[Oneshot] Nothing Better (special Eunhyuk’s Birthday)

Title                 :Nothing Better

Author             :Valuable94

Genre              :Romance, sad

Rate                 :PG-17, T

Lenght             :Oneshot

Cast                 :Lee Hyukjae, Song Hyo In

Disclaimer       : This plot and story is MINE. Ori dari author, don’t COPY-PASTE without my permit. Ff ini KHUSUS buat akang Hyukjae yang pualliingg guuaanntteengg yang lagi ulang tahun “ SAENGIL CHUKAE HAMNIDA” *lebay
hahaha, yesungminlah ya…

 

Happy reading ^^

 

 

 

Lee Hyukjae, namja tersebut kini tengah terdiam memandangi layar ponselnya, memainkan jarinya diponsel tersebut berselancar didunia maya, terkadang ia tersenyum-senyum sendiri membaca mention dari para penggemarnya.

 

Posisinya kini tengah tertidur dipangkuan seorang yeoja yang masih asyik dengan dunia komiknya. Masih cukup pagi untuknya berangkat ke kantor agensinya untuk latihan persiapan world tour concertnya bersama rekan-rekan satu grupnya karena kemarin ia baru saja melewatkan waktunya hampir seharian untuk melatih skill menarinya yang bahkan sudah sangat bagus itu.

 

Ia masih terlihat antusias memandangi benda kotak berwarna putih tersebut. Sesekali ia mendongak memandang yeojanya yang tengah tersenyum-senyum sendiri saat menemukan hal-hal lucu dari komiknya.

Merasa tak dihiraukan akhirnya Hyukjae bangkit dari rebahannya dan duduk disamping yeojanya yang kini tengah menatapnya heran.

 

“wae?” tanya Hyo In.

 

“ani” kemudian Hyukjae memeluk pinggang Hyo In dari samping dengan dagu yang menempel dibahu Hyo In. Ia memejamkan matanya menikmati usapan lembut dari Hyo In dipipinya sementara gadis itu masih tetap sibuk dengan dunianya sendiri.

 

“chagi lihat ini!” Hyukjae menunjukkan ponselnya didepan Hyo In hingga memaksanya untuk menutup komiknya sejenak. Hyo In tersenyum sendiri saat membaca beberapa mention dari para fans kekasihnya tersebut.

 

“kau harus bersyukur memliki fans seperti mereka oppa, mereka perhatian sekali padamu” ucap Hyo In.

 

“kau benar, bahkan fans-fans ku lebih perhatian daripada kekasihku sendiri” gerutu Hyukjae.

 

“maksudmu apa oppa?” tanya Hyo In heran dengan pernyataan Hyukjae.

 

“hari ini ulang tahunku chagi-ya, kau bahkan lupa memberikan ucapan selamat untukku. Aku tidak meminta hadiah darimu,lagipula aku sudah bisa membeli sendiri jika aku mau” jelas Hyukjae panjang lebar.

 

Hyo In tersenyum mendengar permintaan konyol kekasihnya tersebut kemudian mengalihkan perhatiannya pada Hyukjae, ia duduk berhadapan dengan Hyukjae kemudian menangkup wajah Hyukjae dan mengecup bibirnya sekilas.

 

“saengil chukaeyo Lee Hyukjae oppa” Hyukjae mengerjap kaget menerima perlakuan dari Hyo In meskipun ini bukanlah yang pertama untuk mereka.

 

“kau benar-benar menyebalkan chagi-ya” Hyukjae beranjak menuju kamar mandi meninggalkan Hyo In yang masih tak mengerti dengan maksud ucapan Hyukajae.

 

15 menit kemudian saat Hyukjae keluar dari kamar mandi, namun ia tak menemui Hyo In berada dikamarnya lagi, samar-samar ia mendengar suara benturan peralatan memasak dari arah dapur dan ia tahu itu artinya Hyo In tengah membuat sarapan untukknya.

 

Ia turun dari kamarnya menuju dapur yang berada satu lokasi dengan meja makannya. Ia duduk disalah satu kursinya kemudian melahap sepiring nasi goreng kimchi yang sudah disiapkan Hyo In. Ia sedikit mendengus melihat Hyo In lebih sibuk membersihkan peralatan bekas memasaknya daripada menemaninya makan.

 

“jam berapa kau latihan?” tanya Hyo In seraya menata peralatan masaknya kemudian melepas dan melipat apron biru yang melekat ditubuhnya.

 

“10” jawabnya singkat kemudian meneguk susu strawberynya.

 

Hyo in menatap jam didinding yang masih menunjukkan angka 9 kemudian ia beranjak mengambil tasnya yang ia tinggalkan disofa ruang tamu apartment Hyukjae.

 

“aku harus ke kantor sekarang oppa, ada beberapa naskah yang harus kuedit” Hyo In menghampiri Hyukjae kemudian mengecup dahinya.

 

“kau tidak sarapan dulu? Kalau kuantar saja bagaimana?” Hyukjae berdiri hendak mengantar Hyo In yang sudah sampai didepan pintu.

 

“tidak perlu oppa, aku tahu kau masih lelah. Aku sudah memesan taksi dan sekarang taksinya sudah menunggu dibawah. Annyeong” Hyo In tersenyum seraya melambaikan tangan dan mulai membuka pintu apartment.

 

“geurae, hati-hati” ucap Hyukjae dengan nada lemah. Ia kembali terduduk lemas seraya memangku tangan. Hyo In itu seorang kekasih yang baik namun sayangnya kekasihnya itu adalah orang yang kurang sensitive sama sekali, pikir Hyukaje.

 

***

 

Malam ini Hyukjae baru saja sampai diapartmennya setelah 14 jam latihan koreo dan vocal. Ia duduk disofa ruang tamunya. Ia membuka beberapa bungkus kue yang baru saja ia dapatkan dari rekan dan beberapa staff dikantornya. Ia memakannya seraya melihat beberapa mention yang masuk dari fansnya setelah ia mengupload fotonya bersama beberapa hadiah dari fansnya.

 

Ia tersenyum kecut saat melihat salah satu mention dari yeojanya yang hampir tertutup oleh beberapa mention dari fansnya.

 

@Hy_Song waahh~ hadiahmu banyak sekali oppa, kurasa aku tidak perlu membelikan apapunlagi untukmu😄 @AllRiseSilver

 

Ia menutup akunnya tersebut kemudian menghubungi Hyo In yang mungkin saja masih berada dikantornya sekarang.

 

Terdengar suara sambungan telpon, tak lama kemudian sambungan tersebut berakhir dengan sahutan dari seorang yeoja.

 

“yeobeoseyo”

 

“neo eoddiseoyo?”

 

“aku masih dikantor oppa, sebentar lagi pulang”

 

“pulanglah ke apartmentku, kau tidak perlu memasak atau membeli makanan, aku sudah membawa banyak makanan dari kantor” pinta Hyukjae.

 

“tapi aku masih banyak pekerjaan oppa”

 

“bawa pulang dan selesaikan saja disini” sergah Hyukjae dengan nada sedikit meninggi.

 

“tapi…”

 

“aku lelah” Hyukjae menghela napas beratagar Hyo In tahu ia sedang tak mau berdebat dengannya sekarang.

 

“baiklah, aku akan kesana” dan sambunganpun tertutup.

 

30 menit kemudian ia mendengar pintu apartmentnya terbuka dan ia tahu siapa yang datang malam ini. Ia memperhatikan Hyo In yang berjalan lesu dihadapannya kemudian duduk disampingnya seraya meletakkan beberapa berkas dan tas yang terlihat sedikit berat. Hyo In dudukmenyandarkan punggungnya disofa seraya memejamkan mata.

 

Hyukjae membuka tangannya kemudian menarik tubuh Hyo In mendekat kearahnya, menyandarkan kepala Hyo In didada bidangnya seraya mengelus rambutnya pelan sementara tangan Hyo In sudah melingkar dipinggang Hyukjae.

 

“mandi lalu makanlah, setelah itu istirahat sebentar” bukannya menuruti perintah Hyukjae, Hyo In malah semakin mengeratkan pelukannya dan semakin menenggelamkan wajahnya didada Hyukjae yang terasa lebih nyaman daripada kasur dikamarnya.

 

“aku lelah oppa, bisakah aku tidur disini sebentar saja” Hyukjae hanya tersenyum seraya tetap mengelus lembut rambut Hyo In.

 

***

 

1 A.M

 

Hyukaje terbangun dari tidurnya karena merasakan kering ditenggorokannya, ia tersentak kaget saat tersadar jika Hyo In tak lagi berada disampingnya. Kemana gadis itu? Batin Hyukjae.

 

Seketika Hyukjae melupakan acara hausnya dan memilih mencari keberadaan Hyo In. Ia mencarinya dikamar mandi dan dapur namun Hyo In tak juga ia temukan. Saat berada diruang TV ia melihat ada seberkas cahaya dari arah ruang tamunya. Perlahan ia mendekat ke ruang tamu tersebut dan tersenyum lega karena Hyo In lah yang tengah sibuk berkutat dengan laptopnya, ia bahkan tak menyadari jika saat ini Hyukjae tengah mendekat kearahnya.

 

Ia baru tersadar saat Hyukjae sudah berada disampingnya, dengan cepat Hyo In menutup beberapa lembar hasil editannya dan menutup laptopnya tanpa mematikannya.

 

“kenapa langsung ditutup? Memangnya kau sedang mengedit apa?” tanya Hyukjae kesal merasa ada yang disembunyikan darinya.

 

“eobseo, kenapa kau tidak tidur oppa?” tanya Hyo In mencoba mengalihkan topik bahasan.

 

“jawab pertanyaanku, sepertinya kau menyembunyikan sesuatu dariku” paksa Hyukjae.

 

“bukan apa-apa oppa, hanya naskah biasa dan kau tidak perlu mempermasalahkannya”

 

“kalau hanya naskah biasa kenapa harus disembunyikan dariku?” nada bicara Hyukjae meninggi.

 

“oppa jangan memperbesar masalah kecil, kau kekanakan sekali” Hyo In mulai kesal dan berusaha menghindar dari pertengkaran. Ia mengemasi berkas-berkasnya dan pergi kekamar diikuti oleh Hyukjae.

 

“jangan menghindar Hyo-ya, aku lelah jika terus seperti ini. Kita saling mencintai, seharusnya kita juga harus saling percaya”

 

“justru kau yang mulai tak bisa mempercayaiku oppa, jika kau percaya padaku kau tidak perlu mendebatkan masalah ini” jawab Hyo In seraya memasukkan beberapa barang-barangnya kedalam tas.

 

“aku hanya ingin tahu apa yang sedang kau lakukan” bantah Hyukjae.

 

“dan aku sudah menjawabnya tapi kau tidak percaya oppa”

 

“aku lelah Hyo-ya, jadi bisakah kau menjawab sejujurnya saja”

 

“aku juga lelah oppa” Hyo In berbalik menatap mata Hyukjae yang memerah karena marah. Mata Hyo In sudah terlihat lembab dengan hiasan beberapa tetes cairan dari matanya.

 

“dengar oppa, aku hanya kekasihmu bukan ibumu yang selalu bisa mengerti bagaimana suasana hatimu. Aku juga punya kehidupan sendiri, bukan hanya mengurusimu karena aku bukan istrimu” akhirnya kata-kata yang selama ini ia pendam keluar dari bibir manisnya.

 

“jadi kesimpulannya disini kita sama-sama lelah” ujar Hyukjae yang mulai mengerti arah pembicaraan Hyo In.

 

“ya, dan aku ingin kita istirahat lalu memikirkan apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Apakah kita akan tetap berjalan bersama menanggung semua kesulitan dan kesenangan bersama atau kita mengambil jalan masing-masing”

 

Hyo In beranjak mengambil tasnya kemudian melenggang melewati tubuh Hyukjae yang masih terpaku mendengar keputusan Hyo In.

 

***

 

Hari-hari yang begitu menyulitkan bagi mereka kini mulai mereka jalani, berjalan sendiri tanpa adanya sapaan, pelukan dan kecupan hangat dari satu sama lain. Hyo In tenggelam dalam dunia editingnya, melupakan sejenak perasaanya dengan menyelesaikan tulisannya mengenai  berbagai hal, rasa dan perasaannya terhadap Hyukjae sementara Hyukjae lebih memilih tenggelam dalam dunia hiburannya.

 

Sesaat Hyukjae memandang wallpaper ponselnya yang menampakkan fotonya bersama Hyo In, terlihat begitu bahagia dan ia tersadar bahwa kehadiran Hyo In bukan hanya sekedar temannya melepas penat dan lelah namun juga tempat berbagi kebahagiaannya. Satu hal lagi yang ia sadari kini, ia juga harus belajar mendengarkan bukan hanya didengar.

 

dan

 

Rindu itu kembali menyeruak keluar menusuk setip inci ulu hatinya, Hyo In terus memandang foto saat Hyukjae tertidur. Ia merindukannya, tanpa tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tak mau jika Hyukjae hanya ingin membagi bahagia dan sedihnya padanya tanpa mau menerima keluhannya.

 

***

 

Hyukjae baru saja pulang dari dorm setelah selesai menggelar pesta makan bersama rekan-rekan dan para staff karena kesuksesan konsernya. Ia berhenti tepat didepan pintu saat melihat lembaran undangan dibawah pintunya.

 

Ia menghela napas tanpa berniat membukanya kemudian meletakkannya dinakas kamarnya. Ia menghela napas seraya merebahkan tubuhnya diranjang. Menerawang jauh pandangannya dan yang terlihat hanya bayangan Hyo In hingga perlahan kesadarannya mulai menurun dan mengantarkannya pada dunia mimpi.

 

Hyukjae terbangun dari tidurnya saat mendengar bunyi bel apartmentnya, dengan langkah gontai dan pandangan yang masih sedikit mengabur karena ia masih mengantuk, ia membuka pintunya dan menampakkan seorang porter dari apartmentnya membawa sebuah bungkusan untuknya.

 

Setelah menutup pintunya ia bergegas duduk disofa ruang tamu dan membukanya. Buku? dahinya mengernyit heran. Ia membuka pembungkus plastiknya dan membaca note yang berada didalamnya.

 

‘Everything is for you

And for you is the everything

My love, my kiss, my heart

In all of my life there is nothing better than you’

@Hy_Song

 

 

Senyumnya mengembang bersamaan denga cairan bening dari matanya, ia membuka lembar demi lembar buku tersebut. Penuh dengan namanya, penuh dengan luapan perasaan Hyo In selama 2 tahun hidup bersamanya. Pahit, manis, asam, dan semua rasa kehidupannya bersama Hyukjae.

 

Hyukjae teringat dengan undangan yang ia terima kemarin, dengan langkah cepat ia menuju kamarnya dan membaca undangan tersebut. Acaranya dimulai tepat pukul 9 dan sekarang sudah jam setengah 9. Hyukjae bergegas kekamar mandi dan berangkat menuju tempat acara.

 

Ia sampai di sebuah ballroom hotel yang menampakkan banyaknya tamu undangan dari kalangan wartawan, penulis naskah dan beberapa lainnya yang tak ia ketahui.

 

Senyumnya mengembang saat ia melihat Hyo In duduk disebelah seorang namja tengah mempresentasikan isi dari buku karyanya. Hyo In terlihat lebih kurus namun tetap cantik dimatanya. Dadanya bergemuruh hebat, ia benar-benar bahagia dapat melihat senyum yeoja itu meski ia tahu senyum itu bukanlah untuknya.

 

Tanpa berpikir panjang ia diam-diam menghampiri director acara dan memintanya mematikan semua mic disana termasuk mic yang digunakan Hyo In untuk presentasi kecuali mic yang tengah ia pegang sekarang.

 

“maaf mengganggu sebentar” suaranya sontak membuat seluruh tamu undangan terarah hanya padanya termasuk Hyo In. Suasana disana mulai riuh karena mereka tahu jika namja tersebut adalah Eunhyuk Super Junior.

 

Hyo In hanya bisa menutup mulutnya tak percaya bahwa Hyukjae tengan berada dihadapannya, dengan senyum yang begitu ia rindukan selama beberapa minggu ini. Ia menunggu apa yang ingin dikatakan oleh Hyukjae.

 

“Hyo-ya! Ah~ ani, Chagi-ya! Ah~ ani ani” Hyukjae bingung memanggil Hyo In karena bisa saja banyak Hyo In yang lain disini.

 

“aa~ Nona editor” akhirnya panggilan resmi itulah yang muncul dari mulutnya.

 

“MWO?” Hyo In memekik kesal mendengar panggilan baru dari Hyukjae setelah sekian lama mereka tak bertemu. Benar-benar tidak romantis, pikirnya.

 

“Hyo-ya! saranghae” hening, semua mata hanya tertuju pada Hyo In dan Hyukjae.

 

“mianhae” suara Hyukaje melemah, ia menunduk pasrah menunggu respon dari Hyo In. Sesaat kemudian ia merasakan tubuhnya menghangat dengan semakin eratnya sebuah pelukan ditubuhnya.

 

Ia tahu siapa yang memeluknya, pelukan ini terasa begitu familiar ditubuhnya. Ia membalas pelukan tersebut tak kalah erat. Mereka meluapkan semuanya disini, tangis sekaligus tawa bahagianya menjadi satu disini. sama-sam terisak dan tertawa disela isakan mereka. Hyukjae mengelus rambut Hyo In yang masih berada didekapannya.

 

“neo gateun saram deo eobseo, sarangiraseo” Hyukjae mengecupi seluruh wajah Hyo In tanpa mempedulikan tatapan geli dan riuh suara tepukan tangan para tamu undangan.

 

“aku juga mencintaimu, jangan pernah pergi dariku oppa” Hyukjae mengangguk. Hyo In kembali menenggelamkan wajahnya didada Hyukjae.

 

 

Nothing better than your smile
Nothing better than your happiness
Our love, our story
Nothing better than it..

 

 

 

FIN

 

Meski telat saya tetep mau ngpost nih ff, biar kata jelek kagak nape-nape. Yang penting ini semua ungkapan hati saya buat uri myeolchi. SARANGHAEYO… my favorite cast, my monkey, my dancing machine. wkwkwkwkw

dikomen yoo ^^

One thought on “[Oneshot] Nothing Better (special Eunhyuk’s Birthday)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s