Season Diary: Hanamizuki No Shita de (Spring Story)

Title                : Hanamizuki No Shita de/Under The Hanamizuki Tree
Author            : Valuable94
Cast                : Lee Haru (OC)

 Isamashii Nakatsu (OC)

 Lee Hyukjae (SJ)

 Song Hyo In (OC)

Genre              : Romance
Rate                : T
Length            : Oneshot
Discalimer      : masih inget sama ff ini? ahahaha, kelamaan gak dilanjut mungkin udah pada lupa kali ya. awalnya series yang ini mau author bikin oneshot aja, tapi ternyata gak mungkin. Karena kemarin pada minta kisahnya NakaHaru dilanjutin sementara tokoh utama series ini sebenernya Hyuk sama Hyo jadi solusinya author bikin 2 sides story. Semoga suka ^^

 

HappyReading J

 

 

 

Hyo In POV

 

Hari ini suasana disekolah terasa sangat panas. Yah hari ini memang hari pertama musim semi, musim yang paling kusukai. Saat bunga Hanamizuki mekar. Indah, sepanjang jalan yang awalnya tertutup salju putih pun kini mulai menampakkan wajah aslinya, pohon-pohon pun kini nampak begitu indah berganti dengan warna merah muda Hanamizuki. Kuhirup udara dalam-dalam seraya tersenyum merasakan hembusan angin yang membawa harum bunga Hanamizuki, menemaniku dan Haru didepan sebuah gedung Aula tempat Hyukjae oppa dan Nakatsu senpai wisuda sekarang.

 

Aku tersenyum sendiri saat melihat Haru yang hanya diam memangku sebuah kotak berwarna cokelat seraya mengayunkan kakinya yang menggantung. Sesekali ia terlihat menerawang jauh Aula yang tak jauh dari tempat kami duduk untuk menunggu Hyukjae oppa dan keluarga Lee.

 

“haish, kenapa lama sekali upacara wisudanya?” Haru menggerutu tak karuan. Aku hanya terkikik geli tanpa berniat menjawab gerutuannya yang sudah terlontar untuk kesekian kalinya.

 

Beberapa saat kemudian aku mendengar suara riuh perlahan mendekat kearah kami, Aku dan Haru kompak beranjak dari bangku tempat kami duduk kemudian memutuskan untuk segera menyusul para wisudawan dan para wali mereka keluar gedung Aula.

 

Aku segera mendekat kearah Hyukjae oppa yang sudah menyambutku dengan gummy smilenya dan tangan terbuka seolah menungguku beradu dalam pelukannya, dan yah..aku melakukannya. Aku memeluknya erat merasakan hangat tubuhnya, ia pun membalasnya dengan pelukan tak kalah erat. Sesaat kemudian ia melepaskan pelukan kami dan mengecup keningku lama.

 

“ehem” kudengar suara ayah Hyukjae oppa mengiterupsi kegiatan kami. Bukannya melepaskan ciumannya ia malah merapatkan tangannya dipinggangku. Apa dia tidak malu jika dilihat banyak orang apalagi orang tuanya?. Akhirnya dengan berat hati kulepaskan pelukannya dengan sedikit dorongan memaksa.

 

“sebaiknya dilanjutkan dirumah saja” begitulah suara ayah Hyukjae oppa yang langsung mendapat cubitan dari eommoni, sementara aku hanya berani menundukkan kepala berusaha menyembunyikan rona merah dipipiku.

 

“Haru eodiga?” aku hanya mengedikkan bahu tak tahu seraya melihat sekeliling berharap dapat menemukan Haru.

 

Pandanganku terarah lurus kearah seorang gadis dan seorang pemuda didekat pintu masuk Aula. Kutepuk pelan bahu Hyukjae oppa memberinya isyarat bahwa aku sudah menemukan Haru yang berada tak jauh dari kamui bersama…kurasa itu Nakatsu senpai.

“hah~ keterlaluan sekali bocah itu. Kalau sudah ada Nakatsu pasti aku terlupakan” gerutu Hyukjae oppa seraya menghela napas kesal.

 

Ya, mereka terlihat hanya berdiri saling berhadapan dengan pandangan sama-sama tak fokus tanpa ada pembicaraan dari mereka.

 

 

Author POV

 

Diam, hanya itu yang mereka lakukan. Hanya atmosfir kecanggungan yang terasa diantara mereka. Hyukjae, Hyo In dan kedua orangtuanya pun kini mulai memperhatikan dengan senyuman geli mereka malihat dua pemuda-pemudi itu yang mungkin saja tengah sibuk mengatur perasaan mereka.

 

“O…omedetou gozaimasu atas kelulusan senpai” ucap Haru tergagap.
“hn. A..arigatou gozaimasu” hanya kata itu pula yang spontan Nakatsu katakan seraya menggaruk tengkuknya. Salah tingkah mungkin.

“kore wa…(ini)” sambung Haru seraya menyerahkan satu box berwarna cokelat yang sedari tadi ia bawa.
“kore wa…nani ka (ini apa)” Tanya Nakatsu pelan seraya membolak-balikkan kotak pemberian Haru.
“ini hadiah kelulusan untuk senpai sekaligus ucapan terimakasihku karena setahun ini sudah membimbingku berlatih Kyudo” jelas Haru dengan suara gemetar.

 

Nakatsu hanya tersenyum kemudian bermaksud membuka hadiah tersebut namun dihalangi oleh Haru.

“jangan senpai”
“nande (kenapa)?” Nakatsu mengernyit heran.
“bukalah saat kau sudah sampai rumah” Nakatsu mengangguk mengerti kemudian mereka kembali terdiam.

 

“bagaimana kalau besok kita pergi keluar?”
“NDE?” Haru sontak menutup mulutnya yang keceplosan berbahasa Korea karena saking kagetnya mendengar ajakan Nakatsu.

“Dou (Bagaimana)?” Tanya Nakatsu sekali lagi karena tak kunjung mendapat jawaban dari Haru.
“pasti, aku mau” Haru mengagguk semangat dengan raut muka merah padam sementara Nakatsu terdengar menghela napas lega seperti baru saja meletakkan batu besar yang sudah ia panggul beberapa tahun.

 

“jam 9, ditaman Hanamizuki” tambah Nakatsu. Haru kembali mengangguk tak kalah semangat dari sebelumnya.

“em..aku harus pergi sekarang senpai, mungkin keluargaku sudah mengunggu terlalu lama”
“hn” Nakatsu hanya menjawab seadanya karena takut jika ia mengeluarkan kata-kata yang lebih banyak lagi maka ia akan terlihat sangat gugup.

 

“sayounara(sampai jumpa)!” Haru melambaikan tangannya sedikit ragu kemudian melangkah meninggalkan Nakatsu. Baru beberapa langkah ia menjauh dari Nakatsu tiba-tiba Haru berbalik kearahnya dan mengecup pipinya sekilas hingga membuat Nakatsu sontak membelalakkan matanya dan tak mampu menggerakkan tubuhnya. Ia kaget dengan apa yang Haru lakukan padanya.

 

“OMO” pekikan keras dari Hyo In dan keluarga Lee yang sedari tadi memperhatikan merekapun akhirnya menyadarkan Nakatsu dari kebekuan sementaranya. Sementara Haru terlihat menunduk antara malu dan takut melihat ekspresi orangtua dan kakaknya yang nampak syok melihat kejadian tersebut. Ia malah bersembunyi dibalik punggung Nakatsu saat melihat Hyukjae dan ayahnya mendekat kearahnya menatap tajam kearah Nakatsu yang bingung tak tahu harus berbuat apa.

 

“kemari kau!” Hyukjae menarik telinga Haru, tak ayal Harupun kini menjerit kesakitan karena jeweran Hyukjae. Hyukjae membawanya menjauh dari Nakatsu menuju tempat ibunya dan Hyo In yang masih menunggu mereka ditempat semula, sementara ayahnya berkali-kali meminta maaf atas tindakan Haru yang kurang sopan dan ditanggapi Nakatsu dengan mengatakan tidak apa-apa.

 

 

@Lee Family’s House

 

“kau seperti singa betina yang sudah satu minggu tidak makan Haru-ya” hardik Hyukjae ketika mereka baru saja sampai dirumah seraya membuka jas sekolahnya. Mereka hanya pulang bertiga karena ditengah perjalanan tadi kedua orang tua Hyukjae harus pergi karena ada pertemuan mendadak.

 

“sudahlah jangan kau marahi terus adikmu” bela Hyo In saat ia baru saja masuk rumah seraya mengelus bahu Haru yang duduk tertunduk di sofa ruang tamu.

“kau selalu saja membela Haru” bantah Hyukjae kemudian masuk kekamarnya karena kesal melihat sikap adiknya yang memalukan baginya ditambah sikap Hyo In yang selalu membela Haru.

 

“eonni-ya” Haru memeluk manja Hyo In.
“kau benar-benar menyukai Nakatsu senpai?” Tanya Hyo In seraya mengusap rambut Haru pelan. Haru hanya mengangguk kemudian bangun dan menatap Hyo In dalam.

“apa yang kulakukan tadi salah eonni?” Tanya Haru memelas. Hyo In terdiam sejenak.

 

“ani” sambung Hyo In.
“lalu kenapa oppa sepertinya marah sekali padaku?”
“oppa-mu itu masih terlalu kolot” Haru mengernyit meminta penjelasan atas jawaban HyoIn.

“begini, kau tahu siapa yang mencium pertama kali sebelum aku dan oppa-mu resmi berkencan?” Haru nampak diam berpikir sejenak, setelah mengerti maksud Hyo In ia kembali menatap Hyo In dengan pandangan curiga.

 

“jangan-jangan…” sergah Haru menduga-duga.

“aku yang mencium oppa-mu duluan” Hyo In menegaskan apa yang mungkin saja dipirkan oleh Haru saat ini.
“Omo! Bagaimana bisa eonni melakukannya?” Haru terdengar antusias.
 “dengar, mencium bukan berarti orang itu menyukainya atau mesum. Menciumku saat itu lebih merasa terlindungi Hyukjae oppa, dan kurasa kau melakukannya juga karena mempunyai alasan” Jelas Hyo In.

“eonni-ya, bagaimana kalau Nakatsu senpai tidak menyukaiku?” Haru menunduk lesu mengingat kenyataan bahwa sebenarnya Nakatsu dulu pernah menyukai Hyo In, bukan dirinya.
“kau sudah menyatakannya?” tanya Hyo In mulai antusias. Haru mengangguk.

“Omo, eonjae?”
“didalam hadiah yang kuberikan padanya tadi” Jawab Haru lesu.
“waahh~ kau berani sekali” Hyo In berdecak seraya menggeleng kagum mendengar pernyataan Haru.
“lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” Haru menggeleng.
“molla, senpai mengajakku ketaman Hanamizuki besok siang, eotteokae? Haru mengguncang tubuh Hyo In yang masih mematung.

 

“apa kau tahu jika Nakatsu senpaiia akan melanjutkan studinya ke Hiroshima”
“ye” Haru mengangguk.
“mungkinkah?…” kata-kata Haru menggantung. Mungkinkah Nakatsu mengajaknya keluar besok karena akan berpamitan dan menolaknya? Pikir Haru.

 

“sudahlah jangan terlalu dipikirkan, jja! Bantu akumenyiapkan makan siang” Hyo In meninggalkan Haru yang masih terpaku mengetahuikenyataan kisah cintanya yang mengenaskan.

 

 

Keesokan harinya

 

Haru terus saja berdiam diri diatas ranjangnya, ia masih bingung haruskah ia benar-benar harus pergi bersama Nakatsu untuk mendengar penolakan dan ucapan selamat tinggal padanya. Aarrrgghh~ Haru mengeram frustasi serya mengacak rambutnya yang sudah acak-acakan.

 

“EOTTEOKAE?” Haru menjerit setelah sebelumnya menenggelamkan wajahnya didalam bantal yang ia peluk sedari tadi. Sesaat kemudian raut wajahnya berubah ‘ani, aku bukan gadis pengecut, kalau aku berani manyatakan cinta lalu kenapa aku tak berani mendengar jawabannya’ pikir Haru. Ia menoleh jam weker yang berada diatas nakas samping ranjangnya.

 

“OMO” Haru beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi dengan tergesa setelah melihat jam menunjukkan pukul 07.45 dan itu berarti kurang 15 menit lagi ia harus sampai ditempat janjiannya dengan Nakatsu.

 

Baru saja Haru keluar dari kamarnya, telinganya telah dikejutkan oleh suara seorang namja yang begitu ia hafal. ‘maldo andwae, tidak mungkin senpai menjemputku dirumah’ bantah pikiran Haru. tapi bukankah ini bukan pertama kalinya Nakatsu datang kerumahnya karena sebelumnya ia sering kemari karena ia sekelas dengan Hyukjae oppanya.

 

Setelah beberapa saat bergelut dengan pikirannya sendiri akhirnya ia tersadar dengan suara teriakan eommanya yang menyuruhnya untuk segera turun keruang tamu. Haru berjalan kikuk saat mengetahui jika benar Nakatsu menjemputnya. Kenapa rasanya ini seperti kencan pertama? Batinnya.

 

Suasana rumah yang sempat sunyi kini tercairkan dengan suara Nakatsu yang meminta ijin untuk mengajak Haru keluar dan dijawab anggukan oleh kedua orang tuanya.

“kendalikan dirimu Haru-ya” ledek Hyukjae yang dengan santainya melewati Nakatsu dan Haru.
“YA” tendangan Haru mendarat mulus tepat dikaki Hyukjae yang langsung meringis kesakitan.
“karena hari ini kencan pertamamu jadi kulepaskan kau, kalau tidak pasti sudah kubalas” Hyukjae berlalu mendekati eommanya kemudian memeluknya seolah mengadu karena kenakalan adiknya.
“sudahlah Hyukkie…jangan menggoda adikmu terus. Sudah kalian cepat berangkat sana! Hati-hati dijalan” perintah eommanya dan dijawab anggukan oleh Nakatsu sementara Haru kentara sekali jika ia masih dendam dengan Hyukjae.

 

 

@Hanamizuki Park

Sudah hampir 10 menit Haru dan Nakatsu sama-sama terdiam ditempatnya masing-masing meskipun mereka kini tengah duduk bersebelahan dibangku yang sama dibawah pohon Hanamizuki. Sesaat terlihat mereka sama-sama menghembuskan napas gugup.

 

“arigatou ne (terima kasih ya)” suara Nakatsu memecahkan keheningan diantara mereka.
“nani no tameni (untuk apa)?” Tanya Haru tak mengetahui maksud dari kata-kata Nakatsu.

“omamori” Nakatsu menunjukkan jimat perlindungan yang menjadi hadiah untuknya dari Haru atas kelulusannya.

 

Haru hanya tersenyum menanggapinya, ia terlalu takut untuk menunggu kata-kata penolakan dari Nakatsu.

 

“kenapa kau memberiku omamori?” Tanya Nakatsu.
“ah~ a…aku…hanya…berharap senpai selalu dalam keselamatan, apa senpai tidak suka?” Tanya Haru ragu.
“iie, boku wa sonna ni suki (tidak, aku sangat menyukainya)” perlahan senyum Haru mulai terbentuk di bibir manisnya.

 

“kau mengkhawatirkanku?” Haru hanya mempu menunduk tanpa mampu menatap kearah lawan bicaranya, ia masih sibuk mengatur detak jantungnya sendiri.

“apa kau tahu jika aku akan meneruskan sekolahku di Hiroshima?” sambung Nakatsu kemudian, Haru telah menyiapkan hatinya untuk kata-kata selanjutnya meskipun tak dipungkiri bahwa jantungnya berdetak diatas normal saat ini.
“hn” Haru menggaguk.

 

“heh…terima kasih sudah mengkhawatirkanku tapi maaf aku…” kata-kata Nakatsu menggantung hingga membuat Haru semakin ingin cepat lari dari tempat itu, tak ingin mendengar penolakan dari Nakatsu.

 

“kore…(ini)” Nakatsu memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah beludru pada Haru. Haru hanya terdiam menatap Nakatsu dan kotak itu bergantian meminta penjelasan. Nakatsu memberinya instruksi untuk membukanya, setelah Haru membuka kotak tersebut ia semakin tak mengerti dengan maksud Nakatsu memberikan benda itu untuknya. Oh tuhan, kenapa disaat-saat seperti ini otaknya malah tak bisa ia gunakan dengan baik, rutuknya pada diri sendiri.

 

“itu buah baju kedua seragamku, kata orang tuaku buah baju kedua adalah benda yang paling dekat dengan hati, jadi…” Haru semakin tak mengerti dengan maksud Nakatsu memberinya buah baju keduanya karena itu berarti…

“maaf aku tidak bisa bersamamu, mungkin untuk waktu yang cukup lama. Aku takut jika kau terlalu mengkhawatirkanku di Hiroshima jadi…kuputuskan untukmenitipkan hatiku disini, bersamamu” Haru membelalak tak percaya mendengar pernyataan Nakatsu. Benarkah? Benarkah Nakatsu juga menyukainya?

 

“jagalah hatiku bersamamu. Selama kau menjaganya dengan baik, kau tak perlu khawatir denganku. Belajarlah dengan baik disini” Nakatsu mengusap puncak kepala Haru yang kini tengah berderai airmata membuat Nakatsu menahan tawanya.

 

“senpaiiii” Haru menghambur kedalam pelukan Nakatsu yang disambut dengan hangat oleh Nakatsu.
“hikz a hikz arigatou hikz”
“ssttt onegaishi nakanai (kumohon jangan menangis)” ucap Nakatsu seraya mengusap lembut rambut Haru yang masih tenggelam dalam pelukannya.

 

Haru menengadahkan wajahnya menatap Nakatsu yang masih setia dengan senyumnya. Harupun ikut tersenyum. Ya, ia tahu jika senyum itu kini memang untuknya.

 

“kau berjanji akan baik-baik saja di Hiroshima?” Nakatsu mengangguk.
“asal kau berjanji untuk belajar dan menjalani hidupmu dengan baik disini” Haru mengangguk semangat.

“sering-seringlah menelponku” pinta Haru manja dan Nakatsu hanya membalasnya dengan anggukan dan senyuman. Senyum bahagia.

 

Perlahan Nakatsu mendekat kearah Haru hingga tak ada lagi jarak diantara mereka dan dalam sekejap ia kembali membuat Haru terbelalak karena merasakan bibirnya mendarat sekilas dibibir Haru dan membuat Nakatsu terkikik melihat ekspresi yang ditujukkan Haru padanya.

 

“senpai, ternyata kau yang tidak bisa mengendalikan diri” protes Haru setelah ia tersadar dari lamunannya.
“NANI?” pekik Nakatsu. Ia memencet hidung Haru gemas karena merasa dilecehkan oleh anak kecil.

 

“dasar anak kecil” Nakatsu terus saja memencet hidung Haru bermaksud memberinya hukuman. Sementara Haru berusaha melepaskannyanamun tetap tak berhasil meskipun ia memukuli tubuh Nakatsu.

 

“Rasakan”

 

“AW…sakit, lepaskan senpai”

 

“berhenti memanggilku senpai, aku ini kekasihmu”

 

“iya, shitekunai!! (nggak, aku tidak mau)” semakin keras penolakan Haru, semakin keras pula tawa Nakatsu saat menghukum gadisnya.

 

 

 

Spring Note:

 

Hari ini, kuputuskan untuk menitipkan hatiku pada seorang gadis kecil. Seorang Haru yang kekanakan, entah mengapa aku bisa begitu saja percaya padanya. Aku jatuh pada seorang Haru dimusim semi (haru adalah bahasa jepang untuk musim semi) dan dimusim semi inilah aku kembali mampu menata hatiku, hanya untuk Haru. Tak hanya untuk musim semi, tapi untuk semua musim dalam satu tahun ini, tahun sesok, dan seterusnya.
Isamashii Nakatsu_

 

 

AKU AKAN MENJAGANYA, AKU BERJANJI. Menjaga hatinya dan seluruh rasaku untuknya. Untuk seorang senpai yang begitu dewasa bagiku, untuk seorang Isamashii Nakatsu yang telah mempercayakan hatinya hanya untukku. Untuk musim semi saat ini, musim panas dan musim gugur esok, musim dingin selanjutnya, hingga kembali pada musim semi lagi dan begitulah seterusnya. Aku akan tetap menjaganya. Arigatou boku no suteki na senpai (my lovely senpai).
Lee Haru_

 

END

 

OWARI!!!!
Yo dikomen yo *ngrap sama C.A.P
😄

7 thoughts on “Season Diary: Hanamizuki No Shita de (Spring Story)

  1. hai aku muncul lagi bersama wooyoung *buing*

    wahhh meskipun egk tau tentang ff sebelunnnya tapi aku cukup paham alurnya
    semuanya pas dan tetep pilihan kata mu bermutu yang membuat kamu beda sama author lainnya

    aku egk tau harus panggil kamu apa thor chingu ? eoni , atau saeng karna kita blm kenalan
    qie pergi dulu ya bye bye

  2. Pretty component to content. I just stumbled upon your blog
    and in accession capital to claim that I acquire actually loved account your blog posts.
    Anyway I will be subscribing in your augment and even I fulfillment you
    get admission to consistently fast.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s