[Twoshot] If…Someday (1/2)

Title                 : If…Someday

Author             : Valuable94

Genre              : Romance, sad, frienship

Rating                         : PG-17

Lenght             : Twoshot

Cast                 : Ahn Yeosin               (OC)

Choi Siwon               (SJ)

Kim Ryeowook         (SJ)

Disclaimer       : FF ini adaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama (author lupa sapa penulisnya) tapi character dan ceritanya juga gak mirip-mirip amat sama yang author buat. Cuma inti ceritanya ya hampir sama. Buat yang udah pernah baca tuh novel pasti tau ceritanya gimana. Mungkin FF nya gak akan sebagus novelnya, author cuma demen ama ceritanya dan pengen bikin versi FF nya dan pasti akan banyak kekurangan disini. Mohon komennya yang membangun dari readers.

Happy Reading!!

Jika suatu saat aku bisa merelakannya
Jika suatu saat tak lagi kau berikan getaran ini padanya
Jika suatu saat tuhan memberikan cintaku ini kepada namja lain
Jika suatu saat seseorang datang padaku
dengan  ataupun tanpa cinta
Ijinkan aku membuatnya bahagia
Dengan caraku, dengan segala kekuranganku,

Hari ini suasana begitu cerah. Orang-orang pun ramai mengunjungi taman meskipun hanya sekedar membaca, berbincang, atau bermain dengan keluarga mereka. Tak ayal dengan seorang gadis yang tengah duduk berhadapan dengan laptop didepannya. Tanpa merasa terganggu sedikitpun dengan keadaan sekitar, gadis itu melanjutkan acara mengetiknya di bangku taman kota ini. Ia tampak sangat serius hingga tak menyadari kedatangan seorang namja yang tengah berjalan mengendap di belakangnya hingga sesaat kemudian membuat gadis itu terlonjak kaget merasakan sentakan lembut di bahunya yang membuatnya harus melemparkan deathglare pada namja itu.

Namja itu tersenyum mengejek melihat sahabat dari kecilnya itu terlihat kesal karena ulahnya. Entah kenapa namja itu begitu menyukai ekspresi kesal gadis yang kini berada disampingnya itu.

Gadis itu tersenyum dalam hati, ia tak pernah benar-benar marah terhadap sahabatnya tersebut. ia selalu menyukainya meskipun saat namja itu menjahilinya. Hah~ cerita yang sangat klasik bukan, seorang namja dan yeoja yang bersahabat dari kecil tak mungkin jika tak di bumbui dengan perasaan cinta. Oh, mungkin cinta disini akan terasa sakit saat diceritakan karena pasti salah satu dari mereka akan memendam mati-matian perasaan itu. Alasan yang klasik pula karena mereka tak ingin persahabatan hancur. ya tuhan! Apakah mereka sedang dipermainkan takdir?

Gadis itu mempoutkan bibir plumnya berpura-pura kesal. Namun itu tak berlangsung lama karena namja itu sudah menggelitikinya dan tawa membahana dari keduanyapun terdengar begitu lepas. Persahabatan yang sempurna, namun ada hati yang tak bahagia disini.

“nona Ahn Yeosin, maukah kau menemaniku membeli kado hari ini?” tanya namja tersebut dengan nada memohon yang dibuat-buat.

“untuk siapa Siwon-ssi?”

gadis itu menjawab malas tanpa mengalihkan perhatiannya pada benda kotak hitam di depannya.

“kau tahu Park Hyori yeohaksaeng baru di kelasmu itu. Aku dengar dia ulang tahun besok, aku ingin membelinya kado?”

sudah ia duga dan memang akan selalu seperti ini. Ia tidak menyangkal pesona yeoja teman sekelasnya itu. Dia cantik, kaya, dan selalu ramah pada teman-temannya. Akan sangat cocok dengan namja disampingnya ini karena ia memang benar-benar tampan dan siapa yang tidak tahu kalau namja ini sangat amat dan teramat kaya. Mungkin bisa dikatakan seperti Asthon Kutcher korea, hehehehe

“wae? Johaseumnika?” namja ini jarang sekali mengatakan ia menyukai seorang gadis.

“aku tidak tahu aku menyukainya atau tidak, sekitar semingguan kemarin aku mulai sering berbincang dengannya, dia gadis yang baik dan ramah satu lagi setelah kuperhatikan dua bulan ini kurasa dia yeoja yang baik. Kau tahu aku kemarin melihatnya sedang menolong seorang nenek-nenek buta yang hampir terperosok lubang dijalan”

Namja itu terdengar lancar memuji yeohaksaeng baru disekolah mereka. Kau memperhatikannya sampai seperti itu padahal kau baru mengenalnya dua bulan ini, tapi apa kau juga memeperhatikanku selama 11 tahun ini. Batin Yeosin.

“ya! Aku juga bisa melakukan hal yang sama dengan dengan Park Hyori jika kondisinya seperti itu” protesnya

“hei, kau cemburu pada Hyori?” goda Siwon

Skak matt, yeoja itu kalah telak. Sebenarnya ia ingin berteriak didepan wajah tampan Siwon itu kalau ia memang cemburu setengah hidup dan mengatakan kalau dia sangat mencintainya sejak lama tapi itu hanya bayangannya saja. Reaksi gadis itu sangat berbanding terbalik dengan bayangannya.

Ia bergegas mematikan laptopnya, mengemasi barang-barangnya dan pergi secepatnya meninggalkan  bangku yang mereka duduki.

“ya! Ahn Yeosin eodigayo?” teriak Siwon geram

“pulang” jawabnya datar.

“ya! Kujemput kau jam 7 malam nanti”

“terserah kau saja” gadis itu melambaikan tangannya tanpa menoleh kebelakang.

Disinilah mereka saat ini, berkeliling di salah satu pusat perbelanjaan milik orang tua Siwon. Sudah hampir satu setengah jam berkeliling namun mereka tak kunjung mendapatkan apa yang mereka cari, lebih tepatnya apa yang namja itu cari karena dari tadi Yeosin hanya mengekor malas dibelakang Siwon yang terlalu bersemangat memilih kado.

“Baju?” Yeosin menggeleng

“dia anak orang kaya, bajunya pasti sudah lebih dari 3 lemari besar”

Mereka berpindah lagi ke tempat aksesoris, tentunya buka aksesoris sembarangan karena di pusat perbelanjaan ini hanya ada barang-barang bermerk terkenal yang pastinya juga akan membuat kantong cepat menipis.

Siwon memilih sebuah gantungan kunciberbentuk hati tang sekelilingnya dihiasi dengan permata swarovski merah maroon. Terlihat sederhana namun elegan.

“eotte?”

Yeosin mengambil benda mahal itu kemudian menggantungnya didepan wajahnya, memperhatikannya lekat seakan ia tak pernah melihat barang semahal itu. Ia mengembalikan lagi benda itu di atas etalase kaca tanpa ekspresi.

“bungkus yang ini dengan kertas kado yang berwarna merah maroon juga”

Garis bibir Siwon tertarik karena akhirnya ia menemukan benda yang berharga untuk diberikan pada Park Hyori, gadis yang ia sukai. Selesai membayar, mereka beranjak kesalah satu tempat makan ditempat tersebut.

“pelayan, aku pesan 2 porsi deobokki yang satu pedas tapi jangan diberi lada, harus pakai cabai. Dan satunya lagi deobokki yang biasa saja. Emm…minumnya 2 gelas jus apel tidak usah diberi susu semua dan dessertnya puding cokelat tanpa susu. Tolong di garnis dengan nanas dan strawberry”

Pelayang itu menunduk setelah mencatat pesanan Siwon. Lihatlah, ia begitu hafal dengan apa yang Yeosin suka dan tak ia sukai. Hatinya bergemuruh, setidaknya setelah menjatuhkannya kedasar bumi yang paling dalam kali ini Siwon mengangkatnya kembali ke langit biru yang indah.

“kau mau membuatku bertambah gendut dengan semua makanan berlemak yang kau pesan itu”

“aku sudah memesan yang low fat, tenang saja. Lagipula segendut apapun dirimu aku tetap menyukaimu” blush, rona merah itu menyergap pipi Yeosin membuat Siwon terkikik menahan tawa. Sedangkan Yeosin hanya mendengus sebal seraya memukulkan tasnya pada bahu Siwon.

Seoul Internasional High School
9 p.m KST

Yeosin dan Siwon tengah berada di kantin sekolah mereka untuk makan siang sekarang. Mereka duduk disatu meja, tanpa perbincangan seperti biasa. Yeosin nampak tak bersemangat menyantap makan siangnya. Padahal tadi pagi dia baik-baik saja.

Bisa ditebak murungnya gadis itu karena apa, tidak lain karena namja didepannya ini baru saja meminta tolong padanya untuk memberikan kado pada Park Hyori. Ia menolak tentu saja, tapi bagaimanapun akhirnya ia tak akan pernah bisa menolak permintaan pangeran manja yang terlalu ia cintai itu. Dan kali ini logika kembali dikalahkan oleh hati.

Ia beranjak meninggalkan Siwon karena bel sekolah sudah berbunyi meninggalkan sisa makanan yang cukup banyak dari bekal yang ia buat sendiri dan itu membuat Siwon merasakan keanehan Yeosin.

Pulang sekolah sudah ada Siwon yang menunggunya di depan kelas. Mereka memang tidak satu kelas lagi karena Yeosinlah yang meminta pada pihak sekolahan dengan alasan dia sudah bosan melihat Siwon karena sejak taman kanak-kanak sampai sekolah menengah tingkat 2 dia selalu satu kelas dengan pangeran tampan itu.

Siwon menggandeng tangannya menyusuri koridor sekolah menuju parkiran sekolah. Senyum mengembang dibibirnya meskipun ada seonggok luka yang tertimbun dihatinya dan sekali lagi ia akan berusaha menutupinya mati-matian.

“tadi  Park Hyori menitip pesan padaku”

“jinjja” pekikan Siwon terdengar seperti tombak yang mengoyak hatinya.

“dia ingin bertemu denganmu pulang sekolah besok di cafe depan sekolah”

Yeosin berusaha mengatakannya dengan nada datar meskipun ia menangis saat ini. Tidak, dia tidak boleh menangis. Ini semua salahnya, seharusnya ia tak pernah memiliki perasaan bodoh seperti itu.

Siwon menghentikan langkah Yeosin kemudian ia berlari menuju parkiran yang sedikit jauh dan bergegas mengambil sepeda Yeosin, mengayuhnya menghampiri Yeosin yang masih diam di ujung koridor sekolah.

“jja~ jibe kalkke. Aku sedang senang hari ini, jadi kuantar kau pulang” ucap Siwon semangat seraya membenarkan duduknya pada sepeda.

Yeosin menghampirinya dengan menghentakkan kakinya, mendekati Siwon dengan kesal.

“itu sepedaku, harusnya judulnya itu kau menumpangku pulang”

“aku yang menyetir jadi judulnya tetap aku yang mengantarkanmu pulang” kukuhnya

Yeosin kesal, tapi akhirnya dia tetap menurut. Mereka pulang berboncengan, tak lupa candaan keluar dari bibir mereka hingga tawa membahanapun tak luput dari mereka. Sekali lagi, benar-benar terlihat sempurna.

***

“kau ada acara nanti sore?” tanya Yeosin seraya melahap makan siangnya. Di depannya sudah ada Siwon yang terus tersenyum seraya mengaduk-aduk milk shake-nya tanpa meminumnya.

“ya! Jawab pertanyaanku! Baru diajak bertemu saja kau sudah sesenang ini”

Yeosin merebut milk shake Siwon kemudian meminumnya.

“ya! Itu minumanku, pesan sendiri saja sana!”

“dari tadi kau hanya mengaduknya, sayang kan kalau tidak di minum” jawabnya santai.

“sampai jam berapa kau akan berkencan dengan putrimu itu?”

“molla, tapi sepertinya tidak sampai sore. Aku masih harus menyelesaikan PR-ku”

“kalau begitu aku tunggu kau ditempat biasa, jangan lupa ya” Yeosin pergi mendahului Siwon yang masih terdiam dibangkunya.

Siwon mengernyit heran, tempat biasa? Taman? Mungkin saja dia ingin curhat denganku sore ini. Ya, mungkin saja. Bukannya biasanya seperti itu. Pikirnya.

@ Funeral
5 p.m

Hampir 2 jam Yeosin menunggu Siwon di depan makam eommanya. Hari ini adalah tepat 6 tahun meninggalnya eomma Yeosin dan biasanya Siwon akan menemaninya ke pemakaman karena appa-nya sedang bekerja di luar kota sekarang dan jarang sekali pulang.

Apa Siwon melupakan hari ini? Pikirnya. Tapi itu tidak mungkin, bukankah dulu Siwon sendiri yang berjanji akan selalu menemaninya setiap ia akan kemari. Setetes cairan tak berwarna itu mengalir dari pelupuk mata hitamnya.

Ia merindukan eomma-nya, sekaligus menangisi kebodohannya. Bukankah hari ini Siwon sedang berkencan dengan Park Hyori. Bagaimana mungkin ia menunggunya sampai 2 jam. Menunggu orang berkencan pulang. Cih…menyedihkan sekali.

“eomma, jaljinaseo? Aku merindukanmu. Appa menitip salam untukmu, appa tidak bisa pulang hari ini karena pekerjaannya. Kau tidak marahkan? Uri eomma…saranghanda” Yeosin membungkuk meletakkan bunga krisan kesukaan eomma-nya dan memberi hormat kemudian melangkah jauh meninggalkan tempat istirahat eomma-nya.

@School

Sudah 2 hari ini Siwon tak menghubunginya, bertemu disekolahpun tidak. Entah hilang kemana pangeran tampan itu. Yeosin pun bingung setengah mati menghubungi nomor Siwon namun selalu dijawab oleh operator. Ia juga bertanya pada teman-teman sekelas Siwon namun mereka tak ada yang tahu.

Saat ia tengah berjalan di koridor sekolah seraya mencoba menghubungi telepon Siwon tiba-tiba ia merasa ada yang menyenggol tangannya hingga ponselnya jatuh dan jatuh berantakan dengan baterai yang sudah terlepas dari ponselnya.

“aarghh~ponselku”

Yeosin menunduk membereskan ponselnya yang berantakan.

“jeoseonghamnida agashi, aku tidak sengaja” namja yang ternyata tersangka rusaknya ponsel Yeosin itu ikut menunduk membereskan ponsel Yeosin yang berantakan.

Namja itu nampak tetegun menatap wajah sendu Yeosin yang bahkan kini tengan mempoutkan bibir plum-nya karena kesal. Cantik, batin namja itu. Ia tersadar setelah tepukan tangan Yeosin mendarat di bahunya.

“gwaenchana? Apa kau demam? Kenapa diam saja? Ya! Kau harus tanggung jawab tuan. Ini ponselku satu-satunya” gadis ini, bahkan ia tak membentaknya sama sekali saat meminta pertanggung jawabannya karena merusakkan ponselnya.

“oh..geuraeyo. aku pasti menggantinya”

Namja itu dengan cepat merebut ponsel Yeosin yang berantakan kemudian menyerahkan ponselnya sendiri, Yeosin hanya diam heran melihat tingkah aneh namja di depannya itu.

“ige, kau bawa ponselku sebagai ganti selama ponselmu kuperbaiki. Eemm..namaku Kin Ryeowook, aku siswa pertukaran pelajar dari Beijing. Manaseo bangaweo” Ryeowook membungkuk kemudian berlari meninggalkan Yeosin yang terus memandang kepergian Ryeowook.

Ia terus memandangi ponsel Ryeowook, membolak baliknya. Sepertinya ada yang aneh, ada yang ia lupakan.

“aigoo~ nomer ku. Eotteokaji” pekiknya saat ia beranjak ingin mengejar Ryeowook ternyata namja itu sudah menghilang.

***

Siwon menghampiri Yeosin yang tengah membaca komil di kelas, ia tampak kesal setelah beberapa hari tidak bertemu dengan Yeosin dan seharian kemarin ia tidak bisa menghubungi gadis itu.

“kemana saja kau seharian kemarin tidak bisa dihubungi?”

Siwon duduk didepan Yeosin hingga membuat meja didepan mereka sedikit bergeser membuat Yeosin mengalihkan pandangannya beralih menatap Siwon. Bukankah harusnya ia yang marah karena tidak menepati janjinya. Batin Yeosin.

“harusnya aku yang bertanya seperti itu, kenapa jadi kau yang marah padaku? Harusnya kau yang seperti itu, jangan selalu berpikir bahwa kau yang paling benar Choi Siwon. Aku kecewa padamu”

Siwon diam, jujur ia tak menyadari bahwa sikap pura-pura marahnya tadi malah membuat Yeosin meledak. Ia sadar, saat ini ia berada pada pihak yang salah jika Yeosin sampai meledak seperti ini. Sayangnya ia selalu menyadarinya saat Yeosin sudah marah.

“Yeo…Yeosin-ah maafkan aku”

Siwon mengejar Yeosin yang pergi keluar kelas tanpa mempedulikan siswa lain yang tengah memperhatikan mereka. Bahkan Yeosin tak menyadari kalau ia baru saja melewati seorang namja yang dari tadi memperhatikan pertengkarannya dengan Siwon.

Siwon kini duduk disamping Yeosin yang tengah sibuk mengusap airmatanya. Siwon mengusap kepala Yeosin berharap gadis itu mau memaafkannya.

“maafkan aku, aku tidak benar-benar bermaksud memarahimu tadi. Aku tahu aku salah karena 2 hari kemarin aku mematikan ponselku. Itu karena aku marah padamu”

Yeosin mengusap sisa-sisa airmata di pipinya. Ia menatap tajam Siwon, kenapa jadi aku lagi yang salah? Pikirnya.

“mworago? Aku lagi yang salah? Memangnya kenapa lagi denganku?” nadanya meninggi.

“jadi kau tidak menyadarinya? 2 jam aku menunggumu ditaman tapi sampai sore kau tidak datang. Kau bilang kau akan menungguku disana” ucapnya santai seraya melipat tangannya didepan dada.

Aigoo~ jadi dia salah paham tentang ‘tempat biasa’ yang ia katakan kemarin lusa.

PLAK

Yeosin tertawa miris setelah menjitak kepala Siwon. Dasar pabo!

“sebenarnya yang tidak ingat disini siapa, ha? Kau lupa dengan janjimu 6 tahun yang lalu. Kau bilang kau akan selalu menemaniku ke makam eomma”

Kali ini Siwon kembali tak berkutik. Ya, ia akui ia sempat melupakan hari dimana tepatnya 6 tahun yang lalu sahabat yang ia sayangi itu kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupnya. Ia menunduk kemudian memeluk Yeosin, menyenderkan kepala yeoja itu ke dada bidangnya.

“mianhae…aku tidak akan mengulanginya lagi”

“aku ada berita baik untukmu” Yeosin hanya menjawab dengan dehaman.

“aku dan Park Hyori, kami sudah resmi pacaran”

Yeosin hanya mengangguk dalam dekapan Siwon. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Siwon, merasakan detak jantung Siwon yang berdegup begitu kencang saat mengatakannya. Kali ini ia benar-benar sakit. Lebih sakit dari biasanya. Namun tak lagi ada airmata.

Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedari tadi melihat romansa mereka. Namja itu tersenyum sejenak kemudian melangkah menjauh dari tempatnya menyaksikan adegan mengharukan itu.

Ryeowook sampai didepan kelasnya. Ia menghela napas lesunya kemudian meletakkan dagunya diatas mejanya seraya membolak balik posel ditangannya.

“ya! Kau kenapa Ryeowook-ssi?”

Ia hanya tersenyum lemah menanggapi pertanyaan teman sekelasnya itu. Perlahan ia mulai mengangkat wajahnya kemudian menatap teman sebangkunya itu.

“ya! Kau tahu yeoja bernama Yeo..Yeo..aigoo~ siapa nama gadis itu aku lupa. Pokoknya dia terlihat begitu dekat dengan Cho..Cho..aa~ kalau tidak salah namja itu bernama Choi Siwon” tanya Ryeowook.

“maksudmu Ahn Yeosin? Yeohaksaeng kelas 3-I itu?”

Ryeowook mengangguk semangat merasa nama yang disebut temannya itu tepat.

“wae? Kau menyukainya?” Ryeowook dengan cepat menggeleng namun terlihat wajahnya berubah memerah.

“kalau suka bilang saja. Kau tidak perlu takut mendekatinya, mereka itu hanya bersahabat dari kecil. Tidak ada yang special, semua haksaeng disini sudah tahu kalau mereka itu tetengga dan bersahabat dari kecil. Mereka sudah seperti saudara” Ryeowook hanya mengangguk mendengarkan penuturan temannya.

“satu lagi, kalau kau ingin mendekati Yeosin minta ijin dulu pada Siwon”

“wae? Katamu mereka hanya bersahabat”

“mereka itu sudah seperti saudara, Siwon tidak akan sembarangan membiarkan namja mendekati Yeosin. Ia harus yakin bahwa namja yang mendekati Yeosin itu memang namja yang baik karena dulu Yeosin hampir pernah dilecehkan oleh salah satu sunbae disekolah ini” Ryeowook diam, benarkah hanya sebatas sahabat jika namja itu melindungi Yeosin sampai seperti itu.

“fighting Wookie-ya!! Kau pasti bisa, sebenarnya tidak begitu sulit meminta ijin Siwon, tapi Yeosin-lah yang sering menolak namja-namja yang mendekatinya”

Ryeowook hanya tersenyum mendengarnya, ia merasa ada terlalu banyak hal yang mereka sembunyikan. Namun ia terlanjur menyukai Yeosin dan ia tetap bertekad akan mendapatkan Yeosin sekalipun pada kenyataannya mereka saling mencintai.

***

Ryeowook datang ke kelas Yeosin bermaksud mengembalikan ponsel yeoja itu. Saat tiba diambang pintu kelas, ia melihat Yeosin dan Siwon tengah bercanda dan sesekali saling memukul kepala.

Ryeowook berjalan santai mendekati mereka, kemudian duduk disampine mereka berdua hingga mereka sejenak menghentikan tawanya.

“oh! Ryeowook-ssi kau membuatku kaget. Apa ponselku sudah diperbaiki?” tanya Yeosin antusias. Siwon hanya diam seraya memperhatikan Ryeowook seksama.

Sesekali ia juga melihat kearah Yeosin yang terlihat seperti sudah mengenal namja di depannya ini. Apa dia sudah melewatkan sesuatu yang penting kemarin? Yah, setiap ada namja yang terlihat dengan Yeosin itu memang menjadi hal yang penting untukknya.

“ige, aku belikan lagi. Mianhae, ponselmu sudah tidak bisa diperbaiki, rusaknya terlalu parah. Jadi kubelikan saja”

“geureom…gomawo sudah menggantinya. Aa~ kenalkan sahabatku, Choi Siwon. Siwon-ah, dia Kim Ryeowook. Aku sudah cerita kan kalau tentang ponselku yang rusak” Siwon hanya tersenyum kemudian mereka saling mengulurkan tangan, berkenalan.

“sahabat? Kalian lebih pantas sebagai sepasang kekasih, sangat serasi”

Blush…rona merah mewarnai kedua pipi Yeosin dan Siwon.

“ya! Jaga bicaramu Ryeowook-ssi, aku bisa dimakan mentah-mentah oleh kekasihnya” canda Yeosin. Entah mengapa kata-kata Yeosin membuat dada Siwon seperti tertohok samurai.

“jeongmal? Jadi Siwon-ssi sudah punya kekasih? Aa~ chukae” siwon hanya tersenyum canggung.

“bolehkah aku masuk kedalam bagian persahabatan kalian? Selama ini aku kurang bisa bersosialisasi tapi setelah melihat kedekatan kalian aku merasa berteman itu menyenangkan. Kalian terlihat begitu akrab dan aku juga ingin merasakan keakraban kalian. Apa kalian mau menerimaku menjadi teman dan menjadi bagian dari kalian?

Sejenak suasana menjadi hening, Yeosin hanya menunduk diam, begitupun dengan Siwon. Namun tak lama kemudian Siwon beranjak duduk disamping Ryeowook dan menepuk pundaknya pelan.

“tentu saja Ryeowook-ssi. Mulai sekarang kau adalah teman kami, kau adalah bagian dari kami, iyakan Yeo?”

Yeosin mengangkat wajahnya, terlihat sudut bibirnya tertarik seraya mengangguk mengiyakan pernyataan Siwon.

***

Sudah hampir satu bulan ini mereka menjalin persahabatan, makan siang bersama, pulang sekolah bersama meskipun tak sering karena Siwon sudah mempunyai kekasih sehingga ia terkadang harus pulang bersama Park Hyori, meninggalkan Yeosin dan Ryeowook berdua.

Jika mereka sedang berdua tampan Siwon, Ryeowook sering mengajaknya ke toko buku untuk membeli buku yang sama-sama mereka sukai atau sekedar menonton film di bioskop.

Satu bulan ini pula Ryeowook semakin mengenal pribadi Yeosin. Gadis yang menyenangkan, suka bercerita bahkan yang menurut orang lain tidak pentingpun akan ia ceritakan padanya dan Siwon.

Hari ini mereka bertiga berjanji akan berkumpul di rumah Yeosin. Appa Yeosin baru saja berangkat keluar negeri karena urusan pekerjaan hingga ia hanya tinggal bersama pengasuhnya dirumah.

@Yeosin’s House

“hey, apa yang akan kita kerjaan hari ini. Aku bosan jika hanya membaca komik dan menonton film”

Ryeowook memperhatikan sekeliling rumah Yeosin, memang inilah pertama kalinya ia berkunjung ke rumah Yeosin karena biasanya mereka berkumpul dirumah Siwon, matanya menyipit melihat sebuah permainan Winning Eleven di pojok ruangan dan satu idepun muncul diotaknya.

“kita main Winning Eleven saja, eotte?”

Siwon dan Yeosin saling menatap kemudian Siwon tersenyum dan mengangguk namun tidak dengan Yeosin.

“lalu bagaimana denganku? Permainan itukan hanya untuk 2 orang” protesnya.

“kau buatkan kami minum saja ya, kalau perlu buatkan kami makanan juga” Siwon menggeret Ryeowook menjauhi Yeosin yang mencoba melempar bantal sofa padanya.

Sudah 2 jam lebih mereka bermain Winning Eleven, dan selama itu pula teriakan Siwon dan Ryeowook tak luput memenuhi rumah Yeosin. Membuat rumah ini terasa begitu hangat karena keseruan mereka.

Tubuh mereka sudah dipenuhi keringat sekarang. Merasa lelah setelah lama bermain dengan hasil seri, mereka kembali duduk disofa kemudian Yeosin datang membawakan mereka minuman.

“aahhh…segar sekali” seru Siwon dan Ryeowook bersamaan hingga membuat mereka tertawa dengan kebetulan itu.

“Siwon-ah, kurasa kau lebih cocok dengan Wookie daripada Park Hyori” celetuk Yeosin.

“ya! Aku masih normal” bantah Siwon sementara Ryeowook sibuk menghabiskan kue yang ada di meja.

“akan kusiapkan makanan untuk kalian, chakaman gidaryeo!” Yeosin bergegas menuju dapur memasak untuk kedua sahabatnya itu. Sementara Siwon dan Ryeowook terlihat asyik mengobrol mengenai permainan mereka tadi.

“Siwon-ah, ada hal penting yang ingin kukatakan padamu”

Siwon meletakkan gelas kosong yang ada di tangannya diatas meja kemudian mulai memperhatikan raut serius Ryeowook.

“malhaebwa!”

Ryeowook terdiam sejenak, kemudian ia mengangkat wajahnya. Ryeowook menatap mata Siwon datar, tanpa ekspresi sementara Siwon tampak semakin heran.

“bolehkah aku memiliki Yeosin?”

Mendadak wajah Siwon berubah pucat, wajah tampannya berubah dingin tanpa ekspresi. Ia hanya diam tanpa menjawab apapun.

Tbc

Author butuh komen dari readers, baiknya gimana, buruknya gimana, biar author bisa tahu salahnya dimana. Gomawo buat yang udah baca, rcl nya ditunggu ^^

4 thoughts on “[Twoshot] If…Someday (1/2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s