….

  8. so swettt bgt author^^ bkin ngefly hahaha
    aigoo kasian appa nya hyo in ga bisa tdur gara keributan yg dbkin ama hyo-kyu kkk…keep writing authorr..

  9. evil..manis banget sh kamu.. hwadooohhhh.. bikkn envy z ceritanya.. q penggemar ff kyuhyun.. hahha..
    author..daebak..

  10. kyuhyunnya cowok bangett
    cowok tuh kayak gini y saeng talk less do more
    kerenn
    hahh
    bikin melting aja
    tp appanya hyoin gaul bangett

  11. Aigoo!!!! Gak kebayang gimana tu hyoin appa tidurnya keganggu sama suara suara aneh. Hahahahaha
    Bener bener

    Cara Kyuhyun buat ngajak pulang Hyoin ke korea keren. Kekekeke

  12. mamaaa… mau jadi hyo in ;;; kyuhyun mah udah napsu. ga mikir ada mertua di kamar sebelah😀 hahaha serius dari awal baca ini bikin aku deg degan unn.. takut sad ending. tapi syukurlah ngga🙂

  13. Sumpah Kyuhyun romantis banget dan julukan evilnya hilang begitu saja di ff ini😀

    Bapaknya Hyoin gk bisa bohong sebentar Ɣåāāªª tentang suara berisik dikamar sebelah =D

  14. Kyu di wp ini so sweet terus ya,,
    Selalu melakukan apapun utk Hyo in agar dy bahagia..
    Tp kadar kemesuman seorang Cho Kyuhyun jg ga ilang dsini.. Wkwkakwk
    Itu bisa ga sih mreka melakukannya tanpa suara” ribut,, meskipun lg kebelet..kasian orang tua disebelah kamar gelisah jd ga bs tidur..
    Lucu…

  15. Kyuhyun itu dkasih peran apa ajaa tetepp baguss ya… heisttt molla…
    ya iya lahh… gue fans berat nya gtu. plaaaakkk….
    Disinii aq syukaa bgtt sama Abonimm…. Abonimmm saranghae😀 Cho sobangg buat aq ajaa yaa.. kekekekekee

  16. aku juga pengen cho seobang buat appku, pinjem cho seobang.nya ya thor…hihihi… kyu knp kau selalu seenknya bgtu tp gpp deh kerena moment.ny so sweet😀

  17. pengen punya calon suami yg seperti ini. ya ampun Cho. aku tambah tergila-gila sama kamu. karena cerita ini.

    Aku suka kak… ceritanya sweet… dag dig dug… Dooooor!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s