[One Shot] Sucks Prince

Title                 : Sucks Prince

Author             : Valuable94

Genre              : Romance, Comedy, Fantasy, Friendship, School Life

Casts               : Lee Soo Young (OC)/ Shim Changmin (DBSK)

Length             : One Shot

Disclaimer       : I don’t own those casts. OOC. This plot is mine. Sedikit inspirasi dari beberapa cerita dongengnya dan drama. No Plagiarism.

 

Happy Reading!

 

 

Soo Young POV

Ada beberapa tipe pangeran di dunia ini. Pertama, pangeran tampan yang baik hati. Kedua, pangeran tampan yang bisa membangunkan Sleeping Beauty. Ketiga, pangeran tampan baik hati yang berubah menjadi kodok karena dikutuk oleh penyihir. Keempat, pangeran tampan yang baik hati dan tak tahu diri karena membiarkan putri duyung berakhir menjadi buih. Dan kelima, pangeran tampan yang angkuh kemudian berubah menjadi jelek karena dikutuk oleh penyihir. Tapi kau?

***

February, 24th 2013

8 pm

 

Aku menatap pria di depanku ini dengan jengah, kakiku sudah mendarat di dadanya sedari tadi, tanganku memegang kedua tangannya yang mencoba untuk mendorong tubuhku lagi hingga punggungku bertemu dengan dinding.

“Komohon bantu aku,” Lirihnya memohon.

YA! Jangan mendekat!” Seruku seraya menekan kembali kedua kakiku yang masih berada di dadanya.

Ia berhenti sejenak kemudian perlahan mengendurkan dorongan tangannya padaku, berlutut seraya menunduk dalam dan diam. Aku menatapnya takut dengan napas yang masih tersengal dan sisa-sisa debaran jantung akibat ulahnya beberapa menit yang lalu. Ia mendekap tubuhku tiba-tiba, semakin memojokkanku di dinding gang dekat rumah. Satu hal lagi yang membuatku ketakutan ialah… dia memintaku untuk menciumnya.

Ini gila.

Kupikir pria ini juga gila. Dia masih memakai seragam sekolah, seragam yang sama dengan milikku namun aku tak pernah merasa melihat namhaksaeng sepertinya di sekolahku. Bayangkan saja apa yang dipikirkan gadis kelas 2 SMA sepertiku saat mendapatkan perlakuan seperti itu.

Maniak. Aku ingin sekali menendang selangkangannya.

Kumundurkan tubuhku berusaha menjauhinya yang kini nampak menyerah setelah pergulatan kami yang cukup lama. Sial, seragamku kotor dan aku belum mencuci pakaian gantiku.

Ia mulai menatapku, dengan wajah sayu yang tertutupi warna orange daging salmon. Mungkin jika dia benar-benar salmon aku akan melahapnya, tapi sayang, wajahnya jadi mengerikan, bahkan aku lebih memilih mencium salmon dari pada dia.

“Kumohon sekali ini saja, aku tidak bisa merendahkan diriku lagi.” Kalimat terakhirnya membuatku terhenyak, kalimat yang pernah  kudengar dari seorang pangeran tampan di sekolahku.

***

February, 21st 2013

Gyeonggi Senior High School
10 am

 

“Akhir pekan ini kau mau kemana?”

“Akuuu… emm… aku di rumah saja,” Jawabku lesu dan di jawab dengan dengusan temanku tak setuju.

“Ayolah! Kau tidak bisa melewatkan festival musim semi tahun ini,” Gerutu Yi Seul seraya melahap makan siangnya.

Aku hanya mengedikkan bahu, menunduk, memandangi nasi dan kari-ku yang sudah mendingin karena terlalu lama kudiamkan.

“Hey! Lihat!” Aku mengerjap cepat saat ia memukul-mukulkan sumpitnya di dahiku.

Mwo?” Jawabku lesu tanpa menoleh ke arahnya.

Geugo, pangeranmu datang,”

Nugu?” Tanyaku penasaran .

“Changmin sunbae,” Bisiknya di dekat telingaku.

Aku terhenyak karena pernyataannya, mataku tak bisa berdekip seketika hanya karena mendengar nama Changmin sunbae saja. Oh tidak! Aku bisa mati karena kehabisan air mata.

Eodi?” Tanyaku semangat seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin.

Sejenak dadaku berdebar keras dan darahku serasa berdesir lembut memenuhi pipi, melihat pangeran tampan nan dingin berjalan dengan rambut yang terayun oleh angin sepoi-sepoi. Ouh! Kurasa aku terlalu mendramatisir bagian ini, tapi aku tak pernah mendramatisir ketampanan pangeran ini. Dia, Shim Changmin, pangeran tampan seperti Domyoji Tsukasa, Goo Jun Pyo, dan Tao Ming Tse lalu… Oh! Aku sebenarnya tak suka mengatakan bagian ini, pria itu selalu saja di kelilingi para yeohaksaeng yang cantik.

Aku menghela napas kecewa kemudian kembali duduk seraya memangku daguku lesu. Ini yang membuatku suka sekaligus benci. Selalu saja seperti ini, seorang Makino Tsukushi sepertiku tak akan mungkin bisa mendapatkan pangeran tampan sepertinya. Bagaikan kambing yang merindukan kelapa. Aku tak bisa memanjatnya dan hanya bisa menunggu sampai kelapa itu jatuh saat sudah tua. Tapi sangat disayangkan lagi karena kambing tidak makan kelapa.

Ya Tuhan.

“Soo Young-ah!” Lamunanku terinterupsi. Aku menoleh seketika saat kudengar suara Han Songsaengnin memanggilku. Huh! Pasti dia mau memintaku untuk mengoreksi tugas sejarah Korea lagi.

Kupalingkan wajahku pelan, bermaksud untuk menghindari panggilan guru muda yang gemar sekali meminta bantuanku hanya sekedar untuk mengoreksi saja. “Gawat!” Yi seul yang berada di sampingku pun ikut panik. Kututup wajah dengan komik Meteor Garden kesukaanku kemudian kami berjalan beriringan untuk segera menjauhinya dengan tergesa. Yi seul yang memeluk jus jeruknya yang masih agak penuh itu berjalan di belakangku sekedar untuk menutupi tubuhku sementara aku memilih untuk berjalan di depannya, lebih cepat, secepat yang aku bisa hingga akhirnya teriakan seseorang yang begitu kuhapal menghentikan usahaku bersembunyi.

“Arrgghh!!!” Teriaknya membuat seluruh penghuni kantin memusatkan perhatian padanya, termasuk aku. Pangeran itu tengah memandangi sepatunya yang… emm… kurasa ada seseorang yang baru saja menumpahkan jusnya di sana. Aku ikut tertegun saat Yi Seul masih berdiri dengan posisi setengah membungkuk tepat di hadapan Shim Changmin. Seperti saat kami melarikan diri tadi, dengan jus yang tinggal setengah di genggamannya.

Kutepuk dahiku keras. “Apa yang kau lakukan pada sepatuku, huh?” Geram Changmin sunbae.

Yi Seul nampak tertunduk dalam dengan tubuh ketakutan. “Jeoseonghaeyo, sunbaenim.” Lirihnya seraya sesekali melirikku yang kini tak bisa berbuat apa-apa. Hanya melihatnya saja. Well, ini pertama kalinya aku melihat Changmin sunbae berteriak, tapi dugaanku juga benar, kebanyakan pangeran tampan dan kaya biasanya sombong. Dan sayangnya aku menyukai tipe pria sepertinya.

Ia  menggeram lagi, pasti sebentar lagi aku akan mengetahui berapa harga sepatu tuan muda Shim Changmin tersebut.

“Permintaan maafmu tidak akan bisa mengganti sepatu 3000 dollar-ku,” Changmin sunbae mengibaskan sepatunya keras dengan wajah merah padam. Bisa  kulihat raut ketakutan di wajah Yi Seul semakin jelas. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan.

Terpaksa, kalau saja bukan sahabatku yang sedang terkena masalah, aku tidak mungkin mau melakukan ini.

Kusambar kotak tissue di meja kantin kemudian berdiri di antara Yi Seul dan Changmin sunbae yang masih geram. “Jeoseonghamnida, seunbaenim, biar aku yang membersihkan sepatumu.” Aku berlutut di depannya seraya mengulurkan tissue untuk membersihkan sepatu 3000 dollar-nya, namun belum sempat tissue itu menyentuhnya, Changmin sunbae memundurkan langkahnya.

Tissue itu hanya akan membuat sepatuku semakin jelek,” Kudongakkan wajahku menatap keangkuhannya kemudian berdiri tanpa mengalihkan pandanganku.

Entah mengapa, di saat aku mengetahui keburukan sifatnya, justru pesonanya semakin tak bisa kutolak. Wajahku terasa memanas dan jantungku berdebar lagi. Lebih cepat dari sebelumnya karena aku berada tepat di depannya. Meski bukan adegan romantis, tapi tetap saja ada satu kenyataan yang tak bisa kupungkiri. Aku menyukai pangeran sombong ini.

“A… aku akan menggantinya,” Ujarku ragu. Ragu sepenuhnya, ragu tentang kemampuanku mendapatkan 3000 dollar untuk mengganti sepatunya.

Aku mendengar dengusannya. Sialan. Bagaimana bisa aku benci sekaligus menyukai pria ini.

“Kau mau menggantinya?” Tanyanya sangsi. Aku mengangguk mantap sementara Yi Seul masih terdiam di belakangku. Perempuan ini memang tak bisa berbuat apapun saat ia ketakutan.

“Aku akan menyicilnya,”

“aku masih bisa bekerja paruh waktu, gajinya akan aku tabung untuk menyicil sepatumu,”

“Tsk, tidak usah memaksakan diri, aku tidak mau merendahkan diriku hanya untuk menunggumu mengumpulkan 3000 dollar,” Sialan. Sudah untung aku mau menyicilnya.

Kuhembuskan napasku pelan berusaha mengontrol emosi dan detak jantungku yang makin tak beraturan. Namun, tiba-tiba saja napasku tercekat saat wajah tampan dengan hidung mancung, bibir tipis dan rahang tegas itu berada sekitar 2cm di depan wajahku. Ok, harusnya aku senang jika saja kami tidak berada dalam suatu masalah ‘jus tumpah di sepatu’.

Kurasakan kembali panas di wajahku saat ia meneliti tiap lekuknya, memperhatikanku seksama mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ya Tuhan, aku ingin sekali memeluknya. Tapi kenapa pria ini begitu menyebalkan saat ia menjauh dari tubuhku kemudian melipat tangan di depan dada seraya menggeleng pelan.

“Tidak, itu hanya buang-buang waktu saja. Bahkan menjual tubuhmu pun tidak akan bisa membayar sepatuku.” Dadaku bergemuruh lagi. Bukan karena terpesona, tapi karena marah. Apa dia baru saja menghinaku? Ini keterlaluan. Dasar laki-laki kurang ajar.

“Lihatlah pipi bulatmu itu, gadis pendek, betis tidak seksi, rambut bergelombang yang tidak indah sama sekali dan wajahmu yang seperti salmon itu membu…”

Byuurr.

Tanpa berpikir panjang lagi kusiramkan sisa jus jeruk dari genggaman Yi Seul membasahi wajahnya dan seketika itu juga ia menghentikan mulut iblisnya. Rasakan!

Kudengar beberapa haksaeng yang tengah melihat tontonan gratis ini terpekik kaget melihat kenekatanku. Aku tidak peduli! Yang jelas aku memang harus memberinya pelajaran karena telah menghinaku. Apa kalian tahu bagaimana rasanya dihina oleh orang yang kau sukai. Sangat menyakitkan. Dan itu yang kurasakan saat ini.

YA!” Bentaknya.

Mwo?” Tanyaku datar tanpa merasa bersalah.

“KAU!”

“Kenapa, huh? Kau mau menghinaku lagi? Apa, huh?” Tantangku yang membuatnya semakin geram.

“Memangnya kenapa kalau aku seorang gadis pendek berpipi bulat dengan rambut bergelombang yang tidak indah dan wajah seperti salmon. Ada masalah denganmu tuan Shim Changmin?” Tantangku lagi penuh penekanan.

“Berani-beraninya kau…”

“Apa, huh? Kau pikir gadis sepertiku ini tak bisa melawanmu? Wake up, Sucks Prince! Ini bukan drama Meteor Garden. Kau, aku menyesal pernah menyukai tiang listrik sepertimu,” Kuhela napasku pelan, menenangkan otak dan hatiku yang masih sangat sakit hati.

 

“Huufftt! Kalau saja ada penyihir yang mendengarkan doa wanita teraniaya sepertiku, aku ingin kau merasakan bagaimana rasanya dihina dan direndahkan sepertiku hingga kau mau MERENDAHKAN DIRIMU untuk meminta maaf dan ciuman penyelemat padaku,” Ini menggelikan. Mungkin aku terlau banyak membacakan cerita tuan Grimm untuk adikku akhir-akhir ini.

TENG! TENG!

Kami semua menoleh ke saat lonceng sekolah tanda istirahat selesai. Kualihkan pandanganku pada Changmin Sunbae yang juga ikut terpaku di depanku.

Aku melengos melewatinya bersama Yi Seul dan beberapa gerombolan murid yang mulai membubarkan diri dari kantin untuk segera kembali ke kelas. Ya Tuhan, tiba-tiba hatiku berdebar kembali memikirkan apa yang akan terjadi padaku besok.

***

February, 24th 2013

 

“K kau… Shim Changmin?” Tanyaku sangsi seraya mencoba meraih wajahnya yang, aneh, kurasa.

3 hari tidak bertemu dengannya di sekolah, kukira pria ini sedang melancong di negara orang dengan kapal pesiar pribadinya. Tapi kurasa itu salah, mungkin saja pria ini baru saja mengalami kegagalan operasi plastik. Wajahnya yang berubah orange kemerahan seperti salmon, pipi tirusnya jadi bulat, dan satu lagi, rambut lurus hitamnya yang pendek berubah bergelombang dan panjang seperti rambutku. Yah, seperti… rambutku?

Aku kembali tertegun saat kulihat ia mengangguk sangat pelan. OMO!

“Semua ini karena kau,” Tudingnya.

Naega wae?”

“Ini karena kutukanmu di kantin kemarin lusa,” Nadanya meninggi. Kurasa dia tengah kesal. Tapi kenapa?

“Pfftt, bagaimana mungkin?” Tanyaku seraya menahan tawa.

“Awalnya aku juga tidak percaya, tapi ini memang kenyataannya.” Aku berpikir sejenak. Apa mungkin memang ada penyihir saat aku mengucapkan kata-kata aneh itu?

Kugelengkan kepalaku keras, menghilangkan segala imajinasi anehku akhir-akhir ini. “Ya! Ini tahun 2013 Changmin-ssi, kau masih percaya dengan sihir?” Tanyaku tak percaya dan ia kembali mendesah kesal seraya menggosok muka anehnya kasar.

“Em,” Changmin mengangguk yakin. “Aku sudah ke dokter beberapa hari ini, dan hasilnya tetap sama.”

“Apa?”

“Tidak ada yang salah dengan tubuhku,”

“Lalu kenapa kau masih memintaku untuk menciummu kalau tidak terjadi apa-apa denganmu,”

“Untuk mematahkan sihirnya,”

“Hah? Kau juga percaya hal itu?”

“Percaya tidak percaya, tapi itu yang kau katakan saat mengutukku,”

YA! Aku bukan penyihir,” Protesku tak terima. Masih berani menghinaku rupanya.

Changmin hanya mengedikkan bahunya. Kami sama-sama terdiam untuk beberapa saat.

“Jadi ini alasannya kau tidak masuk sekolah 3 hari ini?” Ia mengangguk.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?

“Tentu saja memintamu menciumku. Ini satu-satunya jalan,” Aku hanya terdiam mendengarkan jawabannya. Aku sedikit tak  menyukainya lagi, dia sudah membuatku sakit hati, tapi kenapa jantungku malah berdebar keras sekarang.

“Kenapa diam? Kau tidak mau menolongku?”

Aku tercekat saat Changmin mendekat ke arahku dengan jarak yang tidak jauh, bahkan tubuh kami sudah menempel sekarang.

Kutelan salivaku cepat kemudian mengalihkan pandangan dari tatapan tajamnya.

“Harusnya kau senang mendapat kesempatan menciumku. Bukankah kau menyukaiku?” Tepat sasaran, dan wajahku semakin memanas.

Aniyo. Aku sudah tidak menyukaimu lagi,” Bantahku.

“Baiklah, aku punya penawaran bagus untukmu, anggap saja ini semacam barter,”

Alisku terangkat sebelah. “Apa?”

“Aku tidak akan mengungkit masalah 3000 dollar-ku lagi asal kau mau menciumku, eottae?”

YA! Jadi kau menghargai ciumanku dengan 3000 dollar?” Sungutku.

“Oh, ayolah! Soo Young-ssi,” Ia berujar putus asa di depanku. Ya Tuhan, sejujurnya aku memang tidak begitu tega melihat mantan pria yang kusukai berubah aneh seperti ini.

“Ba baiklah,” jawabku akhirnya setelah berpikir cukup lama.

Ada secercah kebahagiaan di hatiku saat melihat binar matanya yang masih sama seperti saat ia masih tampan.

Jinjja?” Pekiknya girang. Aku mengangguk ragu.

“Kalau begitu tutup matamu sekarang!”

“Kenapa harus menutup mata?” Protesku.

Aish, kau teralu banyak bicara.”

Ya! Shim Ch hmmpptt…” Mataku terbelalak saat merasakan bibir lembutnya menyentuh bibirku. Untuk beberapa saat ia memang hanya menempelkannya saja, namun lama kelamaan mulai kurasakan adanya pergerakan di sana dan hal itu semakin lama membuat tubuhku lemas dan akhirnya mataku benar-benar terpejam dengan sendirinya. Jadi ini rasanya berciuman.

Beberapa saat kemudian kudorong dada Changmin dengan paksa karena oksigenku yang semakin menipis. Kami sama-sama terengah. Kemudian kupandangi tubuh Changmin yang anehnya tidak menunjukkan perubahan sama sekali.

“Tidak berubah,” Lirihku kecewa.

“Kenapa?” Tanyanya padaku seraya meraba wajahnya.

“Jangan bertanya padaku, aku juga tidak tahu,” Kudorong tubuhnya sekali lagi kemudian meninggalkannya.

“Tapi kau yang menyihirku,” Protesnya tak terima seraya menarik tubuhku kembali ke menghadapnya.

“Sudah kubilang aku bukan penyihir, dan kau! Urus saja urusanmu sendiri. Tugasku sudah selesai.”

Tak kuhiraukan lagi teriakannya yang memanggilku terus menerus. Ya Tuhan, hari ini benar-benar membuatku gila.

 

February, 25th 2013

Gyeonggi Senior High Scool
10 am

 

Yi Seul sampai di depan bangkuku dengan napas terengah. Aku menatapnya heran seraya menunggu gadis kutu buku ini mengucapkan sesuatu setelah napasnya tak lagi ngos-ngosan. Kukipasi wajahnya dengan buku tulis geografiku. Sesaat kemudian ia duduk di bangku depan mejaku seraya membenarkan letak kacamatanya.

Wae? Terjadi sesuatu?” Ia mengangguk cepat seraya menghela napas dalam.

“Changmin Sunbae,” Jawabnya sedikit terengah.

Aku mendengus. Aish, pria itu lagi.

“Kenapa dengannya?” Aku mencoba tak peduli.

“Kau harus ke kantin sekarang!”

YA!” Yi Seul tetap saja menggeretku keluar dari kelas meskipun aku memprotesnya. Ia terus saja memaksaku berlari mengikutinya ke arah kantin.

Beberapa saat kemudian kami sampi di koridor dekat kantin. Ada yang aneh di sana, mereka semua bergerombol seperti mengerubungi seseorang. Kuhentikan langkahku perlahan, begitupun Yi Seul yang mulai mengikutiku. Kami memperhatikan sosok yang selama ini menjadi pujaan kini tengah berjalan cepat menjauhi gerombolan para haksaeng yang tengah tertawa bahagia dengan tatapan sisnis mengikuti kemana Shim Changmin pergi. Ia menuju tangga sekolah yang menghubungkannya langsung dengan rooftop sekolah.

Aku dan Yi Seul saling melempar pandangan heran.

“Kita kembali ke kelas saja,” Ujarku lemah seraya berbalik meninggalkan Yi Seul.

“Tapi…” Kutarik tangan Yi Seul yang masih saja menolak untuk kembali ke kelas.

Sesampainya di kelas Yi Seul terus saja mencecariku dengan pertanyaan seputar Changmin. Ini membuatku merasa seakan akulah tersangka utamanya. Memang iya, tapi kan tidak sepenuhnya.

“Kau harus menghibur Changmin Sunbae,”

“Kenapa harus aku? Diakan punya banyak teman,”

“Kau lihat tadi, kan? Semua teman-temannya menjauhinya,”

“Kenapa kau jadi membelanya. Tidak ingat apa yang dia lakukan padamu kemarin lusa?”

“Itu beda cerita, memangnya kau tidak melihatnya seperti itu?”

“Tidak. Itu tidak ada hubungannya denganku,” Elakku seraya membuka kotak makan siangku.

“Dia seperti itu juga karena kau, wajahnya jadi aneh,”

“Kau pikir aku ini penyihir?” Sungutku semakin kesal.

“Aku tidak mengatakan itu.”

Aish. Aku tidak mau membahas Shim Changmin menyebalkan itu lagi.” Yi Seul terdiam mendengar sentakanku. Kututup kasar bekal makan siangku. Sial, Shim Changmin membuat orang lapar sepertiku tidak nafsu makan.

 

@Rooftop
5 pm

 

Aku bergegas naik ke rooftop lebih dulu dengan beberapa potong roti dan air mineral yang sengaja dibawa Yi Seul dari tokonya. Kami biasa menghabiskan waktu sebelum masuk waktu bimbingan di sini. Bertukar komik atau sekedar mendengarkan beberapa koleksi lagu di ipad-ku. Aku berjalan cepat menuju tempatku dan Yi Seul biasa menghabiskan waktu, namun langkahku terhenti saat kulihat sosok seorang pria tengan duduk di tempatku. Kudenguskan napas kasar. Shim Changmin.

Pelan, aku duduk di sebelahnya yang seketika itu juga langsung menoleh ke arahku. Hey! Biasa saja kalau melihatku.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Harusnya aku yang bertanya seperti itu, ini tempatku dan Yi Seul.” Ada rasa gugup dalam hatiku saat mengingat kembali kejadian semalam, tapi sepertinya pria ini biasa-biasa saja.

“Ini milik sekolah, jadi siapa saja boleh datang kemari,”

“Ya, kau benar,” Jawabku malas.

“Kau mau?” Changmin melirik roti yang kosodorkan padanya dengan sangsi.

“Tenang saja, ini roti buatan ayah Yi Seul, tidak beracun,” Changmin mendengus seraya tersenyum kecut, namun ia tetap mengambil roti itu.

Gomawo,” Aku hanya mengangguk seraya melahap rotiku sendiri.

Kuayunkan kedua kakiku pelan. Kami makan dengan tenang seraya menikmati senja yang beranjak pergi. Aku tersenyum samar seraya menutup mata saat angin sore menerpa tubuhku. Seperti terbang, di sini sangat menyenangkan saat lampu dari beberapa bangunan di bawah mulai menyala.

“Kau suka sekali di sini?” Aku mengangguk tanpa menolehnya.

“Kemana temanmu itu?”

“Dia sedang membantu Han Songsaengnim mengoreksi ulangan Sejarah, jadi aku menunggunya di sini,”

“Sudah berapa lama kalian berteman?”

Aku bergumam tak jelas seraya mengingat-ingatnya. “Kami berteman sejak SMP,” Kulihat Changmin mengangguk mengerti.

“Apa kau tidak bosan berteman dengannya? Maksudku, waktu 5 tahun bukan waktu yang sebentar, bukan?”

“Kurasa tidak, bahkan semakin lama kami berteman, semakin banyak hal yang bisa kuketahui hanya darinya. Selalu ada hal menarik yang bisa kau lakukan dengan temanmu sekalipun hal itu sudah menjadi rutinitas kalian, semacam hobi yang menyenangkan,”

“Seperti itukah rasanya?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Tanyaku penasaran.

Ani, aku hanya belum pernah merasakannya,” Aku semakin meengernyit heran. Ada nada semacam kerinduan di sana.

“Kulihat selama ini kau punya banyak teman,”

“Tapi tidak seperti kau dan temanmu,”

“Begitukah?” Changmin hanya menghela napas pelan kemudian meneguk air mineralnya.

“Kalau kau mau, kau bisa menjadi teman kami,” Apa tawaranku terdengar aneh? Kenapa dia menatapku seperti itu. Aku hanya merasa perlu menemaninya. Entah ini perasaan apa. Biasanya aku lebih memilih diam dan bersembunyi agar tetap tak terlihat olehnya.

“Apa aku baru saja mendengar seorang penyihir mengajak orang yang disihirnya untuk berteman?”

YA!” Changmin meringis pelan saat pukulanku mendarat tepat di kepalanya.

“Dasar hoobae tidak sopan,” Kujulurkan lidahku ke arahanya. Sementara Changmin hanya menggeleng heran. Dan aku terpana lagi, ketampanannya masih terpancar dibalik wajah salmonnya.

“Teman.” Kusambut jari kelingkingnya dengan senang hati.

 

***

 

March, 25th 2013

Seoul Park
8 pm

 

YA! YA! Sudah berapa kali kubilang padamu, pegang setirnya dengan kuat.

“Jangan berteriak terus! Kau membuatku semakin susah konsentrasi,”

Hatiku berdebar, bukan karena pesona Changmin, tapi karena sepeda yang kami naiki bergerak tak tentu arah. Berkali-laki aku berteriak memperingatkannya untuk mengendalikan setirnya dengan benar.

“Ya! Awas!” Aku berteriak lagi sementara Changmin masih saja mengayun sepedanya dengan kecepatan tinggi. Tak menghiraukan beberapa orang yang berjalan kaki di taman pagi ini.

“SHIM CHANGMIN TEKAN REMNYA!!!”

“REM? DIMANA?”

“DI TANGANMU BODOH,”

“TANGAN? TANGAN YANG MANA?”

“YANG KIRI! AARRGGHHH!!!”

“AAARRGGHH!!!”

“AAARRGGHH!!!”

BRUUKKK

Kami benar-benar jatuh. Aku meringis keras saat tubuhku terpelanting jauh dari sepeda sementara itu kulihat Changmin dan Yi Seul yang baru saja bangkit seraya memegangi bagian tubuh mereka yang sakit. Kurasa kami menabrak bangku yang diduduki Yi Seul.

Kulihat Changmin berlari tergopoh-gopoh ke arahku sementara Yi Seul mencoba membenarkan beberapa bagian sepeda yang terlihat bengkok.

Gwaenchana?” Aku tidak salah dengar, kan? Sepertinya Changmin benar-benar mengkhawatirkanku.

Aku hanya menggeleng seraya meringis. Sujurus kemudian Changmin menggendongku di depan dadanya, membawaku ke bangku yang tadi diduduki Yi Seul.

Eodi apa?” Tanya Changmin seraya meneliti seluruh tubuhku.

“Lututku,”

Changmin segera meniupi bagian lututku yang berdarah. Oh! Aku benar-benar merasa seperti seorang putri.

“Aku bawa obat,” Ujar Yi Seul seraya menyodorkan alkohol dan obat merah pada Changmin.

“Ternyata tidak semua pangeran tampan punya otak yang cemerlang,”

Ya! Apa maksudmu, penyihir?” Protes Changmin.

“Dia ingin mengatakan kalau sunbae termasuk pengeran yang tidak begitu pintar,”

“AW!” Pekikku keras saat Changmin menekan kapas alkohol itu pada lukaku.

“Itu benar, buktinya sudah 1 bulan aku mengajarimu naik sepeda kau bahkan tidak hapal letak remnya,”

“Soo Young benar, dan sayangnya pangeran tampan itu sekarang sudah tidak tampan lagi,” Aku terbahak mendengar celetukkan Yi Seul yang membuat wajah Changmin semakin memerah padam.

Aish, dasar gadis-gadis cerewet,” Gerutunya.

“Ma maaf sunbae,” Kini ganti aku dan Changmin yang tertawa saat melihat wajah ketakutan Yi Seul. Sampai sekarang ia masih belum terbiasa dengan kehadiran Changmin di antara kami.

“Aish, seharusnya sunbae yang meminta maaf,” Celetukku membuat gerakan tangannya terhenti. Ia tak mengatakan apapun untuk beberapa saat seraya tetap membersihkan luka di lututku.

“Ada perban?” Tanya Changmin setelah selesai membersihkan lukaku.

Yi Seul nampak mengobrak-abrik kotak p3k-nya.

“Sepertinya habis,” Sesal Yi Seul seraya membenarkan letak kaca mata persegi panjang di matanya.

“Akan kubelikan dulu. Yi Seul, kau jaga Soo Young di sini!” Yi Seul mengangguk kemudian duduk medekatiku selepas kepergian Changmin.

“Kau merasakan sesuatu akhir-akhir ini?” Ucapnya antusias.

“Emm, ya, kurasa begitu,”

“Apa?” Seru Yi Seul penasaran.

“Akhir-akhir ini aku sering naik darah karena Changmin, mungkin aku akan mendapatkan penuaan dini karena terlalu sering bermain dengannya.”

YA! Bukan itu maksudku,” Aku meringis pelan karena pukulan Yi Seul di kepalaku.

“Lalu apa?”

“Kurasa Sunbae mulai menyukaimu,”

“Pffftt,” Kututup mulutku yang hampir saja meletupkan tawa keras.

“Kenapa tertawa?” Geurutunya.

Are kidding me? Changmin tidak mungkin menyukaiku, kau tahu? Dia selalu memanggilku penyihir sejak kejadian bulan lalu.”

Aish, kau saja yang tidak peka. Dia selalu memperhatikanmu, aku tahu itu, setiap kali kita bersama, ada perbedaan bagaimana dia memperlakukanmu dan aku,” Kupikir itu karena Yi Seul sudah punya kekasih.

“Contohnya?” Aku mulai tertarik dengan topik ini.

“Saat terjatuh tadi, kau lihat, kan? Dia bahkan tidak memikirkanku yang jatuh dari bangku karen tabrakan kalian.” Aku mengangguk mengerti. Benarkah?

“Apa kau masih menyukainya?”

Tentu saja.

Tapi yang kulakukan hanya mengedikkan bahu. Sangat tidak etis jika wanita miskin sepertiku masih mengharapkan pangeran kaya yang sekarang sudah tak tampan lagi.

“Pikirkan baik-baik perasaanmu, tidak baik untuk keberlangsungan hidup hatimu jika kau menyimpan cinta sepihak terlalu lama,” Yi Seul beranjak dari duduknya seraya mengalungkan tas ke bahu kirinya.

“Aku harus segera pulang, Jaejoong Oppa sudah menungguku,” Ck, aku hanya melambaikan tangan saat Yi Seul semakin menjauh.

Beberapa menit kemudian Changmin datang dengan satu gulung perban di tangannya, tanpa mengatakan apapun ia langsung melilitkan perban tersebut untuk menutupi lukaku.

Darahku kembali berdesir, nyeri di lututku terasa menghilang untuk sesaat ketika bibir lembutnya mengecup pelan lukaku yang sudah terbungkus perban. Kutelan salivaku dengan susah payah saat menatap senyumnya dan merasakan kembali hangat di wajahku ketika tangan halusnya mengusap pelan puncak kepalaku. Oh, God! Pria ini benar-benar membuatku melayang.

“A ayo kita pulang,” Ajakku terbata.

Kajja!” Aku terhenyak saat Changmin berjongkok di depanku tanpa peringatan.

“Apa yang kau lakukan?”

“Cepat naik, aku akan menggendongmu sampai halte,”

Eoh, tidak perlu repot-repot, masih ada sepeda,” Aku tertawa janggal. Ini terasa aneh.

“Aku tidak mau membahayakanmu lagi,” Ini salah satu ungkapan dia menyukaiku atau hanya sopan santun saja?

Kuhembusakan napasku pasrah saat melihat nasib sepeda kami dengan setir yang berputar dan roda depan yang bengkong.

“Ba baiklah, kalau kau tak keberatan.

***

 

March, 26th 2013

Gyeonggi Senior High School
@Rooftop
5 pm

 

Aku berlari tergesa karena Yi Seul mengirmiku pesan untuk segera naik ke rooftop saat istirahat sebelum bimbingan. Seperti biasa, kali ini aku membawa 6 bungkus roti dari tas Yi Seul dan 3 botol air mineral untuk pengganjal perut sebelum bimbingan. Sedikit kepayahan, langkahku memelan saat aku sampai di rooftop dan mendapati tubuh jangkung seorang namja dengan rambut panjangnya yang bergelombang.

“Kemana Yi Seul?” Tanyaku saat baru saja duduk di samping Changmin.

“Pulang, ibunya sakit,” Jawabnya datar.

Aku terheran saat tiba-tiba saja ia membuat jarak yang cukup jauh dariku. Kuperhatikan dengan seksama wajah ikan salmonnya yang semakin memerah, mungkin karena efek senja.

Meokgeo!”

Tidak seperti biasanya, kali ini Changmin mengambil roti dan air dari genggamanku dengan gerakan cepat seolah tak ingin membiarkan kulit pangerannya menyentuh tangan rakyat jelata sepertiku.

“Aneh,” gumamku.

“Siapa yang aneh?”

“Tentu saja kau,” Tudingku yang membuatnya kembali tak berkutik.

Benar, kan. Shim Changmin memang aneh.

“Ada masalah?”

Ia meletakkan rotinya, meneguk perlahan air mineral tersebut, kemudian beralih menatapku, dalam. Aku terpaku karena tatapannya. Lagi.

“Ada yang ingin kukatakan padamu,”

Jantungku berdebar. Oh, apa ini akan menjadi sebuah pernyataan cinta.

Malhae!”

“Aku… aku ingin berterima kasih padamu,”

Terima kasih? Itu saja?

“Terima kasih telah memberi warna yang baru dalam hidupku,” Aku berusaha tersenyum menanggapinya. Mungkin apa yang dikatakan Yi Seul tidak semuanya benar. Perhatiannya itu hanya sekedar sopan santun. Aish, sepertinya aku terlalu berharap.

“Terima kasih untuk pelajaran hidup yang kau berikan padaku,”

“Pelajaran hidup?” Tanyaku heran.

“Pelajaran jika tak semua teman bisa menjadi sahabat dan mengetahui jika keindahan bukanlah segalanya, tapi bagaimana kau menikmati kesederhanaan dengan cara yang indah,”

Aku terhenyak, Changmin tiba-tiba saja berlutut di depanku.

“Maafkan aku,”

Ini ajaib. Pertama kali dalam hidupku aku mendengar Shim Changmin meminta maaf.

“Awalnya aku merasa jika meminta maaf adalah hal yang memalukan, aku mempersiapkan diri dengan susah payah hanya untuk meyakinkan diriku sendiri jika meminta maaf tidaklah merendahkan harga diriku,” Aku tercekat, mencerna setiap baris kata yang keluar dari bibirnya. Ya Tuhan, Shim Changmin benar-benar berubah. Bagaimana bisa hal ini terjadi?

Kuikuti tatapan matanya yang masih tertuju padaku, ia menggenggam tanganku, menuntunku untuk berdiri di hadapannya, menikmati pemandangan siluet tubuh jangkung pria yang kusukai diterpa cahaya senja dari barat.

Neoreul saranghanda,”

Mataku terbelalak, jantungku berdebar dengan kuat dan kakiku serasa melemas. Aku ingin pingsan. Ah, tidak, ini memalukan.

Sejurus kemudian aliran darahku terasa berhenti. Dingin, dengan keringat yang mengucur di tubuh dan aku merasa semakin kehilangan keseimbangan jika saja tubuh jangkung ini tak memelukku. Menyandarkan kepalaku pada dada bidangnya yang terbalut seragam dan mendengar nada jantungnya dengan irama upbeat.

Mataku terpejam lama menikmati debaran jantung dan hangat pelukannya. Shim Changmin, pangeran tampanku yang tetap terlihat tampan meskipun kini sudah tak tampan. “Na do.” Ucapku pelan penuh keyakinan.

Beberapa saat kemudian ia melepaskan pelukan kami, menangkup wajahku dengan kedua tangan lebarnya kemudian mengecup bibirku pelan. Tak ada lumatan ataupun hisapan. Hanya menempel ringan, dan itu sudah mampu membuncahkan seluruh bahagia di hatiku.

Mataku terpejam kembali, menikmati simfoni indah yang mengalun dalam sanubari kami. Tersenyum lembut di tengah kecupan yang masih bertahan. Mataku memicing saat sebuah sinar menembus kelopak mataku tajam.

TENG! TENG!

Bel tanda masuk jam bimbingan berdentang. Kubuka mata pelan untuk kemudian tertegun memandangi sosok tampan dengan mata tajam, hidung mancung, pipi  tirus, dan bibir tipis berada dekat di depan mataku. Kutangkup wajahnya pelan kemudian menyelusuri setiap jengkal pahatan Tuhan nan elok di hadapanku. Membalas senyumnya dengan penuh arti.

 

Aku tahu siapa kau,
Kau adalah tipe pangeran terakhirku,
Kaulah pangeran tampan yang angkuh kemudian berubah menjadi baik hati setelah berubah menjadi jelek karena dikutuk oleh penyihir,
Dan kau, satu-satunya pangeran yang berpacaran dengan penyihirnya.

 

 

FIN

 

Mohon dimaklumi keGaJe-an saya. Semoga suka yaaa ^^

 

 

 

 

 

14 thoughts on “[One Shot] Sucks Prince

  1. Changmin nya dah jd tampan lagi krn di ending soo young mendeskripsikan changmin yang tampan terus “tersenyum dengan penuh arti” dia senang changmin balik tampan lagi dan bisa pacaran dengan changmin…..
    itu sih menurut pendapatku gak tau bener atau salahnya…. hehehe mian gak nolong

  2. Mau saran dong
    Kan di cerita ini ada beberapa kosa kata yang menurut aku tu masih asing di kalangam reader, gimana kalo di tambahin note tentang arti daro kosa kata itu hehe
    supaya readernua lebih bisa memahami ceritanya gitu, terus ga perlu nghira” artinya itu apa
    oke makasih ya, tapi ceritanya da sedikit gantung kalo menurut aku

  3. Annyeong aku reader baru hehe ffnya bagus🙂 dikira changminnya masih jelek ternyata pas dibaca lagi udah berubah ganteng,ini berarti cerita beauty and the beast versi lain ya?kkk

  4. wow.. keren..
    suka deh kata” yg terakhir itu..

    ” Dan kau, satu-satunya pangeran yang
    berpacaran dengan penyihirnya.”

    kreatif .. good !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s