Season Diary: Summer Dust

“Summer Dust”

 

By: Valuable94

Casts: Lee Hyukjae (SuJu), Song Hyo In (OC)

Genre: Romance

Rate: PG-17

Lenght : Oneshot

Disclaimer: Lee Hyukjae belongs to himself, OOC. This story is absolutely mine. Sorry for some typos. Don’t like, don’t read, don’t bash. NO PLAGIARISM

 

 

 

Hyo In POV

 

 

Musim panas, bukankah seharusnya matahari bersinar terus sepanjang tiga bulan ini. bukankah begitu siklusnya? Tapi kenapa musim kali ini matahari lebih sering bersembunyi dibalik gumpalan awan yang selalu setia berdampingan dengan kilat dan gemuruh petirnya?

 

Mungkin karena akhir-akhir ini pemanasan global sudah semakin parah dan itu membuat cuaca berubah dari biasanya. Ya…selalu ada perubahan didunia ini, dan entah mengapa aku tak suka dengan perubahan kali ini. bukan, maksudku bukan perubahan cuaca. Tapi…

 

“Hyo-chan”

 

Aku menoleh, bibi memanggilku lagi. Entah untuk yang keberapa kalinya ia memanggil namaku, menyuruhku untuk yah…setidaknya duduk meskipun tak keluar kamar. Aaahh~ aku terlalu malas untuk sekedar membuka mata saja. Kenapa hari ini harus ada. Ini hari libur, kau tahu? Tapi aku tak menyukai libur kali ini. Sangat sangat tidak suka.

 

“hyo-chan~ “ lagi, namun bibi sudah berada disampingku kali ini.

 

Aku hanya menggeliat, menampakkan wajahku dari gumulan selimut dan hanya…diam.

 

“bibi tidak akan memarahimu karena bangun siang, tapi setidaknya jangan membuat bibi terlalu repot hari ini”

 

“maksud bibi apa? Aku bahkan belum keluar kamar sekalipun dari pagi, darimana aku bisa merepotkanmu?” akhirnya aku duduk.

 

“kemana ponselmu? Dari tadi Hyukjae menelponmu tapi tidak diangkat, dan akhirnya dia menelpon rumah tanpa henti” bibi berlalu setelah memencet hidungku. Tidak sakit, lembut sekali malah.

 

Dengan malas aku mengobrak-abrik ranjang karena seingatku terakhir kali aku memakainya semalam setelah Hyukjae oppa menelponku hingga aku tertidur.

 

Ketemu, aku menekan speed dial 2 dan langsung tersambung.

 

“yeobs…”

 

“…”

 

“YA! Jangan berteriak seperti itu, aku belum tuli”

 

“…”

 

“arra, aku pasti kesana”

 

Bip

 

Aku malas mendengar ocehannya lebih lama lagi. Namja ini, semakin tua semakin cerewet saja. padahal dia baru saja lulus SMA dan baru akan…akan…. haah~ sudahlah, aku benci membahasnya.

 

 

Author POV

 

 

“bibi, aku berangkat”

 

Hyo In berlari tergesa dari kamarnya, ia bahkan melewati paman dan bibinya yang masih duduk dimeja makan.

 

Saisho no chōshoku (sarapan dulu)!” teriak bibinya.

 

iie (tidak), aku sudah ditunggu Hyukjae oppa” ia masih sibuk memasang sepatu setelah sebelumnya melepas sendal rumahnya.

 

“pulang jam berapa nanti?” bibi Hyo In menghampirinya.

 

“mungkin akan sedikit malam, aku banyak acara hari ini, J” Hyo In mencium pipi bibinya.

 

“paman aku berangkat” Hyo Inberlari kembalidan bergegas kerumah Hyukjae.

 

 

 

@Lee Family’s House

 

 

“kenapa lama sekali?” begitu sampai rumah Hyukjae, Hyo In langsung dicecari pertanyaan dari Hyukjae.

 

“jangan memarahiku oppa, aku bahkan tidak sempat sarapan karena terburu-buru” Hyo In berlalu.

 

“YA! YA! Mau kemana kau?”

 

“aku lapar” jawab Hyo In datar, ia berjalan menuju dapur dan melihat ibu Hyukjae tengah mencuci piring.

 

“eommonim masih adakah bahan makanan yang bisa kumasak? Aku sangat lapar” pelas Hyo In.

 

“aigoo~ wajahmu pucat sekali” ibu Hyukjae menangkup wajah Hyo In dengan kedua tangannya.

 

“Mian Hyo-ya, eommonim belum sempat belanja bulanan. Aa~ chakamanyo” ibu Hyukjae membuka kulkas dan mencari-cari sesuatu, sesaat kemudian ia mengeluarkan pancake.

 

“meokgoja! Ini eommonim masak semalam”

 

“gamsahamnida” Hyo In tersenyum, yah setidaknya masih ada yang bisa mengganjal perutnya meskipun hanya pojoknya saja.

 

Hyo In mencari Hyukjae seraya membawa pancakenya. Ia mengedarkan pandangannya keruang tamu namun tak kunjung ketemu. ‘Mungkin dia sedang menonton TV’ pikirnya. ia bergegas keruang TV dan benar saja, Hyukjae tengah asyik menonoton anime disana.

 

Ia duduk disamping Hyukjae seraya menyantap pancakenya dengan lahap. Hyukjae mengalihkan tangannya kebelakang punggung Hyo In dan sedikit menarik bahu yeojachingunya itu untuk mendekat.

 

“kau lapar?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari TV seraya mengusap rambut Hyo In lembut.

 

“sudah kubilang aku belum sempat sarapan” Hyukjae hanya tersenyum kecut.

 

“selesai makan, kita berangkat ke kuil”

 

Hyukjae mematikan Tvnya dan beralih menatap Hyo In yang masih sibuk dengan pancakenya. Sementara Hyo In hanya mengangguk tanpa menoleh pada Hyukjae. Ia menyendokkan pancake terakhirnya, saat pancake itu baru saja ia telan, matanya terbelalak karena tiba-tiba saja bibir Hyukjae sudah mendarat dibibirnya. Melumat kemudian menggigit bibirnya sedikit kasar.

 

Perlahan Hyo In mulai membalasnya, lebih lembut dan seolah ingin mengungkapkan seluruh lara hatinya ia malah menarik tengkuk Hyukjae dan semakin memperdalam ciumannya, entah mengapa ciuman Hyukjae kali ini terasa begitu menuntut namun begitu dalam dan membuatnya semakin tak ingin kehilangan Hyukjae.

 

Terengah, mereka butuh pasokan oksigen lebih kali ini. Hyo In menarik wajahnya menjauh dari Hyukjae, ia mengalihkan pandangannya jauh dari Hyukjae, ia tak ingin Hyukjae melihat airmatanya kini namun kini Hyukjae malah menarik bahunya dang membaliknya untuk menatap Hyukaje.

 

Hyukjae menggeleng seraya menghapus airmata Hyo In dengan ibu jarinya.

 

uljima

 

“kau mau melihatku tidak menangis lagi?” Hyukjae mengangguk.

 

“jangan pergi”

 

Hyo In menyandarkan kepalanya kedalam dada bidang Hyukjae. Ia memainkan kancing kemeja Hyukjae, memutar-mutarnya asal. Pandangannya kosong, menerawang jauh membayangkan saat Hyukjae tak berada disampingnya. Meninggalkannya sendiri.

 

ani, aku harus pergi” ia mengusap sayang rambut Hyo In.

 

Hyo In bangkit dari pelukan Hyukjae, ia mengusap airmatanya sekali lagi kemudian berlalu meninggalkan Hyukjae yang masih terduduk ditempatnya.

 

Ia menatap jauh taman belakang kediaman keluarga Lee, duduk diteras tempat biasanya Hyukjae berlatih Kendo. Tubuhnya terduduk dilantai seraya memeluk kedua lututnya.

 

“eonni-ya” ia tersentak kaget saat seseorang menepuk pundaknya pelan.

 

“Haru, kau membuatku kaget” Haru hanya tersenyum kemudian duduk disamping Hyo In.

 

“kau melamun eonni? Dari tadi aku ada disana berlatih Kyudo, memangnya kau tidak melihatku?” Hyo In hanya menggeleng.

 

“eonni menangis?”

 

“bohong kalau aku tidak menangis hari ini”

 

“benar juga, aku juga tidak akan percaya kalau hari ini kau tidak menangis” Haru menggaruk tengkuknya salah tingkah.

 

“oppa harus berangkat besok” mereka terdiam.

 

“memangnya tidak ada sekolah yang lebih dekat ya?” Hyo In berkata seraya terisak, Haru tahu jika Hyo In berada dalam titik terlemahnya hari ini.

 

“kurasa tidak ada”

 

“sekolah penerbangan di Korea juga bagus, kenapa tidak kesana saja? aku kan juga lebih dekat jika ingin mengunjunginya” Hyo In tak mampu menahan ledakan perasaannya kali ini. ia memeluk Haru seraya terisak. Biarlah ia kekanakan kali ini saja.

 

“New York yang terbaik” Haru menenangkan Hyo In.

 

“oppa melakukan semua itu juga untukmu eonni, untuk masa depan kalian kedepannya, tujuan hidupnya bukan hanya untuk membahagiakanmu. Ia juga ingin membanggakan eomma dan appa yang sudah bekerja keras menyekolahkannya” Hyo In menggeleng.

 

“terkadang harus ada yang berkorban sebelum mendapatkan kebahagiaan. Percayalah eonni, ini yang terbaik untuk kalian, aku percaya cinta kalian kuat”

 

Hyo In menghapus airmatanya kemudian beralih kembali menatap jauh pemandangan luas nan sejuk didepannya. Ia menghela napas pelan kemudian beranjak meninggalkan Haru karena ia baru ingat jika ia harus pergi ke kuil bersama Hyukjae pagi ini.

 

Hyukjae sudah menunggunya diruang tamu, didepannya sudah ada beberapa bungkusan makanan unutuk para leluhur disana. Ia tersenyum melihat kekasihnya kemudian menarik tangan Hyukjae bangkit dari tempat duduk.

 

“kajja~ aku tidak mau kehujanan sebelum sampai kuil”

 

 

@Kuil

 

 

Sesampainya di kuil, Hyo In selalu menggenggam tangan Hyukjae erat, mereka memasuki kuil tersebut. Menikmati pemandangan dihalaman kuil yang luas sebelum mereka sampai ditempat pemujaan.

 

Mereka sampai tepat didepan patung seorang dewa. Pegangan tangan mereka terlepas, Hyo In terus menatap Hyukjae yang tengah tersenyum seraya meletakkan beberapa bungkusan yang mereka bawa dari rumah kedepan patung seorang dewa. Bolehkah ia egois untuk kali ini? ia tak ingin cintanya pergi.

 

Hyukjae menggenggam tangan Hyo In kembali kemudian mengangguk mengajak Hyo In berdoa bersama. Mereka membungkuk hormat. Saat mulai berdoa, Hyo In merasakan Hyukjae kini tengah merengkuh tubuhnya dari belakang, menangkupkan kedua tangan mereka bersama didepan dadanya.

 

‘aku…bolehkah aku jujur padamu kali ini. oh ani…aku tak usah mengatakannya pun kau pasti tahu, aku tak ingin ia pergi. Tapi…jika itu memang sebuah keharusan, kumohon…lindungi Hyukjae oppa, permudahkan segala urusannya, berilah ia makanan yang sehat dan jangan biarkan ia melirik wanita lain disana. Kalau perlu kau kuperbolehkan menghukumnya.tapi jangan terlalu berat, aku sangat mencintainya J’

 

‘aku mohon, jagalah Hyo In meskipun aku tahu kau memang akan selalu menjaganya. Tolong jagakan ia untukku. Aku hanya berharap yang terbaik untuknya. Kumohon…aku sangat mencintainya.’

 

Mereka membuka mata bersama setelah memanjatkan doa, Hyo In bisa tersenyum kali ini. Ia berbalik kemudian menangkup wajah Hyukjae dengan keduan tangannya. Perlahan ia mulai mendekatkan wajahnya namun belum sampai bibir mereka menempel, Hyukjae sudah mendorong dahi Hyo In dengan telujukknya.

 

“dasar tidak sopan, ini kuil bukan rumahku” Hyukjae berlalu meninggalkannya, ia berjalan seraya memasukkan kedua tangannya kedalam kedua saku celananya.

 

Hyo In menepuk dahinya, ia membungkuk berkali-kali didepan patung dewa tersebut seraya bergumam ‘maafkan aku’ kemudian ia bergegas mengejar Hyukjae yang belum berada jauh darinya. Ia memeluk tangan kanan Hyukjae, menggelayut manja.

 

“mau jalan-jalan?” Hyo In menggeleng.

 

“aku mau menghabiskan waktu bersamamu dirumah saja”

 

“baiklah”

 

Mereka melangkah sama-sama fokus dengan jalanan didepan mereka. Meraka tersenyum, entah apa yang mereka pikirkan saat ini bahkan hampir tak ada perbincangan diantara mereka selama perjalanan pulang. Hampir tengah hari dan entah mengapa matahari begitu terik siang ini seolah mencegah para penghuni bumi keluar dari tempat mereka. Semilir angin membawa semrbak wangi bunga sakura yang masih mekar bersama dengan debu musim panas.

 

@Lee Family’s House

 

Suasana rumah ini begitu riuh meskipun hanya ada 5 orang. Makan bersama, membicarakan hal-hal lucu, berkaraoke, apapun mereka lakukan hal yang membuat mereka senang hari ini, yah, mungkin ini semacam farewell party untuk Hyukjae.

 

“Hyo-ya, kelas berapa kau sekarang?”

 

“kelas 3 eommonin”

 

“berapa usiamu?”

 

“eemmm…musim panas ini usiaku 17 tahun, wae geurae?”

 

Ibu Hyukjae menatap Haru dan suaminya dalam, seakan mereka tengah mengobrol melalui pandangan dan itu membuat Hyo In terdiam mengamati sikap mereka. Hyukjae pun juga terlihat sedikit tidak nyaman dengan duduknya. Sesekali bahkan ia ikut dalam perbincangan melalui pandangan itu.

 

“ani, sebenarnya…”

 

“biar aku saja yang mengatakannya” Hyukjae memotong ucapan eommanya dan itu membuat eommanya malah tersenyum senang.

 

“nah…baiklah. Sore ini kami bertiga akan memberi kalian waktu untuk berdua, yah…itung-itung sebagai perpisahan. Kajja~ Haru, appa! Kita berangkat sekarang.

 

“besok saat keberangkatan Hyukjae kami pasti sudah ada dirumah J”

 

Hyo In mulai mengerti arah perbincangan mereka, ia hanya menunduk diam tanpa menolak sedikitpun. Beberapa saat kemudian Haru dan kedua orang tua Hyukjae berpamitan untuk berangkat. Tiba-tiba Haru memeluk Hyo In dengan sangat erat.

 

“eonni fighting, eomma bilang awalnya rasanya memang tidak nyaman tapi…”

 

“YA! Bicara apa kau? Cepat pergi”

 

“oppa ini obrolan khusus wanita, jangan menganggu kami”

 

“kau itu masih kecil tidak tahu apa-apa” Hyukjae terus mendorong tubuh Haru menjauhkannya dari Hyo In.

 

Dari pintu menuju gerbang rumah, Haru dan Hyukjae masih saja bertengkar. Sementara eomma Hyukjae kini tengah berjalan perlahan dibelakang mereka.

 

“kau gugup?” Hyo In mengangguk, tentu saja.

 

“percaya pada uri Hyukkie. Dia tak akan menyakitimu”

 

Sampai di gerbang rumah Hyukjae membantu memasukkan koper kedalam bagasi. Sementara mereka bertiga sudah masuk kedalam mobil.

 

“kalian ini pergi cuma 2 hari seperti mau berlibur 1 minggu saja” gerutu Hyukjae.

 

“Hyukkie-ya kemarilah!” Hyukjae mendekat kearah appanya, beberapa saat kemudian ia menerima sebuah bungkusan kotak kecil.

 

“YA! ABEOJI APA-APAAN INI?”

 

“HYUKKIE-YA FIGHTING!!” Teriak eomma dan appa Hyukjae, sementara ia hanya mendengus sebal.

 

Setelah mengantar mereka sampai gerbang. Hyukjae dan Hyo In masuk kedalam rumah. Mereka duduk diruang TV, suasana pun terasa semakin panas kali ini. Hyo In merasa degupan jantungnya begitu menggebu. ‘Ya tuhan, tolong sediakan jantung cadangan untukku’ pinta Hyo In karena ia merasa jantungnya sebentar lagi akan copot karena terlalu keras berdetak.

 

“em…em…aku…aku tak tahu cara memulainya…” Hyukjae memulai obrolan dengan canggung, ia masih menunduk diam.

 

“kau…bagaimana denganmu? Apa…em…begini…” ucapan Hyukjae malah semakin tak karuan. Ia bertingkah aneh kali ini, duduknya pun tak tenang.

 

“kau tahu kan apa yang mereka maksudkan?. Saat…saat dua orang laki-laki dan perempuan yang sudah dewasa, mereka…mereka…melakukan hal…” Hyukjae gugup, begitu pula dengan Hyo In.

 

“aku tahu, jika kau menginginkannya. Lakukanlah!”

 

Hyukjae menatap Hyo In dalam, perlahan ia memeluk Hyo In. Menangkup wajahnya, mereka sama-sama menutup mata saat benda lembut tersebut sama-sama terpaut. Saling memperdalamnya, tak dipungkiri detakan di dada mereka sama-sama memacu cepat kali ini.

 

Hyo In membelalakkan matanya saat ia merasakan panas dilekukan antara leher dan bahunya. Perlahan Hyukjae memelorotkan kain yang menyampir dibahu Hyo In. tubuh Hyo In bergetar hebat, keringat dingin sudah mengucur ditubuhnya, ia menahannya dengan menggenggam erat ujung dress nya.

 

Belum sampai kain itu jatuh, Hyukjae menghentikannya. Ia melepas tautan mereka kemudian mengusap peluh dingin dipelipis Hyo In. Ia bisa merasakan Hyo In masih terlalu takut untuk hal ini.

 

“aku tidak akan melakukannya”

 

“mian” Hyukjae mencium lembut keningnya.

 

“aku tahu kau masih takut. Lagipula aku juga tak mau kau merasa terikat denganku karena ini. aku mau kau terikat dengan cinta kita, karena aku dan kau tak akan pernah menodai cintai ini sebelum waktunya”

 

Hyo In menghambur kepelukan Hyukjae. Ya tuhan, bagaimana bisa ia melepaskan namja seperti Hyukjae. Ia menangis terisak didada Hyukjae.

 

“gomawo” Hyo In masih betah berada didalam dekapan Hyukjae, ia kembali memainkan kancing kemeja Hyukjae asal.

 

“kau juga takut oppa?”

 

“darimana kau tahu?”

 

Hyukjae tersenyum geli saat Hyo In menciun dada bidangnya.

 

“aku mendengar detakannya. Sama sepertiku”

 

Hyukjae semakin mempererat pelukannya. Mencium puncak kepal Hyo In lama.

 

“jeongmal saranghaeyo”

 

“nado jeongmal jeongmal saranghaeyo” Hyo In tersenyum kemudian menutup mata. Ia terlalu lelah hari ini.

 

 

Summer Note:

 

“doaku selalu dan hanya untukmu. Hanya untuk yang terbaik untukmu meskipun aku tahu jarak dan waktu memisahkan kita. Tapi percayalah…aku hanya untukmu”

Lee Hyukjae_

 

 

“pergilah, kurasa aku bisa bernapas lega kali ini. aku hanya takut kau tak bisa menjaga dirimu baik-baik disana. Terlebih lagi matamu. Jangan lupakan janji kita, menjaga cinta ini selamanya”

Song Hyo In

 

 

 

END_

OWARIII

Dikomen yo ^^

9 thoughts on “Season Diary: Summer Dust

    • Hahahaha
      iyah…adegan 17 tahun kesamping itu -_-

      mau tau gimana LDRan mereka? nih FF masih ada last storynya loohh #promo😛

      ditunggu yaaa
      gomawo buat reviewnya ^^

  1. Aigo, manis sekali dirimu Lee Hyuk Jae. Tapi sedikit kecewa karena adegan ‘itu’ tidak berlanjut. Hahaha.. *KetahuanYadong xD* Btw, aku reader baru disini. Bangapta^^

  2. …… oooooo …. jd hyukkie oppa mau sekolah di LN … makanya ninggalin hyo in …. ckckck kasihan hyo in yg ga rela di tinggal … tuh kan nangis deh ….
    Jgn khawatir hyo … biar hyukie oppa yadong tp setia kok hehehehe ….

  3. ortunya hyuk parah yaaa.. pdhl kan mereka msh muda bingiitsss *__* untung gk jadi😀
    hwaiting~hwaiting.. LDR’an jg bisa kok asalkan tetep sering komunikasi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s