[Vignette] Countdown

 

Title                 : Countdown
Author             : Valuable94
Casts                : Lee Jinki (SHINee), Song Hyo In (OC)
Genre              : Romance, Sad
Length             : Vignette/1,041 words
Rate                 : PG-15
Disclaimer       : I don’t own Lee Jinki. OOC, This story and OC are mine. No Plagiarism.

countdown1

Happy reading!

Hyo In POV

 

December, 31st 2013
11.45 pm KST

TIGA

Hidup, mati, dan hidup kembali.
Satu proses kehidupan yang pasti akan dilalui setiap manusia.
Kau, hidup dalam pandangan dan pikiranku untuk mati dan menghilang dari pandanganku  namun tetap hidup dalam pikiran dan benakku.

 

January, 1st 2013
00.01 am KST

Happy new year!!!”

Gerakan tanganku saat mengucek mata tertahan sejenak. Laki-laki di depanku ini membuat bibirku melongo cukup lama. Merentangkan kedua tangannya seraya memasang senyum riang dengan hiasan mata segaris.

Mata itu, membuat senyumku terkembang otomatis. Menumbuhkan beribu bunga di hati. Lee Jinki, kau terlalu mempesona.

Duar! Duar! Duar!

Percikan api berwarna-warni menghiasi langit yang mendung namun tak menurunkan salju setetes pun

Suara gaduh itu membuat ayah dan ibu berlari menghampiriku, ikut menyaksikan kemeriahan yang lebih seperti kegaduhan akibat ulah laki-laki itu. Aku tertawa lepas melihat ayah dan ibu menutup kedua telinga mereka seraya menggerutu kesal.

YA! Jinki-ya, geumanhaeyo! Ini sudah malam,” Teriak ayah ditengah suara gemuruh kembang api.

Jeseonghaeyo, Abeonim.” Ia menunduk sesaat namun kembali menyalakan kembang apinya.

“Chagi-ya! Kemarilah!”

Aish, bocah itu,” Gerutu ayah cukup keras.

Tanpa komando untuk kedua kalinya aku melesat ke arahnya, tanpa mengindahkan teriakan ayah yang melarangku untuk dekat-dekat dengan laki-laki yang membawa api warna-warni itu.

Oppa, berikan aku satu,” Teriakku girang dan mendapat sambutan riang dari Jinki Oppa.

Kami memegangi kembang api itu bersama, berteriak bersama, membiarkan ayah dan ibu hanya memandangi kami yang terlalu asyik dengan dunia kami sendiri.

“Yaahh, habis,” Gerutuku seraya memandangi Jinki Oppa yang hanya tersenyum lembut padaku.

“Itu tandanya kau harus tidur lagi.”

Bibirku semakin mengerucut saat ia mengacak puncak kepalaku kemudian mendorong tubuhku untuk segera masuk rumah, disambut ayah dan ibu tanpa kata. Aku kembali menoleh ke belakang, tepat di ambang pintu. Ia melambaikan tangan kanannya pelan, menggumamkan kata dari bibir tipisnya.

Jalja.”

Aku hanya tersenyum seraya mengangguk. Membalas lambaian tangannya untuk kemudian kembali memalingkan pandangan darinya.

 

December, 31st 2013
11.50 pm KST

DUA

Dua hal yang aku tahu.
Mencintai dan mengerti dirimu.

Cukup.

 

May, 15th 2013
09.00 am KST

“Lusa aku akan berangkat lagi,”

Pernyataan pria di depanku ini membuatku berhenti menyendokkan vanilla ice cream-ku lalu menatap ia tajam sementara yang kutatap hanya terdiam dengan pandangan datar. Aku mendengus sesaat kemudian menyuapkan beberapa sendok ice cream itu hingga membuat mulutku penuh. Gigiku terasa ngilu, tapi hatiku lebih ngilu daripada ini. Kutelan tumpukan ice cream itu yang berganti membekukan tenggorokanku. Ice cream itu terasa mencengkeram paru-paruku dengan dinginnya yang menyesakkan.

Kuhirup oksigen dalam, menyalurkannya ke otak untuk sekedar mendinginkan pusat sarafku kemudian menghembuskannya pelan.

“Sepertinya aku baru melihatmu kemarin setelah 4 bulan tidak bertemu denganku.”

“Dua hari ini aku ingin menghabiskan waktu denganmu,” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dariku.

“Aku hanya berharap kau bisa pulang tanggal 14 Desember nanti.”

Aku mengatakan itu sekedar untuk mengingatkan saja. Kuharap jadwal pelayarannya mengijinkan calon suami super sibukku ini untuk sekedar bertukar cincin denganku.

Ia menghela napas dalam, sama seperti yang kulakukan sebelumnya. “Akan kuusahakan.”

Kupejamkan mataku saat tangan lembutnya membelai telapak tanganku yang terkepal di atas meja. Mengendurkannya dengan perlahan hingga aku mau menyambut usapan lembutnya. Saling menggenggam, menguatkan.

OK. Ini sudah sering terjadi.

“Kuharap kau  benar-benar berusaha untuk itu.”

Ia beralih di sampingku. Mendekap tubuhku erat, mengecupi bahu dan rambutku.

“Aku mencintaimu,” Lirihnya menghangatkan.

 

December, 31st 2013
11.55 pm KST

SATU

Bukan kau atau aku.
Tapi kita.

 

December, 14th 2013
07.00 pm KST

“Buang saja semuanya!”

Terkesan dingin. Biarlah. Karena hatiku terasa lebih dingin daripada itu. Beku, lebih dari 50 derajat di bawah nol.

Laki-laki sialan! Kurang ajar!
Kau laki-laki paling brengsek yang pernah kukenal.
Aku membencimu.

Kugenggam erat ransel hitamnya, memeluk benda tersebut erat, menyalurkan segala perih di hati, satu tanganku mencengkeraman erat setiap sisi dress yang berhiaskan payet putih gading, membiarkan sisi tajamnya melukai buku jariku. Sementara yang lain, kubiarkan menggenggam posesif kain parasit ransel tersebut.

Hanya ini yang tersisa dari Jinki-ku. Calon suamiku.

Kualihkan pandanganku ke samping, menatap calon ibu mertuaku yang tengah terisak, menangisi lembaran persegi panjang kecil dengan gambar sang putra tunggal. Tak kuhiraukan semuanya, orang-orang yang berlalu-lalang membereskan segala property di rumahku. Mereka bekerja, namun tetap diam. Hanya raungan emosi dan tangis yang meluap dari wanita yang membuat rumah ini ramai.

Ia kehilangan putra satu-satunya.

Tertelan samudera yang begitu ia cintai,

Dan aku, kehilangan cinta satu-satunya,

Orang yang begitu kucintai,

 

December, 31st 2013
11.59 pm KST

Kupejamkan mata pelan, perlahan mulai kuayunkan kedua tanganku, merasai dingin angin yang membawa salju di malam terakhir Desember ini.

Beberapa saat aku terhenyak, meski tak membuka mata, aku tahu siapa dia.

Dia yang tengah memeluk erat tubuhku, melingkupi punggunggku yang hanya berbalut cardigan tipis, memberikan kehangatan yang belum lama hilang. Membuat sejumput senyum ini kembali terukir, meski samar, bahagia tak bisa kupungkiri untuk hal ini.

Aku bahagia, meski begini.

Perlahan tangannya yang semula berada di perutku kini mulai membelai pergelangan tanganku yang masih mengayun sama pelannya. Meraih kedua tanganku untuk kemudian memelukku kembali.

“Jangan buka matamu!” Aku mengangguk mengerti, masih terlalu asyik menikmati hangat peluknya.

Countdown, Honey!”

“3, 2, 1.”

Happy new year!”

Bisikkan itu seolah kembali menghangatkan tubuhku, lebih hangat dari sebelumnya, lebih nyaman dari pelukan sebelumnya.

Jinki-ku.

“Aku mencintaimu.” Ucapnya menggelitik tepat di telinga kiriku.

Tawa itu membuatku larut, saat kilat kembang api itu menyilaukan korneaku yang masih tertutup kelopak mata dengan rapi. Dan hangat itu kian terasa melingkupi tubuhku layaknya selimut.

Kubuka pelan kedua mataku. Aku ingin melihat cintaku lagi.

Oppa.

Ia hanya tersenyum kemudian menuntunku untuk meninggalkan balkon kamar. Membaringkanku di atas ranjang kemudian duduk di sampingku. Menatapku dengan mata satu garisnya.

“Hanya ada satu laki-laki yang berada di hatiku.”

“Aku tahu.”

Kuusap tangannya yang masih setia bertengger di pipiku. Ia tersenyum lagi. “Dan hanya ada satu laki-laki yang akan menjemputmu di altar nanti.”

“Kau.”

“Bukan.”

“Kenapa? Kau tidak mencintaiku lagi?”

“Aku mencintaimu tapi aku tak bisa menemanimu.”

Aku terdiam. Ingin menyangkal semua kenyataannya namun logikaku melarang itu.

“Berjanjilah untuk hidup dengan baik.”

Aku mengangguk dan ia tersenyum seraya mengusap lembut puncak kepalaku.

Sudah saatnya dia pergi dan meraih bahagianya sendiri.

“Aku juga mencintaimu,” Seruku cepat dan kini ia menampakkan senyumannya kembali.

Jinki-ku.

Jalja.” Kututup mataku pelan. Membiarkan ia pergi bersama hangat yang kian beranjak dari sisiku.

 

Aku terlelap, terlelap begitu mudah karenanya.
Aku ikhlas, begitu mudah ikhlas karenanya.

Sekalipun ia menghilang dari pandangan.
Namun ia takkan hilang dari kenangan.

Satu kenangan indah kita.

Satu.

Jinki-ku.

Jalja.

 

FIN

Gak tau ini saya kesurupan apa. Tiba-tiba kepikiran nulis yang beginian. Harusnya sih pas new year eve itu seneng-seneng, tapi bawaan hati lagi mellow. Wkwkwkwk

Happy new year, yeoreobeun!!!!

Gak tau ini saya kesurupan apa. Tiba-tiba kepikiran nulis yang beginian. Harusnya sih pas new year eve itu seneng-seneng, tapi bawaan hati lagi mellow. Wkwkwkwk

Happy new year, yeoreobeun!!!!

4 thoughts on “[Vignette] Countdown

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s