[One Shot] Wrongly Given Love

Title : Wrongly Given Love
Author : Valuable94
Casts : Jung Jekyo (OC), Lee Donghae (SJ), Han Jihan (OC), Cho Kyuhyun (SJ)
Genre : Romance, Angst, Married Life
Length : One Shot
Rate : PG-17
Disclaimer : I don’t own those casts. OOC. This story is mine. Don’t be plagiator.
10330274_1478019792428375_1756730791706383142_n

Jekyo POVAku pernah membaca sebuah tulisan. Penulis itu berkata, “Kalau cinta belum buta, itu namanya bukan cinta. Karena saat kau mengalami kebutaan ketika merasakan cinta, itulah saat dimana kau mengalami cinta yang sesungguhnya. Perasaan yang hanya ingin menuju pada cinta itu sendiri. Tanpa melihat apapun dan siapapun.”

Dan kini, aku melihatnya sendiri. Kebutaan akan cinta membuatku terkungkung dalam belenggu kasih sayangmu, membuatku merasakan cinta yang hangat meski hatiku dan hatimu begitu jauh. Membuatku semakin melihatmu, langkah demi langkah, menggapai hatiku yang bukan milikmu.

At Haekyo’s Room
7 pm

“Mau kemana?” tanya Donghae seraya menatap lurus padaku. Aku bisa melihat raut wajah datarnya dari cermin di depanku.

Selesai mematut diriku dengan make up seadanya, kulangkahkan kaki mendekati Donghae, duduk di sampingnya yang tengah bersandar di headboard ranjang.

Senyumku terkembang saat tangan hangatnya menggenggam kedua tanganku, mengalihkan perhatiannya dari buku yang sedari tadi ia baca.

“Aku harus pergi, Kyuhyun membutuhkanku sekarang,” Aku hanya diam saat Donghae menundukkan wajahnya. Ia kecewa. Pasti.

Aku sedikit terhenyak saat beberapa detik kemudian Donghae kembali menatapku dengan senyum samar dan mata sendu nan menyejukkan miliknya.

“Jangan pulang terlalu larut.”

Jantungku serasa tertohok palu besar saat mendengar kalimat lirihnya. Ini bukan yang pertama kali aku begini, dan dia hanya mengucapkan pesan yang sama padaku.

Kusambut pelukan hangatnya saat ia merengkuh tubuhku dengan hangat. Setelah ini ia pasti akan mengatakan…

“Aku mencintaimu.”

Bunuh aku sekarang, Tuhan. Aku sudah terlalu lama menyiksa batin lelaki tabah ini.

Perlahan kulepaskan dekapan hangatnya, membiarkan angin malam yang menembus jendela kamar kami kembali menelusuri tubuhku kemudian beranjak setelah mengecup dahinya sesaat.

***

Aku duduk di kursi caffe paling belakang, menyesap capuccino panas yang mulai mendingin setelah kubiarkan bertengger terlalu lama di atas meja. Perhatianku cukup tersita hanya karena pria berwajah dewa Olympus di atas panggung, memainkan gitar akustik dengan apik yang mengiringi suara balladnya yang mengalun indah. Apa yang kurang darinya? Dengan sangat yakin kukatakan, tidak ada.

Dia yang mengambil separuh hatiku. Hanya dia, Kyuhyun.

Beberapa menit kemudian kulambaikan tanganku saat ia mulai turun dari panggung dengan riuh tepuk tangan para pengunjung caffe. Setelah beberapa kali langkahnya terhenti karena beberapa pengunjung yang ingin bersalaman dengannya, kini ia sampai di mejaku. Kyuhyun duduk di sampingku setelah mendaratkan bibir penuhnya di dahiku sesaat.

“Kurasa kau sudah jadi selebriti sekarang,” Kelakarku. Ia hanya menyunggingkan smirk memabukkan itu seraya mengusap puncak kepalaku.

“Mau kopi?” tawarku.

“Kau menawari kopi pada tuan rumah?” Aku hanya tertawa pelan.

“Kita pulang sekarang, eomma sudah menunggumu,” Aku mengangguk. Kemudian kusambut uluran tangan Kyuhyun dan meninggalkan caffe menuju rumahnya.

At Kyuhyun’s House
8 pm

“OMO! Jekyo-ya, ayo masuk!”

Senyum ibu Kyuhyun masih sama, ia masih menyambutku dengan baik, bahkan setelah aku memilih untuk menikah dengan Donghae, bukan Kyuhyun, puteranya. Beliau mempersilahkanku duduk di meja makan.
Aku memandang penuh tanya ke arah Kyuhyun yang duduk di hadapanku. Kupikir masalah penting yang ia bicarakan di telpon tadi bukanlah jamuan makan malam seperti ini.

“Kyuhyun Oppa, kau mau sup kimchi atau samgyetang?” Aku terhenyak saat mendengar teriakan seorang gadis dari arah dapur. Suara yang tidak begitu asing untukku kemudian kembali kutatap Kyuhyun penuh tanya.
“Jihan,” Jawab Kyuhyun singkat. Aku masih menatapnya heran, “Setelah kau menikah, Jihan jadi sering kemari membantu ibu,” Jawabnya seraya menuangkan air putih ke dalam gelasku.

“Oppa, aku buatkan se… eonni?”

Kualihkan pandanganku dari Kyuhyun, menatap gugup gadis yang pernah menjadi hoobae-ku di sekolah dan kantor Donghae, tempatku bekerja dulu.

“J-Jihan.”
Aku tergagap. Entah mengapa ada rasa seperti tertangkap basah kalau aku sedang berselingkuh dari suamiku dengan mantan kekasihku, meskipun pada kenyataannya aku tidak bermaksud seperti itu, tapi toh suamiku sendiri tak pernah keberatan akan hal ini.

“Eo-eonni, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Jihan pelan kemudian meletakkan satu mangkuk sup kimchi dan samgyetang di atas meja, tanpa menolehku.

Kutelan salivaku yang tertahan di tenggorokan. Tenanglah, Jekyo. Gadis ini tak mungkin berani memandang wajahmu, apalagi membentak dan mengatakan kalau kau seorang isteri kurang ajar yang tidak tahu diri.

“Jekyo akan makan bersama kita.” Aku tersentak kaget mendengar jawaban Kyuhyun. Suaranya dingin, tak sehangat saat berbicara denganku atau bernyanyi sekalipun.

Kualihkan pandanganku ke arah Jihan. Gadis lemah lembut itu hanya mengangguk pelan kemudian duduk di kursi sebelah Kyuhyun. Sesaat, dari wajah datar Jihan aku bisa melihat kepedihan di sana. Harusnya gadis itu sudah menyerah dari dulu, tapi sayang, gadis lemah lembut ini ternyata memiliki hati yang sangat keras.

“Sudah siap semuanya?”
Suara ibu Kyuhyun memecah keheningan di antara kami. Jihan dengan cepat membuang mendung di wajahnya, menampakkan kembali kecerahan mentari pagi. Menuangkan nasi ke mangkokku, Kyuhyun dan ibunya dengan semangat.

“Bagaimana kabar suamimu?” Aku menatap kaget ke arah ibu Kyuhyun, sementara Kyuhyun nampak mengeratkan pegangannya pada sendok sup, menampakkan otot-otot tangan yang kebiruan dari balik kulit putih susunya.

“Donghae Oppa baik-baik saja,”

Ada gurat tak suka dari wajah Kyuhyun, namun ia tak mungkin mengamuk di sini, terlebih ada ibunya yang nampak tak peduli dengan keadaan hati Kyuhyun. Beliau selalu menyinggung masalah Donghae saat aku berkunjung kemari. Mungkin beliau hanya berusaha menyadarkan Kyuhyun, dan aku. Hubungan ini tak seharusnya dilanjutkan tapi kami saling mencintai. Dan sekali lagi, Donghae tak pernah keberatan dengan hal ini.

Selama menikmati makan malam, aku hanya menanggapi sedikit obrolan mereka jika itu diperlukan, tak mampu mengatakan terlalu banyak kata dan lebih banyak mendengarkan percakapan Jihan dan ibu Kyuhyun. Sementara Kyuhyun sama denganku, kami makan dalam keadaan hening. Hal ini sedikit membuatku kenyang lebih cepat meskipun hanya beberapa sendok nasi yang masuk ke perutku. Beberapa menit kemudian, kegiatan makan kami terinterupsi karena suara ponselku. Aku membungkuk sesaat, meminta maaf, kemudian beranjak dari meja makan. Ada pesan dari Donghae dan itu tandanya aku harus segera pulang.

Setelah membalas pesan Donghae, aku kembali ke meja makan untuk berpamitan.
“Aku antar pulang,” tawar Kyuhyun.

“Tidak usah, aku bisa pulang sendiri,” tolakku halus.

“Jekyo benar, lebih baik kau mengantar pulang Jihan saja, rumahnya lebih jauh daripada Jekyo,” Ada rasa benci dan iri di hatiku. Mendengar bagaimana ibu Kyuhyun yang terkesan lebih membela Jihan membuatku ingin menangis, seperti diabaikan. Menatap lurus tanpa ekspresi ke arah Jihan, sementara ia hanya memandangku dengan tatapan sendu kemudian menunduk diam. Benci melihatnya yang bertingkah seperti upik abu dan membuat keadaan seolah aku adalah saudara tiri yang jahat.

“Biar Jekyo pulang bersamaku. Jihan bisa pulang diantar sopir.”

Senyumku terkembang begitu saja. Benar, kan? Kyuhyun mencintaiku, bukan Jihan.

Tanpa peringatan Kyuhyun langsung beranjak dari duduknya, menggeretku keluar dari rumah. Bahkan ia tak memberiku kesempatan untuk berpamitan dengan Jihan dan ibunya. Sesampainya di mobil, ia membukakan pintu bagian depan, menyuruhku masuk dengan cepat kemudian dengan sedikit berlari ia berjalan di depan mobil menuju sisi kiri dan duduk di belakang kemudi. Tak butuh waktu lama, Kyuhyun menginjak pedal gas, membuat mobil ini melaju seolah tanpa kendali. Kutatap wajah kerasnya yang tetap fokus pada jalanan di depan. Kugenggam tangan kanannya perlahan, sejurus kemudian kecepatan mobilnya mulai turun dan stabil. Huft, hampir saja aku mabuk darat.

“Aku mencintaimu, kau tahu itu?” ujar Kyuhyun yakin. Aku mengangguk, “I do, kurasa kau tahu itu.” Kyuhyun tersenyum lebar, tangan kanannya membalas genggamanku. Membuat getaran di dadaku semakin keras.

“Kau tidak marah ‘kan dengan kata-kata ibu tadi?” Aku menggeleng, “Aku tahu kau akan memilihku,” Kyuhyun mengangkat tanganku, mengecup punggungnya lama dengan mata yang tak lepas dari jalan.

“Sampai kapan kita akan seperti ini?”
Pertanyaanku membuatnya menepikan mobil dan menginjak rem cepat. Sedikit tersentak namun perhatianku tetap kembali padanya yang kini hanya diam saja seraya menggengam setir dengan kuat. Pandangannya beralih ke arahku. Menggenggam kedua tanganku seraya menatap mataku dalam. Perlahan satu tangannya teralih mengusap lembut pipiku. Kupejamkan mata merasakan halus tangannya. Tidak sehangat tangan Donghae memang, tapi aku menyukainya.

“Jangan pernah berpikir untuk mengakhiri semua ini.”
Kubuka mataku perlahan. Membalas tatapan wajahnya yang kini tak berjarak. Merasakan hangat napasnya di wajahku. Menyatukan kedua hidung kami dengan tatapan tajamnya yang tak pernah lepas seolah mengunci mataku untuk tetap dan terus menatapnya seorang.
Aku merindukan saat-saat seperti ini. Saat bibir lembutnya menyatu denganku, merasakan hangat masing-masing, dan damai yang entah mengapa kini berganti dengan rasa yang tak kumengerti. Mungkin ini salah, atau… Entahlah, aku tak tahu pasti. Tapi otakku menginstruksi saraf di tanganku untuk mendorong wajahnya, mengakhiri pagutan pelan kami. Dahi Kyuhyun berkerut. Tahu jika Kyuhyun heran tapi aku lebih heran lagi. Ada bayangan Donghae terlintas cepat saat pagutan itu berlangsung. Melihatnya tertidur di sofa ruang keluarga, menungguku dengan tenang di sana setiap kali aku keluar bersama kekasihku, Kyuhyun. Selama beberapa bulan aku bertahan dalam keadaan ini, dan ini bukan kali pertama aku merasakannya.

“Kita pulang sekarang.”
Aku berusaha untuk mengatakannya setenang mungkin meskipun jantungku berdebar dengan kuat kali ini. Bukan karena ciuman itu. Mungkin lebih karena aku memikirkan Donghae di rumah.

Sekitar 10 menit kemudian kami sampai di rumahku dan Donghae. Meski Kyuhyun terlihat sedikit emosi karena aku menolak tawarannya yang ingin membukakan pintu untukku namun akhirnya ia terima, meskipun dengan sedikit perdebatan.
Aku bergegas masuk ke rumah yang sudah gelap. Saat sampai di dalam rumah, semua lampu sudah mati dan hanya cahaya dari TV yang menyala yang membuat rumah minimalis kami terlihat terang. Kulangkahkan kaki mendekati ruang keluarga. Mengambil remote control di atas meja kemudian menekan tombol power off. Duduk di pinggiran sofa tempat Donghae tengah tertidur karena menungguku. Kutelusuri wajah sendunya yang terpantul sinar bulan dari jendela. Menyusuri setiap jengkalnya dengan telunjukku. Alis, mata, hidung, dan berhenti di bibir tipisnya. Selama itu aku hanya mampu menatapnya, tanpa berani melakukan apapun selain menyentuh wajah itu. Kurasa aku tidak pantas menjadi pendamping hidupnya, dengan segala yang telah kulakukan. Rasanya aku terlalu beruntung jika Donghae menjadi milikku.

Setelah membenarkan letak selimut Donghae yang sedikit berantakan, aku beranjak meninggalkannya menuju kamar. Lagipula tidak mungkin aku mengangkat tubuhnya naik ke kamar kami di lantai dua.

Keesokan harinya
8 am KST

Donghae sudah duduk di meja makan. Seperti biasa, memperhatikanku yang sibuk dengan peralatan memasak. Beberapa menit kemudian kuletakkan dua piring nasi goreng di meja makan. Tanpa basa-basi lagi Donghae langsung melahap nasi gorengnya. Membuatku merasa begitu bahagia saat ia tak pernah memrotes sarapan apapun yang kusajikan.

“Kau ada acara hari ini?”

“Aniyo. Mungkin nanti siang aku hanya akan belanja bulanan. Bahan-bahan di dapur sudah hampir habis,” Jawabku kemudian melahap nasi goreng.

“Mau kutemani?” tawar Donghae.

“Tidak usah, aku takut menganggu pekerjaanmu,”

“Hari ini aku hanya bekerja sampai jam makan siang, jadi tidak akan mengganggu pekerjaanku.”

“Geurae,” Jawabku singkat.

“Anggap saja ini kencan, lagipula sangat jarang sekali ada waktu untuk kita pergi berdua.”

Seketika perutku terasa penuh. Donghae memang tidak pernah secara langsung menyinggung masalah Kyuhyun tapi aku selalu merasa jika Donghae mulai sedikit tidak nyaman dengan hubunganku dan Kyuhyun akhir-akhir ini. Atau mungkin itu hanya perasaanku saja.

“Aku selesai.”
Aku berdiri mengikuti Donghae, memakaikan jas abu-abu kemudian memberikan tas kerjanya. Donghae mengecup dahiku sesaat, “Aku berangkat, kujemput setelah jam makan siang.” Kuanggukkan kepalaku kemudian menutup pintu rumah setelah mobil Audi hitam nya menghilang dari pandangan. Bersandar pada pintu seraya memegang dada dengan kedua tangan. Tidak tahu apa yang tengah kurasakan, rasanya setiap hari getarannya semakin kuat meski hanya dengan kecupan di dahi saja.

2 pm KST

Kami sampai di sebuah pusat perbelanjaan. Donghae dengan semangat membantuku memilih beberapa sayuran dan daging. Beberapa menit ini aku selalu menahan napas selama kami berbelanja. Tangan kanannya sibuk mendorong troli sementara tangan kirinya dengan setia bertengger manis di pinggangku. Ini pertama kalinya selama 6 bulan pernikahan kami belanja bersama dan pertama kalinya juga aku melihat Donghae begitu banyak bicara. Memerhatikan setiap detail produk yang kami beli. Mungkin bisa dibilang dia berubah menjadi seorang Ahjumma yang cerewet.

“Jekyo-ya!”

“Eoh!” Aku terhenyak saat kurasakan sentilan pelan di hidungku. Detakan jantungku kembali berpacu cepat saat mata sendu itu menatapku seksama.

“Kenapa kau diam saja?”

“Eo-eoh, a-aniyo,” entah mengapa aku jadi tergagap tiba-tiba.

“Sudah lengkap semua?”
Kuperiksa shopping list di tanganku kemudian mengangguk cepat saat semua bahan yang kami perlukan lengkap di dalam troli. Setelah membayar di kasir, aku menunggu Donghae mengambil mobil di depan supermarket.
Aku tersentak kaget saat seseorang memelukku posesif dari belakang. Aku hapal pelukan siapa ini. Kyuhyun. Kulepaskan pelukan Kyuhyun cepat, “A-apa yang kau lakukan di sini?” Ada gurat kecewa saat aku berbalik menatapnya seolah tak suka jika kami bertemu di sini sekarang. Tidak, kenapa aku harus bertemu dengannya saat bersama Donghae. Ini membuatku benci dan tak nyaman.

“Kau tidak senang bertemu denganku?” tanya Kyuhyun tak suka.

Kuedarkan pandanganku ke penjuru halaman supermarket, berusaha mencari keberadaan Donghae namun yang kutemukan hanya Jihan yang tengah berdiri jauh di belakang kami seraya membawa sekantong plastik penuh dengan sayuran. Ia hanya menunduk sesaat ketika pandangan kami bertemu kemudian membuang muka kembali.

“Donghae Oppa akan marah kalau ia melihatku bersamamu di sini.”

“Kau pergi bersama Donghae?” Nada suaranya meninggi.

“Eoh.”

Kulangkahkan kakiku menjauhi Kyuhyun saat mobil Audi Donghae mendekat ke arahku namun genggaman tangan Kyuhyun menahanku.

“Kita perlu bicara.” Genggaman tangannya semakin seiring semakin keras pula usahaku untuk lepas darinya.

“Kita masih bisa bertemu nanti malam.”

“Tapi aku ingin bicara denganmu sekarang,” kukuh Kyuhyun.

“Aku harus pergi sekarang,” Bantahku, masih berusaha melepaskan cengkeraman tangan Kyuhyun.

“Lepaskan aku Kyu-ya, kumohon!”
Tanganku memerah hingga ringisan perih mulai keluar dari bibirku.

“Tidak sebelum kita bicara,” ujar Kyuhyun dingin, dengan tatapan matanya yang tajam.

“Lepaskan aku!” Mataku terasa panas. Sakit di tangan dan hatiku menjadi satu saat merasakan perlakuannya yang mulai berubah sejak pernikahanku dengan Donghae.

“Tidak akan ku…”

“Lepaskan isteriku!” Nada angkuh nan dingin itu membuat perhatianku teralih.

Dengan cepat kuhapus airmata yang mulai mengalir dengan punggung tanganku yang bebas. Aku bisa melihat kemarahan di mata Donghae. Ia berjalan pelan mendekati kami. Tanpa menghilangkan wibawanya sebagai pria dewasa yang sudah beristeri, ia meraih tanganku yang tengah digenggam erat Kyuhyun. Mata sendu itu bertemu dengan tatapan tajam Kyuhyun.

“Lepaskan!” perintah Donghae sekali lagi dengan mata yang tak lepas dari Kyuhyun dan pegangan tangan Kyuhyun malah semakin erat. Sejurus kemudian aku terhenyak saat Kyuhyun menarik tubuhku kuat dan memelukku erat.

Bugh!

Mataku terbelalak saat satu pukulan Donghae mendarat tepat di pipi kiri Kyuhyun. Membuatnya oleng dan terjatuh sementara itu Donghae dengan cepat pula menarikku kemudian mendekapku. Bisa kurasakan deru napas amarahnya karena dada Donghae yang masih naik turun menandakan jika ia benar-benar marah sekarang. Aku takut, ini pertama kalinya dalam hidupku melihat sisi lain Donghae.

Kyuhyun bangkit dengan tubuh yang belum stabil. Ia mengelap darah yang mengalir di sudut bibirnya kemudian menatap Donghae berang. “Kurang ajar!” Kututup mataku rapat, bersembunyi di dalam dekapan Donghae saat kepalan tangan Kyuhyun melayang ke arah Donghae.

“AKH!”

Itu bukan suara pekikan Donghae, tapi…

“Jihan-ssi!” pekik Donghae.
Kubuka mataku cepat, melepaskan diri dari rengkuhan Donghae untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Di sana, Jihan terduduk dengan tangan memegangi pipi kirinya. Mataku terbelalak saat kulihat aliran darah juga mengalir di sudut bibir Jihan.
Kutatap Kyuhyun tak percaya. Ia hanya terdiam, tak mampu melakukan apapun setelah menyadari apa yang baru saja ia lakukan.

“Jihan-ah!” Aku dan Donghae membantunya berdiri sementara tubuh Kyuhyun luruh di depan Jihan. Menatap frustrasi kedua tangannya yang baru saja melukai Jihan. Aku tahu, ia tak bermaksud seperti itu. Sekeras apapun sifat Kyuhyun, dia laki-laki yang tidak akan pernah memukul wanita dengan sengaja.

“Gwaenchana?”

Jihan mengangguk, “Sebaiknya kalian cepat pulang,” ujar Jihan pelan di sela ringisan perihnya.

“Kami antar kau pulang,” tawar Donghae.

“Aniyo, aku pulang bersama Kyuhyun.”

“Kau yakin?” tanyaku sekali lagi. Khawatir, tentu saja. bagaimana mungkin aku membiarkan seorang gadis pulang bersama pria yang baru saja memukulnya sekalipun aku tahu itu bukan sebuah kesengajaan.

Jihan mengangguk yakin. Donghae memegang kedua bahuku. Mengisyaratkanku untuk mengikuti kemauan Jihan dan membiarkannya pulang bersama Kyuhyun.

Sepanjang perjalan pulang yang kami lakukan hanyalah diam. Tak ada satu pun dari kami yang berani membuka suara. Beberapa kali aku mencuri pandang ke arah Donghae. Dan yang ia lakukan tetaplah sama. Memandang lurus ke depan seraya menyetir. Keheningan itu berlangsung hingga kami sampai di rumah. Setelah membantuku menaruh belanjaan ke dalam kulkas, Donghae langsung naik ke kamar kami lalu beberapa menit kemudian aku menyusulnya.
Kamar kami nampak lengang dengan lampu yang masih mati, hanya suara pelan gemericik air dari kamar mandi yang terdengar. Kuputuskan untuk duduk di pinggiran ranjang dan menaruh tasku di ujung ranjang. Menunggunya selesai mandi.
Aku harus bicara dengannya. Yah, aku harus minta maaf.

Tak lama kemudian Donghae keluar dari kamar mandi dengan kaos V-neck putih polos dan celana training hitam selutut. Rambutnya nampak sedikit basah. Aku bermaksud bangkit dari dudukku dan menghampirinya namun niat itu urung kulakukan karena Donghae lebih dulu membaringkan dirinya di sampingku. Kupejamkan mata rapat saat kurasakan sesak di dada ketika helaan napas berat Donghae memenuhi telingaku.

Sebesar itukah kau menahan beban karena aku?

Kurebahkan tubuhku di samping Donghae yang berbaring memunggungiku. Pelan, semakin lama aku mencoba merapatkan diriku ke arahnya hingga tubuhku menempel punggungnya, kuberanikan diri untuk memeluknya.

“Berhenti melakukan ini padaku.” Aku terhenyak. Ternyata dia belum tidur.

“Aku minta maaf,” lirihku.

“Untuk apa?”
Sakit. Sakit sekali rasanya mendengar suaranya yang bisa begitu lembut padaku kini mengeras dan dingin.

“Aku tidak akan menyalahkanmu karena kau masih mencintai Kyuhyun.”

Aku tidak tahu, tanpa kusadari airmataku tiba-tiba jatuh tanpa kukomando saat Donghae melepaskan pelukanku. Lebih menyakitkan lagi karena ia tetap tak mau berbalik dan menatapku. Inikah rasanya diabaikan? Mungkin ini juga yang Donghae rasakan selama 6 bulan ini.

“Kupikir aku bisa…” Donghae menghela napasnya pelan, “aku yang salah. Selama ini aku hanya mengatakan jika aku mencintaimu tanpa pernah bertanya apakah kau juga mencintaiku juga atau tidak.”

Tenggorokanku terasa sakit. Sesak itu memenuhi rongga paru-paruku hingga rasanya aku tak bisa bernapas lagi.

“Kupikir dengan tetap memberi waktu kalian untuk bertemu setiap hari dan tidak membuatmu merasa tertekan karena menikah denganku akan membuatku bisa bertahan denganmu.”

“Menikah denganmu adalah kemauanku sendiri. Karena aku mencintamu, karena aku yakin kaulah takdirku. Tapi aku tak pernah bertanya apakah kau bersedia menjadi takdirku atau tidak.”

Napasnya tercekat di akhir kalimat. Aku tahu dia sedang mencoba menumpahkan segala kesakitan yang ia pendam selama ini.

Helaan demi helaan napasnya membuatku semakin sakit. Isakan pelan Donghae membuat telingaku sakit. Rasa bersalah yang selama ini tertutupi egoisku kini mencuat sedikit demi sedikit. Membuat dadaku semakin menyempit.
Kupengang erat dadaku seraya menutup mulutku yang terus mengeluarkan isakan bersama dengan cairan panas dari mata.

“Ma-maaf.”

Hanya itu yang bisa kukatakan. Tak bisa menahannya lagi, akhirnya tangisku pecah. Kugigit bibir bawahku menahan isakan. Meringkuk di belakang punggung Donghae. Tak mampu mengatakan apapun lagi dan akhirnya hanya airmata yang berhasil keluar.

Aku terhenyak. Di tengah keinginanku untuk mengakhiri semua ini karena tak ingin melukainya, Donghae justru menarikku kembali ke dalam rengkuhannya. Seolah mengatakan padaku untuk tetap tinggal di sini. Bersamanya.

“Cobalah!”

Kubenamkan wajahku di dada Donghae. Mendengarkan alunan detak jantungnya yang keras.

“Cobalah untuk menatapku, suamimu.” Aku tak mampu menjawab apapun. Yang kulakukan hanyalah memeluknya semakin erat hingga mimpi menyambut kami.

10 pm KST

Aku terbangun karena suara ponselku berdering nyaring. Perlahan kuregangkan tubuhku di dalam pelukan Donghae yang masih terlelap di sampingku. Kusingkirkan tangan kirinya yang membelenggu tubuhku kemudian beranjak dari ranjang. Mengambil ponselku dari dalam tasku di ujung ranjang.

Dahiku berkerut setelah membaca Caller ID-nya. “Jihan.”

***

Aku berlari sekuat tenaga menyusuri koridor rumah sakit di lantai dua. Berlari seraya mencari kamar rawat nomor 302. Kupercepat langkah saat menemukan kamar tersebut, membuka pintunya dengan tergesa dan mendapati Jihan tengah duduk di samping ranjang seraya memegang tangan Kyuhyun yang terbaring di atasnya.

“Apa yang terjadi?” tanyaku khawatir.

“Kyuhyun ditemukan tak sadarkan diri di ruang kerjanya di caffe,” Jihan menghela napas sesaat, “Ada bekas luka sayat di pergelangan tangan kirinya, kurasa dia…”

“Bunuh diri?” sergahku cepat.

Jihan mengangguk lemah, “Dari tadi dia terus memanggil namamu,” Ia beranjak dari duduknya. Aku masih bisa melihat luka lebam di pipi kirinya. “Dia lebih membutuhkanmu daripada aku,” ia berlalu setelah menepuk bahuku pelan.

“Jekyo-ya,” Kualihkan pandanganku ke arah Kyuhyun yang merintih lirih. Aku duduk di samping ranjangnya. Memegang telapak tangan Kyuhyun yang sedikit mendingin.

“Aku di sini.”

Keesokan harinya
7 am KST

Kyuhyun terus saja memegangi tanganku. Keinginanku untuk menyuapinya tertunda karena ia tak mau melepaskan genggamannya padaku.

“Makan dulu, setelah itu minum obat.” Kyuhyun tetap menggeleng. Senyumnya terkembang samar menghiasi wajahnya yang sedikit memucat.

“Kajima!”

“Aku akan tetap di sini kalau kau mau makan dan minum obat.”

Kyuhyun nampak berpikir sejenak, “Baiklah, aku akan makan.” Ia langsung mengambil piring di tanganku. Melahapnya cepat kemudian meminum beberapa butir obat yang sudah tersimpan di cawan di atas nakas samping ranjang.

Perlahan, kutuntun Kyuhyun untuk rebahan kembali. Kuusap pelan pelipis dan rambutnya. Saling menatap dalam, membalas senyuman hingga akhirnya Kyuhyun mulai terlelap karena pengaruh obat yang baru saja ia minum.

“Dia sudah tidur?” Aku terhenyak saat suara Jihan terdengar begitu dekat di belakangku. Kubalas senyum lembutnya, ia mendekat ke arahku kemudian meletakkan rantang di atas nakas.

“Eonni harus sarapan juga. Wajahmu mulai kelihatan pucat.” Aku hanya tersenyum menanggapinya. Kami beranjak menuju sofa ruang inap Kyuhyun. Jihan nampak sibuk menyiapkan sandwitch di atas meja dan mengeluarkan botol jus jeruk dari tasnya. Selama sarapan, Jihan hanya menanyakan keadaan Kyuhyun sebelum akhirnya keadaan di antara kami mulai hening kembali.

“Kau benar-benar mencintai Kyuhyun?” tanyaku pelan, setelah selesai sarapan. Jihan hanya menoleh sesaat padaku kemudian kembali sibuk membereskan rantang kosong seraya tersenyum. Aku tidak begitu suka melihat senyum lembutnya itu, terlihat sekali jika ia begitu… yah, kuakui tekadnya untuk mendapatkan Kyuhyun memang patut diacungi jempol.

“Kau benar-benar tulus mencintainya?”

Jihan hanya menghela napas pelan. Selesai membereskan rantang dan membungkusnya kembali, ia menyandarkan punggungnya santai di sandaran sofa.

“Aku mencintainya, dari dulu. Meskipun aku tahu Kyuhyun Oppa hanya mencintai eonni. Bagiku, asal Kyuhyun Oppa masih mengijinkanku untuk berada di sisinya, untuk tetap mencintainya, dan melihatnya bahagia itu sudah cukup.”

“Tapi kau tahu jika Kyuhyun tak akan mungkin kau dapatkan. Dia mencintaiku!” Nada suaraku meninggi. Entahlah, mungkin aku mulai membencinya karena berani mencintai Kyuhyun begitu dalam.

“Aku tahu. Tapi melihatnya bahagia, rasanya sakit itu tidak terasa sama sekali.”
Gadis itu beranjak meninggalkanku menuju kursi di samping ranjang Kyuhyun. Apa aku pernah bilang membenci gadis ini? Kali ini aku ralat perkataanku. Sebenarnya aku iri dengannya. Gadis yang terlihat lemah dari luar ini ternyata mempunyai hati sekeras baja. Ia gadis yang berani. Berani mengambil resiko untuk menyakiti hatinya lebih dalam.

“Sebaiknya eonni pulang sekarang, Sajangnim pasti sedang menunggumu.”

“Tapi…”

“Aku yang akan menjaga Kyuhyun di sini. Sebentar lagi ibunya juga akan kemari.”

Aku menurutinya. Yah, Donghae pasti tengah kebingungan mencariku karena aku pergi tanpa memberitahunya.

***

9 am KST

“Kau darimana saja? Aku kebingungan mencarimu. Ponselmu tertinggal di rumah, aku takut terjadi apa-apa denganmu. Kenapa kau tak pamitan padaku? Kapan kau pergi? Kenapa tidak membangunkanku?”

“Aku ke rumah sakit…”

“Kau sa…”

“Kyuhyun sakit. Dia membutuhkanku,” Lirihku.
Perlahan pegangan Donghae yang sedrai tadi berada di bahuku kini melemah. Matanya yang memerah tersembunyi di balik tundukannya. Lama, kami hanya berdiri saling berhadapan, setelah itu ia meninggalkanku tanpa mengatakan apapun.

“Maaf,”

Donghae berhenti. Ia berbalik, kembali mendekatiku kemudian merangkul pundakku. “Kau sudah sarapan?” Aku mengangguk pelan. Donghae menuntunku duduk di kursi meja makan. Ia beranjak mengambil botol susu dari kulkas dan meletakkannya di depanku.

“Minumlah!” titahnya seraya mengusap pelan rambutku.

“Kau saja. Aku sudah sarapan di rumah sakit bersama Jihan.”

Donghae menghela npas panjang, “Tapi kau…”

“Jangan membantah. Akan kubuatkan roti panggang. Kau harus ke kantor, bukan?” Donghae mengangguk pelan. Kubalas senyum lembutnya kemudian beranjak menuju pantry dan mengambil beberapa potong roti untuk dipanggang.

“Apa kau akan ke rumah sakit lagi nanti?”

“Entahlah. Sudah ada Jihan di sana, tapi Kyuhyun pasti akan mencariku lagi kalau dia tahu aku tidak ada di sampingnya.”

“Begitu?” gumam Donghae.

“Kalau aku yang sakit, apa kau juga akan selalu berada di sampingku?” Gerakan tanganku terhenti saat mengoles selai cokelat pada roti. Aku mendengus pelan, “Bicara apa kau ini? Aku bahkan tidak pernah berpikir kau akan sakit,” ketusku, kemudian meletakkan piring roti di depan Donghae, sedikit membantingnya agar ia tahu jika aku sedang kesal.
Donghae hanya tersenyum seraya menggigit rotinya.

“Kenapa tertawa?”

“Aku senang. Kurasa kau mulai mengkhawatirkanku,” ujarnya santai.

Aku terdiam seketika. Mengkhawatirkannya? Yah, mungkin, aku memang tak pernah berpikir akan terjadi sesuatu padanya. Aku tidak mau, bahkan membayangkannya saja aku tidak sanggup.

“Habiskan sarapanmu dan cepat berangkat ke kantor!” Tawa Donghae terdengar semakin nyaring, membuatku salah tingkah dan akhirnya memilih untuk meninggalkannya ke kamar. Aku bisa matang kalau terus berada di sini.

Setelah mengantar Donghae berangkat ke kantor. Aku bergegas menuju rumah sakit menjenguk Kyuhyun lagi, rasa khawatirku masih terlalu besar untuk kuabaikan. Sekitar 10 menit perjalanan aku sampai di rumah sakit. Kulangkahkan kaki cepat menuju kamar inap Kyuhyun. Sesampainya di sana, aku membuka pintunya pelan. Samar-samar kudengar suara nyaring Jihan tengah bercerita mengenai hal-hal lucu pada Kyuhyun. Kadang pula kudengar tawa pelan Kyuhyun.
Ada sedikit rasa sakit dan lega yang datang bersamaan saat melihat mereka. Karena tawa Kyuhyun dan gadis yang membuatnya tertawa.

Aku berbalik pelan. Membiarkan mereka tetap tenggelam dalam dunia yang mereka ciptakan sendiri. Entah mengapa tubuhku melemas. Kududukkan tubuhku di kursi depan ruang inap Kyuhyun. Sakit dan lega itu datang kembali. Bimbang, apakah memang aku harus melepaskan Kyuhyun bersama Jihan dan menjalani hidupku bersama Donghae–suamiku atau menjalani kedua hubungan itu tanpa tahu bagaimana akhirnya dan terus menyakiti hati lain sementara aku mendapatkan bahagia bersama orang yang kucintai.

Aku tertunduk dalam, mengusap kasar wajahku dengan kedua tangan.

“Eoh, Jekyo eonni!”
Pekikan Jihan membuatku mendongak kemudian tersenyum pelan saat ia menyusul duduk di sampingku.

“Sudah berapa lama eonni di sini?”

“Sekitar 5 menit yang lalu.”

“Kenapa kau tidak masuk? Kyuhyun baru saja istirahat,” sesalnya.

“Aku tidak ingin menganggu waktu kalian,” jawabku.

“K-kau marah padaku?”

“Ani. Aku tidak marah, hanya…”

“Apa?”

“Aku iri padamu. Kau bisa membuat Kyuhyun tersenyum bahkan di saat hatimu menahan perih karenanya.”

Jihan hanya tersenyum sesaat ke arahku, “Kenapa kau tersenyum?” tanyaku heran.

“Aku bahagia.”

“Kenapa?” Aku semakin bingung.

“Itu berarti eonni mengakui kemampuanku. Aku bisa membuat Kyuhyun bahagia meskipun hanya sebentar, di saat-saat terakhir kebersamaan kami.” Aku mengernyit heran. Jihan menghela napas pelan, “Sudah kuputuskan, aku akan melepas Kyuhyun,” Mataku terbelalak lebar.

“A-apa maksudmu?” Seruku, tak peduli jika kami tengah berada di rumah sakit. Ada perasaan tak ikhlas yang menyelip begitu saja.

“Sejak dulu, aku hanya mampu menatap Kyuhyun. Sengaja menjaga mata dan hatiku hanya untuknya tanpa berpikir jika mungkin saja ada orang lain yang lebih mencintaiku,” Jihan menghela napas lagi, “sebelum ibu meninggal, beliau berkata padaku agar aku hidup bersama orang yang lebih mencintaiku daripada orang yang lebih kucintai. Dan aku berharap dengan melepaskan Kyuhyun, aku akan mendapatkan seseorang yang benar-benar mencintaiku.”

Sekali lagi aku terhenyak mendengar tutur lembut Jihan. Mataku terbuka, bukan secara harfiah, lebih dari itu. Bagaimana bisa aku membiarkan orang yang begitu mencintaiku tersiksa dengan cintanya padaku. Sementara Jihan, gadis lembut itu bahkan rela melepaskan cinta yang sudah ia ikat selama bertahun-tahun hanya untuk mendapatkan cinta yang belum ia miliki, dan kenyataannya aku lebih beruntung dari Jihan. Aku sudah memiliki cinta itu, cinta yang selama ini menemaniku dengan segala kesakitan yang ia rasakan sendiri.

Bodohnya aku.

“Jihan-ah, gomawo.”

Tak kupedulikan lagi tatapan heran Jihan. Yang kupikirkan saat ini hanyalah menemui Donghae, memeluknya, berterima kasih padanya dan mengatakan betapa beruntungnya aku memiliki suami seperti dia. Aku segera menyetop taksi yang ada di depan gedung rumah sakit. Kulirik jam di tanganku sesaat. Masih belum lewat waktu makan siang. Mungkin sedikit memberinya kejutan makan siang di kantor akan semakin menyempurnakan rencanaku.

Setelah selesai menyiapkan bekal makan siang untuk Donghae, aku bergegas menuju kantor Donghae. 15 menit dalam perjalanan membuat dadaku bertalu dengan kencang. Ada buncahan rasa senang di sana, kuhembuskan napasku berkali-kali. Mengaturnya agar tak berdetak terlalu cepat. Aku takut kalau jantungku tiba-tiba terjatuh di dalam taksi. Kupegang dadaku yang masih saja bergemuruh cepat. Kedua pipiku terasa semakin memanas bahkan saat masih berada di dalam lift. Tak butuh waktu lama akhirnya aku sampai di ruangan Donghae. Setelah mendapat ijin dari sekretarisnya aku bergegas masuk tanpa mengetuk pintu.

Tidak sopan? Biarlah. Aku sudah tidak sabar menemui suamiku.

“Annyeonghaseyo, Sajangnim.”

“Eoh, J-jekyo?” Aku ingin sekali tertawa saat melihat ekspresi kagetnya. Dengan cepat ia berdiri dari kursi kebesarannya. Menghampiriku yang kini masih berdiri beberapa meter darinya. Sibuk menyembunyikan rona merah di pipi dan degupan jantungku yang mengeras saat melihat tubuhnya mendekat ke arahku dengan wibawa yang selalu terjaga.

“K-kenapa k-kau ada di sini?” tanya Donghae gugup.

“Mengantar makan siang untuk suamiku,” jawabku enteng, kemudian menggandeng tangannya untuk duduk di sofa ruangan ini. Tak kuhiraukan Donghae yang masih saja memandangku heran. Aku terus bertanya tentang bagaiman keadaan kantor dan pekerjaannya seraya menyiapkan makan siang untuknya.

“Mau kusuapi?”
Tanpa perlawanan Donghae melahap setiap sendok yang kuberikan padanya meski pandangannya tak pernah lepas dariku.

“Sebenarnya ada apa denganmu?” Donghae menghentikan pergerakan tanganku yang hendak menyuapinya lagi. Mengambil alih sendok dari tanganku, meletakkannya di atas meja kemudian menggenggam kedua tanganku.

“Tidak biasanya kau seperti ini.”

“Wae? Kau tidak senang?” Gerutuku, pura-pura merajuk.

“B-bukan begitu, tapi kau…”

Kata-katanya terhenti seketika saat aku mendekap tubuhnya. Mempererat pelukan tanganku di perutnya. “Terima kasih.”

“Untuk?”

“Semuanya. Semua yang telah kau lakukan untukku selama ini. Cintamu, perhatianmu, terima kasih, Oppa.”

Bisa kudengar detak jantung Donghae yang kencang bersamaan dengan pelukan hangatnya di tubuhku. Sesaat, ia mengecup puncak kepalaku kemudian menangkup wajahku dengan kedua tangannya, menyejajarkan pandangan kami. Hatiku seperti terantuk beton kuat saat kulihat lelehan air bening dari sudut matanya yang memerah. Ada lengkungan indah dari bibir Donghae saat aku menghapus airmatanya. Tidak. Donghae tidak boleh menangis. Aku tak akan membiarkan itu terjadi lagi.

“Kau menerimaku?” Aku mengangguk pasti.
Mataku terbelalak seketika saat Donghae mendaratkan ciuman-ciumannya ke seluruh wajahku dengan cepat. Buncahan bahagia yang sedikit berlebihan. Tapi aku menyukainya. Sangat.
“Kau mau ‘kan mengajariku untuk menjadi wanita yang bisa mendampingimu seumur hidup?”
“Pasti.” Donghae mengangguk cepat. Kembali mengusap rambut dan mengecup puncak kepalaku.
“Kau mau makan apa nanti malam? Akan kusiapkan special untuk suamiku.”

Donghae tersenyum lebar. Menampakkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi. “Aku ingin memakanmu.” Aku terpekik keras saat Donghae menyentil daguku, menggoda.

“YA! LEE DONGHAE!” Protesku seraya mencubit hidungnya.

10 pm KST

Seperti malam sebelumnya, aku terbangun lagi. Bukan karena panggilan Jihan tapi karena suara gedoran pintu di rumah kami. Masih belum tersadar sepenuhnya saat suara gedoran itu semakin kencang. Kulepaskan tangan Donghae yang masih bertengger indah di pinggangku. Kusingkap selimut yang menutupi tubuh polos kami dan mulai beranjak memungut piyamaku dan Donghae yang tergeletak di lantai kamar kemudian menggelung asal rambutku yang semula terurai berantakan.

“Oppa, bangun! Ada tamu.” Donghae mengucek matanya sebentar sebelum akhirnya duduk di sampingku. Membuat selimut yang menutupi tubuhnya melorot hingga pinggul.

“Wae?” tanyanya malas.

“Ada tamu, Oppa. Cepat pakai piyamamudan temani aku! Aku takut membuka pintu sendiri.”

Dengan mata setengah terpejam Donghae mulai memakai piyamanya. Setelah memastikan kesadarannya terkumpul penuh, ia menggandeng tanganku keluar dari kamar.
Kunyalakan lampu ruang tamu kami sebelum membuka pintu. Aku tersentak kaget saat seorang wanita dengan cepat memelukku dengan tubuhnya yang bergetar karena terisak.

“Jihan-ah? Ada apa?” Kulepaskan pelukan eratnya perlahan. Menatap wajah sembab Jihan di depanku.

“Katakan, ada apa denganmu, Jihan-ssi?” tanya Donghae, tak kalah khawatir.

“Sajangnim, eonni…K-Kyuhyun Oppa…” napas Jihan tersendat karena tangisannya.
“Ada apa dengan Kyuhyun?” tanyaku pelan. Khawatir itu kembali lagi.

“Dia membutuhkanmu sekarang.”

“Aku sudah menghubungimu dari tadi, tapi kau tak pernah mengangkat telpon atau pun membalas pesanku.”

Kupandang Donghae yang kini hanya diam saja di sampingku. Nampak tak ingin ikut campur atau mungkin dia sudah malas untuk membahas masalah Kyuhyun lagi dalam kehidupan kami. Aku hanya diam. Bingung, tak mampu mengatakan apapun. Takut jika salah satu pihak akan tersakiti lagi karena aku.

“Dia… dia mengancam akan bunuh diri lagi kalau kau tidak mau bersamanya.”
Tubuh Jihan luruh di bawahku. Ia menangis tersedu. Sementara aku masih terdiam, berkali-kali melayangkan tatapan bertanya pada Donghae namun yang ia lakukan hanya diam seraya mengusap pelan bahu kiriku.

“Kumohon, eonni. Kali ini saja.”

Aku menatap pada Donghae lagi. “It’s up to you,” Jawabnya pelan seraya melepaskan pegangannya pada bahuku.

Yah. Hanya kali ini saja, kan?

“Hanya kali ini saja, kan?” Jihan menganggu cepat.

“Tidak!” tandasku tegas.
Kupejamkan mata seraya menghembuskan napas pelan, “Kyuhyun lebih membutuhkanmu daripada aku.” Kugenggam erat tangan Donghae, menahannya yang ingin beranjak dari sampingku. Sementara Jihan kini tengah menatapku heran.

“Tapi, eonni…”

“Tidak!” Jawabku lebih yakin.

“Kemarin kau juga bilang ‘kali ini saja’. Jika sekarang aku mengikuti keinginannya lagi seperti yang kau inginkan sebelumnya… Aku tidak akan menurutinya lagi. Setelah ini, akan ada kesempatan lagi untuknya memintaku kembali padanya.”

Kutuntun tubuh Jihan untuk berdiri. Memegang kedua bahunya menguatkan.

“Jangan menyerah Jihan-ah, kau pasti bisa mendapatkan Kyuhyun. Yakinkan dia, seperti yang suamiku lakukan padaku. Buat dia tersenyum lagi, seperti yang kau lakukan tadi siang. Lakukan itu semua tanpa lelah, buat dia percaya bahwa kau sangat mencintainya dan buat dia memilih gadis yang bisa lebih mencintainya daripada aku.”

“Eonni, aku…” lirihnya ragu.

“Kau tidak boleh ragu. Jangan biarkan Kyuhyun memilih hidup bersama gadis yang hanya mencintainya. Biarkan dia hidup bersama wanita yang sangat mencintainya.”

“Jika aku bersama Kyuhyun, akan semakin banyak hati yang terluka,” Jihan mendongak, menatapku dalam. Seolah mencari pegangan untuk memperkuat langkahnya.

“Apa aku bisa?” lirihnya lagi.

“Kau pasti bisa.” Aku mengangguk mengiyakan pernyataan Donghae yang tengah tersenyum hangat ke arah Jihan.

“Kau bisa melakukannya selama 3 tahun ini. Cobalah bertahan lebih lama lagi,” ujarku seraya mengusap bekas lelehan airmata di kedua pipinya.

EPILOG

Author POV

Kita hidup, belajar, dan mencoba.

“Yeobeo-ya!”

Jekyo berlari kecil dari dapur menuju kamarnya dan Donghae. Bergegas mendekati Donghae saat laki-laki tersebut memegang simpul dasi yang berantakan. Tersenyum kecut saat Donghae semakin mengeratkan pelukan di pinggangnya ketika ia masih sibuk memasang simpul dasi dan membenarkan kerah kemeja Donghae.

“Selesai!” Seru Jekyo semangat kemudian berusaha melepaskan pelukan Donghae di pinggangnya.

“Lepaskan, Oppa! Aku belum bersiap-siap sama sekali. Kita bisa terlambat ke upacaranya nanti,” gerutu Jekyo seraya memukul dada Donghae pelan.

“Poppo!”

Kedua pipi Jekyo merona seketika. Sementara donghae malah mengedipkan sebelah matanya semakin menggoda Jekyo yang sudah tergoda sejak tadi.

Jekyo mendengus sesaat, “Baiklah. Tapi aku jamin kalau kita akan terlambat.”

“Tidak masalah,” jawab Donghae enteng, membuat Jekyo sedikit jengah meskipun sebenarnya ia juga senang.

Perlahan Jekyo menangkup wajah Donghae dengan kedua tangannya. Tangan Donghae kini beralih di tengkuk Jekyo dan menekannya perlahan, mereka sama-sama memiringkan kepala, mencari posisi yang nyaman untuk menyatukan kedua bibir mereka sebelum akhirnya kegiatan mereka yang belum terlaksana terinterupsi karena teriakan seseorang.

“EOMMA! APPA!”

Dengan cepat mereka menjauh. Menatap kikuk bocah laki-laki berusia 4 tahun yang berdiri di ambang pintu kamar mereka hanya dengan handuk putih yang menutupi bagian pinggangnya ke bawah. Memandang Donghae dan Jekyo dengan bibir yang mengerucut.

“Eo-eoh, Donghyun-ah! Kau sudah selesai mandi?”
Jekyo segera menghampiri Donghyun kemudian menggendongnya. Sementara Donghae berpura-pura sibuk mencari sepatunya.

“Aku menunggu eomma laaaammaaa sekali. Aku kedinginan.”
Jekyo terbahak. Menertawakan tingkah Donghyun yang bergaya kedinginan secara berlebihan dan dirinya sendiri yang melupakan puteranya karena Donghae yang berubah genit pagi ini.

“Pokoknya aku mau pakai mantel hali ini,” Seru Donghyun semangat dalam gendongan Jekyo.

“Wae? Hari ini ‘kan sudah masuk musim semi. Pasti udara sudah lebih hangat.”

“Ini gala-gala eomma. Aku keediiingiinaaannnn.” Jekyo kembali terbahak saat Donghyun memeluk tubuh gembulnya sendiri. Meninggalkan Donghyun di atas ranjang sementara ia mengambil sesuatu dari lemari.

“Hari ini kau harus pakai tuxedo seperti appa,” Ujar Jekyo tegas, membuat lengkungan masam di wajah Donghyun semakin terlihat jelas. Terlebih saat melihat Donghae memeletkan lidahnya seraya memakai sepatu.

Setelah perdebatan yang cukup panjang selama di rumah dan perjalanan menuju gereja, akhirnya mereka sampai di sebuah gereja di daerah Seoul. Hari ini, gereja itu nampak lebih ramai dari biasanya karena ada acara yang tengah berlangsung di sana. Donghae dan Jekyo berjalan tergesa masuk ke dalam geraja tersebut dengan Donghyun yang berada di gendongan Donghae. Bocah kecil itu tak hentinya memrotes tuxedo yang dipakaikan Jekyo padanya.

Mereka berjalan cepat melewati beberapa tamu undangan yang tengah berbincang santai di taman gereja.

“Jekyo eonni!”

Senyum Jekyo terkembang sempurna. Ia membalas lambaian tangan seorang perempuan cantik dengan gaun pengantinnya. Kemudian menggandeng satu tangan Donghae untuk mengikuti langkahnya mendekati gadis cantik yang baru saja memanggilnya.

“Aigoo! Uri Jihan-ie neomu yeppeuji.”
Jekyo memandang kagum ke arah Jihan kemudian memeluknya erat. Senyum riangnya berubah kecut saat menatap mempelai pria di samping Jihan. Namun tak lama kemudian, ia memeluknya erat.

“Kyuhyun-ah, chukaeyo.” Kyuhyun tersenyum lebar, membalas pelukan Jekyo. Sebentar, namun mampu mengundang suara dehaman seorang pria tampan di belakang Jekyo yang tengah menggendong bocah laki-laki berumur 4 tahun.

“Eoh, mian,” Jihan dan Jekyo terkikik geli melihat Kyuhyun yang salah tingkah.

Donghae menurunkan Donghyun kemudian tersenyum samar dan memeluk Kyuhyun. “Chukaehamnida, Kyuhyun-ssi.”

“Gamsahamnida,” jawab Kyuhyun seraya tersenyum canggung.

“Chukaehamnida, Jihan-ssi.”

Jihan menyambut uluran tangan Donghae. “Gamsahamnida, Sajangnim.”

“Donghyun-ah, ayo ucapkan selamat pada Imo dan Samchoon,”

“Whoaa! Uri Donghyun-ie, kau semakin tampan.” Jihan mengangkat Donghyun ke dalam gendongannya. Sementara Donghyun malah tersenyum lebar saat mendengar pujian Jihan padanya.

“Ya! 2 bulan tidak bertemu denganmu sepertinya kau semakin berat,” Keluh Jihan, membuat kerucutan di bibir Donghyun terlihat lagi.

“Cukup, Han Jihan. Biar aku saja yang menggendong Donghyun.” Kyuhyun segera merebut Donghyun dari Jihan.

“Ya! Oppa, aku masih ingin menggendongnya,” Protes Jihan.

“Tidak boleh, nanti kau bisa kelelahan, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu,” ujar Kyuhyun, membuat Jekyo dan Donghae tertawa melihat pasangan pangantin baru itu.

“Maaf kami terlambat,” sesal Jekyo.

“Gwaenchanayo,” sahut Jihan santai.

“Kenapa acara pernikahannya mendadak sekali. Bukankah pelatihanmu di Toronto masih kurang 2 bulan lagi?” Keluh Jekyo.

“Eum. Aku juga kaget saat menerima surat resign-mu, Jihan-ssi. Kau pegawai yang cekatan dan lumayan berkontribusi di perusahaan. Sayang sekali jika aku harus melepas pegawai sepertimu.”
Jihan tersenyum malu saat mendengar pujian dari Donghae. Membuat suara dehaman Kyuhyun terdengar di telinganya.

“Sebelumnya aku minta maaf, Sajangnim. Aku resign karena suamiku yang memintanya.”

“Kenapa? Kau mau membuat Jihan membusuk di dalam rumah, huh?” protes Jekyo keras seraya mendelik ke arah Kyuhyun.

“Bukan itu maksudku. Aku hanya tidak mau terjadi sesuatu dengan mereka karena Jihan terlalu giat bekerja. Lagipula aku masih bisa memberinya uang yang banyak.”

“Mereka?” tanya Donghae dan Jekyo bersamaan.

Kyuhyun mengangguk senang seraya mengusap pelan perut Jihan yang masih rata, “Usianya baru 2 bulan.”

“2 BULAN?” Pekik Donghae dan Jekyo. Jihan mengangguk malu seraya menatap Donghae dan Jekyo yang terlihat begitu kaget.

“B-b-b-bagaimana bisa?” tanya Jekyo spontan, masih terlihat kaget.

“Kyuhyun Oppa yang memaksaku sebelum berangkat ke Toronto. Dia bilang, ini sebagai pengikat agar aku tidak lari dengan pria lain selama di Toronto,” gerutu Jihan.

“Ya! Kalau kau tidak mau semua ini juga tidak akan terjadi,” ketus Kyuhyun mulai kesal, merasa disudutkan oleh isterinya sendiri.

“Apa? Jelas-jelas aku sudah menolaknya tapi kau tetap memaksa,” bantah Jihan.

“Aku tidak memaksamu. Itu hanya sebuah tawaran.” Kyuhyun menurunkan Donghyun dari gendongannya kemudian menggulung lengan jas putihnya. Mereka berhadapan, saling menatap tajam dan berkacak pinggang.

“Apanya yang tidak memaksa? Jelas-jelas kau menggodaku setiap hari.”

“Aku tidak pernah menyuruhmu untuk tergoda.”

Donghae dan Jekyo menghela napas dalam, melihat pasangan tersebut dengan jengah kemudian menggendong Donghyun dan pergi untuk mengisi perut mereka yang sengaja dikosongkan sejak dari rumah.

“Anggap saja ini tindakan preventive,” sahut Kyuhyun lagi.

“Apa maksudmu?” Jihan mengernyit heran.

“M-maksudku…” Kyuhyun tergagap kemudian menggaruk tengkuknya salah tingkah saat mendapati tatapan tajan Jihan padanya.

“Yaa… aku hanya berjaga-jaga saja. Cukup sekali aku kehilangan orang yang kucintai dan sekarang aku tak mau mengalaminya lagi.” Jihan terdiam seketika mendengar penuturan Kyuhyun.

“Aku tidak mau kehilangan orang yang kucintai, terlebih orang itu sangat mencintaiku, lebih dari yang selama ini kuberikan padanya.”

Mata Kyuhyun terbelalak saat Jihan memeluknya tiba-tiba. Sejurus kemudian, Kyuhyun membalas pelukan isterinya. Mengusap lembut punggung Jihan dan mengecup puncak kepalanya.

“Terima kasih sudah bertahan untukku.” Jihan tertawa dalam dekapan Kyuhyun.
“Jangan pernah berniat untuk meninggalkanku, Han Jihan.”
Gadis itu mengangguk yakin seraya mengeratkan pelukannya pada Kyuhyun.

END

AN:

Ini sebenernya FF request-an temennya mimin. Jadi ceritanya aku sesuaikan sama keinginannya dia. Cerita ini berfokus sama kehidupan Dongha-Jekyo sementara Kyuhyun-Jihan sengaja aku bikin lebih minor.
Semoga suka yaa. Don’t forget to always leave ur comment. ^^

Alurnya kecepeten gak sih? Mohon sarannya.

 

 

46 thoughts on “[One Shot] Wrongly Given Love

  1. aku kira ini chapter.
    aku harap ff selanjutnya lebih bagus. terutama di penulisan.
    seperti di cerita yg A Home isn’t a house, penulisannya udah bagus.

  2. Woohoo suka bgt sama ff ini! Daebak!!
    Tp knp Kyuppa n Jihan nikahnya hrs lama bgt~ hehe
    Ini lg si Kyuppa pakai menghamili Jihan dulu segala, padahal bentar lg jg nikah! kkk
    Donghae oppa kasihan diawalnya, tp dgn kesabarannya akhirnya dia menerima hasil yg setimpal pula :’) Haeppa terlalu baik u/ disakiti~~~~

    Keep writing n fighting ne!! ^^

  3. kece thor,,,
    feel.na dpt bnget aq suka smw karya.mu aplgi yg reset,,,
    baru pertama komen habis.na baru nemu wp qm biasa.na aq baca d FB,,,

  4. donghae yg nggak pernah berhenti dan selalu mencintai jaekyo …salut sama donghae disini… kyuhyun terlalu terobsesi dg jaekyo. suka sama ff ini,feelny dapet dan tata bahasanya sudah cukup bagus ^_^

  5. Yuhu kyuhyun protective bgt sih smpe2 mnghamili jihan dulu buat ikatan
    Kyu tkut khlngan org yang dicintainya utk kedua kalinya
    Ahirnya punya pngikat jg sm jekyo
    Keep spirit thor buat next ff nya

  6. ceritanya bagus banget aku suka. author juga nulisnya keren. ga bertele tele dan setiap kata katanya oke.
    btw author aku juga masih setia nungguin reset loh. kapan dilanjutin?

  7. Ah,,, happy ending!!
    Puas banget sama endingx…
    Dan FF banyk mmberi pelajaran..
    Dn emang sudah spantasx… Endingx sperti ini….

  8. donghae oppa daebakk…./
    tapi kenapa seneng ya pas ngeliat donghae oppa tersakiti
    #plakkdikejarelfisy :v
    tapi aku suka sama kesabaran y oppa….🙂

  9. aku yg kemarin di twitter itu lhoo kasay ^^ semakin suka aja nih sama tulisannya keren bgt penyampainnya juga ngena bgt buat si pembaca ^^ pokonya good job (y)

  10. hai, salam kenal. aku reader bru dsini🙂
    Pertama bc ff kamu yg reset di fp sjff, tp sampe skrg blum dlanjut. dan tnyata km punya blog juga🙂
    aku suka jalan crita di ff ini. ijin bc ff km yg lain ya??🙂
    tp maaf ga bs lgsg komen. ol di hp jd agak ribet😦

  11. aaaaa sequeeeel ㅠㅠ
    ini diawal sesaaaak bgt di akhirnya romantis pake bangetttt >_<

    pengen liat kehidupan rumah tangganya si Jihan-Kyuhyun ㅜㅜ

    sequel nee eonnie? ㅋㅋㅋ

  12. Aaahhhhh suka peran Donghae <3 nangis masa~ huhuhu
    Love this FF. Fighting thor!! Buat ff yg lebih mengarukan lagi /?.kkk

  13. hello.. salam kenal reader baru nie..
    pertama aku kshn bgt mpe mewek klo liad nasib hae n jihan,,”kenapa” itu sie pertanyaan yg ada diotak udangku ini.. kenapa hrs menikah klo ada orang lain yg disayang,,kenapa aku hrs sayang dia pdhl dia sudah punya orang yang dia sayang,,kenapa aku msh bertahan setelah smwnya.. kenapa dan kenapa,,huaaaa..
    yang kedua aku msh binggung alasan hae menikah jee,,dijodohkan or apa??
    but,,smwnya keren n menguras emosiku apa lagi karakter hae disini.. msh dah boleh baca..

  14. Inti’a adalah,Kita harus menerima garis takdir yg sudah dituliskan oleh tuhan.

    Sumpah Eonn, Aku smpe nangis baca’a. Banyak banget makna yg bisa dipetik dri FFmu ini.
    Awal’a sempet benci sma sikap’a Jekyo dan Kyuhyun.
    Dan salut sma kesabaran’a Donghae dan Jihan.
    Tapi,setelah dipart akhir itu,jd suka sma sifat’a Jekyo yg akhir’a memilih Donghae sbg takdir’a. Dan melepaskan Kyuhyun untuk Jihan,Gadis yg jauh lebih mencintai Kyuhyun dri pada mencintai diri’a sndri.

    Dan ngakak wktu baca Epilog’a.
    Kok bisa’a Kyu sma Jihan melakukan ‘itu’ sblm menikah ??
    Smpe2 usia kandungan’a sdh 2 bulan ??
    Keren tuh Kyu.
    Sekarang FF yg Amalia Eonni buat,hampir kebanyakan Rate’a PG-17.
    Kya’a jadi donk nih ‘KONSISTEN JADI AUTOR F NC’ ???
    Hehehehe :p
    Visssss ^^;;

  15. Salam kenal, saya readers baru d sini. Jujur, awalnya aku sempet nggk suka sama karakter Jekyo. Terlalu serakah *menurutku*. Endingnya aku suka. Dan makna dari cerita ini juga tersirat banget. Boleh ya blog ini menjadi blog langganan ku..? Boleh ya…

  16. astagaaaaaaaaa *-* gatau mau komen gimana lagi unn… serius bikin nyesek baca ini. tapi syukurlah mereka happy ending ;;; huaa

  17. Ini angstnya dapet bgt.. Tp msh ada pertanyaan dalam kepalaku,, kenapa Jekyo malah memilih menikah dg donghae? Ada before storynya ga nih?

    Aq jg msh penasaran sm ceritanya Jihan Kyuhyun,, gmana sih perjuangannya Jihan buat naklukin ht Kyuhyun..

  18. daebakk.. aku suka, ya walaupun awalnya nyesek. tapi happy ending😀
    lega banget pas akhirnya jaekyo mutusin milih donghae. dan yaampun Kyuhyun kebiasaan gak bisa nahan diri, udah 2 bulan kan.. /what???/ :p
    aku suka ff nya..

  19. waktu baca yg ini, kyknya semua rasa ada..
    sakit hati, kecewa, kesel, kasian, dan salut.. bener2 komplit..
    salut loh sm sabar dan tabahnya hae sm jihan..
    tpi ya emg, sabarnya org ada batesnya.. utg jaekyo cepet sadar sm apa yg dia lakuien, dan akhirnya mutusin bwt sm donghae..
    sempet mikir, ini bkalan sad ending buat donghae sm jihan, tp seneng akhirnya mereka happy end..
    banyak makna yg aku tangkep dr ff ini, alurnya pas.. bahasa yg dipake simple, ga berbelit2.. pokoknya semuanya sesuai deh tempatnya, ga kurang, ga lebih..
    author jjang..

  20. awaL”nya bikin aKu nyesek…
    Apa lagi am Donghae, sbar bngett nungGu istrinya buat nrima dia sbgai Suamii…

    Ugh…
    Tp aKhirnya terlahir juGa Donghyun…

  21. Ah greget banget sama jekyo dan kyu gila mereka menjalin hubungan yg terlarang-.- untung aja jekyo segera sadar huh harusnya jihan pergi aja dr kehidupan kyu ah ngeselin😦

  22. Cerita’a kerenn .. dongahe mencintai jekyo walaupun tau jekyo masih mencintain kyuhyun ..
    N akhir’a jekyo sadar karna kerelaan’a jihan untuk melepas kyuhyun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s