[Two Shot] 13th Sister of Light (2-END)

Image

 

Title                 : 13th Sister of Light
Author             : Valuable94
Genre              : Romance, Fantasy
Casts               : Cho Kyuhyun (SJ), Song Hyo In (OC)
Rate                 : NC
Lenght             : Two Shot
Disclaimer       : I don’t own Kyuhyun. OOC (out of character). This story and OC is mine. Don’t like, don’t read, don’t bash. NO PLAGIARISM.

Happy Reading!! ^^

Author POV

Kyuhyun memeluk Hyo In erat saat gemuruh petir dan angin malam itu menembus jendela kamarnya yang terbuka. Ada gurat tak nyaman di dahinya. Begitupun Hyo In.

Ia tak tahu pasti apa yang mungkin saja terjadi. Namun naluri melindunginya kembali muncul, membuat perisai berwujud naga berkepala singa itu muncul. Sesaat membelit tubuh keduanya yang masih berpelukan, sama-sama menenangkan, memberikan kehangatan yang sempat menghilang karena angin yang menerpa kamar mereka.

Naga berkepala singa tersebut melesat menembus jendela. Mengaum dan menguarkan hawa panasnya hingga mampu merobek gulungan angin dan awan hitam pekat serta gemuruh petir di langit malam itu, untuk kemudian menghilang. Merembet bersama hangat udara di istana Kyuhyuh meskipun sekarang masih memasuki awal musim dingin. Dan kembali, keajaiban itu membuat mata Kyuhyun terbelalak. Terheran karena kehebatan gadis, itu yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

Perlahan Kyuhyun melepaskan pelukan mereka kemudian menangkup wajah Hyo In dengan kedua tangannya.

“B ba bagaimana k kau?” suara Kyuhyun tergagap.

Hyo In hanya mengedikkan bahunya. “Jangan tanyakan padaku, aku juga tidak tahu. Dia suka keluar tanpa kuperintahkan,” ujar Hyo In enteng seraya memukul kecil dada Kyuhyun yang masih terbuka.

Hyo In melepaskan lingkaran tangan Kyuhyun di pinggangnya yang masih polos. Beranjak menaiki ranjang dan membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut hingga batas leher. Menutup matanya yang memaksa untuk terkatup sedari tadi. Tak ingin membahas apa yang mungkin saja ditanyakan suaminya yang cerewet seperti kakek-kakek pikun itu. Sayangnya suaminya memang pantas ia panggil kakek, tapi dia jauh dari kata pikun, dan masih tampan.

Sejurus kemudian, ia kembali mendengus sebal saat tidurnya terganggu karena suara ketukan pintu kamar mereka. Hyo In hanya beringsut membelakangi pintu kemudian membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut, sementara Kyuhyun segera mengambil jubahnya yang tergeletak di lantai kemudian memakainya.

Saat pintu terbuka, Donghae sudah menunggunya dengan raut wajah yang tak tenang. Napasnya terengah seolah baru saja berlari. Penampilannya sama dengan Kyuhyun sekarang. Jubah, kulit, dan surai mereka kembali seperti semula, putih dan bersih.

“Kita perlu bicara,” Kyuhyun mengangguk tanpa menjawab.

“Kami tunggu di aula istana, bibi juga sudah menunggumu di sana,” Kyuhyun menoleh sesaat melihat keadaan Hyo In yang mungkin saja baru tertidur di ranjangnya kemudian kembali menatap Donghae, meminta ijin untuk tak mengajak Hyo In yang pasti sangat mengantuk sekarang. Begitupun ia. Sebenarnya.

“Ajak istrimu juga.” Kyuhyun kaget mendengar pernyataan Donghae. Bagaimana bisa Donghae tahu kalau  ia sudah menikah dengan manusia itu?

Tapi semua pertanyaannya tertahan saat Donghae dengan cepat melesat menjauhi kamarnya. Ia kembali menutup pintunya, berjalan menaiki ranjang, dan mulai mengguncang tubuh hyo in pelan.

“Hey! Bangun!” Tubuh Hyo In berguncang lembut karena Kyuhyun.

“Tidak mau.” Gerutu Hyo In tegas karena merasa tidurnya terganggu oleh Kyuhyun.

“Ibu sudah menunggu kita, kau mau dipecat jadi menantu?”

“Apa?” Hyo In terduduk cepat saat mendengar ancaman Kyuhyun. Tidak, susah payah dia menahan perasaannya untuk Kyuhyun hingga ia mendapatkannya setelah perjuangan merendahkan harga diri semalam. Ia tak akan mau sesuatu yang didapatkan dengan susah payah akan hilang begitu saja hanya karena ia malas untuk bangun tidur, sekalipun dalam kasus ini sebenarnya ia belum tidur sama sekali malam ini.

Kyuhyun mengacak puncak kepala Hyo In gemas kemudian turun dari ranjang. Memunguti baju Hyo In kemudian diberikan pada pemiliknya.

“Cepat pakai! Aku tunggu di luar.” Hyo In memakai bajunya secepat yang ia bisa kemudian merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dan menyusul Kyuhyun yang sudah menunggunya di luar kamar.

Mereka berjalan santai menyusuri istana seraya mengedarkan pandangan kagum kesekelilingnya yang kini nampak berbeda. Kembali menjadi sebuah bangunan dengan ornament-ornament indah yang mengisahkan perjalanan hidup klannya sebelum ia lahir. Menampakkan dinding-dinding marmer yang sempat berubah menjadi batuan sungai. Dan keindahan itu mulai kembali terpancar. Istananya, 112 tahun yang lalu, sebelum kutukan itu menimpa seluruh klannya.

“Kukira hanya kau saja yang berubah,” Ujar Hyo In tanpa melepaskan pandangannya dari istana Kyuhyun.

“Kupikir juga begitu, tapi sepertinya kita salah.” Ujar Kyuhyun santai kemudian menyambar tangan tersebut dan mencium punggungnya.

Mereka bergegas menuju aula istana yang tinggal beberapa langkah lagi. Pintu besar itu terbuka, menampakkan ruangan besar dengan riuh suara para anggota Unicorn yang kini berpenampilan sama dengannya. Dugaannya benar kali ini, hal ini tak hanya terjadi padanya atau Donghae saja tapi juga seluruh rakyatnya.

Suara riuh itu lenyap, berganti dengan tatapan dari para rakyatnya. Tatapan itu tertuju padanya dan Hyo In yang sedari tadi hanya diam tak tahu harus berbuat apa. Ia merangkul tangan kanan Kyuhyun mencari perlindungan saat ia mengira jika pandangan semua orang itu tengah menghakiminya. Ia takut, kejadian 12 tahun lalu yang merenggut nyawa kedua orangtuanya akan terjadi kembali.

“Kenapa mereka melihatku terus?” Tanya Hyo In takut.

“Tenanglah, kami tidak makan daging manusia.” Kyuhyun berusaha menahan kekehannya melihat ekspresi takut Hyo In.

Kyuhyun menggandeng tangan Hyo In, mengajaknya duduk di samping kiri singsana, bersama sang ibu di samping kanannya dan Donghae yang selalu berada di samping mereka. Kini perhatian para anggota Unicorn tertuju pada mereka. Mereka semua diam, menunggu sang raja mengucap satu kalimat pembuka untuk memulai mengkonfirmasi keanehan yang terjadi pada mereka malam ini.

“Aku …”

Ia terdiam, menggantungkan kalimatnya dan membuat anggota klan saling berpandangan. Penasaran dengan apa yang sudah terjadi. Kyuhyun menggenggam erat tangan Hyo In, telapak tangannya basah, gugup, berharap jika pengakuannya akan mendapat sambutan yang baik dari rakyatnya.

“Aku mencintai gadis ini,” Kyuhyun melempar pandangan pada Hyo In yang kini juga sama dengannya. Pucat.

“Angin, petir, dan hilangnya kutukan klan kita malam ini… semua karena aku telah menikahi gadis ini.” Kyuhyun mengakhiri kalimatnya dengan desahan berat sekaligus lega. Jika pada akhirnya nanti  para anggota klan menentang pernikahan ini, ia hanya perlu lari bersama gadis ini.

Melindunginya.

Dengan kekuatannya sendiri.

Itulah keputusan akhirnya.

“Lalu bagaimana dengan Lucifer? Kita semua tahu jika gadis itu calon isteri Lucifer, tidakkah baginda memikirkan hal itu?” Salah seorang dari anggota klan mulai angkat bicara.

“Semua sudah terjadi, lalu apa yang akan terjadi pada kita? Berakhir seperti pemimpin sebelumnya, huh?” Sahut salah seorang lainnya menggebu. Suara riuh ketidaksetujuan mulai terdengar dan hal ini membuat Hyo In dan Kyuhyun semakin gelisah. Begitupun Donghae dan ibu Kyuhyun.

“Iya. Mereka benar. Lalu apa yang akan terjadi pada kami?” Sahut yang lain lagi.

Kyuhyun menunduk dalam. Sementara ibunya mengusap lembut bahu kanannya. Menguatkan.

“Maafkan aku. Sebagai pemimpin, aku selalu menyusahkan kalian karena kepentinganku sendiri.” Lirih Kyuhyun memohon.

“Maaf tidak akan mengakhiri penderitaan kami untuk terhindar dari Lucifer.” Jawab salah seorang anggota. Nampak tak terima dengan permintaan maaf pemimpinnya yang sudah melakukan kesalahan. Lagi.

“Terhindar? Apa maksud kalian?” Geram Donghae.

“Kenyataannya memang seperti itu, Tuan. Selama ini kita bersembunyi karena gadis itu, bukan?” Gemeretak gigi Donghae dan geramannya menadakan jika ia tengah naik pitam sekarang. Rasanya ingin sekali meninju mulut orang tersebut hingga berdarah, bahkan sampai orang itu tak bisa bicara sama sekali.

“Tidakkah kalian berpikir untuk melawan dan menghancurkannya? Lagipula kita tidak akan bisa menghindar selamanya. Dan apa yang sudah kita lakukan selama 100 tahun ini hanyalah menunda peperangan dan menghindari banyak korban.” Sela Donghae menggebu.

“Kami tidak akan berperang hanya untuk melindunginya. Lagipula kita sudah tidak membutuhkan gadis itu, kalaupun kita menyerahkan gadis itu pada Lucifer, kurasa semua masalah akan selesai.”

“SIALAN!” Donghae mengeram

Dasat tidak tahu terima kasih. Batin donghae.

Kyuhyun menahan tangan Donghae yang tengah berusaha untuk turun dan kembali menghajar orang tersebut.

“Aku akan pergi,” Sela Hyo In seraya berdiri. Kedua tangannya terkepal kuat, matanya terasa panas. Sakit, menyadari jika pada akhirnya ia memang tak akan pernah diterima dimanapun.

Kyuhyun menatapnya penuh tanya. Menggumamkan kata “Kau gila!” dan menuntun tangannya untuk kembali duduk namun Hyo In menolak dan tetap kukuh pada pendiriannya.

“Aku menyayangi kalian, jika kehadiranku selama ini hanya menyusahkan kalian, aku…” Napasnya tersedak isakan.

“Aku akan pergi. Kurasa kalian benar, kutukan kalian sudah hilang, kalian bebas dari Lucifer, dan aku akan menjadi isterinya. Begitu, ‘kan?” Hyo In terisak. Beberapa kali ia menghapus airmatanya dengan punggung tangannya. Dadanya terasa semakin sesak, saat ia menatap kembali Kyuhyun, ibu mertuanya, dan Donghae.

“Iya. Seharusnya memang begitu.” Hyo In mengusap airmatanya kembali dengan cepat. Bergegas keluar dari aula besar tersebut.

“Hyo-ya, berhenti!” Pekik Kyuhyun emncoba menghentikan langkah Hyo In.

Ia hanya ingin berlari sekarang, pulang, kembali bersama neneknya dan menjauh dari Kyuhyun serta rakyatnya. Orang-orang yang ia cintai, sangat. Pada akhirnya Hyo In sadar jika ia hanyalah orang terbuang dan hanya akan menjadi orang buangan yang tetap berakhir di tempat buangan.

Hikz…hikz

Napasnya tersengal saat ia harus membagi oksigen itu untuk berlari dan menangis. Semuanya terasa semakin menyesakkan saat ia mendengar derap langkah cepat nan lebar di belakangnya.

“HYO-YA!”

Tidak. Jangan mengejarku. Batin Hyo In.

Langkah kakinya semakin melambat saat pasokan oksigen di paru-parunya mulai menipis. Ia berhenti, membungkuk memegang lututnya, terengah dengan keringat yang bercucuran sekalipun salju tengah turun sekarang. Ia kembali mengeratkan mantelnya kemudian mulai menegakkan tubuhnya saat melihat seseorang tengah berdiri tegap  tepat di depannya.

Kyuhyun menatap nanar pada Hyo In yang hanya memberinya tatapan datar. Perlahan ia mengulurkan tangan berharap Hyo In akan menyambutnya. Namun bukan itu yang terjadi. Jantung Kyuhyun mulai berpacu lebih cepat saat Hyo In menggelengkan kepalanya pelan, menolak untuk kembali padanya dan melangkah mundur, dengan airmata yang kembali mengalir perlahan, ia semakin menjauh dari Kyuhyun.

Kha!” Ujar Hyo In dingin. Membekukan seluruh organ tubuh Kyuhyun saat itu juga.

Jebal¬” Lirih Kyuhyun, menahan perih di seluruh sendi tubuhnya yang akan rubuh sebentar lagi. Saat Hyo In benar-benar menghilang dari pandangan dan hidupnya.

Kharago!” seru Hyo In dengan napas tersengal menahan emosi. Ia tak ingin melihat Kyuhyun sekarang, hanya ingin sendiri. Emosi saat kenyataan mengatakan yang sebaliknya atas ekspektasi tingginya untuk diterima oleh orang lain berakhir dengan kehancuran hati.

Aku bisa hidup sendiri. Tanpa mereka. Seru Hyo In dalam hati, menguatkan dirinya sendiri.

Satu pertahanan dirinya terbentuk secara otomatis saat ia merasa terbuang untuk yang kesekian kalinya. Perlahan, hawa musim dingin di sekitar mereka mulai menghangat kemudian semakin memanas hingga melelehkan tumpukan salju yang menutupi dahan dan ranting pinus. Membuat semak belukar di bawah mereka layu karena panas yang di timbulkan dari naga berkepala singa yang mengungkung tubuh Hyo In. Melindungi tuannya.

“PERGI! Atau aku akan membunuhmu di sini.” Suaranya masih dingin meskipun amarahnya sudah meluap di ujung ubun-ubun.  Ia berusaha menguasai dirinya untuk tak membakar tubuh orang terkasihnya, sekaligus hutan yang menjadi rumah keluarganya.

Crash!

“Aaarghh!” Kilat api merah itu melukai kedua kaki Kyuhyun saat ia mencoba meraih Hyo In kembali. Membuatnya memekik kesakitan saat panas itu berhasil mencicipi sedikit darah suci Kyuhyun.

“Selamat tinggal, Oppa. Berbahagialah bersama keluargamu.”

Dingin itu kembali merasuk di tubuh Kyuhyun. Tubuhnya luruh, bukan hanya karena kedua kaki yang menopang tubuh itu luruh, namun kepergian Hyo In lebih berperan penting dalam hal ini. Tangannya terkepal menggenggam salju di bawahnya, hatinya hancur.

Kajima!”

            ***

December 23rd 2013
4 pm
@Hyo In’s House

 

Pucat itu masih bertengger manis menghiasi wajah Hyo In. Ia tengah sibuk memasang kertas lukisnya di depan jendela kamar yang sengaja ia buka. Membiarkan beberapa butir salju memasuki kamar kemudian mengambil duduk di depan kertas tersebut, menikmati langit gelap yang membawa salju.

Sejurus kemudian ia memilih untuk menghirup udara dingin dari jendela kamar. Memejamkan mata, menghafal kembali wajah yang selama ini terpatri dalam benaknya, mengambil pensil dan mulai menggoreskannya, membentuk pola wajah seorang pria berahang tegas, dengan hidung mancung dan bibir penuh. Rambur hitam pekat dengan kulit yang ia buat sedikit gelap. Wajah yang selama ini ia rindukan namun tak bisa ia temui. Tubuh tegap dengan rengkuhan yang menenangkan.

“Aku lebih suka kau yang seperti ini.” Lirih Hyo In kemudian menghela napas pedih.

Ia meletakkan kembali pensilnya dan mulai menerawang jauh hutan yang berada 1 kilometer dari rumahnya. Ia rindu ingin kembali ke sana. Kembali berkumpul dengan semua orang yang ia sayangi, meski mereka tak benar-benar menyayanginya.

Ia menghela napas dalam. Menghirup udara dingin itu sekali lagi. Sedetik kemudian ia terlonjak kaget saat terasa hangat melindungi punggungnya. Hyo In tersenyum seketika melihat neneknya tengah mengusap kedua bahunya pelan, tersenyum pula ke arahnya. Hatinya terenyuh menatap wanita yang sudah tak muda lagi itu. Wanita yang merawatnya selama 12 tahun. Pengganti kedua orangtuanya.

Apakah nenek tulus menyayangiku? Batinnya meragu.

Ia menggeleng pelan ketika sakit itu kembali menyerang dadanya. Membayangkan hal yang sama akan menimpanya kembali. Nenek Hyo In menangkup kedua pipinya kemudian menghapus airmata Hyo In dengan kedua ibu jarinya. Hatinya juga perih melihat cucu satu-satunya seperti ini.

Uljima¬ nenek akan selalu bersamamu,” Hyo In melingkarkan tangannya di pinggang sang nenek. Menyembunyikan isakan di balik perut neneknya.

“Nenek tidak lelah merawatku?” Lirihnya seraya menahan isakan.

Ani.” Wanita ini juga tengah menahan isakan. Jika saja ia bisa merubah apa yang telah terjadi pada hidup keluarganya. Harapnya.

“Apa nenek akan merindukanku saat aku tak lagi di sini?” Neneknya mengangguk pasti. Tanpa suara karena ia tak mau Hyo In mendengar isakannya.

“Lucifer bisa saja membuatku tak ingat pada nenek,” Hyo In mendongak. Perlahan ia berdiri dan berganti menghapus airmata neneknya.

“Jangan rindukan orang sepertiku.” Neneknya menggeleng keras. Mereka sama-sama terisak. Mengingat jika sebentar lagi mereka harus berpisah. Mengingat jika ia tak akan bisa membantu neneknya melakukan perkerjaan rumah lagi. Hyo In menyesal, harusnya selama 12 tahun kebersamaan mereka, ia lebih sering membantu neneknya meskipun tidak diperintah. Oh! Jika saja waktu bisa diputar kembali. Ia sama sekali tak ingin mendapatkan kekuatan aneh itu dan hidup normal bersama neneknya. Mungkin berlaku juga untuk bagian bertemu dan mencintai Kyuhyun.

Beberapa menit setelah isakan mereka reda. Hyo In melepas pelukan mereka. Mengusap pelan kedua bahu neneknya seraya tersenyum, mencoba mencairkan suasana.

“Aku lapar.” Neneknya terkekeh pelan.

Kajja! Aku sudah membuatkan sup labu kesukaanmu.” Mereka berjalan menuju dapur.

Hyo In menatap malas sup labu yang biasa menjadi favoritnya. Biasanya ia akan memakannya dengan lahap, namun kali ini perutnya menolak untuk diisi. Tapi, mungkin saja hari ini adalah hari terakhirnya memakan sup buatan nenek. Karena berpikir jika bisa saja hari ini adalah hari terakhirnya merasakan sup buatan nenek.

“Kenapa? Supnya tidak enak?”

Aniyo¬ ini enak sekali.” Hyo In tersenyum janggal kemudian kembali melahap sendok kedua supnya. Menunjukkan jika ia menyukai sup neneknya namun tubuhnya tetap menolak. Ia berlari menu wastafel di dapur dan memuntahkan semua isi perutnya.

Eodi apa?” Hyo In mengernyit menahan perih di perutnya. Tubuhnya penuh keringat dingin dan itu membuat neneknya semakin khawatir. Saat dirasa Hyo In tak lagi mampu mengeluarkan isi perutnya, nenek membawanya menuju kamar dan membaringkan Hyo In di sana. Menyelimuti tubuhnya, mengusap lembut puncak kepala Hyo In yang beberapa saat kemudian tertidur karena pening di kepalanya yang semakin menguat.

Langit malam kini mulai menggantikan mendung siang hari. Salju masih turun meskipun tak begitu deras. Nenek Hyo In menatap gumpalan awan hitam yang menutupi bulan purnama malam ini.

Purnama ke-12 untuk Hyo In. Biasanya ia sudah berada di hutan bersama Kyuhyun sejak siang tadi, tapi keadaan tubuhnya memaksa gadis riang itu tetap terbaring di atas ranjang. Nenek Hyo In menghela napas pelan, memikirkan cucunya yang harus merasakan kesakitan sendiri, tanpa Kyuhyun.

 

10 pm

Hyo In menjerit kesakitan, perih di perut, pening di kepala, dan panas di tubuhnya yang meningkat membuatnya merasakan kesakitan yang melebur menjadi satu, membakar dan meremukkan tubuhnya.

“SAAAKKIITT!!!” Teriak Hyo In pilu. Meremasi bajunya yang basah karena keringat.

Seakan melengkapi kesendiriannya, tak ada satu orang pun yang mendengarkan kesakitannya. Ia sendiri, bahkan neneknya pun tak berada di sampingnya. Kyuhyun, Hyo In bahkan tak berani berpikir bahwa pria itu akan di sampingnya sekarang, memeluk, dan menenangkannya.

Setetes airmata Hyo In mengering seketika karena panas tubuhnya sendiri, namun titik-titik peluh itu masih setia membasahi tubuhnya. Mencengkeram seprai yang sudah basah di bawahnya, menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Punggungnya terangkat, puncak dari segala kesakitannya.

“AARRGGHH!!!”

Erangan yang lebih terdengar seperti auman singa itu menutup segalanya. Napasnya terengah, menelan salivanya pelan dengan dada yang masih naik turun karena lelah. Sejurus kemudian terasa tangan lembut seseorang mengusap sekujur tubuhnya. Membersihkan selongsong emas yang menyelimuti tubuhnya. Jika saja pikirannya waras saat ini, ia akan mengira jika tangan halus itu adalah tangan Kyuhyun.

Tangan itu turun mengusap perutnya, lama, kemudian merengkuhnya dalam pelukan hangat. Sebuah kecupan lembut mampir di dahinya. Bibir penuh itu menempel lama disusul dengan mengeringnya seluruh peluh Hyo In.

“Kyuhyun oppa,” Lirihnya seraya membuka matanya perlahan. Merasakan suhu di kamar yang semakin menurun. Sakit di perutnya tak lagi menyiksa meskipun pening itu masih terasa. Ia memaksa untuk duduk di atas ranjang. Mengedarkan pandangan ke seluruh kamar, mencari sosok yang ia rindukan namun kenyataan berkata lain. Ia kembali menunduk dalam.

Sadar Hyo In. Kyuhyun tidak ada di sini. Batinnya. Ia mendongakkan wajahnya, mencegah cairan asin dari matanya keluar untuk kesekian kalinya. “Hanya mimpi.” Gumamnya.

Ia memutuskan untuk pergi ke dapur saat tenggorokannya terasa kering. Langkahnya terhenti ketika kakinya menginjak sesuatu di lantai kamar. Hyo In mengambil mantel cokelat dari bawah. Sadar jika mantel ini buatan neneknya, yang diberikan untuk Kyuhyun.

Dadanya bergemuruh kembali.

Kyuhyun ada di sini. Batinnya. Dan segera keluar dari kamar, bergegas keluar dari rumahnya. Menatap sekeliling dengan bingung, menatap pemandangan gelapdi depannya. Mencari sosok Kyuhyun yang memang seharusnya ia tahu jika KYUHYUN TIDAK DI SINI. Harus berapa kali ia meyakinkan dirinya jika Kyuhyun memang tidak di sini.

Tubuhnya luruh di atas salju yang menutupi halaman rumah. Ia menunduk dalam, terisak seraya memeluk mantel Kyuhyun. Membiarkan tetes-tets salju menutupi setiap helai rambut hitamnya yang terurai berantakan. Sejurus kemudian ia mulai merasakan hangat di punggungnya. Hyo In menoleh seketika, menatap nanar sang nenek yang baru saja menyelimutinya. Ia kembali terisak dalam pelukannya. Meluapkan segala gundah yang ia pendam selama satu bulan tanpa Kyuhyun. Menangis sejadinya, sekeras yang bisa ia lakukan selama ini. Ingin sekali ia menyerah untuk hidup.

“Aku pikir Kyuhyun ada di sini,” gumam Hyo In namun masih mampu terdengar oleh neneknya.

Neneknya hanya mampu terdiam kemudian menghela napas dalam, menuntun tubuh cucunya yang lemah untuk kembali memasuki rumah. Ia tak ingin melihat Hyo In semakin sakit karena terlalu lama berada di luar rumah saat hujan salju.

 

Keesokan harinya

6 pm

“Nenek, nanti malam aku ingin pergi ke gereja,”

“Tidak. Kau harus istirahat di rumah.” Balas neneknya lebih tegas.

Seharian ini Hyo In membujuk neneknya agar mengijinkannya pergi ke gereja untuk mengikuti misa natal tapi tetap saja neneknya menolak. Ia pikir, ini akan menjadi yang pertama kali dan terakhir kalinya ia menginjakkan kaki di gereja Tuhan. Sebelum Lucifer menjemputnya dan mengurungnya di dalam gereja setan.

“Ayolah, nek! Ini akan menjadi yang pertama dan terakhir. Kumohon!” Hyo In memeluk manja neneknya dari belakang yang masih sibuk membersihkan peralatan dapur.

“Aish¬ jangan mengganggu nenek.” Geramnya.

“Pokoknya nenek harus mengijinkanku pergi ke gereja.” Pintanya sekali lagi dengan nada yang dibuat merajuk. Neneknya mendengus kesal kemudian berbalik menatap Hyo In geram.

“Kau mau dipukuli orang-orang itu lagi dan mati seperti kedua orang tuamu?” Neneknya membanting lap yang baru saja ia gunakan ke lantai. Meninggalkan Hyo In yang diam seribu kata. Teringat kembali kejadian 12 tahun yang lalu. Hal yang paling ia benci. Mengetahui jika orang tuanya meninggal dengan tragis dan ia hanya punya nenek sekarang.

Hyo In  memilih untuk kembali ke kamarnya. Mengulurkan tangan keluar jendela merasakan dinginnya salju. Ia mulai merasa bersalah pada neneknya. Mungkin saja beliau takut kehilangannya tapi pada akhirnya bukankah mereka tetap akan berpisah.

“Aish¬ dasar bodoh.” Rutuknya.

“Hey! Nona ceroboh.” Hyo In tersentak kaget mendengar suara seorang pria yang sudah familiar di telinganya. Ia mengedarkan pandangannya, menyapu seluruh pekarangan rumah yang remang karena hanya ada satu lampu yang menyala di depan rumah.

Ia menggeleng pelan, mencoba menghapus pikirannya yang akhir-akhir ini sering menghayal terlalu jauh.

“Hyo-ya!” Hyo In kembali mencari sumber suara tersebut.

“HEOL!!” geramnya saat tak menemukan pemilik suara itu.

“BAAAAAA!!!”

“AAAAA!!”

Bruk.

Hyo In terlonjak kaget saat tiba-tiba saja wajah Donghae muncul tepat di depannya membuat ia terjengkal ke belakang dengan pantat yang mendarat di lantai terlebih dahulu. Donghae panik, kemudian mendekati Hyo In cepat dan memindahkannya ke atas ranjang.

Eodi apa?” Serunya panik.

“Ssssh… pantatku.” Keluh Hyo In seraya mengelus pantatnya.

“Yang ini?”

“YA! JANGAN SENTUH PANTATKU! DASAR MESUM!” Reflek Hyo In menendang tubuh donghae dan memaksanya untuk menjauh.

“Aish¬ aku tidak tahu kalau wanita hamil masih punya kekuatan untuk menendang seorang pria,” Keluh Donghae yang terduduk di ujung ranjang setelah menghindari tendangan Hyo In.

“Apa maksudmu dengan wanita hamil?” Ketus Hyo In masih mengelus pantatnya yang terasa sedikit nyeri.

Neoya.” Hyo In mengernyitkan dahi heran. Dasar sok tahu. Batinnya.

“Tsk, kau benar-benar pandai berkelakar. Ha-ha-ha! Kau dengar? Aku tertawa sekarang,” Ujar Hyo In setengah mengejek.

“Lagipula darimana kau tahu kalau aku hamil? Kau bukan dokter.” Sambungnya seraya melempar pandangan tak suka.

“Sebenarnya K…uumm… seseorang yang memberitahuku,” Jawab Donghae ragu.

“Seseorang? Nugu?” Tanya Hyo In penasaran.

Donghae tak mau menjawab pertanyaan Hyo In. akhirnya, mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Sejujurnya Hyo iN juga tak begitu memerlukan jawaban atas pertanyaannya yang muncul karena pernyataan konyol Donghae tadi.

“Pulanglah!” Ujar Donghae singkat memecahkan keheningan.

“Pulang kemana? Rumahku di sini.” Ketusnya tanpa menoleh ke arah Donghae.

“Ke rumah kami, rumahmu juga,” Lirih Donghae.

“Sebenarnya apa tujuanmu datang kemari?”

“Menjemputmu.”

“Kalau aku tidak mau?”

“Kau harus tetap pergi bersamaku,”

“Harus mau, atau…” kalimat donghae menggantung.

“Apa?”

Donghae menghela napas sebelum melanjutkan kalimatnya. “Lucifer sudah tahu keberadaanmu. Kau harus segera pergi dari sini,” Hyo In kembali terdiam, terlihat pasrah.

“Tidak. Bukankan jika Lucifer berhasil membawaku semua masalah akan selesai.” Ujar Hyo In dingin.

“Tidak. Masalahnya kau bukan seorang perawan yang ia inginkan, kau bisa saja dibunuh.” Bantah Donghae mengingatkan.

“Itu lebih baik.”

“Tapi…”

BLAARRRR

Kilat, gemuruh petir dan  angin yang mengombang-ambingkan gorden kamar Hyo In menyadarkan mereka dari perdebatan yang tiada akhir.

Donghae menatapnya tajam. “Kau lihat itu? Apakah wajar jika musim dingin seperti ini ada petir? Kita harus pergi sekarang juga.” Hyo In menampik tangan Donghae yang mengajaknya beranjak meninggalkan rumah.

Shireo.” Ujar Hyo In dingin.

“Ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat.”

“Aku tidak mau meninggalkan nenek di sini sendirian.” Kukuhnya.

“Nenekmu akan baik-baik saja.”

Greb.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” Hyo In memekik keras saat Donghae menggendongnya di punggung tiba-tiba dan membawanya berlari keluar rumah. Secepat yang ia bisa, tanpa mempedulikan teriakan dan pukulan Hyo In di punggungnya.

Oppa, turunkan aku sekarang juga!” Kalimat itu terlontar dengan nada tinggi berkali-kali selama perjalanan dari rumahnya menuju hutan. Hingga akhirnya mereka berhenti saat sampai di depan gerbang sebuah istana. Dengan salju yang menutupi tanaman-tanaman di sana, istana dari batuan marmer dengan ukiran-ukiran unicorn indah. Ini istana Kyuhyun yang indah, tapi sangat sepi. Hyo In terdiam ketika merasakan hal berbeda di sini.

Donghae menurunkan Hyo In kemudian membawanya memasuki istana. Hyo In mengekor di belakang Donghae, melangkah ragu-ragu, ia ragu untuk kembali ke tempat ini, sejujurnya ia juga merindukannya. Karena di sinilah Kyuhyun berada, suami yang sangat ia cintai dan sempat ia miliki.

Hyo In terhenyak saat tiba-tiba Donghae menggandeng tangannya. Mengajaknya untuk melangkahkan kaki cepat, memasuki istana yang sama sepinya dengan keadaan di luar kemudian bergegas menuju sebuah ruangan luas tak jauh dari tempat mereka berada.

Tempat ini dipenuhi seluruh anggota kawanan Unicorn. Hyo In kembali merasakan sakit mengingat peristiwa satu bulan yang lalu. Pengusiran dirinya secara tidak langsung. Hyo In menghapus cepat airmatanya yang tiba-tiba menetes. Ia segera berbalik, tak ingin melihat mereka namun langkahnya tertahan karena hadangan seorang pria di depannya.

Kyuhyun, memegang kedua bahu Hyo In kemudian memaksanya untuk berbalik. Entah mengapa tubuh Hyo In terasa lemas saat merasakan sentuhan Kyuhyun. Mengikuti perintahnya dengan mudah untuk mendekati kawanan tersebut. Hyo In berdiri diam di depan kawanan tersebut dengan Kyuhyun yang berada di belakangnya. Mengusap kedua bahunya pelan.

“Maafkan kami,” Ucap salah seorang dari kawanan. Kemudian ia memberikan sebucket bunga mawar berbagai warna. Hyo In menerimanya ragu-ragu tanpa mengatakan apapun.

“Kalian tidak perlu memberiku bunga. Aku sudah melupakannya.” Tentu saja itu bohong. Karena ia masih menyimpan benci di dalam hatinya.

“Bunga itu dari Jung Kook. Dia meninggal kemarin… ” Lirih seorang yang lain. Mungkin dia ayahnya karena ia tak kuat melanjutkan kalimatnya setelah mengingat kejadian tersebut. Hyo In terbelalak kaget. Namja kecil yang selalu menggodanya.

“B ba bagaimana bisa?” Tanyanya terbata.

“Setelah kau pergi dari sini, sebelum malam hari saat purnama ke-12 dia pergi mencarimu ke makam kedua orang tuamu karena berpikir kau akan datang ke sana. Kami mencarinya semalaman dan menemukannya pingsan memeluk bunga itu. Punggungnya terkena racun Baphomet dan dia meninggal pagi hari.” Hyo In mendengar penjelasan Kyuhyun dengan berdebar.

“Dia bilang kalau dia merindukanmu.” Sambung ayahnya.

“Antarkan aku ke makamnya.” Ujar Hyo In cepat. Kyuhyun menggandeng tangan Hyo In, menuntunnya keluar ruangan dan menuju sebuah ruang bawah tanah dengan dinding dari batuan kapur. Ia mengajak Hyo In menuju pojok ruangan,tempat tergeletaknya tanduk emas kecil milik Jung Kook. Hyo In hanya terdiam, sesekali mengelap airmatanya.

“Dia pergi terlalu cepat, usianya masih 7 tahun, bagaimana bisa dia pergi lebih cepat dariku?” Rentetan kalimat Hyo In memecah keheningan di antara mereka.

“Bocah ini ingin membunuhku setelah kau pergi,” Ujar Kyuhyun santai namun mampu membuat Hyo In menolehkan pandangannya, menatap Kyuhyun kaget.

“Dia marah padaku karena membiarkanmu pergi,” Kyuhyun menghela napas dalam mengingatnya.

“Dia bilang akan merebutmu dariku dan akan melindungimu dari Lucifer,” Kyuhyun dan Hyo In terkekeh pelan.

“Terima kasih Jung Kook-ah. Noona sangat suka bunga darimu,” Hyo In meletakkan bunganya di samping tanduk Jung Kook.

Nado saranghaeyo.” Lanjut Hyo In dan mendapat dengusan dari Kyuhyun. Hyo In menatap sinis ke arahnya.

Wae?”

Amugeotdeo,” Jawab Kyuhyun tak acuh.

“Aku tahu kau sedang mengejekku. Kenapa? Mau mengatakan aku pedofil?” terka Hyo In cepat.

“Aku tak pernah bilang begitu, kau sendiri yang bilang seperti itu.” Balas Kyuhyun dingin.

YA!”

“AW!” Pekik Kyuhyun setelah Hyo In menginjak kakinya.

“Berhenti menganiaya suamimu. Kenapa kau selalu kasar padaku?” Protes Kyuhyun seraya menarik kasar poni Hyo In hingga berantakan.

“Karena kau menyebalkan.” Hyo In melengos meninggalkan Kyuhyun seraya membenarkan letak poninya. Tanpa mempedulikan Kyuhyun yang menyuruhnya berhenti, ia bergegas kembali ke istana. Beberapa meter setelah keluar dari ruang bawah tanah, ia terpekik kaget karena bertemu dengan seseorang.

“Nenek!” Hyo In berlari segera memeluk neneknya erat.

“Bagaimana nenek bisa ada di sini?”

“Kyuhyun yang membawa nenek, sebelum Donghae menjemputmu,” Hyo In melepaskan pelukan neneknya kemudian menatap Donghae bersama ibu Kyuhyun yang berada di belakang neneknya.

Eomeonim,” Hyo In terhenyak saat ibu Kyuhyun tiba-tiba memeluknya sesaat, kemudian memberikan senyumnya yang meneduhkan. “Kau baik-baik saja?” Hyo In mengangguk cepat seraya tersenyum.

“Bagaimana keadaan cucuku?” Dahi Hyo In mengernyit heran.

“Cu cucu?” Tanya Hyo In bingung. “Tapi aku tidak…” Kalimatnya menggantung. Ia terhenyak sekali lagi karena tiba-tiba saja Kyuhyun memeluknya dari belakang, menopang dagu lancipnya pada bahu Hyo In seraya mengusap perutnya.  Hyo In terdiam merasakan usapan yang sama halusnya dengan semalam. Kyuhyun membalik tubuh Hyo In kemudian memeluknya lagi, lebih erat. Hyo In masih diam tak berani membalasnya. Jantung mereka sama-sama berdetak cepat, merasakan hangat tubuh satu sama lain.

Beberapa saat kemudian Kyuhyun melepaskan pelukannya, memegang kedua bahu Hyo In, menatapnya dalam. Sementara Hyo In hanya terdiam, tubuhnya kaku, detak jantungnya semakin cepat.

Wae?” Tanya Kyuhyun khawatir. Hyo In menggeleng pelan tanpa berkedip.

“Kenapa? Perutmu sakit? Terjadi sesuatu dengan anak kita?” Kyuhyun bertanya tanpa henti seraya mengusap perut Hyo In yang rata.

Tubuh Hyo In meremang. Ia memundurkan tubuhnya menjauhi Kyuhyun perlahan kemudian mulai menatap Kyuhyun yang kebingungan karena Hyo In menjauhinya.

“Bagaimana kau bisa tahu aku hamil?”

“Aku bisa merasakannya, semalam,”

“Jeongmal?” Lirih Hyo In seraya meraba perutnya. Tidak terasa apa-apa di sana atau mungkin memang, tunggu… Ia kembali meraba perutnya, tak ada pergerakan di sana namun terasa sesuatu tengah mendiami rahimnya. Hyo In mendongak menatap Kyuhyun dengan pandangan heran.

“I ini anakku?”

“Bukan. Itu anak KITA. Kau tidak membuatnya sendiri, aku juga ikut andil,” Protes Kyuhyun dengan nada merajuk yang mendapat sahutan tawa dari nenek Hyo In, ibunya, dan Donghae. Namun Hyo In tak menampakkan ekspresi apapun. Ia hanya memeluk perutnya erat seolah tak ingin kehilangannya.

“Song Hyo In.” Suara lirih itu datang bersama angin yang menerbangkan suarai hitam panjangnya. Disusul dengan gemuruh petir yang memekakkan telinga .

Mereka semua keluar dari istana. Barisan para anggota kawanan unicorn itu sudah lebih dulu bersiap-siap di depan pintu gerbang yang masih terlindungi dengan portal buatan Kyuhyun yang selama ini menyembunyikan mereka dari Lucifer. Hal itu membuat Kyuhyun dan Donghae terheran.

“Tetaplah di sini.” Titah Kyuhyun pada ibunya, Hyo In, dan nenek kemudian menyusul Donghae yang sudah lebih dulu menuju barisan terdepan. Menatap tajam tanpa ketakutan beribu balatentara Lucifer dengan wujud yang mengerikan. Setengah manusia setengah binatang. Siap menghancurkan kerajaan Kyuhyun kapan saja.

“Pergi selamatkan para wanita dan anak-anak, sebanyak yang kau bisa.” Titah Kyuhyun pada Donghae masih menatap lurus pada Lucifer.

“Apa kau bilang? Kau mau melawannya sendirian? Tidak! Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu.” Bantah Donghae tak setuju.

Hyung, dengarkan aku! Portal ini tidak akan mampu menahan serangan mereka. Pergi selamatkan mereka sebanyak yang kau bisa. Aku akan menahannya bersama prajurit yang lain,” Titah Kyuhyun kembali.

 “Jangan membuatku menyesal lebih banyak karena membiarkan mereka mati di tangan Lucifer. Aku titipkan mereka padamu, kumohon, jangan anggap ini perintah dari pemimpinmu, anggap ini permintaan adikmu yang ingin melindungi keluarganya.” Kyuhyun memohon pada Donghae yang hanya terdiam menahan luapan emosinya.

“Jika terjadi sesuatu padaku malam ini, aku titipkan kalung ini padamu. Berikan pada anakku saat usianya 5 tahun.” Donghae menggeleng. Setetes airmata seorang panglima menetes malam ini.

Shireo! Kau harus memberikannya sendiri padanya!” Tolak Donghae keras.

BRUUKK BRUUKK BRUUKK

Suara-suara tersebut terus saja menggema. Ribuan pasukan Lucifer masih berusaha menggempur portal yang melindungi kerajaannya. Kyuhyun memberikan kalung yang berbandul setengan hati dan bertuliskan namanya pada Donghae. Kalung buatan Donghae, kalung yang sama dengan milik Hyo In.

Donghae bingung, antara membantu Kyuhyun atau menyelamatkan anggota kawanan mereka seperti keinginan Kyuhyun.

BRUUKK BRUUKK BRUUKK

“Kumohon, sudah tidak ada waktu lagi.” Ujar Kyuhyun lagi. Akhirnya Donghae berlari secepat yang ia bisa setelah menepuk bahu kanan Kyuhyun. Kembali ke istana, menyelamatkan sebanyak mungkin perempuan dan anak-anak. Membawa mereka pergi sejauh mungkin dari istana tersebut. Mereka berlari menyusuri lorong istana menuju pemakaman bawah tanah yang akan menghubungkan mereka dengan jalan keluar yang sudah lama Donghae dan Kyuhyun persiapkan untuk menghadapi hal terburuk. Seperti ini.

“Sepertinya telah terjadi sesuatu padamu, pangeran tampan,” Langkah cepat Hyo In terhenti tiba-tiba. Donghae kembali menggandengnya untuk ikut berlari bersama yang lain.

Oppa, apa yang terjadi dengan Kyuhyun?” Tanya Hyo In khawatir.

“Kau bertanya disaat yang tidak tepat. Yang perlu kau lakukan sekarang hanya lari dan pergi dari istana ini.” Donghae kembali menggeret Hyo In dan berlari kembali.

“Serahkan calon isteriku sekarang juga jika kau tak mau prajuritmu lenyap di tanganku.” Sorakan menantang dari para prajurit Kyuhyun dan gairah untuk segera menyerang dari prajurit Lucifer kembali membuat tubuh Hyo In meremang. Langkahnya kembali terhenti, berkali-kali ia menoleh ke belakang saat suara menggelegar Lucifer terdengar mengancam keselamatan Kyuhyun dan para prajuritnya.

Oppa aku harus menemani Kyuhyun.” Hyo In melepaskan genggaman tangan Donghae. Berlari kembali menyusuri lorong gelap menuju luar istana.

Ya! Hyo-ya apa yang kau lakukan?”

“Hyo-ya, berhenti sekarang juga atau… AARRGGHH!!” Donghae memekik kepanasan setelah ekor naga yang mengungkung tubuh Hyo In memberikan sedikit goresan pada lengan Donghae.

“Aku bisa menjaga diriku sendiri,” Hyo In kembali berlari meninggalkan Donghae.

YA!”

BOOM

Kobaran api itu seketika menghalangi jalan Donghae untuk mengikuti Hyo In. Ia mengumpat kesal karena kekeras kepalaan gadis itu. Sementara itu Hyo In terus saja berlari. Secepat mungkin mencapai tempat Kyuhyun, ia bahkan tak memikirkan nyeri di perutnya yang mulai terasa.

OPPA!” Teriakan Hyo In membuat Kyuhyun terhenyak tak percaya.

Gadis gila. Umpat Kyuhyun.

Oppa, kau tidak apa-apa?” Tanya hyo in dengan napas terengah saat ia sampai de samping kyuhyun. Memeluknya dengan erat, bersyukur jika Lucifer tak melukai tubuh suaminya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Kyuhyun memaksa Hyo In melepas pelukan mereka. Ia marah, tetntu saja. Berada di sini sama saja menyerahkan diri.

“Tsk, benar-benar drama yang mengharukan.” Kyuhyun dan Hyo In kembali tersadar jika Lucifer berada di depan mereka.

Bayangan hitam itu perlahan merambat mendekati tubuh Hyo In namun belum sempat bayangan itu menyentuh tubuhnya, naga perisai Hyo In itu menyambar bayangan tersebut, membuat Lucifer memekik kepanasan. Sejurus kemudian tawa menggelegarnya kembali memenuhi langit malam natal.

“Jadi kau calon isteriku?” Hyo In menelan salivanya susah payah. Bodoh, harusnya ia tak menunjukkan jati dirinya.

Ia menatap bingung pada Kyuhyun yang menatapnya sebal. “Kau benar-benar ceroboh.” Geram Kyuhyun. Kemudian ia membawa Hyo In untuk berlindung di balik tubuhnya. Setidaknya jika terjadi sesuatu, Kyuhyun bisa menghalanginya.

“Aku akan menyerahkan diri,” Kyuhyun menatap tajam ke arah Hyo In. Tidak setuju, tentu saja.

“Tetap di belakangku.”

“Aku akan menyerahkan diri lalu semua masalah akan selesai.” Bantah Hyo In sekali lagi

“Tetap di sana!” Jawab Kyuhyun tegas.

BRUUKK BRUUKK BRUUKK PRAAANGG

Seperti suara kaca yang pecah, pertahanan yang Kyuhyun buat luruh begitu saja karena serangan bertubi-tubi dari prajurit Lucifer. Membuat para prajurit unicorn itu membentuk lingkaran, melindungi raja dan ratu mereka dari berbagai arah.

SAATT PRAANGG

Secara mengejutkan, beberapa trisula menyerang mereka dari atas. Mata kawana unicorn itu terbelalak ketika trisula-trisula itu luruh begitu saja sebelum berhasil menyentuh kepala mereka. Naga bersisik emas itu mengungkung seluruh lingkaran pasukan yang melindungi Hyo In dan Kyuhyun. Memberikan mereka perlindungan dari serangan pasukan Lucifer.

“Aku tidak menyangka jika kekuatanmu sebesar itu, nona manis.” Hyo In memeluk erat tubuh Kyuhyun dari belakang, tidak berani melihat wajah Lucifer yang mengerikan bahkan mendengar suaranya saja membuatnya ketakutan.

“Dengar! Sebenarnya permasalahan ini tidak akan menjadi pelik jika kau menyerahkan dirimu, Song Hyo In. Satu penawaran dariku, kau menyerahkan dirimu lalu aku akan melepaskan pangeran Unicorn dan pasukannya itu, bagaimana?”

Hyo In mendongak menatap Kyuhyun tajam meminta persetujuan dari Kyuhyun untuk melepasnya.

“Satu nyawa tidak berarti apa-apa untuk menyelamatkan ratusan nyawa yang lain.” Ujar Hyo In memohon.

Kyuhyun menggeleng keras. “Tidak! Jangan dengarkan dia! Kau akan menyesal.” Kini giliran Hyo In yang menggeleng tak setuju. Ini langkah terbaik, batinnya. Ia menyerah dan semua masalah akan selesai.

Hyo In melepaskan pegangan tangannya pada Kyuhyun. Menahan Kyuhyun untuk kembali melindunginya dengan kungkungan naganya. Tak seorangpun bisa mencegahnya, ia melindungi diri dengan naganya yang siap melahap siapa saja yang ingin mencegahnya. Kini, Hyo In telah berdiri tepat di depan barisan prajurit Lucifer. Menoleh ke belakang, tersenyum ke arah Kyuhyun yang tengah menahan emosi untuk menarik poninya kesal karena tak bisa mengejar Hyo In,  terhalang barisan api yang Hyo In buat sendiri menjadi pembatas antara kubu Kyuhyun dan Lucifer.

“Aku akan menikah denganmu. Jadi lepaskan mereka.” Ujar Hyo In dingin. Ia menunduk dalam, merasakan perih di hatinya saat harus menyerahkan diri untuk Lucifer, makhluk mengerikan. Ia terisak, takut bercampur sedih, inilah jalan yang harus ia tempuh.

Sejurus kemudian, tubuh Hyo In kembali meremang. Sebuah symbol pentagram muncul secara tiba-tiba, membuat tubuhnya kaku seketika, bahkan ia tak mampu mengeluarkan perisainya lagi. Sial. Batin Hyo In.

Beberapa saat kemudian, mata Hyo In terbelalak kaget saat ia merasakan sentuhan lembut di lehernya. Ia memejamkan mata menahan rasa geli yang bisa saja membangkitkan birahinya. Tak ada tangan siapapun di sana. Hanya sebuah bayangan tangan besar yang dengan senang hati membelai wajah dan lehernya, menggoda. Perlahan tangan itu turun membelai dada Hyo In, meremasnya pelan hingga membuat ia memekik tertahan karena geli yang merangsang nafsunya sebagai manusia biasa.

“Euuunngghh¬” Dada Kyuhyun terasa menyempit, telinganya memanas saat melihat isterinya dijamah oleh tangan lain di depannya matanya. Mata Kyuhyun memanas namun tak mengeluarkan cairan apapun. Giginya beradu menimbulkan suara gemeretak kebencian dengan urat leher dan tangan yang muncul, menggambarkan kebenciannya melihat Hyo In hanya mampu pasrah merasai belaian tangan Lucifer dan ia yang tak mampu melakukan apapun demi keselamatan prajuritnya.

Tangan Lucifer perlahan turun menuju perut Hyo In, merabanya lama hingga membuat Hyo In merintih menahan hasratnya. Sesaat kemudian tawa menggelegar Lucifer kembali terdengar. Rintihan Hyo In tak lagi terdengar, berganti erangan kesakitan yang amat dalam saat Lucifer menekan perutnya dalam.

“Kau bukan perawan lagi, huh?” Kyuhyun terhenyak ketika menyadari jika apa yang dilakukan Lucifer bisa membunuh anaknya. Hyo In meronta namun tak mampu menggerakkan tubuhnya. Hanya airmatanya yang keluar karena menahan sakit.

“Lalu ijinkan aku mendapat apa yang harusnya kumiliki.”

OPPAA!!” Tangan Hyo In mencengkeram sisi tubuhnya kuat. Keringatnya bercucuran saat sakit itu melanda perutnya. Tubuhnya menghangat, sekuat tenaga perisai itu berusaha keluar namun pentagram yang melingkari tubuh Hyo In menyegelnya.

Tawa Lucifer kembali menggema saat menyaksikan Hyo In yang merintih kesakitan dan seolah menghina keberadaa Kyuhyun yang tidak bisa melakukan apapun di sana. Menatapnya menantang dan membuat Kyuhyun semakin geram.

“BIADAB!” Kyuhyun berteriak geram, seketika tubuhnya kembali menjadi seekor Unicorn putih yang bercahaya. Berlari sekuat yang ia bisa, membelah api yang Hyo In ciptakan untuk menghalanginya. Memancarkan cahaya putih menyilaukan dan mengarahkan tanduknya kea rah Lucifer. Namun langkahnya terhenti, ada bayangan tangan lain yang mengarah ke tubuhnya. Mencekik tubuh raja Unicorn itu, menggantungnya di langit lalu menghempaskannya ke tanah. Tepat di samping Hyo In.

Oppa!” Lirih Hyo In seraya menahan sakit di perutnya. Tatapan mata Kyuhyun mengatakan jika ia tak ingin berpisah dengannya. Namun tubuhnya tak bisa bergerak, terkungkung tangan besar Lucifer.

“Kau!” Gumam Lucifer.

“Tidak berguna.”

JLEB.

“AARRGGHH!!!”

“OPPAA!!” Teriak Hyo In pilu. Matanya terbelalak saat tombak itu berhasil menembus jantung Kyuhyun, tubuhnya luruh dengan tombak yang masih menancap di dadanya. Menatap Hyo In nanar untuk kemudian menutup mata. Selamanya.

“OPPAAA!!!” Jerit pilu Hyo In membuat tawa Lucifer menggema. Para kawanan Unicorn itu marah dan akhirnya perang itu benar-benar terjadi. Suara geraman amarah, peraduan senjata dan cucuran darah merah dan putih yang menempel pada salju menambah suasana mencekam malam ini.

“Ucapkan selamat tinggal pada pangeranmu sebelum aku benar-benar memakan janinmu.” Suara besar Lucifer menggema. Lucifer melepaskan cengkeraman tangannya pada perut Hyo In, perlahan ia merambat mendekati Kyuhyun yang tergeletak tak berdaya. Memeluk kuda putih itu dengan terisak.

 “Oppa, kumohon buka matamu!” Isak Hyo In, membingkai wajah kyuhyun yang tak meresponnya sama sekali.

OPPA!” Bentak hyo in. Marah, kesal, dan benci menjadi satu. Perlahan, panas itu kembali merambahi tubuhnya, melelehkan salju di sekitarnya dan Kyuhyun. Naga itu meligkupi tubuhnya, mengeram marah. Kilatan cahaya putih melenyapkan tubuh Kyuhyun dalam pelukan Hyo In, menyisakan tanduk emasnya.

Tatapan mata Hyo In kosong, seperti orang yang tak tahu harus melakukan apapun. Ia terduduk di atas salju yang menutupi tanah, memeluk tanduk itu erat, terisak tanpa airmata. Mendongak ke atas, menatap Lucifer yang berada tepat di depannya, memandang Hyo In dengan pandangan seduktif yang menjijikkan. Ia tak berani menyentuh Hyo In saat naga itu masih melingkupi tubuh calon istrinya.

“Tenang gadis manis, aku tidak akan membunuhmu.”

Hyo in menggeleng keras, ketakutan. Perlahan ia memundurkan tubuhnya menjauhi Lucifer yang semakin lama semakin mendekatinya.

“PERGI!” Seru Hyo In keras. Kilatan api merah itu berusaha menyambar tubuh besar Lucifer, namun meleset.

“Kau hanya perlu memberikan janinmu padaku.”

SHIREO! Aku tidak akan memberikan janinku padamu.” Hyo In memeluk perut dan tanduk Kyuhyun semakin erat, berusaha bangkit namun tubuhnya terkungkung tubuh besar Lucifer yang menghadangnya. Menekan naga tersebut dengan sekuat tenaga hingga membuatnya kembali merasuk ke dalam tubuh Hyo In, membuatnya menjerit kepanasan. Hyo In tergeletak tak berdaya di bawah Lucifer, ia kembali terisak saat wajah mengerikan Lucifer mendekatinya, menghirup aroma Hyo In dari lehernya. Sekuat tenaga mencoba usaha terakhirnya untuk melindungi janin di perutnya.

Lucifer menyeringai merasakan sebuah tusukan menancap di dadanya. Hyo In membalas tatapan Lucifer dingin meski terisak. “Kau tidak akan bisa membunuhku hanya dengan tanduk Unicorn itu, anak manis.”

Kini Hyo in yang menyeringai, menatap remah pada Lucifer. “Benarkah?” Tantang Hyo In yang mengundang tawa Lucifer. Tak lama kemudian tawanya perlahan melirih saat ia merasakan panas yang semakin merambahi tubuhnya. Matanya terbelalak saat panas yang luar biasa yang berpusat pada dadanya menguat 700 kali lipat, tubuhnya terasa terbakar membuat Hyo In semakin menyeringai dingin. Tak ada tangis, hanya perasaan membunuh Lucifer yang ada di pikirann

“AAAARRGGHHHH!!!!!”

Naga perisai Hyo In bersatu dengan tanduk emas Kyuhyun. Membakar jantung Lucifer dari dalam. Menghancurkannya menjadi butiran-butiran abu yang mulai berjatuhan di tubuh Hyo In. Seluruh pasukannya mundur, menyisakan beberapa prajurit Kyuhyun yang masih tersisa, ambruk dan terengah setelah pertarungan mereka dengan bercak-bercak darah yang masih tersisa di wajah mereka.

Hyo In menghela napas dalam. Perlahan tersenyum seraya memeluk tanduk Kyuhyun dan mengelus perutnya yang masih rata.

“Aku mencintaimu.” Tetes airmata kesedihan dan bahagia melebur menjadi satu. Kesedihan karena kahilangan Kyuhyun dan bahagia karena pada akhirnya dia akan dan tetap menjadi milik Kyuhyun walau raganya tak lagi ada.

 

END?

 

EPILOG

 

February 3rd 2020
@Hyo In’s House

 

“SARANG UNICORN DITEMUKAN DI KOREA UTARA”

Hyo in tersenyum samar setelah membaca sebaris kalimat pada headline Koran pagi ini.

“Sarang unicorn ditemukan di sebuah kuil di dalam hutan di luar kota Pyongyang.” Gumam Hyo In kemudian menyeruput kembali kopinya. Ia kembali melanjutkan kegiatan membacanya. Sejurus kemudian ia mendengus sebal saat bebebapa baris kalimat dari artikel tersebut menyebutkan jika puing yang berada di sarang tersebut hancur karena kebakaran hebat.

“Tsk, siapa yang membuat berita murahan seperti ini.” Dengusnya kemudian melempar Koran itu sembarangan.

“Kau kenapa?” Tanya Donghae yang masih sibuk memindahkan beberapa pot ke pekarangan rumah.

“Bisakah lain kali kau membawakanku gossip selebriti Korea Selatan saja, oppa.” Protes Hyo In.

“Tsk, kau mau aku mencarinya sampai mati juga aku tidak akan pernah menemukannya di ibukota,” Balas Donghae tanpa menoleh , masih berkutat dengan beberapa tanamannya.

“Terlalu banyak berita aneh di Korea Utara akhir-akhir ini,”

“Jangan terlalu percaya dengan berita-berita itu,” Donghae membersihkan tangannya kemudian mengambil duduk di depan Hyo In dan menyambar salah satu kuenya.

“Aku suka kue buatan manusia.” Hyo In terkekeh geli mendengar kata-kata Donghae yang menurutnya menggelikan.

“Kemana Jung Kook? Aku tidak melihat bocah itu dari tadi pagi.” Sela Donghae di tengah kegiatan makannya.

“Tidur.” Jawab Hyo In singkat

“Tidur?”

“Kalian bertengkar lagi?” Hyo In hanya mengangguk dan dibalas dengan gelengan kepala heran Donghae.

“Beri sedikit kebebasan pada putramu. Usianya sudah 5 tahun, harusnya kau mulai membiasakannya untuk keluar dari lingkungan rumah dan bermain.”

“Aku tidak pernah melarangnya mengunjungi kalian setiap waktu, hanya saja sore nanti ada peringatan 2 tahun kematian nenek. Jika sekali saja aku mengijinkannya keluar, dia bisa pulang larut dari hutan.” Donghae hanya menghela napas sebentar kemudian kembali menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Ia tahu, istri dan anak Kyuhyun itu sama-sama keras kepala.

“Aku akan membangunkannya, sudah waktunya makan sarapan.” Hyo in bergegas menuju kamar Jung Kook, sementara Donghae hanya membolak-balik Koran tanpa tahu maksud tulisan tersebut. Beberapa saat kemudian Hyo In keluar dari kamar tersebut dengan wajah panik, menghampiri donghae yang mulai terheran.

“Kenapa?” Donghae meletakkan korannya kembali ke meja.

“Jung Kook, oppa!” Ucap Hyo In cepat dengan nada bergetar.

“Kenapa dengan Jung Kook?” Tanya donghae penasaran.

“Jung Kook tidak ada di kamarnya.” Seru Hyo In mulai panik.

“Kau sudah mencarinya?” Hyo In mengangguk cepat. Airmatanya mulai keluar saat ia tak mampu menemukan putranya.

“Di kamar mandi, dapur? Pekarangan?” Hyo In menganggu cepat, setetes airmatanya mulai menetes. Ia takut terjadi apa-apa pada putra satu-satunya.

“Tenang, mungkin saja sia ada si hutan sekarang.” Donghae mencoba menenangkan.

“Tidak, eomeonim sudah melarangnya untuk ke sana beberapa bulan ini karena ada beberapa arkeolog dari Pyongyang yang melakukan penelitian Unicorn di sana,” Seru Hyo In cepat.

“Anak itu keras kepala, kau ingat?” Hyo In mengangguk kemudian mengikuti langkah Donghae. Mereka keluar dari rumah dengan tergesa. Setelah beberapa menit memasuki hutan, mereka mulai berpencar mencari Jung Kook.

Donghae mulai memanggil-manggil nama Jung Kook. Sementara di sisi lain, Hyo In mulai kebingungan dan menangis lagi karena Jung Kook tak kunjung mereka temukan. Tak ubahnya Donghae, ia sekarang berteriak seperti orang gila memanggil nama Jung Kook, berlari, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru hutan, mencari sosok putranya.

“EOMMAA!!!” Sejurus kemudian langkah dan teriakannya terhenti, memandang sekeliling hutan seraya menajamkan telinganya.

“Jung Kook-ah, Eodiga? Eomma yeogi isseo!” Teriak Hyo In berharap mendapat jawaban dari Jung Kook namun setelah beberapa waktu menunggu, ia tak jua mendapatkan jawaban. Tubuhnya luruh begitu saja, ia menunduk dalam seraya terisak, napasnya terengah dengan peluh yang memenuhi wajah cantiknya dengan hiasan beberapa helai rambut yang menempel di pipi.

“EOMMAA!!!” Hyo In semakin terisak saat ia rasa tengah mendengar Jung Kook memanggilnya. Ia bahkan sudah berhalusinasi mendengar suara Jung Kook lagi.

“Jung Kook, maafkan eomma,” Hyo In menekuk kedua lututnya kemudian memeluknya erat.

EOMMA, YEOGII!!” Seruan itu membuat Hyo In mendongakkan wajahnya, ia mulai mendengar langkah kaki tergesa hingga beberapa saat kemudian terhenyak seraya membelalakkan matanya saat melihat Jung Kook berlari di depannya, masih dengan piyama tidur bermotif doraemon dan sepatu power ranger yang sudah kotor karena terkena tanah.

“Jung Kook-ah!” pekik Hyo In.

Ia segera bangkit, berlari menyusul  Jung Kook yang hamper tersandung batang kayu yang ambruk untuk kemudian memeluk dan menggendongnya. Hyo In terus menciumi pipi chubby Jung Kook dan seluruh wajahnya yang terlihat ketakutan di dalam pelukan Hyo In.

Gwaenchana?” Tanya Hyo In pelan. Tangannya bergetar membelai wajah putranya saat menangkap ketakutan dari wajah Jung Kook.

“Aku takut.” Jawab Jung Kook manja kemudian memeluk Hyo In semakin erat. Menyembunyikan wajahnya dalam pelukan sang ibu.

“Katakan pada eomma, apa yang membuatmu takut, hum?” Ujar Hyo In menenangkan serya membelai rambut hitam Jung Kook yang halus.

Jung kook kembali menatap ibunya. “Aku melihat hantu appa, eomma.” Ujar Jung Kook mengadu.

“Hantu appa?” Tanya Hyo In heran.ia rasa Jung Kook mulai berimajinasi lagi mengenai Kyuhyun.

Jung kook mengangguk cepat berusaha membuat ibunya percaya. “Kali ini aku tidak berimajinasi lagi seperti Doraemaon yang bertemu dengan power ranger. Aku benar-benar melihat appa saat aku mau ke rumah nenek. Lalu… lalu…aku lari…tapi… tapi  aku bersembunyi karena hantu appa terus saja mengejarku.” Ujar Jung Kook terbata mencoba  lebih meyakinkan.

Eodi?”

“Di sana,” Tunjuk Jung Kook tepat di belakang Hyo In.

EOMMA, ITU HANTU APPA!” Pekik Jung Kook seraya menutup wajah dengan kedua telapak tangan mungilnya setelah menunjuk tepat di belakang ibunya.

Hyo In berbalik untuk melihat hantu Kyuhyun yang disebut Jung Kook. Ia mematung, saat mata mereka kembali bersatu dalam satu pandangan. Mata biru itu kembali membuat jantungnya berdetak kencang, merusak system otaknya untuk bekerja normal. Membuatnya hanya mampu terdiam dan semakin mengeratkan pelukannya pada Jung Kook. Menyalurkan segala debarannya yang mulai tak beraturan.

Kyuhyun oppa. Batin Hyo In.

Chogiyo,” suara bass pria tersebut membuat Hyo In semakin terpaku padanya.

“Aku hanya ingin mengembalikan ini,” Hyo In mulai tersadar saat pria tersebut mengulurkan tangannya, memberikan sebuah kalung berbandul kayu berbentuk hati dengan tulisan namanya dan Kyuhyun.

“Aku menemukan kalung ini di sekitar puing-puing kuil di dalam hutan. Kurasa ini milik bocah itu, tapi dia malah berlari saat aku akan mengembalikannya,” Hyo In ingin sekali berlari ke pelukan pria tersebut namun tubuhnya terasa kaku saat melihat pria itu tersenyum. Pria itu, seperti Kyuhyun. Senyum, bentuk tubuh, mata, hidung, pipi, bibir dan segalanya. Hanya saja pria ini mempunyai rambut cokelat kehitaman.

Hyo In menggeleng keras berusaha menyadarkan dirinya.

Tidak. Dia bukan Kyuhyun, suaminya. Dia manusia.

Gamsahamnida.” Ujar Hyo In singkat. Hanya itu yang bisa ia katakan, takut jika isakannya yang akan keluar jika ia berbicara terlalu banyak. Pria tersebut tersenyum sekali lagi kemudian membungkuk sesaat dan berbalik.

Chakaman,” Pria itu berhenti kemudian berbalik kembali menatap Hyo In.

“Nde?”

“Ss si siapa namamu?” Tanya Hyo In terbata. Ia penasaran, tentu saja. Pria tersebut kembali tersenyum dan membuat Hyo In semakin berdebar.

“Cho Kyuhyun imnida.”

 

END

 

Gaje ya? Drama banget ya?

Biarin dah. Wkwkwkw

Mohon reviewnya dari readerdeul yuuaa!!! ^^
Cuma ini yang lagi kepikiran di otak saya yang lagi sedeng. Semoga ceritanya memuaskan. Dan tidak menimbulkan kontroversi hati. Kekeke
Ternyata susahnya pake banget hlo nulis fantasi. Jadi mohon komentarnya yang membangun. GAK NG’LIKE GAK PAPA. YANG PENTING KOMEN. Wkwkwkw

NO SEQUEL!!!

 

 

 

66 thoughts on “[Two Shot] 13th Sister of Light (2-END)

  1. Ya ampun itu endingnya seriusan kyuhyun nya hidup lagi atau gimana? Huaaaa ga ada sequel bikin penasaran T.T

  2. Wahhhh ga nyangka kyu bakal meninggal >_< mungkin itu reingkar nasi dari arwah kyuhyun wahhhhh butuhhh squellll min wkwkw

  3. Aku mau koment apa coba???? Ini benar-benar tidak terduga. Oh… Itu Kyuhyun beneran kan? Dalam wujud manusianya sebagai seorang idol. Ih, tapi nggak adil dong kalau cuma Hyo In yang terpesona?? Kyuhyun manusia juga harus deg-deg gitu. Semangat eonni. Aku tunggu karyamu selanjutnya. I love you.

  4. Ya ampunn .. nhe mahh tetep butuh sequell ..
    Cerita’a bener2 kerennn ..
    Kyuhyun mati .. tapi lucifer jga mati ..
    N seperti ada reinkarnasi kyuhyun ..
    Akhhh seruuuu .. suka bangeddd lahhh

  5. Pingback: REKOMENDASI FANFICTION | evilkyu0203

  6. Yahhh kagak happy ending, gantung…
    #nyanyilagumelliguslow_gantung

    Wkwkwkwk… Inkernasi kyuhyun versi manusia… Sayang gak ada sequelnya… 😣😣

    Tpi ceritanya keren, pengen bikin ceeita fantasy begini juga tapi susah banget bayanginnya yg akhirnya ancur hasilnya, berantakan gak karuan… Kkk~ malah curhat…

  7. Pingback: Rekomendasi Fanfiction Part 2 | evilkyu0203

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s