Season Diary: Winteru No Monogatari [Winter Story]

Title                        : Winteru No Monogatari

Also Known As      :Winter  Story

Author                   : Valuabe94

Genre                     : Romance

Rate                        : Teen

Length                    : Series, Oneshot

Cast                         : Lee Hyukjae , Song Hyo In (OC/imagine as you)

Support Cast         : Lee haru, Nakatsu

Disclaimer             : waatttaaaa……..author bawa bang unyuk nih buat takjil *kekekeke. Ini sebenarnya k-fanfiction, tapi karena settingnya di jepang jadi agak kebawa J-fanfictionnya walopun gak keliatan hahahaha. Lee hyukjae itu punya TUHAN, ORTUNYA, ELF sama JEWELS.  Hyo in, Haru sama Nakatsu itu punya AUTHOR. As always, I’m miss typo. Ni cerita murni dari otak author jadi jangan asal copas tanpa permit dari author.

Hikari Gakuen

2nd week of December

@Kyudo’s Club

Author POV

“ohayou minna-san….watashi wa Song Hyo In desu, yoroshiku ne” segerombolan pasang mata menatap Hyo In dengan tatapan penuh selidik tanpa seorangpun yang membuka suara, entah apa yang mereka pikirkan, mereka menatap Hyo In mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki seolah mereka tak pernah melihat seorang gadis. Melihat respon dari para senpainya tersebut, Hyo In tetap memasang wajah santainya seraya mengedarkan pandangan keseluruh ruangan club panahan ini.

“apa benar kau siswi pindahan dari korea itu?” salah seorang siswa mulai berani membuka suara.

“ hai” jawab Hyo In santai seraya mengangguk.

“kudengar kau menjadi atlet panahan terbaik di SMAmu dulu, benarkah?” celetuk salah seorang siswi berwajah  agak tirus.

“eo, mereka bilang begitu? Mungkin iya, tapi aku tidak merasa sehebat itu” sahut Hyo In tetap santai.

“cukup” kini seorang namja berperawakan tinggi tegap,  kulit putih dan wajah yang tampan mulai beranjak dari lantai tempatnya duduk seraya melipat kedua tangannya didepan dada dan memasang wajah serius kemudian mendekati Hyo In yang terlihat tetap biasa saja, mempersingkat jarak diantara mereka hingga wajah mereka hanya 10 cm.

“kalau begitu tunjukkan pada kami kalau kau memang yang terbaik dan layak masuk club Kyudo SMA Hikari. Kami tunggu ditempat latihan” namja tersebut melengos melewati Hyo In kemudian diikuti oleh semua anggota club. Hyo In pun mengikuti langkah senpainya menuju lapangan tempat mereka berlatih Kyudo.

Sampai ditempat latihan, terlihat beberapa bidak berbentuk lingkaran dalam berbagai jarak mulai dari yang paling dekat hingga jarak yang paling jauh. Ia menatap para senpainya sesaat kemudian seolah mengerti maksud mereka Hyo In mulai menurunkan tas yang berisi perlengkapan panahannya. Ia merapikan sedikit seragam Kyudonya kemudian mengambil busur dan satu anak panah sementara satu anak panah lagi ia taruh dibelakang punggungnya. Ia melangkah memposisikan diri di tempat penembakan sambil terus melihat target, genggaman jemarinya pada busur panah terlihat begitu kokoh, napasnya mengalun tenang, gerakannya terlihat pelan dan anggun. Ia mulai menarik busur panahnya, sattt…..jleb. tepat, panahannya tepat mengenai sasaran pada jarak yang paling jauh. Para anggota club yang melihatpun terlihat begitu kagum namun tetap bungkam.  Hyo In yang kini membalik posisi menatap semua senpainya  seolah bertanya –bagaimana?-. namja tampan yang menantang Hyo In tadi tersenyum sinis kemudian mulai mendekati Hyo In dengan wajahnya yang masih datar.

“kau tahu nona? Kyudo bukan hanya sekedar olahraga, tapi bagi kami masyarakat Jepang Kyudo juga merupakan sebuah seni beladiri yang sudah ada semenjak leluhur kami beribu-ribu tahun yang lalu, termasuk dalam kelas militer bersama Kendo dan Judo, Kyudo berpusat pada kemurnian, semangat, dan konsentrasi” Hyo In tetap diam menatap namja yang kini mulai berjalan santati memutari tubuhnya.

“dan kau…melakukannya dengan baik” namja itu menepuk pelan pundak Hyo In dan memberikan senyuman terbaiknya.

“selamaatt daataangg!!” semua anggota club berhambur memeluk Hyo In seraya berjingkrak-jingkrak, mereka tertawa lepas seolah telah menahannya dalam waktu yang lama sementara Hyo In masih terlihat bingung dengan perubahan ekspresi senpainya tersebut.

“hahh….sudah-sudah. Kalian membuat junior kita kehabisan napas” namja tampan tadi memisahkan pelukan mereka yang disusul dengan gerutuan para anggota club.

“aa~ perkenalkan, namaku Nakatsu. Aku ketua club Kyudo sekaligus pelatih disini, senang berkenalan denganmu, mohon kerja samanya. Kami harap kau betah disini” namja yang bernama Nakatsu itu membungkukkan badannya memperkenalkan diri. Sikapnya begitu ramah, berbanding terbalik dengan sikapnya beberapa menit yang lalu.

“hai, doumo….aku senang sekali kalian bisa menerimaku dengan baik. Mohon bimbingannya semua” Hyo In kini mulai menampakkan senyumnya yang sedari tadi ia sembunyikan dibalik wajah datarnya.

“ternyata kau cantik juga kalau tersenyum, kau tidak operasi plastikkan?” celetuk salah seorang siswi yang sedikit lebih pendek dari Hyo In dengan wajah khas anak kecilnya.

“nani (apa)?”

“aa~gomen ne (maaf ya), Haru memang suka seperti itu” seorang siswa tiba-tiba menginjak kaki Haru sedangkan haru terlihat meringis kesakitan.

“em…ii kara (tidak apa-apa)”

“perkenalkan aku Hitori, aku yang mengurusi semua perlengapan club Kyudo kita. Yoroshiku ne” Hyo In mengangguk sedikit tersenyum melihat ekspresi haru yang masih mengelus-elus kakinya.

“sudahlah, sekarang kita lanjutkan latihannya saja” ujar Nakatsu seraya kembali ke tempat latihan dan diikuti oleh semua anggota club termasuh Hyo In.

Selesai latihan Hyo In bergegas menuju ruang ganti untuk mengganti busana Kyudonya dengan seragam sekolah. Saat hendak mengambil tas jinjing bergambar monyetnya. ia mendengar suara langkah kaki seperti mendekatinya, Hyo In hanya diam kemudian dengan cepat ia menoleh kebelakang.

huufftt…Hyo In membuang napasnya kasar.

5 P.M

Hyo In POV

 

Haaah~hari pertama sekolah sudah melelahkan sekali rasanya, pulang sekolah harus langsung latihan Kyudo. Sedikit dikerjai oleh mereka tapi itu bukan hal yang mengerikan, ternyata mereka orang-orang yang menyenangkan. Kumasukkan seragam Kyudo-ku kedalam loker –aku sedang malas mencucinya- kemudian mengambil tas jijingku. chakkaman….suara siapa itu, terdengar seperti mendekatiku tapi siapa? Bukankah semua anggota club sudah pulang? Jangan-jangan hantu? a~ mana mungkin hantu keluar jam 5 sore, kurasa dia hantu yang bodoh kalau sampai dia keluar sekarang. Kuberanikan diri untuk menoleh kebelakang dan ternyata dia adalah….Haru.

Huuuffttt…kubuang napasku kasar sedikit lega karena ternyata yang datang bukanlah orang lain, tapi anak ingusan menyebalkan ini. Dari tadi dia terus mengikuti dan mengganggu konsentrasiku dengan pertanyaannya yang sama. Aku memang tergolong junior disini, tapi dia masih lebih junior dariku. Aku ditingkat 2 sekarang, sementara dia masih tingkat 1.

“nande (kenapa)? Apa kakak takut? kakak pikir aku hantu?” celetuknya tak tahu diri. isshh….dasar bocah.

“mau apa lagi kau bocah, bukankah sudah kukatakan berulang kali kalau wajahku ini asli. Kurang apa lagi ha?” aku  keluar dari ruang ganti meninggalkannya yang masih tetap berdiri tanpa bergeming.

“chotto matte (tunggu sebentar)!” tiba-tiba bocah ini sudah ada didepanku seraya merentangkan kedua tangannya.

“aku mohon ajari aku ne” pintanya memelas.

“aku bukan gurumu, kenapa kau tidak minta diajari Nakatsu Senpai saja? Diakan jauh lebih senior daripada aku.” Tiba-tiba wajahnya memerah saat aku menyebut nama Nakatsu, kenapa bocah ini? Apa dia menyukai Nakatsu Senpai?.

“a..ak..ku..tapi aku hanya ingin diajari oleh kakak. kumohon” ia bersimpuh didepanku.

“pulanglah! Ini sudah sore. Aku tidak mau orang tuamu khawatir” kubantu ia berdiri kemudian bergegas meninggalkannya.

Saat berada dikoridor ruang club Kendo (permainan pedang seperti samurai tapi menggunakan pedang kayu), aku seperti mendengar suara benturan kayu dengan kayu. Apa masih ada yang latihan sesore ini? Kuberanikan diri melongok dibalik pintu ruang olahraga yang tidak tertutup rapat ini. Aku menatap kagum seorang namja yang dengan lihai memainkan pedang kayunya. Memukul, menebas, hingga melilitkan pedangnya dan dengan mudah melucuti pedang lawannya. Siapa dia? Ia membuka pelindung muka dan penutup kepalanya. Menampakkan wajah tampannya yang bersih namun penuh dengan keringat yang membuatnya bertambah tampan –menurutku-.

Deg, kenapa dengan jantungku. Apa aku jatuh pada pandangan pertama? Hah~ lelucon apa ini. Aku terus mengamatinya yang masih berbincang-bincang dengan lawannya tadi seraya mengelap keringat diwajahnya hingga kurasakan tepukan pelan dipundakku.

“pulanglah bocah, tidak baik anak kecil berkeliaran disekolah sendirian”

“dasar junior tidak sopan” cham…sepertinya aku mengenal suara ini. Kutolehkan pelan kepalaku kebelakang dan mendapati Nakatsu Senpai menatapku dengan eerr~ sepertinya dia ingin memakanku sekarang.

“aa~ sumimasen ne senpai, aku kira tadi kau Haru…mou ichido (sekali lagi) sumimasen ne” aku membungkuk cepat didepannya berharap ia tak marah lagi padaku.

“nani yatte n da, omae wa (apa yang kau lakukan disini)?”

“a~ iie chotto (bukan apa-apa)” jawabku cepat sedikit kikuk takut jika aku ketahuan tengah mengintip. Aku berusaha menghalanginya tapi…gagal. ia mulai melakukan hal yang sama denganku tadi,ya… mengintip.

“dasar otak mesum, baru sehari disini kau sudah berani mengintip seniormu” ia menyentil dahiku.

“aku tidak mengintip, ku hanya penasaran saja kenapa sore-sore seperti ini masih ada siswa yang latihan” belaku seraya mengusap dahi.

“sou da (benarkah)?” aku mengangguk cepat.

“aku lihat dari tadi kau selalu memperhatikan hyukjae, apa kau menyukainya? Atau kau berniat pindah ke club Kendo” jadi nama namja itu Hyukjae.

“kau salah ketua, aku tidak menyukainya tapi….pindah club? Kurasa itu tidak terlalu buruk lagipula aku tidak mau dilatih oleh ketua galak sepertimu ” ejekku kemudian meninggalkannya yang masih menatapku geram. Hah~ hiarkan saja dia semakin marah padaku.

Kami berjalan menyusuri koridor sekolah dalam diam, hanya sesekali saja ia melemparkan pertanyaannya.

“a~ pria tadi, apa dia asli orang jepang?”

“bukan, dia sama sepertimu. 2 tahun lalu dia adalah murid pindahan dari Korea karena orangtuanya di pindh tugaskan ke Jepang. Wae?”

“iie, kelihatannya ketua tahu banyak tentang dia”

“ya, 3 tahun aku satu kelas dengannya. Dia juga sahabatku, dia itu ketua klub Kendo disini” ow~ jadi begitu.

“kau mau kemana?”

“pulang”

“mau kuantar?”

“naik apa?”

“naik kaki, memangnya apa lagi?” aku berhenti seraya menatapnya geram.

“kau membuatku kesal lagi hari ini, belum cukup kau mengerjaiku di club tadi? Ck…menyebalkan”

“hahaha….itu balasan untukmu”

“jadi…apa kau mau menerima tumpanganku?” lanjutnya, aku menggeleng kemudian menunjuk sebuah mobil berwarna hitam yang sudah terparkir didepan gerbang sekolah.

“aku pulang dulu ketua” aku membunguk lalu pergi meninggalkannya.

“hai, matta ashita (sampai jumpa besok)” aku membalas lambaian tangannya kemudian bergegas masuk mobil jemputanku.

Sesampainya dirumah, aku langsung keluar mobil dan berlari masuk kamar. Melempar tas jinjingku keranjang kemudian masuk kamar mandi untuk menyegarkan tubuhku. Hah~rasanya begitu melelahkan sekali hari ini. Selesai mandi dan ganti baju aku langsung turun keruang makan untuk makan –tentunya- dan sekarang didepanku sudah tersaji mangkuk ramen dan satu piring sashimi kesukaanku.

“kenapa hanya ada satu piring ramen dan sashimi saja? Paman dan bibi tidak makan?” ya, aku disini tinggal bersama paman dan bibi-ku sementara orangtua-ku tinggal di Korea.

“iie (tidak), kami baru saja tiba dari Tokyo mengurusi kepindahanmu kesini, kau tenang saja…kami sudah makan. Gomen ne, bibi hanya memasakkanmu itu saja”

Aku mengangguk kemudian beranjak menghampiri bibi-ku yang masih sibuk membuat sesuatu.

“kelihatannya repot sekali, bolehkah kubantu?”

“tidak usah, kau makan saja dulu setelah itu kau antarkan sushi ini kerumah tetangga disamping rumah” aku duduk di depan meja makan kemudian dengan cepat menyambar ramen.

“Kau inikan orang baru, setidaknya beri kesan pertama yang baik pada mereka” jelasnya seraya meletakkan kotak makanan berwarna hitam didepanku.

“em” sahutku singkat seraya melahap sendok terakhir ramen-ku dan menyambar selembar irisan daging salmon kemulutku.

“aku berangkat” teriakku seraya berlari keluar rumah.

“hati-hati! Jangan membuat keributan”

“tidak akan”

aku sampai di depan sebuah rumah bergaya klasik khas Jepang namun berlantai 2. Di depannya ada sebuaah taman kecil di depan rumah dengan aliran sungai buatan dan jembatan kecil, terlihat seperti di dongeng-dongeng saja. Kuperhatikan setiap detik desain eksterior rumah ini. ‘rumah yang indah’ gumamku.

“ya! Kembalikan bocah kecil, itu milikku!” aku mendengar teriakan seorang namja.

“aku bukan anak kecil oppa, aku sudah kelas satu SMA, jadi berhenti memanggilku bocah” mereka bicara dengan bahasa Korea? Apa mereka orang Korea? Dan sepertinya aku mengenali suara anak perempuan itu. Karena penasaran, akhirnya kuputuskan untuk mencari sumbersuara tersebut. Gotcha! Aku melihat seorang yeoja langsing agak pendek tengah berada dalam dekapan seorang namja berperawakan lebih tinggi dan berambut coklat kemerahan. Sepertinya mereka sedang berebut sesuatu, aku tidak bisa melihat wajah mereka karena mereka membelakangiku. Entah apa yang dilakukannya akhirnya yeoja itu berhasil keluar dari kurungan namja tadi dan berhasil menghindar tapi karena salah langkah akhirnya ia terpeleset rumput dan malah jatuh tengkurap.

“aauuw” pekiknya disusul dengan tawa keras namja tadi. Kemudian dengan cepat ia mengambil benda seperti sebilah bambu panjang agak melengkung seperti busur panah tapi belum jadi.

“rasakan” ia berlalu setelah sebelumnya menggetok kepala yeoja tadi dengan kayu yang ia pegang membuat gadis tersebut mendongakkan kepala kemudian ia menangis dengan keras seraya memaki-maki namja tadi. Bukankah itu Haru?

“ya! Neo! Dasar namja kurang ajar. Beraninya dengan anak kecil saja” aku bersiap mengambil ancang-ancang untuk melemparkan benda yang ada ditanganku ini, saatt….bukk. tepat…hahahaha! Kena kau namja kurang ajar. Kotak makanan itu mendarat tepat dikepala namja itu dengan posisi terbalik dan jadilah wajahnya penuh dengan sushi yang sudah berantakan.

“neo, gwanchanayo?” aku menghampiri Haru yang sudah mulai berhenti menangis, aku mengelus kepalanya yang terkena pukulan kayu tadi kemudian membantunya berdiri.

“nuguya? Kenapa kau melemparku dengan kotak makanan ha? Kau lihat wajah dan bajuku jadi kotor semua” aku membalikkan tubuhku melihat tubuhnya yang masih penuh dengan sisa-sisa nasi dan daging sushi tadi sementara kotak makananku sudah dibuang entah kemana. OMO….bukankah dia namja yang kulihat diruang club Kendo tadi, apa mungkin dia kakak Haru? Andwae….aku mencoba menutupi rasa gugupku dengan tetap memasang wajah tak berdosaku. Ia mendekatiku kemudian menatap lekat wajahku, ia sedikit menunduk karena tinggiku yang hanya sehidungnya.

“ya! mwohaneungeoya” pekikku karena tiba-tiba dia mengangkatku dan menyampirkan tubuhku dipundak kanannya. Kupukul-pukul punggungnya berharap ia mau menurunkanku, ia tetap berjalan santai menghampiri sungai buatan ditangannya. Jangan-jangan…

“andwae!!” teriakku dan byuurrr….seluruh tubuhku basah karena namja ini benar-benar menceburkanku ke sungai.

“itu pantas kau dapatkan nona sushi” ck….jadi dia balas dendam? Belum sempat ia berbalik aku sudah menarik pergelangan kakinya membuat dia oleng dan…byuurr, dia juga jatuh ke sungai.

“NEO! JINJJA..” geramnya

“hahhaha….rasakan! kau dasar namja pengecut hanya berani dengan yeoja saja”

“sebenarnya apa yang kau inginkan? Tiba-tiba melemparku dengan kotak makanan dan menceburkanku ke sungai. Haah~ hari ini benar-benar sial, kenapa aku harus bertemu denganmu” ia mengacak rambutnya kesal dan beranjak dari sungai, meninggalkanku.

“minta maaf” perintahnya.

“tidak akan” aku beranjak dan berlalu begitu saja. Kau pikir aku mau minta maaf? Lagipula aku tidak salah, aku hanya melindungi bocah ingusan itu.

“kubilang minta maaf” dia mendekap tubuhku dari belakang, kakinya mengunci kedua kakiku, tangan kanannya berada didepan leherku sementara tangan kirinya mengunci kedua tanganku di balik punggung. Sial, aku tidak bisa bergerak.

“shireo” kukuhku

“Oppa…kumohon lepaskan Eonnie, dia tidak salah. Dia hanya membelaku saja”

“membelamu atau tidak dia tetap saja merusak penampilanku”

“kau dengar, adikmu saja tahu aku tidak salah jadi aku tidak akan minta maaf dan satu lagi…LEPASKAN AKU ”

“TIDAK AKAN”

“LEPASKAN”

Author POV

 

“LEPASKAN”

“TIDAK AKAN”

“LEPASKAN”

“TIDAK AKAN”

karena kesal tidak bisa melerai Hyo In dan Hyukjae akhirnya Haru pergi mencari bantuan, beberapa saat kemudian tampaklah Haru bersama dengan sepasang namja dan yeoja paruh baya dengan tatapan geram mereka.

“berhenti” bibi Hyo In dan ayah Hyuk menjewer telinga mereka yang otomatis sama-sama kesakitan.

“Hyo-Chan…bibi sudah bilang jangan membuat keributan tapi apa yang kau lakukan?” bibi Hyo In melepaskan tangannya di telinga Hyo In.

“aku tidak bersalah bibi, aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan” belanya seraya mengusap telinganya yang terasa panas.

“aku tidak menerima perlawanan sekarang kita pulang” Hyo In terlihat mempout bibirnya kesal.

“gomen ne, Tuan Lee…keponakanku tidak sopan. Dia sebenarnya baik tapi terkadang dia sedikit kekanakan”

“o~ii kara (tidak apa-apa), anakku juga bersalah…tidak seharusnya dia melakukannya pada tetangga baru” jawab ayah Hyuk masih dengan tangan ditelinga hyuk.

“kami pulang ne, doumo” akhirnya Hyo In dan bibinya pulang sementara Hyuk masih harus menerima omelan dari ayahnya.

“kenapa kau melakukannya pada seorang yeoja? Apa sebagai namja kau tidak malu? dasar” ia melepaskan jewerannya dari telinga Hyuk, Hyuk terlihat menghela napas lega.

“appa jangan menyalahkanku saja, dia yang memulainya duluan”

“tapi harusnya kau bisa bersikap lebih dewasa, kau inikan namja apalagi sebentar lagi kau lulus SMA *apa hubungannya coba*. Haassh…Sudah sana bersihkan badanmu, eomma sudah memasak makan malam” Hyuk mengikuti perintah ayahnya dan masuk kekamarnya.

@Hikari Gakuen

 

Teng…teng…

jam pelajaran pertama hari ini selesai, Hyukjae baru saja selesai dengan catatannya kemudian bergegas menuju kantin karena cacing diperutnya yang terus saja berdemo. Setelah mengambil jatah makan siangnya dia duduk dipojok kantin menikmati makan siangnya yang entah mengapa terasa begitu lezat hari ini, mungkin karena dia sudah terlalu lapar. Baru setengah perjalanan(?) ia merasa ada yang menggeser tempat duduk didepannya.

“nande (kenapa)?” tanyanya pada namja yang ternyata Nakatsu sahabat sekaligus teman sekelasnya yang duduk dihadapannya dengan mulut yang penuh dengan makanan.

“apa kau ada latihan nanti sore?”

“iie…nande?” ia meneupuk tegukan terakhir lemon tea-nya.

“kau mau ikut aku latihan? Ada murid baru di club Kyudo, kau tidak mau melihatnya? Dia cantik dan pandai, dou (bagaimana)? Tawar Nakatsu.

“kau menyukainya? Kenapa wajahmu jadi merah saat membicarakannya” timpal Hyuk keluar dari topic.

“nani (apa)? emm…mungkin, aku bahkan baru kemarin bertemu dengannya tapi rasanya seperti blablablabla” Hyuk tidak begitu mendengarkan ucapan Nakatsu, matanya terus saja memperhatikan 2 orang yeoja yang tengah berjalan ke salah satu meja kantin seraya membawa nampan yang berisi makan siang mereka. Salah seorang yeoja itu terlihat begitu bersemangat dan banyak bicara dan seorang yeoja lagi nampak begitu tenang mendengarkan ocehan yeoja cerewet tadi dan hanya sesekali mengangguk dan tersenyum menanggapi ocehan yeoja satunya. Ia kenal betul dengan ke-2 yeoja itu, yang cerewet adalah Haru yeodongsaengnya dan yang diam saja itu adalah yeoja yang melemparnya dengan kotak makanan kemarin sore.

“Hyuk! Kau mendengarkanku?” pertanyaan Nakatsu mengalihkan perhatiannya.

“ya…kurasa itu bukan ide yang buruk. Aku juga ingin melihat seberapa banyak perkembangan Haru” Nakatsu tersenyum mendengar kata-kata Hyuk. Kemudian mereka beranjak meninggalkan kantin.

@Kyudo’s club

 

Hyukjae duduk disebelah kumpulan perlengkapan Kyudo, matanya tak pernah lepas memperhatikan Hyo In yang dengan sabar mengajari Haru bagaimana cara memegang busur panah dan sikap saat akan menembak, terkadang ia terkikik geli malihat Hyo In yang mulai kesal karena haru begitu susah diajari,  terlalu banyak bicara dan terus saja melihat kearah Nakatsu bukannya memperhatika Hyo In.

Hyo In kini mulai benar-benar kesal dan akhirnya ia mengambil busur dan anak panahnya bermaksud memberikan contoh bagaimana cara menembak namun gerakan tangannya terhenti karena panggilan seseorang.

“chotto matte” Hyo In mengerutkan dahinya heran melihat Hyukjae yang berlari kearahnya.

“jarimu bisa putus kalau kau tidak menggunakan sarung tangan” tuhan…bahkan hal yang dianggap remeh Hyo In pun tak lepas dari perhatian Hyukjae. Hyukjae melepaskan genggaman tangan Hyo In pada busurnya kemudian memakaikannya.

Detak jantung Hyo In tiba-tiba berpacu semakin cepat, ia merasakan kehangatan mengalir saat tangan Hyuk menyentuh tangannya. Haru tersenyum-senyum geli melihat perhatian oppa-nya begitupun para anggota club tak terkecuali Nakatsu. Rahangnya terlihat mengeras seperti menahan sesuatu.

“dekita (selesai)!” Hyuk berlalu begitu saja tanpa ekspresi dan kembali duduk dan memperhatikan para anggota lain yang sedang latihan. Hyo In masih terpaku menatap kedua tangannya yang kini sudah terbalut dengan sarung tangan, sesaat kemudian ia tersadar dari lamunannya karena tepukan Haru dipundaknya dan melanjutkan latihan mereka.

Selesai latihan Hyuk menunggu Haru yang masih berada diruang ganti bersama Hyo In, ia duduk dibangku panjang seraya memainkan ipodnya yang tidak ia pakai.

“eonnie benar-benar tidak mau pulang bersamaku?” Haru dan Hyo In keluar dari ruang ganti.

“ani, kau pulang saja duluan! Pamanku pasti akan menjemputku” Haru  mempout bibirnya kesal karena Hyo In tidak mau diajak pulang bersama.

“ya! Lagipula mau ditaruh dimana kakak kesayanganmu itu? Kitakan hanya naik sepeda” Hyukjae berdiri seraya memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana yang tertutupi jas sekolahnya.

“oppa! Kenapa kau mengatakan hal itu. Aku kan sedang berusaha membalas budi” Haru kesal menanggapi celetukan Hyukjae yang menyebalkan sementara Hyo In terlihat mendengus sebal melihat wajah Hyukjae yang berbeda dengan sikapnya di club Kyudo tadi.

“kalau begitu kami pulang dulu eonnie, hati-hati ya! annyeong” Haru mengangguk cepat kemudian berlari mengikuti Hyukjae yang ternyata sudah jalan duluan. Ia tersenyum mendengar umpatan kecil Haru karena ditinggal Hyukjae.

60 menit Hyo menunggu pamannya didepan gerbang sekolah. Drrt..drrtt. Hyo In membuka ponselnya dan membaca pesan yang masuk.

“aigoo….jeongmal pabo-ya. Bukankah paman dan bibi sekarang di Hokkaido? Lalu kenapa aku menunggunya disini sampai 1 jam” Hyo In beranjak kemudian berjalan menyusuri jalanan menuju halte bis. Beberapa meter didepannya, ia melihat 5 orang namja yang sedang tertawa-tawa entah apa yang tengah mereka bicarakan, ia tak pernah melihat mereka sebelumnya terlihat dari seragam mereka yang berbeda. Perasaannya kini mulai tidak enak, ia berjalan menunduk melewati mereka namun tiba-tiba seseorang menarik bahunya dan mendorong tubuhnya ketembok pinggir jalan.

“aku tidak pernah melihatmu nona manis, apa kau siswi baru SMA Hikari?” ucap salah seorang namja seraya mencolek dagu Hyo In.

“minggir kalian! Aku ingin pulang” sekelompok namja tersebut terbahak mendengar perlawanan hyo in. hyo in mencoba menerobos kurungan 5 namja tersebut namun gagal, salah seorang namja itu mengenggam kedua tangannya dan menguncinya disamping tubuh hyo in.

“kau boleh pulang nona, tapi setelah kita bersenang-senang hahahaha” namja itu menampakkan seringaiannya kemudian mendekatkan wajahnya mendekati bibir Hyo In. Hyo In berusaha menyembunyikan wajahnya seraya memejamkan matanya rapat, tubuhnya bergetar hebat membayangkan apa saja yang mungkin terjadi selanjutnya.

“jauhkan wajah jelekmu itu darinya!” namja tadi menjauhkan wajahnya kemudian mengernyitkan dahinya melihat seorang namja berdiri bersandar pada tembok pinggir jauh seraya memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya, sebagian rambutnya menutupi earphone yang ia pakai dan wajahnya yang sedikit menunduk.

“berani sekali kau menganggu kesenangan kami”

“bukan aku yang menggangu kesenangan kalian tapi kalian yang telah lancang mengganggu gadis-ku”ucap namja tersebut seraya mendongak menampakkan wajah tampannya.

Hyukjae POV

 

aku mengayuh sepedaku santai seraya menikmati langit sore yang berwarna jingga. Haah~gadis dibelakangku ini, apa dia tidak lelah bicara terus sepanjang perjalan dari sekolah tadi, darimana dia mendapat banyak topic yang berbeda-beda tapi anehnya selalu ada nama Nakatsu, jangan-jangan dia benar-benar tergila-gila dengannya. Kurasa mandengarkan music jauh lebih baik daripada mendengar ocehannya, kurogoh saku celanaku tapi…..dimana ipodku? Aigoo…pasti tertinggal di depan ruang ganti tadi. Kurem sepedaku kemudian turun dengan cepat.

“ya! Oppa, mwohaneungeoya?” kurasa dia kesal omongannya terpotong karena kaget aku mengerem mendadak.

“kau pulang saja sendiri, ipod-ku ketinggalan disekolah. Kau bawa saja sepedanya pulang, aku akan jalan saja lagipula jarak dari sini kesekolah belum terlalu jauh” tanpa menunggu persetujuannya aku langsung berlari kearah berlawanan. Aku hampir sampai dihalte bus dekat sekolah namun langkahku terhenti saat melihat segerombolan namja tengah mengerubungi seorang yeoja yang terlihat menundukkan kepalanya. Chakkaman…bukankah itu tas jinjing Nona Sushi, pasti…hanya dia yang punya tas jinjing bergambar monyet.

“jauhkan wajah jelekmu itu darinya!” namja yang hendak menciumnya sontak menolehkan padaku, termasuk antek-anteknya.

“berani sekali kau menganggu kesenangan kami”

“bukan aku yang menggangu kesenangan kalian tapi kalian yang lancang mengganggu gadis-ku” kenapa aku mengatakan hal menggelikan seperti itu? namja tadi melepas genggaman tangannya dilengan nona sushi, didikuti oleh ke-4 namja lainnya ia mendekati  seraya menatap geram padaku, sementara itu tubuh gadis itu luruh, kakinya lemas tak mampu menahan tubuhnya sendiri, ia menekuk kakinya hingga menempel didada kemudian menyembunyikan wajahnya mungkin dia ketakutan.

Aku berjalan mendekati mereka yang juga tengah berjalan mendekatiku *apelah bahasanya*

“kurang ajar kau” tanpa basa-basi salah satu dari mereka langsung mengarahkan pukulannya, beruntung aku bisa menangkis pukulannya kemudian membalik posisi kami menjadi aku yang menghajarnya. Bukk…buukk..prang..prang..glontang..meong *eh*  1… 2… 3… 4… 5, beres, mereka semua terkapar dengan luka lebam disekujur tubuhnya.

“jangan menggangunya lagi, kalau tidak aku bisa melakukan yang lebih daripada ini” mereka mengangguk seraya meringis memegangi perut mereka. Aku berjalan mendekati nona sushi itu, kuselipkan tangan kiriku dibelakang punggungnya dan tangan kananku dibawah lututnya. Kuangkat tubuhnya sementara ia mengalungkan tangannya dileherku, ia masih terisak seraya menyenderkan kepalanya didadaku. Kami akhirnya duduk dibangku halte menunggu bus, aku tidak mungkin kan menggendongnya sampai rumah? Bisa-bisa tulangku patah jadi seribu.

“uljima! Nanti dikira aku yang membuatmu menangis” ia mendongakkan kepalanya kemudian duduk dari pangkuanku dan duduk disebelahku.

“jeongmal gomawo” belum sempat kujawab ternyata bus kami sudah datang, kugandeng tangannya seraya memasuki bus dan kami duduk bersebelahan.

“kenapa kau tidak dijemput?” lama tidak ada suara diantara kami akhirnya kuputuskan untuk membuka suara lebih dulu.

“aku lupa kalau paman dan bibiku ada urusan ke Hokkaido”

“pabo-ya! Kenapa tadi tidak ikut denganku saja setidaknya kita bias berjalan bertiga dasar Nona Sushi sok berani” eh, kenapa aku membentaknya? Apa aku mengkhawatirkannya.

“ya! Jangan membentakku…aku punya nama, namaku Song Hyo In. kau dengar? Song-Hyo-In jadi berhenti memanggilku Nona Sushi lagi! Aku tidak suka” bentaknya panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume.

“shireo, lebih enak memanggilmu Nona Sushi. Kau tidak sadar? Mukamu itu bulat seperti sushi dan warna pipimu itu sudah seperti daging salmon. Hah~kurasa kau butuh kaca yang lebih besar dirumahmu”

“ya….” Ucapannya terhenti, matanya melihat ke sekeliling kami kemudian tersenyum tidak jelas seolah mengatakan ‘mianhae’. Kulihat sudah banyak pasang mata yang memperhatikan kami, sepertinya mereka terusik dengan suara kami akupun melakukan hal yang sama dengan Hyo In. apa aku menyebut nama seseorang?

Kami sampai dirumah tapi sebelum pulang aku mengantarnya sampai didepan gerbang rumahnya.

“sampai kapan paman dan bibimu keluar kota?”

“besok mereka sudah pulang, wae? Kau mengkhawatirkanku?”

“ani, aku hanya tidak mau kau mengalami hal seperti tadi” jawabku kikuk. Tapi kenapa dia malah tersenyum?

“aa~ aku pulang! Sudah malam” aku berbalik tapi belum sampai dua langkah dia sudah menarik pergelangan tanganku, aku menoleh dan tiba-tiba chu~ dia mencium pipi kiriku sekilas.

“gomawo sudah mengkhawatirkanku” ia tersenyum kemudian masuk dan menutup gerbangnya. Aku masih terpaku merasakan hangat yang mengalir dari pipi keseluruh tubuhku. Apa dia baru saja menciumku? Kuraba dadaku dan benar saja, detak jantungku bertambah keras…omo…ada apa denganku.

Author POV

 

Keesokan harinya sepulang sekolah Hyo In bermaksud membeli busur panah baru, ia masuk kedalam toko seberang sekolahnya.  Disini bukan haya perlengkapan Kyudo saja, tapi perlengkapan Kendo dan Judo pun juga ada *promo*. Ia melihat-lihat beberapa busur yang terpampang disana, namun matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia melihat ikat kepala Kendo, ia mengambil yang berwarna putih dengan motif bendera Korea. Kemudian ia mengambilnya dan membayarnya.

“tolong dibungkus sekalian”ia keluar toko dengan senyum yang mengembang.

Setelah mengganti bajunya ia langsung  berkutat dengan seperangkat alat dapurnya dan membentuk nasi menjadi kepalan-kepalan bundar tapi tak terlalu bundar (?) dan membentuk beberapa sayur dan buah dan memadukan mereka ke dalam kotak makanan hingga menjadi hidangan bento berbentuk monyet yang sedang memegang pisang , ia menaruh pelapis kotak makanannya dan menata teriyaki yang sudah selesai ia goreng kemudian ia tutup dan membungkusnya dengan selembar kain dan mengikatnya pada bagian atas sebagai gantungan agar ia mudah membawanya.

“kau mau kemana Hyo-chan? Kalau mau membuat bento kenapa tidak besok pagi saja?” ucap bibi Hyo In yang heran melihat sikap Hyo In.

“ini bukan untukku bi…aku membuatnya untuk keluarga Lee, ini sebagai permintaan maaf dan ucapan terimakasihku”

“sou da (benarkah)?”

“em…aku berangkat” Hyo membawa kotak  makanannya seraya menyambar sebuah bungkusan dimeja yang sudah ia persiapkan untuk Hyukjae.

“em…hati-hati”

Ting….tong

sebuah senyuman menyambut kedatangan Hyo In  dan langsung menyeret Hyo In masuk. Haru terlihat begitu bahagia dengan kedatangan Hyo In dirumahnya.

“eonnie kau benar-benar menepati janjimu, aku pikir kau hanya bercanda saja saat mengatakan kalau kau akan mengajariku Kyudo dirumah hari ini. Aa~ kau membwa bingkisan juga? Waahh….eonnie aku semakin menyukaimu” cerocos haru.

“ya! Aku masih normal. Aku masih suka namja” gurau Hyo In seraya nenyenti dahi Haru. Haru mempout bibirnya kesal kemudian ia mengambil kotak makanan yang dibawa Hyo In.

“kemana orang tuamu?”

“mereka pulang ke Korea, mungkin 2 minggu lagi mereka kemari” jawab Haru.

“eh…eonnie, apa ini untukku?” ucapnya seraya memperhatikan bungkusan yang ada ditangan kiri Hyo In.

“oh, ani. Kemana oppa-mu? Kenapa aku tidak melihatnya?” mendengar pertanyaan Hyo In, Haru langsung tersenyum penuh arti pada Hyo In.

“eonnie-ya… nae oppareul johaseumnika?”

“mworago? Memangnya kalau aku menanyakan oppa-mu berarti aku menyukainya?”

“aa~aku pulang saja, kau sama menyebalkannya dengan oppa-mu”

“ya..eonnie jangan begitu. Geurae…oppa sedang ada ditaman belakang, apa kau mau menemuinya juga?

“em, aku ada urusan dengannya” tanpa disuruh Hyo In melangkah ketaman belakang.

Sampai diteras belakang rumah Hyukjae, taman belakangnya terlihat luas karena tidak terlalu banyak tanaman malah bisa dibilang seperti lapangan, hanya saja ada beberapa pohon besar yang mengelilingi taman dan disetiap pohon selalu ada bidak sasaran seperti yang ada ditempat –tempat latihan Kyudo.

Hyo In mengedarkan pandangannya mencari sosok Hyukjae dan tepat disebuah gazebo pojok taman ia menemukan Hyukjae yang tengah sibuk menghaluskan bambu dan menggabungkannya dengan senar.

“kau akan membuat siapapun yang emakai busurmu itu kalah dalam pertandingan” Hyuk menoleh kesumber suara dan sedikit terkejut ketika ia tahu Hyo In kini tengah mendekatinya.

bambunya terlalu tegak, ini kurang melengkung 5 derajat dan senarnya terlalu kendor. Sebenarnya kau itu bisa membuat busur apa tidak? Bambunya bagus…kau beli dimana? pasti mahal”

“ya! Untuk apa kau kesini? Kau mau melemparku dengan sushi lagi? Atau dengan ramen panas sekalian” ketus Hyuk menutupi rasa gugupnya berada sedekat ini dengan Hyo In.

“tadinya aku tidak memikirkan hal itu, tapi kurasa ramen panas boleh juga” sengit Hyo In.

“neo! Kha! Aku tidak mau melihat wajah setengah iblismu itu”

“tak bisakah kau berprasangka baik padaku? Aku hanya ingin meminta maaf mengenai kejadian 2 hari lalu dan berterima kasih karena kau sudah menolongku” Hyo In melempar bungkusan yang ada ditangannya dan menaruh kotk makanannya disamping Hyukjae kemudian pergi dengan wajah kesal.

Hyo In keluar rumah Hyukjae tergesa namun langkahnya dicegat oleh Haru.

“eonnie eodiga?”

“aku ingin pulang, aku tidak enak badan. Kita latihan besok saja ya, mian” Hyo mengusap airmatanya kemudian berlari pulang. Ya, dia sakit hati mendengar ucapan Hyukjae.

@@@

Sudah satu minggu ini Hyo selalu pergi kerumah keluarga Lee untuk mengajari Haru. Setiap kali ia bertemu dengan hyukjae ia selalu berusaha mengalihkan pandangannya mengingat kata-kata Hyuk seminggu yang lalu. Hatinya masih sakit mendengar namja yang sedikit ia sukai mengatakan hal yang menyakitkan baginya.

Hyuk pun juga merasa sedikit kikuk setiap kali berhadapan dengan Hyo In, hampir setiap hari ia memperhatikan Hyo yang sedang mengajari Haru, dan itu terhitung semenjak Hyo selalu pergi kerumahnya meskipun tidak untuk bertemu dengannya.

Suatu hari saat Hyo baru saja selesai mengajari Haru ia melihat Hyuk yang sedang berlatih Kendo di teras taman belakang memakai ikat kepala yang ia berikan minggu lalu, dalam hati ia merasa bahagia karena meskipun Hyuk tak mau melihatnya lagi dia masih mau menghargai pemberiannya.

@Hikari Gakuen

 

Jam istirahat Hyuk dan Nakatsu memilih berbincang-bincang didepan kelas dari pada kekantin. Nakatsu terus saja membicarakan Hyo In hingga membuat Hyukjae menahan sebal dihati, mungkin dia mulai menyukai Hyo In.

“kau menyukainya?” pertanyaan Hyukjae dijawab dengan anggukan mantap Nakatsu.

“kalau begitu kenapa tidak kau nyatakan saja perasaanmu itu?” bodoh, kenapa kau harus mengatakan kalimat menyakitkan itu?, batin Hyuk merutuki kebodohannya.

“em…aku memang sudah memikirkannya, aku akan menyatakannya di Festival Oomisoka (festival tahun baru) minggu ddepan, dou (bagaimana)?” bodoh, sekarang kau benar-benar akan kehilangan dia karena kebodohanmu sendiri Hyuk, sesalnya. Hyuk hanya mengangguk lemah.

1 week later

Nanti malam adalah perayaan Festival Oomisoka, Nakatsu terlihat begitu begitu gembira hari ini karena ia akan benar-benar menyatakan perasaannya pada Hyo In nanti malam. Saat ini sekolah sedang tidak ada pelajaran karena persiapan perayaan Festival Oomisoka. Ia berdiri diambang pintu kelas 2-II kemudian melambaikan tangannya menginstruksinya untuk keluar kelas.

“apa kau akan pergi nanti malam?”

“mungkin tidak, nande (kenapa)?”

“aa~sayang sekali padahal aku, Hyukjae, dan Haru akan datang pasti tidak akan seru jika tidak ada kau. Dou? Kau mau kan?” mohon Nakatsu. Hyo In terlihat berpikir sejenak ‘sepertinya ada Haru sedikit lebih baik’ akhirnya ia mengangguk.

Nakatsu melangkah kedalam kelas dan menghampiri Hyuk yang masih duduk memangu dagunya.

“nanti malam kita jadi berangkat, aku dengan Hyo In dan kau dengan Haru..aa~mengasikkan sekali rasanya”

“kau…menurutmu bagaimana perasaanmu kalau kau sedang jatuh cinta?” Tanya Hyuk tiba-tiba membuat Nakatsu sedikit tersentak mendengar pertanyaan Hyukjae.

“menurutku jantungmu akan terasa ingin keluar saat kau berdekatan dengannya, kau akan merasa dadamu sakit saat kau melihatnya bersama pria lain, dan emosimu bisa berubah tiba-tiba saat bersamannya, dan terkadang bibir dan hatimu tidak bias bekerjasama, setidaknya itu yang  pernah kurasakan. Apa kau sedang jatuh cinta? Dengan siapa?” Hyuk tak menjawab pertanyaan Nakatsu, ia malah beranjak keluar kelas dan tak menghiraukan teriakan Nakatsu.

@Oomisoka’s Festival

 

Hyukjae, Nakatsu, Hyo In, dan Haru kini tengah berkumpul menikmati mie yang sebenarnya tak mereka nikmati *author nulis apaan sih* mengitari meja disalah satu stand yang sudah didirikan ditaman sekolah. Suasana malam ini begitu riuh karena suara tawa dari para siswa dan para guru. Tapi tidak dengan mereka berempat, mereka terlihat terdiam hanya saat Haru mengatakan lelucon-lelucon yang hanya ditanggapi dengan senyum hambar dari yang lain, Nakatsu pun terlihat berusaha mengajak Hyo In bicara namun tak terlalu ditanggapi olehnya dan membuat Haru sedikit menunduukkan kepalanya. Sementara Hyukjae sejak tadi hanya diam seraya mengaduk acak mie-nya. Sesekali Hyo melempar pandangan pada Hyuk begitupun sebaliknya, hal itu pun disadari oleh Nakatsu namun ia berusaha menepis rasa cemburnya.

“aa~ bagaimana kalau kita mengambil lonceng-lonceng itu, bukankah sebentar lagi tahun baru…kita harus membunyikan lonceng sebanyak 108 kali bukan” ucap Nakatsu seraya menaril lengan Hyo In menuju stand yang membagikan lonceng diikuti oleh Hyukjae dan Haru.

Mereka sampai disana dengan susah payah karena tempat yang terlalu ramai hingga mereka harus berdesak-desakan dengan siswa yang lain. setelah mereka mendapatkan lonceng masing-masing, Nakatsu menggandeng tangan Hyo In lagi untuk menerobos kerumunan dan mengajaknya ke suatu tempat dimana ia akan menyatakan cintanya namun ditengah perjalanan dia tidak sadar bahwa genggaman tangannya terlepas, setelah ia keluar dari kerumunan ia baru menyadari bahwa Hyo In tak bersamanya lagi.

Sementara itu, Hyo In terlihat ketakutan dan bingung harus kemana karena tubuhnya terasa terombang-ambing oleh desakan siswa-siswi yang lain. Tiba-tiba terasa tangan seseorang menggandeng tangannya dan menyeretnya dari kerumunan. Hyo In akhirnya bisa bernapas lega setelah ia berhasil menghirup udara segar kembali sesaat kemudian ia baru menyadari kehadiran seseorang yang manyelamatkannya tadi.

Ia mengenali namja itu, ya…namja yang sering bertengkar dengannya, namja yang sangat ia benci karena sikapnya yang menyebalkan sekaligus namja yang dicintainya. Hyo In baru menyadari setelah ia sempat melihat Hyukjae tengah makan siang berdua dengan seorang ketua club Cheerleader disekolahnya beberapa hari yang lalu. Mereka terlihat sangat akrab dan serasi dan itu membuat hatinya sakit, lebih tepatnya cemburu.

“gomawo” ucap Hyo In datar kemudian memutar arahnya hendak menjauhi Hyukjae namun tangan Hyuk menahannya. Ya…tangan Hyuk kini tengah melingar diperut Hyo In dan mendekapnya erat dari belakang. Hyukjae menaruh dagunya dipundah Hyo In dan sedikit menghirup aroma jasmine dari leher Hyo In.

“kajima!” Hyuk mengatakannya pelan tepat ditelinga Hyo In hingga membuatnya sedikit menahan geli.

“untuk apa kau menahanku? Bukankah kau membenciku? Bukannya kau tidak mau bertemu denganku lagi?” suaranya bergetar mengingat kata-kata Hyuk beberapa minggu lalu.

“aku….aku…minta maaf. Tidak seharusnya aku mengatakan hal semacam itu pada orang yang kucintai” Hyuk semakin mengeratkan pelukannya sementara tubuh Hyo In serasa menegang mendengar ucapan Hyuk.

“apa maksudmu?” Tanya Hyo In ragu.

“kurasa apa yang dikatakan Nakatsu benar, jantungku terasa ingin keluar karena berdetak terlalu cepat saat aku berada dekat denganmu,  dadaku sakit saat melihat kau terlihat dekat dengan Nakatsu atau saat Nakatsu selalu mebicarakanmu didepanku, dan emosiku selalu berubah tiba-tiba saat bersamamu, dan terkadang bibir dan hatiku tak bisa bekerjasama” Hyuk terus menatap wajah Hyo lekat.

“Aku mencintaimu saat pertama kali melihamu berlatih Kyudo dibelakang rumahmu, saat kau terlihat begitu mengkhawatirkan Haru, melihat sikapmu yang sok berani padahal kau itu orang yang penakut dan cengeng, aku suka sikapmu yang tidak begitu banyak bicara namun sebenarnya kau itu orang yang perhatian” Hyuk membalik tubuh Hyo menghadapnya.

“Aku suka semua yang ada pada dirimu, wajah bulat sushimu, mata bulan sabitmu dan…”

chu~ “senyuman dibibirmu seperti lengkungan busur panah yang begitu halus. Saranghae Hyo-ya” Hyuk mengusap pipi Hyo pelansemenrata Hyo In nampak menunduk seperti memikirkan sesuatu.

“n..na…do…op..ppa” Hyuk langsung memeluk Hyo erat. Duuaarr…duuaarr….kembang api pun telah dinyalakan pertanda bergantinya tahun. Tanpa mereka sadari ada 2 pasang mata yang menyaksikan romansa kedua remaja ini. Nakatsu terdiam menunduk melihat yeoja yang dicintainya ternyata mencintai namja lain, ia menghela napas pelan kemudian berbalik dan kaget melihat Haru yang sudah berdiri didepannya.

“mau membunyikan lonceng bersamaku?” Haru tersenyum seraya menunjukkan lonceng ditangannya, Nakatsu tiba-tiba menggenggam tangan Haru dan mengajaknya kembali ketempat perayaan.

PROLOG

 

Hyo dan Hyuk duduk diatap sekolah berdampingan sambil menyantap mie Shitokoshi (mie yang dipercaya dapat memberi umur panjang, biasanya dimakan saat Festival Oomisoka).

“kenapa kau menerima cintaku?” tanya Hyuk

“wae? Aku hanya tak ingin melihat patah hati dan bunuh diri”

“ayolah Chagi-ya…aku serius”

“mwo? Chagi-ya? Haish…menggelikan sekali”

“kau selalu menghancurkan mood-ku, kau tahu itu”

“aku tahu. Em…kurasa alasanku sama denganmu”

“mwo?”

“aku malas mengulanginya, kalimat itu terlalu panjang dan sulit kuhafal” ucap Hyo dengan mulut penuh mie. Merekapun melanjutkan makannya tanpa bersuara.

“gomawo” Hyo selesai dengan mie-nya dan melingkarkan tangannya pada perut Hyuk seraya menyenderkan kepalanya dipundak Hyuk.

“kenapa kau selalu berterimakasih padaku?”

“terimakasih karena sudah mencintaiku, terimakasih karena ternyata kau masih mau memakai ikat kepala yang kuberi.  Kupikir kau benar-benar membenciku waktu itu” hyuk tersenyum seraya mengelus rambut Hyo.

“aa~ aku hampir lupa, aku punya sesuatu untukmu” Hyuk beranjak dari duduknya kemudian mengambil sebuah benda dari kotak kayu panjang yang ada dipojok atap. Hyo membuka kotak itu kemudian matanya membulat malihat sebuah busur panah yang begitu halus dan kokoh dihadapannya.

“bukankah ini yang..”

“ne, itu yang kubuat waktu itu. Kau bilang lengkungannya kurang 5 derajat dan senarnya kurang kuat jadi aku memperbaikinya lagi. Aku berpikir untuk membuatnya saat melihatmu latihan dibelakang rumahmu. Ahahah….mungkin aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Eottae? joha?” Hyo In mengangguk cepat seraya memeluk erat Hyukjae. Mereka terdiam sesaat kemudian seringaian muncul diwajah Hyo In.

“Oppa” Hyo mendongak menatap Hyuk. Bukan, lebih tepatnya ia menatap lekat bibir Hyuk kemudian mendekatkan wajahnya, Hyuk terlihat kaget dengan sikapmu namun ia kemudian memejamkan matanya. Seringaian muncul diwajah cantiknya tangannya meraba mangkuk mie disamping Hyuk, kemudian…byur. Hyuk membelalakkan matanya merasakan rambutnya basah karena kuah mie.

“eottae? Haah~ sayang sekali mie-nya sudah dingin, coba masih panas pasti lebih enak. hahahaha” Hyo mengecup singkat pipi kanan Hyuk kemudian berlari meninggalkan Hyuk.

“awas kau!!!” Hyuk berlari mengejar Hyo yang belum begitu jauh darinya.

Winter Note:

 

“musim dingin kali ini terasa hangat karenamu, karena kehadiranmu yang tiba-tiba masuk dalam hidupku. Seperti Shinai (pedang kendo), kau terlihat halus, lurus dan tak ada yang menarik darimu, tapi dibalik semua itu kau punya kekuatan untuk menaklukkan hatiku hanya dengan perhatian kecilmu yang dengan mudah melucuti hatiku. Aku tidak tahu apakah aku benar-benar mencintaimu, tapi seperti yang kau bilang, aku merasakan perasaan yang sama seperti orang yang sedang jatuh cinta. Dan satu lagi, aku selalu punya banyak stok kata-kata saat bersamamu. Musim ini, adalah musim pertama yang kuhabiskan bersamamu, dalam mimpi dan dalam nyata. Kuharap musim-musim berikutnya kau tetap bersamaku…disampingku…dan mencintaiku”

Song Hyo In_

 

“biarkan perasaan ini selalu berada dalam hatiku. Mencintaimu adalah hal yang kusukai. Seperti busur panah, kau terlihat kokoh, seperti senar busur kau lemah dan mudah patah. Tapi aku tetap menyukaimu, dan tak ada alasan untukku tak menyukaimu. Terimakasih karena kau telah mengijinkanku masuk dalah hati dan duniamu. Aku akan tetap bersamamu…disampingmu…dan mencintaimu”

lee Hyukjae_

The End_

 

DEKITAAAAA!!!!!

eottae? Semoga pada suka ya, kritik dan saran ditunggu….

*bow bareng chocho

7 thoughts on “Season Diary: Winteru No Monogatari [Winter Story]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s