[Oneshot] Sarang Gobaek Hada

Title                 :Sarang Gobaek Hada (Love Confession)

Author             :Valuable94

Genre              :Romance

Casts               :Nam Woohyun (Woohyun Infinite), Choi Hyun Rin (Rose lyla/OC)

Support cast    : Taeyeon SNSD

Rate                 :PG-15

Lenght             :Oneshot

Disclaimer       : Those casts belong to themselves. This plot and story is absolutely MINE. Kalo suka diterusin bacanya, kalo gak suka gak usah lanjut. NO PLAGIARISM.

 

 

Sejong City, Chungcheong Province, South Korea8 a.m

Hyun Rin POV

“Tsk, konyol” desisku setelah membaca headline koran pagi ini.

‘SEORANG PEMUDA BUNUH DIRI SETELAH CINTANYA DI TOLAK OLEH SEORANG JANDA BERANAK TIGA’

Heh, yang benar saja? apa orang ini sudah lupa kalau rasa nasi itu masih begitu enak?.

Kulipat kembali koran yang baru saja kubaca, tidak ada yang menarik. Kudongakkan kepalaku dan mulai menghirup udara jalanan menuju sekolahku. 2 minggu terakhir musim gugur, hemm…harum daun yang mulai jatuh dari ranting masih sangat terasa, haaah~ indah sekali. Kurapatkan mantelku karena udara yang mulai mendingin sekarang, haah~ orang itu benar-benar sudah gila tak bisa merasakan betapa indahnya musim ini.

Aku masih menggeleng heran saat mengingat headline koran yang baru saja kubaca.

Pluk

“YA!.” aku menoleh karena terasa adayang memukul kepalaku dengan sesuatu.

“Apa yang kau baca?.” Tsk, namja ini seenaknyasaja memukul kepalaku, tidak meminta maaf dan sekarang malah merebut korankuseenaknya.

“Kembalikan koranku Namo!.” Ia masihsaja acuh saat aku mencoba meraih koranku yang kini tengah dibacanya.

“Ck ck ck benar-benar lelaki pemberani.”ia membaca koran tersebut seraya menggeleng miris dan mengusap dagunya. Tsk,sok paham sekali.

“NAMO KEMBALIKAN KORANKU!.” Teriakkusekali lagi dan kini membuatnya menoleh kearahku dengan pandangan datarnya.

“Ya! Sudah kubilang berapa kali janganmemanggilku ‘Namo’, panggil aku Op-pa!.”

Tuk

“Oh ya aku hampir lupa. Nanti sore eommamenyuruhmu datang ke rumah mengambil Teobeokki.” dan sekarang dia malahberjalan mendahuluiku setelah sebelumnya berhasil menyentil dahiku serayamenyeringai. Ukh…kalau saja dia tidak tampan aku pasti sudah menghajarnya.

Aku berlari mendekatinya kemudian kamikembali berjalan beriringan. Ia hanya menampakkan senyum tiga jarinya saatmelihatku sedikit terengah karena mengejarnya. Sial, namja ini selalu membuatkuberolah raga saat berangkat sekolah seperti ini.

“Cha…kau sudah baca berita ini?.”mataku mengikuti jari namja ini yang tengah menunjuk headline di koran tersebutdan tentu saja aku sudah membacanya.

“Em.” aku hanya mengangguk.

“Bagaimana menurutmu?.”

“Konyol.” jawabku singkat.

Wae?.”nadanya sedikit penasaran.

“Tsk, aku malas membahasnya. Lagipulamenurutku hanya orang-orang bodoh saja yang akan melakukan hal itu.” kuraih korankudengan cepat saat ia mulai tak fokus memeganginya setelah memikirkan jawabanku.Ia hanya merengut saja saat tahu koranku sudah kuambil.

“Tapi kupikir mungkin itu salah satubukti ketulusan cintanya.” aku menoleh kearahnya yang masih fokus pada jalanandi depannya dan kubalas dengan desisan remeh karena jawabannya. Sarapan apa siKoala pagi ini, kenapa tiba-tiba mengatakan hal-hal berbau cinta.

“Apa kau juga akan melakukan hal yangsama jika kau menyukai seseorang?.” Tanyaku mulai penasaran.

“Molla.” ia mengedikkan bahunya.Sesekali ia menendang beberapa batu kerikil yang akan  mengganggu jalan kami.

“Lalu apa yang akan kau lakukan untukmembuktikan rasa cintamu pada seseorang? Aku punya 2 pilihan yang seringdipakai orang-orang. Pertama berteriak dari puncak Namsan Tower bahwa kausangat mencintainya atau melompat dari atap gedung 100 lantai?.”

“Emm…kurasa opsi pertama lebih baik,aku hanya perlu menahan malu saja kan. Lagipula aku masih cukup waras untuk takmelakukan opsi kedua, Sushi Tuna masih terlalu enak untuk kutinggalkan terlalucepat.”

“Tsk, jawaban macam apa itu.” sungutku.

“Sederhana saja…aku masih inginbersama dengan Tuna bodoh sepertimu lebih lama.”

“Ya! Kenapa kau selalu memanggilku Tuna?.”aku berteriak tak suka.

“Lalu kenapa kau juga memanggilku namodan koala? Itu bukan nama dari orang tuaku.” jawabnya santai.

“Karena aku menyukainya.”

“Kalau begitu aku juga punya alasan yangsama. Karena aku juga menyukai Tuna. Eottae?.” OK, aku kalah.

Ia menyentil daguku seraya mengedikkansebelah matanya dan itu berhasil membuat dadaku bergemuruh untuk sesaat. Entahmengapa akhir-akhir ini aku sering merasakan detak jantungku semakin berpacusaat mata kami bertemu padahal selama 11 tahun kami bertetangga aku belumpernah merasakannya.

Segera kuusap daguku seolah menghapusjejak tangan yang baru saja menyentuh daguku. Sebenarnya ini juga selalu jadikamuflaseku ketika aku gugup, pura-pura tak suka.

Untuk sesaat kami sama-sama terfokuspada jalanan di depan kami kemudian suaranya kembali mengisi bilik telingakudengan kelakarannya yang tidak lucu.

“Hey, kenapa diam saja?.” ia menyenggolbahuku dengan bahunya.

“Ya! memangnya kau mau secepat itu kehilangansunbaemu yang paling tampan ini?.” ia tersenyum seraya menegakkan kerahseragamnya. Tidak, tentu saja aku tak ingin kehilangan Namo.

“Aku serius Namo, jadi tolong jawabpertanyaanku dengan serius juga.” aku mulai kesal dengannya apalagi saat iamengatakan ia adalah sunbae-ku. Bodoh, dia memang sunbae-ku.

Geurae…geurae.”kami terdiam sejenak dan aku masih menunggu jawabannya.

“Emm…yang pasti aku akan melakukanapapun yang terbaik untukknya. Meskipun aku tak bisa tapi aku akan tetapmengusahakannya.” ia tersenyum canggung seraya menggaruk tengkuknya. Entah inihanya perasaanku saja atau memang seperti itu. Tapi ia terlihat kaget dan gugupsekarang.

“Apa kau…sedang jatuh cintasekarang?.” tanyaku ragu.

“Ya! Bi…bicara apa kau.” benarkan,senyumnya aneh.

“Arrghh sudahlah, kajja!.”

“YA!.” aku berteriak karena ia tiba-tibasaja menggamit leherku dan menyeretku hingga melewati gerbang sekolah kami.

***

Akhir-akhir ini aku hampir jarang sekalibertemu dengan Namo karena aku harus mengurusi acara selebrasi kelulusan siswadi SMA kami kemarin. Hufft…rasanya aneh juga kalau tidak melihatnya beberapahari.

Aku berjalan seraya menghembuskan napasberat. Rasanya aneh juga beberapa hari ini tak mendengar suaranya, melihatsenyumnya dan sebenarnya aku senang saat ia memarahiku.

Hufft…sudah hampir seminggu ini Namo takmenghubungiku sama sekali, mengirim pesan saja tidak. Aish~ bicara apa aku ini.Kupukul-pukul kepalaku karena berani-beraninya memikirkan hal yang iya-iyatentang Koala jelek itu.

“Ashh dasar bodoh”

“Siapa yang bodoh?.” aku menoleh kesumber suara yang sudah beberapa hari ini tak kudengar. Dengan tangan yangmasih memegang selang untuk menyiram tanaman di rumahnya.

“Eoh, a…amugeotdeo.”

Aku bergerak-gerak asal seraya menggaruk kepalakugrogi karena ia terus saja menatapku meskipun itu bukan tatapan yang romantis. YaTuhan, bahkan aku tidak sadar jika aku sudah berada di depan rumahnya sekarang.Kubungkukkan badanku sesaat kemudian berjalan dengan cepat ke rumah tapibeberapa saat kemudian aku merasakan tangan seseorang menahan bahuku. Saat akumenoleh, jantungku kembali berdetak tak biasa lagi saat wajah kami bertemu.Andwae…andwae! jangan sampai aku pingsan di sini saat melihat wajah herannyaitu tengah menatapku.

Ibayo!.”

Mwo?Mau apa dia? Kenapa wajahnya semakin mendekat? Ya! Ya!. Aku buru-buru menutupmataku takut dengan apa yang terjadi selanjutnya.

Tiba-tiba kurasakan seperti ada anginyang berhembus di rambutku. Tapi kali ini bukan dingin, melainkan begituhangat. Kuberanikan diri untuk membuka mata untuk melihat apa yang terjadi.

“Ada daun di rambutmu.” ia sedikitpengusap puncak kepalaku yang barusaja ditiupnya. Arrghhh siapapun tolong bawaaku lari dari sini. Aku benar-benar tak tahan melihat senyum malaikat itu.

“Eo…eoh.” reflek tanganku bergerakmembersihkan rambutku.

“Bodoh! Daunnya sudah kutiup.” dengan santainyaia berbalik tanpa mempedulikanku lagi. Sial.

Kuhentakkan kakiku kesal serayamendengus sebal. Kenapa akhir-akhir ini aku merasa begitu mudah dipermainkan siKoala itu.

“RIN-AH!.” aku berbalik lagi karenateriaknnya.

MWO?.”ketusku karena aku masih sebal dengannya.

“Hari minggu besok kau mau pergibersamaku?.” mwo? Pergi bersama Namo dihari minggu? Apakah ini bisa kuartikan dengan ajakan kencan?. Kenapa rasanyadarahku berdesir dan tubuhku serasa terbang saat mendengarnya? Aarrghh molla.

“Ehm…aku tidak janji.” aku berbalikdengan cepat kemudian berlari menuju rumahku yang tinggal beberapa langkahlagi, menghindarinya. Bodoh, kenapa tidak bilang saja kalau kau pasti mau.

Aday later

“Hati-hati membawanya! Itu bendaberharga.”

Arrayo.Kau sudah mengatakannya lebih dari 20 kali tuan Nam. Kau pikir aku wanita tuayang sudah pikun.” sungutku.

Huufftt…bagaimana bisa kemarin akuberpikir kalau hari ini akan menjadi kencan kami tapi ternyata dia malahmenyuruhku membantunya membawa kotak kardus yang besarnya 2 kali besar tubuhku,untung saja beratnya tidak seberapa. Dan kalian tahu apa yang dia bawasekarang? Hanya sebuah buku, tebalnyapun tak sampai seratus halaman kurasa.Dasar namja tidak pengertian.

“Ya! Palli!”

Ia terus saja menyuruhku untukmempercepat langkah. Apa dia tidak tahu kalau aku kerepotan membawa kardusraksasa ini.

Beberapa menit kemudian aku melihat Namoberhenti di depan sebuah gedung yang tak terlalu besar. Sepertinya ini tempatles, kemudian ia mengajakku masuk ke dalam gedung tersebut.

Hyuunnggg-nim….Oppaaaa!!!.”aku hampir saja menjatuhkan kardus ini karena tiba-tiba saja banyak anak-anakkecil berhamburan memeluk Namo yang berada di sampingku.

“Eoh Woohyun-ah kau sudah datang rupanya.” perlahan kuletakkan kardus inidisampingku kemudian mulai menatap seorang yeoja anggun di depanku, mungkinusia sekitar 5-7 tahun di atasku dan aku mulai melihat gelagat Namo yang anehdi sini.

Ndenoona” lihatlah senyum canggungnya itu. Apa-apaan dia? Kenapa hanyamenunduk saja? mungkinkah Namo menyukai yeoja ini?. Aish~ kenapa rasanya akuingin menangis sekarang.

Nuguseyo?.”aku tersenyum paksa karena yeoja ini tersenyum padaku kemudian menunduk sesaat.

Naneun…”

“Dia Hyun Rin, tetanggaku. Dia yangmembantuku membawa kardus itu” belum sempat aku melanjutkan kalimatku,tiba-tiba Namo memotongnya begitu saja. Apa? Tetangga? Aish~ kurasa Namo memangbenar-benar menyukai yeoaj itu.

“Eoh jadi ini yang…aah~ Taeyeon imnida. Aku guru les piano di sini, jadikau temannya Woohyun?.”

Ye.”aku mengangguk pelan.

“Aa kurasa aku harus segera pulang.” akubenar-benar tidak tahan di sini.

“Ah iya benar, lebih baik kau segerapulang sekarang.” apa-apaan namja ini, seenaknya saja mendorongku keluar.Menyebalkan, kelihatannya aku hanya akan jadi pengganggunya saja di sini.

“Ya! Ya! Tak usah mendorongku, aku jugabisa keluar sendiri, dasar Koala jelek.”

“Dasar Tuna bodoh.”

“Uwooo Koala tampan dan Tuna cantikserasi sekali.”

MWO!.”mata kami terbelalak saat mendengar celetukkan seorang namja kecil yang kiniberdiri di samping Taeyeon eonni dankalimat itu diamini oleh teman-temannya termasuk Taeyeon eonni juga.

“Aish~ sana cepat pergi!.” sialan, koalaini mengusirku lagi.

Geurae…awaskalau kau berani menghubungiku apalagi datang ke rumahku. Per-mi-si.”

Aku berjalan dengan cepat serayamengusap airmataku yang tiba-tiba saja turun entah kapan.

***

Aku mengacak rambutku asal, tak pedulidengan tatapan aneh teman-teman sekelasku. Aish~ kenapa aku terus sajamemikirkan Koala jelek itu. Rasanya aku ingin sekali mengacak-acak rambutnya,kalau perlu aku cabuti rambutnya dengan tanganku sendiri. Seenaknya saja diatidak mempedulikanku setelah bertemu dengan Taeyeon eonni. Arrghh~ apa ini? apa aku cemburu.

Teettt

Aku beranjak dari bangkuku setelahmendengar bel istirahat kemudian berjalan menuju kantin untuk makan siang. Hah~terlalu lama memikirkan Koala itu aku jadi lapar.

Sesampainya di kantin aku segeramengambil nampan tempat makan siangku. Hari ini kantin tidak terlalu penuhkarena siswa-siswi kelas 3 sudah di liburkan dari kegiatan sekolah dan aku bisabernapas lega karena tak perlu mengantri terlalu lama seperti hari-haribiasanya.

Saat mengantri, tak sengaja mataku menangkapfigur Koala jelek itu tengah mengobrol dan sesekali tertawa denganteman-temannya. Mata kami sempat bertemu pandang untuk beberapa saat namun iatak menunjukkan ekspresi apapun. Hufftt…kurasa dia memang tidak membutuhkankulagi.

***

Setelah kejadian di tempat les pianoTaeyeon eonni, aku dan Namo takpernah berjalan bersama lagi. Hanya sesekali saat kami tak sengaja bertemu diperjalanan ke sekolah.

Aku terus saja mencari-carikeberadaannya saat berjalan di depan rumahnya setiap pulang sekolah. Beberapahari ini sangat susah sekali bertemu dengannya saat pulang sekolah, ia jugajarang terlihat menyiram tanaman di halaman rumah setiap sorenya dan kami jugatak pernah berhubungan melalui ponsel lagi. Aku terlalu takut untukmenghubunginya lebih dulu, bisa-bisa nanti Koala itu menertawakanku karenakemarin aku yang memintanya tak menghubungiku.

Sampai di rumah aku langsung merebahkantubuhku di ranjang. Kuputar-putar ponselku di atas ranjang. Tidak ada, samasekali tak ada panggilan ataupun pesan darinya. Apa dia tidak tahu kalau aku menunggunyamenghubungiku. Apa dia sudah lupa denganku karena terlalu asyik dengan Taeyeon eonni.

“Arrgghhh!.” aku mengerang sebal.Mengacak rambut seraya bergulingan di atas ranjang asal. Bagamana mungkin akubisa gila memikirkan Koala itu sementara mungkin saja sekarang ia masih asyikberkencan dengan Taeyeon eonni.

“Bodoh bodoh bodoh.” kupukul-pukulkanponselku beberapa kali kemudian beranjak ke kamar mandi. Haah~ rasanya kepalakumau pecah.

♫BecauseI listen to my heart beat one by one, oh! Because I listen to myheart-heart…♫

Aku berjengit kaget kemudian berlaridari kamar mandi saat kudengar ponselku berdering. Mataku sukses membulatsempurna setelah membaca nama caller yang tertera di layar. Ash~ eotteokaji? Aku jadi ragu ingin menjawabnya.Ya! Bukankah ini yang sudah beberapa hari ini kau tunggu.

“Y..yeo…”

“Ya! Kenapa mengangkat telpon saja lamasekali.” reflek kujauhkan telingaku dari ponsel setelah mendengar teriakannya.Ya tuhan, bahkan teriakannya terdengar begitu merdu kali ini. Dan tanpaseijinkupun airmata ini jatuh bersamaan dengan senyum di bibirku kembaliterkembang. Aku merindukannya memang dan aku tak memungkirinya tapi mungkinkahaku juga menyukainya? Bahkan hanya mendengar suaranya saja sudah membuatkupu-kupu di dadaku berterbangan.

Mian.”

“…” lama tak kudengar jawabannya. Mungkindia heran karena aku tak balas berteriak kali ini.

Wae?.”kuberanikan diri untuk membuka pertanyaan kali ini.

“Eoh aku ingin bertemu denganmu besoklusa, eottae?.” dadaku kembalibergemuruh.

“em…nde. Eodi?.”

“Di rumahku saja, tidak perlu kujemputkan? Kau hanya perlu berjalan 3 menit dari rumahmu.” aish~ namja inibenar-benar.

Ye.”jawabku singkat kemudian mematikan ponselku dan melemparnya di ranjang.

Aku terduduk diatas ranjang serayamemeluk lututku. Huft…aku tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Aku tidakmungkin menyukainya. Lagipula kalaupun aku menyukainya apa dia juga akanmenyukaiku. Aku beranjak dari ranjangku dan menuju dapur untuk membantu Eomma membuat makan malam.

Sampai di dapur aku memeluk Eomma sebentar namun sangat erat danhanya di balas usapan tangan dari Eomma.Kemudian aku berdiri di depan Eomma membantumemotong beberapa lobak dan wortel.

Wae?.”tanya Eomma. Aku hanya menggelengtanpa menolehnya kemudian menghela napas berat.

“Ada masalah?.” Eomma bertanya lagi.

Ani~.”aku memasukkan sayuran ke dalam wadah kemudian mencucinya dan berpura-pura takada apa-apa.

“Kalau ada masalah bilang saja, Eomma lihat beberapa minggu ini kauselalu kelimpungan seperti cacing kekeringan, kau terlihat tidak baik-baik saja.”Eomma tersenyum padaku seraya mulaimenggoreng beberapa ikan. Aku masih berpura-pura tidak ada apa-apa.

“Oh ya, beberapa minggu ini Eomma tidak pernah melihat kau bersamaWoohyun lagi. Padahal biasanya kalian selalu keluar bersama setelah pulangsekolah. Anak itu juga sudah lama tidak kemari.”

Kuhela napasku panjang kemudian menaruhah bukan lebih tepatnya lagi membanting sayuranku dan berbalik menghadap Eomma. Aish~ kenapa harus membicarakan Koalaitu. Apa Eomma tidak tahu kalau akukelimpungan seperti cacaing kekeringan gara-gara Koala itu.

“Aku sedang malas membicarakan Koala itu.”aku berbalik lagi dan mulai merebus sayuranku.

“Kalian bertengkar? Aigoo~ Tuna dan Koalayang malang.” Kudengar Eomma malahcekikikan di belakangku.

“Aish~ bagaimana kami mau pergi bersamakalau sekarang dia sudah punya yeoja yang cantik dan pintar bermain piano disampingnya. Eomma tahukan kalau Koalaitu ingin sekali punya pacar yang pintar bermain piano. Dia juga sudah dewasa.Lalu untuk apa Koala itu harus bermain dengan Tuna sepertiku kalau sudah ada Angsacantik di sampingnya.”

Napasku tersengal setelah mengeluarkanunek-unekku yang sudak terpendam lama, bahkan hampir kadaluarsa. Tapi Eomma bukannya menenangkanku malahtertawa semakin keras sampai airmatanya keluar. Ck

“Ya! Eommaberhenti tertawa!.” seruku seraya menyiram air kearah Eomma. Aku sebal.

“Aish anak ini benar-benar.” sekarang gantianEomma malah melempar tepung kewajahku.

“Aaa~ Eomma geuman.”

Shireo.Setelah kuberi tepung, aku mau menggoreng tuna ini.” Eomma masih saja melemparkan tepung ke tubuhku seraya tertawa terbahak.

“Ya! Ya! Eomma~”

Kami masih saling melempar tepung hinggatepung yang kami gunakan itu habis. Lama kami saling bertatapan penuh dendamsetelah itu kami tertawa bersama. Haah~rasanya sedikit lega jika bersama Eomma.

Kami sama-sama terduduk di lantai karenalelah. Tanpa terasa airmataku menetes lagi karena perih itu datang lagi saataku mengingat Koala itu terlihat begitu bersemangat mengusirku setelah bertemudengan Taeyeon eonni. Sesaat kemudianaku merasakan dua buah ibu jari yang mengusap airmataku. Ini tangan Eomma, aku menatapnya seraya tersenyumdan ia juga membalas senyumanku.

“Kau cemburu?.”

Molla.”aku hanya menggeleng.

“Katakan kalau kau mencintainya, takperlu malu.”

“Haruskah?.” Eomma mengangguk.

“Apa aku salah menyukai namja yang sudahpunya kekasih?.” aku tertunduk.

Ani,kau tidak akan pernah tahu pada siapa dan dimana cintamu itu akan jatuh. Kitatak bisa memilihnya, tapi bagaimana cara kita menyikapi rasa itu saat iatiba-tiba datanglah yang paling penting. Memaksakan cinta itu tidak baik, tapiterkadang cinta itu juga butuh diperjuangkan. Hanya menyatakan cinta,setelahnya jadikan itu sebagai kenangan kalau kau pernah mencintai seorangWoohyun yang sudah punya kekasih. Laki-laki di dunia ini bukan cuma WoohyunRin-ah.” Eomma mengakhiri kalimat panjangnya kemudian memelukku.

“Tak selamanya senyuman kita juga akandibalas dengan senyuman juga.” Eommamasih mengusap rambutku pelan.

Gomawo,aku akan mengatakannya.”

Beberapa saat kali terdiam. Aneh, kenapadi dapur ada bau tidak enak, padahal biasanya bau masakan eomma selalu sedaptapi ini…

Aku melepaskan pelukan eomma dengancepat, kami saling bertatapan penuh tanya hingga akhirnya…

“IKANKU!!! SAYURKU!!!.”

***

Hari ini Namo mengajakku untuk pergi kerumahnya. Baiklah, mungkin hari ini adalah hari yang tepat untuk mengatakannya.Kukepalkan tanganku dan memantapkan diri untuk melangkah ke rumah Namo. HyunRin-ah, fighting!

Saat sampai di depan gerbang rumah Namo,entah mengapa jantungku rasanya berdetak tak beraturan lagi. Bagaimana wajahnyahari ini setelah beberapa minggu kami hampir tak bertemu sama sekali. Tapi yanglebih penting adalah bagaimana aku mengatakan kalau aku menyukainya.

“Aish~.” kuhentakkan kakiku cepat. Eoteohkae?

Mwohaneungeoya?.”kakiku berhenti tiba-tiba dan reflek menggelengkan kepala kemudian terdiammenatapnya di depanku. Tuhan, berikan aku oksigen yang lebih. Tubuhku rasanyamendingin, telapak tanganku basah dan apa ini? kakiku tiba-tiba lemas.

“Masuklah! Aku belum selesaibersiap-siap.” aku berjalan mengikutinya masuk ke dalam rumah.

Rumahnya sepikarena Ahjumma dan Ahjussi sedang pergi ke rumah nenek Namo.Terasa sedikit kikuk memang karena aku sudah cukup lama tak pernah kemari. Sepertibiasa aku menunggunya di depan TV sementara ia mulai menaiki tangga menujukamarnya. Bagaimana ini? apakah harus sekarang? Ya, HARUS.

“Namo-ya!.” ia menoleh kemudian aku berjalanmenghampirinya yang berhenti di tengah tangga panggilanku.

Wae?.”

“Ada…yangingin kukatakan padamu.” Sialan, kenapa rasanya seperti ada bom yang akanmeledak saja.

“Em, marhae!.” ia melipat kedua tangannya didepan dada kemudian bersandar pada pegangan tangga seraya menungguku mengatakansesuatu. Kumohon Namo, jangan menatapku seperti itu. Kau membuat nyalikusemakin menyusut.

“Aku…aku…”aarrghh aku tidak bisa mengatakannya. Rasanya seperti ada yang menggembokmulutku.

“Kau kenapa?.” tanyanyamenuntut.

“aku…ingin ketoilet. Iya…iya…benar, aku ingin ke toilet.” Dasar bodoh.

“Hahaha…kalaumau ke toilet ya pergi saja. Jangan bilang kau lupa toilet di rumahku karenabeberapa minggu ini kau tak kemari.” ia berlalu dan aku hanya bisa merutukikebodohanku.

Aku memutuskanuntuk menunggu di luar rumah saja, suhu di dalam rumah terasa sangatmembakarku. Aish~ aku seperti tak punya muka lagi bertemu dengannya.

Terdengar suarapintu tertutup, sesaat kemudian Namo berjalan kearahku dan menggandengtanganku.

Kajja! Kita naik mobil saja, aku lelahkalau harus berjalan kaki.” sumpah demi Donghae Super Junior yang sangat amattampan, aku ingin pingsan sekarang.

Tak butuh waktulama akhirnya kami sampai di tempat yang kami tuju. Haah~ rasanya cuaca cerahhari ini berubah seperti badai Katrina yang melemparkanku ke negara antahbrantah. Kenapa harus ke tempat ini lagi. Sebenarnya apa maksud Koala inimengajakku kemari setelah kemarin mengusirku.

“Kenapa diamsaja? Ayo masuk!.” Namo, kenapa hari ini senyummu terlihat begitu indah.

Matakuterbelalak karena ia kembali menggandeng tanganku masuk ke dalam tempat lespiano milik Taeyeon eonni. Apa diatidak takut dimarahi kekasihnya karena menggandeng yeoja lain di depankekasihnya.

Sampai di dalamaku sempat terkejut melihat tempat ini berubah menjadi lebih indah daribiasanya karena dekorasinya yang ditambahi dengan beberapa pita-pita dan balon.Anak-anak yang kemarin berhambur memeluk Namo juga terlihat begitu tenang dudukrapi di samping piano dengan senyum mereka yang begitu menggemaskan dan janganlupakan juga gurunya si Angsa cantik yang berdiri di belakang anak-anak itu. Kenapaterkesan seperti acara ulang tahun? Apa ini hari ini ia merayakan hari jadinyabersama Taeyeon eonni?.

Anja!.” Namo menggiring langkahku dudukdi kursi di depan anak-anak itu dan di sampingku sudah ada boneka beruang putihyang ukurannya dua kali tubuhku. Kemudian dengan sedikit berlari ia melangkah kearahanak-anak tersebut kemudian duduk di depan piano itu. Mau apa Koala itu. Iamenolek kearahku dan…tersenyum kemudian kesepuluh jarinya mulai ia letakkandi atas tuts-tuts piano.

“Hana dul set.”Taeyeon eonni mulai menghitung dandentingan piano mulai mengalun begitu indah bersamaan dengan suara Taeyeon eonni dan anak-anak itu.

Baby mylove beautifulnaneun neoreul saranghaenuneul gamado ni saenggagedodugeun dugeun tteollyeowa

Aku tak tahu apamaksud Namo melakukan ini, tapi hari ini rasanya badai Katrina di dadakumenghilang begitu saja. Mungkinkah ini lagu untukku?.

Baby mylove beautifulnaneun neoreul saranghaenan yaksokhalge ni gyeoteseomanyeongwonhi ham…

“Ya! Ya! Geuman. Hyung nadanya salah.” aku sedikit kaget karena tiba-tiba saja seorangnamja kecil yang duduk paling dekat dengan Namo memukulinya hingga membuatsemuanya berhenti bernyanyi dan lagu yang indah itu berubah jadi kacau.

“Sungjong-ah, hentikan! Tidak baik memukuli Hyung-nim.” Namo hanya bisa menghindar,dan adegan itu sukses membuatku tertawa.

“Sungjong-ah geumanhae!.” Taeyeon eonni dibantu oleh anak-anak yang lainmencoba menahan tangan Sungjong yang terus saja memukuli Namo dan ia hanyabisa  menutupi tubuhnya dengan tangan.Lagipula tidak mungkin kan dia memukul balik anak kecil itu.

Tawaku semakintak bisa dihentikan. Apa-apaan mereka ini?. Beberapa saat kemudian keributanitu menghilang, mereka hanya terdiam melihatku yang masih tertawa.

Wae?.” aku juga ikut terdiam. Kenapamereka melihatku dan Namo seperti itu.

Kulihattiba-tiba saja namo berdiri dari duduknya seraya membenarkan jasnya yangsedikit berantakan kemudian berjalan kearahku. Saat sudah sampai di depanku,seorang yeoja kecil membawa sebucket mawar merah dan memberikannya padaku.

“Itu aku yangmerangkainya.” ucap Taeyeon eonnidengan senyumannya disertai suara tawa anak-anak itu. Aku balas tersenyumpadanya.

“Kurasa tanpamengatakannyapun kau sudah tahu akan kemana arah pembiacaraanku.” aku terdiammenunggunya bicara lagi. Yah, aku memang sudah tahu apa yang ingin ia katakan.Tapi aku ingin ia mengatakan langsung.

“Aku mencintaimu.”sepertinya bom di dalam dadaku benar-benar meledak sekarang saat iamengatakannya seraya menggenggam tanganku. Matanya tak pernah lepas menataplekat mataku. Bolehkah aku menangis sekarang.

Tanpa mengatakanapapun aku memeluk namo dengan erat. Menyembunyikan airmata bahagiaku karenaaku tak ingin ia melihatku menangis di hadapannya. Ia membalas pelukanku denganmengusap lembut punggunggku.

“Woohyun sudahbekerja keras beberapa minggu ini belajar bermain piano.” aku tersenyum membalstatapan Taeyeon eonni. Jadi ini alasannya tak menemuiku beberapa minggu ini.

Aku semakinmengeratkan pelukanku, airmataku tak bisa berhenti. Beberapa saat kemudian Namomelepaskan pelukan kami dan dengan cepat kembali kuusap airmataku.

“Kenapa menangis?.”Ia mengusap sisa-sisa airmataku dengan ibu jarinya kemudian mencium keningku.

“Harusnya kausenangkan mendapatkan cinta dari Nam Woohyun yang baik dan tampan.” ia terkekehsetelah mengatakannya.

“Ya! Aku terharubodoh.” kupukul dadanya dengan sebucket bunga mawar yang ada di tanganku.

Chakaman.” Ia beralih ke belakangkukemudian mengambil boneka beruang putih itu dan memberikannya untukku.

‘Jadi…bagaimana?.”

“Bagaimana apanya?.”tanyaku pura-pura tak tahu.

“Ya! Kau maujadi kekasihku atau tidak?.” ia menggetok kepalaku.

“Aish~ apaseperti ini caramu menyatakan perasaan? Harusnya kau bersikap lembut kalau maukuterima.”  sungutku sebal seraya mengelus kepalaku yang terasa sedikit sakitkarena pukulannya.

“Sudah cukup akubersikap lembut padamu hari ini.” aish~ apa-apaan Koala ini.

Kami terdiamsejenak.

“Bagaimana?.” tanyanyalembut.

Aku mengangguksebagai jawaban kemudian ia memelukku bersama dengan boneka beruang yang masihberada dipelukanku. Mataku terpejam saat kurasakan keningnya menempel dikeningku. Kami sama-sama menghela napas bahagia.

“Uwooo baru kaliini aku melihat Koala dan Tuna punya anak beruang.” suara ini, suara Sungjong.Kami hanya tertawa mendengarnya.

Beberapa saatkemudian aku merasakan hembusan napas Namo semakin dekat dan bisa kudengar derunapasnya yang semakin memburu menerpa wajahku. Ya tuhan, jangan bilang kalaudia mau…aish~ aku tidak berani membuka mataku.

“STOP!.” sontak kamimenoleh kearah sumber suara.

“Ini adegan 17tahun kesamping. Kajja anak-anak!Kita bermain di taman belakang.” kulihat Taeyeon eonni menggiring anak-anak ke taman belakang. Aku dan Namo tertawamenahan malu karena kami sempat melupakan bahwa masih ada mereka di sini.

Setelah merekabenar-benar menghilang, Namo kembali menangkup wajahku dengan kedua tangannyahingga memaksaku untuk menatapnya.

Saranghaeyo Tuna bodoh.”

Nado saranghae…Koala jelek.” aku tertundukkarena malu terlalu lama menatap wajahnya namun sedetik kemudian ia kembalimengangkat wajahku dan kali ini ada seringaian aneh dari wajah Koalanya.

“Jadi…bagaimanakalau kita lanjutkan yang sempat tertunda tadi.” mataku membelalak kaget.

“Dasar Koala mesum.Ini cium saja beruangmu.” ia masih tertegun heran saat kuserahkan bonekaberuang super besar itu ke pelukannya dan aku berlari menyusul Taeyeon eonni ke taman belakang.

“Ya! Tuna bodohkau mau kemana?.” tak ku hiraukan panggilannya kembali kemudian aku bersembunyidi balik pintu belakang.

“Emmm…tidakada Tuna bodoh itu, kau juga boleh.”

Chuuu~

Aku benar-benaringin tertawa sekarang. Saat mendengarnya berbicara sendiri kemudian berciumandengan boneka beruang itu.

END

Harus memberikan review dari seluruh aspek, kalo ga suka ngomong aja, kalo suka kasih like sama komen. WAJIB😛

Image

4 thoughts on “[Oneshot] Sarang Gobaek Hada

  1. So swiiit wkwkwk apalagi Nam Woo hyun kan ganteng. Terkadang cinta itu gak jauh-jauh dari kita. Eh the best (Y) betewe aku readers baru. Mohon izin nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s