[Chapter] Reset Part 6

Title :  Reset

Author : Valuable94

Genre : Romance, Angst, Drama, Married Life, Family

Casts : Cho Kyuhyun (SJ), Song Hyo In (OC)

Support Cast : Cho Sungmin (Sungmin SJ), Song Hye Kyo (actress), Kibum (Kibum SJ), Kyuhyun’s parents, and Hyo in’s parents

Rate : PG-17

Length : Chapter

Disclaimer : All of those casts belong to themselves. OOC (Out Of Character). This story and plot are MINE. Mohon maaf atas keasaam nama dan setting. Don’t like, don’t read. Don’t bash. No Plagiarism.

 

Happy reading ^^

 

 

 

“Saat Hati Mendominasi”

 

 

11 p.m

 

Hyo In POV

 

Kami berlari. Kyuhyun terus saja menggandeng tanganku seraya memaksaku mempercepat langkah untuk menyamai kecepatannya.

 

Aku lelah,

 

Yah, inilah yang aku takutkan saat aku bersamanya. Saat tiba-tiba Kyuhyun tak lagi mengajakku berjalan, tapi berlari. Menggapai apa yang ingin ia gapai namun sebenarnya tak ingi kugapai.

 

Ia terus saja menyemangatiku untuk berlari saat kami sampai tepat di gerbang istananya. Istana yang bahkan halamannya lebih lebar daripada rumahku.

 

Sesekali ia juga menoleh ke arahku dengan senyum yang tak lagi 3 jari, mungkin 5 atau 6. Arrghh! Terserahlah, yang jelas senyum itu terlihat begitu lepas. Tanpa mempedulikan napas kami yang terengah dan peluh yang membasahi tubuh kami, ia terus saja mengajakku berlari mendekati pintu rumah.

 

Tok tok tok tok tok

 

EOMMAAA!!! APPAA!!! HYUNGG!!! NOONAA!!!”

 

Kyuhyun berteriak seraya mengetuk pintu denan tempo keras, teriakkannya lebih terdengar seperti orang kesurupan sebenarnya tapi tak pernah kupedulikan sekalipun karena napasku lebih penting daripada Kyuhyun.

 

Tok tok tok tok

 

“YA! Buka pintunya!” Kyuhyun mengusap peluh di dahinya, kemudian kembali mengetuk pintu.

 

Tok tok tok tok

 

Semakin lama ketukannya semakin keras, napasnya memburu dengan wajah yang memarah panas. Aish~ kenapa lagi namja ini?.

 

Kutegakkan tubuhku setelah selesai mengatur napas kemudian mengusap pelan pundak Kyuhyun.

 

“Tanganmu bisa memar kalau seperti ini terus.” Kugenggam tangannya perlahan kemudian mengusap bagian buku jarinya yang terlihat memerah karena Kyuhyun mengetuk pintu terlalu keras.

 

“Aku inginhh cep..pathh masuk rumahhh dan memberitahuhh merekahh ka..kalau kau pulang malam inihh.” napasnya tersengal di tengah kalimat panjangnya. Apa namja ini tak pernah berpikir kalau para penghuni rumah ini sudah terlelap karena hari sudah malam. Ya tuhan, aku harus bisa tersenyum sekarang.

 

Aku menggeleng pelan kemudian mengusap peluh di dahi dan pipinya seraya mengusap bahu Kyuhyun. Perlahan napasnya mulai menormal seiring dengan perubahan raut wajahnya yang tak lagi memerah karena tegang.

 

“Tunggulah sebentar! Mungkin mereka sedang berjalan untuk membukakan pintu.”

 

Kubalikkan tubuhku bermaksud mengetuk pintu kembali. Beberapa saat setelah itu, terdengar suara decitan pintu terbuka dan menampakkan seorang pelayan perempuan di hadapan kami dengan rambutnya yang acak-acakan, ia membungkuk sebentar pada kami.

 

Tanpa aba-aba lagi, Kyuhyun menggeretku kasar ke dalam rumah tanpa mempedulikan pelayan yang baru saja membukakan pintu untuk kami.

 

“Eoh oppa, chakamanyo!” sontak Kyuhyun menghentikan langkahnya kemudian menoleh kearahku. Kulepaskan genggaman tangannya pada jemariku yang kurasa kini sudah memerah karena genggaman tangannya terlalu erat.

 

Wae?” tanyanya dengan wajah polos. Tanganku sakit bodoh. Batinku. Namun hanya kubalas dengan gelengan kepala seraya tersenyum ringan ke arahnya. Aku tak berani mengatakannya karena aku takut Kyuhyun akan marah lagi malam ini.

 

“Kau tunggu di sini! Biar kupanggilkan eomma dan appa.” Kyuhyun mendudukkanku di sofa ruang tamu yang berada tak jauh dari tempatku berdiri.

 

“Ta…” aku berhenti seketika. Ingat! Tak boleh ada penolakan. Shit, aku benci ini.

 

Kyuhyun berlari menaiki tangga dengan semangat dan aku hanya bisa diam di sini. Menunggunya kembali dan mungkin membawa kedua mertua dan kakakku. Aku berusaha mengatur napas agar tak terlihat gugup jika aku benar-benar akan bertemu dengan mereka nanti. Aku tak ingin mereka melihatku kalah di sini. Bukan, aku bukannya kalah, tapi aku mengalah.

 

Beberapa menit kemudian kudengar suara derap langkah menuruni tangga. Saat kudongakkan kepalaku, kulihat begitu banyak raut wajah yang berbeda-beda dari mereka. Kyuhyun mendekat ke arahku kemudian membawaku mendekati mereka berempat dengan wajah yang…yang… aish~ aku tidak tahu mereka marah atau tidak.

 

Kutelan ludahku pelan kemudian berdiri seraya kuhembuskan napas pelan. Aku gugup. Bagaimana kalau nanti mereka berempat berbondong-bondong menghajarku karena ulahku 2 minggu yang lalu.

 

Aku membunguk sesaat di depan mereka kemudian kembali menunduk karena takut melihat ekspresi datar mereka yang lebih terlihat seperti harimau yang terlalu lama tidak makan daging. Lapar dan ingin menerkamku sesegera mungkin. Kumohon jangan pukuli aku. Sudah cukup Kyuhyun saja yang menendangi tubuhku.

 

Mataku terbelalak saat kurasakan pelukan hangat dari 2 orang yang sangat Kyuhyun sayangi. Abeonim dan eomonim memelukku bersamaan. Mereka mengusap pelan punggungku. Kukerjapkan mataku cepat karena aku masih tak percaya dengan ini. Mereka memelukku? Tolong zoom adegan ini jika kalian tak percaya kalau mertuaku ini memelukku.

 

Sesaat kemudian mereka melepaskan pelukannya. Abeonim nampak tersenyum bahagia seraya menangkup kedua pipiku.

 

Welcome home.” Abeonim mengusap kedua pipiku lembut dan aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman juga.

 

Kutolehkan pandanganku sejenak ke arah eomonim yang hanya diam memunggungi kami. Beliau nampak merapatkan berjalan menjauhi kami berjalan kembali menaiki tangga. Kualihkan pandanganku meminta ijin pada abeonim untuk mengejar eomonim dan beliau mengangguk pelan.

 

Aku berjalan melewati Sungmin Oppa dan Hye Kyo Eonni menaiki tangga untuk mengejar eomonim. Saat aku sampai tepat di belakangnya, kupeluk tubuhnya erat hingga mau tak mau menghentikan langkahnya.

Kusandarkan kepalaku di punggungnya.

 

Mian.” Lirihku. Aku bisa merasakan punggungnya bergetar. Mungkin ia menangis.

 

“Jangan tinggalkan Kyuhyun lagi!” hanya itu yang beliau katakan seraya mengusap tautan tanganku yang tengah memeluknya, aku mengangguk. Perlahan eomonim melepaskan pelukanku dan berjalan menjauhiku. Aku hanya diam, memangnya apa lagi yang bisa kulakukan? Tak mungkin kan aku mencegahnya.

 

Aku berbalik dan melihat Hye Kyo Eonni yang hanya melipat kedua tangannya di depan dada tanpa ekspresi juga. Aish~ kalau marah ya marah saja, kenapa harus seperti ini. Aku ini bukan orang yang bisa membaca pikiran kalian.

 

Aku turun kemudian mendekatinya. Aku memeluknya erat, aku merindukan kakakku yang selalu memberikanku kekuatan di balik tubuh rapuhnya. Lama…Hye Kyo Eonni tak membalas pelukanku.

 

“Kenapa kau kembali?” tanyanya datar.

 

Mian.”

 

“Apa tujuanmu kembali? Aku lebih senang jika kau pergi dari Kyuhyun seperti kemarin.”

 

“Tapi aku bukan pecundang, jadi aku tidak akan pergi sebelum membayar lunas hutangku.”

 

Aku menatap Sungmin Oppa yang berdiri di belakang kami. Sengaja kukerasakan suaraku agar ia bisa mendengar pernyataanku. Aku bukan pecundang.

 

Sungmin Oppa hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Kenapa? Kau heran padaku.

 

“Hutang apa maksudmu?”

 

“Hutang untuk bersama Kyuhyun,”

 

“Sampai titik dimana aku memang harus menyerah dan meninggalkannya.” sambungku lebih pelan hingga hanya kami berdua yang mampu mendengarnya.

 

Hye Kyo Eonni tak juga membalas pelukanku hingga akhirnya kulepaskan pelukan kami kemudian menatap wajahnya yang penuh tanya saat melihatku mempoutkan bibirku.

 

“Kau tidak mau memelukku? Kau tidak rindu pada adikmu?”

 

Hye Kyo Eonni hanya tersenyum remah kemudian mencubit pinggangku lembut. Setelah itu ia memelukku lembut.

 

“Ya. Aku sangat merindukan setan kecilku.” ia terkikik geli setelah mengakhiri kalimatnya.

 

Gomawo.” lirihku.

 

 

@KyuIn’s Room

 

Aku dan Kyuhyun terduduk saling berhadapan di atas ranjang dengan posisi saling menekuk lutut. Kyuhyun terus saja memandangiku dengan wajah yang menopang pada lututnya, begitupun aku. Tsk, ini hanya ada di drama dan fanfiction saja. Hahaha

 

“Kau tahu chagi?” tanyanya tiba-tiba memecahkan keheningan kami.

 

“Eoh, tentu saja tidak, kau bahkan belum mengatakan apapun.” jawabku datar dan membuatnya mencubit betisku dengan capitan jari jempol dan telunjuk kakinya. Aku hanya terkiki menanggapinya. Ya! Itu sakit.

 

“Kau itu…seperti Dewi Ananke.” aku mengernyit heran. Ananke?.

 

“Siapa Ananke? Aku tidak mengenalnya.”

 

“Dewi Ananke, dewi takdir dan keniscayaan.”

 

Wae?”

 

“Karena aku menaruh semua takdir dan segala kemungkinan yang akan terjadi dalam kehidupanku itu padamu.” Kyuhyun menggengam tanganku.

 

Aku hanya tersenyum remeh mendengar penjelasannya. Takdir? Keniscayaan? Bagaimana aku bisa diibaratkan seperti itu? Bahkan aku sendiri lebih sering dipermainkan oleh takdir meskipun aku yang membuat dan menenun takdirku sendiri.

 

“Lebih cantik mana Athena dan Ananke?”

 

“Song Hyo In yang tercantik.” ia tersenyum diakhir kalimatnya. Aku hanya berdecak seraya menggeleng heran. Namja ini kalau tidak sedang gila ternyata begitu pandai merayu.

 

“Terima kasih. Jja! Sekarang kita tidur.”

 

Aku mengambil posisi berbaring di sampingnya dengan posisi memunggungi Kyuhyun. Perlahan kurasakan lingkaran tangannya berada di pinggangku dengan dadanya yang juga menempel di punggungku.

Ini terlalu keras. Detakan jantungnya benar-benar cepat dan keras hingga aku bisa merasakannya. Kuhela napasku sesaat. Namja ini, kenapa Kyuhyun mau memberikan benang kehidupannya padaku dan memintaku untuk menenunnya.

 

Ananke? Pantaskah aku diperumpamakan seperti dewi Ananke, sang dewi takdir? Karena sesungguhnya aku lebih pantas disebut Janus daripada Ananke. Sisi gelap dan terang. Mungkin sekarang hanya sisi terangku yang nampak. Tapi kau tak akan pernah tahu kapan sisi gelapku itu akan muncul.

 

Kupejamkan mataku perlahan seraya menikmati alunan detak jantung Kyuhyun yang terdengar seperti lagu “Sorry Sorry Answer” di telingaku. Lama…perlahan kesadaran mulai memburam dan…hilang.

 

***

 

Mataku memicing saat ku rasakan hangat menerpa tubuhku yang tak tertutupi selimut. Kulihat di sampingku sudah tak ada lagi sosok Kyuhyun. Aku bangkit dari ranjang kemudian pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka kemudian turun ke ruang makan.

 

Aku sempat terkaget saat kulihat keluarga Cho dan Eonniku tengah bercanda bersama saat sarapan, termasuk Kyuhyun. Tak kulihat senyum 3 jarinya lagi, namun tawanya kini terdengar lepas saat mendengar lelucon tentangku yang kakakku ceritakan pada mereka.

 

Perlahan, kudekati mereka dan duduk di samping Kyuhyun.

 

“Selamat pagi.” sapaku datar.

 

“Oh ini dia peran utamanya sudah datang. Ayo Chagi ceritakan lagi lelucon  tentang adik iparku tersayang itu.” Kata Sungmin Oppa dan semua orang mengangguk. Tsk, sepertinya aku kan dipermalukan karena mulut kakakku pagi ini.

 

“Aa ya, ada satu cerita lagi. Saat masih SMP, Hyo In pernah menangis seharian di sekolah karena dia mendapat peringakat 26 dari 30 siswa. Hahaha”  kata kakakku semangat.

 

Jeongmal?” sahut ayah Kyuhyun tak percaya. Sementara ibu Kyuhyun mengernyitkan dahinya heran. Mati kau Hyo In-ssi.

 

“Bagaimana bisa? Isteriku tak mungkin sebodoh itu.” ujar Kyuhyun tak percaya. Hah…akhirnya ada orang yang membelaku.

 

“Memang tidak mungkin. Sebenarnya nilai Hyo In itu tertukar dengan teman sekelasnya karena nama mereka sama persis.”

 

Hahahaha. Hahahaha.

 

Suara tawa itu terdengar menggelegar di seluruh ruangan. Termasuk namja yang tadi membelaku. Sial.

Aku masih memberengut sebal karena pagi-pagi sudah ditertawakan orang hingga membuatku tak nafsu makan.

 

“Kyu-ya kau senang?” tanya Eomonim dan Kyuhyun mengangguk semangat. Namun saat ia melihat wajah datarku, tiba-tiba senyumnya itu menghilang. O…o…apalagi yang salah?.

 

“Kau tidak senang aku tertawa?” ya Tuhan bunuh saja aku sekarang. Salah sedikit saja namja ini bisa merusak pagiku lagi. Aku menggeleng cepat namun napasnya mulai memburu lagi dan tangannya terkepal. Ia menjatuhkan sendoknya.

 

Aku melihat kedua mertua dan kakakku. Mereka juga terlihat mulai khawatir.

 

“Percayalah Oppa, aku senang melihatmu tertawa.” kuusap lembut tangannya yang terkepal.

 

Gotjimal.” geramnya. Arrghh…aku bingung apa yang harus kulakukan sekarang.

 

“Demi apapun percayalah padaku. Aku senang,” kuusap lembut dahinya yang mulai berkeringat. Kepalan tangannya mengeras seperti menahan sesuatu.

 

“Terima kasih…aku bahagia karena tawamu pagi ini.”

 

Dan apa yang terjadi selanjutnya? Beberapa saat kemudian napasnya mulai teratur kemudian kepalan tangannya juga mengendur.

 

Perlahan ia membawaku ke dalam pelukannya dan mulai mengusap rambutku.

 

“Aku tidak marah. Aku senang.” ucapnya. Aku menghela napas lega karena untuk pertama kalinya aku bisa menenangkan Kyuhyun.

 

Kulihat kedua mertua dan kakakku juga tersenyum lega. Hey, kau namja setengah gila. Aku tak akan membiarkanmu mengamuk lagi dan melukaiku. Enak saja. aku ini isterimu. Dan sepertinya aku punya sedikit rencana untukmu.

 

Kulepaskan pelukannya kemudian mengusap bahunya.

 

“Setelah sarapan, aku akan mengajakmu ke suatu tempat.” Ujar Kyuhyun setelah sebelumnya melepaskan pelukan kami.

 

Jinjja? Eodinde?” kutampakkan wajah antusiasku di depan Kyuhyun.

 

“Kalau aku katakan kau tidak akan terkejut nanti.” Kyuhyun mengusap puncak kepalaku seperti yang biasa ia lakukan padaku. Aku mendengus kesal saat kemudian Kyuhyun beranjak meninggalkanku dari meja makan.

 

Kyuhyun meninggalkanku dari meja makan begitu saja. Aish~ dari awal namja ini sudah pintar membuatku penasaran.

 

***

 

Kyuhyun mengeratkan tangannya di bahuku hingga mau tak mau aku harus menempel padannya seraya menggenggam tanganku. Kyuhyun terlihat lebih segar dan begitu tampan hari ini. dengan sweater hijau toska dan celana panjangnya, kepalanya dihiasi dengan kupluk musim dingin. Ck, memang pagi yang dingin di akhir musim gugur ini.

 

Kami berjalan berdua disepanjang pematang ladang sayuran yang sangat luas ini. Sementara Sungmin oppa dan Hye Kyo Eonni Nampak bersantai di gubuk tempat peristirahatan para pekerja.

 

Aku dan Kyuhyun berhenti sejenak saat ada 2 orang pekerja yang tengah memikul tumpukan lobak yang yang baru saja di panen. Mereka tersenyum sejenak melihat kami kemudian melanjutkan aktifitas mereka. Kami hanya berdiri berdampingan dengan satu tangan Kyuhyun yang menggengam tanganku.

 

“Kau lihat ladang lobak ini?” aku mengangguk. Ck, mataku masih terlalu sehat untuk melihat ladang super luas ini.

 

“Ini semua adalah milikmu,” pernyataannya benar-benar membuatku jantungan untuk beberapa saat. Yang benar saja? Ladang ini? Untukku?. Sontak kualihkan pandanganku ke arah Kyuhyun yang tengah menatap lapangnya hamparan ladang lobak di depan kami. Aku masih diam, menatapnya tanpa tahu ekspresi apa yang harus kutunjukkan.

 

“Semua ini amanah dari nenek. Karena aku tak mungkin menangani perusahaan dan yayasan keluarga sepenuhnya. Nenek memberiku ladang lobak ini untuk padaku dan menyuruhku untuk mengelolanya bersama isteriku. Tapi akan memeberikannya untukmu.”

 

Aku memandangnya miris, sebenarnya miris itu lebih untuk melihat raut wajahnya yang tersenyum bahagia karena kesalahan yang tanpa sadar ia lakukukan. Memberikannya padaku? Mengelolanya bersamaku?. Aku masih tidak percaya. Bagaimana mungkin namja ini benar-benar mau memberikan seluruh kehidupanya padaku?.

 

Sekali lagi kutegaskan, aku bukanlah Ananke yang mampu menenun takdir tanpa terbelit benang takdir itu sendiri. Aku Janus, Janus yang dengan sisi putihnya akan selalu bersedia berjalan bersama Kyuhyun dan sisi gelapnya yang mungkin akan menghancurkan segala usaha sisi putihku.

 

“Apa kau yakin aku bisa mengurusnya?”

 

“Aku tahu kau pasti sudah menguasai ilmu pertanian dengan baik.” Aku mengernyitkan dahiku heran. Mungkihkan Kyuhyun tahu jurusan yang kuambil. Tapi darimana?.

 

Aku masih menatapnya heran, sementara Kyuhyun hanya menarik simpul bibir kirinya saja.

 

“Jangan menatapku seperti itu! Aku membaca sedikit buku-buku kuliahmu.” aku beralih kembali menatap hamparan ladang sayur di depanku tanpa menyangkal pernyataannya.

 

“Kenapa kau begitu yakin menyerahkan ladang ini padaku?” Kyuhyun menoleh ke arahku dengan senyum 3 jarinya lagi. Senyumnya yang paling kusukai.

 

“Karena aku mencintaimu. Aku percaya padamu.”

 

DEG

 

Itu adalah kata-kata yang selama ini tak ingin kudengar darinya.

Percaya. Terlalu sulit untuk kuingkari.

 

Aku takut. Aku tidak mau merasakan cinta itu disematkan oleh Afrodit kepada Janus karena rajutan benang takdir yang telah dibuat oleh Ananke. Aku…aku takut saat harus merasakan cinta Kyuhyun.

 

“Terima kasih.” kata apalagi yang harus kukatakan kalau sudah seperti? Ambisiku selalu kalah jika sisi putih Janusku muncul ke permukaan.

 

#On The Way

 

“Kenapa belok ke sini? Inikan bukan arah ke rumah? Tanya Kyuhyun saat kami berada di dalam mobil dan berbelok arah ke arah yang tidak seharusnya.

 

Kami berpisah dengan Hye Kyo Eonni dan Sungmin Oppa karena aku ingin mengajak Kyuhyun ke rumah orang tuaku.

 

“Aku ingin mengajakmu ke rumah Ayah dan ibu.” jawabku seraya tersenyum ke arahnya. Kyuhyun hanya mengangguk kemudian menyandarkan kepalanya di bahuku. Namja ini, terlihat begitu tergantung padaku.

Aku tak benar-benar ingin membawa Kyuhyun pulang ke rumah ayah dan ibu, karena aku sudah mempersiapkan seorang Psikolog di sana. Sebenarnya dia lebih tepat di sebut psikolog. Dia adalah kakak sepupuku yang baru saja lulus dari jurusan Psikologi. Kenapa aku memilih namja ini? Simple, setidaknya aku tak perlu membayar untuk sekedar konsultasi saja.

 

Sampai di rumah, aku segera mengajaknya masuk ke dalam. Di sana sudah ada ayah, ibu, dan Sehun temanku yang menyambut kami. Kyuhyun terlihat begitu bahagia karena ia terlihat begitu bersemangat. Kami makan bersama seraya berbincang-bincang. Kurasa ayah dan ibu sudah mulai mengerti situasinya setelah penjelasan singkatku tadi pagi. Kyuhyun juga nampak begitu santai berbincang dengan Kibum Oppa. Mereka seperti teman seumuran walaupun usia mereka terpaut cukup jauh.

 

Setelah lama berbincang-bincang, Kyuhyun nampak kelelahan dan aku menemaninya tidur di dalam kamarku dulu. Setelah ia tertidur, aku keluar dari kamar dan duduk di ruang tamu bersama kedua orang tuaku dan Kibum Oppa.

 

“Dia tak seburuk yang kau ceritakan.” ucap Kibum Oppa.

 

“Memang, tidak separah yang kemarin-kemarin.” jawabku lesu.

 

“Kau benar-benar ingin suamimu sembuh?” aku mengangguk. Namun Kibum Oppa hanya menghela napas.

 

“Kenapa? Apa tidak bisa?” tanyaku.

 

“Bisa…tapi memakan waktu yang cukup membuatmu bosan.”

 

“Katakan saja apa yang harus kulakukan.”

 

“Penderita phobia ini sangat sensitif dengan kritikan jadi yang perlu kau lakukan adalah meminimalisir kritikan itu dan penghargaan atas apa yang ia lakukanlah yang penting. Misalnya tunjukkan rasa senang dan terima kasihmu saat ia melakukan sesuatu.”  aku mengangguk patuh.

 

“Sebagai langkah awal adalah tindakan Psikofarmakologi, Psikoterapi, Psikososial, dan Psikoreligius setelah itu…”

 

“YA! Bisa tidak kau tidak menggunakan bahasa kedokteranmu itu? Aku tidak tahu sama sekali. Kau mau membuatku bingung ya?” Hyo In memotong penjelasan Kibum dengan nada kesal.

 

“YA! Akan sangat tidak mungkin sama sekali jika aku menggunakan istilah pertanian. Pembibitan, penyemaian, irigasi, hama, pupuk. Apa itu?” bantah Kibum tak kalah tinggi nadanya.

 

BRAAKK

 

Suara gebrakan meja ayah Hyo In membuatnya dan Kibum terdiam seketika.

 

“Ya! Kenapa jadi bertengkar seperti ini? Kibum-ah! Lanjutkan!” Kibum mengangguk ragu karena takut dengan ayah Hyo In.

 

“B..baiklah, singkatnya seperti ini. Untuk langkah pertama aku akan memberikannya obat untuk menghilangkan gejala-gejala klinisnya, setelah itu Psikoterapi suportif  untuk mengurangi rasa bersalahnya yang berlebihan, lalu untuk psikososial dan psikoreligius akan lebih efektif  lagi jika dilakukan oleh keluarganya,”

 

“Dari awal sampai akhir pengobatan, hanya pengertian yang paling dibutuhkan di sini. Ia butuh dukungan dari  keluarga dan terutama kau, isterinya. Karena sejauh yang kudengar dari ceritamu, dia mudah sekali kambuh saat berada di dekatmu namun selalu ingin dekat denganmu. Kurasa ia menganggapmu orang yang begitu penting.” Yah, aku tahu kurang lebih seperti itulah Kyuhyun menganggapku. Dewi Anankenya.

 

Aku hanya menganggu lemah mendengar penjelasan Kibum Oppa. Lagi-lagi mengerti. Aku hampir saja menyerah saat harus mengerti.

 

“Apa mereka masih bisa punya keturunan?” sahut ayahku tiba-tiba dan itu membuatku pipiku memerah seketika.

 

“YA! Ayah kenapa menanyakan hal seperti itu pada psikolog. Memalukan.” kucubit pinggang ayah karena kesal sementara Kibum Oppa hanya tersenyum.

 

“Kenapa? Kalian itu suami-isteri jadi wajar kalau kami ingin punya cucu dari kalian.” benar juga. Tapi punya anak? Kurasa itu terdengar sedikit aneh. Bisa-bisa anakku mati dibanting ayahnya sendiri. Arrghh…bagaimana bisa aku memikirkan hal sejauh itu.

 

“Tenang saja. Phobia ini tidak mempengaruhi kemampuannya untuk memiliki anak. Karena pada dasarnya dia namja normal.” kekeh Kibum Oppa. Tak kupungkiri aku merasa lega saat mendengarnya. Wait, mungkinkah aku juga menginginkan anak darinya?.

 

***

 

PRANGG BRAAKK

 

Suara itu seolah menjadi sarapanku setiap pagi dengan akhir bekas luka yang menempel di salah satu bagian tubuhku. Aku bahkan hampir tak merasakan sakitnya karena ini sudah kurasakan hampir setiap hari. Pengobatan Kyuhyun bersama Kibum Oppa memang belum menunjukkan hasil yang signifikan, tapi aku tak akan menyerah sampai saatnya aku harus menyerah.

 

Pagi ini Kyuhyun kembali mengamuk karena ia membuatku jatuh terpeleset di kamar mandi setelah ia mengagetkanku. Kyuhyun tak hanya menyalahkan dirinya sendiri namun lebih parahnya sekarang ia malah memukuli tubuhnya sendiri.

 

Aku berkali-kali mencoba menenangkannya namun tak juga berhasil hingga seperti biasanya, kedua mertuaku dan Sungmin Oppa datang memegangi tubuhnya yang meronta keras dengan peluh yang membasahi piyamanya.

Aku terduduk diam dengan kompres di bagian tubuhku yang lebam dan suara tangisan Hye Kyo Eonni di sampingku. Hatiku sakit seperti teriris saat melihat Kyuhyun, suamiku terbaring seperti orang gila yang baru saja mengamuk dan tertidur setelah diberi obat bius. Hey, suamiku tidak gila. Dia hanya sakit.

 

Tanpa terasa cairan bening nan hangat ini menganak sungai di pipiku. Ini airmata pertamaku setelah satu bulan lebih tinggal di rumah ini. Setelah sekian banyak luka memar yang Kyuhyun berikan padaku. Oh bagaimana bisa aku menangis saat melihatnya seperti ini sedangkan luka ini bahkan tak terasa perih sama sekali.

 

Aku merasakan usapan lembut tangan Eonniku menghapus airmataku. Ia juga sama berderainya denganku. Dengan suara terisaknya, ia mengompres sisi luar pahaku yang memar karena jatuh tadi. Sesekali ia menyeka airmatanya seraya tetap mengompres pahaku.

 

Aku berdiri menghampiri Kyuhyun yang masih meronta karena pengaruh obat biusnya belum bekerja. Kusingkap tubuh-tubuh yang tengah menutupi Kyuhyun hingga tak ada jarak yang menghalangi kami.

 

Aku terduduk berlutut di depannya yang masih meringkuk dengan rambut basah yang menutupi sebagian dahinya. Tubuh Kyuhyun bergetar hebat. Saat aku mulai mendekatinya, Kyuhyun semakin menjauhkan dirinya dariku dengan tatapan seolah ia tengah melihat sosok hantu di depannya.

 

“PERGI! AKU TIDAK INGIN MENYAKITIMU LAGI! PERGI!”

 

Tanganku yang terulur untuk meraihnya ia tampik dengan kasar. Aku mencobanya sekali lagi, airmataku benar-benar tak bisa kubendung lagi. Berkali-kali kuseka cairan tak berwarna dari mataku itu tapi mereka tetap mengalir keluar dengan tak tahu diri.

 

“Oppa~” lirihku.

 

Aku kembali mendekatinya. Kyuhyun tetap meringkuk semakin menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Nafasnya perlahan melambat, mungkin karena obat biusnya mulai bereaksi.

 

Kusingkap kedua tangannya kemudian menangkup wajahnya dengan kedua tanganku.

 

“Lihat aku!” Kyuhyun menggeleng keras dengan deru napasnya yang panas menerpa wajahku yang berada tepat di depannya.

 

“PERGI!!!” teriaknya lagi.

 

“LIHAT AKU OPPA! LIHAT AKU!” tubuhnya melemah seiring teriakanku yang memaksanya untuk diam secara tak langsung.

 

“Kau percaya padaku kan?” Kyuhyun mengangguk dengan tubuh yang masih bergetar.

 

“Kau harus bisa mengendalikan dirimu. Kau pasti bisa.”

 

“Tidak. Ini terlalu menyiksaku. Maaf, aku menyakitimu lagi.” Kyuhyun menggeleng keras. Airmatanya terjatuh satu persatu membasahi jemariku yang berada di pipinya.

 

Aku memeluk tubuhnya erat. Menyandarkan kepalaku ke dalam dada bidangnya yang tengah berdentum hebat. Tubuhnya masih menegang. Aku semakin mengeratkan pelukanku meskipun tak ada balasan darinya.

 

“Kau bilang kau percaya padaku bukan? Aku percaya kau pasti bisa melewati semuanya. Jadi, kumohon percayailah juga apa yang menjadi keyakinanku.”

 

Aku kembali menatapnya yang kini sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Deru napasnya memelan.

 

“Aku bersamamu. Percayalah.” Kyuhyun menatapku nanar dengan wajah yang masih memerah. Kupeluk lagi tubuhnya, aku benar-benar tak tega melihatnya seperti ini.

 

“Naega yeogi isseoyo. Neowa hamke…” kuusap pelan bahunya hingga akhirnya tubuh itu melemah dan tubuh tegap itu melemah dengan napas yang teratur.

 

Kuhela napasku pelan kemudian melepaskan pelukanku lagi. Aku merasa ada seseorang yang menarik tanganku untuk segera bangkit dan beranjak dari tubuh lemah Kyuhyun.

 

Hye Kyo Eonni mendudukkanku di sofa kamar kemudian kembali mengompres paha luarku yang kini sudah membiru. Ia terus saja menekan lembut kompres di tangannya seraya sesekali menyeka airmatanya sendiri.

 

“Berhentilah menangis Eonni! Kau membuat pikiranku semakin sumpek.”

 

“Apalagi yang kau lakukan sampai Kyuhyun seperti ini, ha?” kini ia menekan-nekan kompres sedikit kuat ke pahaku, mungkin karena ia kesal padaku. Sudah kubilang bukan? Ini tak sesakit saat aku melihat Kyuhyun seperti orang gila dan sekarag ia terbaring lemah di ranjang setelah di angkat oleh beberapa pelayan.

 

“Aku hanya terlalu kaget saja.” Tsk, ini salahku.

 

“Kumohon menyerahlah sekarang Hyo-ya!” kuhentikan gerakan tangannya yang tengah mengompreku. Ia menatapku lembut.

 

“Berhenti sekarang juga atau kau akan mati perlahan jika terlalu lama di sini,” aku masih diam mencerna kalimat Eonni.

 

“Kalau ini semua demi uang, kumohon hentikan! Aku masih bisa menghidupi keluarga kita. Lagipula kau sudah berhasil mendapatkan perkebunan mereka dan membantu kehidupan ayah. Lalu apa lagi yang kau ingin dari Kyuhyun?” ujar Eonni berapi-api.

 

“Bukan.”

 

“LALU APA?” napas Hye Kyo Eonni memburu karena amarah.

 

“Karena Kyuhyun mencintaiku,”

 

“Aku ingin berterima kasih padanya.” jawabku datar.

 

“Terima kasih? Dengan membiarkan tubuhmu terluka seperti ini karena Kyuhyun?” Eonni memukul luka memarku dengan kompres kemudian membuang kompresnya kasar.

 

“Bukan.” elakku lagi.

 

“LALU APA?”

 

“Sudah kubilang karena Kyuhyun mencintaiku.”

 

“Lalu apa kau mencintainya juga?”

 

Aku diam. Aku tak tahu harus menjawab apa. Bagaimana perasaanku selama ini padanyapun tak pernah kutahu dengan jelas. Apa aku hanya sekedar kasihan? Tidak. Aku masih cukup mampu menilai hatiku sendiri jika perasaanku ini bukan sekedar kasihan. Mungkin peduli? Tapi melebihi dari peduli. Dari lubuk hatiku, aku benar-benar ingin Kyuhyun sembuh. Aku ingin dia normal.

 

“Kenapa hanya diam?” tanya Hye Kyo Eonni sereya mendorong kasar bahu kiriku.

 

“Molla.” aku masih tertunduk.

 

“Lalu apa alasanmu bertahan di sini? Uang?”

 

“SUDAH KUBILANG AKU BERTAHAN DI SINI KARENA KYUHYUN MENCINTAIKU.” Aku berteriak tak terima dengan pernyataan eonniku. Aku tak lagi menghiraukan bahwa tidaklah berdua saja di sini. Ini sudah ketiga kalinya kukatakan alasanku yang sama.

 

“Tapi kau tidak mencintainya.” Sanggah Hye Kyo Eonni. Dasar sok tahu.

 

“Aku ingin menjaganya, karena Kyuhyun sudah percaya padaku.” lirihku. Dan airmatakupun terjatuh lagi. Yah, karena Kyuhyunlah yang mengatakan bawa aku adalah Ananke yang akan merajut benang takdir untuknya. Akulah poros hidupnya, kompasnya.

 

“Aku ingin menjaga orang yang telah mencintaiku begitu dalam. Aku tak ingin ia sakit. Aku mau bersamanya. Apa aku tidak boleh bersama suamiku sendiri?” ucapku tanpa jeda sekalipun. Menatap nanar ke arah eonniku yang juga berderai airmata sama sepertiku. Kuguncang tubuhnya kasar meminta penjelasan. Aku hanya ingin bersama suamiku. Apa aku salah?.

 

Hye kyo Eonni hanya menunduk diam. Ia masih saja terisak. Tsk, percuma lama-lama bicara dengannya. Kulepaskan genggaman tanganku padanya kemudian beranjak dari sofa dan duduk di samping Kyuhyun yang masih terbaring lemah.

 

Kukecupi terus menerus tangannya berharap Kyuhyun dapat merasakan betapa besarnya keinginanku untuk membuatnya sembuh. Bahkan jika ia tak sembuh sekalipun aku akan tetap bersamanya hingga tubuhku hancur dan tak mampu lagi menahan sakit raga dan jiwaku.

 

Kutolehkan kepalaku saat kurasakan usapan lembut di bahuku. Kulihat sudah ada Eomonim di samping kiriku. Perlahan ia menghapus airmataku kemudian menyelipkan helaian rambutku ke belakang telinga. Kupeluk erat ibu mertuaku ini, sejujurnya aku ingin menyerah. Tapi aku tidak boleh menyerah. Aku butuh kekuatan sekarang, aku butuh bantuan.

 

“Aku tidak akan meminta apapun sebagai imbalan. Aku hanya ingin Kyuhyun sembuh. Aku tidak butuh harta kalian. Aku hanya mau Kyuhyun sembuh. Kau benar, Kyuhyun tidak gila, dia hanya sakit. Suamiku hanya sakit dan aku yakin dia bisa sembuh. Aku yakin.” ujarku seraya terisak tak mampu menahan beban ini sendiri.

 

Eomonim melepaskan pelukanku kemudian mengusap lembut airmataku seraya tersenyum. Ia juga menangis, sama sepertiku.

 

“Eomonim akan selalu mendukungmu.” ia mencium keningku pelan, penuh sayang. Aku terpejam merasakan kasih sayangnya.

 

“Kami juga akan selalu mendukungmu.” aku tersenyum lega saat mendengar Abeonim dan Sungmin Oppa mengatakan kata-kata itu kemudian mereka duduk di samping kananku seraya mengusap bahuku.

 

“Terima kasih.” ucapku lega.

 

Beberapa saat kemudian aku sempat tersentak kaget saat melihat Hye Kyo Eonni berlutut di depanku seraya menggenggam tanganku erat.

 

“Katakan padaku saat kau mulai ingin menyerah, katakan saat kau mulai ingin meninggalkan Kyuhyun. Aku akan memukulmu lebih keras dari yang biasa Kyuhyun lakukan padamu.”

 

Kami terkekeh saat mendengar ucapan Hye Kyo Eonni kemudian kubantu ia berdiri dan memeluknya erat.

 

“Gomawo…jeongmal gomawoyo.” ia mengangguk mantap.

 

Aku sedikit bisa bernapas sekarang. Setidaknya beban ini tak lagi kupikul sendiri.

 

“Aku ada berita bagus untukmu.” kukernyitkan dahiku heran saat mendengar pernyataan Hye Kyo Eonni.

 

“Apa?”

 

Perlahan ia meletakkan tanganku di atas perutnya.

 

“Calon keponakanmu, usianya baru 1 bulan.” Kubulatkan mataku dengan mulut ternganga. Kubulatkan mataku dengan mulut ternganga. Hye Kyo Eonni menoleh ke arah Sungmin Oppa yang kini tengah tersenyum ke arahku. Aku memeluk Hye Kyo Eonni.

 

Bahagia. Yah, setidaknya itulah yang kurasakan saat ia mengatakannya dengan senyum merekah di bibirnya. Dan aku akan melengkapi kebahagiaan ini dengan kesembuhan Kyuhyun Oppa. Aku berjanji…

 

 

 

TBC

 

Watttaaaa!!!

udah keluar nih chapter 6nya. semoga suka ya sama part ini🙂

 

jangan lupa RCL!!! ^^

83 thoughts on “[Chapter] Reset Part 6

  1. yeayyy.. jangan menyerah Hyo in,. bantu kyuhyun biar cepet sembuh!! kaya ny Hyo in juga mulai punya perasaan ke Kyuhyun deh.. & selamat buat Hye kyo ya..

  2. Sweet…. Aku bacanya was2 sendiri takut2 si hyo in salah ngomong terus kyuhyun nya kambuh.. Haduuh kkk

  3. wahhh… akhirnya Hyo in sadar juga klo Kyuhyun sangat mencintainya, dan Hyo in lebih peduli pada Kyuhyun..🙂

  4. Suka bangeeet. Secara galangsuuuuung si Hyo in udah mulai ngebuka hatinya buat kyuhyun. Aaaaaaa suka suka sukaaaaa
    Pov nya kyuhyun dong eooon

  5. Hye Kyo udah mau punya baby. Kyuhyun-Hyo In kapaaaan??😀

    kayanya Hyo udah mulai jatuh cinta tapi gamau ngakuin perasaannya deeehh

  6. Wuaaahhhh sperti nya cinta memang sudah tmbuh d hati hyo in tp mngkin dia msh blm ngerasain dgn jls
    Aku hrap kyu cpet sembuhhh dehh

  7. terharu sama hyo in yg ingin menjaga dan membantu kyuhyun buat sembuh walaupun harus mengorbankan tubuh nya pada memar dan luka

  8. Gak tau di part ini ada rasa seneng,marah dan benci -.- ah menyebalkan huuufffttt
    ya semoga aja emang hyo in udah insyaf🙂

  9. Knapa aku jadi deg”an sendiri ya? Takut” nanti hyo in salah ngomong ke kyu trus kyuhyun ngamuk lagi. Dan kyknya hyo in udah mulai suka sama kyuhyun, semoga aja kyuhyun cepat sembuh

  10. Sekarang ngerti juga sama penyakitnya kyu, terharu dah akhirnya Hyo In merubah tujuannya bukan karna harta lagi.
    Cusss ke part selanjutnya^^

  11. udah mulai ada kemajuan kyuhyun sama hyo in baik itu kondisi psikis kyu maupun hubungannya sama hyo in.
    apa akan ada saatnya hyo in nyerah ?
    hyo in udh ga kepikiran soal harta, karena skrg dia niat nyembuhin kyuhyun tulus.
    semoga bisa sembuh deh

  12. Aduh penyakit kyu kok aneh bnget,sensitif kya cewek.

    Walau aq lom tau cerita awal kyak gmn,tpi dipart ini bkin hati q trenyuh…mungkinkah nnt lo Hyo in hamil kyu kan smbuh?
    Hemmm semoga saja

  13. Annyeong aku mau buka tata cara buat dpt pw kok gk ada ya soal nya penasaran ni part 1-5 kn di protek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s